FF : Oramanieyo [CHAPTER 5]

 

Title : Oramanieyo…

Author : Hayamira

Genre : Romance, Friendship, Tragedy

Rating : PG 16

 Length : Chaptered / Series

Main Cast :

Jung Na Mi (OC)

Kim Him Chan ( B.A.P )

Kim Su Ho ( EXO-K )

Yong Jun Hyung ( BEAST )

Goo Ha Ra ( KARA )

Support Cast    :

Lee Sung Yeol ( INFINITE )

Byun Baek Hyun ( EXO-K )

Krystal Jung ( f(x) )

Disclaimer :

Cast belong to GOD and their entertaintment,  Ide cerita murni pemikiran author, tidak ada unsur plagiat.

Poster     :   http://icaqueart.wordpress.com/

poster-request-11

TEASER TEASER 2 | CHAPTER 1 | CHAPTER 2 |  CHAPTER 3  |  CHAPTER 4

 

A/N :

HAI!! Hyerinn Park disini~ duh maaf banget belum sempat ngepost FF u.u disini Hyerinn bawa FF Sequel Please, Stop The Time :D alias sequel Nami versionnya tanpa banyak bacot lagi, semoga para readers suka ya sama ceritanya. NO PLAGIAT, NO SILENT READERS. please, komen FF ini sebagai bentuk rasa membangun buat authornya, biarpun itu komen apapun. :) Oh ya, mungkin part ini agak panjang. Maaf ya >.<

 

PLEASE BE A GOOD READERS

 

Previous Part :

Setelah Tokyo Fashion Week di Shibuya selesai, tiba-tiba Nami menghilang ! Jun Hyung dan Him Chan panik, mencar keberadaan Nami. Dan, diketahui Nami diculik oleh mantan kekasihnya, yaitu Kim Joon Myeon atau Suho Kim.

Akhirnya Suho tahu rahasia terbesar Nami. Namun, bukannya bahagia, Suho malah merasa bersalah karena telah meneror Nami. Dirinya pun hanya menunggu hukuman yang tepay untuk kejahatannya selama ini.

-oOo-

“Masih tak sadarkan diri?”

 

Sebuah suara menyapa Him Chan. Him Chan menoleh. Ternyata Sung Yeol, dengan kantongan besar yang tidak tahu apa isinya ditangannya. Sung Yeol duduk disamping Him Chan, lalu membuka bungkusan permen marshmallow, mengambilnya sebiji dan mulai mengunyah dengan wajah ceria.

 

Him Chan memandang Sung Yeol, yang sedang menikmati permen marshmallownya dengan ceria tersebut. Sebenarnya, perutnya cukup lapar, dan sialnya perutnya berbunyi disaat yang tidak tepat. Him Chan memejamkan matanya, kesal.

 

Sung Yeol mendengar bunyi ‘kelaparan’, langsung menyodorkan sebungkus roti selai coklat kepada Him Chan. Him Chan masih memandang Sung Yeol ragu, namun perutnya sudah berbunyi untuk kedua kalinya yang membuat Sung Yeol tertawa.

 

“Ambillah, ini kubeli untukmu dan diriku,” ujar Sung Yeol meletakkan roti dan juga sebotol susu cokelat didekat Him Chan. Him Chan meliriknya sekilas, lalu mengambilnya. Sebelum membukanya, dia tersenyum kepada Sung Yeol.

 

“Terima kasih, Sung Yeol.”

 

Sung Yeol mengangguk saja, lalu kembali asyik dengan permen marshmallownya. Him Chan dengan pelan memakan roti itu, lalu menghabiskan susu cokelatnya. Kenyang, dan tenaganya sudah terisi.

 

Tiba-tiba, disela aktifitas mengunyahnya, Sung Yeol menoleh kearah Him Chan. Matanya yang besar menatap Him Chan tajam. Oh, Him Chan risih dengan tatapan itu, balas menatap Sung Yeol tak kalah tajamnya. Dan, Sung Yeol tertawa kecil melihat cara Him Chan membalas tatapannya.

 

“Kau heran dengan sikapku yang seperti ini? Makan permen dengan ceria, kekanak-kanakan?” tanya Sung Yeol, tanpa melihat Him Chan. Matanya memusatkan perhatian kearah bungkusan permen.

 

“Mungkin,” ucap Him Chan lalu mendesah, kenapa Sung Yeol bisa membaca pikirannya telak?

 

“Dari raut wajahmu, sikap dudukmu, pancaran tatapan matamu, juga lainnya. Banyak.” Jawab Sung Yeol lagi. Him Chan menganga, dan baru ingin bertanya kenapa bisa Sung Yeol mengetahui isi pikirannya, namun Sung Yeol sudah membalikkan badannya menghadap Him Chan dan menatapnya sambil menahan senyumnya.

 

“Sepertinya kau lupa, biar kuingatkan. Aku ini Psikiater.”

 

Pantas! Him Chan melupakan fakta yang satu itu. Pantas saja…

 

“Memang pantas. Jadi, jangan pikir aku punya ilmu sihir atau bisa bertelepati, walau aku ingin,” celetuk Sung Yeol panjang lebar. Him Chan menganggukkan kepalanya mengerti.

 

Sung Yeol berhenti mengunya permennya. Dia lalu mendesah napas berat. Suasana pun menjadi canggung. “Ada yang ingin kutanyakan.” Him Chan melontarkan pertanyaan ke Sung Yeol. Sebenarnya, dari dulu dia ingin bertanya pada Sung Yeol, Nami ataupun Jun Hyung soal ini.

 

Sung Yeol mengangguk mempersilahkan Him Chan bertanya. Him Chan nampak ragu, kemudian dengan memantapkan hatinya dia membuka mulut dan bertanya.

 

“Hubungan Yong Jun Hyung dengan Jung Na Mi sebenarnya apa?”

 

Sontak, Sung Yeol menoleh dan menatap Him Chan sesaat, kemudian mengalihkan pandangannya dan tertawa. Him Chan semakin tidak mengerti. Jujur saja, dia juga bingung dengan hubungan antara Nami dan Jun Hyung. Menurutnya, mereka terlalu dekat sebagai seorang sahabat. Tapi, tidak mungkin sepasang kekasih. Tapi, skinship mereka berdua terlalu…begitulah.

 

Kadang, Him Chan merasa gatal ingin mengetahui yang sebenarnya diantara mereka, tapi dia selalu mengurungkan niatnya. Bukankah itu privasi? Tapi, dirinya jujur sangat penasaran. Dan sedikit jengkel.

 

Tunggu dulu, Kenapa dia harus jengkel?

 

“Jun Hyung adalah anak tunggal di keluarganya. Dan juga pewaris tunggal perusahaan yang dia pimpin sekarang. Otomatis, Jun Hyung harus menjaga sikap dan perilaku di depan hal layak. Dan, Jun Hyung tidak suka dengan peraturan yang terlalu membelenggu dirinya. Sehingga, kadang kala Jun Hyung berperilaku brutal, seperti preman dan orang brengsek. Pulang tengah malam, keluyuran, dan lainnya. Tapi, semuanya berubah karena Jun Hyung bertemu dengan orang yang sangat aneh menurutnya.”

 

“Orang aneh itu…” Him Chan berusaha menebak, “Jung Na Mi?”

 

Sung Yeol mengangguk. “Benar. Jun Hyung itu senior Nami di Universitas mereka, di Hokkaido. Karena Jun Hyung terlalu nakal, ayah dan ibunya menghukumnya kuliah di kota yang tidak seramai Tokyo. Jun Hyung jelas kesal. Di Hokkaido justru kelakuannya semakin menjadi-jadi. Namun, suatu hari Jun Hyung tak sengaja bertemu dengan Jung Na Mi. Jun Hyung berusaha mendekati Nami, namun Nami menanggapinya dingin. Jun Hyung sangat penasaran, dia terus gencar mendekati Nami. Karena barusaja ada seorang gadis yang menolaknya dingin. Jun Hyung penasaran, apakah Nami memang dingin atau ada hal lain.”

 

“Lalu, Jun Hyung berusaha mencari latar belakang Nami. Sejak itu, Jun Hyung semakin penasaran dan terus menguntit Nami. Sampai, saat ayah Nami meninggal beberapa tahun yang lalu, Jun Hyung yang masih mengikuti Nami melihat Nami yang terpukul, seperti yang sering kau lihat. Jun Hyung merasa iba, dan merasa Nami memerlukan orang yang bisa membuatnya kuat saat itu. Dan, Jun Hyung langsung saja mengajukan diri. Nami, yang saat itu memang sedang kacau, juga memerlukan sosok yang bisa membuatnya kembali bangkit. Dan, dari situlah persahabatan mereka berawal. Nami, yang butuh sosok kakak dan Jun Hyung, yang memang merindukan sosok adik. Dan, semenjak mereka bersahabat, sifat buruk Yong Jun Hyung perlahan hilang.”

 

“Bagi Jun Hyung, Nami adalah segalanya. Adik kecilnya, tempat dirinya berkeluh kesal, bersandar dikala ia merasa lelah, dan sahabatnya. Itu makanya, kau sering melihat Jun Hyung bertingkah berlebihan ke Nami atau overprotektif tentang Nami. Dia hanya takut Nami kenapa-kenapa.”

 

Sung Yeol tersenyum di akhir ceritanya. “Awalnya, aku juga heran, melihat dulu Nami jarang dekat dengan pria sekarang malah dekat sekali dengan Jun Hyung. Maklum, aku di Seoul sementara dia di Hokkaido.”  Dia menyeruput kopi panas di gelas kertasnya, lalu menoleh kearah Him Chan, “Aku justru bersyukur Nami punya sahabat seperti Jun Hyung,” katanya lagi.

 

Him Chan yang mendengarkan Sung Yeol, mengangguk mengerti. Dia mengalihkan pandangannya kearah jendela, lalu tersenyum simpul. Astaga, dia rasa dirinya harus berhenti berpikiran negative soal Yong Jun Hyung lagi. Dan, sepertinya dia harus meminta maaf atas ini kepada Jun Hyung.

 

“Kau menyukainya, bukan?” suara Sung Yeol memecah keheningan. Him Chan terbelak mendengar pertanyaan telak dari Sung Yeol.

 

Him Chan menyukai Nami… dirinya bahkan masih meragukan persepsi tersebut. Mengingat, Nami sama sekali bukan tipe Him Chan. Nami yang lebih terkesan gelap dan misterius, dingin dan tenang. Nami bagaikan aliran sungai yang tenang, namun adakalanya dia riak bagai ombak dipantai. Tidak bisa ditebak.

 

Sedangkan, tipe gadis kesukaan dirinya bukanlah yang ‘gelap dan misterius juga dingin’ tapi lebih ceria, manja, seseorang yang bersinar dan manis. Ah, hampir semua mantan Him Chan adalah tipe gadis yang seperti itu. Mulai dari teman kuliahnya, sampai model. Terakhir kali dia menjalin hubungan, hampir dalam tahap yang serius namun sayang dirinya harus menelan mentah-mentah kenyataan. Mantannya, yang waktu itu masih berstatus sebagai tunangannya, justru  memutuskan pertunangan mereka dengan alasan tidak bisa ada untuk dirinya lagi. Malang sekali, batin Him Chan dalam hati.

 

Namun, dia juga bingung dengan rasa hangat yang muncul di dadanya manakala melihat Nami tersenyum datar, rasa senang mendengar kabar bahagia tentang Nami, walaupun itu tidak ada kaitannya dengan dirinya, rasa khawatir yang berlebihan yang dirinya sendiri tidak tahu sejak kapan dia bisa sekhawatir itu, manakala Nami mulai kehilangan kendali. Bahkan, hanya berdiri dekat gadis itu saja, frekuensi denyut jantung Him Chan dipacu lebih cepat.

 

Semuanya tidak normal. Akal Him Chan mengatakan semuanya salah, ada yang tidak beres dengan dirinya. Tidak pernah sekalipun Him Chan merasakan kekhawatiran yang berlebihan , bila menyangkut tentang lawan jenis. Dirinya juga selalu terbiasa berdiri didekat model-model cantik, maupun sekretaris dan staf yang cantiknya tak kalah dari Nami. Bahkan, dirinya sudah sangat terbiasa dengan interaksi ‘pelukan’ dan ‘cium pipi’ dengan lawan jenis. Semuanya sudah sangat biasa baginya.

 

Namun sepertinya aturan tersebut tidak berlaku untuk Jung Na Mi.

 

Berbanding terbalik dari akalnya, hatinya berkata bahwa tidak ada yang salah dari dirinya. Semua perasaan aneh, yang muncul secara reflex membuktikan satu hal. Him Chan begitu nyaman menggenggam tangan Nami, begitu sakit melihat Nami sakit, begitu marah ketika Nami terancam, begitu hangat menatap senyum dan wajahnya, dan begitu tenang jika melihat sosoknya. Him Chan mencelos dalam hati, perkelahian antara akalnya dan hatinya sepertinya masih akan berlanjut. Tapi, Him Chan sadar pasti akan satu hal telak yang harus dia terima.

 

Jung Na Mi perlahan menjadi bagian terpenting dari hidup Kim Him Chan.

 

Dikarenakan, Kim Him Chan membiarkan dirinya hanyut dalam pesona tenang Nami. Dirinya semakin berenang-renang mencari-cari apa, siapa, dan bagaimana Jung Na Mi tersebut. Sampai, dia rela menjadikan dirinya sebagai tempat bersandar Nami, tanpa sadar dirinya jugalah yang memberikan hatinya, sehingga segalanya menjadi aneh dan sulit diterima akal.

 

Sepertinya, aturan tentang gadis impiannya sudah berubah. Atau, Him Chan mulai tidak menyukai tipenya sendiri.

 

Him Chan mendesah, menyandarkan punggungnya yang letih pada sofa yang empuk. Matanya mengamati Nami yang terbaring tenang di tempat tidur, “Semua orang menyukai Nami, bukan?” katanya.

 

Sungyeol terkekeh pelan, melirik Him Chan. Sungguh, Sung Yeol bisa mengetahui apa yang Him Chan pikirkan. Perkelahian antara akal dan hati. Orang disampingnya ini masih bingung menetapkan pilihannya. Sung Yeol hanya tersenyum dalam hati, melihat kegundahan Him Chan yang benar-benar tersirat.

 

Sung Yeol menggelengkan kepalanya pelan, “Jawaban yang retoris.”

 

Baru saja Him Chan ingin menyanggah jawaban Sung Yeol, pintu kamar ruang inap Nami terbuka. Muncullah sosok Jun Hyung, dengan wajah khawatir langsung berlari ke Nami yang tidak sadarkan diri. Tangannya langsung meraih dan menggenggam tangan Nami, “Sayangku, kau baik-baik saja?”

 

“Percuma kau berbicara dengannya, dia masih pingsan.” Sung Yeol bangkit dan beridi didekat tempat tidur Nami. Matanya memandang Nami, lalu Jun Hyung. “Bagaimana dengan Joon Myeon?”

 

Saat mendengar nama Joon Myeon, ekspresi Jun Hyung terlihat marah. “Tadinya aku mau menjebloskannya ke penjara, namun karena alasan nama baik Suho yang seorang penyanyi, maka dia masuk ke rumah rehabilitasi jiwa. Kurasa dia benar-benar sakit jiwa.”

 

“Kau meringankan hukumannya?” Him Chan beranjak berdiri dari sofanya, “Dan, kau masih mau melihat Nami seperti ini lagi kalau Suho berbuat macam-macam?”

Jun Hyung melirik Him Chan penuh tanya, “Memangnya kenapa?”

“Memangnya kenapa?” Him Chan mengulang pertanyaan Jun Hyung. Matanya menatap tajam Jun Hyung, nada bicaranya terdengar kesal dan marah, “Kau tidak takut kalau Suho…”

 

“Percayalah pada Jun Hyung. Dia sudah membereskannya, karena itu dia datang tengah malam begini.” Sung Yeol langsung menengahi perdebatan mereka berdua, sebelum terjadi keributan yang heboh. Jun Hyung mengangguk, menyetujui pernyataan Sung Yeol. Him Chan membuang napas kesal, “Baiklah.” Desisnya lagi.

 

Suasana menjadi ramai, manakala pintu ruangan diketuk oleh sesrorang dari luar. Him Chan beranjak berdiri, dan membuka pintu. Gagangnya dia turunkan, dan menarik pintu kearah dalam. Seketika, wajah orang yang terlihat seperti suster muncul. Dia nampak sedikit terganggu, dari raut wajahnya terlihat jelas yang menekukkan bibirnya kebawah dan memandang Him Chan tajam.

 

Jun Hyung mengalihkan pandangannya ke suara ricuh dari jendela. Matanya membelak melihat pemandangan dibawah rumah sakit itu, Astaga, dibawah sudah berkumpul banyak wartawan, yang sangat ricuh. Mereka berusaha menerobos masuk kedalam rumah sakit. Dibawah cukup ricuh.

 

“Ada apa?” Sung Yeol maju ke jendela, dan dia tidak perlu jawaban Jun Hyung yang sedang memijit dahinya pelan, karena Sung Yeol tahu alasan Jun Hyung memijit dahinya. Jun Hyung lupa, kalau Suho adalah artis. Dan, otomatis, sekecil apapun Jun Hyung menyembunyikannya, wartawan pasti akan tahu juga. Terlebih, penculikan ini diketahui oleh seluruh kru dan staff Nami. Semua bertanya, siapa yang menculik Nami?

 

Pastinya, wartawan juga tahu kalau Nami ‘menghilang’ karena diculik. Mereka akan mencari tahu apa, siapa, bagaimana, dimana, dan kenapa. Dan bodohnya, dia lupa menyembunyikan tentang Suho. Pikirannya panik, sampai dia tidak sadar kalau Suho itu artis, dan inilah akibatnya. Wartawan berusaha mencari tahu hubungan antara Suho dan Nami.

 

Sang suster tersebut mengendus napas pelan, “Maaf, tuan. Tapi, apakah anda yang bertanggung jawab atas keributan dibawah?”

“Maksud suster?” tanya Him Chan. Apa maksudnya, keributan? Ia menoleh ke Jun Hyung dan Sung Yeol. Sepertinya ada yang tidak beres.

 

“Tuan, jika memang pasien diruangan ini bertanggung jawab atas keributan dibawa, saya sebagai suster piket memohon kepada anda agar menghentikan tindakan wartawan yang mengganggu pasien lain. Ini sudah tengah malam.”

 

“Maafkan kami.” Sung Yeol maju, memberi kode agar Him Chan mundur dan membiarkannya membereskan urusan dengan suster. Him Chan langsung mundur, dan melihat kearah jendela. Oh Tuhan, kekacauan apa yang terjadi dibawah sana? Him Chan menghela napas.

 

Matanya kembali menatap Jun Hyung yang tertunduk di sisi tempat tidur Nami. Kepala Jun Hyung terangkat, wajahnya sangat muram dan khawatir. “Bagaimana ini,” desahnya menatap Nami. Tangan Jun Hyung membelai rambut Nami pelan.

 

“Aku lupa membereskan wartawan… Sekarang, apa yang harus kulakukan?” Jun Hyung bergumam seolah-olah menjawab pertanyaan dipikiran Him Chan. Him Chan menepuk pundak Jun Hyung pelan.

 

Sung Yeol menutup pintu kamar. Nampaknya, dia sudah selesai berbicara dengan suster tadi. Dia terlihat menghela napas berat, lalu menatap Jun Hyung dan Him Chan. “Kita harus melakukan sesuatu…”

Him Chan berpikir sesaat. Lalu, tiba-tiba terlintas ide yang dia tidak tahu datang dari mana.

 

“Aku punya ide,” katanya lagi. Sung Yeol dan Jun Hyung menatap Him Chan penuh tanya. “Satu-satunya cara adalah menghilang.”

 

“Menghilang?” Jun Hyung mengerutkan alisnya. Apa yang dipikirkan Him Chan?

“Iya. Maksudku, membawa Nami ke sebuah tempat, dimana wartawan tidak tahu. Wartawan tersebut pasti bosan menunggu, dan akan pergi dengan sendirinya. Merasa bahwa berita tersebut tidak lagi penting.”

 

Sung Yeol merenungkan ide Him Chan, sementara Jun Hyung yang masih berada di dekat Nami menatap Him Chan bingung. “Aku mengerti. Jadi, kita harus membawa Nami kemana?” tanya Sung Yeol menatap Him Chan. Sementara Jun Hyung semakin tidak mengerti dengan mereka berdua.

 

Him Chan nampak berpikir sesaat. “Aku tahu tempat yang cocok,” katanya mengangkat kepala lagi.

 

“Pulau Hateruma, Kepulauan Yaeyama. Keluargaku punya rumah disana.”

 

-oOo-

 

Kalau bisa dia akan sujud di hadapan Nami sekarang juga. Rasa penyesalan membuncah didadanya setiap mengingat apa yang telah dia lakukan terhadap gadis yang tidak tahu apa-apa tersebut. Dia sudah menyakiti gadis itu sejak 5 tahun yang lalu.

 

Bahkan, hukuman yang Jun Hyung berikan sekarang rasanya terlalu ringan untuknya. Mengingat lagi kebelakang, dia telah berlaku kejam pada Jung Na Mi. Kepalanya tertunduk, dia sungguh menyesali perbuatannya.

 

“Suho, ada yang mengunjungimu,” sebuah suara membuatnya mengangkat kepalanya, melihat siapa yang mengunjunginya. Suho berjalan keluar kamarnya, dan melihat Goo Ha Ra, kekasihnya yang kini sedang berusaha mati-matian menahan tangisnya. Dia menoleh kearah Suho. Ha Ra menggigit bibirnya, masih menahan kuat airmatanya supaya tidak jatuh.

 

Ha Ra berjalan mendekat ke Suho, lalu duduk di hadapannya. “Oppa.” Suaranya sedikit terisak saat memanggil Suho. Suho mengangkat wajah yang daritadi dia tundukkan, menatap bola mata Ha Ra yang besar dan berair.

 

“Kenapa kau kesini?” tanya Suho. Ha Ra menggelengkan kepalanya, pertahanannya runtuh. Air matanya mulai membasahi pipinya. “Oppa, kenapa kau melakukan ini…” lirihnya. Suaranya semakin kacau karena isakan yang berusaha mendesak keluar.

 

Suho memejamkan matanya. Dia sudah memikirkan ini semalam. Dia akan mengatakannya, saat Ha Ra datang menjenguknya. Dan, dia harus melakukan itu sekarang juga, sebelum semakin banyak hati yang sakit akibat domino ulahnya. Matanya kini menatap Ha Ra. Suho menghela napas, dadanya terasa berat ketika ingin mengucapkannya.

 

“Ha Ra…” panggil Suho seraya menggenggam tangan Ha Ra. Ia menghela napas, terdengar berat dan panjang. “Maaf, kurasa hubungan kita sampai disini saja…”

 

Ha Ra mengangkat wajahnya, menatap Suho penuh tanda tanya. Apa? Memutuskannya disaat dia sangat ‘down’? Ha Ra menggeleng, kenapa Suho memutuskannya? Disaat seperti ini?  “Oppa pasti sedang bercanda,” gumam Ha Ra diselingi suara tawa sumbang dan isakannya. Suho menggeleng, matanya tetap menatap Ha Ra. Melihat Suho yang menatapnya seperti itu, Isakan Ha Ra semakin besar.  Kedua telapak tangannya menutup mulutnya, menahan agar isakan yang terdengar tidak terlalu heboh.

 

“Kenapa,” suara Ha Ra tercekat. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Dia tidak peduli dengan tatapan siapapun sekarang. Tidak ada yang bisa mengerti posisinya sekarang.

 

Suho memejamkan matanya, berusaha menguatkan tekadnya. Sudah cukup sampai disini ulahnya. Dia tidak mau menyakiti Ha Ra lebih dari ini, itulah tekadnya. “Ha Ra… aku tidak mau kau menderita, malu, dan menderita, hanya itu…”

 

“Tapi keputusan ini hanya sepihak. Oppa tahu, aku tidak suka keputusan sepihak!”

“Kau tidak pantas bersamaku…”

“Siapa yang mengatakan itu, Hah?” suara Ha Ra mulai meninggi. Ia sudah tidak dapat mengontrol emosinya lagi. Lelaki yang duduk dihadapannya benar-benar menghancurkan hari dan hatinya.

 

“Aku tidak pernah menyukaimu, selama ini aku hanya mempermainkanmu!” Suho akhirnya meluncurkan kalimat senjatanya, sebagai antisipasi atas reaksi Ha Ra. Sebenarnya, Suho tidak mengharapkan mengeluarkan kalimat itu, sungguh dia tidak ingin menyakiti Ha Ra!

 

Kata-kata Suho berhasil membuat Ha Ra tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ha Ra terdiam, matanya tidak berkedip menatap Suho. Dia berusaha mencari celah, dimana dia bisa memastikan apa yang dikatakan Suho barusan adalah murni kebohongan. Namun, ia tidak menemukannya. Wajah Suho terlihat sangat yakin. Dan itu membuat Ha Ra semakin sakit. Rasa sakit didadanya sudah terlalu sakit.

 

Ha Ra dan Suho saling diam, mengunci bibir mereka. Menggeluti pikiran mereka tentang lawan bicara mereka masing-masing, apa yang akan mereka katakana dan perlawanan apa yang mereka akan keluarkan. Setelah sekian lama, Suho membuka mulutnya untuk berbicara.

 

“Akhiri saja. Cukup sampai disini,” katanya seraya berdiri. Suho tersenyum, walau sebenarnya hatinya mengutuk senyuman malaikat itu, walau nuraninya ingin mengizinkan air mata yang menggenangi pelupuk matanya jatuh, Suho melawan itu semua. Dia, membiarkan dirinya terlihat jahat. Dia tidak mau membiarkan perasaan yang mengendalikannya, dan tidak bisa melepaskan Ha Ra.

 

Suho membalikkan badannya, meninggalkan Ha Ra yang masih diam dikursinya. Langkah Suho seakan sangat berat untuk meninggalkan Ha Ra. Tapi, dia harus tegas.

 

Biarlah Ha Ra tahu, dia mempermainkannya. Biarlah Ha Ra berpikir bahwa dirinya jahat, brengsek dan kejam. Dia akan menerima itu semua, dan menanggungnya seumur hidupnya. Tapi, dia tidak akan membiarkan Ha Ra tahu, sesampainya di kamarnya, Suho meneteskan air matanya.

 

Hanya dirinya, dan Tuhan yang boleh tahu. Tidak dengan Ha Ra, tidak juga Nami.

 

-oOo-

Ha Ra melemparkan tasnya sembarang. Tubuhnya jatuh tersungkur di lantai rumahnya. Air matanya telah mongering, namun bisa terlihat jelas dari raut wajahnya kalau dia barusaja menangis. Tangannya mencubit lengannya sendiri. Sakit. Dia tidak sedang bermimpi.

 

Semua yang barusaja Ha Ra alami, kini berputar di otaknya. Seakan memperdalam luka di hatinya. Dadanya terasa sesak, bahkan untuk mengambil oksigen saja susah. Dan, ini bukan mimpi. Ini nyata…

 

Ha Ra menggigit bibirnya kuat, tangisnya kini tumpah seiring otaknya memutar memorinya bersama Suho. Gigitan di bibirnya melemah, dan akhirnya ia membiarkan dirinya menangis terisak hebat. Ha Ra memeluk lututnya erat. Isakannya terdengar begitu menyakitkan. Tapi, tidak ada yang tahu seberapa sakitkah hatinya saat ini. Jiwanya serasa dibetot dari jasadnya. Dia tidak bisa memandang hidup dengan cara yang sama lagi. Semuanya telah berubah, semuanya telah membuatnya sakit.

 

Perkataan Suho membuat dirinya kembali kacau. Setiap katanya, Ha Ra mengingatnya dengan jelas. Setiap ekspresi, lekuk wajah, senyuman, bahkan helaan napasnya pun ha Ra masih mengingatnya. Detik-detik Suho meninggalkannya dengan kejam.

 

Ha Ra mengingat itu semua.

 

“Kejam… Kau kejam, Joon Myeon.”

 

Ha Ra membiarkan dirinya terisak hebat. Tidak ada yang peduli tentang dia, semuanya sama saja. Dia melampiaskan emosi di dadanya, namun tetap saja. Tidak ada yang peduli padanya.

 

Air matanya berhenti, namun tidak dengan isakannya. Dia menerawang, siapa yang bersalah atas hidupnya? Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua kejadian yang beruntun menimpanya?

 

Jung Na Mi, ini semua karena Jung Na Mi.

 

Ha Ra tahu, ini semua karena Nami, mantan sahabatnya. Apapun itu, Nami harus menerima perlakuan yang Ha Ra terima. Baik atau buruk, dia juga harus merasakan betapa sakit hatinya saat ini. Jung Na Mi harus merasakannya, bahkan harus merasakan sakit yang lebih daripada yang dia rasakan saat ini. Mulai sekarang, dia, Goo Ha Ra, berjanji tidak akan membiarkan hidup Jung Na Mi tenang.

 

Itulah janji Ha Ra.

 

-oOo-

 

Suasana pantai begitu terasa menyergap masuk jika berada di kamar itu, walaupun radius pantai dari rumah itu terbilang 700m. Sinar rembulan yang menyinari kamar itu, membuat kamar itu menjadi cantik dan romantis. Suara desiran ombak, kicauan burung camar dan gemerisik dedauan yang tertiup angin semakin membuat suasananya tenang. Benar-benar suasana yang sangat menyenangkan, begitulah pemikiran seorang lelaki yang sedang terduduk santai di kursinya dan menikmati pemandangan alam pantai.

 

Seorang gadis yang sedang tertidur pulas di kamar itu, tiba-tiba membuka matanya cepat dan bangkit terduduk, membuat laki-laki tersebut terbelak kaget dan menatap heran gadis itu. Sekarang, gadis itu langsut memijit-mijit kepalanya. Dahinya mengerut, sepertinya dia memikirkan sesuatu.

 

“Him Chan…” panggil gadis tersebut. Him Chan, tanpa diminta langsung duduk disamping gadis itu. Ada apa dengan Nami, batinnya mengamati Nami.

 

Him Chan merapikan poni Nami yang berantakan,“Ada apa, Nami?” Nami tidak menjawab, matanya menunjukkan kalau dia sedang resah.

 

Tangan Him Chan kembali membelai rambut Nami pelan, “Ada sesuatu yang mengganggumu?” tanyanya lagi. Nami menoleh, menatap Him Chan, dan mengangguk pelan seiring dengan matanya yang menatap kebawah. Dia terlihat resah dan takut.

 

“Aku bermimpi tentang adikku, Nana.” Nami menekukkan lututnya, memeluk lututnya. Terdengar desahan napasnya yang menderu.

 

Him Chan menggeleng pelan, “Itu hanya pemikiranmu saja. Kau sudah terlalu stress dengan Suho dan kasusmu, mungkin itu hanya bunga tidur.”

 

“Tidak, aku yakin terjadi sesuatu.”

 

Nami mengadah, memandangi langit malam hari. Entah kenapa, langit yang terlihat cantik itu tidak bisa menghilangkan keresahan hatinya. Dia kurang percaya akan firasatnya, biasanya. Tapi, kali ini, dia merasa benar-benar yakin akan firasat tentang adiknya itu.

 

Byun Baek Hyun, nama itu langsung terlintas di pikirannya. Tak menunggu waktu, dia berusaha meraih handphonenya, dan menggenggamnya dengan tangannya yang gemetar. Nami memusatkan pikirannya ke layar ponselnya, mencari kontak bernama Byun Baek Hyun dan menelponnya.

 

Nuna?”

 

Nami bernapas lega begitu mendengar suara Baek Hyun dari teleponnya.

 

“Baek Hyun, aku ingin minta tolong padamu.”

“Baiklah. Nuna mau minta tolong apa?”

 

Nami diam sesaat, lalu kembali berbicara “Aku sangat khawatir tentang keadaan Nana. Tolong, kau cari tahu apakah dia baik-baik saja.”

“Kukira hanya aku saja yang khawatir, ternyata Nuna juga.” Baek Hyun terdengar mendesah pelan.

“Kau juga merasa terjadi sesuatu dengan Nana?”

Baek Hyun mengangguk, walau Nami tidak melihatnya. “Iya. Aku juga khawatir. Begini saja, Nuna istirahat yang banyak, masalah Nuna terlalu berat. Biar aku yang mencaritahu kabar Nana. Setelah aku tahu, aku akan memberitahu Nuna.”

 

Nami mengangguk pelan, “Baiklah. Aku menunggunya.”
“Iya.”

 

Nami meletakkan ponselnya di meja, lalu menatap Him Chan yang daritadi menyimak percakapan Nami-Baek Hyun. Nami mengerjapkan matanya, perih.

 

“Semoga Nana baik-baik saja.” Him Chan mengusap kepala Nami, memberikannya senyuman. Nami hanya memeluk lututnya, mulutnya bergumam sesuatu tapi Him Chan tidak dapat mendengar apa yang dikatakan Nami. Gadis itu mungkin sedang tenggelam dalam dunianya sendiri. Entahlah, batin Him Chan. Hanya Nami yang tahu.

 

“Ngomong-ngomong, bagaimana kalau kita keluar?” gumam Him Chan tiba-tiba. Nami mengerutkan dahinya, menatap Him Chan yang sedang balik menatapnya. Maksudnya, keluar kemana? Ini kan sudah malam. Lagipula, suasananya sangat sepi. Memang ada sesuatu yang menarik di malam hari seperti ini?

 

Menyadari tatapan Nami yang penuh tanda tanya, Him Chan mengibas-ngibaskan tangannya, bermaksud mengelak. Lalu, Him Chan tertawa, mungkin Nami berpikir akan keluar malam hari di pulau yang sangat tenang dan sunyi ini bukan ide yang bagus.

 

Nami melirik Him Chan yang menertawainya dengan tatapan datar, membuat Him Chan menghentikan tawanya dan menahannya dengan sebuah senyuman. “Maksudnya, besok. Bagaimana? Percuma kalau kau ke sini tidak ke Pantai Nishi,” sambung Him Chan menjelaskan maksudnya. Nami membuka mulutnya, lalu mengangguk pelan.

 

Pantai Nishi, Nami menggumam. Pantai itu memang indah, bahkan menjadi pantai terindah Se-Jepang. Dirinya sendiri belum pernah kesini sebelumnya. Mungkin ada baiknya dia juga keluar ke pantai besok, sudah 3 hari dia hanya berdiam diri di rumah Him Chan.

 

Nami pun mengangguk setuju. “Sampai jumpa besok, Channie.”

 

“Channie?” Him Chan langsung menghujami Nami dengan tatapan kaget becampur heran. Sejak kapan dirinya dipanggil Channie? Oleh Jung Na Mi? Seorang Jung Na Mi memanggilnya Channie? “Kenapa memanggilku dengan nama yang semanis itu?”

 

Nami membuka mulutnya, hendak menjawab. Ketika melihat ekspresi Him Chan lagi, Nami langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tanda dia tidak mau menjawab. Spontan Him Chan semakin meliriknya tajam. Dirinya lalu tertawa melihat Him Chan yang sebal dipanggil seperti itu. Bukannya menjawab, Nami langsung merebahkan tubuhnya di kasur dan menarik selimut menutupi badannya. “Selamat Tidur, Channie.”

 

“Hah,” Him Chan menarik napas dalam. Dia benar-benar tidak sadar, dan baru menyadari, kalau tadi dia terpaku menatap Nami dan napasnya tercekat. Him Chan sadar, semenjak mendengar tawa Jung Na Mi, dia tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Dirinya terpaku menatap Jung Na Mi. Dirinya menahan napas selama beberapa detik, dan matanya tidak lepas dari sosok Nami.

 

Mungkin, vonis dirinya yang menyukai Jung Na Mi akan segera ditentukan. Him Chan meninggalkan kamar itu dengan berbagai pikiran yang menghantuinya. Tapi, pikiran itu dijamin tidak akan membuatnya insomnia semalaman. Tapi, akan membuatnya tenang dan tertidur lelap.

 

Him Chan tersenyum lebar.

 

-oOo-

 

Him Chan tidak tahu, kalau Nami bisa mengayuh sepeda secepat itu. Lihat saja, Nami sekarang berada jauh dari dirinya. Sudah dibilang, pelan-pelan karena disini banyak bebatuan. Tapi, Nami tidak mendengarkan dan tetap mengayuh sepedanya kencang. Him Chan menggeleng-geleng. Kalau bukan jadi desainer, mungkin dia akan jadi atlit pembalap sepeda atau sejenisnya. Atau pembalap F1.

 

Sepeda Nami benhenti melaju, Nami menoleh kearah belakangnya. “Lamban sekali.”

 

“Aku kan ingin menikmati pemandangan pantai. Bukan ingin balapan sepeda,” balas Him Chan setelah dirinya menghentikan sepedanya disamping Nami. Him Chan mengeluarkan handuk kering dari tasnya, dan memberikan satu untuk Nami. Him Chan menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya. Cuaca hari ini cukup terik juga.

 

Nami menyeka keringatnya juga. “Sudah lama aku tidak bersepada seperti ini. Jadi maklum ya.” Nami berusaha mengelak Him Chan. Him Chan hanya bisa menghela napas melihat Nami yang mulai mengayuh sepedanya kencang. Sebelum itu terjadi, Ia menarik lengan Nami. Nami tidak jadi mengayuh sepedanya, malah berbalik menatap Him Chan yang memegang lengannya. Dahinya mengkerut.

 

“Pelan-pelan,” gumam Him Chan melepaskan tangannya dari lengan Nami lalu mengayuh sepedanya pelan. Nami mengikuti Him Chan, mengayuh sepedanya pelan. Keduanya terdiam, tidak ada suara dari mereka berdua. Keduanya menikmati pemandangan dan suasana yang tenang.

 

Karena bosan, Nami mulai mengayuh sepedanya lebih kencang, namun Him Chan menyusulnya. Nami semakin mengayuhnya kencang, dan Him Chan juga mengayuh sepedanya semakin kencang. Nami semakin mengayuh kencang, namun naasnya dia tidak melihat turunan didepannya. Otomatis, dia turun dengan kecepatan tinggi dan jatuh bersama sepedanya.

 

“Akh!” Nami meringis kesakitan memegangi lututnya yang berdarah. Him Chan langsung membanting sepedanya, dan berlari ke Nami yang tertindih sepeda. Ia mengangkat sepedanya, dan membantu Nami berdiri.

 

“Kita pulang.”kata Him Chan langsung menaikkan Nami di punggunya dan menggendong sampai dirumah Him Chan. Setelah  sampai, Him Chan menurunkan Nami dan mendudukkannya di kursi teras, lalu dia berlari lagi. Beberapa menit kemudian, dia membawa sepeda Nami dan dirinya.

 

Ia langsung masuk ke dalam rumah, mengambil kotak P3K. Lalu, dia duduk dan mengobati luka Nami. Pertama-tama dia membersihkan luka Nami dari pasir dengan air, lalu dia membilasnya dengan alcohol. Nami meringis menahan perih begitu alcohol mengenai permukaan kulitnya.

 

“Tahan,” gumam Him Chan tetap serius dengan luka Nami.

 

Nami merasa gugup dengan Him Chan sekarang. Hatinya berdesir tak karuan. Matanya memerhatikan Him Chan yang serius bergelut dengan lukanya. Ekspresi serius dari Him Chan yang jarang Nami lihat. Ekspresi itu membuat Nami tidak melepaskan pandangannya, membuat hatinya berdesir, dan membuat pipinya panas.

 

Nami bahkan melupakan rasa perih yang timbul. Konsentrasinya dipusatkan penuh pada Him Chan saat ini, tanpa Nami sadari. Ketika Him Chan mengangkat wajahnya, pandangan mereka bertemu.

 

Nami menahan napasnya begitu menatap mata Him Chan yang bening. Waktu seakan terasa sangat lama. Terhenti saat itu juga, saat dimana pandangan mereka bertemu dan saling menatap. Harus Nami akui, mata Him Chan memang mempesona. Bening, dan punya daya tarik sendiri. Tapi, bukan itu yang membuatnya menatap Him Chan sampai bisa lupa bernapas.

 

Cara Him Chan menatap dirinya lah yang membuatnya menahan napasnya. Tatapannya begitu polos, namun bening dan jernih. Mata Him Chan menatap mata Nami dalam, yang membuat Nami semakin terperosok jauh kedalam pesona mata sipit yang menatapnya sekarang tersebut.

 

Tatapan Nami belum bisa lepas dari mata Him Chan, namun ujung mata Nami melihat semburat kemerahan di pipi Him Chan. Wajahnya berubah menjadi merah. Oh Dear, apa dia malu?

 

Harus diakui, Nami cukup senang jika alasan wajah Him Chan berubah menjadi seperti itu adalah dirinya.

 

Konsentrasi Nami membuyar begitu mendengar suara langkah kaki seseorang datang mendekat dengan suara batuk yang Nami sangat kenali. Nami langsung bangkit dan berjalan menyambut orang itu, dan dugaannya benar. Yong Jung Hyung datang dengan masker dan mantel di bulan Agustus. Dia pasti sakit, batin Nami. Nami langsung menghamburkan pelukannya, tentu dengan berjalan pincang, kearah Jun Hyung.

 

Jun Hyung langsung menyambut pelukan Nami hangat. Dia memeluk Nami erat, meyakinkan bahwa Nami-nya baik-baik saja. Tapi, sepertinya ada masalah kecil ketika Jun Hyung melihat cara Nami berjalan. Lututnya terluka. Bukan masalah besar, batin Jun Hyung.

 

Nami mengangkat kepalanya, menatap Jun Hyung. Ia membuka masker Jun Hyung. Nami nampak khawatir dengan Jun Hyung yang terlihat sedikit pucat, apalagi belakangan ini dia mengurusi segala urusan Nami. “Kau baik-baik saja?” tanya Nami dengan wajah cemas, memegangi dahi dan pipi Jun Hyung. Hidungnya merah.

 

Jun Hyung mengangguk mengulum senyumnya. Dia berbalik menyentuh dahi dan pipi Nami tanpa melepaskan matanya dari mata Nami yang dalam. “Tentu saja.”

 

“Dengan mantel?Siang hari?Bulan Agustus?” tanya Nami melihat pakaian Jun Hyung. Jun Hyung hanya bisa terkekeh pelan dan kembali memeluk Nami erat. “Kau tahu sendiri kalau aku sedang influenza bagaimana.”

 

“Sayang, kau tahu aku merindukanmu,” kata Jun Hyung setelah melepas pelukannya. Wajah Nami langsung memandang Jun Hyung datar, “Biarkan aku memelukmu lebih lama,” rajuk Nami memeluk Jun Hyung lagi. Jun Hyung menggeleng pelan. Dia tahu, Nami juga merindukan Jun Hyung. Atau mungkin, omelan Jun Hyung.

 

Jun Hyung dan Nami lalu berjalan pelan, Jun Hyung memegang lengan Nami yang berjalan pincang. Nami mencuri pandang ke Jun Hyung, dan dia tahu tatapan Jun Hyung kepadanya saat ini. Dia harus menjelaskan ada apa dengan lututnya. Nami memutar bola matanya, membalas pertanyaan Jun Hyung dengan tatapan nanti-saja-bertanyanya. Him Chan yang daritadi berdiri mengamati mereka berdua, sudah mulai bisa memaklumi tingkah laku Nami yang terkesan ‘manja’ kepada Jun Hyung, atau Jun Hyung yang terkesan ‘over’ terhadap Nami. Terima Kasih, Sung Yeol.

 

-oOo-

 

“Apakah Nami-ku baik-baik saja?” Jun Hyung membuka percakapan dengan Him Chan, tentu saja jauh dari jangkauan pendengaran Nami. Him Chan tersenyum kepada Jun Hyung, dan menepuk-nepuk pundak Jun Hyung sesekali tertawa melihat Jun Hyung harus menahan bersinnya.

 

“Dia baik-baik saja,”kata Him Chan, tapi ia terdiam sesaat. “Tapi tidak dengan adiknya, kurasa.” Lanjut Him Chan.

“Maksudmu… Nana?” Him Chan mengangguk mengiyakan.

 

Perhatian mereka tiba-tiba buyar begitu mendengar suara benda yang jatuh dari arah kamar Nami. Him Chan langsung segera berlari, melihat ada apa disusul Jun Hyung dibelakangnya. Di kamar Nami, terlihat pecahan gelas dibawahnya. Sementara Nami masih terpaku pada teleponnya.

 

Terjadi sesuatu.

 

“Nami…” Him Chan langsung meraih Nami dan mengguncangkan tubuhnya. Nami tidak goyah, tetap terpaku. Ada apa? Apa yang dia dengar? Kenapa Nami? Kini Nami menutup mulutnya dengan tangannya, lalu  menggelengkan kepalanya.

 

“Nana…Nana…”

 

Air mata Nami tumpah seketika. Him Chan langsung memeluk Nami. Sementara Nami tetap terpaku.

 

“Jun Hyung, caritahu siapa dia” tunjuk Him Chan menjulurkan ponsel Nami. Jun Hyung langsung mengecek telepon, dan berbicara. Setelah beberapa lama, dia juga kaget.

 

“Apa?” serunya seakan tak percaya yang terjadi. Him Chan semakin bingung dengan Jun Hyung, sementara dirinya terus menenangkan Nami. Him Chan menatap Jun Hyung, seakan ingin meminta jawaban atas reaksinya barusan.

 

Jun Hyung mengerjapkan matanya, lalu menatap Nami. Wajahnya terlihat kacau. Jun Hyung menundukkan kepalanya, lalu menarik Nami dalam pelukannya. Memeluk Nami seerat mungkin, sementara dirinya menenggelamkan kepalanya di pundak Nami.

 

Him Chan mengerutkan dahin memandang kedua orang ini. Apa yang terjadi?

 

“Biarkan aku ke Seoul… Kumohon,” pinta Nami masih berurai air mata. Jun Hyung langsung menggeleng kepala keras.

“Tidak. Kau tetap disini, jangan kemana-mana.”

“Tapi adikku di Seoul kecelakaan… Kumohon,” suara Nami terlihat lemah dan penuh harapan. Jun Hyung masih bersikeras tidak membiarkan Nami pergi ke Seoul.

 

Jun Hyung menatap Him Chan. “Him Chan saja yang ke Seoul. Aku disini dengan Nami. Kau setuju?”

 

Dan sekarang, Jun Hyung menyuruhnya ke Seoul? Bahkan belum menjelaskan apa yang terjadi diantara mereka berdua, apa yang mereka dengarkan sehingga mereka nampak sangat terpukul seperti itu.

 

“Maksudmu?”

 

“Penjelasannya nanti saja, ada Baek Hyun disana. Kau minta saja dia jelaskan,” ucap Jun Hyung kepada Him Chan.

 

Singkatnya, Him Chan langsung menuju Tokyo dan mengambil penerbangan tercepat ke Seoul dengan Baek Hyun yang ditemuinya di Tokyo. Selama perjalanan, Baek Hyun menceritakan kenapa dia harus ke Seoul. Ternyata, adik Nami, Nana, kecelakaan. Dan, otomatis Nami dilarang ke Seoul karena kasusnya belum benar-benar reda. Jadinya, Him Chan lah yang berangkat ke Seoul, memastikan keadaan adik Nami tersebut.

 

-oOo-

 

Jepang, Pulau Hateruma

2 minggu kemudian

 

Nami terus meringkuk didalam selimutnya. Dia tidak mau keluar darisana. Moodnya masih sangat hancur, setelah mendengar yang sesungguhnya terjadi diantara Nana dan Kris. Sungguh, saat mendengar yang sebenarnya, dirinya nyaris berbaring di rumah sakit saking terpukulnya. Namun, untungnya ada Jun Hyung dan Him Chan yang menenangkan dirinya. Jika tidak, nasibnya akan sama dengan adiknya.

 

Sesekali Nami keluar jika merasa lapar, atau haus. Lalu, dia akan kembali meringkuk didalam selimutnya. Dirinya tidak tidur, namun hanya berbaring. Berusaha meredam emosi di dadanya yang membuncah. Dan, jika dirinya sedang emosi bisa sampai berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

 

Jun Hyung hanya mendiami Nami, sesekali menawarinya makan. Dia tahu bagaimana Nami ketika emosi. Tidak ada yang bisa mendekatinya, begitupun Jun Hyung. Nami akan berubah menjadi gadis yang sangat dingin dan lebih menyeramkan. Kata-kata yang dikeluarkannya akan terasa sangat pedas bagi yang tidak terbiasa. Jun Hyung hanya bisa menyarankan Him Chan untuk menjauh, sampai Nami terlihat membaik/

 

Setelah Jun Hyung pergi beberapa hari yang lalu, Him Chan masih belum berani menyapa Nami karena gadis itu masih mengeluarkan aura menyeramkannya. Dia belum berani menyapa, karena wanti-wanti Jun Hyung dulu. Tapi, sekarang gadis itu belum makan siang dan ini sudah lewat jam 3 ! Him Chan mencoba mengetuk pintu kamar gadis itu, dan membukanya.

 

Terlihat Nami sedang meringkuk dalam selimutnya. Him Chan mendekatinya, dan membuka selimutnya. Nami langsung duduk dan menatap Him Chan.

 

Are you okay?” tanya Him Chan.

“Bagaimana bisa aku baik-baik saja kalau adikku koma, dengan kisahnya yang sepilu itu?” kata Nami tajam. Him Chan duduk disamping Nami, dan membelai poninya.

 

“Kau boleh khawatir, tapi jangan mencoba kabur lagi kalau kau mau sehat,” Him Chan membalas perkataan Nami sedikit tajam. Bermaksud untuk melunakkan Nami, bukan benar-benar membalas perkataan tajamnya. Dan, ajaib! Ekspresi wajah Nami menjadi sedikit lebih lembut dari tadi.

 

Sekarang, sebutlah dirinya jenius atau beruntung karena bisa melunakkan Nami yang sedang bad mood. Him Chan tertawa bangga dalam hati.

 

“Coba kau pikirkan, bagaimana kalau kau diposisiku…” lirih Nami memeluk lututnya. Him Chan membalikkan badan Nami sehingga wajah Nami menghadap wajahnya. Tangannya merapikan poni Nami.

 

“Aku tahu… Tapi kau tenang saja…” Him Chan menggantungkan kata-katanya. Matanya menatap mata Nami, hal yang paling ia sukai belakangan ini. “Ada aku disini, I always be your side…” sambungnya lirih, terkesan berbisik.

 

Nami mengerjapkan matanya, kemudian tersenyum.”Thanks…” Senyuman itu…. Membuat Him Chan ikut tersenyum lebar. Perasaannya sekarang lebih baik. Jauh lebih baik. Hanya dengan melihat senyuman Nami, dia merasa berada di jalan yang benar, dia menjadi dirinya sendiri.

 

-oOo-

 

Suho mengerutkan dahinya. Telepon genggam milik pamannya masih menempel ditelinganya. Dia sementara menelpon, tapi wajahnya menunjukkan ekspresi marah dan kaget.

 

“Apa? Kau menabrak Nana?” seru Suho.

“Iya… Oppa bagaimana ini?”

“Bagaimana bisa? Kau merencanakannya?”
“Waktu itu aku mabuk, dan aku menabrak seseorang. Aku tidak tahu, kalau orang itu adalah Jung Na Eun alias Nana!”

 

Suho menghela napas berat. Dia pikir, hanya dirinya yang membuat masalah. Ternyata, sepupunya malah menabrak saudara Nami. Ini pasti menjadi beban pikiran Nami, dan juga dirinya merasa semakin bersalah dengan itu. Dia tidak membayangkan betapa terpuruknya Nami jika mengetahui hal ini.

 

Kepalanya tertunduk. Sudah berapa banyak kesalahan yang dia perbuat di hidupnya? Dulu Nami, lalu Ha Ra sekarang dengan adik Nami. Tuhan, hukuman apa yang cocok untukku? Rutuknya dalam hati.

 

“Jadi…” Suho mengangkat kepalanya. “Kau masih mau mengejar Nana? Kusarankan berhentilah, Krystal.”

“Ber…Berhenti? Oppa, oppa tahu sendiri aku ini sangat menyukai Kris !”
“Tapi kau merebut kebahagiaan Nana. Dan, hampir merebut nyawanya. Sadarlah…”

“Oppa…”

“Aku memohon padamu, jadikanlah aku sebagai pelajaran. Kau mau dipenjara? Kau masih muda, jalanmu masih panjang. Dan juga, kita sudah bersalah kepada Nana dan Nami karena kita berusaha menghancurkan mereka !”

 

Krystal kehilangan kata-katanya.

 

“Biarkanlah Nana dan Kris. Aku yakin, Kris sangat mencintai Nana. Aku bisa melihat kesungguhannya itu. Krystal… lepaskanlah dia…”

 

Terdengar isakan tangis dari ponsel itu. Suho memantapkan hatinya. Cukup sudah, dia memang bejat ! dia harus menghentikan kejahatannya disini. Otaknya memutar kenangannya dengan Nami, dan itu membuat Suho merasa semakin pilu hatinya.

 

“Baiklah…Oppa…”

 

Suho tersenyum lega. Krystal melepaskan Kris, itulah yang terbaik.

 

Setelah menutup sambungan telepon, Suho berbaring di kamarnya. Ia menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Ah, dia memejamkan matanya sambil menghela napas yang berat. Dia ingin istirahat dari semuanya.

 

“Suho Kim, ada yang mengunjungimu.” Seorang penjaga memanggilnya. Suho segera bangkit, dan menuju ruang tunggu. Disana, dia melihat sosok Yong Jun Hyung.

 

“Ada apa?” tanya Suho setelah duduk dihadapan Jun Hyung. Jun Hyung langsung menatap tajam kearah Suho, yang membuat Suho tidak nyaman. Dia tahu, Jun Hyung menginginkan sesuatu dari dirinya.

 

“Kau harus jujur menjawab apa yang kutanyakan nanti,” gumam Jun Hyung dengan suara rendah. Suho mengangguk pelan.

 

Jun Hyung menjilat bibirnya sekilas, lalu kembali bertanya. “Apa kau yang menyebarkan gossip yang buruk tentang Nami selama ini? Lesbian, tidur denganku, dan lainnya? Apa itu kau, Kim Joon Myeon?” tatapan Jun Hyung begitu menusuk. Suho memalingkan wajahnya, tidak berani menatap mata Jun Hyung.

 

Gosip? Ah, dia memang tahu gossip itu. Gossip yang dulu sempat menguntungkannya. Tapi, dia tidak pernah menyebarkan gossip seperti itu. Suho kembali menatap mata Jun Hyung yang masih berusaha mengikis rasa keberanian Suho. “Bukan aku.”

 

Jun Hyung mengerutkan dahinya. “Bukan kau? Kau lah yang paling memungkinkan jadi tersangka. Kau yang ingin menghancurkan Nami.” Jun Hyung menunjuk Suho dengan telunjuknya. Namin, Suho tetap mengeleng.

“Untuk apa aku membuat gossip seperti itu? Tidak ada. Aku juga tidak berpikir untuk membuatnya. Jadi, tolong jangan salahkan aku!”

 

Jun Hyung terdiam. Dia melihat wajah Suho. Matanya tidak menunjukkan kebohongan, dia sungguh-sungguh. Jun Hyung lalu mulai berbicara, “Aku percaya padamu. Tapi, kalau kau terbukti…” Jun Hyung berdiri dari kursinya, dan mencondongkan tubuhnya ke Suho. “Kau tidak akan hidup tenang,” katanya sambil berlalu meninggalkan Suho.

 

Suho mendesah. Siapa yang membuat gossip itu? Yang jelas, bukan dirinya. Dan dia siap melakukan pembelaan apabila Yong Jun Hyung tetap menuduhnya. Suho segera berdiri, danm mencegat Jun Hyung yang belum jauh dari jangkauannya.

 

“Sebelum kau pergi, aku ingin menitipkan permohonan maaf.”

 

Jun Hyung membalikkan badannya menatap Suho. “Ke?”

“Jung Na Mi. Katakan, aku meminta maaf atas segalanya.”

 

Jun Hyung tersenyum tipis sambil mengangguk, kemudian dia membalikkan badannya dan berlalu. Suho menatap sosok dengan jas hitam itu nanar. Semoga, semuanya baik-baik saja.

 

 

-oOo-

 

Nami merebahkan tubuhnya di ranjang flatnya. Akhirnya, dia bisa pulang juga. Setelah 4 minggu tinggal di Pulau Hateruma itu, yah walupun harus diakui pulau itu memang menenangkan, tapi lebih menenangkan lagi flatnya yang sederhana tersebut. Nami memperbaiki posisinya di kasur, ingin terlelap setelah perjalanan dari pulau tersebut ke Tokyo memakan waktu 3 jam lebih.

 

Tidak sadar, Nami tertidur pulas ditemani boots dan jaket yang masih melekat di badannya. Jun Hyung yang barusaja tiba di flat tersebut menggeleng-geleng dengan Nami. Lihat saja, sepatunya masih digunakan. Dengan hati-hati, Jun Hyung melepas sepatu Nami dan meletakkannya di rak sepatu. Setelah itu, dia menyelimuti badan Nami dengan selimut. Dia membutuhkan tidur, sebelum besok kembali menjadi Nami yang workaholic.

 

Keesokan harinya, Nami mulai masuk bekerja seperti biasa. Sambutan hangat dari karyawannya menyambutnya, membuat moodnya semakin membaik. Tapi, jelas pikirannya masih dihantui dengan kondisi adiknya di Seoul. Tapi, dia tidak perlu terlalu khawatir, karena ada Kris, Amber dan Onew yang menemaninya. Setidaknya, selama ada yang menjaga Nana segalanya menjadi baik.

 

Dirinya sedang asyik mendesain baju pesanan klien di kertas, lalu ponselnya berdering. Nami langsung mengangkat telepon tersebut.

 

“Jung Na Mi dari JNM.”

“Aku tahu kau memang Jung Na Mi.”

 

Nami tersenyum simpul. Him Chan menelponnya.

 

“Ada apa menelponku?”

“Um… kau sibuk besok?”

“Besok ya, hmm… “ Nami melihat kalender. Besok hari sabtu, dia tidak terlalu sibuk. Dan, agendanya besok kosong.

 

“Tidak, kenapa?”

“Oh bagus ! Ayo kita jalan-jalan ke taman kota. Pemandangan disana pasti cantik. Sekalian, aku ingin mentraktirmu makan siang.”

“Taman kota? Besok? Jam berapa memangnya?”

“3 Sore. Kau mau?”

“Kau mengajakku dalam rangka apa?”

“Kencan.”

 

DEG ! Nami membulatkan matanya. Kencan? Him Chan mengajaknya kencan?

 

“Kenapa mengajakku… kencan?”

 

Terdengar suara tawa Him Chan. Nami mendengus kesal, Him Chan menertawakannya.

 

“Tidak, aku hanya ingin mengajakmu keluar. Karena kita hanya berdua, biasanya kan itu disebut kencan.”

 

Wajah Nami memanas saat mendengar Him Chan barusan.

“Mau tidak?”

“Hm… Baiklah. Aku tunggu ditaman kota besok jam 3.”

“Terima kasih karena kau mau. Sampai jumpa besok, Nami. Oh ya, Hati-hati…”

 

Nami mengerutkan dahinya.

“Karena?”

“Kau jaga jaga saja, siapa tahu kau jatuh cinta denganku.”

 

Tawa khas Him Chan terdengar lagi. Nami tidak berkata apa-apa, sampai hubungan telepinnya putus. Nami tetap mematung.

 

Siapa tahu kau jatuh cinta denganku.

 

Dear ! pipinya memanas lagi.

 

-oOo-

Ajakan nya sebenarnya bukan kencan, tapi Him Chan yang berinisiatif untuk memberikan nama Kencan. Dirinya tersenyum kecil sendiri. Membayangkan dia akan menghabiskan waktunya dengan Nami saja membuatnya senang.

 

Him Chan melangkahkan kakinya ringan ke taman kota. Dia mencari sosok yang akan menjadi teman kencannya. Kemudian, Him Chan tersenyum lebar saat melihat sosok yang dia yakini itu Nami sedang menunggu duduk dikursi panjang taman itu. Nami tampak sedang membaca buku, dengan kacamatanya.

 

Him Chan berjalan menghampiri Nami, lalu duduk disamping Nami tanpa Nami sadar. Dia masih sibuk dengan buku bacaannya.

 

“Hey, jalan bersamaku mau, nona?” ujar Him Chan tanpa memandang Nami. Nami sama sekali tak bergeming, terus melanjutkan bacaannya. Him Chan melirik Nami, dia benar-benar tidak menyadari kehadiran Him Chan?

 

Sebuah rencana melintas dipikiran Him Chan. Dia mengangkat tangannya, lalu berniat membuka sanggul rambut Nami. Sedikit lagi sampai rencana itu berhasil, Nami menepis tangan Him Chan lalu berdiri menjauh. Wajahnya terlihat waspada. Namun, sirna begitu mendengar tawa Him Chan.

 

“Mengagetkanku !” seru Nami melempar tatapan sinis ke Him Chan. Him Chan masih saja tertawa terpingkal-pingkal. Nami duduk dismping Him Chan, memandang Him Chan dengan ekspresi wajah datar.  “Berhenti tertawa.”

 

“Makanya, jangan terlalu asyik dengan bukumu itu. Untungnya saja aku, bagaimana kalau yang lain?”

“Tapi kau sama saja mengagetkanku. Dasar!”

“Sekali-kali mengerjaimu tidak apa-apa. Hidupmu terlalu statis.”

“Siapa bilang? Hidupku tidak statis kok?”

 

Him Chan menatap Jung Na Mi tidak percaya. “Serius? Setiap hari kau kan kerja pulang mandi makan tidur. Begitu seterusnya. Itu termasuk statis.”
“Tidak,” Nami mengelak. “Aku juga nonton televisi dan melakukan hal lainnya.”

“Oh ya?” Him Chan bertanya pada Nami dengan nada menggoda. Tanpa sadar, matanya menangkap ada bulu mata jatuh di pipi Nami. Him Chan mengambil bulu mata itu, reflex membuat Nami menutup matanya. Him Chan melihat wajah Nami yang menutup matanya.

 

Hatinya berdesir. Pandangannya terpaku pada sosok Nami. Begitu Nami membuka matanya, pandangan mereka kembali bertemu. Him Chan lagi-lagi terpesona oleh mata dalam Nami. Jantungnya berdebar keras. Him Chan menatap Nami lama. Keduanya diam, tidak ada yang berbicara.

 

Nami langsung mengalihkan wajahnya. Him Chan yang seakan tersadar, juga mengalihkan wajahnya. Keduanya ternggelam dalam suasana canggung yang teramat. Him Chan melirik Nami, yang sedang menatap kearah lain arah. Him Chan menegakkan kepalanya, mengadah kelangit dan berdiri. Tangannya terjulur kearah Nami.

 

“Siap untuk berkencan, Nona?”

 

-oOo-

Nami melemparkan remah roti ke sekumpulan burung yang berkumpul disekelilingnya. Seketika, burung-burung itu langsung mengerumuni Nami. Nami tertawa, sambil terus melemparkan remah roti tersebut.

 

“Nami!” teriak Him Chan dari kejauhan dengan dua kaleng jus jeruk ditangannya. Nami berjalan pelan menghampiri Him Chan, lalu mengambil jus jeruk tersebut. “Terima kasih,”katanya seraya duduk.

 

Keduanya duduk, lalu Him Chan mulai bercerita tentang pertemuannya dengan seorang anak kecil yang mirip dengan Nami. Caranya menatap, nada bicaranya yang datar, dan lainnya. Him Chan tertawa mengingat itu, sementara Nami hanya bisa pasrah. Tapi, dia sangat bahagia hari ini.

 

Karena kencan ini? Atau karena Him Chan ? atau keduanya? Entahlah. Nami juga bingung menentukannya.

 

Mereka berdua mengobrol akrab, lalu dipotong karena ada seorang laki-laki bertubuh besar yang nampaknya ingin bertanya.

 

“Ex..Cyus…” ucapnya terbata-bata. Nami dan Him Chan saling pandang. Dipastikan, orang ini tidak bisa berbicara dengan bahasa inggris. Karena mereka berbicara bahasa asing ditelinga Nami.

 

“Kau mengerti apa yang dia katakan?” tanya Nami melihat Him Chan yang tersenyum mengangguk kecil.

 

Him Chan mengangguk. Dia lalu berdiri, dan mulai bercakap dengan bahasa yang Nami tidak mengerti.

 

Bist du Deutsche?” [Orang Jerman?]

Ja, kannst du Deutsch sprechen?”[Ya, Bisa berbahasa Jerman?]

ja !”[Ya!]

Selanjutnya, Nami melihat Him Chan yang asik dengan laki-laki. Nami membiarkan mereka berbicara, karena Nami sungguh tidak tahu mereka berbicara dalam bahasa apa.

 

Setelah selesai, kedua pasangan paruh baya itu mengucapkan terima kasih, menurut Nami, kepada Him Chan dan dirinya. Nami membungkuk dan tersenyum, membalas ucapan yang mungkin artinya terima kasih.

 

“Diabertanya apa?” tanya Nami penasaran.

“Tadi? Dia bertanya tentang jalan. Kau tidak mengerti bahasanya?” Nami menggeleng.

 

Him Chan membuka mulutnya membentuk huruf ‘O’ . “Mereka orang Jerman.”

 

Jerman ya, pantas saja. Nami tidak pernah belajar bahasa Jerman, jadi dia tidak tahu apa-apa. Nami kembali meminum jusnya.

 

“Hey, aku baru sadar kau punya empat tindik ditelinga kananmu,” seru Him Chan menunjuk ke telinga Nami. Nami berhenti minum dan tersenyum simpul.

 

“Memang. Darimana saja kau?”

“Tidak, Aku tidak menyadarinya saja,” sahut Him Chan memalingkan wajahnya kearah air mancur di pusat taman tersebut. Keduanya kembali tenggelam dalam diam, se=ibuk dengan pikirannya masing-masing.

 

Perlahan, Nami mencuri pandang ke wajah Him Chan. Sejauh ini, Hubungannya dengan Him Chan sangat baik. Oh, Dear ! Hati Nami mencelos. Dia terpaku menatap wajah Him Chan yang tenang barusan. Menatap kedepannya dengan tenang, ekspresi wajah yang sangat menghanyutkan. Oh, Oh, jantung Nami kembali berdebar. Sejak kapan dia selalu berdebar setiap kali memandang wajah Him Chan yang tenang?

 

Him Chan mengalihkan pandangannya dan tersenyum menatap Nami. Senyum itu menular, dan Nami perlahan memunculkan senyumnya untuk Him Chan.

 

 

-oOo-

 

“Nami, ayo kita buat selca!” ajak Him Chan setelah mereka selesai makan siang. Him Chan mengeluarkan kamera digital dari sakunya, dan mengacungkannya dihadapan Nami dan menghentikan langkah Nami. Nami berbalik.

Selca? Self Camera?”

 

Him Chan mengangguk. Tanpa meminta persetujuan, dia memfoto Nami dengan ekspresi datarnya yang menghadap kamera. Nami langsung memalingkan mukanya. Tidak habis akal, dia menarik Nami dan mengajaknya foto bersama dia.

 

Nami terpaksa tersenyum datar kearah kamera sementara Him Chan dengan ceria megacungkan tanda V dengan jarinya.

 

“Kurasa, kurang bagus kalau kita mengambilnya sendiri” ujar Him Chan melihat hasil potretannya. Dia langsung mencari-cari orang yang bersedia memnfotonya dengan Nami. Ah, dapat ! Tuan dari Jerman itu sedang berjalan kearah Him Chan sekarang, sitemani seorang wanita paruh baya yang terlihat seperti orang Jerman.

 

Oh, Herr!” [Oh, Tuan !]

Him Chan melambaikan tangannya kepada tuan dan nyonya itu, lalu menghampiri mereka berdua. Tuan itu memperkenalkan Him Chan kepada wanita paruh baya disampingnya.

Ah Herr Kim, sie findet der Platz.” [Ah, Tuan Kim, dia tadi yang membantu menemukan tempat tadi.]

Him Chan mengangguk sambil tersneyum kepada wanita paruh baya tersebut. Dengan memegang kamera, Tuan dari Jerman itu sadar sepertinya Him Chan membutuhkan pertolongan.

 

Herr Kim, kann ich Ihnen helfen?” [Tuan Kim, ada yang bisa saya bantu?]

 

Tuan itu mengajukan diri untuk membantu Him Chan yang memang sendang membutuhkan pertolongan. Him Chan tersenyum memandangi tuan itu. “ich möchte dich fur mir helfen.” [Kalau bisa, saya ingin minta tolong.]

 

 

Tuan itu mengangguk senang.  “ah Ja, was ist das, Herr Kim?” [dengan senang hati, apa itu Tuan Kim?]

 

Him Chan memberikan kamera digitalnya kepada pasangan tersebut, lalu matanya menuju kearah Nami berdiri sekarang. “Mein Foto mit der Frau,” [foto saya dengan gadis itu,] tunjuk Him Chan kearah Nami yang sedang tidak melihat mereka.

Die schöne Frau? Diese Frau steht nähe mit der Skulptur?” [Gadis yang cantik itu? Yang berdiri didekat patung itu?] tunjuk lekaki itu kearah Nami. Him Chan mengangguk.

 

Ja.” [Iya.]
Lelaki itu mengangguk-ngangguk, sementara wanita  yang berdiri disampingnya tersneyum memperhatikan Nami, lalau memerhatikan Him Chan dan kembali tersenyum.

 

Ist das ihre Frau, Herr Kim?” [Kalian serasi. Pacar anda, tuan Kim?]

 

Mendengar pertanyaan barusan, sontak Him Chan membelakkan matanya menatap wanita itu. Wanita itu malah melirik suaminya, dan tertawa kecil. Him Chan menggeleng.

 

Nein, sie ist nur meine Freundin,” [Tidak, dia teman saya.] kata Him Chan mengibas-ngibaskan tangannya.

 

“Ihr seid harmonisch.” [Kalian serasi.] tambah wanita itu, diikuti anggukan setuju dari tuan itu. Him Chan hanya tersenyum mendengarnya. Didalam hatinya, dia senang. Sangat senang.

Lalu, mereka berjalan ke tempat Nami menunggu. Him Chan langsung merangkul Nami. Nami memandangi Him Chan heran, “Kenapa?”

“Mereka bersedia memfoto kita,” ujar Him Chan tersenyum kepada Nami. Nami ikut tersenyum melihat Him Chan tersenyum. Tanpa sadar, tuan itu telah memfoto mereka saat mereka saling tatap dan tersenyum.

 

Tuan itu memberikan aba-aba, dan Him Chan langsung merangkul Nami dan membentuk tanda V di tangannya dan tersenyum lebar sampai matanya menyipit. Sementara Nami, memegang tangan Him Chan dan tersenyum kearah kamera. Tuan itu mengambil foto mereka 3 kali potret.

 

Setelah itu, tuan itu memberikan kamera Him Chan kembali. Him Chan memandang hasil potretan tuan itu, dan tercengang. Nami terlihat begitu cantik, dengan senyuman yang sangat manis dilihat. Him Chan langsung tersenyum sendiri memandangnya.

 

Vielen Dank, Herr” [terima kasih, tuan.] kata Him Chan mengucapkan terimakasih pada tuan itu. Tuan itu tersenyum lebar menjabat tangan Him Chan, dan menepuk-nepuk pundaknya.

 

bitte,” [sama-sama.]

 

Him Chan lalu meninggalkan keduanya, kembali ke tempat Nami dengan tersenyum puas. Sementara itu, kedua pasangan paruh baya itu tersenyum melihat Him Chan dan Nami. Istri tuan tersebut mengalihkan pandangannya ke tuan itu. “ich sehe dass sie harmonisch ist, oder?” [Mereka terlihat serasi, bukan?]

 

-oOo-

“Bagaimana hari ini?

Nami merenggangkan tangannya, “Tsukaremashita ga, tanoshikatta.” [Capek, Tapi menyenangkan.”

 

Him Chan tersenyum mendengarnya. “Berarti kau suka kencan denganku.”

Nami mengangguk pelan, tanpa dia sadari. Melihatnya, Him Chan hanya tersenyum menggoda.

 

Nami membalasnya dengan senyuman, yang sangat tulus dari hatinya. Yang dia sendiri tidak tahu alasan kenapa dia tersenyum seperti itu, dan tidak tahu kapan terakhir kali dia tersenyum seperti itu.

 

Dia bahagia. Hari ini dia sangat bahagia. Dirinya tidak memikirkan apapun, semuanya berlalu seperti air. Dia sudah lama tidak merasakan seringan ini. Tidak, dunianya selalu menjadi lebih mudah apabila ada Him Chan disampingnya.

 

Oh dear! Nami mengerjapkan matanya. Dia baru sadar akan hal itu. Dia tidak tahu, sejak kapan dan dimana dia mulai merasa aman berdiri didekat Him Chan. Dirinya, Jung Na Mi, bisa memandang dunia dan mengatakan ‘Aku Jung Na Mi’ apabila ada Him Chan disampingnya.

 

Dirinya, bisa tersenyum lega apabila Him Chan tersenyum. Dirinya, yang bisa tertawa, dan merasa tenang apabila ada didekapan Him Chan. Segalanya terjadi sangat alami, sampai-sampai Nami tidak menyadari.

 

Oh ! Apa dia jatuh cinta dengan Him Chan?

 

“Nami,” suara Him Chan memecah keheningan. Nami menoleh. “Ya?”

 

Him Chan menatapnya serius. “Apa kau sudah punya…”

 

Nami menahan napas menunggu apa yang akan dikatakan Him Chan selanjutnya. Sedetik terasa sangat lama. Hanya suara kendaraan yang muncul disekitar mereka. Sementara itu, Him Chan terus menatap Nami.

 

“Apa kau sudah punya orang yang kau anggap istimewa?” tanya Him Chan setengah berbisik. Tapi, sungguh Nami bisa mendengarnya.

 

Nami menggeleng pelan. “Tidak.”

 

Him Chan menghela napas lega. Matanya kembali menelusuri wajah Nami. Dia memandang Nami lekat. Nami sendiri menahan napasnya lagi, karena cara Him Chan yang menatapnya seperti itu.

 

“Kalau begitu, bisakah aku menjadi orang yang istimewa dihatimu?”

 

Napas Nami tercekat. Mulutnya sedikit terbuka mendengar perkataan Him Chan tadi. Dia tidak bercanda, bukan? Nami terus menggumamkan kalimat itu dalam hati.

 

Him Chan kembali menghela napas. “Aku ingin kau melihatku, dan sadar akan keberadaanku disisimu, Nami.”

 

Nami tidak tahu mau menjawab apa. Lidahnya kelu, dia kehilangan kemampuan berbicaranya sesaat.

 

Bunyi bel dari bus memecahkan konsentrasi keduanya. Nami langsung mengalihkan pandangannya, ternyata bis menuju flatnya.

 

“Him Chan, aku pamit dulu. Selamat malam, dan terimakasih untuk hari ini. Aku bahagia,” kata Nami sebelum naik ke dalam bus. Him Chan mengangguk, tersenyum lembut.

 

Nami sempat menengok kebelakang jendela. Terlihat, Him Chan memandangi busnya. Nami tersenyum. Perasaannya berbunga-bunga, sepertinya.

 

I might seem heartless because
of my cold appearance
I might seem dark because
I’m covered with thorns
But don’t worry
Because pretty flowers
will bloom out of me

 

[Woo Hyun feat Lucia – Cactus]

 

Tiba-tiba, ponsel Nami berdering. Dari Jun Hyung. Nami mengangkatnya terburu-buru.

 

“Jun Hyung, hari ini aku sangat bahagia!”

 

-oOo-

 

Him Chan berjalan pelan menuju apartemennya. Senyum tak bisa hilang dari wajahnya. Dia terus menerus tersenyum, sesekali tertawa atau menggeleng. Perasaannya sangat bahagia. Hatinya bergitu berbubga-bunga.

 

Him Chan mengingat kembali apa yang dia katakana kepada Nami, dan dia menghentikan langkahnya. Dia meraba hatinya, lalu berpikir sesaat. Lalu, dia kembali melangkahkan kakinya santai menuju apartemennya. Hari ini dia lalui dengan berbagai memori yang sangat menyenangkan. Him Chan tersenyum mengingat Nami, dan segalanya.

 

Satu hal yang dia tahu. Apa yang dikatakannya kepada Nami itu benar. Dan, dia harus mengakui. Dirinya, Kim Him Chan, jatuh cinta kepada Jung Na Mi.

 

When a man loves

he always wanders around and has a lot of things he wants to do for you

When I fall in love, I give you everything of my life

And only ask for one thing, your heart

 

Him Chan kembali mengingat dirinya yang bersemu merah begitu melihat Nami memandangnya. Segalanya terputarm sebagai melody yang sangat indah. Saat melihat Nami, Him Chan merasakan dirinya seutuhnya. Dirinya bisa menatap kedepan tanpa takut, dirinya merasa benar jika disamping Nami. Dirinya berada dijalannya, ketika Him Chan menatap Nami.

As my cheeks gradually turn red,

my head gradually looks down

While only looking at you

I’m on my way

My confession that came at a crazily quick speed

[INFINITE – Man In Love]

Him Chan merogoh saku celananya, mencari kunci apartemennya. Begitu dia mengangkat wajahnya, dia mengerutkan alisnya. Ada sesosok wanita dengan rambut pirang, berdiri didepan pintu Him Chan.

 

Apa mungkin itu dia? Him Chan berjalan mendekati orang itu. Semakin dekat, semakin yakin Him Chan siapa orang itu. Sampai, orang itu menoleh dan tersenyum kepada Him Chan. Him Chan ingat segalanya tentang orang itu, caranya tersenyum, caranya tertawa.

 

“Him Chan,” panggil orang itu. Him Chan kaget.

 

“Alice?”

 

To Be Continued

Pic ._.V

susuhoho

 

 

[!] Note From author :

“Terimakasih udah mau ngikutin Please, Stop The Time dan Oramanieyo. setelah ini, bakal ada series yang Baek Hyun version. udah rilis, cuma drabble, read here Missing (drabble). Author bakal bikin long versionnya hehehe. Oh iya, soal sekuel Please Stop The Time yang sekuelnya, author ga janji ya T^T)9 soalnya lagi-lagi cuaca bikin author sakit hiksu :” dan juga, author udah mau ujian meja >< dimohonndoangan XOXO~ makasih yang udah mau baca, komen, like makasih banget ^^. Regards, hayamira”

 

RCL diperlukan hitung hitung sebagai sedekah hehehe xD. Oh ya, yang mungkin agak bingung sama Nana-Kris bisa baca ceritanya di Please, Stop the Time series dibawah ini xixixi

[PROLOG] | [CHAPTER 1] | [CHAPTER 2] | [CHAPTER 3] | [CHAPTER 4A] |  [CHAPTER 4B] | [CHAPTER 5] | [CHAPTER 6] | [CHAPTER 7] | [CHAPTER 8] | [EPILOG]

 

SEKIAN, SAMPAI JUMPA DI NEXT CHAPTER~ PPYONG

 

40 responses to “FF : Oramanieyo [CHAPTER 5]

  1. Pingback: Bloody Camp [Act 1] | FFindo·

  2. Pingback: FF : Oramanieyo… [CHAPTER 9] | FFindo·

  3. Wuih Himchan-Nami hampir jadian nih hahaha Kira-kira tuh cewek yang namanya alice, mantan tunangannya Himchan-kah? Lanjut baca aja deh ya… hehe 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s