EXO Daddy Series [6/12] : Single Daddy

Single Daddy

Author : Fai

Cast :

  • Kim Jongin | EXO’s Kai
  • Kim Hyungjin (as Jongin’s child)
  • Lee Taemin | SHINee’s Taemin

Genre : family, friendship

Rating : G

Length : oneshot (4425 words)

Disclaimer : this is officially mine, but the casts are not mine

Previous :

N.B. : HOLA! Maaf baru bisa update lagi hehe, waktu ngetik aku cuma ada di hari-hari libur, jadi maafin ya kalo updatenya lama >.<

Hngg ngga kerasa akhirnya udah ada 6 daddy yah :’D and, this is it, DADDY KAI! Yuhuuu! Are you happy, huh? :3

Let’s read this fanfic and, HAPPY READING~ ^^

“…what a daddy trouble…”

 

Siang itu, Jongin baru sampai di rumahnya dengan penampilan yang sedikit berantakan. Ia memarkirkan motor sport hitamnya lalu membuka helm-nya. Jongin berjalan masuk ke dalam rumahnya seraya mengacak-acak rambutnya sendiri.

Well, penampilannya ini sangat..entahlah. Jaket kulit berwarna hitam, kaos polos berwarna putih, celana jeans skinny, dan sepatu kets adidas. Ya, terlihat sangat stylish dan benar-benar fashion remaja masa kini. Terlebih kulitnya berwarna kecoklatan dan hal itu membuatnya terlihat lebih..sexy?

“Ayah!”

Dan dia adalah seorang ayah.

Jongin menoleh untuk mencari sumber suara tersebut. Tidak sulit untuk mencarinya, karena seorang anak laki-laki berumur 5 tahun kini berlari mendekatinya.

“Hyungjin tidak mau tinggal dengan paman Kim lagi. Dia bukan orang yang baik, dia tidak mengizinkan Hyungjin untuk menonton drama orang dewasa,” keluh anak laki-laki itu. Mata Jongin seolah mencari-cari seseorang. Matanya berputar ke kanan dan ke kiri.

“Di mana paman Kim?” tanya Jongin.

“Paman Kim sedang tidur di kamar Hyungjin. Dia mengacaukan kamar Hyungjin, yah,” jawab Hyungjin seraya melipat kedua tangan di depan dadanya. Jongin hanya membulatkan mulutnya.

“Kalau kau tidak mau tinggal dengan paman Kim, besok ayah akan mengirimmu ke tempat penitipan anak,” jawab Jongin sambil melepas jaket kulitnya.

“Tidak! Hyungjin tidak mau!” jerit anak itu. “Para wanita di tempat itu sangat menyeramkan. Mereka selalu memakai pemoles bibir dan selalu berusaha untuk mencium Hyungjin. Menggelikan.”

Jongin menghela nafasnya.

“Kalau begitu kau tinggal dengan paman Kim. Pilihanmu hanya ada dua,” ujar Jongin dan membanting tubuhnya di sofa. Dia mengambil remot TV dan menyalakannya. Hyungjin berjalan mendekat ke arah Jongin dan duduk di sebelahnya.

“Hyungjin ikut dengan ayah saja,” jawab anak itu. Jongin mendelik. Kedua matanya membulat.

“Tidak bisa! Kau tidak bisa ikut denganku!” pekik Jongin seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia mati-matian menolak keinginan anaknya itu.

“Kalau begitu Hyungjin akan tinggal dengan ibu.”

“JANGAN!” Jongin kembali berteriak frustasi. “Kau mau membiarkanku hidup sendiri di rumah ini, Hyungjin?”

“Kalau begitu, biarkan Hyungjin ikut dengan ayah,” jawab anak itu polos. Dia tersenyum lebar di hadapan Jongin.

Jongin menghela nafas panjang. Dia benar-benar tidak mau anaknya ini ikut ke manapun dia pergi.

“Baiklah, dengan terpaksa besok aku akan membawamu,” hela Jongin. Hyungjin melompat-lompat kecil di atas sofa.

“Tapi jangan panggil aku ayah ataupun papa dan sejenisnya!” tegas Jongin. Anak itu terdiam di tempatnya.

“Kenapa, yah?” tanya Hyungjin.

“Aku ini masih muda. Aku belum pantas untuk menjadi seorang ayah. Jadi, jangan panggil aku ayah. Terlebih kalau di depan banyak wanita cantik,” ujar Jongin seraya mengacak-acak rambutnya. Hyungjin kebingungan mendengarnya. “Lalu?”

“Bilang saja kalau aku ini kakak laki-lakimu,” jawab Jongin sambil menepuk-nepuk kepala anaknya itu.

“Kenapa harus kakak? Kan, ayah adalah ayah Hyungjin, bukan kakak,” tolak Hyungjin. Dia tidak mau memanggil ayahnya ini dengan sebutan kakak.

“Yang penting jangan panggil aku ayah,” Jongin mengotot agar anaknya itu tidak memanggilnya dengan sebutan ayah.

“Tapi—”

“Sudahlah, jangan membantah lagi.”

+++

Jongin adalah seorang ayah. Statusnya single parent. Dia sudah lama bercerai dengan istrinya dan mengambil hak asuh anak.

Jongin baru lulus dari universitasnya sekitar 5 bulan yang lalu. Kebiasaannya keluar rumah untuk bertemu teman-temannya, bahkan ia sering ke bar bersama teman-temannya.

Jongin sangat sering pergi ke studio latihan. Ia sering berlatih dance ataupun rap di sana hingga larut malam. Terkadang ia juga suka menginap di rumah temannya, atau dia yang membawa temannya untuk menginap di rumahnya.

Inilah alasan mengapa istrinya menceraikan Jongin. Jongin masih belum bisa meninggalkan kebiasaannya itu.

“Ayah?”

Jongin melirik ke arah pintu kamarnya. Dapat dilihatnya Hyungjin yang tengah berdiri di sana sambil memegang knop pintu kamarnya.

“Ada apa?” tanya Jongin yang masih berbaring di atas kasurnya.

“Lapar,” ujar Hyungjin polos. Dia menatap Jongin penuh arti.

Jongin segera bangkit dari kasurnya dan berjalan mendekati Hyungjin. Ia menggiring anak itu menuju dapur.

“Baiklah.. Kita lihat apa yang ada,” ujar Jongin lalu membuka lemari makanan. Ia sesekali mengerjapkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.

“Oke, ternyata hanya ada mie instan,” kata Jongin lalu membuka kulkasnya. Hyungjin hanya duduk dengan manis di depan meja makan.

“Oh.. Whoa.. Aku lupa membeli persediaan makanan,” kata Jongin lagi lalu mengambil dua butir telur yang ada di dalam kulkas. “Baiklah, telur goreng mata sapi atau mie instan?”

Hyungjin berpikir sejenak.

“Mie instan tidak sehat. Hyungjin mau telur goreng mata sapi saja,” jawab Hyungjin sambil memain-mainkan kakinya.

Jongin mengiyakan lalu ia mengambil penggorengan dan menaruhnya di atas kompor. Ia menuangkan sedikit minyak goreng ke atasnya. Ia mengambil kuda-kuda untuk menyalakan kompor (ia masih takut untuk menyalakan kompor).

“Tutup matamu, Hyungjin. Kalau perlu kau mejauh. Aku takut kompor ini akan meledak,” ujar Jongin. Hyungjin menghela nafasnya. Inilah kebiasaan ayahnya setiap akan memasak.

DRUP

Api kompor menyala. Tidak ada yang celaka. Jongin menghela nafas lega kemudian melanjutkan aktivitasnya dengan menggoreng telur itu.

“Jangan masukkan garam ke dalamnya, yah. Hyungjin tidak suka asin,” ujar Hyungjin polos. Jongin mengangguk seraya memainkan spatulanya seolah-olah dia adalah juru koki yang handal.

Beberapa menit kemudian, telur itu matang dengan bentuk kuning telurnya yang berantakkan (tidak masalah bagi Hyungjin, hal itu sudah biasa).

Mereka berdua makan dengan tenang di dapur. Setelah selesai makan, Jongin selalu mencuci piring makan mereka berdua. Baru saja Jongin akan mencuci piring, bel rumahnya berbunyi beberapa kali.

TING TONG

“Siapa yang datang ke sini?” gumam Jongin. Ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul empat sore.

TING TONG

“Aku saja yang membukanya,” ujar Jongin lalu berjalan menjauhi dapur. Hyungjin masih duduk dengan tenang di depan meja makan.

TING TONG

“Astaga, tunggu sebentar!” pekik Jongin. Dia berjalan cepat untuk membuka pintu itu. Kemudian ia memutar knop pintu dan membukanya.

“TADAAA!”

Jongin terkejut mendengarnya. Tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh teman lamanya, Taemin.

“Astaga! Kau hampir membuatku jantungan!” Jongin menjitak kepala Taemin dengan kencang. Taemin terkikik pelan.

“Hari ini aku boleh menginap di sini, kan?” tanya Taemin. Jongin berpikir sebentar kemudian melirik Hyungjin yang ternyata masih duduk dengan tenang. Taemin memutar kedua bola matanya dan mengangkat tiga kantung plastik yang dibawanya. “Lihat apa yang kubawa!”

Mata Jongin membulat dengan sempurna. Dia ingin teriak sekarang juga. Dua kantung plastik yang dipenuhi dengan makanan berat beserta snack, dan satu kantung plastik kecil yang berisi beberapa keping DVD juga games.

“Oh, whoa! Kau memang tahu kebutuhanku!” Jongin tidak henti-hentinya terkejut. Taemin tersenyum senang melihatnya. “Kalau begitu kau boleh menginap di sini!”

Jongin mengajak Taemin masuk ke dalam rumahnya. Hyungjin berjalan mendekati mereka berdua dan menatap mereka dengan bingung.

“Taemin ahjussi akan—”

“Hyung.”

Hyungjin keheranan. “Apa?”

“Panggil aku Taemin hyung. Aku ini masih muda, oke?”

Hyungjin mengerucutkan bibirnya kemudian mengangguk. “Hyung akan menginap di sini?”

Absolutely.”

Hyungjin menelan ludahnya sendiri.

+++

“WOHOOO! Sudah kubilang kau pasti akan kalah taruhan!”

“Hei! Aku tidak mungkin kalah!”

Money, come to papa!

“Jangan!”

“Ayo kita taruhan lagi!”

“Kau tidak boleh licik!”

“HEI!”

Hyungjin menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Sedaritadi ayahnya—Jongin, dengan temannya—Taemin tidak henti-hentinya berteriak (oh, bahkan sekarang sudah larut malam dan ini adalah jam tidur bagi Hyungjin).

“Ayah, tidur,” rengek Hyungjin. Dia masih tidur dengan ayahnya (bahkan mereka masih tidur seranjang). Ini sudah yang kesekian kalinya Hyungjin merengek untuk tidur.

“Sebentar lagi! Lagipula ini baru jam sebelas malam dan besok adalah hari libur!”

Hyungjin mulai menghentakkan kedua kakinya di lantai.

“Hei! Itu makananku!” teriak Jongin seraya merebut snack yang baru saja diambil oleh Taemin.

“Tidak mungkin, aku yang membelinya!” elak Taemin kemudian membuka bungkusan itu. Jongin dan Taemin sibuk berebut snack, mereka melupakan Hyungjin yang tengah merengek.

“Hyungjin mengantuk, yah!” pekik anak laki-laki itu. Jongin mengacuhkannya. Sekarang ia dan Taemin malah bermain play station milik Hyungjin yang dibelikan oleh ibu Hyungjin (anak itu sudah terbiasa dengan hal ini, makanya dia tidak marah).

“Ayah, tidur. Ayo tidur. Hyungjin mau tidur,” rengek Hyungjin lagi.

“Kau tidur duluan saja. Aku masih sibuk,” ujar Jongin seraya mengambil stik play station-nya. “Ayo, Taemin. Kita mulai permainannya!”

Sure!

Hyungjin mengerucutkan bibirnya.

“Ayah, ayo tidur! Kalau tidak Hyungjin akan mencabut listriknya!” ancam anak itu. Jongin dan Taemin tertawa.

“Hei, Kkamjong! Sejak kapan anakmu berani bermain listrik?”

Jongin membalas pertanyaan itu dengan tertawa nyaring.

“Silahkan saja, Hyungjin. Aku yakin kau tidak akan berani melakukannya.”

Hyungjin merengut. Kedua matanya memanas. Anak itu menatap Jongin dan Taemin dengan kesal. Rasanya ingin sekali menendang kedua orang itu dan melemparnya ke galaksi luar.

“Ayah jahat!” teriak Hyungjin.

“JONGIN! KAU CURANG!”

“Aku tidak curang! Prajuritmu telah membunuh pengawalku!”

“Jangan menghalangi jalanan!”

“Aku pasti menang!”

“HYAAAAAA!”

“SATU KOSONG!”

Hyungjin akhirnya kembali menutup kedua telinganya karena tidak tahan dengan suara berisik yang dibuat oleh ayahnya dan Taemin.

Aku bisa gila.

+++

Keesokan paginya, rumah itu sudar hancur.

Jongin dan Taemin tertidur di lantai—tepatnya di depan TV—dengan posisi terlentang dan kedua kaki terbuka lebar (bahkan mulut mereka terbuka lebar). Keduanya mendengkur dengan kencang. Sedangkan Hyungjin tertidur di atas perut Jongin.

Bungkus snack yang sudah kosong tersebar di mana-mana. Beberapa kaleng minuman soda yang sudah habis tidak berada di tempat sampah. Beberapa keping DVD berada di kolong. Dalaman yang berserakan di mana-mana. Mangkuk juga piring yang terletak di atas pemutar DVD. Keadaan dapur juga sangat kacau, beberapa telur pecah dan kuah mie instan tumpah di mana-mana. Bahkan beberapa baju kotor ada yang nyasar di dalam kamar mandi (beruntung baju itu tidak masuk ke dalam tong sampah).

Hyungjin mulai terbangun. Jongin yang merasa terganggu oleh Hyungjin ikut terbangun. Sedangkan Taemin masih mendengkur dengan kencang.

“Semalam Hyungjin ketiduran,” gumam Hyungjin lalu menguap dengan lebar. Jongin ikut menguap—bahkan lebih lebar. Ia menggosok kedua matanya dan terbelalak saat melihat keadaan rumahnya yang sangat kacau.

“Whoa.. Ada angin apa semalam?” ujar Jongin takjub. Tapi keadaan rumah yang seperti ini sudah biasa baginya. Hampir setiap hari keadaan rumahnya kacau seperti ini.

“Ayah lagi-lagi menghancurkan rumah ini. Hebat sekali,” gumam Hyungjin seraya menggeleng-gelengkan kepalanya—seolah-olah Jongin benar-benar menghancurkan rumahnya sendiri.

No problem,” ujar Jongin lalu berdiri. Ia melihat Taemin yang masih tertidur dengan pulas. Terlintas ide jahil di pikirannya. Ia menendang bokong Taemin dan membuat laki-laki itu tersungkur.

“HEI! Kau gila, Kkamjong!” teriak Jongin sambil mengusap bokongnya yang tadi di tendang oleh Jongin.

“Cepat, bantu aku membereskan rumah ini,” perintah Jongin. Taemin mendengus kesal. Hyungjin hanya menyaksikan pertengkaran antara dua laki-laki itu. “Atau kau akan kutendang dari sini dan tidak akan pernah bisa berjalan lagi.”

“Astaga, kejam sekali,” gumam Taemin lalu bangkit dari posisi tidurnya.

“Hyungjin, kau juga bantu kami,” perintah Jongin. Anak laki-laki itu menggembungkan kedua pipinya dengan kesal. “Ini semua ulah ayah, bukan ulah Hyungjin. Hyungjin tidak perlu ikut campur.”

“Cepat bereskan atau kau akan kutitipkan pada—”

“BAIKLAH!”

Hyungjin segera menurut karena ayahnya itu pasti mengancam akan menitipkannya pada paman Kim—atau justru di tempat penitipan anak (dengan segudang wanita genit)?

Hyungjin hanya melakukan hal-hal ringan seperti menaruh baju-baju kotor di mesin cuci. Sedangkan Jongin dan Taemin mengerjakan hal-hal yang berat—seperti mendorong lemari dan mengembalikan lemari itu ke tempatnya.

Setelah itu, mereka bertiga mandi bersama dalam durasi dua jam (apa saja yang mereka lakukan di dalam kamar mandi? Tsk).

Tumpahan sampo dan sabun cair itu membuat lantai kamar mandi semakin licin. Hyungjin keluar dari kamar mandi karena jari-jari tangannya sudah memutih dan mengkerut. Selain itu ia sudah tidak tahan berlama-lama di dalam kamar mandi. Sedangkan Jongin dan Taemin..mereka masih bergelut di dalam kamar mandi.

“Diam kau, Lee Taemin! Kau telah menghabiskan sampoku!” teriak Jongin yang berusaha meraih handuk—yang ternyata sudah direbut oleh Taemin. “Hei!”

“Apa-apaan kau, Kkamjong! Salahmu tadi menginjak kakiku!” balas Taemin. Jongin berusaha menarik handuk yang dipegang oleh Taemin.

“Berikan handuk itu!” pinta Jongin. Taemin bersikukuh untuk tidak memberikan handuk itu pada Jongin. Aku duluan yang memegangnya.

“Ayah, cepatlah ini sudah waktunya sarapan,” ujar Hyungjin seraya memakai bajunya. Ini sudah jam sembilan pagi! Waktu sarapan sudah lewat dan Jongin masih berada di kamar mandi!

“Berikan handuknya! Aku kedinginan!” pekik Jongin lagi. Ia menarik handuk itu dari tangan Taemin.

“Aku yang mengambilnya duluan!”

“Tapi ini punyaku!”

“Kau bisa mengambil handuk lain!”

“Tidak mau! Kau saja yang mengambilnya!”

“Menyerahlah!”

“Tidak akan!”

“KAU—”

“WHOAAAAAHHHHH!!!!!!!!”

Hyungjin menutup kedua matanya. Sedetik kemudian, dia menggeleng-gelengkan kepalanya karena ayahnya—Jongin juga temannya—Taemin tersungkur di dalam kamar mandi akibat berebut handuk.

“Aww.. Wajahku..”

Ouch! Kurasa gigiku membentur sesuatu.”

+++

Taemin akhirnya tidak tahan. Setelah sarapan (ia hanya memakan sosis yang gosong dan teh pahit sebagai sarapannya), ia segera kabur dari rumah itu dengan motor sport merahnya. Ia juga mengambil kembali barang-barang miliknya dan membawanya pulang (kabar baiknya adalah; ia bersumpah tidak akan menginap di rumah Jongin lagi).

Hyungjin menatap Jongin dengan heran. Ayahnya itu kini sudah memakai kaos hitam sleeveless, celana jeans skinny, sepatu kets nike berwarna putih dan backpack berwarna hitam yang terpasang di punggungnya. Kali ini ia tidak memakai jaket kulit hitamnya.

“Ayah mau ke mana?”

“Tentu saja melakukan aktivitasku,” ujar Jongin. Ia memasukkan sebuah topi snapback berwarna merah menyala ke dalam tasnya. Ia juga memasukkan iPod-nya ke dalam tas itu.

“Lalu, Hyungjin?”

Jongin menepuk jidatnya sendiri dengan kencang. Ia lupa kalau ia masih mempunyai tanggung jawab yang lain. Dan buruknya, ia mengingat janjinya yang akan mengajak anak itu ke manapun ia pergi.

“Kau.. Mau ikut denganku?” tanya Jongin hati-hati. Hyungjin melompat girang dan berkata ‘iya’ berkali-kali. “Kau yakin?”

“Hyungjin ikut dengan ayah!”

+++

Hyungjin turun dari motor sport Jongin dengan wajah yang tegang—seolah baru saja melihat hantu. Dia sangat tegang (bagaimana ia tidak tegang, Jongin membawa motor itu dengan kecepatan yang sangat tinggi! Dan kali ini anaknya ikut merasakannya! Jongin, you are a bad daddy).

Jongin turun dari motornya sambil menggendong backpack berwarna hitam di punggungnya. Ia berjalan di depan anak laki-lakinya dan masuk ke dalam sebuah studio—yang memang menjadi tujuannya hari ini.

“Ini tempat apa, yah?” tanya Hyungjin bingung. Ruangan itu dipenuhi cermin dan tempat ini sangat asing bagi Hyungjin.

“Ini studio latihanku. Hampir setiap hari aku datang ke sini,” jawab Jongin kemudian melempar backpack-nya ke atas sofa. Ia meregangkan otot-otot tangannya dan melakukan stretching.

Hyungjin merangkak kecil untuk naik ke atas sofa itu dan duduk di samping backpack milik Jongin.

“Ayah selalu sendiri?” tanya Hyungjin lagi.

“Terkadang saja. Aku lebih suka berlatih sendirian,” jawab Jongin lalu melebarkan kedua kakinya—melanjutkan stretching-nya.

“Ayah bisa apa saja?”

Jongin menghela nafasnya.

“Aku bisa melakukan banyak hal. Aku bisa dance, ballet, rap, dan semacamnya. Aku adalah orang yang hebat,” jawab Jongin seraya memutar kepalanya. “Dan karena hal itulah aku berpisah dengan ibumu.”

Hyungjin terdiam. Ia terhenyak begitu mendengar kalimat terakhir Jongin.

“Hyungjin rindu dengan ibu,” lirih anak itu. Jongin mengabaikannya. Ia sekarang melakukan beberapa gerakan dance-nya di depan cermin. “Apakah ayah juga rindu pada ibu?”

Jongin mematung. Dia menatap Hyungjin dari kaca. Dapat dilihatnya wajah Hyungjin yang menunjukkan keseriusan akan pertanyaannya barusan.

Yeah, terkadang aku rindu padanya,” jawab Jongin sedikit berbohong. Ia memang rindu pada mantan istrinya itu. Tapi ia sudah terlanjur membenci wanita itu yang telah mencaci maki dirinya. Dan Jongin tahu bahwa wanita itu telah menikah lagi. “Tapi, untuk apa merindukan ibumu itu? Dia bahkan tidak peduli pada kita.”

Hyungjin terdiam. Jongin tahu anak itu sedang memikirkan sesuatu. Ia pasti membutuhkan sosok seorang ibu, bukan hanya seorang ayah (dan parahnya, ayahnya bahkan sibuk dengan urusannya sendiri).

“Kemarilah,” panggil Jongin kemudian duduk di atas lantai. Hyungjin turun dari sofa dan berjalan menuju Jongin. Kemudian anak itu duduk di samping Jongin.

“Hyungjin, ibumu itu sebenarnya wanita yang baik. Tapi akhirnya kami memutuskan untuk berpisah karena ada suatu hal yang mengharuskan kami untuk berpisah. Kalau kau sudah besar nanti, kau pasti akan mengerti alasannya,” jelas Jongin. Hyungjin menggerak-gerakkan bibir bawahnya.

“Memangnya ayah tidak kesepian karena—”

“Sudahlah, Hyungjin. Aku sedang tidak ingin membahas hal ini. Kau lihat, kan? Aku sedang latihan.”

Hyungjin merengut kecil. Kemudian ia merunduk dan mengangguk sekali.

“Iya, ayah.”

Jongin tersenyum kecil. Ia menepuk-nepuk kecil puncak kepala Hyungjin dan mencubit pipi anak itu dengan gemas.

That’s my boy.”

+++

Akhirnya, berkat permintaan Hyungjin, mau tidak mau Jongin harus mengikuti kemauan anak itu. Sekarang, mereka sudah sampai di taman kota untuk bermain walaupun sebentar saja.

“Ayah, lain kali ayah tidak boleh mengebut lagi. Untung saja nenek tadi tidak tertabrak,” ujar Hyungjin kemudian bergidik ngeri.

“Ha! Itulah keahlianku, Hyungjin! Mengendarai motor dengan cepat adalah daya tarikku,” sombong Jongin. Ia memasang snapback dan kacamata hitamnya.

Sungguh! Hyungjin seperti sedang berjalan dengan kakak laki-lakinya, bukan dengan ayahnya!

Kaos sleeveless berwarna hitam, celana jeans skinny, sepatu kets nike berwarna putih, backpack berwarna hitam yang ia gendong di punggungnya, kacamata hitam, iPod di tangannya dan snapback berwarna merah terang. Ini benar-benar fashion seorang remaja!

“Hei, boleh berkenalan?”

Jongin menoleh. Ia terdiam di tempatnya. Begitu pula dengan Hyungjin yang kini tengah memperhatikan orang itu dari kepala hingga ujung kakinya. Whoa.. Siapa noona ini?

“Tentu saja!” jawab Jongin kemudian membuka kacamatanya. Ia mengulurkan tangannya ke depan gadis itu. “Kim Jongin.”

Gadis itu menjabat tangan Jongin dengan cepat. Terlihat rona merah di wajahnya. “Han Yeonmi.”

Hyungjin menatap gadis itu heran. Apa yang dilakukan noona ini? Kenapa ayah menjabat tangannya?

Seolah bisa mendengar pikiran Hyungjin, gadis bernama Yeonmi itu melirik Hyungjin dan berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak laki-laki itu.

“Hai, anak manis. Namamu siapa?”

“Kim Hyungjin,” jawabnya singkat. Gadis itu menelengkan kepalanya untuk menatap Jongin dan Hyungjin secara bergantian.

“Wajah kalian mirip. Marga kalian juga sama. Kalian bersaudara?”

Baru saja Hyungjin akan menjawab bahwa Jongin adalah ayahnya, laki-laki itu sudah mengambil alih terlebih dahulu.

“Ya, ia adalah adikku. Kami berdua sedang berjalan-jalan di taman ini,” jawab Jongin kemudian memasang kacamata hitamnya lagi.

Jongin bergidik ngeri saat melihat tatapan tajam anaknya yang seolah berkata kita-ke-sini-untuk-bersenang-senang-bukan-mencari-gadis.

“Eum, maaf Han Yeonmi-ssi, aku dan Hyungjin sedang terburu-buru. Sampai jumpa lagi,” ujar Jongin lalu menarik tangan kecil Hyungjin untuk pergi dari situ.

“Senang berkenalan denganmu!” sambung Jongin.

Ah, sejujurnya Jongin sangat ingin mengajak gadis itu ke sebuah cafe dan melakukan pendekatan.

Benar-benar ayah yang genit.

+++

Hyungjin gerah dengan hal ini.

Ayahnya kini tengah diikuti beberapa gadis kuliahan dan beberapa gadis yang tengah menatap ke arah ayahnya itu—dan Jongin terlihat sangat senang (hal itu terlihat dari senyuman yang mengembang di wajahnya).

Sedangkan Hyungjin tidak dibiarkan untuk berjalan di sebelah Jongin. Anak laki-laki itu berjalan tepat di belakang gadis-gadis kuliahan itu. Sudah berkali-kali ia berusaha menyalip untuk berjalan di sebelah ayahnya, tapi gadis-gadis itu tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.

“Jongin, apa kau menyukai kue-kue manis?”

“Jongin, apa kau suka menonton teater?”

“Kau sudah punya pacar, Kim Jongin?”

“Jongin, kau kuliah di mana?”

“Jongin, nanti malam kita ke Fresh Cafe, yuk!”

“Jongin..”

“Jongin..”

“Jongin..”

Jongin, Jongin, Jongin dan Jongin. Gadis-gadis itu tidak henti-hentinya menghujat Jongin dengan beribu pertanyaan dan ajakannya.

Jongin kewalahan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ia berniat untuk mengencani mereka semua! Kau gila, Jonginnie!

“Ayah, Hyungjin mau pulang saja,” pinta Hyungjin—melupakan janjinya untuk tidak memanggil Jongin dengan sebutan ayah. Ia benar-benar tidak tahan. Hei, kenapa Jongin melupakan Hyungjin? Ia bahkan mengabaikan anaknya sendiri!

“Oh, Jongin. Kau harus menghubungiku!”

“Jongin, bagaimana kalau besok kita berkencan?”

“Aku tahu kita pasti memiliki banyak kesamaan. Bukankah begitu, Jongin?”

“Jonginnie, ini nomor handphone-ku!”

Wow! Keempat gadis kuliahan itu tetap bersikukuh untuk mengajak Jongin berkencan! Jongin sangat senang karena hari ini dia berkenalan dengan banyak gadis. Tapi, sepertinya ada yang kurang. Apa, ya?

“Ayah, Hyungjin mau pulang,” samar-samar suara anak itu terdengar. Tapi, Jongin tidak dibiarkan untuk mendekati anak itu. Gadis-gadis itu berpikir bahwa Hyungjin adalah seorang anak manis yang kehilangan kedua orang tuanya dan berusaha mendekati Jongin.

“Ayah, Hyungjin mau—aww!”

Anak itu terjatuh. Ia tidak sengaja terdorong oleh beberapa gadis itu. Dan Jongin tidak sadar.

“Ayah..,” gumam Hyungjin. Ia duduk di atas aspal dan memegangi lututnya yang mulai mengeluarkan darah.

Ayahnya itu tidak sadar. Jongin tetap berjalan menjauh dari tempat anaknya itu terjatuh. Suara gadis-gadis kuliahan itu masih terdengar dengan jelas oleh Hyungjin. Dan sekali lagi, Jongin TIDAK MENYADARI anaknya yang masih terpaku di tempatnya. Jongin TIDAK MENYADARINYA!

Bibir bawah Hyungjin bergetar kencang. Matanya mulai berair dan ia menangis.

“Huaaaaaaaa……”

Hyungjin menangis dengan kencang. Jongin tidak mendengar suara tangisan Hyungjin karena gadis-gadis di sekitarnya itu masih tidak bisa diam.

“Ayaaahhhhh… Hyungjin mau ayaaahhh… Huaaaaaa……”

Tangisan anak itu semakin kencang. Salah satu pengunjung taman itu tidak tega melihat Hyungjin yang tengah menangis meraung-raung memanggil ayahnya seraya memegangi lututnya yang berdarah. Ia berjalan mendekati Hyungjin dan menggendong tubuh mungil itu lalu membawanya untuk duduk di salah satu bangku taman.

“Hai, anak manis. Tenang saja, paman akan mengobati lukamu,” ujar laki-laki itu. Dia mengambil sebuah tissue basah kemudian mengelap luka di lutut Hyungjin.

Seketika, tangisan anak itu tidak terdengar lagi. Ia diajak mengobrol dengan orang yang tadi mengobati kakinya—atau lebih tepatnya membersihkan lukanya. Sesekali Hyungjin tertawa karena lelucon yang dilontarkan oleh laki-laki tersebut.

Dan Jongin tanpa sengaja melihat hal itu. Ia melihat anaknya itu tertawa di atas pangkuan orang lain. Sekali lagi, ia tertawa di atas pangkuan ORANG LAIN! Bukan di atas pangkuan ayahnya sendiri!

“KIM HYUNGJIN!”

Jongin berlari mendekati Hyungjin. Ia meninggalkan gadis-gadis kuliahan itu yang terpaku di tempatnya dan berjongkok di depan Hyungjin. Matanya tidak sengaja melihat luka di lutut anak laki-lakinya itu.

“Astaga, ada apa dengan kakimu? Siapa yang telah membuatmu terluka?”

Hyungjin tidak menjawab. Dia menatap Jongin dengan kesal.

“Ayah tidak perlu tahu. Ayah tidak sayang pada Hyungjin.”

Jongin terdiam. Kalimat terakhir barusan seolah menusuk dadanya.

“Jangan bicara seperti itu, Hyungjin. Katakan padaku siapa yang membuatmu terluka?”

Hyungjin menatap laki-laki yang duduk di sebelahnya dan Jongin secara bergantian. Anak itu merengut. Ia mulai menangis lagi.

“Ayah yang membuat Hyungjin terluka.”

Oh, what a poor Jonginnie.

“M-maksudmu?”

Hyungjin mengangkat kepalanya untuk menahan air matanya yang sudah hampir tumpah. Ia tidak mau menatap Jongin yang kini kebingungan.

“Ayah terlalu sibuk dengan noona-noona itu. Ayah melupakan Hyungjin. Ayah membuat Hyungjin terluka.”

Karena tidak sanggup menahan tangisnya, Hyungjin memeluk erat tubuh laki-laki yang tadi menolongnya. Dan Jongin..ia tidak suka dengan hal ini. Hatinya seolah teriris ketika mendengar kalimat anaknya tadi. Dan kini hatinya seakan hancur ketika melihat anaknya menangis seraya memeluk orang lain—yang bahkan tidak dikenalnya.

“Hyungjin.. A—aku—”

“Hyungjin tidak mau dengar lagi! Ayah jahat! Ayah tidak sayang dengan Hyungjin!”

Jongin terdiam di tempatnya. Ia menatap laki-laki yang kini tengah mengelus puncak kepala Hyungjin. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

“Tuan, anak ini tadi terjatuh dan lututnya terluka. Aku tidak tega melihatnya menangis di tengah jalan sambil memegangi lututnya yang terluka. Aku membawanya ke kursi ini dan membersihkan lukanya,” jelas laki-laki itu. Hyungjin masih menangis sambil berkata ‘ayah jahat’ selama berkali-kali. Jongin masih terdiam.

“Dan ia bilang kalau ayahnya dikejar-kejar banyak gadis sehingga ia tidak bisa mendekati ayahnya sendiri. Dia sangat ingin berjalan di sebelah ayahnya, tapi gadis-gadis itu tidak membiarkannya untuk mendekati ayahnya. Dan ia juga bilang bahwa ayahnya tidak menyadari hal itu.”

Jongin tidak sanggup berkata-kata. Laki-laki itu memang benar. Ia terlalu asik berbincang-bincang dengan beberapa gadis kuliahan sehingga melupakan Hyungjin yang terus-terusan memanggilnya.

“Hyungjin.. Maafkan ak—ayah.. A-ayah sangat menyesal,” Jongin terasa sedikit kaku untuk menyebut dirinya dengan sebutan ‘ayah’. Jongin mengelus lembut kepala anak itu.

“Ayah jahat. Ayah tidak sayang pada Hyungjin.”

Jongin benar-benar merasa bersalah. Baru kali ini ia merasa bersalah seperti ini. Tidak biasanya seorang Jongin kesulitan untuk berbicara pada anaknya sendiri.

“Ayah minta maaf. Ayah janji tidak akan mengulanginya. Bukan maksud ayah untuk melupakan Hyungjin. Ayah sangat menyayangi Hyungjin. Ayah benar-benar menyesal. Ayah mohon, maafkan ayah.”

Hyungjin menggeleng. Ia masih memeluk laki-laki di sampingnya.

Jongin menghela nafasnya. Ia tahu apa keinginan anaknya itu.

“Ayah berjanji untuk mengatakan pada setiap gadis bahwa Hyungjin adalah anak ayah. Dan ayah berjanji untuk tidak mendekati gadis manapun lagi.”

Hyungjin menoleh. Ia menatap ayahnya dengan kedua mata yang agak bengkak dan wajahnya yang basah. Ia sedikit sesenggukan.

“Ayah janji?”

“JANJI!” Jongin berteriak saking semangatnya. Ia bersungguh-sungguh. Hyungjin tahu itu. “Maafkan ayah, ya?”

Hyungjin mengangguk kemudian melepaskan pelukannya dari laki-laki tadi.

“Kalau ayah berbohong, Hyungjin tidak akan pernah memaafkan ayah dan Hyungjin akan tinggal dengan ibu saja,” ancam Hyungjin. “Setuju?”

Jongin mengangguk cepat.

“Ayah tidak akan mengabaikan Hyungjin lagi. Ayah akan menggendong Hyungjin ke manapun kita pergi.”

Anak itu mengernyitkan dahinya.

Jongin tersenyum kecil. Ia memindahkan backpack-nya depan tubuhnya—menggendong backpack itu di depan tubuhnya. Kemudian ia berjongkok membelakangi Hyungjin.

“Ayo, naik ke punggung ayah.”

Tanpa aba-aba, Hyungjin langsung melompat ke punggung Jongin dan memeluk leher ayahnya itu dengan erat. Sangat..erat. Jongin suka hal ini. Jongin suka menjadi seorang ayah.

Jongin berdiri dan menatap laki-laki yang tadi menolong Hyungjin.

“Terima kasih, tuan. Terima kasih karena telah menolong anakku,” ujar Jongin pada laki-laki itu sambil membungkuk beberapa kali.

“Sama-sama, tuan.”

“Terima kasih banyak, paman!”

“Sama-sama, anak manis,” laki-laki itu tersenyum manis.

Jongin berjalan menjauh dari tempat laki-laki itu duduk. Ia menggendong Hyungjin di punggungnya dengan rasa bahagia yang memenuhi dadanya.

“Baiklah, hari Hyungjin dan ayah Jongin dimulai!”

+++

Ayah dan anak itu kini tengah duduk di dalam Fresh Cafe sambil menyantap makanannya. Hyungjin sedaritadi melirik orang yang duduk di sebelah mejanya dan ke arah Jongin secara bergantian.

“Ayah, Hyungjin mau ibu baru.”

Jongin tersedak. Udang yang baru saja masuk ke dalam mulutnya itu kini menyangkut di tenggorokannya. Ia menepuk-nepuk leher belakangnya sendiri untuk mengeluarkan udang itu dari tenggorokannya.

“Hyungjin! Kau ini ngomong apa?! Kau mau membuat ayah mati karena tersedak?!”

Hyunjin tertawa kecil. Ia menunjuk seseorang yang sedaritadi duduk di sebelah mereka. “Hyungjin mau orang itu sebagai ibu baru Hyungjin.”

Jongin tersedak lagi. Aku tidak salah lihat, kan?!

“Nak, orang itu tidak mungkin untuk menjadi ibumu..,” bisik Jongin.

“Tapi Hyungjin mau orang itu..,” pinta Hyungjin—bersikeras. Jongin menelan ludahnya sendiri.

“Dia sesama jenis dengan ayah, Hyungjin..,” Jongin menatap laki-laki bermata bulat di sebelahnya itu yang kini tengah berbincang-bincang dengan beberapa temannya.

“Memangnya kalau sesama jenis tidak boleh, yah? Kan, sama jadi pas?”

“A-anak ini…”

-FIN-

And, HOW READERS??? Apakah ceritanya memuaskan? .____.

Saya juga bingung kenapa versinya Kai bisa sepanjang ini padahal pas ngetiknya saya ngerasa ff ini kok pendek banget .____. Dan sejauh ini, versinya Kai yang paling panjang .___.

Maapin ya kalo ceritanya rada-rada gimana gitu, pas ngetik ff ini mood aku berubah-ubah. Hngg, kira-kira aku nyelesaiin ff ini selama tiga hari, makanya maklumin ya kalo ceritanya gimana gitu muahaha u,u

Oke, berhubung aku cuma bisa ngebuka laptop pada hari-hari libur, mungkin saya bakal lama update. Apalagi saya kalo ngetik biasanya di malem hari alias begadang, jadi saya gamungkin begadang di hari-hari sekolah kan .___. /padahal biasanya begadang juga/ /slapped/ ya intinya idenya mandet gitulah ngahaha

Nah, di ff ini ada 2 daddy exo yang terselip(?) yang akan menjadi the next daddy, siapakah mereka? Sifat mereka juga udah aku gambarin loh dari ff ini.. Hayo, ada yang bisa tebak siapa member exo itu beserta seperti apa sifatnya? :3

Siplah! Leave your comment, oke? 😀 *tebar bias masing-masing*

And.. WHO IS THE NEXT DADDY? ;D *kedip-kedip genit bareng Kyungsoo*

Advertisements

247 responses to “EXO Daddy Series [6/12] : Single Daddy

  1. thor ff nya lucu banget tapi masa aku nangis pas bacanya ‘-‘ hehe
    Kim Hyungjin nya lucu. tapi kasian dia punya ayah secuek kai.
    nice ff thor 🙂

  2. di awalnya jongin agak keterlaluan sama hyunjin, tapi hyunjin tetep sabar,
    feelnya dapet banget pas hyunjinnya jatuh terus dia marah sama jongin u.u
    aaaaa ending nya bikin ngakak
    how daebakkkkkk!!! 😀

  3. Ya ampun thor~
    aku ngakak ampe guling2 di kasur
    kkkkkkkk^^
    daebak2!!!!!
    Keep fighting n writing!!!

  4. Kayanya Jongin emang ditakdirkan untuk jadi bad boy deh 😀 Walaupun udah jadi appa tapi kelakuannya…. :v
    ngakak pas Hyungjin minta ibu yg sesama jenis :v
    btw,bagus eon karyanya!

  5. kalau yang part nya Kai lebih kerasa konfliknya, terus alasan Kai jadi single daddynya juga ada jadi lebih enak dibacanya wkkwkwkwkwkw terus yang bagian terakhir ngakak sendiri e.e

    oh ya, di beberapa FF aku ngebaca ada sosok misterius yang care sama anak-anak. siapakah dia??? apa salah satu member exo yang bakalan jadi daddy juga ya? ditunggu karya selanjutnya ^^

    nb : seriusan nih, siapa sih yang paman-baik-hati di setiap cerita itu? kepo banget OAO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s