I Need a Good Husband [ Chapter 7 – A Kiss, Date and Love ]

I Need a Good Husband 2

–Storyline by Aline Park @angiiewijaya–

Main Cast

Kim Mi Jung [OC’s]
Lee Gi Kwang [Beast] as Lee Gi Kwang
Kim Myung Soo or L [Infinite] as Kim Myung Soo

Other Cast

Choi Jun Hong or Zelo [B.A.P] as Choi Jun Hong or Zelo
Jung Dae Hyun [B.A.P] as Jung Dae Hyun
Lee Sung Yeol [Infinite] as Lee Sung Yeol
Bang Min Ah [Girls Day] as Bang Min Ah
Lee Howon or Hoya [Infinite] as Hoya
Kim Ah Young or Yura [Girls Day] as Kim Yura

Genre
Romance

Length
Series

Rating
Teenager, PG-15

Previous
I Need a Good Husband [ Chapter 1 – In Senior High School ]
I Need a Good Husband [ Chapter 2 – You Kiss Me When I Sleep? ]
I Need a Good Husband [ Chapter 3 – New Bodyguard ]
I Need a Good Husband [ Chapter 4 – Graduation ]
I Need a Good Husband [ Chapter 5 – Job With a Love Story ]
I Need a Good Husband [ Chapter 6 – Problem and Controversy ]

I Need a Good Husband
Chapter 7  – A Kiss, Date and Love

Happy Reading

Hari ini, Mi Jung menghadiri sebuah press conference mengenai kontroversinya itu. Ia tidak banyak bicara ketika masih berada di backstage. Backstagenya sendiri dipisah dengan Myung Soo dan Zelo. Pihak dari keduanya bekerja sama untuk membuat press conference ini, dan Mi Jung harus diikut sertakan.

Dae Hyun juga ada menemani Mi Jung. Ia sendiri hanya diam melihat wajah frustasi dari Mi Jung. Sedikit tidak enak jika mengajaknya mengobrol seperti biasa.

Tiba-tiba saja seorang kru masuk ke dalam dan memanggil Mi Jung untuk siap-siap ke luar. Mi Jung hanya menjawabnya dengan anggukan. Ia bangkit dari duduknya dan menoleh sedikit ke arah Dae Hyun. Pria itu menjawabnya dengan seulas senyuman, membuat hati Mi Jung sedikit lega, ia menyukai senyuman pria itu.

Akhirnya Mi Jung benar-benar keluar dari ruangan backstagenya. Dengan perlahan ia berjalan ke atas stage press conference. Di atas sana sudah ada Myung Soo dan Zelo dengan posisi berdiri, dan ketika Mi Jung benar-benar berada di tengah mereka, mereka semua duduk di bangku yang disediakan.

Press Conference benar-benar dimulai. MC memadu.

“Baiklah, ini adalah press conference dari kerja sama pihak Choi Jun Hong dan juga Kim Myung Soo, yang membahas mengenai wanita yang bernama Kim Mi Jung. Dan pertama, kita akan membahas mengenai masalah Myung Soo, yaitu ketika Mi Jung memasukki kamar hotelnya ketika berada di Jepang.” kata si MC. “Seorang perempuan muda melihat sendiri adegan tersebut, Nyonya Mi Jung mengatakan bahwa orang itu bukanlah Myung Soo dan menggunakan nama lain. Padahal, para pegawai mengaku itu adalah kamar dari Myung Soo, rekaman CCTV pun tersedia. Apa itu benar Nyonya Mi Jung dan Kim Myung Soo?”

“Ya, itu benar,” jawab Myung Soo tanpa basa-basi lagi, membuat para wartawan sedikit heboh. “tetapi, itu semua ada alasannya, bukan seburuk yang kalian pikirkan.”

“Lalu, mengapa kau melakukan itu Nyonya Mi Jung?”

Mi Jung mengambil mic yang ada di atas meja. Ia berusaha tenang. Ia membayangkannya sedang memimpin rapat, bukan sedang mengikuti press conference yang tidak disukainya ini. “Aku memang menyembunyikan identitas Myung Soo pada gadis yang berada di depan kamar Myung Soo pada saat itu, dan memang aku memasukki kamarnya, bahkan tidur di sana.” jawab Mi Jung. “Tapi, seperti yang Myung Soo bilang sendiri, ini semua ada alasannya. Aku merasa memiliki tanggung jawab melindungi Myung Soo sebagai orang yang memberinya kontrak di Jepang. Gadis itu tampak bisa membahayakan Myung Soo, ia adalah seorang stalker. Jadi aku takut jika ada hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi, mohon maaf jika perlakuanku keterlaluan, tetapi ini semua demi Kim Myung Soo sendiri.”

“Ah, tampaknya ada sebuah kesalahpahaman antara si perempuan tersebut dan Nyonya Mi Jung.” kata MC tersebut. “Kalau  begitu, adakah wartawan yang ingin bertanya sebelum kita mengganti topik?”

Dua orang wartawan mengangkat tangan. MC mempersilahkan satu persatu wartawan untuk bertanya.

“Pertanyaan untuk Kim Myung Soo, apa kau tidak merasa takut untuk melakukan hal tersebut? Kau sendiri akan debut, bagaimana jika namamu rusak?”

Myung Soo mengeluarkan seulas senyuman. “Aku hanya berpikir positif saja mengenai itu. Lagipula, ini memang dilakukan demi kebaikkanku, tidak baik jika aku tidak mengikuti rencananya. Niatnya menghindariku dari bahaya bukan? Ini bukan hal yang buruk untukku, aku tidak suka berpikir negatif.”

Beberapa wartawan bertepuk tangan mendengar jawaban dewasa dari Myung Soo. Mungkin beberapa fans, atau bahkan semua orang tidak akan salah paham lagi, tidak baik mencurigai hal yang sudah diberi alasan jelas. Toh, memang semuanya adalah fakta bukan?

Kemudian sang MC mempersilahkan wartawan kedua untuk bertanya.

“Untuk Kim Myung Soo, jika kau hanyalah orang biasa, apakah kau tidak takut jika wanita masuk ke kamarmu? Apa kau mempersilahkan Nyonya Kim Mi Jung masuk ke dalam karena ia menyelamatkanmu, atau kau memiliki urusan ‘pribadi’? Seperti hubungan? Atau kau mungkin menyukainya?”

Myung Soo dan Mi Jung sedikit terkejut dengan pertanyaan lancang tersebut. Zelo sendiri sedikit merasa cemburu dengan itu, tapi ia berusaha untuk menenangkan dirinya. Ada sebuah alasan tersendiri ia berada di sini, bukan untuk cemburu ataupun menuruti keinginan managernya mengikuti press conference ini.

“Mungkin aku harus jujur ke hadapan publik, agar aku dan Mi Jung merasa nyaman.” kata Myung Soo, mengawali jawabannya. “Aku dan Mi Jung adalah teman baik dari SMA. Ia sudah mengenaliku semenjak aku hanya menjadi orang biasa. Dan kebetulan, takdir mempertemukan kita seperti ini. Kami adalah sahabat, ia membantuku dan aku menerimanya. Sekali lagi, aku tidak berpikir negatif padanya, karena kami memang sudah mengenal dari dulu. Aku sangat berterimakasih padanya yang selalu membantu dan baik terhadapku. Aku berhutang padanya.”

Dalam hati, Mi Jung menggerutu atau mungkin mengeluarkan pertanyaan banyak. Membantu? Teman dekat? Sahabat? Ia bahkan tidak pernah mendengar hubungan itu di antaranya dengan Myung Soo. Di tambah dengan berterimakasih dan berhutang. Terlalu aneh menurutnya.

“Wah, tampaknya memang benar-benar sebuah kesalahpahaman. Dari kejadian ini, mari kita belajar dari Myung Soo untuk berpikir positif. Myung Soo sangat beruntung memiliki teman seperti Nyonya Mi Jung, ini baik bukan?” kata sang MC, berusaha mendukung antara Myung Soo dan Mi Jung.

Wartawan pun berusaha untuk berpikir positif.

“Baiklah, sekarang mari kita membahas mengenai permasalahan Nyonya Mi Jung dan Choi Jun Hong.” kata MC itu kembali. “Dikatakan bahwa, Jun Hong memiliki kontrak dengan perusahaan Jepang dengan perjanjian, Jun Hong tidak boleh melakukan schedule lain. Tetapi, ternyata ia melakukan schedule dari tawaran Nyonya Mi Jung, dan si model itu adalah Myung Soo. Yang menjadi permasalahan adalah, apakah Nyonya Mi Jung memaksa Jun Hong untuk melakukannya?”

Zelo kesal sendiri mendengar pertanyaan itu, ia tidak suka Mi Jung dituduh seperti itu. Mi Jung sendiri dengan cukup santai mengambil mic, syukurnya ia sudah terbiasa berbicara di depan banyak orang dan sudah memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut, membuatnya tidak terlihat memalukan.

“Ya, aku memang memaksa Jun Hong untuk melakukan scheduleku. Aku sangat menyukai bakat Jun Hong, sehingga membuatku membulatkan tekadku untuk menjadikannya photographer pada projekku.” jawab Mi Jung sambil mengeluarkan sebuah senyuman terpaksa. Ia merasa seperti seorang iblis.

Zelo menatap Mi Jung tidak percaya. Ia tidak menyangka Mi Jung akan menjawabnya dengan rekayasa yang membahayakan dirinya sendiri. Ia mengutuk orang yang telah membuat pertanyaan itu, seharusnya ia membiarkan Zelo yang menjawab, bukan MI Jung.

“Jadi, aku mohon ma—“

“Biar aku jelaskan yang sebenarnya.”

Mi Jung menatap Zelo, yang mengambil alih untuk menjawab. Zelo tahu ini salah, tetapi lebih salah lagi jika ia membiarkan semuanya mendapat jawaban rekayasa.

“Aku lah yang sebenarnya memaksa diriku untuk melakukan schedule tersebut. Ia sendiri sebenarnya takut, tapi aku nekat. Dan jawabannya tadi itu hanyalah untuk menyelamatkanku dan mencelakakan dirinya sendiri.” ujar Zelo, yang mendapat gerutuan dari hati Mi Jung, kesal dengan kata ‘mencelakakan dirinya sendiri’.

“Dan alasan aku melakukan itu adalah..”

Mi Jung menarik ujung lengan jaket Zelo. Ia dapat membayangkan jawaban itu, sama seperti Myung Soo. Ia takut memperumit masalah Zelo.

Zelo mengeluarkan seulas senyuman, menyadari dengan perlakuan Mi Jung. “Kami mengenal satu sama lain, dan aku mencintainya dari dulu.”

Seketika ruangan sedikit hiruk pikuk. Myung Soo berusaha menahan dirinya, agar tidak mengeluarkan ekspresi terkejutnya. Sang MC berpura-pura mengeluarkan ekspresi terkejut, padahal dalam hati ia sangat senang mendengarnya, ia sudah mendengar seluruh curhatan Zelo, dan ia menyukai langkah yang sudah dilakukan Zelo, hanya saja ia tidak dapat mengganti pertanyaan itu untuk dijawab oleh Zelo.

Zelo langsung meraih tangan Mi Jung yang menarik ujung lengan bajunya. Ia menggenggam tangan Mi Jung dengan erat secara diam-diam. Mi Jung sendiri sedang berusaha menahan air matanya.

Ini lebih dari yang ia khayalkan.

“Ah, apa jangan-jangan, sebenarnya terjadi cinta segitiga antara Myung Soo dan Jun Hong?” gumam para wartawan yang membuat ricuh.

Kepala Mi Jung terasa pening, ia bukannya menjadi membenci Zelo, tapi ia takut Zelo malah dalam bahaya yang membuat namanya hancur. Ini semua tentu kesalahannya.

Hari ini Hoya sedang tidak dipanggil untuk memeriksa para pekerja lapangan atau rapat mengenai apartemen yang akan dibangun, sehingga hari ini ia memilih untuk pergi ke apartemen Yura sekedar mengobrol.

Di sela-sela mereka mengobrol, sebuah tayangan televisi mengalihkan perhatian mereka. Press Conference Mi Jung, Myung Soo dan Zelo ditayangkan live pada saat itu. Tentu saja Yura langsung menatap acara itu serius. Ia tidak begitu peduli dengan cerita Myung Soo, yang ia butuhkan adalah Zelo. Entahlah, ia masih menyimpan pertanyaan mengapa Zelo memberinya sebuah boneka, membuatnya masih ingin bertemu dengan Zelo, maka itu ia sedikit kesal dengan Mi Jung yang membuat kontrovesi seperti itu, takut Zelo tidak mau lagi bertemu dengan orang luar demi nama baiknya.

Dan, bagian Zelo pun muncul, ia mendengarkan baik-baik segalanya. Awalnya, ia sendiri terkejut mendengar pengakuan Mi Jung yang memaksa Zelo untuk mengikuti kontraknya, tapi tiba-tiba Zelo menyela dan mengakui bahwa penjelasaannya adalah fakta.

“Kami mengenal satu sama lain, dan aku mencintainya dari dulu.”

Seketika hati Yura seperti ditusuk ratusan jarum. Ia merasa dibohongi. Mengapa ia mengatakan mencintai Mi Jung, tapi ia memberi boneka itu? Apa hanya sebagai kenang-kenangan? Hiburan sementara?

Hoya yang menyadari keanehan Yura sejak awal. Hanya diam dan menatap tajam ke arah Yura. Ia tahu bahwa ada yang di simpan Yura, yang membuatnya selalu terpikir akan Zelo. Ia memang tidak tahu mengenai boneka tersebut.

“Kau mencintai Zelo?”

Yura menoleh pelan ke arah Hoya, ia bingung harus menjawab apa, ia tidak mau jujur kepada pacarnya sendiri mengenai boneka itu, merasa tidak enak hati.

Rasa cemburu dan panas muncul dari dalam hati Hoya, tapi ia berusaha menahannya dan tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya ingin membuat Yura tetap nyaman, mungkin ia bodoh, tapi ia tidak mau terhasut dalam emosi.

Tepat pada malam itu, Mi Jung mengajak Hoya dan Sung Yeol –ditambah Dae Hyun– untuk main ke rumahnya, sekedar makan malam, menonton pertandingan sepak bola sambil memakan popcorn dan soda. Mereka sendiri sudah memakai Jersey. Tentu saja ini mungkin bisa menjadi moodbooster untuk diri mereka masing-masing.

Karena masih memiliki banyak waktu sebelum pertandingan sepak bola dimulai, mereka mulai mengobrol-ngobrol, bahkan Dae Hyun tampak bisa mengikut perbincangan mereka yang sedikit aneh. Hanya luarnya yang terlihat cool, ia orang yang bergaul juga.

“Eh, mana Min Ah Yeol? Lo kagak ajak? Atau enggak, biasanya kan lo nyuruh gue ngajak dia.” kata Mi Jung.

“Sstt, Jung, katanya si Yeol juga udah nyoba ngelamar Min Ah tuh.” sambung Hoya.

Seketika wajah Sung Yeol tidak terlalu enak dipandang, inilah alasannya untuk berkumpul bersama mereka, agar ia bisa merasa lebih tenang.

“Lah, napa Yeol? Kok kayaknya lo ada masalah gitu sih? Sharing nape.” kata Mi Jung, menyadari ekspresi Sung Yeol.

Akhirnya, Sung Yeol menceritakan bagaimana rencananya untuk melamar Min Ah, kemudian bagaimana hasilnya, makan malam bersama di sebuah restoran, bahkan musik pada saat itupun masuk ke dalam penjelasannya. Hingga pada akhirnya, ia menceritakan bahwa Min Ah menolak dan mengatakan akan dijodohkan, bahkan ia menangis pada saat itu.

“Hah? Serius lu Yeol? Perjodohan?! Ga salah apa?!” tanya Hoya.

“Dia jelasin ga kenapa dia dijodohin?” tanya Dae Hyun. Sung Yeol menggeleng.

Mi Jung mendekat sedikit ke arah Sung Yeol. “Eh, Yeol, lu bilang dia nangis kan? Nah, bisa aja dia tuh ga rela ngomong itu, dia sedih. Terus dia ga jelasin kan kenapa dia gamau dijodohin? Dia pasti gamau bikin lu sakit hati. Lu positif thinking dulu dong.”

“Terus? Gue musti tetep maksa dia sama gue gitu?” sewot Sung Yeol. Ia sebenarnya masih ingin memaksa, tapi apa ia perlu berbicara dengan orang tua Min Ah? Di bayangannya, orang tua yang menjodohkan anaknya itu keras kepala, cenderung mengerikan.

“Yaelah, Sejarah lu udah bagus dulu, masa mikir ginian doang kagak bisa? Yaiyalah harus! Eh, dia ga kasih penjelasan, lo gaboleh berpikir negatif, justru itu bakal buat permasalahan semakin banyak. Lo tetep jadi temen buat dia apapun yang terjadi. Gua yakin masih ada pencerahan di depan sana!” kata Mi Jung penuh semangat. Inilah salah satu bakatnya, ia punya saja segala pemikiran untuk orang lain, padahal untuk dirinya sendiri masih sangat rumit.

“Jung, lo kenapa jadi bawel begini? Lo sendiri emang ga punya masalah? Jangan pikirin masalah gue, masalah gue ga serumit apa yang lo rasain, gue merasa gaenak hati sama lo.” jawab Sung Yeol.

Mi Jung menelan ludahnya. Ia langsung teringat dengan kontrovesi-kontrovesi yang ia alami. Rasanya ia ingin melempar segala barang yang ada di ruang keluarga. Tentu saja itu semua membuatnya gila, ia tidak akan pernah aman untuk kemanapun, mungkin bertemu wartawan, antifans, dll.

“Udah, umbarin aja segala unek-unek lu Jung, gue tahu lu butuh itu.” kata Hoya.

Mi Jung menatap ragu ke arah mereka berdua. Ia bingung harus mengeluarkan itu semua atau tidak, ketakutan akan ketidakpedulian semua orang masih menghantuinya.

“Gue, gue..”

“Jung, jangan ragu sama kita berdua, kita semua mau dengerin semuanya, kita bukan orang lain kok, lo gausah takut.” lanjut Hoya, seperti dapat membaca pikiran Mi Jung.

Mi Jung menghela nafas berat. “Gue merasa gue bersalah, bisa-bisanya gue buat Myung Soo dan Zelo masuk dalam sebuah kontrovesi dan gue lah penyebabnya. Mereka sampe ngaku tentang yang sebenernya di hadapan publik demi gue. Mereka punya nama besar, itu membuat gue semakin bersalah.” kata Mi Jung. Ia mengambil nafas sebentar. “Dan gue merasa gue ga bakal aman untuk pergi kemanapun, gimana kalo banyak yang gasuka liat gue? Gue gamau dibenci, gue takut. Yura bahkan marah sama gue, orang yang gue anggep paling baik di hidup gue.”

Semua terdiam, Hoya langsung masuk ke dalam pikirannya. Mengenai Yura. Ia sedang bertengkar dengannya secara tidak langsung.

“Jung, emang lo ada salah dalam masalah ini, tapi gue yakin, lo ga akan dibenci Jung. Lu orang yang baik, niat lo baik pada saat itu, harusnya mereka ngak nyalahin semuanya ke lo. Kalo lo dibenci, jangan marah, jangan takut, lo memegang sebuah kebenaran. Zelo maksa lo kan? Dan lo itu sedang melindungi Myung Soo. Lo ga lakuin itu sengaja Jung!” kata Sung Yeol, sedikit berteriak. Ia benar-benar jujur dari dirinya.

Mi Jung tersenyum sedikit. Ia merasa sudah cukup terhibur dengan perkataan Sung Yeol. Dae Hyun sendiri sudah menggenggam tangan Mi Jung.

“Jung, kamu pasti bisa kok. Aku bersedia lagi untuk jadi bodyguard kamu.”

Hoya melupakan segala masalahnya, masalahnya hanyalah masalah biasa. Tapi tiba-tiba, sebuah pemikiran muncul dalam otaknya, Sung Yeol pun juga. Mereka saling bertukar pandang, seperti mengtransfer sesuatu.

“Kayaknya, gue tahu gimana caranya, supaya lo terbebas dari ini semua.” kata Hoya sambil menatap tajam.

Ekspresi Mi Jung berubah menjadi bingung, ia tidak suka bersedih lama-lama. Sung Yeol dan Hoya mendekat sedikit agar dapat membisikkan sesuatu.

“Kenapa lo ga nikah aja?” bisik mereka berdua.

“HAH?! APAAN?! NIKAH?!” teriak Mi Jung. “Kenapa lo mikir kejauhan? Pacaran cukup kali.”

“Jung, gimana sih lu. Kalo pacaran itu masih diragukan, kan bisa aja itu hubungan sementara. Kalo nikah, itu udah kepastian. Lo juga kalo nikah jangan dibikin privasi, atau sembunyi-sembunyi.” ujar Hoya.

“Kan bisa aja cerai.” kata Mi Jung dengan sembarang dan membuatnya dipelototi oleh Sung Yeol dan Hoya.

“Eh, iya, gue bercanda.” kata Mi Jung, melihat ekspresi temannya. “Tapi ya ga masuk akal juga, gue juga belom pacaran mau nikah sama siapa?”

“Sama orang yang bilang bersedia jadi bodyguard lu lagi.” jawab Sung Yeol asal.

Dae Hyun yang sedang minum itu langsung tersedak, merasa tersindir. Mi Jung langsung terkejut dan menoleh ke arah Dae Hyun, ia pun juga menoleh ke arah Mi Jung. Wajah Mi Jung langsung memerah dan melempar bantal ke arah Sung Yeol.

“Heh! Ya enggaklah! Dia udah kayak oppa gue sendiri kali!” teriaknya.

“Eh, canda Jung elah.” kata Sung Yeol sambil melindungi dirinya dari serangan bantal.

Entahlah, Dae Hyun merasa sedikit tertusuk dengan anggapan Mi Jung pada dirinya.

Oppa

Akhirnya, Sung Yeol dan Hoya sudah pulang ke rumah. Mi Jung sendiri sudah tertidur setelah pertandingan selesai, membuat Dae Hyun yang mengantar dua teman Mi Jung ke pintu depan rumah. Kemenangan Manchester United melawan Swansea City membuat Mi Jung puas akan hasil club favoritnya itu.

Dae Hyun menatap Mi Jung yang sudah tertidur di lantai. Perasaannya yang sebelumnya senang karena MU memang menang, berubah dengan sedikit kesedihan. Ia masih mengingat kalimat dari Mi Jung, menganggapnya hanya sebagai oppa. Ia berharap lebih.

Ia kemudian menggendong Mi Jung di punggungnya. Dae Hyun membawanya ke dalam kamar. Tetapi, kemudian Mi Jung terbangun dan tersadar ia sedang digendong oleh Dae Hyun. Pada awalnya ia sudah ketakutan karena kakinya tidak menapak pada lantai.

 Dae Hyun kemudian menurunkan Mi Jung di atas tempat tidur dengan posisi duduk.

“Oppa.” panggil Mi Jung sambil menarik ujung lengan jaket Dae Hyun. Tangannya menepuk tempat tidur tepat di samping dirinya, mengajak Dae Hyun untuk duduk di sampingnya.

Akhirnya Dae Hyun duduk di samping Mi Jung yang wajahnya sudah sedikit mengantuk itu. Mi Jung menunduk dan kemudian tersenyum.

“Aku iri pada Sung Yeol dengan perempuan yang bernama Min Ah itu. Meski Min Ah mengikuti sebuah perjodohan, tapi aku tahu, mereka berdua saling mencintai dengan tulus dari dulu, pasti ada ketidakrelaan pada diri Min Ah sendiri.” kata Mi Jung tiba-tiba. “Aku berharap, aku bisa merasakan cinta yang kuat seperti itu.”

Dae Hyun tersenyum tipis. “Pasti ada seorang pria yang menyayangimu dengan tulus. Kau juga pasti mencintai seseorang dengan tulus.”

“Percuma, kami sudah masuk ke dalam sebuah kontroversi. Aku yakin kami tidak akan menyatuh.”

Ya, yang Mi Jung maksud adalah Myung Soo. Ia sudah tidak akan pernah mendapatkan Myung Soo, mereka sudah masuk ke dalam kontroversi yang mereka buat sendiri.

Dae Hyun menghela nafas. Perasaan cemburu menguasai hatinya. Ia tiba-tiba mendekatkan tubuhnya dengan Mi Jung. Ia menarik dagu Mi Jung untuk menghadap ke arahnya, ia mengelus pipi putih perempuan itu.

“Aku menyayangimu dengan tulus.”

“Ya, karena kau seperti oppa ku sendiri.”

“Bukan, aku mencintaimu, lebih dari seorang oppa.”

Mi Jung menatap bingung ke arah Dae Hyun. Jantungnya berdetak dengan cepat, ia merasakan sebuah getaran atau sengatan pada hatinya. Dae Hyun sendiri semakin mendekatkan wajahnya, tangan kirinya memeluk pinggang Mi Jung dan tangan kanannya mendorong tengkuk Mi Jung. Bibirnya tepat menempel pada bibir Mi Jung. Ia melumat halus bibir bawah Mi Jung.

Mi Jung terdiam, wajahnya memerah. Jantungnya berdetak dengan cepat. Ia bingung harus apa, membalasnya atau mendorongnya atau tidak melakukan apa-apa? Setidaknya, ciuman yang diberikan Zelo bukan seperti ini, hanya sebuah kecupan singkat.

Akhirnya, Mi Jung memberanikan dirinya. Kedua tangannya melingkar pada leher Dae Hyun, bibirnya sendiri sudah mulai membalas ciuman Dae Hyun dengan melumat bibir atas pria itu dengan kaku.

Aneh, keterlaluan, tapi Dae Hyun senang dengan balasan Mi Jung, ia bahkan sedikit lebih bersemangat. Dan entahlah, hati Mi Jung menyuruhnya untuk membalasnya. Apa hanya sebagai balasan tanda sayang, semacam berbalas budi atau tidak enak hati. Tidak tahu. Tapi, jika seperti itu, ia memilih untuk hanya sebentar melakukan itu, dan kenyataannya, ia membiarkan ciuman itu berlangsung beberapa saat, hingga ia sendiri puas.

Dae Hyun terbangun dari tidurnya. Ketika terbangun, pertama kali yang muncul di benaknya adalah kejadian semalam, ketika ia mencium bibir Mi Jung.

Setelah melakukan ciuman –yang mungkin nyaris kelewatan menurutnya–, mereka berdua tampak salah tingkah. Dae Hyun sendiri dengan buru-buru mengatakan bahwa ia ingin kembali ke kamar. Sebelum ia bangkit berdiri, ia berniat untuk mengecup pipi Mi Jung, tapi Mi Jung malah menghindar dan mengecup bibir Dae Hyun singkat.

Entahlah, ia malah merasa aneh setelahnya, padahal pada awalnya ia senang. Mungkin karena ini sedikit canggung, hubungan mereka bukanlah pacaran atau sejenisnya. Itu sedikit membuat dirinya bersalah.

“OPPA!!”

Teriakkan Mi Jung dari luar terdengar hingga ke dalam kamar Dae Hyun. Dae Hyun sedikit kebingungnan dengan teriakkan itu. Baru saja ia mengganti posisinya menjadi duduk, Mi Jung masuk ke dalam kamarnya. Sudah menjadi hal biasa perempuan itu masuk ke dalam kamarnya.

“Kau kenapa berteriak seperti itu Mi Jung?” tanya Dae Hyun dengan sedikit mengantuk. Untung saja ia menggunakan sebuah kaos, bukan tank top seperti biasanya, itu bisa membuatnya sedikit lebih canggung.

“Bisakah kau antarkan aku ke kafe X? Orang itu menyuruhku untuk datang jam sembilan.” tanya Mi Jung dengan mengantuk juga. Tampaknya, ia baru bangun tidur karena ia masih memakai piyama pinknya.

Dae Hyun kemudian melihat ke arah jam dinding kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima. “Kenapa kau tidak bilang dari kemarin, kau bisa terlambat.”

“Ia mengirimkan SMS itu baru saja, dan suara SMS itulah yang membuatku terbangun. Maka itu aku masuk ke kamarmu, untuk menyuruh oppa segera mandi sekarang!” kata Mi Jung.

Dengan keadaan lemas, Dae Hyun hanya mengangguk-ngangguk mendengar rengekkan Mi Jung. Mi Jung sendiri ke luar dari kamar Dae Hyun, dan pria itu mengambil handuk beserta pakaian. Setelah itu ia masuk ke dalam kamar mandi pribadi kamarnya.

Tak berapa lama, mereka berdua sudah berada di ruang tamu untuk memakai alas kaki masing-masing. Karena takut terlambat, mereka menolak untuk sarapan terlebih dahulu. Wajah Mi Jung tampak panik, sedangkan Dae Hyun sedikit mengantuk.

Akhirnya, mereka berdua ke luar dan langsung masuk ke dalam mobil Dae Hyun. Dengan cepat, Dae Hyun menjalankan mobilnya ke jalanan raya Seoul. Sekitar sepuluh menit, mereka sudah sampai di kafe itu.

Dae Hyun memutuskan untuk langsung pulang, ia merasa masih membutuhkan tidur, sedangkan Mi Jung dengan cepat langsung memasukki kafe. Untungnya, waktu masih menunjukkan sembilan lewat lima.

Dilihatnya seorang pria duduk tidak jauh dari pintu kafe. Perlahan, Mi Jung menghampiri pria itu. Ia sudah berdiri di dekat bangku kosong.

“Kau mengajakku bertemu Gi Kwang-ssi?” tanya Mi Jung.

Gi Kwang menoleh ke arah Mi Jung sambil mengerutkan keningnya. “-ssi? Kenapa kau memanggilku dengan embel-embel itu?”

Mi Jung hanya menghela nafas, kemudian ia duduk di bangku kosong tersebut tanpa permisi dan izin. “Apa yang kau ingin bicarakan?”

Gi Kwang membuka tas laptopnya dan melemparkan sebuah buku. Mi Jung pertamanya hanya menganggap itu adalah majalah biasa, tapi ketika ia lebih detail melihatnya, ia membulatkan matanya.

“Ini majalahku edisi berapa? Aku belum pernah melihatnya.” kata Mi Jung dengan ekspresi terkejutnya.

“Itu edisi bulan ini. Edisi dengan Kim Myung Soo sebagai model, dan Choi Jun Hong sebagai photographer.”

Mi Jung menggerutu dalam hati, Gi Kwang sudah pasti mengenal Zelo dari dulu, tapi kenapa ia memanggil pria itu dengan Jun Hong? Tapi, bukan inilah yang harus dimasalahkan oleh Mi Jung. Yang harus ia pikirkan adalah, kenapa majalahnya bisa terbit tanpa persetujuannya atau sebuah surat tanda penerbitan?

“Kenapa bisa diterbitkan? Aku tidak mengetahuinya sama sekali.” kata Mi Jung, bingung.

Gi Kwang mengangkat bahu. “Yang jelas, kemarin malam atasanku langsung memberitahu bahwa majalahmu terbit. Kau bertengkar dengannya dan mengajaknya berperang sebagai best seller bukan?”

Helaan nafas keluar dari Mi Jung. Rasanya ingin sekali ia melempar atasan Gi Kwang dengan kursi. Ternyata ia benar-benar serius dengan hal itu.

“Lalu, jika majalahku sudah terbit itu bagus. Tinggal kita lihat siapa yang akan menjadi best seller. Berarti majalahmu diterbitkan hari ini juga kan? Lalu sekarang apa urusannya? Kita hanya perlu menunggu.” kata Mi Jung dengan malas.

“Ayo kita bertanding.” kata Gi Kwang. “Aku membeli banyak majalahku dan juga majalahmu, kemudian kita berkeliling membagikan majalah kita secara gratis, siapa yang paling laku diambil, maka ia adalah pemenangnya. Anggap saja ini sebuah date.”

Lagi-lagi Mi Jung mengeluarkan ekspresi bingungnya. Date? Apa maksudnya?

Seolah-olah bisa membaca pikiran Gi Kwang, ia menjawab. “Aku sudah tahu kontroversimu, kau juga mencurahkan isi hatimu kepada adikku bukan? Aku ingin membantumu dengan saran adikku.”

Adik? Mi Jung mencoba mengingat-ingat. Setaunya, adik Gi Kwang adalah Sung Yeol, berarti.. “Saran adikmu? Menikah maksudmu?!”

Gi Kwang lagi-lagi mengangkat bahunya. “Tidak tahu, kita coba lihat saja tahapnya. Lebih baik kita melakukan sebuah date. Sudahlah, tidak usah banyak bicara, aku sudah memperpanjang kepulanganku ke Jepang demi masalahmu.”

Mi Jung mendecak. Ia sama sekali tidak menyuruh Gi Kwang untuk ikut campur.

Akhirnya, Mi Jung dan Gi Kwang pergi ke sebuah taman yang sedang ramai dikunjungi itu, memang pada saat itu adalah hari Minggu. Masing-masing dari mereka sudah memegang lima puluh buah majalah mereka. Dan sebelum mereka mempromosikan, mereka mengganti baju mereka menjadi baju sedikit sederhana. Entahlah Gi Kwang mendapatkan baju itu darimana.

Pertarungan pun dimulai. Banyak sekali yang mengambil majalah Gi Kwang, maklum saja, Gi Kwang memang memiliki wajah berparas tampan, pasti para wanita akan terbius dengan itu. Sedangkan Mi Jung? Para wanita malah menatapnya judes, ditambah Mi Jung baru saja mendapatkan masalah.

Gi Kwang yang melihat wajah ambekkan Mi Jung hanya tersenyum jahil. Mi Jung sering sekali mengembungkan pipinya karena ia benar-benar tersiksa akan hal itu.

Tiba-tiba saja, mata Mi Jung melihat ke arah segerombolan kelompok dancer anak muda yang sedang melakukan tarian. Banyak orang yang menonton mereka. Sebuah ide brilian muncul di otak Mi Jung.

Mi Jung menghampiri segerombolan itu dan membiarkan Gi Kwang sibuk dengan urusannya. Ia menepuk pundak seorang pemuda yang sedang beristirahat.

“Ada apa nona?” tanya pemuda itu.

“Bisakah kalian membantuku?” tanya Mi Jung. “Aku ingin kalian menari sambil mempromosikan majalahku. Kalian sendiri sedang bersantai bukan? Aku akan mentraktir kalian kalau kalian ingin membantu!”

Pemuda itu tampak berpikir sejenak. “Bisakah kami mendapatkan lima porsi ayam?”

Mi Jung tertawa pelan. “Bahkan jika kalian ingin sepuluh akan kuberi. Yang penting, kalian mau membantuku kan?”

Pemuda itu mengangguk. Ia kemudian memanggil rekan-rekannya. Ia membisikkan rencana Mi Jung. Semua dancer tampak setuju, padahal tampaknya mereka sudah tahu kontroversi Mi Jung, tapi tampaknya mereka orang-orang yang baik.

Rencana Mi Jung pun dimulai. Para dancer yang kira-kira beranggotakan sembilan orang itu pada awalnya berjejer untuk memberi salam. Pemuda yang Mi Jung ajak bicara memulai salamnya mewakili teman-temannya.

“Halo semuanya! Penampilan kami kali ini sangat khusus, karena kami juga membagikan majalah gratis untuk kalian. Majalah ini adalah mengenai fashion terbaru dari sebuah perusahaan, kalian pasti tidak akan menyesal untuk menyaksikan kami, kalian pasti akan sangat senang mendapat majalah ini.”

Akhirnya, tim dancer itu memulai aksinya. Mereka melakukan breakdance dan hiphop yang disukai banyak orang, termasuk Mi Jung. Semua para penonton bersorak-sorak. Perhatian Gi Kwang pun menjadi ke arah para dancer tersebut, sesekali orang menghampirinya untuk mengambil majalah Gi Kwang.

Sekitar sepuluh menit beraksi, mereka berhenti dan kemudian salah satu pemuda berteriak.

“Bagaimana penampilan kami semuanya? Bagus bukan? Apalagi khusus sekarang kami memberikan majalah gratis! Ayo merapat dan noona di sampingku akan membagikannya.”

Mi Jung tertawa pelan mendengar pemuda itu memanggilnya dengan noona, seperti sudah akrab. Para penonton pun berbari di depan Mi Jung, dan Mi Jung membagikannya satu persatu. Padahal, dari wajah beberapa penonton tampak tak suka, tapi merasa tidak ingin rugi makanya mereka mengambil majalah itu.

Tersisa tiga buah majalah. Mi Jung tampak sedikit sedih, tapi tiba-tiba tim dance itu menghampiri Mi Jung.

“Noona! Boleh tidak sisanya untuk kami? Kami juga ingin memilikinya! Kalau perlu dengan tanda tangan noona!” kata salah satu pemuda.

Mi Jung terkekeh pelan. “Tentu saja boleh, ambil saja.”

Setelah itu, Mi Jung memesan lima porsi ayam untuk mereka. Tidak membutuhkan waktu lama, ayam itu telah datang dan para dancer memakannya dengan lahap.

“Noona! Noona tidak mau ikut makan dengan kami?” tanya pemuda yang Mi Jung ajak bicara pada pertama kali.

“Aniyo, tidak usah, sudah ada yang menungguku sedaritadi.” jawab Mi Jung dengan senyum jailnya, sambil melirik Gi Kwang yang tampak sedikit kesal itu.

“Apa dia pacar noona?”

Mi Jung sedikit terkejut dengan perkataan para dancer. Ia kemudian menggeleng sambil tertawa pelan. “Tentu saja bukan.”

Akhirnya, setelah percakapan itu, Mi Jung dan Gi Kwang meninggalkan taman itu. Mereka memilih untuk berjalan kaki. Wajah Mi Jung tampak bahagia. Sedangkan wajah Gi Kwang tampak masam, meskipun majalahnya juga habis, tapi Mi Jung lebih cepat darinya.

“Gi Kwang-ssi~! Traktir aku es krim ya? Kan aku sudah menang darimu.” pinta Mi Jung sambil memeluk lengan kekar Gi Kwang. Ia tampaknya sudah bisa beradaptasi dengan Gi Kwang.

“Es krim? Ada syaratnya.”

“Syarat? Itu kan hadiah untukku karena aku sudah menang darimu.” kata Mi Jung.

“Syarat dariku mudah kok.” jawab Gi Kwang. “Panggil aku oppa.”

“Heh! Tidak, aku tidak mau!” kata Mi Jung.

“Tidak mau? Tidak ada es krim.”

“Eh, iya, iya, baiklah Gi Kwang oppa~”

Gi Kwang tersenyum penuh kemenangan. Ia kemudian menarik Mi Jung menuju minimarket dekat tempat mereka berpijak sebelumnya. Mereka berdua sama-sama memilih es krim coklat. Kemudian, mereka langsung pergi ke kasir dan Gi Kwang mengeluarkan uangnya untuk dua buah es krim itu.

Berpikir mereka akan ke halte, ternyata Gi Kwang malah mengajak Mi Jung ke taman yang lain. Taman itu tampak sepi karena cuaca mendung.

“Untuk apa kita ke sini?” tanya Mi Jung bingung.

“Hanya berjalan-jalan.” jawab Gi Kwang. “Kau tampaknya sangat suka melihat para dancer itu. Kau mau melihat aku menari tidak?”

“Kau? Menari? Memang kau bisa melakukannya?”

“Jangan meremehkanku, aku sudah mengembangkan bakatku ini sejak SMP, hanya saja aku jarang menunjukkannya.” jawab Gi Kwang.

Ia kemudian menitipkan es krimnya pada tangan kiri Mi Jung. Ia melakukan beberapa gerakkan yang membuat Mi Jung takjub, dan pada akhirnya, ia melakukan sebuah putaran, berlutut sambil menyodorkan tangannya seperti mengajak Mi Jung berdansa.

“Ah, aku tidak menyangka dengan bakatmu itu. Hebat juga.” puji Mi Jung.

Gi Kwang cengengesan mendengarnya. Ia kemudian mengambil es krim pada tangan kanan Mi Jung. Ia langsung memakan es krim itu. Hingga pada akhirnya, Mi Jung tersadar ..

“Heh! Itu es krimku! Es krimmu itu ada di tangan kiriku tadi! Ya! Itu sudah kugigit, dan es krim ini sudah kau gigit, aku makan apa?!”

Gi Kwang melihat es krim yang ia makan dengan tatapan polos. “Biarkan saja, makan saja punyaku.”

Mi Jung menunjukkan wajah ngambeknya. Dengan ragu, ia memakan juga es krim Gi Kwang. Di saat itulah, air hujan menetes, membuat mereka langsung duduk di kursi taman dengan menyelimuti kepala mereka dengan jaket butut Gi Kwang.

Sebenarnya, Mi Jung gugup dengan posisi mereka sekarang, tapi mau tidak mau ia harus melakukannya agar tidak kehujanan. Mereka terlihat sangat serasi, seperti pasangan yang memang mau kehujanan sambil memakan es krim.

Gi Kwang diam-diam tersenyum jail. Ternyata, gampang sekali untuk mendekati Mi Jung yang pada awalnya jutek itu. Ia puas dengan hari ini.

Mungkinkah date pertama ini berhasil?

To be Continued

HALLO READERS~ /muncul dengan kece/ Maafkan Author FF ini lama banget ga rilis-rilis, jujur aja gaada waktu T___T Dan ini ngebut banget bikinnya dua hari, dan ternyata kelar, apalagi ditambah inspirasi MU vs Swansea~ Ya, pertandingan itu bersejarah sekali, karena ya kita taulah mengenai Ferguson ya kawan-kawan. Kenapa jadi ngomongin bola? Jangan tanya saya sodara-sodara~

Dan maap banget Author belum sempet bales comments kalian, bukan sombong kok, serius deh T___T Tapi, Author lagi sibuk cari tanda tangan Ferguson, eh bukan, maksudnya Author emang gaada waktu bener-bener gara-gara sekolah juga sih. Maaf yaa, beneran Author gaenak hati sebenernya, tapi ini bikin FF aja ngebut”an. Author parah emang yaa T_______T

Terus banyak yang ga memuaskan ya dari FF ini? Duh, Author manusia biasa yang mengandalkan imajinasi tinggi dan mengusahakan semaksimal mungkin, jika banyak kekurangan Author minta maaf, Author emang banyak salah serius yaa T_____T

Ok, cukup curhatnya sampe sini, ntar Ferguson ikutan sedih *Readers : Oi Thor, stop ngomongin Ferguson bisa ga?!* Yaudahlah, member-member inpiniteu aja yang ikutan sedih *dibakar seketika*

JANGAN JADI SILENT READERS, COMMENT AND LIKE KALO UDAH BACA. JIKA ADA KESALAHAN, SILAHKAN LAPOR!

Thanks for Reading ^^

77 responses to “I Need a Good Husband [ Chapter 7 – A Kiss, Date and Love ]

  1. Oh Mi Ju….ng.sadarla…h.sebenar’y kau ini menyuaki siapa???
    Fikirkanlah lagi n cari tahu d dasar hatimu.supaya kau bisa memperjuangkan’y.”so akrab sma Mi Jung”

    wah thor.ff mu ini gila,parah amat bagus’y dlm mengecoh.jadi,kita sebagai readers ga gampang nebak.daebaklah.

  2. mijung….. ^o^..
    mijung punya wajah lucu kalo diliat diposter sebelumnya.. hehehe.. jd gk kaget kalo smpe 4 pemain disini suka ama dia 😀
    hehehe… suka jalan critanya.. gk bikin pusing 😀
    daebak~

  3. yh thor, masa akhir’a sama gikwang*gk setuju,mreka brdua kurang moment* tp seneng juga sih,masalah mijung terselesaikan, pusing ku jg ilang. Daebak thor

  4. serius! bener2 gak nyangka, tak terduga cerita chapter ini. feelnya jd dpt gara2 MiJung yg labil gak tau pilih yg mana. jujur aja aku jd bingung ini, satu cewek empat cowok, dn cewek itu sukanya sm satu cowok dr ke-empatnya, nerima genggaman tangan cowok satunya, tp kisseu sm cowok yg satunya lgi, dn date sm yg satunya lgi. astagaaaaaa~ gak kebayang masa idup kyk MiJung diputerin (?) 4 cowok kyk gtu XD
    authornya mah daebak pisan bikin cerita macem begini. ah, angkat jempol bareng para cast buat authornya dah b^^)b

  5. suka banget partnya daehyun… apa karena beta daehyun biased ya hmm… xD Shipper akut Mi Jung sama Daehyun ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s