We Can’t be Together [Oneshot]

Annyeong!!! Hyunvy comeback dengan satu ff oneshot ini. Mian kalo udah lama banger ga update disini. Semoga ff yang satu ini bisa jadi awal yang baik buat ff2 selanjutnya. Hope you enjoy it! Don’t forget to leave a comment! 🙂

190F280D4BB2548E4497D6

Title: We Can’t be Together

Author: Hyunvy (follow me @vyivyivy)

Main Cast: Kim Jonghyun (SHINee), Song Hyunwon

Length:  Oneshot

Rating : PG-13

Genre: Romance, Angst

***

Aku mencintai Kim Jonghyun dan ia pun mencintaiku. Tetapi kami tidak dapat bersatu, ya, cinta kami tidak bisa tersalurkan satu sama lain. Bukan, bukan masalah keluarga atau apapun masalah klasik lainnya, hanya saja kami tersandung pada komitmen kami masing-masing untuk tidak memiliki kekasih dalam waktu dekat ini. Menurut kami, masa-masa perkuliahan seperti sekarang ini bukanlah waktu yang tepat untuk memulai suatu hubungan yang serius. Dan satu lagi, organisasi tempat perkumpulan kami cukup ketat mengenai masalah yang satu ini.

Hubungan kami berawal sebagai pertemanan biasa, tak ada yang spesial. Sampai suatu saat waktu yang mempertemukan kami dan membuat kami bersama untuk waktu yang cukup lama.

“maaf aku merepotkanmu…” ujarku sambil menunduk, menatap kosong ke arah seat belt yang membentang di tubuhku

“ah, tidak apa-apa… lagi pula arah rumahmu dan rumahku sama” ujarnya sambil tetap fokus memandang jalanan di depannya.

Waktu itu hujan deras, malam yang cukup gelap dan agak menyeramkan. Kami dan teman-teman perkumpulan kami sedang mengadakan piknik bersama ke sebuah taman di pinggir kota. Perkumpulan kami semacam perkumpulan musisi. Entah itu pemusik maupun penyanyi, baik yang sudah profesional maupun yang masih amatir. Aku dan Jonghyun mengambil bagian yang sama, vocal. Dan dari situlah awal pertemuan kami dan awal perasaan itu muncul.

Bagiku tidak ada sesuatu yang sangat menarik dari seorang Kim Jonghyun. Ia hanya seorang namja yang masih agak kekanak-kanakan dan sangat suka bicara. Awalnya memang terlihat pendiam, tetapi ternyata yang sebenarnya adalah kebalikan dari itu. Ia cukup mahir memainkan piano. Seseorang yang multi talented.

Bisa dibilang perjalanan hubungan kami cukup cepat. Sejak saat itu kami sering berkomunikasi, entah itu chatting, melalui pesan pendek atau bahkan mengobrol langsung, dan perasaan itu perlahan tumbuh. Sikapnya mulai berubah, sikapku juga berubah. Kami mulai saling memperhatikan, mengetahui hobby, warna kesukaan, perkuliahan sampai keluarga. Aku mulai merasa nyaman bersamanya. Seiring itu pun aku harus menyadari bahwa aku tidak boleh membiarkan perasaan ini berjalan terlalu jauh. Kami tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.

“tampaknya kita sudah terlalu dekat… aku sudah terlalu nyaman denganmu…” ujarku sangat hati-hati

“kau benar, mungkin sebaiknya kita mulai mengurangi frekuensi komunikasi kita” balasmu dengan nada yang juga berhati-hati

“baiklah, mari kita coba…” ujarku dengan nada pasrah. Aku berusaha terlihat tegar dihadapannya, walaupun sebenarnya hati ini merengek, meminta agar tetap bisa menyentuh hatinya.

Mulai saat itu kami berhenti berkomunikasi dengan cara apapun. Kecuali saat pertemuan rutin tiap minggu dan saat kami ada perlu yang berhubungan dengan latihan vocal kami. Entahlah ada sebuah pemikiran yang datang entah dari mana, tetapi tiba-tiba aku terpikir untuk menjadikan sebuah buku tempatku mencurahkan semua perasaanku padanya. Aku mengambil sebuah buku tulis berukuran kecil dan mulai rajin menulisinya setiap hari. Aku menulis semua yang ingin aku sampaikan pada dirinya. Entah itu cerita mengenai perkuliahanku, keluargaku, kegiatan apa saja yang aku lakukan sampai pada perasaanku, bahwa aku mulai merindukannya.

Sayangnya usaha kami tadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Satu minggu kemudian komunikasi kami kembali berjalan lancar. Kami membicarakan apapun, apa saja yang bisa dibicarakan, walaupun hanya berakhir pada candaan atau ejekan. Tetapi semua itu yang membuat kami semakin dekat. Hatiku mulai terhubung dengan hatinya. Semakin hari semakin erat.

“kau suka makanan apa?” tanyaku melalui pesan singkat

“apapun aku menyukainya…hahaha, memangnya kenapa?”

“aku ingin memasak sesuatu untukmu. Kamis ini kau bisa datang ke rumah ku?”

“oohhh, begitu, baiklah, dengan senang hati aku bersedia mencoba masakanmu…hehehe”

“okay, mungkin aku akan membuat pasta dan calamari… apa kau menyukainya?”

“sudah ku katakan, aku menyukai semua makanan dan termasuk pasta dan calamari yang akan kau buat…”

“baguslah kalau begitu… doakan aku agar masakan ku tidak gagal nanti…hehe”

“pasti… walaupun gagal aku akan tetap menyukainya…hahahaha”

Dan entah dari mana pula ide untuk mengundangnya ke rumah ku. Kebetulan aku hanya tinggal sendiri saat ini di Seoul. Orang tua ku berada di Busan menjalankan bisnis mereka.

Hari itu pun tiba, masakan ku berhasil dan ia menyukai masakanku, seperti apa yang dikatakannya, dengan lahap ia menyantap habis semua bagiannya. Sedangkan aku, hanya tersenyum melihatnya yang sangat lahap dan berharap waktu akan berjalan selambat-lambatnya.

Kami tidak pernah sedekat ini sebelumnya. Kami menempati sofa di ruang depan rumahku. Kami duduk berdampingan. Diawali dengan pembicaraan-pembicaraan ringan seperti tim bola kesukaannya, lagu-lagu kesukaannya, sampai pembicaraan kami mulai tidak terarah dan diakhiri dengan diam. Pikiran dan fantasi kami mulai melayang-layang sampai akhirnya ia mengambil tindakan.

“mian…” ujarnya pelan sambil tangan kanannya mulai menggenggam tangan kiriku. Sama sekali aku tidak menepis tangannya, yang kulakukan adalah membalas genggamannya dan jari kami mulai saling bertautan.

“rasanya sangat nyaman…” ujarku sambil menatap kedua tangan kami yang bertautan

“tanganmu dingin sekali…” ia memandangku cemas

“tanganmu hangat sekali…” ujarku sambil menaruh kepalaku dipundaknya

Saat itu aku hanya berharap bisa terus seperti ini. Biarkan waktu berhenti dan sejenak kami melupakan semuanya dan hanya menikmati kenyamanan ini.

Kami salah, kami sudah melakukan tindakan yang benar-benar salah. Kami tidak seharusnya saling menggenggam dan aku tidak seharusnya bersandar pada pundaknya. Tetapi apa daya, kehendak hati sudah mengalahkan akal sehat.

***

Semenjak kejadian itu perasaan ini semakin nyata. Aku mencintainya. Tetapi aku tahu bahwa aku tidak akan bisa memilikinya.

Entah mengapa seminggu belakangan ini aku merasa ia mulai membuat jarak diantara kami. Ia tak lagi menanggapi pesan-pesanku, kecuali untuk hal yang penting. Jujur aku merasa bingung, aku pun agak kecewa, mungkin karena perasaan ini.

“Hyunwon-ah, apa kau ada waktu? Ada yang ingin aku bicarakan…” tiba-tiba ia mengirimkanku pesan seperti itu

“bagaimana kalau besok malam? Aku ada di rumah…” balasku setengah penasaran, kira-kira apa yang ingin ia bicarakan

“baiklah, besok jam 7 malam aku ke rumahmu… annyeong…” hanya sependek itu balasannya dan diakhiri dengan kata perpisahan. Baiklah mungkin itu salah satu tanda bahwa aku tidak perlu lagi membalas pesannya. Perasaanku saat itu? Campur aduk…

***

Ia datang tepat waktu, pukul 7 malam ia sudah mengetuk pintu rumahku. Aku membukakannya dan kami mulai duduk, di sofa ruang depan, sama persis seperti waktu itu.

Tanpa basa-basi ia langsung mengungkapkan maksud kedatangannya, hal penting yang ingin ia bicarakan.

“menurutmu bagaimana hubungan kita sekarang?” tanyanya langsung dan menohok tenggorokanku. Aku cukup tercekat dan hampir tidak bisa menjawab.

“kita semakin dekat, aku merasa nyaman bersamamu…” jawabku sejujur-jujurnya

“aku pun merasakan hal yang sama. Tetapi kau ingat komitmen kita kan?”

“ya, aku ingat… aku mengerti…”

“kalau begitu kita harus menahan diri, pasti bisa…” ujarnya dengan nada menyemangati, tapi aku yakin dirinya sendiri tidak bersemangat

“huft… baiklah…” aku hanya bisa pasrah karena memang benar apa yang dikatakannya. Kita harus berhenti, tidak bisa menjalani hubungan spesial seperti ini terus

“untuk yang terakhir kalinya…” bisiknya sambil melakukan tindakan yang sama seperti beberapa waktu yang lalu, ia kembali menggenggam tanganku. Aku menghela nafas panjang, mulai mencerna kata-katanya tadi dengan akal sehat. Aku harus bertahan, setidaknya menikmati kenyamanan ini untuk terakhir kalinya.

Ia menggenggam tanganku erat. Sekian menit kemudian tangan satunya mulai mengambil tubuhku, ia mendekapku erat, membiarkan aku bisa merasakan degup jantungnya yang lebih cepat dari biasanya. Selama itu kami hanya saling diam, hanya diiringi dengan irama nafas kami yang tidak seirama dan agak tidak beraturan. Sesekali kami menghela nafas. Entah apa yang ia pikirkan, tetapi yang ada dipikiranku saat itu hanyalah bagaimana cara untuk menghentikan waktu dan tidak sedikit pun membiarkan pelukannya mengendor.

Ia menarik tubuhnya sedikit menjauh, tetapi rangkulannya tetap melingkar di tubuhku. Ia menatap wajahku, mata kami bertemu. Aku suka pandangannya yang seperti itu. Hangat. Entahlah, semua bagian tubuhnya hangat dan sempat terpikir olehku bahwa mungkin ia adalah keturunan werewolf seperti Jacob di film Twilight.

Perlahan aku mulai mendekatkan tubuhku, kembali mendekapnya erat. Wangi tubuhnya benar-benar khas dan aku menyukainya, entahlah jenis parfum apa yang ia gunakan. Pipiku menyentuh pipinya, lembut. Aku memberanikan diri untuk sedikit berpaling, mencium pipinya. Aku bisa melihat reaksi wajahnya yang cukup lucu menurutku. Mungkin ia sedikit kaget. Aku beralih dari pipi kanan ke pipi kirinya, aku memejamkan mataku dan mulai mengecupnya.

“boleh jujur?” ucapnya tiba-tiba sambil menjauhkan tubuhnya dan menatap mataku

“ada apa?” tanyaku penasaran

“saranghae…” ujarnya pelan tetapi terdengar sangat yakin. Sudah terlalu lama aku tidak mendengar kata itu keluar dari mulut seorang namja. Aku terharu, aku tidak tahu apa reaksi apa yang seharusnya aku tunjukan. Seketika aku membenamkan wajahku ke bahunya, rasanya wajahku mulai memanas dan air mata ini siap untuk keluar dari tempat peraduannya.

“nado…” bisik ku pelan, dan ia mendekapku erat, lebih erat dari sebelumnya

Kami sudah berjanji bahwa malam itu adalah terakhir kalinya kami melakukan kontak maupun komunikasi apapun. Dan aku mulai meyakini hatiku sendiri bahwa keputusan ini adalah keputusan yang terbaik bagi kami. Kami harus mulai membuang perasaan itu jauh-jauh. Dan aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mencintainya lagi.

***

Hari-hari kami berjalan cukup baik aku rasa. Semuanya berjalan seperti biasa saja, kecuali kami tidak lagi hubungan spesial, hanya sebatas teman biasa. Sampai hari minggu kemarin, ia meminta waktuku karena ada hal yang ingin kau ceritakan dan akhirnya kami membuat janji untuk bertemu di rumahku.

Ia datang pukul 19.30, kami makan malam sebentar lalu ia mulai menceritakan apa yang ingin ia ceritakan. Ternyata ia bercerita tentang salah satu mentorku yang membuatnya agak kesal karena mentorku itu selalu menghubung-hubungkan dirinya dengan diriku. Memang mentorku itu sudah mengetahui kedekatan kami, dan ia akan berusaha sekuat mungkin agar kami tidak jatuh terlalu dalam. Tetapi sayang, kami sudah terjatuh terlalu dalam.

“mungkin maksudnya menyadarkan kita… sudahlah, tidak usah dianggap serius…” aku hanya memberikan sedikit pendapatku dan mencoba mengobati kekesalan hatinya. Terlihat wajahnya masih setengah kesal, tetapi beberapa saat kemudian kekesalannya mulai meluluh. Senang bisa melihat wajahnya yang kembali ceria.

Kami duduk di sofa itu lagi. Sofa yang sama, posisi yang sama dan perasaan yang sama mulai muncul kembali. Mungkin keputusan yang tidak tepat untuk kami berada di posisi seperti itu. Kami mulai menahan diri kami masing-masing, berusaha agar janji waktu itu tidak teringkar. Kami mulai mengobrol dengan obrolan yang sangat ringan, sampai ada saat dimana tidak ada lagi topik pembicaraan dan kami hanya terdiam, membiarkan bunyi detik jam dindingku menggema cukup kencang.

Ia mulai menghela nafas. Tangannya mulai menghampiri tanganku, tetapi sepersekian detik kemudian ia menggelengkan kepalanya dan menarik tangannya kembali. Aku tahu ia sedang berusaha keras menahan keinginan dirinya. Dan itu juga yang membuatku bertahan untuk tidak mengambil inisiatif dan melakukan tindakan bodoh yang akan mengingkari janji kami.

Duduk berdampingan dengannya saja bagiku sudah cukup. Bisa merasakan sedikit hangat tubuhnya dan bisa mencium wangi tubuhnya pun sudah cukup mengobati rinduku selama ini. Bunga yang sudah melayu itu perlahan kembali segar. Perasaan itu kembali terasa nyata.

Waktu berjalan terlalu cepat, malam semakin larut dan ia harus segera kembali ke tempatnya. Ia mulai bersiap mengenakan sepatu dan jaketnya, ia menenteng helmnya dan mulai berpamitan. Rasa hati ini ingin menahannya agar ia tetap tinggal. Aku masih belum bisa membiarkannya pergi. Aku masih terlalu merindukannya, dan sekarang dengan duduk berdampingan seperti tadi saja tidak lagi cukup bagiku.

“annyeong…” ujarnya sambil membuka pintu rumahku dan mulai berjalan keluar

“hati-hati…” balasku sambil melambaikan tanganku. Ia mulai memakai helmnya, menaiki motornya dan mulai menyalakannya

“annyeong…”ujarku kemudian. Sungguh, aku masih tidak merekalakan ia pergi. Aku masih ingin bersamanya. Aku ingin memeluknya erat, merasakan degup jantungnya. Satu-satunya hal yang ada di hatiku adalah berharap ia mematikan mesin motornya, lalu ia membuka helm nya, berlari menghampiriku yang masih ada di ambang pintu dan memelukku erat. Setidaknya biarkan hati ini sedikit mencair, sepertinya aku membiarkannya membeku terlalu lama. Sekarang hatiku hanya bisa menjerit pilu. Ia tidak kembali. ia hanya melambaikan tangannya lalu pergi.

Aku menutup pintu rumahku. Kesepian itu kembali melanda. Hatiku menangis pilu. Perasaan itu bukannya kembali melayu dan mati tetapi ia semakin kuat bertahan. Menantikan suatu saat ia akan kembali, datang, dan mengobati semua kerinduan ini.

Yang perlu ia tahu, aku masih mencintainya sampai saat ini.

-The End-

otte? gmna ceritanya? yang udah baca wajib comment yaa… butuh saran dan masukan..hehe

gomawo…

Hyunvy^^

Advertisements

30 responses to “We Can’t be Together [Oneshot]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s