Love Story of The Sleepaholic [ Part 10 [FINAL] : Wake Me Up with Your Love ]

Love Story Of The Sleepaholicsleepaholicfinal

Title :

Love Story of The Sleepaholic

 

Author : Citra Pertiwi Putri / citrapertiwtiw

 

Genre : Romance, Fantasy, a little bit Comedy

 

Rating : PG15 – NC17

 

Main Casts :

‘A Pink’ Son Naeun

‘INFINITE’ L / Kim Myungsoo

 

Other Casts :

‘ BtoB’ Lim Hyunsik

‘ Hello Venus’ Yoo Ara

‘ Block B’ Ahn Jaehyo

‘ A Pink’ Park Chorong

‘ INFINITE’ Nam Woohyun

‘ A Pink’ Yoon Bomi

‘ A Pink’ Hong Yookyung

‘ A Pink’ Kim Namjoo

‘ Miss A’ Suzy

 

Type : Chaptered

 

Cerita Sebelumnya :

Victoria mulai mencampuri urusan Naeun secara langsung semenjak ia tahu bahwa Chorong, utusannya, melanggar banyak peraturan yang ia buat dengan kesalahan terbesarnya yakni jatuh cinta dengan manusia yang tak lain dan tak bukan adalah Woohyun. Bahkan tanpa ragu, setelah tahu Chorong dan Woohyun memiliki hubungan khusus, Victoria membunuh Woohyun tepat di hari ulang tahun namja itu.

Kepergian Woohyun membuat Naeun sangat terpukul dan tentu semakin takut dengan Victoria yang semakin menghantuinya. Ia sadar sisa hidupnya semakin sedikit, gadis itu tak tahu lagi bagaimana caranya agar Myungsoo mau mencium kedua kelopak matanya, ia tak tahu sampai kapan Myungsoo bertahan dengan egonya yang tidak suka dengan ciuman di kelopak mata itu.

Meski demikian, Naeun tetap merasa cukup bahagia di sisa hidupnya. Myungsoo semakin sayang padanya dan sudah membuat hari ulang tahunnya terasa istimewa karena namja itu membawanya ke Pulau Jeju.

Insiden hampir kebablasan mereka di pulau itu membuat Myungsoo merasa sangat bersalah, namja itu berjanji akan secepatnya menikahi Naeun jika ia sudah menyelesaikan kuliahnya. Namun semua itu terasa tidak mungkin karena waktu Naeun untuk hidup tinggal bersisa kurang dari dua bulan lagi. Apakah gadis itu benar-benar akan mati dan meninggalkan Myungsoo selama-lamanya?

Bagaimana juga dengan nasib Chorong dan Woohyun? Apakah mereka benar-benar bertemu di ‘dunia’ mereka?

Dan bagaimana juga dengan Ara dan Suzy? Sampai kapankah mereka menjadi kekasih Myungsoo yang tak dianggap (?) apakah kisah cinta Ara akan berakhir dengan Hyunsik? Atau mungkin Sungyeol? #eh

Temukan semua jawabannya di part ini.

Selengkapnya :

Part 1 : Bad Girl Side, Mysterious Sunbae, and An Unusual Drug

Part 2 : The Curse is Beginning

Part 3 : Stay Together!?

Part 4 : My New Life is Beginning

Part 5 : Love Alert !

Part 6A : Insomnia

Part 6B : Still Insomnia

Part 7 : First Date

Part 8 : Unforgettable Things

Part 9 : Last Date

NB : Hai hai readers.. masih ingat ff ini? Mohon maaf karena author tidak update selama 1 minggu karena hiatus, tadi rencananya mau hiatus 2 minggu tapi karena author sama sekali gak kena remedial jadi author cepet comeback. Makasih ya readers atas doanya, sekarang tolong doakan semoga author ranking 1 di kelas ._. #ngelunjak-_-

Okay, back to ff. Sesuai janji author, part 10 adalah part akhir dan part ini tentu saja SANGAT PANJANG (menurut author). Semoga kalian gak puyeng ngebacanya ya, author bener-bener mikir keras buat part ini, bahkan selama ulangan kemaren aja pas udah selesai ngerjain soal dan belom berani ngumpul lembar jawaban author bengong di kelas sambil mikirin part ini #yaelahcurhat-_-

Yaudahlah daripada author banyak cingcau *cingcong -_-*, mari mulai baca ffnya xD ~

THIS IS FINAL PART ! HAPPY READING ! and.. be careful with some rated scene.

***

 

Naeun POV

 

Sore ini hujan kembali mengguyur Seoul. Aku dan Myungsoo baru saja tiba dari bandara, kami sudah kembali dari Jeju dan kini sibuk dengan kegiatan kami  sendiri di dalam apartemen tanpa saling bicara.

Insiden kelewatan yang kami lakukan di Jeju semalam membuat kami menjadi kembali canggung satu sama lain, bukan malah menjadi semakin dekat. Myungsoo sepertinya terlalu merasa bersalah sampai-sampai hari ini menyentuhku pun tidak, bahkan ia berbicara seperlunya saja, benar-benar seperti kembali menjadi gunung es. Padahal aku sudah memaafkannya. Lagipula semalam aku merasa bahwa akulah yang memulai, bukan dia.

Aku baru saja bangun tidur dan rasanya malas beranjak, badanku masih terasa sakit, entah karena lelah atau karena apa yang telah kami perbuat semalam, aku masih berbaring sembari menatap jendela yang berembun. Kurasa aku ingin tidur lagi, tapi udara sangat dingin, padahal aku sudah memakai dua lapis selimut. Seandainya saja sekarang Myungsoo tidak sedang sibuk berkutat dengan laptopnya, aku ingin dia memelukku sebentar saja.

Tapi rasanya tidak mungkin, hari ini, atau mungkin besok dan seterusnya dia akan bersikap seperti sekarang, ia pasti trauma dengan apa yang kami lakukan semalam. Aneh, seharusnya kan yeojanya yang trauma, ini malah namjanya -_-

 

“ Mau kemana?”tanyaku ketika aku melihatnya berdiri dan mengambil tasnya.

“ Kerja.”jawabnya singkat tanpa menoleh sedikitpun kearahku.

“ Kerja? Oppa, kau tidak lelah? Kita kan baru pulang. Sebaiknya istirahat saja.”

“ Aku tidak lelah. Kau saja yang istirahat.”

Ck, mengapa bahasa kami menjadi formal begini?

Tanpa meninggalkan sedikit perlakuan romantis padaku, Myungsoo keluar dari apartemen dan berangkat menuju Infinite Cafe, tempat kerjanya.

“ Hati-hati di jalan!” aku sedikit berteriak, namun ia tidak menyahut.

Aku sedih dengan perlakuannya saat ini. Jika mulai saat ini ia akan terus seperti itu padaku, semakin hilang harapanku untuk memintanya mencium kedua kelopak mataku ini. Kurasa aku memang benar-benar akan mati di tangan Victoria.

Aku sudah lelah mengharapkan Myungsoo, meski aku sudah berhasil merebut hatinya, aku tetap tidak bisa meruntuhkan sikap dinginnya.

*****

 

Author POV

 

“ Jadi, kau ingin menambah jam kerjamu?”

Myungsoo mengangguk saja ketika manajer Sunggyu bertanya padanya. Tetapi wajahnya terlihat serius.

“…kenapa tiba-tiba ingin menambah jam kerja?” tanya manajer itu lagi, “…gajimu sudah besar, kau tidak perlu bekerja seharian.”

“ Tapi aku ingin gajiku lebih besar lagi dari itu.”jawab Myungsoo. Memang terdengar matre, tapi ia tidak peduli karena memang itu tujuannya ingin menambah jam kerjanya di dapur Infinite Cafe.

“ Kurasa kau sedang butuh sesuatu, sampai-sampai ingin gaji yang lebih besar lagi.”kata Sunggyu. Myungsoo membenarkan.

“…jinjja? memangnya kau sedang butuh apa?”tanya Sunggyu lagi, “…jujur saja padaku.”

Myungsoo sedikit bingung, tetapi namja itu menjawab dengan tegas.

“ Aku ingin menambah tabunganku. Untuk masa depan.”

“ Mwo? Apa kau…”

“ Aku ingin menikah.”ucap Myungsoo lagi, hingga untuk kedua kalinya mata Sunggyu yang sipit margupit (?) itu melotot lagi.

“ Hah?? Menikah???”

Myungsoo mengangguk yakin. Sedikit bingung dengan nada suara Sunggyu, manajernya itu kaget atau cemburu? Masalahnya, Myungsoo juga pernah dengar dari beberapa pegawai cafe kalau Sunggyu menyukainya.

You know lah, ma to the ho. Maho. *author dilempar jumroh*

Tapi Myungsoo tidak punya waktu untuk mengurusi hal itu. Mau manajernya maho kek, hombreng kek, yang penting dia sendiri masih normal. Dan sekarang Sunggyu memang harus menjadi orang pertama yang tahu keinginannya untuk menikah.

“ Heh, kau serius?” tanya Sunggyu lagi, “…kau ini masih muda, kenapa mau cepat-cepat!?”

“ Muda apanya?” Myungsoo sedikit mengerutkan dahinya, “…aku sudah 22, sebentar lagi 23. Aku tidak mau jadi bujang tua seperti…mu.”

“ Apa kau bilang!?”

“ Eh, enggak enggak ._.”

 

Yoo Ara yang sejak tadi menguping pembicaraan tersebut dari luar ruangan manajer masih berusaha mengatur debar jantungnya. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang dikatakan Myungsoo. Namja itu ingin menikah? Dengan siapa?

Meski merasa masih menjadi pacar Myungsoo, tetap saja Ara merasa pesimis. Selama ini saja Myungsoo sama sekali tidak pernah menjadi pacar yang baik baginya, apalagi latar belakang hubungan mereka juga sama sekali tidak didasari dengan cinta. Ara tidak yakin Myungsoo mau menikah dengannya.

Tetapi kalau bukan dengannya, lantas dengan siapa? Dengan Suzy? Siap-siap aja perang dunia alay ketiga kalo gitu mah.

 

“ Siapa calon istrimu?” tanya Sunggyu pada Myungsoo dengan nada menginterogasi.

“ Yang jelas dia perempuan ._.”jawab Myungsoo sengaja.

“ Saya kecewa ternyata kamu cowok normal :(“

“ Yaelah -___- buruan, ini jadi gimana? Apa boleh aku menambah jam kerja?” Myungsoo udah geregetan, rasanya pengen nyekek manajer maho satu ini.

Sunggyu nampak berpikir.

“ Kalo dia nambah jam kerja, itu artinya tiap hari gue bisa ngeliat dia 1×24 jam. Tapi tetep aja, suatu saat dia nikah ama orang lain. Kenape gak ama gue aja coba? Hiks..”

Myungsoo yang mendengar omongan Sunggyu itu makin ngerasa geli. Amit-amit banget ini manajer -_-

“ Ya sudah kalau tidak mau menambah jam kerjaku. Lebih baik aku keluar saja dan mencari cafe lain.”sekarang Myungsoo mengancam.

“ Eh! Jangan.. jangan begitu. Baik..baiklah. Kau kerja full time mulai besok, dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam, gajinya kutambah dua kali lipat. Puas?”

“ Nah, gitu kek dari tadi.” Myungsoo puas sekarang, setelah berpamitan ia langsung keluar dari ruangan Sunggyu sebelum manajer maho itu ngegrepe-grepe dia (?)

 

“ Kau..mau menikah?”

“ Eh!” Myungsoo terkejut karena Ara nongol ketika ia baru saja keluar dari ruangan Sunggyu, “…sedang apa kau?”

“ Nguping.” Ara mengaku saja. Myungsoo jadi sedikit kelabakan.

“…kau benar mau menikah?” Ara mengulang pertanyaannya, Myungsoo lebih memilih untuk pura-pura tidak mendengar, namja itu kembali ke dapur. Ia masih belum siap jika ia harus berkata sejujurnya pada Ara, ia tak mau Ara langsung melapor pada Hyunsik karena urusannya pasti akan panjang kalau begitu.

“…kau lupa kita masih pacaran?? Kau mau meninggalkan aku, begitu??” Ara mengikuti Myungsoo dan mulai mencecar namja itu dengan berbagai pertanyaan, nada suaranya yang keras membuat semua pegawai cafe menoleh kearah mereka.

“ Kau tidak lihat aku sedang sibuk?” Myungsoo menanggapi dengan malas, tetapi Ara terus-terusan mendesaknya.

“ Katakan padaku siapa yang mau kau nikahi! Suzy???” tanya Ara lagi sembari menahan tangan Myungsoo agar namja itu tidak mengurusi hal yang lain.

“ Bukan.”

“ Lantas??”

Myungsoo tak menjawab, menyebut nama Naeun di depan orang lain adalah hal yang paling sulit baginya. Meski Naeun sudah bersedia keberadaannya bersama Myungsoo diketahui oleh orang lain, tapi tetap saja Myungsoo merasa tak sanggup mengungkapkannya, ia masih ingin melindungi Naeun entah sampai kapan.

“ Lalu hubungan kita bagaimana, L!? Kau mau meninggalkan aku begitu saja!? Kau jahat!!!!” Ara semakin mengeraskan volume suaranya, bahkan gadis itu hampir saja menangis.

Myungsoo masih diam dan wajahnya terlihat tidak kasihan sama sekali pada Ara yang sudah menitikkan air mata. Seisi cafe yang melihat pembicaraan mereka pasti sudah berasumsi kalau Myungsoo adalah namja brengsek. Tapi apa pedulinya? Ara yang sejak tadi mencari perhatian.

“ Mengapa tidak menikah denganku?? Apa karena keluargaku yang masih benci padamu?? Apa karena itu???” tanya Ara lagi.

“ Bukan.”

“ Lalu karena a…..”

“ Karena aku tidak mencintaimu. Puas?”

“ A..apa kau b….”

“ Kau sudah menghancurkan persahabatan kita, Yoo Ara. Seandainya kau tidak egois, aku pasti tidak akan seperti ini padamu.”

Ara terdiam, baru kali ini ia tahu Myungsoo bisa sejahat itu, ini sama saja artinya dia sudah dicampakkan di depan banyak orang.

Karena sudah tidak tahan dengan semua kalimat menyakitkan Myungsoo, Ara mengambil tasnya dan melepas topi chefnya, meninggalkan pekerjaannya dan keluar dari cafe sembari terus menangis.

Myungsoo hanya bisa menatap kepergian Ara dengan tatapan kosong. Sulit rasanya untuk merasa bersalah, karena memang Ara yang memulai semuanya.

*****

 

“ Cup cup cup.. udah jangan nangis.” Yookyung menepuk-nepuk punggung Ara yang masih gemeteran.

“ Iya, ntar cantiknya ilang loh.”lanjut Bomi sembari mengambilkan Ara sekotak tisu lagi.

“ Biar aja deh cantiknya ilang, bagus, biar Hyunsik oppa gak naksir lagi sama lo.”kata Namjoo.

“ Heh! Sotoy amat lo! Orang lagi sedih juga!” Bomi langsung nginjek kaki Namjoo.

“ Sorry ._.v”

 

Semenjak insiden keroyokan gak mutu Suzy cs, Ara jadi akrab dengan Yookyung, Bomi, dan Namjoo karena sahabat-sahabat Naeun itulah yang menolongnya dari serangan Suzy cs saat itu. Akhirnya sekarang disaat butuh banget temen curhat, Ara meminta ketiga cewek itu untuk datang ke rumahnya.

“ Sorry telat.”seseorang tiba-tiba nongol di ambang pintu.

“ Eh, Hyunsik??” Ara terkejut, mengapa orang sok asik itu (?) dateng tiba-tiba? Ara jadi malu sendiri, lagi mewek begini tiba-tiba diliat Hyunsik.

“ Loh, ada apa oppa kesini??” tanya Bomi dan Yookyung bingung.

“ Gue yang manggil.”kata Namjoo bangga (?)

“ Wah, bagus. Ternyata lo inisiatif juga ya manggil Hyunsik disaat Ara nangis!”

“ Hah? Kagak, orang gue manggil Hyunsik karena gue kangen ._.”

“ Lawak lo ah -_-“ Bomi dan Yookyung udah males. Apapun alasan Namjoo manggil Hyunsik kesini, yang penting namja itu sudah ada disini, namja itu memang perlu tahu apa yang membuat Ara menangis.

“ Hei, kau kenapa?” Hyunsik agak kaget melihat wajah Ara yang berlumuran air mata. Dan ketika ia bertanya, Ara malah semakin mewek.

“ Ituloh oppa.. dia dicampakkan pacarnya.”kata Bomi, Yookyung, dan Namjoo.

“ Hah? Maksudmu.. L?”

Mereka mengangguk.

“ Dicampakkan bagaimana?” Hyunsik tidak mengerti.

“ Jadi kata Ara, tadi di cafe dia denger kalo L mau nikah. Pas Ara nanya mau nikah ama siapa, dia kagak ngejawab. Yang jelas bukan sama Ara, bukan juga sama Suzy. L bilang kalo dia gak cinta sama Ara..”

“ Hah???” Hyunsik makin tidak mengerti, ia langsung merangkul Ara yang masih mengeluarkan air mata.

“…kalau L sama sekali tidak mencintaimu, mengapa saat itu kalian bisa sampai pacaran? Tolong jelaskan padaku. Aku sama sekali tidak mengerti masalahmu.”kata Hyunsik pelan.

Ara masih berusaha mengatur nafasnya yang tidak karuan karena menangis sejak tadi, ia masih belum sanggup bicara didepan namja itu.

Meski perasaannya masih kacau, selama menangis Ara berpikir keras. Haruskah ia mengatakan pada Bomi, Yookyung, Namjoo dan Hyunsik kalau ia berpacaran dengan Myungsoo hanya karena sebuah ancaman? Kalau ia menceritakannya, pasti mereka akan penasaran setengah mati karena hal itu ada sangkut-pautnya dengan Naeun. Tetapi Ara merasa informasi yang ia miliki sangatlah kurang, ia hanya melihat Naeun keluar dari klub malam itu bersama Myungsoo, itu pun sudah lama terjadi. Sekarang ia sama sekali tidak tahu apapun tentang Naeun karena Myungsoo pandai merahasiakannya.

 “…sudah tenang?” tanya Hyunsik lagi ketika Ara mulai berhenti menangis.

Gadis itu mengangguk dan tersenyum tipis, “ Jadi.. sebenarnya..” Ara memulai penjelasannya dan memilih untuk bicara jujur.

“…sebenarnya aku dengan L hanya sahabat sejak SMA. Tapi.. aku memang menaruh perasaan padanya. Aku tidak pernah berani menembaknya karena takut ditolak. Hingga ada suatu kejadian yang aku lihat dan L memintaku untuk merahasiakannya. Hal itu aku manfaatkan untuk memiliki L, aku hanya akan merahasiakan kejadian yang aku lihat itu jika L mau menjadi pacarku. Akhirnya.. dia terpaksa mau menjadi pacarku.”

Keempat orang didepannya masih belum sepenuhnya paham. Atau lebih tepatnya, penasaran dengan kejadian apa yang harus dirahasiakan Ara, dan Ara yakin mereka pasti mempertanyakan kejadian apa yang ia maksud.

“…kejadian itu aku lihat kurang lebih sebulan yang lalu. Saat adikmu yang bernama Naeun itu belum lama dikabarkan hilang. Aku..” Ara menggantung kalimatnya, sengaja ingin membuat Hyunsik penasaran.

“ Naeun???? Jadi ada hubungannya dengan Naeun!? Apa yang kau lihat!?” Bomi, Yookyung, Namjoo, dan Hyunsik terkejut dan tentu saja langsung tak sabaran, “…kau melihat Naeun.. bersama L??”

Ara mengangguk, “…mereka keluar dari klub malam, dan saat itu L benar-benar dalam keadaan mabuk berat. Aku tidak tahu mereka pergi kemana, Naeun yang membawa mobilnya.”

“ A..apa???” mereka masih belum bisa percaya. Bagaimana bisa adik angkatnya yang kabur dari rumah itu bertemu dengan L?

“ L sangat panik ketika dia tahu aku memergokinya. Tapi ketika aku tanya tentang Naeun, ia seperti tidak tahu apa-apa. Ia berkata padaku kalau ia sudah tidak tahu lagi dimana Naeun sekarang.”lanjut Ara.

“ Tidak mungkin.” Hyunsik terlihat sedikit geram sekarang, namja itu yakin kini Naeun masih hidup dan ada bersama L.

“ Sekarang aku juga berpikir demikian, tetapi saat itu aku sama sekali tidak mau tahu soal itu, aku hanya berpikir saat itu adalah kesempatan emasku untuk memiliki L.”ucap Ara dengan sedikit nada penyesalan, “…dan aku merasa bodoh. Setelah aku dan L berpacaran, dia sama sekali tidak pernah memperlakukan aku dengan baik.

“ Astaga.. ternyata begitu toh.” Bomi, Yookyung, dan Namjoo sama sekali tidak menyangka.

Apa jangan-jangan kejadian itu tepat pas si Suzy ngajakin L sunbae kencan!? Mereka kan emang pergi ke klub malam!” kata Bomi dengan nada sok detektifnya (?)

“ Aaaa!! Bisa jadi!!! Bisa aja Naeun dateng buat ngejemput L sunbae!” Yookyung menambahkan.

“ Masuk akal sih. Tapi yang jadi pertanyaan, kok bisa begitu?” tanya Namjoo.

“ Entahlah, ada semacam misteri disini.”kata Bomi dengan horornya.

“ Oh, jadi saat di klub malam itu juga ada si Suzy??? Sialan.”umpat Ara, rasanya semakin menjadi-jadi saja kebenciannya pada musuh sesama alaynya itu. Tetapi setidaknya sekarang Ara bisa berlega hati. Pasca penganiayaan yang ia terima dikampus gara-gara Suzy cs, mereka dilaporkan ke polisi dan akhirnya Suzy cs dipenjara selama tiga bulan untuk efek jera.

“ Tuh kan, benar firasatku. Semenjak Naeun menghilang dari rumah kami, L adalah orang yang aku curigai, karena sebelum-sebelumnya L sering sekali menolong Naeun tiap dia tidur sembarangan. Aku dan Jaehyo sering membicarakan hal ini, tapi kami selalu kesulitan menemui L, dan sepertinya juga Jaehyo sudah menyerah, sekarang ia menganggap Naeun sudah mati, bahkan sekarang dia mencoba move on -_-“keluh Hyunsik.

“ Benar juga ya.. yah, kenapa tidak dari dulu kita berpikir seperti itu. kalau dari dulu kita mikir begitu pasti bakalan gampang nyegat L sunbae di kampus..” sesal Bomi.

“ Gak semudah itu sih. Aku rasa L sunbae memang pintar menyimpan rahasia. Sejak dulu kan dia terkenal misterius.”kata Yookyung.

“ Tapi kalo udah begini kejadiannya, kita kudu maksa L sunbae buat ngomong. Bisa aja sekarang dia tau Naeun ada dimana.”usul Bomi.

“ Atau mungkin sekarang Naeun tinggal dengan dia.”Namjoo mulai sotoy, tapi siapa yang tau kalau sotoynya itu bener?

“ Naeun tinggal dengan L…?” Hyunsik dan Ara saling bertatapan. Mereka tentu akan sangat marah besar jika hal itu memang benar adanya.

“ Aku tidak mau buang-buang waktu lagi. Aku harus menemui L! aku yakin seratus persen dia tahu dimana Naeun sekarang!” Hyunsik berdiri dan nampak tak sabaran.

Ara hanya bisa diam, perasaannya semakin tidak enak, ia merasa telah jahat karena kini sudah membongkar rahasia Myungsoo di depan orang-orang yang paling tidak boleh tahu soal Naeun. Ara terpaksa melakukannya karena ia sendiri sudah tidak tahan dengan sikap Myungsoo yang sama sekali tidak menghargainya sebagai seorang pacar.

*

Myungsoo mundur selangkah demi selangkah setelah ia selesai mendengarkan pembicaraan di dalam rumah Ara. Namja itu mengurungkan niatnya untuk datang kesana dan meminta maaf pada Ara.

Ya. Sedingin dan sejahat apapun seorang Kim Myungsoo, ia juga masih punya perasaan. Saat melihat Ara menangis karenanya, ia merasa harus minta maaf karena bagaimanapun juga Ara adalah sahabatnya. Namun ketika ia mendengar pembicaraan yang sedang terjadi di rumah Ara, nyalinya langsung ciut seketika. Mana mungkin ia berani menampakkan diri di depan Bomi, Yookyung, dan Namjoo, apalagi Hyunsik, yang ada ia akan dicecar ribuan pertanyaan tentang Naeun dan ujung-ujungnya dituduh psikopat dan penculik karena sudah menyembunyikan Naeun.

Namja itu buru-buru balik kanan dan masuk mobilnya, tancap gas untuk kembali ke café. Mulai saat ini ia akan lebih berhati-hati, karena mulai saat ini ia harus kucing-kucingan dengan Bomi, Yookyung, Namjoo dan Hyunsik, atau mungkin juga dengan Ara.

****

 

“ Hai, apa kabar?”

“ Astaga!” Myungsoo terkejut, ketika ia baru saja membuka pintu dapur café, seorang namja berdiri tepat di depannya.

Jaehyo. Mau apa dia kesini? Masuk ke dapur café pula, lancang sekali. Perasaan Myungsoo semakin kacau dan panik. Mengapa hari ini ia terus-terusan merasa terancam? Yah.. tentu gara-gara orang-orang terdekat Naeun mulai mencurigainya.

“ Sedang apa kau disini? Selain chef, tidak ada yang boleh masuk kesini.”usir Myungsoo secara halus, setelah itu ia langsung mencari kesibukan. Namun tetap saja Jaehyo membuntutinya.

“ Wah, ternyata seperti ini ya seorang chef. Kau hebat, L. Naeun beruntung memilikimu, dia kan tidak bisa masak.”ucap Jaehyo tiba-tiba.

“ Apa?!” Myungsoo semakin panik, ia hampir saja menjatuhkan panci yang baru saja ia pegang, “…mengapa kau menyebut nama Naeun? Aku tidak tahu apa-apa soal dia.”

“ Oh ya? ckckck. L, semakin kau berkata seperti itu, semakin aku yakin kalau kau memang tahu dimana kekasihku itu sekarang.”

Myungsoo berusaha untuk pura-pura tidak dengar dan tidak peduli, namun niat Jaehyo untuk mengorek rahasianya sepertinya tidak main-main. Namja berpenampilan jadul itu semakin memancing Myungsoo.

Kenapa panik begitu. Takut rahasiamu terbongkar, hah? Sekalipun aku tidak punya bukti, tapi aku yakin seratus persen kalau kau adalah…..”

BRUK!!

Jaehyo menghentikan kalimatnya ketika Myungsoo menarik bajunya dan mendorongnya dengan kasar ke dinding. Namja itu nampak emosi. Emosi ganteng tepatnya (?)

Beberapa orang yang bekerja di dapur mulai memperhatikan mereka, namun Myungsoo terlihat tidak peduli, namja itu sepertinya benar-benar marah dengan Jaehyo, ia menatap Jaehyo dengan tatapan yang amat tajam. Kalau saja Jaehyo bukan laki-laki, dia pasti bakalan klepek-klepek karena tatapan tajam Myungsoo bener-bener membuat namja itu keliatan ganteng banget *ini apaan -__-*

“ Apa maumu?” tanya Myungsoo dingin sembari menahan emosinya, tangannya masih kuat meremas kerah baju Jaehyo, sementara satu tangannya memegang erat sebilah pisau daging dan bersiap membunuh namja absurd itu jika masih berani bicara macam-macam.

Jaehyo tertawa sinis dan menjawab dengan tenang, “ Tuh kan. Ketahuan kau sekarang, L. Kalau kau tidak tahu apa-apa soal Naeun, kau tidak perlu setegang ini. Silahkan saja bunuh aku, dengan begitu masalahmu akan semakin banyak.”

“ Sekali lagi kutanya, apa maumu?” Myungsoo semakin menekan nada suaranya, ia harus berusaha tenang daripada Jaehyo semakin curiga padanya.

“ Sebenarnya ini tujuan utamaku.” Jaehyo mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya, dan menyodorkannya pada Myungsoo.

“ Apa ini?” Myungsoo menerima kunci tersebut dan memperhatikannya baik-baik.

“ Ini kunci galeri Woohyun, salah satu penghuni kostku yang meninggal tanggal 8 itu. Kau tahu kan dia adalah seorang pelukis?”

Myungsoo mengangguk pelan, “ Lalu kenapa kunci galerinya kau beri padaku?”

“ Aku menemukan wasiat yang ia tulis sebelum ia mati. Ia ingin galerinya diurus oleh seorang gadis yang memiliki bakat melukis sama seperti dirinya. Dan gadis itu bernama Naeun.”

Myungsoo terkejut, namun ia masih mencoba mendengar penuturan Jaehyo.

“…saat pertama kali aku membaca wasiatnya, tentu saja aku bingung. Bukankah tak seorangpun tahu dimana Naeun sekarang? Tapi kenapa Woohyun kenal dengan pacarku itu?”sambung Jaehyo, “…hal itu membuatku tahu bahwa ternyata Naeun masih hidup sampai sekarang. Dan kau tahu sendiri kan, aku pernah bilang, semenjak Naeun hilang, kau adalah orang yang aku curigai. Jadi aku beri saja kunci galeri ini padamu, kau akan memberikannya pada Naeun, kan?”

Myungsoo jadi semakin gugup. Apakah ia mengaku saja kalau Naeun memang ada bersamanya saat ini? Namja itu masih takut jika Jaehyo menyebarkannya ke orang lain.

“…aku memang tidak punya bukti atas dugaanku ini, tapi aku yakin Naeun ada bersamamu. Kau tenang saja, sekalipun aku tahu dia masih hidup, aku tidak akan mempermasalahkannya. Sejak mengira dia sudah mati, aku sudah berusaha dan berhasil move on.”

“ Jadi…?”

“ Tolong jaga dia baik-baik. Aku tahu dia pasti sudah melupakan aku. Aku juga demikian, aku sudah bersama yeoja lain, meski hanya dijadikan selingkuhan.”

Myungsoo masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jaehyo, namun ia bisa merasa sedikit lega, namja seperti Jaehyo ternyata sanggup juga merelakan gadis secantik Naeun, itu artinya Myungsoo sudah tidak punya saingan lagi.

“ Itu saja. Ya sudahlah kalau kau masih tidak mau mengaku juga soal Naeun. Yang penting, kunci galeri itu aku titip padamu, semoga sampai ke tangan Naeun.” Jaehyo menurunkan tangan Myungsoo yang masih nangkring di kerah bajunya, setelah itu membuka pintu dapur dan melangkah pergi.

“…oh ya, satu lagi.” Jaehyo kembali berbalik sejenak.

“ Apa?” tanya Myungsoo.

“ Yeoja lain yang kumaksud itu.. Suzy. Aku menjadi selingkuhannya. Dia pacarmu, kan? Cepat putuskan dia kalau kau tidak mencintainya.”

Mata Myungsoo membelo, terkejut. Namun dengan cepat ia menjawab.

“ Ambil saja dia. Hahaha.”

****

04.00 PM

 

Myungsoo pulang dari cafe lebih cepat hari ini karena kerja full time-nya baru dimulai besok. Bisa dikatakan, hari ini adalah hari terakhirnya untuk bisa menghabiskan waktu dengan Naeun, setelah ia bekerja full time nanti, ia pasti akan sering pulang malam dan tidak punya waktu banyak lagi untuk bersama Naeun.

Namja itu langsung geleng-geleng kepala ketika melihat Naeun yang lagi-lagi ia temukan tidur bersama kanvas dan peralatan melukis, wajah cantiknya sampai terkena noda cat sana-sini. Namun namja itu terlihat kagum karena dalam waktu sehari saja Naeun sudah membuat tiga kanvas lukisan. Gadis itu melukis keindahan pulau Jeju. Sepertinya ia masih mengenang liburan singkat mereka di pulau itu.

Pelan-pelan, Myungsoo membersihkan noda cat yang ada di wajah Naeun  dengan saputangannya. Entah, semenjak tindakan yang mereka lakukan di Jeju malam kemarin, Myungsoo jadi takut memperlakukan Naeun seperti biasanya, rasa bersalahnya membuat ia jadi banyak diam seharian ini, ia yakin Naeun pasti bingung dengan sikapnya yang terlihat berubah.

Setelah selesai membersihkan noda cat di wajah Naeun, Myungsoo mengangkat tubuh gadis itu ke tempat tidur, setelah itu menyibukkan diri dengan laptopnya. Ia sengaja tidak membangunkan kekasihnya itu meski ia yakin hari ini Naeun pasti sudah tidur lebih dari dua kali, seperti biasa.

 

“ Oppa, kau sudah pulang? Mengapa tidak membangunkan aku?”

Setelah sekitar lima belas menit Myungsoo sibuk dengan laptopnya, akhirnya Naeun terbangun. Gadis itu terlihat malu karena saat kekasihnya pulang ia malah tertidur.

Myungsoo tak menjawab, ia tetap sibuk dengan laptopnya. Ck, insiden di Jeju itu masih menghantuinya dan membuatnya tak sanggup bicara dengan Naeun. Namun tubuhnya bergetar ketika merasakan pelukan lembut di punggungnya, Naeun mendekapnya dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Myungsoo dengan manja.

“…oppa..” ucapnya dengan sedikit aegyo,  “…kau tahan bersikap seperti ini padaku?”

Myungsoo menggeleng saja, ia tak percaya Naeun sama sekali tidak marah atau risih padanya gara-gara insiden tersebut, gadis itu justru terlihat semakin senang melakukan skinship dengannya. Ah, atau itu hanya perasaan Myungsoo saja?

Tetapi memang, Naeun justru semakin terlihat manja dengan Myungsoo. Hal ini tentu ia lakukan karena hidupnya tidak lama lagi, ia benar-benar ingin menikmatinya, karena mengharapkan Myungsoo untuk mencium kedua kelopak matanya sepertinya sudah tidak mungkin lagi.

Naeun semakin mengeratkan pelukannya, dan beberapa kali menciumi pipi Myungsoo, seakan memaksa namja itu untuk bicara padanya. Dan cara Naeun itu berhasil membuat Myungsoo merasa tak tahan. Akhirnya namja itu menoleh dan menarik Naeun untuk duduk di pangkuannya.

“ Aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri soal kejadian di Jeju itu.”ucap Myungsoo pelan dengan nada yang amat bersalah, “…kau benar-benar sudah memaafkan aku?”

Naeun mengangguk  pelan, “ Gwenchana.. lagipula belum terlalu jauh. Walaupun rasanya sakit, mungkin karena baru pertama kali ya..”

“ Tuh kan.” Myungsoo jadi semakin merasa bersalah.

“ Tapi aku baik-baik saja, oppa. Aku malah sedih jika kau bersikap dingin lagi padaku..”

“ Baiklah..  aku janji tidak akan begitu lagi. Aku juga tidak tahan bersikap seperti ini padamu.” Myungsoo tertawa kecil sembari mengacak rambut Naeun pelan dan meninggalkan ciuman singkat di bibir gadis itu, “..tapi kau senang kan seharian kutinggal dirumah?”

“ Kata siapa? Aku rindu padamu.” Naeun semakin manja di pangkuan Myungsoo, “…bagaimana pekerjaanmu tadi? Lancar saja kan?”

“ Aih..” Myungsoo jadi bingung sekarang. Haruskah ia ceritakan kepanikan yang ia alami seharian ini pada Naeun? Namja itu tidak bisa membayangkan reaksi Naeun jika tahu bahwa orang-orang terdekatnya sudah mulai mencurigai Myungsoo.

“ Pekerjaanku lancar saja. Tapi mulai besok, aku mulai kerja full time.” karena Myungsoo tak mau menghancurkan momen romantis mereka saat ini, namja itu memutuskan untuk merahasiakannya saja.

“ Wah, kenapa tiba-tiba kerja full time? Tiap hari pulang malem dong.”

“ Aku melakukannya agar dapat gaji yang lebih besar. Aku ingin mewujudkan ini menjadi kenyataan.” Myungsoo memperlihatkan sketsa yang sejak tadi ia buat di laptopnya.

Naeun terlihat sedikit bingung, “ Ini..denah rumah?”

“ Syukurlah kau bisa menebaknya. Kukira kau tidak tahu ini denah rumah karena gambaranku jelek, hehe.”

“ Haha, jangan begitu, oppa. Ini bagus. Tapi.. ini rumah siapa?”

“ Rumah Ibu Hana yang setengah terbakar itu. Aku ingin merenovasinya agar setelah menikah nanti kita bisa tinggal disana.”

Naeun terperanjat mendengarnya. Seandainya saja kutukan Victoria tidak menghantuinya, ia tentu akan sangat senang dengan rencana masa depan Myungsoo ini. Tetapi keadaan berbeda, Naeun justru sedih mendengarnya. Ia tahu ia tidak mungkin sempat mengikat janji pernikahan dengan Myungsoo.

“…bagaimana menurutmu?”

“ Hm? Ng.. a..aku..aku suka.”jawab Naeun seadanya, ia memperhatikan lekat-lekat denah yang digambar oleh Myungsoo.

“ Bagaimana kalau kita ke rumahnya sekarang? Aku ingin melihat keadaannya, biar bisa mengira-ngira seperti apa hasil renovasinya nanti.”ajak Myungsoo, namja itu menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas.

“ Nanti saja.. diluar hujan.” Naeun beralasan, ia tak mau ke rumah itu karena hanya akan semakin menyakiti hatinya saja. Ia takut akan semakin berharap tentang masa depan yang sudah mulai direncanakan oleh Myungsoo.

“ Ck, kau lupa aku punya mobil?” jawab Myungsoo, “…cepat bersiap. Aku juga akan membawamu ke dokter.”

“ D..dokter??” Naeun sedikit takut mendengarnya.

“ Iya. Untuk memeriksa kebiasaan tidurmu itu.”

“ Wow..”

Naeun jadi penasaran. Apakah saat ia diperiksa oleh dokter nanti, sang dokter bisa mendeteksi kutukannya?

************************

 

Saturday, 1st of March 2014…

 

Naeun mencoret angka 28 dengan tanda silang di kalender kecil yang ia pegang. Tanda silang tersebut menandakan bahwa di tanggal tersebut Myungsoo masih juga tidak mencium kelopak matanya.

Gadis itu memasukkan kalendernya ke dalam tasnya lalu kembali menatap makam didepannya.

“ 12 hari lagi, Nam Woohyun. Aku akan menyusulmu. Lalu bagaimana pameran lukisan kita? Aku sudah banyak menaruh lukisan di galerimu. Terimakasih sudah mempercayakan galeri itu padaku..” ucap Naeun pelan sembari menaburi bunga di atas pusaranya, airmata gadis itu menitik satu demi satu, “…bagaimana juga kabarmu sekarang? Apa kau sudah bertemu dengan Chorong? Sudah lama makhluk itu tidak menampakkan dirinya dihadapanku, apa itu artinya kalian sudah bahagia disana?”

 

“ Kau salah, Son Naeun.”

 

Naeun terkejut ketika mendengar suara orang lain didekatnya. Ia menoleh ke segala arah namun tak ia temukan seseorang selain dirinya. Areal pemakaman memang sedang sangat sepi sore itu, karena hari sudah mau memasuki malam.

“ Disini.”

Suara itu terdengar lagi, ternyata berasal dari atas pohon.

“ Aaaa!! Kuntilanak!!!!” Naeun menjerit, rasanya ia ingin berlari namun kakinya terasa amat kaku.

“ YA! Bodoh! Kau lupa denganku!?”

“ C..Chorong?”

Kuntilanak yang ternyata oh ternyata adalah Chorong itu mengangguk pelan, “ Kemarilah.”

Karena sudah sangat rindu dengan Chorong, Naeun berusaha memanjat pohonnya dan duduk bersama Chorong. Gadis itu mengira Chorong terlihat sumringah, namun kenyataannya makhluk halus berparas cantik itu terlihat lebih pucat dari sebelumnya, rambutnya lebih berantakan dari sebelumnya, dan lingkaran di matanya jauh lebih hitam dari sebelumnya. Menyeramkan.

“ Apa kabar?” tanyanya pelan, lebih tepatnya seperti berbisik, “…Myungsoo sempat membawamu ke dokter ya untuk mengetahui kebiasaan tidurmu?”

“ Ne.. tapi dokter tidak bisa mendeteksi kutukan itu, aku didiagnosa baik-baik saja..”

“ Tentu saja, tak ada seorangpun yang bisa mendeteksi sihir Victoria.”

“ Kau sendiri..mengapa kau tidak muncul lagi dihadapanku setelah Woohyun meninggal?”

“ Maaf, Naeun. Tapi aku tetap mengawasimu dari jauh. Hanya saja kemarin-kemarin, aku berurusan dengan Victoria.”

“ Apa?? Berurusan bagaimana?”

Chorong menunduk, menatap makam pujaan hatinya yang ada dibawah sana sembari menjatuhkan kelopak-kelopak bunga yang keluar sendiri dari tangan pucatnya.

“ Victoria menyandera jiwa Woohyun. Aku tidak bisa bertemu dengannya.”

“ Hah?” Naeun terkejut, “…lalu bagaimana?”

“ Aku tidak tahu. Aku menyesal mengapa bukan aku saja yang membunuh Woohyun saat itu. Walaupun kejam, tetapi setidaknya aku yang menyimpan jiwanya. Tapi semuanya sudah terlambat, penyihir sialan itu…” Chorong mulai menangis.

“…aku mencintai Woohyun. Dia yang telah menghidupkan cintaku yang sudah mati bersama jasadku..”

Naeun ikut menangis mendengarnya. Ia benar-benar tidak menyangka meskipun sudah berada dalam dunia yang sama saja, Woohyun dan Chorong ternyata tidak dipertemukan, apalagi ia dan Myungsoo nanti setelah ia mati. Ini semua ulah Victoria.

“…kau satu-satunya harapanku, Son Naeun.”ucap Chorong tiba-tiba.

“ Aku??” Naeun tak mengerti, “…mengapa aku?”

“ Jika kau berhasil melepas kutukanmu ini dengan ciuman di kelopak mata itu, kau membawa pengaruh besar di dunia kami. Kau membebaskan semua arwah wanita yang pernah dijadikan korban oleh Victoria, dan penyihir itu akan mati karena gagal mendapatkan kecantikan dari korban terakhirnya. Jika Victoria mati, sangat mungkin untuk aku bertemu dengan Woohyun..”

Naeun tercengang mendengarnya. Tidak menyangka ciuman di kelopak mata itu luar biasa dampaknya bagi Victoria. Seandainya saja Myungsoo tahu semua ini..

“…tapi jika kau mati karena kutukan itu. Victoria kembali hidup menjadi manusia normal yang tidak akan pernah tua, dan arwah kita akan tetap ia sandera selama-lamanya. Kau mau hal itu terjadi?” sambung Chorong.

“ Tidak!! Aku tidak mau!” pekik Naeun. Ia semakin takut dan merasa hampir putus asa. Tetapi ia juga tak tahu lagi bagaimana caranya melepaskan diri dari kutukan itu, ia benar-benar sudah lelah mengharapkan Myungsoo.

“ Aku tahu apa yang kau rasakan. Aku tidak tahu bagaimana caranya membantumu, memaksa agar lelaki itu mau mencium kelopak matamu. Tapi aku berharap ada keajaiban. Waktumu tinggal 12 hari lagi, nona Son. Aku tidak akan memaksamu untuk berusaha melepas kutukan itu. Jika kau memang sudah putus asa, aku akan datang mencabut nyawamu tanggal 13 nanti..”

Naeun menangis sejadi-jadinya, Chorong memeluknya dengan lembut meski sentuhannya menembus badan Naeun. Keduanya sama-sama menangis di atas pohon itu, putus asa dengan segala kekejaman Victoria. Hingga tak lama setelah itu Naeun tertidur dengan sendirinya. Chorong masih setia berada disamping Naeun sampai ada orang yang menurunkan gadis itu dari atas pohon.

 

“…di tanggal 13 nanti, sesuatu akan terjadi padamu, Son Naeun. Entah apa itu, yang jelas hal yang akan terjadi padamu itulah yang akan mengantarmu pada kematian. Selama nyawamu masih ada ditanganku dan belum kuserahkan pada Victoria, kelopak matamu masih bisa dicium untuk melepas kutukan itu. Makanya aku bilang tadi, aku mengharapkan keajaiban, semoga Myungsoo mau melakukan hal itu sebelum nyawamu benar-benar berada di tangan Victoria..”

****

 

Wednesday, 11th of March 2014 *silahkan skip jika kalian masih dibawah umur :)*

 

“ Son Naeun.. ayolah.. pikirkan baik-baik..”

Jam sudah menunjukkan pukul 11 dan Naeun masih mondar-mandir di apartemennya. Gadis itu tengah berpikir keras sembari berkali-kali melirik pintu kamar mandi, menunggu Myungsoo selesai membersihkan diri di dalam sana. Namja itu memang baru pulang kerja.

Merasa semakin dekat dengan kematiannya, Naeun ingin melakukan sesuatu yang tak terpikirkan olehnya sebelumnya. Sebelum benar-benar berpisah dengan Myungsoo, gadis itu ingin melakukan satu hal yang akan membuat Myungsoo tidak akan pernah melupakannya.

Tidur seranjang. Dan.. begitulah (?)

Astaga, Naeun benar-benar merasa seperti gadis murahan, memikirkan hal itu sejak tadi. Ia hanya tidak mau Myungsoo melakukan hal itu dengan gadis lain setelah ia mati. Jika Myungsoo tak ingin mencium kelopak matanya, namja itu harus mau menuruti keinginan Naeun yang satu ini. Meski Naeun masih tak tahu bagaimana cara mengajaknya. Apa ia harus membuat namja itu mabuk? Tidak, jika namja itu mabuk, bisa-bisa ia tidak ingat apa yang telah ia lakukan pada Naeun, seperti saat di atas mobil itu. Naeun ingin mereka melakukannya secara sadar. Tapi bagaimana caranya?

KLEK..

Pintu kamar mandi terbuka, dan seperti biasa namja tampan bernama Myungsoo itu muncul dengan bertelanjang dada. Ya, semakin meyakinkan Naeun bahwa mereka memang harus melakukan hal itu malam ini juga.

Gadis itu gugup, gugup setengah mati. Ia benar-benar harus menjadi gadis nakal malam ini, dan tantangannya terasa amat berat karena harus merayu namja sedingin Myungsoo, ini pasti akan sangat susah karena Myungsoo saja masih dihantui rasa bersalah soal kejadian di Jeju itu. Ia namja yang gentle dan bertanggung jawab, tetapi khusus untuk malam ini…

“ Kau belum tid..eng.. N…Naeun.. w..what are you doing?” Myungsoo terkejut karena tanpa basa-basi Naeun tiba-tiba memeluknya dan mengelus absnya, bahkan melepas kimono yang ia pakai lalu menggesekkan tubuh telanjangnya dengan tubuh Myungsoo. Astaga, apa yang sedang ia lakukan?

Myungsoo menutup matanya rapat-rapat, namun Naeun semakin agresif, gadis itu menariknya ke tempat tidur dan menindih tubuhnya, setelah itu menciumi bibir dan lehernya. Gadis itu seperti tengah kesetanan, mengapa jadi dia yang menjamahi tubuh namja itu? Entah, Naeun sudah tak peduli lagi dengan apa yang ia lakukan.

“ Naeun, stop. Kumohon..” Myungsoo kelabakan, Naeun hanya memakai bra dan celana pendek didepannya, bahkan gadis itu melepas kini melepas branya dan meminta Myungsoo menjamahi dadanya untuk kedua kalinya. Apa dia sudah gila? Myungsoo berusaha menepis pikiran pervertnya, ia harus menghentikan gadis itu.

“ Sekali ini saja, oppa. Jebalyo..”ia merayu dan mulai mengarahkan lehernya ke bibir Myungsoo, meminta namja itu untuk meninggalkan lebih banyak kissmark lagi disana, Myungsoo melakukannya satu kali, dua kali, namun setelah itu berusaha menahan dirinya. Ia yakin sedang ada yang tidak beres dengan otak Naeun sekarang.

“ Son Naeun. Hentikan..! ah.. Naeun.. ah..” Myungsoo masih berusaha melawan nafsunya yang semakin menjadi-jadi ketika Naeun mengarahkan tangannya dan memintanya untuk meremas kedua payudara gadis itu, ia bahkan mengarahkan salah satu nipplenya ke bibir Myungsoo, meminta perlakuan yang sama seperti di Jeju semalam. Bagaimanapun juga Myungsoo laki-laki yang tidak mungkin tidak terangsang jika ada seorang gadis berbuat seperti ini padanya.

“…Naeun kau kenapa? Kau sedang kerasukan setan??” Myungsoo masih berusaha menghentikan aksi Naeun yang semakin jauh, gadis itu mulai meraba celananya dan merasakan ereksi yang lagi-lagi terjadi di dalam sana.

“ Kau menyukainya juga, kan?”ia tertawa kecil, membuat Myungsoo semakin frustasi ketika Naeun menurunkan resleting celananya.

“ Tidak, aku tidak suka jika kita belum menikah. Kumohon Son Naeun.. ah.. hentikan.”

Gadis itu menggeleng, ia tetap bertahan diatas tubuh Myungsoo dan menciumi namja itu tanpa henti, sedangkan Myungsoo masih berusaha untuk tidak membuka matanya, ia tak ingin melihat Naeun, ia merasa tak berhak melihat tubuh gadis itu sebelum mereka menikah.

“…Son Naeun, CUKUP!” dengan terpaksa akhirnya Myungsoo membalikkan tubuh gadis itu dan bangkit secepatnya dari tempat tidur, melempar selimut kearah Naeun agar gadis itu segera menutup tubuh nakednya.

“…apa yang kau lakukan!!!??? Tidak trauma dengan kejadian di Jeju itu, hah???!” Myungsoo membentak. Ia marah besar, ia tak mengerti dengan jalan pikiran Naeun saat ini. Ia sangat mencintai Naeun dan sudah bersumpah untuk tidak merenggut kesucian gadis itu sebelum mereka menikah.

Naeun menunduk, memeluk lututnya dan menangis. Bukan menangis karena penolakan Myungsoo, namun terharu karena namja itu benar-benar menjaga kehormatannya. Ia menyesal, sepertinya ia memang tidak akan pernah melakukan hal seperti ini dengan Myungsoo, sepertinya ia memang harus merelakan Myungsoo melakukannya dengan yeoja lain setelah ia meninggal nanti.

Myungsoo memasang pakaiannya dan pergi keluar apartemen dengan membanting pintu, ia memutuskan untuk tidur di mobil.

***

Esok malamnya..

Myungsoo POV

 

Aku baru saja pulang kerja dan membuka pintu apartemen dengan sedikit perasaan berat, aku benar-benar tak sanggup marah berlama-lama dengan Naeun. Tetapi kejadian semalam memang tidak bisa ditoleransi. Aku menolak bukan karena aku tidak mencintai Naeun, tetapi justru sebaliknya. Aku mencintai Naeun, sangat mencintainya. Aku tak ingin Naeun malu jika ia hamil sebelum menikah. Meski jujur, lelaki mana yang tidak tergoda jika Naeun yang mengajak mereka melakukan hubungan intim seperti itu? Aku berusaha mati-matian melawan nafsuku untuk tidak melakukannya. Selama kami belum menikah, aku harus menjaga kehormatannya.

Lagipula aku sudah memikirkan masa depan kami, aku tak habis pikir mengapa Naeun begitu tidak sabaran. Apa dia sedang ada masalah? Entahlah.

 

“ Apa ini?”

Aku terkejut ketika melihat apartemenku kini dipenuhi dengan kanvas lukisan bergambar wajahku, diatas meja terdapat tart kecil dengan lilin berbentuk angka 23, disampingnya terdapat kado berukuran sedang dan secarik kertas surat.

Apa Naeun yang melakukan semua ini?

Aku segera menyambar surat yang ada di atas meja dan membacanya.

 

Sudah kuduga kau pasti membaca suratnya dulu daripada meniup lilin dan memakan kuenya. Huh, dasar gunung es.

 

Aku sedikit tersenyum, gadis itu tahu saja apa yang aku lakukan duluan setelah melihat kejutan ini. Aku pun menurut saja, kutiup lilinnya dan aku memakan sepotong kuenya. Hm.. apakah dia sendiri yang membuatnya? Sebagai seorang chef, aku tahu dia memakai gula terlalu banyak dan kuenya sedikit gosong.

Aku kembali membaca suratnya.

 

Kau pasti mencela tart buatanku kan? Maaf kalau tidak enak. Makanya aku buat ukuran kecil saja. Aku masih belum bisa membuat tart seenak tart chef L 😀

SAENGIL CHUKKAE HAMNIDA, my oppa, my chef, and my love. Kau sudah berusia 23 tahun sekarang. Kau semakin tua, tetapi semakin tampan, jika kau tidak suka marah-marah lagi. Hahaha.. bercanda. Kurasa sampai kapanpun kau akan tetap tampan.

Hanya ini yang bisa aku persembahkan padamu, sayang. Kue tart yang tidak enak, kado yang tidak begitu berharga, dan beberapa kanvas lukisan bergambar wajah sempurnamu, maaf jika lukisannya tidak mirip, hehe. Kurasa kejutanku ini sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding kejutan yang kau berikan padaku saat tanggal 10 Februari itu. Sekali lagi maafkan aku, aku hanya ingin membuat ulang tahunmu istimewa karena inilah hal terakhir yang bisa aku persembahkan padamu.

Ya, hal terakhir.

3 bulan. Ya, mungkin bagi orang lain, waktu segitu relatif lama. Namun kurasa ini semua begitu cepat. 3 bulan bersamamu adalah 3 bulan paling mengesankan dalam hidupku. Bagaimana tidak? Aku harus tinggal seatap dengan sunbae paling misterius di kampusku, sunbae gunung es bernama Kim Myungsoo, tapi tidak suka dipanggil Myungsoo. Hahaha, dasar aneh. Kukira aku akan menderita selama tinggal bersamamu. Tapi nyatanya aku salah, suka duka yang kita lalui bersama membuat hidupku benar-benar berubah, mungkin juga hidupmu. Tak hanya hidup kita, tetapi juga hati kita.

Kita saling jatuh cinta. Bukankah itu begitu indah?

Suara dan petikan gitarmu saat menyanyikan lagu romantis itu untukku masih saja terngiang ditelingaku, sentuhan lembut bibirmu setiap kau menciumku masih sering membuatku melayang jika membayangkannya, dan hangatnya pelukanmu masih membawa perasaan damai setiap aku mengkhayalkannya. Semua itu masih terasa bahkan sampai akhir hidupku.

Terimakasih atas segalanya, L oppa. Terimakasih telah melindungiku dari panas matahari dan dinginnya hujan selama tiga bulan ini, terimakasih telah membuatku yang tadinya manja kini menjadi pribadi yang kuat sepertimu, dan terimakasih telah mencintaiku selama 15 tahun tanpa berpaling pada siapapun. Terimakasih telah menjadikan aku cinta pertama dan terakhirmu.

Maafkan semua kesalahanku yang tak terhitung ini,oppa. Maaf jika aku sering bertindak aneh padamu, maaf jika kebiasaan tidurku yang berlebihan sering membuatmu bingung. Dan maaf karena aku tidak bisa tinggal bersamamu di rumah kita. Jika aku bertemu Ibu Hana nanti, aku akan menyampaikan niat baikmu itu, beliau pasti akan sangat senang.

Kuharap meski kini aku tak disampingmu lagi, kau tetap mengingatku sebagai orang yang selalu ada dihatimu. Mari berjanji untuk saling mencintai selama-lamanya. Sampai jumpa di kehidupan berikutnya.

 

Yang mencintaimu,

Son Naeun

 

*jangan menangis sayang, kau sudah 23 tahun!! ^^*

 

Lututku melemah.

Son Naeun, apa maksudmu? Kau mengerjai aku? Ini tidak lucu, aku sudah 23 tahun dan kau membuatku….menangis.

Segera kusambar kunci mobilku, aku keluar dari apartemen dan berlari sekencang mungkin.

SON NAEUN, KAU TIDAK BOLEH PERGI.

*****

 

Author POV

 

Seorang gadis berjalan tanpa tujuan menyusuri trotoar yang sudah sepi. Langkahnya sedikit cepat karena ia belum begitu jauh dari gedung apartemen yang ia tinggalkan.

Perlahan ia menggerakkan kakinya menuju badan jalan, bermaksud untuk menyeberang, namun..

“ AAAAAAAAAAA!!!!!”

Gadis itu menjerit ketika sinar lampu sebuah mobil yang melaju kencang datang kearahnya dan dalam hitungan detik membuatnya terkapar di jalan dengan darah yang keluar dari kakinya yang tergilas dan kepalanya yang terbentur.

Ia menatap langit dan tersenyum getir.

“ Pasti sekarang sudah jam 12. Sudah tanggal 13. Semoga L oppa sudah melihat kejutan dariku..”

***

 

Sepasang kekasih kini mondar-mandir didepan Unit Gawat Darurat rumah sakit di bilangan Seoul tengah malam itu, mengkhawatirkan kondisi gadis yang mereka tolong di jalan barusan.

Sepasang kekasih itu, Hoya dan Eunji. Kini mereka bingung karena tak tahu siapa yang harus mereka beritahu. Meski pernah melihat gadis yang mereka tolong itu sebelumnya, tetapi mereka tidak tahu siapa nama gadis itu.

“ Hoya, kamu ngasih tau siapa??” tanya Eunji.

“ L. Kurasa dia kenal dengan cewek ini, pernah kan waktu itu cewek ini pingsan di toilet cafe kita, L yang nolongin.”jawab Hoya.

“ Ah! Benar!! Aku ingat!! Kalau tidak salah.. cewek ini waktu itu dateng ke cafe kita dengan keluarganya. Aku masih inget dia punya kakak cowok yang ganteng banget.”

“ Gantengnya gausah juga kali -_-“

“ Tapi emang ganteng! Gimane sih lo -_-“

“ Iya deh serah lo -_- terus?”

“ Kakak cowoknya ini deket sama Ara, sering banget mampir ke cafe buat ketemuan sama Ara! Kalo gak salah namanya Hyunsik. Ara pernah ngenalin ke aku!”Eunji mencoba mengingat-ingat, “…kalau begitu aku sms Ara deh!”

Hoya dan Eunji pun akhirnya mengirim sms pada Myungsoo dan Ara. Setelah itu mereka kembali berpikir.

“ Siapa sih yang nabrak cewek ini tadi?” tanya Hoya tiba-tiba, “…kamu ngeliat ngga?”

Eunji nampak berpikir, “ Aku tahu.”

“ Siapa??”

“ Pangeran Dangdut Lee Sungyeol. Dia yang nabrak cewek ini!!!”

“ HAH!?? Ciyus?? Enelan!? Miapah!!??”

“ Aku yakin seratus persen!! Aku tau banget plat mobilnya, aku juga ngeliat dia di dalem mobil itu tadi! Sekarang dia kabur, kurang asem! Apa kita laporin dia ke polisi?”

“ Jangan!! Ini kesempatanku untuk minta tanda tangannya, selama ini dia selalu gak mau tiap aku mintain tanda tangan. Dengan adanya kejadian ini dia pasti bakalan takut kita laporin ke polisi, jadi kalo aku mintain tanda tangan dia pasti mau. Hahaha..”

“ Wah!! Bener juga kamu beb! Kamu pinter deh!!”

“ Iye dong, Hoya gituloh.. bentar lagi aku bakal kerja di cafe lagi! Bisa dapet duit deh buat kita kawin!”

“ Aaaaaa bener bener bener!! Hahaha!!”

Hoya dan Eunji langsung kompakan. Seneng banget bisa ngambil kesempatan dan kesempitan -_-

*****

 

Chorong memegang kantung hitam ditangannya dengan gemetar, dengan langkah yang begitu berat ia menghadap Victoria yang sudah menunggunya di depan Q DrugStore, penyihir itu nampak tak sabar untuk segera mengambil aura yang ada pada nyawa Naeun, sebentar lagi kecantikannya akan abadi, mungkin.

“ Serahkan padaku.”

Chorong masih memegang kantung tersebut dengan erat, seakan tak ingin menyerahkannya pada Victoria, ia menggeleng pelan.

“…heh, kau ini kenapa? Cepat berikan padaku!” Victoria mulai kesal.

Chorong masih menggeleng, rupanya ia masih mengharapkan keajaiban. Ia sengaja mengulur waktu agar Myungsoo masih bisa mencium kelopak mata Naeun.

“ Serahkan jiwa Woohyun padaku, baru aku akan memberikan ini.”ucap Chorong tiba-tiba.

***

 

“ Lim Hyunsik!!! Kubilang cukup!!!”

Dengan sekuat tenaga Ara menahan tangan Hyunsik yang masih belum puas memukuli wajah tampan Myungsoo. Hoya dan Eunji bahkan beberapa security rumah sakit ikut menahan Hyunsik yang kini benar-benar sedang meledak. Bomi, Yookyung, dan Namjoo hanya bisa menangis sembari saling memeluk satu sama lain. Mereka mengkhawatirkan kondisi Naeun.

“ Jadi selama ini kau yang menyembunyikannya hah!? Namja macam apa kau ini!!?? Apa yang kau inginkan dari adikku!!?? Jawab!!!” bentak Hyunsik, Myungsoo hanya bisa diam dan menahan rasa sakit di wajah tampannya yang sudah babak belur sana sini. Sekarang ia lebih mengkhawatirkan kondisi Naeun, ia tak peduli dengan Hyunsik yang murka padanya.

Dengan sekuat tenaga, ia berdiri dan mendesak masuk ke dalam ruangan dimana Naeun berada, meski sudah dilarang oleh beberapa perawat, namja itu tetap memaksa untuk masuk. Hatinya terasa begitu teriris ketika melihat Naeun berbaring tak berdaya dengan berbagai selang di tubuhnya.

“ Ini yang kau maksud kejutan, hah?? Apa maksudmu!? Aku tidak suka leluconmu ini. Sekarang bangun!! Berhenti mengerjai aku!!” Myungsoo mengguncang-guncang tubuh Naeun, namun tetap saja gadis itu tak bergeming, membuat Myungsoo hampir putus asa.

“…Son Naeun, jangan tinggalkan aku.. kau satu-satunya orang yang kumiliki setelah Ibu Hana tiada. Kau tega meninggalkan aku?”

“…”

Myungsoo menyentuh tangannya, mencoba merasakan denyut nadinya.

Tidak ada.

“ Jadi begini? Ini hadiah darimu untuk ulang tahunku?” ucap Myungsoo bergetar, ia memeluk tubuh gadis itu untuk terakhir kalinya.

 

Myungsoo menatap mata Naeun yang kini sudah tertutup rapat, perlahan namja itu mengarahkan bibirnya menuju kedua kelopak mata itu, lalu..

Menciumnya dengan lembut.

 

“…rest in peace, love.”

*******

 

“ Park Chorong?”

“ Nam Woohyun?” Chorong tak percaya kini ia bisa bertemu lagi dengan ‘orang yang telah menghidupkan cintanya yang telah mati bersama jasadnya’ itu. Woohyun, meski ia masih berdiri di belakang Victoria.

“ Serahkan padaku!” Victoria kembali menagih nyawa Naeun yang masih berada di tangan Chorong.

Dengan hati yang amat berat, Chorong mulai menggerakkan tangannya, menyerahkan kantung berisi nyawa itu pada Victoria, seketika itu juga penyihir tersebut melepas Woohyun, namja itu segera berpindah dan berdiri di samping Chorong.

“ Maafkan aku, Son Naeun..”lirih Chorong, ia tak sanggup ketika tangan Victoria mulai menyentuh kantung yang ia pegang.

“ Eh asap eh asap asap..” latah Woohyun kumat mendadak ketika ia melihat kepulan asap keluar dari kantung tersebut, “…asap apaan tuh?? Eh apaan tuh..”

“ A..ada apa ini!?” Victoria terkejut.

“ Nyawanya.. melayang..” Chorong takjub melihatnya, “…kembali pada tubuh si pemilik..”

“ Apa!!?? Tidak!!!!” Victoria panik, “…ada yang mencium kelopak matanya? Tidak!!! Tidak mungkin!!!!!!!”

Bersamaan dengan hilangnya asap itu, tak lama kemudian keluar banyak asap dari dalam Q DrugStore, asap-asap itu adalah nyawa korban-korban Victoria sebelumnya. Mereka bebas. Meski hanya sebatas menjadi hantu gentayangan seperti Chorong, namun mereka tak lagi disandera oleh Victoria. Kini penyihir itu justru merasa lemah, wajahnya memucat dan tiba-tiba hancur menjadi debu.

“ Aku tidak menyangka.. ini diluar dugaanku..” Chorong menangis bahagia, ia melambaikan tangannya pada semua arwah yang telah bebas.

“ Menakjubkan.”ucap Woohyun, “…inikah duniamu yang sebenarnya?”

Chorong mengangguk. Keduanya bertatapan dan berpelukan.

 

“ Semua cinta yang mati bersama jasad mereka kini telah hidup kembali..”

**********************

 

Saturday, 5th of July 2014…

Myungsoo POV

 

“ Ini sudah lima bulan, oppa. Kau masih tidak bisa percaya dengan ceritaku? Hyunsik oppa yang cuek, Bomi yang gak gampang percaya dengan mitos, Yookyung yang gak ngerti apa-apa soal dunia sihir, Namjoo yang suka sotoy, dan Ara yang notabene pernah membenciku saja sudah pada percaya dengan apa yang kukisahkan. Kenapa orang yang telah menyelamatkan aku dari kematian ini malah masih tidak percaya??”

Aku hanya tersenyum kecil ketika melihat Naeun lagi-lagi kesal padaku. Hampir setiap hari gadis itu menceritakan hal yang sama padaku. Kutukan, sindrom sleepaholic, Victoria, Chorong, dan Woohyun. Meski sudah diceritakan berkali-kali, aku sulit menerimanya dengan akal sehatku.

Tetapi sekarang, sebenarnya aku sudah percaya. Hanya saja masih berpura-pura tidak percaya, melihat Naeun yang begitu rewel benar-benar hiburan bagiku, ia terlihat semakin menggemaskan.

Aku bersyukur meski sempat mengalami penolakan, kini keluarga Lim menerimaku, apalagi setelah mereka tahu aku adalah keponakan Ibu Hana. Aku kembali berhubungan dengan Naeun walaupun hubungan dan pertemuan kami tidak lagi seintens dulu, Naeun sudah kembali ke keluarga Lim, sementara aku semakin sibuk dengan kuliahku yang dalam waktu dekat ini akan segera selesai, aku juga harus membagi waktu untuk bekerja di Infinite Cafe dengan lebih baik karena aku diangkat menjadi head-chef sekarang. Kami hanya bisa berhubungan lewat telepon karena Naeun juga sibuk melanjutkan karir melukis Woohyun. Kami hanya bertemu sebulan sekali di rumah sakit setiap Naeun menjalani terapi untuk kakinya yang masih lumpuh, ia hanya ingin aku yang mengajarinya berjalan.

Dan inilah yang suka ia kerjakan setiap sore, duduk di taman rumah sakit dan marah jika aku ingin mengantarnya pulang. Ia sibuk dengan kanvas yang ada didepannya. Sepertinya tiada hari tanpa melukis baginya. Aku hanya bisa sabar menunggunya selesai dan tetap pada posisi yang ia inginkan karena kini ia sedang melukis diriku.

“ Ya! Selesai!”ia tersenyum puas melihat hasil lukisannya, aku segera berdiri dan melihat hasilnya.

Ia memang pelukis yang handal. Setiap aku melihat lukisan diriku yang ia buat, aku baru sadar kalau aku memang tampan. Pantas saja manajer Sunggyu cinta mati padaku (?)

“ Gomawo. Ini sudah keberapa kalinya kau melukis wajahku? Seperti tidak ada objek lain saja.”

“ Ini lukisan wajahmu yang ke empat puluh.”jawab gadis itu dengan sedikit terkekeh, “…melukis orang yang aku cintai adalah salah satu sumber kekuatanku. Aku masih bisa bersemangat untuk hidup meski kini aku cacat..”

“ Sstt..” aku meletakkan telunjukku di bibirnya, “…kau tidak cacat. Selamanya, kau sempurna dimataku.”

“ Tapi aku janji, aku akan berusaha untuk bisa berjalan lagi. Aku tidak mau menyusahkanmu.”

“ Nah, begitu dong. Kalau begitu ayo latihan lagi.”aku merangkulnya pelan dan memberdirikannya, lalu ia mengikuti caraku berjalan dengan pelan dan hati-hati.

Setelah kami berjalan beberapa meter, aku segera mengangkat tubuhnya yang mulai kelelahan, dan seperti biasa, ia bergelayut manja dalam gendonganku. Merasa waktu begitu singkat karena setelah ini aku akan kembali sibuk dengan pekerjaanku dan kami akan bertemu lagi bulan depan seperti biasanya.

“ Oppa..bagaimana dengan rumah Ibu Hana?” tanyanya pelan.

“ Aku hanya tinggal memindahkan barang-barangku kesana.”jawabku bangga.

“ Hah? Jadi.. sudah selesai?”

Aku mengangguk. Ia tersenyum senang.

“…lalu apa lagi yang kita tunggu, oppa?” tanyanya lagi.

“ Maksudmu?”aku tidak mengerti.

Ia mendekati telingaku dan berbisik pelan,

“ Marry me, L oppa..”

****

 

Sunday, 3rd of August 2014…

 

Naeun POV

 

“ Apakah Anda, saudara Kim Myungsoo, bersedia menikahi Son Naeun serta mencintainya dengan setia dalam suka dan duka?”

“ Aku bersedia.”

“ Dan apakah Anda, saudara Son Naeun, bersedia menikahi Kim Myungsoo serta mencintainya dengan setia dalam suka dan duka?”

“ Aku bersedia.”

“ Kalian boleh bertukar cincin dan mencium pasangan kalian.”

 

Namja tampan dengan tuxedo dan celana hitam itu langsung berlutut dihadapanku yang masih duduk di atas kursi roda dengan dibalut busana pengantin yang diinginkannya. Semua orang di dalam gereja melihat kami dengan kagum. Ini membuatku hampir gila karena terlalu excited, dan tentu saja gugup.

“ Hai, nyai kampus tukang tidur.”ia berbisik sedikit menggodaku ketika ia memasang cincin di jari manisku.

“ Gunung es.”aku membalasnya ketika giliranku memasang cincin di jarinya.

Ia tertawa kecil dan mulai mendekat. Seharusnya aku bersikap santai karena kami sudah sering berciuman, namun entah mengapa, kali ini aku begitu tegang. Aku memejamkan mataku dan merasakan sentuhan lembut darinya. Bukan di bibirku, melainkan di kelopak mataku.

“ Oppa.. mengapa kau m—“

Sekarang ia mengunci bibirku dengan lembut, rasanya benar-benar seperti ciuman pertama. Ditengah kenikmatan itu, aku menatap dua sosok yang sama sekali tak asing bagiku di jendela gereja.

Woohyun dan Chorong, keduanya terlihat memakai sepasang gaun pengantin yang hampir sama seperti yang aku pakai dengan Myungsoo. Mereka melambaikan tangan kearahku.

Mereka tentu sudah berbahagia di dunia mereka sendiri, sama seperti yang aku rasakan sekarang, atau mungkin selamanya.

 

_THE END_

 

Finally.. asdfghjkl xD *author stres sendiri*

Akhirnyaaa selesai juga part final yang sangat aneh bin maksa ini. Panjang banget kan readers? Semoga sudah tidak ada lagi yang membuat kalian penasaran ._. dan semoga part ini sudah cukup memuaskan kalian 🙂 maaf jika terdapat banyak typo dan kekurangan..

Dan.. dengan berakhirnya ff ini, itu artinya, saya, citrapertiwtiw, pamit undur diri dari hadapan readers sekalian dengan mengucapkan TERIMAKASIH yang sebesar-besarnya karena dukungan kalian terhadap ff yang jauh dari kata sempurna ini.. tanpa dukungan kalian, author mana mungkin semangat untuk berkarya 🙂

COMMENT dan LIKE benar-benar diharapkan untuk part ini! Comment yang panjang tentunya xD apa kesan kalian terhadap ff ini? Author sangat menunggu tanggapan readers sekalian.

Sekali lagi terimakasih, readers. I love you all :*

Author kemungkinan kembali dengan ff baru setelah bagi rapot 🙂

221 responses to “Love Story of The Sleepaholic [ Part 10 [FINAL] : Wake Me Up with Your Love ]

  1. Nyesel baru tauh ni ff:D
    #emang dari dlu lo kemana cerita asik di geboy dah dari part 1 udah di bikin penasar dan seneng banget kalau nih ff happy ending 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s