Because You’re the Prettiest [Part 9 – END]

Because You're the Prettiest (Ending)

Title : Because You’re the Prettiest

Author : Lathifah Sinarwulan a.k.a Summer Cho (@chosm96)

Main Casts : Jung Eunji A-Pink, Min Jinhong Apeace, Lee Sunghwan a.k.a Sandeul B1A4, Yoo Dongho Apeace, Kim Namjoo A-Pink

Other Casts : Kim Jinwoo Apeace, Jung Younguk Apeace, and others Apeace’s members

Genre : school live, friendship, little bit romantic, little bit comedy, AU

Rating : PG13~

Length : Series

Disclaimer : all casts except Jung Younguk isn’t mine, but the plot and Younguk is mine, kkk~ 😀

Previous : TEASER|PART 1|PART 2|PART 3|SPECIAL EDITION|PART 4|PART 5|PART 6|PART 7|PART 8|

AKHIRNYA KITA BERTEMU ENDING JUGA SODARAH-SODARAH XD

INSYALLAH HABIS INI LANJUTIN ANONYMOUS, TAPI  INSYALLAH YAAA WKWK

“Bagaimana kalau kau satu-satunya murid perempuan dikelas yang berisi 21 orang laki-laki?”

# # # # #

Sandeul’s Point of View

Aku tersentak ketika Namjoo langsung maju dan merangkul lengan Jinhong. “Tentu saja kabar hubungan kami baik, Ahjumma!”

“Tapi–“

“Wah, kalian cocok sekali! Dan siapa yeoja ini?” Kini Eomma melirik ke arah Eunji yang terlihat syok. Ia buru-buru memperbaiki mimik wajahnya dan tersenyum pada Eomma.

“Annyeong haseyo, Ahjumma. Naneun Jung Eunji imnida, teman sekelas Jinhong.” Aku makin terkejut ketika Eunji berkata ‘teman sekelas’. Sebenarnya ada apa ini?

“Ow, apa kau kesini atas ajakan Sandeul?”

“Mereka terlihat cocok ya, Ahjumma? Aku berharap mereka bisa segera menyusul kami.” Seru Namjoo bersemangat. Aku mengepalkan tanganku kesal.

“Tapi Eomma–“

“Ayo masuk! Eomma sudah menyiapkan makan siang. Ayo, Namjoo-ya, Eunji-ssi.” Terpaksa kami bungkam dan berjalan masuk ke dalam rumah. Hanya Namjoo yang berwajah ceria ketika kami masuk. Jinhong menunjukkan wajah datarnya, Eunji berusaha untuk tetap tersenyum, dan aku diam memperhatikan mereka.

Aku sempat melirik Jinhong yang sedang memperhatikan Eunji. Wajah gadis itu benar-benar kusut, seperti menahan tangis. Ia berdehem lalu meletakkan sumpitnya. “Eomma…”

# # # # #

Jinhong’s Point of View

“Eomma…” mereka semua pun menoleh ke arahku. Aku harus meluruskan hal ini. “Sebenarnya, yang Sandeul maksud kekasih–“

“Whoaa, sup kimchinya enak sekali, Ahjumma!” aku tersentak ketika Namjoo memotong pembicaraanku. Parahnya Eomma terlihat tidak menyadarinya dan langsung menoleh ke arah Namjoo. Bisa kudengar helaan nafas Sandeul yang duduk dihadapanku.

“Jinjja? Tambah lagi kalau kau mau, sayang.” Seru Eomma lembut. Aku mengepalkan tanganku menahan emosi. Kalau saja Namjoo pria, sudah kuhajar ditempat. Gadis ini, benar-benar…

“Tadi apa yang mau kau katakan, Jinhongie?”

Semangatku mendadak bangkit. “Jadi begini Eomma, sebenarnya semua ini–“

“Ahjumma, maaf sekali tapi saya tidak bisa lama-lama disini. Tidak apa-apa kan?” aku lebih kaget lagi karena yang memotong perkataanku sekarang adalah Eunji.

“Yah, kenapa cepat sekali? Bahkan Ahjumma belum sempat mengobrol denganmu.”

“Aku punya Oppa yang harus kuberi makan, hehe. Oh iya, sup kimchinya enak sekali, Ahjumma. Lain kali aku boleh belajar kan? Kalau begitu aku pamit dulu.” Eunji meletakkan serbetnya lalu bangkit. Namun Eomma menahannya.

“Ahjumma bungkuskan sup kimchi untuk Oppamu ya, sebentar.” Lalu Eomma pergi ke dapur untuk membungkuskan sup kimchi. Eunji duduk kembali. Aku dan Sandeul langsung menoleh pada Namjoo yang nampak tenang-tenang saja.

“Apa maksudmu membohongi Eomma?”

“Lho, bukannya Eommamu sendiri yang memulai? Itu tandanya Eommamu ingin kau bersamaku, Jinhong-a.”

“Apa kau tidak sadar bahwa yang kau sakiti itu adalah sahabatmu sendiri?” tanyaku lirih namun menusuk. Gadis itu terdiam sejenak lalu kembali menyantap sup kimchinya.

“Kan pernah aku bilang, Eunji bersedia membantuku untuk menjadi kekasihmu. Jadi, kau akan mengalah untukku kan, Eunji-ya?” Eunji baru saja akan menjawab ketika Eomma melangkah masuk ke ruang makan.

“Ini, sayang.” Eunji langsung bangkit menerima tas bekal dari Eomma.

“Maaf sudah merepotkan Ahjumma. Saya pamit dulu.” Ia membungkuk lalu bergegas pergi dari ruang makan. Akupun berinisiatif untuk menyusulnya.

“Eunji-ya…” aku menarik lengannya. Aku tau ia menghindariku. Buktinya ia berlari. “Aku tidak tau kalau semuanya akan jadi begini…”

Tiba-tiba Eunji menepis tanganku sambil berbalik. Matanya berkaca-kaca menahan tangis. “Jadi begini, huh? Kau mengajakku karena ingin menjodohkanku dengan Sandeul, ingin memperlihatkan padaku kalau Eommamu lebih senang kau bersama Namjoo? Begitu?”

“Bukan begitu, maksudku –“

“Cukup. Aku tidak mau mendengar apapun dari pembohong sepertimu.”

Aku diam mematung menatap kepergian Eunji. Gadis itu, sudah tidak memercayaiku lagi…

“Jinhong-a…”

“Ini semua gara-gara kau mengajak Namjoo!” bentakku pada Sandeul yang ada dibelakangku. Aku mengepalkan tangan kesal lalu menonjokkannya ke pipi Sandeul. “Coba kau tidak mengajaknya, tidak akan seperti ini!”

Aku menatap garang ke arah Sandeul yang tergeletak ditanah. Aku bahkan belum memaafkannya, tapi dia sudah membuat kesalahan lagi.

“Maafkan aku, aku yang salah. Mianhae.” Serunya sambil menunduk dihadapanku. Ia menyerka darah disudut bibirnya lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Akupun memutuskan untuk pergi dari rumah ini kembali ke apartemenku. Terserah apa kata Eomma. Aku tidak peduli lagi.

# # # # #

Namjoo’s Point of View

“Aneh. Nomernya tidak aktif.” Aku memasukkan ponselku kembali ke saku. Min Ahjumma menatapku bingung.

“Apa mungkin dia mengantar temannya yang bernama Eunji itu? Tapi kenapa tidak Sandeul saja yang mengantar?”

“Ah, Sandeul dimana, Ahjumma?” tanyaku.

“Dia tadi naik ke atas sambil menutupi mulutnya. Dia bilang sedang tidak enak badan.” Jawab Min Ahjumma dengan nada cemas.

“Aku akan menyusul Sandeul, Ahjumma.” Aku bangkit dari dudukku lalu berjalan ke lantai dua, menuju kamar Sandeul. Aku memutuskan untuk membuka pintunya langsung. Aku tersentak melihat Sandeul sedang mengelap sudut bibirnya yang merah. Apa itu berdarah?

“Ya, apa yang terjadi?” tanyaku sambil berjalan masuk. Aku langsung menahan tangannya yang hendak menutupi sudut bibirnya. “Kau berkelahi?” tanyaku cemas. Diluar dugaan ia malah menepis tanganku.

“Mau apa kau kesini? Sana susul Jinhongmu.” Serunya ketus lalu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Karena pintunya tidak ditutup aku memutuskan untuk menyusulnya.

“Kau dipukul oleh Jinhong? Kenapa?” tanyaku ketika ia sedang membasuh wajahnya. Ia hanya melirikku sekilas lalu mengambil handuk. “Ya! Jawab aku!”

“Kau yang kenapa?!” bentaknya membuatku bungkam. “Apa maksudnya mengakui dirimu kekasih Jinhong didepan Eomma?!”

“Lho? Bukan salahku dong? Min Ahjumma sendiri yang bilang kalau aku kekasihnya Jinhong. Karena perasaanku pada Jinhong masih belum berkurang, makanya ini kesempatanku untuk mendapatkannya, kan?” balasku. Aku tidak salah kan?

“Apa kau tidak pernah memikirkan perasaan Eunji?! Dia itu sahabatmu, Namjoo-ya! Apa kau juga tidak memikirkan perasaanku? Sakit disini waktu kau memeluk Jinhong!” Sandeul menunjuk dadanya. Aku hanya gigit bibir. “Sangking sakitnya aku jadi tidak ingin melihatmu lagi, pergi!” ia mendorongku kasar.

“Aaaah…” aku tersungkur ke lantai. Airmataku mengalir perlahan. Sandeul tidak pernah sekasar ini padaku. Aku bangkit lalu berjalan keluar kamarnya. Ia langsung menutup pintu dan menguncinya. Aku berusaha menahan airmataku.

# # # # #

Author’s Point of View

Ketika bel istirahat berbunyi, Eunji langsung berlari menghampiri Dongho dan mengajaknya ke kantin. “Dongho-ya, ke kantin bersamaku ya?” pintanya sembari merangkul lengan Dongho. Pria itu tersentak lalu melirik ke arah Jinhong yang menatap mereka tanpa minat.

“Bagaimana dengan Jinhong?”

“Aish! Kau lama sekali! Kajja!” Eunji menarik paksa Dongho keluar kelas. Seisi kelas menyadari keanehan dari Eunji dan Jinhong hari ini. Begitu Eunji dan Dongho pergi, seisi kelas langsung melirik ke arah Jinhong.

“Mwo?” seru Jinhong yang merasa dirinya diperhatikan oleh yang lain.

“Kalian bertengkar?” tanya Jinwoo.

“Anni. Putus.” Jinhong bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar kelas. Sialnya, dikoridor ia berpapasan dengan Namjoo.

“Jinhong-a! Kamu kemana kemarin? Ahjumma cemas padamu karena tidak pulang.” Namjoo berdiri tepat didepan Jinhong dengan wajah cemas. Jinhong berusaha menahan dirinya agar tidak menghajar gadis dihadapannya ini.

Jinhong melanjutkan langkahnya tanpa memedulikan Namjoo yang terus memanggilnya. Ia benar-benar tidak ingin melihat wajah gadis itu lagi.

Tepat ketika Jinhong pergi, Sandeul berjalan keluar kelas dan berpapasan dengan Namjoo. Namjoo menatapnya takut-takut, sedangkan ia nampak tidak peduli dan berjalan ke arah yang sama dengan Jinhong tadi. Tapi, dia berjalan menuju kantin, tidak seperti Jinhong yang berjalan menuju lapangan basket.

Jinhong melempar bola ke ring dengan asal berkali-kali. Sebenarnya dia sedang tidak ingin main, dia hanya ingin melampiaskan kekesalannya. Emosinya mulai naik dan ia terus melempar bola ke ring dengan sekuat tenaga. Alhasil, bola membentur ring dengan keras dan menciptakan bunyi, lalu bola langsung memantul ke dinding atau bahkan ke arah Jinhong. Namun dengan sigap ia menangkapnya.

Lemparan terakhir benar-benar kuat, baru saja ia berjalan ke samping hendak duduk, bola itu langsung menghantam kepalanya membuatnya terjatuh dan terseret. Bukannya bangun ia malah meringkuk menahan tangis.

Hatinya benar-benar sakit tanpa Eunji. Dan ia bingung ia harus bagaimana lagi agar Eunji memaafkannya.

“Ya! Jinhong-a!” seseorang menghampirinya dan memegang kepalanya. “Aigoo, pelipismu robek. Ayo cepat ke ruang kesehatan!” Jinhong melirik seseorang yang berusaha mengangkatnya, Sandeul.

“Ya! Apa yang terjadi?” Jinhong hafal suara ini, ini suara Jinwoo. Ia langsung membantu Sandeul membopong Jinhong ke ruang kesehatan.

“Menghantam dirimu sendiri dengan bola? Dasar konyol!” Jinwoo memukul lenganku dengan majalah ditangannya. Sandeul sedang sibuk menempelkan plester diatas perban dan menempelkannya ke lukaku.

“Sudah aku tidak apa-apa.”

“Kau ini. Kenapa melempar bola sekeras itu? Kalau bolanya robek kau mau ganti?” tanya Sandeul sembari membereskan perban plester dan obat merah yang dipakainya tadi. Jinhong hanya terdiam.

“Sandeul-a, apa kau tau masalah diantara dia dan Eunji?” Sandeul dan Jinhong sama-sama tertegun. Namun, Jinhong berusaha untuk tidak terlihat kaget dengan memejamkan matanya berpura-pura mengantuk.

Sandeul melirik Jinhong yang mulai terlelap. “Semua ini salahku.”

# # # # #

“Jung Eunji.” Eunji mendapati Jinwoo sedang berdiri disamping bangkunya.

“Waeyo?”

“Jinhong ada diruang kesehatan, kau tidak cemas?” tanyanya dingin. Eunji melirik bangku disebelahnya yang memang kosong lalu kembali menatap Jinwoo.

“Tentu saja aku cemas. Tapi aku tidak mau mengganggunya beristirahat.” Jawab Eunji simpel membuat Jinwoo melotot. Eunji kembali melanjutkan mengerjakan soal-soal kimia yang tadi ditugaskan.

Jinwoo memutuskan untuk duduk kembali ke bangkunya. Dongho yang penasaran langsung menghampirinya. “Apa yang terjadi dengan Jinhong?”

“Dia hampir saja membunuh dirinya sendiri dengan memantulkan bola basket ke kepalanya, untung hanya luka ringan. Sepertinya ia sangat frustasi.” Jawab Jinwoo dengan suara yang agak dikeraskan agar seisi kelas mendengarnya, termasuk Eunji.

“Hey, kau tinggalkan Jinhong sendirian diruang kesehatan?” tanya Yonguk. Jinwoo mengangguk pelan. “Bagaimana kalau nanti ia malah melempar botol obat ke kepalanya?” seru Yonguk panik.

Eunji mulai resah. Dia dari tadi memang cemas pada Jinhong. Seharian hanya diam. Sering menghilang, dan sekarang dia sendirian di ruang kesehatan. Dia ingin sekali kesana.

Ia memutuskan untuk bangkit dan berjalan ke pintu kelas. “Mau kemana kau?” tanya Dongho yang memperhatikannya.

“Ke toilet.” Buru-buru Eunji keluar kelas dan berjalan menuju ruang kesehatan. Ia hanya mengintip sebentar, setelah itu ia akan kembali ke kelas. Itu saja.

Ia kini diam mematung didepan pintu ruang kesehatan. Masuk tidak masuk tidak masuk tidak. Hanya itu yang ada dipikirannya saat ini. Ia maju dan membuka pintu perlahan, berusaha untuk tidak menciptakan bunyi sekecil apapun.

Ia mengintip melalui celah pintu yang sudah dibuatnya. Terlihat ruang kesehatan yang sepi dan hanya satu ranjang yang tirainya ditutup. Duh, mana bisa dia lega hanya melihat tirai seperti itu?

Iapun memutuskan untuk berjalan masuk. Ia melangkahkan kakinya perlahan, mengendap-endap. Ketika ia memegang tirai, hendak membukanya sedikit, sebuah tangan menepuk bahunya membuatnya terlompat dan berbalik.

“Mengkhawatirkan Jinhong?” Sandeul tersenyum penuh arti. Eunji langsung menempelkan telunjuk dibibirnya menyuruh Sandeul diam. Lalu ia menggeleng kuat. Didorongnya Sandeul keluar ruang kesehatan.

“Aku tidak mengkhawatirkannya tau! Tadi aku mengambil kapas, dan aku penasaran siapa yang ada didalam tirai itu!” elaknya lalu berjalan pergi.

“Tenang saja, Jinhong baik-baik saja, Eunji-ya!” seru Sandeul membuat Eunji makin panas. Iapun berlari ke toilet, membuat Sandeul terbahak.

Ia masuk ke ruang kesehatan langsung disambut Jinhong yang terbangun karena suara Sandeul tadi. “Eunji kemari?” tanyanya.

“Ne. Sepertinya ia mengkhawatirkanmu.” Mau tidak mau Jinhong tidak bisa menyembunyikan senyumnya.

# # # # #

Eunji’s Point of View

Ketika aku tengah membereskan peralatan tulisku, tiba-tiba sebuah tas berwarna hitam mendarat di atas mejaku. Aku mendongak dan mendapati Dongho yang tersenyum padaku. “Bisa kau bawakan ini untuk Jinhong? Aku ada keperluan mendadak, mian ne!”

Tanpa memberiku kesempatan berbicara, ia langsung berlari menghampiri Yonguk dan pergi meninggalkan kelas. Aku mengangkat tas tersebut sembari menghela nafas. Apa yang harus aku bicarakan ketika bertemu dengannya nanti?

Aku membuka pintu ruang kesehatan perlahan. Sunyi. Apa dia sedang diluar? Atau dia tidur? Perlahan namun pasti aku melangkahkan kakiku ke dalam ruangan. Hmm, suasana sepi seperti ini malah membuatku merinding. Nanti kalau tiba-tiba ada sesuatu muncul bagaimana? Hiiy!

“Mencariku?” aku terlompat mendengar suara itu. Aku langsung berbalik dan memukul sesuatu didepanku(?) dengan tas Jinhong sambil memejamkan mata. Aku takut untuk membuka mata. “Ya, yak! Ini aku, Ya! Eunji-yaa!” aku menghentikan aktivitasku lalu membuka mata. Huft, syukurlah ini Jinhong.

“Ah, mian. Igeo.” Aku langsung mendorong tasnya lalu beranjak pergi dari ruang kesehatan. Aku benar-benar malu. Tidaak.

“Jamkkanman.” Langkahku terhenti karena ia menggenggam pergelangan tanganku. “Kenapa menghindariku?”

“Siapa yang menghindarimu? U–untuk apa?” tanyaku tanpa berbalik. Terdengar helaan nafasnya.

“Kalau kau tidak menghindar, buktinya sekarang kau tidak mau menatapku.” Aku menghela nafas lalu berbalik dan menatapnya. Aku meringis melihat perban dipelipisnya.

“Mianhae, banyak sekali urusan yang harus aku selesaikan. Kita bicara lain kali ya, annyeong!” aku berbalik dan hendak melangkah lagi, namun kakiku tidak jadi terangkat ketika Jinhong melingkarkan lengannya ke leherku. Ia memelukku dari belakang.

Tubuhku tidak bisa menolak. Jauh didalam hatiku, aku merindukan aroma tubuhnya, aku merindukan suaranya, merindukan dirinya. Dan, aku benar-benar senang ia memelukku saat ini.

# # # # #

Setelah itu aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Aku tidak melawan ketika Jinhong menarikku dan mendorongku masuk ke mobilnya. Setelah itu ia mengemudikan mobilnya pergi entah kemana. Hingga kami sampai pada sebuah padang rumput yang sangat indah dan luas.

Ia membuka pintu lalu keluar dan duduk di kap mobil. Aku diam didalam, takut untuk keluar.

Tiba-tiba ia mengetuk kaca mobilnya menyuruhku keluar. Akupun keluar dan duduk disebelahnya. “Soal kejadian waktu itu, aku benar-benar minta maaf.”

“Untuk apa minta maaf, kau kan ti–“

“Aku salah. Eomma tau aku hanya dekat dengan Namjoo, teman yeojaku hanya Namjoo, dan iapun menyangka kekasih yang dimaksud oleh Sandeul adalah Namjoo. Salah Sandeul juga, dia malah membawa Namjoo ikut ke rumah. Begini jadinya.”

Pandanganku kosong. Ternyata seperti itu. Ternyata aku dan Min Ahjumma salah paham? Ternyata…

“Aku akan membawamu sekarang ke rumah dan menunjukkan kau lah yeojachinguku yang sebenarnya.” Ujarnya mantap. Ia meraih tangan kananku lalu menggenggamnya. “Bisakah kau percaya padaku?”

Setelah itu, aku benar-benar diluar kendali. Kubiarkan saja sesuatu yang lembut menyapu bibirku. Akupun memejamkan mata. Ia menarikku semakin dekat. Sungguh, ini mendebarkan dan membahagiakan.

# # # # #

Sandeul’s Point of View

Kudengar suara ribut Eomma dipintu depan, aku yang penasaran pun langsung menyusul. Ada Jinhong, dan Eunji?

“Jinhong-a, kemana saja kamu, sayang? Dan mana Namjoo?” Eomma memeluk Jinhong erat. Eunji agak tersentak ketika Eomma menyebut nama Namjoo.

“Eomma, ada yang harus kujelaskan.” Ujar Jinhong mantap. Iapun menggandeng Eunji masuk dan duduk disofa ruang tamu. Eomma dan akupun ikut duduk.

“Sebenarnya apa yang terjadi?”

“Eomma, semua ini salah paham. Kekasihku bukan Namjoo, tapi Eunji.”

“Mwo?! Jangan bercanda, Jinhong-a. Namjoo sendiri mengakui kau kekasihnya.” Ujar Eomma tidak percaya. Akupun gemas melihatnya.

“Itu benar Eomma. Sebenarnya, itu hanya akal-akalan Namjoo saja. Ia begitu cinta pada Jinhong jadi ia memanfaatkan kesempatan itu, sebenarnya kekasih Jinhong yang kumaksud adalah Eunji, bukan Namjoo.”

Wajah Eomma berubah serius. Pasti dia sangat kecewa. “Berani sekali kalian mempermainkan Eomma, siapa yang sebenarnya salah disini!”

“Ahjumma…Jinhong ingin menjelaskan tapi Namjoo memotongnya.” Kini gantian Eunji yang bicara. Eomma langsung menatapnya tajam.

“Kau juga memotong pembicaraannya! Dasar, tidak tahu diri. Kalian semua pergi!” Eomma bangkit lalu mengusir Jinhong dan Eunji keluar rumah. Akupun berusaha menahannya.

“Eomma, Eunji melakukan itu karena ia kecewa pada Jinhong. Dia juga salah paham awalnya, dia kira Jinhong memang ingin mempermainkannya!” seruku berusaha menenangkan Eomma. Eomma pun mengatur nafasnya yang memburu. Eunji sudah bersembunyi dibalik tubuh Jinhong.

“Jeosonghamnida, Ahjumma…” ucapnya lirih. Eomma menghela nafas lalu bahunya melemas.

“Baiklah. Aku akan maafkan kalian…” wajahku, Jinhong, dan Eunji langsung sumringah.

# # # # #

Namjoo’s Point of View

Hari ini aku datang pagi. Tadi aku menyiapkan bekal khusus untuk Jinhong. Hehe, siapa tau dia akan menerimanya.

Koridor masih sepi ketika aku melewatinya. Tapi, biasanya jam segini Sandeul sudah datang. Ugh, aku jadi ingat tatapan dinginnya. Apa dia akan memusuhiku selamanya?

“Ya! Aku jadi seperti obat nyamuk!”

“Hahaha, salah sendiri kau menawarkanku ke sekolah bersama!”

Aku berbalik mendengar dua suara yang sangat kukenal itu. Mataku terbelalak ketika mereka–Jinhong dan Sandeul–tidak hanya berdua, ada Eunji diantara mereka. Langkah mereka langsung terhenti ketika melihatku.

“Pagi semuanya!” sapaku berusaha terlihat ceria. Mereka hanya memandangku tanpa ekspresi.

“Masih bisa tersenyum seperti itu, huh?” ujar Sandeul sinis. Jinhong langsung menarik tangan Eunji pergi ke kelas mereka. Kini, tinggal aku dan Sandeul.

“Apa mereka sudah berbaikan?”

“Ne. Dan kau TIDAK AKAN PERNAH dapat kesempatan lagi karena Ahjumma sudah mengetahui akal-akalanmu.”

Sandeul berjalan masuk ke kelas meninggalkanku yang diam mematung. Rasanya benar-benar hampa. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku sudah tidak punya teman disini. Aku sudah tidak punya orang yang mempercayaiku.

# # # # #

Dengan gontai aku berjalan membawa kotak bekalku ke taman belakang. Tadinya aku ingin bersama Sandeul dan meminta maaf, tapi dia langsung mengajak teman-temannya ke kantin tanpa memedulikanku.

Aku duduk disalah satu bangku yang kosong. Rumput-rumput yang tertiup angin membentur-bentur kakiku. Kuputuskan untuk segera menghabiskan bekalku dan kembali ke kelas.

“Hmm, enak sekali.”

“Jinjja?”

Refleks aku mendongak mendengar suara itu. Benar saja, Jinhong dan Eunji sedang duduk bersandar pada sebuah pohon sambil memakan bekal. Lihatlah mereka, mesra sekali. Aku menunduk, airmataku ingin keluar. Haish, ini semua adalah akibat yang kudapatkan karena ulahku sendiri, kan?

Aku menutup kotak bekalku dan berlari ke kelas tanpa memedulikan murid-murid yang menatap heran ke arahku.

# # # # #

Author’s Point of View

Eunji menutup kotak bekalnya dan meletakkannya disamping. Setelah itu ia menyandarkan kepalanya ke bahu Jinhong yang sedang menikmati angin yang berhembus.

“Akhirnya masalah-masalah ini berakhir…” ujar Jinhong lirih. Eunji meliriknya.

“Apa kau yakin ini sudah berakhir?”

Jinhong menatap gadisnya itu lalu tersenyum. “Asalkan aku sudah bisa bersamamu, itu kuanggap berakhir…” sedetik kemudian bibirnya menyentuh bibir mungil Eunji dengan lembut.

Tanpa mereka sadari, semua teman sekelas mereka memperhatikan dari jauh. Youngwon pun merekam adegan itu diponselnya.

“Ya…lihatlah mereka, mesra sekali…”

“Nanti kita sebarkan ke seluruh sekolah, hahaha!”

“Atau dimasukkan ke video perpisahan?”

“Ide bagus! Ayo rekam lagi…”

“Yaaa, apa yang dilakukan Jinhong. Aigoo, ini sekolah!”

“Apa kita harus melabrak mereka?”

“Jangan! Tidak baik mengganggu pasangan.”

“Tapi Jinhong bisa bertindak lebih jauh…”

“Ya ya ya! Jinhong, stop disi–hmmpph!”

“Ya, Yoo Dongho! Kenapa kau berteriak?”

“Sudah ayo ke kelas!”

# THE END #

Selesai? Iyah, wkwkwk XD

Yaampun endingnya gaje u,u mau dibuat epilog apa segini aja? :3

Makasih buat semua yang dukung hingga akhirnya ff ini selesai :’)

Tolong komennya dengan sangat ><

Kamsahamnidaaa ^o^ *bow

22 responses to “Because You’re the Prettiest [Part 9 – END]

  1. Pingback: Because You’re the Prettiest [EPILOG] | FFindo·

  2. DAEBAK!!! ><
    dan akhirnya saya mengerti tentang A-peace xD setelah sekian lama terbingung2 dgn 21 member -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s