(BYTP IS BACK!!) Because You’re the Prettiest [PART 8]

Because You're the Prettiest (2nd ver2)

Title : Because You’re the Prettiest

Author : Lathifah Sinarwulan a.k.a Summer Cho (@chosm96)

Main Casts : Jung Eunji A-Pink, Min Jinhong Apeace, Lee Sunghwan a.k.a Sandeul B1A4, Yoo Dongho Apeace, Kim Namjoo A-Pink

Other Casts : Kim Jinwoo Apeace, Jung Younguk Apeace, and others Apeace’s members

Genre : school live, friendship, little bit romantic, little bit comedy, AU

Rating : PG13~

Length : Series

Disclaimer : all casts except Jung Younguk isn’t mine, but the plot and Younguk is mine, kkk~ 😀

Previous : TEASER|PART 1|PART 2|PART 3|SPECIAL EDITION|PART 4|PART 5|PART 6|PART 7|

ANNYEONG READERDEUL !!!! *ditimpuk sandal/modem/hape/laptop/kompi(?)* O.o

Mianhaeee~ part 8 ini benar2 telat, udah ngaret berapa bulan nih? 😀 *readers:SETAUN!!* *ditimpukin bias* XD

Kuharap masih ada yg nungguin FF ini, karena aku berniat namatin ini sebelum namatin FF ANONYMOUS ^^

Buat reader2 di ANONYMOUS yg belum baca ini, baca yaaa~ ga kalah rame kok 😀 #PLAKK

Oke deh, mukanya udah pada ga sabaran gitu, mending kita langsung ke cerita, CEKIDOT!!        

“Bagaimana kalau kau satu-satunya murid perempuan dikelas yang berisi 21 orang laki-laki?”

# # # # #

Lee Junghwan a.k.a Sandeul’s POV

“Apa kau pernah berpikir kalau Jinhong tidak pernah mengatakan kalau ia menyukaimu?! Namjoo-ya, sadarlah! Jinhong tidak mencintaimu!” Namjoo nampak terkejut sementara diriku berusaha mencerna apa yang kukatakan tadi. Aigoo, Sandeul-a, apa yang baru saja kau bicarakan?

“Jinhong memang tidak pernah mengatakannya, tapi aku tau dari sikapnya padaku.” Gadis itu masih saja mengelak. Aku menghela nafas lalu berbicara lagi.

“Jinhong dan Eunji sangat dekat. Kau harus terima itu.”

“Bukannya kau menyukai Eunji? Kenapa kau tidak berusaha untuk memisahkan mereka? Wae? Waeyo, Sandeul-a?!” tanya Namjoo dengan mata berkaca-kaca.

“Mmm, sebenarnya, aku tidak benar-benar menyukai Eunji. Aku hanya menyukaimu dan akan tetap menyukaimu. Aku menyukai Eunji hanya memancing agar Jinhong cepat jadian dengannya.” Semoga apa yang baru saja kuucapkan tidak berakhir sia-sia. Ya Tuhan, bolehkah aku berharap?

“Mwo?” tanya Namjoo tidak percaya. Ia mengibas-ngibaskan tangan didepan wajahnya. “Kau pasti bercanda, Sandeul-a. Kumohon, jangan bercanda disaat genting seperti ini!”

“Aku tidak bercanda, Namjoo-ya. Dan sampai kapanpun aku tidak akan bercanda tentang perasaanku padamu.” Kedua mata Namjoo membulat. Ia terdiam cukup lama.

“Kau sudah gila, Lee Junghwan. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!” yeoja itu berlari pergi. Bukannya mengejar, aku malah diam dengan tatapan kosong.

Apa yang sudah kulakukan? Aku malah merusak hubungan baikku dengan yeoja yang kucintai.

# # # # #

Jung Eunji’s POV

Aku menghempaskan tanganku hingga terlepas dari cengkraman Jinhong. Kenapa dia? Ada apa dengannya? Berani melakukan tindakan yang terlalu beresiko untukku. “Apa-apaan kau ini?” protesku kesal. “Namjoo pasti akan menjauhiku!”

“Aku hanya ingin memaafkanmu atas insiden waktu itu.” Terang namja itu membuatku mengerutkan kening. Insiden?

“Insiden apa?”

“Waktu kau melihat email dari appaku.”

“Oh, yang itu…”

“Aku memang keterlaluan. Maaf sudah membentakmu waktu itu.”

“Gwaenchana. Aku yang salah, aku melanggar privasimu.”

Mereka terdiam cukup lama karena tidak tau hal apalagi yang harus dibicarakan. “Jadi, kita teman lagi?” tanya Jinhong tiba-tiba.

“Ne, ching–gu…”

# # # # #

Author’s POV

Jung songsaenim keluar dengan kertas jawaban ulangan yang baru saja berlangsung tadi. Seisi kelas menghela nafas lega setelah melewati masa-masa sulit di ulangan tersebut.

“Huaaaah, susah sekali!!” seru Youngwon sambil meregangkan tubuhnya. “Ya! Bagaimana kalau kita ke pantai sore ini?” usulnya tiba-tiba.

“Ide bagus! Ayo kita ambil bola voli atau bola sepak dari ruang olahraga!” seru Jinwoo bersemangat. Yang lainpun berseru menyetujui. Tidak terkecuali Jinhong, Dongho, dan Younguk.

“Eunji-ya, apa kau mau ikut?” tanya Seunghyuk yang sedang kebetulan sedang berada didekat Eunji.

Gadis itu menggeleng lemah sambil tersenyum tipis. “Jinyoung oppa pasti tidak akan mengizinkanku pergi dengan 21 orang namja.” Jawabnya sambil terkekeh.

“Ya, diantara semua wajah disini, wajahmu itu yang paling butuh dihibur. Ayolah, kami tidak akan macam-macam padamu! Kami akan membuatmu bersenang-senang!” jelas Wanchul dengan riang. Beberapa diantara mereka pun mengangguk.

“Ini sudah kebiasaan kami jika berada dititik jenuh. Pantai itu tidak berbahaya kok, tenang saja kau akan aman jika bersamaku.” Jelas Dongho singkat dengan suara lirih. Eunji berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya perlahan.

“Baiklah aku ikut.”

Jadilah sepulang sekolah mereka langsung berangkat ke pantai agar sore nanti mereka bisa sampai ditujuan. Entah ide siapa, Eunji dibonceng Jinhong naik motor. Karena semua mobil yang ada sudah penuh.

“Sudah sampai.” Eunji membuka matanya perlahan. Ia memejamkan mata karena terlalu takut dengan kecepatan motor Jinhong yang diatas rata-rata.

Eunji berdecak kagum ketika turun dari motor. Ia belum pernah ke pantai ini sebelumnya, bahkan ia tidak tau kalau ada pantai ini. Sepertinya ini tersembunyi. “Ini pantai pribadi milik keluarga Wanchul.” Seru Jinhong seakan bisa membaca pikiran Eunji.

Mobil-mobil dan motor-motor yang lain pun diparkir tidak jauh dari bibir pantai. Airnya sangat jernih dan ombaknya pun tidak begitu besar, cocok untuk bermain air.

“Eunji-ya, kajja!” Dongho tiba-tiba muncul dan menarik tangan Eunji mendekati pantai. Tanpa mereka sadari, Jinhong mendesah kesal. Iapun melepas sepatunya dan menggantungnya di stang motor lalu menyusul ke bibir pantai.

“Dongho-yaa, aku belum melepas sepatuku.”

“Kalau begitu aku yang lepaskan.” Dongho berlutut lalu mulai melepaskan tali sepatu gadis itu, melepaskannya, lalu melepaskan kaus kaki putihnya. Lalu ia melakukan hal yang sama pada kaki satunya.

Eunji hanya diam mematung melihat perlakuan Dongho yang menurutnya sangat berbeda hari ini, ada apa dengan Dongho?

“Dongho-ya, aku saja.” Eunji langsung berjongkok dan melepas sepatunya. “Kau ini kenapa?” bisik Eunji sambil menatap Dongho tajam. Dongho hanya nyengir.

“Tidak apa-apa. Kajja!” Dongho berlari duluan tempat yang lain bermain voli. Jinhong mengambil kesempatan untuk bersama Eunji lagi.

“Kau mau main air apa main voli?” tawarnya sambil mengulurkan tangan. Eunji mendongak lalu menyambut uluran tangannya dan berdiri.

“Main air saja, aku tidak bisa voli.”

“Bagaimana kalau aku ajarkan?”

“Tidak usah!” tolak Eunji sambil menunduk. Wajahnya memerah melihat senyum Jinhong yang begitu manis.

“Sudah, ayo!” Jinhong menarik pergelangan tangan Eunji menuju tempat yang lain bermain voli. “Pinjam bola dong!”

Changwoo melemparkan bola voli pada Jinhong, lalu pria itu memberikan bola voli itu pada Eunji. “Jadi kau pegang bolanya seperti ini, tidak usah kau lemparkan dulu. Nanti tangan kanan mengepal dibelakang, yak, bukan seperti itu.

Jinhong meraih tangan kanan Eunji dan mengepalkannya. Kini ia memegang kedua tangan Eunji, menuntun gadis itu untuk passing bawah. Dia tidak menyadari bahwa wajah gadis itu sudah sangat merah. Dongho yang menyadarinya langsung terbahak.

Perlahan namun pasti, Jinhong mengayunkan tangan kanan Eunji untuk memukul bola. Dan, bola pun melambung dengan sukses, di smash oleh Sungho, lalu dibalas lagi oleh Yongguk. Mereka pun bermain dengan semangat sedangkan Eunji hanya memperhatikan.

“Ayo aktif!”

“Aku tidak bisaaa!” keluh Eunji, ia menjatuhkan dirinya ke pasir lalu menoleh ke arah pantai. Ia memandang takjub ke arah matahari yang terlihat indah disana. Detik-detik mau tenggelam.

“Eunji awas!” refleks ia langsung melindungi dirinya dengan tangan. Untung, bola membentur lengannya.

“Gwaenchana?” tanya Jinhong membuat Eunji mendongak. Deja vu.

“Untung aku tidak kena sekarang.” Cibir Eunji seraya bangkit. Iapun berjalan mendekati air. Ia tersenyum ketika ombak kecil menabrak kakinya.

“Benar tidak apa-apa?” gadis itu tersentak ketika suara Jinhong berada disebelah telinganya. Rupanya pria itu sudah ada disebelahnya.

“Mengagetkan saja.”

“Yaa, aku bertanya padamu, Jung Eunji.”

“Tidak apa-apa! Hanya tanganku nih, merah.” Eunji menunjuk lengannya yang memerah karena kena bola.

“Mian, aku yang melempar.”

“Gwaenchana.”

Mereka terdiam menikmati sunset. Yang bermain voli pun sekarang sudah bermain air didepan mereka. Jinhong tersenyum melihat pemandangan dihadapannya.

“Kenapa kau tidak mengajak Namjoo?” tanya Eunji tiba-tiba membuat senyum Jinhong pudar.

“Untuk apa aku mengajaknya, dia bukan siapa-siapaku.”

“Dia menyukaimu.”

“Aku tau.”

“Bagaimana denganmu?” Jinhong menoleh membuat Eunji tersentak. Apa pertanyaannya sudah kelewatan?

“Bisakah kita tidak membicarakan yeoja itu? Disini aku bersamamu, bukan bersama yeoja itu.” Seru Jinhong dengan wajah serius. Iapun sudah membalikkan badan ke arah Eunji.

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.” Balas Eunji heran. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ah, ayo main air!” baru saja selangkah, tubuhnya ditarik.

Eunji membelalakkan mata. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Sesuatu yang lembut dan manis menempel dibibirnya. Dan ada wajah seorang pria yang tidak berjarak lagi dari wajahnya. Gadis itu memutuskan untuk memejamkan mata.

Jinhong melepaskan ciumannya lalu membuka mata dan menatap gadis yang masih terheran-heran didepannya. Ia tersenyum lalu menyingkirkan poni gadis itu. “Saranghae…”

# # # # #

“Aku pulaaaaang!” aku memakai sandal rumah lalu berjalan masuk dengan semangat. “Annyeong Oppa, Appa!”

“Darimana saja kau?” tanya Jinyoung Oppa yang sedang makan dimeja makan bersama Appa. Aku duduk disamping Appa lalu mencium pipinya.

“Ke pantai, hehe!”

“Bersama teman-temanmu?”

“Ne! Aku ke pantai pribadinya milik keluarga Wanchul, Appa. Disana sunsetnya indaaaah sekali! Kami main voli dan main air disana pokoknya menyenangkan!” jelasku bersemangat. Appa tersenyum melihat tingkahku.

“Ceritanya nanti saja. Cepat makan.” Seru Jinyoung Oppa sembari meletakkan semangkuk nasi dihadapanku. Aku mengangguk lalu mulai makan.

Selesai makan aku langsung naik ke kamar, mandi, lalu merebahkan tubuhku diranjang. Huft, rasanya mengantuk.

Tiba-tiba ponselku yang berada di atas meja berbunyi. Aku bangkit untuk mengambilnya lalu tiduran lagi.

“Yeoboseyo?”

“Eunji-ya…”

DEG

Rasa hangat langsung menjalar ditubuhku. Pipiku perlahan mulai panas.

“Oh, Jinhong-a…”

“Sedang apa? Apa aku mengganggu?”

“A –anni! Kebetulan sekali aku sedang bersantai. Sudah makan?”

“Belum. Aku sedang menunggu mie cup ku matang.”

“Kau makan mie cup? Ya! Itu tidak sehat…”

“Habis mau bagaimana lagi? Aku sedang malas masak dan aku hanya tinggal sendiri.”

“Ah, mian… Aku tidak bermaksud–“

“Gwaenchana. Mulai sekarang aku tidak akan sering-sering makan mie cup.”

Tiba-tiba aku mendapat ide. “Bagaimana kalau aku buatkan kau bekal setiap hari? Bekalnya akan kubuat tahan lama, jadi nanti kau bisa membawanya untuk makan malam.”

“Tidak usah. Itu akan merepotkanmu.”

“Gwaenchana! Aku akan dengan senang hati membuatkannya untukmu!”

“Gomawo, Eunji-ya…” aku terdiam cukup lama. Aku harus bertanya apa lagi? “Kau tertidur?”

“Anni! Aku tidak tidur…”

“Tidur sana, sudah malam. Besok kan sekolah.”

“Tapi aku tidak mengan –“

“besok aku akan menjemputmu.”

“Aish, arra, arra. Aku tidur!”

“Malam, yeppeo…”

“Malam.”

Aku memeluk guling sambil tersenyum lebar. Senangnya, kini Min Jinhong resmi menjadi kekasihku.

# # # # #

Aku berpapasan dengan Namjoo dipintu kelas. Wajahnya suram sekali seperti kurang tidur. “Pagi, Namjoo-ya.”

“Minggir.”

“Ada apa denganmu? Apa kau sakit?” tanyaku tanpa menghiraukan perintahnya. Ia menatapku tajam. “Gwaenchana?”

“Aish!” Namjoo berbalik dan hendak berjalan, namun langkahnya terhenti. Aku mengikuti arah matanya dan…

DEG

Wae? Kenapa sakit disini? Melihat Eunji dan Jinhong tersenyum satu sama lain sambil bergandengan tangan? Mereka terlihat nampak mesra.

“Namjoo-ya…”

“Ya, Jung Eunji!” seru Namjoo lantang membuat seluruh murid yang berada dilorong memperhatikannya. Eunji nampak kaget.

“Namjoo-ya…”

“Jadi begini? Kau menusukku dari belakang? Kau yang menawarkan sendiri kalau kau akan membantuku agar bisa dekat kembali dengan Jinhong, membuatku menjadi kekasihnya!”

Aku terkejut. Apa benar Eunji bilang begitu?

“Tapi apa? Kau malah mengambil Jinhong seenaknya tanpa memikirkan perasaanku? Kejam!” Namjoo berlari pergi.

“Namjoo-ya!” Eunji hendak mengejar namun tangannya ditahan oleh Jinhong. Aku geram melihatnya.

“Jadi kau sekarang berani mengkhianati sahabatmu sendiri?” tanyaku pada Eunji membuatnya mematung. “Kau juga Jinhong, namja macam apa kau?”

Aku menatap mereka tajam lalu memutuskan untuk mengejar Namjoo. Aduh, kemana dia? Larinya cepat sekali. Aku berhenti dan mengatur nafasku. Aku coba meneleponnya namun nihil.

Dulu, dia pernah seperti ini. Menangis karena Jinhong. Waktu itu aku menemukannya dikolam ikan sekolah. Coba saja aku kesana. Aku berlari dan hampir menabraki murid-murid yang sedang melintas. Dan benar saja, Namjoo sedang merendam kakinya sambil menangis.

Aku duduk disebelahnya dan memegang bahunya. “Namjoo-ya…”

“Teman macam apa aku ini…”

“Kau tidak bersalah, Eunji yang –“

“aku yang bersalah, Sandeul-a.” Ia menyerka airmatanya. “Aku berbohong. Tadi aku hanya ingin membuat image Eunji terlihat jelek dimata murid-murid lain. Habis aku kesal, melihat mereka bermesraan seperti itu.”

“Neo.., Namjoo-ya! Kau kelewatan!”

“Aku tau! Aku yang salah! Aku memaksanya untuk membantuku agar menjadi kekasih Jinhong, dan aku selalu berusaha merebut Jinhong agar mereka tidak punya banyak waktu bersama, aku iri pada mereka, aku cemburu.”

“Cukup, jangan bicarakan mereka lagi.” Aku merangkul bahunya dan menepuk-nepuknya, memberikan ketenangan. “Jangan ingat mereka lagi, aku mohon ingatlah aku, yang sekarang ada dihadapanmu.”

Namjoo menoleh padaku, wajahnya benar-benar berantakan sekarang. “Mwo? Kau masih mau denganku? Denganku yang sudah tega memfitnah sahabatku sendiri dan membuatmu bermusuhan dengan saudara tirimu sendiri?”

“Itu lain masalahnya, Namjoo-ya. Yang jelas sekarang aku mencintaimu.”

# # # # #

Younguk menyikutku begitupun dengan Jinwoo dan Dongho yang menatap ke arahku tajam. Aku pura-pura tidak peduli dan terus menghabiskan makan siangku. Sesekali aku melirik ke arah Eunji yang duduk dihadapanku dengan wajah lesu. Bahkan makanannya tidak berkurang sama sekali.

“Duh, aku sakit perut. Sebentar ya.” Dongho berjalan pergi meninggalkan kantin. Tidak lama kemudian Younguk bangkit sembari mengangkat nampannya.

“Aku lupa kalau aku belum mengerjakan PR fisika. Aku duluan ya!” aku tau mereka menghilang satu persatu agar aku bisa bertanya pada Eunji dengan leluasa. Kini tinggal Jinwoo.

“Eunji-ya, kenapa tidak dimakan?” bukannya pergi, ia malah membuat Eunji tersadar dari lamunannya.

“Ah, tidak selera makan.”

“Aku sudah selesai, kalau begitu aku duluan ya. Harus dihabiskan!” serunya sembari menunjuk makanan Eunji. Jinwoo pun pergi menyisakanku dengan gadis itu.

Aku menarik piringnya, lalu menyendokkan nasi. “Buka mulut.” Akupun memasukkan nasi itu ke dalam mulutnya. Ia hanya mengunyah dengan tampang lesu. Aku meraih tangannya dan menggenggamnya. “Kau kenapa?”

“Namjoo membenciku, Jinhong-a…”

“Dia tidak mungkin membencimu, dia tadi hanya emosi.” Ujarku sembari menyuapkan daging ke mulutnya. Ia hanya membuka mulut tanpa menolak. “Nanti pulang sekolah kita cari dia dan bicara baik-baik, otte?”

“Ne.” Eunji merebut sumpit ditanganku dan mulai makan sendiri. Aku tersenyum lalu melanjutkan makanku.

“Senyum dong, jelek tau!”

“Ya, Min Jinhong!”

“Hahaha!”

# # # # #

Sandeul memalingkan wajah Namjoo agar menghadap ke arahnya. “Jangan perhatikan mereka lagi, arra?” gadis itu tersenyum lalu menyentuh tangan Sandeul yang memegang kedua pipinya.

“Arraseo, Sandeul Doryeonnim, hehe.” Candanya langsung dibalas cubitan Sandeul dihidungnya. “Ya! Appo!”

“Haha, cepat habiskan.”

“Ne ne ne, bawel!” Namjoo menghabiskan makanannya dengan mimik kesal. Sandeul hampir tersedak melihatnya.

“Ya, kau harus minta maaf nanti pada Eunji, ne?”

“Itu sudah kurencanakan sejak tadi. Dan aku juga berencana untuk pindah sekolah lagi.”

“Mwo?” Sandeul menganga. “Kau tidak bercanda kan?”

“Anni.” Jawabnya santai. “Aku mau pindah ke sekolah lain, disini hanya membuatku semakin sakit.”

“Neo… lalu bagaimana denganku?”

“Kau? Kau siapa?” tanyanya dengan alis terangkat. Sandeul menepuk keningnya pelan. Ya ampun, gadis itu.

“Kau ini, sampai kapan aku harus mengatakannya padamu?” tidak sengaja Sandeul mematahkan sendok plastik ditangannya. Namjoo terkejut.

“Ya, Sandeul-a, jangan semarah itu, aku Cuma bercanda! Hahahaha!” Sandeul melongo parah.

“Mwo? Bercanda?”

“Ne!” Namjoo menjulurkan lidah lalu berlari keluar kantin. Sandeul pun berlari cepat mengejarnya.

“YA, KIM NAMJOO! BERHENTI!”

# # # # #

Begitu bel pulang berbunyi, Eunji langsung berlari keluar kelasnya tanpa menghiraukan guru yang masih berada didepan kelas. Begitupun dengan Namjoo yang keluar dari kelasnya. Alhasil merekapun bertabrakan.

“Ah, Namjoo-ya!”

“Eunji!” mereka langsung berpelukan erat. “Mianhae, jeongmal mianhae…”

“Aku juga salah, mianhae…” Jinhong memperhatikan mereka dari pintu, sedangkan Sandeul menengok dari jendela. “Kita tetap teman kan?”

“Tentu saja! Chingu!” seru Namjoo bersemangat. “Mianhae, aku sudah membuatmu jelek dimata murid-murid lain, aku berjanji akan mendukung hubunganmu dengan Jinhong dan memperbaiki imagemu didepan murid-murid lain!”

“Gomawo, Namjoo-ya. Kau tidak usah repot-repot melakukan hal itu.”

“Sudah baikan nih?” goda Sandeul yang muncul dari jendela. Namjoo mencibir tidak jelas sedangkan Eunji hanya tersenyum.

“Eunji-ya, ayo pulang…” Jinhong berjalan mendekati mereka sembari membawa tas milik Eunji. Eunji menerimanya lalu menoleh pada Namjoo.

“Aku pulang dulu, ne? Annyeong!”

“Ne, annyeong!”

# # # # #

Aku mendongak menatap rumah besar bercat putih dihadapanku. Pagarnya menjulang seakan tidak membiarkan satupun maling bisa memanjatnya. Hmm, aku merindukan rumah.

Seorang pria paruh baya berseragam satpam menghampiriku. “Aigoo, Jinhong Doryeonnim! Annyeong haseyo!”

“Annyeong, Park Ahjusshi. Apa kabar?”

“Baik, Doryeonnim tidak masuk?” tanya pria itu keheranan. Aku menggeleng pelan.

“Hanya tidak sengaja lewat. Sudah malam, aku pulang dulu ne.” Park Ahjusshi mengangguk lalu aku mulai berjalan menjauhi rumah tersebut. Kalau sampai penghuni rumah tau bisa gawat.

“Mau kemana kau?” langkahku terhenti mendengar suara itu. Akupun berbalik dan mendapati Sandeul sedang berdiri disamping Park Ahjusshi. “Mau pulang kemana? Rumahmu kan disini.”

“Ini rumahmu.” Jawabku sambil tersenyum, akupun berbalik dan melanjutkan langkahku. Aku belum siap untuk berbaikan dengannya. Tidak sekarang.

Kurasakan sebuah tangan menggenggam tanganku, dingin. Ketika kutorehkan kepalaku, Sandeul menatapku dengan tajam. “Kenapa kau masih tidak mau kembali? Bukannya permasalahan kita sudah selesai?”

“Belum. Permasalahan kita belum kita selesaikan.” Aku menepis tangannya lalu berjalan pergi. Kapan masalah ini selesai? Kapan kami berbaikan? Dia memang aneh.

# # # # #

“Ya, Min Jinhong.” Aku terus berjalan tanpa menghiraukannya. “Ya! Aku bicara padamu!” aku tetap melangkah menuju kelasku. “YA!”

“MWOYA?!” tanyaku jengkel. Makhluk ini, menggangguku terus sejak pagi.

“Aku hanya ingin bertanya kenapa kau tidak pulang semalam?”

“Itu bukan rumahku, kau ingat!” aku berjalan lagi. Kini dia tidak memanggilku namun terus mengikutiku sampai aku benar-benar jengkel. “Apa maumu?!” seruku sambil berbalik. Ia terdiam sejenak lalu menunduk.

“Ayo berbaikan.” Aku tertegun. Hah? Seorang Sandeul? Minta berbaikan?

“Kau salah makan obat ya? Sana kembali ke kelasmu.” Aku berjalan meninggalkannya tanpa menoleh lagi.

“Ada apa?” tanya Eunji ketika aku menghempaskan tubuhku ke kursi dengan tampang kusut.

“Anni.” Jawabku pendek membuat Eunji mengerucutkan bibirnya.

“Ceritakan padaku apa yang terjadi.”

“Nanti saja.”

“Sekarang!”

“Nanti…”

“Sekarang!”

“Miss Jung, tolong pelankan suaramu kita mau belajar.” Aku dan Eunji tersentak mendapati Han Songsaenim sudah ada didepan kelas.

# # # # #

“Apa ada masalah lain yang membuatmu tidak ingin berbaikan dengannya?” tanya Eunji ketika aku selesai menceritakan apa yang terjadi ditaman belakang. Kami bersandar pada sebuah pohon besar dan duduk di atas rumput.

“Entalah, aku merasa belum…siap.”

Eunji tersenyum lalu menepuk bahuku. “Kau malu kan? Aku tau kau gugup untuk bertemu keluargamu lagi, apalagi bermaafan dengan namja yang paling kau benci. Gengsi kan?” godanya membuatku salah tingkah.

“A–anni! Siapa juga yang malu!”

“Ketahuaaan, Jinhong-a, aku tidak menyangka ternyata kau malu untuk bermaafan dengan Sandeul!”

“Ya! Aku tidak malu!” aku mengacak rambut gadis dihadapanku dengan kesal. Ia langsung mengerucutkan bibirnya.

“YA!” protesnya lalu memperbaiki tata rambutnya. Tidak sengaja aku melihat ke arah bibirnya, dan akupun maju menciumnya.

Angin yang sejuk menerpa kami. Tempat kami berada benar-benar sepi jadi tidak takut jika ada orang yang melihat. Aku menjauhkan wajahku darinya lalu tersenyum. Iapun balas tersenyum padaku.

“Jangan marah, ne?”

“Aish! Ne ne ne…” balasnya lalu kembali merapikan rambutnya. Aku terkekeh lalu menatap layar ponsel ditanganku. Ada email masuk.

Jinhongie, sampai kapan kau tidak mau pulang? Sandeul bilang kau sempat ke rumah kemarin. Kenapa kau tidak mampir? Appa dan Eomma merindukanmu, Jinhong-a. Cepatlah pulang. Kami tidak tahu masalah apa yang terjadi diantara kalian. Tapi Appa mohon, cepatlah berbaikan.

Aku diam mematung setelah membaca email tersebut. Appa mulai lagi. Semakin membuatku rindu rumah, rindu Appa dan Eomma, tapi tidak untuk pria itu.

“Kenapa melamun?” aku tertegun ketika Eunji mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajahku. Ia menatapku keheranan.

Aku menggeleng pelan lalu memasukkan ponselku ke saku. “Min Jinhong.” Aku mendongak dan mendapati Jinwoo berdiri dihadapanku. “Dari tadi Sandeul memaksaku untuk mencarimu.”

“Biarkan saja.” Aku bangkit diikuti oleh Eunji. Jinwoo mengangkat sebelah alisnya.

“Ada apa lagi diantara kalian?”

“Tidak ada. Ayo ke kelas.” Aku menarik keduanya menuju gedung sekolah. Dikoridor sialnya aku berpapasan dengan Sandeul.

“Ya, Jinhong-a, kita harus bicara.” Serunya dengan tampang memelas. Kemana tampang datarnya selama ini? Sudah ia buang?

“Untuk apa? Kita tidak ada apapun yang bisa dibicarakan.” Aku hendak berjalan lagi namun Eunji menahanku.

“Bisa kau selesaikan masalahmu? Aku tidak suka kau menghindar dari masalah seperti ini.” Bisik Eunji lirih sembari menggenggam tanganku. Iapun merangkul lengan Jinwoo dan pergi meninggalkanku berdua dengan Sandeul dikoridor yang sudah sepi ini.

“Sekarang apa?” tanyaku sambil melipat tangan. Sandeul menunduk dihadapanku.

“Eomma sakit.”

“Lalu?”

“Ia ingin bertemu denganmu.” Ia menarik nafas panjang. “Aku mohon, bisakah kita berdamai?–Maksudku, aku menyadari aku yang bersalah disini. Aku sudah salah paham padamu. Aku kira kau yang menggoda Namjoo agar ia menyukaimu, ternyata Namjoo yang selalu mengejar-ngejarmu. Mianhae…”

Aku tertegun mendengar penjelasannya. Ia? Seorang Sandeul? Meminta maaf?

“Aku yang membuatmu pergi dari rumah karena aku selalu merebut perhatian Appa dan Eomma darimu. Aku juga yang membuat persahabatan kita putus. Jadi sekarang, aku yang meminta maaf.”

“Sadar juga kau akhirnya.” Balasku pendek. Ia mendongak. “Aku akan kembali ke rumah, tapi bukan karena kau.” Aku memasukkan kedua tanganku ke saku celana lalu berjalan meninggalkannya.

# # # # #

“Cepat Jinhong-a, Eomma sudah masakkan sup kimchi kesukaanmu!” aku tersenyum melihat Eomma yang begitu gembira menyiapkan meja makan untuk makan malam. Aku pulang. Tapi karena Eomma, bukan karena Sandeul.

“Sudah lama aku tidak makan sup kimchi, aku rindu sup buatan Eomma.” Seruku sambil tersenyum. Beliau membelai pipiku lembut lalu menarikkan kursi untukku. Akupun duduk. Senyumku pudar melihat Sandeul sudah ada dihadapanku.

Tidak lama kemudian Appa datang dengan senyum lebarnya lalu duduk. Eomma pun duduk disampingku. Kami makan dalam diam. Sebenarnya aku terlalu menikmati sup kimchi buatan Eomma dan tidak mau memerhatikan Sandeul. Jadi aku pura-pura sibuk makan.

“Bagaimana nilai-nilaimu, Jinhong-a? Appa dengar kau sekarang jadi peringkat ke-3 dikelas.” Ujar Appa membuka pembicaraan dimeja makan. Aku mengangguk lalu tersenyum puas.

“Setidaknya peringkatku naik walaupun hanya satu, Appa.”

“Baguslah. Oh iya, Appa dengar dari Sandeul kau sudah mempunyai kekasih disekolah.” Aku dan Sandeul tersedak bersamaan. Dia bercerita tentang Eunji?

“Benarkah? Ya, uri Jinhong sudah besar. Nugu? Namjoo ne?” aku tersedak lagi kali ini sedangkan Sandeul nampak tenang.

“A –anniyo!”

“Ah, tidak usah malu-malu, sayang. Namjoo kan dulu sering datang ke rumah bersamamu, pasti dia orangnya kan?” goda Eomma sambil menyikut lenganku. “Bawa dia kemari besok.”

“Mwo?! Besok?!” seruku panik membuat Appa dan Eomma tertawa.

“Aigoo, tidak usah gugup begitu, Jinhong-a. Appa tau kau menyukainya.”

“Tapi, Appa dia bu–“

“Sudah lanjutkan makanmu.” Perintah Eomma membuatku bungkam. Hhh, Sandeul, mati kau!

# # # # #

“Sandeul.” Aku menghentikan langkahku menaiki tangga. Jinhong menyusulku menaiki tangga dengan wajah datar. Ia pasti mau bertanya masalah tadi.

“Ada apa?” tanyaku berusaha terlihat tenang.

“Kenapa mereka sampai bisa tau? Dan kenapa mereka sampai menyangka aku berpacaran dengan Namjoo, bukan Eunji?” tanyanya to the point. Aku menghela nafas lalu memalingkan muka.

“Aku hanya bilang kau memiliki kekasih. Aku tidak tau kalau mereka menyangka itu Namjoo. Kau tau, bukan kau saja yang kesal tadi, aku juga.” Jawabku tegas. “Bawa saja Eunji mu besok dan aku akan membawa Namjoo. Biar Eomma dan Appa tau.”

“Aish! Menyusahkan saja!” Jinhong berjalan turun meninggalkanku. Aku hanya menatap kepergiannya lalu kembali melanjutkan langkahku ke kamar.

# # # # #

Pelajaran olahraga. Para pria asyik bermain sepak bola sedangkan Eunji hanya duduk-duduk dipinggir lapangan bersama Kim Songsaengnim. “Kau tidak ikut, Eunji-ssi?”

“Aku tidak yakin aku bisa ikut bermain, Saem.” Eunji menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi. Ia tidak bisa membayangkan ketika ia berlari sambil menendang bola, akan ada salah satu diantara mereka yang akan menendang lalu akan salah tendang dan malah menendang dirinya.

Ketika bel berbunyi, Kim Songsaengnim bangkit lalu menoleh pada Eunji. “Sepertinya tidak ada satupun dari mereka yang mendengar bel. Sudah jam istirahat.” Beliau pun pergi. Dan Eunji kembali menyaksikan permainan mereka.

“EUNJI-YA!!! TOLONG BELIKAN KAMI MINUUM!” teriak Wanchul sembari melempar dompetnya ke arah Eunji. Untungnya gadis itu langsung sigap menangkapnya.

“Aku mau soft drink!”

“Jangan, air minum biasa saja!”

“Bagaimana kalau jus?”

“Aish! Jadi yang benar kalian mau apa?” tanya Eunji kesal. Ia bangkit lalu meninggalkan lapangan. Ia beli berbagai macam minuman untuk mereka. Toh, pakai uang Wanchul.

Ketika sibuk memilih minuman dilemari pendingin kantin, ia tidak menyadari kalau Jinhong sudah ada dibelakangnya. Eunji mengambil berbagai macam jus, soft drink, dan air putih. Dengan susah payah ia memasukkan semuanya ke kantung plastik. Jinhong berusaha menahan tawa melihatnya kerepotan.

“Ahjumma, jadi semuanya berapa?”

“Aigoo, kau akan meminum semua itu, nak?” tanya Ahjumma penjaga kantin yang nampak terkejut. Eunji hanya nyengir lalu memberikan sejumlah uang. Ia menghela nafas sejenak lalu mengangkat kantung plastik itu.

“Aaaa, berat!” keluhnya lalu berbalik. “Omo!” ia hampir saja jatuh melihat Jinhong yang berada dibelakangnya. Jinhong terkikik lalu merebut kantung plastik dari tangan Eunji.

“Yeoja lemah sepertimu ini tidak boleh membawa barang berat.” Goda Jinhong sambil mengedipkan sebelah matanya. Eunji mendengus lalu menampar lengannya.

“Nappeun neo, mengagetkan saja!”

“Haha, mianhae! Sebenarnya aku mau mengatakan sesuatu padamu.”

“Apa?” Eunji terlihat antusias. Jinhong tersenyum.

“Eomma mengundangmu ke rumahku hari ini. Datang ya?” Eunji membungkam mulutnya terkejut.

“Jinjjayo? Bertemu Eomma-mu? Tentu saja aku mau!” seru Eunji kegirangan sampai memeluk lengan Jinhong erat. “Apa aku harus berpakaian khusus? Jam berapa aku harus kesana?”

“Aigoo, tidak usah repot seperti itu. Kita berangkat langsung setelah pulang sekolah, otte?”

“Berdua saja?” tanyanya sambil menatap Jinhong.

“Anni. Bersama Sandeul dan Namjoo. Sandeul yang akan mengajaknya.” Eunji terdiam lalu menunduk. Tiba-tiba perasaannya tidak enak. Ia mengikuti Jinhong kembali ke lapangan.

# # # # #

“Jinhong-a, Eunji-ya!” keduanya menoleh ketika Namjoo turun dari motor Sandeul dan menghampiri mereka yang sudah berada didepan pintu rumah. Sandeul pun berjalan menyusulnya.

“Namjoo-ya!” mereka berpelukan sejenak lalu Jinhong memencet bel.

Ketika pintu terbuka, muncullah Eomma Jinhong dan Sandeul. Ia tersenyum lebar. “Aigoo, Namjoo-ya! Lama tidak jumpa! Bagaimana kabarmu dengan Jinhong?” semuanya mematung ketika beliau berkata seperti itu.

Namjoo tiba-tiba bereaksi merangkul lengan Jinhong erat, membuat semuanya terkejut. “Tentu saja kabar hubungan kami baik, Ahjumma!”

# TO BE CONTINUED #

Asalnya mau jadiin ini ending, tapi sepertinya belum terwujud, wkwk satu part lagi oke wkwk XD

Oke ceritanya terkesan ngebut dan ngelantur, mianhae~ aku pengen FF ini cepet selesai jadi aku tinggal utang ANONYMOUS, wkwk XD

Jangan lupa komeeeen~ kalo komennya ngga banyak, aku ngga jadi nyelesaiin ff ini loh .-.

Makanya ajak temen2 kamu buat baca dan komen n.n

25 responses to “(BYTP IS BACK!!) Because You’re the Prettiest [PART 8]

  1. Gyaaaa!!!! akhirnya part 8 keluar!!!! *jingkrak2*
    hayo~ tanggung jawab, thor. aku galau setaun ni nungguin ff ini dipublish TwT
    next, jgn lama2 ya thor :*

  2. Pingback: Because You’re the Prettiest [Part 9 - END] | FFindo·

  3. huuwaaaaa
    namjoo, neo..
    aiissshh
    dasar, mengambil kesempatan dalam kesempitan..
    huufft
    kkk~
    #apaan sih koment nya gg brmutu -_-”
    hohoho
    semoga akhrnya tetap Eunji sama Jinhong..
    huhu
    baca part end nya lgi..
    yiiipppiiii…

  4. Pingback: Because You’re the Prettiest [EPILOG] | FFindo·

  5. namjoo nyebelin author! next chapter jangan sampai setahun lagi lah eon. masa reader nunggu setahun TT 1 minggu ya? wkwk fighting eon!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s