Never Comeback — One Day One Song

Untitled-1

Title            : One Day One Song

Credit Poster : Thanks to Invader Art

Author       : fransiskanoorilfirdhausi /@fhayfransiska (soo ra park)

Genre         : Angst, Romance

Length       : Oneshoot

Cast            :

  • YOU
  • Byun Baek Hyun

Allo readerdeul semuanya, saya kembali ^^

Baca saja dulu yaa, cuap” nya di bawah J

This plot is mine, EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good reader please, don’t forget to give me oksigen (Read-Comment-Like)^^

________

            Tak terhitung sudah berapa kali aku kedapatan memandanginya dalam diam. Memasang telingaku setajam mungkin—seolah tidak ingin melewatkan sedetikpun suara yang nantinya akan terlantun dari bibir tipisnya—ketika dia mulai bernyanyi di depan kelas karena kalah taruhan. Entah kenapa setiap kali bertaruh dengan kawan-kawannya—tentang apa pun itu—dia selalu kalah. Kalau aku boleh sedikit berlebihan, mungkin dia punya keberuntungan di bawah rata-rata orang pada umumnya.

Dan hukuman yang  selalu dia terima adalah bernyanyi di depan kelas.

Semua tahu dia, sosoknya yang mungil—tidak lebih tinggi dari si jangkung Chan Yeol, namun juga tidak sependek Jun Ahjussi si penjaga kebun—dan suara merdunya yang khas. Bahkan dunia pun bisa dipastikan akan mengangguk setuju pada gagasan bahwa pemuda bernama Byun Baek Hyun itu memang terlahir sebagai seorang penyanyi.

Dan ketika dia mulai bernyanyi, atmosfer di sekelilingnya berubah. Dedaunan yang perlahan jatuh ke tanah karena tertiup angin musim gugur menjadi terlihat menyenangkan, kebisingan serta hiruk pikuk kendaraan yang biasanya terdengar sampai di kelasku pun hanya kuanggap sebagai angin lalu yang tidak berarti—padahal biasanya aku tak pernah berhenti menggerutu soal yang satu itu.

Sebab ketika pemuda itu mulai beryanyi, yang ingin aku lakukan hanyalah memfokuskan diri padanya, pada suaranya. Tidak pada yang lain.

Ledakan-ledakan kecil kerap kali muncul di sudut-sudut hatiku, meletup-letup penuh semangat menghasilkan euforia yang berlebihan, selalu di saat suara demi suara telah meluncur indah dari bibirnya. Suaranya mampu mencapai nada tinggi, turut memunculkan urat-urat seperti akar bercabang yang terlihat menonjol di leher jenjangnya.

Gelombang suara yang dihasilkannya seakan mampu menembus setiap sel di tubuhku, membius indera penglihatan dan pendengaranku agar tidak sedikitpun berpaling darinya. Semuanya terasa bagai surga ketika lagu yang ia lantunkan sanggup membuatku perlahan menutup mata dan mulai membayangkan betapa hangatnya matahari musim semi, indahnya padang rumput menghijau, serta sejuknya angin di pantai.

Bagai sihir.

Sebuah senyum lebar terbingkai indah di wajah kekanakan miliknya, selalu setelah dia  menyelesaikan satu lagu penuh. Byun Baek Hyun tersenyum puas seolah-olah dia telah menyelesaikan suatu pekerjaan wajib baginya dengan sukses.

Pastilah hanya orang tuli yang tidak akan bertepuk tangan setelah dia bernyanyi. Semua teman sekelas, tidak terkecuali satu pun langsung riuh seusai mendengar dia bernyanyi, kilat-kilat kebahagiaan memancar indah di setiap pasang mata di kelas itu. Lagu dan suaranya bagaikan mantra sihir yang bisa membuat seisi kelas bersorak bahagia. Tidak jarang dari mereka yang meminta pemuda bermarga Byun itu untuk menyanyi lagi.

Dan sayangnya, Byun Baek Hyun tidak pernah sekalipun menyanggupi permintaan itu. Dia tetap dengan slogannya, yang selalu ia katakan dengan senyuman—nyaris berupa cengiran—bernada tak bersalah, “Satu lagu untuk satu hari”. Kalimat yang kerap kali ia dengungkan.

Tidak masalah, bagiku itu sama sekali bukan masalah. Benar, tidak masalah seandainya esok hari aku akan tetap bisa mendengar suara merdunya itu lagi. Besok lusa juga bisa, satu minggu ke depan juga bisa. Tenanglah Byun Baek Hyun, aku bukan tipikal orang pemaksa yang suka berlebihan dan memaksamu untuk bernyanyi lagi selagi kau tidak merasa nyaman.

Dan aku yakin.

Selama Byun Baek Hyun bernyanyi, maka aku tidak akan pernah ragu untuk menarik sudut-sudut bibirku dan membentuk seulas senyum.

________

            Tuhan selalu punya rencana. Tidak akan ada seorangpun yang dapat menerka dan menerawang apa yang kelak akan Tuhan rencanakan pada kita. Entah tentang kapan rencana itu akan terealisasikan, tentang apa, atau jatuh pada siapa. Tidak ada yang tahu.

Seperti berita yang baru beberapa saat yang lalu aku dengar. Sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya, tidak disangka, dan tidak diinginkan.

Byun Baek Hyun kehilangan suaranya.

Itu artinya, itu maknanya, itu berarti, dia juga kehilangan hidupnya. Tawanya, senyumnya dan cahayanya. Dia kehilangan itu semua.

Pernahkah kau memiliki seseorang yang sangat berarti bagimu hingga ketika seseorang itu tak lagi ada, kau merasa lebih baik mati daripada hidup tanpa seseorang itu di sisimu? Atau mungkin apabila kita bisa merubah konteksnya dan menyesuaikan dengan kondisi sekarang, ‘seseorang’ itu kita ubah menjadi ‘sesuatu’. Ya, dan hal itu akan menjadi cocok sekali dengan keadaan Byun Baek Hyun sekarang.

Kehilangan sesuatu. Kehilangan suaranya.

Kanker pada pita suara.

Sederhana, hanya empat buah kata bermakna negatif. Namun efeknya sangat luar biasa pada Byun Baek Hyun dan hidupnya kelak.

Dan kini semua orang tahu, semua orang akan bersedih. Tidak akan ada lagi suara indah yang akan menghibur kami di kala penat seusai pelajaran eksak memusingkan itu didengungkan di depan kelas. Tidak ada lagi nada-nada indah hasil improvisasinya sendiri untuk lagu-lagu jadul yang membuat kami sekelas menjadi tidak berhenti menyukai dan membicarakannya meskipun lagu-lagu itu telah tertelan jaman. Tidak akan ada gelak tawa—yang anehnya terdengar begitu jernih di telingaku—yang kerap kali keluar dari mulutnya ketika sedang bersenda gurau bersama Chan Yeol di belakang kelas. Tidak ada lagi semboyan “Satu lagu untuk satu hari” seperti biasanya.

Hanya diam membisu.

Diam.

Dan diam.

          Perlahan aku mulai paham, apa arti ‘Satu lagu untuk satu hari’ itu. Bahwasanya Byun Baek Hyun mengatakan hal itu untuk melindungi dirinya sendiri, untuk melindungi suaranya. Seharusnya dia tidak boleh bernyanyi untuk menghibur kami terlalu sering, tidak boleh berteriak-teriak gila hanya untuk menemani Chan Yeol menghabiskan waktu. Seharusnya ia tetap diam dan tersenyum saja, duduk manis di bangkunya dan bersenandung lirih, tanpa mengeluarkan urat-urat di lehernya, tanpa memakai nada tinggi yang hanya akan membuat pita suaranya semakin kritis.

Tapi …

Aku juga tahu benar bagaimana sifat seorang Byun Baek Hyun, pemuda yang punya prinsip untuk tidak mengecewakan siapapun itu. Dia tipikal pria yang akan berbuat sepenuh hati untuk menghibur orang di sekelilingnya, bahkan ketika kondisinya sungguh tidak memungkinkan selayaknya kini. Dia tetap bernyanyi, karena bernyanyi dan menghibur orang lain adalah hidupnya.

Pemuda aneh. Sungguh, sangat aneh.

Tapi aku suka.

Harusnya kamilah yang sadar, harusnya akulah yang sadar. Bagaimana suaranya menjadi lebih lirih akhir-akhir ini, bagaimana suaranya menjadi crack saat ia mengambil nada tinggi, bagaimana terlihat kesakitan dan kesusahannya dia ketika memanggil setiap nama teman di kelas. Betapa seringnya ia terbatuk dan langsung berlari keluar kelas dengan alasan untuk membuang dahaknya, padahal mungkin saja itu batuk darah.

Harusnya aku sadar.

Sadar dan menghentikan setiap usahanya untuk membuat kami semua bahagia dan malah menyakiti dirinya sendiri. Bahkan di saat kami semua terakhir bertemu dengannya dua minggu yang lalu, dia bernyanyi dengan lirih, dia tetap tertawa, memperlihatkan sederet gigi putihnya yang rapi seakan-akan tidak ada yang terjadi. Saat itu aku belum tahu mengenai penyakitnya, begitupun dengan teman-temanku yang lain.

Tapi seharusnya kami sendirilah yang sadar. Kami harusnya memperhatikan bagaimana dia akhir-akhir ini. Betapa semakin kurusnya Byun Baek Hyun belakangan ini. Sayangnya kami terlalu terlena, aku terlalu terlena, akan kebaikan dan senyum palsunya itu.

Kini tidak ada yang bisa aku lakukan. Hanya berdiam dan duduk di bangku belakang seraya menatap menerawang ke luar jendela. Sedikit berharap seorang Byun Baek Hyun akan tiba-tiba muncul, berlari di tengah-tengah lapangan kemudian melambaikan tangannya padaku, meneriakkan namaku dengan lantang dan tanpa paksaan, tanpa menyakiti tenggorokannya.

Namun tentu saja itu mustahil.

Khayal dan tidak logis. Aku tahu itu.

Hal itu hanyalah sebagian dari banyak harapan, mimpi serta doaku untuk Byun Baek Hyun. Doa yang tak pernah berhenti aku dengungkan untuknya, untuk hidup dan keberhasilannya nanti. Mimpiku untuk mendengarnya bernyanyi lagi, berbisik ceria, lalu tertawa terpingkal-pingkal seperti dulu. Harapanku setidaknya bisa mendengar dia menyebutkan namaku untuk terakhir kalinya.

Entah bagaimana perasaan ini berawal, entah bagaimana cairan bening telah membentuk sungai di mataku. Kemudian perlahan dan tanpa seijinku genangan-genangan itu menuruni pipiku dengan kejamnya, menunjukkan dengan jelas betapa rapuhnya aku hingga tidak bisa menahan zat lemah seperti itu untuk mengalir semakin deras. Bahkan isak-isak tangispun tak lagi bisa aku hadang, suara-suara yang mengganggu namun tidak bisa lagi dihindari dan dihilangkan. Aku terlalu sakit dan lumpuh untuk membuat akal sehat kembali memenuhi kepalaku.

Karena ada yang hilang. Hilang.

Hilang dan sulit untuk kembali lagi.

________

Andaikata kita semua bisa menjalani alur hidup sesuai dengan ‘naskah kehidupan’ yang kita pilih, mengabaikan garis yang telah Tuhan persiapkan. Andaikata hidup dalam delusi bukan kesalahan, meninggalkan realita dan lebih memilih khayalan menguasai diri kita.

Kalau benar begitu, tentu aku akan memilih hidup dalam dunia ilusi.

Senyum yang terakhir kali aku lihat dari Byun Baek Hyun yang begitu manis dan terbingkai indah di pigura berwarna cokelat kehitaman adalah saat-saat yang paling menyesakkan bagiku. Ketika semua orang mengenakan pakaian hitam, memanjatkan doa-doa yang membuat bulu kudukku berdiri. Aku benci, benci itu semua.

Aku benci pada Byun Baek Hyun yang tiba-tiba pergi meninggalkan kami semua, tanpa sebuah ucapan selamat tinggal sekalipun. Tanpa sempat bernyanyi untuk kami lagi. Tanpa sempat kuungkapkan berbagai perasaan serta kesan mendalam yang terus membuncah dan merongrong di dalam hatiku ini.

Tanpa sempat aku bilang secara langsung padanya, patah demi patah kata yang kerap aku bongkar-pasang untuk nantinya dikatakan padanya.

“Suaramu bagus, indah dan sarat dengan kehidupan. Suaramu mampu membuat hatiku terbuka dan spontan langsung memasang telingaku tajam bahkan saat pertama kali aku mendengarmu. Kau dan suaramu adalah perpaduan yang sempurna, perpaduan yang tidak terpisahkan dan tidak akan lekang sampai kapanpun. Seandainya kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku pun tak apa, selama kau masih berada dalam jangkauan pandanganku dan suaramu masih terdengar di telingaku, aku akan terima. Aku akan selalu menyukaimu dan suaramu, Byun Baek Hyun.”

Seandainya Byun Baek Hyun mendengarnya, entah apa yang akan pemuda itu katakan padaku ketika aku merealisasikan perasaan seperti di atas. Terserah dia akan merasa senang ataupun bahkan terganggu dan terancam oleh hal semacam itu, karena tanpa keduanya pun Byun Baek Hyun tidak akan bisa. Pemuda itu tidak akan benar-benar bisa merespon perkataanku itu. Karena aku belum sempat mengatakannya barang sedikitpun.

Aku terlambat. Dan aku menyesal.

Namun penyesalan memang selalu muncul di akhir. Kini kalimat yang paling aku benci itu terngiang-ngiang berulang-ulang di telingaku. Seakan-akan mengejek dan menertawakanku dari kejauhan pada apa yang tengah aku rasakan sekarang.

Aku tidak berani berkedip, karena aku yakin, ketika mataku menutup lalu membuka lagi nanti, air mata ini akan mengalir tanpa diminta, tanpa bisa aku bendung. Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana bisa hatiku yang terasa sakit namun yang harus menunjukkan rasa sakitnya adalah air mata. Bagaimana bisa cairan bening itu seenaknya keluar ketika dadakulah yang justru terasa sesak dan bergemuruh.

Selalu saja. Realitas yang menyedihkan.

Aku ingin berteriak, aku ingin mengadu pada Tuhan. Kenapa Dia harus mengambil Byun Baek Hyun? Mengapa Dia harus memberikan perasaan sakit ini padaku?

Tuhan, tolong hapuskan rasa sakit ini dariku. Tolong dengar doaku.

Aku meremas ujung pakaian hitam kelamku erat ketika peti mati Byun Baek Hyun diturunkan perlahan, disusul oleh suara isak tangis yang pecah dan perlahan-lahan semakin membahana, memenuhi seisi pemakaman itu. Aku sendiri sama saja.

Karena yang telah hilang, sulit untuk kembali lagi.

Bahkan dalam kasus yang ini, hal itu dikatakan dengan lebih menyakitkan.

Karena yang hilang, tidak akan pernah kembali lagi.

Tidak akan. Sampai kapanpun.

 

____END_____

Salahkan EXO yang tak kunjung kambek dan akhirnya membuat saya bikin cerita beginiaannnn!! T.T

Cuma Oneshoot kok. Hehe. Bikinnya sih pas lagi suntuk belajar, ada kertas kosong nganggur, eh daripada diem aja mending bikin cerita. Awalnya cuman coret-coret asal, sekalian nyoba pake sudut pandang orang pertama alias ‘aku’, tanpa ada nama OC. Dan akhirnya jadilah cerita absurd seperti ini. Semoga suka meski sad ending ya J

Just share your thought in comment box below, yeah?

See ya in the another fanfic nee😀 follow me @fhayfransiska

Thanks for reading^^ Sorry kalau mengecewakan ^^b

54 responses to “Never Comeback — One Day One Song

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s