Love Button [Part 9]

love-button-by-joo

Title: Love Button [Part 9]

Author: Joo aka indahberliana

Main Cast:

-Park Chanyeol (EXO-K)

-Byun Eunji (OC)

-Kris Wu (EXO-M)

And other cast you can find them in this Fanfict.

Genre: Comedy (maybe), Romance (maybe) pokoknya readers tentuin aja deh hehe.

Rating: PG 15

Big Thanks To missfishyjazz@myfishyworld.wordpress.com, yaitu Nana buat posternya! ><

Disclaimer: semua cast (kecuali OC) punya tuhan semata. Dont Be Plagiator! Please RCL^^

A.N: Annyeong reader-deul! AKU UDAH SELESAI UJIAN NASIONAL ;AAA; >o< Aku balik bawa part 9 setelah post FF The Magnae Sehun yang gak jelas -_-v. Dengan bertema … apayaa… lihat aja deh ^^ *plakk*  *digampar reader-deul*. Dan kalau aku baca ulang, konfliknya di sini rada berat gitu (?) Tak bosen-bosennya aku mengingatkan, jangan jadi plagiator, jangan jadi siders, dal please Read, Comment, and Like ya kalo mau *sedih lagi* INI HANYA FF, JADI JANGAN TERSINGGUNG DENGAN APA YANG DIKATAKAN PARA TOKOH. Sekian terima kasih. 😀

 

Preview:

Rencana Chanyeol sukses besar. Berhasil membuat Eunji menitikkan air matanya karena terharu. Iapun senang karenanya. Membaca selembar kertas itu, Eunji menjadi yakin ia tak salah memilih pria yang ada di hadapannya kala itu. Lalu, seseorang yang tiba-tiba datang ke hidupnya, wanita itu memunggungi Chanyeol yang baru saja berjalan di koridor apartemennya.

 [Part 1] [Part 2-A] [Part 2-B] [Part 3] [Part 4] [Part 5]
[Part 6] [Part 7] [Part 8-A] [Part 8-B]

****

Author’s POV

 

“Lama tidak bertatap muka, Park Chanyeol.”

Wanita itu kini membuka kaca mata gayanya itu lalu melipat tangannya di perutnya.

Ah, apa yang kalian pikirkan sekarang? Siapa wanita itu? Apakah kalian bisa menebaknya?

Dengan santai dan si pemilik wajah yang cantik dan putih itu melambai-lambaikan tangannya ke arah Chanyeol. Bermaksud agar Chanyeol menyusulnya.

Sebelum wanita itu melambaikan tangan padanya, bibir dan mata Chanyeol sukses dibuat bulat. Chanyeol memperhatikan wanita—yang berdiri sambil menyandarkan lengan kanannya di pintu apartemen Chanyeol—secara detil. Mulai dari sepatu boots pink yang ia pakai, lalu mantel tebal—super tebal—yang  dipakai wanita itu. Saat melihat wajah wanita itu… BINGO!

N….Noona?” Katanya tak yakin.

“Kau.. Yuri noona??” Ulangnya tak percaya. Masih berdiri di tempat semula, sama sekali tak bergerak.

Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna hitam yang ia gerai. Lalu berponi se-alis matanya. Wanita yang dipanggil Yuri oleh Chanyeol itu pun hanya menarik kedua ujung bibirnya.

“Cepatlah ke mari!!” Titah Yuri. Chanyeol dengan kikuk berlari kecil ke arah Yuri.

“Aish, kau sudah tinggi sekali! Bogoshippeo!!” Serunya sambil menjinjit lalu mengacak-acak rambut Chanyeol.

Chanyeol menjauh dari Yuri, memasang raut wajah kesal.

“YA!! Noonamwoyaaa(apa-apaan nih)!!”

Yuri hanya tertawa tanpa rasa bersalah. “Kau ini sopan sedikit kenapa.” Katanya dengan langsung mengubah raut wajahnya menjadi datar, lalu menjitak kepala Chanyeol bertubi-tubi.

“Sudah-sudah!! Sakit ih! Kau ada apa ke mari? Tumben sekali.” Tanya Chanyeol tanpa basa-basi.

Aish, kau ini. Apa kau tak menyilakanku untuk masuk ke apartemenmu dulu? Ckck. Nappeun namja.” Cacinya dengan maksud bergurau.

Chanyeol hanya bisa menghela napasnya. Lalu ia menekan beberapa tombol angka untuk membuka kunci pintu apartemennya.

Mereka berdua kini telah berada di satu ruangan.

****

Suasana kamar itu gelap, suram dan sunyi. Cahaya yang mengisi kamar itu remang-remang. Wanita yang memiliki kamar ini pun keluar dari kamarnya. Ia beralih menuju balkon apartemennya. Ia membuka pintu kaca geser itu lalu masuk ke balkonnya.

Ia memeluk jaket yang ia pakai. Rambutnya berterbangan lantaran angin musim dingin yang menerjangnya. Ia menggigit bibir bawahnya yang mulai membiru. Tapi ia tetap berdiri di balkon apartemennya itu.

Ia menatap langit malam yang lumayan cerah. Dihiasi oleh terangnya rembulan.

“Jadi, besok sudah tahun baru ya?”

Ia menutup pintu kaca geser balkon dan kembali menuju ke kamarnya dan mengambil ponselnya.

Ia terbatuk sebentar lalu menghubungi seseorang.

Yoboseyo?” Sapa di seberang sana.

“Park Seungyeol…” Ucap wanita itu menggantung.

Seseorang yang dipanggil Park Seungyeol pun terkejut akan suara di ponselnya. Ia sangat mengenali suara wanita itu. Wanita yang sangat ia cintai.

“Chaerin!! Kau kenapa?” Tanyanya panik karena mendengar suara Chaerin yang lemah.

“Maukah kau menemaniku pergi? Dua hari saja…” Pintanya.

Tentu saja, seorang Park Seungyeol akan bersedia menemani wanita yang sangat ia cintai kapanpun, dan ke manapun Chaerin mau.

“Tentu! Aku akan menemanimu ke manapun.”

“Baguslah, aku tunggu kau di apartemenku.” Jawabnya lirih.

****

Suasana di kantin begitu ramai. Sinar matahari menembus dari jendela-jendela yang ada di kantin.

Sehun dan Krystal duduk berhadapan, diam seribu kata. Di meja kantin yang ditempati mereka berdua hanya terdapat roti cokelat milik Sehun dan segelas susu cokelat hangat milik Krystal. Tak ada topik yang bagus untuk mereka bicarakan.

Pasalnya, malam akhir tahun baru nanti akan terjadi nanti malam pukul 00.00. Tahun 2012 akan tergantikan dengan tahun 2013. Hebat kan? Tetapi, mereka ini malah kebingungan. Karena apa? Entahlah. Mereka memiliki bermacam-macam kendala untuk menikmati malam itu. Hari yang kurang menguntungkan bagi orang-orang seperti mereka.

“Ya~ Sehun-ah. Kau pergi ke mana besok? Kau pasti dapat banyak ‘undangan’ dari penggemarmu.” Ujar Krystal yang menopangkan dagunya di atas kepalan kedua tangannya. Dan dengan raut wajah yang terlihat hopeless.

Sehun menatapnya sama persis dengan raut wajah Krystal: hopeless. “Memangnya aku punya penggemar?” Tanya Sehun polos.

Krystal yang tampaknya sedang tidak mood untuk bicara, berusaha menjelaskan itu pada Sehun. “Adik-adik kelas kita, seonbae kita yang sudah lulus dari SMA ini, dan murid-murid yang se-angkatan dengan kita. Puas kau?”

Lalu Krystal menambahkan, “Enak ya, mereka bertiga. Sudah ada pasangan sih. Jadi tinggal mendiskusikan saja deh, tempat yang enak buat berduaan di mana ya…” Kata Krystal menggantung, ia agak iri dengan Eunji dan Sulli. Ah, ditambah Kyungsoo.

“Kau iri, eo? Carilah namja. Namja di sini banyak yang keren-keren.”

“Kau memuji dirimu itu keren ya? Mwoya~ ckck.”

“Eh iya, memangnya Sulli dan Kyungsoo itu… benar-benar pacaran?” Tanya Sehun penasaran tanpa memperdulikan kata Krystal barusan.

“Ah, itu..”

Kemudian Krystal menceritakan apa yang baru saja Sulli ceritakan saat di kelas. Memang benar, Sulli dan Kyungsoo belum memiliki hubungan apapun. Tetapi, walaupun begitu, mereka sudah tahu diam-diam, kalau mereka saling menyukai. Ya, mungkin saja Kyungsoo agak malu untuk menyatakan perasaannya. Persis seperti anak-anak, memang.

****

“Chanyeol!” Eunji memanggil Chanyeol yang sedang piket kelas, menghapus—membersihkan–papan tulis.

Chanyeol yang membelakangi Eunji pun menengok ke belakang. “Wae?”

Eunji beranjak dari kursinya lalu menyusul Chanyeol.

Baru kali ini, ia meminta sesuatu lebih dulu ke Chanyeol. Tentu saja hatinya berdebar kencang. Eunji meremas blazernya dan menggerak-gerakkan jari-jarinya untuk mencoba tenang.

Eung… Chanyeol-ah, nanti malam ada acara, tidak?”

Chanyeol berhenti menggerakkan tangannya untuk menghapus papan tulis, lalu kini berdiri berhadapan dengan Eunji yang masih berusaha mengontrol kegugupannya.

“Untuk apa memangnya?” Tanyanya.

Eunji mencoba menjawab sebisa mungkin. “Eh.. Itu.. Tentu.. Kau masa tidak tahu? Nanti malam kan malam tahun baru!”

Mian, Eunji-ah. Tapi aku sudah ada janji dengan temanku.” Jawabnya sambil merendahkan badannya untuk melihat wajah Eunji yang menunduk.

“Ah, arasseoGwaenchanha. Lagipula, kau sudah memberiku kejutan yang luar biasa, kemarin. Ehehe.” Jawabnya sambil mengusap tengkuknya.

“Ah iya, nanti, sepulang sekolah, jangan cari aku ya, karena aku langsung dijemput dengan temanku itu.” Katanya lagi.

“Kau tak apa kan?” Chanyeol menjadi tak tenang saat melihat senyuman Eunji yang aneh—menurutnya.

Eunji menggeleng sambil tertawa lebar. “Aniya. Aku tidak apa-apa, kok. Sungguh!” Ekspresi yang Eunji keluarkan mungkin ia lebih-lebihkan. Tadi ia membentuk V dengan dua jarinya sambil tertawa lebar.

Dalam hati, Chanyeol mengumpat perkataannya sendiri setelah Eunji keluar dari kelas yang masih ramai itu.

****

Pria dengan balutan mantel berlapis-lapis itu mengendap-endap untuk menghampiri yeoja berseragam itu di koridor sekolah.

Koridor di lantai tiga sudah sepi, yang sudah bisa dipastikan kalau kelas-kelas di lantai tiga sudah kosong.

Pria itu membawa sesuatu yang ia sembunyikan di belakangnya. Sekitar 5 langkah lagi ia akan melakukan sesuatu dengan barang yang ia sembunyikan di belakangnya itu.

Tiba-tiba, suara terompet itu membuat telinga seorang siswi SMA yang belum pulang itu memekik kaget. Eunji langsung menoleh ke arah asal suara dan mendapati Kris yang memegang terompet kecil berwarna cerah dan berkilau namun sederhana.

“Selamat tahun baru!” Serunya sambil kembali meniup terompet itu.

“Aaaaah!! Saem!! Kau hampir saja membuatku mati berdiri karena suara terompet itu!” Omel Eunji sambil mengelus dadanya dan menghela napas sebisanya.

Kris tertawa melihat Eunji sampai sebegitunya. Ia merangkul bahu Eunji dengan tangan kanannya. “Maaf-maaf, aku kan bermaksud meramaikan suasana di lantai ini. Lagipula entah kenapa tiba-tiba langit menjadi gelap begini. Padahal tadi siang lumayan cerah.”

Kris mendekatkan wajahnya ke telinga Eunji. Membisikkan sesuatu, “Lebih baik aku meniup terompet ini di telingamu, kan? Daripada seseorang yang tak bisa kau lihat meniup telingamu…”

“Oppa! Jangan menakut-nakutiku!” Seru Eunji lagi, ia menutup matanya dan menjauhi wajah Kris dari telinganya.

Kris tak berhenti tertawa sambil memegang perutnya dengan tangan kirinya. Eunji hanya bisa meniup poninya dengan kesal.

“Huh, jadi begini ya, oppaku yang usil terus jahat lalu tidak…”

Gerutu Eunji yang menekankan kata ‘oppa‘ itu langsung dipotong oleh kris dengan cara menutup mulut Eunji.

Eunji melepaskan tangan Kris dari mulutnya. “Huh, kenapa pakai menutup mulutku segala?”

Kris tidak menjawab pertanyaan Eunji, ia langsung merangkul Eunji dan turun tangga dari lantai tiga menuju lantai dasar bersamanya.

“Hmm, ngomong-ngomong, nanti malam kau pasti pergi merayakan tahun baru bersama Chanyeol, bukan?” Tanyanya penasaran.

Eunji menoleh, dan segera menggeleng. “Sayangnya tidak seperti itu, Oppa.”

Kris terkejut. Bagaimana bisa sepasang kekasih yang tenar di sekolah ini tidak merencanakan jadwal untuk tahun baruan?

“Lalu, kau sendirian di rumah?”

Eunji tampak berfikir setelah mendengar pertanyaan Kris. Ia berpikir ulang. Benar juga ya. Eunji dapat menduga bahwa Baekhyun pasti ada di luar rumah nanti malam. Yah, apalagi kalau bukan mengisi malam pergantian tahun dengan kekasihnya. Sementara kedua orangtuanya, pergi ke Jepang untuk merayakan tahun baru tadi pagi. Sudah bisa diduga kalau nanti malam hanya akan ada Eunji seorang di rumah tersebut.

Kris sepertinya sudah mengetahui jawaban Eunji secara tersirat dari mata Eunji. “Ah, kalau begitu, kau mau menemaniku pergi tahun baruan?”

Eunji terkejut. Sementara Kris masih dengan senyuman hangatnya. Eunji menjadi gugup. Ya, bagaimanapun dia adalah wanita, yang tak mungkin tidak gugup saat pria tampan yang tersenyum tulus padanya.

“Memangnya, kita akan pergi ke mana?”

Hmm, it’s one of my secret plans.”

Eunji ternganga. Kris membuatnya menggembungkan pipinya. Eunji dibuat penasaran oleh Kris.

“Baiklah, tapi jangan sampai mengecewakanku ya? Kkkk.”

“Lihat saja nanti, Byun Eunji.” Jawabnya mudah sambil memperlihatkan senyumannya.

Eunji mulai nyaman dengan hubungan yang mereka jalin. Kris tak salah memilih keputusan.

Eunji, tersenyum setelah kembali melihat seorang Kris yang tertawa senang saat berada di sampingnya. Ia tahu, orang yang akan ada di sampingnya selalu itu hanya Kris, yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.

Di samping Kris, Eunji belum merasakan debaran yang sama saat di samping Chanyeol. Debaran hatinya agak berbeda saat berada di samping kedua laki-laki itu.

Ya, perasaan hatinya hanya Eunji yang tahu. Di sisi Kris, Kris merasakan debaran yang sama seperti Eunji ke Chanyeol.

Tapi, ia sudah memutuskan, untuk mengembangkan perasaan ini bukanlah untuk rasa cinta yang sebenarnya, melainkan rasa cinta seorang kakak kepada adiknya.

Eunji dan Kris kini sudah berada di parkiran sekolah yang tidak sebesar lapangan sekolah, memang. Kris menyilakan Eunji duduk di jok kursi mobil di sampingnya. Eunji menurut dan kini duduk di samping Kris yang mulai menyalakan mobilnya.

Eunji terus memikirkan kenapa Chanyeol seperti itu. Kenapa ia tidak mengajak Eunji untuk ikut dengan Chanyeol bersama teman-temannya itu? Ternyata seperti ini rasanya ditolak. Ya, ini tidak seberapa. Hal yang dialami Kris tentu lebih menyesakkan dada dibanding peristiwa yang dialami Eunji.

Kris menoleh ke arah Eunji yang sedari tadi menunduk. Dan kris sudah bisa menebak, Eunji tertidur. Kris tersenyum kecil. Ia dengan hati-hati mengendalikan stir mobilnya dan menyandarkan kepala Eunji ke sandaran jok mobilnya.

Kris berbicara sendiri. “Kau manis sekali.”

Lalu ia mengeluarkan suaranya lagi. “Sebenarnya aku lelah bersikap seperti ini padamu. Aku lelah berusaha terlihat tak sedih dari pandanganmu. Tapi hatiku sepertinya masih belum menerima kalau kau tak akan menjadi milikku. Ya, mungkin sudah takdir. Eunji, terima kasih, kau telah mengisi hari-hariku.”

****

Eunji’s POV

Aku ada di mana ini? Terlalu gelap untuk melihat. Kedua mataku tidak menangkap cahaya. Tidak, kini aku sudah mulai melihat cahaya yang remang-remang. Tempat ini gelap, namun berbagai lampu yang berderet di sepanjang sungai ini mampu membuatku melihat secara perlahan.

Aku sendiri, duduk sendiri di pinggiran sungai itu. Cuacanya mampu membuatku beribu kali menggosok kedua telapak tanganku. Tiba-tiba, entah siapa yang meletakkannya, ada sebuah kotak yang terletak di sampingku. Aku membuka sebuah kotak putih berpita merah muda itu. Dan aku mengambil sebuah barang yang aku tak tahu apa itu.

Aku membolak-balikkan benda itu keheranan. Benda apa ini? Benda bulat itu berwarna hijau.

“Hei.” Sapa seseorang. Aku yang masih heran akan benda itupun langsung mendongakkan kepalaku.

Seseorang yang mempunyai tubuh tinggi itu menyapaku. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Ada apa ini?

Aku tidak menjawab sapaannya. Lalu dia duduk di sampingku. Aku kembali fokus terhadap apa yang sedang kugenggam.

“Kau sedang apa?” Tanya pria bersuara rendah itu.

“Aku sedang berpikir, apa nama benda ini.” Hei!! Aku tidak berbicara! Lalu siapa yang berbicara?!

“Itu bola kasti. Masa kau tidak tahu? Kau payah.” Mwo? Apa-apaan namja ini?!

“Ya akukan tidak tahu, kau jangan begitu padaku.” Cih. Apakah wanita itu aku? Aku ingin melihat siapa yang sedang menjawab pria itu!!! Argh!!

Tiba-tiba sekumpulan pasangan menghampiri kami berdua. Entahlah. Aku tidak tahu wanita itu aku apa tidak. Ini mungkin mimpi.

“Hei! Akhirnya kau membawa namja chingumu juga. Kukira kau tak punya.” Kata wanita berkuncir kuda yang menghampiri kami. Mwo? Hei, ada apa ini sebenarnya? Apakah pria ini, Chanyeol?

Hei, Eunji. Kau tidak mengenal mereka. Ini ada apa sih?!

“Haha, kau tidak percaya sih. Akukan sudah bilang ke kalian, di malam tahun baru ini, aku akan mengajak namja chinguku pergi bersama kalian.”

“Iyakan, Chanyeol?”

“Eunji, Eunji…”

“Eunji..”

Blam..

Kedua mataku terbuka lebar. Aku menengok ke arah kananku. Kulihat Kris menepuk-nepuk pundakku.

“Eunji, kau tidak apa? Bangunlah, kita sudah sampai di depan rumahmu.” Ucapnya.

Aku menghela napasku panjang-panjang. Mimpi itu adalah mimpi paling aneh yang pernah kumimpikan.

Akupun mengangguk dan segera melepas seatbelt yang kupakai. Setelah itu aku hendak membuka pintu mobil. Tapi dicegat dengan Kris.

“Eunji, tunggu.”

Akupun menoleh ke arah Kris. “Waeyo?”

Dia berdeham kecil dan sepertinya dia duduk mencari posisi yang nyaman. Dia menatapku dan aku keheranan.

“Hmm, apa makanan favoritmu?”

Eh? Kenapa Kris menanyakan hal ini kepadaku?

Spaghetti?” Jawabku spontan.

“Benarkah?” Tanyanya yang meyakinkanku.

Akupun mengangguk semangat. Aduh, kenapa di saat-saat begini aku jadi kepingin memakan spaghetti buatan eomma, ya? Sayangnya Eomma dan Appa tidak ada di rumah. Mereka dengan senangnya pergi tahun baruan ke luar kota. Huh, menyebalkaaaan.

Kris tersenyum melihat anggukanku. Duh, aku kenapa jadi salah tingkah begini? Sudahlah, jangan pikirkan hal semacam itu, Eunji!!

“Baiklah kalau begitu. Kau siap?” Tanyanya dengan senyuman indahnya.

Aku bingung. Apa maksudnya dengan ‘siap’?

“Eh? Maksudmu oppa?”

Dia berdeham lagi, “Maksudku, kau akan siap jam berapa? Aku akan menjemputmu di sini.”

Ah, begitu rupanya. Bisa-bisanya aku terkejut dengan kata ‘siap’ itu.

“Oh, baiklah. Aku akan siap jam 10 malam. Bagaimana?”

Kris mengangguk dan tersenyum tandanya dia setuju. Aku lalu keluar dari mobilnya dan melambaikan tangan hingga mobilnya menghilang dari pandanganku.

****

Author POV

Wanita itu berjalan berdampingan dengan seorang pria bermantel coklat dan bertubuh tinggi. Pandangan mata wanita itu selalu menuju ke depan. Ia tidak memperhatikan kedua sisi jalan di taman itu sehingga pria yang mendampinginya berjalan selalu meminta maaf jika wanita itu menyenggol pengunjung yang lain.

“Chaerin, katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?”  Tanya Seungyeol yang tiba-tiba menarik pergelangan tangan wanita yang disebutnya Chaerin agar berhenti berjalan.

Wanita itu diam. Tetap dengan wajah putus asanya. Seungyeol yang melihatnya menjadi iba padanya.

Seungyeol mengeratkan kedua tangannya di kedua bahu Chaerin. Ia berkata untuk menceritakan semua yang terjadi padanya sambil mengguncangkan kedua bahu Chaerin untuk meyakinkannya bahwa ia bisa dipercaya.

“Aku… sudah menceritakannya padanya.”

“Kepada siapa kau menceritakannya?” Tanyanya lagi, menuntut Chaerin mengatakannya.

“Temanmu..”

Flashback:

Sepasang teman lama itu duduk di meja sebuah restoran yang sudah sepi pengunjungnya. Mereka duduk berhadapan dan berhidangkan dua gelas teh hijau hangat di antara mereka. Im Chaerin, wanita lemah itu bercerita kepada seorang juru masak di restorannya sendiri, yaitu pria bertubuh gemuk dan bermata sipit, Do Hyunjae.

“Saat itu, aku pernah menaruh perasaan pada Jihyun, yang sekarang sudah mempunyai dua anak dari Byun Jinwoon. Hah, aku benar-benar merasa putus asa, aku tak akan pernah mendapatkan hatinya. Aku tidak percaya pada diriku sendiri. Mengingat fisikku dulu seperti apa, haha.” Jelas pria yang sudah memasuki kepala 4 yang diakhiri dengan nada guraunya.

“Tapi, coba kau lihat sekarang. Aku sudah punya Kyungsoo dan adik-adiknya. Serta istriku yang sangat mencintaiku apa adanya. Aku tidak membutuhkan orang yang tidak mencintaiku. Aku hanya membutuhkan orang yang mencintaiku dan menyayangiku hingga aku mati. Kau juga, Chaerin-ah. Kau pasti bisa, kau sudah menjadi seorang ibu dari 19 tahun yang lalu. Cobalah dekat dengan anakmu. Anakmu pasti bisa menghiburmu.”

Chaerin mendengar nasihat Hyunjae baik-baik. Tangannya ia main-mainkan, menahan semua keegoisannya.

“Contohnya Kyungsoo. Dia sangat pandai menghiburku. Disaat aku penat mengurus restoran ini, dia menceritakan pengalaman konyolnya dan hal itu berhasil membuatku terhibur. Lalu dia pernah menghiburku dengan masakan sederhana pertamanya saat berumur 10 tahun. Aku sangat bangga melihat anakku sudah pandai memasak yang lumayan sulit untuk seusianya saat itu.”

Chaerin kagum pada Hyunjae, karenanya lah anaknya bisa pandai memasak. Hyunjae benar-benar seorang ayah yang hebat!

“Aku yakin kau pasti akan bahagia, jika…”

“Jika apa?” Tanya Chaerin yang penasaran akan kalimat menggantung dari Hyunjae.

“Jika kau kembali berkumpul bersama keluargamu.”

Flashback end

Mereka berdua duduk di kursi yang berada di tepi danau. Chaerin tidak menceritakan kejadian saat ia bercerita pada Do Hyunjae. Namun, ia langsung menyatakan apa yang ia pendam sejak ia mengajak pria itu menemaninya untuk tiga hari.

“Aku menyadari semua kebodohanku. Aku tak tahan dengan kesepian yang menguasai pikiran dan seluruh hatiku. Aku tahu aku adalah seorang ibu yang jahat, dengan teganya meninggalan anaknya karena urusannya sendiri. Aku egois.. Aku—”

“Cukup!!” Potong Seungyeol dengan nada yang tinggi.

“Berhenti untuk menyalahkan dirimu seolah-olah kau tak akan pernah bisa untuk dimaafkan!” Serunya lagi lalu mendekap kepala Chaerin ke pelukannya, membiarkan wanita yang amat ia cintai membasahi mantelnya.

Tangisan Chaerin kini pecah. Ia tak sanggup untuk memendam semuanya lagi. Ia tak ingin semua orang salah paham. Ini demi semuanya dan Chaerinlah yang berkorban demi semuanya.

“Saat itu, aku lebih memilih untuk menghilang dari kalian semua.”

Seungyeol bertanya, mengapa Chaerin memilih tindakan yang membuatnya kesepian. Dan ketika melihat reaksi Chaerin, Seungyeol bingung akan maksudnya.

Chaerin menunjukkan punggung tangan kirinya. Di sana terdapat suatu bekas yang berwarna kebiru-biruan.

“Kau tahu, ini apa?” Tanya Chaerin. Seungyeol yang kebingunganpun meraih punggung tangan pucat milik Chaerin dan memperhatikannya.

“Ini, tanda lahirmu, bukan? Kau sendiri yang mengatakannya padaku.” Jawabnya yang sesuai dengan ingatannya.

Melihat Chaerin menggeleng dan kembali menitikkan air matanya, membuat Seungyeol cemas.

“Aku…”

****

Malam itu, Eunji sedang mempersiapkan semua yang akan diperlukan untuk berpergian tahun baru. Ia sudah berpakaian dengan rapi dan nyaman. Sekarang ia mencari camera pocketnya yang terletak di lemari. Tak lupa charger portablenya mengingat baterai ponselnya yang tersisa 45%.

Rumahnya kini sepi. Hanya ada dirinya sendiri ditemani dengan suara televisi yang menyala. Dia bersiap-siap ke dapur dan mengambil semua bahan-bahan makanan yang tersimpan rapi di kulkas.

“Ah! Aku lupa menanyakan makanan yang ia sukai!” Eunji menggerutu sebentar. Lalu ia menyadari sesuatu.

Seharusnya dirinya tidak sebegitu semangat untuk memasak. Masakan yang ia buat bukan untuk Chanyeol, melainkan Kris. Eunji terkejut pada dirinya sendiri. Ada apa dengannya?

Namun segera ia buang jauh-jauh pikiran yang berkelebat di otaknya tadi. Ia langsung mencuci bersih bahan-bahan makanannya.

Dengan semangat ia mengaduk masakannya sehingga dapur rumahnya kini berantakan. Namun ia tetap melanjutkan masakannnya sebelum Kris menjemputnya.

Selesai memasak menu utama, ia mengambil sayur sawi putih untuk kimchi beserta bumbu-bumbunya. Lalu mengaduknya hingga rata dan mencoba mencicipi kimchi yang ia buat.

Setelah membuat kimchi,  ponselnya berbunyi tandanya ada pesan masuk. Iapun mengambil ponselnya yang terletak di dekat wastafel.

A New Message from Park Chanyeol:

Mianhae, aku tidak bisa menemanimu. Sebenarnya, aku bukan pergi bersama teman-temanku. Melainkan, ada suatu urusan yang tidak boleh kutinggal. Harus kuurus sekarang. Mana mungkin aku tidak mengajakmu kalau aku pergi bersama teman-temanku? Malahan aku akan menunjukkan kepada mereka kalau aku mempunyai gadis secantik dirimu. Marah padaku,  ya? Aku tahu, kau pasti kecewa. Aku janji, aku akan menggantinya lebih. Dan tak akan terpikirkan olehmu. Selamat tahun baru, Byun Eunji! Saranghae! ♥

Eunji tadinya kesal lantaran mengetahui Chanyeol membohonginya. Namun, rasa kesalnya jadi menghilang karena alasannya dan berjanji akan memberi gantinya yang tak pernah terpikirkan oleh Eunji.

Lalu Eunji membalas pesan tersebut.

Baiklah, aku tak akan marah padamu. Konsentrasilah pada urusanmu itu dulu. Karena hal itu lebih penting. Fighting! (9‘v’)9

Setelah itu, Eunji menoleh ke jendela ruang tamu yang tertutup gorden. Dari sana ia bisa melihat lampu yang terang, yang ia yakini itu berasal dari mobil Kris. Ia segera mengambil tas backpack berwarna krem dengan variasi tambahan berwarna cokelat muda.

 Free-shipping-2012-fashion-ladies-vintage-canvas-backpack-bag-school-travel-casual-back-pack-bags

Tak lama setelah itu, ponselnya mendapat satu panggilan. Eunji langsung mengangkatnya.

Yoboseyo, Oppa.” Sapa Eunji.

“Eunji, aku sudah berada di depan rumahmu. Apakah kau sudah bersiap-siap?”

Eunji mengaktifkan loudspeaker ponselnya dan meletakkannya di dekat wastafel. Setelah itu, ia memasukkan masakannya yang sudah tersusun rapi di kotak bekal.

“Sudah kok. Kau hanya perlu menungguku sebentar lagi. Aku akan keluar sebentar lagi.” Jawabnya sambil memasukkan camera pocket dan charger portablenya.

Sesudah itu ia keluar dari rumah dan memasuki mobil Kris.

“Hai, Oppa! Hmmm, woah, mobilmu kok wangi sekali sih? Aku jadi lapar haha.” Ujar Eunji sambil bergurau.

Kris yang mendengarnya menjadi gugup dan mencoba tertawa. “Haha kau ini. Jadi kau belum makan malam? Ini sudah jam 10 lewat, kan?”

Sekarang gantian Eunji yang gugup. “Ah, itu… Aku belum makan malam.”

“Bagaimana kalau kita mengisi perut kita dulu? Yah, hitung-hitung mengisi waktu sebelum tahun baru.” Tawar Kris dengan senyumannya yang mampu membuat semua wanita meleleh.

Eunji dengan senang hati menerima ajakan Kris. Tapi, kalau ia perhatikan lagi, ada yang berbeda dari Kris.

“Oppa,” panggil Eunji saat Kris hendak melajukan mobilnya. Kris menoleh ke arah Eunji.

Spontan, Ia meraih wajah kris dan memperhatikan kedua matanya. “Oppa! Kedua matamu kenapa merah seperti ini?”

Suasana menjadi sunyi. Yang terdengar hanyalah suara mesin mobil yang menyala. Kris terkejut akan tindakan Eunji yang baru saja terjadi. Kris menatap matanya lekat, tanpa mengedip sekalipun. Sementara Eunji baru menyadari apa yang ia lakukan tadi. Eunji berdeham dan perlahan melepaskan kedua tangannya dari wajah Kris.

“Hmm, matamu, kenapa merah seperti itu?” Ulang Eunji yang kini menjauh sedikit dan masih tetap menatap Kris.

Kris berusaha sadar kembali dan menjawab pertanyaan Eunji. “Eh? Mataku? Ah itu… Mungkin aku kurang tidur..”

Eunji terkejut mendengarnya. “Kalau kau kurang tidur, mengapa kau mengajakku jalan-jalan? Bukankah lebih baik kau istirahat saja?”

Kris mengumpat perkataannya yang baru saja ia ucapkan. “Ah maksudku, mungkin bukan karena kurang tidur, hmm, ya. Aku tidak merasa kelelahan kok. Kau tenang saja. Kan di tangga sekolah tadi, aku sudah berjanji untuk membuatmu tidak menyesal mengisi tahun baru nanti bersamaku.” Jelasnya tenang yang perlahan tersenyum.

Eunji juga ikut tersenyum. Tak lama kemudian, mobil Audi berwarna silver itupun melaju dengan kecepatan normal.

****

Kris melajukan mobilnya ke arah Cheonggyecheon. Ketika mereka memasuki kawasan tersebut, Euji mengagumi tata lampu yang berbaris di tiap pinggiran sungai Cheonggyecheon.

“Woah…” kagumnya. Kris tersenyum mendapati Eunji yang begitu senang ia bawa ke sini. Ke tempat di mana Kris memberikan hadiah ulang tahun Eunji yang ke 19 tahun, di Jembatan Cheonggyecheon.

“Kau senang?” tanya Kris sambil tersenyum.

Eunji menjawab Kris tanpa melepaskan pandangannya dari jendela kaca mobil. “Tentu! Sangat senang. Pemandangan di sini sekarang begitu indah dibandingkan saat Natal. Suasana bertambah meriah karena suara kembang api yang terus memekarkan cahayanya di langit malam.”

Mereka memarkirkan mobil di area parkir sekitar sungai itu, dan turun ke bawah untuk mendekati pinggiran sungai.

img_h21_top_02_thumnail_1-tile

 

Mereka berdua turun menuju bahu sungai dengan backpack mereka masing-masing.

“Woah, Oppa, sungguh, aku sangat senang sekali kau membawaku ke sini!” Seru Eunji yang masih terpaku akan pemandangan sekitar sungai.

Kris tersenyum senang lalu mengajak Eunji untuk duduk di anak tangga yang terdapat di bahu sungai.

“Mengapa kita duduk di sini?” Tanya Eunji memulai percakapan setelah sekian detik mendudukkan diri di anak tangga bahu sungai.

“Aku punya kejutan untukmu.” Jawabnya dengan senyuman menawannya sehingga membuat Eunji penasaran.

Eunji melihat Kris membuka tas backpack putihnya dan mengeluarkan kotak bekal Lock&Lock  miliknya.

Eunji terpaku melihat satu kotak bekal itu diserahkan padanya. “Oppa…”

Kris tersenyum hangat. “Ini, buatmu.”

“Inilah alasan kenapa aroma mobilku membuatmu lapar dan kenapa mataku menjadi merah seperti yang kau bilang tadi.” Lanjutnya.

Eunji terkejut dan sangat terharu. “Kau, mengiris bawang bombay?” Tanyanya tak percaya.

Kris mengangguk. Lalu pandangan Eunji beralih ke kedua telapak tangan Kris. Ia menggenggam kedua tangannya dan melihat sayat-sayatan tipis di jari-jarinya.

“Sudah kuduga akan begini. Oppa, kau membuatku cemas! Setidaknya kau bilang dulu kalau ingin membuat spaghetti. Aku akan membantumu di dapur. Lihat apa yang terjadi dengan jari-jarimu, pasti sakit.”

Kris menatap Eunji yang sedang fokus mengomelinya karena jari-jarinya yang terluka akibat mengiris bawang. Ia tak percaya, Eunji memperlakukannya benar-benar seperti orang yang sangat ia sayangi. Kris senang berpikiran seperti itu.

“Ah! Tidak ada obat merah, bagaimana caranya menyembuhkan lukamu itu?” Kicau Eunji yang tidak sadar bahwa ia sedang diperhatikan oleh orang yang duduk di sampingnya.

“Kau tidak usah repot-repot begitu.” Kris berusaha menenangkan Eunji.

“Tapi Oppa, aku jadi merasa bersalah. Aku harus bagaimana…” Ucapnya lirih.

Kris menggenggam salah satu tangan Eunji. “Kau bisa mencoba masakanku. Aku ingin tahu, masakanku di lidahmu seperti apa rasanya. Dari rumahpun, aku belum mencicipi spaghetti pertama yang kubuat dengan tanganku sendiri. Cobalah.”

Eunji bertanya untuk meyakinkan Kris. “Benarkah? Baiklah, akan kucoba spaghetti buatanmu. Ah, sudahlah, dari aromanya saja, sudah bisa kupastikan, kalau spaghetti ini pasti lezat!” Seruannya membuat Kris senang. Ia merasa bahagia ketika Eunji melahap masakannya.

“Tuh kan, sudah kubilang, spaghetti ini lezat! Oppa—” Kata-kata Eunji terputus saat melihat Kris yang memandangnya yang sedang melahap spaghetti. Kalian tau sendiri kan, kalau Eunji makan, bisa-bisa 2-3 sendokpun masuk ke mulutnya itu.

Kris tertawa melihat tingkah Eunji yang malu-malu. Lalu Eunji teringat akan masakannya. Hmm, tapi ia ragu. Baru pertama kali ia memasak sendiri tanpa bantuan ibunya. Biasanya ibunya yang menakar bumbu-bumbunya, lalu Eunji membantu mengaduknya dan menyiapkan masakannya.

Eunji berpikir, percuma kalau ia sudah membuatnya dengan susah payah namun akhirnya akan sia-sia. Jadi ia memutuskan untuk mengeluarkan kotak bekalnya dari tas backpacknya.

“Ini, makanlah bersama-sama. Jangan melihatku seperti itu. Ambillah. Aku sudah susah payah membuatnya. Anggap aja ini sebagai tanda terima kasihku padamu yang telah membuatku spaghetti sampai-sampai jari-jari tanganmu menjadi seperti itu.” Jelasnya sambil menyerahkan kotak bekalnya ke pada Kris.

Ketika Kris menerima kotak bekalnya, Eunji tersenyum senang. Namun mengingat rasa masakannya yang belum ia ketahui membuat ia gugup. “Ah.. itu.. kalau masakanku tidak enak, jangan dipaksakan ya. Aku mohon, aku tidak mau melihatmu mati keracunan karena kau terlalu memaksa dirimu untuk memakannya.”

Kris tersenyum. “Mana bisa begitu? Bukannya kau pandai memasak, hm?” Tanyanya seraya membuka kotak bekal dari Eunji dengan salah satu alis matanya yang terangkat.

Eunji kembali gugup. “Biasanya aku selalu dibantu eommaku kalau memasak sendiri. Maklumlah, Eomma dan Appa sedang berlibur ke Jepang, meninggalkanku berdua di rumah dengan adikku. Huh.”

Kris tertawa kecil melihat Eunji yang sedang mengomel sendiri. “Justru aku senang, masakanmu ini murni dibuat olehmu. Tidak ada campur tangan orang lain. Ngomong-ngomong, apakah ini bulgogi? Tetapi kenapa sepertinya pedas sekali?”

 daejibulgogi

“Itu namanya Daeji Bulgogi, cara masaknya sama seperti bulgogi, bisa dipanggang maupun di masak di penggorengan. Bedanya, rasa masakan ini lebih menonjolkan pedasnya daging yang dimasak.” Jelas Eunji sambil tersenyum.

Kris terpana memperhatikan penjelasan Eunji. “Kau tampaknya sangat memahami seluk-beluk masakan. Kau hebat!”

Eunji tersipu malu mendengarnya. “Itu bukan hal yang hebat, setiap wanita perlu memahami masakan, bukan?”

Lalu Kris mengambil sumpit dan mencicipinya. Melihat dahi Kris yang mulai mengeluarkan keringat membuat Eunji menyuruh Kris menjeda makannya. “Tunggu, terlalu pedas ya?”

Kris menggeleng. “Seperti yang kau katakan, memang pedas. Tetapi aku suka, kok.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Terima kasih kau telah membuatkannya untukku. Aku senang sekali.” Ucapnya lagi, mengeluarkan senyuman yang membuat tubuh Eunji menghangat secara perlahan.

kris3

****

Dingin, satu kata sifat itulah yang terucap dari bibir wanita itu. Tak segan pria yang berjalan mendampinginya, merangkul bahu wanita itu, berusaha untuk menghangatkannya.

Chaerin dan Seungyeol kini berdiri di bawah Tokyo Tower, bentuknya menyerupai Menara Eiffel di Paris, Perancis. Ya, Chaerin mengajak Seungyeol untuk menemaninya berlibur, menikmati indahnya tahun baru di Jepang.

1333323055wWqwv6

“Bagus sekali,” wanita itu bersuara, sambil melihat indahnya cahaya yang membuat menara itu tampak mewah dan elegan.

Seungyeol tersenyum mendengarnya. “Ayo kita ke atas menara, melihat kembang api seperti yang kau ingin lihat.” Lalu ia menuntun Chaerin berjalan memasuki menara. Mereka menaiki lift dan akhirnya tiba di puncak menara Tokyo.

Namun, saar pintu lift terbuka, sosok sepasang suami-istri membuat keduanya terdiam di tempat.

Sepasang suami istri itupun terlihat kaget juga. Ini seperti takdir, takdir untuk mempertemukan mereka kembali menjadi satu.

“Hai, apa kabar ?” sapa Seungyeol lebih dulu, memecahkan suasana yang sedaritadi membeku.

Seungyeol menarik pergelangan tangan Chaerin untuk menuntunnya keluar dari lift. Chaerin tak tahu harus berbuat apa, ia lebih memilih berlindung di belakang Seungyeol.

Suami-istri tadi, Byun Jinwoon dan Byun Jihyun, mengajak mereka berdua untuk melihat pemandangan di bawah Tokyo Tower.

****

Seorang pelayan wanita membawa empat mangkuk ramen yang mereka pesan. Jinwoon duduk bersebelahan dengan istrinya, Byun Jihyun. Begitu juga dengan Chaerin dan Seungyeol.

“Hai, Chaerin! Kau tahu, kami sangat merindukanmu!” Seru Jihyun yang duduk di hadapan Chaerin.

Chaerin sedikit tersenyum dengan kebahagiaan Jihyun. “Apakah mereka semua betul-betul menyayangiku?” batinnya.

“Ah! Makanan yang kita pesan sudah hadir. Selamat makan!” Seru Jihyun girang sambil mengambil sumpit, lalu menyumpitkan mie ramen ke dalam mulutnya dengan tidak sabar. Benar-benar persis seperti Eunji.

Hanya Jihyun dan Seungyeol yang sudah melahap ramennya. Jinwoon hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Sementara Chaerin sedang berkompromi dengan otaknya. Ia harus menyampaikan keputusannya.

“Aku, akan kembali bersama Seungyeol. Memulai kembali lembaran baru dalam keluarga kecil kami.”

Dua kalimat itu sukses membuat Seungyeol yang sedang melahap ramennya tersedak hebat. Ia terbatuk-batuk sehingga meminum semua air putih yang ada di sebelah mangkuk ramennya.

Jinwoon menganga, begitu juga dengan Jihyun. Mereka sangat senang, akhirnya Chaerin mau kembali dengan mantan suaminya yang sangat mencintainya.

Setelah baikan, Seungyeol meminta kepastian dari Chaerin dengan nada yang serius. “Benarkah, kau ingin kembali bersamaku?”

Chaerin mengangguk pasti. “Ya, kupikir itu adalah jalan satu-satunya untuk meraih kebahagiaan dalam hidupku. Seperti apa yang Hyunjae katakan padaku.”

Seungyeol baru menyadari, ternyata Hyunjaelah yang memberi masukan pada Chaerin. Ia sangat berterima kasih dengan sahabatnya itu!

Chaerin tak menyadari kalau ia sekarang tersenyum karena melihat kebahagiaan dari mereka bertiga. Mulai dari Jihyun yang memeluknya secara tiba-tiba, Jinwoon yang tersenyum dan memberikan selamat padanya, dan Seungyeol yang juga memeluknya dengan erat. Ketika tersadar, ia bertanya-tanya dalam hati.

Apakah ini yang dinamakan kebahagiaan?

Kupikir aku sudah memilih jalan yang benar.”

****

Eunji dan Kris berdiri di ujung zebra cross, menanti lampu merah—untuk penyebrang jalan—berganti menjadi hijau.

Pandangan Eunji tertuju pada sebuah kafe. Tertera tulisan Holly Cafe pada pintu masuk kafe itu.

Ia melihat-lihat apa yang ada di dalam kafe itu dari jauh. Melihat seseorang meneguk segelas minuman membuatnya haus.

“Oppa! Kita ke kafe di seberang sana, yuk!”

Kris menatap sebentar ke arah kafe yang Eunji lihat, lalu ia mengangguk dengan senyumannya.

Lampu merah sudah berganti warna menjadi hijau, mereka dan orang-orang yang juga ikut menyebrang, melintasi zebra cross.

“Oppa, aku ingin minuman itu.” Katanya pada Kris sambil menunjukkan orang yang sedang meminum minuman tadi.

Kris tersenyum dan menggenggam tangan Eunji menuju kounter tempat memesan menu di kafe itu.

Eunji membulatkan matanya saat Kris menggenggam telapak tangan kanannya. Ia melihat ke arah tangannya, Kris menyelipkan jari-jarinya di sela-sela jari Eunji.

Eottheokke? Kenapa aku jadi tidak terkontrol begini sih? Aduh ini pipiku kenapa jadi panas begini?” Gerutunya dalam hati sambil menepuk-nepuk pelan pipinya dengan tangan kirinya.

Kris yang baru menyadari gerak-gerik Eunji menoleh padanya. “Hei, apa kau baik-baik saja?”

Aku menggeleng seadanya. “Ah, aku baik-baik saja, hehe. Ah itu, minumanku! Oppa yang bayar ya? Hehe.” Ujar Eunji yang langsung mengalihkan perhatiannya.

Kris dengan sigap mengambil minuman pesanan Eunji di konter kafe, dan kembali padanya. Ia menyerahkan jus stroberi itu pada Eunji sambil tersenyum. “Ini, punyamu. Aku yang traktir.”

Eunji kegirangan mengetahui Kris mentraktirnya. “Tapi kau harus mentraktirku juga, tapi nanti. Oke?”

Eunji menatap Kris girang, matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang dibelikan gulali oleh orang asing. Kris tertawa melihat tingkah Eunji seperti itu. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya dan mengajak Eunji keluar dari kafe itu.

“Oppa, tunggu di luar. Aku ingin ke toilet sebentar. Oke?” Pinta Eunji sambil menyerahkan jus stroberinya ke tangan Kris dan segera kembali lagi ke dalam kafe untuk ke toilet.

Kris menatap jus stroberi milik Eunji. Ia menyesap jus stroberi dengan sedotan yang terdapat di minuman itu. Tak lama, wajahnya mengkerut, mencoba menahan rasa asam di mulutnya.

“Jus stroberi macam apa ini? Asam sekali!” Umpatnya sambil mendecak-decakkan lidahnya, mencoba menetralisir rasa asam dari lidahnya.

****

Eunji mencuci tangannya di wastafel toilet, lalu mengusapkan tangannya yang basah ke arah wajahnya. Ia melihat jam tangan birunya. Jam sudah menunjukkan pukul 23.30. Dia harus segera pergi ke Namsan Tower. Kalau tidak, ia akan melewati momen kembang api pada tahun baru di sana.

Tiba-tiba, Eunji tak sengaja membuat seorang wanita yang juga ingin keluar dari toilet itu terjatuh.

Jwiseonghaeyo, aku benar-benar minta maaf!” Eunji segera membantu wanita berambut hitam itu berdiri.

Sejenak, Eunji kagum dengan wajah wanita itu. Ia begitu cantik.

Gomawoyo, terima kasih, kau telah membantuku berdiri.” Ucap wanita itu sambil tersenyum.

Eunji langsung mengelak. “Ah, aku tidak berbuat apa-apa. Justru seharusnya aku minta maaf padamu karena membuatmu terjatuh. Mianhaeyo.”

Eunji segera meninggalkan toilet dan berjalan sebentar melihat-lihat isi kafe ini. Hei, Eunji, seharusnya kau sedang di perjalanan menuju Namsan Tower. Tapi mengapa kau malah berdiam di kafe ini?

Eunji merasa ada sesuatu yang aneh di kafe ini. Ada yang membuat Eunji penasaran, maka ia kembali melihat-lihat kafe  ini.

Pandangannya kini terfokus pada seorang laki-laki yang sangat familiar dengannya. Namja itu sedang tertawa-tawa bersama teman-temannya di tempat duduk kafe.

“Sepertinya teman-temannya membawa pasangannya, kenapa dia tidak?” Gumam Eunji pelan yang masih menatap namja itu dari belakang.

Eunji mendekat sedikit ke arah namja itu duduk, dan tiba-tiba seorang yeoja menghampiri namja itu.

“Apakah aku terlalu lama, Yeol? Ini, minuman kesukaanmu. Sudah lama kau tidak meminumnya, kan?” Kata-kata yeoja itu membuat namja itu menoleh ke arahnya yang masih berdiri.

Eunji terkejut melihat wajah namja itu dari samping. Ia menarik napasnya sekuat yang ia bisa, lalu menghembuskannya hingga oksigen yang ada di paru-parunya benar-benar tak tersisa.

Bulir-bulir air matanya mulai menggenang di matanya. Ia membesarkan matanya agar air matanya bisa menampung air mata sehingga tidak jatuh.

Dengan segera ia membalikkan badannya, dan menghapus semua air matanya yang bahkan belum sempat mengalir di pipinya. Lalu ia berlari menuju pintu keluar dan berhenti tepat di hadapan Kris.

Ia mengambil jus stroberinya dari tangan Kris yang masih mencoba menghilangkan rasa asam di mulutnya akibat jus itu. “Eh, eh Eunji jangan diminum!! Jus itu asam sekali..” Kris menghentikan kalimatnya setelah melihat Eunji menyesap jus itu dari sedotan.

Eunji meminum jus stroberi itu tanpa memperdulikan kata-kata Kris barusan sampai habis. Kris mengkhawatirkan ekspresi wajah Eunji setelah meminum jus itu.

Eunji menyipitkan matanya untuk menahan rasa asam jus itu setelah membuang gelas plastik jus itu dari tangannya. Kris tahu akan seperti ini wajah Eunji setelah meminum jus stroberi itu.

Kris terkejut saat Eunji tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, hingga membuat wajahnya merah seperti orang yang sedang mabuk.

“Aaaah, minuman gila! Jus stroberi macam apa ini? Kenapa bisa seasam ini? Hahaha!” tawa Eunji sambil memegang perutnya.

Kris menjadi curiga, kenapa sikap Eunji mendadak aneh seperti ini?

“Eunji, kau baik-baik saja?” Tanya Kris sambil menggenggam kedua bahu Eunji, mencoba untuk menenangkannya.

Eunji menunduk. “Hah, aku baik-baik saja…”

Kris tak suka sikapnya yang seperti ini. Ia mengangkat dagu Eunji dan mendapati wajah yeoja itu memerah, begitu juga dengan kedua matanya. Di wajahnya, terdapat bekas aliran air matanya, yang menandakan ia baru saja menangis.

“Eunji, kau ini kenapa??” Tanya Kris yang menekankan kata ‘kenapa’.

“Apa aku terlihat baik-baik saja, eo?” Eunji meneruskan isakan tangisnya.

****

Ting

Eunji dan Kris langsung melangkahkan kaki mereka ke dalam lift kosong itu untuk turun ke lantai dasar Menara Namsan. Ya, hanya mereka yang ada di dalam lift tersebut.

Kris melihat Eunji yang diam seribu bahasa dari tadi. Walaupun saat melihat kembang api dari atas menara ia terlihat begitu antusias, tapi kini raut wajahnya kembali seperti sebelumnya. “Eunji, kau sedang ada masalahkah? Kau menjadi aneh semenjak dari kafe itu.” Tegur Kris padanya.

“Atau, apakah ini karena efek jus stroberi itu, eo?” Gurauan Kris berhasil membuat Eunji tertawa kecil.

Eunji mengubah posisi berdirinya menjadi berhadapan dengan Kris. “Oppa, ada yang aneh dengan perasaanku.”

Kris bingung dengan kalimat Eunji barusan. “Maksudmu?”

Eunji mendongakkan kepalanya, menatap Kris dengan serius. “Oppa, bisakah kau membungkuk sebentar?”

Kris benar-benar bingung dengan permintaan Eunji. Tanpa mengelak, Kris langsung menekuk sedikit lututnya.

“Seperti ini?” Tanyanya.

Eunji tertawa melihatnya. Kris menjadi semakin bingung. “Oppa itu tinggi sekali ya! Sudah membungkuk saja, masih lebih tinggi dibanding diriku.” Guraunya dengan tawaan kecil.

Kris kembali berdiri normal lalu mengusap tengkuknya sambil tertawa kecil.

Namun tiba-tiba Eunji menjinjitkan kedua kakinya dan mengecup bibir kecil milik Kris.

Tentu saja apa yang telah dilakukan Eunji itu membuat Kris sangat terkejut. Sekitar lima detik, Eunji pun melepas bibir tipisnya dari bibir gurunya itu.

Dan pas sekali, setelah itu pintu lift terbuka dan Eunji melangkah keluar lebih dulu. Kris masih berusaha berpikir. “Mengapa Eunji menciumku?” batinnya.

Tak lama, Kris langsung menyusul Eunji yang sudah meninggalkannya lebih dulu.

“Tunggu!”

Eunji tidak menghiraukan seruannya sama-sekali. Ia tetap berjalan mendahului Kris. Kris mau-tidak-mau harus berlari menyusulnya. Setelah ia berhasil menarik lengan Eunji di dekat tempat parkir, ia melihat Eunji sedang menangis diam-diam. Tanpa membuang waktu, Kris langsung menarik Eunji ke dalam pelukannya dengan erat.

“Aku yakin, kau pasti sedang mengalami masalah.” Ucapnya sambil mengelus kepala Eunji dengan lembut. Sementara Eunji hanya bisa terisak di pelukan Kris.

“Maafkan aku, Oppa. Aku telah lancang seperti tadi, maaf, maafkan aku…” Isak Eunji.

Kris melepaskan pelukannya, lalu mengenggam erat kedua bahu Eunji. “Kumaafkan. Tapi, sebenarnya apa masalahmu?”

Eunji menceritakan semua kejadian di kafe itu sambil berusaha untuk tidak menangis. Tanpa Eunji sadari, Kris mengepalkan telapak tangan kanannya kuat-kuat.

****

Pagi itu, Chanyeol terbangun dan mengusap kedua matanya sambil menguap lebar. Setelah itu dia mengambil ponselnya yang terletak di nakas. Seperti biasa, pasti ada ucapan selamat pagi dari Eunji. Apalagi, sekarang hari Minggu. Hari yang tepat untuk membaringkan tubuh setelah kemarin asyik ber-tahun-baru-ria.

Tapi, kini tidak seperti biasanya. Ponselnya tidak ada sama sekali notifications. “Apa mungkin Eunji belum bangun tidur?” tanyanya pada dirinya sendiri.

Tanpa membuang waktu, Chanyeol menulis pesan singkat untuk Eunji.

To: Byun Eunji

Eunji!!! Selamat tahun baru! Mian, aku kemarin tidak sempat mengucapkannya tepat jam 12 malam. Maaf ya?

Aku tahu, pasti kau belum bangun dari tidurmu kan? Wajah tidurmu itu seperti apa ya? Pasti jelek hahaha. Oke aku tidak mau bercanda sekarang. Kembali ke tujuan awalku.
Hmm, apakah kau mau kencan hari ini? Bagaimana?
Kutunggu di tempat seperti biasa. Jam 11.00. Oke?

See you soon, Beautiful 😉

Tak lama setelah itu, Chanyeol langsung bergegas mengambil handuknya dan ke kamar mandi.

****

Eunji’s POV

“BYUN BAEKHYUUUUUN!!! IREONAAA!! YAAAK!” Demi Tuhan! Anak ini sangat susah untuk dibangunkan! Seperti mayat yang masih bernapas!

“Ayah menyuruhmu segera bangun!! BYUN BAEKHYUUUUN!!” teriakku sekali lagi di dekat telinganya.

Responnya hanya: Menguap, berkata “Sebentar..hoaam.”, dan menutup wajahnya dengan guling. Sungguh membuatku naik darah!

Kucoba dengan cara terakhir, yaitu menyiram wajahnya dengan air dingin. HAHAHA. Lihat saja kau, Byun Baekhyun!

Aku bergegas mengambil gayung berisikan air dingin. Kau tahu, cuaca pagi ini sangat dingin. Aku yakin, wajah Baekhyun akan menjadi patung es seketika. Membayangkannya saja membuat perutku geli.

Tapi, salah satu barang yang sangat berarti untukku: ponselku, malah tercelup ke dalam bak mandi…

Dan hal itu membuatku…. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRGHHHHH!!!!!

****

Chanyeol’s POV

Sudah jam berapa ini? Jam 12.30? Sudah satu setengah jam aku berdiri di kafe ini. Byun Eunji? Kau di mana??

Aku coba mengecek ponselku. Siapa tahu ada pesan masuk baru untukku. Tapi setelah kulihat, tidak ada. Apakah Eunji masih belum bangun juga? Ah tidak mungkin. Jalan terakhir adalah menghubunginya.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Sambungan akan dialihkan ke mailbox.

Aigoo kenapa ponselnya tidak aktif? Aish. Aku mengacak-acak rambutku. Aku heran dengan Eunji. Kenapa dia jadi aneh? Mulai dari tidak mengucapkan selamat pagi seperti biasa padaku, kali ini dihubungi malah tidak aktif.

Sudahlah, daripada mati kebosanan di sini, lebih baik aku ke toko buku yang ada di lantai dua mall ini saja. Hitung-hitung untuk membeli buku soal-soal persiapan ujian kelulusan nanti. Otomatis, aku akan lebih sering bersama Eunji untuk membahas soal-soal itu.

30 menit kemudian…

Sudah berapa kali aku melihat-lihat buku di sini? Aku sangat bosan! Tapi aku coba bersabar. Aku membuka ponselku, berharap ada pesan baru atau panggilan masuk dari Eunji. Tapi sayangnya tidak.

“Park Chanyeol!!!”

Tiba-tiba ada suara perempuan yang meneriakkan namaku dari belakangku. Aku membalikkan badanku. Kukira itu Eunji. Ternyata…

Dia berlari ke arahku lalu memelukku. “Noona!! Lepaskan! Malu tahu dilihat banyak orang!” Gerutuku pada Yuri Noona.

Yuri Noona melepaskan pelukannya dengan terpaksa. Hal itu terlihat dari wajahnya yang menatapku cemberut seperti itu.

“Aish, kau ini kenapa sih? Memangnya aku tidak boleh melakukannya? Aku kan merindukanmu tahu!” Gerutunya.

“Ten..tentu saja tidak boleh! Aku kan sudah besar, tidak seperti dulu lagi!” Belaku tak mau kalah.

Yuri Noona hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Yeol-ah, kita main ke Game Center di lantai 5, yuk?” Ajaknya.

Entah kenapa aku menurutinya. Ya, kuakui, aku memang bosan dari tadi menunggu Eunji yang sepertinya tidak akan datang juga.

Kami pun bergegas menuju lift untuk ke Game Center.

****

Eunji’s POV

Kenapa nasibku belakangan ini selalu sial?! Sekarang, ponselku malah jatuh di bak mandi. Aish!

Aku kini berada di salah satu pusat perbelanjaan terkenal. Ya, aku ingin memperbaiki ponselku di mall itu. Hanya mall itu yang paling dekat dengan rumahku.

Karena aku belum pernah ke sana, jadi aku kebingungan untuk mencari tempat khusus untuk ponsel. Aku pun bertanya pada salah satu petugas di mall itu.

“Phone Service letaknya di lantai 5, agasshi. Anda akan melihat game center di sana. Anda jalan lurus lalu belok kiri. Di sana banyak deretan tempat khusus perbaikan ponsel.” Jawabnya ramah.

Aku langsung menuju lift dan menekan tombol 5.

Suara-suara lagu dan seruan orang-orang di game center itu begitu keras setibanya aku di lantai lima. Aku mengikuti arahan petugas tadi. Tapi, aku melihat sesuatu di dalam game center itu.

Aku melihat seseorang yang kukenal dengan mantel cokelat, memainkan game yang entah apa namanya, dengan seorang wanita yang sama saat di kafe malam kemarin.

Mereka menggunakan kakinya untuk menari di atas lantai yang bergambar tanda panah, mengikuti irama musik dengan menginjak tanda panah sesuai dengan yang tertera di monitor game itu. Mereka tampaknya begitu semangat menari, dan aku melihat wanita itu hampir terjatuh, kalau bukan Chanyeol yang sigap menahannya.

Demi Tuhan, hatiku begitu rapuh dan kini remuk karena melihat mereka. Wanita itu tertawa dan Chanyeol ikut tertawa.

Kenapa aku harus menyaksikan kejadian ini?

****

Aku duduk di kursi mejaku, meletakkan tasku di atas meja dengan lemas. Kejadian sepanjang dua hari kemarin, membuat tenaga di otakku terkuras habis.

Tiba-tiba suara berat orang itu menghampiriku. Tanpa ku lihat dirinya, aku tahu dia duduk di mejanya sambil menatapku.

“Eunji-ah! Kenapa kau tidak membalas pesanku kemarin? Lalu kemarin kau juga tidak datang ke tempat seperti biasa. Aku kan ingin meng—”

Ucapannya terputus saat aku bangkit dari kursi dan keluar dari kelas menuju kelas Krystal dan Sulli. Aku ingin memuntahkan perasaanku pada mereka, sahabatku.

****

Esoknya, ketika bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung keluar tanpa memperdulikan omelan Chanyeol padaku.

“Eunji!! Kau ini kenapa sih? Kau marah padaku ya? Aish, kau ini marah padaku terus.” Omel Chanyeol padaku. Tapi aku sengaja untuk tidak menghiraukannya.

“Oh iya, nanti kita belajar bersama, kan? Aku sudah beli banyak buku kumpulan soal untuk ujian kelulusan nanti.” Katanya lagi. Pandanganku hanya fokus ke depan, karena aku ingin cepat pulang dan tidur di rumah.

“Eunji!” Ia terus memanggilku dan menyesuaikan langkah kakiku yang kecil dari langkah kakinya yang besar.

Aku berhenti dan menatapnya dingin, “Aku ingin kau tak usah ke rumahku lagi. Aku bisa belajar sendiri. Jangan pernah ajak aku berbicara lagi denganmu.” Tak lama, aku langsung meninggalkannya yang masih berdiri di situ.

****

Suasana kantin sangat gaduh. Krystal dan Eunji mengantre untuk membeli menu makanan siang. Eunji memandang heran ke arah Krystal yang sibuk menatap layar ponselnya, padahal mereka sedang mengantre di antrean yang panjang. “Hoi, kita ini sedang mengantre, apa kau tidak takut ponselmu terjatuh?” Tegur Eunji.

Krystal menoleh ke belakang—Eunji berdiri di belakangnya, dan ia hanya tertawa aneh yang membuat sebelah alis mata Eunji terangkat.

Pikirannya mulai panik. Ia segera menyembunyikan ponselnya agar tidak terlihat olehnya. Lalu ia merasakan getaran ponselnya, ada pesan masuk. Krystal membukanya dan tersenyum penuh arti melihat isi pesan tersebut.

Tersisa dua orang yang mengantre di depan mereka berdua. Tiba-tiba Krystal menarik tangan Eunji keluar dari antrean yang panjang itu lalu menyeretnya ke toilet wanita yang dekat dengan kantin. Eunji menganga setelah Krystal melepaskan tangannya.

“YA!! Kau ini gila ya? Tinggal dua orang lagi, kita bisa menikmati makan siang hari ini. Tapi tiba-tiba kau menarikku dan aku sekarang tidak bisa mengisi perutku yang sedaritadi meraung-raung meminta makan. KAU INI KENAPA HAAH??!!” Amuk Eunji yang hanya bisa membuat Krystal cemberut sambil menutup kedua telinganya erat-erat.

“Ih kau ini, dengar dulu!!” Bantahnya setelah melepas kedua tangannya dari telinganya.

“Aku ingin memberitahumu sesuatu. Kalau aku memberitahumu di sana, tidak akan terdengar olehmu. Lagi pula di sana sesak sekali.” Sambungnya.

Eunji melipat kedua tangannya di depan perutnya. “Yasudah, kau mau memberitahu apa?”

Krystal membisikkan sesuatu. “Eunji, Park Chanyeol ingin kau menemuinya. Di atap sekolah.”

Saat mendengar bisikan itu, kedua mata Eunji membulat ketika mendengar nama itu muncul dari mulut Krystal.

“Jadi, kau mencegahku makan siang hanya karena namja itu? Kau gila.” Katanya setelah Krystal menyelesaikan bisikannya.

“Ya ampun Eunji! Kau ini bertengkar bukannya baikan malah tambah jauh-jauhan!”

“Lalu maksudmu, orang yang sedang bertengkar itu malah harus dekat-dekatan?” Tandasnya.

Krystal jadi kesal. Ia mencubit kedua pipi Eunji lalu menyuruhnya diam. Eunji hanya bisa mengaduh kesakitan.

“Kau ini bisa diam tidak sih? Aku tahu, selama ini kau bertengkar hanya karena masalah sepele. Tapi sekarang, masalah kalian itu bukan lagi sepele, tapi masalah serius, dan harus diselesaikan secara dewasa. Bukannya kekanak-kanakan seperti menjauhinya secara sepihak.”

“Lalu?” Tanyanya tanpa rasa penasaran.

Aigoo Eunji!!” Krystal menahan geramnya.

“Di dalam suatu hubungan, pertengkaran itulah yang membuat kedua pasangan menjadi tambah dekat. Contohnya, persahabatan. Kalau mereka tidak pernah bertengkar, mereka tidak akan mengeluarkan keluhan mereka dan mengetahui sifat satu sama lain. Jadi, seharusnya kalian itu membicarakan kesalah pahaman ini baik-baik. Agar Chanyeol tahu keluhanmu dan dia bisa memperbaiki kesalahannya.” Jelas Krystal panjang lebar.

“Apa katamu? Kesalahpahaman? Jelas-jelas aku melihatnya berkumpul dengan teman-temannya lalu seorang wanita muncul dan memanggilnya dengan sebutan menggelikan. Kalau dia itu temannya, mereka terlalu akrab! Dan satu lagi! Kemarin aku melihatnya bersama wanita yang sama di Game Center mall itu! Apa itu adalah suatu kesalahpahaman, eo?!”

“Tapi tidak sampai kau melampiaskan semuanya ke guru Wu!”

Eunji diam. Ia tak bisa mengeluarkan kata-katanya lagi. Melampiaskan? Pelampiasan terhadap guru Wu? Apa itu benar? Eunji sendiri masih tidak yakin akan hal itu.

“Eunji, kumohon. Aku tahu guru Wu itu mencintaimu. Tapi, dengan adanya kejadian ini, kau juga tidak boleh melampiaskannya ke orang lain. Mendengar ceritamu kemarin, aku dan Sulli tahu, kau hanya mencintai Chanyeol.”

“Tapi, entah kenapa, aku bisa-bisanya mencium guru Wu malam itu…”

Krystal mendaratkan kedua tangannya di bahu Eunji. “Itu karena kau bimbang. Perasaanmu sedang goyah. Hatimu tidak bisa menerima apa yang kau lihat saat itu. Dengan cepat kau berpikir bahwa kau memang menyukai guru Wu. Padahal kenyataannya tidak. Jangan buat guru Wu lebih menderita karena itu, Eunji-ah.”

Eunji memeluk Krystal dan menangis. Krystal tersenyum miris melihat Eunji yang hampir runtuh pertahanan cintanya.

“Kenapa kehidupan cintaku ini rumit? Ini terlalu aneh…”

Krystal melepaskan pelukan Eunji lalu mengusap air mata Eunji. “Sudahlah, jangan menangis lagi. Hubungan kalian itu sedang diuji. Sekarang, temui chanyeol di atap sekolah. Bicara baik-baik dengannya. Dia pasti sudah menunggumu di sana. Hwaiting!” Seru Krystal menyemangati Eunji.

Eunji lalu keluar dari toilet wanita menuju atap sekolah.

 

****

 

Di kelas, hanya ada Chanyeol seorang.  Chanyeol duduk di kursinya, menopangkan wajahnya di telapak tangan kirinya yang menyikut di meja, dan jari-jari tangan kanannya yang memutar-mutarkan pensilnya. Semua murid di kelas ini pergi meninggalkan kelas untuk mengisi waktu istirahat yang lamanya 30 menit.

Belakangan ini, ia menjadi murid yang agak pendiam. Karena ia masih bingung dengan Eunji. Biasanya kalau ia bertengkar dengannya, pasti selambat-lambatnya itu sehari penuh. Sekarang? Bahkan sudah 3 hari, Eunji menjauhinya sampai-sampai ia tidak ingin Chanyeol ganggu sedikitpun. Mengingat kejadian kemarin, membuat Chanyeol stres sendiri.

Tiba-tiba Sehun mengusik kedamaian di kelas itu sehingga Chanyeol berhenti dari kegiatannya itu.

“Ya, Chanyeol-ah. Kau tidak mau keluar dari kelas? Apa kau tidak suntuk berada di sini terus? Ayolah, kita keluar.”

“Tidak, aku di sini saja.” Jawabnya tanpa menoleh ke arah Sehun yang sudah berdiri di depan mejanya.

“Tapi aku yakin otakmu sangat membutuhkan oksigen. Ayo ikut aku.” Paksa Sehun yang langsung menarik pergelangan tangan Chanyeol dan menyeretnya ke suatu tempat.

Sehun tersenyum sendiri ketika menaiki tiap anak tangga dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Chanyeol. Chanyeol merasa diperhatikan oleh banyak pasang mata. Beberapa pasang mata memandangnya aneh. Lalu ia sadar bahwa kelakuan Sehun yang ia anggap sedang tidak waras ini membuat semua orang mengira yang aneh-aneh.

Mereka tiba di sebuah tempat yang berada di ketinggian 4 lantai dari lapangan sekolah, tempat yang memungkinkan orang-orang untuk melihat pemandangan kota Seoul yang kini sedang disinari cahaya matahari.

“Nah, ambillah oksigen di sini banyak-banyak. Aku yakin pikiranmu akan menjadi rileks.” Saran Sehun yang baru saja mengambil susu coklat dari saku blazernya yang entah kapan ia beli. Lalu ia membagikan satu kotak susu coklat tersebut kepada Chanyeol.

Chanyeol yang melipatkan tangannya di atas pagar pembatas atap sekolah langsung menerimanya. “Gomawo.” Ucapnya singkat.

“Ekhm, ngomong-ngomong, kalau aku perhatikan kalian berdua, kali ini ada yang janggal. Apa yang terjadi pada kalian, eo?” Tanya Sehun yang memulai pembicaraan mereka setelah keheningan yang melanda mereka.

Chanyeol berhenti menyeruput susu coklat pemberian Sehun. Ia nampak berpikir, namun ia tak mengeluarkan suara apapun setelah itu. Sehun yang ingin mendengar jawaban yang tak kunjung terdengar, menyadarkannya untuk bersuara.

“Hei, kau ini sedang melamun atau menghayal, eo? Menjawab saja lama sekali.” Tandasnya kesal sambil menyeruput susu coklatnya.

Chanyeol mendesah kesal, lalu memijat pelan batang hidungnya. “Aku juga tidak tahu. Aku saja terkejut melihat tingkahnya yang seakan-akan tidak menganggapku ada. Aku juga kesal dibuatnya.”

Sehun juga ikut prihatin dengan masalah percintaan sahabatnya yang satu ini.

“Eh, ngomong-ngomong, Kyungsoo ke mana? Kenapa tadi aku tidak melihatnya denganmu datang ke kelasku?” Tanyanya mengubah pembicaraan.

Kali ini Sehun yang mendesah kesal. “Kau tahu sendiri, dia itu sekarang lagi sibuk-sibuknya dengan pacar pertamanya itu, siapa lagi kalau bukan Sulli.” Sehun mencibir saat menyebut nama Sulli.

Chanyeol hanya bisa tertawa. “Kalau kau tak mau kalah dengannya, kejarlah Krystal.”

Sehun terhenyak. “Apa? Krystal?”

“Iya. Kau pacari dia, lalu kau tak akan kesepian lagi, hahaha.” Gelak tawa Chanyeol semakin membuat Sehun mencibir.

“Ya! Sebaiknya kau urusi dulu masalahmu dengan Eunji, bukannya memberiku saran seperti itu. Aish.” Tandas Sehun yang membuat tawa Chanyeol berhenti.

“Sebaiknya kau susul Kyungsoo, aku ingin sendiri saja di sini.” Suruh Chanyeol.

Sehun kembali terhenyak, seakan-akan Chanyeol tak perlu mendapat pancingan lebih banyak darinya. Akhirnya, Sehun pergi dari atap sekolah sambil tersenyum penuh arti.

Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, lalu mengirimkan sms untuk Krystal.

“Kau bisa menyuruhnya ke atap sekolah, sekarang.”

****

Eunji sampai di depan pintu atap sekolah, kini ia membukanya dan mencari sosok seseorang.

Kini Eunji dapat melihat seorang namja yang ia cari. Namja itu membuka blazer seragamnya,  mengendurkan ikatan dasinya, dan melepaskan dua kancing paling atas seragamnya.

Eunji yang melihat itu sangat terpesona. Rambut Chanyeol yang agak berantakan membuatnya meneguk air liurnya sendiri. Ia kini melihat Chanyeol menyeruput susu kotak kecil. Hal ini membuatnya ia semakin lapar.

“Aduh!! Kenapa di saat-saat begini aku jadi teringat perutku?? Eunji babo!” Gerutunya pada diri sendiri di hatinya.

Ia mendekat ke arah Chanyeol yang melipatkan kedua tangannya di atas pagar pembatas, lalu berdiri di sampingnya.

“Apa kau tidak kedinginan, melepas blazermu di tengah udara yang bersuhu rendah seperti saat ini?” Sapanya yang dingin membuat Chanyeol menoleh kaget ke arah kanannya, di mana Eunji berdiri.

Karena sikap Eunji yang dingin dari dua hari kemarin, membuat Chanyeol kini membatu seketika. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Melainkan hanya memikirkan kesalahan apa yang telah ia perbuat pada yeoja yang sangat ia cintai ini.

Eunji melirik ke samping. “Ya, kau tuli? Pakai blazermu itu.” Suruhnya dengan nada dingin.

Chanyeol sebenarnya agak kesal dengan perintah Eunji tadi. Tapi mau bagaimana lagi, ia masih bingung apa yang membuat Eunji kesal padanya. Akhirnya ia pun memasang kembali blazernya lalu kembali menyeruput susu coklatnya.

Suasana hening. Kata-kata yang Eunji ingin ucapkan saat berlari ke sana tiba-tiba musnah dari otaknya. Ia tak tahu apa yang harus ia ucapkan.

Eunji membalikkan dirinya dan pergi ke arah tangga. Chanyeol merasakan Eunji melangkahkan kakinya menjauh darinya.

Kurang lebih sepuluh langkah Eunji melangkah, tiba-tiba sebuah genggaman erat menggenggam tangannya. Eunji ditariknya dan disandarkannya pada sebuah dinding yang berada di dekat tangga atap sekolah.

Eunji terkejut karena perlakuan Chanyeol yang seperti ini.

Ia melihat ke atas dan wajah lelah Chanyeollah yang ia lihat. Chanyeol meletakkan kedua tangannya di dinding sejajar dengan kepala Eunji.

capture-20130419-223634

“Kau ini kenapa hah??!” Teriakannya itu membuat Eunji merunduk, mencoba meredam suara Chanyeol yang begitu keras.

“Apa maksudmu dengan menjauhiku??! Kenapa kau bersikap dingin padaku sejak dua hari yang lalu?? Kenapa kau seperti tidak menganggapku ada?? Katakan padaku Byun Eunji!!!!!!” Tandasnya bertubi-tubi pada Eunji sambil memukul keras dinding dengan salah satu tangannya yang membuat Eunji takut.

“Kau tidak membalas pesanku, tidak mengangkat telepon dariku, dan kemarin kau menyuruhku untuk tidak berbicara denganmu? Itu sama saja kau membunuhku secara perlahan!” Tandas Chanyeol penuh emosi.

Eunji mengeraskan rahangnya karena kesal. “Hah! Ternyata ‘Hal itu’ sebagai pengganti kencan tahun baru kita? Hal yang tak pernah kuduga? Ya, itu memang benar. Kau menolakku dan berkencan dengan wanita lain adalah hal yang sama sekali tak pernah kuduga! Aku melihatmu dengan wanita yang sama di dua tempat! Siapa yang lebih tersakiti, hah?! Aku, atau kau?!” Eunji berusaha memecahkan emosinya, berbicara dengan suara yang keras di hadapan Chanyeol.

Chanyeol terdiam. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud Eunji.

“Kau pengecut, namja pendusta yang pernah kukenal.”

Kedua mata Chanyeol membesar. Tidak terpikirkan olehnya bahwa Eunji bisa berkata kasar seperti itu padanya.

Eunji menangis. Di antara takut, marah, kecewa, bercampur menjadi satu. Ia takut akan sikap kasar Chanyeol padanya. Ia marah karena Chanyeol tidak tahu letak kesalahannya di mana. Dan ia kecewa karena Chanyeol telah membohonginya.

“Apa? Apa kau bilang? Aku… Aku pengecut? Pendusta? Apa maksudmu? Jadi, kau datang saat itu?”

Eunji mendesah kesal. “Apa semua yang sudah kuutarakan tadi kurang jelas, hah? Ya, aku melihat kaliat di kafe itu, dan di game center. Saat itu aku ingin memperbaiki ponselku yang rusak, namun nyatanya, aku malah melihatmu bersama wanita lain. Dan itu sudah kedua kalinya!” Tandasnya dengan tatapan dingin ke arah Chanyeol.

Chanyeol tidak bergeming sama sekali. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia memang salah. Tak seharusnya ia berbohong seperti itu padanya.

“Eunji, ini salah paham.” Jelas Chanyeol sambil menghapus air mata yang mengalir dari pipi Eunji.

Eunji melirik ke arah tangan Chanyeol yang mengusap pipinya. Lalu menatap Chanyeol lagi. “Bagaimana aku bisa percaya denganmu? Jelas-jelas aku melihatnya dengan mataku sendiri, kalian mesra sekali! Kalaupun itu kakakmu, pasti berbeda dari apa yang kulihat waktu itu! Lagipula kau tidak memiliki kakak perempuan! Apa aku salah?”

Chanyeol sudah geram dengan celotehan Eunji, dia memukul dinding yang menjadi tempat Eunji bersandar. Eunji langsung diam.

“Bisakah kau diam sebentar? Dengarkan aku. Ini hanya salah paham. Mungkin aku memang salah tidak memberitahumu akan hal ini. Tetapi, kalau aku berbicara dengan jujur kala itu, mungkin kau akan kecewa padaku.”

“Yeoja itu adalah sepupuku. Dia anak dari kakak ayahku. Dia memintaku untuk menjadi pacar pura-puranya untuk malam tahun baru kemarin. Kalau kau mengajakku lebih awal daripada dia, mungkin kita tidak akan bertengkar seperti ini,”

Chanyeol menjeda penjelasannya sejenak, berusaha untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Sementara kedua mata Eunji tidak bisa berkedip sama sekali, karena saking kagetnya. Ia, salah, paham.

“Dan yang di game center waktu itu, aku tidak sengaja bertemu dengannya. Aku sudah mati kebosanan menunggumu yang tak kunjung datang menemuiku. Dia mengajakku ke game center, ya sudah, aku menemaninya dan ikut bermain bersamanya.” Jelas Chanyeol yang diakhiri dengan helaan napasnya.

“Jadi kau tidak usah cemburu padanya. Dia itu noonaku yang paling baik. Besok akan kukenalkan padamu. Aku janji. Aku juga akan menyuruhnya meminta maaf padamu karena telah meminjam pacarmu yang tampan ini untuk jadi pacar pura-puranya. Sebenarnya aku agak kesal dengannya. Ckck.” Sambungnya sambil memijat pelan keningnya.

Akhirnya mata Eunji dapat berkedip kembali setelah dengan percaya-dirinya Chanyeol berkata seperti itu. Dia hanya bisa menghela napas dan langsung memeluk pinggang Chanyeol erat-erat.

“K..kau kenapa?” Tanya Chanyeol kaget.

Eunji tidak menjawabnya, malah ia semakin mempererat pelukannya. “Kukira kau tidak akan bisa kuraih lagi,”

Chanyeol membulatkan matanya tiba-tiba, namun ia tersenyum simpul tanpa Eunji tahu. “Maksudmu apa?”

“Aku kira, kau… Kukira hubungan kita hanya sampai di sini saja. Aku sangat khawatir akan hal itu, kau tahu itu.” Jawab Eunji sambil menutup matanya. Mencoba meresapi kehangatan Chanyeol dari tubuhnya.

Sekarang, senyuman Chanyeol semakin mengembang. Namun ia kembali berlaku bijak dengan berdeham singkat.

“Kenapa kau tersenyum? Kau tak melihatku yang sedang marah padamu?”

Chanyeol tidak menjawab, masih tersenyum tulus.

“Karena aku menyayangimu. Aku mencintaimu. Itulah alasanku hanya diam dan tersenyum saat kau marah padaku.” Katanya.

“Kau… Kau adalah pria terbodoh yang pernah ku kenal, Park…Chanyeol…” Tangisannya pecah kali ini. Ia tak bisa menahan kepedihannya. Walaupun ia keras kepala, ia tetap wanita yang mempunyai sisi kelemahan tersendiri.

Chanyeol mengeratkan pelukannya. Membiarkan Eunji membasahi seragamnya.

“Sudahlah, kau tidak perlu cemaskan itu. Kau tahu, kan? Aku membutuhkanmu. Hanya membutuhkanmu.” Ujar Chanyeol yang menekankan kata ‘hanya’ sambil mengusapkan ibu jarinya ke pipi Eunji.

Chanyeol meletakkan telapak tangan Eunji di pipinya. “Dan aku yakin, kau membutuhkanku sekaligus menginginkanku selalu, bukan? Jadi, kita saling melengkapi, dan tak ada yang bisa memisahkan kita. Ara?”

Chanyeol mendekatkan wajahnya ke wajah Eunji. Lalu ia menatapnya dalam.

“Saranghae.”

Chanyeol tersenyum tulus saat ini. Berbeda dengan senyuman-senyuman aneh yang pernah ia tunjukkan pada siapapun. Hanya pada Eunji, ia menunjukkan senyuman menawannya. Bibirnya yang penuh itu melengkung indah di wajahnya. Hal ini adalah salah satu daya tarik Chanyeol yang membuat Eunji yang dulu sangat kesal dengannya bisa jatuh hati padanya. Hal yang membuatnya selalu saja Skak Mat melihat senyumannya.

Selesai mengucapkannya, ia tersenyum singkat, kemudian bibirnya yang penuh itu menyentuh permukaan bibir Eunji yang tipis.

Eunji menangis bahagia. Ia membalas ciuman itu dengan senyuman.

****

Benci…

Karena benci itulah, kita selalu memikirkan orang yang kita benci. Karena di otak kita selalu ada dia, kita bisa-bisa jatuh hati padanya…

****

Gimana part ini? Ini mungkin part paling panjang ya? Kkk miaan kalo banyak typos T^T Maaf yaa ini sumpah lama banget. Aku takut kalian jadi bosen nungguinnya T^T jangan gitu dong T^T *apaini**plakkkk* 

By The Way, ini udah mau mendekati ending looh. Konfliknya kalau aku baca ulang, serius bgt ya? kkk aku juga kaget bisa bisanya jadi kaya begitu. Berantemnya serius ga seperti biasa. Hayoo maunya ending di part berapa? Haha. Bercanda kok 😀 tapi yang mau endingnya nggak bercanda T_T

Planningnya, habis Love Button aku bakal bikin sequel buat…. Kris? Atau, Baekhyun? Atau Sehun/Kyungsoo?? Hehehe. Dukung aku terus ya supaya bisa bikin karya yang terbaik buat kalian readers (9^.^)9

Dan dalam waktu dekat ini, aku pengen bikin drabble buat Kris. ituloh, yang dia masak spaghetti buat Eunji. hehe. iseng pengen bikin kkk ><

Nah, selain itu, aku bakal bikin ff chaptered buat biasku…

Lee Donghae 😀

So, tunggu aja ya! *pengenbangetditunggu**plakkkkkk*

Oh iya, dimohon RCLnya yaa >o< bagi Silent Readers, makasih udah mau baca ^^

Lebih terimakasih lagi buat readers yang komen dan kasih kritikan untuk Ffku ini ^^

Gomawo buat Readers yang ikutin perjalanan cinta JiYeol dari part 1 sampai sekarang. Dukung aku terus ya >< *bowing*

Advertisements

101 responses to “Love Button [Part 9]

  1. aaaa jeongmal neomu daebak thorr fell’a dapet bgt di bagian aki’a chanyeol’a sosweett bgt :* lanjut ya thor 😀 jangan lama” wkwkw 😀 love you chanyeol oppa wkwkwk 😀

  2. Omonaaaaaaa!!
    Ini ff keren sumpahhh :3
    Grgr ff ini gatau knp jadi gasuka sama Kris(?) pdhl Kris bias kuuu-_-
    Ending nya sampe part 15 ajaa *ehh -_-
    Trus ending nya Eunji nikah(?) sama Chanyeol =D wkwk *pertintaan bnyk bgt :3 mian mian*

  3. akhirnnya dilanjutin juga xD
    aaa kangen sama ceritanya, dohh bagus banget dua jempol buat author d(^o^)b
    keep writting yaa… ditunggu part selanjutnya, sebenernya agak sedih sih ceritanya udah mau mendekati ending, pengennya sih gak tamat-tamat gitu(?) wkwk tapi yasudahlah… endingnya yang cetar membahana ya, biar aku bacanya heboh sendiri(?)

  4. jeongmall suka 🙂 lanjutin thor~ aku heboh sendiri bacanya…. aku bener bener udh nunggu yang part 10nya semoga cepet di posting…

  5. unni aku sdh nunggu lanjutan dari love button 8B, akhirnya love button part 9 ada jg, aku kira unnie tdk akan lanjutin lagi. unnie lanjutin terusnyah dan lebih cepat

  6. .aaaa seneng bgt thor bca ff in..gk ngebosenin…thor part selanjutnya jng lama-lama ne???? *gk sabar 😀
    hmmm thor jngng lupa bikin ff lgi yg main cast.nya chanyeol oppa, oke (y) 😀 #bow

  7. Udah kuduga yuri sepupunya…yeayyyyy
    Kayaknya yg dibikin sequel kris dulu aja.. Kasian kelamaan jomblo/eh
    JJANG!!!^^

  8. Uwa.. Daebak .. feelnya dapet banget.. tapi aku kasihan sama kris.. cuman jadi pelampiasan TT_TT

    Sabar yah kris oppa ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s