Escape!

Title:

Escape! – One

Already Published on fanfictioff.wordpress.com

 

Author: Brilliant Givya ( KAILLIANT ) | Genre: Life-learning, Friendship, Fluffy romance | Rating: PG-15 | Casts: Kim Jongin , IU/Lee Ji Eun *Some casts will be revealed soon*

Disclaimer:

Do not take the picture or plot without my permission and full credit.

© KAILLIANT

 

kailliant - escape

Being seventeen is when you couldn’t face your problem and start to try something new: escaping.

 

Tujuh belas tahun adalah saat kau tidak bisa mengatasi masalah dan mulai mencoba hal yang baru: pergi dari rumah.

 

 

-Escape!-

 

Seoul Station, Seoul

12.00 P.M

Adakah hal yang lebih mengasyikkan daripada kabur dari rumah? Jika pertanyaan itu dilempar kepada Kim Jongin, ia pasti menjawab “ya! Banyak!”

Jongin sudah kabur dari rumah selama sehari. Ia bosan. Ternyata bermain piano, mengerjakan tugas matematika, dan mengajari anjingnya renang lebih mengasyikkan daripada ini. Selama kabur, dia hanya bisa mengeluarkan uang tanpa melakukan hal yang berarti. Tidur hanya selama dua jam- di dalam taksi yang mengantarnya ke stasiun, membeli junk food, mandi di pemandian umum, dan hal lain yang tidak pernah ia lakukan. Tetapi hal itu tidak lekas membuatnya menyerah dan pulang ke rumah. Toh tidak ada yang menunggu kedatangannya di rumah, sama sekali.

Tadi pagi ia mendapat pesan singkat dari supir pribadinya, bertanya apakah liburan Jongin menyenangkan. Sialan, bahkan lelaki botak berjuluk Pak Lee itu mengira dirinya sedang berlibur, tidak sadar dirinya sedang kabur. Tetapi setidaknya Pak Lee lebih baik daripada orang tua yang jarang menanyakan kabarnya sama sekali. Mungkin kini mereka sedang menunaikan kewajiban sebagai Tuan dan Nyonya Kim, bertemu dengan para kolega bisnis di Jepang. Tidak menyadari anaknya sedang terombang ambing di tempat yang jauh dari rumah. Bukan masalah, semua sedikit terobati karena selama ini Jongin cukup puas mendapat pendidikan berkualitas hingga fasilitas yang lengkap.

Mata elang Jongin sore ini terlihat sayu, tetapi tidak menyurutkan jumlah pandangan para perempuan yang berpapasan dengannya. Tangannya terulur panjang menyusuri dinding stasiun Seoul yang dingin. Hari ini bulan Januari, tidak heran tangannya terasa hampir membeku. Semua orang yang berlalu lalang di dalam stasiun menggunakan pakaian yang bertumpuk-tumpuk dan sangat tebal. Sementara sebuah televisi terpasang tinggi di dinding menampilkan siaran sungai Han yang membeku.

Jongin mengeluarkan selipat kertas yang bertuliskan Busan Guide Map, here we go, Busan!” desisnya.

-Escape!-

 

 

Ini adalah sebuah pilihan terberat yang pernah dipilih oleh Lee Ji Eun. Ia kabur dari rumah.

Sebuah pilihan dimana ia harus meninggalkan kehidupan sekolahnya yang seru, kamarnya yang wangi lavender, anjingnya yang sangat penurut, rumah yang tidak lagi nyaman untuk ditempati, dan… seorang Ibu yang semakin tidak dikenalnya. Sembilan hari lagi ibunya menikah dengan seorang lelaki asing− Ji Eun tidak mau tahu nama lelaki berwajah mesum itu. Satu-satunya hal yang Ji Eun tahu adalah mereka saling mencintai. Itu pun kata mereka. Tetapi… semudah itukah ibunya mencari pengganti mendiang ayahnya?

Mungkin saja ibunya yang terlihat tergila-gila pada calon ayah barunya itu belum sadar bahwa putri tunggalnya sudah tidak ada di kamar, seperempat pakaiannya di lemari menghilang, tiga buah sepatu kedsnya lenyap, juga kotak tabungannya yang sudah pecah.

Ia terus berpikir bersama koper berwarna coklat oaknya di dalam kereta jurusan Busan. Busan? Hm, satu tempat yang sebelumnya tidak pernah terpikir untuk dijadikan sebagai destinasi kaburnya.

Kereta KTX yang ditumpanginya berdecit sangat halus. Semua orang berdiri dari tempatnya dan melewati pintu yang terbuka otomatis. Udara dingin langsung menyerang wajahnya begitu ia melewati pintu. Well, inikah Busan? Tidak jauh berbeda, hanya saja pakaian orang-orang di sini tidak seheboh yang biasa dilihatnya di Seoul. Dinaikinya tangga di balik pintu keluar sambil menggeret koper− anehnya ia merasa kopernya semakin berat saja.

Ji Eun berhenti di depan warung kecil yang penuh oleh orang-orang berseragam sekolah. Dari baunya, ia tahu ada banyak pajeon (pie asin) dan dukbokki (kue beras) tertimbun di sana. Sungguh, melihat pembeli yang hampir semuaya berseragam sekolah, membuatnya rindu suasana sekolahnya, juga warung kue beras yang biasa ia kunjungi sepulang sekolah.

-Escape!-

 

 

Ji Eun tidak mengira, ‘permasalahan awal selama kabur dari rumah’-nya sudah menanti di depan warung dukbokki. Sebuah warung yang tidak lebih besar daripada warung lain yang ada di kawasan Choryong-dong, Busan.

“Gadis kecil, kau ingin memesan sesuatu?” seorang bibi bercelemek muncul dari balik etalase kecil toko dukbokki. Ji Eun mengangguk dan merogoh saku untuk mengambil uang. Begitu tersadar ia menyimpan dompet di dalam koper, terpaksa dibukanya koper itu dan betapa terkejutnya saat melihat tumpukan benda asing di dalam kopernya.

Tidak ada dompet hitamnya, sikat gigi, cermin; bahkan buku diaripun lenyap! Ommo, semua ini bukan barang-barangnya! Yang ia temukan adalah tumpukan baju asing, buku, dan… “yaaaah, mwoya?!” ia mengangkat sebuah kain kecil berwarna hijau dengan jijik. Ya Tuhan, celana dalam pria…

Dari kejauhan, seorang Kim Jongin tengah melotot menyaksikan barang pribadinya yang terekspos di depan para pengunjung warung dukbokki. Ia sudah berlari dari stasiun untuk mengejar kopernya yang diambil oleh anak perempuan itu. Kakinya yang panjang berlari sangat kencang, menghampiri si kurang ajar yang sudah berani membuka kopernya sembarangan, mengalahkan kecepatan lari saat ia bertanding marathon untuk kejuaran antar kelas.

“Kau! Beraninya menyentuh barang-barangku!” bentak Jongin setelah meraih barang pribadinya dan segera menutup kopernya rapat-rapat. Tidak peduli perhatian bibi penjaga toko dan beberapa pelajar yang sedang berada di situ jadi tertuju padanya. Gila, ini memalukan sekali!

Di depannya, Ji Eun hanya berkedip. Ia tidak terkejut, karena ia benar-benar tidak peduli, kalau anak lelaki di depannya itu merasa malu setelah ia mengangkat celana dalam hijaunya− hell no!− tinggi-tinggi.

Jongin menyentak koper lain yang berwarna sama seperti miliknya ke hadapan Ji Eun, “Here’s your bag!”

“O, jadi koper kita tertukar?” tanya Ji Eun santai.

“Tepatnya kau yang mengambil koperku. Lihatlah merknya, koperku lebih mahal dari pada milikmu. Kau tidak bisa melihatnya?”

Ji Eun menatap anak lelaki tersombong yang pernah ditemuinya. Asal tahu saja ia benci orang sombong. Koper ber-merk Mark Twain itu memang mahal- itu yang tertera di di katalog milik ibunya- tetapi memang apa bedanya koper itu dengan milik Ji Eun? Lagipula dia juga cukup menguras kantong saat membelinya.

Kedua pasang mata itu saling memandang tajam. Sebuah kebetulan yang luar biasa, karena saat masing-masing- Ji Eun dan Jongin- saling melempar tatapan sekelas death glare, mereka menyadari sesuatu; mata mereka sama. Jenis mata tajam dan tidak ada rasa takut pada apapun.

Bibi penjaga toko berhenti menyaksikan pemandangan itu dengan menawari mereka membeli dukbokki, “kalian mau memesan dukbokki, tidak?” tanya bibi itu dengan ramah.

“TIDAK!” kata itu keluar secara bersamaan dari mulut mereka dengar frekuensi tertinggi. Melangkah kearah yang saling berlawanan, menjauh dari warung dukbokki itu.

-Escape!-

 

Jauh dari Busan, di pagi yang sama seorang lelaki tua mengunci pintu mobil. Namanya Lee Kwangsoo, tapi ia terkenal dengan sebutan Pak Lee. Julukan itu terdengar mahal sejak ia mengantar jemput anak majikannya, Kim Jongin, bertahun-tahun silam. Awalnya ia tidak pernah berniat mengabdi pada Tuan Kim Jongshik dalam kurun waktu yang selama ini. Tetapi putra Tuan Kim Jongshik seperti memiliki daya tarik sendiri, yang Pak Lee pun tidak paham apa itu. Daya tarik yang membuat Pak Lee terus bertahan untuk mendampingi Kim Jongin ke mana pun anak itu mau.

Mungkin karena orang tua Jongin yang jarang pulang dan memberinya perhatian, Pak Lee menjadi sangat perhatian padanya. Sebelum lelaki menjalankan mobil, ia mengirim pesan singkat kepada Kim Jongin yang sudah hampir dua hari belum pernah pulang ke rumah. Di mana Jongin sekarang?

To: Jongin

 

Tuan muda, kau sedang di mana?

Apakah liburanmu menyenangkan?

 

Send.

Bicara tentang Kim Jongin, ia jadi teringat putri tunggalnya di rumah. Sudah dua tahun ia belum pulang, hanya mengirim uang sebagai biaya hidup istri dan sekolah putrinya. Terkadang putrinya mengirim pesan singkat yang berisi protes bahwa uangnya terlalu sedikit. Pak Lee menggelengkan kepala untuk mengusir ingatan yang membuatnya merasa bersalah itu, lalu sebelum menjalankan mobil, ia mengecek apakah map biru yang harus dilaporkannya pada seseorang sudah terbawa.

 

-Escape!

 

 

Kim Jongin yang sedang menikmati berbagai barang unik khas China di Shanghai Street berhenti tiba-tiba. Ia bersumpah tadi sudah berpisah dengan anak perempuan itu dari depan warung dukbokki, tetapi kenapa anak itu muncul lagi di depannya?

Perempuan itu ada di antara kerumunan orang untuk menyaksikan musisi jalanan. Jongin hendak berbalik, tetapi urung saat melihat ada kejadian janggal di sekitar anak itu. Seorang lelaki paruh baya yang wajahnya hampir tenggelam oleh topi baseball, berusaha mengambil dompet di saku belakang pria tambun di depannya. Yang membuat Jongin heran bukanlah bagaimana bisa pria tambun pemilik dompet itu tidak sadar ada pencopet di belakangnya. Tetapi bagaimana cara anak perempuan itu bisa tidak peduli saat ada pencopet di sebelahnya. Terlihat sekali anak itu menyaksikan pencopetan secara langsung, namun dia tidak melakukan apa-apa. Hanya melihati sang pencopet sampai pergi dengan mata tajamnya.

Ji Eun terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang menarik paksa pergelangan tangannya. Anak lelaki di depan warung dukbokki tadi. Ji Eun yakin, pasti anak itu juga menyaksikan pencopetan barusan.

“Kau bodoh? Atau kau teman pencopet itu?” tanya Jongin begitu tiba di sebuah lorong sepi di antara jejeran toko dengan nada tinggi. Sebenarnya membentak seorang perempuan sangatlah tidak mencerminkan latar belakangnya, keluarga yang selalu mengajarkan ia untuk menjunjung tinggi tata karma. Tetapi kejadian tadi sungguh kelewatan baginya.

Ji Eun membalas tatapan tajamnya, “apa maksudmu?”

“Kau menyaksikan orang itu mencopet, ‘kan?”

“Lalu?”

Jongin mendesis, “You’re so weird. Kau hanya diam saat melihatnya. Jangan salahkan aku kalau aku berpikir bahwa kau adalah komplotan pencopet itu. Kau… aneh!” Sangat aneh, tegas Jongin dalam hati.

Tidak ada yang salah dalam hal ini. Jongin hanya belum mengerti tentang seberapa besar rasa ‘tidak ingin ikut campur’ Ji Eun dalam masalah orang lain. Padahal Ji Eun tahu dirinya memang sangat keterlaluan. Tetapi ia terlanjur terperangkap di dalam trauma besar dari kematian seorang ayah. Kisah itu begitu panjang, membuatnya tidak mau lagi ikut campur dalam masalah orang lain, apapun bentuknya. Tidak akan pernah.

“Kau mengira aku pencopet?” ujar Ji Eun sedikit kecewa. Dia sendiri tidak tahu harus meluruskan kesalah pahaman ini dari mana kepada orang asing di depannya itu.

“Kau hanya diam saat ada pencopet di sebelahmu. Apakah ada pilihan lain selain mengiramu sebagai komplotan pencopet?”

Ada jeda sebentar sebelum Ji Eun memutuskan untuk pergi saat itu juga, “Baiklah, aku adalah bagian dari komplotan itu. Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan? Melaporkanku ke kantor polisi? Berteriak agar orang-orang menyerangku? Terserah kau saja, aku tidak peduli!”

Teriakannya cukup menyumbang suara di tengah kebisingan kawasan pertokoan milik para keturunan China ini, bergabung bersama suara orang menawar barang, bunyi harmonika yang dimainkan di salah satu toko, juga teriakan anak-anak kecil yang bahagia dengan balon-balonnya. Ji Eun pergi sambil mengusap air mata yang sempat menetes. Bukan karena ia dituduh pencopet (bodoh sekali kalau ia menangis gara-gara itu), melainkan karena mengingat sosok ayahnya.

Mungkin Jongin terlalu lama mendekam di dalam rumahnya yang besar, berkutat dengan partitur music di depan piano, anjingnya, dan tugas dari sekolah yang menumpuk, sehingga ia baru menyadari bahwa kehidupan di masyarakat akan serumit ini. Jongin tidak bermaksud melukai hati orang yang bahkan tidak dikenalinya sama sekali. Ia hanya kesal, bagaimana anak perempuan itu tidak melaksanakan posisinya sebagai warga Negara yang baik. Ini pertama kali dalam perjalanannya, emosinya meluap tanpa bisa dikontrol.

-Escape!-

 

 

Seperti roda, semua bagian pasti akan kembali pada posisinya.

Ji Eun menyerah. Setelah seharian ia mengunjungi Sanghai Street hingga naik taksi menuju Taman Jaseongdae, pada akhirnya kakinya kembali ke warung dukbokki. Berbagai lampu warna-warni sudah menyala di kawasan itu, seolah berkata ‘Busan tidak bagus kalau tidak ada kami’.

Meskipun sudah pukul tujuh malam, warung kecil itu masih ramai oleh orang muda, bedanya kali ini tidak ada yang memakai seragam sekolah. Ji Eun berjongkok di seberang toko, tepatnya di tepi trotoar. Membuat semua orang yang lewat mengira dirinya kelaparan dan ingin melahap dukbokki.

Sosok berwajah lugu itu berjongkok sambil merapatkan jaket. Ji Eun menginginkan sesuatu selain dukbokki. Karena dari cara matanya memandang iri setiap orang yang menikmati dukbokki sambil mengobrol dengan para temannya, jelas menunjukkan bahwa yang ia inginkan hanyalah hal sederhana: seorang teman.

Ia sudah hidup selama tujuh belas tahun, dan sayangnya tidak tahu bagaimana rasanya memiliki teman dekat, apalagi sahabat. Ia juga ingin melakukan pajama party, belanja bersama, mengincar lelaki yang sama, dan sebagainya. Tetapi keinginan itu terhenti, mengendap dan terkurung di hatinya yang terdalam, saat semua orang mulai menyalahkan sikapnya yang selalu tidak peduli itu.

Ada sebuah jaket hitam tersampir di lututnya tiba-tiba, lalu sebuah gelas kertas bertuliskan Starbucks sudah ada di depannya. Ia mendongak dan menemukan lelaki sombong tadi sore sudah berdiri di depannya.

“Kau kelaparan? Ingin beli dukbokki?”

Ji Eun menggeleng. Pasti sosok di depannya juga memiliki pikiran yang sama seperti orang-orang yang melewatinya tadi, mengira Ji Eun sedang kelaparan. Namun Ji Eun tidak memikirkan hal itu dan mulai meraih gelas kertas di depannya. Duduk selama berjam-jam cukup membuatnya kehausan meskipun udara sangat dingin.

“Kau memberiku kopi sisa, uh?!” serunya saat membuka tutup gelas dan mendapati ketinggian kopi yang dibawah batas normal.

Kim Jongin berdehem, “hanya seteguk.”

“Ish!” meskipun kesal karena diberi kopi sisa, Ji Eun tetap menghabiskannya. Padahal sebelumnya dia tidak pernah mampu menghabiskan segelas kopi, semanis apapun rasanya. Tetapi kopi ini terasa lebih nikmat karena hangat dan− tentu saja− gratis.

“Wow,” Kim Jongin masih berdiri, terlihat enggan duduk di atas aspal seperti anak perempuan di depannya, “kau menghabiskan kopi itu dengan cepat, seperti orang yang kelaparan karena kabur dari rumah!”

Mata Ji Eun terkejut karena sosok itu menebak dengan benar (mengesampingkan rasa ingin menonjok hidungnya karena berani-beraninya anak lelaki itu bilang ia kelaparan). Ia memang kabur dari rumah. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Kim Jongin tidak lagi terkejut, meskipun kalimat tadi hanya bercanda, dia sudah mengira. Anak perempuan itu berjalan sendirian sambil membawa koper yang besar. Sama sepertinya. Apa namanya kalau bukan kabur dari rumah? Jongin seperti menemukan teman seperjuangan- dia bukan satu-satunya anak yang kabur dari rumah.

“Jadi benar kau kabur dari rumah? Ckckck… Tentu saja aku tahu, karena aku juga kabur dari ru…” o-ow. Jongin langsung mengatupkan bibirnya saat tak sengaja kelepasan bicara. Ia menyesal mengucapkan hal itu, karena perempuan di sebelahnya kini tertawa sinis saat mengetahui Jongin juga sedang kabur dari rumah.

“Aku Kim Jongin, kau? Ngomong-ngomong, maafkan ucapanku di Shanghai Street tadi sore, ya!”

“Namaku Lee Ji Eun. Lupakan saja hal itu.”

Mereka mengobrol layaknya teman seperjuangan yang sebenarnya. Jongin yang berwajah tenang meremehkan alasan Ji Eun kabur dari rumah; Ji Eun yang tidak bisa berhenti mengejek saat mengetahui alasan Jongin kabur hanyalah untuk menguji, apakah oang tuanya masih peduli padanya; ekspresi kasihan Ji Eun saat diam-diam melirik layar handphone Jongin, yang bukannya berisi pesan dari orang tuanya melainkan dari Pak Lee- entah siapa itu Pak Lee, yang pasti Jongin dipanggil Tuan Muda olehnya; hanyalah beberapa dari ribuan hal yang terjadi pada setiap orang di bawah langit Busan yang indah malam ini.

Kisah ini baru dimulai. Baru dua hari untuk seorang Kim Jongin yang dari Busan mencoba melacak rasa peduli orang tuanya di jarak ribuan mil di Jepang sana, juga belum genap satu hari untuk Ji Eun yang mencari arti dirinya di mata ibu kandungnya sendiri.

Terselip keinginan untuk kembali ke rumah, melihat wajah ibu yang paling disayanginya- sayangnya hal ini hanya berlaku pada Ji Eun, memeluk bantal di dalam kamar yang hangat, dan memandang langit Seoul indah meskipun bintang lebih terlihat jelas jika dilihat dari Busan.

-Escape!-

 

 

“Aku benci orang-orang dengan sikap sepertimu, Ji Eun.”

 

 

“Ini bukan salahku, ‘kan, Dong-Gu memang penuh dengan pencopet!”

 

“Saudara Kim Jongin akan melakukan Pelayanan Masyarakat…”

 

“Tunggu seben-”

 

“… selama satu minggu penuh di Dong-Gu”

 

 

“Kau tidak mengerti seberapa besar arti orang tua sebelum kau kehilangan mereka… Aku diikuti rasa menyesal selama puluhan tahun, setelah dulu aku membuang masa tujuh belas tahunku dan meninggalkan orang tuaku.”

 

 

“Selamat tinggal…”

 

Kkeut~

 

Kalau banyak yang suka, chapter selanjutnya tetep di post di FFIndo. Kalau enggak *ambil tissue dulu* ya di blog Bril sendiri atau SOFF^^ FYI, Satu-satunya semangat Bril untuk nulis cuma komentar dari kalian loh:)

So please give Bril spirit by review, comment, and like ^^

102 responses to “Escape!

  1. Pingback: Escape! – Three | A Brilliant Plant in the Pot·

  2. mian thor bau komen… dan hasilnya… teng teng!! aku suka bangeeeett!! acara kabur dari rumah ga pernah aku jalanin dari dulu, pernah juga si kepikiran kabur dari rumah tapi masih takut hahahahah aku suka jalan ceritanya,, aku juga suka bahasanya.. pokoknya kalau begini aku sukaaa!!! hwaaa lanjut lah, keep writing thor. SMANGAAT!!

  3. Omo aku suka bgt. Keren, gahabis pikir kalo ceritanya ttg Jongin sm IU yg samasama kabur dr rumah😀

  4. Aku baru baca dan langsung tertarik.. ini ffnya keren ^^
    Aku susah nebak alurnya efek aku yang lemot atau gimana.. –” entahlah thor xD
    Tapi suer ini keren banget ><
    Cuman ada kurang huruf thor hihi.. tapi ngk papa.. ^^

  5. Sedikit bingung di bagian akhir, tapi oke buat jalan ceritanya, entah aku yang jarang baca ato emang jarang ff yang bahas tentang ‘acara kabur dari rumah’ dengan genre ‘life-learning’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s