The Dirty Soul [Part 2]

the-dirty-soul2

Title            : The Dirty Soul [Part 2]

Cr Poster    : Thanks to Ayricafe (Invader @revinda)😀

Author       : fransiskanoorilfirdhausi / @fhayfransiska (soo ra park)

Genre         : Horror, Mistery

Length       : Chaptered

Cast            : EXO K

Annyeong readerdeul ^^ masih pada inget nggak yah sama ff yang saya publish part 1 nya kira” satu tahun yang lalu ini? waaa, amazing banget kalo masih inget^^v

Sungguh maafkanlah saya yang baru bisa membuat lanjutannya sekarang. sebenernya sih awalnya nggak ada niatan buat ngelanjutin ff ini sih, tapi setelah banyak reader yang mention di twitter, ngechat di kakao sama komen di ff yang lain dan minta kalau ff abal ini dilanjutin, akhirnya saya turutin deh. Demi menyenangkan reader semua ^^ Ini ff juga saya bikinnya kilat loh, cuman beberapa jam aja jadi maap kalau kadang random yah. Hehehe.

The plot is mine, and EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good reader please, don’t forget to comment^^

________

PREVIOUS : PART 1

Terjadi sesuatu pada Baek Hyun sekembalinya ia berbelanja. Namja itu terlihat murung dan langsung memutuskan untuk mengurung diri di kamar, membuat rekan-rekannya penasaran dan khawatir. Tapi beberapa lama kemudian—tepat ketika Joon Myun dan Jong In berniat mendobrak pintu kamar Baek Hyun—namja mungil itu malah muncul di depan pintu dorm.

Apa yang sebenarnya terjadi ?

______

            Di ruangan itu, semua orang sama-sama menunduk lesu. Sibuk memikirkan dan mengira-ngira sendiri apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Masih tidak bisa percaya—atau mungkin memang enggan percaya—pada apa yang baru saja mereka alami beberapa jam lalu. Waktu telah melewati batas tengah malam, jam dua dini hari. Namun tidak ada satupun dari keenam pria muda itu yang berniat untuk berbaring ataupun sekedar menutup mata demi melepas lelah. Semuanya masih terlalu terkejut.

“Baiklah, aku akan meminta kepada manajer untuk memberimu cuti, Baek Hyun ah. Aku akan mencari alasan yang tepat untukmu. Aku rasa manajer hyung bisa mengerti.”

Keheningan yang semula meliputi keenam pemuda itu langsung sirna begitu salah seorang dari mereka—seorang bernama Joon Myun yang diperkirakan berusia di awal dua puluhan—berkata dengan nada tegas. Perkataannya baru saja berhasil menarik perhatian seorang pemuda berbadan besar dan berambut cokelat mahagoni yang bernama Chan Yeol.

“Tapi hyung, bagaimana dengan proyek yang selanjutnya. Proyek itu adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh Baek Hyun. Kalau Baek Hyun cuti sekarang, besar kemungkinan ia tidak bisa turut serta dalam proyek itu.”

Chan Yeol adalah sahabat Baek Hyun. Ia tentu tahu benar apa yang selama ini selalu diinginkan oleh sahabat sekaligus teman sekamarnya yang satu itu. Proyek yang kini sedang direncanakan oleh manajemen mereka adalah subgroup baru yang beranggotakan member EXO yang memiliki kelebihan dalam bidang tarik suara. Byun Baek Hyun, Do Kyung Soo, Kim Jong Dae serta Xi Lu Han adalah calon terkuat bagi subgroup itu. Dengan berada di dalam subgroup vocal itu, Baek Hyun berharap kemampuan vokalnya dapat semakin terasah dan mimpinya selama ini untuk debut solo bukan lagi menjadi hal yang tidak mungkin.

Tapi bagaimana sekarang? Di saat proyek itu tengah digarap, Byun Baek Hyun akan cuti sementara? Oh, oh.

“Coba dengar dulu, Chan Yeol ah. Kurasa Joon Myun hyung benar, Baek Hyun Hyung sebaiknya istirahat dahulu selama beberapa waktu.” Seorang pemuda bertubuh kecil dan bermata bulat yang bermarga Do itu angkat bicara, dari nada bicaranya jelas sekali bahwa ia tengah mengkhawatirkan seseorang bernama Baek Hyun.

Byun Baek Hyun sendiri hanya menunduk, tidak merespon satu pun ucapan dari rekan-rekannya. Pemuda mungil itu masih terlalu terkejut dan akal sehatnya enggan menerima semua sinyal dari luar. Sedikit-sedikit pandangannya teralih ke arah pintu kamarnya dengan Chan Yeol yang kini rusak akibat Joon Myun dan Jong In yang berusaha mendobrak pintu kayu itu. Usaha mendobrak yang sia-sia karena pada akhirnya mereka tidak mendapat apapun, tidak mendapati seorang pun di dalam sana seperti yang diperkirakan. Padahal sebelumnya, mereka yakin dan berani bersumpah bahwa sosok Baek Hyun benar-benar masuk ke dalam kamar itu, masuk ke dalam sana seorang diri!

Tapi pada kenyataannya, Byun Baek Hyun yang asli tengah duduk seraya menundukkan kepalanya di sini sekarang. Dia tidak menghilang. Dia juga tidak keluar dari kamar itu. Dia masuk ke dorm dengan bantuan Chan Yeol setelah berusaha keras meyakinkan pemuda itu bahwa dialah Baek Hyun yang asli.

Lalu siapakah seseorang yang menyerupai Baek Hyun dan masuk tepat sebelumnya itu?

Baek Hyun sungguh tidak mengerti. Semuanya terasa aneh dan tidak nyata. Mengambang di otaknya.

“Lalu apakah seseorang yang masuk pertama kali itu …” tiba-tiba, seorang pemuda yang berkulit paling gelap di antara yang lain buka suara, namun nada suaranya menggambarkan suatu keraguan dan ketakutan yang bercampur aduk. Pemuda bernama Jong In itu menelan ludah, selain karena takut pertanyaannya dianggap melenceng dari topik, juga karena ia tengah merinding sekarang. “Apakah itu … hantu?”

Kelima pasang mata yang lain langsung menoleh cepat ke arah Jong In. Baek Hyun pun turut mengangkat wajahnya yang semula selalu tertunduk. Kesemuanya memasang pandangan tak percaya dan seolah meminta penjelasan kepada Jong In.

Atensi yang Jong In terima lantas membuat pemuda itu berpikiran seperti ini, apakah ia barusan salah bicara?

“Itu sangat tidak masuk akal, Jong In ah.” kata Joon Myun tegas setelah beberapa saat berlalu.

“Tapi … kalau bukan hantu, lalu apa hyung? Bukankah Baek Hyun hyung yang asli sedang berada di depan kita sekarang. Dia juga muncul dari pintu depan, bukan dari pintu kamar yang kita dobrak itu!” Jong In berusaha mempertahankan pendapatnya, sementara rekan-rekannya yang lain tampak mulai berpikir keras. Lagi.

Pernyataan Jong In memang masuk akal. Posibilitas terkuat bahwasanya seseorang itu memang hantu. Tapi ..

“Kalau memang benar hantu, untuk apa hantu itu menyamar menjadi Baek Hyun hyung? Kenapa tidak menjadi aku atau mungkin Joon Myun hyung atau mungkin yang lain?” tanya pemuda yang berusia paling muda di antara mereka, si maknae Se Hun.

Tidak ada yang bisa menjawab. Tentu saja. Semuanya larut dalam diam.

Tidak ada yang tahu kenapa semua ini bisa terjadi.

Dalam satu sentakan, Byun Baek Hyun bangkit dari duduknya, membuat orang-orang yang berada di sekelilingnya tersentak dan langsung mengarah padanya.

“Baek Hyun ah, mau apa …”

“Mungkin Joon Myun hyung benar. Aku butuh istirahat untuk beberapa hari ke depan. Aku sedang tidak merasa baik sekarang.”

Tepat setelah beberapa kalimat itu teruntai dari bibir tipis Baek Hyun, pemuda itu langsung melangkah gontai menuju kamarnya. Menghiraukan lima orang yang kini memandanginya dengan tatapan penuh tanya dan sarat perasaan khawatir.

________

Menari dan menyanyi tetap seperti rutinitas biasanya.

Melambaikan tangan kepada penggemar dan memasang wajah seceria mungkin juga seperti biasanya.

Cahaya spotlight juga masih seterang biasanya.

Tapi tetap saja ada yang kurang. Tidak ada Byun Baek Hyun. Hanya perform berlima. Satu orang yang tidak ada di tengah-tengah mereka rasanya sangat aneh. Seperti ada lubang yang menganga dan tidak tahu harus menutupinya dengan apa.

Pengumuman mendadak soal cutinya Baek Hyun untuk sementara benar-benar mengejutkan fans. Semuanya bertanya-tanya apa yang tengah terjadi pada si vokalis utama itu hingga membuatnya memilih untuk tidak hadir di panggung hiburan. Berita yang dilansir oleh manajemen mengatakan bahwa Byun Baek Hyun sedang rehat sejenak dari dunia keartisannya.

Se Hun meminum airnya dalam sekali teguk, perasaan lega langsung hinggap di hatinya begitu aliran air itu perlahan menuruni tenggorokannya. Segar. Perform empat lagu sekaligus benar-benar membuat tenaganya terkuras dan keringatnya mengucur deras.

Pemuda berambut keabu-abuan itu langsung menghempaskan tubuh kurusnya ke sofa lalu mendesah keras. Lelah, ia benar-benar merasakan yang satu itu sekarang. Sebelum ini, ia tidak pernah menyangka menjadi seorang artis akan begini berat. Jadwal yang padat, libur yang berlalu hanya dalam sekejap mata, tuntutan dari manajemen yang beragam mulai dari penjualan album hingga yang lain-lain. Semua benar-benar membuat Se Hun lelah.

Seharusnya di saat seperti ini, anak muda sepertinya akan pergi berkencan dengan yeoja-yeoja cantik dan bebas berkeliaran sampai pagi hari. Seharusnya ia bisa bebas bermain bersama teman-temannya tanpa ada tuntutan pekerjaan. Tapi Se Hun, jangankan berkencan dengan yeoja, dekat sedikit dengan seorang sunbae yeoja saja akan membuat penggemarnya mengamuk, bagaimana jadinya kalau dia berpacaran? Mungkin ia bisa saja mati.

Kedua kelopak mata Se Hun yang semula terpejam erat kini terbuka lebar, ia sedikit terkejut begitu orang-orang yang awalnya begitu banyak berlalu lalang di sekelilingnya kini menghilang. Penata rias yang sebelum ini terlihat membenarkan riasan Jong In menghilang, penata busana juga tidak ada. Manajer yang tadinya menyandarkan punggungnya seraya mengutak-atik ponselnya juga raib. Kelima hyungnya juga menghilang tanpa bekas. Kini hanya tinggal dirinya seorang di ruang rias itu.

Kesunyian menyergapnya. Diam merengkuhnya. Dan kesepian menenggelamkannya.

Pemuda itu beranjak. Diliputi oleh perasaan takut yang entah mengapa tiba-tiba berputar-putar di pikirannya. Ia membuka kasar pintu ruang rias kemudian cepat-cepat menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari-cari seseorang yang mungkin ia kenal.

Tidak ada. Tidak ada seorangpun.

Ini aneh.

Se Hun berlari keluar, namun masih saja tidak ada seorangpun di sana. Pemuda itu tidak menyerah. Ia berlari menuruni tangga, melewati satu dua ruangan, tidak peduli keringat yang membasahi sekujur tubuhnya. Ia mencari dan terus mencari, tapi tetap saja. Tidak ada seorangpun bersamanya. Sendiri.

“Hyung! Manajer Hyung! Joon Myun Hyung, Kyung Soo Hyung, semuanya di mana!?”

Saking lelahnya, Se Hun jatuh dengan lutut menyentuh tanah lebih dulu. Ia langsung memegangi kepalanya yang mulai berdenyut-denyut. Ia bergidik begitu sapaan angin menerpa bagian belakang lehernya. Sayangnya lebih seperti seseorang yang tengah usil meniup-niup tengkuknya. Namun ketika ia menoleh ke belakang, ia tidak menemukan siapapun di sana.

Dingin mulai terasa menusuk. Se Hun tidak pernah tahu suhu ruangan yang dingin bisa sebegitu menyakitkannya baginya sekarang. Ia sampai harus memeluk tubuh kurusnya sendiri. Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi sekarang?

Kenapa semua terasa begitu mencekam seolah ingin menelannya bulat-bulat?

“Perform kita sukses hari ini, sebagai balasan untuk kerja keras kalian, aku akan mentraktir kalian!”

“Benarkah hyung!? Waa hyung memang benar-benar yang terbaik!”

“Benar!”

Se Hun menoleh cepat karena suara-suara yang baru saja ia dengar begitu familiar di telinganya. Benar, karena ketika ia melihat ke arah sumber suara, didapatinya manajernya serta kelima hyungnya yang lain tengah berjalan bersama-sama menuju ke pintu keluar gedung tempat di mana mereka perform itu. Keenamnya tampak begitu bahagia. Bercanda bersama dan bersuka cita.

Tidak ada yang mampu Se Hun lukiskan selain perasaan bahagia yang kini membuncah di hatinya. Akhirnya ia menemukan mereka! Ternyata ia tidak sendiri. Dengan segera pemuda itu beranjak dan berlari mendekati keenamnya, mengikuti ke mana mereka pergi.

“Hyung, kalian semua dari mana saja sih? Aku bingung mencari kalian tahu!” Se Hun mengomel dan menatap sebal ke arah punggung kelima rekannya plus manajernya yang masih saling bercakap satu sama lain itu.

Merasa tidak dihiraukan, Se Hun lantas berlari agak jauh ke depan keenamnya dan membentangkan tangannya. Seolah-olah menahan langkah keenamnya dengan mencari perhatian. “Hyung, jawab aku!” kata Se Hun lantang.

Tidak ada jawaban. Keenam pria itu masih melangkah tanpa sedikitpun menghiraukan Se Hun. Membuat si maknae itu jengkel. “Hyung!”

Saking kesalnya, Se Hun berjalan mendekati Jong In kemudian memukul pemuda itu di bagian lengan.

Namun apa yang terjadi setelahnya sama sekali tidak bisa Se Hun kira.

Se Hun tidak bisa memukul Jong In.

Karena tangan Se Hun menembusnya, menembus tubuh Jong In. Sementara Jong In masih tertawa-tawa dengan Chan Yeol. Sama sekali tidak merasa sakit, sama sekali tidak merasakan keberadaan Se Hun di hadapannya.

Masih kasus yang sama. Keenam pria yang sangat Se Hun kenal itu berjalan—seakan sama sekali tidak melihat Se Hun—melewatinya. Bukan! Bukan melewati, tapi menembusnya. Ya, keenam pria itu berjalan menembus Se Hun.

Se Hun mematung di tempat. Canggung dan bingung dengan situasi sekarang. Sel-sel di otaknya masih sibuk mencerna apa yang baru saja terjadi.

Kenapa? Kenapa mereka semua tidak bisa melihat Se Hun? Kenapa mereka semua sama sekali tidak menyadari keberadaan Se Hun di dekat mereka? Kenapa mereka tetap tertawa meskipun Se Hun dan Baek Hyun tidak ada di antara mereka?

Kenapa?

Apa yang terjadi pada Se Hun?

Apa yang terjadi saat ini?

“Hyuuunggg!!”

Se Hun berteriak sekeras-kerasnya. Berharap suaranya akan sampai di telinga hyung-hyungnya itu. Namun naasnya, mereka semua tidak menoleh. Mereka semua terus berjalan. Tidak menghiraukan Se Hun. Hingga di saat keenamnya hilang dari pandangan, Se Hun tak lagi punya kuasa untuk membendung air matanya.

Dunia di sekeliling Se Hun seolah tertawa karena melihatnya menangis. Seolah menertawakan kesendiriannya. Seakan menertawakan sesesok namja yang tengah beranjak dewasa dan ternyata masih saja menangis karena ditinggal sendirian.

Benar-benar sendirian. Sendiri dan gelap.

_______

“Hyung!”

Joon Myun mendengus kesal begitu teriakan khas Jong In terdengar dari luar kamar gantinya. Masih sibuk dengan pakaian yang kini berserakan di hadapannya, Joon Myun tidak menghiraukan panggilan Jong In tersebut.

“Joon Myun hyung, cepatlah kemari!”

Dasar Kim Jong In payah! Joon Myun tidak akan lagi terkena perangkapnya. Sama seperti beberapa minggu yang lalu saat anak nakal itu mengerjainya dengan tidak tanggung-tanggung. Memanggilnya dengan heboh seolah-olah sesuatu yang gawat tengah terjadi. Padahal kenyataannya? Jong In hanya minta diambilkan susu di lemari es yang sebenarnya terletak tidak jauh dari tempatnya berada. Benar-benar menyebalkan, bukan?

“Hyung, aku serius! Cepatlah kemari!”

Masa bodoh! Batin Joon myun seraya berdecak lirih.

“Joon Myun hyung! Sesuatu terjadi pada Se Hun!”

Mau pakai alasan apa lagi bocah itu, heh!? Joon Myun sudah kapok menanggapi tingkah menyebalkan Jong In yang satu itu.

Tiba-tiba terdengar gedoran dari luar pintu, membuat Joon Myun sedikit terlonjak ke depan saking kagetnya. “Cepat keluar, Hyung! Se Hun tidak sadarkan diri! Aku tidak bohong dan aku berani bersumpah!”

Suara Jong In terdengar memelas, tampaknya namja itu benar-benar terlihat putus asa. Akhirnya, Joon Myun memutuskan untuk keluar sembari membawa pakaian-pakaiannnya. Ia baru membuka setengah dari pintu kamar gantinya ketika tangan Jong In langsung menariknya kasar. “Cepatlah, Hyung!”

Joon Myun menurut ketika Jong In membawanya setengah berlari ke arah sofa di mana Se Hun tengah terbaring. “Se Hun tidak sadarkan diri, Hyung!”

Mendengar itu, Joon Myun langsung mengguncang pelan tubuh dongsaengnya yang paling muda itu. Beberapa kali ia mengguncang dan menampar pelan pipi Se Hun, namun tidak ada tanggapan. Namja itu tetap terlelap. Sejurus kemudian, hati Joon Myun langsung dipenuhi perasaan khawatir. Oh, Tuhan apa yang sedang terjadi pada Se Hun!?

“Jong In lekas panggil manajer hyung dan yang lain! Ah, dan jangan lupa telepon rumah sakit!” perintah Joon Myun pada Jong In.

Jong In mengangguk dan langsung beranjak dari tempatnya. Sementara Joon Myun masih saja berusaha membangunkan Se Hun. Ia mendekatkan punggung tangannya di hidung Se Hun.

Syukurlah, Se Hun masih bernapas.

Joon Myun merogoh saku celananya, mengambil ponselnya untuk menghubungi orang tua Se Hun. Namun niatannya itu terhenti ketika tiba-tiba kepala Se Hun bergerak-gerak pelan, alis namja itu mengernyit dan ia terdengar menggumamkan sesuatu.

Kalimat yang diucapkan berulang-ulang. Kalimat yang lirih dan dalam.

Persis seperti yang ia dan Jong In dengar di depan kamar Baek Hyun-Chan Yeol ketika hendak mendobrak pintunya dua hari yang lalu.

____TBC_____

Bagaimanaaaaa? Kurang seru? Apa gejeee?😛

Kalau kurang horror sih author yakin banget, udah jelas soalnya emang di part ini lebih ke bagian misteri aja sih, hehe :3

Haha, oKAI. Kalau mau lanjutannya, komen dan like ff ini dulu ya. Soalnya komen kalian semua itu bener-bener mempengaruhi mood saya buat nulis lho. Kalo komen atau view nya dikit, kecil kemungkinan bakal saya lanjutin. Kalau komennya melebihi perkiraan, saya janji bakal publish cepet deh. Soalnya mumpung lagi libur nih, weheheheh ^^

Thank you!!

FOLLOW ME @fhayfransiska , always welcome ^^

 

86 responses to “The Dirty Soul [Part 2]

  1. Wooaahhh!! Pnsaran ama lnjutannya!!
    Apa yg trjd ama Baek n Sehun?! >_<

    Lanjut donk Fhay authornim!!
    Jarang2 ad crta brgenre giniii soalnya!! ^^

  2. annyeong unnie fhay!!
    As usual, your ff still amazing!
    Susah banget nyari ff bergenre horror ini. Akh… penasaran banget sama apa yang terjadi pada Sehun dan Baekhyun..
    Sebenarnya hantunya siapa sih unnie? Trus kalimat yang diucapin Baek sama Sehun yang didengar ama SuKai apa sih???
    Huaaaaah… kepo banget nih eon.
    pos selanjutnya jangan lama-lama ya unnie!!
    (^^)/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s