FF : Oramanieyo [CHAPTER 4]

Title : Oramanieyo…

Author : Hayamira

Genre : Romance, Friendship, Tragedy

Rating : PG 16

 Length : Chaptered / Series

Main Cast :

Jung Na Mi (OC)

Kim Him Chan ( B.A.P )

Kim Su Ho ( EXO-K )

Yong Jun Hyung ( BEAST )

Goo Ha Ra ( KARA )

Support Cast    :

Lee Sung Yeol ( INFINITE )

Byun Baek Hyun ( EXO-K )

Krystal Jung ( f(x) )

Disclaimer :

Cast belong to GOD and their entertaintment,  Ide cerita murni pemikiran author, tidak ada unsur plagiat.

Poster     :   sasphire http://sasphire.wordpress.com/

oramanieyo (2)

TEASERTEASER 2 | CHAPTER 1 | CHAPTER 2 |  CHAPTER 3

A/N :

HAI!! Hyerinn Park disini~ duh maaf banget belum sempat ngepost FF u.u disini Hyerinn bawa FF Sequel Please, Stop The Time :D alias sequel Nami versionnya tanpa banyak bacot lagi, semoga para readers suka ya sama ceritanya. NO PLAGIAT, NO SILENT READERS. please, komen FF ini sebagai bentuk rasa membangun buat authornya, biarpun itu komen apapun. :) Oh ya, mungkin part ini agak panjang. Maaf ya >.<

 

PLEASE BE A GOOD READERS

 

Previous Part :

Berbagai kabar yang tak sedap datang menerpa Nami. Sebuah kabar yang menyebutkan dirinya adalah lesbian juga berhasil membuat Nami dan Jun Hyung kacau. sementara itu, Nami juga selalu diteror dengan keretakan hubungan rumah tangga adiknya oleh seseorang yang tak dikenalinya. Hidupnya benar-benar kacau untuk saat ini. Tanpa disadari, karena ulah mantan sahabatnya dan mantan kekasihnya. Goo Ha Ra dan Kim Suho

Di sisi lain, Him Chan yang selalu saja bersimpati terhadap Nami. Dan, Him Chan menyadari sesuatu yang aneh terjadi dengannya dikala dia berdekatan dengan Nami. Nami, yang membuat jantungnya berdegup kencang dari biasanya.

-oOo-

 

Kopi itu mengembulkan asap. Masih panas, dapat dirasakan dari permukaan luar cangkir kertasnya. Jung Na Mi menyesap kopi itu dengan hati-hati, perlahan dan memejamkan matanya menikmati setiap tetes minuman berkafein tersebut yang mengaliri tenggorokannya. Rileks dan nyaman.

Matanya beralih ke arah jendela kereta. Kereta ini belum jalan, masih menunggu penumpang yang lainnya.sambil menunggu, Nami memerhatikan pemandangan kota Hokkaido dari sisi stasiun. Ia menghela napas.

Hari ini, dia harus kembali ke Tokyo.

Entah apa yang merasukinya, namun Jung Na Mi benar-benar tidak setuju dengan gagasan itu. Dirinya masih takut dan sedikit malas untuk menghadapi para wartawan tentang gossip dirinya sebagai seorang lesbian. Belum lagi, masalah ‘teror’ tentang adiknya yang dilakukan oleh orang yang tak dikenalinya. Masalah selalun menghantuinya, Nami mendesah.

Tapi, Tokyo Fashion Week in Shibuya hanya tinggal menghitung hari lagi. Dia sudah cukup lama  tinggal di Hokkaido, dan tidak mungkin dia membiarkan proyek besarnya lolos begitu saja. Mau tak mau, dia harus melewati semuanya. Dia kuat, dia pasti bisa. Begitulah yang dia selalu gemakan di hatinya.

Lagi-lagi kelebat firasat buruk akan menantinya di Tokyo kelak.

Ia hanya berharap, semoga delusinya tidak menjadi kenyataan.

-oOo-

Him Chan harus mengutuk dirinya sendiri. Kenapa tidak, gara-gara dia terlambat bangun, dirinya hampir saja kelewatan kereta ke Tokyo. Dan, jika itu benar terjadi, maka dia harus berangkat ke ibukota Jepang itu besok, dan Him Chan tidak mau menyiakan waktunya. Banyak pekerjaan yang menunggunya.

Matanya mencari-cari kursi yang kosong, dan dapat.Him Chan segera berjalan menuju kursi itu. Ternyata, seorang gadis yang sedang menikmati kopi sambil memandangi jendela yang akan menjadi teman perjalanannya, kalau dia mengizinkan Him Chan duduk.

“Permisi, boleh saya duduk disini?” kata Him Chan.

Gadis itu menoleh. Him Chan mengenalinya, langsung saja duduk disampingnya. “Kebetulan atau memang kesengajaan?”

Nami tersenyum sambil meletakkan gelas kopinya di  jendela. “Kebetulan yang seakan-akan kesengajaan.”

Him Chan tersenyum mendengarnya. “Kurasa, aku tidak perlu meminta izin untuk duduk disini. Benar kan, nona Jung?”

Nami mengangguk, “Tentu saja, Tuan Kim.” Mendengar Nami memanggil dirinya Tuan Kim, Him Chan terkekeh pelan. “Berhenti memanggilku Tuan Kim. Terlalu formal.”

Nami memandangi Him Chan smabil tersenyum. “Baiklah, as your wish.” Kata Nami lagi, lalu kemudian kembali memandangi jendela. Nami tidak tahu, kalau Him Chan sekarang duduk disampingnya harus membutuhkan kerja ekstra. Ya, kerja ekstra untuk menyembunyikan detak jantungnya.

Detak jantungnya yang berdebar keras saat berada didekat Jung Na Mi.

Detak jantungnya yang memacu napas Him Chan, seakan Ia takut Jung Na Mi mendengarnya.

Him Chan juga harus menyembunyikan rasa senangnya ketika bertemu, atau hanya sekedar melihat wajah Nami di majalah. Ia juga harus menyembunyikan tingkahnya yang kadang menyimpang dengan seharusnya jika berada didekat gadis ini.

Ia tidak tahu kenapa dia seperti ini akhir-akhir ini. Dirinya tidak mengerti apa yang terjadi. Namun, harus Ia akui, akan sangat menderita bagi Him Chan jika melihat Nami meringkuk ketakutan dan menangis meminta tolong. Seakan dia yang hancur, seakan dia yang ketakutan. Seperti jantungnya ditusuk samurai, bahkan lebih. Gadis ini sudah mengacak-ngacak perasaannya, menjadi tak menentu.

Entah apa yang dia rasakan saat melihat Nami yang berbeda dari biasanya. Pertamanya, aneh. Namun, kedua ketiga keempat dan seterusnya, dia merasa sakit. Sakit melihat Jung Na Mi seperti itu. Seakan dia saja yang ada di posisinya, menggantikan rasa sakitnya. Apalagi saat kasus di media itu. Him Chan begitu ingin memukul yang menyebarkan kasus itu, tidak peduli siapapun itu.

Apakah ini rasa simpati, yang selama ini Him Chan pikirkan, atau malah…rasa suka?

Untungnya ada sebuah majalah didepannya, jadi dia mengambil dan membacanya. Tidak, matanya hanya memerhatikan hiruf demi huruf, tidak benar-benar membacanya. Sebenarnya aku ini kenapa, seperti anak SMA yang baru merasakan cinta saja, batin Him Chan.

Tiba-tiba, kenangan di Hokkaido dengan Nami menyeruak begitu saja, membuat Him Chan memfokuskan diri ke kenangan tersebut, tidak dengan majalah yang ada dihadapannya.

Saat itu, Him Chan mengantar Nami pulang ke rumahnya setelah memberitahu kabar dari media. Di sepanjang jalan, Nami terus menggenggam tangannya, dan Ia tak melepasnya.

Nami lalu beranjak masuk dan melepaskan tangannya ketika sudah sampai rumah. Sebelumnya, dia berbalik kearah Him Chan. “Terima kasih,” katanya membungkuk.

“Kau bisa menelponku kapan saja kau membutuhkanku…”

Nami mengerutkan alisnya, tidak mengerti dengan maksud Him Chan.

“Aku akan selalu ada untukmu, saat kau membutuhkanku, Jung Na Mi.”

Saat itu, Him Chan tidak tahu atas dasar apa dia berkata seperti itu. Kenapa dia rela menjadi sosok yang selalu ada untuk Nami. Padahal, dia baru mengenal betul sosok Nami beberapa bulan yang lalu. Ia memberikan segala rasa simpatinya pada Nami, tidak peduli Nami membutuhkannya atau tidak. Aneh, bukan?

Sekarang, dia mungkin mulai menalari dan menerimanya. Dirinya, rela melakukan apa saja demi gadis itu. Kepada gadis yang tenang, diam dan dingin itu Him Chan memberikan seluruh hatinya yang kosong.

Sederhana. Him Chan, mulai menatap Jung Na Mi. Dirinya, mulai menganggap Nami penting.

-oOo-

Goo Ha Ra kali ini harus merasa cemas akan hidupnya dikemudian hari. Bagaimana tidak, Gosip yang dia sebarkan kali ini memang menjadi Hot News dikalangan selebriti terutama komunitas designer kelas atas. Apalagi, majalah, tabloid, infotaintment membicarakan Jung Na Mi yang sekarang dikabarkan dengan kabar yang kurang mengenakkan.

Selama ini, donasi terbesar dari JNM adalah Yong Jun Hyung, salah satu direktur perusahaan real estate yang besar di Jepang dan pemegang saham cukup besar di beberapa perusahaan asing. Jun Hyung terkenal dingin, arogan, dan menyebalkan untuk para pesaingnya karena otak bisnisnya yang membuatnya mendapat jabatan setinggi tiu di usianya yang sangat muda, selain factor keluarga tentu saja. Namun, bukan soal saham atau lainnya, melainkan hibungannya dengan Jung Na Mi.

Seluruh media tahu hubungan mereka berdua, yaitu tidak jelas. Bersahabat, atau berpacaran, para pencari berita sama sekali tidak bisa mengorek informasi lebih dalam tentang mereka berdua. Dan kini, sebuah berita menyangkut mereka bedua tiba-tiba naik di permukaan, membuat para awak media penasaran dan ingin menggalinya lagi, karena sudah menunjukkan kejelasannya.

Jika memang merka berteman, tidak mungkin Jun Hyung memberikan begitu banyak donasi kepada Jung Na Mi, apalagi dengan karakter Jun Hyung yang keras, rasanya sulit untuk dipikirkan.

Tak henti-hentinya para awak media mendatangi flat Jung Na Mi di pinggir kota Tokyo untuk menanyakan kabar tersebut. Lagi dan lagi, mereka tidak beruntung. Jung Na Mi seolah menghilang dari bumi. Keberadaannya tidak ada yang tahu, setidaknya itu yang para awak media dapat dari asisten Nami atau pegawai JNM. Dimana Jung Na Mi?

Dilain pihak, para awak media mendatangi kantor Yong Jun Hyung dan ini membuat Jun Hyung marah besar. Dia tidak tahu, kalau dirinya digosipkan seperti itu dengan sahabat terdekatnya sendiri. Jun Hyung hampir membanting salah satu tim penerbit sebuah majalah yang mencantumkan kalimat senonoh.

“Jung Na Mi rela tidur dengan Yong Jun Hyung untuk meraih ketenaran seperti sekarang.”

“Katakan padaku,” Jun Hyung meremas kerah baju pegawai tersebut. “Katakan siapa yang membuat artikel ini!”

Jun Hyung membanting meja, lalu kembali melihat seluruh pegawai majalah itu dengan tatapan menyeramkan. Tidak pernah dirinya merasa semarah ini dengan orang, bahkan dengan musuh nya sendiri mungkin. Seluruh pegawai hanya bisa diam melihat Jun Hyung. Semuanya takut, melihat Jun Hyung seperti itu.

“Lihat mataku! Kalau sampai aku mendapati siapa yang menyebarkan artikel busuk ini, akan kubalas lebih dari ini!”

Kabar ini langsung masuk ke Korea Selatan dan ditayangkan di infotaintment Korea Selatan. Hal inilah yang membuat Goo Ha Ra cemas, sampai sekarang. Berkali-kali Goo Ha Ra menyeka keringat yang menetes di pelipisnya. Napasnya terputus-putus, jantungnya berdebar kencang.

Dan, otomatis Goo Ha Ra akan menjadi tersangka. Ini mungkin baru kemungkinan, namun persentasenya bisa meningkat mengingat dirinya sendiri yang menyebarkan rumor negative kosong kepada media. Kalau memang Jun Hyung bisa menemukan tersangkanya, yaitu dirinya, maka tamatlah sudah karir Ha Ra. Dia tahu benar tipikal orang seperti Yong Jun Hyung.

Chagi, gwaenchana?”

Suho melihat Ha Ra khawatir, karena daritadi dia gelisah. Dibalik stirnya, Suho melihat hara yang aneh.

“Aku baik-baik saja.”

Suho mengerutkan dahinya. “Yakin?”

“Iya, Oppa. Aku baik-baik saja.”

Dia baik-baik saja, selama tidak ada yang bocor akan identitasnya. Ha Ra yakin itu. Ha ra berusaha meyakinkan dirinya.

-oOo-

 

Senyuman sumringah menghiasi Him Chan hari ini. Besok amlam akan diadakan pesta besar atas dirinya, karena salah satu proyeknya berhasil meledak di pasaran. Siapa yang tidak bahagia?

Him Chan segera meraih ponselnya, menghubungi Jung Na Mi. Dia ingin berbagi kebahagiannya, juga menyemangati Nami. Lusa, Tokyo Fashion Week akan dibuka. Acara pameran fashion oleh seluruh designer Jepang maupun non Jepang ini akan diadakan di Shibuya, satu minggu full. Nami juga termasuk dalam daftar designer yang berpartisipasi, jadi Him Chan ingin memberinya semangat.

Sambil menekan tombol nomor ponsel Nami, Him Chan mengecek pekerjaan di laptopnya. Him Chan menempelkan ponselnya ke telinganya, namun tak lama disambut dengan nada operator yang mengatakan bahwa nomor tesebut tidak aktif.

“Tidak aktif?”

Him Chan mengerutkan dahinya. Apa yang membuat ponselNami tidak aktif? Pikirnya. Ah, mungkin saja dia sibuk mempersiapkan segalanya. Mungkin. Him Chan tidak mau berpikiran buruk apalagi mencemaskan Nami.

Apalagi soal kasus yang barusaja menimpa Nami. Kasus skandal dengan Jun Hyung. Karena Jun Hyung sudah ada didekat Nami. Tapi, kenapa Him Chan masih merasa sangat cemas? Dirinya sudah membaca beritanya, dan tercengang tak percaya. Langsung dia menghubungi Jun Hyung, dan menanyakan klasifikasinya.

“Tidak usah khawatir, aku bisa mengatasinya.” Kata Jun Hyung. Dan Jun Hyung berjanji, akan menyembunyikan berita ini dari Nami.

Malamnya, Him Chan menghadiri pesta besar diadakan majalahnya. Beberapa orang penting dari kalangan dunia fashion dan bisnis datang. Tentu saja, Kim Him Chan juga pasti hadir. Bahkan, dia terlihat paling menikmati pesta ini.

Him Chan memang sangat menyukai pesta, salah satu kebiasaan buruk Him Chan bagi Baek Hyun. Tak peduli, dirinya memang suka ditengah banyak orang. Berinteraksi, atau sekedar menggoyangkan tubuh mengikuti irama music yang mendentum keras. Sebenarnya, Ia tidak terlalu menyukai pesta jika para pejamu menyajikan minuman alcohol sepanjang pesta tiada henti. Him Chan memang kurang suka alcohol, dia memilih untuk minum segelas soda atau susu jika ditawari alcohol. Namun, pusat dari sebuah pesta bukan hanya alcohol, bukan?

Bisa dibilang, Kim Him Chan adalah ‘raja’ pesta malam ini. Berkat dia lah, majalah yang dia genggam dapat sukses besar, penjualan tiap bulan meningkat dan investasi saham-saham pun semakin menjadi-jadi. Majalah Vogue seperti mendapat ‘napas’ barunya setelah kedatangan Him Chan. Tak ayal, dia benar-benar dijadikan raja dipesta itu.

Saat sedang berbicara dengan salah satu relasinya, Him Chan merasakan handphonenya berdering di sakunya. “Siapa ini,” Him Chan mengambil ponselnya, lalu berkata tanpa melihat layar ponselnya terlebih dahulu, “Ya, Siapa?”

Suara diseberang terdengar kabur, tenggelam karena suara music yang dipasang keras. Him Chan langsung mencari tempat yang lebih diam, lalu kembali bercakap. “Halo?”

“Him Chan,” sahut suara diujung sana. “Ini aku, Nami.”

Him Chan tersenyum gembira, “Jung Na Mi, ada apa menelponku? Wow, biasanya aku yang menelpon duluan.”

Nami tersenyum, “Tidak, aku hanya ingin bilang sesuatu.”

Him Chan terdiam. Apa yang ingin dikatakan Jung Na Mi pada dirinya? Kenapa terkesan sangat special dan rahasia? Gumam Him Chan.

“Him Chan?” Nami mencari suara Him Chan yang tiba-tiba hilang.

Him Chan menyahut, “Ya?” jawab Him Chan. “Maaf, tadi pikiranku sedang melayang. Kau ingin mengatakan apa?”

Terdengar suara desahan napas. Lalu, Nami menarik napasnya dan mulai berbicara, “Aku mulai berdelusi secara berlebihan lagi. Aku…kesepian dan takut.”

“Karena apa? Jun Hyung tidak ada?”

“Tidak ada. Aku hanya ketakutan,” Kata Nami meyakinkan.

“Hm… Mungkin hanya perasaanmu saja,” sahut Him Chan. “Atau mungkin karena kau merasa benar benar kesepian, kau tahu maksudku bukan?”

Nami mengangguk. “Benar juga. Tapi, kau dulu pernah bilang, kalau kau akan melakukan sesuatu ketika…tidak jadi,” Nami tidak melanjutkan kata-katanya.

Him Chan termenung. Apakah Nami salah tingkah atau bagaimana?

“Katakan saja,”

Terdengar suara helaan napas lagi. “Aku membutuhkanmu, kurasa…untuk menemaniku…”

Him Chan melongo dengan apa yang barusan dia dengar. Apa dirinya salah dengar, atau system pendengarannya sudah berfungsi kurang baik? Atau memang ini kenyataan?

“Apa? Ulangi, maaf aku tadi sedang tidak konsentrasi,” timpal Him Chan. Sebenarnya dia ingin memastikan sekali lagi, ini bukanlah mimpi atau kerusaka system pendengarannya.

“Aku bilang, aku membutuhkanmu menemaniku disini.”

Sedetik.

Dua detik.

Tiga detik.

Bukan mimpi, sahut Him Chan dalam hati. Ia langsung tersenyum mendengarnya, lalu tanpa menunggu jawaban Nami dia menutup telponnya, dan langsung berlari keluar. Ia merogoh kunci mobilnya, lalu langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedikit cepat dari biasanya.

Setelah sampai di depangedung flat Nami, Him Chan langsung turun dan memarkirkan mobilnya. Ia langsung berlari masuk, berlari menuju lift. Langkahnya tidak sabar saat sampai di lantai 5, dia langsung berlari kedepan pintu flat Nami dan memencet belnya.

Dan, pintu terbuka. Muncullah sosok Nami. Him Chan tersenyum lega saat melihat sosoknya, tidak terjadi apa-apa.

“Aku datang.”

 

-oOo-

 

Sudah berapa gelas air putih yang masuk ke tenggorokannya, tak kunjung membuat Nami tenang. Rasa kegelisahan yang tak bermakna meliputinya. Dirinya gelisah, dan ketakutan. Mungkin karena besok Tokyo Fashion Week. Semua persiapan sudah berjalan sesuai rencana, semuanya sudah beres. Tapi, tetap saja ia merasa gelisah dan takut. Takut jika persiapannya kurang matang dan kurang terencana. Takut ada kegagalan.

“Aku terlalu perfeksionis,” gumam Nami meneguk air putih lagi.

Dirinya butuh seseorang untuk menenangkannya. Nami sudah menelpon Him Chan, dan dia langsung mematikan ponselnya sebelum Nami mengatakan ‘tidak usah’. Namun, sayangnya Him Chan langsung memutuskan panggilan.

Karena dirinya merasa bosan, Nami mengambil sepotong fruit pie dan menuangkan segelas kopi dingin. Nami melahapnya sampai tandas, dan meminum kopinya. Saat meletakkan piring bekas kuenya tadi, bel rumahnya berbunyi. Nami berjalan menuju pintu, dan mengerjapkan mata begitu melihat siapa yang datang.

“Aku datang,” kata Him Chan tersenyum lega.

Nami mengerutkan dahinya tak mengerti. “Kenapa?”

Oh, pertanyaan bodoh. Bukannya dia sendiri yang meminta, setidaknya berkata bahwa dia membutuhkan Him Chan untuk menemaninya? Tapi, maksud Nami bukan datang ke rumahnya. Dia hanya ingin bercerita lewat telpon. Nami takut akan merepotkan Him Chan yang mungkin sedang ada urusan.

“Kau yang memintaku datang, bukan?” sahut Him Chan.

“Tapi, maksudku menemani itu yah… Dari telpon bisa. Kau tadi sudah menutup telponku duluan,” sahut Nami dengan nada sedikit kesal, yang entah kenapa Nami tidak sadar akan itu.

“Aku maunya menemanimu disini, tidak apa-apa kan? Kau sendirian pula di flatmu.”

“Memang aku selalu sendirian. Dan tinggal sendirian”

“Tapi biasanya ada Jun Hyung,”

“Jun Hyung jarang menginap.”

“Memang aku bilang ingin menginap?”

DEG! Nami menggigit bibirnya. Kenapa dia malah berpikir Him Chan akan menginap? Bodohnya.

“Tidak tahu,” jawab Nami. Him Chan yang melihat ekspresi Nami yang datar namun terlihat gugup, tertawa.

“Aku memang ingin menginap, eh tidak. Aku akan disini sampai kau merasa benar-benar tenang.”

“Tidak mengganggu pekerjaanmu?”

“Tentu saja tidak.”

Dan, suasana hening muncul manakala keduanya tidak tahu harus mengatakan apa. Sampai Nami sadar, kalau mereka masih diluar. “Kurasa, kau harus masuk dulu. Masuklah,” kata Nami mempersilahkan Him Chan masuk.

-oOo-

 

“Jadi, apa yang membuatmu ketakutan?” Him Chan membuka percakapan sambil menyesap teh buatan Nami. Nami menghela napas pelan, sambil memijit-mijit kepalanya.

“Aku takut besok tidak berjalan sesuai rencana,”  kata Nami, “Terlalu perfeksionis, bukan?” lanjutnya diiringi tatapan kosong kedepan.

Him Chan mengangguk mengerti melihat Nami. Semua orang pasti cemas akan besok, namun Him Chan lebih mengerti lagi Nami tentang ketakutannya akan hari besok yang menurutnya berlebihan. Nami seorang designer professional, persiapannya juga sudah cukup matang.

“Persiapannya kan sudah cukup bagus. Apa lagi yang harus dikhawatirkan?”

Nami menggigit bibirnya. Hatinya selalu saja gundah akhir-akhir ini. Terutama soal besok. Entah, firasatnya mengatakan akan terjadi hal yang buruk. Inilah yang membuatnya gelisah dan ketakutan. Ia takut, persiapannya berbulan-bulan akan hancur karena hal yang dipikirkan Nami. Ia tidak mau ada yang mengganggu kariernya, juga jalannya.

Him Chan meraih tangan Nami dan menggenggamnya erat. Mata Him Chan menatap mata Nami yang bulat dan jernih. “Tidak usah khawatir. Kau juga manusia, jangan menforsir dirimu terlalu keras. Setidaknya, kau sudah melakukan yang terbaik. Biarkan takdir yang menentukan, biarkan Tuhan yang menentukan hasilnya,” gumam Him Chan.

Apa yang dikatakan Him Chan benar. Dia mungkin bisa mempersiapkan sebaik yang dia bisa, tapi tidak ada yang bisa melawan kehendak Tuhan bukan? Nami membenarkan opini Him Chan dalam hati. Perlahan, rasa gelisah itu lenyap, semakin terkikis. Ada yang menyusup di dadanya. Rasa tenang yang benar-benar dia dambakan. Rasa senang dan ketenangan batin yang mendamaikan, hanya dengan mendengarkan Him Chan bertutur kata. Oh, sepertinya ada yang salah.

“Kau benar,” Nami membuka matanya dan menatap Him Chan yang sedang menatapnya juga. “Kurasa aku harus berpasrah diri.”

Him Chan tersenyum mendengarnya. Ditariknya tangan Nami agar semakin dekat pada dirinya, dan menempelkan tangan Nami di dadanya. “Kau bisa percaya padaku.”

Nami mengangguk pelan. Mungkin, dia bisa mempercayai Him Chan. Lagipula, dia menepati janjinya untuk selalu ada dikala dirinya membutuhkan seseorang.

“Ya, aku percaya padamu.”

Entah kenapa, kalimat pendek yang Nami ucapkan tadi membuat Him Chan merasa nyaman dan senang. Berbagai perasaan tiba-tiba membuncah di dadanya, membuatnya tersenyum tulus pada gadis ini. Tentu saja, senyuman tulus itu tidak secara keseluruhan menggambarkan perasaan senangnya pada Nami. Tapi, menurutnya, itu cukup. Him Chan tidak ingin berteriak dan justru akan membuat Nami takut padanya.

Nami beranjak berdiri dan menarik tangannya pelan dari genggaman Him Chan. “Aku ingin tidur dulu. Terima kasih untuk semuanya,” kata Nami pelan memandangi Him Chan. Him Chan beranjak berdiri.

“Sama-sama. Tidurlah, kau membutuhkannya.”

Nami pun langsung berjalan menuju kamar tidurnya. Him Chan lalu membereskan gelasnya dan Nami. Meletakkannya di wastafel, lalu beranjak ingin pulang. Sebelum pulang, dia iseng mengintip kamar Nami.

Kamarnya tidak dikunci. Him Chan masuk dengan pelan, agar tidak menimbulkan suara yang membuat Nami bangun. Benar, Nami sedang terlelap dibalik selimutnya. Wajahnya terlihat damai dan tenang.

Him Chan berjongkok menghadap ke wajah Nami. Tangannya reflex membelai poni Nami yang berjatuhan di wajahnya, dan menyisipkan rambut panjang Nami ke belakang telinganya. Him Chan tersenyum simpul melihatnya.

“Selamat tidur, Ice Princess.”

Him Chan beranikan diri untuk mengecup dahi Nami pelan. Lalu, keluar dari kamar Nami dan beranjak untuk pulang. Hatinya berbunga-bunga sekarang. Karena Ice Princess, Jung Na Mi.

O’oh…

Sepertinya Him Chan mulai sadar. Dia tidak hanya bersimpati pada Nami, namun….

Dirinya benar-benar menyukai Jung Na Mi.

-oOo-

 

Jalanan si Shibuya kali ini padat daripada biasanya. Tentu saja, ini adalah pembukaan event fashion terbesar di kota tersebut. Tokyo Fashion Week dibuka resmi tadi pagi. Banyak pengunjung yang datang dari berbagai kota di Jepang, atau bahkan dunia untuk melihat para designer top Jepang memamerkan koleksi andalannya disini. Kadang-kadang, terlihat beberapa artis yang berlalu lalang mencari koleksi designer favoritnya di stan di Shibuya’s Ballroom, tempat diadakan Tokyo Fashion Week tersebut.

Jung Na Mi yang duduk di sebuah ruangan kecil dibelakang stand butiknya, merasa puas dengan pencapaiannya kali ini. Beberapa pengunjung mengunjungi butiknya. Nami merasa cukup.

Sekarang, sudah dua hari diadakannya Tokyo fashion Week, dan Nami meras asemuanya berjalan lancar, sampai kabar yang memang sangat buruk dia dengarkan.

Tiba-tiba, seorang karyawannya datang ke ruangan Nami. Nami mengerutkan dahi, manakala wajah karyawan tersebut kurang menunjukkan kepuasan. Karyawan itu adalah ahli keuangan, sambil memegangi map besar dia duduk didepan Nami.

“Nona Jung, ini gawat!” seru karyawan itu.

“Ada apa?”

“Pemasukan butik menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunannya 20 % dari penghasilan tahun sebelumnya. Banyak pengunjung yang lewat di stand kita, mencibir begitu mendengar nama Nona. Nona, kita harus apa…”

Firasatnya benar ! Nami memejamkan matanya, lalu menarik napas dalam untuk menenangkan dirinya. Astaga, apa yang dia takutkan perlahan terjadi. Nami berusaha untuk tetap berpikir optimis.

Baru saja Nami ingin menanyakan, seorang karyawan laki-laki datang menyeruak masuk ke ruangan Nami.

“Nona Jung, Nona Chan Ryeong, aku sudah tahu kenapa pemasukan kita menurun drastis.” Karyawan laki-laki itu terlihat ngos-ngosan, duduk dihadapan Nami dan karyawan wanita Nami yang bernama Chan Ryeong tersebut.

“Kata mereka, Jung Na Mi itu designer yang kotor dan menjijikkan. Terbukti dari skandal dengan Tuan Jun Hyung yang ramai dibicarakan. Jadi mereka berpikir, Nona Nami bukanlah orang yang berbakat didunia fashion. Jadi mereka sedikit memandang kita rendah,” jelas Kang, nama pegawai itu menekukkan wajahnya sedih.

Nami masih bertanya-tanya. Skandal? Dirinya? Dengan Jun Hyung?

“Kang,” panggil Nami. “Tadi kau bilang ada skandal. Skandal apa?”

Kang melongo mendengar pertanyaan Nami, namun langsung meringis kesakitan karena Chan Ryeong mencubit lengan Kang.

“Bukan, tidak ada apa-apa Nona Jung.”

“Jangan bohong,” Nami menatap tajam kedua orang yangsedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Kang menundukkan wajahnya, sementara Chan Ryeong memainkan kertas di mapnya.

“Anu…Kami dilarang mmeberitahu ini kepada Nona Jung,” gumam Chan Ryeong memecah keheningan. Nami mengerutkan dahinya.

“Ceritakan saja. Aku atasan kalian, bukan?”

Chan Ryeong nampak sangat takut, lalu dengan segenap keberanian Chan Ryeong membuka mulutnya dan memulia ceritanya.

“Selama Nona Jung di Hokkaido, di Tokyo terjadi masalah lagi. Ini karena ada yang menyebarkan skandal tentang Tuan Jun Hyung dengan Nona Jung…” kata Chan Ryeong terbata-bata. Chan Ryeong menjilat bibirnya, lalu kembali melanjutkan. “Skandal kalau Nona Jung selama ini punya hubungan khusus dengan Tuan Jun Hyung, kalau Nona Jung menjadi populer karena campur tangan Tuan Jun Hyung. Juga…”

Chan Ryeong tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, begitu melihat ekspresi Nami yang perlahan mulai berubah. Menjadi lebih sangar, matanya memandang kosong kedepannya, napasnya tersendat-sendat. Kilatan ketakutan juga terpancar di wajahnya.

“Lanjutkan,” kata Nami tanpa memandangi Chan Ryeong. Chan Ryeong hanya bisa pasrah, dengan keberanian yang dia kumpulkan dia menarik napas dan mulai melanjutakan kalimatnya lagi. “Nona Jung rela tidur dengan Tuan Jun Hyung demi meraih popularitas.”

Nami langsung tersungkur di lantai mendengar kalimat barusan. Napasnya menderu, wajahnya ketakutan. Nami meringkuk dibalik mejanya.

“Nona Jung!” teriak Kang dan Chan Ryeong bersamaan, langsung berlari kearah kursi Nami. Mereka mengguncang-guncang tubuh Nami yang menggigil ketakutan. Wajah Nami langsung memucat, bibirnya bergetar.

“Ini semua gara-gara kau !” teriak Kang kepada Chan Ryeong. Chan Ryeong tidak terima, diapun membalas teriakan Kang.

“Kau yang memulai topiknya duluan. Kalau bukan karena kau, Nona Jung tidak akan seperti ini.”

“Kau yang menyuruhku mencari tahu,” balas Kang tak kalah sengit.

“Tapi aku bilang jangan beritahu Nona Jung langsung,” teriak Chan Ryeong.

Mereka melupakan Nami yang saat ini ada di sudut ruangan, meringkuk. Nami memeluk lututnya, matanya memandang Kang dan Chanryeong liar dan ketakutan. Chan Ryeong dan Kang tidak tahu harus bagaimana menghadapai Nami yang sekarang.

“Kang ! Telepon Tuan Jun Hyung, cepat!” kata Chan Ryeong sambil tidak berhenti menenangkan Nami. Kang mengambil ponselnya, dan menekan nomor Jun Hyung dan langsung menempelkan ke telinganya.

“Halo, Tuan Jun Hyung?”

“Ya? Kenapa kau terluhat panik, Kang?”

“Tuan…Tuan… Nona Jung, Nona Jung tolong tuan…”

Ponsel Kang mati. Kang memandang pasrah Chan Ryeong, lalu berlari keluar memastikan tidak ada kekacauan yang terjadi diluar. Saking paniknya, dia menabrak seorang laki-laki.

Kang memandangi orang itu. Dia, Kim Him Chan teman akrab Nami. Kang langsung meraih tangan Him Chan yang masih menatap Kang bingung.

“Tuan, tolong Nona Jung…” pinta Kang.

Him Chan yang barusaja datang, langsung melepaskan tangan Kang dan berlari kearah ruangan kecil dibelakang butik. Dan, begitu dia melihatnya, matanya membulat sempurna. Lehernya seakan tercekik.

Nami, meringkuk ketakutan. Disampingnya, Chan Ryeong, salah satu pegawainya berusaha menenangkan Nami. Tapi nihil. Nami masih menggumam tidak jelas.

Him Chan langsung memeluk Nami. Nami, yang merasa itu adalah orang asing, memukul Him Chan keras. “Lepaskan ! Kalian salah ! Kalian salah! Lepaskan! “

Him Chan tidak melepaskan pelukannya, justru semakin mempereratnya. Nami semakin memberontak. Nami kembali memukul Him Chan. Chan Ryeong, hanya bisa melihat dengan ketakutan atasannya tersebut.

“Ini aku, Nami. Him Chan,” ujar Him Chan.

“Lepaskan! Lepaskan! Kau orang asing! Menjauh! Menjauh!”

“Nami, jangan takut.”

“Lepaskan! Kalian salah!”

“Aku Him Chan!” teriak Him Chan keras. Nami terdiam. Him Chan terus memeluk Nami. Perlahan, Nami tidak memberontak lagi. Namun, tubuhnya masih bergetar hebat. Him Chan terus memeluk tubuh Nami yang masih bergetar dan berusaha menenangkan Nami.

Air mata mengalir membasahi pipi Nami.

 

-oOo-

 

“Kalian percayalah.” Gumam Hara. Wanita-wanita disekelilingnya mengangguk mengerti.

“Aku tidak menyangka, Jung Na Mi sekotor itu.”

“Iya, ternyata dia kotor dan menjijikkan.”

Ha Ra menahan tawanya mendengar wanita-wanita yang telah dia hasut itu. Dia mengalihkan pandangannya, agar tidak tertawa keras. Dari jauh, dia melihat Jun Hyung, sahabat Nami, sedang menatapnya tajam. Ha Ra langsung mengalihkan matanya ke objek lain. Tatapan Jun Hyung benar-benar menusuk.

Jun Hyung pun menghilang entah kemana. Ha Ra tersenyum puas. Sangat puas.

Dirinya tidak tahu, kalau Suho juga mengamati stand Nami dari jauh dengan penyamaran yang apik. Suho juga merencanakan sesuatu.

-oOo-

 

Jun Hyung langsung membanting pintu mobilnya, dan berlari menuju stand butik Nami. Sebelum dia masuk, dia melihat seorang gadis yang dikerumuni banyak wanita, nampaknya sedang menceritakan sesuatu. Jun Hyung menatap gadis itu tajam, dia merasa gadis itu bermaksud macam-macam kepada Nami.

Tanpa memperdulikan gadis itu lagi, Jun Hyung berlari masuk kedalam ruangan Nami. Sesampainya disana, dia terheran-heran melihat pemandangan yang ada.

Nami memang sedang meringkuk, namun ada Him Chan yang memeluknya. Him Chan, seorang Kim Him Chan memeluk Jung Na Mi? pertanyaan muncul dibenak Jun Hyung sekarang.

“Tadi, Nona Jung bertingkah aneh. Namun, karena tuan itu, dia langsung tenang,” kata Kang dibelakang Jun Hyung. Chan Ryeong juga mengangguk begitu melihat tatapan penuh tanda tanya dari Jun Hyung.

Jun Hyung mengerutkan dahinya “Benarkah?”

Kang dan Chan Ryeong mengangguk bersamaan. Satu kata yang terlintas di benak mereka bertiga, Ajaib. Him Chan sungguh ajaib, bisa menenangkan Nami begitu cepatnya. Biasanya, Jun Hyung butuh waktu yang lama untuk menenangkan Nami. Namun, hukum itu tidak berlaku untuk Him Chan rupanya.

Senyuman tipis terukir jelas diwajah Jun Hyung. Dia sudah menduga, dan memang benar. Him Chan menyukai Nami. Jelas sekali.

Jun Hyung berjalan menghampiri Nami yang mulai tenang sekarang, walaupun air matanya terus turun. “Nami, ini aku, Jun Hyung.”

Nami menatap Jun Hyung lama, lalu langsung memeluknya. Jun Hyung membalas pelukan Nami, dan berusaha menenangkan Nami yang mulai terisak pelan.

“Katakan, apa yang sebenarnya terjadi,” bisik Jun Hyung kepada Him Chan.

-oOo-

Semenjak Nami tahu skandal dirinya dan Jun Hyung, Jun Hyung mulai menjaga Nami selama ada di butiknya sampai Jun Hyung bisa memastikan diri bahwa Nami sudah tertidur di flatnya. Dia dan Him Chan secara bergantian menjaga Nami. Dia dan Him Chan sepakat, karena tidak ingin melihat Nami dalam kondisi yang kurang mengenakkan. Cukup dia lelah karena event ini, bukan karena hal tidak penting yang lain.

Soal skandal itu, Jun Hyung sudah memarahi Kang dan Chan Ryeong. Dan, dia mulai menutupi kasusnya. Dirinya tidak mau terjadi apa-apa pada Nami. Ini akan mempengaruhi kesehatan psikologis Nami, setidaknya begitu yang dikatakan Sung Yeol. Jun Hyung masih mencari siapa dalang dari semua ini. Dia curiga, dalang dari skandal yang akhir-akhir ini menimpa Nami adalah orang yang sama. Dan, sudah terdapat satu nama yang menurut Jun Hyung paling memungkinkan menjadi dalang semua ini.

Mantan kekasih Nami, Kim Joon Myeon. Atau, Suho Kim.

Sekarang, skandal itu sama sekali menghilang. Pengunjung stand Nami pun mengalami kenaikan yang cukup menjulang, ini dikarenakan orang suruhan Jun Hyung. Jun Hyung benar-benar bersyukur, orang suruhannya berhasil menghapus opini pengunjung tentang Nami. Gaji mereka akan dinaikkan, gumam Jun Hyung dalam hati.

Sudah beberapa hari, dan event besar ini sekarang mencapai puncaknya sebentar lagi. Nami sudah cukup membaik, dan kembali seperti biasa. Sekarang, Jun Hyung duduk dibarisan tamu catwalk JNM, bersama Kim Him Chan dan lee Sung Yeol. Ya, hari ini adalah pagelaran busana Nami. Selama dua hari berturut-turut, kemarin dan sekarang. Kemarin, pengunjung catwalk Nami membludak. Banyak respon positif yang Nami dapatkan, menghapus kesan negative akan dirinya.

Acara dimulai. Para model melenggak-lenggok di catwalk dengan baju hasil rancangan Nami. Para pengunjung lain takjub melihat gaun ringan Nami yang cocok untuk musim panas maupun musim dingin. Juga karya Nami yang menggunakan tinta khusus untuk menulis kaligrafi khas Jepang, yang dia buat semodern mungkin. Tak ketinggalan, tema ‘dark and shine’ yang Nami usung, yang cocok untuk segala musim. Inovasi Nami yang benar-benar membuat orang terkagum-kagum. Jun Hyung bangga akan hasil kerja keras sahabatnya selama beberapa bulan ini.

Dibelakang layar, Nami sibuk mengecek satu persatu model yang akan keluar. Setelah cukup, dia membiarkan model tersebut. Setelah semua model selesai, kini tiba gilirannya menampakkan dirinya.

Nami berjalan pelan, menuju catwalk. Kilatan blitz kamera menyilaukan matanya. Nami berjalan berdampingan dengan salah satu modelnya, sambil membawa karangan bunga. Nami tak henti-hentinya senyum, walau mungkin sebagian orang menganggap itu senyum yang datar.

“Berhasil!!” teriak para model, make up crew, dan kru yang lain. Mereka langsung menggerubungi Nami yang barusaja turun dari catwalk. Wajah mereka penuh kebahagiaan, melihat respon yang benar-benar luar biasa.

“Nona Jung, it’s outstanding!!!” seru salah satu model sambil memeluk Nami. Nami membungkuk dalam, “Terima kasih atas kerja sama kalian.”

Seluruh kru langsung berteriak ‘sama-sama’ dan mengajak Nami untuk berpesta merayakan kesuksesannya. Nami mengangguk saja. Sebenarnya bukan pesta, hanya acara makan-makan yang diperuntukkan untuk semua krunya.

Nami meletakkan karangan bunga di mejanya. Kemudian, dia keluar gedung untuk menghirup udara segar, dan mencari minuman. Setelah mendapatkan minuman di mesin penjual minuman, tiba-tiba ada yang mendekapnya dengan sapu tangan. Nami memberontak, namun sedetik kemudian kesadarannya lenyap.

-oOo-

 

Him Chan, Jun Hyung dan Sung Yeol mengunjungi belakang butik Nami. Berniat ingin mencari Nami dan mengucapkan selamat. Jun Hyung mencari sosok Nami. Ketika seorang kru yang lewat didepannya, ia mencegatnya. Ada yang aneh, ekspresi kru tersebut cemas dan ketakutan. Suasana diruangan itu juga diliputi rasa cekam dan cemas yang aneh.

 

“Kau tahu dimana Nami?” tanya Him Chan. Kru tersebut langsung menundukkan wajahnya. Jun Hyung dan Sung Yeol menatap Kru itu heran.

 

“Nona Nami menghilang!”

 

Apa? Menghilang? Bukannya barusaja dia ada disini?

 

“Dia kan baru saja disini,”

“Benar… tapi, Nona Jung ingin membeli minuman. Dari jauh, aku tadi melihat ada seorang laki-laki yang mendekap Nami dan membawanya lari.”

 

Him Chan langsung menarik kerah kru tersebut. “Nami…diculik, katamu?” katanya rendah dan dingin. Kru tersebut mengangguk pasrah.

 

“Aku sudah berusaha mengejar mobil itu, namun tidak bisa. Mobil yang membawa Nona Jung melaju cepat…”

 

Kepala Him Chan berputar. Barusaja beberapa hari lalu Nami sudah tenang dan kembali normal, sekarang kasus gila menghampirinya. Dan ini membahayakan keselamatan jiwanya.

 

Nami diculik.

 

-oOo-

 

Nami mengerjapkan matanya. Kepalanya sangat pusing. Matanya berat, namun Nami paksa untuk terbuka. Matanya menangkap pemandangan yang ia tidak kenali. Dimana dia? Dia tidak ingat apa-apa. Ingatan terakhir yang ada dibenaknya, dia didekap oleh seorang yang asing dan semua ingatannya berhenti sampai disitu.

Nami menyadari, tangannya terikat ke kursi. Rasa perih menjalar ditangannya, manakala Nami berusaha melepaskannya. Siapa yang menculiknya? Dirinya kini terkat di kursi besi. Dan, Nami barusadar, mulutnya juga dibekap dengan saputangan. Nami memberontak, namun sia-sia. Ia berusaha berteriak meminta tolong, namun suaranya bagai tenggelam dalam ruangan aneh ini.

“Kau sudah pingsan 2 hari, Nami.”

Sebuah sosok datang mendekatinya. Nami memandangi sosok itu ketakutan. Siapa dia? Kenapa dia menculikku? Apa salahku? Ujar Nami dalam hati. Sosok itu semakin mendekat, sedikit wajahnya terlihat. Dan, ketika wajahnya sempurna terlihat, Nami membelakkan matanya.

Suho?

“Halo,” ujar Suho berjalan mendekati Nami. Suho menarik kursi, lalu duduk dihadapan Nami. Dengan kasar, dia menarik saputangan dari mulut Nami sehingga Nami bisa bernapas lega.

“Apa yang kau inginkan, Suho?” kata Nami dingin. Suho tertawa melihat ekspresi Nami saat ini. Rencananya berhasil. Setelah peneroran yang dia lakukan terhadap Nami, dia hampir berputus-asa karena Nami selalu terlihat sama saja, datar.

Sekarang, dia sangat puas melihat ekspresi Nami yang ketakutan dan dingin. Suho menarik wajah Nami dengan tangannya. “Aku berhasil, bukan?” kata Suho lagi lalu menghempaskan wajah Nami kesamping. Nami menandangi Suho kejam.

“Sebenarnya, ini hanya ajang balas dendamku. Kau tahu kenapa? Kau mau tahu, Jung Na Mi?” Suho membelai lembut Nami, membuat Nami bergidik ngeri. Nami membuang mukanya.

“Lepaskan aku!”

Suho justru tertawa mendengar permintaan Nami. Dia justru semakin menjadi-jadi tawanya manakala Nami mulai berteriak minta tolong dengan ekspresi ketakutan yang sangat Suho dambakan. Oh, Indahnya!

“Akhirnya aku bisa melihat ekspresi lain darimu,” kata Suho lagi.

“Hanya untuk melihat wajahku, kau menculikku?” tanya Nami dingin. Suho langsung bertepuk tangan.

“Kau cerdas sekali, Nami. Sekarang,” kata Suho menarik kursinya lagi mendekati Nami, “Katakan, kenapa kau sangat dingin dan diam.”

Nami menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tidak mau menjawab pertanyaan Suho. Suho seakan tidak kehabisan akal, dia menekan pipi Nami dengan jarinya sehingga mulut Nami terbuka. Nami menggeleng, mulutnya terus dia katup rapat.

“Oh, kau tidak mau mengatakannya, ya?”

Suho beranjak berdiri, lalu mengambil sebuah amplop yang berisi sebuah surat dan kumpulan foto-foto. Suho mengeluarkannya, lalu memamerkan isinya dihadapan Nami.

“Surat perceraian adikmu yang tercinta dengan suaminya,” gumam Suho. Nami memandang surat itu panik. Tidak, jangan sekarang.

“Foto-foto yang menunjukkan kalau adikmu tidak bahagia bersama suaminya,” smabungnya lagi memperlihatkan semuanya. Nami mulai panik, tubuhnya kembali bergetar hebat.

“Kau…yang menerorku?” kata Nami meredam emosinya. Kepalanya mulai terasa pusing.

“Itu aku, memang benar.”

Suho tertawa lagi. Sedikit lagi, sampai dia tahu rahasia terbesar Nami. Nami mulai terpancing emosinya, inilah yang Suho dambakan ! Ayo, ayo Jung Na Mi, batin Suho.

“Dan aku tidak sedang bercanda. Foto, surat dan bukti yang aku pernah kirimkan itu benar. Tidak ada rekayasa,” serunya lagi.

Napas Nami mulai sesak. Dia mulai berpikir yang tidak-tidak. Delusinya kembali menguasai dirinya. Jangan, Nami berusaha melawan. Namun, nihil. Delusinya kembali bermain diotaknya. Nami mulai ketakutan.

“Hentikan…” kata Nami pelan. Suho menoleh, dan melihat Nami yang bergetar ketakutan.

“Apalagi yang akan kau lakukan? Kau tega membiarkan adikmu seperti ini?” seru Suho lagi. Seakan tidak kehabisan akal, dia mendekatkan wajahnya ke Nami dan menantang mata Nami.

“Kau tega sekali,” gumam Suho pelan.

Dan, reaksi Nami langsung menjadi diluar dugaan Suho. Mata Nami menjadi liar, dan kemudian dia mulai berteriak. “Hentikan!”

“Hentikan semuanya, Kim Joon Myeon!” seru sebuah suara. Jun Hyung dan Him Chan. Jun Hyung langsung menarik Suho dan memukulnya, hingga tubuh Suho tersungkur ke tanah. Sementara Him Chan melepaskan ikatan Nami.

“Kau baik-baik saja?” tanya Him Chan. Nami tidak menjawab, karena setelah itu dia langsung tak sadarkan diri.

 

-oOo-

Jun Hyung masih memukuli Suho membabi buta. Suho pun membalasnya tak kalah sengit. Suho meninju perut Jun Hyung hingga Jun Hyung terlempar ke belakang. Seakan tak puas, Suho kembali menarik Jun Hyung dan meninju wajahnya sampai darah segar menetes dibibir Jun Hyung.

Jun Hyung tidak tinggal diam, dia meninju Suho dan menendangnya sampai Suho juga berdarah. Perkelahian diantara mereka terhenti, melihat Him Chan yang menggendong Nami dan membawanya keluar ruangan tersebut. Jun Hyung langsung menghempaskan tubuh Suho, dan berniat menyusul Him Chan. Namun, kakinya ditarik oleh Suho dan Jun Hyung jatuh tersungkur.

Tak ambil diam lagi, Jun Hyung langsung mengeluarkan apa yang dia pelajari dari beladiri tae Kwon Do. Dia membanting tubuh Suho keras, sehingga Suho tidak bisa bangun lagi.

“APA YANG MEMBUATMU MENCULIK JUNG NA MI, KATAKAN?” Jun Hyung sedang kalap. Dia menarik kerah baju Suho yang sudah tak berdaya, dan berteriak didepan wajah Suho. Suho hanya tertawa mendengarnya.

“Bukan urusanmu,” kata Suho menepis tangan Jun Hyung.

“ITU URUSANKU!”

Jun Hyung melempar tubuh Suho dan berdiri. Suho, dengan tenaga yang tersisa sambil menahan rasa sakit disekujur badannya, menatap Jun Hyung.

“Kau mau tahu alasanku?” katanya sambil mengusap darah yang merembes dari sudut bibirnya. “Aku ingin membuktikan, bahwa Jung Na Mi punya rahasia dibalik sikapnya yang dingin dan datar tersebut.”

Jun Hyung membelakkan matanya mendengar alasan Suho. Emosi kembali merajainya, dia lalu menarik Suho lagi dan menyudutkannya di tembok.

“KENAPA KAU MAU TAHU?”

“Karena aku ingin,”

Dan, sebuah pukulan melayang di pipinya.

“NAMI PENGIDAP SKIZOFRENIA! ITULAH ALASANNYA!” teriak Jun Hyung. Kali ini, Suho yang membelakkan matanya tak percaya. Skizofrenia? Kelainan system syaraf yang jarang itu?

Suho jatuh terduduk dilantai. Tidak mungkin, jadi ini alasan Nami setenang dan sedatar itu. Suho pernah membaca sekali, artikel tentang penyakit tersebut. Tapi, Suho tidak habis pikir, kalau Nami pengidap penyakit tersebut.

“Kenapa dia tidak memberitahuku?”

“Pengidap penyakit itu juga sebenarnya tidak tahu. Tapi, Sung Yeol memberitahunya dulu. Kalau dia emosi, syarafnya akan terganggu dan bisa menyebabkan dia kehilangan kendali, kehilangan kesadaran bahkan nyawa.”jawab Jun Hyung kepada Suho yang duduk termenung.

Selama ini, Nami menyembunyikan emosinya dan… Ah, semuanya terasa kacau sekarang. Rasa bersalah membelit hati Suho. Hatinya miris, dan sakit mendengar fakta sebenarnya.

Suho menundukkan kepalanya dalam, menyesali segala perbuatannya pada Nami. Tapi, dia sadar. Itu semua terlalu terlambat. Mengingat apa yang barusaja Suho lakukan terhadap Nami.

“Simpan segala penyesalanmu, Suho.”

 TO BE CONTINUED

 

Note from author :

“Thanks sudah mau membaca cerita buatanku ^o^ Maaf, di-updatenya agak lama soalnya harus bertabrakan dengan jadwal penyusunan tugas dan kebetulan aku lagi sakit T^T jadi maaf ya readers. Oh Ya, makasih buat kritikan yang membangunnya. Aku suka banget sebagai ajang buat membangun 😀 Dan Juga, yang serial Please Stop The Time, terimakasih banget atas semuanya ^O^. Regards, Hayamira”

RCL-nya diperlukan loh ._.v hitung hitung sebagai sedekah mihihi xD Oh ya, yang agak nggak ngeh sama ceritanya, mungkin bisa baca series sebelumnya ._.v

[PROLOG] | [CHAPTER 1] | [CHAPTER 2] | [CHAPTER 3] | [CHAPTER 4A] |  [CHAPTER 4B] | [CHAPTER 5] | [CHAPTER 6] | [CHAPTER 7] | [CHAPTER 8] | [EPILOG]

SEKIAN, SAMPAI JUMPA DI NEXT CHAPTER~ PYONG

39 responses to “FF : Oramanieyo [CHAPTER 4]

  1. Pingback: FF : Oramanieyo… [CHAPTER 8] | FFindo·

  2. Pingback: Bloody Camp [Act 1] | FFindo·

  3. Pingback: FF : Oramanieyo… [CHAPTER 9] | FFindo·

  4. Ternyata Suho mulai sadar kalau selama ini dia udah salah sama Nami, pake neror-neror segala… ceritanya makin seru deh 😀 Keep writing thor 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s