My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip 13

 

>>> Previous <<<

“Tidak ada yang tahu… bagaimana aku merasa kehilangan petunjuk untuk menentukan arah yang akan kuambil. Melakukan semuanya dengan tidak sepenuh hati, merasa diriku yang sesungguhnya telah menghilang.”

“Waktu itu… oppa melepasku dan menyuruhku kembali ke tempat Onew. Karena itu, oppa. Aku hanya membiarkan siapapun menarikku keluar, tapi ternyata itu salah juga di mata orang lain.”

“Kupikir aku tidak akan pernah merasa sekecewa ini karenamu.”

“Maafkan aku, Jibyung.”

“Berhentilah mengatakan maaf, tidak akan mengubah apapun.”

“Tolong jangan seperti ini, Jibyung-ah..”

“Lalu apa yang sebenarnya kau inginkan, hah?! Bukankah kalian melakukan ini di belakangku agar aku mundur? Kalau kau juga mencegahku melakukan itu, lalu untuk apa selama ini kalian berlelah-lelah membodohiku?!”

“Siapa yang BERKALI-KALI mengabaikan pekerjaan demi masalah pribadinya?! Siapa yang akhir-akhir ini sering membuat KITA SEMUA terlambat karena menunggunya yang lebih mengurusi MASALAH PRIBADINYA?! Siapa sebenarnya yang tidak professional?! SIAPA?!”

“Kurasa sebaiknya… kita bercerai saja.”

“Baik!”

“Baiklah jika itu maumu. Kita akan segera berakhir.”

>>><<<

CLIP 13

>>><<<

… SM Ent. Building, 6.23 p.m…

… hyung. Astaga, bangun.”

Hyung, … pa? Jinki...

Onew bisa merasakan setiap tepukan pelan di lengannya, bisa mendengarkan suara-suara yang berada di dekatnya walaupun terputus-putus. Seharusnya dia juga bisa setidaknya menggumamkan sesuatu untuk merespon ucapan mereka. Tapi bahkan untuk membuka mata saja rasanya berat. Sekujur tubuhnya terasa sangat lemas. Onew merasa tubuhnya melayang di tempat tak berdasar.

“Jinki-ya, bisa mendengarku? … berdiri? Ya!

Sebuah sentuhan tangan yang dingin terasa di dahinya, “Panas sekali.” Ujarnya. Sukjin hyung. Dan entah apa lagi yang terjadi, karena setelah itu Onew hanya melihat gelap, dan semuanya sunyi.

*

“Sepertinya tidak mungkin dia bisa ikut. Demamnya tinggi sekali.” Sukjin berkata sambil memandangi Onew yang tengah terbaring di atas ranjang yang ada di salah satu ruangan di gedung perusahaan Entertainment itu. Ia beserta member SHINee yang lain tengah menunggu kedatangan dokter yang akan memeriksa Onew di sana.

Minho memeriksa jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Tinggal dua puluh menit lagi hingga waktu mereka berangkat ke Singapore. Dipandanginya juga hyungnya dengan kedua alis yang hampir bertaut. Ada apa lagi sekarang, hyung? pikirnya.

“Sebenarnya dia kenapa? Dia akan seperti ini kalau banyak yang dipikirkannya. Kalian tahu kenapa? Dia punya masalah?” tanya Sukjin beruntun sembari menggedikkan kepalanya ke arah Onew.

Taemin dan Jonghyun saling bertukar pandangan, satu sama lain bingung akan seperti apa menjawab pertanyaan manager mereka itu. Minho memandangi lantai sambil mengusap pelan tengkuknya, sementara Key menyibukkan diri dengan ponsel di tangannya.

“Ada masalah pribadi?” Sukjin menyimpulkan setelah melihat tidak ada respon apapun dari artisnya. Pria itu kemudian mendecakkan lidah sekali dan mulai beranjak dari ruangan tersebut, “Sebaiknya kita berangkat saja.” Lalu seolah teringat sesuatu ia menghentikan langkahnya sejenak dan berbalik, “Ah, aku akan bicarakan ini dulu. Kalian duluan saja.” katanya dengan raut wajah yang tak bisa ditebak. Inilah saat merepotkan yang dialami seorang manager artis. Gangguan mendadak saat waktu pelaksanaan schedule sudah di hadapan, seringkali membuatnya kalangkabut mengurus ulang tetek bengek yang harus diurus hingga selesai tepat pada waktunya.

Tapi itu bukan berarti Sukjin menyalahkan Onew karena merepotkannya. Ia mengerti, setiap orang memiliki kehidupannya sendiri, begitupun Onew. Mungkin masalah yang dialami pemuda itu kali ini memang berat. Jadi, ya, Sukjin bisa mengerti. Lagipula memang ini gunanya sebagai seorang manager.

>>><<<

… A few days later…

Minhyun merasa menyusut, udara di sekitarnya menekannya dengan begitu kuat sehingga telinganya terasa tuli selama beberapa saat.

Mianhae, Eomma.

“…”

“Eomma, jangan marah, hm? Eomma akan tetap punya menantu yang tampan. Onew akan menikahi Jikyung, kok.

“… ehem, jangan tanya kenapa.

“… eomma harus mendukungnya.”

“Jibyung-ah..” sebagai seorang ibu, Minhyun tahu. Ia bisa mendengar getaran halus dalam suara Jibyung walaupun hanya dari telepon, walaupun nada suara puterinya itu terdengar baik-baik saja, “Shin Jibyung, dimana kau sekarang?”

“Ah, aku sedang kerja. Ah, matta! Eomma, aku sedang kerja, jadi sudah dulu, ya! Oh! Jangan marahi Jikyung atau apapun itu. Aku bisa marah pada eomma juga. Ne, Eomma?”

Minhyun mendengus pelan mendengar nada bicara Jibyung yang terkesan menasihati, namun tak urung bibirnya melepaskan satu senyuman haru, merasakan begitu banyak rasa saling peduli di antara kedua puterinya.

Ia rasa dirinya sudah bisa mengira apa yang sudah terjadi tanpa harus bertanya, walaupun sempat tak menyangka, tentu saja. Dan ia pun tahu dirinya tak bisa berbuat apa-apa.

PIP!

Nada tanda sambungan telepon terputus mengakhiri percakapan singkat mereka, sekaligus mengawali saat pikiran Minhyun yang berkelana ke masa beberapa tahun yang lalu. Dirinya tahu betul bagaimana waktu-waktu yang dilewati Onew dan Jibyung tampak begitu membahagiakan bagi mereka berdua. Seolah baru saja terjadi kemarin. Tak pernah ada pikiran akan terjadi hal seperti ini. Namun ternyata, takdir seolah berbelok.

Minhyun menyeka pipinya yang basah, menyingkirkan semua yang bermunculan di benaknya dan mencoba menerima kenyataan, “Baiklah, ‘orang dewasa’ itu tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri.” gumamnya sambil memandangi pakaian mungil untuk bayi, yang sudah setengah jadi di atas mesin jahit, “Seharusnya sejak awal kau bilang kalau kau tidak hamil. Ck, dasar.”

>>><<<

… GYM, 2.14 pm …

[“To : Jikyung

Jikyung-ah, kenapa kau tidak bisa dihubungi?

Aku ingin minta maaf untuk yang hari itu. Bisakah hubungi aku setelah kau membaca pesan ini?”]

Itu isi pesan singkat yang dikirimkan Junsu pada Jikyung, kemarin siang. Beberapa hari sebelumnya yeoja itu memang tak bisa dihubungi. Nomornya selalu tidak aktif ataupun sibuk saat Junsu mencoba menelepon. Itu membuat Junsu khawatir dan selalu teringat pada peristiwa di cafe beberapa waktu lalu.

Tentang dirinya yang ‘melabrak’ mereka, padahal sebelumnya dirinya sendiri yang melepaskan Jikyung—Junsu sudah memikirkan ini berkali-kali di sela-sela kegiatannya bersama 2PM—Junsu menyadari itu bukan murni karena kekeliruannya sendiri, tapi juga karena saat itu dirinya sedang terbakar cemburu sehingga melupakan semuanya.

Junsu tahu hal ini karena di hari-hari berikutnya, dirinya selalu menyadari rahangnya mengeras atau tangannya mengepal, serta sebuah penyesalan menyusup ke relung hatinya, setiap mengingat bagaimana tangan Jikyung berada dalam tangkupan tangan Onew.

Pluk!

Kim Junsu menyingkirkan handuk kecil yang baru saja mendarat di wajahnya, sehingga langsung bisa melihat Ok Taecyeon yang berdiri di samping alat sit up tempatnya berbaring saat ini.

“Alat itu bukan untuk tidur ataupun melamun.” kekeh Taecyeon ketika mendengar dengusan protes Junsu.

Junsu mengangkat tubuh bagian atasnya dan menurunkan kedua kakinya dari pengait kaki pada salah satu alat fitness itu, lalu duduk menyamping seraya mengusapkan handuk putih tadi ke wajah dan sekitar lehernya yang dipenuhi keringat. Taecyeon ikut duduk di samping Junsu dan menenggak air mineralnya sejenak.

“Memikirkan ‘itu’ lagi?” tanya Taecyeon setelah beberapa saat. Ada penekanan suara saat dia mengatakan ‘itu’. ‘Itu’ yang dia maksud adalah peristiwa antara Junsu dan Onew yang disaksikannya sendiri tempo hari. Taecyeon hanya tahu sebatas itu saja.

“Baru sekali dalam sehari ini.” jawab Junsu seadanya, lalu tertawa kecil dengan ucapannya sendiri.

“Dan kau bangga karena itu? Eiyy, jinjja.” kali ini giliran Taecyeon yang mendengus. Dia membiarkan Junsu mengambil botol air mineralnya yang masih berisi setengah, lalu meneguknya sampai habis. Beberapa tetes mengalir di dagunya.

“Tentu saja.” gumam Junsu kemudian. Kerutan samar tampak di antara kedua alisnya, ‘sisa’ dari ‘kegiatan’nya menelan cairan yang tadinya memenuhi rongga mulut, “Ijen~ algeotgattayo~

Taecyeon kembali mendengus. Tanpa memedulikan Junsu yang malah bersenandung sendiri, pria itu beranjak ke arah sit up lain yang berada tepat di samping sit up yang diduduki Junsu, berbaring dan menaikkan kedua kaki ke atas kaitannya, mulai memejamkan mata.

Junsu yang melihat hal itu, protes sambil memukul-mukulkan handuknya pada kaki Taecyeon, lalu mengulangi ucapan namja yang sebaya dengannya itu beberapa saat yang lalu,“Yaa! Alat itu bukan untuk tidur!”

“Diam, aish! Kim Junsu, keringatmu di handuk itu bau!”

Kegiatan lempar-melempar handuk pun terjadi selama beberapa saat, hingga akhirnya Junsu membiarkan Taecyeon beristirahat dan malah ikut kembali berbaring di tempatnya. Keduanya sama sekali tidak memedulikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka.

Dada bidang Junsu naik dan turun, mengembang dan mengempis seirama dengan helaan dan embusan napasnya yang teratur. Matanya yang beberapa menit lalu terpejam kembali terbuka. Junsu membuat bantalan dengan kedua lengannya sendiri, merasa gusar tiba-tiba.

Apa Jikyung sudah membaca pesannya?

Ya, Ok Taecyeon.”

Tidak ada jawaban.

Junsu kembali bangkit menjadi duduk, menumpukan kedua sikunya di atas lutut, berpikir sejenak, kemudian beranjak ke tempat peralatannya diletakkan, mengambil ponsel dari dalam tas dan tampak menimbang-nimbang sebentar sebelum mendial nomor seseorang sambil kembali ke tempatnya tadi.

Yeoboseyo?

Punggung Junsu menegak, sedikit terkesiap karena suara itu terdengar beberapa saat setelah pikirannya sedang setengah melayang. Bibirnya kaku selama sejenak.

“Yeoboseyo? … Junsu oppa?” Junsu bisa mendengar suara ribut di belakang suara Jikyung yang terdengar tidak bersemangat.

“Eoh, Jikyung-ah..

…yeoboseyo? … yeoboseyo?

“Jikyung-ah? Iya, halo? Aku di sini.”

“… di sini ribut sekali, aku tidak bisa mendengarmu… yeoboseyo? … Oppa, maaf, aku hubungi lagi nanti.”

PIP!

Sambungan terputus saat Junsu baru saja membuka mulut hendak mengatakan sesuatu. Namja itu kemudian menghela napas maklum dan kembali berbaring, meletakkan ponsel di atas diafragmanya.

>>><<<

… Lee’s House…

Sebagai orang tua, nyonya dan tuan Lee tentu merasa sangat kecewa mendengar penuturan Onew tentang keadaan rumah tangganya dengan Jibyung. Tapi mereka juga tak berhak mengatur keputusan yang sudah disepakati Onew dan istrinya.

[“Kau pasti tahu ini bukan saatnya untuk diam ‘kan, Hyung? Minimal kau harus memikirkan siapa yang benar-benar, yang paling ingin kau pertahankan. Kau tidak bisa memegang keduanya, kau tahu. Tapi aku tahu kau juga tidak ingin melepaskan keduanya, kalau memang kau tidak berubah pikiran.”

Molla, aku—”

“Bingung? Kalau begitu cari alasan yang membuatmu memilih salah satu dari mereka dengan yakin.”

“Alasan seperti.. apa?”

Molla. Sepertinya harus kau temukan sendiri. Yang penting itu tidak akan membuatmu menyesal. Keurae, pastikan kau tidak akan menyesali pilihanmu. Apapun yang terjadi, arasso?”]

Itu percakapan Onew dengan Kim Jonghyun beberapa waktu lalu, saat pria bermarga Lee itu masih terbaring lemas di atas tempat tidur. Selanjutnya, Onew mempertimbangkan hal itu beberapa lama dalam kondisi yang belum benar-benar pulih. Kemudian Jikyung memberitahunya bahwa Jibyung sudah memberitahu Minhyun, dan akhirnya satu alasan sudah Onew temukan.

Karena Jibyung yang menginginkan ini.

Itulah alasannya. Itulah yang membuatnya mendatangi kedua orang tuanya dan mengatakan apa yang sudah terjadi secara garis besar, serta mengakui bahwa itu semua memang karena kekeliruannya.

Tuan Lee tak tinggal diam. Walaupun tak bisa mengubah keputusan Onew, setidaknya ia masih bisa memberikan hukuman, dan ini sudah yang keduakalinya punggung tangan kanannya menghantam pipi kiri Onew.

“Aku tak pernah mengajarkan hal seperti ini pada puteraku.” ujar tuan Lee dengan suara yang berwibawa, sama sekali tidak terdengar geram.

PLAK!

Ketigakalinya wajah Onew kembali terpaling dengan cukup kencang ke arah kanan.

“Kau berani menyepelekan janji pernikahan dan mengabaikan rasa tanggungjawab.” Kali ini suara sang ayah sedikit meninggi, “Kau akan menodai nama keluarga Lee di mata mertuamu.”

Onew tetap menunduk dan mengembalikan wajahnya hingga menghadap tuan Lee, “Algyesseumnida.” jawabnya pelan. Dan itu bukan sekedar ucapan, karena sejak awal dirinya memang mengakui bahwa apa yang sudah diperbuatnya selama ini sangat menyalahi keharusan.

“Sudah cukup, jangan diteruskan. Ini tidak lepas dari kesalahan kita. Mereka menikah secepat ini karena kita.”

Onew terperangah sejenak mendengar ucapan nyonya Lee yang menghentikan ayahnya. Namun tidak lama, karena di detik berikutnya namja itu menggeleng sambil menyunggingkan senyum simpul, “Aniyo, Eomma. Semuanya benar-benar salahku. Jweseonghaeyo.

Tuan Lee mengambil napas dalam dan menghembuskannya sekaligus. Nyonya Lee melakukan hal yang sama, namun tidak sekentara suaminya. Masih ada raut kecemasan di wajah yang mulai berkeriput itu.

“Tapi…” ujar Onew setelah beberapa saat membiarkan suasana hening. Rasa perih masih menjalar di wajahnya, pening mulai menyerang lagi, namun tak dihiraukannya. Bibirnya terbuka dan bergerak ragu, pikirannya menimbang-nimbang sejenak; apakah tidak masalah jika dirinya mengatakan ini sekarang? Apa sebaiknya dirinya memikirkan ini sekali lagi, setelah sebelumnya dia sudah memikirkan hal yang sama ‘ratusan’ kali? Jika dia mengatakannya sekarang, apa yang akan terjadi setelahnya?

‘Karena Jibyung yang menginginkan ini.’ Apakah alasan itu sudah cukup? Pikirannya terus saja menyuarakan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.

“Apa yang sedang kau coba katakan sekarang?” tanya tuan Lee tegas.

“.. ada hal lain yang akan kusampaikan.” jawab Onew dengan suara yang masih ragu. Pria itu menahan napasnya tanpa sadar, kemudian kembali bersuara, “Sebelumnya, eomma, abeoji, aku minta… kalian bisa memercayaiku. Jaebal-yo.

Tuan dan nyonya Lee saling bertukar pandangan selama sesaat. Kemudian nyonya Lee menganggukkan kepala dan menunggu kelanjutan ucapan puteranya.

“Aku memutuskan…”

>>><<<

Pintu apartemen nomor 614 itu terbuka dengan pelan. Lampu koridor menyala bersamaan dengan munculnya sosok Jibyung dari balik pintu. Wanita itu melepaskan hembusan napas panjang di antara keluhan lelahnya. Dipakainya sandal rumah yang terletak di dekat undakan kecil dekat pintu, lalu melangkah pelan melewati ruang tengah yang masih gelap, menuju dapur untuk mendapatkan beberapa gelas air minum.

“Ah, segar.”

“Wah, kalau sepi begini, aku berbisik pun terdengar bergema. Ckck. Dae~bak.

“Hmm.. coba kulihat, apa yang bisa kita makan malam ini?”

Tubuhnya sudah setengah membungkuk di depan lemari pendingin, tanpa jaket putih yang kini tersampir di sandaran kursi meja makan yang tidak jauh letaknya dari sana. Bibir merahnya mengerucut ketika tahu lemari pendinginnya tampak lengang.

Jibyung beralih mencari apa yang bisa dimakannya di lemari penyimpan makanan. Ada beberapa bungkus ramyun, dan tanpa ragu wanita itu mengambil semuanya untuk kemudian direbus.

“Aku perlu makan banyak setelah apa yang kulakukan seharian ini. Aah, cepatlah matang, nae ramyun.

Naif, menyedihkan. Orang-orang yang melihatnya seperti ini pasti akan dengan mudah tertawa sinis.

Bukankah sia-sia saja bertingkah seolah tidak terjadi apapun, padahal itu semua sama sekali tidak mengobati lukamu, atau setidaknya membuatmu lebih baik? Sia-sia saja, berlagak baik-baik saja padahal hatimu sudah berkeping-keping. Tidak ada gunanya melakukan banyak hal hingga lelah kalau pikiranmu masih enggan beralih dari hal yang membuatmu sakit.

Itu semua adalah pendapat yang dipegang wanita ini, pada awalnya. Tapi lihat, apa yang sedang dilakukannya sekarang? Apakah dirinya merasa lebih baik? Apa hatinya baik-baik saja? Apa tubuhnya tidak lelah? Apakah saat ini, ada hal lain yang dipikirkannya dibalik tatapan kosong yang sendu itu?

‘Demi Jikyung.’ Itu satu-satunya alasan kenapa dia melanggar pendapatnya sendiri. ‘Demi saudaraku.’

Beberapa puluh menit kemudian, ramyun yang sudah dimasak itu pada akhirnya hanya mengembang dingin di atas mangkuk yang tergeletak begitu saja di atas meja. Malam itu Jibyung habiskan dengan meneruskan pekerjaan pada rancangan pakaian barunya sendiri. Bukan rancangan untuk perusahaan.

>>><<<

“Jinki-ya, kau baru kembali?”

Onew yang hampir mencapai ruang tengah dorm, mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Sukjin yang baru saja menegurnya. Pria itu memeriksa jam dinding, lalu tersenyum kecil karena baru menyadari ini sudah hampir tengah malam.

“Darimana saja? Seharusnya kau istirahat saja di sini.”

“Hanya mencari udara segar.” jawab Onew singkat. Raut wajahnya yang serius tak terganggu oleh dengusan yang diberikan sang manager.

“Sana, istirahat! Kau harus segera sehat.”

Onew tidak menghiraukan permintaan Sukjin dan malah mendudukkan diri di single sofa yang bersebelahan dengan tempat Sukjin duduk, “Hyung, aku ingin mengatakan sesuatu.” katanya.

“Hm, apa?” sahut Sukjin sembari menyipitkan mata. Agaknya dia sudah mencium bau keseriusan dalam pembicaraan ini, “Apa aku perlu memanggil yang lain?”

“Ah, besok saja beritahu mereka. Sekarang mereka pasti lelah sekali.”

Keureom, mulai saja.”

Onew menautkan jari-jari kedua tangannya, seolah menyiapkan diri, “Aku.. berpikir untuk vakum dulu.”

“Apa?”

Walaupun sudah menduganya, Onew meringis kecil melihat kilatan emosi yang otomatis tampak di wajah lelah managernya, “Aku memutuskan untuk berhenti sejenak dari kegiatan SHINee. Hanya untuk sementara.” ulang pria bermata sipit itu.

Kerutan samar tampak di antara kedua alis Sukjin. Pria itu tak hampir tak percaya dengan pendengarannya sendiri, “Apa yang kau bicarakan?” katanya dengan nada bicara yang hampir terdengar kesal. Tentu saja, di saat tubuhnya sudah ingin beristirahat seperti ini, artisnya justru mengatakan hal yang terdengar ngawur di telinganya.

“Ada hal yang harus aku selesaikan. Jadi aku tak yakin—ani—aku tidak bisa sama sekali berkonsentrasi pada pekerjaan.” ujar Onew muram.

Sukjin berdecak, kerutan di keningnya semakin dalam, “Siapa kau? Artis yang baru lahir kemarin? Tidak bisa. Alasanmu tidak bisa diterima.” katanya datar, “Sudah, jangan bicara hal aneh begitu, kau akan tetap mulai bek—”

Hyung,” sela Onew agak kencang, dan tampak berkali-kali lebih serius dari sebelumnya, “aku benar-benar sedang tak bisa menjadi Onew, saat ini, ataupun beberapa hari selanjutnya. Aku tak bisa mengatakan semua masalahnya padamu, tapi saat ini aku, Lee Jinki, lebih membutuhkan banyak waktu untuk kehidupanku yang sebenarnya.

“Ada banyak hal yang harus kutata lagi. Aku sudah memikirkan proposal ini matang-matang, Hyung.

“Aku sebelumnya sudah mengatakan ini pada orang tuamu, bahwa rencana menikah di saat karirmu sedang naik bukanlah ide bagus. Kau tahu itu? Dan itu terbukti sekarang, bukan? Orang tuamu sudah menjamin kau bisa tetap berlaku profesional jika seandainya masalah terjadi. Tapi apa yang baru saja kudengar sekarang? Apa kau tak bisa bertanggungjawab atas perkataan itu? Atas penilaian kedua orang tuamu terhadap dirimu sendiri?” tutur Sukjin panjang lebar, “Jinki-ya, kau adalah leader dalam grup ini. Menurutmu apa yang akan terjadi kalau kau vakum?”

“Aku tidak akan sepenuhnya lepas tangan,” Onew menjawab dengan cepat, “tolong jangan salah paham, Hyung. Aku hanya ingin tidak ikut dulu dalam beberapa kegiatan ke depan. Dan ya, aku sekarang tidak bisa mempertanggungjawabkan perkataan orang tuaku, dan perkataanku sendiri. Jweseonghaeyo, Hyung. Jal buttakhaeyo.”

Onew tentu saja tahu tentang apa yang dilakukan orang tuanya itu. Tetapi tentu pula itu karena mereka tidak tahu sama sekali akan terjadi hal seperti ini, bukan? Jadi Onew tak bisa menyalahkan siapapun, karena satu-satunya yang pantas disalahkan hanya dirinya sendiri. Lagipula tidak ada cara lain.

Sukjin mengambil napas dalam. Ia memandang Onew dan terpekur selama beberapa saat, nuraninya mulai mempertimbangkan apa yang dikatakan lelaki itu. Ia berpikir keras cukup lama, namun pada akhirnya menghela napas kembali.

Onew mengangkat kepalanya menatap Sukjin yang beranjak berdiri, “Hyung?”

“Kita bicarakan lagi besok saja, aku lelah. Kau juga istirahatlah.”

Lampu ruangan dimatikan, suara pintu dorm yang mengunci otomatis terdengar, dan Onew masih enggan beranjak dari tempatnya.

>>><<<

The next day…

Suasana tempat pemotretan saat itu benar-benar sibuk dan ribut. Suara-suara saling bersahutan, orang-orang berjalan ke sana kemari dengan gerakan cepat, belum lagi barang-barang yang terletak berantakan di ruangan karena belum ada seorang pun yang sempat membereskannya—membuat pemandangan tampak hampir kacau.

“Shin Jibyung-ssi?”

Jibyung yang sedang mendandangi salah seorang model—yang adalah penyanyi terkenal, IU—menghentikan kegiatannya sejenak, lalu menoleh ke arah atasannya, “Ne?

“Kau salah mengambil sepatu dan beberapa baju. Kubilang L-474, bukan 374.”

Kedua mata Jibyung melebar karena terkejut.

“Cepat kembali ke butik dan ambil yang benar! Oh, dan juga, ambilkan tas S-99. Kau juga tidak mengambil barang itu, padahal sudah kutugaskan.” suara salah satu designer pria berbakat di Asia itu semakin meninggi dalam setiap kata yang dilontarkannya, membuat Jibyung meringis berkali-kali.

Jweseonghamnida, Sunbaenim. Aku akan kembali sekarang.” Wanita itu membungkuk dalam, benar-benar menyesal dengan apa yang sudah diperbuatnya.

Ani. Sebelumnya selesaikan IU-ssi dulu. Cepat.” Han Sangjoon menunjuk model yang sedang Jibyung tangani, kemudian melenggang pergi.

“Oh, ne.” Jibyung menghembuskan napas berat, mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

Benar-benar ceroboh, rutuknya pada diri sendiri. Apa karena kurang tidur sistem koordinasi tubuhnya jadi kacau dan membuat kecerobohan seperti ini? Ya, pasti karena itu, tidak ada penyebab yang lain.

“Maaf, bisakah lebih cepat lagi? Aku masih ada pemotretan lain setelah ini.”

Jibyung kembali terperangah mendengar suara fotografer yang bicara padanya, “Ah, ya, tentu saja. Tunggu sebentar lagi, kumohon.”

Suara Han Sangjoon terdengar lagi, “Cepat, Shin Jibyung-ssi. Sesi pemotretan IU-ssi bisa dilakukan terakhir. Kau ambil barangnya dulu sekarang.”

Jibyung menghela napas lagi dan menggigit bibir bawahnya dengan kesal. Dia kembali pada IU dan mengangguk sekilas pada gadis itu, “Maaf.”

Aniyo, gwaenchanayo.

Jibyung mendesah, memutuskan untuk menyelesaikan dandanan IU terlebih dahulu, “Aigo, IU-ssi. Aku merasa lebih baik melihat kau tersenyum seperti itu padaku.” katanya mencoba menghibur diri.

Penyanyi solo muda itu terkekeh, “Kamsahamnida, Eonni. Himnaeseyo.

Keureom, fighting!

>>><<<

 

 

 

 

 

 

…Shin’s House, The next day, 1.21 pm…

Tanpa memedulikan jam makan siang, Jibyung meluncur dengan motornya ke rumah orang tuanya. Butuh tak lebih dari tigapuluh menit hingga dirinya sampai di depan rumah tempatnya tumbuh besar itu.

Jibyung turun dari motornya, menenteng helm di tangan kirinya dan sebuah bungkusan berisi kotak berukuran cukup besar di tangan kanannya. Wanita itu melihat keadaan rumah sebentar, kemudian berjalan ke pintu masuk.

“Hm? Tidak dikunci.” gumam Jibyung heran, ketika mencoba membuka pintu. Dia pikir saat ini sedang tak ada siapapun di rumah. Eomma tidak pergi? Atau Jikyung? pikirnya sambil berjalan masuk.

Tapi keadaan di dalam sangat sepi, tidak ada tanda-tanda ada orang seperti dugaannya. Jibyung kembali mengerutkan kening dengan heran, tapi kemudian mengangkat bahu dengan ringan dan berjalan naik ke lantai atas.

Jibyung membuka pintu kamarnya dan Jikyung dengan perlahan. Terlebih dahulu dilongokkannya kepala ke dalam kamar, dan menghela napas ketika tak melihat siapapun di sana. Wanita dengan penampilan selalu agak tomboy itu memutuskan untuk masuk dan meletakkan kotak yang dibawanya di atas ranjang.

Baru saja tangannya merogoh saku untuk mengeluarkan ponsel dan mengabari Jikyung, dia teringat sesuatu. Jibyung berpikir beberapa saat, lalu menyurukkan ponselnya kembali dan mencari alat tulis untuk membuat pesan. Dia tak bisa mengabari Jikyung dengan telpon atau SMS. Tidak sekarang.

Beberapa menit kemudian, pesan yang menghabiskan setengah lembar kertas itu Jibyung letakkan di atas kotak. Yeoja itu mengecek jam tangannya sejenak, dan berbalik, berniat untuk segera pergi sebelum matanya menangkap sesuatu di atas nakas dekat ‘bekas’ tempat tidurnya sendiri.

Jibyung berjalan menghampiri nakas tersebut, senyum kecilnya terukir memandangi benda berbentuk panda itu. Benda tersebut tak bergerak meski cahaya matahari menembus jendela dan mengenai panel cahayanya. Sebelah tangan Jibyung yang bersarung menekan pelan bagian telinganya, membuatnya bergerak seperti yang semestinya tetapi kemudian kembali berangsur berhenti.

Jibyung mendesah pelan.

>>><<<

…HnC’s Coffee Shop…

Junsu meraih cangkir berisi espresso di hadapannya, membawanya mendekati mulut dan meneguk isinya sekali. Junsu melemparkan pandangannya keluar jendela, berharap sosok yang ditunggunya segera muncul.

Bagaimanapun, mengatakan maaf hanya dari telpon—yang dilakukannya kemarin—terasa belum cukup, jadi lelaki itu akan bertemu dengan Jikyung ditempat ini, tempat yang sengaja dipilihnya karena letaknya tak terlalu jauh dari kantor tempat Jikyung bekerja. Junsu juga tadinya berniat mengundang Onew, tetapi Onew tak bisa dihubungi sejak kemarin. Dan menurut Jonghyun—yang dihubungi Junsu dengan tujuan untuk menyampaikan maksudnya—Onew sakit lagi.

Oppa?” suara yang sangat familiar itu menarik kembali kesadaran Junsu.

Junsu menoleh cepat ke hadapannya, “Oh, Jikyung-ah, kau datang darimana? Kenapa aku tak melihatmu?” katanya dengan nada agak ceria, berusaha menghidupkan suasana setelah dia melihat sorot redup mata Jikyung.

.

.

.

Jikyung menggumamkan tulisan pada banner coffe shop di depannya, lalu menghentikan langkah dengan refleks. Ah, HnC’s Coffee Shop. Di sini tempat yang disebutkan Junsu tadi, pikir Jikyung kosong. Dia merasa baru tersadar dari sesuatu begitu ingat hal tersebut. Dia bahkan tak ingat bagaimana cara dirinya kemari dan apa saja yang dilewatinya di perjalanan. Beruntung dia tidak sampai tersesat dan justru menemukan tempat yang tepat walaupun melamun sepanjang perjalanan.

Oppa?” panggil Jikyung, dan lagi-lagi tersadar bahwa dirinya tak ingat pernah memasuki pintu coffee shop tersebut dan kini sudah berhadapan dengan Junsu.

“Oh, Jikyung-ah, kau datang darimana? Kenapa aku tidak melihatmu?” Jikyung mendengar Junsu bicara.

Jikyung memaksakan seulas senyum di wajahnya yang kaku, kemudian menarik kursi yang masih kosong dan duduk, tidak berniat menjelaskan hal yang berhubungan dengan pertanyaan Junsu. Lagipula mungkin pertanyaan itu hanya untuk basa-basi.

“Ah, aku sudah pesan duluan. Kau mau pesan sesuatu?”

“Eoh, boleh.”

Junsu tersenyum kecil, kemudian mengangkat sebelah tangannya untuk memanggil pelayan, “Coffee milk, kan?” tanyanya pada Jikyung, sekadar untuk memastikan. Dia hapal kebiasaan Jikyung jika bertandang ke kedai kopi seperti ini. Coffee milk selalu jadi pilihan pertama yeoja itu.

“Iya.” jawab Jikyung hampir terdengar bergumam.

Setelah memesankan minuman dan waffle untuk Jikyung dan pelayan tersebut pergi, Junsu kembali memusatkan perhatian pada yeoja yang duduk di kursi yang berseberangan dengannya. Pria itu membenahi posisi duduk dan kembali meneguk espressonya sambil berpura-pura fokus melihat ke arah lain.

Jikyung mengambil napas dalam, menumpukan kedua tangan di atas meja dan melihat keluar melalui jendela. Sorot matanya masih redup.

“Aku tidak mengganggu pekerjaanmu, kan?” tanya Junsu, berusaha tak membuat terkejut.

“Hm? Ah, tentu saja tidak, Oppa. Ini kan jam makan siang.” sahut Jikyung seperlunya.

Junsu meletakkan cangkirnya kembali sambil bergumam, “Benar juga.”

Pelayan tadi kembali untuk mengantarkan coffe milk pesanan Jikyung. Setelah menerima gumaman terimakasih dari keduanya, pelayan lelaki tersebut kembali meninggalkan meja, dan Jikyung kembali memandang keluar jendela.

“Tadinya aku ingin bicara dengan Onew juga, tapi Jonghyun bilang Onew sakit lagi. Apa kau tahu?” tanya Junsu lagi.

“Hm,” angguk Jikyung tanpa menoleh, “Kibum memberitahuku, dan aku berencana melihatnya setelah pulang kerja.”

“Ah,” gumam Junsu pelan, sedikit banyak merasa ingin memukul sesuatu, tetapi dia masih bisa mengendalikan diri dan bertingkah senormal mungkin.

Junsu mengikuti arah pandangan Jikyung dan kemudian berujar, “Tapi apa benar kau sudah memaafkanku? Sejak tadi kau hanya melihat ke sana padahal sedang bicara denganku.”

Ne?” cicit Jikyung dengan punggung yang refleks menegak dan kepala menoleh ke arah Junsu, “Oppa, bukan begitu. Sungguh. Aku hanya… hanya…”

Melihat Jikyung tampak kebingungan seperti itu, dan setidaknya sorot matanya tak ‘semenyeramkan’ tadi, Junsu tertawa pelan, “Aku mengerti. Aku hanya bercanda.”

“Ah, jangan mengagetkanku.” desah Jikyung pelan. Punggungnya kembali rileks.

Junsu memerhatikan yeoja itu menyesap coffee milknya dan kembali meletakkan cangkir di atas meja setelah merasa cukup. Junsu mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu berujar, “Jadi… apa buktinya kau sudah memaafkanku?”

“Ya?” Jikyung memberikan tatapan tak mengerti pada lelaki yang memakai topi baseball di hadapannnya itu. Dia berpikir Junsu bercanda lagi. Tapi raut wajah lelaki itu tampak serius, jadi Jikyung kembali melontarkan pertanyaan yang ada di kepalanya, “Apa untuk ini kita bertemu?”

Aniya, aku hanya… maksudku…” Junsu mengerjap cepat, “maksudku… aku hanya ingin memastikan, apakah aku masih bisa mendapat.. kepercayaan yang sama darimu… setelah…” tangannya bergerak tak beraturan, “setelah itu.”

Jikyung memiringkan kepalanya sedikit, kali ini paham dengan maksud Junsu, “Oppa, apa yang kau katakan? Tentu saja aku begitu.” katanya dengan nada yang statis.

Mendengar kalimat itu, Junsu membasahi bibir bawahnya dan meringis kecil, “Aku senang mendengarnya.” katanya sambil mengusap tengkuk dengan sebelah tangan. Melihat sejak tadi Jikyung tak menampakkan ekspresi yang berarti, membuat Junsu merasa masih ada sesuatu yang mengganjal. Dia berpikir Jikyung belum benar-benar memaafkannya. Interaksi mereka sejak tadi juga terasa canggung. Ini tidak seperti biasanya. Junsu bahkan tak bisa mengatakan gurauan-gurauan menggelikan yang biasa dia lakukan. Dan entah mengapa, Junsu merasa Jikyung sedang jauh darinya, padahal mereka sedang saling berhadapan.

.

Hening, gelisah..

Atau…

Satu pemikiran lain muncul di benak Junsu.

.

“Jikyung-ah,

“Junsu op—“ Jikyung menahan kata-kata yang akan dilontarkannya ketika menyadari Junsu bicara di saat yang bersamaan. Gadis itu menatap Junsu sambil mengangkat alis, “oh, oppa mau mengatakan sesuatu?”

“Y-ya,” Junsu tidak tahu kenapa suaranya terbata-bata, “tapi.. kau duluan.”

“Aku hanya ingin mengatakan kalau jam makan siangku sudah hampir habis. Aku harus segera kembali.”

“O-oh, geurae?” Junsu terdiam sesaat, menimbang-nimbang kembali hal yang ingin dikatakannya. Dia tadi berniat langsung menanyakan tentang masalah di antara Onew, Jikyung dan Jibyung, siapa tahu kondisi Jikyung saat ini karena hal itu. Tapi sekarang dia ingat bahwa dirinya pernah berjanji untuk tidak masuk lagi ataupun ikut campur dalam masalah mereka. Ya, karena itulah dia tak tahu kenyataan dimana Onew dan Jibyung saat ini sudah hampir bercerai.

“Apa yang ingin oppa bicarakan?” pertanyaan Jikyung membuat lamunan Junsu buyar.

“Ah, tidak terlalu penting.” sahut lelaki itu pada akhirnya, “Nanti kau terlambat. Tapi intinya… kau benar-benar memaafkanku, bukan?”

“Iya.” senyuman tulus pertama yang Junsu dapatkan sejak pertemuan mereka beberapa waktu lalu. Walaupun singkat, itu membuat Junsu merasa cukup puas.

Jikyung beranjak dari tempatnya, “Kalau begitu, aku duluan.”

“Eo-eoh.” Junsu ikut beranjak dan buru-buru meletakkan beberapa lembar uang di atas meja, “Aku yang traktir.” Katanya sambil tersenyum lebar.

Gomawo.

Mereka kemudian berjalan bersamaan keluar dari coffe shop tersebut, “Hati-hati. Sampai jumpa lagi.” ucap Junsu sambil mengangkat sebelah tangannya dan tak lupa—masih—tersenyum lebar. Jikyung balas melambai sekali, menggumamkan terimakasih kemudian memutar tubuh dan mulai berjalan menjauh. Junsu memandangi punggung yeoja itu yang secara perlahan semakin mengecil dan kemudian menghilang. Dia mendesah pelan.

Apakah ini saatnya Junsu mulai menghapus jejak-jejak gadis itu di hatinya? Jikyung sepertinya memang sudah tak melihatnya lagi. Tapi… kenapa? Kenapa Junsu merasa belum juga siap melakukan hal itu?

Aniya.

Lelaki itu menggeleng kecil.

“Semoga kau baik-baik saja.

“Dan selalu bahagia.” bibirnya bergerak tanpa suara.

Ya, dia tak boleh egois. Dia harus mendoakan kebahagiaan Jikyung, apapun yang terjadi.

>>><<<

…SHINee’s Dormitory, 8.00 pm…

Ringisan pelan berkali-kali terdengar dari mulutnya yang pucat. Onew menggeram pelan dan memusatkan tenaganya pada salah satu tangannya yang memegang gelas kosong. Di benaknya, jejak-jejak wanita itu masih tampak jelas di sana walaupun ‘dia’ sudah pergi tiga puluh menit yang lalu, semua perkataannya masih membekas di telinga Onew, terus-menerus bergema di pikirannya, membuatnya merasa tak bisa lagi lebih frustasi dari ini.

Shin Jibyung membuatnya seperti ini, hanya dengan senjata selembar surat perceraian dan beberapa patah kata yang dibawanya ke hadapan Onew.

Onew mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, dilakukannya kembali hingga tiga kali. Tangannya kemudian bergerak menyimpan gelas ke atas meja di hadapannya, dan beberapa lama setelahnya, kepalanya yang semula menunduk dalam, terangkat secara perlahan. Begitu matanya menangkap lembaran surat perceraian itu, geraman lain kembali lolos dari mulutnya, tangannya terkepal erat tatkala perkataan itu kembali terngiang dan menghantamnya dengan keras.

“Kau benar-benar menginginkan ini?”

“Ya, aku benar-benar menginginkan perceraian ini terjadi.”

Onew berusaha mengendalikan dirinya lagi. Napasnya terdengar berat, sekujur tubuhnya terasa terbakar. Masih terbayang gerakan tangan Jibyung ketika wanita itu membubuhkan tanda tangan di atas surat perceraiannya.

“Tidak ada apapun lagi yang bisa kuharapkan darimu. Bukankah itu juga yang kau rasakan terhadapku?”

“Arh!” Onew menghantamkan kepalan tangannya berkali-kali pada sisi sofa. Di detik selanjutnya, punggungnya menyentuh sandaran sofa dengan keras. Kerutan dalam tampak di antara kedua alis tebalnya, matanya memerah secara perlahan, sementara dadanya naik turun, berusaha lagi menahan diri untuk tidak melepaskan semuanya.

Seharusnya Onew tak terlalu terkejut begitu Jibyung datang ke tempat itu dengan surat perceraian yang harus ditandatanganinya, karena toh keadaan mereka sebelum itu sudah sangat di ambang perceraian. Pada awalnya dia memang tak menunjukkan reaksi yang berarti. Namun begitu Jibyung dengan tanpa ragu menggoreskan tinta di atas kertas itu, dan setelah mendengar semua ucapannya, Onew merasa langit jatuh menimpanya.

Bunyi bel apartemen membuyarkan lamuanan Onew. Lelaki itu memindahkan lengannya untuk menutupi mata dari cahaya lampu, dan mengambil waktu beberapa menit untuk menenangkan diri. Setelah merasa cukup, Onew beranjak dari tempatnya dan berjalan sempoyongan menghampiri pintu.

Rasa bersalah sekaligus cemas langsung tercetak di wajah Jikyung ketika melihat Onew yang membukakan pintu, “Oh, maaf, kukira ada orang lain selain ka—Onew-ya!” kedua tangan Jikyung refleks terulur untuk menahan Onew yang hampir terjatuh ke lantai, “Kau tidak apa-apa? Astaga, maaf sudah membuatmu berjalan kemari.”

Untuk sesaat, tidak terdengar jawaban apapun. Jikyung mengalungkan tangan Onew ke belakang pundaknya dan mencoba membopongnya dengan susah payah ke ruang tengah.

“Tidak apa-apa.” gumam Onew setelah Jikyung membaringkannya di atas sofa panjang yang ada di sana.

“Tunggu.” ujar Jikyung tanpa menanggapi ucapan Onew. Dia beranjak pergi, kemudian kembali membawa selimut di tangannya, “Kau pucat sekali.” komentarnya sembari menyelimuti Onew yang tengah merapatkan jaketnya.

Gwaenchana.” ringis Onew, kembali menghalangi matanya dari cahaya lampu.

Jikyung mendesah pelan, masih merasa bersalah. Dia duduk berlutut di atas lantai di dekat meja. Tiba-tiba saja matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya di atas meja. Kerutan samar tampak di antara kedua alis Jikyung. Bola matanya bergerak membaca satu-persatu kata yang tercetak pada kertas putih itu. Untuk yang kedua kalinya dalam hari ini, hatinya terasa begitu mencelos, walaupun yang kali ini tak semengejutkan apa yang ditemuinya sebelumnya.

“Kau sudah melihatnya?” suara parau Onew berhasil mengalihkan perhatian Jikyung, “Jibyung datang ke sini, untuk mengantarkan itu, dan mengatakan kalau dia benar-benar ingin itu terjadi.” pria itu terkekeh sumbang, sebelah lengannya masih berada di atas mata.

“Jibyung juga memberikan sesuatu untukku.” Jikyung mengambil tasnya, mengambil secarik kertas yang tak lain pesan yang ditulis Jibyung. Sebelum kemari, Jikyung memang sempat pulang dulu untuk mandi dan mengganti pakaian, membantu Minhyun menyiapkan makan malam dan juga membawakan makan malam untuk Onew. Dan tentu saja dia melihat apa yang diletakkan Jibyung dikamarnya siang tadi. Obyek itulah yang membuatnya terkejut.

Onew tak berasak dan hanya memasang telinganya baik-baik, menunggu kelanjutan ucapan Jikyung. Terdengar helaan napas pelan dari yeoja itu, sebelum suara pelannya mengalun, “Gaun. Dia memberikan gaun pengantin.” ..terasa menembus otak Onew, membuatnya hanya bisa menahan kekacauan yang menggumpal lagi di dalam hatinya.

Jikyung menghela napas sepelan mungkin. Dia hanya terpekur, memandangi telapak tangan Onew yang mengepal erat.

>>><<<

[“Jikyung-ah, aku yakin ini cocok denganmu. Pakai ini di hari pernikahan kalian. Jangan protes! Aku membuatnya dengan sepenuh hati, dengan cinta di setiap jahitannya. Kkk~”]

“Jibyung tidak di apartemen.” suara Onew terdengar seperti gumaman.

Ne? Dia juga mengambil cuti di tempat kerjanya.” Jikyung terperangah, dan dia tahu rasa takut mulai menyusup ke dalam hatinya.

“Sejak kapan?”

“Sejak.. tiga hari yang lalu.”

[“Jadi hargai kerja kerasku ini, arasso? Segera lakukan persiapan pernikahan kalian. Tapi maaf, sepertinya aku tidak bisa membantu. Jangan pikirkan apapun dan lakukan saja.”]

Jikyung memilin ujung pakaiannya dengan resah. Gumamannya yang lirih meluncur berbaur dengan udara, “Jibyung-ah, kau dimana?”

“Ponselnya juga tak bisa dihubungi akhir-akhir ini.” Onew mengacak rambutnya sambil menarik napas dalam-dalam.

[“Tahu, tidak? Kau membuatku gelisah terus sepanjang minggu ini. Berkali-kali aku dimarahi bos karena tidak konsentrasi bekerja. Ck, gara-gara kau.”]

“Sudah hampir seminggu.” Key mengerutkan kening, lalu menurunkan ponsel yang digenggamnya, alat yang digunakannya untuk menghitung hari.

“Jibyung noona… mungkin sedang menenangkan diri di suatu tempat.” Minho menimpali.

Jonghyun mengangkat bahu, “Aku juga berpikir begitu. Kupikir juga dia akan baik-baik saja. Err… dia memang sangat keras kepala.”

[“Karena itu, berbahagialah, My twin 🙂”]

“Mungkin dia pergi.” helaan napas Minhyun menambah rasa bersalah Jikyung.

Eomma, maafkan aku.”

[“p.s. Aku tidak mau bertemu sebelum kalian memberi undangan resmi. Hoho.”]

“Jadi ini yang dimaksudnya tidak mau bertemu?” Jikyung membaca kembali isi pesan yang ditulis saudarinya.

Onew menatap Jikyung cukup lama. Dia mengambil kertas dari tangan Jikyung, lalu berdiri tegak dan menumpukan kedua tangannya ke railing jembatan Banpo.

Sudah dua minggu Jibyung tak menampakkan batang hidungnya di hadapan semua orang.

Kepala Onew tertunduk, menatap kertas yang beralih ke tangannya. Membaca kembali isi pesan ini membuatnya sadar. Jibyung sangat keras kepala, dia tahu itu. Dengusan pelan terdengar ketika Onew tersenyum miring. Detik selanjutnya, rahanya mengatup erat, tangannya mengepal, meremas kertas tersebut. Tubuhnya kemudian berbalik menghadap Jikyung yang duduk di atas kap mobil, menatap yeoja itu lekat-lekat, lalu menarik kedua tangannya dan menggenggamnya.

“Kalau begitu, lakukan saja apa yang diinginkannya.” ujar lelaki itu. Kedua mata Jikyung melebar, tetapi hanya sesaat. Ya, dia tahu apa yang dipikirkan Onew.

“Kita sudah menemukan alasannya, bukan?”

>>><<<

.

.

Petang menyapa. Keindahannya selalu tampak khas jika dilihat di pantai. Langit yang keemasan membuat kesan hangat, dan nyaman.

Wanita itu memenuhi paru-parunya dengan udara, dan mengeluarkannya kembali perlahan-lahan. Cahaya matahari yang hampir tenggelam menerpa wajahnya, angin yang berhembus membuat anak rambutnya berayun pelan. Dia tersenyum kecil merasakan butir-butir pasir yang lembut berada di sela-sela jari kakinya. Sebelumnya dia tidak pernah merasa sangat menikmati keheningan seperti saat ini.

.

.

Noona?

Refleks—walaupun tak yakin panggilan itu ditujukan padanya—kepalanya berputar ke arah kanan, ke arah sumber suara tersebut berada. Seorang pemuda berdiri di sana, seorang gadis berwajah manis berada di sampingnya.

“Jibyung noona! Ternyata benar!”

Wanita itu terperangah sejenak, tapi kemudian tersenyum lebar sambil mengangkat sebelah tangannya, “Annyeong!

>>><<<

To Be Continue

32 responses to “My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip 13

  1. sebeeellll bangeeettttt!!!!!!! sama onew, kasian jibyung, ga rela ga rela ga relaaa!!!!!
    pokonya kalo endingnya jibyung beneran ga jadi ama onew, gue bakal benci ama ff yg satu ini, nyebelin nyesek banget anjritt T.T

  2. Clip 14 nya kok lama banggett siih :(( Benci banget sama jikyung and onew, munafik ! Endingnya jangan sampe onew balikan ma jibyung, onew tak termaafkan !!

  3. Pingback: My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip 14 | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s