I Need a Good Husband [ Chapter 4 – Graduation ]

I Need a Good Husband 4

–Storyline by Aline Park @angiiewijaya–

Main Cast

Kim Mi Jung [OC’s]
Lee Gi Kwang [Beast] as Lee Gi Kwang
Kim Myung Soo or L [Infinite] as Kim Myung Soo

Other Cast

Jung Dae Hyun [B.A.P] as Jung Dae Hyun
Lee Sung Yeol [Infinite] as Lee Sung Yeol
Bang Min Ah [Girls Day] as Bang Min Ah
Lee Howon or Hoya [Infinite] as Hoya
Kim Ah Young or Yura [Girls Day] as Kim Yura

Genre
Romance

Length
Series

Rating
Teenager, PG-17

Previous
I Need a Good Husband [ Chapter 1 – In Senior High School ]
I Need a Good Husband [ Chapter 2 – You Kiss Me When I Sleep? ]
I Need a Good Husband [ Chapter 3 – New Bodyguard ]

I Need a Good Husband
Chapter 4 – Graduation

Happy Reading

Ketika istirahat pertama, Mi Jung memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Jujur aja, lagi males banget buat pergi ke kantin, lagi pengen di tempat yang tenang nan sunyi.

Pas dia lagi nyari-nyari novel yang kira-kira enak dibaca, di belakangnya dia ada seorang laki-laki, yang lagi liat-liat buku di arah yang berlawanan dengannya. Mi Jung males banget liat laki-laki itu, dia milih buat langsung pergi dan membawa novel yang dia asal ambil.

Laki-laki itu yang melihat perilaku Mi Jung ke dirinya, langsung asal ambil buku dan pergi dari rak. Dia mulai ikutin Mi Jung. Mi Jung duduk di salah satu kursi yang depannya itu meja panjang, sedangkan laki-laki itu milih buat duduk di kursi tapi merupakan meja di depan meja Mi Jung, dan laki-laki itu duduk menghadap ke arah Mi Jung.

Mi Jung yang sadar akan perilaku laki-laki itu, langsung pergi lagi. Kali ini dia duduk di sebuah meja yang khusus untuk satu orang. Dia duduk di kursi yang disediakan. Ternyata, laki-laki itu ga kapok-kapok dengan balasan sikap Mi Jung ke dia. Akhirnya Mi Jung pasrah, dia natep tajem ke arah laki-laki itu.

“Lo ngapain sih ngikutin gue melulu?” kata Mi Jung ketus.

“Lo sendiri kenapa pergi terus pas ada gue?”

“Karena gue emang gamau diikutin lu!”

“Tapi gue mau ngikutin lu.” Si laki-laki ga pernah habis akal buat jawabin kata-kata Mi Jung. “Emang lo kenapa sih?”

“Lo merasa ga bersalah gitu sunbae habis ngusir gue sama Zelo? Gue tau kita berdua salah, tapi ga gitu juga, lo kayak ga ngehargain kita!”

“Lo berdua pacaran ye? Terus telat gara-gara abis pacaran?” balas laki-laki itu, yang udah pasti Gi Kwang, siapa lagi.

Mi Jung natep Gi Kwang bingung. Pacaran? Kapan dia pacaran sama Zelo?

“Kejadian lo di kantin gue liat semua.” kata Gi Kwang, menyadari ekspresi bingung Mi Jung.

Mi Jung balas natep tajam ke arah Gi Kwang. “Terus apa urusan lo sama kejadian di kantin? Emang lo bisa larang gitu? Lagian itu lu kira sengaja?”

“Gua cemburu.” jawab Gi Kwang pelan, tapi masih bisa didenger Mi Jung, dan kemudian dia pergi dari perpustakaan.

Mi Jung cuma diem denger kata-katanya Gi Kwang. Dia merasa ada sesuatu yang aneh dari dirinya. Masa Gi Kwang suka sama dia? Atau dia jadi kasian denger kata-katanya Gi Kwang? Tapi, dia tetep ngebela diri, dia berpikir kalo semuanya itu cuma modusan playboynya Gi Kwang biar si Mi Jung bisa kasian dan deketin dia. Mi Jung tetep membela dirinya.

Akhirnya ga lama, Mi Jung ke luar perpustakaan. Pas dia sampe di kelas, semua murid di dalem udah ribut-ribut, gatau ada apaan, si Jong Up lagi berdiri di atas kursi sambil megang secarik kertas. Kayaknya ada pengumuman. Pikir Mi Jung.

“Ok, semuanya, mari kita dengar pengumumannya, mengenai Graduation kelas 12 tahun ini.” kata Jong Up. Sebelum membacakannya, dia berdeham sedikit, memastikan suaranya. “Seperti yang kita tau, besok adalah hari H dari Graduation. Yang pertama adalah, tahun ini ada sebuah vote, mungkin nominasinya cuma dikit, tapi bakal seru banget. Dan di hari H, juga ada vote lagi, yaitu siapa yang paling keren di acara, satu cewek dan satu cowok. Kemudian yang kedua, kita harus pake pakaian formal, yang cewek pake gaun, yang cowok pake kemeja, dasi, celana panjang dan kalo bisa ada jasnya juga. Yang terakhir, ini yang paling penting dan sangat amat penting.”

Semua murid semakin fokus mendengar Jong Up mengumumkan mengenai Graduation.

“Ada The Best Couple! Ini juga berupa vote, tapi lomba. Jadi, kalian boleh selca atau foto dengan pasangan kalian, cewek sama cowok yang jelas. Nah, yang paling unik, bagus, serasi, bakal jadi pemenangnya melalui voting-voting orang yang ga ikut. Sebelum Graduation paling lambat dikumpulinnya. Hadiahnya dirahasiain, katanya sih bakal spesial banget, berhubungan dengan pasangan tersebut. Pokoknya, ayo dah, yang jomblo ajak gebetan, yang udah pacaran, ajak pacarnya atau selingkuhannya juga boleh.”

Mendengar kalimat terakhir, murid-murid sudah siap melempar kursi ke arah Jong Up. Tapi Jong Up berlindung dengan tangannya dan mengatakan ampun terus menerus.

Mi Jung biasa aja denger pengumumannya, ga kayak murid-murid yang langsung heboh, apalagi denger pake gaun. Lagian dia pakal menang nominasi apaan? Masuk pun belum tentu. Abis itu, The Best Couple? Emang mau siapa, ngarep banget ada cowok yang ngajakkin. Pikirnya, pasrah.

Jong Up yang baru aja turun dari atas kursi, langsung rapiin bajunya, berharap ada cewek yang mau bareng dia di lomba The Best Couple, kan lumayan, jadi populer juga. Atau mungkin, malah jadi melepaskan status jomblonya itu. Sung Yeol lagi siap-siap modus buat ajakkin Min Ah. Dan Zelo yang harusnya heboh, malah cuma diem duduk di tempatnya. Tumbenan kagak modusin cewek, Mi Jung langsung samperin Zelo.

“Tumben lu ga heboh, kalo ada lomba kayak gini kan lu suka langsung modus Zel.” kata Mi Jung.

“Kalo sama lu boleh ga?”

Mi Jung natep tajem ke arah Zelo. Sedangkan si Zelo cuma nyengir. “Gue ga ikutan Jung.”

Ekspresi Mi Jung langsung berubah menjadi bingung. “Ga ikutan? Maksud lo?”

“Ya gue ga ikut lombanya.”

Zelo kemudian langsung pergi dari tempat duduknya. Mi Jung natep punggung Zelo yang makin lama, makin menjauh. Dia bingung sendiri sama perilaku Zelo yang mendadak berubah itu. Kok bisa dia ga mau ikutan lomba? Apa alesannya?

Dan mari kita liat para modusan anak-anak cowok yang bersemangat buat ikut.

“Min Ah, mau ikutan The Best Couple ga?” tanya cowok-cowok, tanpa basa-basi lagi. Di sana juga ada Sung Yeol dan Jong Up.

“Eh? Kok nawarin aku semua?” tanya Min Ah, kaget.

“Udah, pilih satu aja Min.” kata Sung Jong yang lagi iseng-iseng ngobrol sama Min Ah sebelum para cowok-cowok dateng.

“Pilih satu?” gumam Min Ah pas denger kata-kata Sung Jong. Ia kemudian memerhatikan segerombolan murid-murid itu. “Mmm, sama Sung Yeol aja deh.”

Sung Yeol langsung tahan jerit, bahagia banget diterima Min Ah. Siap-siap aja dia bakal pamer sama kakaknya, Gi Kwang. Abis itu, kalo menang pasti semuanya bakal heboh, bakal jadi gosip terhangat. Tapi, Min Ah sendiri mikirnya kira-kira siapa cowok yang paling deket sama dia, dan itu adalah Sung Yeol.

Semuanya langsung lemes, kemudian mereka langsung ngeliat ke arah seorang cewek yang lagi duduk sambil baca buku. Mereka semua langsung dengan kompak lari ke cewek itu.

“Yura, sama kita yuk.”

Yura noleh ke arah gerombolan itu, dan di saat itulah Zelo balik ke kelas. Zelo merhatiin kelakuan cowok-cowok yang nawarin Yura. Yura sendiri juga liat Zelo, tatapan Zelo datar dan tajam. Akhirnya Yura mutusin sesuatu. “Aku gabisa milih sekarang.”

Semuanya langsung lemes lagi. Yura natep ke arah Zelo lagi, dia coba buat senyum, tapi Zelo abis liat senyum Yura malah langsung pergi ke tempat duduknya. Dia lagi ga semangat. Yura natep dia bingung.

Akhirnya, langkah terakhir mereka. Mereka langsung berlari ke arah Mi Jung, yang masih deket di tempat duduknya Zelo. Mi Jung kaget liat gerombolan itu langsung dateng mendadak. Mi Jung ga nyangka aja dia bisa jadi inceran.

“Jung, sama kita yuk. Kan lo lumayan cantik juga seenggaknya, meski ga gitu feminim.”

Mi Jung masih natep mereka ga percaya. Tapi, ada sebuah satu jawaban yang langsung muncul di otaknya. “Gue gamau ikut.”

Mereka semua kelewat dari lemes, nyari tepar, pingsan dan sejenis sebangsanya. Emang sih Mi Jung orangnya rada cuekkan, tapi masa ditolak? Ga percaya banget. Dan Mi Jung sendiri juga cengo, masa dia dibilang lumayan cantik? Padahal selama ini gaada cowok yang pernah muji dia gitu.

Akhirnya, bel berbunyi dan membuat semuanya balik ke tempat duduk. Sung Yeol belajarnya makin semangat gara-gara diterima Min Ah, berlainan sama cowok-cowok yang lain. Di atasnya ada awan mendung dengan air rintik-rintik menetes, wajahnya suram. Masih mikir gimana caranya buat bisa dapet couple buat lomba. Ngenes dan tragis banget kalo misalnya mereka gabisa ikutan.

Seperti biasa, semua yang bertugas buat Graduation ngumpul buat kerjain segalanya menjelang Graduation. Mereka semua gembira kali ini, hari ini adalah hari terakhir mereka capek-capekan, dan besok mereka bakal nunjukkin hasil kerja mereka. Seperti biasa, Yura sama Hoya bareng, Mi Jung milih bareng sama Cho Rong, dan di deketnya juga ada Myung Soo. Gi Kwang ngasih pengarahan-pengarahan ke para murid-murid. Zelo? Dia milih buat mainin kameranya dia, dia foto-foto aja murid-murid yang lagi kerja, dokumentasi. Tapi, dia juga masang-masang pita di tempat yang tinggi, soalnya pada saat itu, dia lah emang yang paling tinggi.

Tiba-tiba saja, Gi Kwang memanggil lima manusia, Mi Jung, Myung Soo, Zelo, Yura dan Hoya. Dia sendiri sedang memegang secarik kertas.

“Kalian kan bagian penerima tamu sama MC, sekarang tugas kalian buat dateng ke butik sini. Sekolah sengaja kasih outfit khusus buat kalian, ntar bilang aja atas nama sekolah kita, sekolah juga udah kasih tau mana outfit yang bakal kalian pake, cek namanya aja.”

Akhirnya, Hoya langsung ambil kertas alamat butik tersebut. Ia kemudian langsung mimpin buat pergi. Mereka milih buat pake bus. Di situ, ada dua buah kursi yang kosong. Ketiga laki-laki langsung beraksi.

“Mi Jung duduk situ aja.” kata Myung Soo. “Mi Jung sama Yura duduk situ aja.” kata Zelo. “Yura duduk situ aja.” kata Hoya. Mereka mengucapkan kalimat itu secara berbarengan. Mi Jung sama Yura cuma bengong. Myung Soo sama Hoya langsung natep bingung ke arah Zelo, dia satu-satunya yang nyebutin dua nama cewek. Maruk. Zelo cuma natep polos ke arah mereka berdua.

Dengan perasaan canggung dan bingung, Mi Jung sama Yura berjalan dan duduk di kursi itu. Dan dengan penuh menahan ketidakenakkan berdiri di bus yang ramai, Myung Soo, Zelo dan Hoya berusaha membuat tubuhnya tetap seimbang.

Sekitar sepuluh menit, mereka sudah sampai di butik yang jadi tujuan mereka. Mereka langsung turun tanpa basa-basi. Mereka sendiri juga cengo banget liat butiknya, butiknya mewah, berkelas, dan wah.

Hoya yang merasa sebagai yang paling tua itu, dan memang faktanya paling tua, langsung memimpin mereka semua berjalan masuk ke dalam. Ketika masuk ke dalam, mereka disambut ramah oleh pegawai-pegawai di sana. Mereka udah ngira, kalo itu segerombolan murid adalah yang mau ambil baju pesanan dari sekolah mereka yang elit itu.

“Pasti kalian ingin mengambil baju pesanan ya?” tanya salah satu pegawai.

“Ah, iya, betul.” jawab Hoya.

“Ikut aku.”

Akhirnya, mereka berlima langsung ikutin si pegawai. Hoya, Zelo, Yura demen ngeliat baju-baju yang ada di sana, sedangkan Mi Jung sama Myung Soo cuek-cuek aja, emang bakal beli gitu? Hingga pada akhirnya, mereka ke sebuah tempat di lantai dua di mana di situ cuma ada baju pesanan.

“Kalian cek saja rak paling ujung, di sana ada nama-nama baju sesuai nama kalian. Kalian juga boleh mencobanya terlebih dahulu.” kata sang pegawai.

Mereka semua cuma menjawabnya dengan anggukan. Mereka langsung mencari baju milik mereka masing-masing. Hoya seneng ngeliat sebuah jas, kemeja dan celana mewah buatnya warna putih. Myung Soo sama Zelo juga sama, tapi warna hitam, dan gaya mereka tampaknya bakal lebih santai dari Hoya karena tidak ada dasi. Yura ngeblush sekaligus seneng ngeliat yang bakal dia pake, sebuah gaun putih selutut tanpa lengan sedikit pun, pasti bakal bikin dia manis banget malam itu. Sedangkan Mi Jung, dia kaget setengah mati. Dress putih dengan ukuran luar biasa.

“Kok, bajunya besar banget.” gumam Mi Jung, yang bisa didenger semuanya, malah bajunya juga kayak centil-centil gitu.

“Oh, maaf, itu milik ‘Lee Mi Jung’, bukan kau, tampaknya namanya terbalik. Akan kuambilkan punyamu.” kata salah satu pegawai.

Mi Jung menghela nafas lega. Dia kira itu bener-bener outfitnya, kalo iya, dia ga akan ikut Graduation besok. Terus, dia mulai mikir, apa yang namanya Lee Mi Jung itu badannya gendut? Ya masa, bajunya sebesar itu. Sedangkan Mi Jung? Badannya kecil, pinggangnya aja lebih kecil daripada Yura, tapi dia juga ga pendek.

Ga lama, si pegawai itu langsung samperin Mi Jung. Di kasih outfit Mi Jung yang asli. Semua langsung diem, mau liat outfit Mi Jung yang asli. Dan seketika mereka langsung diem beku, apalagi Mi Jung. Matanya ga kedip, napasnya kayak berhenti, serba berhenti pokoknya.

“Ini milikmu.” kata pegawai itu.

Sebuah gaun hitam ketat tanpa lengan sedikit pun, kemudian itu ga panjang, melainkan pendek. Jujur aja, Mi Jung ga pernah pake gaun gituan, malu banget ketat. Sebenernya biar keliatan anggun aja penerima tamunya, outfit Myung Soo sama Zelo juga emang keliatan berkarisma dan dewasa, jadi ya Mi Jung juga harus.

“Jung, kamu gausah kaget gitu dong. Badan kamu kan bagus, pasti cocok kok pake itu.” kata Yura, berusaha menghibur Mi Jung.

Mi Jung ga menghiraukan perkataan Yura, bukan karena benci sama Yura, tapi gara-gara dia emang gabisa ngomong apa-apa lagi. Kelewatan kaget.

“Kok lu makin ngeselin sih Gi Kwang.”

Akhirnya, setelah mengambil outfit mereka masing-masing, mereka semua langsung ke luar dari butik bersamaan. Baru aja mereka mau jalan ke halte, Zelo mecahin suasana.

“Eh, gue ga ikut kalian ya, gue balik sendiri.”

“Hah? Nape? Bareng aja kali.” jawab Hoya.

“Iya Zel, kamu kenapa ga balik sama kita?” tanya Yura.

Zelo natep kaget liat Yura dengan pertanyaannya yang perhatian banget. “Udahlah, gue emang ada perlu aja, makanya musti balik sendiri. Yaudah ye, gue pergi dulu.”

Tanpa basa-basi lagi, Zelo langsung ninggalin mereka semua. Myung Soo sama Hoya cuma bingung biasa, mungkin emang bener-bener ada keperluan. Tapi, Mi Jung sama Yura enggak, firasat mereka gaenak banget pas liat Zelo kayak gitu. Tiba-tiba, mereka merasa ga siap buat besok.

Di suasana canggung itu, bus yang akan mereka gunakan datang. Mereka semua langusng naik ke dalam bus. Sedangkan Zelo yang terpisah itu, ia berjalan kaki sambil mendengarkan musik dari iPodnya. Ia berusaha terlihat senang, dengan senyum tipisnya yang khas itu. Hingga pada akhirnya, ia sampai di sebuah mall yang tidak jauh dari butik.

Semua orang yang ada di situ bingung melihat Zelo. Seorang remaja bertubuh tinggi dengan seragam sekolahnya, membawa sebuah tentengan tas yang berisikan outfitnya itu, terlebih lagi berjalan sendirian. Hanya sendirian.

Kemudian Zelo melihat dua pasangan remaja dengan seragam sekolah sedang berjalan berdua dengan romantisnya. Mereka berdua membawa es krim, mereka tertawa bersama, tanpa memperdulikan apa yang ada di sekitar mereka. Zelo tersenyum pahit.

“Aku harap aku bisa melakukannya.”

Di saat berjalan, Zelo melihat sebuah toko yang menjual banyak barang-barang lucu yang sangat disukai oleh kaum perempuan itu. Ia melihat sebuah boneka teddy bear di depan toko, tampaknya boneka teddy bear itu cukup mahal dan spesial. Zelo kemudian masuk ke dalam, dan seketika ia menjadi pusat perhatian para perempuan di situ. Bayangkan saja ada laki-laki yang terlihat cool pada saat itu, masuk ke dalam dengan menunjukkan auranya.

Zelo melihat teddy bear yang dilihatnya tadi. Teddy bear itu berwarna putih, dengan pita merah di lehernya, sambil membawa bantalan hati merah di tangannya. Ia kemudian melihat harga dari boneka itu. Jika dibuat rupiah, sekitar empat ratus ribu. Cukup mahal, karena itu adalah teddy bear berukuran tidak begitu besar. Setelah itu, ia memeriksa boneka itu, apakah cacat atau tidak. Ternyata masih terlihat bagus sempurna.

Ia membawa boneka teddy bear itu menuju kasir, tanpa pikir panjang lagi. Semua perempuan menahan teriakkan mereka, itu adalah boneka teddy bear yang sangat spesial untuk mereka.

Zelo kemudian meletakkan uang pas di atas meja kasir. Sang pegawai kasir membungkus boneka itu, dan kemudian memberikannya kepada Zelo, serta dengan struknya. Setelah menunduk sebagai ucapan terimakasih, Zelo pergi meninggalkan toko tersebut, meninggalkan aura-aura yang tidak dapat dilupakan oleh perempuan-perempuan di sana.

Ketika ke luar dari toko itu, Zelo hanya tersenyum tipis melihat bingkisan itu. Hatinya sakit sebenarnya, tapi ia tetap bahagia. Harus.

Sekolah udah sepi pas jam makan siang. Maklum, jam pulang emang dimajuin. Tapi, Mi Jung enggak pulang, iseng jalan-jalan di sekitar sekolah dulu. Dia merasa aneh sama Zelo. Kemaren lemes, sekarang ga masuk. Apa sakit?

Mi Jung masuk ke dalam kelasnya yang udah sunyi senyap itu. Dia tiba-tiba ngeliat sebuah bag di atas meja Yura. Dia langsung samperin meja Yura gara-gara penasaran. Di situ ada surat yang digantung di bag nya. Tanpa mikir panjang, Mi Jung baca suratnya.

Ini buat lo. Semoga lo suka ya. Anggep aja kenang-kenangan.
For : Yura

Setelah membaca surat itu, Mi Jung langsung mengerutkan keningnya. Kenang-kenangan? Kenapa penuh pertanyaan banget.

Mi Jung milih buat nyoba ga peduli. Ia kemudian langsung ke luar dari kelas. Di saat itulah dia ngelewatin kantor guru dan juga mendengar gosipan para guru. Kebetulan pintu kantor kebuka dikit. Mungkin mereka mikir kalo murid udah pada pulang, jadi ga bakal ada yang denger mereka ngegosip.

“Eh, dia bener-bener pindah? Hari ini dia berangkat?” kata si guru A.

“Katanya iya, dia bakal pindah ke Jerman buat lanjutin sekolahnya. Jadwal sama tempat penerbangannya itu ..” jawab si guru B, sambil memberitahu jadwal penerbangan. Mi Jung bingung dan penasaran. Dia catet jadwalnya di tangannya dengan pulpen yang ada di kantong seragam sekolahnya. Kemudian, dia langsung pergi.

Dia mutusin buat pulang, dia ga pake nelfon Dae Hyun, dia milih naik MRT. Dia bener-bener buru-buru abis denger gosip guru. Dia gatau itu siapa, tapi dia yakin, orang yang pindah itu yang kasih bingkisan ke Yura. Pasti.

Akhirnya, dia udah sampe di rumah. Ternyata udah jam lima sore. Graduation mulai jam setengah tujuh malem, jam penerbangan enam lewat empat puluh lima menit. Bandara sama rumahnya cukup jauh. Karena merasa udah mepet waktunya, Mi Jung langsung ke kamar, mandi, pake outfit yang harus dia gunain buat Graduation. Untuk ke bandara, dia pake jaket Dae Hyun ngegantung di punggungnya, biar ga gitu terbuka. Dengan diam-diam dia langsung pergi.

Dia langsung manggil taksi yang lewat di depannya. Kemudian naik dan mengatakan tempat tujuannya.

Bener aja pikirannya, ternyata macet, waktu udah nunjukkin jam enam. Tadi persiapannya lama, gara-gara dipaksa eommanya buat makan dulu. Untung tetep ga ketauan kalo dia mau ke bandara. Dan lebih parahnya lagi, dia lupa sama yang namanya MRT.

Sekitar pukul enam lewat lima belas, dia sampai di bandara. Dia langsung kasih uang ke supir, kemudian ke luar dan lari dengan secepatnya gara-gara pake high heels delapan senti. Di saat itu juga, dia langsung terkejut ngeliat seseorang yang dikenalinya nyaris memasukki barisan buat penerbangan. Dia langsung ngejar dan narik tangan orang itu. Orang itu langsung balikkin badan ke arah Mi Jung.

“Zel, lu orang yang mau pindah itu?” tanya Mi Jung yang seperti gumamnya saking kagetnya.

Orang itu tersenyum pahit ke arah Mi Jung. “Kok lu bisa tau?”

“Gue, punya firasat gaenak sama lo. Terus, juga denger omongan guru. Mereka ga sebutin nama murid, tapi gue penasaran siapa murid yang pindah itu.” jawab Mi Jung. “Lo yang ngasih hadiah ke Yura kan?”

Zelo semakin kebingungan, ternyata Mi Jung tau semuanya. Teddy Bear yang ia beli itu emang buat Yura.

“Lo suka sama Yura? Orang yang lu ceritain di kantin itu Yura kan?”

Zelo lagi-lagi ngeluarin senyum pahitnya. “Gue suka Yura. Tapi, gue tau gaada harapan buat dapetin dia. Lebih baik gue mundur. Dan soal kepergian gue, gue udah rencanain dari SMP emang. Udah impian gue pindah ke Jerman. Lu boleh kasih tau semuanya nanti pas Graduation.”

“Apa mimpi lo sepenting itu daripada orang yang lu sayangin?” jawab Mi Jung, air matanya menetes.

“Kalo gue relain orang yang gue sayang demi impian gue, apa itu berarti gue ga sayang lagi sama dia?”

Mi Jung diem denger kata-kata Zelo. Air matanya malah tambah keluar. Zelo tiba-tiba deketin Mi Jung, dia bungkukkin dikit badannya, bertatap muka dengan Mi Jung. Dia kecup bibir Mi Jung. Setelah itu, dia langsung usap air mata Mi Jung. “Lo cantik malem ini. Jangan nangis, demi gue.” kata Zelo, yang kemudian malah gerakkin kepalanya ke samping telinga Mi Jung. “Tentang yang gue ceritain, suka sama dua orang di kantin. Itu gue yang rasain, emang bener. Lu, lu termasuk Jung. Kita udah sekelas dari dulu, gue suka lu dari dulu dan gue ga pernah dapet harapan dari lu. Kemudian Yura muncul dan bikin gue labil. Sorry ya, gue emang kayak playboy.” bisik Zelo, yang kemudian mengecup pipi Mi Jung. “Gue pergi dulu. Jaga diri baik-baik ya. Saranghae.”

Setelah melakukan itu semua, Zelo langsung ninggalin Mi Jung. Mi Jung masih diam membeku. Dia tatep tubuh tinggi Zelo. Dia ga rela. Dia ga rela Zelo pergi gitu aja.

Terkadang orang ga sadar, kalau di sekitarnya ada yang tulus sayang sama dia.

Selama Mi Jung dan Zelo berada di bandara, sekolah udah rame banget dengan acara Graduation. Myung Soo yang sebenarnya sendiri, gara-gara rekannya ilang semua, dibantu Cho Rong buat nerima tamu. Hoya sama Yura lagi sibuk mandu acara.

Tapi, dibalik itu, ada yang lagi merenung. So Jin. Si guru sejarah itu lagi duduk di kantor guru. Dia lagi liatin ulangan Zelo. Dia emang minta semua murid balikkin hasil ulangan dulu, buat dimasukkin rapot.

“SONGSAENIM, KENAPA GA DITAMBAHIN JADI 100. ITU NANGGUNG. WAH, NANGIS NIH GUE 99, MENDING 72!”

Dia tersenyum tipis pas inget-inget teriakkan Zelo pas tau dapet 99. Anak yang ribut itu malah ngangenin. Dia kemudian bolak-balikkin kertas ulangan Zelo. Zelo salah satu di soal pilihan ganda. Tapi, tiba-tiba perasaan So Jin mendadak aneh. Dia liat jawaban murid-murid yang lain, terutama punya Mi Jung. Mereka semua menjawab A dan memang itu jawabannya. Sedangkan Zelo yang menjawab A malah tak sengaja ia coret karena salah.

Ia langsung mengambil pulpen merah. Menambahkan garis menjadi sebuah tanda centang. Setelah itu, ia ke lembaran pertama, di mana nilainya ditulis. Ia mencoret angka 99 itu, menjadi 100.

Senyuman tipis muncul dari bibir So Jin. Air matanya yang cukup langka itu menetes.

“Kamu mau dapet satu point lagi kan? Kamu udah dapet. Sayangnya kamu ga liat. Saya telat, maaf.”

Sekarang, sedang ada pembacaan nominasi. Mi Jung sudah kembali dari bandara. Karena emang ini udah dipertengahan, penerima tamu udah duduk di kursi penonton. Mi Jung duduk di samping Myung Soo. Dia cuma diem, masih kepikiran Zelo.

“Nah, sekarang ada nominasi spesial lagi, murid yang jadi perhatian guru, gara-gara kelakuannya. Ini guru yang voting. Menurut mereka, katanya nih anak yang satu ini jail, heboh, ribut, tapi ganteng juga kalo diperhatiin. Dan murid itu adalah..” kata Yura, membacakan sebuah nominasi. “Zelo!”

Semuanya langsung jerit-jerit. Emang Zelo itu pusat perhatian guru-guru, jail, kadang suka godain guru, tapi emang ganteng.

Jeritan murid-murid terhenti, ketika mendengar seorang perempuan berbicara dengan nada rendah tapi kencang.

“Aku yang mewakilkan maju ke depan.”

Mi Jung. Perempuan itu maju ke atas panggung. Ia berusaha tenang untuk berbicara di atas. Dia berusaha untuk mengeluarkan air mata. Sedih rasanya.

“Zelo itu orang yang baik dihadapanku, meski dia adalah biang ribut terkadang. Aku suka melihat senyum jailnya, teriakkannya. Tapi, sekarang aku, kita, kita semua tidak dapat melihatnya.” kata Mi Jung, mengawali inti perkataannya. “Pasti ia tidak menyangka menjadi murid nomor satu, atau yang terkenal dikalangan para guru. Sayangnya, ia tidak dapat mendengarnya langsung.”

Semua murid langsung bingung dengan perkataan Mi Jung. Mereka siapin kuping, mau denger baik-baik.

“Sekarang ia pergi..” Mi Jung berusaha menahan air matanya. Suaranya mendadak mengecil, tapi masih dapat didengar. “ke Jerman.”

Seketika ruangan menjadi hening. Para murid masih ga percaya kalo Zelo pergi ke Jerman. So Jin yang berdiri di belakang cuma nunduk. Yura yang lagi berdiri di atas panggung berusaha tahan air matanya. Dia pengen nangis, tapi dia lagi di atas panggung.

Mi Jung turun dari panggung tanpa ngomong apa-apa lagi. Dia masih ga percaya sama kenyataan kalo Zelo emang bener-bener pindah ke Jerman. Dia ga nyangka.

Yura kemudian langsung naik ke atas panggung, mengatur suasana. “Ya, mungkin kita sangat susah untuk melepaskan kepergian Zelo. Tapi, kita pasti masih bisa bertemu dengannya. Ia tidak akan melupakkan kita.” kata Yura, memaksakan diri untuk tersenyum. “Baiklah, kami akan mengambil waktu untuk break sejenak. Kalian bisa mengambil makanan terlebih dahulu mungkin.”

Yura langsung turun ke bawah dan menuju belakang panggung. Ia langsung duduk di meja rias dan menatap wajahnya dipantulan cermin. Air matanya kemudian menetes. Mengapa Zelo pergi tanpa mengucapkan apapun?

Hoya yang melihat Yura dari luar hanya diam. Ia merasa cemburu, Yura tampaknya tidak rela dengan kepergian Zelo. Ia takut.

Akhirnya sekitar lima menit, Hoya dan Yura kembali naik ke atas panggung. Mereka berdua berusaha terlihat bahagia agar semuanya masih nyaman dengan acara Graduation tersebut. Nominasi ini adalah yang ditunggu-tunggu. The Best Couple.

“Ok, kita akan melihat pemenang dari The Best Couple. Pemenangnya adalah..” dengan kompaknya mereka berdua membuka nominasi tersebut. Kemudian mereka membuka amplop nominasi tersebut. Tapi, seketika mereka terkejut mellihat pemenang nominasi tersebut. Dan pada saat itulah, sebuah foto muncul di semua LCD yang ada.

“ITU HOYA SAMA YURA KAN?!” teriak histeris beberapa murid perempuan, terutama para fans berat Hoya. Eun Ji bahkan sampai pingsan.

“Kapan kita mendaftar?” gumam Yura.

Tiba-tiba saja, Tae Yeon, yang mengusulkan lomba tersebut, langsung maju ke atas dengan membawa sebuah piala kepada dua MC yang cengo itu.

Fotonya adalah, ketika mereka berdua sedang mendekor aula di hari terakhir. Biasa aja sih, tapi ada aura kecocokkan di antara mereka berdua, yang memikat semua orang. Yura sendiri mulai mikir, siapa yang foto?

Zelo?

Pikiran itu mulai muncul pas dia keinget kalo Zelo bawa kamera. Tanpa basa-basi lagi, Yura nanya ke Tae Yeon dengan bisikkan.

“Eonnie, siapa yang mendaftarkan kami berdua?”

“Hm? Zelo yang mendaftar.” jawab Tae Yeon.

Yura terdiam. Wajah Zelo langsung muncul diotaknya. Mengapa laki-laki itu melakukan ini semua? Kenapa ia mendaftarkan dirinya dengan Hoya? Hatinya sedikit tertusuk.

Dibalik itu semua. Mi Jung ga denger apa-apa. Dia ketiduran gara-gara capek nangis sama mikirin Zelo. Bahkan, sekarang dengan perlahan kepalanya nempel ke pundak Myung Soo. Myung Soo kaget, diem, seneng, gatau deh.

Tapi, Mi Jung tiba-tiba langsung bangun dengan perlahan. Yang pertama kali ia liat adalah wajahnya Myung Soo. Dia kaget dan langsung ngejauh. Myung Soo ngontrol dirinya biar tenang. Ia tiba-tiba mulai nyoba angkat bicara.

“Zelo ga bakal lupain kamu kok.”

Mi Jung noleh ke arah Myung Soo yang kayaknya berusaha ngibur dia. Dia tersenyum tipis denger kata-katanya Myung Soo. Emang bener juga sih, Zelo ga bakal lupain dia kan? Suatu saat Zelo bakal berkunjung ke Korea dan bertemu dengannya.

Suatu saat.

Keesokkan harinya, semua murid merasa sangat senang. Hari ini adalah hari terakhir mereka bersekolah. Libur kenaikkan kelas sudah di depan mata. Tapi, Yura termenung di tempat duduknya. Ia menatap bingkisan di atas mejanya. Boneka teddy bear yang ia sudah ketahui siapa pemberinya. Ia tersenyum pahit mengingatnya.

Sementara itu, Mi Jung berjalan di lorong sekolah dengan keadaan lemas. Pikirannya masih kacau. Hingga pada akhirnya, seseorang di depannya berhenti tepat di depan Mi Jung.

“Lo sedih gara-gara gaada Zelo?”

Mi Jung noleh ke si pemilik suara. Seorang laki-laki bertubuh kekar sedang menatapnya dalam. “Apa urusan lo?”

“Gue cuma mau minta maaf pernah ngusir lo berdua. Dan gue cuma mau ngasih ini.” jawabnya, yang kemudian mengeluarkan sebuah cinicn dari saku celananya. Ia meletakkan cincin itu di atas telapak tangan Mi Jung. “Gue bakal kuliah di Jepang, anggep aja kenang-kenangan.”

Kemudian ia pergi meninggalkan Mi Jung. Mi Jung hanya diam membeku. Ia menatap kosong ke arah cincin itu. Entahlah, ia merasa ada yang hilang. Dan berharap itu akan segera kembali.

To be Continued

Ok, lagi-lagi Gi Kwang sama Myung Soo nya dikit, Dae Hyun nya pun juga *dibakar*. Yaudahlah, ini kan masih era sekolah. Dan sebentar lagi kita baru bakal masuk sama cerita yang aslinya. Penasaran? Pantengin makanya.

Oh, iya, yang pas part Mi Jung udah mulai ke bandara, terutama pas dia udah bareng Zelo, Author sambil denger lagu Davichi yang Turtle. Gatau arti lagunya sih, tapi kayaknya pas gitu u_u *curhat*

JANGAN JADI SILENT READERS, COMMENT AND LIKE KALO UDAH BACA. JIKA ADA KESALAHAN, SILAHKAN LAPOR!

Thanks for Reading ^^

121 responses to “I Need a Good Husband [ Chapter 4 – Graduation ]

  1. Hiks,hiks,hiks;(
    sesi ini aku kira bakalan ada adegan romantis.ternyata jalan cerita’y menyedihkan.
    Kalo zelo n Gi Kwang pergi.berarti,tinggal Myung Soo n Dae Hyun do…ng.

  2. huwahh nangis pas adegan zelo sama mijung di bandara.. 😥
    aku kira zelo bakalan ngasih bonekanya ke mijung.. gk taunya ke yura…
    sumpah zelo baik banget… udah daftarin hoya sm yura ke lomba award couple itu.. jd sedih…
    gikwangnya juga kenapa ninggalin ke jepang juga.. kan kasian mijung.. 😦
    feelnya dapet trus.. nice ff ^^

  3. huh, thor, pertama’a seneng2. Akhir’a kok sedih sih, aku juga sedih nie, gk rela zelo kluar dr cast*malah aku dukung zelo-min jung jdian. Ayo donk balikin lagi.

  4. pelik, ini terlalu pelik. nyokrok, ini terlalu nyokrok #jawanyakeluar sadis, ini terlalu sadis. apa ini? menguras emosi sekali chapter ini? awalnya seneng tp begitu jalan brasa ada seusuatu yg berbeda. dan trnyata bener, satu orang mundur dg sangat manis dn penuh pengorbanan. oh my little Zelo X( abang GiKwang jg knp mesti pergi? jd Myeong2 sm Dae2 yg bakal brlanjut buat cerita ke depannya sampai abang GiKwang keluar lgi? Dae2 itu anaknya bapak2 di projek stressnya baby Moon ya?
    aah~ aku seharian dibikin penaaran sm ff ini XO

  5. lanjut langsung bacanya nih. tadi sempet mewek mewek waktu Zelo di bandara sambil ngecup Mi Jung lagi bzzz cheesy ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s