Untouched Dream [Chapter One]

poster

Title            : Untouched World [Chapter 1]

Author       : fransiskanoorilfirdhausi / soo ra park / @fhayfransiska

Cast            :

  • Kim Jong In a.k.a Kai
  • Choi Ah Ra (OC)
  • Lee Min Ji (OC)

Genre         : Angst, Life, Romance, Family

Length       : Chaptered

Previous Part : | Prolog |

Allo readerdeul ^^V Really sorry for late publish, tapi sekarang masih hari sabtu kan? Menjelang hari minggu aja kok, hehehe. Okedah dari comment yang saya baca di bagian prolog,  setelah berunding dngan adik saya, akhirnya kepilih nama Choi Ah Ra n Lee Min Ji sebagai cast ^^/ Selamat!

Untuk yang belum beruntung #emangnyaapaan, bisa dicoba lain waktu ya #tsaaahh

Okay, just enjoy this story ^^ Terima kasih banyak atas antusiasmenya di prolog ya, semoga di chapter satu ini juga sama, ehehe

This plot and OC are mine, but EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good reader please, don’t forget to give me oksigen (Read-Comment-Like)^^

________

You only have two choices,

stay here and learn,

or get out to realize your dream

_________

            Suara ketukan kapur yang beradu dengan papan tulis terus saja terdengar, membuat irama tidak beraturan yang monoton dan membosankan. Sama seperti materi memuakkan yang terpampang di papan setelah kapur putih itu dikurangi volume tubuh kecilnya sedikit demi sedikit karena dibuat menulis. Sebuah materi yang memaksa seorang pemuda berkulit kecoklatan yang duduk di pojok kelas itu untuk mengerti dan memahami setiap kata yang tertulis di sana.

Namun pemuda itu hanya menatap lekat-lekat deretan huruf di hadapannya, sederet huruf Hangeul yang tampak amburadul dan sulit terbaca olehnya. Alisnya mengernyit sempurna karena tengah berusaha keras memahaminya. Selang beberapa saat, ia memilih untuk menyerah, disandarkan punggungnya pada sandaran kursi kemudian mendesah hebat. Pemuda itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela, sedikit berharap akan menemukan sesuatu yang mungkin bisa mengembalikan suasana hatinya kali ini.

Sebuah kapur melayang dan mengenai dahi pemuda itu yang terekspos dan tidak terlindungi poni, membuatnya lantas tersentak dan mengaduh.

“Kurasa aku tidak pernah membiarkan satu pun muridku mengalihkan sedikit saja pandangannya dari papan tulis selama aku mengajar, wahai Kim Jong In?”

Pemuda yang ternyata bernama Kim Jong In itu hanya tercenung sembari mengusap dahinya yang sakit. Namun sedetik kemudian seakan baru menyadari situasi yang tengah terjadi sekarang, ia menganggukkan kepalanya dalam-dalam kemudian mengucapkan sederet kalimat maaf dalam bahasa formal, “Maafkan saya, Park songsaenim.”

Seorang guru muda yang dipanggil Park songsaenim itu menggeleng kecewa, ia lantas berjalan mendekati Jong In yang kini mulai tampak gugup. Pandangan seisi kelas pun mulai mengarah ke pojok belakang kelas, tempat di mana pemuda bernama Jong In itu duduk. Mereka mulai bertanya-tanya apa yang akan dilakukan guru muda yang terkenal disiplin itu pada Jong In, sementara Jong In sendiri tampak menelan ludahnya dengan susah payah.

“Kim Jong In, kau mengerti apa yang harus kau lakukan jika melanggar salah satu peraturan di kelasku, kan?” tanya Park songsaenim dengan nada tegas. Nada bicaranya sama sekali tidak terdengar bersahabat.

Hal itu membuat lidah Jong In kelu dan ia tidak kunjung menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya lagi. Park songsaenim tersenyum singkat, “Baiklah, kalau begitu cepat lakukan sekarang!”

Tersentak, Jong In lantas sedikit terlonjak dari tempatnya duduk begitu mendengar suara Park songsaenim yang meninggi. Ia segera membereskan buku-bukunya yang berserakan di meja lalu memasukkan semuanya ke dalam tas dengan tangan bergetar hebat. Setelah sempat membungkuk singkat pada guru muda di hadapannya, Jong In beranjak dari kelas itu dengan langkah cepat dan perasaan campur aduk.

________

            Jong In berjalan lambat menyusuri lorong sekolah yang cukup sepi mengingat kegiatan  pembelajaran memang belum berakhir dan datangnya waktu istirahat masih cukup lama. Pemuda itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, kepalanya tertunduk dan matanya menatap sendu jalanan yang ia lewati. Di dalam pikirannya berlalu lalang banyak hal, termasuk hal bodoh yang baru saja ia lakukan di kelas biologi Park songsaenim.

Tiba-tiba langkahnya terhenti begitu ia melewati sebuah ruang, ruang kesenian. Sebuah ruangan yang entah kenapa selalu membuatnya tertarik, terutama sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah itu dua tahun silam. Dari dalam ruangan itu, kerap kali terdengar suara musik dance yang nyaring dan penuh semangat. Dan ketika Jong In mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia selalu bisa melihat ‘dia’.

Begitupun dengan kali ini, Jong In bisa melihat ‘dia’ dengan jelas. Ya, gadis itu. Seorang gadis berambut hitam legam yang selalu menguncir rambutnya ke belakang, memakai kaus kebesaran dan celana yang agak ketat yang sepertinya nyaman untuk dipakai menari. Ya, gadis yang belakangan ini Jong In ketahui bernama Lee Min Ji itu adalah seorang penari. Jenis tarian yang sering gadis itu lakukan adalah tutting, popping, breakdance dan beberapa jenis dance modern yang lain.

Sebenarnya Jong In sendiri agak heran kenapa gadis itu sering berada di ruang kesenian, bahkan di jam pelajaran seperti sekarang, apa mungkin dia suka membolos? Entahlah, Jong In sendiri tidak tahu.

Jong In merasa hatinya bergemuruh setiap kali melihat Min Ji menari dengan lincah dan penuh semangat, meskipun keringat telah membanjiri tubuhnya, namun gadis itu tetap tidak berhenti menari, tersenyum dan tertawa. Tetap bersemangat sampai ia benar-benar menguasai gerakan dance yang tengah ia tekuni. Gadis itu menari seakan-akan hal itu adalah hidupnya.

Bahkan terkadang, hanya dengan melihat Min Ji berkumpul dan tertawa bersama teman-teman dancernya yang lain saja sudah bisa membuat Jong In merasa senang, seakan ikut masuk ke dalam lingkaran penuh tawa itu.

Setelah merasa puas melihat Min Ji, Jong In tersenyum. Entah kenapa, setelah melihat gadis itu, ia selalu merasa hatinya menjadi ringan. Jong In juga menjadi lebih cepat melupakan masalahnya. Perasaan yang cukup aneh bukan?

Pemuda itu melangkah menuju lokernya dengan langkah lebar. Ia memutar kunci lokernya dan baru hendak membukanya ketika terdengar suara derap langkah kaki dari kejauhan. Jong In lantas memutar kepalanya cepat ke sumber suara dan mendapati dua orang gadis—yang tidak ia kenal—tengah berjalan menuju ke arah loker di mana ia berada. Kedua gadis itu tampak asyik bergosip ria sehingga tidak menyadari keberadaan Jong In yang berdiri tidak jauh dari mereka.

Jong In menaikkan alis dan mendengus kemudian membuka pintu lokernya cepat, mengambil blazer-nya yang tergantung dengan asal. Ia baru akan menutupnya kembali ketika salah seorang dari gadis-gadis itu mengatakan sesuatu yang menarik perhatiannya, membuat gerakan tangannya untuk menutup pintu loker tertunda.

“Kau tahu Kim Jong In?”

“Tahu sekali. Dia tampan, tinggi dan kaya. Tipikal pria idaman, tapi …. sayang sekali ya.” timpal gadis yang satunya dengan nada kecewa.

“Ya, dia sudah dua kali tinggal kelas. Seandainya saja ia pintar, aku pasti akan mengejar-ngejar dia.”

“Dengar-dengar dia juga sering dapat teguran dari guru, lho. Katanya sih karena sering melamun saat pelajaran.” tambah gadis yang berambut panjang sembari mengambil sepasang sepatu dari dalam lokernya kemudian melemparkannya ke lantai dan memakainya dengan asal.

“Aku rasa mungkin dia bisa sepopuler Se Hun Oppa, ya kalau dia jadi lebih pintar sedikit. Sedikiiiittt saja!”

“Haha, aku sarankan untuk jangan terlalu banyak berharap, ya!”

Kedua gadis itu lantas terkekeh, sementara Jong In hanya bisa tertegun dan menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik pintu loker sampai kedua gadis itu benar-benar pergi dari tempat itu. Pemuda itu mencengkeram erat ujung blazernya lalu menghembuskan napasnya berlebihan, matanya terpejam ketika ia merasakan sesuatu di hatinya.

Sakit. Lagi.

__________

Jong In masih enggan mengangkat kepalanya untuk sekedar melihat apa yang ada di depannya. Ia hanya menunduk, menatap lekat-lekat ke arah sepatunya yang tidak tersimpul dengan benar seakan-akan benda itu bisa memunculkan keyakinan di dalam dirinya untuk bangkit. Ia tidak tahu ke mana tujuannya kali ini, hanya membiarkan dirinya berjalan tak tentu arah, menurut saja ke mana kedua kakinya itu membawanya pergi.

Pemuda itu kini benar-benar tampak seperti mayat hidup. Pucat nan sayu dihiasi dengan mata cekung yang membingkai manis wajahnya semakin memperkuat kesan bahwa ia tidak tidur nyenyak selama beberapa hari. Langkahnya yang lunglai dan lemas pun seakan mendukung penuh gagasan itu.

Helaan napas berlebihan Jong In hembuskan, pemuda itu memejamkan matanya rapat-rapat seakan-akan rasa lelah telah bertumpuk bagai sampah di sana, kemudian ia mengangkat kepalanya dengan berat hati setelah barusan sempat bermonolog dengan perasaannya sendiri.

Dan di detik yang sama, mata pemuda itu membulat sempurna. Kini, lewat sudut mata ber-iris gelapnya ia melihat hamparan padang rumput menghijau yang sangat luas, dihiasi dengan sedikit ilalang yang menambah kesan misterius, serta sebuah pohon besar yang berdiri kokoh di tepinya. Jong In mengerjapkan matanya beberapa kali, masih belum sepenuhnya mempercayai pemandangan yang tersaji indah di hadapannya itu. Ia tidak pernah menyangka ada tempat seindah dan seluas itu di Seoul.

Tempat yang tampak sederhana memang, namun kata ‘indah’ untuk setiap orang tidaklah sama bukan? Bagi Jong In, pemandangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya itu sangatlah indah. Karena dalam sekejap mata, Jong In merasa dirinya …..

Bebas.

Sedikit ragu, Jong In melangkah menuju tempat itu, lebih tepatnya ke arah pohon besar yang berdiri angkuh di tepi padang rumput. Pemuda itu menyentuh permukaan pohon yang kasar lalu termenung, ia menghirup udara sore di sekelilingnya dan merasakan hatinya menghangat perlahan-lahan. Jong In lantas duduk bersandar pada pohon begitu menyadari bahwa ia benar-benar merasa lelah. Ia lantas bertanya-tanya dalam hati, seberapa jauhkan ia telah berjalan?

Pandangan Jong In menyapu hamparan yang menghijau di hadapannya, menikmati objek alam yang sangat nyaman dan menyejukkan untuk dipandang itu. Rasanya sangat pas untuk mengobati sakit di hatinya yang sudah berlipat-lipat itu. Ketenangan pun tak segan-segan langsung menghampirinya.

Namun kegiatannya itu terhenti begitu ia melihat seseorang duduk membelakanginya di tengah-tengah padang rumput. Jong In sampai harus menyipitkan kedua matanya untuk melihatnya lebih jelas. Enggan menerka-nerka lebih lama, pemuda itu lantas beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan mendekati seseorang itu.

Alis Jong In terangkat tinggi begitu jaraknya dengan seseorang itu semakin dekat, lewat sudut matanya ia melihat seorang gadis berambut ikal panjang sepunggung dan mengenakan pakaian bermotif tengah duduk sembari memeluk erat kedua kakinya. Gadis berkulit putih itu tersenyum memandang langit biru tak berawan yang menggantung di atasnya, ia tidak menyadari keberadaan Jong In yang berdiri tidak jauh darinya.

Seakan terbawa suasana, Jong In turut memandang langit yang sama. Dan lagi-lagi dalam sekejap ia merasa bebas, ia mendapatkan kesan yang sama seperti yang ia rasakan ketika melihat padang rumput itu untuk pertama kalinya.

Jong In lalu duduk di samping si gadis, membuat gadis itu lantas menoleh. Namun setelah itu tak ada yang terjadi karena keduanya hanya terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Atau lebih tepatnya, keduanya sama-sama menikmati dalam diam suasana tenang dan nyaman di sekitar mereka.

Hingga akhirnya senja mulai merangkak naik dan matahari perlahan kembali ke peraduannya.

Jong In mengerang pelan begitu ia melihat langit yang mulai menggelap, menandakan bahwa sebentar lagi kebebasannya akan berakhir dan ia harus kembali pada dunia penuh kekejaman yang selalu menyiksanya dan memenjarakan langkahnya. Ya, ia harus sudah berada di rumah—tempat bagai neraka di atas bumi baginya—sebelum gelap, atau kalau tidak sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.

“Arrggh!” teriak Jong In sembari mengacak-acak rambutnya frustasi.

Gadis yang duduk di samping Jong In terhenyak, namun ia hanya memandang pemuda itu lekat-lekat, tidak berusaha melakukan apapun. Ia hanya menerka-nerka dalam hati apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat pemuda di sampingnya itu tiba-tiba terlihat frustasi.

Senja mulai berakhir dan saat itu juga Jong In harus benar-benar mengakhiri kebebasannya.

________

            Esoknya …

Gadis itu tersenyum cerah dan Jong In hanya bisa terdiam mematung melihatnya. Kini keduanya saling berhadapan satu sama lain, di tempat yang sama seperti kemarin saat mereka bertemu untuk pertama kalinya, di tengah-tengah padang rumput yang luas dan hijau. Tempat yang tidak ia ketahui namanya.

“Annyeonghaseyo, namaku Choi Ah Ra, kau bisa memanggilku Ah Ra.”

Jong In tersentak begitu gadis di hadapannya membungkuk berkali-kali—membuat rambut ikalnya terkibas sempurna—dan memperkenalkan dirinya, ia lalu balas membungkuk dengan kikuk. “Namaku Kim Jong In, panggil saja Jong In.”

Gadis itu tersenyum lagi melihat kekikukan Jong In, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah langit sore, “Langitnya indah, bukan?” gumamnya kemudian.

Jong In mengikuti arah pandangan Ah Ra, terlihat olehnya kini langit biru yang luas dan tanpa batas, ada sedikit gumpalan awan tak berbentuk yang turut menghiasi. Ia lantas mengangguk, membenarkan ucapan Ah Ra.

“Kalau kau sedang bersedih, pandanglah langit luas, temukan kebebasan dan ketenanganmu sendiri di sana.”

Jong In tertegun mendengar kata-kata Ah Ra, karena kata ‘bebas’ selalu mampu mengusik dirinya, membuatnya dalam sekejap merasa tidak nyaman karena hingga saat ini hal itu selalu sulit ia dapatkan. Ia lantas melirik ke arah Ah Ra dan mendapati gadis itu tengah merebahkan tubuhnya di atas rerumputan hijau, sama sekali tidak sayang kalau seandainya rambut ikal dan pakaiannya kotor. Ah Ra merentangkan kedua tangannya sembari menutup rapat kedua matanya.

“Kau hanya perlu membiarkan dirimu tenang beberapa saat saja dengan berbaring seperti ini, hirup udara di sekitarmu dalam-dalam, rasakan hangatnya sinar tipis matahari yang menerpa wajahmu, kemudian berdoalah dalam hati agar masalahmu segera hilang dibawa hembusan angin.”

Ah Ra membuka kelopak matanya, kemudian menoleh sedikit ke arah Jong In yang tengah menatapnya heran. “Apa ada sesuatu yang aneh?”

Yang ditanya hanya tersenyum tipis, kemudian menggeleng pelan.

“Kau harus mencobanya sendiri kalau tidak percaya.” kata Ah Ra kemudian.

Jong In terlihat ragu sejenak, namun kemudian ia mengedikkan kedua bahunya sembari mendengus pelan. Tidak ada salahnya mencoba. Jong In lantas melakukan hal yang sama seperti Ah Ra, ia merebahkan tubuhnya di atas rerumputan dan memejamkan kedua matanya. Pemuda itu langsung memenuhi paru-parunya dengan udara sejuk yang ada di sekelilingnya, ia juga mulai menikmati sinar tipis matahari yang mengenai wajahnya dan mampu menghangatkan tubuhnya. Suasana di sekitarnya begitu tenang, sesekali terdengar suara kicauan burung, membuat hatinya menjadi terasa ringan. Seulas senyum muncul di bibir tipis Jong In. Beberapa saat kemudian, pemuda itu menemukan perasaan yang telah lama dicarinya.

Bebas.

Pemuda berkulit tan itu membuka kedua matanya, ia melihat permadani biru dengan motif kapas putih yang sederhana namun memesona terhampar di hadapannya. Jong In tersenyum kecil begitu menyadari kalau ia sedang melihat langit. Langit yang dahulu kerap kali ia abaikan kini terlihat begitu memukau. Begitu indah.

“Bagaimana? Benar seperti yang aku bilang bukan?”

Jong In langsung menegakkan tubuhnya begitu mendengar suara lembut Ah Ra, setelah membersihkan sedikit tanah yang menempel di rambut dan pakaiannya, pemuda itu lantas menatap gadis itu lekat-lekat.

“Kau …. benar.”

Mendengar itu Ah Ra hanya tersenyum puas. Sementara Jong In hanya melihat senyum gadis itu dengan wajah aneh.

“Ngomong-ngomong,” kata Jong In kemudian, “Apa yang membuatmu memutuskan untuk … menyapaku? Padahal kau kan …”

Alis Ah Ra mengernyit, tidak paham maksud pertanyaan Jong In yang terdengar menggantung, tidak selesai.

“Padahal aku kan baru saja mengenalmu, ah ya, kita baru saja berkenalan hari ini. Tapi kau malah memberikan solusi untukku seakan-akan kita sudah saling mengenal sejak lama, seakan-akan kau mengerti masalah apa yang sedang aku hadapi sekarang.” lanjut Jong In.

Jong In berpikir agak lama, ia terlihat kesulitan merangkai kata-katanya sendiri. Takut-takut kalau ia salah bicara, karena sebenarnya bukan hal itu yang ingin ia tanyakan.

“Selain itu aku juga merasa aneh karena tiba-tiba kau begitu ramah hari ini, berbeda dengan kemarin. Aku bahkan merasa kalau kau tidak menganggapku ada kemarin. Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin membantuku?”

Gadis bernama Ah Ra itu membulatkan kedua matanya. “Aku melakukannya karena merasa kau mirip denganku.” tuturnya kemudian dengan entengnya.

Jong In menatapnya dengan alis terangkat ragu.

“Seorang gadis hanya sendirian di tempat seperti ini, bukankah hal itu sudah cukup membuat benakmu bertanya-tanya? Ya, aku kesepian, aku sendirian, aku tidak punya siapa-siapa. Dan hanya di tempat inilah aku bisa merasa tenang dan bebas. Meskipun hanya ada rumput, ilalang, angin serta kicauan burung yang menemaniku.”

Ah Ra lalu tersenyum tipis, “Aku melihatmu. Kau bisa sampai di tempat seperti ini seorang diri, dengan wajah lelah dan langkah lunglai, apalagi yang aku bisa aku tangkap selain kesan kesedihan dan kesepian yang begitu pekat dari dalam dirimu? Dalam hal ini, bukankah kita memiliki masalah yang tidak jauh berbeda?”

Jong In tercenung agak lama, sedetik kemudian mukanya bersemu merah karena kata-kata Ah Ra benar-benar sesuai dengan kondisinya sekarang. Namun yang jadi tanda tanya besar di benak Jong In, bagaimana gadis itu bisa tahu dirinya hanya dengan sekali melihat? Bukankah itu sedikit aneh?

“Apa alasanku salah?”

Jong In menggeleng pelan, kendati keraguan masih terlihat jelas di wajahnya.

Lagi-lagi gadis bernama Ah Ra itu tertawa, sesaat kemudian ia tampak berpikir. Seakan masih berusaha merangkai kata-kata untuk dikatakan kepada orang yang baru dikenalnya, seperti Jong In.

“Ehm, kalau begitu Jong In-ssi…”

Jong In mengangkat alisnya tinggi, kini ia melihat Ah Ra tengah menatapnya penuh harap sembari memilin-milin ujung bajunya, terlihat bingung sendiri. “Ah, uhm, apakah akan terdengar aneh kalau aku memintamu menjadi temanku? Ehm, iya mulai saat ini.”

Alis Jong In terangkat tinggi, hei apa ia tidak salah dengar?

“Ehm, aku tidak memaksa sih, hanya saja itu… Ah! Aku bingung bagaimana cara mengatakannya! Itu … ehm, iya teman … bagaimana?” ujar Ah Ra sembari mengacak rambut ikal emasnya.

Teman? Teman katanya? Maksudnya berteman dengannya?

Hmm.. sudah berapa lama Jong In tidak mendengar sebuah kata penuh makna itu dari mulut seseorang padanya?

Jong In tersenyum singkat melihat tingkah Ah Ra, sesaat kemudian ia berucap, “Baiklah.”

Mata Ah Ra membulat, ia lantas mengusap-usap telinganya. “Aku tidak salah dengar kan?”

“Tidak.” tukas Jong In cepat seraya mengangkat bahunya.

Binar bahagia langsung muncul di wajah cantik Ah Ra, “Kalau begitu sering-seringlah datang ke tempat ini dan habiskanlah waktu denganku. Kita bisa melakukan banyak hal di tempat yang sederhana ini. Dan.. Oh iya, mulai saat ini tempat ini adalah tempat rahasia kita berdua. Oke?”

Jong In sontak terdiam. Tempat rahasia? Berdua katanya?

Oh Tuhan, kenapa kata-kata sesederhana itu terdengar sangat indah di telinga Jong In?

Pemuda itu tercenung agak lama kemudian mengangguk kaku.

_______

            Selembar kertas dengan coretan angka merah jauh di bawah standar ketuntasan itu hanya ditatap datar dan tanpa minat oleh Jong In. Namun sayangnya tatapannya sama sekali tidak beralih dari kertas dengan label ‘test matematika’ itu, membuat hatinya makin sakit saja. Bodoh, kalau memang hasil ulangannya membuat mata dan hati jadi sakit, kenapa pemuda itu malah menatapnya lekat-lekat? Bodoh.

Saking fokusnya, Jong In sampai tidak memperhatikan jalanan di koridor sekolah yang tengah ia lewati, membuat tubuh tinggi semampainya menabrak seseorang. Dan dalam tempo singkat, terdengar pekikan khas seorang gadis.

“Gyaaaa, blazerku!!”

Jong In spontan mengangkat wajahnya, dan alangkah terkejutnya ia begitu melihat seorang gadis dengan blazer abu-abunya yang terkena tumpahan cat berwarna hijau tengah menatapnya kesal. Jong In menelan ludah begitu ia telah berhasil membaca name tag gadis itu, Lee Min Ji.

“Ah, jeongmal mianhae!” kata Jong In takut-takut seraya membungkuk berulang kali, sama sekali tidak berani menatap sepasang iris Hazel milik Min Ji yang ia rasa tengah memasang tatapan membunuh padanya.

Ketika tidak terdengar jawaban dari Min Ji, Jong In langsung mengambil inisiatif, “Ah, aku akan membantumu membersihkan blazer itu. Biarkan aku membawanya pulang…” ucapan Jong In terhenti begitu ia merasa kalau apa yang baru saja ia katakan adalah sebuah kesalahan. Mengingat Min Ji adalah seorang gadis populer di sekolahnya, bukan tidak mungkin kalau gadis itu mengira Jong In adalah salah satu penggemarnya yang sengaja menabraknya untuk nantinya mencucikan blazernya dengan harapan akan semakin dekat dengan gadis itu. Eoh? Kenapa terdengar memusingkan sekali.

Lalu … bukankah Jong In memang bisa dibilang salah satu dari sekian banyak penggemar Min Ji, ia sering memperhatikan gadis itu dari kejauhan, kan? Kalau benar begitu …

“Tidak perlu.”

Jantung Jong In langsung terlonjak ketika Min Ji mengatakan dua buah kata yang bermakna penolakan itu seraya menyentuh lengannya, terlalu terkejut karena sikap gadis itu yang terlalu tiba-tiba. Dan ketika sepasang iris Hazel itu perlahan menghilang dan tergantikan dengan sebuah eyesmile, Jong In hanya bisa terdiam.

“Tolong jangan memasang wajah ketakutan seperti itu, ehm ….” Min Ji membaca name tag yang tertempel di blazer Jong In, “Kim Jong In.”

Lagi-lagi jantung Jong In berdesir hebat begitu mendengar Min Ji menyebutkan namanya, untuk pertama kalinya, “Ta.. tapi ..”

Min Ji menggeleng sebelum Jong In sempat menyelesaikan kata-katanya, “Cat seperti ini mudah hilang, kok. Kau tidak perlu khawatir. Hmm, mungkin yang perlu dikhawatirkan adalah ini.” Min Ji berjongkok kemudian memungut selembar kertas yang tergeletak di lantai, gadis itu menyerahkan apa yang baru saja ia ambil kepada Jong In.

Jong In menerimanya dengan alis berkerut, sedetik kemudian kedua bola matanya membulat sempurna. Oh astaga, bukankah itu hasil test matematikanya!? Hei, sejak kapan Jong In menjatuhkannya?

Dan … astaga, itu artinya Min Ji melihatnya bukan?

“Milikmu bukan?”

Jong In masih belum menemukan kata-katanya, larut dalam dunia penyesalan yang melingkupinya, penyesalan karena bisa-bisanya ia menjatuhkan hasil ujian yang gagal total itu sampai-sampai terlihat orang.

“Tidak buruk, kok. Kau hanya perlu untuk berusaha lebih dan lebih lagi.” Min Ji melirik jam di pergelangan tangan kirinya, “Oh, sebentar lagi jam pelajaran kelima akan dimulai. Aku pergi dulu ya, Kim Jong In. Bye!”

Jong In masih diam.

Tidak buruk, kok. Kau hanya perlu untuk berusaha lebih dan lebih lagi.

Tidak buruk? Apanya yang tidak buruk, hei! Jelaskan padaku apanya yang tidak buruk, Lee Min Ji! Teriak Jong In dalam hati.

Buruk, tentu saja buruk. Min Ji hanya mencoba untuk menghiburnya.

Jong In lantas meratapi kertas hasil ulangan miliknya dengan wajah kusut, pemuda itu menghela napas keras. Yah, sepertinya datang ke tempat tanpa nama itu akan membuatnya merasa lebih baik.

_______

            “Kenapa wajahmu begitu?”

Jong In mendengus, kemudian duduk di atas rumput di samping Ah Ra. “Nilai tesku hari ini buruk. Yah.. meskipun sebenarnya bukan hari ini saja sih nilaiku buruk.”

Alis Ah Ra mengernyit, ia menatap Jong In lekat-lekat, membuat pemuda itu sedikit merasa jengah. “Apa? Kau pasti berpikir kalau aku bodoh sekali kan? Jujur saja!”

Bahkan, Min Ji kini telah tahu bahwa aku ini bodoh! Padahal, kami bahkan baru pertama kali bertatap dan bercakap berdua seperti itu, Erang Jong In dalam hati.

Ah Ra membulatkan matanya, “Aku bahkan belum bilang apa-apa.” Gadis itu lantas mengerucutkan bibirnya, “Aku hanya berpikir seberapa menakutkannya soal tes itu hingga sanggup membuat wajahmu menjadi semakin menyebalkan seperti itu.”

Jong In menghela napas keras sembari menatap sinis ke arah Ah Ra, membuat gadis itu terkekeh pelan. Setelah itu tercipta keheningan di antara keduanya hingga Ah Ra memutuskan untuk memulai sebuah topik, “Jong In-ssi, apakah kau punya mimpi?”

Jong In mengalihkan pandangannya dari lembaran di tangannya yang penuh dengan coretan berwarna merah, ia tampak berpikir sejenak kemudian tersenyum masam. “Mimpi? Aku bahkan tidak pernah memikirkannya.”

“Jangan bohong!”

“Aku tidak bohong.”

“Setiap orang pasti punya mimpi!”desak Ah Ra.

“Aku tidak.”

“Kenapa tidak?” Ah Ra tetap memaksa.

Jong In kembali mendesah hebat, “Membaca dan menulis saja aku kesulitan, bagaimana aku bisa punya mimpi?”

Mendengar itu Ah Ra hanya terdiam, berusaha mencerna kata-kata Jong In. “Maksudmu?”

Lembaran di tangan Jong In kini teremas sempurna, pemuda itu terlihat tengah mengontrol emosinya. Entah kenapa, timbul sebuah dorongan dari dalam dirinya untuk bercerita pada Ah Ra, gadis yang bahkan baru ia kenal sejak beberapa hari yang lalu. Tentang sebuah kondisi yang memenjarakannya, tentang sebuah fakta pahit yang bisa meruntuhkannya kapan saja.

“Aku penderita disleksia, kondisi yang membuatku kesulitan dalam mengeja, membaca dan menulis.” ucap Jong In dengan napas tertahan dan suara lirih.

Ah Ra hanya mematung seusai mendengar pernyataan Jong In, ia lantas menunduk dan memilin-milin ujung bajunya, ia tampak tak enak hati pada Jong In. Menyadari hal itu, Jong In hanya tersenyum masam, “Aku baik-baik saja. Kau tak perlu merasa bersalah begitu.” ujar Jong In seakan-akan bisa membaca pikiran Ah Ra.

“Hanya saja, kondisi ini membuatku harus tinggal kelas dua kali. Aku juga tak punya teman, aku merasa enggan bergaul dengan mereka dan nampaknya merekapun begitu. Guru-guru juga sudah terlalu lelah berurusan denganku yang selalu lambat menangkap materi yang mereka ajarkan ditambah dengan nilai tes yang selalu buruk.”

Jong In tersenyum kecut, “Oleh karena itu, aku harus berpikir berulang kali, bahkan untuk sekedar berani bermimpi.”

Udara di sekitar Ah Ra mendadak terasa berat, membuatnya hampir kesulitan bernapas. Ia semakin merasa bersalah pada Jong In. Harusnya ia tidak berkata demikian, harusnya ia tidak bertanya apa-apa. Beribu-ribu penyesalan langsung menyerbu relung hati gadis berambut ikal emas itu. “Maaf.” gumamnya kemudian dengan bibir bergetar.

“Tidak ada yang salah, tidak ada yang perlu dimaafkan.”

Ah Ra diam, larut dalam pikirannya sendiri. Ia benar-benar terkejut dengan kondisi yang menimpa Jong In, selain karena baru kali ini mendengarnya, ia tidak bisa membayangkan berbagai tekanan yang diterima pemuda itu dari lingkungan di sekelilingnya selama ini. Pasti rasanya sangat tidak enak, kesepian dan sendiri bahkan saat di tengah-tengah banyak orang.

Ah Ra menatap langit, menghirup udara dalam-dalam kemudian memejamkan matanya sejenak. Ia berpikir untuk melakukan sesuatu. Ya, ia harus melakukan sesuatu.

“Jong In-ssi, berbaringlah!”

“Eh?”

“Berbaringlah di atas rerumputan dan pandanglah langit. Angkat jari telunjukmu ke udara, lalu tuliskan mimpimu di atas angin.”

Jong In berdecak kesal, “Bukankah sudah aku bilang kalau aku …”

“Tidak akan ada seorangpun yang melihatnya, tidak akan ada siapapun yang mengetahui apa yang kau tulis di atas angin. Jadi, tidak akan ada seorangpun yang akan menertawakan mimpimu.” potong Ah Ra sembari tersenyum kecil ke arah Jong In. “Bukankah itu yang kau khawatirkan?”

Pemuda bernama Jong In itu hanya bisa terdiam. A ..apa katanya?

Tidak akan ada seorangpun yang akan menertawakan mimpimu.

Sesuatu yang selalu ia takutkan, ia khawatirkan.

Jong In menghela napasnya yang baru saja tertahan. Perkataan Ah Ra tepat sekali. Ia memang selalu berkata kalau ia enggan bermimpi karena keterbatasannya, namun sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya, ia punya mimpi, tentu saja. Alasan ia berbohong juga tepat seperti yang Ah Ra katakan, ia terlalu takut akan pandangan orang terhadapnya kalau ia mengutarakan mimpi-mimpinya.

Dan … Oh, Tuhan kenapa gadis itu selalu mengatakan hal yang benar soal dirinya? Bukankah mereka baru saling mengenal beberapa hari lalu? Kenapa seolah-olah gadis itu tahu segalanya tentang dirinya bahkan melebihi dirinya sendiri?

“Kalau kau menuliskannya dan membuat perjanjian rahasia dengan angin, maka percayalah bahwa angin akan menyampaikan mimpi-mimpimu pada Tuhan. Tuhan akan mendengarnya, lalu mengabulkan satu per satu mimpimu.”

Aneh.

Saking anehnya, gadis itu mampu membuat Jong In percaya.

Seulas senyum terbentuk di bibir Jong In setelah sempat ternganga beberapa saat lalu, ia mulai berpikir bahwa Ah Ra benar-benar gadis aneh yang penuh dengan keajaiban. Namun meskipun saran gadis itu selalu aneh dan tidak masuk akal, entah kenapa Jong In ingin mempercayainya. Ingin ia dekap erat kata-kata gadis itu dan akan ia jadikan mimpi indah dalam tidurnya.

“Kalau mimpiku sih ingin menjadi angin.” kata Ah Ra tiba-tiba.

“Hah?”

“Angin memang tidak terlihat, tapi bukankah dengan begitu aku jadi bebas untuk melakukan apapun yang aku mau tanpa seorangpun tahu?”

Jong In hanya memandangi Ah Ra takjub, ia tak mampu berkata-kata karena baru kali ini mendengar ada seseorang yang punya mimpi seperti itu, dengan alasan yang juga terdengar aneh dan asing.

“Namun meskipun tidak terlihat, kita bisa merasakannya. Merasakan belaiannya, kasih sayangnya, serta kesejukannya.” Ah Ra tersenyum, “Aku ingin menjadi seperti itu. Menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain meskipun tak terlihat.”

Jong In tersenyum kemudian mengangguk-angguk mengerti, “Itu impian terindah yang pernah aku dengar.” katanya tulus.

________

Jong In kembali berhadapan dengannya. Seorang pria dewasa berperawakan tinggi dengan pandangan mata yang tajam dan menusuk, pria dewasa yang selalu menjadi mimpi buruk bagi Jong In. Kali ini pria dewasa itu duduk di hadapan Jong In, pria itu memasang guratan kecewa di wajahnya, membuat nyali Jong In menciut seketika.

Pria dewasa itu meletakkan kedua tangannya di atas meja, sesekali melirik sekilas ke arah beberapa lembar hasil ulangan dengan nama Kim Jong In tertera di sana. Keningnya yang keriput menunjukkan bahwa usianya sudah lanjut, kantung matanya yang hitam seakan menjelaskan beban hidup yang tengah ia dera, bibirnya yang terkatup dan melengkung ke atas menggambarkan sebuah kekecewaan yang dalam.

Jong In memandang wajah pria dewasa yang menyandang status sebagai ayahnya itu dengan tatapan miris.

“Masih tidak ada perkembangan juga wahai Tuan Muda Kim. Nilaimu masih saja seburuk dulu, bahkan mungkin lebih buruk.”

Jong In hanya menunduk sebagai jawaban atas pertanyaan ayahnya.

“Oh, sepertinya aku salah bicara. Apakah seorang seperti ini bisa disebut sebagai ‘Tuan Muda Oh’?”tambah ayah Jong In dengan penekanan di tiga kata terakhir. “Kau bahkan tidak pantas menginjakkan kaki di rumah ini!”

Jong In tersentak, ia lantas mengangkat kepalanya cepat kemudian menatap tepat ke arah manik kehitaman yang berkilat milik ayahnya di hadapannya. “Appa, aku tidak …”

“Jangan pernah sekalipun memanggilku ‘Appa’! Anakku telah meninggal bersama istriku sembilan belas tahun lalu, aku tidak pernah punya anak!” tegas ayah seraya menggebrak meja, membuat Jong In terperanjat.

Ayah beranjak dari kursinya kemudian mendekati Jong In, di tangannya terdapat tiga buah buku yang sangat tebal, membuat Jong In bergidik melihatnya. Dalam waktu singkat, pria itu membanting ketiga buku itu tepat di hadapan Jong In kemudian membukanya cepat, ia memilih halaman dengan asal. Dengan tanpa perasaan, pria ayah mendorong lalu menekan keras kepala Jong In, mengarahkannya pada buku tebal yang tengah terbuka itu.

“Cepat baca dan pahami atau aku akan benar-benar mengusirmu dari rumah ini!”

Mata Jong In membulat sempurna menatap ratusan kata yang kini hanya berjarak lima sentimeter dari wajahnya. Ia tidak memahaminya, terlalu banyak kata sulit yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Seberapa keras Jong In berusaha memahaminya ia tetap tak mampu, aksara Hangeul di depannya kini tampak semrawut dan sulit dibaca. Ia tidak bisa kalau dipaksa begitu. Jong In menggigit bibirnya keras, “Aku… tidak bisa, Appa. Aku …”

Belum sempat Jong In menyelesaikan perkataannya, ayahnya telah lebih dulu menamparnya keras hingga sanggup membuatnya terjatuh dari kursi. Jong In meringis begitu tubuhnya yang membentur lantai dengan keras terasa sangat sakit. Ia juga merasakan panas di pipinya, pemuda itu menyentuh ujung bibirnya yang ternyata sobek, berdarah.

“Begini saja tidak bisa!? Lalu bagaimana kau akan melanjutkan perusahaanku, hah!?” Ayah Jong In menggeram, dadanya naik turun dan matanya mendelik ke arah Jong In. Sedetik kemudian kursi yang berada di samping pria dewasa itu terbanting sempurna, pelampiasan.

“Seandainya saja …”

Jong In memohon dalam hati, tolong jangan katakan, jangan sampai…

Jangan sampai pria itu mengatakannya atau ia akan merasa lebih baik mati …

“Seandainya saja yang hidup sampai sekarang adalah Tae Min dan bukan kau, aku pasti bisa mati dengan tenang nantinya.”

Dan sayangnya ayah lebih memilih untuk mengatakannya, mengatakan kalimat yang paling dibenci dan dihindari Jong In, tidak ingin ia dengar sekalipun. Kalimat yang selalu mampu menghujam dada Jong In dan membuat hatinya remuk setiap kali pria itu mengatakannya. Jong In menggigit bibirnya keras dan mencengkeram erat jari-jarinya sendiri, sakit, sakit sekali rasanya. Namun anehnya, sakit itu tak seberapa dibandingkan sesuatu yang terasa di hatinya sekarang. Sesak, sakit.

Perih.

____TBC____

Gimana? Garing apa gimana? Apa kurang romance atau angst?😀

oKAI, See ya in the next chapter nee?😀

follow me @fhayfransiska

Don’t forget to leave your comment and like this ^^b Just appreciate what you feel and I’ll accept all of it except bashing and flaming^^

 

79 responses to “Untouched Dream [Chapter One]

  1. Ini ceritanya mirip sama critany sehun sma seohyun bkan ya? Tpi gara2 d sni aku jdi lebih ngerti ceritanya, hahahaa pas si sehun udah kesian dulu jadi blum detail hihihiii, tpi dgn sentuhannya pihak ke tiga, ada yg beda dong yaa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s