I Love My Idol – Chapter 14/End

ilmi cover

 

 

Author: Ulfah_Naziah

Title: I Love My Idol

Main Cast:

  • Cho Kyuhyun (SJ)
  • Kang Jikyung
  • Choi Minho (SHINee)
  • Park Younggeun
  • Lee Donghae (SJ)
  • Jane Han
  • Lee Jinki (SHINee)
  • Shin Jibyung

Support Cast:

  • Find by yourself

Genre: Drama, friendship, romance

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Disclaimer: Member SHINee dan SJ milik dirinya sendiri, keluarganya dan Tuhan, kalau cerita ini asli milik saya. Jangan pernah sekali-kali anda berpikiran untuk memplagiatnya!

Warning: Typo, cerita gaje, dan kekurangan yang lainnya. Maaf kalau ada yang tidak suka. DON’T LIKE DON’T READ!

A/N: Chapter ending. Ya allah, akhirnya bisa nyelesaiin ini ff juga. Happy reading guys, enjoy! Ini setting waktunya sekitar bulan september tahun 2012

Chapter 1| Chapter 2| Chapter 3| Chapter 4| Chapter 5| Chapter 6| Chapter 7| Chapter 8| Chapter 9| Chapter 10a| Chapter 10b| Chapter 11| Chapter 12| Chapter 13|

Story

Waktu terus berjalan dengan cepat, tidak terasa sekarang sudah memasuki pertengahan bulan september. Itu berarti korea sudah memasuki musim gugur sekarang, dibeberapa jalanan Seoul terlihat daun-daun kering berwarna kuning kecoklat-coklatan mulai berjatuhan dan membuat jalanan sekitar menjadi berantakan, khas musim gugur sekali.

Kalau sudah memasuki musim gugur, Korea identik sekali dengan Chuseok atau sama dengan thanks giving-nya Korea. Banyak orang yang memberikan selamat atau mengirimkan makanan keteman dan keluarganya atau mungkin pacarnya.

Seperti yang dilakukan ketiga –kedua gadis yang sekarang tengah sibuk membuat songpyeon –makanan khas Chuseok itu.

“Jikyung, jangan hanya berkutat dengan pekerjaanmu saja. Cepat bantu kami.” Keluh Jibyung kearah Jikyung yang dari tidak bergerak seinci pun dari tempatnya, terlihat sibuk menggambar sesuatu diatas kertasnya.

“Editor menyuruhku menyelesaikan sketsa ini dalam tiga hari Byung, heh, editor macam apa itu memperbudak pegawainya seperti ini.” Jikyung mengeluh kesal, ia kemudian meregangkan otot tangannya yang terasa kaku karena terlalu lama bergelut dengan kertas dan pensil.

Gadis itu kemudian menghempaskan punggungnya disandaran kursi.

Jibyung berdecak pelan, “Mentang-mentang kau sudah bekerja, sibuk sekali.” Cibir Jibyung yang diberi anggukan setuju oleh Jane, mereka terlihat benar-benar kerepotan dengan kegiatan mereka sekarang.

Jikyung berdecak keras melihat pekerjaan kedua temannya yang ‘berantakan’ dalam membuat songpyeon, ia lalu bangkit dan berjalan menghampiri mereka berdua untuk membantu.

“Astaga, kalian ini perempuan. Masa membuat songpyeon seperti ini saja tidak bisa sih?” Gerutu Jikyung jengah melihat pekerjaan mereka yang jauh dari kata baik, ia kemudian mengambil alih makanan yang terbuat dari tepung itu dan mulai mengisinya dengan kacang merah, kurma dan wijen.

Jibyung dan Jane hanya mendengus, jangan salahkan mereka kalau mereka benar-benar tidak bisa melakukan apapun dalam hal membuat makanan, termasuk dalam membuat makanan tradisional ini. Padahal tradisi mengatakan seorang gadis itu seharusnya bisa membuat bentuk songpyeon sebagus mungkin, supaya kelak putri mereka akan cantik.

“Ya, ya, sekarang giliranmu nona yang bisa segalanya. Dari tadi kau sama sekali tidak membantu kami.” Cibir Jibyung disertai dengusan sebal Jane.

Jikyung memutar kedua bola matanya dan kembali memusatkan perhatiannya pada pekerjaan kecilnya.

“Memangnya untuk siapa sih kalian membuat songpyeon? Merepotkan sekali.” Gadis itu masih saja terus menggerutu disela-sela kegiatannya.

“Onew.”

“Donghae.”

Ucap Jibyung dan Jane hampir bersamaan membuat Jikyung untuk sekali lagi memutar bola matanya, seharusnya ia bisa menebak untuk siapa lagi makanan ini kalau bukan untuk kekasih mereka, ralat tunangan untuk Jibyung.

“Ya, ya, terserah.” Sahut Jikyung tak acuh, ia kemudian mengisi tepung itu kembali dengan kacang merah dan wijen. Gadis itu tersenyum kecut, dulu waktu ibunya masih ada dia sering sekali membuat songpyeon bersama beliau, Jira juga. Mereka menghabiskan malam Chuseok itu dengan membuat makanan tradisional itu sambil menghadap kearah bulan yang bersinar terang diteras belakang rumah mereka.

Tapi sejak ibunya meninggal Jikyung tidak pernah melakukan kegiatan itu lagi dan kegiatannya membuat songpyeon sekarang mengingatkannya lagi pada masa-masa menyenangkan itu, hanya saja kedua sahabatnya yang menemaninya sekarang dan juga bukan diteras belakang rumah tapi didalam rumah Jane. Sudah tidak terasa dia melewati Chuseok tanpa kehadiran ibunya.

“Sadako, kau tidak berencana memberikan songpyeon untuk Kyuhyun?”

Jikyung tersentak kaget dari lamunannya, ia kemudian mengerjap beberapa kali berusaha untuk menyembunyikan air mata yang mulai menggenang disudut matanya.

Kyuhyun katanya?

“Untuk apa? Kurang kerjaan sekali.” Sahut Jikyung tidak peduli, untuk apa dia membuatkan songpyeon untuk Kyuhyun? Memang siapa pemuda itu untuknya? Tidak ada. Lagi pula Jikyung yakin Kyuhyun pasti akan mendapatkan banyak makanan itu besok, kalau bukan dari fans mungkin dari keluarganya.

“Eiiyy~ Kyuhyun bukannya dekat denganmu?” Tanya Jane penasaran.

Jikyung menggeleng, “Tidak juga.”

“Hubungan kalian sebenarnya apa sih? Kekasih bukan, temannya juga rasanya tidak cocok menggambarkan hubungan kalian.” Celetuk Jibyung sama penasaran, Jikyung menghela napas berat sebagai tanggapan.

“Aku tidak tahu.” Jawab gadis itu sekenanya, berusaha menyibukan dirinya dengan songpyeon yang dibuatnya. Jibyung maupun Jane mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, saling melempar bingung selama beberapa saat.

“Tidak tahu?”

“Ya, dan kenapa kalian jadi membahas hubunganku dengan Kyuhyun?” Sewot Jikyung kesal, “Cepat bantu sini.” Lanjut gadis itu menatap tajam mereka berdua dengan tatapan –aku-tidak-ingin-membahas-ini-lagi- pada kedua sahabatnya lalu menyuruh Jibyung dan Jane ikut membantu diikuti gerutuan kecil dari mereka.

“Ne~” Sahut Jibyung malas, mendekat kearah gadis itu. Sebenarnya Jibyung masih belum puas dengan jawaban yang dilontarkan Jikyung, karena selama ini dia cukup penasaran dengan hubungan Jikyung dan Kyuhyun.

Hubungan yang sangat sangat tidak jelas.

***

Minho menghela napas untuk yang kesekian kalinya pagi ini, mungkin sudah tidak terhitung sudah berapa kali dia menghela napas selama setengah jam terakhir ini. Taemin yang biasanya selalu menemaninya bermain ps kali ini tidak ada karena si magnae itu sudah pergi dari dua jam yang lalu pulang kerumah orang tuanya –menghabiskan Chuseok bersama katanya.

Begitupula dengan Key dan Jonghyun, bahkan mereka sudah pulang dari kemarin. Dan sinilah dia, masih terkurung didalam dorm bersama Onew, eh, tidak berdua juga sepertinya karena sekarang Onew sudah keluar dari dalam kamar dengan pakaian rapih.

“Kemana hyung?” Tanya Minho, melirik sekilas kearah sang leader. Bukannya menjawab, Onew malah tersenyum memperlihatkan gigi kelincinya membuat matanya yang sudah sipit , semakin tidak terlihat karena dia tersenyum.

Minho berdecak pelan, “Senyum bukan jawaban Onew hyung.” Lanjut Minho jengah, kali ini mempause permainan winning eleven-nya.

“Rumah Byung, dia mengirimiku pesan untuk merayakan Chuseok bersama.” Sahut Onew riang, “ah, dan dia menyuruhku untuk mencoba songpyeon buatannya.” Onew semakin melebarkan senyumnya. Minho hanya mengangguk tak acuh dan bergumam ‘oh’ sekilas.

“Kau berencana menghabiskan Chuseok dengan berdiam diri didorm, Minho?” Tanya Onew mulai memakai sepatu sneakersnya.

“Sepertinya, lagi pula oemma akan datang kesini katanya.” Jawab Minho dengan nada malas yang terdengar sekali.

“Lalu kenapa mukamu masih terlihat badmood seperti itu?” Tanya Onew kembali bangkit berdiri setelah selesai dengan kedua sepatunya. Minho tidak menjawab malah semakin menunjukan wajah kesalnya dan mendengus menanggapi.

“Ah, Younggeun belum menghubungimu?” Tebak Onew, kalau bukan karena keluarganya atau kekalahannya bermain ps, pasti gadis itu yang mampu membuat seorang Choi Minho badmood hampir mendekati level tertinggi seperti ini.

Onew merasa prihatin juga pada Minho, setelah beberapa hari mereka berpacaran Younggeun harus pergi ke Amerika. Sampai sekarang pria itu masih belum mengerti dengan keberangkatan tiba-tiba gadis itu.

“Younggeun pasti menghubungimu, aku berangkat dulu Minho. Annyeong!” Pamit Onew membuka pintu dorm dan beberapa detik kemudian bunyi khas terdengar ketika pintu itu tertutup kembali, menandakan kalau pintu terkunci secara otomatis.

“Chuseok yang membosankan.” Gerutu Minho pelan, kembali melanjutkan kegiatannya bermain ps. Ia tidak pernah merasa seperti ini ketika Chuseok sebelum-sebelumnya, walaupun SHINee ada schedule dihari perayaan ini. Tapi ketika jadwal SHINee sedang kosong sekarang, gadis itu malah tidak ada bahkan sama sekali tidak menghubunginya.

Meskipun nyatanya ibunya akan datang dari Incheon dan merayakan Chuseok bersamanya, tapi tetap saja itu tidak membantu memperbaiki moodnya sekarang. Dengan kesal Minho menekan-nekan tombol yang ada pada stick ps yang dipegangnya, beberapa saat kemudian pemain yang menjadi lawannya malah memasukan bola dan membuat gol, membuat skor lawannya menjadi bertambah.

Berdecak kesal sekaligus keras, Minho beranjak dari duduknya dan mematikan ps itu dengan cepat sehingga layar televisi berubah menjadi gelap. Ternyata bermain ps bukan pilihan yang tepat untuk memperbaiki moodnya –tidak seperti biasanya.

Drrrtt~ ddrrtt~

Minho mengambil dengan malas ponselnya yang tergeletak begitu saja diatas meja, begitu benda tipis itu bergetar. Ternyata ada satu pesan masuk, Minho membuka pesan itu dan mulai membacanya.

From: Youngie pabo.

Chuseok jal bonaeseyo~~!!^^

Miss me Keroro? Kkk~ aaahh, aku ingin merayakan Chuseok disana, disini benar-benar tidak seru. T^T

Apa kau mendapat songpyeon? Sedang apa kau disana? Jangan bilang kau menghabiskan waktu bermain ps? Ah, keroro mianhe aku tidak bisa menemanimu disana. Sebagai gantinya aku mengirimkan sesuatu untukmu. Jjan~

352343734

Once again, happy Chuseok day Choi Minho~~^^

Ps: I miss you.

Minho terkekeh pelan dan kemudian menggelengkan kepalanya beberapa kali, sepertinya ia harus meralat kalimatnya tadi menjadi…

“…Chuseok yang menyenangkan.” Ucapnya pelan, ia masih saja memandangi photo Younggeun yang memakai hanbok itu dengan seulas senyum tipis. Sepertinya moodnya kembali normal dan dia juga tidak sabar menunggu ibunya datang.

Ya, Chuseok yang menyenangkan.

***

Ting tong

“Biar aku saja.” Cegah Jibyung pada salah satu pelayannya yang akan membukakan pintu, pelayan itu mengernyit sebentar tapi kemudian memilih untuk menganggukan kepalanya patuh.

Jibyung berjalan kearah pintu, membukanya pelan. Ia melebarkan senyumannya manakala mendapati Onew berdiri dihadapannya, sesuai dugaannya.

“Chuseok jal bonaesoyo.” Ucap Onew, Jibyung mengangguk dan kemudian melebarkan pintu rumahnya. Memberikan spasi untuk Onew masuk kedalam.

“Ayo masuk.” Ajak gadis itu, Onew mengangguk sekilas dan kemudian melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah mewah tersebut.

“Menunggu lama?”

“Ani~~” Geleng Jibyung, menyuruh Onew untuk duduk dikursi makan yang sudah tersaji songpyeon dan beberapa makanan khas Chuseok lainnya diatas meja panjang tersebut, Jibyung kemudian ikut duduk disamping pria itu.

Tanpa menunggu lama Onew segera menyumpit songpyeon itu untuk dimasukan kedalam mulutnya. Beberapa detik kemudian tidak ada reaksi apa-apa dari Onew membuat Jibyung semakin penasaran dengan hasil masakannya.

“Bagaimana? Apakah enak?” Tanya Jibyung penasaran.

“E-enak.” Sahut Onew dengan seulas senyum yang terlihat kaku, dengan susah payah dia menelan makanan itu.

“Jinjja? Tapi kenapa ekspresimu seperti orang yang menahan sakit seperti itu?” Tanya Jibyung tidak yakin, Onew menggeleng dan meneguk minumannya banyak-banyak.

“Enak kok.” Jawab Onew diselingi ringisan kecil darinya. Kalau boleh jujur rasa songpyeon buatan Jibyung sama sekali jauh dari kata enak, tidak ada yang bisa pria itu deskripsikan untuk rasanya, ah, mungkin ada, rasa abstrak.

Onew sampai harus menahan diri untuk tidak mengeluarkan makanan itu dari dalam mulutnya. Tapi walapun begitu Onew tidak berani berkata jujur pada Jibyung, dia tahu gadis itu sudah berusaha keras untuk membuatnya.

Menghargai usaha orang lain itu termasuk baik kan? Terlebih Jibyung tunangannya.

“Aku masih tidak yakin.” Gumam Jibyung, memanggil beberapa pelayan yang ada disana untuk menghampirinya dan menyuruh mereka untuk memakan songpyeon buatannya juga sekaligus memastikan kalau ucapan Onew tidak bohong.

Begitu songpyeon itu masuk kedalam mulut mereka, ekspresi ketiga pelayan itu benar-benar tidak bisa digambarkan. Mereka mengunyah makanan itu dengan cepat dan ada juga yang langsung menelannya bulat-bulat.

“Bagaimana? Enak?” Tanya Jibyung penasaran, ketiga pelayan itu saling lirik satu sama lain seperti mempertimbangkan ingin berkata jujur atau tidak, tapi pada akhirnya mereka memutuskan untuk mengangguk.

“Enak nona.”

Onew tersenyum tertahan, ekspresi ketiga pelayan tadi ketika memakan makanan itu seolah mengatakan –tahan-dia-nona-muda-kita-. Jibyung mengangguk kemudian tersenyum cerah dan menyuruh mereka untuk pergi, dan Onew yakin ketiga pelayan itu akan menuju kedapur dan minum air dengan banyak.

“Chuseok yang menyenangkan.” Ujar Jibyung riang. Onew memandang gadis disampingnya itu dengan senyuman yang terlukis lebar dibibirnya, rasanya ia tidak pernah bosan untuk menatap wajah itu dalam jangka waktu selama apapun, ia tidak pernah merasa bosan kalau Jibyung adalah objek yang ditatapnya.

“Kenapa menatapku seperti itu? Habiskan songpyeonnya.”

“E-eoh?” Onew tersentak dan menatap ngeri kearah mangkuk yang masih berisi banyak songpyeon. Makan katanya? Memakan makanan dengan rasa abstrak ini?

Sepertinya ia harus meralat pernyataan Jibyung tadi menjadi…

“…Chuseok yang menyenangkan tanpa harus memakan makanan abstark ini.”

***

“Gomawo Jane.”

Donghae menatap tidak percaya kearah Eunhyuk yang baru saja menerima semangkuk songpyeon dari Jane. Eunhyuk juga menerimanya? Jadi gadis itu berniat untuk memberikannya kesemua member dan bukan hanya untuknya seorang?

Terdengar tidak spesial lagi kalau semua orang juga menerimanya. Dan lagi, bentuk songpyeon untuknya lebih jelek dari pada untuk yang lainnya. Contoh saja Eunhyuk, songpyeon miliknya lebih bagus dari bentuk songpyeon miliknya.

Member yang lainnya terlihat mulai memakan songpyeon pemberian Jane dan sesaat kemudian bergumam ‘enak’, Donghae tidak terlalu mempedulikan hal itu. Mungkin Jane ingin semua member kebagian songpyeon buatannya, berbuat baik bukan hal yang salah kan? Lagi pula ini perayaan Chuseok, semua orang bebas memberikan makanan.

Donghae kemudian mulai memakan songpyeon itu dan beberapa detik kemudian dia membekap mulutnya berusaha untuk tidak mengeluarkan makanan itu dari dalam mulutnya.

Rasanya…tidak enak!

Donghae menelan makanan itu dengan cepat, apanya yang enak? Apa lidah mereka sedang bermasalah sehingga tidak bisa membedakan makanan yang enak atau tidak? Jelas-jelas ini tidak enak.

“Hae, ada apa denganmu? Ekspresimu itu seperti orang yang sembelit.” Gurau Eunhyuk diakhiri kekehan geli dari yang lainnya, Donghae mendelik tajam kearah Eunhyuk dan menatap ekspresi mereka satu persatu. Terlihat normal, apa lidahnya saja yang sedang bermasalah?

“Jane, songpyeonmu benar-benar enak.” Puji Eunhyuk dan Jane hanya tersenyum menanggapi. Kali ini Donghae mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Ia kemudian mencoba songpyeon dimangkuk Eunhyuk untuk memastikan perkataan pria itu.

Dan ternyata enak, rasanya benar-benar enak.

“Jane?” Panggil Donghae tidak tahan lagi dengan rasa songpyeonnya yang berbeda.

Jane menoleh, “Ne?”

“Kenapa songpyeon untukku rasanya..uhm..sedikit berbeda dari milik Eunhyuk?” Tanya Donghae hati-hati, ia takut kalau pembicaraannya ini akan menyinggung Jane. Gadis itu sudah baik membuatkan semua makanan ini dan Donghae tahu itu. Hanya saja ia ingin memastikan kalau lidahnya masih normal.

Jane meringis, “Sebenarnya songpyeon milik Eunhyuk dan member lainnya itu Jikyung yang membuatnya. Sedangkan songpyeon yang kau makan aku yang membuatnya. Tidak enak ya? Maaf.” Jelas Jane, Donghae menatap lamat-lamat Jane cukup terkejut dengan penjelasan gadis itu.

Sedetik kemudian Donghae tersenyum dan mengacak rambut Jane sayang.

“Kenapa?” Tanya Jane bingung, Donghae menggeleng dan kemudian menghabiskan songpyeon miliknya walaupun harus dengan bersusah payah dengan rasanya.

“Chuseok yang menyenangkan.” Gumam Donghae, ia tidak tahu kalau bisa sesenang ini mengetahui kenyataan bahwa songpyeon miliknya lah yang spesial karena dibuat langsung oleh gadis itu, hanya untuknya.

Yah, walaupun pengecualian untuk rasanya.

***

“Sudah selesai?”

Jikyung mengangguk dan kemudian mengangkat paper bag yang dibawanya memperlihatkan bahwa ia sudah selesai mempersiapkan barang yang akan dibawanya. Kyuhyun kemudian bangkit berdiri dan mulai berjalan keluar dari rumah Jikyung setelah memastikan kalau gadis itu mengikutinya dan masuk kedalam audi hitamnya.

“Sebenarnya kau akan pergi kemana?” Tanya Kyuhyun menoleh menatap Jikyung. Gadis itu hanya mengangkat bahu tak acuh.

“Nanti juga kau akan tahu.” Sahutnya, Kyuhyun menghela napasnya bosan. Jikyung terlihat berbeda hari ini, gadis itu terlihat lebih pendiam.

Kyuhyun akhirnya mulai menyalakan mesin mobilnya dan mulai menjalankan kendaraan beroda empat itu untuk berbaur dengan mobil-mobil lainnya membelah jalanan Seoul, memilih untuk tidak terlalu memikirkannya meskipun dia masih penasaran.

Pria itu agak sedikit terkejut ketika dengan tiba-tiba Jikyung menghubungi dirinya –sesuatu yang sangat jarang dilakukan gadis itu sebelumnya. Jikyung meminta dirinya untuk mengantarnya kesuatu tempat, entah tempat apa itu. Karena tidak ada jadwal dan tidak ada kegiatan yang dilakukannya hari ini, Kyuhyun akhirnya mengiyakan ajakan Jikyung.

Alasan lainnya karena ia merasa bosan berada didorm, melihat Donghae dan Jane mengumbar kemesraan setiap saat –setelah mereka resmi berpacaran berbulan-bulan yang lalu. Bicara tentang waktu sudah hampir satu tahun lebih Jikyung dan Kyuhyun saling mengenal, masih terekam dengan jelas diingatan Kyuhyun tentang pertemuan pertama mereka.

Jikyung yang dengan tiba-tiba saja masuk kedalam mobilnya dan menyuruhnya untuk membawanya pergi dari kejaran satpam apartementnya. Dari pertemuan tidak sengaja itu Kyuhyun tidak menyangka kalau mereka bisa sampai sekarang ini. Sedikit demi sedikit Kyuhyun mulai menyadari kalau kehadiran gadis itu mampu mempengaruhi kehidupannya.

Kehidupan abu-abunya setahun lalu menjadi berwarna kembali. Tanpa ia sadari Kang Jikyung telah menjadi bagian terpenting dalam hidup Cho Kyuhyun.

“Berhenti disini?” Kyuhyun dengan segera menginjak pedal rem dan seketika mobilnya berhenti melaju. Ia mengernyit tidak mengerti ketika menyadari ada dimana mereka sekarang, pemakaman.

Untuk apa gadis itu membawanya ketempat seperti ini?

“Kau mau ikut atau tunggu disini?” Tanya Jikyung menatap Kyuhyun menunggu jawaban. Kyuhyun terlihat berpikir sejenak tapi kemudian lelaki itu memutuskan untuk ikut. Mereka berdua lalu berjalan memasuki pemakaman tersebut.

Kyuhyun masih menutup mulutnya untuk tidak menanyakan kenapa gadis itu membawa mereka ketempat seperti ini, walaupun dari tadi dia ingin sekali menanyakan tentang hal itu.

Jikyung menghentikan langkahnya disalah satu makam, tanpa mengeluarkan sepatah katapun Jikyung mengeluarkan soju dari dalam paper bagnya dan menaruhnya disamping kuburan itu kemudian mulai mencabuti rumput liar yang tubuh digundukan tanah itu dalam diam.

Keadaan hening menyelimuti mereka cukup lama membuat Kyuhyun benar-benar merasa tidak nyaman dengan keadaan ini.

“Oemma…” Gumam Jikyung pelan tapi masih mampu didengar Kyuhyun dengan cukup jelas membuat pria itu menoleh dengan cepat menatap Jikyung. Jadi ini kuburan ibunya?

“Oemma, Chuseok jal bonaesoyo. Maaf bar datang kemari sekarang, hari ini aku sibuk sekali. Oemma tahu, aku sudah mendapatkan pekerjaan sekarang.” Jikyung mulai menuangkan soju kegelas plastik dan menaruhnya, bahunya mulai terlihat bergetar menahan tangis.

Ia berusaha untuk mengendalikan emosinya, seperti tahun-tahun sebelumnya ia selalu tidak bisa mengendalikan dirinya ketika sudah mengunjungi peristirahatan terakhir ibunya.

“Aku merindukanmu oemma…” Lirih Jikyung menempelkan kepalanya kearah gundukan tanah tersebut dan setetes air mata meluncur bebas dari matanya. Dan nyatanya ia tidak bisa mengendalikan emosinya dan berakhir dengan sebuah tangisan.

Jikyung merindukan ibunya, amat sangat merindukan sosok perempuan yang selalu mendekapnnya hangat dan menyunggingkan sebuah senyuman ketika menyambutnya pulang. Tidak ingin terlalu lama hanyut dalam kesedihan, Jikyung bangkit berdiri dan membungkuk dalam kehadapan makam itu dan setelah itu berjalan pergi. Kyuhyun yang masih bingung dengan kepergian gadis itu membungkuk sesaat kearah kuburan itu dan berjalan mengejar Jikyung.

“Kenapa pergi?” Tanya Kyuhyun  setelah mereka berdua berada didalam mobil, Jikyung hanya memalingkan wajahnya kesamping menyembunyikan air matanya.

“Aku selalu tidak bisa mengendalikan emosiku setiap berada disana.” Lirih Jikyung, Kyuhyun menatap gadis itu lama. Cukup terkejut mendapati kalau gadis itu sedang menangis, apalagi dihadapannya seperti ini.

“Ibuku sudah meninggal…,” Jelas Jikyung tanpa diminta, ia kemudian mengusap matanya menggunakan punggung tangannya sedikit kasar, “Empat tahun yang lalu.”

“Maaf karena mengajakmu ketempat seperti ini, aku tidak tahu harus mengajak siapa lagi.” Cicit Jikyung, masih mencoba untuk menyembunyikan air matanya.

“Cengeng ya?” Tambah gadis itu berusaha untuk tersenyum kearah pria itu tapi gagal, air matanya malah meluncur turun dengan bebas dan membuat Kyuhyun tanpa sadar mengusap air mata gadis itu menggunakan ibu jarinya.

“Ya, sangat cengeng.” Sahut Kyuhyun mengangguk polos dan mau tak mau membuat Jikyung mendengus geli.

“Terimakasih atas ucapanmu yang menghibur itu Cho Kyuhyun.”

“Sama-sama.”

Dan mereka berdua pun terkekeh bersamaan, perasaan gadis itu sudah jauh lebih baik sekarang. Ia tidak menyangka Kyuhyun mempunyai kemampuan untuk menghibur orang dengan mulut pedasnya seperti itu. Beri tepuk tangan untk Cho Kyuhyun.

“Kang?” Panggil Kyuhyun setelah cukup lama diisi oleh kebisuan diantara mereka.

“Hmm?” Sahut Jikyung mengangkat sebelah alisnya menunggu Kyuhyun untuk melanjutkan ucapannya.

“KangJi?”

“Wae?”

“Jikyung…”

“Apa Kyuhyun?” Sahut Jikyung memutar kedua bola matanya kesal ketika pria itu mulai berbicara berbelit-belit.

“Jangan menangis lagi, aku tidak suka.” Ucap Kyuhyun cepat sekaligus dengan nada suara yang datar dan sebagai reaksi Jikyung hanya membelalakan matanya tidak percaya. Kyuhyun mengatakan apa tadi? Apa telinganya sedang bermasalah sekarang? Sepertinya memang iya, tidak mungkin seorang Cho Kyuhyun bisa mengatakan kata-kata seperti itu, lebih spesifiknya lagi padanya?

Hah, sangat bukan Cho Kyuhyun sekali. Tapi akhir-akhir ini Kyuhyun sering sekali menunjukan sifat atau perilaku yang bukan dirinya.

“Mau ikut denganku?”

“Eoh?” Jikyung memiringkan sedikit kepalanya dan menatap Kyuhyun bingung, “Eodi?”

“Nanti juga kau tahu, jadi kau mau ikut?” Tanya Kyuhyun memperlihatkan seringaian khas yang hanya dimiliki oleh pria itu dan ngomong-ngomong Jikyung sudah sangat lama tidak melihat seringain evilnya, eh? Kapan terakhir dia melihat seringaian itu, sepertinya sudah sangat lama dan entah kapan itu.

Karena akhir-akhir ini disadari atau tidak Kyuhyun sering memperlihatkan senyuman dan bukan seringaian.

Setelah berpikir cukup lama sampai membuat Kyuhyun menunggunya dengan bosan, Jikyung akhirnya mengangguk mengiyakan.

“Keurae, aku akan ikut denganmu.” Putus Jikyung, Kyuhyun tersenyum tipis dan mulai menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan area pemakaman itu.

***

Berbeda dengan keadaan diluar yang tenang dan terbilang hening itu, keadaan didalam sebuah ruangan yang kedap suara benar-benar jah dari kata hening dan malah terbilang ramai dan berisik. Suara Jikyung bergema diruangan itu, ia masih tetap asik bernyanyi tidak mempedulikan tampang Kyuhyun yang sudah menatapnya dengan tatapan –aku-bisa-tuli-kalau-kau-terus-bernyanyi-seperti-itu-.

Mengacuhkan tampang pemuda itu, Jikyung malah menaikan volume suaranya. Ia hanya ingin menghilangkan perasaan sedihnya mengingat mendiang ibunya dengan terus bernyanyi –berteriak tepatnya. Secara tidak langsung dia berterimakasih dan bersyukur ketika Kyuhyun membawanya ketempat karoke sekarang. Ia harus mengacungi jempol untuk tindakan Kyuhyun yang berusaha menghiburnya mungkin.

Lain Jikyung, lain juga Kyuhyun. Jika Jikyung merasa senang berada ditempat seperti ini, Kyuhyun sebaliknya. Ia benar-benar menyesal membawa gadis itu kemari, tadinya ia bermaksud hanya ingin membuat perasaan Jikyung lebih ringan dengan bernyanyi. Tapi ia tidak menyangka kalau Jikyung akan bernyanyi sebrutal ini.

“Kang Jikyung berhenti berteriak seperti itu, kau benar-benar membuat gendang telingaku rusak.” Gerutu Kyuhyun bangkit berdiri dan mulai merebut mic dari tangan Jikyung  yang sedang menyanyikan lagu Lucifer milik SHINee itu.

“Ya! Kenapa kau merebut mic-nya?” protes Jikyung tidak terima.

“Karena kau bernyanyi seperti orang gila.” Sahut Kyuhyun tajam, membuat Jikyung mendelik tidak terima dan mencebikkan bibirnya kesal.

“Duduk dan lihat bagaimana penyanyi profesional bernyanyi.” Ucap Kyuhyun percaya diri, khas Cho Kyuhyun sekali. Pria itu lalu menyuruh Jikyung duduk dikursi, sementara dirinya mulai memilih lagu yang akan dinyanyikannya.

Dengan gerutuan yang tiada henti, Jikyung akhirnya duduk disofa dan mulai memperhatikan Kyuhyun yang berdiri didepan dengan tampang malas. Intro lagu mulai terdengar, Jikyung masih memandang Kyuhyun tanpa minat sampai suara Kyuhyun yang mulai bernyanyi merubah ekspresi Jikyung dengan raut wajah terkesima.

apado amureochi anheun cheok
nunmuri heulleodo gamchuneun beop
maeumhan jjok geugose namgyeonoko
amuil eopdaneundeusi utneun beop
heeojineun bangbeop

maeumi ireoke tto jeomuljyo
sumanheun miryeondeul tto heomuljyo
dasi jiwogagetjyo adeukhaejigetjyo
uri seoro ijeogagetjyo

nae uimieomneun haruga tto
jinagagetjyo

o duldoeomneun urisarang
eopdeonirijyo

bogosipda haedo dasin bolsu eopgetjyo
apado chamayagetjyo
heeojineun bangbeobijyo

neoeomneun haruga iksukhajyo
naeireun jogeumdeo pyeonhagetjyo
jeomjeom ijeogagetjyo
eojjeom saenggangnagetjyo joheun
chueokdeulman namgetjyo

nae uimieomneun haruga tto
jinagagetjyo

o duldoeomneun urisarang
eopdeonirijyo
bogosipda haedo dasin bolsu eopgetjyo
apado chamayagetjyo

(apado amureochi anheun cheok)
(nunmuri heulleodo gamchuneun beop) geudage nan bwara boneun nariga
(maeumhan jjok geugose namgyeonoko
amuil eopdaneundeusi utneun beop)
(heeojineun bangbeobijyo) ijeoyahaneunde

nae gadeukgoin nunmulmani neol
gieokhago

tto haengbokhaetdeon heunjeokdeuri
neomu manhaseo
naege sarangiran neomu
gaseum
apeunil apado chamayagetjyo
geureoke itgetjyo

(Kyuhyun – The way to break up)

Kenapa suaranya bisa seindah ini? Suaranya menenangkan.

Jikyung masih belum berkedip ketika Kyuhyun mengakhiri lagu The way to break up milik dirinya sendiri yang barusan dinyanyikannya, sampai pria itu duduk disampingnya pun Jikyung masih belum berkedip.

“Terpesona, eh? Kau bisa jatuh cinta kalau memandangku seperti itu.” Goda Kyuhyun lengkap dengan seringaian khas membuat pipi Jikyung untuk sesaat merona merah.

“Aku tidak akan terpesona padamu, kalau pada suaramu sih iya.” Ujar Jikyung dengan suara yang sangat pelan diakhir kalimatnya, tapi jujur tadi Jikyung  benar-benar terpesona dengan suara Kyuhyun , ia tidak pernah menyangka suara Kyuhyun akan seindah itu.

Selama ini ia tidak pernah memperhatikan pria itu, fokusnya hanya tertuju pada Choi Siwon dan ia sedikit menyesal karena melewatkan suara indah milik Kyuhyun. Hey, kemana saja dia? Disaat semua orang sudah mengakui suara Kyuhyun itu bagus, ia baru mengakuinya sekarang?

Suara Kyuhyun….menenangkan. untuk sesaat tadi ia benar-benar melupakan semuanya, fokusnya hanya pada pemuda itu.

Suara Kyuhyun….membuatnya merasa aman. Entahlah, ia merasakan perasaan aman dan damai dalam hatinya.

Suara Kyuhyun….eh, kenapa sekarang ia malah memuji suara pemuda itu? Bisa-bisa Kyuhyun besar kepala kalau mendengar semua pujian Jikyung untuknya.

“Aku bilang jangan terpesona padaku, kau malah sudah memujiku lebih dulu. Ck, ck, ck.” Ujar Kyuhyun dengan ekpresi yang berlebihan, membuat Jikyung mencebikan bibirnya kesal. Apa dia bisa membaca pikiran Jikyung? Kenapa dia bisa tahu kalau barusan gadis itu memujinya?

“Tidak, aku tidak memujimu dan tidak akan pernah terpesona padamu. Titik.” Sangkal Jikyung dengan semburat merah yang semakin mengiasi pipinya. Ia kemudian mengulurkan tangannya bermaksud untuk memukul bahu Kyuhyun tapi tangan pria itu lebih dulu menahannya.

“Jangan bohong, wajah merahmu menjelaskan semuanya. Pesona Kyuhyun memang terlalu sulit untuk diabaikan.” Kata Kyuhyun dengan tingkat kepercayaan dirinya yang hampir melewati ambang kenormalan –menurut Jikyung.

“Aku tidak pernah terpesona padamu.”

“Oh ya? Tapi banyak gadis yang terpesona padaku.”

“Ya, dan aku bukan mereka. Karena aku Kang Jikyung gadis yang tidak akan jatuh dalam pesonamu. Pengecualian untuk suaramu.” Sahut Jikyung menjulurkan lidahnya kearah Kyuhyun.

“Benarkah?” Tanya Kyuhyun dengan tatapan tidak percaya yang dibuat-buat.

“Tentu saja-

Cup

…aku akan terpesona padamu.” Sahut Jikyung tanpa sadar, membulatkan kedua bola matanya ketika dengan tiba-tiba Kyuhyun mencium pipinya sekilas membuat pertahanannya seketika goyah.

“Jadi masih mau menyangkal kau tidak terpesona padaku?” Goda Kyuhyun dengan seringaian dan ekspresi kemenangannya.

Untuk beberapa saat Jikyung masih diam bergeming, jantungnya tiba-tiba berdentum dengan keras hampir melewati detakan normal. Pipinya yang sdah merona merah tambah merah dan terasa menghangat. Jikyung masih bisa merasakan bibir Kyuhyun dipipinya.

Kenapa? Perasaan seperti ini ia rasakan kembali setelah sekian lama hatinya tertutup. Dan kenapa harus Kyuhyun? Apa benar ia sudah jatuh dalam pesona lelaki itu tanpa ia sadari?

“Kalau kau terpesona dan jatuh cinta padaku juga tidak apa-apa, jangan melamun. Ayo pergi.” Ajak Kyuhyun menarik tangan Jikyung keluar dari tempat karoke itu, Kyuhyun menarik topinya semakin kedalam manakala orang-orang yang  melewatinya menatap ia lama.

Sementara Jikyung sama sekali tidak memperhatikan sekeliling, ia sibuk menormalkan kembali detak jantungnya yang berdetak berlebihan. Ia kemudian menatap tangannya yang digenggam Kyuhyun dan punggung pria itu bergantian.

Tangan pria itu besar dan hangat.

Hah, sepertinya sudah mulai gila Jikyung.

“Hampir saja, kenapa mereka bisa menatapku seperti itu? Benar-benar membuatku repot.” Keluh Kyuhyun melepas topi yang dikenakannya barusan ketika mereka sudah masuk kedalam mobil.

“Karena kau begitu populer dikalangan para gadis, Cho Kyuhyun evil magnae.” Sahut Jikyung setengah mencibir.

“Jadi kau baru mengakui kalau aku begitu populer, eh?” Balas Kyuhyun dengan jawaban yang membuat Jikyung diam seketika, sepertinya gadis itu salah langkah. Kyuhyun dan mulut tajamnya itu sangat berbahaya.

Jikyung berdehem beberapa kali, ia benar-benar ingin keluar dari pembicaraan ini.

“Terserah.” Jawab Jikyung pada akhirnya mendengus dan memalingkan mukanya kesamping. Percuma saja kalau ia terus menyangkalnya. Tidak akan pernah ada habisnya.

“Kang Jikyung.”

“Apa lagi?” Sahut Jikyung jengah menolehkan kepalanya kearah pria itu.

“Gumawo.”

“Untuk apa?” Tanya Jikyung, berjengit menatap pria itu.

“Karena sudah terpesona padaku.”

“Geezz~” Geram Jikyung memutar kedua bola matanya kesal. Kyuhyun tertawa puas dan mengacak rambut gadis itu yang disambut Jikyung dengan delikan tidak suka.

“Bercanda, itu salah satunya. Tapi aku ingin berterimakasih padamu karena telah masuk dalam kehidupan Cho Kyuhyun.” Ucap Kyuhyun serius membuat Jikyung menatap pria itu tidak mengerti.

Sebenarnya ada apa dengan pemuda itu hari ini? Dari tadi yang ia bicarakan hal-hal yang membuat Jikyung tidak mengerti.

“Cho, kepalamu sedang terbentur sesuatu kan?”

“Mungkin.” Sahut Kyuhyun mengangkat kedua bahunya tak acuh. Jikyung menatap pria itu dengan tatapan aneh, ia bahkan sampai bergidik menatap Kyuhyun seperti itu. Aneh!

“Siapa yang membuat kepalamu terbentur Cho?” Jikyung bertanya masih dengan mengernyit aneh memandang pria itu.

“Mau kujawab dengan jujur?”

“Gezz, apa?” Sahut Jikyung malas, memang apa sih?

“Kepalaku terbentur oleh sesuatu yang bernama cinta.” Jawab Kyuhyun mendekatkan wajahnya kearah Jikyung tapi gadis itu dengan refleks membekap mulutnya. Kyuhyun tersenyum geli dan kemudian memindahkan bibirnya kearah kening Jikyung, mencium kening itu dengan lembut dan lama.

Dengan ini ia telah memastikan satu hal.

Kyuhyun lalu menatap mata gadis itu dengan jarak yang sangat dekat, ia baru menyadari kalau Jikyung mempunyai bola mata yang indah.

“Pulang?” Ajak Kyuhyun masih dalam jarak dekat, Jikyung sempat menggerak-gerakan bola matanya menghindari tatapan Kyuhyun, tapi percuma saja karena matanya selalu saja tertarik untuk balas menatap pria itu dan Jikyung akhirnya mengangguk.

Kyuhyun tersenyum menjauhkan kembali jarak diantara mereka, ia kemudian mulai memacu mobilnya meninggalkan pelataran salah satu karoke mewah itu.

***

Setelah menghabiskan waktu dalam kecanggungan –khususnya untuk Jikyung. Akhirnya mereka sampai juga didepan rumah gadis itu. Dengan cepat Jikyung melepaskan seatbelt pada tubuhnya dan membuka pintu mobil itu setelahnya.

“Mau mampir?” Tawar Jikyung walau gadis itu setengah berharap Kyuhyun akan menolaknya.

“Tidak, ini sudah malam.” Tolak Kyuhyun, Jikyung mengangguk kemudian keluar dari dalam audi hitam itu. Ia tersenyum sekilas kemudian mulai berjalan menuju kerumahnya.

“Aku pulang~” Ujar Jikyung riang, membuka pintu rumahnya dengan langkah ringan.

Tuan Kang dan Jira saling bertukar pandang selama beberapa saat, menatap putri atau kakak perempuannya itu aneh. Tidak biasanya Jikyung ‘seceria’ ini?

“Apa terjadi sesuatu yang menyenangkan?” Tanya tuan Kang penasaran dan diberi anggukan setuju oleh Jira.

“Hmm..,” Jikyung masih mengulum senyumnya, kemudian mengangkat kedua bahunya, “…sedikit.”

“Aku kekamar dulu appa, Jira.” Tambah gadis itu, berjalan masuk kedalam kamarnya sebelum ayahnya itu menyahut. Setelah menutup pintu kamarnya, Jikyung menghempaskan dirinya diatas ranjang.

Tanpa sadar ia malah tersenyum sendiri, mengambil bantal kemudian menenggelamkan kepalanya kedalam busa empuk itu.

“Sepertinya aku mulai gila, gila.”

“Apanya yang gila?”

Refleks Jikyung bangkit terduduk dan mendengus begitu adiknya itu berjalan kearahnya dengan ekspresi jahil yang sengaja diperlihatkan.

“Tidak, lupakan.” Jira masih menatap kakaknya itu tidak percaya, ia kemudian duduk disamping Jikyung.

“Apa karena Kyuhyun?” Goda Jira menaik turunkan alisnya disertai dengan cengiran lebar darinya.

“Tidak.”

“Benarkah? Lalu siapa tadi yang mengantarmu pulang, kurasa aku tahu mobil siapa itu. Lagi pula seharian ini kau kemana oenni? Menghabiskan Chuseok dengan Kyuhyun?” Goda gadis tujuh belas tahun itu panjang lebar.

Jikyung mencebikan bibirnya kemudian memukul lengan Jira menggunakan bantal yang ia pegang.

“Bukan urusanmu.” Sahut Jikyung walau tak dipungkiri pipinya merona merah, ia seperti sudah mulai gila.

“Kau menyukainya kan?” Tanya Jira masih belum menyerah, Jikyung mendelik kemudian berbaring membelakangi adiknya dan menyelimuti seluruh tubuhnya.

“Kau menyukainya, akuilah itu.” Seru Jira mengguncang-guncang tubuh Jikyung dengan keras. Sungguh, ia akan ikut senang kalau memang Jikyung menyukai Cho Kyuhyun. Kakak perempuannya butuh seseorang yang menyayanginya…..lagi.

“Diam Jira~~” Suara Jikyung terdengar teredam oleh selimut yang membungkus tubuhnya. Ia hanya tidak ingin Jira melihat rona merah dipipinya, bisa-bisa gadis itu semakin semangat menggodanya.

“Jujurlah pada perasaanmu, kau menyukainya kan?” Jira mendekatkan tubuhnya pada tubuh Jikyung, menarik paksa selimut yang menutupi tubuh kakaknya dan menunjukan cengirannya begitu melihat wajah Jikyung merona.

“Wajahmu memerah, aku sudah lama tidak melihat wajahmu memerah seperti ini.”

“Sana pergi.” Jikyung berdecak kemudian mengusir adiknya itu keluar dari kamarnya, “Belajar yang benar anak kecil.”

“Aku bukan anak kecil! Aku akan memberitahu appa kalau kau sedang jatuh cinta pada superstar itu.” Jira menjulurkan lidahnya dan berjalan dengan langkah cepat keluar dari kamar kakaknya.

“Kau…haisshh~ Ya!” Jikyung bangkit dari ranjang berniat untuk mengejar adiknya, tapi langkahnya harus terhenti ketika ia merasakan ponselnya bergetar. Ia terlonjak kaget begitu nama idiot Cho termpampang di ID callernya. Dengan ragu Jikyung menjawab telfon itu.

“Yeoboseyo?”

“Kau belum tidur?” Tanya Kyuhyun diseberang sana, sepenuhnya mengacuhkan sapaan telfonnya barusan.

“Kalau aku tidur aku tidak akan mungkin bisa menjawab telfonmu.” Cibir Jikyung cukup jengah.

“Cepat sedikit Kyu.” Jikyung mengernyitkan keningnya heran begitu ia mendengar suara diseberang sana.

“Ada siapa disana, Cho?” Tanya Jikyung menyuarakan pikirannya.

“Hanya Sungmin hyung.” Jawab Kyuhyun membuat Jikyung ber ‘oh’ ria sesaat. Suasana hening menyambut mereka, mereka berdua sama-sama terdiam. Mungkin kehabisan bahan obrolan untuk dibicarakan.

“Kau akan menghabiskan biaya telfon kalau terus diam, ada apa sih menelfonku?” Seru Jikyung tidak sabar setelah beberapa lama mereka menghabiskan waktu dalam diam, seperti orang bisu saja. Pikir gadis itu.

Terdengar kekehan dari seberang sana dan setelahnya gerutuan Kyuhyun menyusul, “Oh diamlah, Sungmin hyung.”

“Cepatlah, sepertinya ia kesal melihatmu diam seperti orang bisu.”

“Oh just shut up your mouth, sana pergi kau menggangguku saja.” Jikyung bisa mendengar Kyuhyun mengusir Sungmin dan setelahnya terdengar debuman pintu yang ditutup.

“Hah, sepertinya kau berniat menelfonku hanya untuk mendengar kalian berdebat. Aku tutup telfonnya kalau begitu.”

“Tunggu.” Cegah Kyuhyun membuat Jikyung menghentikan gerakan memutuskan telfon.

“Apa?”

“Apa kau ada waktu besok? Aku ingin berbicara sesuatu denganmu.”

“Membicarakan apa?”

Kyuhyun mendengus kesal diseberang sana, “Aku hanya ingin membicarakannya besok, tidak sekarang.” Tekan Kyuhyun.

“Tapi aku penasaran-“

“Bisakah kau hanya mengatakan ‘ya’ dan berhenti berbicara yang lain?” Potong Kyuhyun sebelum Jikyung benar-benar menyelesaikan ucapannya.

“Ya, ya, aku mengerti. Dimana?”

“Restoran Jane, sore hari. Jangan terlambat.” Tekan Kyuhyun diakhir kalimatnya, Jikyung mencibir kemudian memutar kedua bola matanya walau pada kenyataannya pria itu tidak akan melihatnya.

“Ini sih terdengar seperti perintah dan bukan ajakan. Khas Cho Kyuhyun sekali.” Cemooh gadis itu.

“Karena memang aku memerintahkanmu, jangan terlambat.”

“Kau sudah mengatakannya dua kali.”

“Aku tutup telfonnya, jangan sampai terlambat.”

“Aigoo~ kau mau mengatakannya sampai berapa kali? Aku tidak tuli!”

Jikyung mendengus kesal menatap layar ponselnya sedetik kemudian dia tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya beberapa kali. Kalau dipikir-pikir, mereka berdua tidak pernah telibat pembicaraan ‘baik-baik saja’ hampir dihabiskan dengan perdebatan-perdebatan yang tidak penting sebenarnya. Tapi memang seperti itulah mereka berdua dan Jikyung menikmatinya.

***

Cho Kyuhyun adalah pria tampan yang dianugerahi dengan berbagai kelebihan. Diberi suara bagus yang membuat sebagian gadis meleleh ketika mendengar suaranya, diberi kecerdasan pada otaknya, terbukti dari dia yang memenangkan juara olimpiade matematika ketika dia high school. Oh dan jangan lupakan popularitas yang didapatnya sekarang sebagai magnae dari Super Junior yang digilai banyak gadis diseluruh dunia.  Ia harus bersyukur pada Tuhan karena diberi semua kelebihan itu.

Siapa yang tidak mengenal pria bernama Cho Kyuhyun? Semua orang mengenalnya.

Lupakan tentang semua ketenaran dan kelebihan pria itu, karena nyatanya sekarang pria itu menganggap kalau kepopulerannya itu akan sedikit menyusahkannya. Mempersulit dirinya hanya untuk memikat seorang gadis.

Ya, Kyuhyun mengakui sekarang –setelah selama semalaman Sungmin berbicara –menceramahinya- tentang perasaannya pada gadis itu, bahwa sebenarnya Kyuhyun memang menyukai Kang Jikyung. Dia tidak mau menyangkalnya lagi sekarang.

Terasa begitu nyaman ketika berada didekat gadis itu, ia ingin melindunginya, memiliki dan mematenkan gadis itu sebagai gadisnya. Tapi terasa begitu sulit hanya untuk mengucapkan ‘aku mencintaimu’ atau ‘jadilah pacarku’.

Kyuhyun tidak biasa mencintai, tapi ia terbiasa dicintai. Semua orang mencintainya, semua orang mengidolakannya dan semua itu semakin membuatnya sulit. Oh, kenapa terasa sangat sulit hanya untuk menyatakan perasaannya saja.

Dan kalaupun ia berhasil menyatakan perasaannya, apakah gadis itu akan menerimanya?

Kang Jikyung berbeda dari wanita kebanyakan yang pernah ditemuinya, perempuan itu terlihat cantik dengan caranya sendiri. Meskipun kelakuannya sering kali membuat Kyuhyun kesal, tapi gadis itu adalah salah satu perempuan dari banyaknya perempuan yang berhasil membuatnya nyaman. Jikyung selalu menganggap Kyuhyun sebagai Kyuhyun dan bukan Kyuhyun magnae Super Junior, dan hal itu adalah salah satu hal menarik yang dimiliki Jikyung yang membuat Kyuhyun menyukainya.

“Belum datang juga?”

“Belum Jane.”

.

.

.

.

.

.

 

Jikyung mengutuk manager diperusahaannya dengan berbagai kutukan yang ia bisa, kalau bukan karena pria berumur empat puluh tahun itu yang menyuruhnya ini itu, ia pasti sudah pulang dari tadi siang. Dengan manager yang membuatnya menggerutu tiada hentinya itu, ia jadi terlambat dari waktu yang dijanjikan Kyuhyun di telfon.

Sudah terbayang diotaknya ekspresi apa yang akan diperlihatkan pria itu nanti padanya. Dan dari semua keterlambatannya itu, kenapa harus diperparah dengan ponselnya yang tertinggal dirumah. Gadis itu jadi harus kembali kerumah sebelum pergi kerestoran Jane.

Dengan langkah terburu-buru, Jikyung berjalan memasuki rumahnya dan masuk kedalam kamarnya. Mengedarkan pandangan kesekeliling, mendesah lega begitu melihat ponselnya berada diatas meja belajarnya.

Dengan cepat Jikyung mengambil benda tipis persegi panjang itu, mendengus begitu melihat beberapa missed call dari Kyuhyun. Sudah diduga pria itu akan marah. Jikyung lalu memasukan ponselnya kedalam tasnya, karena terlalu terburu-buru ia tidak sengaja menyenggol frame photo yang membuat benda itu jatuh dan menghasilkan bunyi pecahan kaca.

Prang!

Jikyung mendesah, ia kemudian berjongkok untuk membersihkan pecahan kaca itu. Tapi tubuhnya tiba-tiba menegang sempurna manakala ia melihat siapa orang yang ada didalam photo tersebut. Dirinya dan seorang lelaki yang sangat dicintainya sampai sekarang.

“Daehyun…” Gumamnya memegang photo itu, ia tidak memedulikan kalau sekarang jarinya mengeluarkan darah karena tertusuk pecahan kaca.

Jangtungnya mulai berdetak dengan keras, ketika beberapa memori berputar diotaknya.

“Aku tidak akan pernah mengkhianatimu.”

“Benarkah?”

“Yup, karena kau adalah namja yang aku cintai sekarang dan nanti.”

Deg!

Jikyung menepuk dadanya beberapa kali hanya untuk menghilangkan rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya. Air matanya sudah meluncur dengan bebas membasahi pipi putihnya. Ia sudah berjanji pada pria itu dan kenapa ia harus melupakannya?

Daehyun.

***

Sudah tidak terhitung berapa kali Kyuhyun melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Kemana sih gadis itu? Kenapa sampai sekarang belum datang juga?

Jane dan Jibyung hanya bisa menatap Kyuhyun dengan prihatin, dari tadi pria itu sama sekali tidak beranjak sedikit pun dari duduknya. Mereka berdua jadi merasa kesal pada Jikyung, kemana gadis itu? Sudah berkali-kali Jane mencoba menghubunginya, tapi tetap tidak ada yang mengangkatnya.

Kalau saja Jikyung tahu pengorbanan Kyuhyun hari ini untuknya, pria itu menyiapkan acara makan ini dengan sempurna bahkan Kyuhyun bersedia menyewa restoran Jane hari ini, sehingga tidak ada pelanggan yang datang.

Dimeja pria itu sudah terhidang beberapa menu makanan dan karena Jikyung belum juga datang sampai sekarang, makanan itu menjadi dingin. Kyuhyun juga terlihat sangat tampan hari ini dengan kemeja putih yang dikenakannya, kalau saja Jane dan Jibyung tidak ingin sudah memiliki Donghae dan Onew mungkin mereka berdua akan terpesona pada Kyuhyun hari ini.

“Kemana sih anak itu?” Gerutu Jibyung melirik pintu restoran beberapa kali dan yang bisa dilakukan Jane hanya menggeleng menanggapi karena memang dia tidak tahu.

Kling.

Tak lama setelah itu bunyi bel restoran Jane berbunyi, seseorang terlihat tengah membuka pintu restoran dan tak lama kemudian gadis yang telah ditunggu-tunggu itu datang dan berjalan menghampiri meja Kyuhyun.

Kyuhyun mendongak dan menatap gadis itu dengan tatapan kesal, matanya masih mengawasi Jikyung sampai gadis itu duduk dikursi dihadapannya. Ia tahu Kyuhyun sedang menatap intens dirinya dan ia berusaha sebisa mungkin untuk menghindari tatapan itu.

“Tidak ada yang ingin kau katakan?” Tanya Kyuhyun memecah keheningan.

Jikyung menunduk, “Maaf, aku terlambat.”

Kyuhyun mendengus kemudian meneguk coffe yang sepunuhnya dingin itu karena didiamkan terlalu lama.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan Kyuhyun~ssi?” Tanya Jikyung masih menunduk memainkan garpu diatas meja, terlihat sekali menghindari tatapan Kyuhyun.

Pria itu tersendak, hanya sesaat karena berikutnya Kyuhyun sudah menyimpan cangkir coffe kembali keatas meja. Ia meneguk ludahnya dan menatap Jikyung ragu.

“Aku mempunyai masalah? Apakah kau bisa membantuku?” Tanya Kyuhyun menyandarkan punggungnya disandaran kursi.

Jikyung mendongak dan mengerutkan kedua alisnya, “Masalah?”

Kyuhyun mengangguk, “Ya, masalah. Apakah kau bisa membantuku?” Ulang Kyuhyun.

“Kenapa harus aku?” Tanya Jikyung tidak mengerti dan melemparkan pandangan bingung pada pemuda itu.

“Karena hanya kau yang bisa menyelesaikan masalahku.” Jawab Kyuhyun, bibirnya berkedut menahan senyum.

“Aku?” Tunjuk Jikyung pada dirinya sendiri, ia terlihat menggerak-gerakan kedua bola matanya cepat, “tergantung apa masalahnya yang bisa aku bantu, jadi apa masalahnya?”

Kyuhyun menegakan duduknya dan menatap Jikyung dengan tatapan serius yang ia punya. Pria itu terdiam selama beberapa saat, tapi kemudian mulai menggerakan bibirnya untuk membuka suara.

“Masalahnya adalah karena aku telah jatuh cinta padamu. Apakah kau bisa menyelesaikan masalahku?” Tanya Kyuhyun menatap Jikyung lamat-lamat.

Sementara Jikyung hanya bisa membulatkan kedua matanya, ia menatap Kyuhyun tidak percaya. Tangannya tiba-tiba terasa dingin. Kyuhyun jatuh cinta padanya? Apakah semua ini mimpi? Seorang Cho Kyuhyun?

“Aku mencintaimu.” Terasa luar biasa sulit untuk Kyuhyun mengatakan itu.

“…..”

Diam, itulah yang dilakukan Jikyung sekarang. Ia menggigit bibir bawahnya, mencerna semua kata-kata yang didengarnya barusan. Terasa terlalu tidak mungkin untuk seorang Cho Kyuhyun mencintainya.

Jikyung menatap dalam mata itu, mencari kesungguhan dari kata yang dikeluarkannya barusan.

“Katakan sesuatu, sekarang waktunya kau mengatakan sesuatu.” Tuntut Kyuhyun karena selama beberapa saat Jikyung masih saja belum mengeluarkan sepatah katapun.

“Aku…,” Jikyung menggerak-gerakan kedua bola matanya gelisah, “…tidak bisa. Maaf.”

Kyuhyun menggerakan kedua bola matanya dengan cepat menatap Jikyung, hatinya tiba-tiba mencelos sakit. Tidak….bisa katanya? Apakah sekarang ia baru saja ditolak? Apakah seperti ini rasanya pertama kali ditolak oleh seorang wanita, kenapa rasanya tidak enak, terasa sakit dan kecewa.

“Kyuhyun-“

“Kenapa?” Potong Kyuhyun menatap Jikyung meminta penjelasan, “Apakah kau tidak menyukaiku?”

“A-aku tidak bisa, maafkan aku.” Jikyung menunduk dalam-dalam, menahan air matanya untuk turun. Tidak boleh menangis sekarang, setidaknya jangan dihadapan pria itu lagi.

“Kenapa? Apakah kau tidak menyukaiku, jawab aku Jikyung.” Ujar Kyuhyun menuntut.

“Aku tidak bisa…aku tidak bisa…maaf.” Jikyung menolak untuk menatap Kyuhyun ketika pria itu mencoba untuk membuat gadis itu menatapnya.

“Aku tidak bertanya kesedianmu tapi aku bertanya apakah kau menyukaiku?” Serang Kyuhyun, ia sangat yakin kalau Jikyung mempunyai perasaan yang sama dengannya, ia merasakannya. Tapi entah kenapa gadis itu mencoba untuk menutupinya.

“Apa kau menyukaiku Kang Jikyung?” Ulang Kyuhyun, ia sudah berada dihadapan gadis itu.

Jikyung mencengkram ujung bajunya kuat-kuat, mencoba untuk mendongak memberanikan dirinya menatap pria itu.

“Tidak, aku tidak pernah menyukaimu.” Setelah itu Jikyung bangkit berdiri dan mulai berjalan cepat meninggalkan Kyuhyun dengan semua keterkejutan yang didapatnya.

Kyuhyun menatap kepergian Jikyung dengan ekspresi yang sulit ditebak, menutup matanya sesaat mencoba untuk menghilangkan rasa kecewa, sedih dan kesal yang sekarang menumpuk dihatinya.

Tapi tidak bisa, seberapa keras pun Kyuhyun mencoba menghilangkannya, perasaan itu masih tetap ada.

Hari ini untuk pertama kalinya Kyuhyun ditolak oleh seorang wanita.

END

Gantung banget ya? Sengaja sih bikin gantung, karena masih ada sequel. Doain aja moga ada mood bikinnya, hehehe~

Aaahh~ pasti kalian pada mikir, kenapa akhirnya gini sih nggak asik banget, itu Kyuhyun dibiarin patah hati gitu? Haha~ maaf ya, emang aku ngerencanain akhirnya emang kayak gini dari dulu, maaf kalau buat kalian nggak puas. *bow*

Pasti ada sequelnya, tenang aja. Masih banyak misteri sih yang belum keungkap *ceilah bahasanya*, tentang Daehyun, tentang ‘perempuan itu’ untuk Kyuhyun dan tentang ingatan Jane. Mwehehehe~ rencananya juga, nanti sequelnya akan dipisah antara JaneHae sama JiKyu. Kasih bocoran aja, sequel JaneHae itu judulnya Memories, udah ketebak kan dari judulnya juga. Kalau sequel buat JiKyu aku belum mikirin judulnya, tapi cerita udah ada diotak aku.

Oh ya terimakasih pada para readers yang selama ini udah ngikutin cerita abal ini sampai sekarang, sampai tamat ngegantung kayak gini. Huwaa~ terimakasih ya…

Dan untuk kali ini aku mohon banget untuk kalian ninggalin komentar dipart ini, aku ingin tahu tanggapan kalian sama ff  ini selama ini. Jadi please komen ya? Kasih pendapat kalian.^^

sequel ini akan dipublish di wp pribadiku disini dan kayaknya gk akan dipublish disini.

Ps: ada yang nyadar gk sih, JiKyu itu sering berinteraksinya didalam mobil?

 

 

44 responses to “I Love My Idol – Chapter 14/End

  1. Q cuma buka2 aja n kebetulan lihat ff ini..
    Q belum baca p.1-13nya si…
    tp kalo q blh bilag ini ceria bagus and menarik..
    Q suka dimana jikyung g lgsung terima kyu..
    soalnya terlalu biasa kalo ending langsung happy..
    keep write nice ff ^.~V
    Q baca part sebelumnya dulu mwehehehe

  2. yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh knp “END”??
    -_- aq td blm selesai bc tp kok udah ENd siccccccccc nthorrrrrrrr bantu aq,biar gak penasran heheheheheee#nyengir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s