FF : Oramanieyo [CHAPTER 6A]

Title : Oramanieyo…

Author : Hayamira

Genre : Romance, Friendship, Tragedy

Rating : PG 16

 Length : Chaptered / Series

Main Cast :

Jung Na Mi (OC)

Kim Him Chan ( B.A.P )

Kim Su Ho ( EXO-K )

Yong Jun Hyung ( BEAST )

Goo Ha Ra ( KARA )

Support Cast    :

Lee Sung Yeol ( INFINITE )

Byun Baek Hyun ( EXO-K )

Krystal Jung ( f(x) )

Disclaimer :

Cast belong to GOD and their entertaintment,  Ide cerita murni pemikiran author, tidak ada unsur plagiat.

Poster     : http://bang2bang.wordpress.com/

oramanieyoooo

 

TEASER | TEASER 2 | CHAPTER 1 | CHAPTER 2 |  CHAPTER 3  |  CHAPTER 4 | CHAPTER 5

A/N :

HAI!! Hyerinn Park disini~ duh maaf banget belum sempat ngepost FF u.u disini Hyerinn bawa FF Sequel Please, Stop The Time :D alias sequel Nami versionnya tanpa banyak bacot lagi, semoga para readers suka ya sama ceritanya. NO PLAGIAT, NO SILENT READERS. please, komen FF ini sebagai bentuk rasa membangun buat authornya, biarpun itu komen apapun. :) Oh ya, mungkin part ini agak panjang. Maaf ya >.<

PLEASE BE A GOOD READERS

Previous Part :

Nami dan Him Chan, keduanya masih bingung dengan perasaan sendiri tapi salah satu dari mereka yakin, bahwa dia adalah kebahagiannya. 

Namun, datangnya seseorang dari masa lalu membuat keduanya harus berpikir terlebih dahulu. Untuk menetapkan, siapa yang akan dipilih

-oOo-

Nami sedang menyendokkan sesuap kue bolu kukus buatan Jun Hyung yang sangat ia sukai itu dengan nikmat. Kalau dia tidak menjabat sebagai Direktur utama, mungkin dia akan membuka restoran atau kafe. Dan, Nami sendiri bisa menjamin kafe atau restoran milik Jun Hyung akan terkenal, karena Jun Hyung memasak layaknya seperti seorang chef handal. Dan, masakannya benar-benar enak. Tidak perlu diragukan lagi.

Suara bunyi panci dan wajan terdengar dari dapur. Jun Hyung sedang sibuk didapur, membuat makan siang untuk Nami dan dirinya sendiri. Nami sendiri tidak sabar, sebab Jun Hyung memasak masakan kesukaannya, yang aroma khasnya menjalar membuat Nami semakin ingin mencicipinya. Perutnya lapar.

Nami beranjak dari kursinya dan berjalan ke dapur. Di dapur, Jun Hyung sedang menuangkan sup di kedua mangkok dihadapannya. Disampingnya, sudah terjejer makanan yang akan mereka berdua makan. Nami langsung mengerti, tanpa disuruh lagi Nami mengambil beberapa piring semampunya dan membawanya ke ruang makan, lalu meletakkannya di meja makan.

Setelah semuanya selesai, mereka duduk dan mulai makan. Nami sendiri makan dengan cukup nikmat, karena Pasta saus tuna krim buatan Jun Hyung ini adalah makanan favoritnya.

“Jadi,” Jun Hyung membuka percakapan setelah semua makan siang mereka tandas, “Apakah Kim Him Chan yang membuatmu senang?” lanjutnya melirik Nami dengan tatapan yang Nami bisa kategorikan sebagai tatapan menggoda.

Nami menyipitkan matanya. Dia tidak suka digoda seperti itu, terlebih lagi oleh Yong Jun Hyung. “Jangan menggodaku,” kata Nami.

“Aku tidak menggodamu.”

Nami mendengus kesal mendengar elakan Jun Hyung. Dirinya tidak  menyukai saat Jun Hyung memandangnya seperti sekarang ini. Mungkin, bagi sebagian kaum hawa yang tidak mengenal baik sosok Jun Hyung akan salah tingkah ketika ditatap oleh Jun Hyung seperti itu. Tapi, tidak untuk Nami. Nami tahu sekali, maksud senyuman dan tatapan itu.

Tatapan yang ingin tahu sesuatu, dan dia harus mengetahuinya sekarang juga.

“Aku benar, kan?” tanya Jun Hyung lagi.

Nami tidak menjawab. Dia tidak menatap Jun Hyung, namun tertunduk pada piring di meja makan. Ia tahu, kalau Jun Hyung menatap matanya, semua akan selesai. Jun Hyung bisa membaca isi hatinya hanya dari sorot matanya.

Nami memutar otak berusaha mencari alasan, tapi dia tidak bisa menemukannya. Tidak ada satupun kebohongan dari pernyataan Jun Hyung. Semuanya benar, tapi Nami tidak mungkin mengatakannya, baginya ini terlalu cepat.

Apa dia harus mengatakan ke Jun Hyung bahwa dia menyukai Him Chan?\

Menyukai….

Kim Him Chan?

Tidak, ini terlalu cepat. Menyukai seseorang butuh waktu lama, iya butuh jangka waktu yang lama.

“Entahlah,” kata Nami, seperti menjawab akhir perdebatan di dalam dirinya sendiri, dan seperti menjawab pertanyaan Jun Hyung.

Jun Hyung mengerjapkan matanya. Apa gendang telinganya masih bekerja dengan baik? Apa dia tidak salah dengar?

Tidak, telinganya masih bekerja dengan baik. Daritadi Jun Hyung menunggu reaksi penolakan yang seperti biasa Jung Na Mi lakukan. Atau menunggu berbagai alasan yang sering Nami lontarkan. Dan ternyata, tidak sesuai dugaannya.

Oh, dia tidak menolaknya. Tapi dia menjawab dengan kata entahlah. Kata yang bermakna ganda… kata yang ambigu… artinya….

Wow, batin Jun Hyung. Kim Him Chan adalah lelaki yang hebat. Dia bisa membuat Nami tidak mengelak saat Jun Hyung bertanya tentang ‘pria’. Tapi, Nami tidak mengatakan iya juga. Sepertinya Jun Hyung harus mengenal lebih dekat Kim Him Chan lagi. Apa yang dilakukan lelaki itu sampai membuat Nami seperti ini, apa yang telah mereka bicarakan dan apa-apa lainnya.

-oOo-

Him Chan mengerjapkan matanya. Sekujur badannya terasa sakit. Dia mengumpulkan kesadarannya, dan menyadari dirinya tidak berada di kamar. Dia ketiduran di depan televisi ternyata. Pantas saja, badannya sedikit pegal karena tertidur dengan posisi tidak nyaman. Him Chan menarik napas dalam, dan menghembuskannya lalu beranjak berdiri. Dia lapar, dan belum sarapan.

Dari jendela dapur, Him Chan bisa melihat lalu lintas kota Tokyo yang padat namun teratur. Sinar mentari menyinari pagi ini dengan maksimal, cerah. Suara bunyi klakson dari kendaraan yang berlalu lintas di jalan raya, juga segerombolan orang yang menyebrang atau berjalan kaki di trotoar jalan. Sibuk, padat dan teratur. Seperti biasanya.

Harusnya, Him Chan masuk ke kantor. Namun, entah kenapa dia malas untuk masuk ke kantor. Setelah dia mengecek agenda di kalendernya, tidak ada yang penting hari ini. Lagipula, sepertinya pantas untuk dirinya libur sehari. Ya, mungkin.

“Eh? Ini hari minggu?”

Dirinya tidak memerhatikan warna merah yang menghiasi kalendernya. Ternyata, ini hari minggu, hari libur. Seketika, Him Chan tertawa. Entah, menertawakan dirinya yang tidak sadar ini hari libur atau hal lain. Him Chan berjalan kearah dapur sambil tetap tertawa, mengingat kebodohannya barusan. Ah, tenggorokannya kering.

Minum, dia butuh minum. Tangannya segera meraih sebotol air putih di meja makan dan meneguknya sampai habis. Him Chan menoleh kearah jam dinding, waktu sarapannya telat sejam. Oh, dia harus makan sesuatu, sebelum sakit maag yang menyebalkan itu kambuh dan dia akan terbaring lemah di tempat tidur, tanpa bisa berbuat apa-apa. Dengan langkah berat dia menuju dapur dan membuka kulkas, siapa tahu dia tidak usah memasak lagi.

“Apel, daging asap, kentang,  pasta, udang…”Him Chan terlihat sibuk melihat isi kulkasnya. Dia akhirnya mengeluarkan pasta, dan udang juga bumbu-bumbu lainnya. Sarapan dengan pasta udang bisa jadi sarapan terberat dalam hidupnya. Mungkin, sarapannya kali ini dia rangkap dengan makan siang, penghematan. Seketika, dia menyunggingkan senyum bulan sabitnya. Sadar, sejak kapan dia jadi perhitungan? Entahlah. Hidupnya sudah berubah. Sangat berubah.

Pasta udang…. Makanan kesukaan Nami. Ah, Him Chan langsung mengingat Nami. Seulas senyum lagi-lagi terukir di sudut bibirnya, mengingat makanan kesukaan gadis itu. Ia ingat, betapa Nami menyukai pasta udang ataupun seafood lainnya. Nami yang sangat menyukai seafood, juga segala jenis olahannya. Nami yang dulu pernah meminta kepada Him Chan, dirinya, untuk membuatkan pasta seafood untuk Nami. Him Chan masih ingat betul, bagaimana dirinya merasa bahagia ketika masakannya dipuji Nami.

Apapun tentang Nami, bisa membuatnya tersenyum. Gadis itu sudah menjadi salah satu sumber kebahagiannya.

Suara pintu terbuka menghentikan lamunan Him Chan akan Nami. Siapa? Batin Him Chan meletakkan pasta mentah dimeja lalu berjalan kedepan pintu flatnya. Tamukah? Atau siapa? Hi Chan terus mengamati pintu tersebut sampai perlahan terbuka dan sosok yang muncul membuat Him Chan membulatkan matanya sempurna.

Orang itu tersenyum lebar, memamerkan deretan rapi giginya dan langsung masuk. Belum pulih kesadaran Him Chan, orang itu langsung mendekap Him Chan dalam pelukannya. Him Chan terpeluk, dirinya dapat menghirup wangi parfum yang digunakan gadis itu, merasakan lekuk tubuhnya, lengannya yang merangkul badan Him Chan.

Rambut yang pirang keemasan, wangi bunga rose, suara riang itu… Oh Tidak, apa dirinya sedang bermimpi? Sosok itu datang lagi? Apa ini fatamorgana dari Tokyo? Apa Tokyo punya fatamorgana…

Gadis itu melepas pelukannya, membuat Him Chan tersadar dari lamunanya. Mata gadis itu menatap berbinar Him Chan. Senyumnya…senyum itu… senyum yang Him Chan tidak akan lupa. Salah satu senyum yang paling dia sukai…

“Alice?”

Gadis itu mengangguk senang, lalu kembali memeluk Him Chan. “Aku kembali,” bisik gadis itu.

Him Chan tidak mengerti. Kenapa bisa Alice ada disini? Dirumahnya? Apa yang dia inginkan? Beribu pertanyaan berkelebat diotaknya, memenuhi pikirannya. Membuat pikirannya mumet. Astaga… Apakah dirinya bermimpi? Saking nyatanya mimpinya ini… Tidak, kalau dia bermimpi, kenapa segala hal dari Alice terasa nyata sekarang?

“Chan-a?” seru Alice membuyarkan lamunan Him Chan. Him Chan mengerjapkan matanya, memastikan matanya menatap orang didepannya itu benar-benar Song Joo Hee, atau Alice Song. Matanya mengamati dari atas ke bawah sosok itu. Benar… Itu Alice.

Him Chan mulai menerima kenyataan, bahwa dirinya tidak sedang bermimpi, mulai membuka percakapan, “Kenapa kau ada disini?”

Alice tertawa mendengar pertanyaan Him Chan. Alice berjalan melalui Him Chan, dan memasukkan barang bawaannya kedalam kulkas. Sesekali mengomentari isi kulkas Him Chan yang kosong. Alice melakukannya seperti biasa, layaknya dia telah tinggal lama dengan Him Chan. Seperti dulu.

“Alice.” Tangan Him Chan menarik lengan Alice, membuat Alice beranjak berdiri dan menatap mata Him Chan. Mata itu… Oh, hati Him Chan mencelos melihat sinar mata Alice. Segalanya, di waktu dulu, kembali berputar sekarang. Semua memori yang bahkan hampir belakangan ini Him Chan tidak mengingatnya, kini menyeruak muncul seiring detik berlalu. Him Chan masih menatap mata Alice. Segalanya kembali terputar.

Bahkan, perasaan yang sama sekali dia kira telah mati, tenggelam, atau musnah dimakan waktu, juga ikut muncul. Him Chan salah, sepenuhnya salah. Ternyata dirinya belum bisa memusnahkan masa lalunya. Melupakan saat saat dirinya, menjadi orang yang paling merana.

“Apa, Chan-a?” Alice bertanya, membuyarkan lamunan Him Chan lagi. Him Chan terkesiap. “Joo Hee,” katanya lagi. Oh, bahkan dia memanggil nama asli Alice, sebuah kebiasaan yang dulu dia lakukan dengan Alice. Dulu, disaat semua baik-baik saja.

Semua kenangan itu, dimasa itu, dimasa semua baik-baik saja, dimasa saat Him Chan bisa memandang dunia dengan tegar, saat dirinya merasa lengkap dan sempurna kembali memaksa Him Chan mengingatnya. Joo Hee dan Chan-a… dua nama yang mau tidak mau harus membuat Him Chan kembali mengingat masa lalunya bersama orang yang ada didepannya sekarang.

Masa lalu, yang tadinya indah… Namun, menjadi luka untuk Him Chan. Hanya dirinya yang merasakannya. Iya, hanya dirinya. Kim Him Chan.

Him Chan mendesah berat. Dia duduk dikursi meja makan, menyandarkan punggungnya yang tiba-tiba seperti menanggung beban berat. Alice menarik kursi, dan duduk menghadap Him Chan. Jemarinya meraih tangan Him Chan, dan menggenggamnya. Him Chan menghela napas berat…

“Kenapa kau ada disini?” tanya Him Chan, memaksakan suaranya terdengar baik-baik saja. Alice mengerutkan dahinya. “Kenapa? Aku hanya ingin mengunjungimu,”katanya lagi penuh senyuman.

“Oh,” Him Chan hanya membalasnya singkat. Entah kenapa, suaranya tercekat dan semua kumpulan kosakatanya seakan hilang. Him Chan berusaha keras agar terlihat baik-baik saja didepan gadis ini, karena Him Chan tidak akan membiarkan gadis ini tahu apa yang dia rasakan saat ini.

Him Chan memalingkan wajahnya menatap jam dinding, sementara Alice telah beranjak berdiri dan membuatkan mereka berdua teh. Kebiasaan Alice tidak pernah berubah… Him Chan masih mengingat setiap kebiasaan Alice, juga kebiasaan mereka dulu.

Ya, kebiasaan yang mereka lakukan bersama. Tentu saja, saat semua masih baik-baik saja. Saat Song Joo Hee menjadi orang terpenting bagi Kim Him Chan.

“Bagaimana kabarmu disana? Di New York?”tanya Him Chan memecah kesunyian diantara mereka berdua. Alice mendesah, kemudian muncul dihadapannya dengan dua gelas teh yang mengepulkan asap. Alice meletakkan sebuah gelas didepan Him Chan, dan dihadapannya untuk dirinya sendiri.

Him Chan terus mengawasi Alice dengan matanya, menantikan jawaban atas pertanyaannya. Alice terlihat menyesap tehnya pelan, kemudian menjauhkan gelasnya dari wajahnya, lalu menatap Him Chan sambil tersenyum cerah. “Aku? Terlihat baik-baik saja, kan?” katanya lalu kembali menyesap tehnya.

“Syukurlah. Bagaimana dengan James?”

Alice berhenti menyesap tehnya. Dia terbatuk pelan, kemudian meletakkan gelasnya dimeja. Pandangannya menjadi sendu, auranya berubah 180 derajat berbeda dari detik sebelumnya. Him Chan mengerutkan alisnya tidak mengerti. Apa yang terjadi pada Alice?

Him Chan berdiri dan menarik kursinya kesamping Alice. Tangannya menyentuh pundak Alice, mengusapnya pelan. “Alice?” Alice mengangkat wajahnya. Terlihat matanya berkaca-kaca, senyum yang ada diwajahnya sangat jelas dipaksakan.

Dari raut wajahnya, Him Chan tahu, Alice sedang sedih. Tanpa menunggu penjelasan apa-apa, Him Chan segera merengkuh Alice kedalam pelukannya, membiarkan Alice menenggelamkan kepalanya di dadanya, melepaskan semua beban dan rasa sedih. Him Chan tahu, ada yang tidak beres antara Alice dan James.

“Aku…berpisah dengannya.”

DEG!

Napas Him Chan sesak mendengarnya. Suara Alice yang kecil, dan rendah tapi Him Chan bisa mendengarnya dengan jelas. Sangat jelas. Alice dan James telah berpisah…

Oh, Tuhan. Apa yang harus dia lakukan?

-oOo-

Setidaknya, bertemu dengan Jung Na Mi bisa membuat pikirannya terasa ringan.

Him Chan mengulum senyumnya begitu melihat seseorang yang telah menunggunya di bangku kafe nampak serius mengamati kertas-kertas yang berserakan dihadapannya. Rambut yang tidak tersanggul rapi, sneakers biru donker, sweater hitam dan jeans skinny hitam. Gaya yang persis sama dengan Him Chan yang mengenakkan T-shirt Polo putih dan jeans hitam juga sneakers biru hitam.

“Jung Na Mi,” sapa Him Chan seraya duduk didepan Nami. Him Chan memerhatikan gaya Nami saat ini, lalu tertawa pelan. “Kenapa kita bisa kebetulan begini?”

Nami mengangkat wajahnya menatap Him Chan dengan tatapan aku-tidak-mengerti-apa-maksudmu. “Kenapa kita bisa mengenakkan sneakers, jeans dan kaus diwaktu yang bersamaan?”

Name nampak berpikir sesaat, kemudian dia meletakkan pensilnya. “Takdir? Kebetulan? Atau kau menjadi stalkerku?”tanya Nami.

“Stalker?” kemudian Him Chan tertawa cukup keras mendengar tuduhan Nami. Nami menghela napas melihat Him Chan yang menertawainya, lalu kembali menekuni kertasnya dengan serius. Him Chan, yang telah memesan minuman kepada waiters, mengamati Jung Na Mi.

Nami merasa Him Chan terus menatapnya, dan mungkin merasa ada yang salah dengan orang yang tiba-tiba mengajak bertemu ini.  “Ada apa?”tanya Nami sontak membuat Him Chan terhenyak, lalu tertawa kecil menyadari Nami yang ketahuan memerhatikan Nami.

“Tidak ada kok,” kata Him Chan menyilangkan tangan di dadanya, bermaksud membuat Nami yakin. Nami justru semakin melekatkan pandangannya, merasa tidak yakin dengan Him Chan.

“Jangan bohong,” kata Nami lagi.

Kali ini, Him Chan tertawa sumbang. Nami bisa membacanya. Sangat jelaskah kegundahan dihatinya? Oh, sial.

-oOo-

Jujur, dirinya hanya tampil asal-asalan hari ini. Toh, hanya menemani Kim Him Chan di kafe bukan? Bukan untuk menghadiri sebuah acara serius atau semi formal yang membutuhkan kesopanan dalam berpakaian. Jadi, tidak ada salahnya dia memakai sneakers, sweater dan jeans. Walaupun jauh berbeda dari kesehariannya, namun inilah dirinya. Jung Na Mi.

Nyatanya, Kim Him Chan juga berpenampilan asal-asalan. Apa kebetulan? Aneh sekali, terkadang kebetulan didunia ini benar-benar kebetulan, begitu pikir Nami. Jadi, dia tidak perlu khawatir tentang tanggapan Him Chan pada dirinya.

Tunggu, kenapa dia sekarang mementingkan tanggapan Kim Him Chan?

Nami menggeleng pelan, membuyarkan pikiran itu dan memusatkan konsentrasinya pada kertas yang telah dia coret-coreti menjadi sebuah desain baju. Tapi, Nami merasa risih. Dirinya mencoba melihat Him Chan yang ada dihadapannya, dan benar saja, Him Chan sedang memerhatikan dirinya dengan senyuman yang manis diwajahnya.

Manis? Oh Tuhan, tolong aku sudah tidak benar, pikir Nami lagi.

“Ada apa?”

Him Chan menggeleng dan tetap tersenyum kepada Nami, lalu menjawab tidak apa-apa sabil menyilangkan tangannya didepan dadanya. Nami justru semakin yakin, ada yang disembunyikan Him Chan. Entah kenapa, dia begitu yakin.

“Bohong,”ujar Nami lirih. Matanya tidak lepas dari kedua bola mata Him Chan, mengamati setiap pergerakan bola mata tersebut. Kata orang, jika seseorang bohong, bisa terlihat jelas dari matanya. Pantas saja, Jun Hyung bisa tahu dirinya sedang bohong atau tidak, ternyata trik ini yang digunakan, batin Nami lalu kembali mengamati mata Him Chan.

Sayangnya, Him Chan tidak pandai berbohong didepan Jung Na Mi, sepertinya. Sekarang, dia masih tertawa, namun tertawa sumbang. Tawa yang terdengar hampa. Nami bisa menyimpulkan, Him Chan sedang memikirkan sesuatu.

Mata Nami meminta kejelasan kepada Him Chan, dan Him Chan bisa menyadarinya, Him Chan menyandarkan ounggungnya, lalu menghela napas berat. Nami yang penasaran, mencondongkan badannya kedepan sedikit, “Kalau kau mau, bisa menceritakannya kepadaku.”

Him Chan terdiam sesaat, menimang penawaran Nami. Lalu, dia menghela napas berat lagi dan menegakkan badannya.

“Ini rahasia?”

Nami mengangguk.

“Jangan beritahu orang lain, oke?”

Nami mengangguk lagi.

“Janji?” kali ini, Him Chan menyodorkan kelingkingnya, meminta Nami agar mengaitkan kelingkingnya, tanda perjanjian diantara mereka. Nami mengangguk lagi, dan mengaitkan kelingkingnya. “Janji.”

“Begini…”

“Chan-a,” panggil seseorang. Him Chan, langsung menoleh kearah belakangnya. Nami ikut melihat kebelakang Him Chan, ada gadis berambut pirang yang sedang berjalan kearah mereka. Wajahnya riang, penampilannya chic, seperti model.

“Joo Hee? Apa yang kau lakukan?” Him Chan berbicara dengan gadis ini dengan bahasa korea, dan Nami bisa mengerti. Selama ini, Him Chan berkomunikasi dengan name dengan bahasa Jepang, kadang bahasa korea.

Gadis bernama Joo Hee itu tersenyum, lalu memeluk Him Chan secepat kilat, tanpa Nami mengedipkan matanya. Mereka…berpelukan?

“Joo Hee,” kata Him Chan melepaskan pelukannya dengan kikuk, lalu menatap kearah Nami. Nami sendiri belum bisa melupakan insiden pelukan didepannya tersebut, masih memandangi Joo Hee dengan lekat. Berbagai pertanyaan muncul, tapi pada intinya, Nami sangat penasaran. Siapa gadis dengan nama Joo Hee ini.

“Ini Nami, kenalkan,” kata Him Chan. Joo Hee mengulurkan tangannya.

“Hello, Aku Alice Song, atau Song Joo Hee . Namamu Nami?”

Suara Alice membuyarkan lamunan Nami. Dengan kaku, dia menjabat uluran tangan gadis itu dan tersenyum tipis memandangi mereka berdua, Alice dan Him Chan.

“Nami, Jung Na Mi.”

“Kau Jung Na Mi? Owner JNM itu?” tanya Alice dengan nada tak percaya. Nami bingung menatap Alice, kemudian mengangguk ragu.”Iya.”

“Aku penggemarmu,” Alice langsung menjabat tangan Him Chan, layaknya fans menjabat tangan idolanya. Nami tersenyum canggung, lalu membungkuk sedikit menghormati Alice sebagai penggemarnya. “Terimakasih.”

“Chan-a, kenapa kau tidak bilang temanmu ini owner JNM? Kau tahu, aku suka dengan desain dirinya,”lanjut Alice menatap Him Chan yang diam sedari tadi. Him Chan, mengangguk saja mendengar Alice.

“Kau apanya Chan-a… maksudku, Him Chan?”tanya Alice blak-blakan. Orangnya nampak sangat bersahabat, namun entah kenapa Nami merasakan ada hubungan yang berbeda diantara keduanya. Alice dan Him Chan.

Dan, itu membuat Nami sesak. Entah kenapa.

“Aku temannya.” Nami menjawab seadanya, dan sejujurnya. Dirinya lalu menjilat bibirnya yang kering, mendadak tenggorokannya kering.

Nami menatap Him Chan. Mata itu…Cara Him Chan menatap Alice… Cara Him Chan memanggil Alice… Juga cara Alice menatap Him Chan…

Nami tidak mau berprasangka. Tapi, didepannya, Him Chan terus memandangi Alice dengan tatapan yang memiliki banyak arti. Nami bukanlah orang yang ahli dalam bahasa tubuh, tapi setiap orang yang melihat cara Him Chan menatap Alice, pasti bisa menyimpulkan hal yang sama dengan apa yang Nami pikirkan. Cara Him Chan menatap Alice, Cara Alice menatap Him Chan. Cara keduanya berinteraksi, sangat jelas.

Oh, kenapa dadanya terasa sesak? Nami menarik napas, berusaha menarik oksigen, namun sangat susah dia lakukan. Tangan Nami terangkat, memegangi dadanya. Dia berusaha bernapas senormal mungkin, mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Setelah dia merasa cukup baik, dirinya lalu tersenyum kepada Alice dan Him Chan.

Alice terus mengajak Nami mengobrol tentang dunia fashion, kecintaan Alice terhadap dunia itu, juga latar belakang ‘fashion’ dirinya yang berasal dari keluarga entertain. Alice seorang model yang populer di New York dan Negara fashion lainnya. Matanya menatap Nami dengan tatapan berbinar, Alice bercerita dengan sangat semangat. Sayangnya, Nami tidak fokus. Pikirannya tidak pada tempatnya berdiri sekarang, pikiran Nami melayang entah kemana, tapi dia selalu mencoba ramah.

Pikirannya tertinggal disini, ditempat yang sama namun pada beberapa detik yang lalu. Dan sekarang, Nami berusaha meraih kembali pikiran dan semangatnya yang hilang terbang bersama hembusan angina.

“Maaf, tadi bilang apa?” Nami berusaha kembali memusatkan konstentrasinya, memandangi Alice dan Him Chan secara bergantian dengan bibir tipis yang tersenyum tipis.

Him Chan mengamati Nami. Sepertinya, gadis ini sedang memiliki masalah.

“Nami, kau baik-baik saja?”

Nami termenung sesaat, lalu tersenyum tipis. “I’m fine.”

Him Chan mengerutkan alisnya, lalu mengangguk pelan. Nami baik-baik saja, hanya delusinya, batin Him Chan kembali melanjutkan obrolan dengan Alice.

Kenyataannya, Nami berbohong. Dirinya tidak baik-baik saja.

I’m not fine.”

Kali ini, dia hanya menggumamkannya didalam hati.

-oOo-

Him Chan menghempaskan tubuhnya kekasur. Yang Him Chan butuhkan hanyalah tidur dan beristirahat sejenak. Semua yang menyapanya akhir-akhir ini, membuat tenaganya terkuras secara ekstra. Apalagi, kedatangan Alice.

Alice, setelah meninggalkan dirinya karena lebih memilih sahabat Him Chan, James, dan selama 2 tahun Him Chan berusaha melupakan semua kenangan manisnya bersama Alice, sekarang datang kembali menyapa Him Chan. Membuka semua kenangan yang Him Chan sudah kubur dalam-dalam.

Dengan tangisan, Alice menceritakan tentang ketidakcocokannya dengan James yang menyebabkan mereka membatalkan pernikahan yang sudah tinggal 2 bulan lagi. Alice menangis, di pelukan Him Chan. Alice tidak tahu betapa kacaunya perasaan Him Chan saat itu juga.

Perasaan Him Chan tidak bisa digambarkan dengan kata-kata saat mendengar cerita Alice. Dia marah, sedih, kecewa sekaligus. Tapi, dia tidak bisa melakukan apa-apa, ataupun membantu Alice.

Karena, apa yang Alice lakukan ke James, persis apa yang gadis berambut pirang itu lakukan kepada dirinya. Memutuskan pertunangan, dengan alasan bahwa James lebih mengerti dirinya dibandingkan Kim Him Chan, kekasihnya selama 4 tahun. Butuh waktu lama bagi Him Chan untuk bangkit dari kesedihannya tersebut.

Karena Alice pula, Him Chan pindah ke Tokyo. Dengan kepindahannya, Him Chan berniat untuk melupakan Alice, segala tentang gadis itu, mengikis perasaannya sampai tidak ada perasaan yang tertinggal untuk Alice, dan untuk belajar menerima bahwa Alice lebih memilih James ketimbang dirinya. Ini semua, bisa dikatakan, karena Alice.

Tokyo, di kota ini Him Chan mendapatkan kehidupan yang benar-benar baru. Segala hal baru yang menyapanya setiap hari, juga kehadirah hoobae semasa SMA nya, Jung Na Mi. Gadis yang membuat Kim Him Chan merasakan kebahagiaan lain, hanya dengan melihat matanya atau sosoknya. Hanya dengan seperti itu, Him Chan bisa merasa tenang dan bahagia.

“Astaga!”pekik Him Chan. Dia baru ingat, tadi dia mengamati Nami yang lain dari biasanya. Dia baru sadar, Nami seperti itu karena Alice… Oh, Jung Nami maaafkan aku, batin Him Chan.

Him Chan segera bangun dan berlari meraih telepon rumahnya di dekat jendela dapur. Langsung saja, Him Chan menekan nomor Nami.

“Halo, Nami?” suara Him Chan terdengar panic.

“Iya,” sahut Nami, dengan nada suara yang datar.

Him Chan termenung, mendengar respon Nami yang datar itu.

“Aku berjanji padamu, menceritakan sesuatu bukan?” kata Him Chan.

Nami mengangguk, walau tidak dilihat Him Chan. Him Chan pun melanjutkan ceritanya.

“Alice,”gumamnya, melihat kalau ada Alice didekatnya. Beruntungnya, Alice sedang keluar. Perhatian Him Chan kembali ke telepon yang digenggamnya sekarang.

“Alice, dialah alasan kenapa aku murung waktu itu.”

Napas Nami seketika tercekat. Perasaannya tidak bagus tentang hal ini.

“Dia…mantan tunanganku.  Kami hampir menikah, tapi hubungan kami putus begitu saja, dan dia bersama sahabatku James. Dan, setelah 2 tahun aku berusaha melupakan Alice, dia datang lagi dan mengatakan kalau dia dan James berpisah.”

Nami terdiam, lidahnya kelu untuk memberikan saran atau apapun itu ke Him Chan. Sementara Him Chan, menunggu dengan jantung yang berdebar jawaban Nami. Dirinya tidak bertanya pertanyaan apapun, namun dirinya tetap menunggu sepatah kata yang terdengar dari seberang sana.

“Kau masih menyukainya?” Nami bertanya dengan nada suara datar.

Him Chan menyandarkan badannya ke tembok. Dia masih tidak bisa menentukan perasaannya sendiri. Disatu sisi, dia sangat ingin Alice kembali ke hidupnya, dan dia akan menjadi ornag yang paling beruntung saat itu juga. Tapi, disisi lain, ada Nami yang menawarkan kebahagiaan dengan kesan dingin dan datar. Kebahagiaan yang sulit ditemukan, kebahagiaan yang membuat Him Chan merasa nyaman bersama Nami.

“Entahlah,” kata Him Chan mengangkat bahu lalu menghela napas berat. “Apa yang harus kulakukan?”

Nami tidak menjawab. Dia kehilangan kata-katanya seketika. Lidahnya menjadi kelu, tenggorokannya kering. Matanya memandangi kosong jendela.

Apa yang dia pikirkan, ternyata memang benar.

“Kau…” Nami berusaha berbicara, “Aku tidak ahli dalam hal ini.”

Him Chan meengangguk mengerti, “Aku tahu. Sekedar mendengar saja sudah meringankanku sedikit.”

Nami tidak menjawab.

“Thanks, Nami. Kurasa, aku akan menyelesaikannya.”

“Semoga cepat selesai.”

“Iya.”

Dan, KLIK !

Hubungan telepon pun terputus. Him Chan memutuskannya terlebih dahulu. Dadanya sesak, kenapa dengan bodohnya dia menceritakan kejadian masa lalunya dengan Nami?

Him Chan tahu, dia sudah melakukan kesalahan.

-oOo-

Nami masih berdiri didepan jendela, termenung memandangi jendela dengan tatapan kosong. Ditangannya, ada ponsel yang daritadi dia genggam. Nami merasa udara didapur flatnya sesak. Atau, hatinya yang sesak.

“Sayang,” kata seseorang menghampiri Nami. Jun Hyung menggoyangkan badan Nami yang sedari tadi berdiri bagaikan patung. Nami, perlahan menoleh.

“Aku baik-baik saja,” kata Nami meyakinkan Jun Hyung. Namun, sorot mata Nami lebih jujur daripada kata-kata Nami barusan. Sorot mata, yang seakan bisa menggambarkan bahwa Nami tidak baik-baik saja.

“Nami,” Jun Hyung merengkuh Nami pelan, membawa tubuh kurus Nami kedalam pelukannya. Membiarkan Nami mencurahkan segala apa yang dia rasakan saat ini.

“Apa sesakit ini rasanya, ketika kau mulai berharap dan saat itu kau tidak boleh berharap lagi?” gumam Nami pelan. Jun Hyung melepas dekapannya, kemudian menatap Nami lekat. Dirinya tidak mengerti maksud dari perkataan Jung Na Mi barusan.

“Aku…Tidak boleh berharap?”

Jun Hyung merengkuh wajah Nami, “tidak, tentu saja.”

Nami mendesah berat. “Aku tidak bisa berharap lebih lagi, dia sudah punya masa lalunya sendiri.”

Jun Hyung pun tahu, ada yang tidak beres dari Nami.

“Aku…sedih, Jun Hyung.”

-oOo-

TO BE CONTINUED

[!] from Author :

“Sorry for waiting TuT actually, i lil bit busy rite now but i remember my readers wait for my fanfiction so i try to finish it and, taraaa hanya sebagian part TuT maaf sekali lagi, kalau updatenya bakalan lama soalnya author lagi susuah membagi waktu (?) jadi, dimohon kesabarannya ToT terimakasih juga sudah mau menunggu ff sampah ini hehee selamat membaca, regars hayamira.”

RCL diperlukan hitung hitung sebagai sedekah hehehe xD

SEKIAN, SAMPAI JUMPA DI NEXT CHAPTER~ PPYONG

47 responses to “FF : Oramanieyo [CHAPTER 6A]

  1. Pingback: FF : Oramanieyo… [CHAPTER 7] | FFindo·

  2. Pingback: FF : Oramanieyo… [CHAPTER 8] | FFindo·

  3. Pingback: Bloody Camp [Act 1] | FFindo·

  4. Pingback: FF : Oramanieyo… [CHAPTER 9] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s