Every Time Alone (2nd Shoot)

ETA Poster

Title        : Every Time Alone (1st Shoot)

Author        : gichanlee (@realgista0620)

Credit Poster    : RiksaRizki Artwork (@adelichars)

Main Cast    : Oh Se Hun (EXO K)

Wu Yi Fan (EXO M)

Genre        : Sad Life and Little bit Romance

Length        : Short Chaptered

Rating        : G

Other Fanfic    : Call Me Maybe (Bagian 1)

Call Me Maybe (Bagian 2)

[Every Time Alone]

    Preview sebelumnya ^^ Every Time Alone (1st Shoot)

    “Annyeong.. Oppa!” sapa Hae Gin dengan senyuman khasnya yang imut-imut itu tanpa dosa dan tanpa mengetahui apa yang dirasakan Se Hun saat itu.

    “Annyeong.. Oh Se Hun.” Sapa Wu Yi Fan sambil melambaikan tangannya pelan. “Kau semakin kurus saja. Sudah berapa kali rencanamu gagal?” lanjut Yi Fan menyunggingkan senyuman sindiran. Se Hun hanya bisa bungkam dan masih tidak berkutik dari tempatnya berdiri.


[Every Time Alone]

Empat orang yang saat ini sedang duduk di ruang tamu sederhana milik Se Hun itu hanya saling menundukkan kepalanya dan sibuk dalam pikiran masing-masing.

‘Aku harus berhasil membawanya pulang. Tapi bagaimana ya? Argh, aku butuh ide.’ Begitulah yang dipikirkan Wu Yi Fan.

  ‘Aish kakak macam apa sih Yi Fan ini. Kenapa malah berdiam diri seperti itu? Benar-benar namja bodoh.’ Lain lagi apa yang ada

dalam pikiran Lu Han yang sedang memainkan barang-barang dalam apartemen Se Hun yang terpajang rapi di meja sebelah Lu Han duduk.

  ‘Aigoo.. wajahnya menyeramkan sekali. Dia siapa sih? Kenapa ikut dalam urusan Se Hun oppa? Apa dia itu…’ kata-kata dalam pikiran Hae Gin terhenti.

“Ehem. Untuk apa kalian berdua datang kemari?” ucap Se Hun memecah keheningan yang sudah terlalu lama terjadi.

“Begini.. Se Hun-ah… ibumu ingin sekali bertemu denganmu. Ia rindu dengan-”

“Aku tidak mau pulang. Tidak akan pernah.” Sergah Se Hun sebelum Yi Fan menyelesaikan kalimatnya. Sontak itu membuat Yi Fan bangkit dari duduknya dan karakter sensitifnya pun keluar meluap dari dalam hatinya.

“YA! OH SE HUN! DENGARKAN BAIK-BAIK! IBUMU SEDANG SAKIT DAN KAU TIDAK MAU MENJENGUKNYA EO? Beliau merindukanmu, Se Hun-ah. Aku mohon pulanglah. Dia terlihat semakin lemah dan penyakitnya semakin parah. Ibu sangat butuh kehadiranmu. Sangat membutuhkan kehadiranmu.” Ucap Yi Fan melemah. Raut wajahnya kini benar-benar tidak bisa dijelaskan. Antara emosi, sedih, tatapan memohon, dan ingin mempertahankan harga dirinya. Ia benar-benar orang yang tidak bisa mengambil keputusan dengan tepat dalam berekspresi.

Melihat aksi yang mengejutkan dan terlihat private seperti itu Lu Han lekas menarik tangan Hae Gin dan membawanya keluar apartemen Se Hun.

“Kajja. Kita lebih baik meninggalkan mereka berdua saja dulu.” Bisik Lu Han pelan.

Ajakan Lu Han itu hanya dibalas anggukan kecil oleh Hae Gin yang hampir menitikkan air matanya itu.

“Oppa, mereka akan baik-baik saja kan?” tanya Hae Gin berbisik sambil terus melangkah dibelakang Lu Han yang masih menggenggam tangannya itu.

“Ne. Hmm.. Hae Gin-ah.. Aku dan Yi Fan kan belum menemukan hotel.. Nnggg.. Bolehkah aku berkunjung.. ke rumahmu?” tanya Lu Han tergagap setelah menutup pintu apartemen Se Hun dan berhasil keluar bersama Hae Gin.

“Boleh.” Jawab Hae Gin singkat sambil tersenyum malu.

[Every Time Alone]

    Dua namja kakak beradik itu kini hanya diam saling menatap satu sama lain dan tidak menghiraukan dua orang lain yang sudah pergi meninggalkan mereka. Se Hun yang masih kekeuh akan pendiriannya untuk tetap tinggal di Korea hanya bisa membalas tatapan Wu Yi Fan dengan tatapan datar namun tegas. Sedangkan Yi Fan masih berusaha untuk menahan emosinya.

“Aku tahu.. aku tahu aku sudah merusak hidupmu akan kehadiranku. Aku juga tidak menyangka jika kedua orangtuamu akan mengangkatku sebagai anaknya. Aku..”

“Bukan itu sekarang masalahnya. Aku sudah mencoba untuk menganggap itu sudah masa lalu dan terlanjur terjadi. Aku sudah bisa sedikit menerima kehadiranmu, Ge. Namun, kau lihat sekarang.. Aku hidup semakin menyendiri. Ayah pergi meninggalkanku dan ibuku. Kini ibuku sudah bersiap untuk meninggalkanku juga. Dan kau.. Aku tidak tahu.. aku hanya merasa kesal karena kau harus bekerja keras meneruskan pekerjaan ayah di perusahaan dan juga menjaga ibu yang kenyataannya beliau hanya ibu angkatmu. Aku merasa makhluk paling lemah sekarang. Dan aku ingin menyusul ayah ‘disana’. Aku ingin bisa hidup tenang bersamanya. Kau tahu maksudku kan, Ge?” sela Se Hun panjang lebar dan mampu membuat kakaknya terperangah dan mulai menatapnya sendu.

“Kau jangan gila Oh Se Hun. Aku sudah trauma akan rencanamu beberapa bulan lalu. Tolong. Sekali ini saja kabulkan permintaanku. Kau sayang pada ibumu kan?” tanya Yi Fan yang mulai beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri  Se Hun yang menatap kosong pada kakak tirinya itu.

“Aku tidak yakin akan sanggup menemui ibu, Gege.” Sahut Se Hun tanpa disadari Yi Fan memegang kedua bahunya dan mulai mengajaknya berdiri lalu tak lama setelah itu Yi Fan pun memeluk Se Hun dengan penuh kasih sayang. Terlihat dari cara Yi Fan memeluk adik tirinya yang ia sayangi itu, ia mengelus lembut tengkuk Se Hun yang ditumbuhi sedikit rambut panjang Se Hun.

“Kau sanggup Se Hun-ah. Kau tidak sendiri. Masih ada aku dan.. ibu. Iya masih ada aku dan ibu. Nyonya Oh yang sekarang sedang menunggu kehadiranmu Se Hun-ah. Tolong aku benar-benar minta tolong padamu, please go back to your home in China. Ya?”

Mendengar permohonan Yi Fan yang sudah diucapkan berulang kali itu membuat hati Se Hun semakin terasa sakit. Sakit yang teramat sangat. Karena ia sudah banyak kali mempersulit keadaan keluarganya yang semakin berkurang keharmonisan serta kesejahteraannya. Se Hun benar-benar kalut apa yang harus ia katakan dan ia lakukan sekarang. Se Hun memejamkan matanya rapat-rapat masih dalam pelukan kakaknya yang terasa hangat bagi Se Hun. Tiba-tiba terbesit masa lalu Se Hun di dalam otaknya.

Dimana ia sedang bermain dengan ayahnya beberapa tahun lalu saat ia masih menduduki sekolah dasar. Dan ibunya yang masih terlihat muda dan sangat sehat itu memanggil namanya dan ayahnya untuk diajak makan bersama. Sungguh indah hidup Se Hun saat itu, sampai akhirnya keindahan itu pudar karena satu persatu unsurnya mulai menghilang meski ada satu orang baru datang dalam hidupnya.

   Flashback

  Siang itu Se Hun baru pulang dari sekolahnya dan ia masih duduk di bangku SMA kelas akhir. Tepat pada saat ia membuka pintu rumahnya, ditemuinyalah satu orang yang sangat asing baginya saat itu.Ia menatap curiga pada orang yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya itu.

    “Nngg.. nuguseyo?” tanyanya hati-hati.

    Namun orang yang ia ajak bicara hanya membalas pertanyaan Se Hun dengan senyuman yang menurutnya sedikit.. aneh? Wajahnya terkesan garang sehingga senyuman yang tersungging terlihat sedikit memaksakan diri.

    Tanpa pikir panjang ia menghampiri ibunya yang sedang berada di dapur sedang menyiapkan suguhan untuk tamunya itu
    “Eomma.”

    “Ne, Se Hun-ah? Waeyo?” balas ibu Se Hun sambil tersenyum merekah tanpa menatap anak kesayangannya itu.

    “Siapa tamu itu? Ia terlihat masih muda. Dan wajahnya bukan wajah-wajah orang Korea seperti kita. Ia tamu ibu?” tanya Se Hun sekali lagi.

    “Ne. Berkenalanlah dengannya. Karena dia akan menemanimu mulai sekarang.” Jawab ibu Se Hun lalu membawa hasil jamuannya ke arah tamunya tadi masih dengan senyum yang merekah.

    “Ini hidangan yang bisa aku berikan. Semoga kau suka. Oh iya dimana kopermu, nak?”

    Terdengar oleh Se Hun samar-samar ucapan ibunya barusan.

    ‘Koper? Nak?’ batin Se Hun penasaran.

    Tanpa pikir panjang ia menuju kamarnya setelah itu mengganti pakaiannya dan segera kembali menuju ruang tamu. Untungnya orang tadi masih duduk di tempatnya.

    “A.. Annyeonghaseyo. Kau bisa berbahasa Korea kan?” tanya Se Hun takut-takut dan terkesan sedikit polos.

    “Ne? Oh Annyeonghaseyo. Aku bisa berbahasa Korea. Kau yang bernama Oh Se Hun?” orang itu malah berbalik tanya.

   “Iya. Darimana kau tahu? Apa ibuku memberitahumu?”

    “Ya. Aku…” ucapan tamu Se Hun itu menggantung ia terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

    “Ya?”

    “Aku.. aku akan menjadi kakak bagimu mulai saat ini.” Lanjut pria tadi sambil mengulurkan tangannya yang panjang.

    “Wu Yi Fan imnida. Delapan belas tahun. Dari China. Salam kenal Oh Se Hun.” Ucap pria bernama Wu Yi Fan tadi.

    Tiba-tiba Se Hun merasa petir menyambar hidupnya saat ini. Dan sejak saat itulah kehidupannya berubah.

    Flashback End

“Se Hun-ah.”

Mendengar Yi Fan memanggilnya, Se Hun langsung tersadar dari lamunannya dan langsung mendorong kakaknya itu sedikit keras.

“Apa?” tanya Se Hun dengan lagak sok cuek.

“Kau mau ikut aku?”

“Kemana? Aku sudah bilang aku tidak mau menemui ibu.” Jawab Se Hun enteng. Dan ia mengira bahwa Yi Fan akan kembali geram dan memohon padanya lagi. Namun ternyata perkiraannya salah total. Yi Fan justru tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan. Sepertinya Wu Yi Fan mulai terasuki makhluk yang ‘hangat’ sehingga kesan dinginnya sedikit berkurang.

    “Baiklah. Baiklah. Aku turuti kemauanmu tapi setelah kau ikut aku sekarang.” Tanpa basa-basi lagi Yi Fan langsung mengajak Se Hun keluar apartemen tanpa sedikitpun membiarkan Se Hun mengganti kaos dan celana training yang sedang ia gunakan saat itu.

[Every Time Alone]

    “Silakan duduk. Aku tinggal sebentar ya, Oppa.” Ucap Hae Gin begitu ia dan Lu Han sampai di rumah sewaan hae Gin yang sederhana itu. Lu Han hanya mengangguk cepat begitu mendengar ucapan Hae Gin.

Lu Han menatap kepergian Hae Gin dengan senyuman. Ia tidak tahu kenapa, mungkin karena sudah lama ia tidak bergaul bersama seorang wanita sampai-sampai bertemu seorang wanita saja ia merasa sedikit gugup. Haha konyol sekali. Tanpa disadari Lu han masih terus tersenyum saat Hae Gin tiba membawa beberapa camilan dan gelas minuman yang sengaja ia hidangkan untuk tamu jauhnya itu.

“Oppa. Ya, Lu Han oppa! Kau melamun!” bentak Hae Gin setelah meletakkan bawaannya.

Lu Han langsung terkesiap yang tersenyum kikuk begitu ia kepergok melamun oleh yeoja dihadapannya itu.

“Aigoo.. Wajah imutmu itu tidak pantas menyandang umur 20 tahunan. Cocoknya umur 5 tahun!” ucap Hae Gin tiba-tiba dan itu berhasil membuat Lu Han merubah raut wajahnya menjadi sedikit jengkel.

‘Lagi-lagi masalah wajah.’ Batin Lu Han.

“Hahaha. Aku bercanda oppa. Tapi seriusnya lebih besar. Haha.” Lanjut Hae Gin.

“Hmm. Oppa. Orang yang datang bersamamu itu.. Apakah dia.. kakak tiri Se Hun?”

“Oh? Kau tahu?” timpal Lu Han sedikit kaget.

“Bagaimana tidak kalau selama ini Se Hun dekat denganku. Ia selalu mencurahkan isi hatinya kepadaku, kau tahu? Dan dia sangat baik.” Puji Hae Gin di akhir kalimatnya. Dan entah mengapa itu berhasil membuat Lu Han kembali merasa jengkel.

Oh tidak, ada dengan tuan Lu Han? Ia belum sampai 24 jam berada disamping yeoja ini namun ia merasakan….

“Ya! Oppa! Apa selama ini kerjaanmu melamun terus, huh?”

“Oh? Ani. Aniyo. Ya. Se Hun memang.. memang baik. Yi Fan sering menceritakan tentang Se Hun kepadaku. Hehehe.” Sahut Lu Han dengan entengnya.

“Omo, jadi benar bahwa dia adalah seseorang yang bernama Wu Yi Fan dan merupakan kakak tiri Se Hun? Omo.. baru kali ini aku melihatnya. Wajahnya benar-benar seram.” Komentar Hae Gin berhasil membuat Lu Han ingin tertawa.

“Hahaha. Nam Hae Gin-ssi, Yi Fan itu orang yang baik kok meski wajahnya memang seperti itu. Sedikit membuat orang risih.” Lanjut Lu Han.

“Aigoo~ Kau juga ikut ikut mengomentarinya ternyata. Hmm.. oppa aku boleh tahu tidak bagaimana bisa seorang yang bernama Wu Yi Fan itu menjadi kakak angkat seorang Se Hun? Apakah orang tua Se Hun ada hubungannya dengan orang tua Wu Yi Fan itu?” tanya Hae Gin antusias.

“Ne? Aku tidak berani menceritakan kepada orang lain seenaknya Ha Gin-ah. Itu urusan mereka dan aku tak berhak untuk ikut campur.”

“Oh ya? Lalu untuk apa kau ikut ke sini mengantar Wu Yi Fan itu? Bukankah itu namanya ikut campur huh?” protes Hae Gin begitu menyadari bahwa Lu Han datang ke Korea bertujuan untuk mengantar Wu Yi Fan menemui adiknya itu.

“Aaa~ kalau itu.. Hah! Baiklah. Akan aku ceritakan. Begini, dulu sewaktu Yi Fan satu sekolah denganku pada waktu SMA dia bercerita dengan girang bahwa dia akan memiliki keluarga angkat. Namun, ia tidak tahu apa penyebab keluarga barunya itu mau mengangkat dia menjadi anaknya. Setelah ia bertemu dengan calon orangtuanya, ternyata ia mirip dengan anak pertama mereka yaitu kakak kandung Se Hun yang meninggal saat usia mereka masih balita. Dia meninggal karena kecelakaan. Kecelakaan itu telah  berhasil merenggut nyawa sang kakak sedangkan Se Hun luka berat dan ternyata mengalami gegar otak cukup parah…” Lu Han menghentikan ceritanya begitu Hae Gin mulai memperdekat jarak dengannya dan sepertinya ia ingin mendengar cerita Lu Han dengan seksama. Wajahnya benar-benar menyiratkan rasa penasaran.

“Ehm. Kata ibunya, ia masih belum ingat bahwa dia pernah mempunyai seorang kakak. Maka dari itu setelah kematian ayahnya, ia menjadi sangat frustasi dan terus menyendiri sampai akhirnya Wu Yi Fan. Aku tidak tahu pasti mengapa Nyonya Oh tidak mau memberitahu Se Hun akan keadaan sesungguhnya bahwa ia mempunyai seorang kakak. Yi Fan tidak ingin memberitahuku karena menurutnya itu hal yang sangat pribadi dan fatal jika sampai Se Hun tahu.” Cerita Lu Han panjang lebar.
“Omo… benarkah itu? Jadi… selama ini Se Hun oppa mempunyai seorang kakak kandung? Pantas ia pernah bercerita kalau dia pernah memimpikan seorang lelaki balita yang mengajaknya bermain empat hari berturut turut. Jadi inilah sebabnya…” timpal Hae Gin tersirat kelegaan dalam ucapannya.

“Ne. Tapi, Hae Gin-ah, kau jangan sekali-kali memberitahukan ini kepada Se Hun. Arra? Jadikan rahasia ini sebagai rahasia seumur hidup dan akan terkuak jika Tuhan menghendaki.”

“Ne, ahjussi.” Jawab Hae Gin sambil mengusap bawah matanya yang kering akan air mata. Cerita Lu Han tadi secara tidak langsung membuatnya terharu.

“MWO? Ahjussi katamu?” protes Lu Han geram.

“Arra. Arra. Aku hanya bercanda oppa! Hmm. Kelihatannya ini sudah larut, apa perlu aku carikan tempat menginap untukmu?”

“Haish~ Baiklah. Sebentar aku mau mengambil koper.. Sial! Koperku tertinggal di apartemen Se Hun! Kajja kita harus mengambilnya.” Teriak Lu Han sambil mendelik kesal.

“Dasar ahjussi ceroboh.” Cemooh Hae Gin sambil terkekeh pelan.

[Every Time Alone]

Dua manusia yang sedang menaiki tangga itu terlihat canggung. Seorang lelaki yang berjalan mendahului si perempuan itu hanya bersiul pelang sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Sedangkan si perempuan sibuk akan pikirannya sendiri sambil terus mengikuti langakh orang di depannya. Tak lama setelah itu mereka tiba di depan pintu sebuah ruang apartemen milik seseorang. Tepatnya milik Se Hun. Dengan sedikit perasaan gugup, takut-takut terjadi sesuatu di dalam, si lelaki menempelkan telinganya pelan untuk menguping sejenak. Namun, nihil. Tidak terdengar suara apapun, hanya dengungan kecil yang mengenai gendang telinganya.

“Hae Gin-ah.. di dalam sepi sekali.” Papar Lu Han –si lelaki- kepada yeoja imut di hadapannya saat itu.

“Jeongmalyeo? Coba kau buka pintunya.”

Lu Han mengangguk pelan dan langsung memutar kenop pintu berwarna perak didepannya.

“Eo? Tidak bisa dibuka. Sepertinya mereka pergi dan mengunci pintu apartemen ini.”

“Mwo?” kejut Hae Gin. “Lalu… bagaimana dengan kopermu, Oppa?” tanya Hae Gin was-was.

Lu Han hanya menatap wajah Hae Gin pasrah. Dia menggelengkan pelan kepalanya dan mulai mendudukkan dirinya di lantai lorong apartemen yang begitu dingin.

“Ya! Oppa, apa kau ingin membekukan pantatmu hah? Jangan duduk disitu.” Ujar Hae Gin sambil menarik lengan Lu Han mengajaknya berdiri.

“Aha! Oppa! Aku tahu dimana Se Hun oppa berada!” tiba-tiba ide melintas di dalam pikiran Hae Gin.

“Cih.. Pakai insting lagi?”

“Kau masih ingat? Kau masih ingat akan kemampuan instingku yang jitu? Wah, otak kananmu bagus sekali oppa! Aku kagum.”

Ucapan Hae Gin barusaja mampu membuat Lu Han mendelikkan matanya. “Tolong jangan bercanda, Nam Hae Gin-ssi. Cepat katakan dimana Se Hun berada jika kau memang telah mengetahuinya.” Lanjut Lu Han masih dengan pandangan tajam. Berakting.

“Ddarahae!” ucap Hae Gin penuh girang.

[Every Time Alone to be continued]

    Halo ^^ bagaimana? Semakin absurd ya ceritanya? Kelihatannya emang absurd dari awal *sobs. Sepertinya tidak jadi 2shoots. Jadi nggak ketebak bakalan berapa shoot hehe. Maaf kalau kependekan maklum cuma 2000+ words. Terima kasih yang sudah komentar dan baca pada shoot sebelumnya. Thank you so much. Semoga terhibur. ^^b

10 responses to “Every Time Alone (2nd Shoot)

  1. eiii, bener2 bikin pnasaran nih si kris bawa kemana sehun…
    tapi tunggu tunggu, sehun mmg asli pnya kakak kandung? dan dy ga inget krn sempet geger otak..astaga, ga kebayang klo dy tau, pnasaran tanggepannya..
    dan itu luhan sama haegin..spertiny mreka deket..hehehe
    ahh, dtunggu pokokny lanjutanny ya ^^

    • Dibawa kemana mana :p
      Iya.. Sehun gegar otak parah >< wkwkwk
      Lu Han itu suka ambil kesempatan ngedeketin Hae Gin kali ya haha
      Okok thanks for your comment ^^

  2. Hmm…part nya sedikit (╥.╥) *pasang wajah kecewa ala sinetron tutur tinular(?)* *plak* tp gapapa… Untung gajadi 2shot -,-hfftt… Lanjut ne^^ keren kok^^)b

    • Aduh mian😦 *nangisbarengbangKai
      Lagi buntu inspirasi nih wehehe.
      Lanjutannya bakal panjang mungkin dan bisa jadi ending ._.
      Okok thanks for your comment ^^

      • oalahh._. okelahh aku mengerti kok eon thor sungguh seriusan suwer beneran ga oong ‘-‘)// (?) okewlah saya tunggu epep next part nya ne^^ semangat buat nemuin inspirasi yg bagus eon thor ‘0’)9 ~kali aja si inspirasi lg main petak umpet dan bersembunyi dibalik batu(?) [itu udang reader aneh–v] maapkan cuap2 saya yg gajelas ini. fighting for next chap ne^^ *bow*

  3. Akhh daebak ! Ff terbagus dengan ff nya fhayfransiska yg misconception of flower atau apa itu *lupa
    Bagus ffnya ! Lanjut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s