EXO Daddy Series [3/12] : Heartless Daddy

Heartless Daddy

Author : Fai

Cast :

  • Wu Yi Fan | EXO’s Kris
  • Wu A Lin (as Kris’ child)

Genre : family

Rating : G

Length : oneshot (2657 words)

Disclaimer : this is officially mine, but the casts are not mine

Previous :

N.B. : halooooooohh~ :3 saya kembali dengan exo daddy series versi Kris ^^ /lambaibarengkris

Jujur saya seneng banget ternyata ff exo daddy series ini disambut dengan baik oleh kalian semua huhu saya terhura :’3

Happy reading ^^

“…I love my dad, no matter what…”

Kris mendesah panjang pagi itu. Ini adalah hari Minggu. Sudah dua hari istrinya tidak tinggal di rumah (istrinya adalah seorang pekerja keras dan sekarang ia dinas di Taiwan selama lima hari). Selama lima hari ini ia harus tinggal berdua dengan anak perempuannya yang masih berumur empat tahun. Namanya A Lin.

“Papa, papa sudah bangun?”

Kris menoleh ke arah pintu yang sedikit terbuka. Anak itu berdiri di depan pintu sambil memegang gagang pintunya.

Kris tidak menjawabnya.

“Papa, ayo kita sarapan.”

Kris memutar kedua bola matanya.

“Aku tidak lapar. Kau makan saja sendiri.”

Anak itu merunduk sedih. Papanya itu memang cuek. Dia jarang mengobrol dengan anaknya sendiri. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

“Tapi, A Lin ingin sarapan bersama papa,” jawab anak itu—berharap.

Kris tidak menjawabnya. Ia menutup kedua matanya dan menarik selimut untuk menutup seluruh tubuhnya—membuat anak itu semakin merasa sedih.

“Baiklah, A Lin akan makan sendiri,” ujar anak itu murung. Dia hendak menutup pintu, sebelumnya ia berkata, “Kalau papa lapar, A Lin akan mengambilkan makanan untuk papa.”

Kemudian terdengar suara pintu ditutup dengan lembut. Kris tetap tidak peduli.

Sebenarnya, Kris bukan orang yang jahat. Ia bukan papa yang jahat. Hanya saja ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia tidak memilikki banyak waktu untuk berkomunikasi dengan anaknya sendiri. Di saat hari kerja (jika Kris dan istrinya sibuk di kantor), ia akan menitipkan A Lin di rumah orang tua istrinya.

Di sisi lain, Kris adalah papa yang cuek dan lebih suka menyendiri di dalam kamarnya. Ia tidak terlalu suka bermain dengan anak kecil (bahkan kamar merekapun terpisah).

Kris tahu kalau anak perempuannya itu sangat menyayanginya, tapi bagi Kris hal itu sangat biasa. Dia terlalu cuek untuk menanggapi hal seperti itu.

Dia tidak peduli.

+++

Kris keluar dari kamarnya dan ia melihat A Lin yang sedang duduk di depan meja makan.

Anak itu melihat Kris yang baru keluar dari kamarnya dengan tatapan ‘tidak peduli’nya. Dengan memberanikan diri, A Lin membawa sebuah piring dengan nasi beserta lauk pauk di atasnya dan memberikannya pada Kris.

“Papa, ini untuk papa,” ujar A Lin sambil tersenyum manis. “A Lin tahu papa belum makan dari semalam.”

Kris menatapnya tidak peduli.

“Terima kasih. Tapi aku tidak lapar,” Kris berlalu begitu saja dari hadapan A Lin.

Sakit. Itulah yang dirasakan oleh anak perempuan itu. Ia selalu diperlakukan seperti itu oleh papanya sendiri. Tapi, dia tidak pernah membenci papanya itu.

Kris berjalan menuju dapur dan membuka kulkas. Ia mengambil sekaleng soft drink dan membawanya ke ruang tengah. Ia duduk di sofa dan menyalakan TV.

A Lin merunduk. Ia membawa piring yang dipegangnya ke dapur dan menaruhnya di atas meja makan.

Ia tidak berani duduk di dekat Kris. Ia hanya duduk terdiam di depan meja makan sambil memperhatikan Kris yang duduk terdiam di sofa. Terlalu banyak hal yang anak itu pikirkan. Satu-satunya pertanyaan yang sangat mengganggu pikirannya itu adalah kenapa papanya itu tidak pernah peduli padanya.

A Lin melompat dari posisi duduknya dan mendekati Kris dengan langkah kecil.

“Papa,” panggil A Lin lembut.

“Apa maumu?”

Bahkan Kris tidak mau menatap anaknya sendiri.

“Papa benar-benar tidak mau makan? A Lin tahu ka—”

“Sudah kubilang aku tidak mau makan.”

A Lin terdiam dan mematung di tempatnya. Dia tidak berkutik lagi. Ia berusaha untuk tidak menangis.

“Maaf, papa,” lirih anak perempuan itu. “A Lin hanya tidak mau papa sakit.”

Setelah itu, A Lin berjalan menuju kamarnya dan masuk ke dalamnya. Kris masih tidak peduli.

Di dalam kamarnya, A Lin merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya kacau.

“Tuhan.. Kenapa papa tidak peduli sama A Lin?” gumam anak itu. “A Lin salah apa, Tuhan?”

Ia terdiam. Air mata itu perlahan membasahi wajahnya. A Lin menangis dalam diam. Dia tidak mampu bersuara.

“A Lin sayang papa.”

+++

Kris duduk di depan laptopnya dengan tumpukkan kertas yang setia menemaninya. Hari ini ia bertekad untuk melanjutkan pekerjaannya yang hampir selesai.

Jari-jari tangannya bergerak cepat di atas keyboard laptopnya. Bola matanya menatap lurus layar laptopnya dan kedua bola matanya bergerak-gerak cepat.

“Papa.”

Suara anak itu terdengar lagi. Kris tidak menghiraukannya.

“A Lin membuatkan susu hangat untuk papa. A Lin tahu pasti papa sangat sibuk. Maka dari itu A Lin membuatkan susu hangat ini untuk papa.”

Dan Kris tidak menghiraukannya lagi. Anak perempuan itu menatap Kris kecewa. Dia sedikit mendekat dan menaruh segelas susu hangat itu di atas meja—di samping meja kerja Kris.

“Jangan lupa diminum, ya, pa,” pesan A Lin dengan sedikit berbisik kemudian meninggalkan Kris—masuk ke dalam kamarnya.

Kris menatap kepergian anak itu dan mendesah kecil. Ia tidak mengerti kenapa dirinya secuek ini terhadap anaknya sendiri.

Ia melirik susu hangat yang dibuatkan A Lin untuknya, dan ia tidak tertarik untuk meminumnya.

Kris tidak membenci anaknya. Kris bukannya tidak suka anak-anak. Kris bukan papa yang jahat. Ia hanya tidak punya waktu untuk memperhatikan dan mengobrol dengan anaknya. Ia terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri.

Jika istrinya ada di rumah, wanita itulah yang akan mengajak A Lin untuk sekedar bermain.

Sebenarnya Kris juga menyukai anak-anak. Tapi rasa tidak pedulinya itu telah menguasai dirinya. Hatinya bahkan lebih dingin dari sebongkah es.

“Orang tua macam apa aku ini..”

+++

Akhirnya, Kris menyerah untuk menahan rasa laparnya. Ia memakan makanan yang tadi disediakan oleh A Lin untuknya. Dia duduk sendirian di depan meja makan.

Kerjaannya barusan sudah selesai. Sekarang ia punya waktu untuk bersantai. Tapi, ia tetap saja tidak punya niat untuk bermain dengan anaknya itu. Dia lebih memilih untuk menyendiri.

Setelah makan, Kris kembali ke kamarnya dan merebahkan diri di atas kasur dengan mata terpejam.

Ia membuka matanya, dan melirik sebuah bingkai foto yang terletak manis di meja kerjanya. Sebuah foto di mana dirinya, istrinya dan anaknya sedang tersenyum. Di foto itu mereka tampak seperti keluarga bahagia dan sangat menyayangi satu sama lain. Namun, kenyataannya tidak seperti itu.

Pintu kamar perlahan terbuka. Anak perempuan itu menyembulkan kepalanya dari balik pintu.

“Papa, A Lin bosan,” ujar anak itu. Kris menghela nafas kecil. “Lalu?”

Anak itu melangkah masuk dengan hati-hati. Ia berjalan mendekati Kris.

“A Lin ingin bermain dengan papa,” jawab anak itu lembut. Kris menatapnya datar. Ia menatap anak itu dengan tatapan mata yang tajam.

“Aku sedang lelah. Tanganku terasa pegal sekali. Maaf, aku tidak bisa menemanimu bermain,” ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak melukai hati anaknya itu.

“Kalau begitu, A Lin akan memijat tangan papa agar papa tidak merasa pegal lagi.”

Kris menggeleng.

“Tidak usah, terima kasih. Kau tidak perlu repot-repot untuk memijat tanganku. Kembalilah ke kamarmu.”

A Lin terdiam. Atmosfir di antara mereka berdua terasa sangat kaku, padahal mereka berkeluarga. Kris adalah papanya dan A Lin adalah anaknya. Apa yang membuat mereka sekaku ini?

“Tapi, A Lin ingin bersama papa.”

Anak itu menatap Kris dengan tatapan memohonnya. Laki-laki itu tetap bersikeras untuk menyendiri di kamarnya.

“Kembalilah ke kamarmu.”

Akhirnya, A Lin menurut. Ia selalu menuruti papanya itu dan berusaha sebisa mungkin untuk bersikap mandiri.

Ia tidak pernah membenci papanya. Ia selalu menyayangi papanya, apapun yang terjadi.

A Lin berjalan menuju pintu dan memutar knopnya. Dengan amat kecewa, anak itu keluar dari kamar Kris dengan wajah yang kusut.

“A Lin sayang papa.”

+++

Anak kecil adalah anak kecil. Mereka juga punya perasaan.

Mereka akan merasa sakit hati kalau orang tuanya sendiri tidak peduli pada dirinya. Sebaliknya, mereka akan merasa senang kalau orang tuanya sangat menyayanginya.

Dan lagi, Kris bukannya tidak menyayangi anaknya. Hanya saja, ia terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri.

Setelah mandi sore, Kris keluar dari kamarnya untuk mengambil soft drink di dalam kulkas. Kemudian ia berjalan menuju sofa, dan duduk di atasnya.

Lagi-lagi, A Lin berjalan menghampirinya dengan selembar kertas gambar berukuran A3 di tangannya.

“Papa, A Lin punya gambar untuk papa,” ujar anak itu dan duduk di sebelah Kris. Ia menunjukkan gambar itu pada papanya.

Di kertas itu ada beberapa gambar seperti seorang laki-laki, seorang perempuan, seorang anak perempuan, sebuah rumah, pohon, mobil, matahari dan awan.

“Ini papa, mama, dan A Lin,” jelas anak itu sambil menunjuk gambarnya. “Ini rumah kita.”

Kris menatap gambar itu dengan wajah datar. Imajinasinya tidak setinggi imajinasi anak kecil.

“Gambar yang bagus,” Kris tersenyum kecut. Anak perempuan di sebelahnya menatap Kris dengan murung. Ia sangat berharap papanya itu bisa membuka sedikittt..saja hatinya untuk dirinya. Walaupun hanya sedikit.

“Papa suka gambar A Lin?” tanya anak itu. Kris hanya mengangguk kecil dan menjawab, “Ya.”

Jawaban yang sangat singkat. Sebenarnya, A Lin mengharapkan jawaban yang bisa membuatnya merasa senang. Bukan jawaban singkat seperti itu.

“Apakah papa sayang A Lin?” tanya anak perempuan itu. Kris terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaan itu.

“Papa, apa papa sayang sama A Lin?” ulang anak perempuan itu. Kris masih terdiam. Sedetik kemudian, dia menjawab, “Ya.”

Tidak ada kata-kata lain selain ‘ya’. A Lin kembali berwajah murung, dan turun dari sofa sambil membawa gambarnya lagi.

“A Lin sangat sayang sama papa.”

+++

Ini sudah waktunya makan malam. Sudah seharusnya seorang papa mengajak anaknya untuk makan malam bersama. Tapi, Kris tidak seperti itu.

Ia berjalan ke dapur, dan mendapati A Lin yang duduk sendirian di depan meja makan sambil menghabiskan makan malamnya.

“Papa, ayo makan malam dengan A Lin,” ajak anak itu. Pikiran Kris kosong. Ia hanya menarik sebuah bangku dan duduk di depan A Lin.

Kris mengambil sebuah piring dan menaruh makanan di atasnya. Kemudian, Kris makan dalam diam. Tidak bicara sama sekali.

Lain dengan A Lin. Anak perempuan itu sangat senang karena akhirnya Kris mau makan bersamanya.

“A Lin sangat senang,” ujar anak itu. Ia tersenyum lebar. “Ini pertama kalinya A Lin makan berdua sama papa.”

Kris tidak menghiraukannya. Dia tetap terdiam dan tidak mau menatap A Lin.

Hal itu bukan masalah bagi A Lin. Yang penting, saat ini ia sedang makan bersama papa kesayangannya.

A Lin sayang papa..

+++

Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.

A Lin sudah tertidur pulas di dalam kamarnya dengan memeluk guling kecilnya. Ia tidak tidur di kamar Kris. Ia selalu tidur sendiri di kamarnya (terkadang ia juga tidur ditemani oleh mamanya).

Oh, Tuhan..

Erangan itu membuat A Lin terbangun dan membuka kedua matanya. Ia menggosok kedua matanya dan berusaha mempertajam indra pendengarannya.

Oh, Tuhan.. Argh..

A Lin tertegun mendengarnya.

Suara itu berasal dari kamar Kris. Suara erangan itu terdengar sangat nyaring. A Lin berjalan keluar dari kamarnya dan berlari menuju kamar Kris.

Beruntung Kris tidak mengunci pintu kamarnya, sehingga A Lin bisa masuk ke dalamnya.

Ia terkejut saat melihat papanya tidak bisa tidur dengan tenang di kasurnya. Laki-laki itu menggeliat di atas kasurnya. A Lin naik ke atas kasur dengan panik.

“Papa, papa kenapa?” tanya A Lin khawatir. Kris tidak menjawab. Ia tetap mendesah hebat dan masih menggeliat di atas kasurnya.

“Ya, Tuhan.. Panas sekali…,” erang Kris.

Setelah mendengar erangan Kris tersebut, A Lin menaruh tangan mungilnya di dahi Kris. Dan ia merasa tangannya seperti disengat api. Suhu tubuh Kris luar biasa panas.

“Oh, Tuhan! Papa demam!” seru A Lin khawatir.

“A Lin, kembalilah ke kamarmu,” perintah Kris. Tatapan matanya sangat sendu.

“Tapi papa sedang sakit,” bantah A Lin.

“TIDURLAH!” bentak Kris. A Lin terkejut mendengarnya. Dengan spontan ia menutup kedua mata dan telinganya. Ia hampir menangis.

“A Lin tidak mau, papa sedang sakit! A Lin mau di sini saja dengan papa.”

Kris tidak menghiraukannya. Hampir setengah jam dia mengerang dan A Lin dengan setia duduk di sampingnya.

“A Lin ke dapur sebentar, pa,” kata anak perempuan itu dan belari kecil keluar dari kamar Kris. Keringat sebesar biji jagungpun membasahi tubuhnya.

Tak lama kemudian, A Lin kembali dengan sebuah mangkuk berisikan air dingin dan sebuah kain kecil di dalamnya. Ia juga membawa segelas susu coklat hangat untuk Kris.

“A Lin mau menyembuhkan papa,” ujar anak itu dan berjalan mendekati Kris. Ia memang anak yang pintar. Ia tahu cara untuk menurunkan suhu badan.

A Lin menaruh mangkuk dan segelas susu hangat itu di atas meja kecil yang terletak di samping tempat tidur.

Ia mengambil kain kecilnya dan sedikit membasahinya dengan air dingin yang ada di dalam mangkuk tersebut. Kemudian ia menaruh kain itu di atas dahi Kris.

“Papa jangan banyak bergerak, ya,” pinta anak itu. Kris hanya menurut. Ia benar-benar merasa tidak enak badan. Sedaritadi ia hanya merasa gelisah.

Selang beberapa menit, A Lin mengambil kain yang ada di dahi Kris dan membasahinya lagi dengan air dingin. Kemudian dia menaruh lagi kain itu di atas dahi Kris.

“Papa cepat sembuh, ya. A Lin tidak mau papa sakit..,” gumam anak perempuan itu menahan tangisnya. Tapi ia tidak kuasa menahan air matanya itu. Ia menangis dalam diam menatap papanya yang tidak bisa tidur itu.

“A Lin.. Kau anak yang baik..,” gumam Kris pelan. Dia tak bisa memungkirinya. A Lin memang anak yang baik. “Kenapa kau sangat baik padaku..”

A Lin menatap papanya dengan tatapan sendunya.

“Itu karena A Lin sayang papa.”

Air mata anak itu mengalir lagi. Dan, A Lin tidak salah lihat. Kris menangis. Ayahnya itu menangis! Seorang Wu Yi Fan yang cuek menangis!

“Papa.. Papa kenapa menangis?” tanya A Lin bingung. Kris menggeleng pelan. Ia tidak mau menatap mata anaknya itu.

“Aku beruntung..”

A Lin menatapnya bingung.

“Aku beruntung karena aku mempunyai anak yang sangat menyayangiku dan sangat perhatian denganku, padahal aku sendiri bukanlah papa yang baik.. Aku nyaris tidak pernah memperhatikan anakku sendiri..”

Air mata A Lin jatuh lagi membasahi wajahnya. Begitu pula dengan Kris, ia masih menangis di hadapan anaknya itu.

“Tidak apa-apa, papa. A Lin tetap sayang sama papa,” ujar A Lin lembut. Ia menghapus air mata di sudut mata Kris. Ya, Tuhan.. Selama ini aku sudah menjadi papa yang jahat untuknya..

“Maafkan papa, A Lin.. Maafkan papa..,” ujar Kris lirih. A Lin tidak peduli. Dia tidak pernah marah pada papanya itu.

“A Lin tidak pernah membenci papa. A Lin tidak pernah marah pada papa. A Lin sangat menyayangi papa.”

Kris tersenyum lembut. Baru kali ini ia melihat papanya itu tersenyum. “Terima kasih, A Lin..”

Tak lama kemudian, suhu tubuh Kris menurun. Ia sudah merasa baik-baik saja. Ia duduk di kasurnya, dan tidak berani menatap mata anaknya itu.

A Lin mengambil segelas susu coklat yang tadi dibuatnya, dan memberikannya pada Kris.

“Ini, A Lin membuatnya untuk papa. Mungkin rasanya sudah tidak hangat lagi tapi—”

It’s okay, dear,” ujar Kris memotong kalimat A Lin. Ia mengambil gelas susu itu dan menenggak isinya sampai habis. Kris menaruh gelas itu di atas meja.

“Terima kasih, A Lin.. Kau anak yang pintar. Terima kasih.. Terima kasih.. Dan maafkan papa karena papa tidak pernah memperhatikanmu.. Maafkan papa..”

A Lin tersenyum hangat.

“Tidak apa-apa, pa. A Lin tidak pernah marah sama papa. A Lin tidak pernah membenci papa.”

Kris menarik anaknya ke dalam pelukkannya, dan ia memeluk anak itu dengan erat seolah tidak mau melepaskan A Lin dari pelukannya.

“Papa sangat menyayangi A Lin.”

Kemudian ia mencium pipi anak perempuannya itu. Sungguh.. Ini benar-benar pertama kalinya A Lin merasa bahagia. Ini baru pertama kalinya ia merasakan hangat di dalam hatinya. Pertama kalinya ia merasakan kasih sayang seorang papa.

“A Lin juga sangat menyayangi papa.”

-FIN-

Hngg.. Gimana ceritanya? ._.

Maapkan saya yang telah membuat karakter kris seperti ini >__< karena tiap saya ngeliat kris, saya selalu memandang dia sebagai orang yang cuek dan dingin ._. dan feel untuk ngebuat versi kris dapetnya yang kayak gini ._.v /sembah sujud di depan kris/

Dan lagi, saya mau ngucapin makasih banyak buat semua readers yang mau ngebaca ff-ff saya sekaligus ninggalin komentar :’3 dan terimakasih buat yang udah ngasih semangat buat saya.. transfer semangat kalian tersampaikan(?) :’) /lebay/ /cuih/ *kecup basah readers via bias masing-masing*

Dan ternyata komen kalian sangat mempengaruhi semangat saya untuk melanjutkan ff exo daddy series ini, semakin banyak komennya, ffnya semakin cepet selesai 😀 sekali lagi makasihhhhhhh >.< *peluk erat*

Kira-kira siapa member exo yang akan jadi next daddy ya? :3

Komen kalian sangat saya tunggu~~~~~ *kiss bye via bias masing-masing*

Advertisements

343 responses to “EXO Daddy Series [3/12] : Heartless Daddy

  1. uh, di awal aku kesel banget sama sikapnya kris! tapi pas ending, aku nangis ;_;
    aduh a lin, sini sama jiejie nak *hug a lin*
    untung dirimu sadar kris, kalo engga aku samperin kerumah kamu! *emang tau rumahnya?* /engga._./ wkwk

  2. Feelnya dpt bngt..
    itu kris kok sgitunya ya._.
    Kasian a lin kan msih kcil, udh dgituin.. Aku nangis bacanya, author hbat deh

  3. tau gk yg sekarang aku rasain saat bc ff ini
    nangis thor ~
    terharu T_T

    menurt ku critanya nyentuh bngt . walau A lin di cuekin ama kris tpi dia gk benci mlh tmbah sayang .
    keep writing thor~
    sukses dah buat aku nangis huhuhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s