After”T’Dream

AfterTDream

Tittle : After”T’Dream

Author : Kazu1chi

Rating : PG-15

Genre : Supernatural, Dark, Mystery, Horror, Angst, Romance

Cast : Lee Ji Eun (IU), Son Dongwoon (BEAST), Hyewon (5Dolls / Co-Ed School)

Author’s Note : Mimpi untuk hidup.

After”T’Dream

Appa, apakah benar mimpi itu nyata?”

Pertanyaan yang cukup biasa saja namun bermaknakan antara iya dan tidak, itu kulemparkan pada ayahku. Menengadah ke langit abu-abu yang mulai menitikkan sedikit demi sedikit tetesan air hujan. Gemuruh yang berasal dari langit yang hampir kelabu itu seolah-olah menjawab pertanyaanku. Disertakan dengan angin dingin yang silir-semilir seraya menyiringi tangisan duka di hati mereka. Berdiri tegak di pintu kayu, merangkulnya dengan tatapan terus-menerus menengadah ke langit.  Menunggu jawaban itu terjawab.

“Ji Eun-ah!” suara lirih itu mulai terdengar di kedua telingaku dari belakang. Seorang memegang pelan kedua pundakku, dan menunjukkan wajahnya dengan tatapan bingung terhadapku. “Masuklah, Ji Eun-ah. Nanti kau bisa masuk angin.”

Senyuman.

Ia melemparkan senyuman padaku, akan tetapi aku dapat melihat raut wajahnya yang sedih serta merasakan nada suaranya yang seperti orang sedang berduka.

Dia menarik tangan kiriku yang mungil untuk pergi, akan tetapi kulepas tarikannya. “Eomma, appa benar-benar meninggal,” ungkapku dengan nada datar sambil menunjuk bingkai foto berpita hitam berdiri gagah diantara bunga-bunga di meja.

Sebelumnya, aku pernah bercerita pada ayahku bahwa, ku memimpikan ayahku berada di dalam suatu tempat gelap – tampak seperti berada di dalam mobil yang terbalik – dalam keadaan tubuh yang kaku. Ia sedang membelakangi ‘penglihatanku’ dari dalam mimpiku. Dan respon yang diberikan oleh ayahku cukup membuatku bingung juga pada akhirnya, “Huh.. itu hanya mimpi saja,” dengan nada bahwa itu-takkan-pernah-terjadi.

Mimpi itu terjadi sehari sebelum hari meninggalnya ayahku.. hari ini.

***

Setahun kemudian..

Tanganku dituntun oleh ibuku menuju ke sebuah sekolah Taman Kanak-Kanak – yang jaraknya tak jauh dari rumahku – sambil berjalan kaki. Sampai disana, ibuku masih terus menuntunku hingga menemui kepala sekolah. Aku hanya tercenung melihat mereka berdua tampak akrab. Seusai menghadap kepala sekolah, terakhir ibuku menasihati, “Di bulan Maret ini adalah bulan pertama kali kau berada di sekolah, kau harus belajar yang rajin,” sambil mengelus-elus rambutku sebelum meninggalkanku.

Sesaat kemudian, kini aku telah berada di depan kelas, berbicara – diminta untuk memperkenalkan diri – dengan nada datar. “Lee Ji Eun,” ucapku singkat sambil membungkukkan badanku. Sama sekali tak ada yang memperhatikanku – semua teman kelasku sibuk bercanda ria – dengan seksama bahkan tak ada satu pun yang mendengarkanku. Kutegakkan kembali, namun pandanganku tiba-tiba tertuju pada salah seorang laki-laki – teman kelasku – tengah bercanda ria bersama teman sebangkunya.

Sambil berjalan menuju bangku – yang berwarna kuning dan pendek – yang berada di posisi paling ujung kiri dekat jendela, pandanganku terus-menerus mengarah pada laki-laki itu. Rasa bingung sambil berpikir mengingat sesuatu muncul di benakku sejenak, dengan singkat ku menyadari bahwa laki-laki itu pernah berada di dalam mimpiku sebanyak dua kali.

Tak berapa lama kemudian, jam istirahat sebentar tiba. Kuhampiri laki-laki itu — sebaya denganku – yang sedang dikerumuni orang karena terlihat dari sikapnya menunjukkan bahwa ia periang. Setibanya diriku, orang-orang sekitarnya tetap menyibukkan diri bercanda ria bersama laki-laki itu, seakan diriku tak ada di hadapan mereka. Ku mulai angkat bicara, “Berhati-hatilah, akan ada yang membuatmu meninggalkan dunia!”

Dan suara berisik yang sudah ada sedaritadi pun tiba-tiba lenyap bagaikan pedang menebas angin. Hening seketika. Semua mata tertuju pada diriku yang tiba-tiba berbicara yang cukup tegas dan mungkin terdengar seperti menakut-nakuti.

“Siapa kau?!” balas sang laki-laki langsung berdiri dengan tatapan marah. “Pergilah kau, orang aneh!”

Aku tetap diam dalam pandangan datar terhadapnya. Sekali lagi ia mengatakan seperti itu, “Dasar orang aneh!” sambil mendorong pundakku hingga membuatku mundur sedikit. Seketika semua orang menertawaiku dan berseru, “Dasar orang aneh! Pergi jauh-jauh!”

Dari wajah ke wajah lain, kupandang satu per satu. Terlihat sekali mereka merasa jijik dengan keberadaanku yang cukup ‘aneh’ di mata mereka.

Sambil berjalan untuk kembali ke bangku ku, aku memberitahukan kembali, “Kau akan menyesal karena tidak menghiraukanku!”

Keesokan harinya, aku memandang ke arah meja dan bangku yang biasa ditempati oleh laki-laki itu, kosong tak berbekas. Tak lama setelah itu, salah seorang pria dewasa mengetuk pintu kelasku. Ia disambut hangat oleh guru di depan kelasku, dan mempersilahkan masuk. Pria dewasa itu menghampiri sang guru dan membisiknya. Wajahnya sungguh terlihat bahwa ia sedang berduka dan berada dalam masalah. Dapat kupastikan bahwa pria dewasa yang berada di samping guruku sekarang ini adalah ayah tirinya laki-laki itu.

Beberapa detik kemudian, pria dewasa itu membungkukkan badannya dan pergi ke luar. Sang guru turut membungkukkan badannya. Begitu ditegakkan kembali, sang guru memberi sebuah pemberitahuan bahwa, laki-laki yang kunasihati itu meninggal karena bunuh diri bersama ibu kandungnya. Hal ini sudah kuketahui sejak awal.

Sekitar tiga minggu yang lalu, aku mendapatkan mimpi tentang laki-laki itu pertama kali. Keluarganya sedang mendapatkan masalah. Mengalami keributan besar, hingga menyebabkan perceraian karena kesalahpahaman orang ketiga. Tanpa sepengetahuan laki-laki itu, ibu kandungnya mengalami depresi setelah perceraian terjadi. Dan suatu hari, ia menikah kembali – seorang pria dewasa tadi – dan pria dewasa itu pantas disebut sebagai ayah tiri.

Pada mimpi kedua seminggunya kemudian, karena depresi yang diderita sang ibu kandung tak kunjung sembuh, dia akhirnya memutuskan untuk mengajak bunuh diri bersama anaknya, setelah mendengar kabar mantan suami nya meninggal kecelakaan lalu lintas.

***

Untuk sekali lagi – meski sudah setahun – pakaian hitam berkabung kukenakan kembali. Tercium pula wewangian bunga yang sudah menjadi ciri khas dalam hidungku. Dalam satu rumah duka bagian anak laki-laki itu dan ibunya terdapat dua foto. Satu yang paling kiri adalah foto ibunya. Dan satunya lagi yang kanan adalah laki-laki itu.

Selain diriku juga terdapat semua teman kelasku yang turut memberi penghormatan terakhir kepada mereka berdua. Namun, begitu tibanya diriku untuk memberi penghormatan terakhir. Semua mata tertuju padaku dengan tatapan yang tak biasa. Meskipun mulut mereka tidak mengucap, namun terlihat dari ekspresi mata mereka bahwa mereka tak senang dengan kehadiranku. Dapat kuketahui, bahwa kecaman tanpa suara dari mereka tetap berkumandang di benakku.

Esok hari kemudian, setibaku di ruang kelas, semua mata tertuju kembali padaku. Bahkan salah satu ada yang berani menghinaku, “Kau mengutuknya! Kaulah yang membunuhnya!” sambil menunjuk ke arahku. “Benar! Kau iblis!” bantu mereka lainnya berseru padaku meskipun ada juga sebagian yang terdiam karena takut padaku. Selain itu juga ada yang mendorongku hingga terjatuh sebelum guru datang dan menertibkan semuanya.

Rasa sakit hati ini sudah timbul sejak kemarin. Bahkan genangan air mata sudah berada di pelipis kedua mataku, namun tertahan. Kenapa harus aku yang diperlakukan seperti ini?!

***

Bertahun-tahun telah kulalui dengan kesendirianku. Bukan hanya saat ku memasuki tingkat Taman Kanak-Kanak saja, ketika ku memasuki tingkat Sekolah Dasar, semua perlakukan untukku tetap sama seperti sebelumnya. Mereka menganggapku tak lebih dari “Orang Aneh” bagi mereka. Mereka menjauhiku. Mereka menusukku dari belakang maupun depan. Bahkan ada yang takut mendekatiku karena pikiran mereka yang negatif. Tak ada satupun yang mau berteman denganku.

Hal ini ingin sekali kuungkapkan kepada ibuku, satu-satunya keluargaku. Akan tetapi, sangat sulit sekali ku mengungkapkannya. Jadi, ia sama sekali tak pernah tahu bagaimana orang-orang menjauhkan si “Orang Aneh” ini. Terkadang aku suka berpikir, bagaimana bisa ku bertahan dari sebelum Taman Kanak-Kanak hingga sekarang tanpa pertukaran pikiran maupun hati?

Hidupku sia-sia jika mereka tak pernah menganggapku ada di mata mereka.

Sakit.

Pernah ingin melakukan hal yang tidak diinginkan, bunuh diri. Tapi, itu hanyalah pikiranku saja. Karena ku tahu bahwa aku adalah ‘pembawa pesan’ untuk mereka melalui mimpi-mimpiku. Dan kusadari itu. Tetapi saat itu aku sama sekali tak pernah mencoba percaya dengan mimpi-mimpiku — alias ingin menghilangkan ‘bakat’ ini – yang ‘aneh’ ini.

***

Menanjak usia remaja, suatu hari aku mendapatkan sebuah mimpi yang tak lazim. Benar-benar tak lazim. Kata “Ragu-ragu” adalah kata yang tepat untuk kukatakan jika mengomentari mimpi tersebut.

Benarkah ini akan terjadi? Atau ini hanyalah sebuah bunga tidur? pikirku dalam hati.

***

Precognitive Dreamer(1), dan Retrocognitive Dreamer(2). Empat kata. Yang cocok untukku, kata buku.

Buku yang kubaca saat tingkat Sekolah Menengah Atas mengenai anak indigo(3) – buku yang tak sengaja jatuh di hadapanku, saat aku hendak mengambil buku di lemari buku perpustakaan – itu berkata ciri-ciri dari dua kata tersebut cocok untukku. Sepertinya, ungkapku dalam hati.

Ketahuilah bahwa mimpi-mimpiku yang bisa menceritakan masa lalu seseorang maupun masa depan seseorang itu ‘tiba-tiba’ nyata, setiap saat tanpa kusadari.

Suatu hari, aku bermimpi. Di mimpi tersebut menceritakan bahwa aku memiliki seorang teman. Temanku tersebut sangat akrab denganku bahkan bisa dikatakan sebagai sahabat, dari pandangan mimpiku. Bahkan, aku memiliki keinginan untuk mencurahkan hati dan pikiranku padanya tentang diriku yang ‘aneh’ ini. Dan mimpi itu benar-benar terjadi.

Sungguh membuatku terharu. Sangat terharu.

Karena dia adalah temanku pertama kali dalam hidupku. Akan tetapi..

Selang beberapa hari kemudian setelah aku sudah akrab dengannya, kembali lagi aku mendapatkan mimpi yang sangat membuatku frustasi. Aku sama sekali tak siap menghadapi mimpi itu secara mental. Di dalam mimpi itu, diceritakan bahwa temanku ini hendak membantu orang tuanya untuk membeli bahan-bahan masakan ke pasar. Sesudah itu, temanku hendak pulang ke rumahnya. Di perjalanan, ia tiba-tiba diculik dan dibunuh di suatu tempat gelap, tanpa kuketahui apa penyebabnya.

Segera ku terbangun dari tidur siang seusai memimpikan mimpi yang seperti itu. Nafasku terengah-engah. Wajahku memucat. Tanganku bergamataran. Tubuhku mengeluarkan keringat dingin. Karena ketakutanku akan kehilangan temanku satu-satunya, aku segera pergi menuju ke rumahnya. Untuk kedua kalinya setelah peringatanku saat Taman Kanak-Kanak – karena setelah kejadian bunuh dirinya sang ibu bersama anak laki-lakinya itu, aku sangat ketakutan dan tidak berani untuk memberikan peringatan di mimpi lain – aku memiliki keinginan kembali untuk memperingati temanku.

Sampai di rumah temanku – pergi hanya mengandalkan sepeda – aku segera memanggil-manggil nama temanku. Ibunya datang dan memberitahu bahwa temanku ini sedang pergi ke pasar sejam yang lalu. Begitu mendengar perkataan dari ibunya, membuatku jatuh tersungkur lemah tak berdaya. “Gwenchana?!” kagetnya melihatku bersikap seperti itu.

Kuangkat kembali tubuhku dan terduduk menekuk lutut dengan air mata yang terturun. Kenapa ini harus terjadi..? Kenapa ini harus terjadi karena mimpiku?!  pikirku keras-keras.

Ani. Dia..,” jawabku cemas, dan tiba-tiba TV menyela pembicaraanku – yang sedaritadi sudah ditonton oleh sang ibu – dengan menampilkan siaran berita mengenai penculikan dan pembunuhan yang menewaskan seorang gadis berusia 16 tahun, adalah temanku itu sendiri!

Tak lama kemudian, selidik punya selidik temanku diculik sekaligus dibunuh oleh musuh bebuyutan ayahnya sendiri.

Di rumah duka kembali. Untuk sekali lagi aku mengenakan pakaian hitam berkabung. Wewangian bunga kembali tercium dengan sangat menyengat dan melekat di hidungku, sungguh membuatku teringat akan kematian-kematian yang terjadi persis dalam mimpiku.

Kubungkukkan badanku sebagai penghormatan terakhir pada temanku. Gamsahamnida atas segalanya, kau telah memberiku energi kehidupan, kataku dalam hati.

***

Waktu terus berjalan, selang tahun terus berganti, hingga pada akhirnya aku genap berusia 20 tahun di Korea. Kini aku kuliah mengambil jurusan ilmu arkeologi.

“Lee Ji Eun, mau pergi ke situs mana?” tanya salah teman laki-lakiku yang membuyarkan lamunanku. “Masih ingat kalau kita disuruh praktik ke lapangan, ‘kan?”

Sedikit terkejut karena ia bertanya sambil menepuk pundakku, “Ahh.. Ne. Terserah.”

Pada akhirnya, kami – kerja praktik ke lapangan ini berkelompok sekitar 6 orang —  memutuskan untuk pergi ke Museum Nasional Korea yang terletak di Seoul. Akan tetapi, bukannya sampai di Museum Nasional Korea, dalam perjalanan, kami terhambat di desa – sebelumnya kami berada di sekitar daerah desa – karena mobilnya mogok mendadak.  Terpaksa mau tak mau, kami berhenti sementara.

Dan tak jauh dari tempat kita berdiri, terdapat suatu rumah yang bisa terbilang hanok chogajip(4). Karena cuaca yang mendung dan mulai gerimis, mau tak mau kami terburu-buru masuk ke dalam rumah tersebut.

Akan tetapi, hingga berteduh di dalam rumah itu, aku terkejut seketika. Bukankah ini.. mimpi yang  tak lazim itu? pikirku.

Jantungku mulai berdenyut kencang seperti tak terkendali. Kulit badanku mulai mengeluarkan keringat dingin. Kedua tanganku saling kugenggam sendiri dengan erat sambil berdoa dan berharap. Kami menemukan sebuah ruangan yang terdapat meja yang diduduki oleh ‘seorang’. ‘Seorang’ tersebut terlihat seperti Cheonyeo Gwishin(5) – yang sedang duduk menyilang kaki —  tapi bukan ‘dia’. Aku tak bisa melihat siapa ‘orang’ ini namun modelnya terlihat seperti ‘dia’ tapi ada yang berbeda karena..

“Sebaiknya kita pergi dari sini!” ajakku yang sudah kalang kabut.

Wae?” seru teman-temanku bersamaan setelah mereka melihat secara saksama ‘orang’ ini tanpa menyentuhnya dan melihatnya hanya dari jarak tak jauh dari ‘orang’ itu.

Saat itu juga segeralah aku berlari ke luar rumah tersebut tanpa melihat lagi ‘orang’ itu. Sampai di luar rumah – teras rumah tersebut – aku kegelagapan. Terkalang rasa bingung luar biasa di benakku, karena hujan ini semakin menderaskan dirinya.

Dua temanku ada yang mengikutiku berada di luar rumah, karena mereka bingung dengan sikapku. “Hey, Lee Ji Eun! Apa kau takut dengan hanok ini?” tanya salah temanku sambil sedikit tertawa.

Belum ku siap menjawab pertanyaannya, tiba-tiba ada yang menjawab pertanyaan darinya, yaitu teriakan melengking yang tak lain berasal dari dalam rumah ini.  “Aigoo! Ada apa itu?!” tanggap salah temanku yang tadi tertawa berubah 180 derajat menjadi syok campur cemas.

Mimpiku.. kataku dalam hati yang sudah kacau balau dan hanya tergambarkan satu kata saja. Benar-benar..

Aku yang setengah syok, dalam sekejap ada ‘sesuatu’ dalam diriku menyuruhku untuk kabur, bertahan hidup. Segeralah kutarik tangan masing-masing kedua temanku – yang bingung dan sedang fokus melihat rumah — untuk kabur membiarkan dengan pasrah air hujan membasahi kami semua sebelum terlambat. “Ayo!”

Mereka berdua yang kutarik terikut oleh tarikanku, namun juga menimpali ku sebuah pertanyaan yang sama, “Apa sebenarnya yang terjadi, Lee Ji Eun?!”

Gelagap. Sangat gelagap. Semua kata-kata yang ingin kusampaikan rasanya seperti tercekik di tenggorokan. Aku ingin mengatakannya, namun aku tak ingin keselamatan ini terlambat.

Tak lama kemudian setelah kabur terus-menerus di bawah derasnya hujan, salah satu temanku melepaskan tarikannya yang tentu membuatku terkejut. “Wae?!” tanyaku padanya dengan cepat.

“Mengapa kita lari seperti ini? Kita harus kembali, kita tak boleh meninggalkan mereka!” jawabnya yang setia kawan sambil berjalan untuk kembali ke rumah tadi.

Andwae! Jangan kembali pada mereka, itu bahaya! Mereka sudah menjadi zombie!” tegurku sekeras mungkin agar dia tidak kembali pada mereka.

Dia pun menghentikan langkahnya dan tertawa kecil. “Apa?! Zombie? Apa kau sedang melucu, Lee Ji Eun?”

Huh.. Zombie?” ikut temanku yang ada di sampingku bersamaan dengannya.

Hendak ku jelaskan padanya, akan tetapi samar-samar ia telah jauh dari kami berdua. Temanku yang ada di sampingku bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama.

“Kau akan segera mengetahuinya,” jawabku datar dan nada penuh yakin.

***

Kini kami sudah lumayan cukup jauh dari rumah tadi, dan kami kini berteduh sementara di sebuah gazebo untuk menunggu selesainya hujan.

Rasa tenang, sama sekali tak melekat dalam diriku. Was-was yang begitu mendalam menghantuiku setiap saat. Pikiranku sangat kacau balau. Hanya konsentrasi pada satu hal adalah bertahan hidup dari semuanya. Meskipun aku merasa sedikit kedinginan karena melawan hujan tadi.

“Lee Ji Eun, apakah kau membawa peta untuk daerah ini?” tanya temanku yang juga sedang duduk di gazebo.

Dengan cepat dan singkat, “Tidak!” jawabku setengah teriak karena begitu ketakutan dan was-was.

Mendengar jawabanku, membuat temanku cukup terkejut karena sikapku, “Ada apa denganmu hari ini, Ji Eun-ah?” lontarnya penasaran. “Kau tampak kacau.”

“Kita tak bisa tinggal lama disini. Kita harus berpindah tempat untuk bertahan hidup!” balasku yang sama sekali tidak nyambung dengan lontaran pertanyaannya.

Tanpa kami sadari, dari belakang terdapat empat orang berjalan menghampiri kami dengan langkahan persis seperti zombie. Mulailah ku menyadari keberadaannya setelah mendapatkan firasat bahwa ada seseorang di belakang. Begitu juga dengan temanku. Lantas kami pun segera berlari birit.

Sialnya, temanku satu-satunya dicekik dari belakang oleh salah satu orang tersebut. “To..tolong!” pintanya dengan suara tersendat-sendat, wajah memerah dan terlihat uratnya, dan kedua tangannya terlihat seperti mengais angin.

Kuhentikan langkahku. Sangat gelagap begitu ku melihatnya tertangkap. Haruskah aku menolongnya? tanyaku dalam hati.

Mencoba berpikir keras dan mendapatkan keputusan dalam waktu singkat itu sangat sulit untuk dilakukan karena waktu yang sangat mendesak. “Mianhae!!” balasku yang sangat terpaksa ku tolak untuk menolongnya. Kemudian aku segera berlari terus-menerus tanpa melihat ke arah belakang. Aku sama sekali tak mengetahui ke arah mana kutuju, yang kutahu hanyalah tujuan untuk bertahan hidup.

“Kau takkan bisa selamat!!” dengarku dari jarak yang sudah lumayan jauh, namun kutahu suara siapa itu.

Denyut jantungku terasa kencang dengan tiba-tiba. Mulutku ternganga dan mataku membesar bersamaan. Maafkan aku. Sangat sulit untuk menolongmu, jawabku dalam batin.

***

Waktu terus berputar. Sama sekali aku tak mengetahui sudah jam berapa ini. Tapi, malam ini telah tiba sedaritadi. Sunyian malam yang cukup menakutkan, dan angin sepoi-sepoi yang menusuk kulitku. Membuatku sama sekali tak nyaman seperti hari-hari sebelumnya. Bahkan tidur pun sangat sulit. Karena, dunia ini telah berubah. Bahaya bertebaran dimana-mana.

Bayangan temanku masih terbayang-bayang tentang kejadian tadi. Aku ingin sekali menolongnya, tetapi kesempatan ia selamat sangatlah tipis.

Lamunanku tiba-tiba terbuyar. Suara gemeresik yang lembut terdengar cukup dekat dari jarakku. Masalahnya, sekarang ku telah berada di tengah hutan, mungkin. Denyut jantungku kembali bermain-main cepat. Rasa was-was penuh menghantuiku.

Bebauan busuk menyengat di hidungku. Sungguh mempertandakanku bahwa yang datang adalah zombie. Apa yang harus kulakukan? tanyaku dalam pikiran yang penuh bertanya-tanya. Berulang kali ku bertanya pada diriku sendiri.

Aku yang sudah bersembunyi sedaritadi tetap saja merasa was-was. Mengintip ke arah zombie yang benar kuduga tadi itu berjalan terseok-seok di depanku tanpa mengetahuiku. Ku mencoba untuk menahan nafas, agar tak terdengar sama sekali suara. Hingga ia berlalu, aku merasa sedikit lega.

Berdiri, mengintip kembali ke arah zombie yang berlalu tadi. Setelah menghadap ke belakang, aku sangat dikejutkan oleh begitu dekatnya jarak zombie lain denganku. Mataku terbelalak seketika. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhku dengan cepatnya. Badanku bergemataran seketika, rasanya seperti mati rasa. Kedua tangannya hendak mencekikku, dan aku segera menunduk dan mencoba kabur.

Tangan kiriku berhasil ia tarik. Segera ku berusaha melepaskan tarikannya yang hendak ia gigit tanganku. Tangan kananku langsung kugunakan untuk menampar kepala bagian kirinya dengan keras hingga tarikannya terlepas. Jantungku berdetak dengan sangat kencang, aku langsung berlari. Terus berlari menghindar darinya.

Lari. Lari. Lari. Lari. Terus berlari. Tanpa henti ku terus berlari.

Satu gagasan terdapat di dalam otakku, Dunia telah berubah menjadi neraka.

***

Larianku terus kulakukan. Kelelahan tanpa kuakui, karena keselamatan harus terjadi. Waktu berjalan cukup cepat, pagi fajar pun menyingsing. Kini aku sudah tak tahu nama daerah yang tanahnya kupijak saat ini. Yang pasti, aku tak sengaja melihat dari jarak yang tidak jauh ada segerombolan orang yang berdesak-desakkan, terlihat bukan zombie.

Mungkin sebuah bala bantuan, pikirku.

Aku segera mendekati dan meminta bantuan berupa keselamatan. Desak-desakan para manusia untuk mendapatkan keselamatan sangatlah nyata. Aku juga.

Hingga pada akhirnya, sebagian dari yang berdesak-desakan ini berhasil berada di kereta api untuk dibawa ke tempat yang tidak terkontaminasi. Pada akhirnya, aku juga turut berada di dalam kereta api. Sepertinya keselamatan mulai terlihat dengan jelas di depan mataku, pikirku.

***

Tertelungkup di tanah berpasir. Suara berisik seperti layaknya pasar berada di sekitarku. Pandangan mataku perlahan terbuka. Dan ku merasakan kesakitan di bagian tempurung lutut kaki kanan dan siku tangan kananku. Rasa pusing hingga membuat pandanganku seperti bergetar-getar. Kuangkatkan kepalaku, kudirikan diriku.

Terkesiap seketika.

Di luar pagar besi, terdapat begitu banyak zombie yang hendak masuk. Lantas aku yang hanya sendiri saja terbingung-bingung dengan keadaanku sekarang ini. Apa yang baru saja terjadi? Tanyaku dalam batin. Keretanya..

Ku melihat ke arah belakang, terdapat sebuah kereta api yang sudah luluh lantak. Penumpang kereta api selain aku yang masih hidup, ada yang mencoba menyelamatkan dirinya dengan hanya mengandalkan tanah dataran tinggi, hingga pada akhirnya ia tak menyanggupinya dan terjatuh ke dataran rendah yang penuh dengan ribuan zombie.

Selain diriku yang beruntung sekali terjatuh di dalam pagar besi yang tadinya khusus bangunan, ada pula yang bertempatkan sama denganku. Namun, naas kakinya patah.

Semuanya.. sangat kacau sekali.

Bahkan aku mendengar sebuah kalimat seru yang tak tahu berasal darimana, “Aku ingin hidup, Tuhan!!”

Bau busuk dan darah merajarela di hidungku dan juga di hidung manusia lainnya yang masih hidup. Tak berapa lama kemudian, sebuah helikopter datang menghampiri kita. Helikopter tersebut hendak menyelamatkan para penumpang kereta api yang selamat. Untaian tali mengarah padaku. Aku segera menggapainya dan membuat diriku seperti sedang memanjat pohon. Namun bedanya, ini hanyalah tali penyelamat.

Sesaat kemudian, hingga pada akhirnya aku berhasil berada di dalam helikopter karena bantuan para penolong menarikkan talinya. Tali pun diturunkan kembali dan membawakan seorang penumpang yang selamat lagi.

Tak berapa lama kemudian, helikopter sedikitnya penuh dengan penumpang yang selamat. Pintu pun tertutup rapat, dan helikopter segera menerbangkan ke arah tempat yang tidak terkontaminasi.

Helikopter mulai naik ke atas dan berjalan di atas udara. Dari jendela helikopter, aku melihat begitu banyak sekali kerumunan zombie di luar pagar besi itu yang tak bisa dihitung jumlahnya dengan jari.

***

Sampai di suatu tempat yang tidak terkontaminasi, terlihat seperti kota, selain aku juga banyak yang berjalan kaki menuju tempat yang tidak terkontaminasi. Begitu telah masuk ke dalam tempat yang tidak terkontaminasi, rasa aman mulai menghantui pada diriku. Akan tetapi, tak sedikit pula rasa was-was menghantui. Semua orang terlihat sangat gembira. Bahkan ada yang terpukau melihat kota ini sama sekali berjalan seperti biasanya tanpa ada halangan sama sekalipun.

Mobil-mobil pun berlalu lalang. Aktivitas disini semua berjalan dengan lancar. Aku terpana melihatnya. Sungguh mengingatkanku pada saat yang lalu.

Beberapa jam kemudian..

Kini aku telah berpijak di tempat yang tidak terkontaminasi dan aktivitasnya masih berjalan lancar. Sempat ada rasa ragu-ragu untuk tinggal di kota ini, akan tetapi keselamatan mulai terlihat jika tinggal disini. Aku pun berjalan kaki, sama dengan yang lainnya, menuju ke sebuah posko-posko. Ada yang mendatangi posko pengobatan, bahkan ada yang mendatangi posko penginapan. Sedangkan aku mendatangi posko makanan.

Sudah satu hari lebih, aku tidak makan sama sekali, tidur pun juga sulit. Seusai dari posko makanan, aku hendak mendatangi kamar mandi yang disediakan. Ketika sedang berjalan menuju kamar mandi, aku tak sengaja melihat darah mengalir dari suatu ruangan. Beberapa orang lainnya juga penasaran, sama seperti diriku. Diantara mereka ada yang berani membuka pintu ruangan tersebut untuk melihat apa yang terjadi.

Begitu terbuka, terlihat seorang wanita tengah terluka. Terlihat pendarahan.

***

Pandangan mataku terbuka secara perlahan. Ku merasakan kesakitan di kepala kiriku. Tak jauh dari posisiku yang telentang, terdapat empat kaki di hadapanku. Aku segera mengangkatkan kepalaku sambil menahan rasa sakit, dan mendapati empat kaki itu berasal dari seorang laki-laki dan perempuan.

Sepertinya aku pernah melihatnya sebelumnya, pikirku begitu melihat wajah laki-laki itu.

Gwenchana?”

Aku berusaha mengangkat diriku untuk berdiri, dibantu oleh dua orang itu. Kugelengkan kepalaku pelan. “Aku Dongwoon, Son Dongwoon. Dan dia Hyewon,” ucap laki-laki yang bernama Dongwoon itu padaku, mengajakku berkenalan dengannya.

Aku mengangguk. “Lee Ji Eun.”

“Tahukah kau, kalau tempat ini sudah terkontaminasi?” tanya Dongwoon dengan mata terbuka sedikit lebar.

Kugelengkan kepalaku sekali lagi. Jadi.. yang tadi.., pikirku.

“Sebaiknya kita harus segera pergi dari sini,” ajaknya Dongwoon yang juga disetujui oleh Hyewon. Aku pun mau tak mau mengikut bersama mereka.

Kami terus mencari tempat yang aman dan tak terkontaminasi, namun itu sangat sulit. Karena zombie sudah merajarela dunia ini.

Ketika dalam perjalanan melalui motor yang bisa memuat tiga orang, aku memperhatikan seksama wajah Dongwoon itu. Terlihat persis sekali dengan apa yang ada di dalam mimpiku. Di dalam mimpiku, seorang lelaki yang persis dengan Dongwoon sedang mengebut dan menangis sambil mengingat dia bersama perempuan yang dia sukai meski tak kelihatan jelas siapa perempuan itu di dalam mimpiku.

Sesaat kemudian, kami pun beristirahat sebentar. Dongwoon memberiku sebuah obat yang berisi sepuluh kapsul. “Makanlah kapsul ini. Satu kapsul ini memiliki waktu sekiranya satu hari,” jelasnya. Akan tetapi, aku masih kurang mengerti.

“Aku dan Hyewon telah terkena virus zombie. Jadi, kapsul ini adalah obat untuk menghentikannya sementara waktu agar tidak bisa berubah menjadi zombie,” jelasnya kembali.

“Dari mana kau mendapatkannya?” bingungku sambil melihat kapsul ini.

“Saat di tempat tak terkontaminasi yang lain, kami diam-diam mengambil kapsul ini di posko pengobatan. Karena jika ketahuan, kami bisa dibunuh.”

“Jadi, jika kau sudah terkontaminasi, maka kau harus lebih berhati-hati, karena pihak yang berwajib akan membasmimu,” lanjutnya.

Aku segera menelan kapsul tersebut.

***

Selang waktu berjalan, akhirnya kami bertiga mendapati tempat yang tak terkontaminasi. Tersisa untuk kami adalah sembilan kapsul. Tak seperti biasanya, di tempat tak terkontaminasi ini, terdapat pemeriksaan yang lebih mendalam. Barang-barang yang kami bawa pun diperiksa.

Karena kapsul ini, kami berhasil masuk ke dalam tempat yang tak terkontaminasi itu.  Berada di dalamnya, aku merasa sangat asing. Tak tahu mengapa.  Apa mungkin karena aku telah tergigit oleh wanita zombie tadi yang menyebabkan ku seperti ini?

Pada tengah malamnya, aku terbangun di tenda posko. Tanpa sengaja, aku mendengar perbincangan Dongwoon dan Hyewon yang jaraknya di luar tenda posko.

“Dongwoon-ah, apa yang telah merasukimu?” tanya Hyewon yang tampak seperti kesal. “Mengapa kau memberi kapsul itu kepada orang asing?”

“Bisakah kau tidak berbicara seperti itu padanya?” jawab Dongwoon membentaknya tapi dengan suara berbisik-bisik.

Hey! Apa kau ingin membahayakan nyawa kita berdua?!” hardik Hyewon yang sedikit kencang. Yang membuat Dongwoon gelagap dan langsung menutup mulut Hyewon dengan tangan kanannya, “Bisakah kau tidak berteriak, Hyewon-ah?” bisiknya sambil mengacungkan jari telunjuknya yang ditempelkan di mulutnya bermaksud untuk diam. Seraya tengak-tengok melihat sekitar.

Seketika Hyewon yang tampak kesal, langsung menarik pergelangan tangan kanan Dongwoon. “Bukankah kita sudah berjanji bahwa kapsul itu hanya untuk kita saja?” tanya lagi Hyewon yang menagih janji. “Mengapa kau berikan pada orang asing?”

Mendengar itu, hatiku terasa pilu. Aku segera menutup kembali pintu tenda yang tadi kubukakan sedikit untuk melihat. Aku merasakan bahwa air mataku telah menetes di pipiku. Kucoba untuk menghapusnya dan kembali membaringkan tubuhku untuk tidur dan tidak mencoba untuk mendengarkannya lagi.

***

Sembilan kapsul berubah menjadi delapan setengah kapsul. Delapan setengah kapsul berubah menjadi delapan kapsul.

Melihat ini, aku terdiam. “Delapan kapsul ini untuk dua nyawa yang bersifat sementara,” gumamku datar.

Aku menghela nafas sedalam-dalamnya. Aku telah memutuskan, “Aku merasa sudah tak butuh keselamatan lagi,  Dongwoon dan Hyewon. Ini semua terjadi karena mimpiku. Semua karenaku. Aku juga dikutuk oleh beberapa orang bahkan temanku sendiri. Delapan kapsul ini adalah hak kalian. Sama sekali tak ada sangkut pautnya denganku,” jelasku ikhlas.

Aku segera berjalan menuju gerbang tempat tak terkontaminasi. Pandangan kosong.

“Kumohon jangan nekat, Ji Eun!” teriak Dongwoon  lalu mencoba menghampiriku yang sudah berada di ujung gerbang tempat tak terkontaminasi.

“Dongwoon-ah! Apa yang kau lakukan?!” teriak Hyewon terkejut melihat Dongwoon menghampiriku.

Di kiri kanan gerbang tempat tak terkontaminasi, terdapat dua penjaga bersenjata api. “Aku sudah tak layak untuk berada disini. Benar apa kata temanku, Dongwoon.”

Aku berjalan terus menerus hingga telah keluar dari tempat tak terkontaminasi. Sempat ditegur untuk tidak boleh keluar. Dongwoon terus berteriak-teriak memanggilku untuk kembali.

Air mataku hilang. Sama sekali tak bisa menangisi hidup ini yang sudah berubah menjadi neraka.

Secara tiba-tiba, aku berhenti seketika. Aku mendengar banyak suara tembakan di mana-mana. Bahkan bom pun juga terdengar tak jauh dari posisiku berdiri. Para prajurit pun kemudian mulai bersiap-siap ketika mendengar suara-suara itu. Orang-orang yang selamat diminta untuk waspada.

Aku, Dongwoon, Hyewon, dan semuanya terdiam seketika dan bingung melihat kondisi ini. Dongwoon yang posisinya tak jauh dariku, segera menarikku dan keluar dari pintu gerbang. Para prajurit yang berjaga tidak menghiraukan kami karena mereka tengah bersiap-siap.

Aku yang dibawa kabur oleh Dongwoon, menengok ke arah belakang, tepatnya ke arah Hyewon yang berteriak, “Dongwoon-ah! Kembalilah!!” dan kemudian tak terlihat karena dihalangi asap dari bom yang tak jauh darinya. Entah bagaimana kondisinya sekarang.

Sesaat kemudian masih tidak jauh dari pintu gerbang, aku melepaskan tarikannya. Dia pun berhenti berlari. Sekali lagi dia mencoba menarikku, akan tetapi kutepis. “Hentikan!” bentakku dengan pandangan kosong ke bawah. “Kembali.. Kembalilah!”

Andwae! Jika aku kembali, bagaimana denganmu?”

Kugeleng-gelengkan kepalaku. “Kumohon kembalilah pada pacarmu..,” pintaku dengan mata berkaca-kaca. “Dia sedang membutuhkanmu!”

Dia tampak menatapku dalam-dalam. Dan pada akhirnya, “Baiklah. Tapi kau harus tunggu disini. Aku akan segera kembali,” ujarnya lalu berlari masuk kembali ke tempat tadi.

Melihat dia yang sedang berlari dari belakangnya, aku bergumam, “Selamat tinggal.”

Dan aku pun berjalan pergi meninggalkannya.

***

Aku tengah duduk di bawah pohon. “Waktu tersisa 10 menit lagi,” komentarku tentang melihat jam di tanganku.

Sambil menulis di buku catatan kecilku, aku melihat ke jam tangan yang telah diberikan oleh Dongwoon.

Waktu tersisa 1 menit lagi.

Setelah selesai menulis, aku akan meletakkan buku catatan kecil ini di bawah pohon yang kuteduh tadi. Aku berjalan pelan dan melihat curamnya jurang yang di bawahnya ada sungai yang sangat deras.

Aku ingin sampaikan pada kalian semua, bahwa kematian memang menyakitkan, namun kita harus terima kenyataan.

Jika kau membaca cerita ini hingga kalimat ini, berarti kau sudah mengetahui bahwa aku telah.. tiada.

***

– Dongwoon P.O.V –

Dia.. cinta pertama dan terakhirku. Telah pergi dari gerbang tempat tak terkontaminasi ini. Aku sangat mencintainya sejak dia masih SD. Mungkin dia tak pernah tahu aku karena aku beda kelas dengannya, namun aku sangat mengetahuinya. Aku sama sekali tak ingin kehilangan dia bahkan hingga dunia telah berubah menjadi neraka sekalipun.

Delapan kapsul yang ia beri dan ia bagi empat untuk pacarku dan empat untukku, segera kuberikan kembali bagianku untuk pacarku. Aku rela meninggal demi dia. Asalkan aku tak kehilangan dia!

“Dongwoon-ah!! Kembalilah!!” teriak pacarku, Hyewon, mencoba menghentikan tekadku yang sudah bulat ini untuk kabur dengan Lee Ji Eun.

Tanpa kuduga, mendadak Lee Ji Eun melepaskan tarikanku. Begitu melihat dia melepaskan tarikanku, aku segera mencoba menariknya kembali. Akan tetapi, gagal karena ia tepis. Dia terlihat tampak kosong pandangannya. Dia memintaku untuk kembali ke tempat tadi dan kembali ke Hyewon.

Awalnya aku bersikeras menolak permintaannya. Entah kenapa aku menyetujui juga pada akhirnya meskipun ada rasa ragu-ragu menyelimutiku sehingga aku memintanya untuk tetap berada disitu.

Sampai ku di tempat tak terkontaminasi tadi, aku mencari-cari Hyewon. Tempat ini sudah berantakan. Bahkan ada bangunan yang hanya tinggal setengah beton. Asap pun mengebul kemana-mana. Prajurit-prajurit membopong senjata berlari-larian entah ke mana mereka tuju. Bahkan ada pula para perawat membawa tandu hijau tua yang tak ada yang ditiduri.

Tanpa sengaja, aku melihat kaca-kaca pecah berserakan kemana-mana yang masih terdapat patahan tutupnya, yang dapat kuyakini bahwa itu adalah delapan obat kapsul itu disebabkan karena tutupnya yang berwarna oranye.

Aku berteriak-teriak memanggil nama Hyewon walaupun suaraku terhalangi oleh suara ledakan bom yang lebih kencang. Mencoba untuk melawan suara kencangnya ledakan bom, aku terus berteriak hingga aku sedikit terbatuk-batuk. Hingga aku menemukan sebuah tenda putih yang kekotor-kotoran berdiri tegak yang ditempeli tanda “+” berwarna merah. Tak sengaja aku melihat tas ransel berwarna pink muda milik Hyewon tergeletak di meja. Sudah kupastikan bahwa Hyewon berada di dalamnya.

“Hyewon-ah!” panggilku sambil mendekati tenda itu. Namun, secara tiba-tiba banyak orang berhamburan ke luar dari tenda itu bahkan ada yang berdarah-darah dan tersungkur di tanah sambil kesakitan. Mataku seketika terbelalak melihatnya. Apa yang baru saja terjadi?! ungkapku panik dalam hati.

Orang-orang yang berhamburan itu pun juga berseru, “Tolong! Tolong!” dengan wajah panik. Aku berjalan pelan-pelan mendekati tenda itu untuk melihat apa yang terjadi. Tenda tiba-tiba ditutup oleh seorang pria — membawa stetoskop yang melingkar di lehernya – dengan tangan kiri berdarah-darah dan pergi dengan wajah ketakutan. Aku masih terpaku memandang tenda itu. Aku benar-benar bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

Tanpa diduga-duga terdapat suara teriakan berasal dari tenda tersebut. Hal yang mengejutkan lagi, terlihat bayangan tangan menamplak di kulit tenda tersebut hingga perlahan turun ke bawah. Kemudian sebuah tangan mulai merobek kulit tenda itu. Sedangkan tangan lainnya mencakar-cakar kulit tenda tersebut. Sampai aku dapat melihat dengan jelas wajah Hyewon yang penuh dengan lumuran darah. Tatapan matanya.. sungguh berbeda. Tidak seperti Hyewon biasanya.

“Hye..won,” gumamku terkejut melihatnya. Apakah dia sudah berubah menjadi..?

Seketika juga aku kabur setelah melihat Hyewon yang sudah seperti ‘itu’. Aku terus berlari hingga aku melihat sebuah motor yang tampaknya itu motor prajurit. Kulihat ke arah gerbang, semakin tambahlah kekagetanku. Di luar gerbang sama sekali tak ada Lee Ji Eun.

Dia menghilang.

Pandangan kembali mengarah pada motor prajurit itu. Tak luput aku menengok ke arah belakang yang ternyata cukup jauh dari posisiku para zombie mulai berjalan terseok-seok.

Setibaku di dekat motor prajurit — kunci nya masih menyangkut – ini, sekilat aku naiki dan ku nyalakan. Sesudah menyala, aku segera melaju kencang. Sehingga menabraki gerbang tempat tak terkontaminasi ini.

Sialnya, ada prajurit yang melihatku kabur membawa motor prajurit dan mungkin menyangka bahwa aku terkontaminasi – meskipun aku memang terkontaminasi — disebabkan kursi motor prajurit ini terdapat lumuran darah. Tanpa ia pikir panjang, ia menembaki dengan senapan padaku tepatnya mengenai punggungku. Namun, ku tahan hanya untuk Lee Ji Eun. Aku ingin sekali melindunginya dan selain itu juga ingin dia mengetahui perasaanku.

Air mata mulai terjatuh, aku ingin bersamanya hingga akhir riwayatku.

Akan tetapi.. motor ini terjatuh tepat yang jarak posisiku cukup jauh dari pintu gerbang. Aku tergeletak tak berdaya dengan luka di punggungku. Sakit luar biasa namun tak seluar biasa dengan sakitnya diriku tak bisa menemui Lee Ji Eun. Mengapa kau menghilang, Lee Ji Eun? tanyaku sedih dalam hati.

Seandainya dia dapat mendengar ku berbicara, aku akan sangat bahagia sekali meskipun aku menemui ajalku. Aku hanya ingin mengatakan..

Lee Ji Eun, jeongmal saranghae..

The End

AfterTDream-poster

Soundtrack : Tablo (Epik High) – Expiration Date

Glosarium :

(1) Precognitive Dreamer : Seorang pemimpi yang memimpikan mimpi yang memberikan informasi kepada seseorang mengenai apa yang akan terjadi di masa depan / meramal apa yang terjadi di masa depan.

(2) Retrocognitive Dreamer : Seorang pemimpi yang memimpikan mimpi yang memberi informasi kepada seseorang mengenai apa yang terjadi di masa lalu.

(3) Anak Indigo : Seorang anak yang diyakini memiliki kemampuan atau sifat yang spesial, tidak biasa, dan bahkan supernatural.

(4) Hanok Chogajip : Rumah tradisional Korea yang beratap jerami yang biasa dipakai oleh rakyat jelata.

(5) Cheonyeo Gwishin : Hantu gentayangan dari para wanita yang meninggal sebelum menikah. Bisa dikatakan mirip dengan sadako dari Jepang dan kuntilanak dari Indonesia.

P.S : Ane udah bikin nya setahun yang lalu tahun 2012 dan FF ini pernah diikutsertakan dalam lomba, namun sayang sekali kalah -_- #curhat

Ada yang penasaran dan mungkin ada yang nyangka kalau judul FF ini typo? –”

Sebenarnya itu sama sekali bukan typo. -_-

After”T’Dream / After”True’Dream : Setelah Detik (Singkat) Mimpi Nyata yang Menit (Lama)

Maksudnya apa coba itu?

Begini, untuk > After” itu maksudnya setelah kejadian mimpi nyata yang singkat, yaitu apa hayo? Tebak sendiri -_-

>True’Dream itu maksudnya mimpi nyata yang berlangsung lama

Apa lagi hayo maksudnya? Sudah ane bilang tebak sendiri (?) -_-

Jadi judul yang “unik”, “aneh”, “ajaib” itu memiliki dua makna, jadi udah sampai sini saja pengartiannya dari ane, cobalah menebak-nebak sendiri pasti kalau sudah baca sudah tahu apa maksudnya –”

Jangan lupa kalau FF ini 5 .413 kata tanpa introduce, tulisan soundtrack beserta judul soundtracknya, dan P.S ini –”

Selain itu juga ini FF #sengaja (?) diterbitkan jam 06:66 (?) #mankada atau jam 19:06 –” Entahlah gak tau kamsudnye ngapain gitu -_-

【PLEASE GIVE A PURE COMMENT・TOLONG BERIKAN KOMENTAR YANG MURNI】

33 responses to “After”T’Dream

  1. ya ampun jago aja ampe kepikiran untuk bikin ff kaya gini…. kirain si jieun bakal jadi shaman atau apa ternyata malah isdet/? sempet bikin deg”an sih pas bacanya wkwk, bingung harus komen apa yang jelas like this sekali sama ff ini hahaha

  2. Pingback: INTRO_Kazu1chi | FFindo·

  3. -_,-
    Awalnya penasaran, tengahnya deg-degan, ujungnya mewek-_-
    keren loh thor! Tentang zombie gitu kalo FF mungkin belom banyak yang bikin, cuma mungkin agak mirip Recident Evil kali ya gara gara zombienya /plak XD
    Ini beneran true story thor? tentang indigonya? Soalnya kalo tentang zombienya mah semoga jangan deh ya .-.
    Kerenlah pokoknya. Tapi sedih juga itu ternyata mimpi terakhir Jieun tentang Dongwoon…. Sedih sad ending ,_,
    Terus berkarya ya thor! Fighting!’-‘)9

  4. Pingback: After”T’Dream | Kazu1chi'te·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s