[Se Hun’s] Misconception Of The Flower [Part A]

tehun

Cr Poster    : Thanks to Aishita

Title            : 12th part (Se Hun’s) Misconception Of The Flower [Part A]

Author       : fransiskanoorilfirdhausi /@fhayfransiska (soo ra park)

Genre         : Romance, Life, Angst, Friendship, Family

Length       : Chaptered

                   1stpart [Chan Yeol’s] Girl inside The Window

                   2nd part [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

                   3rd part [Kris’] Wedding Pain

                   4th part [Xiu Min’s] Oblivious Summer

                   5th part [D.O’s] Goodbye Tiramisu

                   6th part [Kai’s] Hum on Rainy Day

                   7th part [Chen’s] A Silent Love Song

                   8th part [Su Ho’s] Secret behind Her Eyes

                   9th part [Lu Han’s] Eternal Fullmoon

                   10th part [Lay’s] Unwanted

                   11th part [Tao’s] Sunday Sick

Side Story :

Seo Rin’s Diary : Side Story of [Su Ho’s] Secret behind Her Eyes

Innocence : Side Story of [Chan Yeol’s] Girl Inside The Window

Bad Person : Side Story of [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

Cast            :

  • Oh Se Hun
  • Han Shi Won (OC)
  • Kim Jong In a.k.a Kai
  • Do Kyung Soo a.k.a D.O
  • Xi Lu Han
  • Park Soo Ra (OC)
  • Lee Sung Yeon (OC)

Allo readerdeul semuanya, minta maaf banget karena telat ngepost. T.T

Akhirnya part Se Hun kelar juga meskipun ini baru part 1. Author memutuskan untuk membagi part ini menjadi dua bagian mengingat alurnya yang rumit dan panjaaaaang. Daripada terkesan dipaksakan, lebih baik dibagi dua kan? Daripada banyak bacot, langsung dibaca aja!😄 (cr: nama OC utama di dapet dari drama reply 1997)^^

SANGAT DISARANKAN BACA (ATAU BACA ULANG KALO LUPA) PART D.O, KAI SAMA LU HAN, BIAR TIDAK BINGUNG DAN NYAMBUNG SAMA CERITA DI BAWAH ^^/

This plot and OC are mine, but EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good reader please, don’t forget to give me oksigen (Read-Comment-Like)^^

________

            “Ya Jong In ah, ireona!”

Untuk kesekian kalinya, dengan masih berbisik pelan Se Hun berusaha membangunkan Jong In, namja sekaligus sahabatnya yang tengah tertidur pulas di atas meja berbantalkan sebuah buku literatur tebal itu.

Siang ini kelas mereka menerima materi fisika, cukup membosankan dan membuat kelopak mata menjadi berat sehingga rasa kantuk pun tak lagi bisa dibendung. Se Hun sendiri telah menguap sebanyak 12 kali selama hampir satu jam pelajaran, jumlah yang cukup fantastis, namun namja itu masih sanggup memperkokoh pertahanan dirinya untuk tidak tidur dan mengikuti jejak Jong In membuat pulau di atas literaturnya.

Karena tidur saat pelajaran Park songsaenim adalah kesalahan besar!

Dan Se Hun tidak ingin namanya menjadi semakin buruk di mata Park songsaenim. Sudah cukup tulisan namanya berderet rapi di buku ‘Catatan Kenakalan Siswa’ milik guru fisika yang merangkap wali kelasnya tersebut. Se Hun berada di tahun ketiga masa pendidikannya, tidak lama lagi ia akan segera lulus dan keluar dari sekolah itu. Setidaknya di tahun terakhirnya ini, ia ingin namanya selalu dikenang dan melekat di otak para guru serta seluruh siswa bukan sebagai seorang namja pemalas dan pembuat onar sama seperti Jong In. Yah, meskipun sahabatnya yang satu itu sepertinya sama sekali tidak peduli dengan tetek bengek seperti ‘predikat baik’ dan ‘lulus’. Ckckck.

“Ya! Bangun Jong In ah!” Se Hun berseru pelan, kali ini sambil melemparkan gumpalan-gumpalan kertas kecil ke wajah Jong In yang sayangnya masih tak berkutik itu. Se Hun mendesah kesal. Benar-benar, kalau tidur, Jong In akan seperti orang yang sudah mati!

Namun nyatanya Se Hun sangat peduli pada namja berkulit tan itu, ia tak kunjung berhenti berusaha membangungkan Jong In.

Se Hun menoleh ke bangku Jong In lagi, “Jong In ah, bangun! Atau kalau tidak Park songsaenim akan …”

“OH SE HUN! Apa yang sedang kau lakukan, hah!?”

Se Hun tersedak ludahnya sendiri dan spontan menoleh cepat ke arah depan begitu telinganya menangkap suara menggelegar milik Park songsaenim yang khas. Tanpa Se Hun sadari, Jong In yang sedari tadi larut dalam dunia mimpinya pun secepat kilat bangun dan langsung menegakkan tubuhnya. Kedua mata namja itu kini telah sepenuhnya terbuka, mungkin saking terkejutnya oleh teriakan guru fisika yang—sangat—memekakkan telinga itu.

Terlihat di depan sana, Park songsaenim menggelengkan kepalanya pelan. Se Hun sendiri hanya bisa menelan ludah begitu melihat wajah gurunya itu yang kini tampak seolah-olah ingin menerkam dan memangsanya. Gawat, gawat, gawaaaatttt, batinnya.

“Sedari tadi saya perhatikan, nampaknya kau sibuk dengan urusanmu sendiri, Oh Se Hun.”

Perkataan bernada dingin yang dilontarkan pria paruh baya bermarga Park itu langsung membuat Se Hun bergidik ngeri. Nadanya mengintimidasi. “Ah, anu songsaenim, saya tadi hanya … ehm.. hanya membangunkan Jong In.” Se Hun tampak kehabisan kata-kata, sementara Jong In menolehkan kepalanya cepat ke arah Se Hun seraya memelototkan kedua matanya, merasa terkhianati.

Park songsaenim mengangkat sebelah alisnya, menerka-nerka kebohongan yang mungkin terselip di perkataan Se Hun. “Jangan berbohong, Oh Se Hun! Kau lihat sendiri kalau Kim Jong In kini tengah terjaga sepenuhnya.”

Se Hun memutar kepalanya cepat ke samping, tempat di mana Jong In berada. Alangkah terkejutnya dia begitu mendapati Jong In kini telah bangun seraya meringis jahil padanya, memamerkan kerapian sebaris gigi putihnya. Se Hun langsung menepuk kepalanya pelan, mati kutu. Sial!

“Benar bukan? Kalau begitu sebagai hukumannya, sekarang juga kau harus keluar dari kelas ini dan baru boleh kembali ketika pelajaran saya berakhir. Mengerti?!” tegas Park songsaenim.

“Ta.. tapi Park songsaenim, saya …” Se Hun masih berupaya berkilah.

“Tidak ada tapi-tapian! Sekarang, Oh Se Hun!”

Se Hun mendesah pelan. Baik, ia menyerah. Kalau sudah begini ceritanya, tidak ada yang lebih baik selain menuruti apa kata guru fisika itu sebelum semuanya menjadi lebih runyam. Se Hun beranjak dari tempat duduknya. Ia melihat sebentar ke arah Jong In yang tengah mengangkat tangannya membentuk tanda ‘peace’.

Sialan, ini benar-benar tidak adil!

________

            Se Hun sedikit terjengkang ke depan begitu seseorang mendorong bahunya cukup keras. Namja berekspresi datar itu langsung membalik tubuhnya cepat dan mengernyit tidak suka. Namun ekspresinya berubah menjadi kaget begitu melihat siapa yang baru saja mendorongnya.

“Jong In!?”

Namja yang dipanggil Jong In itu hanya meringis dan memasang wajah polos tanpa dosa. “Kenapa keluar?” tanya Se Hun kemudian dengan nada heran.

Jong In terlihat menimang-nimang kata-katanya, kemudian memasang wajah secuek mungkin seraya mengedikkan bahunya sekali, “Kan yang seharusnya dihukum adalah aku. Jadi, aku keluar kelas untuk menemanimu.”

Se Hun tertegun agak lama dan berpikir. Well, ia tahu benar Jong In memang setia kawan. Se Hun lantas tertawa remeh, “Jadi kau berpikir aku akan menangis meraung-raung kalau harus menerima hukuman sendirian?”

Tawa pelan menguar dari mulut Jong In, namja itu lantas meletakkan lengannya di bahu Se Hun, “Hei, kau tahu sendiri kalau aku tidak bisa jauh-jauh darimu kan?” kata Jong In dengan nada menggoda sementara Se Hun bergidik sendiri mendengarnya.

“Mianhae Jong In ah, tapi aku masih normal.”

“Aku juga, bodoh!” balas Jong In tidak mau kalah.

Sesaat kemudian keduanya tertawa keras. Meramaikan lorong kelas yang sepi karena jam pelajaran yang belum juga berakhir itu.

Se Hun dan Jong In sudah lama bersahabat, keduanya telah saling mengenal baik satu sama lain. Se Hun sangat mengerti bagaimana pribadi seorang Kim Jong In, begitu pun sebaliknya. Dari luar, Jong In memang terlihat seperti berandalan yang semrawut dan tidak bisa diatur, namun jauh di dalamnya namja itu adalah pribadi yang kuat dan tegar. Jong In kerap kali berbuat onar di sekolah, seperti membakar kertas ujian hingga menimbulkan polusi udara di seluruh sekolah, menyembunyikan sepatu kulit baru milik Park songsaenim dan masih banyak lagi yang lain.

Di luar itu, Se Hun dan Jong In adalah dancer terbaik di sekolah mereka. Keduanya sama-sama menaruh minat yang besar terhadap bidang tari modern. Tak jarang keduanya memenangkan berbagai kontes yang diadakan baik di dalam maupun luar kota. Hal itu membuat keberadaan keduanya tidak selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Malahan, Jong In dan Se Hun berada dalam golongan anak-anak populer di sekolah mereka, terutama di kalangan yeoja.

Namun belakangan ini, Jong In mengaku dirinya cedera dan memutuskan untuk rehat sejenak dari kegiatan menarinya. Hal itu menimbulkan tanda tanya besar dalam benak Se Hun. Namja itu terus berusaha mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya, namun Jong In tak pernah berkenan memberitahukannya. Entah kenapa.

Satu hal yang selalu melekat dalam otak Se Hun. Kendati Jong In adalah pembuat keributan dan mungkin menyembunyikan sesuatu di belakangnya, Jong In adalah sahabat yang baik. Terbaik.

“Bagaimana dengan gadis yang kau ceritakan padaku waktu itu? Kau sudah mengajaknya berkenalan?”

Se Hun berhenti menyeruput jus jeruknya tiba-tiba, membuatnya sontak tersedak. Ia tidak menyangka Jong In akan mengganti pembicaraan seru mereka lalu bertanya hal demikian. “Maksudmu?”

Keduanya kini tengah berada di kantin yang terletak cukup jauh dari ruang kelas. Kantin sangat sepi dan hanya nampak segelintir siswa di sana. Jong In menghembuskan napasnya pelan, menurutnya Se Hun kini tampak seperti orang bodoh. Memakai alasan pura-pura bingung dengan pertanyaannya sebagai upaya untuk menghindar. “Gadis yang kau ceritakan seminggu yang lalu itu! Ayolah jangan pura-pura lupa begitu Se Hun ah!”

Se Hun mengerucutkan bibirnya lalu mendengus. Skak mat! Jong In tahu benar dirinya, tahu benar kalau ia tengah berpura-pura lupa. Sialan kau Kim Jong In! teriak Se Hun dalam hati.

“Tidak. Dan tidak akan.” jawab Se Hun sekenanya.

Jong In berhenti mengunyah pockynya yang tinggal setengah lagi akan habis, “Eh, kenapa?”

Se Hun tidak segera menjawab pertanyaan namja yang duduk berhadapan dengannya, ia hanya mengaduk-aduk jus jeruknya pelan, entah apa yang kini berputar di otaknya. Melihat hal itu, Jong In hanya menggeleng, tidak habis pikir dengan sahabatnya yang menurut asumsinya memiliki kepercayaan diri di bawah rata-rata itu, terutama untuk hal yang berhubungan dengan lawan jenis.

“Hei, kalau kau enggan mendekatinya karena takut dia tidak nyaman dengan kepribadianmu, itu hal yang mudah. Kau tinggal hapus image cool dari dalam dirimu. Mulai saat ini, jangan terlalu dingin pada yeoja. Asal kau tahu, yeoja-yeoja di sekolah ini menganggapmu lebih dingin daripada lemari es, wahai Oh Se Hun!”

Kekehan pelan terdengar dari mulut Se Hun, dalam hati namja itu membenarkan apa yang baru saja dikatakan Jong In dengan menggebu-gebu padanya. Skak mat lagi. Lagi-lagi benar. Se Hun mulai berpikir apakah Jong In adalah seorang cenayang, habisnya namja itu selalu bisa dengan mudah menebak apa yang sedang ia pikirkan. Seperti yang baru saja terjadi. Hebat! Harusnya Jong In buka stan meramal saja di sekolah, pasti laris!

“Kalau kau tidak segera bertindak, ada banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi. Kau mau gadis pujaanmu itu keduluan diambil orang lain?”

Se Hun sontak berhenti mengaduk jusnya dan diam seketika, namja itu mengangkat wajahnya dengan alis berkerut kemudian menatap lekat-lekat sepasang manik kehitaman milik Jong In. Entah kenapa, ia sangat tidak suka mendengar gagasan yang baru saja Jong In lontarkan padanya. Meskipun hal itu lebih kepada sebuah kemungkinan, siapa yang bisa menjamin hal semacam itu tidak akan terjadi?

Jong In tersenyum lebar, senang karena akhirnya Se Hun kini tampak mulai tertarik pada kata-katanya. Ckck, mudah sekali anak ini dipancing, batin Jong In puas. “Atau mungkin yeoja itu hampir memiliki pacar? Hampir ditunangkan? Bagaimana kalau seandainya yeoja itu diam-diam juga menyukaimu? Bagaimana kalau …bla..bla..bla..”

Jong In terus saja mengoceh. Sementara Se Hun sendiri mulai was-was dan tengah merancang dalam hati apa saja yang harus ia perbuat agar segala kemungkinan yang dikatakan Jong In itu sama sekali tidak benar adanya.

Kali ini Se Hun berharap semoga Jong In bukan benar-benar seorang cenayang!

________

            Senja mulai merayap pelan-pelan, melukiskan semburat berwarna oranye kemerah-merahan yang melebur bersama warna biru langit. Matahari mulai bergerak perlahan, kembali ke peraduannya di ufuk barat. Kebanyakan orang bilang senja itu indah, apalagi kalau dilihat bersama dengan orang terkasih. Benar, memangnya siapa yang bisa menolak untuk menyukai lukisan Tuhan yang amat menakjubkan itu?

Namun ternyata tidak semua orang menikmati senja yang kini mewarnai langit kota Seoul itu. Salah seorang di antaranya bernama Oh Se Hun, namja yang tengah mengayuh sepedanya kuat-kuat menembus keramaian di jalanan ibukota itu. Malam yang semakin dekat, lampu-lampu jalan yang tengah berlomba-lomba dihidupkan, serta kendaraan yang terus-terusan berlalu lalang tidak membuat ambisi namja itu untuk secepatnya sampai di kota tetangga berkurang sedikitpun. Biarpun telah bermandikan peluh, nampaknya Se Hun masih belum ingin berhenti sejenak sekedar untuk mengembalikan tenaganya atau menikmati langit sore yang sedang berada di saat terindahnya itu. Karena saat ini yang berada dalam otaknya hanya satu, sesegera mungkin sampai di kota Chuncheon sebelum hari terlalu larut.

Apakah ada yang bertanya-tanya untuk apa Oh Se Hun pergi ke kota tetangga?

Jawabannya hanya satu, yaitu menemui seseorang untuk memastikan bahwa apa yang dikatakan Jong In di kantin tadi siang bukanlah kenyataan dan hanya sekedar pengandaiannya belaka. Sebenarnya, Se Hun bukan tipe orang yang terlalu mudah tersulut seperti yang dipikirkan Jong In. Hanya saja, pemandangan yang beberapa hari lalu ia lihat benar-benar membuat Se Hun nyaris membenarkan perkataan sahabatnya itu.

Di kota Chuncheon, tepatnya di daerah perbatasan antara Chuncheon-Seoul terdapat sebuah toko bunga, Forsetta Florist namanya. Dan di sanalah tempat seorang yeoja—yang belum Se Hun ketahui namanya sampai sekarang—bekerja. Sejauh ini, Se Hun memang hanya memandangi yeoja itu dari kejauhan, ia tidak pernah berniat mengajaknya berkenalan atau mungkin sekedar menunjukkan dirinya di hadapan si yeoja. Ia merasa cukup hanya dengan memandanginya.

Melihat yeoja itu menyirami setiap tanaman yang berada di toko itu dengan penuh semangat, bagaimana cara yeoja itu merangkai macam-macam bunga menjadi sebuah bucket bunga yang cantik, ketika yeoja itu menyapa ramah setiap pembeli yang masuk, cara yeoja itu tersenyum dan tertawa. Tidak jarang pula yeoja itu terlihat mengomel sendiri ketika serangga-serangga pengganggu mulai hinggap di bunga-bunga di tokonya. Yeoja itu bukan pesolek, terlihat dari gaya berpakaiannya yang cenderung seenaknya, ia juga kerap kali menguncir rambutnya dengan asal, menyisakan beberapa helai rambutnya tergerai.

Tapi Se Hun menyukai itu semua. Karena yeoja itu, anggun dan indah dengan caranya sendiri.

Sayangnya beberapa hari yang lalu, yeoja itu tidak lagi sendirian seperti yang biasa Se Hun lihat. Yeoja yang selalu menggelung rambutnya asal itu tengah bercakap-cakap dengan seorang namja, lama. Keduanya terlihat betah berlama-lama dan meskipun Se Hun tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, bisa dipastikan kalau keduanya larut dalam pembicaraan yang menyenangkan hingga lupa waktu.

Se Hun memang bukan siapa-siapa bagi si yeoja, mereka tidak saling mengenal, bahkan si yeoja sama sekali tidak tahu keberadaan Se Hun. Tapi, rasa kesal dan marah yang meluap-luap ketika melihat pemandangan seperti yang tersebut di atas bukan sebuah kesalahan, kan? Se Hun tidak berdosa jikalau ia merasa cemburu bukan?

Beberapa hari terakhir, Se Hun berusaha untuk tidak memikirkannya dan mulai kembali menyibukkan diri dengan ujian yang semakin dekat. Ia akan bisa konsenterasi mempersiapkan ujian kalau saja Jong In tidak mengatakan hal seperti tadi siang. Segala kemungkinan yang dilontarkan namja itu, serta pemikiran kolot Se Hun soal Jong In yang menurutnya adalah seorang cenayang—yang selalu berkata benar soal dirinya—membuatnya memutuskan untuk segera bertindak dan memastikan. Ia tidak bisa tinggal diam. Se Hun berharap semoga ia tidak terlalu terlambat dan bodoh dalam mengambil keputusan.

Kali ini untuk pertama kalinya, Oh Se Hun berjuang keras memperjuangkan hatinya.

Toko bunga itu kini telah terlihat oleh sepasang manik kecoklatan yang berkilat milik Se Hun. Diam-diam namja itu mendesah lega dan tersenyum. Tinggal beberapa kayuhan lagi dan ia akan segera mendapat jawaban soal pertanyaan yang sedari tadi menggantung dan melayang-layang di otaknya.

________

            Han Shi Won bangkit dari tempat duduknya setelah menata ulang berkas-berkas yang berserakan di meja, ia berjalan menuju pintu depan dan baru berniat untuk menutup tokonya karena hari sudah larut ketika suara derap langkah kaki yang berat terdengar menusuk di telinganya. Malas menerka-nerka, yeoja itu lantas merajut langkahnya lebih cepat. Ia spontan terpekik kaget begitu melihat dua orang berbadan besar dengan lengan bertato—khas preman—kini telah berada di dalam toko bunganya. Keduanya memandang Shi Won dengan tatapan dan senyum penuh kemenangan.

“Nona Han, kami datang.” ujar salah seorang dari kedua namja itu dengan suara serak dan dalam. Suara yang mampu membuat Han Shi Won kesusahan menelan ludahnya sendiri.

“Seperti biasa. Kami selalu datang dengan tujuan yang sama.”

Baik. Shi Won tahu itu, tidak perlu namja-namja itu jelaskan lebih jauh. Shi Won tahu benar apa yang diinginkan dua orang namja itu darinya. Dan apabila ia memberikannya saat ini, bisa dipastikan mereka akan sesegera mungkin pergi dari tokonya kemudian ia bisa kembali tenang. Tapi sayangnya, ia sedang tidak punya itu sekarang. Itu artinya …

“Maaf. Aku belum bisa melunasinya sekarang. Toko sedang sepi, jadi ..”

“Kau tahu bos kami sama sekali tidak menerima alasan, Nona Han.”

Sekali lagi, hawa dingin menyeruak masuk dan membekukan ucapan Shi Won. Yeoja itu menunduk dan terdiam. Well, memang apa yang bisa ia lakukan di saat seperti ini? Memohon-mohon pada Tuan Shin agar memperpanjang waktu tenggatnya? Atau bahkan meminta namja-namja yang kini berdiri angkuh di depannya untuk membantunya?

Shi Won mendesah keras. Oh ayolah, memangnya tidak ada pilihan yang lebih baik untuknya selain dua di atas?

“Tapi mungkin kali ini kami bisa membantumu, Nona.”

Sontak Shi Won mengangkat kepalanya begitu sederet kalimat yang ia harapkan sedari tadi menguar dari mulut seorang namja bertato itu. Mungkinkah Tuhan baru saja mendengar doanya ataukah dua orang di depannya itu memang seorang mind-reader?

Namun Shi Won terpaksa menarik kata-katanya barusan karena begitu ia mengangkat kepalanya, yang ia dapat hanyalah seringai penuh kemenangan. Lagi. Dan dalam sekejab perasaannya diliputi perasaan tidak enak. Ini firasat buruk.

“Ketahuilah, kami berdua punya cukup banyak uang. Dan mungkin bisa melunasi setengah hutangmu pada Bos Shin. Tapi, tentu saja ada imbalan untuk kami.”

Shi Won tidak ingin mendengar kelanjutan perkataan dari kedua namja itu, ia mulai melangkah mundur, sedikit banyak memperlebar jaraknya, berusaha membuat dirinya aman.

“Serahkan tubuhmu pada kami dan semua akan selesai, Nona Han.”

Buruk. Benar-benar buruk.

Shi Won baru hendak berlari menjauhi kedua namja itu, namun yeoja itu kalah cepat. Dalam tempo singkat lengan kurusnya telah teraih, dicengkeram kuat kemudian tubuhnya terdorong dengan keras ke lantai. Ia meringis menahan sakit. Namun belum sempat Shi Won membenarkan posisinya, salah seorang dari kedua namja itu menekan bahunya agar ia tetap berbaring di lantai. Bahkan salah seorangnya lagi mulai mencengkeram kerah kaus putihnya, berusaha merobeknya.

Takut. Takut luar biasa. Shi Won merasakan itu semua sekarang. Air matanya tidak sanggup lagi tertahan ketika kedua pria itu berhasil merobek kausnya, keduanya tertawa keras, seolah-olah baru saja mendapat apa yang selama ini diinginkan. Keduanya menyentuh lekuk-lekuk tubuh Shi Won dengan seenaknya, sementara yeoja itu hanya bisa meronta-ronta berusaha melepaskan belenggu yang kedua namja itu buat kepadanya.

Buruk. Sangat buruk.

“Hen.. hentikan! To .. tolong!” teriak Shi Won di sela-sela isak tangisnya. Tolong, jangan biarkan sesuatu terjadi padanya. Jangan sampai .. Tidak!

BUAAGHHH!!

Semua terjadi begitu cepat kala sentuhan namja-namja hidung belang itu terlepas paksa dari tubuhnya. Sempat terdengar suara pukulan keras sebelum ini, dan kemudian disusul oleh suara teriakan seseorang.

“Ya! Apa yang kau lakukan padanya!?”

BUAGGHH!!

Satu pukulan lagi-lagi terdengar.

Masih larut dalam tangisnya, Shi Won memeluk tubuhnya erat berusaha menutupi bagian atas tubuhnya yang hanya berbalut kaus dalam tipis. Yeoja itu terlihat benar-benar seperti kelinci ketakutan. Air matanya tak kunjung berhenti menggenang.

“Siapa kau!? Seenaknya saja masuk kemari!”

Terdengar suara pukulan lagi. Pun terdengar suara namja-namja brengsek itu yang tak hentinya memaki-maki. Tampaknya sedang ada perkelahian hebat di sini. Antara kedua namja hidung belang dengan seseorang yang tidak pernah Shi Won temui sebelumnya. Terus-terusan terdengar suara teriakan dan pukulan bertubi-tubi. Shi Won tidak suka mendengarnya.

Seraya menggigit bagian bawah bibirnya Shi Won melirik sebentar, ingin tahu dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi di dalam toko bunganya. Dan kini terpantul samar-samar di kedua manik hitamnya, tokonya yang berantakan karena pot bunga yang berjatuhan, tanah-tanah berceceran di lantai, beberapa bunga bahkan telah tertimpa tubuh besar milik salah satu namja brengsek itu.

Ya, dilihatnya dua namja berbadan besar itu telah tumbang sekarang.

Shi Won mengangkat wajahnya kemudian mendapati seorang namja dengan ujung bibir sobek dan sedikit mengeluarkan darah serta bernapas tersengal-sengal di sana. Bertubuh tinggi, bersurai kecoklatan dan memiliki kulit seputih susu. Ia tidak mengenalnya, ia yakin sekali tidak pernah melihat namja itu sebelumnya. Tapi namja itu adalah penolongnya. Penyelamat hidupnya dari kedua namja suruhan Tuan Shin itu.

Namja penolong itu menoleh ke arah Shi Won. Waktu serasa terhenti sesaat ketika pandangan keduanya saling bersirobok satu sama lain. Awalnya keduanya masih diam hingga akhirnya namja penolong itu mulai memenggal jarak antara dirinya dengan Shi Won yang masih meringkuk dengan tatapan sulit diartikan. Dengan sangat hati-hati.

“Ah… neo gwenchanayo?” tanya namja itu datar. Tidak terdengar nada dalam suaranya. Dingin.

Shi Won berusaha menstabilkan dirinya, ia baru hendak menjawab ketika sudut matanya melihat salah seorang dari namja brengsek yang semula tergeletak di lantai itu bangkit. Membawa sebuah pot besar, berjalan tertatih menuju si namja penolong kemudian mengangkat pot bunga itu tinggi-tinggi tepat di belakang kepala si namja penolong.

Kedua mata Shi Won membulat, “Di belakangmu, AWASS!!”

DUAAKK! PRANGG!

Terlambat.

________

            Kepalanya sakit.

Seluruh tubuhnya sakit dan menolak untuk digerakkan. Bahkan kelopak matanya terasa berat sekali kala ia mencoba membukanya perlahan. Bau-bauan antiseptik menusuk-nusuk hidungnya, seolah-olah memaksanya untuk sesegera mungkin terjaga.

“Ka.. kau sudah bangun?”

Suara seorang yeoja membuat pandangannya yang semula menatap langit-langit putih polos teralihkan. Ia mengernyit begitu kedua matanya menangkap sosok seorang yeoja yang kini menatapnya sarat kecemasan.

Ia—Oh Se Hun—mengerjapkan matanya agar pandangan samarnya terlihat lebih jelas, lalu berusaha bangkit dengan susah payah. Namun dengan cekatan, yeoja itu menghalanginya. Menahannya agar tetap berbaring. “Hajima. Kau lebih baik berbaring sekarang.”

Se Hun menoleh cepat ke arah tangan si yeoja yang kini menggenggam erat pergelangan tangannya. Dalam sekejap muncul desiran-desiran aneh di dada Se Hun, membuat namja itu lekas-lekas menarik tangannya. Namun di saat yang sama, ia turut meringis ketika kepalanya lagi-lagi terasa sakit. Se Hun langsung memijit pelipisnya seraya terpejam rapat.

“Ya.. ya.. neo gwenchanayo?”

Suara cemas yeoja itu lagi-lagi terdengar. Dengan masih memegangi kepalanya yang sakit, Se Hun bertanya dengan nada dingin, “Ka.. kau … siapa? Ini di …mana?”

Yeoja bersurai cokelat itu sontak membulatkan kedua matanya, nampak terkejut dan tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Kemudian mulutnya bergerak-gerak seolah-olah ingin berucap namun tak ada satupun yang terdengar.

Tiba-tiba pintu ruangan serba putih itu terbuka, sesosok dokter muncul dari baliknya, membawa serta seorang perawat wanita di belakangnya. Kedua alis dokter itu terangkat begitu mendapati pasiennya kini telah sadar. Ia baru akan mendekati ranjang pasiennya itu ketika yeoja bersurai cokelat yang semula duduk di samping sang pasien kini berlari tergopoh-gopoh ke arahnya.

“Tolong dokter, sepertinya terjadi sesuatu pada kepalanya. Dia tidak bisa mengingat apapun!” kata si yeoja dengan sarat nada ketakutan. Ia terlihat nyaris menangis.

Sementara Se Hun yang masih duduk di ranjangnya bisa melongo ketika yeoja yang belum ia ketahui namanya itu berkata bahwa dirinya mengalami amnesia. Hilang ingatan.

Padahal kenyataannya? Ia tidak! Tidak, tidak dan tidak!

Ia masih bisa mengingat dengan jelas kejadian apa yang membuatnya terbaring di rumah sakit seperti ini. Ia juga masih ingat tujuannya menemui yeoja itu. Hei, bagaimana bisa yeoja itu mengira ia mengalami amnesia?

Sang dokter langsung berjalan mendekati Se Hun, sementara si yeoja masih terus saja mengoceh, wajahnya terlihat—terlalu—cemas. “Tadi dia bertanya siapa saya. Dia juga bertanya dia berada di mana sekarang!” tambah si yeoja seraya menggigit bagian bawah bibirnya.

Ya, bukan begitu! Maksud Se Hun, ia ingin bertanya siapa nama si yeoja. Lagipula jelas saja ia bertanya, ia kan tidak mengenal yeoja itu! Ia juga hanya ingin bertanya ada di rumah sakit mana ia sekarang, bukan ia berada di mana. Aiisssh!

Se Hun ingin sekali berkata demikian, namun ujung bibirnya yang terluka membuatnya merasa kesakitan tiap kali berbicara. Jadi, ia memutuskan untuk diam.

Hanya diam dan membiarkan kesalahpahaman ini terus berlanjut.

________

            “Maaf karena aku membawamu pulang. Seharusnya kau lebih lama berada di rumah sakit untuk pengobatan lebih lanjut. Tapi …” Han Shi Won tidak melanjutkan kata-katanya, ia hanya meremas-remas tangannya sendiri. Terang saja, bagaimana bisa ia mengatakan ketidaksanggupannya membayar biaya rumah sakit hingga membuat namja penolongnya itu terpaksa ia rawat sendiri di rumah?

Sementara, sudah tentu namja yang kini duduk tepat di depannya itu merupakan tanggungjawabnya kan. Dokter mengatakan kepalanya memang terluka, tapi Shi Won tidak sampai menyangka namja itu benar-benar mengalami hilang ingatan.

“Aku tidak tahu namamu. Kau juga tidak membawa ponsel atau apapun bersamamu. Dan aku tidak bisa menghubungi keluargamu ataupun temanmu. Jadi, untuk sementara …” Shi Won menahan napas ketika namja yang duduk di depannya itu spontan mengangkat wajahnya kemudian menatap Shi Won dengan sepasang matanya yang dingin. Yeoja itu menelan ludah, “Untuk sementara, kalau kau mau, kau bisa tinggal dulu di rumahku ini.”

Sungguh berat sebenarnya mengatakannya. Shi Won takut namja itu akan mengiranya yang tidak-tidak. Lagipula hanya tinggal berdua di rumahnya yang kecil seperti ini … rasanya aneh.

Tidak terdengar jawaban. Keduanya larut dalam kecanggungan yang mencekam. Hingga kemudian, Shi Won yang pada dasarnya tidak bisa diam lantas memperkenalkan dirinya, “Namaku Han Shi Won.” katanya sambil tersenyum semanis mungkin. “Aku sangat berterima kasih padamu karena telah menolongku.”

Han Shi Won. Han Shi Won, catat Se Hun dalam hati.

Tiba-tiba dering ponsel terdengar, ponsel Shi Won. Dengan tanggap, yeoja itu langsung merogoh kantung celananya. Ia membuat gesture ‘aku akan segera kembali’ lewat gerakan mulutnya dan beranjak, meninggalkan Se Hun yang sebelumnya telah mengangguk mengiyakan.

Sembari menunggu Shi Won kembali, Se Hun mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat di mana ia berada sekarang, rumah Shi Won. Perabotan yang sederhana namun tertata rapi, di sudut-sudut selalu terdapat satu dua tanaman hias, meja berkaki pendek terletak di tengah-tengah ruangan, jendela berderet dengan kelambu yang sudah usang namun ditata dengan baik. Dekorasi yang indah kendati ruangan itu tidak terlalu luas.

Samar-samar—setelah dirasa puas melihat-lihat—Se Hun iseng mendengarkan Shi Won yang tengah bertelepon. Entah dengan siapa. Dipasangnya telinganya setajam mungkin, mengabaikan sebuah gagasan bahwa ‘menguping itu tidak baik’.

“Maafkan saya Tuan Shin, saya janji akan membayarnya, saya janji. Tapi tolong berikan saya waktu.” Shi Won terdengar tengah berdebat dengan seseorang di seberang. Dan walaupun yeoja itu tengah memunggunginya, dari cara yeoja itu bertutur Se Hun yakin sekali kalau Shi Won tengah menahan tangis, “Tolong, toko ini satu-satunya adalah peninggalan orang tua saya. Tolong Tuan Shin, jangan ambil toko saya!”

Siapa? Siapa Tuan Shin? Batin Se Hun bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada toko bunga ini? Kalau berdasarkan pembicaraan sebelumnya, apakah ini masalah hutang piutang?

“Baik, saya akan membayar biaya rumah sakit keduanya. Saya sungguh minta maaf karena membuat mereka terluka.”

Kening Se Hun berkerut. Dua orang? Maksudnya dua orang yang waktu itu? Se Hun berpikir-pikir agak lama hingga pikirannya sampai pada satu kesimpulan. Han Shi Won tengah dikejar-kejar seorang penagih hutang. Penagih hutang itu sampai mengirimkan dua orang anak buahnya untuk memaksa Shi Won melunasi hutangnya. Namun karena Shi Won tidak bisa melunasinya, mereka berdua lantas bertindak tidak senonoh pada yeoja itu.

Tangan Se Hun sontak terkepal erat dan dinding di sampingnya langsung jadi pelampiasan. Ia memukul dinding tanpa dosa itu dengan penuh amarah, tidak peduli sekalipun hal itu membuatnya sakit. Dadanya naik turun dan napasnya memburu. Se Hun sangat tidak terima dengan segala hal yang terjadi pada yeoja itu, pada Han Shi Won. Dua namja brengsek itu dengan seenaknya hampir menodai yeoja itu, membuat Shi Won menangis ketakutan, serta beraninya memukul Se Hun dari belakang hingga ia terluka. Keterlaluan sekali. Dan kali ini mengapa malah Shi Won yang harus minta maaf sekaligus mengganti biaya rumah sakitnya? Sebegitu menakutkannyakah sosok seorang Tuan Shin? Seperti apakah dia? Lalu ke mana perginya orang tua Shi Won? Se Hun sungguh penasaran.

Se Hun meraba perban yang melapisi hampir seluruh permukaan kepalanya. Rasa sakitnya masih sangat terasa. Pemuda itu mengerang pelan dan sontak menggigit bibirnya agar tidak bersuara ketika menyadari bahwa Han Shi Won telah mengakhiri pembicaraannya dan kini tengah berjalan kembali ke tempatnya berada.

Terlihat sekali, air muka yeoja itu yang kusut dan matanya yang sembab. Namun anehnya, ia kini tersenyum menatap Se Hun. Seolah berusaha mengubur dan menyembunyikan dalam-dalam permasalahan yang kini tengah ia dera jauh di dalam hatinya. “Maaf. Aku terlalu lama ya.”

Han Shi Won tersenyum padanya. Tulus.

Sesuatu di dalam hatinya berdesir hebat, membuat Se Hun merasa aneh. Dan entah mengapa, langsung terbersit di dalam otak Se Hun sebuah gagasan, bahwa ia ingin melindungi senyuman itu. Dan itu artinya sekarang ia harus melakukan sesuatu.

“Oh iya, aku akan memasak untuk makan malam. Kau tunggu di sini, ya!” Han Shi Won berbalik menuju dapur sementara kepergiannya ditatap lekat-lekat oleh Se Hun. Namja itu menghela napas keras.

Well. Sebuah ide gila tiba-tiba tercetus di dalam otak Se Hun.

Baik, Se Hun sudah memutuskan bahwa mulai saat ini Se Hun akan melindungi Shi Won dari dekat. Lagipula tidak ada yang bisa menjamin anak buah Tuan Shin tidak akan datang lagi dan mencelakai Shi Won bukan? Se Hun akan membiarkan kesalahpahaman ini terus berlanjut, sebagai alasan untuknya tetap berada di sini, di rumah Han Shi Won.

Biarlah Shi Won anggap bahwa dirinya benar-benar mengalami amnesia.

________

            Well organized. Semua sudah ia persiapkan dengan baik.

Keluarga. Tidak masalah, appa dan eommanya jarang berada di rumah. Yang perlu dikhawatirkan adalah noonanya, Hyun Young. Pasti yeoja itu akan cemas setengah mati karena adik satu-satunya ini tidak pulang ke rumah. Oleh karena itu Se Hun meminta bantuan Hong Ahjumma—pengurus rumah tangga di keluarganya—untuk meyakinkan noonanya bahwa ia benar-benar menginap di rumah Jong In selama beberapa waktu ke depan. Kalaupun  Hyun Young masih tidak percaya, Se Hun masih punya Kim Jong Dae—kekasih noonanya—untuk dimintai bantuan.

Sekolah. Ujian masih lama, ada waktu beberapa bulan lagi hingga hari ujian itu tiba. Se Hun pikir ia masih punya waktu, meski tidak banyak. Ia juga sudah meminta bantuan orang tua Jong In untuk membuat keterangan palsu soal dirinya yang pergi ke luar negeri sehingga nantinya tidak akan ada yang bertanya-tanya tentang tidak hadirnya ia. Beruntung ia sangat dekat dengan keluarga Jong In. Ia hanya bisa berdoa semoga keluarga Jong In tidak menceritakan perihal semua ini pada Appa dan Eomma Se Hun nanti.

Jong In. Namja yang satu ini benar-benar cerewet dan tega mengatainya bodoh (plus gila tentunya). Ia sangat khawatir hingga memaksa Se Hun untuk membolehkannya bertemu Se Hun, namun Se Hun menolaknya dengan alasan takut ketahuan Shi Won. Jong In juga tidak habis pikir dengan Se Hun yang benar-benar nekad membuat rencana sedemikian rupa. “Masalahnya bukan masalahmu, Se Hun. Pulanglah dan pikirkan masalahmu sendiri.” begitu yang selalu Jong In dengungkan ketika Se Hun diam-diam menghubunginya lewat telepon umum, tentunya tanpa sepengetahuan Shi Won. Tapi, biarpun apa yang dikatakan Jong In benar, hal itu tetap tidak bisa membuat Se Hun lantas masa bodoh dengan permasalah Han Shi Won. Ia tidak bisa hanya diam begitu saja.

Hari ini adalah hari ketiga Se Hun tinggal di rumah Han Shi Won. Yeoja itu merawatnya dengan sangat baik. Memberinya makanan yang enak dan tempat tidur yang layak. Kendati rumah itu didesain untuk keluarga kecil yang hanya memiliki dua buah kamar dan sebuah kamar mandi, namun anehnya tempat itu terasa hangat dan nyaman. Terlebih karena ada Han Shi Won yang sudah lama Se Hun kagumi, keberadaan yeoja itu seolah merupakan penyempurna hidupnya.

“Benar tidak apa-apa kan kalau aku memintamu menjaga toko ini sebentar, hmmm … Mi Ja-ya?” kata Shi Won dengan hati-hati seolah-olah takut Se Hun menolak nama pemberiannya itu. Namja itu hanya mengangguk dengan senyum kecil. Dan ia yakin sekali kalau Han Shi Won pasti hanya menangkap wajah datarnya, bukan senyum, karena setelahnya yeoja itu hanya tersenyum canggung dan segera berjalan keluar rumah.

Se Hun mendesah dalam hati, mengapa sulit sekali baginya untuk berekspresi?

Nama pemberian Shi Won adalah Mi Ja. Artinya anak di bawah umur. Se Hun sendiri heran mengapa Shi Won memilihkan nama itu untuknya. Nama yang terdengar aneh dan seperti milik perempuan, namun entah mengapa juga terasa pas untuknya. Karena beberapa hari yang lalu Se Hun mengetahui bahwa Han Shi Won berusia satu tahun di atasnya—dari cerita-cerita yang pernah yeoja itu lontarkan padanya sebelum ini—, pantas saja yeoja itu selalu bersikap selayaknya kakak kepada Se Hun.

Lamunan Se Hun buyar ketika pintu toko bunga itu terbuka dan kepala seseorang menyembul keluar dari sana. Seorang namja bertubuh mungil dan bersurai emas terlihat di sana. Dengan segera Se Hun bangkit dari duduknya kemudian membungkuk sedikit, “Selamat datang di Forsetta Florist.” katanya kaku. Maklum, dia kan masih baru dalam hal seperti ini. Hmm, bagaimana wajahnya barusaja? Apa tetap dingin dan tidak ramah? Entahlah, masa bodoh dengan itu. Toh sebentar lagi ia yakin, namja bersurai emas itu juga akan segera ia lupakan. Hanya pembeli saja.

Namja bersurai emas itu berjalan canggung ke dalam toko, menilik dalam-dalam setiap bunga yang ada di dalam sana. Ia berjalan ke sana ke mari seperti orang yang sedang kebingungan. Berpindah dari sudut ke sudut, dari sisi sebelah ke sisi yang sebelah lagi.

Awalnya Se Hun hanya cuek dengan hal itu sampai ia melihat sesuatu yang aneh di tubuh namja pembeli itu. Seluruh tubuhnya penuh dengan luka, bahkan sebuah plester tertempel di pipi kanannya. Tubuhnya begitu kurus dan caranya berjalan menunjukkan betapa rapuh dan lemahnya ia. Sebenarnya, Se Hun bukan namja yang gemar beranalisis, tapi entah kenapa namja bersurai emas itu benar-benar membuatnya penasaran.

Apakah namja berwajah kekanakan itu seorang kriminal? Kalau begitu, apa tokonya kemasukan pencuri?

Se Hun beranjak dari duduknya dengan langkah yang masih terseok mengingat kakinya juga belum sepenuhnya sembuh. FYI, dua namja brengsek itu juga memukulnya di bagian kaki dan sukses membuat beberapa keretakan di sana. Sialan!

“Apa ada yang bisa saya bantu?”

Ketika Se Hun mendekat, namja bersurai emas dan berwajah kekanakan itu menoleh cepat. Dan pandangan keduanya bertemu selama beberapa saat. Se Hun tidak tahu mengapa alis namja di depannya itu berkerut begitu melihatnya. Kemudian namja berwajah seperti anak belasan tahun itu itu bertanya lirih padanya.

“Oh … Oh Se Hun, bukan?”

Apa?

________

Lu Han tidak pernah masuk toko bunga sebelumnya. Ia bukanlah seorang namja yang romantis dan gemar merayu wanita dengan bunga. Tapi untuk kali ini, ia menginginkan itu. Ia ingin memberikan sesuatu untuk ‘dia’, untuk gadisnya. Setidaknya Lu Han ingin agar yeoja itu bisa tertawa seceria dulu, membicarakan semua hal tentang boyband-boyband kesukaannya dengan penuh semangat, memamerkan setumpuk album fotonya yang berisi foto namja-namja tampan di sekolahnya dan masih banyak yang lain.

Kening Lu Han hanya bisa berkerut dan selalu berkerut karena ia sama sekali tidak tahu tetek bengek tentang bunga. Ia juga tidak tahu bunga seperti apa yang disukai oleh gadis itu. Oh, salahkah ia masuk ke toko ini?

“Apa ada yang bisa saya bantu?”

Sebuah suara yang dingin dan kaku membuat Lu Han sedikit terkejut, namja itu spontan menoleh cepat ke arah suara tersebut berasal. Sempat selama beberapa detik ia merasa familiar dengan wajah itu, pada seorang namja berwajah datar dengan kepala diperban yang berjalan mendekatinya. Selang beberapa waktu akhirnya ia paham. Namja itu adalah namja yang terdapat di salah satu album foto milik Yu Ji. Kalau tidak salah namanya … Oh, Oh Se Hun, benar? Saking seringnya Yu Ji mengoceh soal namja yang satu ini, Lu Han sampai hapal di luar kepala.

“Bagaimana kau bisa tahu namaku?”

Pertanyaan bernada tidak suka itu menembus indera pendengaran Lu Han dan spontan membuatnya tertegun, apa barusan ia tidak sengaja menyuarakan pikirannya sendiri? Oh, ya ampun!

“Ah tidak! Aku hanya            … aku hanya …”

“Hanya?” tegas Se Hun dingin.

“Hanya pernah melihatmu di majalah sekolah milik adikku! Ya benar!” Lu Han menjawab dengan gelagapan, entah mengapa pertanyaan Se Hun seolah mengintimidasinya. Lu Han menelan ludah, tatapan Se Hun benar-benar penuh selidik dan membuatnya langsung merasa tidak nyaman. Benar yang dikatakan Yu Ji, Oh Se Hun benar-benar sangat dingin. Tapi ia tidak menyangka bahwa dinginnya keterlaluan seperti itu.

Agar namja itu tidak bertanya lebih jauh, Lu Han langsung beralih ke bunga-bunga yang membanjir di sekeliling mereka. Ia berusaha terlihat sedang memilih-milih, meskipun ekor matanya tak henti melirik ke arah Se Hun yang masih saja menatapnya intens.

Semoga anak ini tidak menganggapku yang aneh-aneh, batin Lu Han.

“Kira-kira bunga apa cocok untuk seorang yeoja agar dia kembali bersemangat, ya?” tanya Lu Han agar pikiran Se Hun teralihkan.

Terdengar hembusan keras dari Se Hun, namja itu lantas turut mengedarkan kelereng matanya ke sekeliling. Mungkin berusaha membantu namja bersurai emas itu kendati di pikirannya berlalu lalang berbagai pertanyaan. Kali ini bersikaplah professional, Se Hun!

“Mungkin mawar ini?” kata Se Hun seraya menunjuk segerombol bunga berwarna merah. Lu Han menoleh cepat ke arah yang ditunjukkan Se Hun, sedetik kemudian alisnya mengernyit. “Mawar?”

“Iya, mawar!” ulang Se Hun dengan sedikit kesal. Sudah tahu mawar kenapa masih bertanya, sih! Se Hun membatin kesal, entah kenapa hari ini ia sungguh emosional, bawaannya ingin marah terus.

Lu Han mengernyit lagi, ia lalu tersenyum lemah kepada Se Hun, “Tapi … tapi itu bukan mawar. Itu bunga Carnation.”

Se Hun terbelalak, “Apa!?” Namja itu lantas berjongkok lalu menatap lekat-lekat bunga berwarna merah itu sekali lagi. Beberapa detik kemudian, ia ternganga, tidak bisa berkata-kata lagi. Ya Tuhan, kalau dilihat sekilas, bunga itu memang mirip mawar. Tapi kalau dilihat lebih dekat, akan terlihat sekali bahwa bunga itu benar-benar berbeda. Sial! Betapa malunya Se Hun! Berupaya bertindak selayaknya seorang yang pro, tapi pada kenyataanya bunga mawar yang sudah umum saja ia salah membedakan dengan bunga Carnation. Gagal!

Tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar. Kali ini seorang yeoja masuk dengan dua buah tas keresek di kedua tangannya. Ia sedikit terkejut dengan kehadiran seorang pembeli di tokonya dan namja yang ia panggil ‘Mi Ja’ kini tengah berjongkok seraya memukul-mukul kepalanya. Oh, apa yang sedang terjadi!?

“Ya, Mi Ja-ya! Apa yang terjadi!?”

Shi Won, yeoja itu berlari menuju Se Hun, masih dengan tas belajannya yang berat. Ia benar-benar berpikir bahwa sesuatu tengah terjadi pada namja itu. Ia cemas, takut sesuatu yang buruk terjadi saat ia tidak berada di sini tadi.

Tepat ketika Shi Won hendak menyentuh bahu Se Hun, namja itu langsung berbalik dan bangkit. Dengan wajah memerah karena kesal sekaligus malu ia menatap ke arah Shi Won, “Ini semua salah Noona karena tidak mengajariku apa-apa tentang bunga!”

Shi Won terbelalak melihat kemarahan Se Hun yang tiba-tiba, padahal sebelumnya Se Hun adalah namja yang sangat pendiam bahkan cenderung dingin dan terkesan sulit didekati. Tapi ada apa sekarang? Yeoja itu lalu bangkit dan memprotes tidak terima, “Ya, apa maksudmu tiba-tiba bicara begitu!? Kalaupun aku mengajarimu, kau tidak akan mengerti! Lagipula kau kan juga sedang sakit, Mi Ja-ya!”

“Lalu kenapa menyuruhku menjaga toko!?” balas Se Hun tidak mau kalah.

“Ya! Kau sendiri yang tadi mengiyakan permintaanku, kan?”

“Tapi bukan berarti kau bisa meninggalkan aku begitu saja, dong!”

Sementara melihat tontonan gratis yang sebenarnya cukup bisa mengocak perut itu, Lu Han hanya bisa terpekur dan bingung, plus prihatin. Ia tidak tertawa, malahan ia bingung bagaimana kondisinya bisa menjadi seperti ini. Keinginannya untuk membeli bunga menguap seketika, ia tidak lagi bergairah untuk yang satu itu. Mungkin ia bisa kembali lagi nanti, saat pertengkaran ini sudah selesai. Atau kalau mau lebih tenang, mungkin ia bisa mencari toko yang lain.

Lu Han mendesah hebat. Pertanyaannya di otaknya kini tinggal satu, sejak kapan nama ‘Se Hun’ menjadi ‘Mi Ja’?

_________

Tiga hari kemudian.

Tidak bisa dibilang baik-baik saja. Namun kata ‘buruk’ juga tidak cocok. Setidaknya hubungan Se Hun dan Shi Won hanya bisa dilukiskan dengan satu kata, ‘aneh’. Tidak saling mengenal sebelumnya, tapi kini tinggal bersama karena sebuah kecelakaan.

Ketika awalnya saling canggung satu sama lain, tapi sekarang menjadi sering sekali adu mulut. Terutama sejak kejadian di toko bunga tiga hari lalu itu. Hubungan yang aneh bukan?

“Habiskan makananmu, lalu segeralah tidur agar kau cepat pulih.”

Se Hun berhenti menyuap sup rumput lautnya, ia mengangkat wajah kemudian menyipitkan matanya ke arah Shi Won. Sedetik kemudian ia menggeleng, “Tidak mau! Memangnya aku anak kecil, jam delapan malam saja sudah tidur. Aku mau menonton tv!”

Mendengar jawaban bermakna penolakan itu, Shi Won spontan menggeram, “Tidak boleh! Hari ini ada acara kesukaanku, tv berada di bawah kekuasaanku! Kau tidur saja, Mi Ja-ya!”

“Aku bukan anak kecil, tahu! Aku juga bisa bosan. Aku mau lihat running man saja masa tidak boleh!?”

Shi Won spontan terdiam. Bahkan ia hanya terpaku pada sup rumput lautnya yang telah mendingin ketika Se Hun merampas remote tv dari genggaman tangannya. Namja itu menghidupkan tv kemudian mengganti-ganti channel hingga ke saluran tv SBS. Wajahnya berbinar begitu melihat Gwang Soo cs. di layar tv.

Keduanya hanya terdiam. Se Hun sibuk tertawa melihat kekonyolan tim running man sementara Shi Won masih saja terpaku dan terdiam di tempatnya semula. Sup rumput laut milik Se Hun sudah habis tak bersisa, namun tidak dengan miliknya. Napsu makannya menghilang begitu saja. Yeoja itu menoleh ke arah tv, ia sama sekali tidak menyadari bahwa matanya telah berkaca-kaca.

Semuanya benar-benar mirip. Bagaimana cara Se Hun tertawa, nadanya ketika mengomel, serta acara tv kesukaan namja itu. Semuanya mirip dengan ‘dia’. Dengan adiknya.

Dalam satu sentakan, Shi Won bangkit. Dan dengan kasar merebut remote dari tangan Se Hun, mematikan tv dan spontan membuat Se Hun berteriak protes. “Ya! Apa-apaan …”

Namun Se Hun tidak melanjutkan kata-katanya karena Shi Won tengah memandangnya lekat-lekat tanpa berkedip, matanya berkaca-kaca. Se Hun mendelik kaget. Dalam sekejap dada Se Hun seperti ditusuk-tusuk, melihat yeoja itu menangis entah kenapa membuat hatinya terasa sakit. Ada apa dengan yeoja itu, kenapa tiba-tiba ia bersikap seperti itu?

Tidak ada satu pun patah kata yang keluar dari mulut Shi Won ketika yeoja itu beranjak meninggalkan ruang tengah itu, meninggalkan Se Hun yang hanya terdiam mematung seperti orang bodoh karena tidak tahu menahu soal situasi yang sedang terjadi.

Namja itu kini hanya bisa berpikiran dangkal, apakah acara tv running man adalah drama yang bisa membuat seseorang menangis?

________

            Ia tidak sedang mematut bagaimana penampilannya sekarang. Namja itu memang sedang berdiri di depan cermin, lebih tepatnya cermin berderet yang menampilkan sesosok namja tinggi berkulit agak gelap dengan setelan seragam yang tampak acak-acakan yang tidak lain tidak bukan adalah dirinya sendiri. Apa yang tengah ia lakukan sekarang di tempat itu?

Bukan Kim Jong In namanya kalo sehari saja ia tidak pergi ke tempat itu, ruang latihan dance. Entah hanya melihat bagaimana yang lain berlatih, ataupun mondar-mandir tidak jelas selayaknya orang galau. Mendengarkan dengan seksama bagaimana pelatih itu membimbing teman-temannya, turut bersuka cita apabila tim dance sekolahnya memenangkan kompetisi dan masih banyak yang lain lagi.

Namun tidak dengan menari. Tidak lagi.

Jong In sudah memutuskan untuk berhenti sejenak. Berhenti dengan terpaksa, sangat terpaksa. Atas paksaan dirinya sendiri maupun orang lain. Sebenarnya, tubuhnya benar-benar gatal dan ingin segera bergerak selincah biasanya. Ia rindu musik dance yang mengalun dan membuatnya tidak bisa menolak untuk menggerakkan badan, ia rindu bagaimana bunyi sepatu yang berdecit ketika ia mulai menari, ia rindu semuanya.

Tapi semua itu membuatnya sakit.

“Jong … Jong In sunbae.”

Secepat kilat, Jong In menoleh ke arah suara yang memanggilnya itu berasal. Ujung bibirnya melengkung ke atas begitu melihat siapa seseorang yang berdiri di ambang pintu. Seorang yeoja, Lee Sung Yeon.

“Oh, Sung Yeon ah? Ada apa?” tanya Jong In seraya melangkah mendekati Sung Yeon. Namja itu mengangkat alis begitu mendapati wajah Sung Yeon yang menatapnya sedih. Ada apa dengan yeoja itu?

“Hari ini hujan.” tutur Sung Yeon lirih.

“Eh? Ah, benar juga!” Jong In seolah baru tersadar akan gerimis yang kini jatuh membasahi bumi. Sedari tadi ia berada di dalam sih, jadi tidak dengar apapun.

Tiba-tiba Sung Yeon mengangkat wajah dan tersenyum sedih, “Mau bermain hujan-hujanan?”

“Apa?”

Belum sempat Kim Jong In mencerna maksud dari Sung Yeon, yeoja itu telah lebih dulu berlari meninggalkannya. Berlari ke halaman belakang sekolah kemudian merentangkan tangannya lebar-lebar. Menikmati sensai setiap tetes hujan yang jatuh. Ia melambai seakan mengajak Jong In turut serta bersenang-senang menikmati hujan bersamanya, hujan yang ia cintai.

“Sung Yeon ah! Kau bisa sakit!” teriak Jong In keras, sayangnya suaranya teredam oleh suara hujan yang semakin deras. Namja itu lantas turut berjalan menembus hujan dan mendekati Sung Yeon. Ia menyentuh pundak yeoja itu, “Ya Sung Yeon ah!”

“Menangislah, Sunbae. Menangislah kalau kau memang ingin menangis!”

Jong In ternganga mendengar omongan Sung Yeon yang tiba-tiba, apa maksud yeoja itu? Menyuruhnya menangis? Aneh.

“Tidak akan ada yang menyadarinya, kok! Karena hujan bisa menyembunyikannya, hujan bisa meredam suara tangismu dan membuat wajahmu tidak terlihat seperti sedang menangis.”

Jong In tidak tahu mengapa Sung Yeon bisa berkata demikian. Motivasi apa dan atas dasar apa tiba-tiba yeoja itu berasumsi seakan-akan ia benar-benar butuh yang namanya menangis, ia tidak tahu. Yang jelas, di dalam otaknya sekarang, ia diam-diam membenarkan apa yang dikatakan yeoja itu baru saja. “Kenapa kau berpikir aku ingin menangis?”

Suara hujan masih mendominasi, tapi Sung Yeon dapat mendengar jelas apa yang ditanyakan Jong In padanya baru saja. Yeoja itu lantas tersenyum lemah, “Maafkan aku, Sunbae. Akulah yang membuatmu menderita, aku yang membuatmu tidak bisa menari lagi. Dan yang bisa aku lakukan hanya ini.”

Jong In masih belum paham arah pembicaraan Sung Yeon. Ia mengerutkan dahinya semakin dalam sebagai tanda atas ketidakpahamannya, “Aku tahu ketika melihat kau di ruang dance tadi. Kau melamun lama sekali, Sunbae juga menunduk lemah. Saat itu aku berpikir kalau kau pasti ingin kembali, kembali kepada dirimu yang dulu. Yang bisa menari lincah dan melompat ke sana ke mari.”

Sung Yeon mengerjapkan matanya, lalu mengusap wajahnya yang penuh dengan air. Ia melanjutkan dengan suara sedikit lebih keras, “Entah mengapa aku yakin, Sunbae benar-benar terlihat ingin menangis.”

Tidak tahu. Jong In tidak tahu apa yang ia rasakan sekarang. Yang pasti, sedih dan lara di hatinya memang tak kunjung hilang hingga kini. Mimpinya serta keinginannya sudah pupus. Yang ingin dan bisa ia lakukan sekarang hanyalah menangis, benar. Ia memang ingin menangis, menangis dan menangis. Menangisi nasib dan kenyataan yang ia dapat. Menangis seperti orang bodoh.

“Menangislah kalau kau ingin menangis, Sunbae. Karena hujan akan menyamarkan suara tangis dan wajah sedihmu. Percayalah padaku!”

Jong In terkekeh, berupaya terlihat baik-baik saja. “Kau bisa saja, Sung Yeon. Mana mungkin aku menangis kalau …”

Bohong. Karena di detik yang hampir bersamaan air mata Jong In telah mengalir menuruni pipinya. Bersamaan dengan hujan yang jatuh membasahi seluruh tubuhnya. Namja itu berusaha untuk tidak terisak, menyembunyikan bahwa ia kini tengah menangis. Namja itu mengeratkan genggaman tangannya di ujung kemeja sekolahnya, memaki di dalam hati dan menyesali mengapa dirinya bisa terlihat lemah di hadapan seorang yeoja. Harusnya ia bisa menahan yang satu itu, harusnya ia bisa lebih kuat membendung air matanya sekalipun kini tangisnya benar-benar tersamarkan.

Tapi yang kemudian Jong In lakukan adalah memajukan tubuhnya, mendekati Sung Yeon. Tanpa aba-aba, ia meletakkan kepalanya di bahu yeoja itu. Seakan-akan kepalanya terlalu berat untuk dibawanya sendiri.  Kendati awalnya Sung Yeon sangat terkejut, namun ia bisa melihat kondisi sunbaenya itu.

Entah mendapat keberanian dari mana, Sung Yeon dengan kikuk mengangkat tangannya dan memeluk Jong In dengan maksud membuat namja itu tenang. Menepuk-nepuk punggung namja itu yang suara tangisnya masih tertahan. Ingin rasanya Sung Yeon menangis melihat itu semua. Karena bagaimanapun ia masih merasa sangat bersalah sekarang, sungguh beruntung Jong In masih menganggapnya dan tidak marah padanya. Namja itu hanya terlalu baik.

“Menangislah, Sunbae. Ada aku di sini.”

Juga, maafkan aku.

________

            “Kau benar-benar tidak ingat apapun sampai sekarang?”

Setiap hari, pertanyaan itulah yang selalu Shi Won lontarkan pada Se Hun dengan wajah cemas dan alis yang saling bertautan satu sama lain. Entah karena apa, mungkinkah keberadaan Se Hun yang mengganggu ataupun yeoja itu benar-benar khawatir padanya.

“Tidak.” jawab Se Hun sekenanya, tentu dengan nada dingin dan wajah tak berekspresinya yang khas. Jelas saja, Se Hun kan memang sedang berpura-pura lupa. Mau bilang ‘lupa’ sampai besok-besok pun juga bisa.

“Bagaimana kalau kita pergi ke dokter?”

“Tidak perlu. Jangan buang-buang uangmu untukku.” potong Se Hun cepat, padahal ia tahu kalau Shi Won masih ingin melanjutkan kata-katanya.

Skak mat! Sialan kau! Batin Shi Won kesal. Kalimat yang dikatakan Se Hun barusaja benar-benar menohok. Namja itu memang blak-blakan, tidak punya perasaan dan sangat menyebalkan. Padahal ia berusia satu tahun di bawah Shi Won, tapi tidak ada hormatnya sama sekali. Apa mungkin sifatnya sebelum ia hilang ingatan juga sama seperti ini? Shi Won bertanya-tanya dalam hati.

“Apa mungkin aku lapor polisi saja ya. Aku takut keluargamu mencarimu, Mi Ja-ya.”

Se Hun spontan terbelalak dan langsung menoleh cepat ke arah di mana Shi Won duduk. Apa!? Kalau sampai yeoja itu melapor pada polisi, maka buyar dan hancur sudah rencananya. Ia akan benar-benar kembali ke rumah dan tidak bisa lagi berada dekat-dekat dengan yeoja itu. Lalu, bagaimana kalau si penagih hutang itu kembali lagi, memangnya apa yang bisa dilakukan Shi Won nanti? Tuhan, Se Hun harus melakukan sesuatu!

Se Hun berpikir seolah-olah apabila ia tidak ada, maka Shi Won akan celaka, maka Shi Won tidak akan bisa melakukan apa-apa. Ckck, pikiranmu dangkal sekali, Oh Se Hun!

“Jangan!”

Shi Won mengalihkan pandangan dari bunga-bunga yang tengah ia rangkai, heran dengan penolakan Se Hun. “Kenapa tidak?”

“Karena …” Kehabisan kata-kata, apa yang bisa Se Hun jadikan alasan? Hei, hei. Cepat lakukan sesuatu Oh Se Hun! Se Hun memutar otaknya, mencari-cari alasan yang sekiranya cocok, “Karena … karena …”

“Karena?” ulang Shi Won seraya menatap penuh tanya ke arah Se Hun yang masih tampak kebingungan. Gawat, gawat, gawat! Se Hun merapal dalam hati.

“Karena …”

Tiba-tiba pintu toko bunga itu terbuka dari luar, membuat perhatian Han Shi Won spontan teralih pada namja bertubuh tidak begitu tinggi dan bermata bulat yang baru saja memasuki toko.

Untuk saat ini, Se Hun boleh merasa lega bukan? Selamat, selamat! Fiuh.

Namun Shi Won tidak mengucapkan selamat datang dengan wajah ceria seperti yang selalu ia lakukan pada pengunjung yang lain. Awalnya ia hanya terdiam, namun lama- kelamaan, ia mulai memasang wajah tidak suka. “Do Kyung Soo-ssi, buat apa lagi kau datang ke mari?” katanya dengan nada tidak ramah.

Se Hun mengangkat alisnya tinggi, hei ada apa dengan Shi Won? Dan juga, siapa namja itu?

Namja yang dipanggil Kyung Soo itu lantas tersenyum lemah, “Aku ingin meluruskan semuanya, Shi Won ssi. Sekaligus minta maaf padamu.”

Shi Won kembali beralih pada rangkaian bunga yang semula menjadi kesibukannya, sebisa mungkin ia tidak menatap balik sepasang mata bulat milik Kyung Soo yang sedang meatapnya penuh harap.

“Aku tahu, mungkin dosaku pada adikmu tidak termaafkan. Namun aku benar-benar minta maaf. Kejadian itu sudah lebih dari dua tahun yang lalu dan aku rasa …”

“Jadi kau pikir semuanya bisa selesai kalau kau minta maaf?! Jadi kau pikir mentang-mentang kejadian itu sudah dua tahun yang lalu, aku lantas bisa memaafkanmu begitu saja? Sadarlah, kalau kau tidak membawa Shin Ah pergi jauh saat itu, ia pasti masih punya waktu untuk diselamatkan!”

Shi Won memotong perkataan Kyung Soo kemudian nada bicaranya meninggi dan bertubi-tubi, sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Kyung Soo untuk membela diri. Sementara Kyung Soo masih menunduk, tidak melawan. Mungkin ia benar-benar merasa bersalah sekarang.

Se Hun sendiri mulai menjauh dari tempatnya semula, ia tidak ingin ikut campur urusan Shi Won dengan namja itu. Se Hun sendiri sebenarnya kaget dengan Shi Won, ia tidak pernah menyangka yeoja itu bisa marah hingga demikian hebat. Sikapnya benar-benar bertolak belakang dengan biasanya. Kalau Se Hun boleh menyimpulkan sendiri, mungkin yeoja itu punya dendam pribadi pada namja yang bernama Do Kyung Soo itu.

Tapi diam-diam, Se Hun penasaran juga. Apa sebenarnya yang terjadi dua tahun lalu di antara mereka berdua? Lalu kalau dipikir-pikir, mengapa kehidupan Han Shi Won tampak begitu rumit? Dikejar penagih hutang, lalu masalah dengan namja bernama Kyung Soo itu, juga sikapnya yang aneh kemarin malam saat mereka tengah menonton running man. Kenapa hidup yeoja itu rasanya tidak mulus sama sekali, ya? Begitu batin Se Hun.

Berusaha agar tidak terlalu terlihat menguping pembicaraan Kyung Soo dan Shi Won—padahal sebenarnya ia memasang telinganya tajam dan turut mendengarkan—, Se Hun lantas melihat bunga-bunga yang ada di dalam toko. Memandangi lekat-lekat seolah tengah mempelajarinya. Padahal sesungguhnya ia sama sekali tidak memiliki ketertarikan dengan dunia tanaman. Baginya, itu membosankan dan tidak menarik.

Pembicaraan Shi Won dan Kyung Soo masih saja berlanjut, namun lama kelamaan entah kenapa Se Hun semakin tidak paham arah pembicaraan mereka. Namja itu lalu memilih untuk mengalihkan pandangannya ke luar toko lewat jendela besar yang ada di sana, memandangi jalanan di kota Incheon yang ramai itu. Melihat orang-orang yang berjalan kaki, orang-orang yang mengayuh sepedanya … tunggu, sepeda? Hei, bagaimana dengan sepeda kayuhnya yang ia kendarai dari Seoul hingga kemari itu? Kenapa ia bisa lupa sama sekali?

Kemana sepeda itu?

Se Hun tengah kebingungan, namun tanpa sengaja kelereng matanya terhenti pada suatu titik. Pada sososok manusia yang bersandar pada sebuah motor besar, tepat di depan toko bunga milik Shi Won. Seorang yeoja berambut panjang yang familiar baginya. Sebenarnya bukan familiar, Se Hun bahkan sangat mengenal yeoja itu.

Yeoja itu tampak kebosanan karena menunggu sesuatu, sekali-kali diliriknya jam di tangan kirinya, ia lalu menolehkan kepalanya ke arah toko bunga Shi Won. Dan tepat saat itu, manik kehitaman milik si yeoja bersirobok dengan manik kecoklatan milik Se Hun. Keduanya hanya diam hingga kedua mata si yeoja membulat tak percaya beberapa saat kemudian, sementara Se Hun perlahan menelan ludahnya.

Yeoja itu, Park Soo Ra. Gawat, benar-benar gawat!

Tanpa banyak kata, Se Hun langsung berlari menuju ke dalam rumah Shi Won yang terletak tepat di belakang toko. Bagaimana pun juga, ia harus segera kabur agar yeoja itu tidak menemukannya. Kalau sampai ia bertemu Soo Ra, maka kedoknya akan segera ketahuan dan tidak bisa dipungkiri kalau nanti Shi Won akan segera ‘mengusirnya’! Aissh!

Sayangnya Soo Ra benar-benar merasa kalau matanya memang masih bagus, dan ia yakin tidak sedang salah lihat. Seorang namja yang baru saja ia lihat di dalam toko itu memang benar Oh Se Hun, teman seangkatannya yang cukup dekat dengannya sekaligus sahabat Jong In. Yang ia dengar Se Hun sedang pergi ke luar negeri selama beberapa waktu. Tapi, kenapa Se Hun malah berada di dalam sana!?

Setengah berlari, Soo Ra memasuki toko bunga itu. Penasaran dengan keberadaan Se Hun. Ia melangkah dengan hati-hati. Namun setelahnya, yang ia dengar adalah suara pot jatuh. Disusul oleh pekikan seorang yeoja. Ada apa?

Ketika Soo Ra mengangkat wajahnya, yang bisa ia lihat adalah Kyung Soo dan seorang yeoja berambut cokelat yang duduk di depan Kyung Soo tengah menatapnya terkejut, sangat terkejut. Dan tidak ada Se Hun di sana. Yeoja yang sama sekali tidak ia kenal itu menutup mulutnya dengan sebelah tangan, masih dengan menatap lekat-lekat ke arah Soo Ra. Mata yeoja itu berkaca-kaca. Soo Ra berujar dalam hati, hei ada apa ini?

“Shin.. Shin Ah!?”

Tepat kala itu, seusai mendengar yeoja berambut cokelat pemilik toko bunga itu meneriakkan sebuah nama yang terdengar sangat familiar di telinga Soo Ra, nama yang kerap diceritakan Kyung Soo padanya. Soo Ra baru paham pada apa yang tengah terjadi sekarang.

________

            “Jadi …” Soo Ra menghembuskan napasnya berat seraya melirik sebentar kepada namja bernama Kyung Soo yang berdiri bersandar di pagar jembatan sama sepertinya. Namja itu terlihat frustasi. Sebenarnya, Soo Ra enggan melanjutkan kata-katanya, ia tidak ingin membuat Kyung Soo semakin kacau. Namun Soo Ra juga ingin mengklarifikasi, memastikan bahwa apa yang terjadi di toko bunga itu sesuai dengan apa yang ada di pikirannya sekarang.

“Jadi, dia adalah kakak dari Shin Ah, yeoja yang mirip denganku sekaligus kekasihmu yang meninggal dua tahun yang lalu itu?” tanya Soo Ra kemudian dengan sangat hati-hati, takut menyinggung.

Kyung Soo mengangguk lemah. Namja itu benar-benar kalut, ia tidak habis pikir bagaimana Shi Won, kakak Shin Ah, masih menyimpan dendam padanya sampai sekarang. Masih menganggapnya sebagai penyebab utama meninggalnya Shin Ah. Oleh karena itu, selama ini, rasa bersalah Kyung Soo tidak pernah luntur. Shi Won sungguh keras kepala dan jarang mendengarkan orang lain, hal itu membuat Kyung Soo semakin tertekan. Sudah berapa kali ia berusaha meminta maaf, namun sebanyak itu juga ia hanya pulang dengan sebuah penolakan.

Apa yang bisa ia lakukan? Apalagi barusaja Shi Won bertemu Soo Ra, yeoja yang sangat mirip dengan almarhum adiknya itu. Entah apa yang ada di pikiran Shi Won begitu melihat Soo Ra, ia pasti sangat terkejut. Ia pasti seperti melihat Shin Ah kembali. Untungnya, Kyung Soo segera menarik tangan Soo Ra dan membawanya pergi, meninggalkan Shi Won yang masih juga belum berhenti terpana.

Kyung Soo sama sekali tidak berniat mempertemukan Shi Won dengan Soo Ra, sungguh! Oleh karena itu ia meminta Soo Ra untuk menunggunya di luar selagi ia berbicara empat mata dengan Shi Won. Dan tindakan Soo Ra yang tiba-tiba memasuki toko benar-benar di luar perkiraannya. Dengan hadirnya Soo Ra, Shi Won pasti semakin tidak bisa melupakan Shin Ah dan mungkin saja rasa bencinya pada Kyung Soo malah semakin besar.

“Arrrgggh!” membayangkan itu semua membuat Kyung Soo spontan mengacak rambutnya frustasi. Ia bukan tipikal namja yang suka mempunyai musuh, ia juga tidak suka apabila ada orang yang membencinya hingga seperti itu.

Kyung Soo tersentak begitu merasakan sesuatu menelusup di antara jari-jarinya, jari-jari Soo Ra. Membuatnya hangat dalam sekejab. “Maaf. Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantumu. Aku bahkan tidak tahu pasti masalah apa yang kini mengganggumu.” gumam yeoja itu sembari terus menatap kendaraan yang berlalu lalang di depannya, mungkin berusaha meredam kegugupannya sendiri karena perlahan Kyung Soo membalas genggaman tangannya. “Tapi mungkin aku bisa membuat Kyung Soo tenang, dengan… dengan seperti ini.”

Angin berhembus kencang, membuat rambut panjang Soo Ra berkibar dan sedikit berantakan. Yeoja itu menggerutu pelan lalu membenarkan rambutnya, namun gerakannya terhenti karena seseorang telah lebih sigap membelai helai demi helai rambutnya, merapikannya dengan lembut. Kyung Soo.

“Harusnya aku yang minta maaf karena membawamu pada masalahku. Kau tidak seharusnya turut mengkhawatirkanku. Maaf. Aku benar-benar minta maaf.”

Kyung Soo mengeratkan jari-jarinya, seolah-olah apabila ia tidak melakukan itu, Soo Ra akan pergi. Pergi dan melepaskan tautan jari-jari itu. Udara cukup dingin dan angin berhembus kencang, namun kehangatan yang ditawarkan lewat jari-jemari yang saling merapat itu cukup membuat dua insan itu merasakan suhu tubuhnya menghangat. Aneh memang, tapi itu kenyataan.

“Tolong jangan pergi.” bisik Kyung Soo lemah. “Jangan pergi dan tetaplah di sampingku.”

_________

            Se Hun masih tidak mengerti mengapa Shi Won menangis terus sedari tadi. Shi Won  tidak keluar dari kamarnya semenjak namja bernama Do Kyung Soo itu pergi meninggalkan toko seraya membawa Soo Ra ikut bersamanya. Toko bunga Shi Won juga telah yeoja itu tutup sejak tadi, padahal biasanya toko itu baru tutup jam delapan malam.

Mengurung diri di kamar, tidak makan dan minum sejak tadi. Se Hun benar-benar cemas dengan Shi Won. Ia tentu tidak bisa hanya diam begitu saja membiarkan yeoja itu terus menerus mengurung diri hingga mati kelaparan. Membayangkannya saja Se Hun tidak mau.

Se Hun merajut langkahnya mendekati kamar Shi Won, ia menempelkan telinganya di pintu. Dan kali ini, menurut pendengarannya nampaknya Shi Won sudah berhenti menangis. Namun Se Hun belum juga merasa yakin, akhirnya semakin ia tekan telinganya karena mungkin saja ia mendengar sesuatu. Tapi sayangnya, bukan itu yang ia dapat.

Cklak!

Gawat, pintu kamar Shi Won kini terbuka! Aaaah! Se Hun ketahuan menguping!

Tapi semua ternyata tidak seperti yang Se Hun perkirakan : Shi Won akan marah kemudian melemparinya dengan bantal ataupun benda-benda lainnya karena kesal. Nyatanya? Tidak, ia tidak dilempari apapun. Yang ada Se Hun malah melihat sesosok yeoja yang duduk di tepi ranjang dengan wajah tertunduk. Di pangkuannya, terdapat sebuah pigura foto.

Entah atas dorongan apa, Se Hun melangkah memasuki kamar Shi Won. Mengabaikan tempat yang seharusnya menjadi area privasi Shi Won itu, mengabaikan etika dan akal sehat. Tapi toh Shi Won sendiri sama sekali tidak berkutik, sama sekali tidak marah begitu Se Hun masuk ke kamarnya dan turut duduk di samping yeoja itu, menimbulkan bunyi berderit ketika beban tubuh Se Hun menimpa ranjang Shi Won. Se Hun menoleh ke arah pigura di pangkuan Shi Won. Sedetik kemudian, kedua bola matanya membulat sempurna dan hatinya mencelos tidak percaya.

Bukankah.. bukankah itu foto Soo Ra? Kenapa … kenapa Shi Won bisa …

Se Hun belum sempat bertanya karena hatinya berdebar dua kali lebih cepat ketika tiba-tiba Shi Won meletakkan kepalanya di bahu Se Hun. Se Hun sampai bisa merasakan dengan jelas napas Shi Won yang masih tersendat-sendat—karena baru saja menangis—tepat di lehernya. Membuat organ dalam Se Hun yang sebesar kepalan tangannya itu semakin berdebar cepat, bahkan terlampau cepat. Ya Tuhan, ini tidak baik, ia bisa mati muda!

Yeoja itu terisak lagi. Se Hun yang tidak tahu harus melakukan apa lantas hanya menepuk-nepuk bahu Shi Won. Bahkan Se Hun tidak tahu harus mengatakan apa di saat-saat seperti ini. Semua hal yang berhubungan dengan yeoja memang benar-benar sulit dan kompleks di matanya. Ia tidak pernah percaya diri pada yeoja mana pun, oleh karena itu selama ini ia lebih memilih memasang tampang dingin dan tidak bersahabat daripada harus kebingungan menghadapi yeoja-yeoja itu.

Tapi, Se Hun merasakan perbedaan ketika ia berada dekat Shi Won. Ia selalu ingin melakukan sesuatu untuk yeoja itu, menolongnya dan berhenti membuatnya menangis seperti sekarang. Ia ingin melakukannya.

Yeoja itu memang berbeda.

“Mi … Mi Ja..” kata Shi Won di sela isak tangisnya.

Eh? Apa baru saja Shi Won menyebut ‘nama’nya?

“I…iya?”

“Pinjami aku bahumu, ya. Untuk kali ini saja.”

Se Hun tertegun. Shi Won barusaja meminta sesuatu padanya, dan itu bahunya. Bahunya untuk menangis. Apakah itu artinya Shi Won meminta Se Hun untuk tidak jauh-jauh darinya? Se Hun boleh menganggapnya begitu kan?

Se Hun mengangguk, “Tentu.”

Aku akan pinjamkan, kapanpun kau mau, kapanpun kau membutuhkannya. Tambah Se Hun di dalam hati.

____TBC____

Akhirnyaaaa….

How about it?

Rumit? Bikin pusing? Membosankan apa gimana? Wkwkw

Author bukannya nggak adil sih, giliran Se Hun partnya panjang banget (2 part) sementara member yang lain cuma 1 part. Haha, hal ini semata-mata karena otak saya lagi korslet, mikir sana mikir sini, tambah sana tambah sini, akhirnya malah bikin Shi Won tambah repot. Author sendiri bingung loh entar Shi Won bakal kayak gimana, ia berasa sengsara sekali gitu T.T (author jahat kayak biasanya)

Tapi, tenang aja. Author bakal usaha buat bikin seadil mungkin ya😀 doakan biar next part cepet publish ya, asal RCL nya jangan lupa. Makin banyak komen + like, makin cpet loh bikinnya, percaya deh, hehe

See ya in the next chapter nee? Yey, akhirnya hampir chapter terakhir, T.T uhhuhu menangis terharu saya. wkwkwk

follow me @fhayfransiska , and visit my blog please ^^

PLEASE READ ANOTHER FANFIC :

The Dirty Soul

A ‘Good’bye

Untouched Dream

Never Comeback (Oneshoot)

I Fell in Love with 12 boys (Oneshoot)

 

Don’t forget to leave your comment and like this ^^b Just appreciate what you feel and I’ll accept all of it except bashing and flaming^^

165 responses to “[Se Hun’s] Misconception Of The Flower [Part A]

  1. Dari semua seri jujur ini bagian yang aku paling susah ngeh padahal aku paling buka pertama punya si Sehun.

    Satu hal yang aku ngerti adalah : Sehun temennya Kai.
    A- – – – – –
    Bagaimana ini thor?

  2. wah ada lulu🙂 bagus, lanjutin side story nya , punya luhan , sehun, dan lay paling kutunggu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s