Untouched Dream [Chapter Two]

untouched dream4

Title            : Untouched Dream [Chapter 2]

 

Author       : fransiskanoorilfirdhausi / soo ra park / @fhayfransiska

 

Cast            : Kim Jong In a.k.a Kai (EXO K)

 

                     Choi Ah Ra (OC)

 

  Lee Min Ji (OC)

 

Genre         : Angst, Life, Family, Romance

 

Length       : Chaptered

 

Allo readerdeul semuanya ^^/

 

Author bawa chap. 2 dan kali ini author tekankan bahwa ‘mulanya’ fanfic ini memang remake dari ff jadul saya yang judulnya secret heaven. Tapi seiring bertambahnya cast dan alur cerita, fanfic ini tidak lagi remake. Tapi fanfic baru (dan itu artinya tanggungan fanfic saya semakin menggunung saja T.T). endingnya juga belum dirancang dan tidak tahu bakal seperti apa. jadi, sekarang saya biarkan saja Jong In bercerita tentang dirinya dan dua yeoja itu sepuasnya, hehe😀

 

This plot and OC are mine, but EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?  

 

And be a good reader please, don’t forget to give me oksigen (Read-Comment-Like)^^

 

PREVIOUS CHAPTER : | PROLOG | CHAPTER 1 |

 

________

 

Life is just like butterfly …

 

_________

 

Tidak akan ada seorangpun yang peduli. Bagaimanapun ia, mau seperti apapun ia, bersama siapapun ia, tidak ada yang peduli. Ia selalu berpikiran seperti itu. Seolah-olah ia hanya hidup sendiri. Dalam dunia dan bayang-bayangnya miliknya sendiri. Di tengah keramaian dan hiruk pikuk, tawa serta canda orang-orang di sekelilingnya, ia tetap merasa sendiri. Tersudut, terpojokkan oleh alasan klise yang selalu didengungkan oleh orang-orang di belakang bahkan terkadang di depannya.

 

Kim Jong In tahu benar, bagaimana semua orang—bahkan orangtuanya sendiri—selalu merendahkannya. Meletakkannya di bagian paling dasar dari piramida ‘orang yang dihargai’. Menghadiahinya dengan kelakar-kelakar kotor, membicarakan kebodohan dan kepayahannya dalam berbagai hal di balik punggung sendunya.

 

Kalau sudah begini, apa yang bisa ia lakukan?

 

Tidak ada.

 

Atau mungkin, yang perlu ia lakukan adalah menjauh dari orang-orang?

 

Pemuda bermarga Kim itu meluruskan kedua kaki panjangnya kemudian menyandarkan punggungnya pada dinding putih polos di belakangnya. Menghirup udara di sekitarnya dalam-dalam dan memejamkan mata. Pertanyaan bodoh barusaja berkelebat dan menari-nari seraya tertawa mengejek di pikirannya.

 

Menjauh dari orang-orang?

 

Jong In tersenyum lemah. Tolol, batinnya kemudian.

 

“Tolol.” katanya lirih sembari menunduk lesu, menatap ujung sepatunya yang tidak tersimpul dengan benar. “Kenapa …”

 

“Kim Jong In?”

 

Jong In spontan mengangkat wajah begitu mendengar seseorang menyebut namanya. Begitu menyadari siapa seseorang yang kini berdiri di hadapannya, Jong In membulatkan kedua matanya lebar, “Lee … Lee Min Ji?”

 

Min Ji menatap Jong In dengan alis berkerut penuh tanya, gadis itu tengah mengenakan pakaian bebas—bukan seragam—seperti biasa. Jelas terlihat kalau ia baru saja menyelesaikan latihan rutinnya dari rambutnya yang masih terkuncir asal dan wajahnya yang masih berkeringat. Ia meletakkan sebuah handuk mungil di bahunya.

 

“Apa yang kau lakukan di sini? Di atap?” Min Ji merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel miliknya kemudian melihat jam. Alisnya terangkat tinggi, “Bukankah jam pelajaran masih berlangsung?”

 

Jong In bangkit dengan lesu dari posisi duduknya. Setelah membersihkan debu-debu yang menempel di bagian belakang celananya, ia tersenyum kecut. “Bagaimana kalau aku mengembalikan pertanyaan itu padamu?” katanya kemudian. Selain karena malas menjawab pertanyaan serupa, ia juga sangat ingin tahu soal Lee Min Ji yang kerap kali membolos jam pelajaran untuk berlatih di ruang dance. Pertanyaan yang selama ini selalu menggantung di otaknya dan tidak pernah berani ia tanyakan langsung, tapi mungkin kali ini ia bisa dapat jawabannya.

 

Segaris senyum simpul muncul di bibir tipis milik Min Ji, gadis itu lantas berjalan menuju pagar atap, belum menjawab pertanyaan yang dikembalikan padanya. Arah pandangan Jong In mengikuti ke mana gadis itu merajut langkahnya. Terdengar hembusan lemah sebelum Min Ji mulai berkata-kata.

 

“Kim Jong In.”

 

Begitu mendengar namanya lagi-lagi disebut, Jong In hanya bisa tertegun. Namun ia tidak menjawab dan hanya memandangi Min Ji yang tengah memunggunginya, gadis itu mendongak menatap langit. Langit biru. Langit yang mampu memberi Jong In perasaan bebas, persis seperti yang Ah Ra katakan kala itu. Mungkinkah Min Ji juga berpikiran hal yang sama?

 

“Menurutmu apa gunanya belajar di dalam kelas?”

 

Tidak ada seuntai kata pun yang keluar dari bibir Jong In. Pemuda itu diam, seolah-olah sedang berpikir mengenai apa yang seharusnya ia jadikan jawaban. Kesunyian menyergap di sela-sela keduanya. Hanya terdengar suara angin yang berhembus di sekeliling mereka. Angin yang menerpa dan berbisik-bisik lembut.

 

“Bagiku, belajar di dalam kelas untuk orang sepertiku sangatlah tidak berguna.” Min Ji bergumam kemudian, menjawab pertanyaan yang ia ajukan sendiri. “Aku tidak suka pelajaran eksak yang memusingkan, aku benci menghapal dan aku kurang bagus dalam berbahasa. Yang aku bisa lakukan hanyalah menari dan menari.”

 

Min Ji membalikkan tubuh kurusnya kemudian memandangi Jong In lekat-lekat dengan sepasang iris Hazelnya yang indah. “Menurutmu untuk apa aku berdiam di kelas jika semua hal yang aku terima nantinya hanya menguap begitu saja? Bukankah jauh lebih baik jika aku berada di ruang latihan dan menari? Melakukan hal yang lebih berguna dan menyenangkan untukku.”

 

Berguna dan menyenangkan, catat Jong In dalam hati.

 

“Bagaimana dengan …”

 

Alis Min Ji terangkat begitu telinganya menangkap sebuah suara yang sangat lirih hingga nyaris tak terdengar, apa barusaja Jong In yang berbicara?

 

“Bagaimana dengan orangtuamu? Ehm, maksudku … apakah mereka tidak marah jika kau kerap membolos seperti ini? Ah, tolong jangan tersinggung maksudku …” Lagi-lagi Jong In mendapat kesulitan dalam merangkai kata-katanya sendiri, seluruh kalimat yang sedari tadi ia susun di dalam otak seolah buyar seketika.

 

“Tentu saja mereka marah. Mereka kecewa padaku.” Jawab Min Ji cepat, “Tapi kemudian aku bisa jelaskan, aku bisa yakinkan kepada mereka kalau menari adalah jalan dan tujuan hidupku. Seandainya aku menjadi orang terbodoh pun tidak apa-apa, asalkan aku masih bisa menari. Selama aku menari, maka aku akan baik-baik saja.”

 

Kalimat-kalimat yang meluncur dari bibir Min Ji membuat Jong In seketika membeku.

 

Kalau dipikir-pikir lagi ternyata Min Ji tidak jauh berbeda dengannya, ternyata Min Ji sama dengannya. Sama-sama benci pelajaran. Benci berada di kelas.

 

Tapi …

 

Min Ji punya banyak teman. Dia gadis populer yang bisa menjatuhkan hati banyak pria.

 

Min Ji punya orang tua yang percaya sepenuhnya padanya.

 

Min Ji punya kebebasan.

 

Dan Min Ji punya mimpi.

 

Bagaimana dengan Kim Jong In? Tidak. Ia tidak memiliki apapun. Bahkan satu saja dari beberapa poin di atas sama sekali tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Kasus yang mereka alami berbeda. Mereka memang sama, tapi dunia dan jalan hidup mereka berbeda, bahkan berbanding terbalik. Kalau diibaratkan dengan peta, mungkin Min Ji adalah di kutub utara dan Jong In kutub selatan. Sama-sama dingin, tapi berbeda.

 

“Tapi Jong In, aku juga tidak bisa selalu meninggalkan pelajaran. Karena bagaimanapun juga aku harus lulus dari sekolah ini baru bisa pergi ke luar negeri dan mengejar mimpiku untuk sekolah di Juilliard!” kata Min Ji tiba-tiba dengan penuh semangat. Kilat-kilat kebahagiaan terpancar jelas dari manik mata Hazelnya.

 

“Ju.. Juilliard?”

 

Min Ji mengangguk mantap, senyumnya semakin terkembang. “Ya, sekolah tari yang berada di New York itu. Aku ingin sekali menjadi siswa di sana. Tapi …” Min Ji menggembungkan pipinya, “Tapi aku memang sangat pemalas, jadi sangat sulit untukku mengejar ketinggalanku akan pelajaran. Sampai saat ini saja aku masih tidak bisa lepas dari rutinitasku membolos selama kurang lebih dua jam pelajaran setiap harinya.”

 

Sesungguhnya kalimat demi kalimat terakhir yang diucapkan Min Ji bagai angin lalu di telinga Jong In. Pikirannya hanya terfokus pada sebuah gagasan bahwa gadis itu berniat pergi dari Korea Selatan setelah lulus nanti, dan itu artinya ia tidak akan pernah melihat gadis itu lagi. Ia tidak bisa diam-diam melihat gadis itu dari kejauhan.

 

Hal itu entah mengapa membuat hati Jong In terasa sakit.

 

Dan ia tidak suka itu.

 

“Hei Jong In ada apa denganmu? Kau hanya diam saja sedari tadi.”

 

Pertanyaan Min Ji membuat Jong In lagi-lagi tersentak dan kembali ke dunia nyata dari lamunan pendeknya. “A.. Aku tidak …”

 

Min Ji menggaruk tengkuknya dengan salah tingkah, wajahnya menunjukkan bahwa ia tengah didera rasa bersalah, “Maafkan aku, mungkin aku terlalu terbawa suasana sehingga menceritakan semuanya padamu. Aku sampai tidak memberikanmu kesempatan untuk bicara sedari tadi. Harusnya aku tidak seenaknya seperti ini. Maaf.”

 

Benar juga, gumam Jong In dalam hati. Kalau dipikir-pikir ini aneh, kenapa Min Ji menceritakan semuanya dengan lancar kepadanya mengingat Jong In masihlah orang baru bagi gadis itu? Padahal kebanyakan orang cenderung memilih untuk diam daripada bercerita panjang lebar kepada orang yang baru dikenal. Tapi, gadis ini sedikit berbeda. Lee Min Ji berbeda.

 

“Kenapa menceritakan semua itu padaku? Aku kan …” Jong In menelan ludahnya canggung, “Kita kan baru saling mengenal.”

 

Min Ji langsung memiringkan kepalanya lalu membulatkan mata Hazelnya, “Eh? Ah, itu. Hehe, entah kenapa aku merasa kalau kau mirip denganku, sama-sama bosan dengan … jadi aku rasa … Ah tapi jangan salah sangka karena aku tidak bermaksud mengungkit-ungkit hal ini dengan nilai ujianmu yang waktu itu aku lihat. Aku hanya … ah! Sulit menjelaskannya!”

 

Mirip dengan Jong In? Bukankah hal itu juga dikemukakan oleh Ah Ra kepadanya saat pertama kali berbincang dulu?

 

Kemudian, daripada terus menerus larut dalam pikirannya sendiri, Jong In mengulum senyum kepada Min Ji. Tatapan keduanya saling bersirobok satu sama lain.

 

“Kau sedang ada masalah?”

 

Pertanyaan Min Ji baru saja membuat Jong In mengerutkan alisnya, pasalnya pembicaraan mereka yang sebelumnya sama sekali tidak menyangkut soal ini. “Kenapa kau berpikiran seperti itu?”

 

Min Ji mengangkat bahu, “Entahlah, kau terlihat lesu. Saat aku menyapamu tadi, kau terlihat kacau dan … kesepian. Entah apa mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku ..”

 

Persis. Ah Ra juga pernah mengatakan hal serupa soalnya. Oh, apakah ia benar-benar terlihat menyedihkan? Kesepian dan kacau di setiap saat.

 

Gadis pemilik mata Hazel itu lagi-lagi tersenyum, “Tapi mungkin kau bisa menceritakan masalahmu padaku. Kita memang baru saling mengenal, tapi kurasa untuk selanjutnya kita bisa menjadi teman. Bagaimana menurutmu Kim Jong In? Maukah kau menerima permintaanku untuk menjadi temanmu?” lanjut Min Ji dengan nada bicara yang terdengar serius, namun wajahnya menampilkan sebuah senyum lebar yang membuatnya menjadi terlihat lebih manis.

 

Teman? Tanya Jong In dalam hati.

 

Maksudnya menjadi teman seorang Lee Min Ji yang sangat populer itu? Menjadi teman seorang Lee Min Ji yang diam-diam ia kagumi itu? Oh, Tuhan.

 

Perlahan sebelah tangan Jong In terangkat, menjabat lemah tangan Min Ji yang terulur padanya. Tangan Min Ji kurus dan ramping, yang anehnya mampu membuat dada Jong In bergemuruh. Keduanya lalu saling bertukar pandang selama beberapa saat dan tersenyum. Namun belum sempat Jong In menarik tangannya kembali, Min Ji telah lebih dulu menarik punggung lengannya lebih kuat. Hei, hei, ada apa ini?

 

“Ya, Ya, Lee Min Ji, ada a…”

 

Min Ji terus menarik lengan Jong In, “Kau sedang lesu. Dan kita teman kan?”

 

Jong In tidak menjawab pertanyaan Min Ji, ia masih sibuk berpikir, apa hubungannya lesu dengan teman? Ia tidak mengerti. Selain itu, jaraknya dengan Min Ji yang sangat dekat membuat sesuatu yang aneh terasa di dada Jong In. Seperti ada lecutan-lecutan terjadi di sana, lecutan yang sayangnya—harus Jong In akui—terasa sangat menyenangkan.

 

Seolah mampu membaca tanda tanya besar yang tergurat jelas di wajah Jong In, Min Ji hanya terkekeh. “Kita berteman. Dan tugas seorang teman adalah membuat temannya kembali tertawa. Tidak lagi lesu.”

 

Oh begitu, batin Jong In mengerti. Eh lalu, apa yang akan dilakukan Min Ji padanya sekarang? Apa tujuan gadis itu menariknya paksa untuk turun dari atap? Kemudian berjalan menuju gerbang seperti sekarang?

 

Jangan-jangan …

 

“Hari ini kita membolos untuk membuat Kim Jong In kembali tersenyum. Ayo kita bersenang-senang! Yay!” teriak Min Ji kemudian.

 

“EEHHH!?”

 

________

 

“Bagaimana kalau kita pergi ke stan karaoke?”

 

Jari telunjuk Min Ji yang lentik mengarah pada sebuah stan kecil yang bercat warna-warni. Oh, karaoke instan rupanya. Cukup ramai dan ada beberapa orang yang sedang mengantri.

 

Jong In belum sempat menjawab dan mengiyakan ketika lagi-lagi Min Ji menarik lengannya secara tiba-tiba, membawanya berjalan mendekati stan itu. Pemuda itu sendiri hanya bisa menurut sementara hatinya berkata sebaliknya. Stan karaoke. Tempat di mana kita akan bernyanyi sepuasnya sesuai dengan lirik yang terlihat di layar, kemudian mendapatkan poin untuk itu. Entah baik ataupun buruk tetap saja menyenangkan.

 

Tapi kata ‘membaca’ perlu digaris bawahi. Terutama untuk Jong In. Membaca saja merupakan hal yang cukup sulit untuk Jong In, ditambah lagi lirik-lirik itu juga pastinya akan berganti dengan cepat seiring lagu itu berjalan. Jong In tidak akan bisa mengikutinya, ia pasti akan tertinggal. Ia tidak bisa membaca dan memahami kalimat dengan cepat. Kalau begitu, besar kemungkinan ia hanya diam dan membiarkan Min Ji bernyanyi sendiri nantinya.

 

Menyedihkan. Membayangkannya saja Jong In enggan.

 

Dengan cepat dan sedikit keras, tepat sebelum Min Ji memasuki stan karaoke itu ia menarik lengan gadis itu, menahannya pergi. “Ada apa Jong In?” tanya si gadis kemudian dengan wajah bingung.

 

Jong In menelan ludahnya, haruskah ia mengatakan yang sejujurnya sekarang? Di saat-saat berbahagia seperti ini? Mengatakan bahwa ia adalah penderita disleksia pada Min Ji sehingga ia tidak bisa membaca dengan benar?

 

Tidak! Tentu saja tidak! Jong In menggeleng sendiri, membuat Min Ji bertanya-tanya dalam hati dan alisnya berkerut semakin dalam.

 

“Kau sedang tidak enak badan, ya?”

 

Min Ji meletakkan telapak tangannya tepat di dahi Jong In, perlakuan yang membuat pemuda itu seketika diam. Pikirannya mendadak kosong dan dunia di sekelilingnya seolah hilang. Hanya tinggal ia dan Min Ji seorang. Seperti orang bodoh, Jong In berharap waktu bersedia berhenti untuk mereka saat itu juga.

 

Namun beberapa saat kemudian ia mendapat sakit yang luar biasa terasa di sudut bibirnya. “Awww!” teriak Jong In keras. Setelahnya ia baru menyadari apa penyebabnya, bahwasanya Min Ji kini tengah menampar-nampar pipinya dalam upaya membuatnya tersadar dari lamunannya. Dan tidak sengaja mengenai ujung bibirnya yang sempat terluka beberapa hari lalu karena tamparan dari ayahnya.

 

“Kenapa melamun, hei? Aku bertanya padamu Kim Jong In!”

 

Jong In meringis menahan sakit. Rupanya sakitnya masih berbekas sampai saat ini. Pemuda itu lalu menoleh pada Min Ji yang tengah menatapnya kesal. Gawat.

 

Tepat sebelum Min Ji berniat kembali buka suara, Jong In berujar cepat, “Aku tidak apa-apa, sungguh. Aku tidak mau masuk stan karaoke itu karena … karena .. karena tenggorokanku sedang sakit!”

 

Min Ji mengerucutkan bibirnya, sepertinya masih belum bisa percaya dengan penuturan Jong In. “Tenggorokanmu apa pipimu sih yang sedang sakit?”

 

“Eh?”

 

“Tadi aku menampar pipimu untuk membuatmu berhenti melamun, dan itu pelan, sangat pelan malah. Tapi kau malah berteriak keras seakan-akan aku benar-benar membuatmu kesakitan.”

 

Bingung. Apa yang bisa Jong In katakan sekarang? Mengatakan kebenaran soal ayahnya yang kerap menyiksanya? Dan kemudian Min Ji akan sampai pada kesimpulan bahwa ‘seorang Kim Jong In adalah pemuda patut dikasihani’.

 

“Aku … jatuh.” putus Jong In kemudian. “Beberapa hari yang lalu aku jatuh dari sepeda dan … ujung bibirku robek. Jadi, ketika kau menampar pipiku tadi …” Jong In menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mulai menyusun kata-kata yang sekiranya masuk akal. Kedua kelereng matanya bergerak-gerak, “Itu mengenainya dan jadi terasa sakit.” lanjutnya.

 

Min Ji terlihat terkejut, ia lalu menatap penuh perhatian pada ujung bibir Jong In yang sukses membuat Jong In salah tingkah sendiri.

 

Memang sih, kalau diperhatikan lebih jauh, ujung bibir Jong In terlihat membiru, begitu pikir Min Ji.

 

Agar perhatian Min Ji teralihkan, Jong In lantas memberanikan diri meraih lengan gadis itu, mengabaikan setiap debaran yang terasa di dadanya setiap kali mereka berada dalam jarak dekat. “Bagaimana kalau kita ke stan yang lain? Tidak ada gunanya buang-buang waktu seperti ini. Kajja!”

 

Min Ji hanya bisa menurut ketika pemuda bermarga Kim itu menarik tangannya penuh kehati-hatian menjauh dari stan karaoke itu. Selagi otaknya tak hentinya berpikir soal Kim Jong In yang sangat tertutup, hatinya juga mulai membatin heran.

 

Bagaimana ia bisa begitu peduli pada Jong In dan tak hentinya memikirkan soal apa sebenarnya yang pemuda itu sembunyikan darinya?

 

________

 

Dengan sebuah permen kapas besar di tangan kirinya, serta es krim di tangan kanannya, Jong In dan Min Ji berjalan-jalan berkeliling taman bermain, sama sekali tidak merasakan lelah yang biasanya bergelanyut manja. Tidak sedikitpun terbesit perasaan khawatir dan takut karena dengan beraninya membolos di jam-jam sekolah seperti ini. Keduanya memakai bando Mickey Mouse, tidak peduli umur, tidak peduli bila orang-orang mulai berbisik-bisik di sekeliling mereka. Lupakan saja semuanya, mereka di sana untuk bersenang-senang, bukan memikirkan perkataan orang.

 

Keduanya tertawa lepas, kadang berhenti sejenak di salah satu stan kemudian berfoto dengan maskot-maskot cafe dengan gaya yang tidak kalah gila. Menaiki berbagai wahana yang terdapat di sana, sekalipun itu adalah bianglala yang lazimnya ramai oleh anak di bawah umur. Hingga mencoba stan ramalan yang belum pernah sekalipun Jong In kunjungi sebelumnya.

 

“Bagaimana, menyenangkan sekali bukan? Sekali-kali kita memang perlu membolos seperti ini!”

 

Jong In hanya tersenyum geli mendengar pernyataan Min Ji yang benar-benar frontal. Selama ini ia tidak pernah tahu kalau Min Ji adalah gadis yang sangat menyenangkan dan mudah membaur seperti ini dengan orang baru sepertinya. Tidak heran kalau gadis itu sangat populer dan memiliki banyak teman.

 

“Min Ji-ssi, boleh aku menanyakan pendapatmu?”

 

“Soal apa?”

 

Jong In dan Min Ji saat ini tengah berada di sebuah café khas Italia, tempat yang terletak tidak jauh dari taman bermain yang barusaja mereka kunjungi. Pemuda bermarga Kim itu perlahan membenarkan posisi duduknya yang dirasa kurang nyaman kemudian berujar, “Menurutmu impian itu apa?”

 

“Impian?”

 

Jong In mengangguk. Min Ji tampak berpikir seraya menengadahkan kepalanya, menilik rupa langit-langit café seolah ada jawaban—yang mungkin bisa membantunya—yang tertulis di atas sana. Sama sekali tidak terbesit pertanyaan soal kenapa tiba-tiba Jong In berkata demikian padanya. Beberapa saat kemudian, gadis itu tersenyum jahil, “Impian adalah kita. Saat di mana aku berjalan menuju pelaminan dan ada Kim Jong In yang berdiri di atas altar. Lalu kita berdua akan mengucapkan sumpah sehidup semati untuk saling mencintai sampai kapan pun.”

 

Deg.

 

Aliran darah Jong In seolah berhenti, begitupun dengan jantungnya yang tak berdetak untuk sesaat. Apa yang baru saja terlontar dari mulut Min Ji membuat Jong In tidak bisa berkata apa-apa. Speechless.

 

Apa maksud Lee Min Ji berkata demikian, huh!?

 

“Ya! Berhenti terkejut, Kim Jong In. Aku kan hanya bercanda. Tolong jangan diambil hati, ya!” Lee Min Ji tertawa—bukan tawa mengejek—begitu melihat respon Kim Jong In yang sama sekali di luar dugaannya—sungguh! Semula ia berpikir bahwa Jong In akan tertawa—, tangannya terkibas-kibas di udara seolah memperkuat kesan bahwa ia memang sedang bercanda.

 

Mulanya, Min Ji membawa Jong In terbang setinggi-tingginya menembus awan. Tapi tidak lama kemudian, gadis itu melepaskannya dengan semena-mena hingga ia jatuh terjerembab di bumi. Sakit, hei!

 

Begitu melihat air muka Jong In yang berubah masam, Min Ji mengacungkan tanda peace dengan tangan kanannya seraya masih berupaya menahan tawa. “Baik-baik, aku akan jawab pertanyaanmu tadi.”

 

Sebenarnya, Jong In sudah tidak lagi bergairah mendengarkan jawaban Min Ji. Bagaimana pun juga gadis itu telah sukses membuat mood-nya seketika hancur dengan memberi harapan palsu seperti tadi. Tapi, ketika gadis itu mulai berbicara lagi dengan nada bicaranya yang ceria, Jong In tidak bisa menolak untuk tidak mendengarkannya.

 

Benar, faktanya Min Ji terlalu adiktif bagi Jong In.

 

“Kupu-kupu.”

 

“Kupu-kupu?” ulang Jong In dengan alis terangkat heran. Apakah Min Ji sedang berniat bercanda lagi?

 

“Menurutku impian itu seperti seekor kupu-kupu.”

 

Masih belum paham, Jong In lantas kembali mengulang pertanyaannya seperti orang bodoh, “Kupu-kupu?”

 

Min Ji mengangguk mantap. “Hidup itu seperti kupu-kupu. Melewati berbagai metamorfosa. Awalnya hanyalah seekor ulat yang dijauhi orang-orang karena dianggap menjijikkan dan merugikan. Tapi ia punya mimpi besar untuk menjadi seekor kupu-kupu yang cantik nantinya.”

 

Tiba-tiba Min Ji merogoh-rogoh kantung celananya dan kemudian mengeluarkan secarik kertas lusuh dari dalam sana. Gadis itu turut tersenyum puas ketika ia menemukan sebuah pensil tumpul di sakunya yang sebelah lagi. Dengan cepat ia menggambar ilustrasi metamorfosa kupu-kupu mulai dari telur sampai fase dewasa.

 

“Saat kupu-kupu masih dalam fase ulat, dia akan banyak membuat kesalahan. Memakan daun dan merugikan orang lain. Namun di saat yang sama, seekor ulat akan melihat sekelilingnya untuk berubah, untuk membentuk karakternya saat ia menjadi seekor kupu-kupu nanti.”

 

Min Ji mengangkat gambarnya sebatas telinga kemudian menunjuk gambar kepompong dengan pensil di jarinya, “Dan saat menjadi kepompong, ia akan menyadari kesalahannya selama ini dan berusaha untuk menjadi lebih baik. Mengurung diri di dalam serat-serat kepompong untuk merenungkan kesalahannya. Suatu tahap yang merubah jati dirinya, dan awal pembentukan sebuah karakter. Dalam hal ini, dapat diumpamakan sebagai manusia yang merasa seperti lahir kembali setelah sebelumnya banyak melakukan dosa. Menjadi manusia baru yang jauh lebih baik.”

 

Segaris senyum muncul di wajah Min Ji. Gadis itu melingkari gambar kupu-kupu sederhana yang ia buat dengan pensil tumpulnya. “Dan ketika ia telah berhasil menjadi kupu-kupu setelah melalui proses yang panjang dan sulit, ia akan disukai banyak orang karena keindahan yang dimilikinya. Saat itu juga, ia akan bisa terbang bebas. Dan mimpinya tercapai.”

 

Min Ji meletakkan selembar kertas itu di atas meja kemudian tersenyum puas, ia bertukar pandang dengan pemuda yang duduk di depannya. “Pada intinya, biarpun awalnya kita buruk dan bahkan merugikan orang lain, asalkan kita punya mimpi yang besar dan tak berhenti berusaha maka semuanya bisa berakhir bahagia. Kita akan bisa terbang bebas seperti kupu-kupu, seperti mimpi kita.”

 

Jong In hanya diam. Seolah lidahnya terpaku dan menahannya untuk berbicara dan berkomentar. Semua yang dikatakan Min Ji panjang lebar tadi mampu menghujam dadanya, membuatnya sesak. Karena semuanya benar.

 

Dan ia adalah seekor ulat. Ulat yang selamanya akan menjadi ulat karena tidak punya mimpi. Menyedihkan.

 

________

 

Kim Jong In melangkah lebar-lebar begitu manik matanya bersirobok dengan sebuah rumah megah yang tampak familiar. Rumahnya. Rumahnya yang lengkap dengan berbagai fasilitas dan perabotan mewah yang nyaris seluruhnya memiliki harga mencekik. Seandainya saja, rumah bukan mimpi buruk baginya. Kalau saja, rumah bukan tempat ‘pria itu’ berada. Kim Jong In pasti akan pulang dengan wajah berbinar bahagia dan dengan semangat berlari ke dalam seraya menggendong ransel di punggungnya.

 

Tapi hari ini memang berbeda dengan hari-hari yang sebelumnya. Jong In tampak jauh lebih bersemangat. Ekspresi mukanya yang biasanya sayu dan pucat, kini terlihat lebih cerah dan merona. Ibarat cuaca, dia adalah saat di mana Matahari tengah bersinar cerah dan tidak memberikan sedikit pun kesempatan bagi awan-awan mendung untuk menutupinya.

 

Sebuah senyum terbingkai di wajahnya, ia melangkah menuju teras rumah berbalut perasaan bahagia. Jong In tidak pernah menyangka bahwa ‘membolos’ bersama Min Ji terasa begini menyenangkan.

 

Sayangnya, waktu tidak membiarkan pemuda itu untuk tersenyum lebih lama. Karena di saat yang hampir bersamaan, sepasang mata beriris kelamnya melihat sesosok pria paruh baya tengah berdiri tegap menghadap ke arahnya seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kerutan di dahi pria itu bahkan sudah bisa ditangkap oleh kelereng mata Jong In kendati jarak yang terpaut di antara mereka masih cukup jauh. Pria yang kemudian Jong In kenal sebagai ayahnya itu menggeleng lemah dan menghela napasnya keras.

 

Jong In mengkaku di tempatnya berdiri.

 

“Barusan Appa mendapat telepon dari sekolahmu.” Jong In tersedak air liurnya sendiri, sekujur tubuhnya langsung menegang seketika. Oh, ia sungguh tidak ingin pembicaraan ini dilanjutkan, karena ia dapat memprediksi dengan pasti ke mana kata-kata Appanya akan berujung. Tolong jangan buat suasana hatinya kembali hancur.

 

“Kau …. membolos. Benar, Kim Jong In?”

 

Perkataan Appa Jong In yang penuh penekanan itu membuat Jong In bergidik ngeri. Perasaan takut langsung menghantam dadanya. Pemuda itu hanya bisa menunduk, ia tidak memiliki keberanian untuk berbicara ataupun berdalih.

 

Appa Jong In memejamkan matanya seolah-olah ia tengah berupaya menahan emosi yang mulai memuncak. Jong In anaknya tidak menjawab ataupun membantah apa yang baru saja ia katakan, itu artinya semuanya benar. Pemuda itu memang membolos dan dengan beraninya pulang ke rumah sambil tersenyum-senyum tanpa dosa.

 

Dada Appa Jong In mulai naik turun. Sementara Jong In yang menyadari bahwa Appanya kini tengah memenggal jarak di antara mereka—berjalan mendekatinya—mulai mundur sedikit demi sedikit. “Jong In sudah berapa kali Appa katakan kalau kau …”

 

Belum sempat Appa Jong In menyelesaikan bicaranya, Jong In telah lebih dulu berbalik kemudian berlari menjauhi Appanya. Kabur.

 

“Jong In!”

 

Teriakan Appanya masih sampai di telinga Jong In tatkala dirinya telah berlari keluar dari halaman rumah. Berlari sekencang-kencangnya, tidak peduli ke mana ia akan pergi setelah ini, mengabaikan napasnya yang terengah-engah, tidak peduli sekalipun ia nantinya akan berakhir seperti apa. Yang perlu ia lakukan saat ini hanyalah berlari menjauh. Karena saat ini yang berputar-putar di pikiran Jong In hanya satu. Pergi sejauh-jauhnya dari rumah terkutuk itu.

 

Dan ia bersungguh-sungguh, ia tidak akan pernah kembali lagi ke sana.

 

__________

 

Ke mana lagi selain ke tempat itu. Sebuah padang rumput yang luas dengan ilalang-ilalang yang bergerombol di pinggirnya, rumput-rumput pendek yang ujungnya tajam seperti jarum, pohon besar sebagai peneduh sekaligus pelengkap. Tempat yang indah di mana angin berhembus sejuk dan menenangkan pikiran, sinar matahari yang membias ke sana ke mari menghangatkan semua makhluk hidup di sudut sana. Serta langit biru yang dengan melihatnya saja seolah-olah merasa bebas.

 

Kim Jong In merebahkan—nyaris membanting—tubuhnya ke permukaan padang rumput itu, napasnya masih saling memburu dan ia tengah berupaya untuk menenangkannya sekarang. Dadanya naik turun dan sesekali pemuda itu meneguk air liurnya tanpa diminta. Kedua mata Jong In menutup rapat. Setidaknya sekarang ia lebih tenang, Appanya tidak mungkin mengejarnya sampai sini, yah itupun kalau Appanya memang mengejarnya.

 

Terdengar suara derap langkah kaki dari kejauhan, suara langkah kaki yang bersemangat dan dari suaranya kentara sekali kalau si pemilik kaki itu tengah berlari penuh suka cita. Mendekati ke arah di mana Jong In terbaring.

 

Jong In sendiri masih belum berniat membuka kelopak matanya andai saja sesuatu yang terasa geli tidak mengusiknya. Keningnya berkerut samar dan pemuda itu sontak terbelalak begitu mendapati wajah seorang gadis kini berada dalam jarak yang cukup dekat dengannya ketika matanya telah sepenuhnya terbuka. Rambut si gadis yang bergelombang jatuh sempurna dan mengenai sebagian wajah Jong In, pastilah itu yang membuat wajahnya terasa geli tadi.

 

“Ah Ra! Apa-apaan ..”

 

Gadis yang menyandang nama sebagai Ah Ra itu langsung menarik wajahnya begitu Jong In mulai membuka mata dan berteriak padanya. Ia beranjak dan tertawa-tawa sementara Jong In memposisikan dirinya duduk. Wajahnya memberengut kesal.

 

“Aku sedang tidak ingin bercanda, Ah Ra ssi!”

 

Ah Ra masih menjaga jaraknya dengan Jong In, takut-takut kalau pemuda itu akan membalas tingkah jahilnya tadi. Namun wajahnya hanya menampilkan sebuah senyum geli yang anehnya membuatnya semakin terlihat manis. “Aku tahu, aku tahu. Jong In yang aku kenal memang tidak pernah bercanda. Oleh karena itu wajahnya yang jelek semakin jelek saja setiap harinya.”

 

“Ya!” protes Jong In. Tidak terima dengan gagasan asal yang baru saja dihadiahkan Ah Ra padanya. Ah Ra lagi-lagi terkikik geli.

 

Perlahan senja mulai merangkak naik. Sang Matahari perlahan kembali ke singgasananya di ufuk barat. Dalam hitungan menit, langit akan menggelap dan tugas Matahari akan sesegera mungkin digantikan oleh Bulan dan Bintang. Melihat langit yang tidak lagi terang, Ah Ra perlahan bangkit dari tempatnya semula duduk, ia berniat pulang.

 

Tapi langkahnya terhenti, tepat saat ia menyadari bahwa pemuda bernama Jong In yang sedari tadi bersamanya itu masih belum juga beranjak. Padahal biasanya, Jong In yang lebih dulu pulang daripada dirinya. Selalu.

 

Ada apa dengan pemuda itu?

 

“Kau tidak pulang?” tanya Ah Ra kemudian dengan hati-hati. “Hari sudah menjelang malam.”

 

Jong In mendongak menatap wajah Ah Ra yang tidak lagi terlihat jelas karena penerangan yang sangat minim, sesaat kemudian pemuda itu menggeleng. “Aku tidak akan pulang. Aku tidak mau.”

 

Mendengar itu, kening Ah Ra mengerut tidak paham. “Hei, masa kau mau tidur di sini? Jangan gila!”

 

“Tidak apa-apa. Di mana saja asal jangan di rumah itu. Di mana saja asal tidak bersama orang itu.”

 

Orang itu. Ah Ra tidak paham, sekeras apapun otaknya berusaha mencerna, ia tidak bisa mengerti. Ia tidak mengerti sama sekali soal siapa ‘orang itu’ yang dimaksudkan Jong In. Selain itu, kalau Jong In berkata demikian bukankah itu artinya pemuda itu pergi dari rumah? Benar kan?

 

Setelahnya, Ah Ra baru mulai berpikir soal Jong In. Baik, pemuda itu memang mengatakannya dengan yakin bahwa ia akan baik-baik saja sekalipun seandainya ia benar-benar tidur di tempat itu. Di padang rumput yang terbuka lebar seperti itu. Di saat angin malam berhembus begitu dingin dan menusuk-nusuk hingga terasa di tulang.

 

Gila! Mana mungkin! Yang benar adalah posibilitas bahwa pemuda itu akan bangun dengan keadaan sakit—atau paling parah adalah kehilangan nyawa—besok pagi. Ya Tuhan.

 

“Kalau kau mau, tidurlah di rumahku.”

 

Kim Jong In, pemuda yang semula memasang tatapan tak bernyawa itu kini berubah. Berubah drastis setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan Ah Ra padanya. Sebenarnya, ia juga khawatir seandainya ia benar-benar tidur di tempat itu. Tapi, ia juga tidak bisa seenaknya mengiyakan ajakan Ah Ra mengingat gadis itu adalah orang baru baginya. Jong In yakin ia nantinya akan dirundung perasaan tidak enak karena merasa telah merepotkan gadis itu.

 

Jong In yakin, Ah Ra bukanlah seorang mind reader. Tapi tingkah lakunya dan kata-katanya sejak pertama kali berjumpa dulu seolah menggambarkan bahwa gadis itu memiliki bakat demikian. Seperti yang ia katakan setelah ini, “Tidak usah merasa tidak enak padaku. Aku memang tergolong orang baru bagimu, tapi percayalah padaku.”

 

Tidak ada pilihan lain. Jong In lantas mengangguk kaku dan mulai bangkit dengan lesu. Masih dengan tas ransel di punggungnya, seragam sekolah yang kusut serta wajah yang tidak kalah kusut dengan sorot mata sedih. Ah Ra meraih lengan Jong In agar pemuda itu berjalan di sampingnya. Meskipun penerangan kala itu sangat minim, Jong In masih bisa melihat bahwa gadis itu tengah tersenyum lebar padanya.

 

“Lekaslah. Aku tidak ingin membuat mereka menunggu.”

 

Jong In menoleh cepat kepada Ah Ra dengan alis terangkat, “Mereka?”

 

Ah Ra mengangguk mantap. “Ya. Kau akan tahu setibanya di rumah kami nanti.”

 

Kami?

 

 

 

____TBC____

 

How about this one?

 

Boring like usual? Or maybe better? Hehe.

 

I always here waiting your comment, good reader. Please for silent reader, stop your act! Hargai kerja keras author dengan memberi komentar. Memberi komentar tidak sulit bukan? Author di sini terima segala bentuk kritikan dan saran loh, curhat juga boleh. Protes juga sangat boleh. Selalu author tunggu sambil duduk manis😀

 

Sekedar curhat,

 

Ini tanggungan saya :

 

1)      EXO series part sehun, dan side story

 

2)      A ‘good’bye 0.3 ; 0.4 …

 

3)      The Dirty Soul 3 ; 4 …

 

FOLLOW ME @fhayfransiska , always welcome ^^/

 

 

 

 

48 responses to “Untouched Dream [Chapter Two]

  1. Ooh, aku baru ngeh klo ini emang dari secret heaven, wkwkwkkk
    Keren bgt, huhahahaa, itu penutupnya keren bgt, mereka siapaaa? Kami siapaaaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s