Every Time Alone (1st Shoot)

ETA Poster

Title                : Every Time Alone (1st Shoot)

Author         : gichanlee (@realgista0620)

Poster            : Thanks to @adelichars (riksarizki Artwork)

Main Cast   : Oh Se Hun (EXO K)

                             Wu Yi Fan (EXO M)

                             Xi Lu Han (EXO M)

                             Nam Hae Gin (OC/You)

Genre           : Sad Life and Little bit Romance

Length         : Maybe 2 Shoots

Rating          : G

ENJOY!

[Every Time Alone]

 Kalian tahu? Sendirian itu memuakkan. Apalagi saat dirimu dirundung berbagai masalah yang tak kunjung berhenti. Siapa juga yang mau mendapat masalah yang rumit dan semakin bertambah? Dan pada akhirnya dirimu dipaksa untuk sendiri. Aku butuh pendapat darimu, apa yang harus aku lakukan setelah dirimu mengetahui bagaimana cerita hidupku ini? Tolong aku. Aku sudah terlalu lemah sekarang.

Tertanda,
Oh Se Hun

Suasana gereja putih itu masih terlihat sepi. Tidak terlalu banyak orang berlalu lalang di pelataran tempat para orang Kristiani itu berdoa. Namun, ada satu buah mobil berhiaskan bunga di berbagai sisinya yang terparkir rapi tepat di depan pintu gereja itu. Ya. Sebuah mobil pengantin. Ternyata akan diadakan sebuah acara pernikahan di gereja itu. Seorang namja yang sebelumnya berniat untuk berdoa di dalam gereja yang di kenal dengan nama Yioda Full Gospel itu mengurungkan niatnya. Ia hembuskan nafasnya pelan dan mulai mengacak rambut panjangnya kasar.

“Argh!!” teriaknya frustasi berhasil membuat beberapa orang sekitarnya mengalihkan pandangan kaget kepadanya.

Begitu menyadari teriakkannya terlalu keras langsung saja ia tundukkan kepalanya malu dan mulai melangkahkan kakinya cepat menuju entah kemana. Dalam perjalanan tanpa arahnya, ia sibuk memikirkan berbagai masalah yang ia hadapi selama ini.

 ‘Ya, bisakah kau kembali ke China sekarang? Ibu ingin menemuimu. Kau lupa ya pada ibumu yang sedang sakit ini? Huh?’

Kembali terngiang ucapan kakak laki-lakinya saat bertelepon dengannya pagi tadi. Bisa dibilang subuh bukan pagi. Karena jelas sekarang arloji namja itu masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Pikiran namja itu tidak fokus pada apa yang ia lakukan saat ini. Ia pun tidak sadar ada seseorang yang iseng mengikutinya dari belakang. Seorang perempuan dengan rambut kuncir kudanya yang melambai-lambai akibat gerakannya yang energik. Perempuan itu mengikuti laki-laki di depannya ini sambil sedikit melompat riang.

“Oppa.” Ucap perempuan itu cepat dengan gaya imutnya. Namun nihil. Tidak ada sahutan. Seseorang yang ia panggil ‘oppa’ itu tidak menggubris keadaan sekitarnya. Dengan cepat perempuan imut itu mengerucutkan mulut mungilnya dan mulai berlari mengerjar laki-laki yang sedang berjalan memunggunginya itu.

“Ya! Oppa!” teriak perempuan itu sambil memukul bahu kanan si namja dengan keras.

“Akh! Ya! Nuguya?!” akhirnya si namja menyahut sambil mengelus bahu kanan bekas tepukan si perempuan tadi namun tidak menoleh pada seseorang yang telah memanggilnya sambil berteriak itu dan masih melanjutkan langkahnya.

“JAJANG! Ini aku oppa! Hihi..” jawab perempuan itu sambil melompat tepat dihadapan si namja. Ia menyengir kuda dan hampir saja wajahnya menubruk dada bidang milik ‘oppa’nya itu kalau saja si namja tidak segera menghentikan langkahnya.

“HUWA! Ya! Apa yang kau lakukan?! Mengagetkanku saja! Minggir!” gertak si namja.

Dengan raut wajah yang kesal si namja mendorong perempuan dihapannya itu untuk segera minggir dan menghilang dari hadapannya. Si perempuan yang tidak tahu bahwa mood si namja sedang tidak baik terus saja berusaha menggoda ‘oppa’nya itu dangan berbagai cara. Namun tetap saja tidak ada respon yang baik dan sesuai harapan. Akhirnya ia pun menghentikan langkahnya dan mulai merengek.

“Op..pa… Se Hun oppa… Se Hun oppa JELEK! JELEK JELEK JELEK!!!!” teriaknya tiba-tiba dan mampu menghentikkan langkah si namja yang ternyata bernama Se Hun itu.

SRET!

Se Hun langsung membalikkan badannya dan menatap tajam pada sosok yang sedang duduk pasrah di trotoar jalan yang ditumbuhi banyak gulma liar dan kotor. Se Hun menghembuskan nafasnya keras.

 ‘Masalah lagi..’ batinnya.

“Yaa…” gumam Se Hun sambil berjalan gontai menghampiri sosok yang masih terus merengek dengan menutupi wajahnya itu. Tangan kirinya terulur pelan untuk meraih si perempuan itu saat ia sudah mulai mendekatinya, namun tiba-tiba si perempuan menampakkan wajahnya dan menggunakan tangannya untuk meraih tangan Se Hun lalu dalam sekejap mata tangan si perempuan berhasil melingkari pinggang kurus milik Se Hun dan peristiwa itu mampu membuat mata Se Hun terbelalak. Ia terkejut atas perlakuan dongsaengnya –Se Hun menganggap begitu- yang satu ini.

“Hae… Hae Gin-ah..” ucap Se Hun terbata.

“Wae? Hihihi… Oppa.. biarkan seperti dulu ya. Aku rindu padamu. Sudah berapa lama aku tidak bertemu denganmu eo?” jawab orang yang dipanggil Se Hun dengan sebutan ‘Hae Gin’ itu santai. Masih dalam keadaan berpelukan. Bukan. Bukan berpelukan. Tapi Hae Ginlah yang memeluk Se Hun. Sedangkan Se Hun masih mengangkat tangannya karena terkejut.

Setelah mendengar ucapan Hae Gin, Se Hun hanya bisa memutar bola matanya kesal. Moodnya benar-benar sudah rusak saat ini. Yang ia butuhkan bukan pelukan seseorang! Yang ia butuhkan adalah tempat yang tenang, damai, dan bisa memanjakannya! Bukan! Bukan sauna atau tempat spa atau apalah itu.. Ia butuh GEREJA! Ya! Gereja yang sepi dan tenang dan hanya ada dia di dalamnya.

“Oppa..” panggil Hae Gin menggoyang-goyangkan pelukannya karena tidak mendapat respon yang bagus dari Se Hun.

“Ya, Hae Gin-ah. Ini bukan saat yang tepat untuk berpelukan. Dan aku sedang tidak membutuhkan pelukan siapapun atau maksudku aku sedang ingin sendiri jadi tolong jangan ikuti aku ne?” jawab Se Hun terkesan tanpa hati sambil berusaha melepaskan pelukan Hae Gin yang menurutnya cukup erat.

Se Hun memegang kedua bahu Hae Gin dan membungkukkan badannya sedikit untuk mensejajarkan wajah mereka berdua. “Kau diam disini saja dan tidak usah mengikutiku. Aku tahu kau rindu padaku begitupun aku. Namun sayangnya ini bukan saat yang tepat. Jadi temuilah aku mungkin di lain waktu. Sudah ya.” Ucap Se Hun panjang lebar seperti sedang memperingati seorang anak kecil. Karena Hae Gin sendiri hanya menatap wajah Se Hun polos sambil terus mendengar kalimat yang keluar dari mulut namja berkulit putih susu dihadapannya itu.

Dengan perasaan campur aduk Se Hun membalikkan badannya dan mulai melanjutkan perjalanannya. Hae Gin yang masih berdiri kaku di tempatnya masih menatap polos punggung sosok yang mulai pergi menjauh meninggalkannya. Cahaya matahari yang mulai terik dan mampu membakar kulit seseorang itu tidak berhasil menggugah Hae Gin untuk berpindah dari pijakannya.

“OH SE HUN!” teriak Hae Gin tiba-tiba. Memang inilah hobinya. Berteriak. Karena karakter Hae Gin memang begini adanya. Ia dikenal sebagai sosok remaja yang periang, energik, ramah, dan sebagainya. Yang jelas Nam Hae Gin adalah perempuan yang tidak membosankan, menurut teman-temannya.

“YA! OH SE HUN! TUNGGU AKU!”

Hae Gin mulai berlari menghampiri Se Hun yang terlihat semakin mempercepat langkahnya setelah mendengar teriakan Hae Gin.

 ‘Oh tidak. Tuhan, tolong aku… Aku ingin sendiri…’ batin Se Hun sambil memejamkan matanya rapat-rapat.

GREP!

Langkah Se Hun terhenti saat tangannya berhasil ditahan oleh Hae Gin.

“Aku tahu kau mau kemana..” ucap Hae Gin misterius. Ia mengubah suaranya menjadi seperti suara narator teater di sebuah pertunjukkan.

Se Hun lantas menolehkan kepalanya dan mengernyitkan dahi.

“Sini ikut aku.” Hae Gin langsung memimpin di depan sambil masih menggenggam tangan Se Hun. Sedangkan orang yang ditarik tangannya itu hanya bisa menatapnya heran.

[Every Time Alone]

 KREEET!

Pintu yang sedikit reyot itu terbuka perlahan dan masuklah dua sejoli yang tengah menatap kagum pada tempat yang tengah mereka masuki saat ini. Sebuah gereja tua yang letaknya tidak jauh dari pusat kota namun cukup terpelosok.

“Hae.. Hae Gin-ah.. bagaimana…” tanya Se Hun terbata dan menatap Hae Gin tak percaya.

“Hehehe.. kau kan tahu aku dikenal dengan memiliki insting yang bagus. Aku tahu karena saat kau menatapku tadi di trotoar aku bisa melihat sesuatu dimatamu oppa. Kau tampak hancur. Dan biasanya disinilah tempat untuk meredam kehancuran itu. Benar kan?”

Se Hun hanya menatap sendu pada wajah Hae Gin yang polosnya melebihi dalamnya Palung Mariana. Dengan senang hati Se Hun mengulurkan kedua tangannya menghadap Hae Gin. Sedangkan Hae Gin hanya manutkan kedua alisnya.

“Hmm? Mwo?” Tanya Hae Gin sambil menatap kedua tangan Se Hun yang terulur panjang dihadapannya.

GREP!

Se Hun memeluk Hae Gin dengan semangat. Sekarang gantian, saatnya Hae Gin yang membelalakkan matanya terkejut.

“Op…oppa.. waegeurae? Akh.. oppa aku tidak bisa bernafas. Terlalu erat…” ungkap Hae Gin sambil berusaha mengambil nafas dengan masih dalam dekapan erat Se Hun.

“Gomawo Hae Gin-ah. Maafkan aku tadi sempat memarahimu dan tidak menghargai segala perlakuanmu. Aku bahagia sekarang bisa menemukan tempat untuk…” tiba-tiba Se Hun menghentikan kalimatnya. Ia merutuki dirinya sendiri karena hampir saja ia keceplosan.

“Untuk apa oppa? Untuk menenangkan diri kan?” tebak Hae Gin sambil mendongakkan kepalanya susah payah karena kepalanya masih menempel pada dada bidang milik Se Hun.

“Untuk… hmmm… ya. Menenangkan diri dan berdoa. Bersamamu tentunya.” Timpal Se Hun sedikit memaksa. Tapi sangat sedikit. Karena Se Hun yakin Hae Gin tidak akan terlalu mengganggu tujuannya datang kemari nantinya. Sejujurnya lanjutan kalimat yang ingin Se Hun lontarkan adalah ‘menemukan tempat untuk berdoa… sendirian’.

“Ka..kalau begitu kenapa tidak dilakukan sekarang? Bisakah kau lepaskan pelukanmu oppa?” pinta Hae Gin sekali lagi.

Dengan segera Se Hun meregangkan pelukannya dan menarik tangan Hae Gin, mengajaknya untuk duduk di banjar paling depan dekat dengan podium tempat biasanya pastur berdiri. Se Hun duduk mendahului Hae Gin dan menepuk tempat duduk disebelahnya mempersilakan Hae Gin untuk duduk di sampingnya. Kemudian mereka menatap tanda salip yang tergantung di dinding di hadapan mereka dengan senyuman merekah. Tak lama setelah itu keduanya saling menautkan tangan masing-masing dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam dan hanyut dalam pikiran masing-masing. Masih dengan senyuman.

[Every Time Alone]

Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang sibuk

BUK!

Telepon genggam tidak bernyawa itu terhempas begitu saja pada kasur king size milik seorang namja jangkung berambut cepak yang terlihat frustasi itu. Ia masih saja belum berhasil menghubungi adiknya yang sudah ia coba hubungi hampir yang ke-20 kalinya. Kata-kata yang keluar dari mulut si operator telah membuat telinganya pengang. Suara yang ia butuhkan bukan suara seorang operator melainkan seorang Oh Se Hun! Ya! Oh Se Hun! Adiknya yang kini berada di Korea dengan alasan ingin menenangkan diri itu. Oh, apa maksudnya?

 Tok! Tok!

Namja jangkung itu langsung membukakan pintu kamarnya yang tidak dikunci dan mempersilakan seseorang memasuki kamar megahnya itu.

“Bagaimana? Tidak ada jawaban lagi?”

Yang ditanyai hanya menganggukkan kepalanya dalam diam sambil menatap keluar jendela yang menampakkan warna langit hampir gelap.

“Apa sih maunya si Se Hun itu? Dia mau melarikan diri? HAH! Pengecut sekali dia! Dia yang anak kandungnya! Tapi kenapa kau yang malah tahan untuk merawatnya?!” cerocos orang yang baru saja duduk di sofa dalam kamar namja jangkung tadi.

“Diam kau Lu Han! Kau tidak tahu apa-apa! Jangan seenaknya bicara seperti itu! Apa kau datang kemari hanya untuk berkata sesuatu yang tidak penting seperti itu huh?” si namja jangkung itu balik bertanya sambil melipat tangannya dan menggerakkan dagunya ke depan. Kesan seperti orang sombong.

“Gelagatmu memuakkan tuan Yi Fan. Tidak. Aku ingin mengajakmu ke Korea. Menjeput adik ti-rimu yang pengecut itu.” Jawab lawan bicara si namja jangkung –Yi Fan- yang dipanggil Lu Han tadi tak kalah arogannya dan dia memberikan penekanan pada kata ‘tiri’ tadi.

“Apa? Kau gila Lu Han. Siapa yang mau merawat ibuku disini?” balas Yi Fan sambil mendekati Lu Han dan menatap wajahnya tajam.

“Ya Tuhan. Kau itu bodoh atau berpura-pura bodoh sih? Ibumu pasti akan dirawat oleh suster dan perawat-perawat lainnya di rumah sakit itu. Toh tidak seharusnya kau yang merawat ibumu itu tapi Se Hun! Oh Se Hun! Yang seharusnya merawat Nyonya Oh itu adalah anak kandungnya sendiri! BUKAN ANAK ANG–“

PLAK!

Tamparan keras berhasil memerahkan pipi namja imut bernama Lu Han itu. Yi Fan yang baru saja meloloskan tangannya untuk berbuat tidak baik itu hanya menghebuskan nafasnya terengah-engah menahan amarah. Tatapan tajam yang tadi ia berikan untuk Lu Han masih membekas di wajahnya yang terkesan sangar itu. Namun, tiba-tiba tatapannya berubah datar dan perlahan mulai terlihat ingin menangis dan akhirnya memeluk Lu Han yang sedang mengusap bibirnya yang sedikit berdarah akibat tamparan keras Yi Fan tadi. Sontak Lu Han membeku akibat perlakuan Yi Fan yang berubah drastis.

“Hiks.”

‘EO?’ pekik Lu Han dalam hati sambil membelalakkan matanya. ‘Ada yang menangis’ batin Lu Han sekali lagi. Lu Han hanya mampu menerima perlakuan Yi Fan yang memeluknya mendadak. Dia bingung harus membalasnya bagaimana karena dia sendiri masih tidak bisa menerima tamparan dari seorang Yi Fan yang notabene adalah kerabat terdekatnya. Bahkan sangat dekat layaknya saudara.

“Hiks. Ba..baiklah Lu Han. Aku setuju akan keputusanmu.” Gumam Yi Fan sesenggukan kemudian dengan perlahan ia melepaskan pelukannya.

“Huh. Cepat sekali berubah pikiran.” Lu Han yang masih emosi hanya menolehkan kepala sambil bersingut seperti mencemooh jawaban Yi Fan barusaja.

“Ini demi ibu…ku.” Ucap Yi Fan berbisik.

Lu Han yang masih menolehkan kepalanya tak sanggup menatap wajah Yi Fan kembali. Keheningan pun terjadi.

[Every Time Alone]

‘Cip cip cip’

Kicauan burung senantiasa mengiringi aktivitas pagi yeoja imut yang satu ini. Yeoja yang selalu menguncir kuda rambutnya yang lemas yang berwarna coklat tua. Siapa lagi kalau bukan Nam Hae Gin. Cahaya matahari yang terang berhasil menembus kaca jendela kecil kamar Hae Gin yang sederhana setelah Hae Gin menyibakkan tirai jendelanya itu.

“Wah…” ucap Hae Gin terkagum kagum begitu melihat langit yang sangat cerah.

Sejujurnya ia bahagia hari ini, karena kemarin ia berhasil membuat oppanya lupa akan masalah  yang ada dalam hidupnya saat ini. Hae Gin tahu semuanya. Dialah tempat curhat seorang Oh Se Hun. Dialah perempuan yang selalu ada di samping Oh Se Hun saat suka maupun duka. Hae Gin tahu jika Oh Se Hun sudah mulai ingin sendiri itu tandanya masalahnya sangat berat dan yang ia butuhkan adalah tempat tenang dan sunyi dimana hanya ada dia di dalamnya dan ia akan berdoa disana. Ya. Gerejalah yang ia butuhkan di saat ia ingin sendiri.

Setelah hampir sekian menit Hae Gin menatap kagum langit di atas dan memikirkan Se Hun perlahan ia melangkah mendekati pinggiran kasur bermotif bunga sakuranya yang sederhana itu dan segera duduk.

“Heuh~ Apa yang sedang Se Hun oppa lakukan sekarang ya?” Tanya Hae Gin pada diri sendiri.

 Hanjameur.. keumelkkeun geotgatta…~

Terdengar suara seseorang bernyanyi dan ternyata itu adalah nada dering telepon genggam milik Hae Gin. Hae Gin terkejut karena suasana kamarnya yang baru saja hening itu tiba-tiba pecah dan terdengar seseorang bernyanyi sontak Hae Gin menolehkan kepalanya menatap meja kecil di seberang kasurnya dengan heran.

“Eo? Siapa telepon pagi-pagi begini?” diraihnya telepeon genggam flip mini berwarna biru muda miliknya itu. Ia perhatikan nama kontak yang menghubunginya itu sebelum membuka flip teleponnya.

“Mwo? Ada apa dia menelepon sepagi ini? Dan untuk apa?” bukannya mengangkat panggilan Hae Gin malah bertanya kepada telepon genggamnya yang jelas-jelas merupakan benda mati itu.

 Klik!

“Yeoboseyo?”

“Hae.. Hae Gin-ah.. Kau tahu siapa aku?”

Pertanyaan dari seberang telepon berhasil membuat Hae Gin mengertukan dahinya heran sambil menahan tawa.

“Pfftt… HAHAHAHA! Ya oppa! Jelas saja aku tahu siapa kau! Aku masih menyimpan nomor teleponmu kau tahu? Kau lucu sekali oppa! Tidak berubah! Hahaha.” Jawab Hae Gin jujur.

 ‘Orang ini aneh sekali sih’ batin Hae Gin dalam hati.

“Ya… Hae Gin-ah berhentilah tertawa. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”

Seketika itu Hae Gin menghentikan tawanya dan fokus pada pendengarannya.

“Bagaimana keadaan orang itu? Dia masih di sana kan? Masih dekat denganmu kan?”

“Oppa.. kau tak sepantasnya mengatakan Se Hun oppa dengan kata ‘orang itu’. Dia punya nama tahu!” jawab Hae Gin sebal.
Bagaimana tidak? Seenaknya saja ia menyebut orang tidak dengan namanya! Nappeun namja! Kecam Hae Gin, namun tak diungkapkannya dengan kata-kata.

“Arra…arra. Aku sudah di Korea sekarang. Kau sedang dima–“

“MWO?” pekik Hae Gin setelah mendengar perkataan lawan bicaranya yang mampu membuatnya terkejut saat itu juga. Ia langsung beranjak dari persinggahannya dan mulai berjalan-jalan tidak jelas di dalam kamarnya.

“Ya.. Hae Gin-ah.. bisakah kau tidak teriak-teriak seperti itu? (-___-) Telingaku pengang kau tahu?” perintah si penelepon.

“Akh, mian oppa. Lalu… sekarang kau dimana? Perlukah aku menjeputmu di bandara? Kau masih ingat dimana tempat tinggalku atau tidak?” tawar Hae Gin begitu saja. Sekilas terlihat seperti orang gede rasa karena merasa si penelepon hanya akan tinggal dimana dia tinggal sekarang.

“Ya Nam Hae Gin perempuan tercerewet di dunia.. siapa juga yang akan tinggal di tempatmu hah? Aku sedang di bandara saat ini. Lagian aku ke sini tidak sendirian. Aku bersama kak–“

 ‘Tuuuuuuuuuuuuut’

“Mwohae? Ya! Oppa! Lu Han oppa! Ya!!! Aish!” teriak Hae Gin sebal begitu menyadari bahwa hubungannya diputus begitu saja.

“Namja china tidak tahu diri! Awas kau kalau kita bertemu nanti! Ah lebih baik aku menyusulnya di bandara saja! Awas kau Lu Han oppa! Lihat pembalasanku!” ucap Hae Gin penuh dendam.

[Every Time Alone]

 SRET!

“Kau mau mati Xi Lu Han. Jangan menyebarkan aib seseorang ke sembarang orang dengan seenaknya seperti itu. Siapa sih yang kau hubungi barusan? Kekasihmu? Suaranya jelek sekali.” Kecam Yi Fan saat itu juga setelah berhasil merebut telepon genggam milik Lu Han yang saat ini berada dalam genggamannya. Dengan usaha keras ia menahan emosinya karena Lu Han hampir saja menyebarluaskan aibnya melalui telepon genggam sialan itu.

Wu Yi Fan. Namja jangkung berkebangsaan China-Kanada ini memang memiliki sifat paling berbeda dari semua anggota keluarganya sekarang, karena dia adalah orang yang paling emosional dan sensitif. Keluarga yang sekarang? Ya yang sekarang. Karena dulunya dia tidak punya keluarga. Dia yatim piatu. Namun, semenjak keluarga Oh mengangkatnya sebagai anak saat ia berusia 18 tahun, cap yang disandangnya itupun terhapus. Dan saat ini ia memiliki satu adik tiri yang sebenarnya menyenangkan dulunya. Sekarang, karena masalah yang menimpa keluarganya semakin besar, adik tirinya itu tidak bisa lagi menyandang status sebagai adik yang menyenangkan, yang menghibur, yang manis, ataupun status status yang baik lainnya. Dia telah berubah. Dialah Oh Se Hun.

“What? Kekasih katamu? Tolong jangan mabuk disini Wu Yi Fan. Dia hanya kenalanku saat aku sempat tinggal di Korea beberapa bulan lalu. Kau tahu kan ceritaku dulu.” Protes Lu Han sambil merebut kembali telepon genggam kesayangannya itu.

“Ah…ya.” Jawab Yi Fan singkat.

Keheningan pun terjadi. Kedua lelaki tampan itu terus berjalan melewati gate dan mengambil koper mereka. Tak lama setelah itu mereka melihat sebuah kafe dan menyempatkan diri untuk beristirahat disana.

Namun, belum sempat Lu Han dan Yi Fan mendudukkan diri mereka pada salah satu tempat yang tersedia seseorang menghampiri mereka sambil berteriak – teriak girang.

“Oppa! Oppa! Yeogisseo!” teriakan yang sedikit melengking itu telah memekakkan telinga para pengunjung kafe lainnya. Dan orang yang baru saja berteriak hanya membungkukkan badannya meminta maaf sambil tersenyum polos.

“Mwo? Hae Gin? Nam Hae Gin? Kau Nam He Gin?” Tanya Lu Han terpesona. Menurutnya, Nam Hae Gin sudah banyak berubah. Semakin cantik dan sedikit terlihat lebih dewasa meski suaranya masih saja terkesan kekanak-kanakan.

“Geuraeyo! Kenapa kau terkejut seperti itu? Seperti melihat hantu saja. Eo? Siapa dia?” Tanya Hae Gin sambil menunjuk kearah Yi Fan seenaknya.

Lu Han yang melihat adegan itu perlahan menurunkan tangan Hae Gin dan tersenyum padanya.

“Tidak sopan menunjuk – nunjuk seseorang yang belum kau kenal Hae Gin-ah. Perkenalkan dia Wu Yi Fan. Sahabat terbaikku sejak lama. Hehehe. Dan Yi Fan kenalkan dialah kenalanku di Korea sini, namanya Nam Hae Gin.” Ucap Lu Han layaknya seorang salesman yang mempromosikan barang dagangannya.

Dengan tatapan datar dan tanpa senyuman sedikitpun, Yi Fan mengulurkan tangannya dan disambut oleh Hae Gin yang tersenyum manis. Senyumannya memang selalu manis. Yi Fan yang merasa risih akan senyuman yang seperti itupun mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Kalian baru sampai? Aku tidak tahu dimana Se Hun oppa berada sekarang…” ucap Hae Gin begitu saja.

Yi Fan langsung mengalihkan kembali pandangannya pada wanita yang masih berdiri di hadapannya itu. Lu Han pun terkesiap dan langsung menyela.

“Ya, Hae Gin-ah, jangan membicarakan itu disini. Saat ini kami sedang butuh tempat tinggal yang bisa kami tempati untuk beberapa hari kedepan. Adakah hotel yang dekat dengan tempatmu tinggal?”

“A..ah.. ne. Mianhae. Hotel? Ada kok. Tenang saja.” Jawab Hae Gin kikuk.

[Every Time Alone]

PRAK! PRAK!

Terdengar bantingan beberapa kertas, alat tulis, dan benda lain yang terdapat di meja belajar seorang namja kurus dalam sebuah apartemen sederhana. Meja belajar yang kakinya sudah terlihat mulai keropos itu tidak digubris sama sekali oleh pemiliknya. Tidak ada niatan sedikit pun untuk memperbaikinya.

    Drrt! Drrt!

“Hmm?”

Begitulah respon yang diberikan Oh Se Hun terhadap telepon genggamnya yang bergetar. Dilihatnya ada satu pesan baru dari seseorang yang selama ini ia anggap adiknya sendiri. Nam Hae Gin.

Oppa, eodisseo? Aku ingin menemuimu. Penting.

Lantas Se Hun mengerutkan dahinya dan mulai membalas pesan dari Hae Gin itu. Setelahnya, ia lempar asal telepon genggamnya dan mulai melanjutkan aktivitasnya yang barusaja tertunda itu. Menulis sebuah surat untuk… Untuk ibunya yang sedang sakit dan sekarang masih dirawat di salah satu rumah sakit mewah di China sana. Ia kabur ke Korea karena ia merasa sudah tidak ada kekuatan lagi di dalam hatinya yang mampu menahan ataupun mencoba untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi akhir-akhir ini. Terlebih masalahnya semakin membesar setelah datangnya orang baru dalam keluarganya, setelah itu ayahnya pergi meninggalkan ia dan keluarganya untuk selama-lamanya, dan sekarang ibunya seakan tidak rela ditinggal pergi oleh orang tercinta berupaya untuk menyusul kepergiannya dengan mengidap penyakit parah seperti sekarang ini. Ia benar-benar merasa sendiri sekarang. Meski masih ada ibunya yang sakit-sakitan disampingnya serta kakak tirinya yang perhatian terhadapnya dan para pelayan yang senantiasa melayaninya di rumah. Mereka seperti orang-orang tak terlihat sekarang dan Se Hun merasa sangat rapuh. Ia men-cap dirinya sebagai lelaki yang berjiwa perempuan. Sempat terbesit dalam otaknya ‘lebih baik aku menyusul ayah saja’ dan itu hampir berhasil ia lakukan pada saat ia ingin meneguk cairan yang tak lazim untuk diminum. Racun serangga. Namun apadaya, kakak tirinya yang merupakan orang baru dalam keluarganya itu berhasil menunda kematiannya yang nyaris saja sukses dilaksanakan.

    Flashback

    Empat bulan yang lalu..

    Cuurrr…

    Kucuran air berwarna hitam pekat Se Hun tuangkan ke dalam botol minuman yang baru saja ia beli di toko swalayan dekat rumahnya. Setelah cairan itu sukses sepenuhnya masuk ke dalam botol itu dengan lemas Se Hun menutup botolnya dan mulai mengocoknya supaya dua larutan berbeda dalam botolnya itu tercampur. Merasa sudah cukup, Se Hun pun menghentikan aksi mengocok botol minumannya itu dan menaruh botol itu di meja yang tepat berada dihadapannya saat ini. Ia tatap lekat-lekat botol minuman yang masih disampul plastik merek beserta tertera tanggal kadaluarsanya itu. Ia hembuskan nafasnya pelan. Sangat pelan layaknya orang yang sesak nafas yang nafasnya tercekat dan tidak bisa mulus.

    Se Hun mulai mengulurkan tangannya yang sedikit bergetar untuk meraih botol yang isinya sudah terkontaminasi itu. Belum sempat ia genggam badan botol itu sepenuhnya terdengar seseorang membuka pintu kamarnya dan langkah kaki yang semakin mendekatinya.

    Langsung saja Se Hun meraih botolnya cepat dan menyembunyikannya di balik punggungnya.

    “Eo..eo.. Gege. Ada apa kau kemari?” sapa Se Hun setelah orang yang baru saja memasuki kamarnya itu menampakkan batang hidungnya.

    “Hmm.. begini Se Hun-ah.. Kau tahu kan aku harus bekerja, sementara ibu tidak ada yang menjaga di saat aku harus bekerja di kantor. Kau tahu maksudku?” tanya Yi Fan –sang kakak tiri- sedikit kikuk.

    “Hmm. Aku mengerti. Shift-kan? Mulai besok saja ne? Sekarang kan sudah bukan waktu bekerja, berarti kau masih mendapat jadwal untuk menjaga ibu.” Timpal  Se Hun sambil melirik kanan kiri was was. Takut kakaknya yang satu ini curiga akan gelagatnya.

    Kebodohan Se Hun yang satu ini memang tidak bisa dihilangkan. Justru gelagatnya yang melirik ke kanan dan ke kiri seperti itu membuat rasa curiga dalam hati Yi Fan tumbuh.

    “Ada apa, Se Hun-ah? Kau terlihat gugup. Apa ada sesuatu yang menggangumu?”

    “…”

    Se Hun tidak berniat untuk menjawab. Ia mulai gelisah dan tidak bisa menahan emosinya untuk segera meneguk minuman pelepas dahaga yang masih ia sembunyikan dibalik punggungnya itu. Ia tidak tega melihat wajah kakak tirinya itu. Apalagi kakaknya baru saja mengingatkan dirinya tentang ibunya. Itu semakin menambah gairah Se Hun untuk segera menyusul ayah tercintanya yang telah lebih dulu meninggalkannya bahkan sebelum ia sempat mengucapkan selamat tinggal kepada ayahnya itu.

    “Apa kau terganggu karena kehadiranku?” tanya Yi Fan sekali lagi.

    Bisikan setan mampu merasuki tubuhnya yang lemah saat ini dan Se Hunpun menganggukkan kepalanya pelan nyaris tak terlihat oleh Yi Fan namun ternyata Yi Fan memiliki mata yang jeli sehingga dengan masih penuh rasa curiga Yi Fan berbalik arah dan meninggalkan Se Hun sendirian dalam kamarnya.

    KLEK!

    Pintu kamar Se Hun sukses ditutup dan saat itu pula Se Hun membuka tutup botolnya dan memasukkan ujung botol itu ke dalam mulutnya. Tepat saat ia mengangkat badan botol itu agar cairannya mau mengalir masuk ke dalam mulutnya..

    BRAK!

    “OH SE HUN! AKU TAHU KAU AKAN MELAKUKAN INI!” teriak orang bermarga Wu itu dengan lantang sambil berlari menghampiri Se Hun yang sudah tersedak minumannya setelah membanting pintu kamar Se Hun dengan sangat keras. Bahkan salah satu engsel pintunya berhasil berubah bentuk.

    “UHUK!!! UHUK!!”

    Se Hun pun langsung berlari ke dalam kamar mandi diikuti oleh Yi Fan yang memasang tampang antara panik dan ingin marah.

    Setelah mengeluarkan semua isi perutnya, Se Hun langsung tak sadarkan diri dan jatuh di pelukan Yi Fan sementara Yi Fan hanya bisa berteriak memanggil nama adik tiri kesayangannya itu.

    Flashback End

Se Hun mulai tersenyum sebentar setelah mengingat kejadian beberapa bulan lalu itu. Ia tahu, dalam hatinya yang paling dalam ia mau menerima kehadiran Yi Fan dan jujur, ia sayang pada kakaknya yang satu itu. Wu Yi Fan yang penuh perhatian dan menyenangkan meski sedikit protektif. Namun tetap bijak.

“Ah.. terlalu berlebihan.” Sela Se Hun setelah menyadari apa saja yang sudah ia bayangkan baru saja. Tak lama setelah itu ia pun melanjutkan karya menulis suratnya itu. Belum sempat ia menyentuhkan bolpoin tintanya pada kertas dihadapannya itu, telepon genggam hitam metalik miliknya bergetar lagi.

“MWOHAE?! APA APAAN INI?!” bentak Se Hun pada benda mati yang tergeletak begitu saja dilantai samping kursinya.

Dengan gemas ia menekan tombol teleponnya dan mulai membaca pesan yang masuk.

    Aku sudah di depan apartemenmu.

“Mwo?” tanya Se Hun lagi. Namun kali ini tidak didampingi oleh teriakan. Dengan langkah cepat Se Hun menghampiri pintu apartemennya dan membuka pintu tanpa memikirkan kejadian selanjutnya bahwa Hae Gin tidak datang sendirian. Ia datang bersama dua orang namja berkebangsaan China. Jelaslah bahwa satu orang diantaranya adalah kakaknya sendiri, Wu Yi Fan. Dan satu lagi adalah orang asing yang telah lama tidak ia jumpai, Xi Lu Han, sahabat kakaknya. Se Hunpun hanya bisa membelalakkan matanya. Benar-benar terkejut, sangat ter-ke-jut.

“Annyeong.. Oppa!” sapa Hae Gin dengan senyuman khasnya yang imut-imut itu tanpa dosa dan tanpa mengetahui apa yang dirasakan Se Hun saat itu.

“Annyeong.. Oh Se Hun.” Sapa Wu Yi Fan sambil melambaikan tangannya pelan. “Kau semakin kurus saja. Sudah berapa kali rencanamu gagal?” lanjut Yi Fan menyunggingkan senyuman sindiran. Se Hun hanya bisa bungkam dan masih tidak berkutik dari tempatnya berdiri.

[Every Time Alone to be continued]

    Halo🙂 Saya kembali lagi dengan FF geje ala pikiran saya yang suka ngelantur kemana-mana. Haha. Maaf buat fransiska eonni karena lagi lagi aku nitip FF abal u,u. Untuk kali ini entah kenapa saya lagi pengen buat FF bermain cast namja super ganteng kayak Se Hun itu :3 Haha. Maaf kalau ceritanya kurang memuaskan, banyak typo atau segala kekurangan yang ada di FF ini, saya hanya ingin sharing dan menunjukkan hasil tulisan saya. Kekeke. Mohon commentnya ya. Kalau banyak bakal lanjut deh. Janji ^^b Gomawo…

//

27 responses to “Every Time Alone (1st Shoot)

  1. Gistaaaa…
    Ini aku Nurza yang tadi mention kamu di twitter hohoho B)
    Waaa.. Ceritanya daebak nih..
    Bikin penasaran.. Ciyus deh (?) Suka banget pokoknya..
    Jangan dijadiin oneshoot dong ._.
    Bagus nih, butuh lanjutannya.. Oke?
    Ditunggu lho FF lainnya…
    Banyakin cast EXO ya? #kedipinmata hhehehe😄

    #cerewet ._.V

  2. Pingback: Every Time Alone (2nd Shoot) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s