I Need a Good Husband [ Chapter 6 – Problem and Controversy ]

I Need a Good Husband 2

–Storyline by Aline Park @angiiewijaya–

Main Cast

Kim Mi Jung [OC’s]
Lee Gi Kwang [Beast] as Lee Gi Kwang
Kim Myung Soo or L [Infinite] as Kim Myung Soo

Other Cast

Choi Jun Hong or Zelo [B.A.P] as Choi Jun Hong or Zelo
Jung Dae Hyun [B.A.P] as Jung Dae Hyun
Lee Sung Yeol [Infinite] as Lee Sung Yeol
Bang Min Ah [Girls Day] as Bang Min Ah
Lee Howon or Hoya [Infinite] as Hoya
Kim Ah Young or Yura [Girls Day] as Kim Yura

Genre
Romance

Length
Series

Rating
Teenager

Previous
I Need a Good Husband [ Chapter 1 – In Senior High School ]
I Need a Good Husband [ Chapter 2 – You Kiss Me When I Sleep? ]
I Need a Good Husband [ Chapter 3 – New Bodyguard ]
I Need a Good Husband [ Chapter 4 – Graduation ]
I Need a Good Husband [ Chapter 5 – Job With a Love Story ]

I Need a Good Husband
Chapter 6 – Problem and Controversy

Happy Reading

Zelo masih menatap tidak percaya ke arah Mi Jung. Mi Jung sendiri tidak percaya akan melakukan hal segila ini, padahal, ia bukanlah orang yang mudah untuk berlutut di depan orang. Air mata Mi Jung sendiri sudah menggenang di matanya. Entah yang ia sedihkan adalah pekerjaannya atau Zelo. Ia tidak tahu.

“Gue mohon Zel. Gue bener-bener butuh.” kata Mi Jung, yang sedikit seperti gumaman.

Zelo malah ikut berlutut di depan Mi Jung. Ia menatap dalam mata Mi Jung. “Sekarang kita temuin Manager gue.” katanya sambil menunjukkan senyum yang dirindukan Mi Jung.

Semua menatap tidak percaya ke arah Zelo. Mi Jung langsung mendongakkan kepalanya menatap Zelo. Jantungnya berdetak menjadi cepat. Ia senang, bukan hanya karena mendapatkan pekerjaannya, ia bisa melihat kembali senyuman Zelo yang sangat ia rindukan itu.

Mi Jung dan Zelo duduk di sofa depan Manager Zelo. Kali ini, mereka sedang berada di kamar hotel Zelo yang memang ada sebuah living room. Mi Jung memberikan surat penawaran di atas meja depannya. Manager Zelo menatap tajam ke arah Mi Jung, Mi Jung pun berusaha untuk tetap menatapnya. Mata Mi Jung tidak kalah tajam.

“Jadi kau menawar Jun Hong untuk pemotretan majalahmu?” tanya Manager Zelo.

“Ya, aku ingin Jun Hong menjadi photographer untuk majalahku.” jawab Mi Jung dengan pasti dan berusaha memanggil Zelo dengan Jun Hong.

Manager Zelo menghela nafas. “Tapi, kami sudah terikat kontrak dengan sebuah acara model ternama di Jepang. Dan si penyelenggara acara meminta Jun Hong untuk menjadi si photographer dan tidak mengizinkannya untuk melakukan schedule lain selama di Jepang.”

Mi Jung menatap tidak percaya ke arah Manager Zelo. Ia menatap tajam ke arahnya. “Apa kau seorang Manager? Kau yang mengatur jadwal, bukanlah dia. Memang apa hak dia? Jika memang Jun Hong mengsetujui dengan tawaran lainnya, berarti dia berhak melakukan pekerjaan tersebut. Yang melakukan pekerjaannya adalah si photographer, si penyelenggara hanya berhak memberi tawaran atau membatalkannya.”

Zelo menatap terkejut sikap lancang Mi Jung. Tapi, ia bukannya malah kesal, tapi malah sangat senang, ia sendiri memang ingin mempunyai kontrak bersama Mi Jung. Pekerjaan itu lebih baik dari apapun.

Mi Jung tiba-tiba melihat sebuah kartu nama di atas meja. Ia mengambil kartu nama itu. Ia sedikit terkejut melihat kartu nama itu. “Apa ia yang memberikan penawaran ini kepada Jun Hong?”

Manager Zelo menatap ke arah Mi Jung. “Iya, dia yang memberikannya.”

Mi Jung kemudian tersenyum. Ia mengambil tasnya kemudian bangkit berdiri sambil membawa kartu nama itu. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Dan aku minta kartu nama ini.”

Kemudian Mi Jung berjalan mendekati pintu kamar. Zelo menatap Mi Jung yang berjalan itu. Ia sedikit terpaku karena penampilan Mi Jung. Mi Jung memakai rok hitam, kemeja putih yang dibalut dengan blazer hitam dan high heels hitam tinggi, membuatnya sedikit terlihat lebih dewasa dan sexy mungkin?

Mi Jung menoleh sedikit ke belakang dan tersenyum ke arah Zelo. Zelo sendiri membalasnya dengan senyuman evil khasnya. Dan kemudian Mi Jung ke luar dari kamar.

“Kau menyukainya Jun Hong?”

Zelo menoleh ke arah Managernya. Ia hanya menjawabnya dengan tertawa kecil.

Sedangkan Mi Jung, ia sudah memasukki lift. Ia menatap kartu nama itu, setelah itu ia melihat ke arah cincin yang ia gunakan. Cincin itu masih tetap berkilauan meski sudah lama sekali. Mi Jung hanya tersenyum tipis melihatnya.

Ketika lift sudah berbunyi dan menunjukkan lantai paling bawah. Mi Jung keluar dari lift dan langsung berjalan pergi dari hotel. Ia memanggil sebuah taxi dan langsung memberitahukan tempat tujuannya. Untungnya bahasa Jepangnya lumayan fasih.

Setelah sampai di tujuan, Mi Jung langsung membayar dan keluar dari taxi. Ketika ia masuk ke dalam, ia bertanya di mana kah ruang si yang menawarkan pekerjaan kepada Zelo.

“Maaf, jika tidak ada janji, kami tidak bisa mengizinkanmu masuk.”

“Hubungi ia, bilang, Kim Mi Jung yang mencarinya.”

Setelah dihubungi orang tersebut, ternyata Mi Jung diizinkan ke sana. Mi Jung langsung berjalan menuju lift dan menaikinya. Ia tekan tombol lantai tujuh. Setelah sudah ditunjukkannya lantai tujuh, Mi Jung keluar dari lift. Ia langsung mencari ruangan orang itu. Saat ia sudah menemukannya, sebelum juga ia mengetuk pintunya, ia kembali menatap datar cincin yang ia gunakan. Kemudian ia menghela nafas berat dan mengetuk pintu ruangan tersebut.

TOKK .. TOKK ..

“Masuk.”

Mi Jung membuka pintu itu perlahan. Dilihatnya seorang pria sedang duduk di kursi kantornya, membelakanginya. Mi Jung kemudian menutup pintu itu dengan perlahan juga. “Apa kabar Gi Kwang sunbae.”

Gi Kwang menoleh sedikit ke arah Mi Jung. Ia kemudian memutar kursi kerjanya dan matanya langsung menatap MI Jung. “Ada apa nyari gue?”

Mi Jung berjalan mendekat ke meja Gi Kwang. “Maaf, aku lagi mau ngomong pekerjaan, jangan pake bahasa informal.” kata Mi Jung, mengingatkan. “Kau, kenapa tidak mengizinkan Zelo, ah maksudku Jun Hong untuk tidak melakukan schedule lain selama di Jepang?”

“Itu bukan kemauanku.” jawab Gi Kwang. “Itu atasanku yang pengen.”

“Tapi itu hak dari pihak Jun Hong, bukan kalian!”

Gi Kwang menatap tajam ke arah Mi Jung. “Kalau aku membatalkan perjanjian itu dengan Jun Hong, apa yang kudapatkan?”

“Apa maksudmu?”

Gi Kwang bangkit berdiri, ia masih tidak lepas memandang Mi Jung. “Aku tidak akan mendapat keuntungan jika aku membatalkan perjanjian dengan Jun Hong, itu  malah merugikanku, aku bisa saja dipecat atasanku. Aku baru mau melakukannya, jika kau bisa memberi keuntungan.”

Mi Jung menatap tajam ke arah Gi Kwang. Gi Kwang berubah. Ada yang aneh dengan pria itu. “Bagaimana jika dengan uang? Aku bisa membayarmu.”

“Sayangnya aku bukan orang matrealistis.”

Mi Jung benar-benar tak percaya dengan pandangannya. Gi Kwang berubah. Gi Kwang tampak menyeramkan.

“Kau berubah.”

Gi Kwang menoleh ke arah Mi Jung. Ia mengangkat salah satu alisnya.

“Kenapa kau memilih untuk melakukan hal yang salah seperti ini?”

Gi Kwang mengubah posisinya membelakangi Mi Jung. Ia menghela nafas berat. “Ini demi Ayahku. Aku harus mempertahankan perusahaan ini.”

Mi Jung menatap bingung ke arah Gi Kwang. Tapi, tampaknya bukan waktu yang tepat untuk menanyakannya.

Mi Jung melewati lorong-lorong kamar, yang merupakan tempat kamarnya. Dan pada saat itulah, ia melihat seorang perempuan yang sedikit mencurigakan. Ia menggunakan pakaian dengan segalanya hitam. Ia bahkan membawa sebuah kamera dan bag. Mi Jung tersadar, bahwa ia berdiri di depan kamar Myung Soo, yang memang tidak jauh dari kamarnya. Mi Jung mulai curiga, bahwa itu adalah fans yang bisa saja melukai Myung Soo.

“Ini orang gila apa, berani banget jadi stalker gitu. Satpam emang ga jagain apa ini? Myung Soo bisa aja diapa-apain.” batin Mi Jung.

Mi Jung kemudian berusaha untuk mengambil langkah, setidaknya, ini adalah tanggung jawabnya sebagai orang yang memberi schedule ke Jepang untuk Myung Soo, ia harus melindunginya. Akhirnya, Mi Jung berjalan hingga ke depan pintu kamar Myung Soo.

“Ada apa kau berdiri di depan kamarku?” tanya Mi Jung, matanya terlihat sedikit sinis. Syukurnya sekali lagi, ia fasih dalam berbahasa Jepang.

“Kamarmu? Ini kamar Kim Myung Soo!” jawab perempuan itu.

“Kim Myung Soo? Siapa dia? Yang menginap di sini itu aku!”

“Kalau begitu, coba masuk!” tantang perempuan itu.

Mi Jung terkejut juga mendengar tantangan perempuan itu. Ia kemudian mengetuk pintu kamar itu. Si perempuan langsung menatap sinis melihat tingkah Mi Jung. “Tuh kan, bukan kamarmu, kalau itu kamarmu, seharusnya kau tidak perlu mengetuk!”

“Ini kamarku! Kau tidak usah asal menuduh! Aku ini tidak membawa kunci, makanya aku mengetuk pintu, di dalam itu ada suamiku!” jawab Mi Jung asal, tapi tanpa menunjukkan kegugupan sama sekali.

Dan kemudian, seseorang membuka pintu tersebut. Berharap-harap manager Myung Soo yang membukanya. Tapi, takdir tidak berpihak padanya, Myung Soo lah yang membuka pintunya. Si perempuan langsung terkejut melihat Myung Soo, ditambah Mi Jung bilang di dalamnya adalah suaminya.

“HUAHHH! MYUNG SOO OPPA!” teriak perempuan itu, berusaha menggunakan sedikit bahasa Korea.

Ide Mi Jung tidak habis di situ. Ia melotot ke arah perempuan itu. “Kamu tuh kenapa sih teriak-teriak Myung Soo melulu. Dia itu bukan Myung Soo! Memangnya siapa sih Myung Soo itu? Dia ini suamiku, namanya Kent! Myung Soo itu kan nama orang Korea, dia ini orang China-Canada tau!” jawab Mi Jung. Wajah Myung Soo memang sedikit berbeda saat ini. “Honey, who is she? Why she always say you are Myung Soo.”

Myung Soo mulai dapat mengerti ide jalan Mi Jung. “I don’t know honey, maybe she is crazy.” jawab Myung Soo, berusaha mengucapkan kalimat dengan bahasa Inggris.

“Kau mendengarnya bukan? Ia bukan Kim Myung Soo!” kata Mi Jung, yang kemudian langsung menarik Myung Soo ke dalam kamar dan menutup pintu dengan kencang.

Myung Soo kemudian langsung duduk di kursi living room. Managernya yang baru saja keluar dari toilet langsung menatap terkejut ke arah Mi Jung yang tiba-tiba bisa masuk ke dalam kamar. Mi Jung hanya menundukkan kepalanya, sedikit merasa bersalah.

“Maaf Myung Soo, aku ga berniat apa-apa kok, aku cuma pengen lindungin kamu. Lagian kan, aku juga bertanggung jawab atas keamananmu.”

Myung Soo menoleh ke arah Mi Jung yang tampaknya sudah takut-takut. Myung Soo hanya tersenyum tipis. “Gapapa, aku tau niatmu baik.”

Mi Jung sedikit lega mendengar jawaban Myung Soo. Tapi, tiba-tiba ia menjadi cemas, karena bagaimana caranya ia ke luar dari sini, sementara si stalker itu pasti masih berada di depan dan waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. “Bagaimana caranya aku ke luar?”

Myung Soo dan Managernya langsung menoleh ke arah Mi Jung. Mereka sedikit menatap ragu ke arah Mi Jung. Tampaknya, mau tidak mau Mi Jung harus berada di kamar Myung Soo. “Kalau kamu malam ini tidur di sini gimana?”

Mi Jung membulatkan matanya. Ia terkejut dengan saran Myung Soo. Si Manager tampaknya tidak setuju dengan itu. “Bagaimana bisa Myung Soo? Jika semua orang mengetahui ini, namamu akan menjadi jelek!”

Myung Soo bangkit berdiri dan menghampiri Mi Jung. “Karena hanya memesan tempat yang satu kamar, kamu tidur di kamar aja. Aku sama manager bakal tidur di living room.”

“Myung Soo, tapi kan—“

Myung Soo menarik Mi Jung ke dalam kamar tanpa mendengarkan jawaban Mi Jung dan perkataan Managernya. Ia tahu seharusnya ia tidak melakukan ini, tapi ini adalah jalan untuk mengatasi sebuah masalah bukan? Ia berusaha untuk memberanikan dirinya, ia akan menerima hukuman yang akan ia dapat.

Setelah masuk ke dalam, Myung Soo mengambil beberapa bantal dan sebuah dua selimut tipis yang memang selalu dibawa Myung Soo dan Managernya sebagai cadangan. “Kau tidak keberatankan?”

Mi Jung menoleh ke arah Myung Soo. Myung Soo tidak mengatakan apa-apa lagi dan malah berjalan menuju pintu kamar yang tertutup itu, berniat ke luar. Tapi tangan Mi Jung secara refleks memegang pergelangan tangan Myung Soo, yang membuat langkahnya terhenti.

“Kamu sekarang udah bukan orang biasa lagi Myung Soo-a, status kamu dihadapan aku udah enggak kayak dulu lagi. Aku rasa, kayaknya—“

Myung Soo meletakkan jari telunjuknya di bibir Mi Jung. “Jangan banyak bicara dan tidurlah.” katanya. Kemudian ia langsung ke luar dari kamar.

Myung Soo langsung membanting barang-barang yang ia bawa dari kamar ke atas sofa. Managernya menatap Myung Soo tak percaya. “Kau kenapa melakukan hal seperti ini Myung Soo? Jika gossip ini banyak menyebar, banyak yang akan membatalkan kontrak denganmu, membuatmu ga—“

“Dia orang yang memberi kontrak kepada kita.”

Suasana menjadi hening ketika Myung Soo menjawab dengan jawaban yang sangat dingin. Ia memilih untuk langsung berbaring di atas sofa dan menyelimuti dirinya dengan selimut. Tubuhnya menatap ke arah senderan sofa. Dan Managernya pun hanya mengalah, mematikan lampu dan ikut tidur di sofa lain.

Mi Jung melihat ke sebuah acara model yang didatangi Zelo. Rasanya hatinya sangat panas, Gi Kwang dengan teganya menahan Zelo untuk tidak melakukan schedule lain. Dan Zelo mau saja menyetujuinya. Aneh.

Dan soal acaranya, Zelo belum tahu kalau Mi Jung datang menyaksikan aksi Zelo memotret model-model yang cantik itu. Hingga pada akhirnya, ketika acara itu selesai, ia langsung meminta salah satu kru untuk memanggil Zelo dengan alasan ada sebuah janji.

Ketika Zelo ke luar dari backstage karena dipanggil, ia terkejut melihat Mi Jung yang sudah menatapnya dalam. Dengan cepat, Zelo langsung membawa Mi Jung pergi ke atap gedung agar tidak terlihat orang lain.

“Ada apa nyari gue?” tanya Zelo.

Mi Jung natep nanar ke arah Zelo. “Apa lo bener-bener gabisa jadi photographer untuk majalah gue?” katanya. “Gue udah berusaha buat ngomong sama yang ngadain acara ini—“

“Gi Kwang? Lo ngomong sama dia?” potong Zelo. “Lo ga akan berhasil Jung.”

“Kenapa gue ga akan berhasil? Lo gamau bantuin gue? Kenapa lo bikin gue jadi down Zelo? Lu kenapa keluarin kalimat pasrah ke gue?” jawab Mi Jung dengan sedikit emosi.

“Gue ga bilang ga bantuin lu.” katanya. Dia melupakan statusnya, ia memeluk Mi Jung tanpa babibu. “Gue udah ngomong sama Gi Kwang, dan hasilnya dia ga izinin gue. Dari gue sendirinya aja gabisa, apalagi lu Jung. Bakal lebih sulit.”

“Zel, lebih baik lu lepasin—“

“Gue bakal kerjain pekerjaan lu diem-diem. Jangan kasih tahu nama photographer majalah lu, atas nama gue. Gue rela nama gue ga disebutkan, yang penting gue bantuin lu.”

Mi Jung menoleh ke samping sedikit, agar dapat melihat kepala Zelo. Ia menatap tak percaya dengan keputusan Zelo. Bisa-bisanya Zelo mengatakan ia ingin mengerjakan pekerjaan Mi Jung secara diam-diam.

“Gua gamau, karena pekerjaan gue, lo jadi terbebani Zel.” kata Mi Jung.

“Demi orang yang gue sayang ga akan pernah jadi beban.”

Zelo benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Pada sore hari, mereka melakukan sebuah pemotretan di keramaian Jepang. Zelo sudah menyamar menjadi orang yang tidak dikenal. Ia berpura-pura menjadi photographer biasa yang tidak terkenal. Tapi, tetap saja tempat pemotretan mereka ramai, Myung Soo menjadi si perhatiannya.

Mi Jung mengatur segala konsep untuk pemotretan. Tema apa yang akan ia gunakan untuk majalahnya. Setelah mendapatkannya, Zelo maju untuk melakukan tugasnya, mengatur hasil foto dan membuatnya terlihat simple nan indah.

Setelah selesai pemotretan, kurang lebih satu setengah jam, para kru langsung merapikan barang-barang. Mi Jung sendiri sibuk melihat hasil foto di laptopnya. Tapi tiba-tiba, ponsel Mi Jung berbunyi dan hubungi oleh nomor yang tidak dikenal, plus bukan merupakan nomor dari Korea. Mi Jung mengangkatnya.

“Ini dengan siapa?”

“Bisakah kau datang ke Apartemen XXX, B24.”

“Nuguyo?” jawab Mi Jung dengan bahasa Korea, karena si penelfon juga menggunakan bahasa Korea.

TUTT ..

Di saat sambungan diputus, di situlah sebuah mobil hitam pergi dengan cepat. Mi Jung sedikit curiga dengan mobil itu. Sadar akan sikap aneh Mi Jung, Zelo menghampirinya.

“Lo kenapa?”

Mi Jung hanya menggeleng. Ia masih menatap mobil hitam itu yang semakin lama, semakin tidak terlihat.

Mi Jung turun dari taksi, ketika taksi sudah membawanya ke Apartemen yang diberitahukan si penelfon. Dia sebenarnya takut, bisa saja ia diculik? Tapi, firasatnya mengatakan ia harus datang.

Setelah menaikki lift, Mi Jung berjalan ke B24. Ia menelan ludah ketika berdiri tepat di pintu tersebut. Hingga pada akhirnya, ia menekan bel kamar apartemen tersebut.

Keluarlah seorang laki-laki dengan kemeja coklat tuanya dan celana hitamnya. Mi Jung membulatkan matanya melihat laki-laki itu. Laki-laki itu hanya menatap santai ke arah Mi Jung.

“Masuklah.”

Laki-laki itu terlebih dahulu masuk ke dalam, dan disusul Mi Jung tak lama. Mereka berdua kemudian duduk di sofa living room.

“Kau mengetahui nomor ponselku darimana?” tanya Mi Jung.

“Ya, sekedar mengorek-ngorek, alias stalking, sehingga aku bisa mendapatkannya.”

Mi Jung menghela nafas, ia menatap tajam ke arah laki-laki itu. “Lalu, apa yang kau perlukan? Apa kau berubah pikiran untuk mengizinkan Jun Hong terbebas dari perjanjian?”

Ya, laki-laki itu memanglah Gi Kwang. Mobil yang tadi pun adalah anak buahnya, yang mencari tentang Mi Jung. “Tidak, bukan itu.” jawabnya. “Kau dalam bahaya.”

Mi Jung menatap bingung ke arah Gi Kwang. Ia bingung apa yang dimaksudkan dengan dalam bahaya. “Apa maksudmu?”

“Siapa photographer majalahmu?”

Mi Jung sedikit terkejut mendengar pertanyaan Gi Kwang, tapi seketika, ia berusaha untuk tenang. “Seorang anak muda, ia orang Jepang.”

“Tidak usah berbohong.” jawab Gi Kwang.

“Apa maksudmu? Aku tidak berbohong.”

“Choi Jun Hong? Dia kan?”

Mi Jung menatap tajam dan terkejut ke arah Gi Kwang. Gi Kwang sendiri hanya membalasnya dengan tatapan datar. “Jika atasanku mengetahui ini, berita ini bisa saja tersebar. Jadi, lebih baik kau mencari cara agar berita ini tidak tersebar luas. Semua orang sudah tahu mengenai perjanjian ini, dan pihak Jun Hong menyetujuinya, jadi, jika mereka mengetahui Jun Hong melakukan schedule lain, otomatis kau akan dituduh.”

“Itu kemauan Jun Hong, bukan aku.”

“Tapi tetap saja, kau harusnya menahannya untuk tidak melakukan pekerjaanmu.”

Mi Jung merasa nafasnya sesak, bukan dirinya sendiri yang ia pikirkan, tapi Zelo. Zelo pasti akan sangat dalam bahaya, ia bukanlah orang biasa. “Jangan biarkan berita itu tersebar, kumohon.”

“Aku bisa saja mencegahnya, tapi aku tidak tahu dengan perusahaanku.” jawab Gi Kwang. “Kau takut?”

“Aku takut,” jawab Mi Jung. “aku takut jika terjadi masalah kepada Jun Hong.”

Semuanya sudah kembali ke Korea. Mi Jung dengan keadaan buruk sedang memimpin rapat, mengenai seluruh majalahnya. Mi Jung yang memang mengantuk, semenjak bertemu dengan Gi Kwang, tambah lebih buruk lagi karena para orang yang pangkatnya di atas dirinya tidak begitu memerhatikan, tetap menatap Mi Jung tajam.

“Jadi, bagaimana pendapat kalian?”

Atasan Mi Jung yang pernah mengancamnya itu membetulkan posisi duduknya, kemudian kembali menatap Mi Jung dengan tajam. Ia menghela nafas berat. “Kami tidak mengizinkanmu bekerja lagi dibagian pemasaran melalui media cetak.”

Mi Jung membulatkan matanya. Ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan atasannya itu.

Maksudnya aku dipecat? Usahaku sia-sia?

“Kau menggunakan Kim Myung Soo sebagai model, bukan? Sekarang beredar gosip kau tidur di kamarnya ketika menginap di Jepang! Aku juga melihat videonya, itu terlihat persis seperti kau di lorong, kemudian Myung Soo ke luar dari kamar, seorang perempuan pergi, kemudian kau masuk ke kamar. Apa itu benar?”

Mi Jung menatap tak percaya ke arah Atasannya. Yang ia ceritakan itu benar-benar fakta seratus persen. “Tapi, aku tidak bermaksud. Aku melakukan tugasku, maka itu aku harus masuk ke sana. Ini tidak berhubungan dengan masalah pribadi!”

“Kau menghancurkan nama perusahaan kita! Kau tahu, banyak sekali wartawan yang datang ke sini! Meskipun kau menjelaskannya, pasti beberapa orang tetap tidak dapat menerimanya. Tidak seharusnya kau masuk ke dalam!” kata Atasan Mi Jung. “Besok, hadirlah di press conference di Gedung XY, pihak Myung Soo mengundang pihak kita. Dan kau, tetap tidak bisa bekerja lagi di sini.”

Mi Jung menatap emosi ke arah Atasannya yang mau berjalan ke luar itu. Ia mengepalkan tangannya. “Beri aku satu kesempatan lagi! Aku sudah membuat tekad dengan rekan-rekanku untuk membuat majalah ini sukses! Untuk edisi kali ini, kami sudah berusaha susah payah dan aku mengeluarkan uang banyak bukan dari perusahaan! Aku menggunakan uang pribadiku!” kata Mi Jung. Ia menghela nafas berat, dengan mantap, ia melanjutkan perkataannya. “Dan aku akan membawa majalah ini ke Eropa! Majalah ini akan sukses hingga ke sana!”

Rekan-rekan Mi Jung yang memang mengikuti rapat, terkejut karena perkataan Mi Jung yang akan membawa majalah ke Eropa. Mereka sedikit ragu dengan tekad Mi Jung. Atasan Mi Jung pun menghentikan langkahnya, ia membalikkan tubuhnya ke arah Mi Jung. Ia sedikit menatap remeh sambil mengangguk-angguk. “Akan kulihat hasilnya.”

Mi Jung duduk di salah satu cafe yang tidak jauh dari kantornya. Yura mengajaknya untuk bertemu di sana. Entahlah, tapi perasaan Mi Jung sedikit tidak enak dengan pertemuan ini. Otaknya sudah cukup stress karena masalah pekerjaannya dan keikutsertaannya dalam masalah Myung Soo.

Tak lama, Yura masuk ke dalam cafe. Ia menatap tajam ke arah Mi Jung, kemudian menghampiri Mi Jung. Ia langsung membanting sebuah majalah di atas meja. Mi Jung menatap bingung ke arah Yura.

“Kau, kau kenapa melakukan ini? Kau kenapa membuat Zelo dalam masalah? Kenapa Mi Jung, kenapa?!” teriak Yura emosi. Syukurnya, cafe itu sedang tidak ada pengunjung karena hujan.

Mi Jung mengambil majalah itu. Ia melihat sebuah artikel dengan judul ‘Choi Jun Hong dipaksa untuk melakukan sebuah pemotretan majalah?’

Si photographer muda ini, beberapa waktu lalu pergi ke Jepang untuk melakukan sebuah pemotretan di acara model-model. Kemudian, dari pihak si penyelenggara acara, membuat sebuah syarat untuk tidak mengizinkan Jun Hong melakukan schedule lain, pihak Jun Hong pun setuju.
Tapi ternyata, Jun Hong melakukan sebuah pemotretan di salah satu tempat ketika di Jepang. Diduga, orang yang menyuruh Jun Hong melakukan pemotretan tersebut adalah, seorang wanita yang menggunakan baju hitam pada gambar. Dan si pria berbaju coklat adalah Jun Hong. Semua mengatakan bahwa pria itu Jun Hong, karena dari jenis kamera, ujung rambutnya yang berwarna biru, merek kacamata dan juga gelang pita hitam yang selalu dipakai Jun Hong. Kebanyakkan, yang menyadari akan hal ini adalah para Stalker.

Mi Jung menatap tak percaya ke arah artikel itu. Ia menelan ludahnya.

“Kamu kan si wanita berbaju hitam itu? Cepat mengaku Kim Mi Jung!” teriak Yura.

Mi Jung menatap kesal ke arah Yura, ia tidak suka Yura berteriak seperti itu. “Iya, itu aku. Zelo yang mau melakukan scheduleku! Kenapa semua kesalahan ditimpa kepadaku?!”

“Kenapa kamu tega bikin Zelo masuk ke dalam masalah kayak gini Mi Jung?” gumam Yura sambil menahan isakkannya yang mulai ke luar. Ia kemudian berjalan menuju pintu ke luar.

“Kamu sayang sama Zelo? Lalu Hoya? Dia gimana?” kata Mi Jung setelah bangkit berdiri, langkah Yura pun terhenti. “Jangan bareng Hoya, jangan bilang kamu sayang Hoya, kalau kamu masih setengah-setengah sayangnya.”

Tiba-tiba, segerombolan pria dengan berbaju hitam masuk ke dalam cafe, ketika mereka melihat ke arah Mi Jung, mereka langsung menghampiri Mi Jung. “Kau Kim Mi Jung kan? Kau ikutlah dengan kami! Kau harus menyelesaikan permasalahan ini! Kau telah membuat Jun Hong melanggar perjanjian dengan kami, jadi aku harus mempertanggung jawabkan ini!”

“Kalian ini siapa? Apa kalian adalah pihak Jun Hong yang bekerja sama dengan Tuan Lee Gi Kwang? Apa aku perlu berbicara pada Tuan Lee Gi Kwang mengenai masalah ini?!”

“Aku adalah Atasan Gi Kwang, aku tahu kalian sering berbincang-bincang mengenai Jun Hong bukan?” jawab si pria yang berdiri paling depan itu. “Memangnya apa hebatnya majalahmu, hah?! Mengapa kau membutuhkan photographer sehebat Choi Jun Hong?! Majalah kalian tidak membutuhkan orang sepertinya!”

Hati Mi Jung panas, darahnya seketika langsung naik, karena Atasan Gi Kwang menghina hasil kerja Mi Jung yang paling sulit untuknya. Ia menatap tajam ke arah Atasan Gi Kwang. “Kau bela-bela datang ke Korea hanya untuk mengejekku seperti ini, hah?! Kau menjelek-jelekkan hasil penerbitan majalahku, hah?!” teriak Mi Jung.

Atasan Gi Kwang menatap remeh ke arah Mi Jung. “Buatlah aku yakin, jika majalahmu itu memang membutuhkan orang sekelas dengan Choi Jun Hong.”

Mi Jung menunjukkan senyum meremehkan. “Baiklah, perusahaanmu juga mengeluarkan sebuah majalah bukan? Bagaimana jika kau mengundurkan sedikit tanggal penerbitannya, ayo kita menerbitkannya bersama-sama,” kata Mi Jung. “dan mari kita lihat, siapa yang akan menjadi best seller pertama dalam satu minggu.”

Yura menatap tak percaya ke arah Mi Jung. Meski percakapan berbahasa Jepang, Yura dapat mengertinya. Menurutnya, Mi Jung mengambil jalan yang sangat menyeramkan, terlalu nekat.

“Baiklah, aku terima tantanganmu Nyonya Kim.”

Sung Yeol duduk di dekat jendela. Ia menatap pasrah langit di luar. Ia memegang sebuah kotak merah berisi cincin dan juga majalah. Rambutnya juga acak-acakkan.

Flashback

Tepat kemarin malam, Sung Yeol mengajak Min Ah untuk makan malam di sebuah restoran berkelas di dalam gedung di lantai paling atas. Min Ah tampak cantik saat itu dengan gaun panjang merahnya. Sedangkan Sung Yeol, ia juga tampak dewasa dan tampan dengan kemeja putih yang dibalut dengan jas hitamnya.

Di tengah-tengah menikmati makanannya, Sung Yeol menepuk kedua tangannya. Seketika, lampu-lampu padam, dan entah bagaimana digantikan menjadi lilin. Semua pengunjung menutup mulutnya, para pemain musik memainkan musik dengan alunan lembut dan romantis.

Sung Yeol sendiri menarik pelan tangan Min Ah untuk ke depan. Ia mengeluarkan sebuah kotak merah dari kantongnya. Ia membungkukkan tubuhnya sambil membuka kotak tersebut. “Maukah menikah denganku? Mungkin, kita memang belum pernah berhubungan dalam hal asmara. Tapi, aku sudah yakin atas ini. Aku sudah menyayangimu semenjak SMA. Ini sudah menjadi bukti bahwa aku serius.” kata Sung Yeol, saat ia sudah kembali menatap Min Ah.

Semua para pengunjung restoran terpaku dengan aksi Sung Yeol, apalagi mendengar sedikit sejarah Sung Yeol. Mereka fokus melihat ke arah Sung Yeold dan Min Ah.

Min Ah sendiri tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sung Yeol barusan. Ia menelan ludahnya dan kemudian menunduk. “Maaf Sung Yeol, tapi aku tidak bisa.” jawabnya. “Aku akan dijodohkan.”

Sung Yeol menatap terkejut ke arah Min Ah. Semuanya pun begitu. Sung Yeol tak percaya dengan apa yang didengarnya sendiri. Ia sudah menerima penolakkan, tapi tidak untuk dengan alasan perjodohan. Ia tidak tahu sama sekali mengenai itu dan ia membenci itu. Min Ah sendiri sudah menangis. Entahlah, rasanya sakit untuk menjawabnya.

Flashback END

Ia kemudian melihat ke arah majalah. Dua buah artikel mengenai Myung Soo dan Zelo yang bersangkutan dengan Mi Jung membuatnya juga frustasi. Ia benar-benar sahabat dekat Mi Jung. Ia tidak bisa menerima mengenai masalah tersebut.

“Jung, gue adalah sahabat lo, dan seorang sahabat akan merasa terikat di jaring laba-laba, jika sahabatnya masuk ke dalam jaring laba-laba.” gumam Sung Yeol. “Tapi, gue juga sedang masuk di jaring laba-laba yang berbeda.”

To be Continued

HALO READERS !! /tereak di atas genteng/ Maaf lama banget ya ini keluarnya, ada kegiatan dari Rabu sampe Jum’at, rencana mau sebelum kegiatannya, eh malah ga selese karena ya, berhubungan dengan sifat Author yang agak moody ini /curhat/ Ok, emang ini jelek, parah, pendek, tapi ya, udah diusahakan semaksimal mungkin :’)

JANGAN JADI SILENT READERS, COMMENT AND LIKE KALO UDAH BACA. JIKA ADA KESALAHAN, SILAHKAN LAPOR!

Thanks for Reading ^^

99 responses to “I Need a Good Husband [ Chapter 6 – Problem and Controversy ]

  1. Jiyyyaaaaaaah.
    Aku kira Min Ah mau dijodohin sama Zelo.abis’y c Yeol ikut2an megang majalah juga.
    Huft…:|
    mendebarkan.kan,kasian Yeol’y.aaaa…h,Min Ah PHP nih.
    Semoga..,Mi Jung Menang dlm tantangan’y.Ami….n.lanjut baca a….h.

  2. haduhhhhhh………. konfliknya bner2 panas,,kipas,,mana kipas?*kesambet
    Thor,, D to A to E to B back to A to k

  3. sesuai sama judulnya bikin aku tegang 😮 itu yuranya masih setengah2 sama hoya.. kan kasian ;( ayolah kasih pencerahan buat mijung, ksian dilanda terus 😦

  4. bener yh thor, knp nie ff bisa membuat aku masuk ke ceritamu. Lagi keadaan genting bgitu juga bisa membuat ikut pusing. Aduh thor, gwat nie, mijung gimana. Udh deh,baca next’a

  5. paling suka kalimat dibagian akhir yg diucapin Yeollie XD setuju deh sm komen2 sbelumnya, chapter ini sesuai sm judulnya dn konfliknya dpt bangety dn tak trduga. aku kira itu si Min Ah-nya nolak krn dijodohin sm Myeong2 gara2 Yeollie pegang cincin sm majalah. mirip2 pemikirannya sm satu komen diatas 😮

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s