I Need a Good Husband [ Chapter 5 – Job With a Love Story ]

I Need a Good Husband 2

–Storyline by Aline Park @angiiewijaya–

Main Cast

Kim Mi Jung [OC’s]
Lee Gi Kwang [Beast] as Lee Gi Kwang
Kim Myung Soo or L [Infinite] as Kim Myung Soo

Other Cast

Choi Jun Hong or Zelo [B.A.P] as Choi Jun Hong or Zelo
Jung Dae Hyun [B.A.P] as Jung Dae Hyun
Lee Sung Yeol [Infinite] as Lee Sung Yeol
Bang Min Ah [Girls Day] as Bang Min Ah
Lee Howon or Hoya [Infinite] as Hoya
Kim Ah Young or Yura [Girls Day] as Kim Yura

Genre
Romance

Length
Series

Rating
Teenager, PG-17

Previous
I Need a Good Husband [ Chapter 1 – In Senior High School ]
I Need a Good Husband [ Chapter 2 – You Kiss Me When I Sleep? ]
I Need a Good Husband [ Chapter 3 – New Bodyguard ]
I Need a Good Husband [ Chapter 4 – Graduation ]

I Need a Good Husband
Chapter 5 – Job With a Love Story

Happy Reading

Seorang perempuan ke luar dari apartemennya, dan saat itu juga, ada seorang laki-laki yang ke luar juga dari apartemennya. Apartemen si cowok ini ada di depan apartemen cewek ini. Si cowok langsung senyum ke cewek itu, cewek itu samperin cowok itu dengan bahagia.

“Kamu mau ke kantor Yeol?” tanya cewek itu.

Cowok itu ngangguk. “Kamu juga ke kantor kan? Bareng aja.”

Cewek itu cuma ngangguk. Akhirnya, mereka berdua ke lift buat turun.

Siapa cowok itu? Dari panggilannya emang udah ketebak sih. Sung Yeol. Dia masih jadi ceria kayak dulu, tapi lebih dewasa, dan ya makin gantenglah. Sekarang pekerjaannya adalah sebagai seorang direktur perusahaan ayahnya. Bukan, bukan karena Sung Yeol gamau ambil pusing cari kerja makanya lanjutin perusahaan ayahnya. Tapi, dia berjuang keras kuliah ambil jurusan bisnis dan harus dapet nilai tertinggi, padahal saingannya sebejibun, malah dia juga harus cari uang sendiri pas itu, masa kuliahnya lepas dari orang tua, orang tuanya kasih ujian ke Sung Yeol. Hasilnya? Dia bisa megang perusahaan ayahnya yang di Korea, sedangkan ayahnya mengurus yang berada di Jepang. Nasibnya ini kayak peribahasa emang, ‘berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian’.

Dan cewek itu? Cewek itu Min Ah. Entah jodoh atau apa, sebelum Sung Yeol jadi direktur, Min Ah daftarin diri jadi sekretaris direktur. Untuk perusahaan ayah Sung Yeol, orang yang cukup penting, biaya apartemennya dibayarin, jadilah Sung Yeol sama Min Ah satu apartemen, sebrangan pula. Gimana Sung Yeol ga kesenengan? Harinya penuh bunga.

Iya, emang Sung Yeol masih suka sama Min Ah. Tapi, gatau kenapa dia gamau ngutarin perasaannya. Para orang perusahaan udah gosipin Sung Yeol-Min Ah, soalnya mereka berdua suka makan siang bareng, pergi ke kantor bareng, pulang bareng. Ya gitulah, HTS-an kalo anak remaja bilang.

Di tempat lain, seorang perempuan sedang mengatur beberapa koki di dapur. Ia mengatur agar pesanan tetap enak dan datang cepat. Wajahnya yang manis itu langsung berubah jika sedang berada di dapur restoran ternama, tempatnya bekerja. Ia akan menjadi tegas, tetapi tetap dengan perhatian untuk para koki.

Restorannya emang belum buka, tadi baru persiapan. Si perempuan itu milih buat ke luar sebentar cari udara segar. Dia melihat-lihat meja bar yang emang tersedia di restoran tersebut. Ga sengaja, ia melihat sebuah majalah yang membahas mengenai dunia internasional. Ia kaget ngeliat siapa yang menjadi model cover majalah itu. Hatinya sakit juga ngeliatnya, tapi ada rasa seneng di dalam hatinya. Pengen nangis, tapi lagi di restoran.

“Yura noona, sebentar lagi restoran akan buka.” kata salah satu koki.

Yura menoleh ke arah si koki. Ia ngangguk pelan. Dia taruh majalah itu di atas meja kembali, setelah itu dia langsung pergi ke dapur.

Selama bekerja, Yura susah banget buat konsentrasi, buat tegas sedikit rasanya gaada tenaga. Jantungnya berdetak dengan kencang. Bener-bener masih keingetan sama cover majalah tersebut. Akhirnya, jam istirahat pun datang, Yura tanpa babibu lagi, langsung pergi ke tempat rak-rak para pegawai. Dia keluarin ponselnya dan menekan sebuah nomer yang dia hafal banget.

“Oppa? Apa aku mengganggumu? … Ah, aku hanya ingin bertanya sesuatu … Apa kau sore ini sibuk? … Tidak? Benarkah? Bisakah kau ke apartemenku? Ya sekedar menonton film mungkin. … Bisa? Ah, gomawo oppa! Kau memang selalu baik. Yasudah, aku tunggu kamu oppa, saranghae.”

Yura menutup sambungan telfon. Ia tersenyum lebar mendengarnya. Sebenernya sih, Yura pengen cari kegiatan aja biar ga gitu suntuk, mengajak nonton seseorang yang seharusnya, atau mungkin, atau bahkan harusnya adalah orang yang paling spesial. Tapi, otak Yura bener-bener keganggu sesaat gara-gara cover majalah tadi.

Selanjutnya, di sebuah ruang rapat. Seorang laki-laki bertubuh kekar yang dibalut kemeja dan jasnya, berusaha menahan senyumnya. Ia merasa sangat senang pas lagi dapet telfon saat jam makan siang. Yaiyalah, siapa sih yang ga seneng diajakkin nonton sama pacarnya, atau mungkin, yang mau dibikin jadi calon istri. Semoga sih bisa.

Laki-laki itu kurang bisa fokus sama gambar-gambar struktur bangunan gedung apartemen yang lagi menjadi topik pas itu. Padahal, laki-laki ini adalah orang penting dalam projek ini, dan projek ini mendapat keuntungan yang sangat besar.

“Tuan Lee, bagaimana dengan usul dari Nyonya Jung?” tanya sang pemimpin rapat.

“Eh? Saran?”

“Iya, mengenai lantai lobby menggunakan bahan carpet.”

Orang yang dipanggil Tuan Lee itu berusaha memikir untuk jawaban yang tepat. Ia sama sekali tidak mendengarkan apa-apa, ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Akhirnya, muncul suatu jawaban di otaknya. “Ah, saya rasa itu kurang bagus. Karena, sangat susah dibersihkan, debu dapat menempel, bisa membuat para penghuni tidak nyaman. Meski, tampaknya lebih aman, tidak licin.”

“Lebih baik kita gunakan saja ubin keramik, itu lebih baik.” kata si pemimpin rapat tersebut.

Tuan Lee hanya tersenyum. Jawaban yang sangat membuatnya selamat.

Still in the morning.

Seorang perempuan turun dari tangga dengan semangat. Pakaiannya udah rapi, mukanya udah pake make up tipis, rambutnya juga udah ditata rapi. Dia berjalan ke meja makan. Di sana anggota rumah, ya cuma dua orang sih, udah pada siap-siap sarapan. Agak telat juga sih perempuan itu malah baru turun. Ya gitu deh, ribet emang perempuan itu.

Si perempuan itu dari belakang nyium pipi seorang wanita paruh baya. “Pagi eomma.” sapanya. Kemudian, ia pergi ke sebrang meja makan. Ia duduk di samping laki-laki muda yang baru aja mau makan itu. Perempuan itu tanpa babibu, tanpa minta izin, tanpa kasih surat keterangan, tanpa kasih SMS dulu, tanpa BBM dulu, nyium pipi laki-laki itu. Sontak si laki-laki langsung noleh ke perempuan itu. “Pagi oppa.” sapanya, sambil tersenyum dan menatap dengan isyarat ‘peace’.

“Ya! Kau membuatnya kaget Mi Jung!” kata eomma si perempuan itu.

“Ah, eomma, aku kan sering melakukannya.” jawab Mi Jung. Ketika si laki-laki baru saja mau memasukkin sesuap makanan ke dalam mulutnya, Mi Jung malah membuka mulut sambil bergumam ‘aaa’, membuat gerakkan tangan laki-laki itu berhenti. Ia langsung menyuapi Mi Jung dengan makanan yang ada di sendoknya. Ia kemudian mengelus puncak kepala Mi Jung. “Dasar manja.”

“Biarin, oppa juga seneng kan aku manja gini?” kata Mi Jung, sambil nyenggol dengan sikunya, menggoda.

Eomma Mi Jung hanya tertawa pelan melihat perilaku putrinya itu. Emang, Mi Jung ini manja, suka bercanda, ceria kalo lagi di rumah. Mungkin temen-temen sekolahnya gaada yang nyangka Mi Jung bisa kayak pas di rumah. Ganas sih di sekolah dulu.

“Dae Hyun oppa, mau makan siang bareng ga nanti?” tanya Mi Jung.

“Hm? Makan siang bareng? Bisa aja. Aku anter kamu kalo gitu.”

“Ok! Gomawo oppa.” jawab Mi Jung sambil tersenyum lebar.

Lagi-lagi eomma Mi Jung sedikit terkikik melihat perlakuan putrinya itu. Andai aja, appa Mi Jung lagi ga keluar kota, pasti udah semangat banget gangguin Mi Jung sama Dae Hyun.

Iya, laki-laki itu emang Dae Hyun. Masih inget kan? Si bodyguard yang manis itu. Eitss, tapi sekarang udah bukan bodyguard lagi. Dia sekarang adalah direktur perusahaan appa Mi Jung, cabangnya sih, bukan pusatnya. Tapi tetep hebat kan? Keluarga Mi Jung seneng banget sama Dae Hyun, pake acara muka ganteng pula. Jadi ya, mereka bisa kasih pangkat sebesar itu buat Dae Hyun.

Urusan bodyguard? Mi Jung masih pake bodyguard, ya agak lebih tua dikit. Untung ga kayak yang dulu, paling anter-anter doang.

Setelah menghabiskan sarapan mereka, Mi Jung sama Dae Hyun siap-siap buat berangkat kerja. Mereka ga bareng-bareng, Dae Hyun bawa mobilnya, Mi Jung dianterin bodyguard.

Akhirnya, Mi Jung sampe di sebuah gedung tinggi. Pas Mi Jung lewat, semua pegawai bakal bilang ‘selamat pagi’ sambil menunduk. Mi Jung akan menjawabnya dengan senyuman manisnya itu. Kemudian, dia akan masuk ke dalam lift. Ia tekan tombol angka 7. Tak lama, lift berbunyi dan terbuka. Mi Jung ke luar dari situ. Sama seperti sebelumnya, jika Mi Jung lewat, semuanya akan mengucapkan ‘selamat pagi’ dan dijawab dengan senyuman manis Mi Jung.

Mi Jung masuk ke dalam ruangannya. Dia langsung jatohin tasnya di atas kursi dan liat beberapa magazine yang emang selalu di atas mejanya. Edisi-edisi tiap bulan dengan cover model-model atau artis terkenal terpampang di situ.

Yap, Mi Jung emang bekerja di salah satu tempat merek pakaian yang amat sangat terkenal dan merupakan bagian dari bidang pemasaran atau pengiklanan. Jadi ya gitulah, dia harus siapin konsep cover sesuai dengan barang baru perbulannya, abis itu edit-edit, begitulah. Dan hari ini, adalah sesi-sesi pemotretan untuk pemasaran barang-barang baru majalah bulan depan. Mereka menggunakan artis terkenal sebagai cover depan, yang utama.

TOKK .. TOKK ..

Tiba-tiba pintu ruangan Mi Jung diketuk oleh seseorang. “Masuk.”

Seorang perempuan yang kira-kira seumuran sama Mi Jung, masuk ke dalam dengan wajah frustasi. “Mi Jung, bagaimana ini, model utama kita tidak dapat datang karena sakit! Tampaknya agensinya membatalkan kontrak kalli ini.”

“Kau bercanda.” jawab Mi Jung, shock.

“Tampaknya kita masih diberi satu minggu lagi untuk mencari pengganti. Sisa model yang lain tetap dilaksanakan hari ini.”

“Baiklah, aku akan mencoba untuk mencari.”

Setelah memberi salam, perempuan itu ke luar dari ruangan Mi Jung. Perempuan itu adalah Kwon So Hyun, teman serekan Mi Jung. Sebenarnya mereka ga ngobrol pake bahasa formal, gara-gara lagi di kantor aja, makanya harus formal.

Mi Jung langsung senderan di kursinya. Masa iya dia harus cari artis lagi? Otomatis terbitan majalah bakal tertunda dan rating pun turun. Cara yang paling baik adalah, membuat majalah itu ratingnya naik akan suatu hal.

Mi Jung kemudian mengambil telfon yang tersambung dengan pegawai kantor. Ia menelfon So Hyun.

“So Hyun, sore ini kita rapat.”

Sore ini, semua pegawai bagian pemasaran pulang telat akibat harus mengadakan rapat. Mi Jung sebenarnya udah kelewat bosen ngurusin kerjaan, malah tadi ga jadi makan siang sama Dae Hyun gara-gara Dae Hyun mendadak ada rapat. Tapi, mau ga mau, soal penggantian model cover harus secepatnya dibereskan.

“Ok, seperti yang kita udah tahu, artis yang seharusnya menjadi model utama dalam pemasaran item baru dalam bentuk media cetak membatalkan kontrak. Kita diberi waktu satu minggu untuk mencari pengganti, dan otomatis adanya pengunduran tanggal terbit.” jelas Mi Jung. “Sekarang yang harus kita bahas adalah, bagaimana caranya majalah kita tetap naik rating, meski terjadi pengunduran tanggal terbit?”

Semua tampak diam. Mereka berusaha berpikir cara untuk menyelamatkan rating majalah mereka. Segala item sudah melambung ke dunia internasional, tapi sayangnya majalah mereka belum, mereka ingin membuatnya hingga ke negara bagian Eropa dan Amerika.

Tiba-tiba saja, Young Jae, salah satu anggota mengacungkan tangannya. “Aku rasa, kita harus menggunakan artis yang sedang booming pada saat ini, terutama di kalangan para remaja, agar banyak yang membeli.”

Mi Jung berusaha berpikir mengenai usul Young Jae. “Bukannya aku tidak setuju, tapi, apakah agensi dari si artis besar mau menjadi model majalah kita? Sedangkan, di pandangan dunia entertaiment majalah kita masih dipandang rendah?”

“Tapi, item kita ternama bukan? Kita harus mencobanya.” kata So Hyun. “Tapi, harus ada pendorong yang membuat si agensi menerima kontrak ini. Seperti pelayanan yang lebih baik.”

Mi Jung mengangguk-ngangguk mendengar saran dari rekannya. “Ah, kalau begitu, kita harus memanggil seorang photographer ternama. Pasti akan banyak yang takjub. Dan seperti yang Young Jae bilang, yang sedang booming di kalangan remaja.”

“Kita pasti membutuhkan biaya yang banyak.” gumam Yo Seob, yang daritadi hanya diam.

Lagi-lagi, semua para anggota terdiam. Benar juga apa yang dikatakan Yo Seob, mereka membutuhkan biaya banyak.

Mi Jung tersenyum melihat reaksi para anggota. “Aku sama sekali tidak keberatan.”

Semua menoleh ke arah Mi Jung. Mereka takjub melihat Mi Jung.

“Aku akan bertanggung jawab atas semuanya. Aku adalah seorang ketua. Aku akan membereskan masalah ini.” kata Mi Jung. “Dan masalahnya sekarang adalah, siapa yang akan kita ajak untuk ikut kontrak kita?”

Tiba-tiba Young Jae tersenyum lebar. “Aku dapat memecahkan untuk masalah si photographer, meski harus menambah biaya lagi. Tapi, pekerjaan kita ini akan menjadi seru.”

Semua menatap bingung ke arah Young Jae. Mereka penasaran dengan perkataan Young Jae.

“Ada seorang photographer muda yang sangat handal, ia berada di Jepang. Kita akan melakukan pemotretan di Jepang. Pasti rating kita akan naik. Artisnya pun artis yang booming! Kita juga bisa liburan.”

Semuanya langsung takjub. Mereka tampak senang dengan rencana Young Jae. Untuk urusan penerbangan, mereka tidak begitu peduli biaya penerbangan. Yang penting, ini adalah pekerjaan yang sangat penting. Jika rating naik drastis, otomatis gaji pun naik, tidak ada ruginya.

“Baiklah, sekarang kita mencari artis yang akan menjadi model, kemudian kita akan melakukan pemotretan di Jepang.” kata Mi Jung, mengambil kesimpulan hasil rapat.

“Woahh, Japan, I’m coming~” gumam So Hyun, tampak senang sekali akan pergi ke Negri Sakura.

Semuanya pun sudah membayang-bayangkan Jepang. Sungguh indah.

Akhirnya, mereka semua langsung ke luar dari ruang rapat, ketika rapat dinyatakan bubar. Mi Jung tidak memilih untuk pulang seperti yang lain, ia masih ingin berada di ruang kerjanya. Ia duduk di kursi kerja yang empuk itu. Ia perhatikan foto-foto yang terpajang di atas mejanya. Yang pertama, adalah fotonya ketika kecil, kemudian foto keluarga –tambah Dae Hyun– ketika mereka merayakan ulang tahun pernikahan orang tua Mi Jung tahun ini. Dan tiba-tiba, matanya terfokus pada suatu foto yang membawanya ke masa lalu. Foto bersama satu kelas saat kelas sebelas. Mungkin orang lebih sedih memandang foto bersama kelas dua belas, tapi tidak dengan Mi Jung.

Pada saat itu, adalah di pertengahan kelas sebelas, para murid laki-laki memenangkan juara pertama futsal dalam class meeting. Zelo yang menjadi ketua dan seharusnya berada di tengah sambil memegang piala, malah memilih berfoto di belakang Mi Jung tanpa piala. Posisinya memegang kedua pundak Mi Jung, membungkuk sedikit dan mengarahkan kepalanya di samping kepala Mi Jung, plus senyum manis nan bahagianya itu.

Senyuman yang dirindukan Mi Jung.

Selain Zelo, di sana juga ada Myung Soo, yang berdiri tidak jauh darinya, ia hanya mengeluarkan senyuman cool seperti biasa, sudah menjadi imagenya.

Air mata Mi Jung mengalir. Ia merindukan masa-masa SMA nya. Zelo masih ada di sampingnya, Myung Soo terfokus akan pekerjaannya. Tapi, yang sekarang diutamakan adalah seorang Zelo yang entah sudah berapa lama tidak kembali ke Korea.

Mi Jung masih mengingat, ialah murid pertama yang mengetahui Zelo pergi ke Jerman, hingga datang terlambat ketika Graduation. Ia masih mengingat ekspresi Zelo sangat jelas, punggung Zelo yang menjauh darinya, dan pastinya, sebuah kecupan singkat Zelo.

Ia langsung menghapus air matanya. Ia langsung meletakkan foto itu, mengambil tasnya dan langsung ke luar dari ruangan. Pada saat itulah, ia melewati meja Young Jae yang penuh akan kertas dan buku itu, tampaknya ia sedang merapikannya. Tapi, mata Mi Jung terfokus pada sebuah majalah yang ada di atas meja Young Jae.

“Lo beli majalah ini di mana?” tanya Mi Jung. Karena lagi di luar jam kerja, dia pake bahasa informal.

“Noh, di ruko depan. Masih sebejibun kok majalah itu kalo lu mau beli Jung.” jawab Young Jae. Dia sama Young Jae emang seumuran.

Mi Jung cuma ngangguk-ngangguk. “Yaudah, gue duluan ya, sorry ga bisa temenin lu.”

“Iye, santai aja kali. Gue juga bentar lagi udah mau selese. Hati-hati ye.”

Mi Jung kemudian tinggalin Young Jae sendirian. Dia buru-buru langsung pergi ke ruko depan kantornya. Ia melihat stok majalah yang kayak di atas meja Young Jae. Emang bener, majalahnya masih banyak banget. Banyak remaja perempuan yang beli itu majalah, mereka jejeritan kesenengan ngeliat majalah itu. Sedangkan Mi Jung tetep tenang dan mengambil satu buah majalah itu dan membayarnya kepada si penjual yang sambil menaruh majalah itu di dalam plastik. Di saat itulah, ada suara seseorang yang memanggilnya.

“Mi Jung.”

Mi Jung menoleh ke sumber suara. “Eh, Yur, ga kerja?”

“Udah pulang.” jawab Yura, sambil tersenyum.

Mi Jung ngangguk-ngangguk. “Terus mau ngapain abis ini?”

“Mau beli majalah, abis itu balik ke apartemen, mau nonton sama Hoya oppa.”

“Cieilah, yang udah melepas masa jomblonya nih.” goda Mi Jung. “Eh, pergi dulu ya, mau balik juga, capek banget hari ini.”

“Ok, hati-hati ya.”

Mi Jung melambaikan tangannya sambil tersenyum. Yura pun membalasnya. Dan setelah Mi Jung pergi, Yura melihat-lihat majalah yang ada di ruko itu. Ia kemudian mendapat sebuah majalah yang ingin ia beli. Ternyata, majalah itu sama dengan majalah yang dibeli Mi Jung. Yura kemudian mengambil dan membayarnya. Majalah itulah yang membuatnya sedaritadi tidak berkonsentrasi bekerja, bahkan hingga sekarang.

“Wah, majalah ini laris sekali hari ini. Bahkan wanita mapan yang tadi saja membelinya.” kata si penjual.

“Yang tadi yang mana ahjumma?” tanya Yura.

“Itu, yang tadi menggunakan turunan hitam ketat dan sebuah blazer hitam.” jawab si penjual.

Yura menyadari bahwa yang dimaksud penjual itu adalah Mi Jung. Ia sedikit kaget dan bingung apa alasan Mi Jung membeli majalah tersebut. Tapi, ia berusaha untuk tidak berpikir yang lain. Ia memilih untuk cepat-cepat kembali dan segera menonton bersama Hoya.

Yura sedang berusaha mencari kaset yang ingin ditontonnya bersama Hoya. Hoya sendiri baru nyampe ke apartemen Yura, dan baru aja dia mau samperin Yura buat bantuin cari kaset, dia malah liat sebuah majalah di atas meja makan.

“Ah, aku sudah menemukannya oppa.” kata Yura, sambil membalikkan tubuhnya menghadap Hoya yang sekarang malah menatapnya datar. Yura tersadar Hoya sedang melihat majalah yang baru ia beli tadi.

“Kau merindukan Zelo?” tanya Hoya.

Yura tersenyum, ia tidak mau berbohong. “Aku memang merindukannya sebagai temanku oppa, tidak ada salahnya bukan? Aku hanya merindukan teman remajaku.”

Hoya menghela nafas, ia kemudian menghampiri Yura dan berusaha tersenyum. “Yasudah, ayo nonton.”

Yura mengangguk sebagai jawaban.

Akhirnya, mereka memulai menonton film. Film yang bernuansa action dan sedikit romantis itu terlihat seru. Yura tampak serius menonton, sedangkan Hoya tidak bisa begitu serius akibat cover majalah yang dilihatnya tadi. Sedikit membuatnya cemburu.

Dan tiba-tiba saja, ada kiss scene dalam film tersebut. Hoya meneguk ludahnya, bukannya ia parno atau apa, tapi dia teringat kalau belum pernah mencium Yura sama sekali. Sedangkan Yura? Yura santai-santai aja. Hoya ngeliat canggung ke arah Yura. Yura yang sadar akan hal itu, langsung noleh ke arah Hoya, dia natep Hoya bingung.

“Kamu kenapa?”

“Eh, enggak kok.” jawab Hoya kaku.

Hoya berusaha untuk fokus kembali ke film yang mereka tonton. Ia meneguk ludah lagi. Ya, mungkin ciumannya pas udah kawin aja.

Mungkin.

Seperti biasa, keluarga Mi Jung sedang makan malam bersama, kebetulan appa Mi Jung sudah kembali ke rumah. Tapi, Mi Jung malah makan dengan tidak bersemangat dan hanya mengambil makanan menggunakan sendok dalam porsi kecil. Tatapannya pun kosong.

“Mi Jung, kau kenapa?” tanya eomma Mi Jung yang melihat sedikit keanehan pada putrinya.

Mi Jung menoleh terkejut ke arah eommanya. Ia menggeleng. “Tidak apa-apa.”

Setelah menyelesaikan makanannya itu, Mi Jung langsung naik ke atas, menuju kamarnya. Ia masuk dengan keadaan lemas. Ia langsung baring-baringan gajelas di atas kasur. Pikirannya lagi kacau banget. Gara-gara pekerjaannya, rindu, dan cover majalah. Ia kemudian mengambil majalah yang ia beli yang tepat tergeletak di sampingnya. Dengan posisi terlentang, ia mengangkat majalah itu, melihat cover majalah itu dengan tatapan ‘kok-lu-bikin-gue-gini’.

Ya, cover itu adalah Zelo. Jadi, sekarang Zelo ada photographer muda yang sangat terkenal. Pada awalnya, ia ikut berbagai macam lomba yang berhubungan dengan photo pada saat di Jerman. Hingga pada akhirnya, karena banyak yang kagum akan keahlian Zelo, mereka membawa Zelo ke lomba internasional. Lomba internasional itu sukses membuat Zelo bisa menjadi photographer untuk orang-orang besar. Sudah banyak negara yang ia kunjungi cuma karena ingin mengambil foto oleh Zelo. Hanya bermodalkan satu klik, membuatnya menjadi orang yang berprestasi.

Mi Jung tiba-tiba langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Ia mengacak-acak rambutnya, kemudian ia membuka kesal majalah itu. Hingga pada akhirnya, ia menemukan artikel mengenai Zelo. Ia membacanya ngasal, hingga pada akhirnya ada sebuah bagian yang membuatnya diam membeku. ‘Pergi ke Jerman diam-diam dan sebuah cerita cinta’. Karena membaca sub-title tersebut, Mi Jung langsung mengfokuskan matanya pada artikel tersebut.

“…Aku sudah berencana pergi ke Jerman saat aku sudah berada di bangku SMP. Aku selalu satu kelas dengan seorang perempuan yang sangat spesial untukku. Tapi, ketika kelas 11, aku mulai terganggu, aku bingung siapakah yang harus kukejar, aku merasa tidak diberi harapan oleh perempuan itu. Tapi, aku berpikir dua kali, atau apakah aku yang tidak menunjukkannya? Atau apakah aku memang tidak baik untuknya? Hingga pada akhirnya, aku mulai membuat diriku agar bisa berpindah darinya. Bahkan, sebelum ke Jerman aku memberi sebuah boneka bukan untuk dirinya, tapi orang lain. Pada saat itulah, aku merasa aku sudah berpindah hati, aku ingin melihat ia datang ke airport, meski tidak kuberitahu kepergianku. Tapi, yang datanglah bukan ia, melainkan orang yang ada di masa laluku itu. Ia mengetahui kepergianku dan datang ke airport hingga terlambat datang ke acara Graduation senior kelas 12 hanya demi aku, padahal ia mempunyai tugas pada saat itu. Di situ aku sadar, bahwa aku belum berpindah hati sepenuhnya, aku masih mempunyai rasa kepadanya. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur, aku malah pergi ke Jerman, meninggalkannya demi impianku. Tapi, bolehkah aku membela diriku dengan mengatakan, jika misalkan aku merelakan orang yang ku sayang demi impianku, bukan berarti aku berhenti menyayanginya kan? Aku sudah mulai melupakannya, bukan, bukan melupakannya dan berhenti menyayanginya, tapi aku melupakan segala masa lalu, aku ingin membuka lembaran baru ketika kembali bertemu dengannya.”

Mi Jung terdiam membaca itu. Hatinya rasanya seperti terkena sebuah benda yang tajam. Yang dimaksud Zelo adalah dirinya dan Yura. Diantara sebuah perasaan labil Zelo di masa lalu. Dan ialah salah satunya.

Mi Jung memilih untuk melupakan masalah Zelo, ia kembali mengacak-acak isi majalah. Ia kembali dikejutkan dengan sebuah berita. ‘Debut Aktor Muda yang Sudah Ditunggu Ribuan Para Remaja, Kim Myung Soo’.

“Ia debut?” gumam Mi Jung.

Tak segan-segan, Mi Jung langsung turun dari tempat tidur. Ia mengambil laptop dan modemnya. Dinyalakan laptopnya itu dan disambungkannya lah modem itu. Setelah modem itu menyala, ia langsung mencari beberapa informasi mengenai Myung Soo. Ia mencari schedule si aktor yang akan debut itu.

Ternyata, ia akan memainkan sebuah drama remaja yang menceritakan sebuah cerita cinta masa sekolah. Dan ia akan memainkan episode pertama besok di salah satu taman yang sangat terkenal.

Mi Jung tiba-tiba teringat dengan title pada majalah tersebut ‘…Ditunggu Ribuan Para Remaja’, dan ide Young Jae ‘…menggunakan artis yang sedang booming pada saat ini, terutama di kalangan para remaja, agar banyak yang membeli.’. Dan ide muncul dalam otaknya. Ia akan menggunakan Myung Soo sebagai modelnya. Pasti ini akan sukses, agensi pasti akan setuju karena berarti Myung Soo adalah aktor yang bagus hingga diajak menjadi model sebuah majalah.

Kemudian, ia kembali melihat cover majalah itu. Zelo. Ia langsung mencari schedule Zelo. Tapi cobaan datang, kuota modemnya ternyata tersisa sedikit dan sudah habis untuk mencari tentang Myung Soo.

“Ah, bagaimana aku mencarinya.” gumam Mi Jung.

Drrt .. Drrt ..

Tiba-tiba ponsel Mi Jung berbunyi. Mi Jung langsung mengambil ponselnya. Ia sangat kaget melihat siapa yang menelfonnya, ‘Presdir Jung’. Ia mengangkatnya dengan takut-takut.

“Yoboseyo.”

“Ya! Kim Mi Jung! Mengapa bisa-bisanya ada tragedi pembatalan? Aku memang memberi kesempatan satu minggu lagi, tapi mengapa kau melakukan ini? Tumben sekali kau ceroboh.”

“Maaf Presdir, kebetulan artisnya malah membatalkan kontrak dengan kita. Aku akan melakukan yang terbaik kok presdir.” jawab Mi Jung.

“Kali ini, jika kau gagal, kau akan ku turunkan pangkatmu, kau tidak akan menjadi ketua lagi. Maka itu, seriuslah dengan projek bulan depan. Kau tahu, beritanya sudah mulai menyebar, customer banyak sekali yang kecewa akan ini.”

“Baiklah Presdir, aku mengerti.”

TUTT

Sambungan terputus. Mi Jung semakin frustasi. Bagaimana bisa karena ketelatan kali ini saja bisa mengancam pangkatnya?

Mi Jung memilih untuk kembali membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Ia pejamkan matanya hingga benar-benar terlelap. Ia bahkan lupa untuk menggunakan selimut.

Mi Jung, So Hyun dan Young Jae duduk di dekat taman, di mana Myung Soo melakukan syuting debutnya. Sungguh panas hari ini, Mi Jung sengaja hanya menggunakan kaos dan celana panjang, ia tidak mau terlalu banyak berkeringat. So Hyun sudah melepaskan jaketnya dan menjadikannya kipas. Sedangkan Young Jae? Ia membawa tas ransel yang berisikan minuman soda yang mungkin sudah tidak dingin lagi. Tragisnya.

“Aduh, Jung, lu bener-bener mau jadiin dia model cover utama kita? Kalo gagal kita yang sengsara udah sampe panas-panasan gini. Emang kenapa sih harus dia?” tanya So Hyun, jengkel gara-gara udah kepanasan.

“Yee, biar rating kita naik. Gue yakin kok, kalo modelnya dia, pasti bisa.” jawab Mi Jung.

“Kalo dia gamau, gimana Jung?” tanya Young Jae.

“Pasti mau, tenang aja. Yang penting sekarang kita jangan banyak ngomong biar ga gitu panas.” jawab Mi Jung. “Eh, Jae, minta minuman soda, gue kepanasan juga lama-lama.”

Kira-kira menunggu selama satu jam lebih, akhirnya syuting pun berakhir. Tiga manusia yang sedaritadi sudah sekarat karena kepanasan, langsung merapikan bajunya. Mereka sudah siap-siap untuk bertemu dengan Myung Soo dan si Manager. Tanpa babibu, mereka langsung menghampirinya.

“Annyeong, kami dari Perusahaan X, bagian pemasaran, ingin memberikan sebuah penawaran untuk Kim Myung Soo.” sapa Mi Jung kepada si Manager.

Myung Soo yang berdiri di belakang Managernya mengerutkan keningnya melihat Mi Jung. Ia tidak mengenali Mi Jung, Mi Jung berbeda dari yang dulu, tapi Myung Soo mempunyai sebuah feelling.

“Tawaran?”

“Ah, iya, jadi kami ingin menjadikan Myung Soo sebagai model utama pada majalah kami edisi bulan depan. Kami akan melakukan pemotretan di Jepang.” jawab Mi Jung, berusaha untuk terlihat percaya diri.

“Ah, maaf, tapi kau bisa tanyakan langsung kepada Tuan Shin, ia adalah pemilik agensi dari Kim Myung Soo. Ia kebetulan ada di sini.” kata si Manager.

Tuan Shin yang kebetulan mendengar percakapan mereka, langsung menghampiri mereka. “Ada apa kalian mencari Kim Myung Soo?”

“Kami ingin memberikan penawaran kontrak untuk menjadikan Myung Soo sebagai model cover utama majalah kami yang akan dilakukan di Jepang.” jawab Mi Jung. Ia merinding.

“Ah, mungkin kami butuh berpikir lebih panjang lagi mengenai tawaran tersebut, karena kita harus mendapat persetujuan dari si aktor juga.” jawab Tuan Shin.

Mi Jung kemudian menoleh ke arah Myung Soo. Ia menatap Myung Soo dengan isyarat ‘kumohon-terima-tawaran-ini’. Ia benar-benar gugup, ia takut dipecat, ia tidak mau tawarannya ditolak oleh orang yang ia sukai sendiri. Menyakitkan.

“Mungkin Tuan Shin yang lebih baik menentukannya. Aku lebih suka itu.” kata Myung Soo, sambil mengeluarkan senyumnya.

“Jika aku yang harus menjawabnya, aku harus berpikir cukup panjang tampaknya, mungkin seminggu.” jawab Tuan Shin.

Semua langsung terkejut. Waktu yang mereka butuhkan adalah seminggu, tidak mungkin sempat untuk semuanya.

“Ah, Tuan Shin, tampaknya kau sangat memerhatikan artismu, kau bahkan datang ke tempat syutingnya yang panas ini. Kau tau tidak, kami sangat suka artis-artismu karena dipengaruhi perhatianmu kepada mereka, terutama Kim Myung Soo ini. Jadi, maukah kau untuk menerima tawaran ini?” tanya So Hyun, mengeluarkan modusannya.

“Astaga, jangan membuatku malu begini.” jawab Tuan Shin sambil tertawa-tawa. “Apa keuntungan yang bisa kudapat dari ini?”

“Tentu saja keuntungannya sangat besar Tuan Shin. Kami tidak pernah bermain-main dengan model kami, apalagi jika rating majalah kami naik. Maka itu, kami sengaja memilih Kim Myung Soo, karena ia sangat tampan, pasti rating majalah akan naik, kau mendapat untung, kami pun juga.” jawab So Hyun.

“Aku rasa, itu cukup bagus. Baiklah, kapan aku bisa menandatangani tawaran tersebut?” jawab Tuan Shin. Young Jae melotot tak percaya. Mi Jung menundukkan kepalanya, berarti sebentar lagi ia akan sering bertemu dengan Myung Soo. So Hyun tersenyum puas. “Sekarang kau bisa ke kantor kami untuk menandatanganinya. Karena, kau juga harus bertemu dengan Presdir kami.”

“Baiklah, ayo kita ke sana!”

Di dalam ruangan Presdir, di situ sedang diadakan sesi tanda tangan kontrak antara agensi Myung Soo dan perusahaan Mi Jung. Mi Jung tersenyum melihat Tuan Shin menandatanganinya, Presdir pun terlihat puas akan perjuangan Mi Jung.

“Baiklah, terimakasih untuk kerjasamanya Tuan Shin.” kata Presdir.

“Ah, terimakasih kembali.” jawab Tuan Shin, tersenyum, sambil berjabat tangan dengan Presdir.

“Ah, sebelumnya, bolehkah aku bertanya mengenai pemotretan ini? Pribadi dengan Nyonya ini?” tanya Myung Soo.

“Boleh saja, tapi, coba tanya saja kepada nyonya itu.” Jawab Tuan Shin.

“Tentu saja boleh.” jawab Mi Jung dengan senyumnya.

Akhirnya, acara penandatanganan tawaran itu selesai. Mi Jung dan Myung Soo pergi ke sebuah dekat pintu balkon yang ada di lorong ruangan Presdir.

“Kau ingin bertanya apa Myung Soo?” tanya Mi Jung, berusaha menenangkan dirinya.

“Siapa namamu?” tanya Myung Soo, secara frontal.

“Eh? Namaku?” gumam Mi Jung. “Kim Mi Jung.”

Myung Soo menatap tak percaya ke arah Mi Jung. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa di depannya ini adalah Kim Mi Jung. Tampilan Mi Jung sedikit berbeda, sebelumnya rambutnya sepundak hitam lurus dengan belahan ke samping. Sekarang? Rambutnya panjang coklat menyala, dengan poni samping dan bergelombang.

“Ah, sudah lama ya tidak bertemu.” kata Mi Jung sambil menunduk. Jantungnya berdetak kencang.

“Kau cantik.” kata Myung Soo, frontal.

“Eh? Apa?”

Myung Soo tersadar dengan apa yang dikatakannya barusan. “Ah, tidak, bukan apa-apa.” jawabnya dan langsung pergi meninggalkan Mi Jung.

Mi Jung menatap punggung Myung Soo yang perlahan menjauh. Tapi, Mi Jung berusaha memberanikan dirinya untuk mengatakan sesuatu. “Myung Soo-a, sebelum kau benar-benar terkenal, setidaknya aku ingin mengatakan ini. Aku.. Merindukan.. Mu.”

Myung Soo menghentikan langkahnya. Ia menoleh sedikit ke belakang. Mi Jung berusaha untuk tersenyum melihat Myung Soo. Myung Soo tiba-tiba tertawa pelan sambil berkata, “Aku juga merindukanmu, Mi Jung-a.”

Setelah mengatakan itu, Myung Soo kembali melihat ke arah depan dan meninggalkan Mi Jung. Mi Jung masih tersenyum menatap punggu Myung Soo.

Cerita lamanya kembali.

Hari ini, Mi Jung dengan rekannya, Myung Soo dan Managernya akan berangkat ke Jepang untuk sesi pemotretan. Mi Jung tampak sedikit mengantuk, lelah sekali harus bangun pagi seperti ini. Dan ia sebenarnya masih bertanya-tanya, kenapa pemotretan harus sampai di Jepang? Young Jae sebenarnya ingin menggunakan photographer siapa hingga harus pergi ke luar negri? Aneh.

Dan ketika sampai di Jepang, tanpa basa-basi, mereka langsung duduk di sebuah cafe, tapi tidak dengan Myung Soo, ia langsung pergi ke hotel karena takut tidak aman. Kebetulan, Young Jae bilang sudah mengajak si photographer ke cafe tersebut, si photographer melakukan penerbangan ke terminal yang sama.

“Jae, photographernya bagus kan?” tanya Yo Seob.

“Iyalah, emang gue milihnya yang sembarangan. Cari contactnya aja susah, berarti emang photographernya bagus.” jawab Young Jae dengan bangganya.

Mi Jung sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan mereka, ia lebih memilih untuk mendengarkan lagu menggunakan iPodnya. Yang penting, photographer itu setuju, pemotretan, pulang, dicetak, dan kemudian beres.

“Eh, itu orangnya, udah mau ke sini.” bisik Young Jae.

Ketika photographer itu sudah memasukki cafe, ia sudah tahu siapa orang yang mengajaknya bertemu, ia langsung menghampiri gerombolan Young Jae. Mi Jung terkejut melihat orang itu. Seketika, ia langsung berbisik kepada Young Jae, “Lo aja yang ngomong Jae.”

Si photographer langsung duduk di depan Young Jae. “Ada apa kau mencariku?”

“Kami ingin memberi penawaran untuk kau, menjadi photographer dalam majalah kami kali ini. Kami sengaja pergi ke Jepang hanya untuk mencarimu. Tertarik?” tanya Young Jae.

“Kapan pemotretannya?” tanyanya.

“Besok.”

“Ah, aku rasa, aku tidak bisa menjadi photographer untuk kalian. Managerku tidak mengizinkanku untuk melakukan schedule lain saat di Jepang. Jadi maaf.” jawab photographer itu. Yang kemudian bangkit dari duduknya dan sudah membalikkan badannya.

“Kumohon, jadilah photographer untuk majalah kami kali ini.”

Photographer itu berhenti berjalan, mendengar suara itu. Young Jae dan yang lainnya terkejut melihat Mi Jung yang langsung bangkit berdiri dan memohon seperti itu.

Mi Jung tiba-tiba langsung berlutut di lantai. “Kau ingin aku bayar berapa? Aku bisa membayarmu banyak. Bahkan tidak hanya uang. Aku bisa mempertemukanmu dengan orang yang kau sayangi dulu. Mereka tidak dapat memberimu itu bukan?” kata Mi Jung. “Ah tidak, sebelum kau melakukan pemotretan majalah kami, kau sudah bertemu dengannya.” ralat Mi Jung. “Zelo, gue Mi Jung.”

Zelo membalikkan tubuhnya. Ia tidak menyangka bahwa Mi Jung adalah salah satu bagian dari orang yang menawarkan schedule. Bahkan Mi Jung melakukan hal yang seharusnya tidak mau ia lakukan. Berlutut dan memohon. Semuanya terkejut dengan perlakuan Mi Jung. Mereka mengenal Zelo sebagai Jun Hong, tapi Mi Jung mengenalnya sebagai Zelo. Syukurnya, cafe ini sedikit tertutup, jadi tidak akan ada gosip menyebar, lagipula Zelo memakai pakaian yang sedikit menutupinya.

“Kim Mi Jung?” gumam Zelo tak percaya.

To be Continued

CHAPTER 5 KELUAR ~ ! /lempar cheesecake/ Yang pertama, POSTER BARU SEMUANYAA~ Maap kalo jelek ;_; Kedua, eh, Zelo ternyata tidak menghilang dari FF ini semuanya, kkk~ Sebenernya ga kepikiran itu masalah Zelo, tapi karena banyak yang Readers suka sama Zelo nya dan Authornya pun juga (?) maka Author mencoba untuk memasukkan Zelo dan syukurnya masih kedapetan ide :’) Ketiga, Gi Kwang kembali tidak masuk eaps-_-v Tenang, karena Author memang sudah merencanakannya agak belakangan, jadi harap bersabar ya, maafkan Author banget terbanget-banget._.) Dan yang terakhir, ini maap amat ya bahasanya makin lama makin berantakkan udah pusing natanya sebenernya, tapi yang penting mah bahasanya tetep bisa masuk ke otak dengan lancar tanpa macet kayak Jakarta ya.

Ok, maafkan kalo ini masih banyak kekurangan, kalo gasuka atau apa, Author bukan manusia sempurna T_T #plakk

JANGAN JADI SILENT READERS, COMMENT AND LIKE KALO UDAH BACA. JIKA ADA KESALAHAN, SILAHKAN LAPOR!

Thanks for Reading ^^

147 responses to “I Need a Good Husband [ Chapter 5 – Job With a Love Story ]

  1. Pingback: I Need a Good Husband [ Chapter 7 – A Kiss, Date and Love ] | FFindo·

  2. OMG…..,gue kira….c myung soo saingan’y cuma tinggal 1 aja.e…h,ternyata oh ternyata…cowo2 masa lalu pada dateng lagi.
    Idemu emang jitu n apik d ff ini thor.jadi,keliatan’y ga maksa…
    Teruskan thor!!

  3. ya ampun modelnya cintanya mijung, fotografernya sahabat mijung.. ya ampuun suka banget sm critanya… daebak~ sampe kagak bisa ngomong apa2.. 😀

  4. yes,seneng bgt zelo gk kluar dr cast. Thor, zelo sama mi jung-kan?, iya aja, aku seneng mreka jdian. Soal’a sama gikwang gk dpt feel

  5. eh eh uda pd dewasa semua di chapter ini 😀 uda pd kerja mapan dg berbagai profesi. dn sperti chapter2 sbelumnya authornya bisa aja nyambungin cerita ngepas2in kedatangan cast2 yg tak trduga. dichapter ini aku sempet nebak2 bbrapa cast dn hasilnya ada yg bener dn salah, dn itu yg bikin aku weowe sm authornya yg bisaaaaa’ aja 🙂 eh ternyata eh ternyata my little Zelo masuk cast, kyaaaa~ XD makin seru nih roman2nya ini cerita, penasaran, lanjuuuuuuuuut~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s