I Need a Good Husband [ Chapter 3 – New Bodyguard ]

I Need a Good Husband 4

–Storyline by Aline Park @angiiewijaya–

Main Cast

Kim Mi Jung [OC’s]
Lee Gi Kwang [Beast] as Lee Gi Kwang
Kim Myung Soo or L [Infinite] as Kim Myung Soo

Other Cast

Jung Dae Hyun [B.A.P] as Jung Dae Hyun
Lee Sung Yeol [Infinite] as Lee Sung Yeol
Bang Min Ah [Girls Day] as Bang Min Ah
Lee Howon or Hoya [Infinite] as Hoya
Kim Ah Young or Yura [Girls Day] as Kim Yura

Genre
Romance

Length
Series

Rating
Teenager, PG-17

Previous
I Need a Good Husband [ Chapter 1 – In Senior High School ]
I Need a Good Husband [ Chapter 2 – You Kiss Me When I Sleep? ]

I Need a Good Husband
Chapter 3 – New Bodyguard

Happy Reading

Mi Jung diem ngeliat Gi Kwang. Dia bingung kenapa tiba-tiba Gi Kwang bisa di hadapannya sedeket ini. Tapi dia gatau kalo Gi Kwang nyium keningnya. Jadi tentu aja bingung. Gi Kwang sendiri masih diem ketika Mi Jung udah bangun.

“Lo nga-ngapain?” tanya Mi Jung, gugup.

Gi Kwang langsung menjauh dari Mi Jung. Gatau kenapa, dia merasa kesambet sampe bisa lakuin itu ketika Mi Jung tidur. Dia udah takut Mi Jung bakal marah.

Mi Jung sendiri cuma santai, otaknya bener-bener ga beres, mikirnya juga gamau jauh-jauh. Yang tiba-tiba muncul di otaknya, sekarang jam berapa. Dan ketika ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. Ia langsung membulatkan matanya, pukul enam sore. “Ah, gue harus pergi. Besok gue bakal bantu lagi.” kata Mi Jung, yang kemudian langsung pergi keluar kelas.

Dan ketika keluar kelas, ia langsung menabrak seorang laki-laki bertubuh tinggi. Ia langsung menatap bingung ke laki-laki itu, karena laki-laki itu malah bengong pas liat Mi Jung keluar. “Kamu kenapa Myung?”

“Eh? Enggak.”

Mi Jung kemudian langsung pergi meninggalkan laki-laki itu, alias Myung Soo. Ia kemudian berpikir sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Myung Soo di luar malah bengong? Kenapa pas dia bangun, Wajah Gi Kwang udah tepat di depannya? Aneh.

Ketika Mi Jung sampai di depan sekolah. Ia tidak melihat siapapun. Hanya ada mobil berlalu lalang.

“Hukuman gara-gara gue sering kabur.” gumam Mi Jung.

Akhirnya Mi Jung coba jalan. Dia berusaha mencari halte bus. Biasalah, bingung nyari halte gara-gara jarang naik bus. Bukan, bukan gara-gara dia kaya jadi sombong, tapi karena orang tuanya yang kelewatan itu, sampe dia harus dijagain bodyguard ke manapun.

Selama beberapa menit mencari halte, akhirnya Mi Jung menemukan halte bus. Ia menunggu bus keberangkatan selanjutnya. Halte cukup ramai, maklum banyak orang yang baru saja pulang bekerja, itu membuat Mi Jung sedikt sesak. Rasanya tidak nyaman dan sangat lelah. Syukurnya, tak lama bus datang. Ia langsung menaiki bus itu. Tapi, tidak sampai di situ, cobaan datang lagi, ia harus berdiri di dalam bus.

“Hukuman gue bertambah.”

Mi Jung sama sekali tidak dapat berkonsentrasi dengan apa yang ada di sekitarnya. Bahkan, ia tidak menyadari bahwa ada seorang pria yang sedang berdiri mendekatinya. Ia berusaha meraba-raba tas Mi Jung, mencari sleting tas tersebut. Tapi, di luar dugaan, seorang laki-laki mendorong pria itu hingga jatuh, seluruh penumpang bus pun langsung heboh.

“Maaf aku membuat ribut, ia nyaris saja mencuri isi tas dari gadis ini.” Kata laki-laki itu. Ia kemudian menepuk pundak Mi Jung. “Kau tidak apa-apa?”

Mi Jung langusng membalikkan tubuhnya dan mendapat seorang laki-laki dengan kaos putih, celana panjang hitam, sepatu basket dan topi hitam yang sedang menatapnya. “Aku tidak apa-apa, memangnya ada apa?”

“Barang kamu nyaris aja diambil. Kamu enggak sadar?” tanya laki-laki itu. “Mukamu pucat, duduk aja mending, di sana ada kursi kosong kok.”

Mi Jung langsung melihat ke arah kursi kosong yang ditunjukkan laki-laki itu. Ia semakin ngeh dengan keadaan, ia menjadi pusat perhatian. “Ah, gomawo. Maaf, aku sedang tidak bisa berkonsentrasi penuh.” kata Mi Jung, yang kemudian langsung berjalan ke kursi kosong tersebut, dan langsung duduk di sana.

Dan setelah beberapa menit kemudian, ia sudah sampai di halte dekat daerah rumahnya. Ia langsung ke luar dan berjalan dikit menuju rumahnya. Mi Jung kembali melihat jam. Pukul enam lewat empat puluh lima menit. “Siap-siap lo Mi Jung, siap-siap.”. Tidak sampai lima menit, ia sudah sampai di rumahnya. Ia masuk ke dalam dengan keadaan lemas.

“Kalian ini memang tidak becus ya menjaga Mi Jung! Kalian sudah gagal berkali-kali! Aku lelah memberi kalian kesempatan.” kata eomma Mi Jung kepada seseorang di sebrang sana melalui telfon.

“Eomma.”

Eomma Mi Jung langsung menoleh ke arah Mi Jung yang memanggilnya dengan suara lemas. Ia langsung menghampiri putri satu-satunya itu. “Apa kau tidak apa-apa Mi Jung? Kenapa kau lemas sekali?”

Mi Jung hanya tersenyum tipis. “Aku hanya kelelahan.”

Eomma Mi Jung menghela nafas berat. “Kau ini kenapa sering kabur sih? Kenapa kau pulang setelat ini? Eomma rasa kau harus benar-benar dijaga bodyguard terus menerus.”

“Aku tidak mau eomma, aku sudah SMA, aku mengerti eomma mau aku terjaga, tapi tidak seperti ini. Sudahlah, aku ingin ke kamar.”

Mi Jung kemudian berjalan dengan lemas menuju kamarnya. Ia masuk ke kamar, mengambil pakaian tidur dan sehelai handuk, kemudian ia langsung memasukki kamar mandi pribadi yang ada di kamar. Ia membiarkan dirinya lebih santai, terbasahi oleh air shower. Tidak butuh waktu lama, Mi Jung sudah selesai membersihkan tubuhnya. Dengan berat, ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidurnya itu. Di saat itulah juga, ia mendengar ribut-ribut dari bawah. Karena merasa tidak begitu jelas, ia memutuskan untuk ke luar dan menguping.

“Maaf, kalian tidak kupercayai lagi sebagai bodyguard Mi Jung. Kalian dapat menjadi supir, tidak akan kupecat, jadi kalian mungkin hanya mengantar MI Jung, aku, atau Tuan Kim.” kata eomma Mi Jung, kepada dua bodyguard Mi Jung. Mi Jung langsung tersenyum bahagia, ia langsung kembali ke kamarnya. Eomma Mi Jung mengajak bodyguard Mi Jung masuk ke dalam ruang kerja Tuan Kim.

“Kalian tadi ingin menceritakan sesuatu? Apa itu? Kalian bilang tidak mau di depan bukan? Di sini sepi.”

“Ah, begini nyonya. Mobil kami mogok dan kami memutuskan untuk mengikuti Mi Jung. Dan ketika di bus, seorang pria mau mencuri isi tas Mi Jung. Kami sudah panik dan ingin menolongnya. Tapi di saat itulah seorang laki-laki menolongnya. Ia langsung mendorong pria itu hingga jatuh.” cerita salah satu bodyguard. “Apa kau tidak berpikir untuk mengangkatnya sebagai bodyguard? Daripada kau capek-capek mencari bodyguard baru?”

“Benarkah? Itu kabar baik.” jawab Eomma Mi Jung.

“Ah, kami mempunyai fotonya.” kata bodyguard itu sambil menunjukkan foto dari si laki-laki itu yang ia ambil menggunakan ponsel.

“Bawa orang itu ke sini. Besok.”

Pagi ini, Mi Jung pergi ke sekolah diantar oleh Appa nya. Dan ia syukurnya, ia selamat sampai di kelas. Kali ini dia cukup senang, pelajaran Sejarah dimajukan menjadi pelajaran pertama. Bukan karena suka pelajarannya, ia ingin mengetahui nilainya ulangannya. So Jin adalah guru yang cepat memeriksa ulangan.

“Baiklah, aku akan membagikan hasil ulangan kalian.” kata So Jin. Ia kemudian menyebutkan nilai-nilai murid. “Myung Soo 72, Min Ah 95, Sung Yeol 98, Zelo 99.”

“HAH?! GUE KALAH AMA ZELO?! KOK ZELO BISA PINTER GITU?! DIA KAN BELAJAR SAMA MIN AH, KENAPA MIN AH LEBIH RENDAH?!” teriak Sung Yeol tiba-tiba, sambil berdiri dan memukul mejanya.

“SONGSAENIM, KENAPA GA DITAMBAHIN JADI 100. ITU NANGGUNG. WAH, NANGIS NIH GUE 99, MENDING 72!” Zelo juga berteriak dan bangkit dari duduknya, setengah menyindir Myung Soo, yang nilainya tidak tinggi itu.

“Nilai kamu udah bagus kok Yeol.” kata Min Ah sambil tersenyum. Sung Yeol tersipu.

“Sudah, kalian berdua tenang sebelum saya suruh kalian nyapu satu sekolah.” kata So Jin. “Ah, maap yang ini terselip. Kim Mi Jung 100.”

“HAH?! 100?!”

Semua murid langsung berteriak. Sung Yeol dan Zelo langsung menjatuhkan kertas ulangannya. Yura langsung nebarin bunga. Sung Jong cengo. Min Ah tepuk tangan. Myung Soo shock sampe matanya terbuka lebar. Mi Jung diem liat ekspresi temen-temennya yang lain-lain itu. Ia pun kemudian maju dan mengambil kertas ulangannya.

“Mi Jung! Selamat ya, kamu emang pinter banget!” kata Min Ah. Mi Jung cengo denger pujian Min Ah.

“Jung, kok lu pinter gitu sih?” gumam Sung Yeol.

Semuanya masih terfokus dengan ekspresi mereka masing-masing.

Ketika makan siang. Satu kelas 11-B yang dapat dibilang stress–kecuali Yura yang masih normal– sedang makan bersama. Mereka sedang membahas mengenai seorang pria misterius di depan sekolah, kebetulan itu emang ngetrend. Mereka lagi bikin rencana buat nyoba iseng-iseng deketin pria itu. Soalnya, mereka semua emang penasaran, sebenernya siapa pria itu. Mi Jung, Sung Yeol, Sung Jong dan Zelo ikut berpartisipasi dalam projek itu.

“Ok, gue pasti bakal ikut.” kata Mi Jung sambil kretek-kretekkin tangannya.

“Yakin Jung? Kamu ga takut?” tanya Yura yang lagi nyempil-nyempil di belakang Mi Jung.

“Yee, ngapain takut. Emang mau diapain sih? Aku juga ga berniat deket-deketin, paling liatin doang.” jawab Mi Jung, yang buat semua yang di sana hening.

“Yaudah, pulang sekolah, kita deketin ya.” kata Jong Up, si ketua projek.

“Tapi gue gabisa lama-lama ya pit, gue ada tugas buat Graduation.” kata Mi Jung.

“Iye dah, terserah.” jawab Jong Up ketus gara-gara dibilang sipit. Tapi emang bener-bener sipit. Pada banyak yang ngejekkin dia anaknya Sung Gyu.

Semuanya pun langsung setuju dengan projek gajelas itu. Mereka semua langsung mulai nyiapin batin dengan segala apapun yang terjadi. Emang sih, ini bukan perlakuan yang bagus, tapi setidaknya, ini adalah salah satu cara mereka juga, agar mengetahui mengenai pria itu dan tidak mengganggu kenyamanan para siswa.

“EH, LO PADA RENCANAIN APAAN?!”

Semua murid yang sedang diskusi itu, langsung menoleh ke sang pemilik suara. Ternyata Hoya yang berteriak seperti itu, bersama Woo Hyun. Jong Up kemudian langsung maju untuk berbicara. “Jadi gini loh, lo pada pasti tau kan ada pria misterius depan kelas kita, nah kita pengen coba deketin. Lagian tuh ya, dia tuh mencurigakan banget, kita penasaran dia itu siapa. Nah, kita semacam bikin projek nekatan.”

“Projek dari lu emang selalu stress ya pit.” gumam Hoya.

“Jadi lu pada mau ikutan ato enggak?” tanya Jong Up ketus, karena lagi-lagi dipanggil sipit.

Hoya noleh ke Woo Hyun, Woo Hyun noleh ke Hoya. Setelah seperti mentransfer jawaban melalui mata, tiga detik kemudian, ia kembali menoleh ke arah si ketua projek. “Iya, kita ikut.” jawab Woo Hyun. Hoya melotot, Woo Hyun salah baca jawaban mata.

Tiba-tiba saja, Hoya tersadar akan sesuatu. “Eh, Yura ikutan? Kalo Yura ikut, gue ikut.”

“Kagaklah, lo pengen banget ama Yura. Cewek kayak Yura mau lo ajakkin gitu sunbae?” jawab Zelo.

“Udah ikut aja lo, seru loh.” kata Mi Jung, semacam mempromosikan projek tersebut.

Hoya menghela nafas berat, antara pengen sama enggak. Tapi akhirnya dia ngangguk juga, penasaran rasanya pengen deketin pria misterius itu. Lagian juga ada Woo Hyun ini.

Akhirnya, mereka semua kembali fokus kepada makan siang mereka. Dan setelah itu, hanya melakukan kegiatan belajar-mengajar seperti biasa. Hingga pada akhirnya, yang sudah ditunggu pun datang. Mereka udah siap-siap aja buat ke depan sekolah. Gerombolan itu terdiri dari, Jong Up sang ketua, Mi Jung, Sung Yeol, Sung Jong, Zelo, Hoya, Woo Hyun, Amber, Key, Yong Guk si senior nyasar, dan beberapa anak kelas 11 lainnya.

“Ok, sekarang gini, Mi Jung sama Zelo, lu berdua ajak ngobrol. Nah, pas asik ngobrol, gue bakal taro tas Amber di atas alas itu pria. Entar lu Ber, pura-pura panik tas lu ilang, lo teriak kek, apa kek. Sung Yeol, Sung Jong, Woo Hyun sunbae, Hoya sunbae, Key ama murid lainnya, lu pada ntar pura-pura mau gebukkin itu pria rame-rame. Nah, Yong Guk sunbae, rekam kejadiannya.” kata Jong Up, memberi perintah.

“Fungsi dari rencana lo apa Pit?” tanya Hoya.

“Gosipnya, si pria ini itu bekas narapidana, dan kelakuannya sadis banget, dia kabur. Nah, para guru sebenernya juga mau usir itu pria, tapi pada ga sanggup. Murid-murid juga pada takut kan? Maka itu, dari cara ini, mungkin aja dia malah kapok dan pergi, gara-gara ketahuan nyolong.” jawab Jong Up, mengeluarkan ide gilanya itu.

“Pit, lu ga salah apa? Ini kalo disidangin kita pelakunya!” kata Mi Jung.

“Yaudah, yang penting, lu berdua ngajak ngobrol dulu. Kalo emang ga mencurigakan, lu pada SMS kita semua, biar kita gausah lakuin. Semuanya juga harus stay tune sama ponsel ya. Jangan sampe ga baca kabar.” jawab Jong Up.

“Eh, tapi masa gue cuma ngerekam? Ga asik banget, tampang gue kan serem.” kata Yong Guk.

“Gara-gara tampang lo serem, makanya lo jadi yang ngerekam. Jadi itu orang gabisa ngelawan kalo ketahuan lagi direkam, karena tampang lo.” jawab Jong Up. “Masa mau Sung Jong atau Zelo? Kalo ketahuan udah gimana tuh.”

Zelo dan Sung Jong menatap tajam ke arah Jong Up.

Akhirnya, rencana gila Jong Up pun dimulai. Mi Jung dan Zelo berjalan mendekat dengan takut-takut. Zelo sengaja jalan di depan, takut Mi Jung ada apa-apa. Hingga pada akhirnya, mereka memberanikan diri buat manggil. “Annyeong ahjussi.” Pria itu menoleh ke belakang, dan mendapati Mi Jung dan Zelo. Wajahnya takut-takut, ia seperti akan kabur.

“Eh, ada apa ahjussi? Jangan panik gitu dong! Kita kan bukan maling! Masa tampang unyu begini ditakutin?” kata Zelo dengan pedenya.

“Kita cuma mau ngobrol-ngobrol aja kok ahjussi.” kata Mi Jung, sambil nginjek kaki Zelo gara-gara kepedeannya. Zelo cuma nahan sakit.

Dengan tanpa permisi, Mi Jung dan Zelo duduk di samping pria itu. “Ahjussi sebenernya ada tujuan apa ke sini? Udah lama juga loh ahjussi di sini.” tanya Mi Jung.

“Sembunyi.”

Mi Jung dan Zelo menatap bingung ke arah si pria. Sembunyi? Sembunyi gara-gara takut ditangkep polisi? Sembunyi gara-gara pernah nyolong sendal? Atau nyolong ayam? Atau kasus yang lain?

“Sembunyi buat apa ahjussi?” tanya Zelo, tanpa basa-basi.

Pria itu tersenyum miris. “Kalian pasti akan membenciku, atau tidak, melapor kepada polisi.”

Mi Jung menatap Zelo dengan bingung, begitu sebaliknya. Ia kemudian langsung diam-diam mengambil ponselnya. Ia memberi kabar kepada semuanya, bahwa jangan melaksanakan rencana, tampaknya, ada sesuatu yang aneh dari pria ini, bukan, bukan kejahatan, semacam penyesalan.

“Kau bisa cerita kepada kami.” kata Zelo, tanpa pikir panjang.

Lagi-lagi pria itu mengeluarkan sebuah senyuman miris. “Baiklah, jika kalian ingin tahu.” kata si pria. “Dulu, aku merasa kebahagiaan bersama keluargaku, meski terkadang meminum bir bersama temanku. Syukurnya, aku tidak sesadis mereka.” Si pria mulai bercerita. “Tapi, kemudian aku dituduh, mereka menaruh sebuah alat-alat tajam ke dalam tasku secara diam-diam saat aku tertidur di rumah temanku, setelah berkumpul. Dan pagi harinya, aku langsung pergi ke sebuah pasar swalayan untuk membeli perlengkapan pekerjaan. Satpam menemukan barang-barang tersebut, mereka langsung menuduhku, memanggil polisi. Aku akhirnya di penjara selama 5 tahun, tapi aku kemudian kabur, aku benci, aku benci dituduh. Bahkan, aku belum menemukan anakku.”

“Dan sekarang, aku harus sembunyi, aku tidak mau difitnah seperti ini. Aku yakin, jika teman-temanku menemukanku, aku akan dihabisi mereka.”

Mi Jung dan Zelo membeku mendengengar perkataan pria itu. Bisa-bisanya ada seseorang yang tega mengfitnah seperti itu. Apa salahnya? Apa dia melakukan sebuah kesalahan besar hingga mereka semua dendam kepada pria itu?

“Kau bilang, kau belum menemukkan anakmu. Memangnya, ada apa dengan anakmu?” tanya Mi Jung yang mulai penasaran itu.

Pria itu menunduk sambil menghela nafasnya. “Ternyata, anakku kabur setelah mengetahui aku masuk penjara. Ia belum mengetahui cerita sebenarnya, jadi ia kabur, kecewa padaku.” jawab pria itu. “Padahal, waktu itu adalah waktu yang sangat spesial, aku baru saja mendaftarkannya kuliah, menjelang testnya. Ia akan mengambil arsitek, bidang favoritnya. Tapi, aku difitnah, dan aku belum diberi waktu untuk menjelaskan semuanya.”

Tidak, kali ini tidak hanya Mi Jung dan Zelo yang membeku, semuanya langsung terdiam mendengar cerita si pria itu. Mereka memang langsung mendekat ketika Mi Jung memberi SMS untuk tidak melakukan rencana gila Jong Up.

Tiba-tiba saja, ekspresi wajah pria itu berubah menjadi seperti sedang berpikir, merasakan sesuatu. “Kalian lebih baik pergi dari sini. Ternyata, sekarang barulah terjadi.”

“Ada apa?”

“CEPAT PERGI!”

Dan ternyata, dari samping ada segerombolan pria-pria paruh baya. Yang berjalan mendekati mereka. Seketika, Mi Jung dan Zelo langsung menuruti apa kata pria itu, mereka berlari sekencang mungkin, dan tanpa diketahui pun, semua yang bersembunyi langsung kabur juga. Yong Guk juga merekam adegan ini, di saat yang genting seperti ini.

Mi Jung dan Zelo langsung terpisah karena kegiatan kabur tersebut. Dalam hati, mereka berdua langsung mengeluh dengan membawa-bawa nama Jong Up. Karena rencananya gila itu, mereka harus berlari seperti ini. Tapi, lagipula siapa suruh mau ikutan juga.

Ketika sudah sedikit jauh, ternyata Mi Jung menabrak kaki seorang pria yang misterius, yang sedang duduk di jalanan dan menyelonjorkan kakinya. Mi Jung mulai takut, ini hukuman lagi.

“Ya! Nona! Bisakah kau berjalan dengan matamu?! Kau ingin mencari masalah denganku ya?!”

“Ish, di mana-mana jalan pake kaki kali, lagian gue juga lari, bukan jalan.” gumam Mi Jung, yang ternyata masih dapat didengar pria itu.

“EH, LU BENER-BENER PENGEN RIBUT YE?!”

“Eh, enggak, enggak!” jawab Mi Jung dengan berteriak, kemudian ia kembali berlari lagi, karena pria itu malah mengejar Mi Jung.

“SINI LU YE! BERANI BANGET SAMA GUE!”

Tapi, ketika Mi Jung berbelok dan melewati gang, seseorang menariknya ke dalam gang itu. Memang ia sudah bersiap-siap menarik Mi Jung ke dalam gang. Mi Jung masih panik, apakah ia masih dikejar atau tidak, ia masih mengintip-intip ke belokkan tersebut. Tapi, ternyata, entah mungkin pria itu matanya udah plus atau emang udah minus, dia malah lurus, padahal jelas-jelas Mi Jung tadi belok. Mi Jung udah panik aja liat langkah pria itu, takutnya pas belok dia nya keliatan, saking paniknya, ketika Mi Jung emang dari awal yang nyender ke orang yang nyelamatinnya dengan posisi hadap-hadapan kayak pelukan, dia narik-narik baju bagian pundak orang itu.

“Kamu gapapa kan?”

Mi Jung langsung menoleh ke orang itu. Seorang laki-laki muda ternyata menolongnya. Tapi, karena merasa tidak kenal, ia langsung melepaskan pelukannya dari pria itu. “Kau siapa?”

“Kau lupa padaku? Aku yang menyelamatkanmu di bus.”

Mi Jung langsung mencoba untuk mengingat-ingat. Ternyata emang bener, laki-laki ini yang nyelamatin dia di bus. Ya maklumlah, lagi lemes-lemes susah inget muka seseorang.

Tiba-tiba, mata Mi Jung melihat ke arah jam tangannya. Ternyata sudah pukul tiga lewat empat puluh lima menit. Mi Jung langsung menepuk jidatnya. Ia terlambat empat puluh lima menit untuk mengerjakan persiapan-persiapan Graduation. “Ah, aku pergi dulu ya, aku masih ada urusan di sekolah. Terimakasih sudah menolongku!”

“Tunggu dulu,” kata laki-laki itu, sambil menarik pergelangan Mi Jung yang sudah berbalik itu. “naik motor aja, biar lebih cepet, mau lari emang?”

Mi Jung langsung melihat ke samping laki-laki itu. Ternyata ada sebuah motor ninja merah. Ia menatap ragu laki-laki itu, tapi ternyata laki-laki itu langsung menarik Mi Jung supaya naik motor dia. Mi Jung kaget juga, ngeliat laki-laki ini ternyata naiknya ninja, warna merah lagi, soalnya, menurutnya muka laki-laki itu manis, tapi manly juga kayaknya kalo naik ninja. Pikir Mi Jung.

Akhirnya, Mi Jung naik ke atas motor laki-laki itu, setelah memakai helm. “Eh, jangan ngebut-ngebut!”

Laki-laki itu menoleh ke belakang. “Aku gabisa bawa motor pelan.” laki-laki itu kemudian langsung menarik tangan Mi Jung, untuk memeluk pinggangnya. Seketika wajah Mi Jung memerah, karena secara otomatis, ia menyender ke punggung laki-laki itu.

Laki-laki itu tanpa nunggu apa-apa lagi, langsung nyalain motornya, dan mengendarainya ke sekolah Mi Jung.

Sebenernya laki-laki ini lagi jalan-jalan pake motor majikannya, dia disuruh jagain Mi Jung. Tapi, dia cukup tau diri, dan ga kayak bodyguard sebelum-sebelumnya. Dia juga mulai liat Mi Jung pas dia ga sengaja nyenggol pria tak dikenal, laki-laki itu dari jauh langsung udah siap-siap aja, awalnya mau narik Mi Jung di belokannya doang, tapi Mi Jung belok, jadi otomatis laki-laki itu ke gang, dan langsung narik Mi Jung ke dalam gang. Ya, dia adalah bodyguard baru Mi Jung, dan syukurnya, ia jauh lebih pintar daripada bodyguard-bodyguard sebelumnya, meski usianya jauh lebih muda.

Akhrinya, mereka udah sampe di sekolah Mi Jung. Mi Jung langsung cepet-cepet turun dari motor laki-laki itu.

“Makasih banget ya! Aku duluan!” kata Mi Jung, yang kemudian langsung pergi ninggalin laki-laki itu.

Mi Jung dengan cepat langsung berlari menuju aula. Ia sudah panik sekali. Ia takut kena tegur oleh Gi Kwang. Ia sudah terlambat sekali.

Ketika Mi Jung memasuki aula, semua langsung menoleh ke arahnya, terlihat Zelo sedang menghadap Gi Kwang. Mi Jung kemudian perlahan berjalan, menyusul mereka berdua. Firasatnya langsung tidak enak.

“Kenapa kalian berdua telat? Kalian seharusnya sudah di sini dari jam tiga! Aku tahu ini sebenarnya bukan tugas kalian yang sesungguhnya, tapi bisakah kallian melakukan tanggung jawab kalian? Kalian ku suruh untuk membantu, kenapa kalian malah melanggarnya, hah?!” bentak Gi Kwang.

“Maaf, kami ada urusan.” jawab Mi Jung pelan.

“Kenapa hanya kita yang dimarahi?” kata Zelo tiba-tiba. Ia langsung menoleh ke arah Hoya. Padahal jelas-jelas Hoya juga ikut terlambat.

“Emang siapa lagi yang telat? Kalian pergi tanpa izin, Hoya memberi izin atas keterlambatannya, ia mengatakan bahwa ada tugas kelompok Kimia.” kata Gi Kwang. Memang, kelas 12-A sedang diberi tugas kelompok Kimia. Tapi, Hoya menjadikan itu sebuah alasan agar tidak kena marah.

Mi Jung dan Zelo langsung membulatkan matanya. Mereka langsung menatap ganas ke arah Hoya. Bisa-bisanya ia berbohong kepada Gi Kwang. Mungkin Hoya lebih berani, karena mereka masih seumuran. Jika Mi Jung dan Zelo berbohong dan kemudian ketahuan? Mungkin mereka sudah habis dilahap Gi Kwang.

“Kalian ke luar saja, besok baru bertugas kembali.” kata Gi Kwang.

Lagi-lagi Mi Jung dan Zelo kembali terkejut, kali ini karena Gi Kwang mengusir mereka. Mi Jung dengan refleks langsung pergi, mukanya benar-benar kesal, kenapa hanya demi persiapan seperti ini mereka harus direndahkan? Kenapa bisa-bisanya Hoya selamat karena kebohongannya? Dan kenapa Gi Kwang yang memarahinya? Lalu, apa maksud dengan kejadian kemarin? Pikir Mi Jung, hatinya mulai panas.

Zelo mengikuti Mi Jung yang sudah melangkah lebih dulu itu.

Tiba-tiba saja, Mi Jung langsung melihat ke arah Myung Soo. Ia juga melihat balik ke arah Mi Jung. Myung Soo menatapnya sangat dalam, apalagi mendengar bentakkan Gi Kwang. Ada sebuah rasa ingin menghibur Mi Jung. Entahlah, kali ini ia benar-benar memerhatikan Mi Jung.

Zelo yang menangkap kejadian itu, langsung menghentikan langkahnya. Ia melihat kontak mata antara Mi Jung dan Myung Soo. Kemudian, ia langsung melihat ke arah Yura, yang sedang bekerja dengan Hoya mendekor. Entahlah, otaknya langsung tidak dapat berpikir jernih, ia menarik Mi Jung ke luar dari aula. Ia sama seperti Mi Jung, mulai panas.

“Zel, lu napa narik gua sih? Gua udah kesel banget nih!” kata Mi Jung, ketika sudah sampai di luar aula.

“Lo pikir gue ga kesel?” kata Zelo pelan.

Mi Jung diam. Ia kaget denger suara Zelo yang dingin banget, kena banget di hati. Zelo seketika langsung noleh ke arah Mi Jung. Dia bisa liat Mi Jung yang tiba-tiba langsung diem, beku denger suara Zelo. Zelo langsung hela nafas, ia kemudian langsung ngerangkul Mi Jung.

“Jung, ke kantin yuk, makan ramen, gue langsung laper gara-gara stress sama rencana si sipit gila. Gue bayarin deh.” kata Zelo, sambil langsung mengajak jalan Mi Jung, sebelum ia menjawab apapun.

Ketika sampai di kantin, Zelo langsung mesen ramen tanpa basa-basi lagi. Nyaman banget bisa di kantin sepi-sepi gini, gaada suara anak-anak teriak-teriak, dan keributan lainnya.

Tak membutuhkan waktu lama, ramen mereka berdua sudah datang. Zelo langsung dengan semangat ngambil sumpit, dia bener-bener udah laper banget, apalagi habis denger omelan Gi Kwang, langsung bunyi tuh perut. Sedangkan Mi Jung malah makan dengan pelan, tatapan matanya kosong.

“Jung,” panggil Zelo. “lo pernah rasain bingung suka sama siapa ga?”

Mi Jung langsung menoleh ke arah Zelo. “Gua rasa, enggak.” jawab Mi Jung. “Kenapa?”

Zelo menggeleng sambil tersenyum. “Gua cuma lagi bingung aja, kenapa ada orang kayak gitu, kayak suka dua orang, tapi, yang disukainnya itu ga pernah ngasih harapan ke orang ini. Mungkin, orang yang disukainnya itu ga benci, ga apa, tapi dia deket sama orang lain, tapi orang ini malah tetep aja gamau suka sama yang lain. Padahal jelas-jelas udah digituin, bodoh banget. Apalagi kalo orang itu cowok, malu.”

Mi Jung menatap bingung ke arah Zelo. “Lo lagi ngerasain gitu ya?”

Zelo terkejut mendengar perkataan Mi Jung. Dia malah enggak jawab, malah makan ramennya.

“Yura gitu? Lo soalnya caper banget ngasih dia kecoa.”

Zelo kembali terkejut denger kata-katanya Mi Jung. Dia langsung natep tajem ke arah Mi Jung. “Gue udah bilang itu disuruh Yong Guk sunbae Jung, gara-gara kalah maen batu, gunting, kertas.”

“Eh, iya, iya.” kata Mi Jung. “Siapa sih?”

“Kapan-kapan aja gue kasih tahu.” jawab Zelo. “Lo sendiri lagi ada masalah ga? Gue siap kok dengerin cerita lu.”

Mi Jung diem. Apa dia harus ceritain soal Myung Soo? Rasanya berat, masih takut dengan pikirannya orang-orang suka ga denger apa yang dia katakan.

“Kenapa? Gue bisa liat kok lo sebenernya ada masalah, kenapa gamau cerita? Emang masalah keluarga? Atau urusan cowok? Gue mau dengerin kok, gue siap tanggepin semua perkataan lu.”

“Gue .. Gue .. Gue kesel, tapi sayang sama seseorang.” kata Mi Jung, entahlah, hatinya mengatakan supaya ia menceritakannya. “Gue suka sama dia, tapi dia sendiri ga pernah perhatian sama gue, dia gabisa peka sama gue. Dia malah merhatiin cewek lain, padahal ada seseorang yang sayang dia tulus dari hati, dan itu gue! Gue orangnya Zel! Tapi, dia ga peka!”

Zelo tiba-tiba malah pindah duduk di samping Mi Jung. Dia bener-bener serius dengerin curhatannya Mi Jung. “Siapa orangnya?”

Mi Jung natep ragu ke arah Zelo. Perlukah ia memberitahunya? “Myung .. Soo ..”

Zelo diem. Apakah ini alesannya mereka bisa sampe kontak mata gitu? Mendadak Zelo mikir, dia bengong, dia gatau harus apa. Tapi, di saat yang sedih seperti itu, muncullah sesuatu di bawah kaki Mi Jung. Bulu-bulu halus mengenai kaki Mi Jung. Seketika Mi Jung menoleh ke bawah, dan ..

“AAAA! KUCING!” teriak Mi Jung ketakutan. Dia paling takut sama binatang, kecuali satu, uler. Anehnya Mi Jung ya itu.

Zelo cengo, Mi Jung yang ganas takut sama kucing. Mi Jung sendiri udah panik, bingung harus ngapain, kalo pake celana, dengan tidak segan-segan dia bakal langsung berdiri di atas kursi. Tapi sekarang? Dia menggunakan rok. Sialnya.

Zelo kemudian langsung ambil langkah, dia langsung angkat tubuh Mi Jung, dan membiarkan Mi Jung duduk di pangkuannya, tangannya meluk pinggang Mi Jung supaya ga jatoh. Kemudian, dia langsung nendang-nendang kucing itu. Beneran, dia merasa itu kucing gangguin banget.

Ketika kucing itu pergi, Mi Jung hela nafas lega. Tapi, tiba-tiba dia sadar akan sesuatu. Dia ga duduk di atas kursi, melainkan dipangkuan Zelo.

“HEH! TURUNIN GUE!”

“Kalo gamau?” jawab Zelo, sambil mengeluarkan sebuah evil smile nya.

“ZELO! TURUNIN GUE! HEH! AMBIL KESEMPATAN BANGET YA LU! GUE KETAKUTAN MALAH MANGKU GUE! GENIT LO!” teriak Mi Jung, dia mulai mukul Zelo.

“Eh, Jung, Jung, i-iya, gu-gue tu-turunin, tapi ja-jangan mu-mukul gue, gu-gue bisa ja-jatoh, Jung, ja-ja..”

BRAKK!

Mereka berdua malah jatoh. Sekarang posisi mereka menjadi tiduran, Mi Jung tepat di bawah Zelo. Kedua tangan Mi Jung langsung refleks megang lantai, sedangkan Zelo, kedua tangannya juga megang lantai. Tangannya berada di samping perut Mi Jung. Terlihat sangat romantis.

Selama beberapa saat, mereka langsung saling kontak mata. Mi Jung tersadar akan sesuatu, ternyata matanya Zelo bagus banget kalo dipandang deket kayak gitu. Matanya tajem, tapi lembut. Ditambah rambut biru gelapnya itu tertiup angin dengan halus. Bikin dia, bikin dia ..

Tiba-tiba Mi Jung tersadar dari lamunannya. “EH! CEPET BANGUN! TANGAN GUE SAKIT NAHAN LANTAI! DASAR SUKA AMBIL KESEMPATAN YA LO!” teriak Mi Jung, yang kemudian mendorong tubuh Zelo.

“Aduh, Jung, sakit beneran. Duh, gue kan berniat baik tadi nolongin lu. Bukan bermaksud apa-apa kok, serius gue.” jawab Zelo sambil merasakan kesakitannya gara-gara didorong Mi Jung.

Mi Jung kemudian langsung balik lagi duduk di kursinya. Malu banget gara-gara kejadian barusan. Untungnya penjaga kantin udah pulang –mangkoknya ditinggalkan–. Zelo pun kemudian kembali duduk, bukan di samping Mi Jung, melainkan ke tempat asalnya.

Tiba-tiba mata Zelo menatap ramen Mi Jung yang masih sisa dikit. “Eh, abisin ramen lu, gue kan udah beliin.”

“Hah?”

Zelo ngehela nafas berat, dia langsung ambil sumpit Mi Jung, mengambil ramen tersebut. Kemudian ia menyodorkannya ke depan mulut Mi Jung. “Buka mulut lu.”

“Eh? Lo mau nyuapin gue? Ga! Genit ye lo bener-bener! Dasar lo!”

“Lu pilih gue suapin atau gua pangku lagi? Atau gua kasih lagi kucingnya? Pilih mana lu?”

Mi Jung natep kesel ke arah Zelo. Akhirnya mau ga mau harus makan mie itu. Daripada dipangku atau dikasih kucing lagi? Lebih parah.

Tapi, di sela-sela Zelo nyuapin Mi Jung, Mi Jung terkikik liat Zelo. Aneh banget Zelo tiba-tiba bisa nyuapin orang, tampangnya aja ganas gitu. Lucu ngeliatnya. Sedangkan Zelo cuma pasrah liat Mi Jung.

Dan di balik itu, ada yang melihat mereka, dari sebuah jendela. Dia melihatnya dari awal. Dia cuma bisa diem.

Mi Jung keluar dari sekolah pukul setengah lima lebih, akibat insidennya bersama Zelo. Dia bingung perasaannya gimana, kesel juga, tapi lucu ngeliat Zelo nyuapin dia. Perasaan seneng? Entahlah, Zelo kan kayak lagi pendekatan sama Yura.

Dan pas dia nyampe di parkiran depan, seorang laki-laki lagi duduk di atas motornya. Mata Mi Jung sama dia ketemu, dia langsung senyum ke arah Mi Jung dan menghampirinya.

“Aku anterin pulang ya.” kata laki-laki itu, sambil mengeluarkan senyum manisnya.

“Eh? Gausah! Kamu udah nolongin aku berapa kali!” jawab Mi Jung, merasa tidak enak. Sekaligus perasaannya langsung aneh.

Laki-laki itu malah senyum lagi. “Udah, aku anterin aja, santai aja kali.” kata laki-laki itu, kemudian menarik Mi Jung, tanpa menunggu jawaban apapun.

Laki-laki itu naik duluan ke atas motornya itu, kemudian ia langsung memberikan sebuah helm kepada Mi Jung. Setelah Mi Jung memakainya, si laki-laki itu malah makein sebuah jaket ke tubuh Mi Jung. Mi Jung langsung gugup, meski dia pake helm, masih keliatan senyum dia yang manis banget itu. Wajahnya sendiri juga udah merah banget, untungnya pake helm.

“Dia manis, tapi kenapa bisa-bisanya pake ninja?” batin Mi Jung, ketika menaikki motor laki-laki itu.

Tak lama, motor itu langsung menyusuri jalanan yang ramai.

Ya, laki-laki ini emang si bodyguard baru itu. Dia sebenernya belum balik-balik, cuma jalan-jalan aja di sekitar daerah sekolah Mi Jung, nunggu Mi Jung keluar, eh pas balik, pas banget Mi Jung ke luar dari sekolah. Beruntung.

“Eh, jangan ngebut-ngebut! Aku takut.” kata Mi Jung, sedikit berteriak, karena takut tidak terdengar.

“Kan aku udah bilang gabisa bawa motor pelan-pelan, mending peluk aja kalo takut.” jawab si bodyguard.

Dengan sedikit gugup, Mi Jung meluk pinggang si bodyguard. Mukanya merah lagi, meskipun dibilang cewek yang ganas, gini-gini Mi Jung suka malu kalo ngehadapin cowok yang kayak dia. Dikit-dikit mukanya merah kayak udang rebus. Sekali lagi, untung pake helm.

Akhirnya, ga lama mereka berdua udah sampe tepat di depan gerbang rumah Mi Jung. Mi Jung langsung turun gitu aja, padahal sebenernya si bodyguard berhenti nunggu gerbangnya dibukain. Tapi, karena emang gatau itu bodyguard barunya, Mi Jung kira emang udah nyampe, turun, selese.

“Makasih ya, kamu banyak nolongin aku.” kata Mi Jung sambil tersenyum tipis, dia balikkin helm, tapi kelupaan sama jaketnya, dan dia langsung masuk ke dalem pas gerbang udah ke buka. Mukanya merah abis, masuk ke rumah pun lari-lari. Gugup.

Pas masuk ke dalam rumah, Mi Jung langsung nyender ke sofa ruang tamu. Rasanya udah nyante banget bisa di rumah, seenggaknya bisa lupain sejenak kejadian-kejadian gila hari ini, apalagi masalah Zelo. Bener-bener ga nyangka Zelo segila itu.

“Eh, Mi Jung, udah pulang.” kata eomma Mi Jung, sambil tersenyum. Mi Jung juga menjawabnya dengan senyuman yang lebar.

“Kamu pulang naik apa? Ga sama bodyguard? Dia di mana?”

Mi Jung menatap bingung ke arah eomma nya. “Bodyguard? Bodyguard siapa?”

Dan di saat yang bersamaan, si bodyguard masuk ke dalam rumah. Ia menunduk pelan sambil tersenyum ketika melihat eomma Mi Jung. Mi Jung refleks melihat juga ke arah pintu rumah. Dia kaget, mukanya mulai merah lagi. Sekarang si bodyguard juga senyum ke arah Mi Jung. Senyumnya manis, lucu, membuatnya keliatan tampan, siapapun pasti meleleh.

“DIA BODYGUARD BARU AKU?!” teriak Mi Jung sambil bangkit dari duduknya.

“Iya, kamu belum tau?” jawab eomma Mi Jung.

Mi Jung malah langsung lari ke atas kamar. Beneran kaget banget, ternyata selama ini yang nolongin dia itu bodyguard barunya. Tapi, dia merasa lain, kalo biasanya kesel dijagain melulu, kali ini dia gugup, melting.

“Loh, Jung, kenapa malah lari gitu?” tanya eomma Mi Jung, yang langsung masuk ke dalam kamar Mi Jung.

“Eomma, dia bener-bener bodyguard aku? Kok mukanya gitu banget sih.”

“Gitu banget apa nya. Ntar kamu temuin dia, kok kamu malah lari, ga sopan!” kata eomma Mi Jung, yang kemudian ke luar dari kamar Mi Jung.

Mi Jung langsung jatoh duduk di atas kasurnya. Dia cengo sendiri bayangin wajah bodyguardnya yang manis banget.

“Keliatannya manis, lucu, tapi bodyguard? Naik ninja?” gumam Mi Jung.

Mi Jung langsung gelengin kepalanya. Dia kemudian langsung ke luar, berniat ambil segelas air putih biar pikirannya tenang. Tapi, takdir emang bener-bener bikin Mi Jung ga selese-selese gugupnya, dia malah ketemu Dae Hyun juga lagi ambil air putih, badannya emang keringetan sih, pasti capek juga disuruh jadi bodyguard. Mi Jung samperin dia takut-takut. Eh, dia malah senyum lagi ke Mi Jung. Jantung Mi Jung berdetak lebih kenceng.

“Besok pulang berapa?” tanyanya.

“Gatau, ntar aku telfon aja.” jawab Mi Jung, nyoba santai. “Eh, nama kamu siapa?” tanya Mi Jung, entah kenapa, rasanya aneh banget nanya kayak gitu, kayak lagi pedekate.

“Hm?” gumam sang bodyguard. “Jung Dae Hyun.” jawabnya, dan terus menerus sambil menunjukkan senyumnya.

“Umur berapa?” Ini dia pertanyaan yang udah dipikirin Mi Jung daritadi. Muka Dae Hyun emang masih muda banget.

“Tahun ini dua puluh.”

“HAH?!” teriak Mi Jung. Dia mulai itungin perbandingannya. Dia tahun ini umur delapan belas tahun. Cuma beda dua tahun. Demi apa ada bodyguard semuda ini? Pikirnya. “Kamu baru lulus SMA tahun lalu dong?”

Dia ngangguk. “Tapi gabisa kuliah, jadi ginilah.”

Setelah ngomong kayak gitu, dia langsung berniat ninggalin dapur.

“Tunggu dulu! Aku belum selesai nanya!” Mi Jung langsung megang tangan Dae Hyun dengan kedua tangannya secara refleks. Pegangannya halus banget, bikin tangan Dae Hyun anget. “Aku manggil kamu apa? Masa nama? Ga sopan kan.”

“Terserah.” jawab Dae Hyun, sambil angkat bahu.

“Oppa?” tanya Mi Jung, dan dia langsung nunduk nahan malu.

Dae Hyun terkekeh liat kelakuan Mi Jung yang manis banget. “Yaudah, oppa juga gapapa.” jawabnya.

Tiba-tiba Mi Jung tersadar akan sesuatu, jaket Dae Hyun. “Mmm, oppa, aku boleh pegang jaket oppa dulu ga? Enak dipake.”

“Jaket aku? Ambil aja, gapapa.”

Mi Jung tersenyum lebar denger jawaban Dae Hyun, tapi mukanya masih merah juga. “Oh, iya, kalo bisa gausah pake kemeja gitu-gitu ya meski bodyguard aku, pake baju santai aja. Oppa lebih cocok pake pakaian santai.”

Dae Hyun cuma ngangguk denger permintaan Mi Jung. “Eh, aku ke kamar dulu ya, mau istirahat bentar. Kalo ada apa-apa, panggil aku aja.” kata Dae Hyun, sambil elus puncak kepala Mi Jung secara halus, sehalus-halusnya. Mi Jung cuma ngangguk, dan Dae Hyun kemudian langsung pergi.

“Mungkin ada seorang laki-laki yang nyakitin hati, tapi jika ada yang jelek, ada juga yang baik, berarti ada seorang laki-laki yang baik dan pengertian.”

Mi Jung mendadak stress pas lagi pelajaran dimulai. Dia kelupaan bawa dompet. Kalo gaada dompet, berarti ga makan, dan dia punya maag meski ga parah, makanya mau mencegah. Akhirnya, dia musti pake cara ngerepotin seseorang. Dae Hyun. Dia pergi ke toilet buat nelfon. Abis itu dia langsung balik ke kelas buru-buru, takut dicurigain.

“Lu ngapain Jung ke toilet?” tanya Sung Yeol, penasaran. Dia bahkan sampe ga merhatiin guru ngajar dan milih buat balikkin badan ngehadep Mi Jung.

“Nelfon bodyguard, dompet gua ketinggalan.”

“Nelfon om-om?”

Mi Jung melotot ke arah Sung Yeol. “Bukan om-om! Tapi, Bodyguard!”

Sung Yeol cuma bingung, Mi Jung tumbennya marah-marah pas bodyguardnya dibilang om-om, biasanya mah yang paling semangat ngejek-ngejekkin bodyguardnya.

Sekitar lima belas menit setelah percakapan Mi Jung dan Sung Yeol. Sebuah suara mengejutkan satu kelas.

TOKK .. TOKK ..

“Silahkan masuk.”

Seorang laki-laki muncul dengan kaos hitam, celana jeans dan sepatu basket sehari-harinya. “Maaf mengganggu, saya ingin bertemu dengan Mi Jung.”

Tanpa ngomong apa-apa lagi, Mi Jung langsung samperin dia. Siapa lagi kalo bukan Dae Hyun. Masa yang pake pakaian kayak gitu, bodyguard lamanya? Ga lucu kan? Dan akhirnya, Mi Jung langsung ambil dompetnya. Sedangkan para murid-murid cewek heboh liat ketampanan Dae Hyun.

“Makasih oppa, maaf ya repotin oppa terus.” kata Mi Jung.

“Gapapa, kan tugas aku.” jawab Dae Hyun, sambil tersenyum. “Yaudah, aku pergi dulu ya.”

Mi Jung ngangguk. Dompet di tangan kirinya nutupin mulutnya, sedangkan tangan kanannya lambai-lambai ke arah Dae Hyun. Bener-bener Mi Jung kesambet abis ketemu sama Dae Hyun, bisa sampe semanis itu. Ketularan manisnya Dae Hyun mungkin.

Ketika Mi Jung berjalan kembali ke bangkunya, Sung Yeol langsung ngomong dengan wajah cengonya. “Itu bener-bener bodyguard lu Jung?” Pantesan aja si Mi Jung marah-marah dia bilang om-om.

Mi Jung yang baru mau duduk itu ngejawab dengan anggukkan. Dan seketika murid cewek-cewek heboh lagi. “Jung! Kenalin dong! Beneran bodyguard lu? Masih muda, ganteng pula! Lo manggilnya bener-bener ‘oppa’?! Jung, kenalin!”

“Enak aja! Enggak! Ganjen lo pada pasti sama dia kalo dikenalin mah!” jawab Mi Jung, sambil duduk di kursinya.

Dan di saat itulah, Myung Soo sama Zelo natep Mi Jung ga percaya. Mi Jung manis banget dihadapan Dae Hyun, padahal cuma bodyguard, manggilnya juga oppa. Sama Myung Soo biasa-biasa aja, sama Zelo, gausah ditanyalah, kalian udah tau kan? Mereka takjub juga Dae Hyun bisa ngerubah Mi Jung secara drastis, sedrastis-drastisnya.

Di luar sana, Dae Hyun gabisa nahan senyumnya liat kelakuan Mi Jung, dia awalnya denger Mi Jung orangnya agak tomboy, tapi dihadapan dia malah manis banget, malah lambai-lambai lagi, abis itu jaketnya Dae Hyun masih dipake juga. Kayaknya betah banget makenya.

Di saat itulah juga, Dae Hyun pas-pasan sama Yong Guk yang abis ujian praktek OR, dan berniat ke kamar mandi buat ganti baju. Yong Guk keheranan liat Dae Hyun. Niat introgasinya muncul. “Lo siapa?”

“Ah, saya bodyguardnya Mi Jung.”

“Oh, bodyguardnya Mi Jung.” gumam Yong Guk, sambil ninggalin Dae Hyun gitu aja. Pas sampe di toilet, dia tersadar akan sesuatu.

“Bodyguardnya Mi Jung.. Bodyguardnya Mi Jung.. BODYGUARDNYA MI JUNG?!” teriak Yong Guk sambil natep cermin, malah lagi sendirian pula, bisa dianggep gila.

“Kok bisa muda gitu ya? Kok bisa ganteng gitu ya? Gue kalah kayaknya.” kata Yong Guk, sambil megang-megang mukanya. “Masa gue kalah?”

Gosip Dae Hyun mungkin sebentar lagi akan bertebaran, akibat jadi bodyguardnya Mi Jung, ganteng, muda, manis pula. Dan perilaku Mi Jung ke dia, para murid kelas 11-B bakal jadi saksi mata secara live, tanpa siaran ulang. Gosip ini ga kalah seru, ga kalah seru sama pertandingan MU vs Chelsea. Masih anget, lebih anget daripada wedang jahe. Kemudian lebih gurih, lebih gurih daripada ayam goreng tepung.

Liat aja, bentar lagi, bentar lagi ya.

To be Continued

Ini dia Chapter 3 nya~ Dan makin lama, semakin gaje dan ancur-_- Meskipun begitu, Dae Hyun sudah muncul /bagi cheesecake/

JANGAN JADI SILENT READERS, COMMENT AND LIKE KALO UDAH BACA. JIKA ADA KESALAHAN, SILAHKAN LAPOR!

Thanks for Reading ^^

136 responses to “I Need a Good Husband [ Chapter 3 – New Bodyguard ]

  1. WKWKKW sumpah dari setiap chapter pasti ada ngakaknya sama ngefly-ngefly gimana gitu awkakakwoaka daebak

  2. wahh mijung brubah gra2 daehyun.. 😀 daebak~ pantes aja brubah.. orang pas search di google manggut2… pantes jd oppanya dripada bodyguard 😀

  3. kyaaaaa~ suka masa pakek banget-nget-nget XD Setuju sm komen2 sebelumnya, makin bagus aja, bikin ngefly, senyum, ketawa, tersipu. kebayang deh jd Mi Jung, dikelilingi cowok2 cakep, keren, gokil, manis semuaaaaaaanya XD apalagi smpek disukai mereka pula. kepribadian/karakter Mi Jung jg dapet deh, bikin gregetan. walo jujur aja kadang aku bingung jg sm siapa pemeran utamanya yg jelas2 uda ditulis. krn banyaknya kebingungan dn suksesnya author ngemas cerita dn bikin penasaran. aku paling ngakak ketawa pas bagian projek stressnya si sipit baby Moon Jong UP, apalagi BYG-nya itu gokil sumpah begitu keluar 😀

  4. akhirnya DAEHYUN keluar~ mau dong punya Bodyguard kayak Daehyun~ bagus thor critanya ngefly, ngakak, kocak TvT DAEbak! xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s