I Want a Baby – Part 7

i-want-a-baby1

Author: Ulfah_Naziah

Title: I Want a Baby

Main Cast:

·         Lee Donghae (SJ)

·         Jane Han (OC)

Support Cast:

·         Find by yourself

Genre: Drama, family, marriage life

Rating: PG-16

Disclaimer: Cerita ini ngambil plot dari film india, kalau nggak salah judulnya ‘Chori-chori, cupke-cupke’. Yang diperankan salman sama Rani. Ketahuan ya, suka film indianya. Kekeke~ Habisnya aku suka banget, nget, nget~ sama film itu, ditambah dengan imajinasi liarku.

Credit poster: Mira~Hyuga, posternya keren~~^^

Warning: Typo, cerita gaje, alur lambat, PERPINDAHAN WAKTU SANGAT CEPAT dan kekurangan yang lainnya. .—.v

A/N: Maaf~~ karena updatenya lama banget. (^.^)v Happy reading dan semoga nggak ngecewain+ngebosenin. Enjoy!

Story 7

“Selamat.”

“Ne?”

“Istri anda positif hamil.” Ucap dokter yang baru saja selesai memeriksa Seorim, dokter berjenis kelamin perempuan itu mengulurkan tangannya kehadapan Donghae. Sementara pria itu hanya bisa menatap dokter itu tidak percaya, beberapa detik kemudian ia lalu menyambut uluran tangan itu.

“Khamsahamnida.” Sahutnya, Jane yang memang duduk disebelah Donghae yang pastinya ikut mendengarkan penjelasan dokter tadi, tersenyum antusias kearah suaminya. Beberapa detik kemudian ia melingkarkan tangannya untuk memeluk Donghae saking senangnya.

Seorim yang baru saja turun dari brankar pemeriksaan hanya tersenyum simpul mendengar kabar ini.

“Kita akan segera memiliki bayi Hae, bayi kita.” Seru Jane senang, Donghae mengangguk kemudian membelai wajah istrinya itu sayang.

Di lain pihak sang dokter kandungan tadi menatap menatap mereka dengan tatapan yang menyiratkan rasa kebingungan. Ia tidak mengerti, kenapa perempuan yang dirinya ketahui bernama Jane itu terlihat lebih antusias dari pada si ibu hamil sendiri?

“Maaf, sepertinya siapa yang hamil disini?”

***

“Kau harus menjaga bayi kita dengan baik Seorim~a.” Ujar Jane mengusap perut Seorim yang terlihat masih datar. Wajar saja sih, usia kandungannya baru dua minggu.

“Ne.” Sahut Seorim ikut mengusap perut datarnya, mulai sekarang didalam perutnya telah tumbuh seorang janin.

Jane mengangguk dan kembali menarik sudut-sudut bibirnya untuk tersenyum. Sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit kembali lagi kerumah, ia tidak bisa berhenti tersenyum. Entahlah, ia merasa sangat senang mendekati bahagia malah ketika mengetahui bahwa Seorim sedang mengandung.

Penantiannya selama dua bulan ini membuahkan hasil, ia akan segera memiliki bayi dan hanya mengetahui kenyataan itu mampu membuatnya senang.

“Istirahatlah, ibu hamil harus banyak istirahat.” Titah Jane setelah beberapa saat mereka menghabiskan waktu dengan hanya saling diam. Jane lalu mengendikan kepalanya kearah ranjang king size dikamar itu.

“Hmm, gomawo.”

Jane menggeleng, “Yang harusnya berterimakasih itu aku.” Jane meremas bah Seorim pelan setelah itu berjalan keluar dari kamarnya –yang sekarang ditempati Seorim. Tak lupa ia menutup pintu setelahnya.

Jane masih melangkahkan kakinya menuruni tangga rumahnya begitu pandangannya tidak sengaja tertuju pada sosok suaminya yang tengah duduk di sofa dengan gagang telfon ditangannya. Jane mengernyit sesaat dan kemudian memutuskan untuk menghampiri Donghae.

“Kau menghubungi siapa Hae?” Tanya Jane begitu ia sudah sampai dihadapan suaminya. Donghae menoleh sebentar, kemudian menarik Jane untuk duduk dipangkuannya.

“Oemma, aku ingin memberitahukan tentang ini padanya.” Jawab Donghae, mulai mendial rangkaian nomor yang sudah di hapalnya diluar kepala. Jane hanya mengangguk menanggapi, kemudian mendekatkan telinganya kearah gagang telfon mencoba ikut mendengarkan.

Terdengar nada sambung yang monoton selama beberapa detik tapi didetik berikutnya suara nyonya Lee menyahut.

“Yeoboseyo?”

“Oemma…”

“Donghae~a, kau kah ini?” Tebak nyonya diseberang sana terdengar sedikit antusias, mungkin karena mereka sudah cukup lama tidak menghubungi ibu dan keluarganya di Mokpo sejak mereka berdua kembali ke Seoul.

“Aku mempunyai kabar gembira untuk kalian.” Dengan iseng Donghae mencium pipi Jane sekilas yang langsung disambut dengan pukulan pelan Jane dibahu pria itu.

“Kabar gembira? Mwoya?” Tanya ibunya penasaran.

“Jane hamil lagi oemma.” Sahut Donghae cepat.

Tidak ada sahutan selama beberapa saat setelahnya, membuat Donghae merasa cemas dengan reaksi ibunya tapi beberapa detik setelah itu terdengar suara tangisan tertahan diseberang sana membuat Donghae seketika menjadi panik.

“Oemma, kau menangis? Wae?”

“Oemma hanya menangis bahagia. omo, apakah ini nyata? Astaga, menantuku hamil kembali….Donghwan! sukjin~ssi, Jane hamil!” Teriak nyonya Lee memanggil ayah Jane dan kakak laki-laki Donghae, beberapa saat setelahnya terdengar suara-suara lain menyahut.

“Oh ya Tuhan. Jane. Putri appa, ini berita yang sangat menggembirakan.”

“Astaga Jane, selamat. Adik bodoh, kau harus menjaga kandungan istrimu dengan baik.” Terdengar celotehan-celotehan heboh diseberang sana, semua yang ada disana sepertinya benar-benar bahagia mendengar kabar ini.

“Pasti, aku akan menjaga kandungannya dengan baik.”

“Oh ya Tuhanku, aku akan mempunyai cucu kembali.” Pekik nyonya Lee dan ayah Jane hampir bersamaan, “Terimakasih Tuhan.” Kali ini suara nyonya Lee menambahkan.

“Kalau begitu aku tutup telfonnya, aku hanya ingin menyampaikan kabar gembira ini pada kalian.” Ucap Donghae ketika cukup lama ia hanya diam mendengarkan euforia kebahagiaan dari mereka. Setelah mendapat sahutan dari ibunya, Donghae kemudian mengakhiri pembicaraan mereka.

Klik!

Sambungan terputus, Donghae kembali menyimpan gagang telfon itu di tempatnya dan tersenyum menatap istrinya.

“Hae…” Ucap Jane pelan, ia menggigit bibir bawahnya dan menatap suaminya itu dengan tatapan gelisahnya.

“Wae yeobo?” Tanya Donghae lembut, mengusap pelan pipi putih Jane. Wanita itu menutup kedua matanya, menahan tangan Donghae untuk tetap berada di pipinya, menikmati sentuhan penuh kasih sayang pria itu.

“Apa tidak apa-apa kalau kita berbohong seperti itu pada mereka? Yang hamil itu bukan aku tapi Seorim, aku—“

“Ssshh~ lihat aku Jane.” Donghae menginterupsi perkataan Jane dan menyuruh istrinya itu untuk menatapnya, Jane menurutinya.

“Semua akan baik-baik saja. Kau percaya padaku kan?” Tanya Donghae menatap dalam-dalam mata Jane. Wanita itu terlihat menggigit bibir bawahnya dan menggerak-gerakan kedua bola matanya gelisah, walau bagaimana pun mereka tetap saja membohongi keluarganya. Dan Jane sama sekali tidak menyukai hal itu, tapi kalau ini adalah cara satu-satunya mau bagaimana lagi. Lagi pula Jane percaya pada Donghae.

Dengan menghela napas pelan, Jane perlahan menganggukan kepalanya.

“Aku percaya padamu.”

***

“Seorim~a, aku buatkan susu ibu hamil untukmu.” Seru Jane mengedarkan pandangannya kesekeliling mencari keberadaan wanita itu sambil memegang segelas susu yang baru saja selesai dibuatnya.

Ia tersenyum begitu melihat Seorim sudah duduk dikursi makan dengan sandwich tuna yang terlihat sudah tidak berbentuk karena wanita itu memotongnya secara tidak karuan.

Jane menggeleng sekali kemudian berjalan menghampirinya.

“Ini, susu untukmu.” Seorim mendongak ketika melihat Jane menyerahkan segelas susu kearahnya, wanita itu menatap susu itu dengan pandangan aneh –mendekati jijik.

“Apakah harus?” Tanyanya tidak yakin, ia benar-benar tidak berselera untuk meminum atau memakan apapun hari ini. Lidahnya terasa sangat pahit untuk merasakan apapun, seperti kehilangan fungsinya.

Jane mengangguk pasti, “Tentu saja, ibu hamil harus banyak meminum susu. Sangat baik untuk pertumbuhan bayi.” Jelas Jane, mengangsurkan segelas susu yang dibuatnya itu ketangan Seorim, menyuruh perempuan itu untuk segera meminumnya.

“Jane, lidahku terasa sangat pahit sekarang.” Sahut Seorim terdengar memelas, ia menggelengkan kepalanya beberapa kali. Sungguh, indera pengecapnya itu benar-benar tidak berfungsi baik hari ini. Buktinya ia sama sekali tidak memakan sandwich di hadapannya dan hanya memainkannya dari tadi.

“Ayolah Seorim, bayi kita perlu asupan gizi yang cukup.” Ucap Jane tak kalah memelas, Seorim menatap Jane dengan ragu. Sedikit merasa tidak enak, Jane sudah membuatkannya susu untuknya dan seharusnya ia menghargai itu.

Dengan bermodalkan alasan itu akhirnya Seorim mengangguk dan mulai meneguk susu itu sambil sesekali mengernyit tidak enak.

“Jane, aku berangkat sekarang.” Suara Donghae yang bergema diruangan itu membuat kedua wanita yang ada disitu menoleh secara serentak. Donghae terlihat sudah rapi dengan kemeja dan jas yang membalut tubuhnya, siap untuk pergi ke kantor.

Jane mengernyit menatap penampilan suaminya, terasa ada yang kurang.

“Tunggu Hae…” Cegah Jane yang sukses menghentikan langkah suaminya, Donghae menoleh kemudian mengernyitkan alisnya dengan tatapan bertanya.

Jane mengulum senyumnya, berjalan menghampiri suaminya. Ia menatap Donghae sesaat setelah itu mengulurkan tangannya untuk membetulkan dasi yang dikenakan Donghae –terlihat masih belum rapi.

“Dasimu.” Ucap Jane sekaligus menjelaskan kebingungan yang masih tertera di wajah Donghae.

“Ah…” Donghae mengangguk dan membiarkan istrinya itu untuk membenarkan ikatan dasinya. Pria itu kemudian mengukir senyuman melihat ekspresi serius yang diperlihatkan Jane. Terlihat sangat manis –menurutnya.

“Selesai,” Jane menepuk dada Donghae pelan dan membetulkan jas yang dikenakan suaminya, “Kau terlihat tampan sekarang.” Kekeh wanita itu.

“Thanks sayang.” Sahut Donghae mengelus rambut Jane lembut dan kemudian mencium keningnya dalam dan sayang, “Aku berangkat dulu.” Pamit Donghae mengelus sesaat pipi Jane, setelah itu memberikan senyum tipis untuk Seorim yang duduk tak jauh dari mereka.

“Hati-hati.”

Donghae mengangguk kemudian mulai berjalan keluar dari rumahnya. Tak lama setelah itu Jane bisa mendengar suara mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah mereka.

.

Seorim membekap mulutnya begitu ia merasakan kalau ia akan mengeluarkan semua isi perutnya. Bangkit berdiri, wanita itu mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi. Jane menatap mengerutkan keningnya menatap bingung Seorim yang begitu terburu buru masuk kedalam toilet. Tapi rasa bingungnya itu tidak bertahan lama karena ia bisa mendengar Seorim memuntahkan semua isi perutnya.

“Hoek~” Seorim menundukan kepalanya kearah wastefel, menyalakan keran dan mulai membasuk mulutnya. Sudah beberapa kali dalam pagi ini dia muntah seperti ini dan hal itu membuatnya lelah dan juga lemas.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Jane ikut mengikuti Seorim kekamar mandi dan mengulurkan handuk kecil untuk perempuan itu.

“Ya, kurasa. Apakah seperti ini orang yang sedang hamil?” Tanya Seorim menyandarkan tubuhnya di pinggiran wastafel.

Jane mengangguk dan kemudian terkekeh geli, “Ya, dulu aku juga seperti itu. Tapi itu tidak berlangsung lama, nanti juga tidak lagi kok.” Jelas Jane memijat tengkuk Seorim, melakukan apa yang dilakukan Donghae dulu padanya ketika ia muntah-muntah seperti ini.

Jane tersenyum kecut ketika mengingat itu semua.

“Aku tidak menyangka hamil akan merepotkan seperti ini.” Keluh Seorim mengusap perutnya membuat Jane tertawa geli lagi. Ia tidak menyangka bahwa Seorim akan mengatakan hal yang sama yang pernah dikatakannya dulu pada Donghae.

‘Aku tidak menyangka hamil akan merepotkan seperti ini.’

Hah, sungguh menggelikan!

***

Donghae memarkirkan mobilnya di parkir area, setelahnya direktur muda itu keluar dari kendaraan mewahnya. Mulai berjalan memasuki perusahaannya dan sesekali tersenyum tipis ketika ada pegawainya yang menyapa.

Langkahnya terhenti ketika ia sudah sampai didepan ruangannya.

“Sir, Hyukjae~ssi dan Kyuhyun~ssi sudah menunggu anda.” Interupsi Im Yoona –sekertarisnya- memberitahukan bahwa ada dua sahabatnya yang ada diruangan atasannya itu.

Donghae hanya mengangguk menanggapi, perlahan mulai membuka pintu dan masuk kedalamnya. Dan memang benar, begitu ia masuk matanya langsung menangkap dua sosok pria yang sedang duduk di sofa disamping mejanya, terlihat sedang mengobrol satu sama lain masih belum menyadari kehadiran Donghae disana.

“Menunggu lama?” Ujar Donghae menginterupsi obrolan mereka, kedua pria tampan itu secara serentak menoleh kearah sumber suara.

“Tidak juga, kami baru sepuluh menit disini.” Sahut Hyukjae.

Donghae mengangguk mengerti kemudian berjalan menuju kekursi kebesarannya, membuka jas yang dipakainya lalu menggantungkannya di pole hanger.

“Untuk apa kalian datang keruanganku pagi-pagi seperti ini?” Tanya Donghae duduk dikursinya, mulai membuka dan mendatangani berkas-berkas yang sudah menumpuk diatas mejanya itu.

“Jadi kita tidak boleh datang kesini, begitu?” Kyuhyun menyahut dengan nada datarnya, walau pun diselipi dengan nada bercanda di kalimatnya.

“Bukan begitu, hanya saja terasa aneh dan tidak biasa.” Jawab Donghae sekenanya, konsentrasinya terbagi dua sekarang antara menandatangani dokumen-dokumen ini dan berbicara dengan kedua temannya.

“Donghae?”

“Hmm?”

“Kau terlihat berbeda pagi ini.” Ucap Hyukjae setelah beberapa saat ia mengamati pria itu, sepertinya ia yang paling peka diantara mereka bertiga.

Donghae mendongak menatap pria itu begitupun dengan Kyuhyun.

“Berbeda….maksudmu?” Tanya Donghae tidak mengerti.

“Ini hanya perasaanku, tapi pagi ini kau terlihat lebih fresh dan banyak tersenyum. Ada apa? Apa sesuatu yang menyenangkan telah terjadi?” Tanya Hyukjae membuat Donghae seketika mendengus geli.

“Benarkah?”

Hyukjae memutar kedua bola matanya jengah sebagai balasan. Donghae tergelak kemudian memutar-mutar bolpoin ditangannya.

“Akhir-akhir banyak hal terjadi yang membuatku senang.”

“Apa tentang Jane?” Tebak Kyuhyun tertarik. Donghae mengangguk dan kembali mengukir senyumannya, membenarkan tebakan Kyuhyun.

“Dia hamil lagi?” Tebak Hyukjae yang sukses membuat kegiatan Donghae memutar-mutar bolpoinnya terhenti. Pria itu terdiam sesaat, terlihat berpikir. Ia menatap kedua temannya selama beberapa detik sampai akhirnya kepalanya mengangguk mengiyakan.

“Bisa dibilang seperti itu.” Jawab Donghae tersenyum tipis. Ia memutuskan cukup hanya dia, Jane dan Seorim yang tahu tentang rahasia mereka. Tidak perlu ada orang lain lagi yang tahu tentang itu.

“Woah~ sudah kuduga. Selamat kalau begitu.” Hyukjae bersiul sekali, kemudian ikut mengukir sebuah senyuman. Sungguh, ia ikt senang mendengar kabar bahagia ini.

“Selamat direktur Lee.” Timpal Kyuhyun ikut tersenyum juga.

Donghae terkekeh, “Thanks.” Ia berdehem beberapa kali kemudian melanjutkan kembali ucapannya, “Jadi ada hal penting apa yang ingin kalian sampaikan padaku sekarang?” Donghae kembali ke topik utama pembicaraan mereka dan menanyakan tentang maksud kedatangan mereka berdua keruangannya.

“Tentang tender yang kita bicarakan waktu itu, perusahaanmu dan perusahaanku berhasil memenangkannya lagi.” Jelas Kyuhyun menegakan posisi duduknya dan mulai memperlihatkan ekspresi seriusnya.

“Benarkah?” Tanya Donghae antusias, terlihat senang.

“Ya, dan ini akan menjadi proyek besar kita.” Sahut Hyukjae tak kalah antusias.

“Jadi kapan proyeknya akan dimulai?”

***

Seorim keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah, wanita yang masih menggunankan jubah mandi itu lantas berjalan menuruni tangga bermaksud untuk mencari Jane.

Tapi ia tidak berhasil menemukan sosok wanita itu setelah dirinya mencari dibeberapa ruangan yang ada di rumah. Mengernyit begitu matanya tidak sengaja melihat sebuah memo yang ditempelkan di kulkas. Dengan penasaran Seorim mengambil memo itu dan mulai membacanya.

Aku harus membeli beberapa makanan di supermarket, tidak apa-apa kan kalau kau sendirian dirumah?

-jane

Seorim mendengus kecil setelah membaca isi memo yang ternyata dari Jane itu. Tentu saja tidak apa-apa, ia bukan anak kecil yang perlu takut ketika orang-orang meninggalkannya sendirian di rumah.

Hah, Jane. Kau berlebihan sekali mengkhawatirkanku. Pikir Seorim menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan kekehan geli.

Ting! Tong!

Seorim menoleh dan mengerutkan kening mendengar bel pintu rumah berbunyi. Apakah Jane? Tidak mungkin, dia baru saja pergi berbelanja tidak mungkin kalau ia sudah pulang secepat ini.

Donghae? Tidak, pria itu tidak pernah menekan bel dan akan langsung masuk kedalam rumah, lagi pula Donghae masih berada di kantornya pada jam seperti ini. Masih dengan menerka-nerka siapa yang menekan bel rumah, Seorim berjalan menuju pintu bermaksud untuk membukanya.

“Hallo Seorim!”

Deg!

Dengan mata yang terbelalak menatap pria buncit yang waktu itu menamparnya, pria yang selalu melecehkannya, pria yang Seorim benci itu sekarang ada dihadapannya. Tersenyum, memperlihatkan seriangaiannya yang menjijikan di mata Seorim.

Kenapa pria itu tahu kalau ia ada disini? Dari mana ia tahu?

Seorim memundurkan langkahnya kebelakang, bermaksud untuk kembali menutup pintu itu. Tapi gerakannya kurang cepat karena sekarang pria itu berhasil menahan menahan pintu dan masuk kedalam rumah milik Donghae dan Jane itu dengan langkah angkuh.

“Selama ini kau bersembunyi di rumah mewah seperti ini ternyata.” Kimjun, nama pria itu. Tertawa dan berusaha untuk menangkap lengan Seorim yang terus berjalan mundur dengan takut. Tapi Seorim berhasil menepisnya, ia tidak sudi kalau kulit pria menjijikan itu menyentuhnya.

Ia muak, benar-benar muak.

“Jangan sentuh aku!” Seru Seorim keras, tapi pria itu malah terkekeh nyaring menganggap bahwa teriakan Seorim itu hanyalah angin lalu untuknya.

“Kau tahu, aku selama ini mencarimu kemana-mana sayang. Urusan kita masih belum selesai.” Pria itu akhirnya bisa menangkap lengan Seorim, menariknya maju dan mengusap wajah Seorim dengan pandangan menjijikan.

“Kau masih tetap cantik seperti biasanya.” Lanjut pria itu dengan suara yang membuat bulu kuduk Seorim menegang. Ia berusaha meronta meminta untuk dilepaskan dan hasilnya ia malah mendapatkan tamparan keras dipipinya dari pria tidak tahu diri itu, menyebabkan hidungnya mengeluarkan darah segar.

“Jadilah anak yang manis Seorim.” Katanya diselingi dengan kekehan nyaringnya. Pria itu kemudian memegangi wajah Seorim menggunakan sebelah tangannya dengan cengkraman yang keras membuat Seorim meringis.

Air matanya sudah jatuh dari tadi, sekarang ia benar-benar berharap seseorang menolongnya.

“Apa yang kau lakukan di rumah mewah ini? Menjadi wanita simpanan laki-laki yang waktu itu memukulku?” Dengus pria itu mencibir dan semakin mendorong Seorim kearah dinding dan mengunci gadis itu dengan tubuhnya dan dinding dibelakangnya. Mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Seorim.

Seorim meronta berusaha menjauhkan dirinya dari pria itu, ia tidak sudi kalau pria brengsek itu menyentuhnya. Dan matanya tidak sengaja tertuju pada pas bunga yang ada disampingnya, Seorim mengulurkan tangannya berusaha untuk mengambil pas bunga itu dan berhasil.

Tanpa membuang waktu, wanita itu kemudian melayangkan pas bunga itu kearah kepala Kimjun, membuat pria itu terhuyung kebelakang dan langsung memegangi kepalanya yang berdarah, Seorim tidak membuang kesempatan dan segera berlari menjauhi pria itu yang sekarang tengah menatap dirinya dengan amarah yang memuncak.

“Mau kemana kau? Dasar jalang!” Maki pria itu murka, berlari untuk menangkap pergelangan tangan Seorim. Menampar wanita itu sekali lagi dengan keras ditempat yang sama sehingga menimbulkan darah dari sobekan disudut bibirnya yang tergores.

Kepala Seorim serasa berputar menerima tamparan untuk yang kedua kalinya dari pria brengsek itu, sekarang rasa-rasanya untuk lari saja wanita itu tidak bisa. Sebagai gantinya ia hanya bisa terduduk memejamkan matanya siap menerima pukulan yang akan dilayangkan pria itu padanya.

Tapi selama beberapa saat ia menunggu, ia sama sekali tidak merasakan rasa sakit malah ia mendengar pukulan keras lain menghantam pria brengsek itu. Membuka mata perlahan, Seorim mendapati Donghae berada dihadapannya, melindunginya dan sepertinya berhasil mendaratkan satu pukulan di wajah pria itu.

Ia tidak tahu, kenapa ia merasa selega ini ketika melihat Donghae disini untuk melindunginya.

“Apa yang telah kau lakukan, hah?” Seru Donghae mencengkram kerah pria itu dan menatapnya tajam, “Berani sekali kau memukul seorang wanita, dasar brengsek.”

Bugh!

Donghae kembali mendaratkan pukulan di pipi sebelahnya sehingga menimbulkan darah segar disudut bibirnya.

“Hah! Dia hanya seorang pelacur! Kau membuang tenagamu hanya untuk melindungi wanita jalang!” Sahut pria itu menyusut darah di hidung dan sudut bibirnya lalu menatap Donghae dengan tatapan merendahkan yang menjijikan.

Mata Donghae menatap nyalang dirinya, tanpa aba-aba ia memukul pria itu berkali-kali.

“Dia bukan wanita jalang! Kau tidak akan pernah mengerti betapa berharganya ia untuk istriku dan betapa baiknya ia untukku!” Donghae memukul perut pria itu keras sehingga membuatnya terhuyung dan tersungkur begitu saja kelantai.

“Seorim jauh lebih baik dari pada kau, pria brengsek yang hanya bisa menyakiti seorang perempuan.” Untuk terakhir kalinya Donghae memukul muka pria itu yang sudah nampak tidak berdaya.

“Sekarang enyah dari rumahku dan jangan pernah kembali kesini. Aku tidak segan-segan akan membunuhmu bila kau menampakan diri lagi kerumahku. Camkan itu.” Donghae melepaskan cengkraman tangannya dan menyuruh pria itu untuk segera pergi dari rumahnya.

Dengan terhuyung Kimjun pergi meninggalkan rumah itu.

Setelah memastikan pria brengsek itu sudah tidak ada, Donghae segera berjalan mendekati Seorim dan berjongkok disebelahnya.

“Gwaencahana?” Tanya Donghae khawatir, Seorim menundukan menyembunyikan air matanya untuk tidak dilihat oleh pria itu. Ia terlampau terkejut dengan apa yang sudah terjadi.

Tanpa aba-aba terlebih dahulu Donghae segera menggendong tubuh Seorim ala bridal style dan membawanya kedalam kamarnya.

Tanpa sepengetahuan mereka, dibalik pintu Jane terdiam mematung diatas kakinya mendengar dan melihat apa yang sudah terjadi. Ia menatap suaminya yang tengah menggendong Seorim dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Jadi Seorim seorang pelacur?”

~To be Continue~

 

A/N: Maaf atas keterlambatan ngelanjut cerita ini. .___.v

 

 

32 responses to “I Want a Baby – Part 7

  1. Lama ga baca ff ini jadi agak lupa sebenernya ama jalan cerita ffnya
    Tapi sejauh ini jlan ceritanya masih bisa aku pahami 😀
    ga tau kenapaa aku nyesek banget pas baca bagian Seorim ama Donghae, berasa jadi Jane akunya A.A sedihh, kecewa, kesel, dan ribuan perasaan menyakitkan lainnya T__T
    Donghae-Jane ga bisa kan bohong terus suatu saat pasti bakalan ketauan
    Uhmmm rumit yaa hidup mereka A.A
    tapi tetep aja kasiannn banget si Jane, sebenernya Seorim juga kasian sih, kalau anaknya udah lahir terus apa?
    Ga bisa ngebayangin endingnya bakalan seperti apa ff ini u__u
    mudah2an HE untuk semua pihak deh ya 😀

    Menurutku ff ini belum mempunyai konflik yang bener2 ngena
    mungkin penambahan karakter antagonis akan mewarnai ff ini, membuatnya mempunyai konflik klimaks
    maaf kalo aku sok tahu *.* cuma sekedar saran aja kok chingu hehe
    Tapi aku belum tahu sih ke depannya bakalan ada kejutan apa lagi
    tapi sejauh ini ffnya bagus, permainan perasaannya dapet banget, seneng n sedih dalam waktu hampir bersamaan T__T

    Oke ditunggu aja deh lanjutannya
    Hwaiting!

    • Hehehe~ iya, memang rumit kehidupan mereka. u,u
      Yup, kebohongan itu gk selamanya bisa tertutupi. Kayak bau busuk aja, lama-lama bisa kecium jga baunya. 🙂
      Saran diterima, nanti bakal aku pikirkan lagi untuk tambah tokoh antagonis atau gk? Hehehe~

      Thanks for reading cingu~^^

  2. Pingback: I Want a Baby – Part 8 | FFindo·

  3. jane y tau deh siapa seorim,,, haduh ni bikin sedih sekaligus senang…..
    gmn mereka ngejalanin hidup bertiga n apa lg dlm situasi kyk gini yg ngebuat seorim.jatuh cinta ma donghae,,, pa bakal sama kyk film india setiap scene y or ada yg beda…

  4. Onnie . . . . . . . .
    Huhuhu
    *nangis breng eunhyuk oppa *
    critany bgus tp sesak npas wkt bca donghae -seorim *plakk ,lebay *
    lanjt oen smpi ttk drah penghabisan 😀

  5. Pingback: I Want a Baby – Part 9 [End] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s