I Need a Good Husband [ Chapter 8 – Dae Hyun’s Story ]

I Need a Good Husband 2–Storyline by Aline Park @angiiewijaya–

Main Cast

Kim Mi Jung [OC’s]
Lee Gi Kwang [Beast] as Lee Gi Kwang
Kim Myung Soo or L [Infinite] as Kim Myung Soo

Other Cast

Choi Jun Hong or Zelo [B.A.P] as Choi Jun Hong or Zelo
Jung Dae Hyun [B.A.P] as Jung Dae Hyun
Lee Sung Yeol [Infinite] as Lee Sung Yeol
Bang Min Ah [Girls Day] as Bang Min Ah
Lee Howon or Hoya [Infinite] as Hoya
Kim Ah Young or Yura [Girls Day] as Kim Yura

Genre
Romance

Length
Series

Rating
Teenager, PG-15

Previous
I Need a Good Husband [ Chapter 1 – In Senior High School ]
I Need a Good Husband [ Chapter 2 – You Kiss Me When I Sleep? ]
I Need a Good Husband [ Chapter 3 – New Bodyguard ]
I Need a Good Husband [ Chapter 4 – Graduation ]
I Need a Good Husband [ Chapter 5 – Job With a Love Story ]
I Need a Good Husband [ Chapter 6 – Problem and Controversy ]
I Need a Good Husband [ Chapter 7 – A Kiss, Date and Love ]

I Need a Good Husband
Chapter 8 – Dae Hyun’s Story

Happy Reading

Mi Jung terbangun dari tidurnya, setelah pulang dari ‘date’nya bersama Gi Kwang, ia langsung tertidur karena merasa lelah. Di saat itulah juga, ponselnya berbunyi, tanpa melihat ke layar ponselnya, ia langsung mengangkat sambungan tersebut.

“Yoboseyo.” kata Mi Jung, bermalas-malasan.

“Ya! Kau baru bangun? Temui aku dua puluh menit lagi di kafe kemarin!”

TUTT

Sambungan langsung terputu. Mi Jung mengucek-ngucek matanya, tapi tiba-tiba ia tersadar bahwa dikatakan orang itu menunggunya dua puluh menit lagi. Seketika ia langsung bangkit dari tempat tidurnya dan berlari-lari menyiapkan pakaiannya. Ia sudah tahu siapa yang mengajaknya pergi.

Ia ke luar dari kamar mandi pribadinya dengan pakaian lengkap dan rambut yang sedikit berantakkan. Ia menyisir asal rambutnya, mengambil tasnya dan langsung ke luar dari kamar.

Diam-diam ia berusaha untuk ke luar dari rumahnya, tapi tiba-tiba seorang wanita paruh baya memanggilnya.

“Mi Jung, kau mau ke mana? Kau harus diantar!”

Mi Jung menghela nafas, ia sudah yakin akan terlambat, karena supir ataupun bodyguardnya itu mengendarai mobil dengan lambat. “Aku tidak mau! Aku membawa mobil sendiri saja!” jawabnya sambil kabur ke luar.

Ia masuk ke dalam mobilnya dan langsung menyalakan mesin. Tidak membutuhkan waktu lama, mobilnya sudah ke luar dari garasi dengan cepat.

Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, ia sudah sampai di kafe yang menjadi tujuannya. Ia kembali melihat jam, ia sampai pukul sembilan lewat lima seperti kemarin. Ia masuk ke dalam kafe tersebut, dan seorang pria duduk di dekat jendela belakang. Mi Jung langsung menghampirinya.

“Ada apa lagi mengajakku bertemu?” tanyanya.

Pria itu menoleh ke arah Mi Jung. “Melanjutkan date.”

“Date? Memangnya kemarin itu date?”

“Tentu saja! Dan karena kau telat lima menit seperti kemarin, date kita harus semakin lama.”

“Ya! Kan hanya lima menit, memang apa salahnya? Kau selalu membuat janji mendadak, bagaimana aku tidak terlambat?!” teriak Mi Jung, untungnya para pengunjung kafe tidak ada yang mendengar.

Pria itu menghela nafas. Ia langsung menarik tangan Mi Jung ke luar kafe.

“Gi Kwang oppa! Sakit tahu!” teriak Mi Jung.

Gi Kwang menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang sambil tersenyum jail. “Kau memanggilku apa barusan?”

“Gi Kwang.”

“Bukan yang itu.”

“Lalu apa?”

“Jangan pura-pura tidak tahu.”

Mi Jung menunduk, ia kemudian langsung berjalan mendahului Gi Kwang, Gi Kwang hanya nyengir melihat perilakunya itu. Ia berjalan menyusul Mi Jung.

Ketika berada di dalam mobil Gi Kwang, Mi Jung menatap ke arah Gi Kwang. “Kita mau ke mana?”

Gi Kwang hanya mengangkat bahunya, bukan karena tidak tahu, tapi ia sengaja tidak mau memberitahu kepada Mi Jung. Akhirnya, ia mengendarai mobilnya, menjauhi daerah kafe tersebut. Kira-kira lima belas menit, mereka sampai di sebuah gedung apartemen.

Mereka berdua turun dari mobil, Mi Jung hanya mengikuti Gi Kwang dari belakang, memasukki gedung apartemen itu. Mereka memasukki lift dan Gi Kwang menekan tombol 5 dan lift pun berjalan ke atas.

TING

Bel lift berbunyi dan pintu terbuka, Gi Kwang kembali memimpin perjalanan, mereka berbelok ke lorong kiri, hingga pada akhirnya mereka berdhenti di depan kamar apartemen nomor 521. Gi Kwang mengetik kode pintu dan membukanya.

Mi Jung ikut masuk ke dalam dengan perasaan bingung, setidaknya, tidak ada firasat buruk dalam dirinya. Gi Kwang mempersilahkan duduk di sofa pada living room dan mengambilkan segelas orange jus.

“Ini apartemenmmu?” tanya Mi Jung, yang dijawab dengan anggukan oleh Gi Kwang. “Untuk apa kau mengajakku ke sini?”

“Aku ingin bekerja sama denganmu untuk majalah bulan depan.”

Mi Jung mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti jalan pikiran Gi Kwang, padahal perusahaan mereka berdua sudah menunjukkan persaingan dari bulan kemarin. “Bekerja sama? Apa maksudmu?”

“Aku rasa kau memiliki design majalah yang sangat unik, aku bisa membantu untuk masalah model dan photographer. Lagipula, untuk apa kita bermusuhan? Pasti hasilnya akan sangat bagus.”

Mi Jung menatap heran ke arah Gi Kwang, apa Gi Kwang ingin memanfaatkannya, agar ia mendapatkan keuntungan yang banyak? Atau memang ia ingin berdamai? “Apa alasanmu mau mengajakku bekerja sama?”

“Karena aku ingin membantumu, perusahaan kita harus berdamai, agar kita bisa menikah nantinya, dan kontrovesimu akan selesai, kau tidak perlu merasa takut lagi.” jawab Gi Kwang santai, tetapi dijawab dengan pelototan Mi Jung.

“Aku. Tidak. Mau. Menikah. Denganmu.”

Gi Kwang menatap sedikit terkejut dan datar mendengar perkataan Mi Jung. Ia hanya berdiam dan tersenyum tipis. “Aku akan menunggunya sampai hingga matang jawabanmu.”

Ketika jam makan siang, Min Ah harus ke luar dan tidak makan siang di kantin seperti biasa. Ia ke luar dari gedung kantor megahnya itu dan masuk ke dalam mobil mewah yang sudah terparkir di depan gedung itu.

“Annyeong Min Hyuk-a.” sapa Min Ah, sambil duduk di kursi samping pengemudi. “Aku tidak dapat pergi lama-lama, karena aku harus kembali bekerja.”

Pria yang bernama Min Hyuk mengangguk-ngangguk. “Aku juga harus kembali bekerja setelah ini.”

Akhirnya, mobil itu berjalan dan menjauh dari gedung itu. Min Ah hanya melihat ke luar jendela selama perjalanan. Min Hyuk sedikit kecewa dengan perilaku Min Ah, ia berharap gadis itu mengajaknya bercanda atau hanya sekedar mengajak ngobrol dengannya. Min Ah sendiri sebenarnya sedang tidak mood untuk pergi bersama Min Hyuk, ia sendiri sedang bingung karena Sung Yeol sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya dari pagi.

Setelah lima belas menit perjalanan, mereka sampai di sebuah butik mewah yang memiliki harga baju yang sangat mahal, tetapi sayangnya, itu adalah butik baju pengantin, membuat Min Ah sama sekali tidak bersemangat untuk masuk ke sana.

Min Hyuk membuka pintu mobil Min Ah yang hanya ditanggapi dengan senyuman. Mereka berdua kemudian berjalan masuk ke dalam.

Min Ah melihat-lihat berbagai gaun pengantin di dalam sana, ia sangat menyukainya, hanya saja, ia berharap tidak pergi dengan Min Hyuk, melainkan ..

Sung Yeol?

Mungkinkah ia mengharapkan pria itu yang ada di sampingnya sekarang, bukan calon suaminya yang sesungguhnya? Min Ah meneguk ludahnya.

Ketika Min Ah melihat-lihat sekeliling, tiba-tiba matanya terpaku kepada seorang pria tinggi yang sedang memilih-memilih jas. Tambahan, toko ini juga menjual-jual pakaian formal. Awalnya, Min Ah cuek saja dengan pria itu, tapi ketika pria itu sedikit menoleh ke samping dan membuat wajahnya terlihat sedikit, Min Ah diam membeku.

Ternyata Min Hyuk berjalan menuju lorong dekat pria tersebut. Min Ah menundukkan kepalanya dan membiarkan rambutnya itu menutupi wajahnya. Ketika mereka sudah cukup jauh, Min Ah berusaha bersikap seperti biasa, agar Min Hyuk tidak menanyakan yang aneh-aneh.

“Kau bisa lihat beberapa gaun pengantin, jika kau suka, kau bisa memilihnya mungkin.” kata Min Hyuk, menyadarkan Min Ah.

Min Ah kemudian melihat sekeliling, ia melihat berbagai macam gaun pengantin yang sangat indah itu. Sekali lagi, ia merasa kecewa karena Min Hyuk yang di sampingnya, membuat gaun itu hanya terlihat tidak spesial.

Tiba-tiba saja, pria itu datang ke dalam tempat Min Ah berdiri, Min Ah dengan cepat langsung berlari dan sebisa mungkin mengatakan bahwa ia ingin ke toilet kepada Min Hyuk. Sesampainya di toilet, ia menatap bayangan dirinya pada cermin. Wajahnya tampak takut dan cemas.

“Ah, apa dia sudah pergi? Atau apa aku harus bertemu dengannya?” gumam Min Ah.

Drrtt .. Drrtt ..

Ponsel Min Ah berbunyi. Ia mengambil ponselnya dan melihat nama Min Hyuk pada layar ponselnya. Ia langsung mengangkatnya. “Yoboseyo .. Ah, aku baik-baik saja. .. Tenang, aku akan langsung segera ke sana.”

TUTT

Min Ah memutuskan sambungan telfon. Sambil berusaha tenang, ia ke luar dari toilet dengan perlahan. Dan ketika ia ke luar, seorang pria tinggi berdiri di samping pintu toilet.

“Tidak usah bersembunyi, aku sudah tahu kau ada di sini.”

Seketika pandangan Min Ah langsung mengarah ke pria itu. Ia langsung tersentak dan sedikit gemetar. “Aku tidak bersembunyi!”

Pria itu tertawa pelan. “Kenapa? Kau takut bertemu denganku setelah kejadian malam itu?”

Min Ah hanya menundukkan wajahnya yang memerah itu. Ia memang takut sekali untuk bertemu dengan pria itu, pria yang ia sayangi itu.

“Apa pria itu calon suamimu? Lebih baik kau menghampirinya sekarang, tampaknya ia menunggumu.”

Min Ah mengangguk saja dan pergi meninggalkan pria itu. Sekarang ia malah menyesal dengan apa yang ia perbuat, tidak seharusnya ia melakukan itu dan mengangguk dengan tanpa beban sedikit pun. Harusnya ia mengatakan, bahwa Min Ah sama sekali tidak mencintai Min Hyuk, atau mengungkapkan perasaannya itu.

“Siapa dia?”

“Atasanku.” jawab Min Ah.

Min Hyuk hanya mengangguk-ngangguk, sedangkan pandangan Min Ah masih fokus melihat pria itu dengan tatapan bersalah, atau takut, atau senang bertemu dengan pria itu.

“Kerja sama? Apa maksudmu?”

Gi Kwang menghela nafas mendengar ucapan atasannya melalui telefon. “Ya, kerja sama, memang apa salahnya?”

“Apa kau bodoh?! Kau tau tidak, majalah kita terkalahkan olehnya bulan ini! Dan kita mengajak bertarung, kita sudah kalah! Kalau kita mengajak bekerja sama, sama saja kita merendahkan diri kita!”

“Tapi, ini akan membuat perusahaan kita semakin maju! Lagipula, mengapa semua perusahaan itu harus bertengkar?”

Hening. Tidak ada yang angkat bicara.

“Aku akan berani jamin kita akan sukses. Percaya padaku.” kata Gi Kwang, berusaha menyakinkan.

Ini juga demi diriku.

Setelah dari apartemen Gi Kwang, Mi Jung izin untuk pulang. Ia tidak mengatakan dijemput oleh Dae Hyun, toh, Gi Kwang sendiri tidak mengenalnya. Tapi, bukan itu yang ia permasalahkan, orangtuanya tampak memintanya dengan cepat untuk pulang. Anehnya.

Sesampainya di rumah, mereka berdua turun bersamaan dan langsung masuk ke dalam. Kedua orangtua Mi Jung sudah menunggu di ruang tamu. Kali ini, rumah benar-benar sepi, para pembantu dan supir diizinkan pulang kampung, dan orangtuanya lah yang membayar.

“Ada apa kalian menyuruhku pulang?” tanya Mi Jung.

Appa Mi Jung menghela nafas. “Duduklah.”

Dengan sedikit kebingungan, Mi Jung dan Dae Hyun duduk di sofa yang masih kosong.

“Ada yang ingin kami bicarakan.” kata eomma Mi Jung, dengan nada sedikit cemas.

Mendadak, tubuh Mi Jung sedikit bergetar. “Ada apa? Kenapa tampaknya serius sekali?”

Lagi-lagi, helaan nafas dari appa Mi Jung keluar. “Appa dililit hutang banyak. Tapi, appa ditawarkan sebuah proyek besar, itu bisa membayar hutang, bahkan itu sebenarnya lebih dari cukup.”

“Lalu, apa masalahnya?” tanya Dae Hyun, merasa tidak enak, karena ia juga ambil bagian dalam perusahaan keluarga Mi Jung.

“Karena ini proyek besar, semua cabang harus terlibat. Dan halangannya adalah, kau, Dae Hyun, kau belum dianggap, mereka meragukanmu, takut kau belum cukup berwibawa, karena .. Kau belum menikah.” jawab appa Mi Jung.

Seketika tubuh Dae Hyun membeku. Otomatis, demi menyelamatkan perusahaan dan keluarga Mi Jung yang seperti keluarganya sendiri, ia harus menikah. Ia tahu, umurnya sudah cukup, tapi, ia belum memikirkan untuk itu.

“Kami tahu Dae Hyun, tidak seharusnya kau menikah dulu. Kau juga harus wajib militer dulu, kau sudah merencanakan itu bukan? Tapi, mau tidak mau, ini satu-satunya jalan keluar.” kata eomma Mi Jung.

Mi Jung tiba-tiba teringat dengan tawaran Gi Kwang. Pernikahan.

“Appa, eomma. Bagaimana jika aku yang menikah? Aku yang akan menjalankan perusahaan Appa. Dae Hyun oppa akan secepatnya mengambil wajib militer, dan aku menggantikannya selama itu. Setelah ia ke luar, aku akan mundur, ia mengambil alih, aku menjadi ibu rumah tangga.” kata Mi Jung, tiba-tiba. Hatinya merasa yakin, meski sedikit takut.

Seisi ruangan pun langsung terkejut.

“Apa maksudmu Mi Jung? Kau sudah memiliki pekerjaan yang pas untuk dirimu. Lalu, selama kau menjadi pemimpin, kau harus menunggu sekitar dua tahun untuk memiliki keturunan.” kata eomma Mi Jung.

“Aku tidak setuju. Biar aku menikah saja. Itu tidak akan menjadi masalah.” kata Dae Hyun, melawan.

Mi Jung menghela nafas. Ia tiba-tiba mengeluarkan sebuah senyuman. “Setidaknya, ini akan mengeluarkanku dari kontrovesiku. Aku menyelamatkan perusahaan. Aku memiliki keluargaku sendiri. Itu masa depan.”

Semua terdiam. Mi Jung semakin yakin, meski ia belum rela.

Dengan tanpa pikir panjang, malam ini Mi Jung pergi ke tempat tenda minum-minum, yang juga menjual kacang. Ia hanya ingin mencari kehangatan, bukan untuk bermabuk-mabukkan. Toh, dia benci untuk itu.

Sesampainya di tenda itu, ia melihat seorang pria paruh baya sedang minum-minum sendirian, tampaknya, tidak begitu sadis, hanya saja ia sedikit berantakkan.

Bukan. Bukan itu yang ia permasalahkan. Mi Jung merasa tidak asing dengan pria paruh baya itu. Karena penasaran dan meja sudah penuh, ia memilih untuk duduk bersama pria paruh baya itu, tanpa meminta izin sedikit pun.

“Ahjussi, apa kita pernah bertemu?” tanya Mi Jung tanpa basa-basi.

Pria itu menoleh ke arah Mi Jung. Pria itu langsung mengerutkan keningnya, susah untuk mengingat-ingat.

Tapi tiba-tiba, ingatan Mi Jung datang jauh lebih cepat. Masa SMA-nya. Ya, dia bertemu dengan pria ini, entah beberapa tahun yang lalu. Wajah Mi Jung tentu juga sudah berbeda.

“Apa, entah berapa tahun yang lalu, kau pernah bersembunyi di depan sekolah, lalu kau bercerita kepada dua remaja, laki-laki dan perempuan?” tanya Mi Jung, berusaha menyakinkan orang itu.

Pria itu sedikit menerawang. Tiba-tiba, wajahnya berubah menjadi panik, seperti yang dulu. Tapi, buru-buru Mi Jung memegang tangan pria itu, agar tidak takut kepadanya.

“Tidak usah takut. Aku hanya butuh teman.” kata Mi Jung, sambil melepaskan tangannya, ketika merasa pria itu sudah tenang. “Bagaimana kabar ahjussi? Kita, sudah lama tidak bertemu bukan? Aku berubah ya, makanya kau tidak mengenaliku?”

Pria itu tertawa pelan mendengar kalimat terakhir Mi Jung yang begitu polosnya. Entahlah, caranya tertawa mengingatkan Mi Jung akan seseorang. “Semakin baik. Setidaknya, menjadi buruh pabrik sudah bisa menghidupi diriku sendiri.” jawabnya. “Bagaimana dengan kau anak muda?”

“Setidaknya, aku sudah memiliki pekerjaan. Tapi, aku ada masalah.”

“Masalah apa? Kau bisa bercerita padaku.”

Mi Jung tertawa pelan, ia teringat ketika ia menawarkan pria itu bercerita kepadanya dan Zelo. “Keluargaku sedang dililit hutang banyak. Ayahku ditawarkan sebuah proyek besar, semua cabang harus terlibat, dan oppa ku sebagai pemimpin cabangnya. Tapi, semua pemimpin harus sudah menikah, dan oppa ku sama sekali belum ada rencana menikah.”

“Kau memiliki oppa?”

“Bukan oppa kandungku, angkat juga bukan. Hanya menganggap. Ia sudah tinggal denganku cukup lama.” jawab Mi Jung.

Pria itu mengangguk-ngangguk. “Kau terlalu baik untuk mendapatkan masalah itu.”

Mi Jung hanya tersenyum tipis. Pasti pria itu belum mengetahui semua masalahnya yang lainnya. “Aku akan mencoba sabar.”

“Kau bisa minum? Minumlah sedikit, setidaknya ini penenang, jika kau tidak bermabuk-mabukkan.” kata pria itu.

Mi Jung mengangguk sambil mengambil soju. Ya, dia sedikit suka minum, untuk menghangatkan dan menenangkan diri sejenak.

Setelah itu, mereka berdua sibuk mengobrol sambil menikmati kehangatan soju.

Tiba-tiba saja, sebuah mobil datang. Dan Mi Jung sedikit terkejut melihatnya. Seorang laki-laki ke luar dari situ, menghampiri Mi Jung.

“Kau sedang apa?” tanyanya.

“Ah, aku hanya mencari udara malam saja.” jawab Mi Jung. “Apa yang oppa lakukan?”

“Aku hanya—“

Ketika mata laki-laki dan pria paruh baya itu bertemu. Mereka berdua terdiam.

“Kalian berdua kenapa?” tanya Mi Jung, kebingungan.

“Mi Jung, ayo kita pulang.” katanya, sambil menarik lengan Mi Jung sedikit kasar.

“Ya! Dae Hyun oppa! Ada apa?!” teriak Mi Jung.

Pria itu terdiam. Dae Hyun?

Akhirnya, Dae Hyun berhasil menarik Mi Jung masuk ke dalam mobil. Mi Jung menghela nafas berat sambil menatap Dae Hyun tak percaya. “Apa yang sedang dipikiranmu? Kenapa kau menarikku seperti itu?”

“Sejak kapan kau mengenal pria itu?”

“Apa maksudmu?” tanya Mi Jung, kebingungan.

Mobil berjalan menyusuri jalanan malam yang gelap itu. Dae Hyun terdiam, hanya fokus menatap jalanan. Mi Jung kebingungan, ia mendadak khawatir.

“Dia ayahku.”

Mi Jung terdiam membeku. Ia menatap tak percaya ke arah Dae Hyun. “Jadi, kau yang kabur dari rumah? Kau yang nyaris saja akan jadi seorang mahasiswa arsitektur? Kau adalah anak yang ayahnya tertuduh, begitu?”

“Apa maksudmu tertuduh?” tanya Dae Hyun, sedikit emosi.

“Benda tajam itu, bukan ayahmu yang melakukannya. Teman-temannya menjebak, ketika ayahmu tertidur. Ayahmu bercerita seperti itu, sebelum aku mengetahui kau menjadi bodyguardku. Kau masih ingat, ketika kau menyembunyikanku di gang, dan kau membawa sebuah ninja merah, saat aku merasa sedikit terpeso—“

Mi Jung menutup mulutnya. Nyaris saja ia akan mengatakan ‘terpesona’. Setidaknya, ini bukan waktu yang pas untuk mengatakan itu.

“Jika kau ingin bertemu dengannya. Kau bisa meminta kontaknya padaku. Aku baru saja mendapatkannya.” kata Mi Jung, mengalihkan pembicaraan.

“Aku sedang tidak ingin membahas ayahku.” jawab Dae Hyun, sudah tampak santai.

Mi Jung tersenyum. “Setidaknya, berbicaralah baik-baik dengannya. Kau dengannya, sangat mirip. Saat tertawa, saat berbicara dan kalian adalah orang yang baik.”

Tiba-tiba Dae Hyun memarkirkan mobilnya di sebuah perbatasan sungai. Di situ juga ada sebuah jembatan. Pemandangan yang sangat indah.

“Jangan membahas masalah.” kata Dae Hyun.

“Tapi aku sedang ingin membahas masalah.” jawab Mi Jung. “Ah, iya, baiklah, aku tidak akan membahas ayahmu. Lalu, bagaimana dengan pernikahan? Aku akan rela-rela saja jika kau menikah. Aku senang dengan pilihan itu dan aku nyaman.”

Entahlah, Dae Hyun merasa Mi Jung sedikit terpengaruh dengan soju. Pasti akan sedikit menyenangkan untuk berbincang-bincang dengannya. “Aku tidak mau kau menikah.”

“Wae? Umurku sudah cukup.” jawab Mi Jung, sedikit sewot.

“Biarkan aku yang menikah.” kata Dae Hyun.

“Apa yang kau katakan? Aku tidak dapat mendengarnya tadi.”

“Biarkan aku yang menikah, puas?”

“Aishh, kau saja belum memiliki seorang calon. Bagaimana bisa.”

“Menikahlah denganku.”

Mi Jung melotot ke arah Dae Hyun. Tiba-tiba, Dae Hyun melepaskan safety belt nya dan membiarkan wajahnya mendekat ke arah wajah Mi Jung. Ia mencium gadis itu lagi. Tapi, dengan cepat Mi Jung mendorongnya.

“Ya! Seenaknya kau menciumku lagi!” teriak Mi Jung. Tapi, tiba-tiba ia langsung mendekatkan tubuhnya ke arah Dae Hyun dan mencium laki-laki itu.

Dae Hyun terkejut, tapi ia senang. Ia melumat dengan sedikit kasar bibir bawah gadis itu. Mi Jung juga bermain dengan bibir atas Dae Hyun. Mi Jung merasa, ia sedang terpengaruh soju, dan membiarkan soju itu bermain di dalam tubuhnya.

Mi Jung mulai memegang dada bidang Dae Hyun, kemudian mengelusnya, hingga tangannya terus naik hingga ke tengkuk laki-laki itu. Ia juga menjambak rambutnya, membuat Dae Hyun sedikit lebih kasar.

Dapat merasakan punggung Mi Jung sedikit pegal, dengan perlahan Dae Hyun mendorong tubuh Mi Jung agar menyender ke kaca samping kursinya. Kali ini, Dae Hyun memainkan bibir atas Mi Jung, begitu sebaliknya.

TINN!

Suara klakson itu membuat Dae Hyun dan Mi Jung melepaskan ciuman mereka dengan cepat. Dapat mereka lihat, tidak begitu jauh, ada motor patroli satpam. Mereka sedikit cemas mereka akan ditangkap karena tuduhan yang tidak-tidak.

“Kita pulang saja, tidak akan ditangkap.” kata Mi Jung asal, karena terlalu gugup.

Dae Hyun hanya mengangguk sambil kembali menjalankan mobilnya.

Dengan perasaan canggung.

Dae Hyun berdiri di depan pintu rumah kontrakkan yang usang, dengan tatapan datar. Ia melihat ke sekeliling. Sama sekali tidak istimewa. Hingga pada akhirnya, ia mengetuk pintu dengan pelan, tetapi, karena sepi, suaranya terdengar jelas.

Tak lama, muncullah seorang pria paruh baya dari balik pintu. Ia terkejut melihat Dae Hyun. “Dae Hyun?”

Dae Hyun membungkukkan tubuhnya sopan. “Apa kabar, appa?”

Pria itu menghela nafas. “Masuklah.”

Akhirnya, ayah Dae Hyun masuk terlebih dahulu, disusul Dae Hyun. Lagi-lagi, mata Dae Hyun tidak dapat lepas dari pandangan sekitar. Sama usangnya seperti luarnya. Hanya saja, ada satu yang membuatnya tertarik. Foto seorang wanita.

Dae Hyun mendekati foto bingkai yang berada di atas meja. Ia menatap, betapa cantiknya wanita itu dengan senyum tipisnys. Dae Hyun ikut tersenyum tipis.

“Kenapa, aku selalu jadi pembawa sial seperti ini?” gumam Dae Hyun, yang masih dapat didengar ayahnya.

Ayahnya menghampiri Dae Hyun. “Apa yang kau katakan? Pembawa sial apanya?”

“Saat kau ada masalah, aku malah tidak mendukungmu, melainkan membencimu. Kematian eomma, juga karena aku bukan?” kata Dae Hyun.

“Ya! Ini bukan salahmu! Aku tidak suka kau seperti ini Dae Hyun! Apa kau pria?!” jawab ayahnya.

“Tapi, mengingatnya, membuatku merasa bersalah.”

Flashback

Dae Hyun baru saja bisa berjalan. Ia tampak sangat senang pada saat itu. Kedua orang tuanya berusaha menjauh darinya, agar ia mengejar orang tuanya itu. Ia tertawa-tawa, begitu juga dengan orang tuanya.

Rumah sederhana yang indah itu adalah gaya hidup mereka. Sederhana, namun penuh keindahan.

Ayah Dae Hyun duduk di atas bantal sambil meletakkan hasil miniatur yang dibuatnya di atas meja pendek. Dae Hyun yang melihatnya, langsung berusaha berjalan, dan duduk di samping ayahnya. Ia terus memerhatikan ke arah miniatur itu. Menyadari yang dilakukan anaknya, ayah Dae Hyun tertawa.

“Tampaknya, kau juga tertarik dengan arsitek.” gumam ayah Dae Hyun.

Entah bagaimana bisa, Dae Hyun juga tertawa pada saat itu. Senang melihat miniatur itu.

Pada suatu hari, Dae Hyun mengelilingi rumah dengan kemampuan berjalannya yang masih baru itu. Ibunya sedang memasak, dan ayahnya tidak ada di rumah. Karena pintu terbuka, Dae Hyun malah berjalan ke luar. Ia sama sekali tidak tahu apa-apa.

Hingga pada akhirnya, Dae Hyun pergi ke tengah jalan. Tapi, sebuah mobil berjalan sangat kencang. Pada saat itulah, ibu Dae Hyun melihat anaknya berada di tengah jalan. Dengan cepat, ia langsung berlari dan berusaha mendorong Dae Hyun.

Tidak ada yang terjadi pada Dae Hyun, hanya saja, ibunya terbawa ke atas mobil, dan tubuhnya terjatuh dari belakang mobil. Tubuhnya penuh darah.

Dae Hyun berjalan semampunya. Meski masih kecil, ia dapat merasakan, ia dapat melihat dengan jelas keadaan ibunya. Ia bahkan menangis.

“Eo-eo-eo-mma.” katanya, terbata-bata. Pertama kalinya ia memanggil ibunya, selama ini masih susah untuknya berbicara.

Ibunya meninggal setelah kejadian itu. Tapi, Dae Hyun sama sekali tidak mengalami trauma dan ketakutan ketika ia beranjak SD. Ia tetap berusaha terlihat kuat, dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Hanya saja, ia merasa sedih jika di kelasnya membahas soal ibu mereka. Membuatnya merasa bersalah.

Ia bahkan berpikir, mengapa tidak ia saja yang tetabrak.

Sejak kejadian itu juga, keluarga mereka menjadi miskin karena harus membiayai rumah sakit dan penguburan ibunya. Dae Hyun sama sekali tidak terganggu akan hal itu, ia tidak takut dengan impiannya menjadi arsitek, ia percaya ia masih bisa mewujudkan mimpinya.

Ketika Dae Hyun berada di SMA, impiannya sama sekali tidak berubah. Ayahnya juga mendukung anaknya, dan rela mencari uang demi mengkuliahkan anaknya itu. Dae Hyun sendiri juga bekerja paruh waktu, agar ia bisa membantu ayahnya.

Ia orang yang tegar. Mirip ayahnya.

Tapi, hingga pada akhirnya, polisi datang ke rumahnya. Ia menjelaskan, bahwa ayahnya dimasukkan ke dalam penjara, karena membawa benda-benda tajam. Ia kecewa, ia kesal. Seseorang yang dianggapnya hebat, malah melakukan hal kriminal. Dae Hyun semakin benci dengan hidupnya, ia berpikir ia masih punya pengharapan, tapi tidak. Ayahnya mengecewakannya, ia bahkan sudah tidak memikirkan impiannya itu.

Ia memutuskan untuk meninggalkan rumah kontrakkan. Ia bahkan memutuskan kontrak rumah. Dae Hyun mencari kerja ke mana-mana. Ia pernah mengantar koran, menjadi pelayan dan seorang kasir.

Hingga pada akhirnya, ia menyelamatkan Mi Jung di bus. Ia sudah tertarik dengan gadis itu. Hingga terus menerus berjalan, ia ditawarkan menjadi bodyguard. Sebenarnya, Dae Hyun sama sekali tidak suka dengan pekerjaan itu. Tapi, ia punya target. Kim Mi Jung. Perempuan itu yang membuatnya memilih menjadi seorang bodyguard.

Dan saat itulah, ia merasa masih ada pencerahan dalam hidupnya.

Flashback END

Air mata Dae Hyun mengalir. “Aku bodoh appa, aku sangat bodoh.”

“Tidak, kau tidak bodoh. Appa memaafkanmu selalu, bahkan tidak merasa kau bersalah. Appa yang salah, maafkan appa.” jawab ayahnya, sambil bersujud. “Aku mohon, berikan aku hukuman apa saja.”

Dae Hyun menggeleng. “Ani, kau sama sekali tidak bersalah. Kumohon, jangan seperti ini.” jawabnya. “Kau, boleh meminta apapun, padaku. Kumohon, minta apa saja padaku. Satu saja, anggaplah ini sebagai maafku.”

Ayah Dae Hyun menoleh ke arah putranya itu. “Jauhilah gadis yang kau jemput kemarin malam. Pergi dari keluarga itu.”

“A-apa maksud appa?” tanya Dae Hyun, terkejut.

Ayah Dae Hyun bangkit berdiri. “Kau mencintainya kan? Jujurlah.”

Dae Hyun menatap tak percaya ke arahnya. Matanya bergetar takut.

“Aku sudah tahu mengenai keluarga gadis itu, dan kau dilibatkan. Ia ingin menikah, ia mengatakan padaku untuk memutuskan itu. Ia akan menikah dengan seorang pria, dan itu bukan kau.” kata ayah Dae Hyun. “Jauhilah dia, kau sudah tidak ada harapan sama sekali.”

Dae Hyun menatap ayahnya tidak percaya. Menikah dengan pria, dan itu bukan dirinya. Nafasnya sesak seketika. Dalam hati, ia tidak mau, ia ingin memiliki gadis itu, gadis impiannya sejak beberapa tahun yang lalu, gadis harapannya di masa depan.

Ciuman palsu. Dae Hyun menyadari itu.

Yura duduk di ruang tamu apartemen Hoya. Hoya malah terus sibuk dengan gambar bangunan yang ada di atas meja kerjanya. Yura menatap namjachingunya tajam.

“Kau kenapa? Ada apa menyuruhku ke sini?” tanya Yura.

Hoya menoleh sedikit ke arah Yura. “Tampaknya, kita harus mengakhiri hubungan kita.”

Yura membulatkan matanya. “Mwo? Apa maksudmu?”

Hoya bangkit dari tempat duduknya, dan menatap Yura yang sudah berdiri di depannya. “Zelo? Kau menyimpan rasa padanya bukan? Aku tidak mau memaksamu untuk terus bersamaku. Dan, aku juga akan sibuk dengan pekerjaanku, aku tidak mau kau kecewa padaku.”

“Zelo? Apa kau cemburu, kami berdua hanya teman sekelas dulu. Dan, pekerjaan? Aku mau mengertimu, aku tidak pernah marah bukan karena pekerjaanmu?” jawab Yura, menahan isaknya.

“Aku tidak mau memaksa dirimu.”

Yura menatap Hoya tak percaya. Air matanya mengalir. Ia langsung berlari menuju pintu apartemen Hoya. Tapi, sebelum ia ke luar, ia melihat ke arah foto yang terpajang di dinding tembok. Fotonya bersama Hoya. Tangisannya semakin deras. Ia merindukan masa-masa itu.

Bodoh. Kenapa aku bisa terjerat dengan Zelo? Ia hanya memainkan perasaanku,

dan juga Kim Mi Jung.

To be Continued

HALLO READERS !! ^^ Maaf ya lama banget, dan Chapter ini banyak banget kekurangan, ini dibikin di tengah” UKK, ekspres juga ngerjainnya, cepet”, soalnya udah kelamaan, wahh, maafkan Author yaa, Chapter ini berantakkan banget T___T Bahkan itu setengah dibikin di sekolah, pas ada presentasi, dan Author liat presentasi temen, tapi tangannya ngetik dengan ngebutnya *jangan ditiru!*

Lalu, Chapter ini banyak percakapan ya? Maaf yaa, udah semaksimal mungkin supaya jadi dimengerti. Aduh, pokoknya ini parah banget deh, sungguh minta maaf, udah telat, jelek pula, typo mungkin di mana” T___T Oh, ya, maaf juga comment” kalian belum dibales, ini aja buat bikin FF nya waktunya masih kurang :” MAAF SEBESAR”NYAA T___T

Okok, cukup di sini curhatnya :’) Semoga alurnya dimengerti yaa T___T

JANGAN JADI SILENT READERS, COMMENT AND LIKE KALO UDAH BACA. JIKA ADA KESALAHAN, SILAHKAN LAPOR!

Thanks for Reading ^^

64 responses to “I Need a Good Husband [ Chapter 8 – Dae Hyun’s Story ]

  1. wahhh yura kok jahat sama mijung.. padahal kan mijung gk salah atuhh 😦
    daehyunnya kasian 😦 jd sedih pas baca masa lalunya 😦
    feelnya dapet 🙂 nice ff 🙂

  2. ish, bener2 yh. Cinta itu rumit bgt deh. Kalo akhir’a seperti itu,bnyk yg trsakiti kan. Masa nanti mijung sama gikwang thor trus yura sama zelo. Yah pupus sudah harapan qu, mijung sama zelo gk jdian.

  3. tuh kan bener paman yg waktu itu appanya Dae2 🙂 chapter ini dapet feelnya. gak kebayang deh gmn jd DaeHyun hati+perasaannya, ksian 😦
    demi apapun authornya keren 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s