Monkshood

By :  MissFishyJazz

Cast : Choi Siwon, Im Yoona

One-Shot | Hurt, Action, Romance | PG-15

Inspired : Lee Hi – Rose, TVXQ – Before You Go

Notes : untuk adik saya yang terus memaksa saya membuat FF Yoon-Won. Fuhh.

 Monkshood FFINDO

“—My love is like a red rose

It may be beautiful now

But my sharp thorns will hurt you

My love is like a red rose

Yes, I may be fragrant

But the closer you get, the more I’ll hurt you—”

 

Siwon menjerit dalam hatinya, seluruh karyawan di lantai bawah memanggilnya untuk segera turun karena ada keributan akibat ‘ulahnya’. Ulah apa pula? Bukankah semenjak tadi pagi ia terus mendekam dalam ruangannya dan memikirkan penangkapan gembong mafia dari Guangzhou?

 

“Ada apa ini?” Siwon melihat kerumunan orang-orang di meja resepsionis.

Ah! Oppa!” Seorang gadis dengan mantel coklatnya menyembulkan kepala dari antara orang-orang yang berkerumun mengelilinginya. Siwon membulatkan matanya begitu gadis itu tersenyum ke arahnya, mengangkat sekotak makanan berlogo restoran mahal di dekat kantornya.

 

“Ada apa kemari, Yoon?” Siwon menarik gadis itu dari antara kerumunan orang-orang yang baru saja mendapat bagian makanan dari Yoona.

“Ingin menemuimu.”

 

Yoona meletakkan tasnya di atas meja Siwon dan membuka kotak-kotak makanan khusus yang sudah dilabel besar-besar “OPPA”. Siwon melirik dengan menghembuskan nafas kesal. Ia sedang sibuk memikirkan rencana minggu depan dan gadis ini sembarangan datang ke sini mengacaukan segalanya. Termasuk pikirannya.

 

Chaa! Ayo makan.” Yoona menyodorkan kotak makanan di hadapannya dan mengangsurkan sepasang sumpit pada Sang Inspektur.

“Yoon.. Aku sedang sibuk. Kamu saja yang makan sendiri.” Siwon berusaha mendorong kembali kotak makan itu, tapi Yoona juga mendorong kotak makan itu lagi.

“Tapi aku tahu Oppa pasti belum makan sejak pagi. Ini sudah lewat jam makan siang, dan kata Hyukjae, Inspektur Choi sama sekali belum keluar dari ruangannya.” Siwon mengumpati Hyukjae dalam hati. Sudah tahu Yoona suka heboh sendiri dengan keadaan Siwon tapi masih saja membocorkan bahwa ia belum makan siang pada gadis ini.

 

“Tapi wajahmu pucat Yoon, kamu pasti juga belum makan kan?” Yoona menggeleng dan tetap menyodorkan sumpit. Mau tak mau Siwon mengambilnya karena sulit sekali memberitahu gadis keras kepala di hadapannya.

Baru satu suap janchi guksu masuk dalam mulutnya, tiba-tiba sebuah pikiran yang seharusnya dari tadi hinggap di otaknya mencuat.

 

“Yoon, jangan bilang kamu belum pergi ke rumah sakit?” Yoona menatap Siwon takut-takut. Ia memilih menundukkan kepalanya dan mengangguk ragu-ragu ketika tak mendapati tatapan lembut seorang Choi Siwon.

“Apa yang membuatmu belum ke rumah sakit?” Siwon meletakkan sumpitnya. Bersidekap dan berusaha menurunkan emosi yang sepertinya sudah pada titik ubun-ubunnya.

“Aku.. Aku hanya mau mengunjungi Oppa terlebih dahulu dan ternyata Hyukjae bilang Oppa belum makan siang. Jadi—”

“JADI KAMU LEBIH MEMILIH MEMBERIKANKU MAKAN TAPI MENELANTARKAN KESEHATANMU! BEGITU?!” Siwon menggebrak meja kerjanya. Sumpitnya bahkan sampai terlempar tepat di hadapan Yoona. Yoona menggigit bibirnya, ragu dan bingung untuk menjawab.

“Bukan itu maksudku, maksudku nanti aku akan pergi ke rumah sakit setelah dari sini. Aku akan pergi. Aku kan sudah membuat janji dengan Dokter Kim.” Yoona mengangkat kepalanya dan memperlihatkan sepasang mata berkaca-kaca ke arah Siwon. Siwon hanya mendengus dan memalingkan kepalanya. Enggan terprovokasi dengan tatapan memelas Yoona.

 

“Aku sudah bilang padamu, utamakan kesehatanmu. Kamu sedang sakit. Dan kamu tahu sendiri kan penyakitmu ini aneh sekali? Bisa saja jika kamu pulang dari sini nanti metabolismemu semakin menurun dan akhirnya sakit. Lalu kau ingin aku disebut pembunuh? Hehh?” Siwon mengutuk bibirnya yang dengan lancang berkata terlalu tajam seperti itu. Padahal ia tahu Yoona memiliki perasaan yang sangat sensitive.

“Tidak seperti itu, Oppa. Aku ke sini bersama Yuri kok. Yuri kan bisa menjagaku. Lagipula aku masih bisa memperhatikan kesehatanku, sementara Oppa.. Oppa..” Yoona sudah menangis sekarang, ia mengusap air matanya kasar. Siwon benci melihat Yoona yang mudah menangis. Ia tidak mau menangis di depan Siwon sekarang.

 

“Pulanglah Yoon. Aku tidak ingin semakin tersulut emosi dan semuanya semakin parah.” Siwon duduk di kursinya kembali dengan memijit keningnya. Rasanya masalah terus berputar-putar di hidupnya semenjak kematian ibu dan adiknya.

“Tapi..”

“Yoon, aku bilang pulang.”

“Tapi Oppa berjanji akan makan, kan?” Yoona masih saja menunjukkan perhatiannya pada pria yang beberapa waktu ini begitu keras padanya.

“Aku usahakan.”

 

Dengan langkah terpaksa, Yoona menarik tasnya dari atas meja Siwon dan melangkah ke pintu ruangan itu. Air matanya belum mau diajak berkompromi. Apalagi bukan sekali dua kali ini ia ‘terusir’ oleh kekasihnya sendiri.

 

“Yoon..” Siwon memanggil, ah.. mendesah.

“Ya, Oppa?” Yoona berbalik. Berusaha mengusap-ngusap matanya yang basah.

“Apa kamu sudah bisa menjawab pertanyaanku padamu tempo hari?” Yoona membeku di tempatnya. Ingin sekali ia menjawab “Pertanyaan apa?”, tapi ia bukan pelupa, apalagi dengan pertanyaan sepenting itu.

“Ya.” Yoona menggumam dengan nada rendah.

“Jadi?”

“Aku tidak akan meninggalkan, Oppa. Apapun yang terjadi.” Yoona menegakkan kepalanya, menatap Siwon dengan kedua matanya yang masih basah. Ia bersungguh-sungguh. Apapun yang terjadi ia tidak akan meninggalkan pria itu. Pria itu sudah ada dalam hidupnya 4 tahun ini dan tidak mungkin melepaskannya semudah itu hanya karena Siwon takut keselamatan Yoona akan terancam karena misi badan intelegent kali ini yang berhubungan dengan gembong mafia paling berbahaya dari Asia. Mati pun tak apa, asalkan karenamu, Oppa.

 

“Yoon, aku mohon kali ini jauhkan keras kepalamu dulu. Aku hanya memikirkan keselamatanmu.” Siwon menurunkan tangannya dan menatap gadisnya dengan tatapan memohon.

“Aku akan lebih keras kepala jika itu tentangmu, apakah kamu lupa?” Yoona memasukkan tangannya di saku mantel. Seolah menantang Siwon. Seolah juga melempar Siwon kembali pada kenangan 4 tahun lalu ketika hubungan Siwon dan Yoona ditolak mentah-mentah oleh ayah Yoona yang seorang Menteri Perekonomian yang begitu mencintai anak sematawayangnya. Menurut ayah Yoona pekerjaan Siwon terlalu riskan untuk putri kecilnya yang semenjak kecil selalu dijaga seketat putri kerajaan. Tapi waktu itu Yoona dan Siwon berhasil membuktikkan kesungguhan mereka.

 

Jadi kali ini, dengan alasan yang sama, pekerjaan Siwon, Yoona tidak akan menyerah. Sekalipun ayahnya juga ikut menyuruhnya berpisah dengan Siwon, atas permintaan kekasihnya sendiri, ia tidak akan menyerah. Ia memang akan lebih keras kepala jika berhubungan dengan Siwon.

 

“Yoon, aku tidak mau kamu terluka. Aku tidak mau—” Siwon bingung harus menyampaikan ucapannya bagaimana lagi, ia sudah kehabisan kata.

“Aku mati? Aku mati seperti Choi eommonim dan Jiwon? Kamu hanya paranoid dengan meninggalnya mereka dalam waktu beruntun, Oppa. Lagipula Choi eommonim memang sakit, dan Jiwon murni kecelakaan. Bukankah begitu kata kepolisian?”

“Yoon itu tidak sesederhana itu.”

“Lalu serumit apa? Serumit apa sampai aku tidak boleh terlibat di dalamnya? Aku tidak akan menuntutmu apapun lagi, aku hanya menuntutmu membolehkanku tetap di sampingmu sampai aku mati.”

 

“.. sampai aku mati.” Kata-kata itu langsung menusuk ulu hati Siwon. Bagaimana ia bisa membiarkan Yoona mati? Yoona adalah nafasnya, dunianya, denyut jantungnya, mataharinya, segalanya! Dan lebih baik ia yang sakit karena harus kehilangan gadis itu ketimbang gadis itu yang mati karenanya.

 

“Aku mencintaimu, Oppa. Hanya itu. Biarkan aku mencintaimu dan ada bersamamu sampai akhir. Aku mohon.” Yoona sudah kehilangan kata-kata. Ia hanya ingin itu sekarang. Ingin itu.

Don’t speak of love easily. Mencintaiku sekarang, berada di sampingku sekarang, hanya akan membuatmu mati, Yoon.” Siwon menyandarkan kepalanya lelah. Air matanya sudah menggenang. Ia ingin sekali meneriaki Yoona agar gadis itu bisa pergi sejauh mungkin dari hidupnya yang sudah penuh duri dan resiko. Bagaimanapun gadis itu mendekatinya, dia pasti akan terkena duri dari kehidupan Inspektur yang paling berbahaya bagi para mafia di luar sana.

 

You know, I never care. Be with you, closed to you, just it. I promise I’ll okay ‘till the end.” Yoona lagi-lagi mengusap air matanya. Tanpa peduli lagi apakah tetesan kristal bening dari matanya itu mau berkompromi atau tidak.

The closer you get, the more I’ll hurt you. So go away.” Siwon berkata penuh penekanan di akhir kalimatnya. Yoona menggigit bibirnya, menahan nyeri yang terus berangsur-angsur menyerang hatinya. Apa yang salah dengan hidupnya? Kenapa ia begitu sakit sekarang?

 

“Ayah bilang, ketika ibu masih ada mereka pernah saling berbagi keinginan. Ibu satu, dan ayah satu. Begitu terus. Setiap Ibu meminta apa, suatu kali ayah akan meminta sesuatu pada ibu. Kata ayah itulah yang membuat hubungan mereka jarang diterpa masalah dan selalu seimbang. Aku rasa aku terlalu banyak menuntut dan mengingini darimu. Sekalipun mencintaimu dan tetap bersamamu telah kuajukan sebagai tuntutan dan keinginan terakhirku darimu, tapi sepertinya aku terlalu banyak ya selama ini?” Siwon melihat hatinya yang terbelah dua di mata Yoona. Mata yang tadi menantangnya itu kelihatan begitu terluka dan sendu sekarang. Lebih baik seperti ini, Lebih baik seperti ini, Yoon. Kamu hanya akan terluka sekarang. Percayalah.

 

Sekali lagi Yoona mengusap air matanya sebelum tersenyum lemah, “baiklah. Kali ini aku akan mengikuti keinginanmu. Mulai hari ini… Kita berakhir. Selamat siang, Inspektur Choi.” Yoona membungkuk 90 derajat dan benar-benar menangis saat itu juga. Tidak lagi meredam suara yang mungkin bisa mengganggu pegawai di kantor ini. Yoona keluar dengan langkah cepat dan terus menatap ke atas. Berusaha mencegah air matanya jatuh lebih deras lagi. Ia tidak peduli lagi panggilan Sooyoung, Hyukjae, ataupun Chaerin dari tadi.

 

Ia langsung menyambar tangan Yuri yang menatapnya heran dan membawanya ke mobil mereka. Yuri ingin bertanya, tapi sepertinya akan membuat sahabatnya itu kembali menangis jika ia menyanyai pertanyaan itu. Ini pasti karena Siwon. Begitu simpulnya dalam hati.

 

“—Don’t trust me too much

You don’t know me that well yet

So just run away run away

I said ooh ooh ooh

Don’t love me

You don’t know me that well yet

I said run away just run away

Don’t come to me—”

 

Segerombolan agen berseragam anti peluru telah berhasil menerobos pintu besi berkarat itu. Komandan lapangan saat itu, Inspektur Choi Siwon berdiri di belakang mereka. Para agen garis depan telah menyerbu masuk. Mengacungkan senjata laras panjang mereka ke orang-orang yang dengan sigap menodongkan revolver mengkilap kea rah mereka. Agen garis depan menghujamkan timah panas ke orang-orang yang masih memberontak. Membuat ruangan besar nan kumuh itu dipenuhi suara dentuman peluru dan teriakan kesakitan. Agen garis depan tidak begitu ingin mendengar suara kesakitan dari orang-orang yang menurut mereka semestinya mati. Jadi sekalipun cukup lama dalam menembak, perhitungan mereka selalu tepat pada  jantung, kepala, hati atau setidaknya rusuk mereka.

 

Siwon member tanda pada rekan-rekannya di belakang untuk segera maju. Sooyoung dan Hyukjae mendahului Siwon dan menodongkan senjata mereka sebagai langkah antisipasi. Hyukjae harus terpaksa mengeluarkan satu pelurunya ke arah seorang berseragam hitam di pojok ruangan yang sudah mengarahkan sinar merah panjang ke arah kepala Sooyoung. Sementara Sooyoung berhati-hati dan berusaha menyusuri jalan yang mereka lalui agar aman.

 

Siwon mengangkat walky-talky-nya, “Singa satu disini, bagaimana elang dan kijang disana. Cek.”

Hyukjae meraih alat yang sama dari saku celananya begitu mendengar panggilan Siwon, “Elang aman, kijang menyusur. Kembali ke pusat. Cek.”

“Singa terima. Keadaan siap? Cek.”

“Kijang terima. Siap, bersih. Cek.”

 

Siwon meletakkan walky-talky-nya di dalam rompi anti pelurunya dan kembali memberi tanda bagi pasukan Chaerin untuk segera menyusul Hyukjae dan Sooyoung di depan. Siwon juga masuk bersamaan dengan pasukan Chaerin. Mereka masih berusaha berjaga-jaga dengan mata elang untuk mencegah serangan dadakan. Jiyong, Seunghyun, Taecyeon, dan Junho mengarahkan senapan mereka ke arah lantai atas. Sementara Youngbae, Daesung, Nichkhun, Wooyoung, dan Dongwoon mengarahkan senapan mereka pada sisi-sisi gelap gudang.

 

Perkiraan Chaerin sepertinya benar, ada ruangan kedap suara di dalam gudang ini. Jika tidak ada, mungkin aka nada laporan dari Hayi dan Dara yang berjaga di belakang gedung tentang kepergiaan para kepala-kepala mafia. Cherin dan Siwon mengendap ke salah satu lorong yang menurut mata-mata mereka merupakan lorong tempat pertemuan para kepala-kepala mafia itu. Ada sebuah bohlam lampu yang menyala terang di ujung lorong. Chaerin, Siwon, Hyukjae, Sooyoung, dan seluruh pasukan menyergap pintu dengan langkah hati-hati. Siwon memberi aba-aba untuk menahan langkah mereka dan menyerang bersamaan sesuai arahan jarinya.

 

3..

2..

1..

 

Siwon mengarahkan telunjuknya ke arah pintu dan mereka semua langsung menyerbu msuk.

 

Tampak beberapa pengawal yang tidak siap dengan kedatangan mereka dan langsung tertembak oleh Jiyong dan Seunghyun. Sementara Tiga bos kepala mulai bergerak panik. Salah satu diantaranya mencoba melarikan diri melalui jendela. Namun kemudian terdengar suara ledakan dan jeritan kesakitan. Sepertinya Nichkhun atau Dongwoon berhasil melumpuhkan orang itu sementara. Siwon kenal salah satu diantara dua orang di hadapannya. Wu Yi Fan. Di usianya yang begitu muda pasti tidak ada yang menyangka bahwa ia adalah puncak utama dari BlackM. Bukan Park Jinyoung yang sedang berdiri gemetaran di sampingnya dan berhadapan dengan Chaerin.

 

Dalam sekali gerak Chaerin sudah berhasil melumpuhkan Jinyoung. Jinyoung memang bukan tandingan Chaerin, sama seperti Tablo bukan tandingan yang sepadan untuk Nichkhun atau Dongwoon di luar sana.

 

Sementara keadaan makin memanas, Wu Yi Fan masih duduk di tempatnya. Berusaha menenangkan diri dan tersenyum santai.

“Selamat malam, Inspektur Choi. Senang bertemu denganmu lagi.” Pria dingin itu tersenyum menusuk. Siwon masih ingat senyum itu, senyum yang sama saat Siwon menagisi adiknya yang meninggal tepat dua minggu setelah ibunya. Siwon langsung terbakar emosi begitu melihat pria itu yang seperti bertindak seolah-olah semua akan mudah untuk pria itu. Padahal jika Siwon menarik pelatuknya saat ini mati saja pria itu.

 

“Menyerahlah sebelum kau berurusan dengan senjata ini Wu Yi Fan.” Siwon masih berusaha berpikir logis dengan member solusi terbaik untuk pria itu. Tapi pria itu hanya tersenyum meremehkan.

“Oh, tentu saja. Aku sudah bosan mengurusi gembong tidak tahu diuntung seperti ini. Lagipula semua asetku sudah teralihkan bersama kepergiaan Seuk Hye ke luar negeri. Jadi silahkan tangkap aku.” Seuk Hye, Siwon berusaha berpikir. Ah! Itu kan super model yang menurut berita yang ia dengar menjadi kekasih Wu Yi Fan. Mana mungkin seorang Wu Yi Fan mau membiarkan kekasihnya pergi begitu saja, karena yang ia dengar lagi Seuk Hye sebelum kehadiran Wu Yi Fan di Korea adalah kekasih anak buahnya, Wooyoung. Kesimpulannya Wu Yi Fan tidak akan menyerah seperti itu.

 

“Wu Yi Fan tapi tidak akan menyerah seperti itu.” Pria tinggi itu kembali tersenyum  menusuk. Mengambil sesuatu dari sakunya yang langsung mendapat sorotan dari semua mata di ruangan itu, “Hey, tenang saja. Aku tidak membawa senjata. Aku hanya ingin mengeluarkan ponselku.”

 

Wu Yi Fan mengeluarkan ponsel touch screen-nya, memperlihatkan sebuah gambar, lebih tepatnya video di layarnya. Siwon tidak bisa melihatnya dengan jelas karena tangan besar Wu Yi Fan masih menutupi layarnya.

 

“Seuk Hye akan mendapatkan keuntungan atas seluruh hartaku dan ia pasti akan kembali pada anak buahmu di luar sana, ah siapa namanya? Wooyoung kan? Ya itu! Seuk Hye akan mendapatkan kebahagiaan sebegitu besar dan aku akan kehilangannya. Anda tahu kan Inspektur Choi, bagaimana sakitnya kehilangan?” Nada bicara Wu Yi Fan langsung menyindir Siwon, mengingatkannya pada kematian ibu dan adiknya, serta perpisahannya dengan Yoona. Siwon menggeram emosi, ia ingin sekali meledakkan kepala pria di hadapannya sekarang. Tapi di baliknya, Hyukjae menepuk pundaknya agar lebih mengontrol emosi dengan pria tak punya hati di hadapannya.

 

“Aku kehilangan ayahku di penyergapan kalian di China 3 tahun lalu, aku kehilangan ibuku karena serangan jantung, aku kehilangan semua harta yang dikumpulkan ayahku, dan aku kehilangan Seuk Hye sekarang. Aku mengalami empat kehilangan kan? Lalu mari kita hitung berapa banyak kamu kehilangan. Ehm, aku menghilangkan ibumu sebagai ganti ayahku, aku menghilangkan adikmu sebagai ganti ibuku, kamu kehilangan hubungan super manismu dengan gadis cantikmu, Im Yoona , sebagai ganti hilangnya seluruh hartaku. Dan kamu tahu apa yang aku inginkan untuk mengganti kehilangan Seuk Hye?” Wu Yi Fan benar-benar tersenyum kemenangan sekarang. Siwon di tempatnya sudah akan mati begitu mendengar ‘pengganti kehilangan Seuk Hye’. Seuk Hye adalah gadis yang paling dicintai Wu Yi Fan, dan itu artinya Wu Yi Fan juga akan menghilangkan gadis yang paling dicintai Choi Siwon. Chaerin, Hyukjae, Sooyoung, Jiyong, Seunghyun, Taecyeon, dan Junho yang menyadarinya pun harus meneguk ludah pahit-pahit.

 

“Yak benar! Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi, dan gadis yang dicintai dibalas dengan gadis yang dicintai.” Wu Yi Fan melemparkan ponselnya ke arah Siwon. Bertepatan dengan Chaerin dan Hyukjae yang langsung menyergap Wu Yi Fan. Wu Yi Fan tidak memberontak, sesuai perkataannya untuk menyerahkan diri. Tapi ia sudah puas melihat wajah hancurnya Choi Siwon dalam sekali lirik.

 

“Ucapkan salamku untuk kekasihmu Choi Siwon.” Bisik Wu Yi Fan sebelum meninggalkan ruangan tempat Siwon mematung.

 

Siwon serasa ingin mencongkel matanya sekarang. Ia ingin menghilangan dua bola mata itu. Menghilangkan kemampuannya untuk melihat keberadaan fakta dunia yang masih berusaha ia tepis dengan logikanya. Tidak mungkin Im Yoona-nya seperti ini.

 

“Bos..” Sooyoung menepuk punggung Siwon yang langsung jatuh terduduk.

“Tolong katakan ini tidak benar. Tolong.” Siwon menangis. Si Singa Petarung milik badan intelegen itu menangis sesenggukan. Sooyoung melirik ponsel yang diberikan Wu Yi Fan. Di dalamnya ada video call yang masih berjalan. Seorang gadis berbaring di ranjangnya, dan seorang pria di sampingnya yang melepaskan masker oksigen dan menyuntikkan sesuatu ke dalam tabung infusnya. Pria itu langsung pergi dengan senyum licik. Gadis itu kejang dengan hebat. Orang-orang berhamburan masuk, suster yang berusaha menghalangi mereka dan dokter yang memberikan pertolongan untuk gadis itu.

 

Sooyoung menyadari, gadis itu. Gadis yang berada di ujung nyawanya adalah gadis yang paling dicintai Siwon. Im Yoona. Tepat ketika bantuan sengatan listrik terakhir di bagian dada Yoona tidak berhasil memberikan tegangan untuk jantung gadis itu, dokter merunduk sedih dan menggeleng pasrah. Seorang pria paruh baya di samping gadis itu menangis histeris.

 

“Bos, ini..” Siwon berdiri dengan senyum terpaksa, mengusap air matanya.

Ahh, tidak, tidak. Itu pasti hanya karangan Wu Yi Fan saja kan? Aku sudah meminta Yoona untuk pergi jauh-jauh bersama ayahnya, jadi tidak  mungkin ada yang membahayakannya. Setelah ini aku akan menghubunginya.” Sooyoung yang sekarang menangis. Atasannya berusaha menghindari logika, atasannya berusaha menepis keadaan. Atasannya telah hancur karena cinta, sama seperti Wu Yi Fan sebenarnya.

 

Suara derap kaki yang cukup keras menyambut Sooyoung dan Siwon yang baru keluar dari ruangan penyergapan tadi. Yonghwa dan Donghae datang dengan raut gelisah, cemas, dan.. sedih.

“Ada apa?” Suara Sooyoung terdengar parau. Tangannya menggenggam ponsel Wu Yi Fan yang masih menampilkan pelepasan alat-alat medis dari tubuh seorang gadis dan bagaimana kain putih sekarang menutupi sekujur tubuh gadis itu. Donghae yang melihatnya berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Ternyata berita yang ia dan Yonghwa terima tidak salah.

“Yoona..” Siwon langsung mendongakkan kepalanya dengan sumringah. Atau dibuat-buat sumringah. Ia berusaha mensugesti dirinya sendiri bahwa Yoona sedang kemari karena lagi-lagi mencemaskannya. Tapi logikanya menyeruak, bukankah semenjak dua bulan ini, Yoona seperti tak peduli pada kabarnya?

“Yoona-ku kenapa?” Siwon masih berusaha terlihat meyakinkan dirinya bahwa ia akan bahagia. Setidaknya biarkan kali ini berpura-pura bahagia, sebelum fakta dari bibir Yonghwa atau Donghae terucap. Karena pada saat itu. Sebenarnya ia tahu, tangisnya akan pecah di udara, dan jantungnya akan menikamnya dalam kebodohan hidup-hidup.

 

Dari gerak tubuhnya, Sooyoung sebenarnya tahu apa yang akan disampaikan Donghae dan Yonghwa. Hanya saja, Siwon sudah terlanjur patah sekarang. Apa ia tega mematahkannya sekali lagi dengan berita yang sebenarnya tidak akan berbeda dari video di ponsel itu?

 

Donghae menggeleng, mengisyaratkan Yonghwa untuk berbicara. Sementara yang diberi isyarat harus menahan nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan berat, “Yoona-mu, baru saja meninggal.”

 

“—Just know this before you go

That I was the only man who loved you only

So stupid was I

An idiot a scumbag who couldn’t even protect you

If you stay beside me ’till the end

You’ll be more heartbroken, you might fall

Made a very good choice

A person who will set you free

Will come to you

Will come to you—”

 

.END.

 

 

authornotes:

Fuhh.. Akhirnya kelar juga yah ini. Padahal udah sempet depresi nggak bakal selesai. Secara saya lebih memilih jadi Pyrotechnics (shipper nya YoonHae). Sempet mewek-mewek sendiri waktu mesti liat Before You Go demi FF titipin adik unyuh-super-bawel saya. Yah tapi syukurlah karena itu saya punya inspirasi bagian akhirnya. Terima kasih untuk adik yang terus ngotot supaya saya bikin FF YoonWon *sadar dong nak cece mu ini udah kelas 9, banyak acara.-. iya kalo elu gitu masih kelas 5, kagak ada kegiatan apa-apa*

 

Ahh, dan bagi kalian yang bertanya kesesuaian judul dan isi. Sebenarnya kalau kalian tahu Monkshood sih kalian mungking agak ngeh. Monkshood itu bentuknya hampir mirip anggrek, dan aku taruh kok di posterku, sekalipun nggak sebegitu jelas. Monkshood itu tanaman yang cantik tapi sebenarnya gampang membawa racun, dan gampang memberi racun. Racunnya pun berbahaya. Aku lupa Monkshood pernah ada di Conan atau Kindaichi tapi Monkshood itu patut dicurigai kalau ada pembunuhan di sekitar daerah penuh tanaman. Kan berarti Monkshood itu hampir mirip Rose. Sekalipun indah tapi berbahaya.

 

Dan kenapa judulnya nggak Rose? Karena udah pasaran.-. Aduh serius, sampai saya nulis ff ini saya udah ketemu 5 ff dengan inspire-nya itu “Lee Hi-Rose” dan judulnya kalau nggak “Rose” yah mengandung “Rose”.-. Dan berhubung Lee Hi adalah ultimate bias yang bener-bener ultimate jadi saya ingin sesuatu yang berbeda juga! 😀

 

Komentar, saran, dan kritik sangat diterima!

71 responses to “Monkshood

    • makasih ya 😉 every ending have their own way kok, happy bisa jadi sad kalau kamu lihat dari sudut pandang orang yang selalu beranggapan every story had their own happy ending 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s