[Ficlet] LOSING

losing

Title : Losing

Author : Hayamira

Main Cast :

Lee Ho Won / Hoya Lee INFINITE

Jung Na Mi (OC)

Lee Sung Yeol INFINITE

Genre : Friendship

Length : Ficlet (more than 1000 word)

Rating : Parental Guidance 12 (PG 12)

Summarize :

“Siap atau tidak, kita harus bisa dan akan menghadapi perpisahan. Dengan siapapun, walaupun itu dengan orang yang kita paling sayangi…”

A/N : 

Hai ._. Ficlet ini BUKAN SEKUEL dari Oramanieyo ya readers~

cuma numpang pake nama doang namanya Nami ehehehe. jadi, jangan salah paham dulu ya. huhuhu :”

be a good readers 😉

-oOo-

Nami menatap mata Hoya. Entah, sudah berapa lama dia merindukan kilatan cahaya dari mata sahabatnya. Menatapnya membuatnya selalu merasa tenang. Seakan Hoya bisa menghilangkan semua ketakutan, rasa cemas dan khawatir yang ada pada dirinya.

“Hoya…”

Hoya menoleh kesamping. Nami, dengan wajah yang pucat sedang tersenyum untuknya. Sebuah senyum datar yang selalu Hoya rindukan dari sosok Jung Na Mi. Hoya mendekatkan diri ke Nami, dan menyandarkan kepala Nami dibahunya.

Nami bersandar dibahu Hoya yang hangat. Matanya terpejam, napasnya pelan. Dirinya menikmati kenyamanan itu. Nami menghela napas dan membuka matanya. Tubuhnya bangkit, menghadap ke Hoya. Nami tersenyum, senyum setulus mungkin untuk orang yang paling dia sayangi. Orang yang sudah dia anggap kakaknya sendiri. Sahabatnya, Yong Hoya.

“Terimakasih atas segalanya,”bisiknya pelan dengan suaranya yang lemah.

Hoya hanya mengerutkan dahinya samar-samar, lalu menarik kepala Nami bersandar dibahunya lagi. Nami menurut, dia pun memejamkan matanya . dirinya tahu, inilah akhir kisahnya.  Dengan pelan, Nami menutup matanya. Lama-kelamaan, dia membukanya lagi.

Nami meneteskan air matanya. Dia bahagia, karena dia tahu dia tidak sendiri saat dia pergi. Ada Hoya disampingnya. Itu sudah sangat cukup. Baginya, Hoya adalah kekuatannya. Sosok yang membuatnya bisa berdiri dan menatap dunia. Sosok yang selalu ada untuknya, disaat dirinya membutuhkannya. Sosok yang senantiasa menjaganya dan mengawasinya, serta membelai rambutnya penuh kasih sayang  layaknya seorang kakak. Sosok yang dia butuhkan.

Nami menghela napasnya pelan, lalu membuka matanya lagi. Lalu dia memejamkan matanya. Sebuah senyuman terukir di sudut bibir Nami mengingat segala yang telah dia lakukan dihidupnya. Juga memorinya dnegan Hoya.

Setidaknya, dia meninggalkan segalanya dengan kondisi bahagia. Jauh lebih baik.

Nami menarik napas dalam, lalu menghelanya seiring dengan matanya yang terpejam. Tangannya terkulai lemas di genggaman Hoya.

Selamat tinggal, Hoya. Terimakasih atas segalanya.

 

-oOo-

Hoya menatap kedepannya kosong. Dia hanya ingin menikmati waktu berdua dengan sahabatnya Jung Na Mi. sudah berapa lama dia tidak menghabiskan waktu bersama, entahlah. Sesekali, Hoya mengusap tangan Nami pelan.

Tunggu.  Hoya merasakan ada yang aneh. Tadi tangan Nami masih hangat, sekarang menjadi dingin.

Hoya langsung menoleh ke Nami. Dia meraba dahi Nami. Dingin.

Napasnya menderu. Dia mencoba tidak berpikiran buruk, namun semuanya menjurus kearah itu. Hoya tak kehabisan akal. Dia mencoba merasakan napas Nami dari hidungnya. Tidak ada aliran napas dia rasakan di jarinya. Tidak, Hoya tidak menyerah. Dia lalu meraba dan mengamati denyut nadi Nami.

Namun, nihil. Hoya langsung mencoba mendengarkan suara detak jantung Nami dari telinganya. Namun, detak jantung sama sekali tak terdengar.

Hoya pelan meringkuh tubuh Nami yang lemas di tangannya. Matanya memanas. Oh Tuhan, jangan sekarang ! Hoya mengguncang-guncang tubuh Nami. Tidak ada balasan. Tubuh itu terkulaim lemas di lengan Hoya.

Air matanya mengalir. Tidak, tidak mungkin. Hoya memompa jantung Nami dengan tangannya. Sudah berapa kali, hasilnya sama. Nami tidak sadar. Nami masih terkulai.

Hoya menggeleng… dia terus menggeleng sambil air mata di pipinya mengalir. Dia sadar, dia harus menerima kenyataan ini. Hoya merengkuh Nami yang terkulai.

“Kenapa kau meninggalkanku,” gumam Hoya terus menerus. Gumamannya semakin lama terdengar seperti sebuah isakan, dan tangisnya pecah. Hoya menangis, memeluk Nami dan terus menangis.

Dia harus menerimanya. Jung Na Mi, sahabatnya dan orang yang paling dia sayangi telah meninggalkannya sendirian didunia ini. Nami, yang menjadi sandarannya dan tempat berkeluh kesahnya telah pergi.

Hoya harus menerima kenyataan ini.

Jung Na Mi telah meninggal dunia.

-oOo-

“Tuan muda,” panggil seseorang. Hoya tidak menoleh. Dirinya masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Dirinya masih terduduk di kursi, menggigit bibirnya kuat. Menahan tangisnya tidak tumpah sekarang.

“Pemakaman Nona Nami akan segera dimulai. Tuan tidak mau melihatnya?”ujar orang itu lagi. Hoya terpaksa menguatkan dirinya, lalu berdiri dan berjalan tanpa memerdulikan orang itu. Dia menerobos pelayan dan pengawal diluar kamarnya. Sesekali dia menggosok kedua matanya, atau berpura-pura menguap untuk mengelabui orang.

Dia datang, lalu duduk dibarisan depan upacara pemakaman Jung Na Mi. matanya memandang kosong segalanya. Dia menghela napas. Air matanya tidak bisa ditahan, dia menangis. Dia tidak meraung, atau menrengek. Namun, dia hanya menangis, meneteskan air matanya. Rintihan suara tangis dia simpan didalam hatinya, dia tidak ingin arwah sahabatnya tidak tenang mendengar rintihannya.

Dia sangat ingin merintih. Hatinya sakit, melihat segalanya saat itu. Tapi, dia menahannya.

Hoya tidak kuat. Dia langsung berdiri, dan berlari kearah mobilnya. Dia masuk, dan menangis sejadi-jadinya. Setiap orang yang melihat perliaku Hoya, mungkin akan berpikiran Hoya adalah tipe lelaki yang cengeng.

Persetan dengan semuanya ! Hoya tidak mau ambil peduli. Karena dia tahu, apa yang dia lakukan saat ini sangat manusiawi, dan dia yakin setiap manusia jika kehilangan salah satu sandaran hidupnya, semangat hidupnya maka orang tersebut pasti bertingkah seperti dirinya.

Hoya tidak sanggup melihat pemakaman Nami. Dia terus menangis, sambil mengamati prosesi pemakaman berlangsung. Dibalik sosoknya yang keras, Hoya ternyata tidak bisa berpura-pura keras dan kuat jika harus seperti ini.

Hatinya mencela.

Kaca jendela mobilnya diketuk. Hoya mengamati dari luar. Sung Yeol, berusaha memberikan kode ke Hoya agar membuka pintunya. Hoya pun membuka pintu mobilnya, dan Sung Yeol muncul dengan segenggam buket bunga. Buket bunga itu lalu disodorkan ke Hoya. Hoya menatap bingung ke Sung Yeol.

“Nami pasti ingin melihatmu meletakkan bunga untuknya,” Sung Yeol berujar layaknya dia bisa membaca pikiran Hoya. Hoya mengalihkan wajahnya.

Dia tidak sanggup.

“Tidak sanggup? Kenapa? Kenapa kau jadi secengeng ini, Hoya?”

Hoya tidak mau mendengarkan perkataan Sung Yeol. “Pergi,” katanya.

“Jadi kau akan membiarkan dirimu tenggelam di kesedihan tak berujung, yang nantinya membuat Nami sedih? Itu maumu? Kau tidak mau hidup lagi karena Nami sudah pergi, begitu?” tanya Sung Yeol dengan nada tajam. Hoya menoleh menatap Sung Yeol tajam.

“Jangan ikut campur,” kata Hoya. Sung Yeol mendecakkan lidah, lalu menatap Hoya tak kalah tajam.

“Nami akan sedih karena kau seperti ini. Kau yang mengajarinya untuk bangkit, untuk berdiri kuat menghadapi masalah apapun itu. Dan sekarang? Kau justru yang terlihat bodoh. Kau sama saja mengajarkan teori kosong kepada Nami. Kau bodoh, Hoya !”

“Siap atau tidak, kita pasti akan mengalami perpisahan. Itu juga berlaku untuk orang yang kita sayangi. Kau, dan Nami.”

Hoya mendesah pelan. Dia membenarkan perkataan Sung Yeol.

“Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik kepada dia yang sudah berpisah dengan kita. Jangan menganggap hidupmu sudah berakhir disini, Hoya! Nami akan sedih jika tahu sahabatnya seperti ini.”

Hoya langsung keluar dari mobilnya, “Biarkanlah aku lewat !” serunya \ dan meraih buket bunga dari tangan Sung Yeol. Sung Yeol tersenyum melihat Hoya yang berjalan ke peti Nami.

Hoya menatap dalam foto Nami. Dia tersenyum kecut. Dia tahu pasti, kalau Nami masih ada, dan tahu dia seperti ini, maka Nami akan sangat marah pada Hoya. Akhirnya, Hoya meletakkan buket bunga itu dengan senyuman tipis.

“Maafkan aku. Aku tidak mau mengganggu istirahatmu disana. Maaf kalau aku seperti itu. Tenanglah disana. Aku menyayangimu, Jung Na Mi,” gumam Hoya.

Sekilas, dia merasakan ada yang tersenyum untuknya. Dia menoleh, dia lalu mengerjapkan matanya. Jung Na Mi, sedang tersenyum menatapnya. Hoya merasa aman, nyaman menatap Nami. Dia tahu, Nami tidak marah padanya.

“Aku akan terus meneruskan hidupku dengan sebahagia mungkin. Aku juga tidak akan melupakanmu!”

-oOo-

From author : “iseng buat ini, pake nama dan wajah (?) Jung Nami tapi ini sama sekali bukan bagian cerita dari Oramanieyo walaupun Sung Yeol masuk. Jangan salah paham ya readers. Ficlet ini aku buat karena aku terinspirasi sama kartun yang friendshipnya kental banget. Ya, walaupun aku rasa feel persahabatan disininya masih belum klop sama yang kartun aku tonton, hehehe. Aku sengaja ga buat romance, soalnya ya tadi mau menonjolkan friendship. Gagal? tergantung penilaian readers 🙂 Oh ya, makasih buat masukannya~ penyemangat ciat. ahahaha.Tapi aku lagi sibuk sama kerjaan. Jadinya FF yang lama dipending bentar doang kok. Semoga masih setia menunggu ya. Salam Hangat~ ^^”

see you at next FF ._.v

Hyerin cetar badai ulala  chan

4 responses to “[Ficlet] LOSING

  1. Ini keren, frienshipnya kerasa kok thor tapi kadang kayak orang pacaran /? Wkwk tapi keren kok~ keep writing huehue

  2. stuju sama komen diatas, critanya lbh kliatan ky org pacaran dibanding friendship..hehe
    tapi gpp koq thor, critanya masih bagus koq ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s