A Thousand Paper Cranes | Chapter 2

 jdkajdkaj

Title: A Thousand Paper Cranes

Parts: Chapter 1/Prologue | Chapter 2

Author: Vanana

Genre: Romance, Drama

Length: Chaptered

Main Casts: Oh Sehun, Ahn Hayeon (OC/You), Kim Jongin

Note: maaf belum ada poster -__-v maaf juga kalau bahasanya lebay dan terlalu dramatis.

Bersantai di kamar memanglah hal yang sangat membuat kita merasa tenang. Tetapi tidak jika kamarmu adalah sebuah kamar di rumah sakit. Tidak ada makanan ringan yang enak, tidak ada soda, dan terlebih lagi, tidak ada yang menemanimu. Aku lebih senang pergi ke sekolah dan tertidur disaat guru menerangkan.

Ngomong-ngomong soal tertidur, aku teringat akan anak di kamar 206. Beberapa jam yang lalu, aku mengunjungi kamarnya. Apakah sekarang dia sudah bangun? Aku penasaran ingin melihat matanya terbuka. Disaat ia tertidur saja, wajahnya sudah mengundang kebahagiaan. Bagaimana saat ia berbicara?
Tidak ingin memendam rasa penasaranku lama-lama, aku keluar dari kamarku dan mendatangi kamar 206. Aku mengetuk pintunya, tetapi tidak ada jawaban. Aku mengetuk pintunya sekali lagi, dan tetap tidak ada jawaban. Karena aku terlalu penasaran, maka kubuka pintunya perlahan-lahan dan disana, aku melihat anak laki-laki itu masih tertidur.
Aku berjalan mendekatinya dan duduk di sebelah tempat tidurnya. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang terdengar seperti sebuah lagu di telingaku. Aku melihat ke sekeliling. Tidak ada hal yang menarik, kecuali alat-alat yang terhubung pada tubuh anak itu dan sebuah kardus besar, yang aku yakini kosong.
“Apa yang akan terjadi jika besi-besi ini tidak menyala?” aku bertanya pada anak yang tertidur tersebut, berharap akan ada jawaban.
Ketika aku mulai merasa bosan menunggunya terbangun, tiba-tiba seorang dokter masuk. Aku merasa kaget karena dokter itu adalah dokter yang menanganiku juga, yaitu Kahi. Aku mencoba untuk bersembunyi sebelum Kahi melihatku. Untung saja aku belum terlambat. Di kolong tempat tidur, Kahi tidak dapat menemukanku.
Aku dapat mendengar suara Kahi menulis sesuatu di papan yang biasa ia gunakan untuk mencatat keadaan pasien. Sesaat setelah itu, aku mendengar langkah kaki, yang artinya, Kahi telah meninggalkan kamar ini. Mengapa ia tidak membangunkan anak laki-laki ini?
Aku keluar dari kolong tempat tidur dan kembali menunggunya untuk bangun. Aku menunggunya dari 1 menit, 5 menit, 10 menit, 30 menit, hingga 1 jam, dan ia masih tetap tertidur. Tidak bosan-bosannya aku menatap matanya yang tertutup, seakan-akan dibalik mata itu adalah sebuah lautan biru yang sangat luas.
Aku melirik pada jam dinding dan menyadari bahwa sekarang sudah hampir pukul 7 malam. Aku harus segera kembali ke kamarku karena sebentar lagi suster akan membawakan makan malam untukku.
Sesampainya di kamarku, aku segera menghempaskan badanku ke kasur dan menyalakan TV. Aku menonton acara musi untuk mengatasi kebosanan. Beberapa saat kemudian, seseorang mengetuk pintu kamarku. Pada awalnya, aku yakin bahwa itu adalah suster yang membawakan makanan untukku. Tetapi aku tidak sepenuhnya benar. Malam itu, bukan hanya suster yang datang ke kamarku, melainkan Kahi dan seorang suster.
Suster itu membawakan makanan untukku, sedangkan Kahi datang dengan beberapa obat yang aku benci. Rasanya pahit, dan aku tidak mau obat-obat itu masuk ke kerongkonganku.
“Apakah aku benar-benar harus meminum obat-obat ini?” Aku bertanya pada Kahi dengan pandangan memelas, “terakhir kali aku meminum obat seperti ini adalah saat kondisiku memburuk beberapa hari yang lalu, dan aku tidak mau meminumnya lagi.”
“Kesehatanmu sedang menurun. Minum obat itu saat kau selesai makan,” jawab Kahi sambil bersiap meninggalkan kamarku.
Tiba-tiba, aku teringat akan anak di kamar 206. Kahi pasti mengenalnya karena tadi dia memasuki kamarnya. Karena penasaran, aku bertanya pada Kahi tentang anak itu.
“Kahi… aku memiliki sebuah pertanyaan untukmu,” kataku dengan ragu-ragu. Kahi memandangku dengan dahi mengkerut.
Aku menghela nafas panjang sebelum akhirnya bertanya, “kau tahu kamar 206?”
“Oh Sehun?” Kahi balik bertanya, “ia sudah koma selama 3 tahun dan belum bangun hingga saat ini.”
Ternyata nama anak itu adalah Sehun dan…. Koma? Jadi itulah mengapa ia tidak bangun saat aku mencoba membangunkannya?
“Apakah kau tahu kapan ia akan bangun?” aku bertanya lagi pada Kahi.
“Aku bahkan tidak tahu apakah dia akan bangun atau tidak,” kata Kahi, “ada kemungkinan dia akan bangun, tetapi aku tidak dapat memastikan kapan. Mungkin saja hari ini, atau besok, atau tahun depan… aku tidak tahu.”
Aku tidak bertanya banyak tentang Sehun pada Kahi karena aku tidak ingin terlihat mencurigakan. Setelah Kahi dan si suster keluar dari kamarku, aku segera melanjutkan menonton TV sambil memakan makan malamku. Makanan yang sangat menyehatkan, dan aku benci itu. Tidak ada kentang goreng, tidak ada burger, tidak ada pizza. Yang ada hanyalah salad dan semacamnya.
Ketika aku selesai makan, aku tidak meminum obat yang Kahi berikan, karena rasanya sangat tidak enak. Maksudku, benar-benar tidak enak. Aku tidak akan pernah meminum obat seperti itu lagi seumur hidupku. Maka, aku membuang obat tersebut.
Aku merasa ingin bertemu lagi dengan Sehun dan melihat dirinya terbaring lemah di tempat tidur. Aku bukanlah orang penyabar, maka aku segera mendatangi kamarnya dan memperhatikannya, lagi. Walaupun aku tahu bahwa tidak akan ada balasan atas semua pertanyaan yang kulontarkan padanya.
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada kardus yang kulihat tadi. Kelihatannya kardus itu kosong, tetapi aku tetap penasaran. Aku melirik kardus itu sebentar, lalu aku berjalan kearahnya dan membukanya. Ternyata kardus itu tidak kosong. Aku dapat melihat beberapa burung yang terbuat dari kertas lipat, yang sudah berdebu.
Aku teringat akan sesuatu. Saat aku kecil, ibuku pernah bercerita bahwa jika kau melipat 1000 burung kertas, permintaanmu akan terkabulkan. Mungkin Sehun melipat burung-burung kertas ini karena ia memiliki suatu permintaan. Tapi, mereka sudah berdebu. Pasti Sehun belum sempat melipat 1000 burung kertas karena ia sudah terlanjur jatuh koma.
Aku menghitung semua burung kertas yang ada di kardus itu, dan jumlahnya hanya ada 143. Aku berniat untuk melanjutkan sisa 857 burung kertas untuk Sehun, supaya saat ia terbangun, permintaannya akan terkabul.
Aku kembali duduk disamping tempat tidurnya dan memperhatikan wajahnya, lagi. Aku mengelus pipinya dengan lembut dan menatapnya dengan tatapan sedih. Bukan dengan tatapan murung, tetapi dengan senyum yang pilu.
“Apa kau melihat semua yang aku lakukan disini?” tanyaku. Semua pertanyaan yang kutanyakan padanya tidak pernah terjawab.
Aku memegang tangannya dengan erat dan bermain dengan jari-jarinya. Air mataku membasahi pergelangan tangannya. Aku benar-benar berharap ia akan segera bangun, supaya aku bisa melihat matanya yang terbuka. Aku juga ingin melihat senyumnya.
Sebelum aku keluar dari kamarnya, aku berbisik tepat di telinganya, seakan-akan dia bisa mendengarku.
“Mungkin… aku jatuh cinta padamu, Sehun.”

44 responses to “A Thousand Paper Cranes | Chapter 2

  1. Pingback: A Thousand Paper Cranes | Chapter 6 | Vanana!·

  2. Pingback: A Thousand Paper Cranes | Chapter 6 | FFindo·

  3. Pingback: A Thousand Paper Cranes | Chapter 7 | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s