Anonymous [Chapter Eight]

Anonymous [NEW]

Title : Anonymous

Author : Lathifah Sinarwulan a.k.a Summer Cho (@chosm96)

Casts :

  • Lee Yoonji a.k.a YOU *remember! It’s YOU/READER*
  • Kim Sunghee a.k.a Author *or YOU if you’re baekhyun biased/shinners/BAEKons*
  • All EXO members
  • Jill/Choi Minji a.k.a ShawolMinji the Phoenix firebird or Jack’s twin sister or Choi Minji (ShawolMinji)

Genre : Supernatural, fantasy, school live, family, friendship, little bit romance, AU

Rating : PG15~

Length : Series

Disclaimer : all casts isn’t mine, the plot inspired by MAMA MV and the story before the MV. I just own the fanfic, but you must ask my permission if you want to publish in other web. Don’t PLAGIRISM my fanfic too.

Last Chapter : TEASER | CHAPTER ONE | CHAPTER TWO | CHAPTER THREE | CHAPTER FOUR | CHAPTER FIVE | BEHIND THE FF (CUAP2 AUTHOR) | CHAPTER SIX | CHAPTER SEVEN |

ANONYMOUS IS BACK AGAIN!

MIAN BIKIN KALIAN KELAMAAN NUNGGU ^^ INI PART 8 NYA MENJELANG FINAL NEEH WKWK

DOAIN TERUS BIAR DIBERI KELANCARAN PAS NGETIK JADI CEPET SELESAI ^^

EH EH COVERNYA BAGUS NGGA? WKWK HASIL PERDANA YANG BAGUS, WKWK

–Previous

“Kau menangis?” seru Lay terkejut. Aku baru sadar air mataku mengalir sejak tadi. Akupun menghapusnya. “Kau sudah bertindak terlalu jauh, Baekhyunie. Hentikan.”

“Aku menyayanginya, hyung.”

“Kalau kau menyayanginya jauhi dia.” Seru Lay hyung tajam.

“Hajiman–“

“Kita harus tetap mengembalikan nyawa ini pada pemiliknya, Byun Baekhyun.”

# # # # #

CHAPTER EIGHT – The Show is Begin

“Neo? Aish, jeongmal ppaboya. Untung Sunghee bisa diselamatkan.”

“Mi–mianhae, hyung. Semua ini salahku. Mulai sekarang aku akan menjauhinya.”

“Kau yakin?”

“Daripada aku malah menyakitinya saat kepergian kita.”

Minseok menghela nafas lalu menatap wajah adik bungsunya yang nampak terlelap diranjangnya.

“Pulanglah, kau pasti lelah. Sudah kehabisan energi lalu panik melihat dongsaengku hampir mati karena ulahmu.” Seru Minseok sembari menepuk bahu Baekhyun dan mengajak pria itu keluar dari kamar Sunghee.

Setelah pintu tertutup rapat. Gadis yang tengah berbaring diatas ranjang membuka matanya. Ia sudah bangun sejak ia berada didalam mobil Joonmyun yang dipinjam Baekhyun. Tiba-tiba setetes air mengalir dari matanya. Ia menangis.

“Baekhyun oppa… Waeyo..” ia terisak pelan, takut suaranya terdengar sampai keluar. Itu bisa gawat. “Kenapa kau mau meninggalkanku oppa? Dan… apa maksudmu dengan kepergian kalian?”

Malam itupun Sunghee tertidur karena kelelahan akibat menangis. Dan tidak ada satupun yang tau ia menangis malam itu kecuali Tuhan.

# # # # #

Junho mengerutkan kening melihat adiknya hanya menatap kosong kearah sarapan paginya tanpa menyentuhnya sedikitpun. Kalau begini terus ia bisa terlambat sekolah.

“Ya!” Yoonji mengaduh kesakitan setelah Junho sukses mengetuk kepalanya dengan sendok. “Cepat makan, kalau tidak kau bisa terlambat sekolah.”

“Aku tidak bernafsu, oppa.”

“Wae? Apa masalah keduabelas orang itu yang membuatmu tidak nafsu makan?” tebak Junho, Yoonji pun menghela nafas membuat Junho menyangka tebakannya benar. “Mereka masih tidak ingin dibujuk?”

“Melakukan sesuatu yang besar pasti butuh pengorbanan, bukankah begitu oppa?” tanya Yoonji membuat Junho mengangguk bingung. “Itu yang harus mereka lakukan. Demi menyelamatkan dunia, mereka harus menyerahkan nyawa mereka.”

“Mwoya?” tanya Junho semakin bingung. Detik berikutnya Yoonji tersadar lalu tersenyum pada Junho.

“Aigoo, aku sudah terlambat oppa, aku berangkat dulu, annyeong!” ia mengecup pipi kakaknya itu lalu berlari keluar.

“Ya! Kau membuatku penasaran Lee Yoonji!”

Yoonji tidak mempedulikan teriakan kakaknya dan terus berlari menuju sekolah. Ketika ia sedang berlari ditrotoar. Sebuah mobil mengklaksonnya. Aneh, padahal ia berlari ditempat yang seharusnya, bukan berlari ditengah jalan.

Awalnya Yoonji tidak mempedulikan hal tersebut, namun karena sang pemilik mobil rupanya belum menyerah. Yoonji pun berbalik dan memandang kesal ke arah mobil tersebut. Ketika kaca mobil itu turun, Yoonji siap memarahi sang pengemudi.

“Ya! Kenapa kau–“ ia terbengong hebat melihat Joonmyun tersenyum dari dalam mobil.

“Kenapa kau berlari seperti itu? Apa kau terlambat? Naiklah, biar aku antar.” Serunya sambil tersenyum simpul. Karena Yoonji merasa lelah, iapun masuk ke dalam mobil Joonmyun.

Sepanjang perjalan menuju sekolah Yoonji, hanya keheningan yang tercipta. Tanpa mereka sadari, Jill duduk di jok belakang dan tidak menampakkan dirinya. Ia tersenyum simpul.

“Aku sudah tidak sabar, ayolaaah…” gerutunya gemas. Iapun meninju jok yang diduduki Yoonji membuat gadis itu tersentak.

“Ah! Engg… Joonmyun-ssi –“

“Panggil aku oppa.”

“Mwo?!”

“Kalau kau tidak memanggilku oppa, aku tidak akan menyahutmu.”

“Ya, Joonmyun-ssi.” Pria itu nampak acuh. “Kim Joonmyun!” belum bereaksi. “Joonmyun oppa…”

“Ne?” Yoonji meremas rok seragamnya gemas ketika Joonmyun menjawab.

“Tentang menyelamatkan Pohon Kehidupan itu…, aku tidak akan memaksa kalian lagi.”

CIIIIIIIIITTTTTTT!!!!!

Joonmyun menghentikan mobilnya secara mendadak membuat ban mobil dan aspal bergesekan. Dan cukup membuat Yoonji mengaduh kesakitan karena keningnya membentur dashboard mobil.

“YA! Kenapa berhenti mendadak?!” seru Yoonji kesal sembari mengelus-elus keningnya.

“Kau serius?”

“Serius apa?!”

“Tidak akan memaksa kami untuk menyelamatkan kalian?”

“Aku tidak mau kalian berkorban, ppabo! Aku tidak ingin kalian pergi!”

# # # # #

“Aku tidak mau kalian berkorban, ppabo! Aku tidak ingin kalian pergi!” oke, aku mengerti sekarang, pasti Luhan sudah menceritakannya pada gadis ini.

Tunggu, tidak ingin kalian pergi? Berarti…

“Tidak ingin aku pergi maksudmu?” godaku sambil tersenyum jahil. Yoonji terlihat salah tingkah sembari menggaruk kepalanya yang mungkin tidak gatal.

“Apa maksudmu? Aku–“

“Jangan berbohong, Yoonji-ya… Apa kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku?” Yoonji nampak tersentak mendengar kalimatku.

“J–jadi… Kau serius?!” serunya terbata-bata.

“Tentu saja aku serius!” seruku sembari mengedip jahil.

“Joonmyun hyung, ppabo.” Aku dan Yoonji serentak berbalik ke belakang dan mendapati Jongin sedang duduk dijok belakang bersama Jill.

“Baekhyun sudah merelakan rasa sayangnya demi Pohon Kehidupan, kau malah membuat masalah semakin rumit.” Gerutu Jill sembari melipat kedua tangannya.

“Ya, sejak kapan kalian disini?”

“Yoonji-ya, kau dengar sendiri kan dari Luhan kemarin? Jika kau menerima pernyataan cinta Joonmyun, kau akan menderita nantinya, atau dunia ini akan hancur dalam waktu dekat.” Jelas Jill datar.

“Aku sudah memutuskan untuk membuat mereka tidak menyembuhkan Pohon Kehidupan.”

“Wae?”

“Karena mereka tidak mau mereka saling melupakan.” Ujar Yoonji dengan nada yakin. Jill mengerutkan keningnya.

“Kau tau? Kau mengorbankan seluruh nyawa dibumi hanya untuk mereka berduabelas.” Yang lain terdiam mendengarkan pernyataan Jill. “Kau tinggal mengorbankan mereka berduabelas untuk keselamatan orang-orang dibumi. Jika kau melakukan ini semuanya akan baik-baik saja.

“Jill hentikan.” Gumam Joonmyun dengan nada dingin.

“Toh, mereka diciptakan untuk dikorbankan.”

“Jill…”

“Jika kau tetap membujuk mereka, semuanya akan selamat. Mereka kan hanya tumbal, untuk apa dipertahankan.”

“Berhenti mengatai kami tumbal!” seru Joonmyun emosi. Jill hanya tersenyum tipis menghiraukannya.

“Toh, jika kau menyelamatkan mereka, mereka juga akan mati bersamamu nanti, Yoonji-ya. Kau tidak ingin berumur pendek, kan?”

Yoonji pun bungkam sepanjang perjalanan memikirkan perkataan Jill. Sedangkan Jill dan Kai sudah menghilang entah kemana.

“Kau berencana memaksa kami untuk menolong duniamu lagi?” tanya Joonmyun tiba-tiba. “Jika kau ingin melakukannya…aku tidak akan membantahmu lagi.” Yoonji membulatkan matanya mendengar pernyataan Joonmyun.

# # # # #

Yoonji bersandar pada gerbang sekolahnya. Jam sudah menunjukkan waktu pulang sekolah dan dia memang tidak dari dalam sekolah. Dia akhirnya membolos karena perdebatan kecil tadi pagi. Kini ia tengah menunggu seseorang.

“Yoonji-ya!” ia tersenyum lalu melambai pada Sunghee yang berlari ke arahnya. “Kenapa tidak masuk tadi? Kau membolos lagi? Kita sudah tahun terakhir, kalau kau seperti ini terus, bisa bahaya!”

“Hehe, mianhae! Ada masalah penting tadi pagi!”

“Berjanji padaku untuk tidak membolos lagi!” Sunghee menyodorkan kelingkingnya disambut uluran kelingking Yoonji. Kelingking mereka pun bertautan. “Sekarang kita kemana?”

“Aku lapar. Kita ke kedai ramyun yang biasa yuk! Sudah lama tidak kesana!”

“Oke, kajja!” Sunghee menggandeng Yoonji dengan semangat. Lain dengan sahabatnya itu yang terlihat lemas.

Mereka sampai dikedai ramyun favorit mereka, dan memilih duduk dipojok, tempat favorit mereka. Setelah memesan Sunghee langsung mengerutkan kening melihat wajah Yoonji. “Ada masalah apa?”

“Apa yang harus kita perbuat sekarang?” tanya Yoonji sembari mengusap wajahnya. Ia terlihat frustasi. “Kita tidak boleh hanya memikirkan mereka, disini ada bermiliyar penduduk bumi yang harus diselamatkan juga.”

Sunghee menghela nafas lalu memainkan tisu yang ada dihadapannya. “Sudah kuputuskan, aku akan membujuk mereka.” Ujarnya mantap.

“Kau yakin? Bagaimana dengan Baekhyun?”

“Kalau kita jodoh, kita pasti akan bertemu lagi nanti.” Jawabnya santai. Pembicaraan mereka pun sempat terhenti karena pesanan mereka datang. Sunghee langsung meraih sumpitnya dan bersiap-siap untuk makan.

“Tapi mereka kan akan lupa kalau mereka pernah kenal dengan kita?” tanya Yoonji lagi. Sunghee yang hendak menyuapkan mie ke mulutnya mendesah lalu meletakkan sumpitnya.

“Daripada mengorbankan seluruh nyawa dibumi ini? Lebih baik mereka melupakan kita kan? Sudah kubilang, kalau kita jodoh pasti akan bertemu, aku yakin itu.”

Yoonji hanya mengangguk-angguk lalu mulai memakan mienya menyusul Sunghee yang sudah menyantap mienya duluan.

# # # # #

Lay memandang bayangan Planet EXO dilangit. “Lihatlah, bayangan itu semakin dekat.” Gumamnya. Aku mendesah dan memilih berbaring menatap bintang-bintang diatas sana. Lebih menarik daripada bayangan Planet EXO.

“Daripada kalian bermalas-malasan menatap bayangan yang semakin dekat disini, lebih baik mulai merundingkan keputusan kalian.” Kami tersentak dan langsung menoleh ke ujung atap. Jill berdiri disana sambil melipat tangannya.

Jill berjalan ke tengah dan seluruh mata mengikuti langkahnya. Akupun yang sebenarnya tidak tertarik tetap memandangnya. Ia memakai dress berwarna merah dengan tali-tali aneh yang melilit kedua lengan dan kedua kakinya.

“Aku akan kembali ke rumah lusa. Bagaimana dengan kalian? Ikut, atau tidak?”

Aku bangkit lalu memasukkan tanganku ke saku celana. “Aku akan ikut.” Semua nampak terkejut dengan keputusanku. Namun, tidak lama kemudian Sehun ikut bangkit.

“Aku juga.”

Chanyeol pun ikut bangkit. “Baekhyun ikut, akupun harus ikut bukan.”

Lalu Kyungsoo, Lay, dan Tao pun ikut bangkit. “Aku tidak punya hal yang mengesankan disini, jadi tidak masalah.” Seru Lay dengan wajah dinginnya.

Kris dan Luhan mendekat ke arah kami. “Mereka tidak akan teratur tanpa ketua.” Ujar Kris sembari mengangkat bahunya. Luhan hanya tersenyum simpul disampingnya.

“Baekhyun-ah, bagaimana dengan Sunghee?” tanya Joonmyun yang masih duduk-duduk dilantai atap.

“Sudah kuputuskan, aku akan pergi demi kebaikannya. Karena aku terlalu mencintainya, aku tidak mau dia mati karena kebodohanku. Aku tidak mau dia celaka karena kebodohanku lagi.” Jelasku mantap. Joonmyun menghela nafas panjang.

Tinggal Joonmyun, Kai, Minseok, dan Jongdae, yang belum memutuskan. Kai terlihat bimbang, apalagi Minseok dan Jongdae. Akhirnya Jongdae bangkit. “Demi keluargaku tetap hidup.” Minseok pun mendekatinya. “Aku juga.”

“Aku tidak mau melupakan kalian!” seru Kai dengan mata berkaca-kaca. “Hidupku berwarna karena kalian! Karena aku bersama kalian! Entah bagaimana jadinya nanti kalau aku tidak bersama kalian!”

Sehun maju dan merangkul Kai. Aku dan yang lain pun ikut mendekati Kai.

“Huh, mulai deh mellownya.” Gerutu Jill. Iapun melirik jam tangannya. “Aku harus pergi. Sampai ketemu lusa, tumbal-tumbal tersayang.” Jill pun menjatuhkan dirinya ke bawah, ketika mencapai dasar dia berubah menjadi burung merpati dan terbang keatas. Kami pun menangis bersama sepanjang malam.

# # # # #

“Eomma, Minseok oppa dan Jongdae oppa sudah berangkat?” tanyaku sambil menuruni tangga. Eomma sedang menyiapkan meja makan.

“Aneh. Eomma tidak menemukan mereka sejak tadi Eomma bangun. Mereka sepertinya tidak pulang semalaman.”

“Tidak pulang? Tapi mereka kan masih ikut makan malam kemarin.”

“Itu dia, sepertinya mereka pergi dan tidak pulang.” Eomma duduk dengan wajah cemas. “Sunghee-ya, perasaan Eomma tidak enak. Seperti Eomma, tidak akan melihat mereka lagi.” Beliau mengelus dadanya. Aku hanya bisa mengusap-ngusap bahunya memberikan ketenangan. Duh, kemana mereka?

# # # # #

“Baekhyun dan Chanyeol tidak masuk hari ini.” Aku mengucapkan terimakasih pada teman sekelas Baekhyun oppa dan Chanyeol sunbae itu lalu berjalan menyusuri koridor. Mereka juga tidak ada. Huaa, andaikan Kai muncul tiba-tiba.

“Ya!” aku tersentak lalu berbalik. Yoonji menunjukkan deretan giginya tanpa rasa bersalah. “Kau sedang mencari siapa?” tanyanya penasaran.

“Aneh, Minseok oppa dan Jongdae oppa menghilang sejak malam, sekarang Baekhyun oppa dan Chanyeol sunbae tidak masuk.” Jelasku membuat Yoonji ikut mengerutkan kening.

“Pulang sekolah nanti, ayo kita ke cafe Joonmyun oppa!”

“Ah, ide bagus!–Jamkkanman, sejak kapan kau memanggil Joonmyun oppa?” tanyaku penasaran. Yoonji langsung salah tingkah dan berjalan duluan ke kelas. “Yoonji, jangan kabur!”

Sepulang sekolah aku dan Yoonji langsung menyebrang jalan menuju cafe Kim Joonmyun. Nah, cafenya pun tutup. Kemana orang-orang itu?

“Kita ke apartemen Joonmyun oppa?” tanya Yoonji lagi. Hal ini semakin membuat kami penasaran. Kemana mereka?

# # # # #

Sudah berkali-kali Yoonji memencet bel apartemen Joonmyun, namun tetap tidak ada jawaban. Hhh, mereka menghilang. “Bagaimana ini?” tanyaku cemas. Yoonji pun terlihat kebingungan.

“Kita bisa kemana lagi?”

“Apartemen Baekhyun oppa dan Chanyeol sunbae?” tawarku. Yoonji langsung menarikku ke lift.

Di apartemen mereka pun nihil. Tetap tidak ada jawaban. Kami pun bergegas ke halte bus terdekat. Siapa tau ada Tao didalam bus. Setiap bus yang lewat, Yoonji langsung naik dan melihat ke dalam bus, kalau tidak ada dia turun lagi.

Sudah pukul 4 sore, dan salah satu dari keduabelas orang itu belum menampakkan batang hidungnya. Aku dan Yoonji terduduk lesu dihalte bus.

“Oppa…” mataku mulai berkaca-kaca. Minseok oppa, Jongdae oppa, Baekhyun oppa…

“Yaa, Sunghee-ya, tahan airmatamu ya, kita pasti bisa menemukan mereka!” seru Yoonji tidak kalah paniknya. “Sekarang kita pulang, besok kan hari Sabtu, kita bisa mencari mereka seharian!”

# To Be Continued #

Pendek yah? Wkwk

Tipong pengen motong yang sebelah sini soalnya, wkwk

Welcome back to anonymous ^^ mian baru bisa lanjutin~ lama nunggu ya? Wkwk

Jangan lupa berkomentar! WAJIB, KUDU!

Advertisements

63 responses to “Anonymous [Chapter Eight]

  1. Pingback: Recommendation Fanfics of EXO and Other | noonewhocareaboutme·

  2. omo..
    sedih banget baca terakhirnya..
    akhirnya tanpa bujukan langsungpun mereka mau kan..
    Lay, dingin tapi tegas..
    Kris sombong banget bilang ‘leader harus ikut’-nya..
    Bacon, oh aku mau nangis baca alasannya dia..
    Chanyeol, setia banget ya..
    MInseok dan Jongdae? gak ada yang lebih berharga dari keluarga kan..

    terus hari ini mereka kemana?
    bukannya masih lusa yang berangkatnya?
    gak coba cari di roof top? mungkin lagi kumpul disana semua..
    Junho gak bantu deh kayaknya -,-

  3. huaaaaaa sedih author.. tapi oke banget ceritanya. tegang banget nih mau baca next chapter. tapi ya bener kata seunghee, “kalo jodoh, pasti bisa bertemu lagi :)”

  4. Pingback: EXO Fanfiction Recommendation | ByunBaek98Hyun (๑╹っ╹๑)·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s