I Want a Baby – Part 6

i-want-a-baby1

Author: Ulfah_Naziah

Title: I Want a Baby

Main Cast:

·         Lee Donghae (SJ)

·         Jane Han (OC)

Support Cast:

·         Find by yourself

Genre: Drama, family, marriage life

Rating: PG-16

Disclaimer: Cerita ini ngambil plot dari film india, kalau nggak salah judulnya ‘Chori-chori, cupke-cupke’. Yang diperankan salman sama Rani. Ketahuan ya, suka film indianya. Kekeke~ Habisnya aku suka banget, nget, nget~ sama film itu, ditambah dengan imajinasi liarku.

Credit poster: Mira~Hyuga, posternya keren~~^^

Warning: Typo, cerita gaje, alur lambat, PERPINDAHAN WAKTU SANGAT CEPAT dan kekurangan yang lainnya. .—.v

A/N: Maaf~~ karena updatenya lama banget. (^.^)v Happy reading dan semoga nggak ngecewain+ngebosenin. Enjoy!

Part 1| Part 2| Part 3| Part 4| Part 5|

Story 6

“Berilah aku seorang anak.”

Dengan gerakan sepersekian detik setelah Donghae mengucapkan kalimat itu, kepala Seorim menoleh dan menatap wajah pria itu dengan ekspresi keterkejutan yang terlihat jelas diraut wajahnya.

Berilah seorang anak katanya? Kali ini Seorim benar-benar meragukan kemampuan alat dengarnya itu.

Satu detik….dua detik…tiga detik… perempuan itu hanya bisa menatap wajah Donghae, tapi didetik berikutnya ia memberanikan diri untuk membuka suaranya.

“Apa….maksudmu?” Tanyanya pelan.

Donghae tidak langsung menjawab, pria itu hanya menatap lurus kedepan kesatu titik yang dianggapnya menarik untuk ditatap, selama beberapa saat keadaan hening menguasai ruangan ini. Donghae masih belum mau membuka suaranya, membuat kerutan dikening Seorim semakin menjadi.

Apa Ia hanya salah dengar?

“Apa maksudmu Lee Donghae?” Ulang perempuan itu dan baru kali inilah Donghae menolehkan kepalanya menatap Seorim dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca oleh perempuan itu selama sepersekian detik.

“Aku ingin seorang anak darimu.” Sahut Donghae cepat, tegas dengan ekspresi datar yang mendominasi raut wajahnya sekarang.

Pria itu sama sekali tidak menunjukan ekspresi apapun, ia hanya menatap perempuan itu menunggu ucapan apa yang akan diterimanya dari Seorim.

Plak!

Tanpa ia sangka sebelumnya, ia malah mendapatkan sebuah tamparan dari perempuan itu dipipi kirinya, cukup keras sehingga mampu membuat Donghae meringis kecil. Seketika saja rasa panas mulai menjalari pipinya, tapi untuk sekarang dia tidak mempedulikan hal itu.

“Jangan bercanda denganku.” Seru Seorim kesal, terlihat marah bahkan.

“Apa aku terlihat sedang bercanda sekarang?” Jawab Donghae, Seorim menatap pria itu tidak percaya. Meskipun Donghae memperlihatkan mimik wajah datar, tapi Seorim masih bisa melihat hal lain dimata Donghae.

Matanya seolah memperlihatkan keputus asaan yang sangat besar, kekecewaan dan kesedihan yang mendalam. Apa yang sebenarnya telah terjadi pada pria dihadapannya sekarang? Kenapa Donghae tiba-tiba mengatakan padanya untuk memberinya seorang anak?

Seorim mendesis, “Kau mengatakan itu seolah-olah aku adalah perempuan murahan.” Sahut Seorim skeptis, walaupun ia tidak memungkiri kalau ia merasa bahwa dirinya adalah perempuan murahan dengan pekerjaan yang dilakukannya sekarang.

Donghae menghela napas berat, terdengar penuh dengan beban.

“Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu Seorim, karena kau adalah wanita yang aku percayai. Aku tidak tahu harus meminta bantuan siapa lagi.” Ujar Donghae pelan, terdengar lelah dan menyedihkan. Hal yang tidak pernah Seorim sangka angka ditunjukan teman SMA-nya itu.

“Aku tidak mau.” Sahut Seorim cepat, menggelengkan kepalanya sekali dan menatap Donghae serius.

“Aku akan membayarmu berapapun yang kau inginkan.” Ujar Donghae tak kalah serius, satu-satunya harapan terakhir ada pada wanita itu. Kalau Seorim menolak ia tidak tahu harus meminta bantuan siapa lagi. Ia sudah terlalu lelah dengan masalah yang dihadapinya sekarang.

Seorim tertawa sinis setelah beberapa saat diisi oleh kebisuan diantara mereka.

“Apakah kau pikir uang bisa membuatku menyetujui permintaan gilamu ini?” Tanya Seorim sarkastik, “Tidak, aku tetap tidak mau. Kau benar-benar gila.” Ia kemudian bangkit berdiri berniat untuk meninggalkan ruangan ini. Tapi sebelum ia bisa melaksanakan niatannya itu, tangan Donghae lebih dulu menahannya untuk tidak pergi.

“Aku…mohon Seorim.” Ujar Donghae memohon hampir terdengar memelas, pria itu menundukan kepalanya dalam-dalam.

Seorim meneguk ludahnya sekali, ia tidak pernah menyangka Donghae akan memohon seperti ini padanya, pria itu benar-benar terlihat menyedihkan sekarang. Sebenarnya apa yang terjadi padanya sehingga membuatnya harus seperti ini? Apa terjadi sesuatu?

Seorim benar-benar tidak tahu masalah apa yang menimpa Donghae, karena sejak hari kelulusan itu mereka kehilangan kontak.

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu?” Tanya Seorim pada akhirnya, mau tak mau hatinya merasa tergerak melihat keadaan Donghae seperti ini. Seorim kemudian kembali duduk disisi ranjang menatap pria itu.

Donghae mendongak menatap wanita itu, “Istriku sangat menyayangi ibuku dan ayahnya, ia tidak ingin menyakiti mereka dengan mengatakan bahwa istriku tidak bisa mengandung lagi. Apalagi ayah mertuaku mempunyai penyakit jantung, ia memintaku melakukan ini.” Jelas Donghae pelan.

Seorim terhenyak untuk beberapa saat mendengar penuturan Donghae, tiba-tiba sekelebat perasaan nyeri terasa dihatinya tapi hanya sesaat sampai ia mampu menguasai hatinya kembali.

“I-istri?” Tanya Seorim tergagap, rasanya hanya untuk meneguk ludah saja tenggorokannya terasa sakit.

Jadi Donghae sudah mempunyai istri? Seorim masih diam mematung, perasaannya campur aduk sekarang, percampuran dari rasa terkejut, tidak percaya dan…kecewa. ia menggigit bibir bawahnya, kalau Donghae sudah menikah kenapa pria itu meminta permintaan gila itu padanya? Apa ia hanya ingin mempermainkannya?

Dan hanya dengan memikirkan itu saja mampu membuat emosi Seorim muncul, rasa kesal perlahan mulai mendominasinya sekarang.

“Dan kau menyetujui permintaan idiot ini?” Bentak Seorim, ia mendengus sekali dan kembali memusatkan perhatiannya pada Donghae, “Apa yang ada dipikiran istrimu, hah?  Kau dan istrimu, benar-benar gila.” Lanjut wanita itu.

Ia bangkit berdiri, mengepalkan kedua lengannya erat. Entah untuk alasan apa, Seorim lalu menatap Donghae yang masih terduduk dengan napas memburu.

Ini gila, ini gila. Beberapa kali Seorim menggumamkan dua kata itu dalam hatinya. Apa yang sebenarnya ada dipikiran istri Donghae, sehingga menyuruh suaminya untuk menghamili perempuan lain. Apa perempuan itu idiot? Apakah ia tidak akan merasakan rasa sakit ketika melihat suaminya bersama dengan orang lain, walaupun itu dalam artian yang berbeda.

Dan dengan bodohnya Donghae menyetujui ini semua? Ini gila.

“Jangan mengatai istriku seperti itu Seorim! Ia hanya tidak ingin menyakiti perasaan orang tua kami. Aku juga tidak pernah ingin menyetujui hal ini, kalau aku bisa?!” Donghae bangkit berdiri dan tanpa sadar balas membentak Seorim, ia akan selalu marah jika ada yang mengatai istrinya, meskipun itu adalah temannya.

Seorim mundur selangkah, memejamkan kedua matanya. Ini baru pertama kalinya ia melihat dan mendengar Donghae membentaknya seperti tadi, apa sebegitu besar rasa cinta Donghae pada istrinya? Dan tanpa ia sadari, ia meringis pelan.

Perlahan Donghae mulai menurunkan bahunya yang menegang dan merubah ekspresi tegangnya menjadi raut bersalah ketika melihat sedikit ekspresi ketakutan diwajah Seorim.

“Maafkan aku Seorim, aku tidak bermaksud membentakmu tadi.” Ujar Donghae pelan, ia lalu memijit pelipisnya yang mulai terasa pening. Kepalanya sudah benar-benar terasa sakit memikirkan semua masalah ini.

Donghae menghela napas, berharap dengan itu ia akan merasa lebih baik. Pria itu lalu memberanikan diri untuk memegang kedua bahu Seorim, mendongakan kepala wanita dan menatapnya lembut.

“Aku mohon….bisakan kau membantuku?”

***

Jane terperanjak kaget begitu merasakan ponsel yang ia pegang bergetar, ia lalu membetulkan letak duduknya –mencari posisi nyaman. Seberkas senyum ia perlihatkan ketika melihat ID caller suaminya yang terpampang dilayar touch screen-nya. Dengan cepat Jane mengangkat sambungan telfon tersebut.

“Hae kau dimana? Kenapa tidak pulang? Apa kau sudah makan? Kau baik-baik saja bukan?” Kalimat beruntun meluncur begitu saja dari bibir Jane, membuat Donghae diseberang sana terkekeh pelan.

“Aku baik-baik saja sayang.” Jawab Donghae, membuat Jane menghela napas lega.

“Kau membuatku khawatir.” Seru Jane kesal, pria itu tidak tahu kalau dirinya dari tadi tidak berhenti memikirkan keberadaan suami tersayangnya itu –sampai jatuh tertidur.

“Jane?”

“Ya?” Sahut Jane, ia mengerutkan keningnya beberapa saat ketika mendengar suara serius Donghae yang tiba-tiba, sungguh tidak biasanya.

Jane semakin mengerutkan keningnya ketika ia tidak juga mendengar suara Donghae, setelah sekian lama mereka hanya terdiam.

“Yeobo, ada apa?” Tanya Jane mulai terlihat cemas, “Kau tidak apa-apa bukan?”

Jane bisa mendengar Donghae menghela napas dari seberang sana.

“Aku menemukan perempuan yang bersedia melahirkan anak kita Jane.” Ucap Donghae pelan.

Deg!

Untuk beberapa saat Jane seolah merasa jantungnya ditusuk oleh belati secara berkali-kali, terasa sakit untuk sesaat ketika mendengar ucapan suaminya barusan. Ia memegang dadanya dan menepuk-nepuknya pelan, berusaha mengirup oksigen sebanyak yang ia bisa. Berharap dengan itu bisa sedikit meringankan rasa sakitnya.

“Jane? Kau mendengarku?” Jane mengerjap, ia kemudian berdehem untuk membuat suaranya tidak terdengar bergetar.

“Benarkah? Kau sudah menemukannya?” Tanya Jane berusaha untuk terdengar senang, ia kemudian meringis kecil seketika menyadari sesuatu.

Seharusnya ia tidak merasakan perasaan sedih seperti ini, bukannya dirinya yang menginginkan semua ini? Tapi kenapa ketika suaminya berhasil mengabulkan permintaannya, kenapa reaksinya seperti ini? Kenapa ia merasakan perasaan tidak rela seperti ini? Apakah keputusan yang ia pilih ini adalah keputusan yang benar?

“Perempuan itu adalah teman sekolahku, aku akan pulang bersamanya sekarang.” Jawab Donghae.

“Hmm, aku tunggu.”

Pip.

Jane mematikan sambungan telfon itu, yang harus ia lakukan hanya menunggu sampai suaminya datang bersama perempuan yang bersedia memberi mereka seorang bayi.

***

Ting tong

Jane bangkit berdiri secara refleks begitu mendengar suara bel rumahnya berbunyi, ia kemudian berjalan dan membuka pintu.

“Jane…” Sambut Donghae tersenyum tipis dan mengusap lembut pipi Jane lalu memeluk wanita itu sekilas.

“Jane, ini Jung Seorim. Seorim, ini istriku Jane.” Sahut Donghae memperkenalkan mereka berdua, Jane maupun Seorim sama-sama menjabat tangan dan membungkuk sekilas satu sama lain.

“Aku harus mengeluarkan koper Seorim dari dalam mobil, aku tinggal kalian berdua.”  Ujar Donghae berjalan kembali kearah mobilnya.

Jane tersenyum dan menarik tangan Seorim masuk kedalam, “Ayo, kau perlu istirahat. Akan aku tunjukan kamarmu.” Ujar Jane berjalan menaiki tangga rumahnya diikuti Seorim dibelakangnya.

Jane lalu membuka pintu kamar –yang sebenarnya kamar utama milik dirinya dan Donghae. Tapi tidak apa-apa, Seorim lah yang harus menempatinya bersama Donghae sekarang. Kamar itu luas didominasi oleh warna putih bersih, terasa sangat meneduhkan dengan beberapa furniture mewah yang ditata rapih sesuai tempatnya. Seorim kemudian menghempaskan bokongnya diatas kasur king size yang terasa sangat empuk itu.

“Terimakasih Jane.” Sahut Seorim memberikan senyum simpulnya untuk wanita itu, Jane balas tersenyum kemudian menganggukan kepalanya.

“Istirahatlah.” Katanya untuk terakhir kali sebelum ia menutup pintu kamar itu dan berjalan kearah kamar satunya lagi.

Ya, mulai sekarang ia yang akan menempati kamar tamu ini. Kamarnya memang tidak seluas dan semewah kamar utama, tapi masih sangat nyaman untuk ditiduri. Jane kemudian menutup semua tirai jendela, berusaha untuk tetap mempertahankan senyumnya ketika secuil perasaan tidak enak menghinggapi perasaannya sekarang.

Ia hanya ingin membuat semuanya berjalan cepat dengan membiarkan suaminya tidur satu kamar bersama Seorim.

“Jane!”

Jane mengernyit sekilas mendengar suara Donghae yang memanggilnya, perempuan itu kemudian keluar dari kamar dan berjalan menghampiri suaminya.

“Wae?” Tanya Jane, Donghae menoleh dan sedetik kemudian menunjukan ekspresi tidak sukanya.

“Kenapa kau membiarkan Seorim tidur  dikamar kita, Jane?” Tanya Donghae mencoba untuk tetap sabar, Jane tersenyum sendu kemudian menyimpan kedua tangannya didada bidang suaminya.

“Aku hanya ingin membuat semuanya berjalan dengan cepat Hae, kita membutuhkan seorang bayi dan kau tahu maksudku.” Sahut Jane pelan tidak berani menatap mata Donghae. Donghae menghela napas dan mendongakan kepala Jane supaya menatapnya.

Ia tahu itu, cepat atau lambat mereka harus melakukannya.

“Tapi tidak secepat ini Jane.”

“Lebih cepat lebih baik.” Jane berusaha memberikan senyuman terbaiknya untuk suaminya.

Donghae menghela napas (lagi), menyerah dengan kekeras kepalaan Jane. Pria itu lalu menarik tubuh Jane kedekapan hangatnya, memeluk seerat mungkin sosok dihadapannya lalu mengangkat tubuh Jane ala bridal style menuju kekamar barunya, menidurkan tubuh Jane dan menyelimutinya lembut.

“Aku mencintaimu.” Bisik Donghae mencium kening Jane dalam, setelahnya dengan langkah berat pria itu mulai meninggalkan kamar tersebut.

Setelah Donghae keluar beberapa saat yang lalu pun Jane sama sekali tidak bisa menutup kedua matanya, terlalu banyak yang ia pikirkan termasuk tentang apa yang dilakukan suaminya sekarang dikamar mereka.

Jane memejamkan kedua matanya, menekan kuat-kuat indera penglihatannya itu. Ini keputusan yang dia ambil, bukankah ini adalah keinginannya? Ya, Jane hanya menginginkan seorang bayi.

***

Jane menggeliat pelan dalam tidurnya, dengan perlahan ia mulai membuka kedua kelopak matanya. Bangun dari tidurnya dan mulai bangkit berdiri, merapihkan selimut lalu membuka tirai jendela kamarnya. Ia melangkahkan kakinya kearah kamar mandi, membasuh muka dan mulai menggosok giginya.

Setelah selesai dengan semua itu, Jane memandang pantulan dirinya didepan cermin, tersenyum. Senyuman pertamanya untuk hari ini.

Wanita itu berusaha untuk tersenyum manis manakala ia mulai melangkahkan kakinya menuju kekamar Donghae dan Seorim sambil membawa dua cangkir teh hangat untuk mereka, membuka pintu kamar perlahan Jane mulai melongokan kepalanya kedalam.

Mengernyit begitu tidak mendapati suaminya didalam, hanya ada Seorim yang masih tertidur diranjang. Dengan bingung Jane berjalan menuruni tangga dan menyimpan kedua cangkir itu diatas meja. 

Matanya tidak sengaja tertuju pada seorang pria yang terlihat tengah tertidur diatas sofa dengan posisi yang tidak nyaman.

Jadi Donghae tidak tidur dikamar?

Tanpa bisa ia cegah, ia mengukir sebuah senyuman bahagia. Berjalan dengan langkah cepat menghampiri suaminya dan mencium pipinya lembut.

“Pagi sayang.” Sapa sebuah suara serak yang berasal dari suaminya, Jane mengerucutkan bibirnya dan mencubit pinggang Donghae pelan.

“Kenapa tidak bangun dari tadi?”

“Aku menunggu seorang putri memberikan morning kiss padaku.” Sahut Donghae masih belum mau membuka matanya.

“As your wish my prince.” Balas Jane terkekeh pelan.

Donghae lalu menarik tubuh Jane untuk duduk disampingnya, memeluknya lalu menyandarkan tubuhnya didada bidangnya. Jane tersenyum kemudian mempererat pelukannya dipinggang Donghae.

Hal yang paling membuat nyaman didunia ini adalah ketika dia bisa memeluk Donghae seerat ini.

***

“Apalagi yang harus kita beli Jane?” Tanya Seorim memandang sekeliling supermarket besar itu dan tatapannya terhenti kearah jajaran botol wine.

“Terserah kau.” Jawab Jane, memasukan beberapa sayuran lagi kedalam troli besi yang mereka dorong. Seorim tersenyum senang kemudian berjalan menghampiri deretan botol wine yang sedari tadi menggodanya itu lalu mengambil salah satu botol dengan cepat. Sudah lama ia tidak meminum minuman itu.

“Pemberitahuan, supermarket ini akan ditutup satu jam lagi karena akan ada badai. Diharapkan kepada semua orang yang ada disini untuk segera menyelesaikan belanjaannya. Terimakasih.”

Suara seseorang yang terdengar dari dalam speaker yang ditaruh disudut-sudut supermarket ini bergema diruangan luas itu, Jane bergeming mendengar dengan serius pemberitahuan tersebut.

Badai?

Dan tiba-tiba saja sebuah ide terlintas dipikiran perempuan itu sekarang.

“Seorim~a.” Panggil Jane, Seorim yang sedang mendorong troli menoleh dan menghampiri Jane.

“Waeyo?”

“Sebentar lagi ada badai, supermarket ini akan segera ditutup dan mungkin jalanan juga.”

“Benarkah? Kalau begitu kita harus segera bergegas.” Sahut Seorim mulai menarik lagi trolinya menuju kekasir, tapi langkahnya terhenti karena tangan Jane menahannya.

“Seorim, bisakah kau melakukan sesuatu untukku?” Tanya Jane memandang wanita itu serius.

“Tentu saja, apa itu?”

Jane mengangguk lalu tersenyum tipis, perempuan itu kemudian mulai mengatakan rencananya pada Seorim. Setelah selesai melesaikan perkataannya, Seorim memandang Jane untuk beberapa saat terlihat tidak yakin. Tapi melihat tatapan serius yang diperlihatkan Jane membuat wanita itu mau tak mau menganggukan kepalanya menyetujui.

“Aku mengerti.”

.

.

.

.

.

Ketika Seorim keluar dari supermarket sambil mendorong troli belanjaannya, Donghae telah menunggunya didepan supermarket. Pria itu kemudian membantu Seorim memasukkan belanjaannya kedalam bagasi mobilnya dengan agak tergesa.

“Kau membeli banyak makanan.” Komentar Donghae ketika melihat belanjaannya yang dia keluarkan dari troli ternyata sangat banyak.

Seorim hanya terkekeh salah tingkah, “Ne.”

“Kita harus cepat akan ada badai sebentar lagi. Mana Jane?” Tanya Donghae ketika menyadari tidak ada keberadaan istrinya disamping Seorim.

“Jane…ah..dia sudah pulang dari tadi, katanya dia ingin membeli beberapa makanan didekat rumah. Jangan khawatir, mungkin dia sudah berada dirumah sekarang.” Jawab Seorim, memberikan senyuman kecilnya untuk meyakinkan pria itu.

“Sebaiknya kita cepat Donghae~a.” Tambah gadis itu, Donghae masih terlihat tidak yakin tapi pada akhirnya pria itu menganggukan kepalanya. Menutup bagasi mobil, Donghae segera masuk kedalam kursi kemudi dengan Seorim yang berada disampingnya dan tak lama kemudian mobil audi hitam itu melaju meninggalkan supermarket besar itu.

Tak lama setelahnya sosok Jane keluar dari pintu supermarket menatap kepergian mereka dengan sebuah senyuman kecut.

***

Donghae menghela napas berat yang kesekian kalinya begitu dia berusaha untuk menghubungi ponsel Jane selalu saja tidak bisa dan malah sahutan operator yang menyuruhnya menuju kepesan suara.

Perasaan Donghae dari tadi tidak bisa tenang, masalahnya sampai sekarang Jane masih belum juga pulang. Diluar sedang hujan badai dan ia sama sekali tidak tahu keberadaan istrinya sekarang.

Dengan harapan terakhir Donghae mulai menekan kombinasi angka ditelfon rumahnya, terdengar nada sambung selama beberapa saat tapi detik berikutnya suara seorang wanita menyahut.

“Hallo?”

“Ya hallo, aku hanya ingin menanyakan, apakah ada seorang perempuan yang memakai dress biru dan cardigan putih disana? Rambutnya hitam panjang dengan mata yang kecil, apakah ada ciri-ciri perempuan yang aku sebutkan ada disana?” Tanya Donghae menjelaskan ciri fisik istrinya.

“Maaf Tuan, tapi sudah tidak ada siapa-siapa disupermarket ini. Toko kami sudah tutup dua jam yang lalu.” Jawab wanita diseberang sana membuat Donghae tidak bisa menyembunyikan ekspresi kekecewaannya.

“Maaf mengganggu, terimakasih kalau begitu.”

“Sama-sama Tuan.”

Klik.

Sambungan telfon terputus, Donghae kembali menyimpan gagang telfon itu ketempat asalnya dan melirik sebentar kearah Seorim yang tengah menikmati wine-nya dalam diam.

Suara petir sepertinya masih belum mau menghentikan aksinya, membuat suara-suara yang mampu membuat sebagian orang memilih berlindung dibalik selimut dan memejamkan matanya untuk segera terlelap dan melewati badai ini dengan segera.

“Dimana kau Jane?” Gumam Donghae gelisah, ia beberapa kali melihat keadaan diluar melalui jendela disampingnya. Cuaca benar-benar buruk  dan ditengah badai seperti ini lelaki itu sama sekali belum tahu dimana Jane sekarang.

Kring kring

Dengan cepat Donghae menyambar gagang telfon begitu telfon rumahnya berdering.

“Hae…”

“Jane kau dimana? Diluar sedang badai, beritahu dimana kau sekarang aku akan menjemputmu.” Seru Donghae cemas.

“Tidak perlu, aku berada didepan gereja sekarang. Lagi pula jalanan ditutup, tidak perlu mencemaskanku seperti itu.”

“Tapi Jane-“

“Aku baik-baik saja, aku hanya ingin kau melakukan apa yang seharusnya kau lakukan sekarang.”

“Apa maksudmu?”

“Demi bayi kita, aku mohon.”

Tut…tut…tut..

Sambungan telfon pun terputus, pria itu masih tetap bergeming ditempatnya. Mencerna semua ucapan Jane barusan. Donghae meneguk ludahnya dengan susah payah, rasanya hanya untuk meneguk ludah saja terasa sangat berat.

Dengan perlahan ia mulai berjalan menghampiri Seorim, duduk dihadapan wanita itu dalam diam.

“Wine?” Tawar Seorim mengangsurkan segelas wine kearah Donghae. Lelaki itu menatap Seorim selama beberapa saat kemudian menerima gelas berisi wine itu dan meneguknya habis.

“Kau yang merencanakan semua ini?” Tanya Donghae, dia sekarang mengerti kenapa tadi ketika ia menjemput mereka, Jane tidak ada disamping Seorim. Ternyata semua itu adalah sebuah kesengajaan.

Seorim menggeleng, “Bukan aku, tapi Jane yang merencanakan semua ini.” Jawab Seorim meneguk wine-nya yang dibeli tadi. Tangan Donghae seketika terhenti diudara ketika ia berniat untuk meneguk wine itu.

Jane merencanakan semua ini? Membuat dirinya terjebak berduaan dengan Seorim ditengah badai seperti ini?

Donghae tersenyum miris, ia kemudian menuangkan wine dari botol kedalam gelasnya sedikit lebih banyak dan meneguknya dengan cepat.

“Kau tidak suka berduaan bersamaku?”

“….” Donghae hanya diam dan masih sibuk dengan kegiatan meminum wine-nya. Pria itu kemudian menggelengkan kepalanya beberapa kali, pengaruh alkohol sudah mulai menguasai setengah kesadarannya sekarang.

Buktinya, ketika melihat Seorim yang ada dipenglihatannya hanya sosok istrinya yang tengah tersenyum kearahnya. Menggelengkan kepala beberapa kali, Donghae mulai mengenyahkan imaji terliarnya.

Tapi seberapa keras pun dia mengenyahkan pikiran itu, tetap saja Seorim terlihat menjelma menjadi Jane dimatanya. Tanpa disadari olehnya pria itu mulai melangkah mendekat kearah Seorim –Jane dipenglihatan Donghae.

Menatap wanita itu lamat-lamat dan mulai mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Seorim dan perlahan mulai mendekatkan kepalanya kearah Seorim, sedetik kemudian pria itu mulai menempelkan bibirnya pada bibir Seorim.

Ciuman yang awalnya lembut itu kini berubah menjadi ciuman yang panas dan bergairah. Donghae memegang tengkuk Seorim untuk memperdalam ciuman mereka, tangan pria itu mulai mengusap punggung wanita itu dengan lembut dan perlahan ciumannya mulai berpindah keleher wanita itu.

“Aku mencintaimu Jane.” Gumam Donghae ditengah desahan mereka.

***

CTARR~

Jane masih diam bergeming manakala suara petir menyambutnya dari luar, ia hanya duduk disalah satu kursi dideretan meja jemaat dan mengatupkan kedua tangannya dibawah dagu. Menatap patung khas agamanya dalam diam, setetes cairan bening mulai turun membasahi pipinya.

‘Tuhan…kuatkanlah aku.’

***

Ting tong

Jane menekan pintu rumahnya, beberapa saat kemudian pintu rumah mereka terbuka. Menampilkan sosok Seorim yang hanya memandangnya dalam diam, begitu pun dengan Jane. Wanita itu kemudian melebarkan pintu rumah untuk Jane, masih dalam diam dan tanpa kata Jane masuk kedalam rumahnya dan seketika ia mendapati tatapan suaminya yang memandangnya dari lekat.

Berbagai emosi terpancar dari tatapan itu, dan masih dalam keadaan diam baik Jane maupun Donghae berjalan mendekat dan saling berpelukan. Sangat erat, lebih erat dari pelukannya yang biasa mereka lakukan.

Jane berusaha mencari kehangatan dari suaminya, perasaan takut, sedih, kecewa dan lega berkecamuk dalam hatinya. Ia memejamkan kedua matanya membiarkan air mata itu meluncur dan turun membasahi pipinya.

Sementara Donghae hanya bisa mendekap tubuh Jane, ia tahu istrinya itu menangis sekarang dan lelaki itu sangat merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan.

“Aku mencintaimu.”

Dan untuk kedua kalinya Jane menangis dalam diam.

~To be Continue~

 

 

33 responses to “I Want a Baby – Part 6

  1. jdi nyesek sendiri ..
    hhuhu ,,jdinya galau .tpi ff nya ttep seru ..
    d tunggu yah chap slnjutnya .. 🙂

  2. Akhirnya ada lanjutannya… tp nyesek ;~;
    Kl emg Jane kyk gt kenapa ga ngebatalin niatnya aja ;~;
    next part ditunggu ya~

  3. Pingback: I Want a Baby – Part 8 | FFindo·

  4. Pingback: I Want a Baby – Part 9 [End] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s