Anonymous [Chapter Ten]

Anonymous [NEW]

Title : Anonymous

Author : Lathifah Sinarwulan a.k.a Summer Cho (@chosm96)

Casts :

  • Lee Yoonji a.k.a YOU *remember! It’s YOU/READER*
  • Kim Sunghee a.k.a Author *or YOU if you’re baekhyun biased/shinners/BAEKons*
  • All EXO members
  • Jill/Choi Minji a.k.a ShawolMinji the Phoenix firebird or Jack’s twin sister or Choi Minji (ShawolMinji)

Genre : Supernatural, fantasy, school live, family, friendship, little bit romance, AU

Rating : PG15~

Length : Series

Disclaimer : all casts isn’t mine, the plot inspired by MAMA MV and the story before the MV. I just own the fanfic, but you must ask my permission if you want to publish in other web. Don’t PLAGIRISM my fanfic too.

Last Chapter : TEASER | CHAPTER ONE | CHAPTER TWO | CHAPTER THREE | CHAPTER FOUR | CHAPTER FIVE | BEHIND THE FF (CUAP2 AUTHOR) | CHAPTER SIX | CHAPTER SEVEN | CHAPTER EIGHT | CHAPTER NINE |

Annyeong readersdeul! ^^

Ngga kerasa yah, akhirnya FF ANONYMOUS ini mencapai endingnya setelah macet selama setengah tahun, hehe

Tipong mau mengucapkan banyak2 terimakasih sm readers yang udah setia nungguin, ngasih komentar, kritik dan saran, juga semangat sampe anonymous bisa bangkit dan selesai ^^

Semoga Part terakhir ini tidak mengecewakan kalian ya ^^

Makasih juga buat readers2 yg udah jadiin saya author fav, ff ini ff fav, sampe rela nunggu setengah taun, kkk

Salam sayang buat semua readers :* {}

–Previous

 “Kalian benar-benar bodoh.” Tiba-tiba jimat ditangan Kris direbut oleh Jill. Jill melempar jimat itu ke jasad Aron. Lalu kepingan-kepingan kecil itu kembali membentuk Aron yang besar dan perkasa.

Aron langsung menembakkan cahaya yang sangat menyilaukan ke arah mereka berduabelas, salah, lebih tepatnya mereka berlimabelas. Lengkap dengan Sunghee, Yoonji, juga Jill.

“AAAAAAAARRRGGGHHHHH!!!!!!!!!!!”

# # # # #

CHAPTER TEN – The End of Us

Duabelas bocah berumur 6 tahun sedang tiduran ditanah lapang membentuk lingkaran. Wajah mereka nampak bahagia dan lelah karena mereka habis bermain.

“Ya! Mau jadi apa kita besar nanti?” tanya bocah berpipi tembem mirip bakpao, sangat menggemaskan.

“Aku mau menjadi penguasa didunia ini!”

“Aku mau jadi pangeran…”

“Aku ingin bekerja di pos pengobatan!”

“Bolehkah aku menjadi koki?”

Mereka asyik berceloteh dan tertawa-tawa. Bocah berambut kecoklatan, menghembuskan angin-angin kecil pada teman-temannya agar tidak kegerahan. Sedangkan yang berambut hitam membagikan air.

“Hey, apa cita-citamu?” tanya bocah berpipi tembem tadi bertanya pada bocah yang bermuka paling seram diantara mereka. Wajahnya mirip panda.

“Aku mau jadi prajurit dunia ini…”

“Kalau kau, makhluk terbang?” tanya bocah itu pada bocah tinggi disebelahnya.

“Aku mau menjadi pelindung Pohon Kehidupan seperti Aron.”

“Apa?” yang lain langsung bangun dan memperhatikan bocah tersebut.

“Aku ingin menjadi naga yang hebat seperti Aron! Bisa melindungi semua makhluk di dunia ini, juga Pohon Kehidupan.” Ujarnya bangga. Yang lain hanya bertepuk tangan heboh.

“Cita-citamu hebat sekali!”

“Aku juga mau jadi penjaga Pohon!”            

“Aku juga mau!”

“Aku juga aku juga!”

# # # # #

Kris membuka kedua matanya perlahan. Ia disuguhi pemandangan asing dihadapannya. Ia duduk lalu meregangkan tubuhnya. Dimana dia?

Ia melihat ke sekitarnya, terlihat teman-temannya sekaligus adik-adik dan kakaknya tertidur pulas di gurun ini. Tunggu, ini bukan gurun, ini lapangan dimana terdapat sebuah pohon besar ditengahnya. Kris bangkit lalu berjalan menghampiri Pohon itu.

Kris menyentuh pohon itu dengan hati-hati. Sudah lama ia tidak menyentuh pohon yang sangat tua ini. Umurnya sudah tidak bisa dihitung lagi. “Arbre de la vida…” gumamnya sembari mengelus sebuah ukiran dipohon tersebut.

“Apa kau masih ingat betapa segarnya pohon ini ketika kita masih kecil?” Kris berbalik dan mendapati seorang pria berjubah putih yang sedang tersenyum padanya. Kris terbelalak.

“Joshua…” Kris langsung berlari memeluk pria itu. Pria itupun membalas pelukannya.

“Apa kabar adikku?” tanya pria yang bernama Joshua itu. Kris tertawa.

“Tentu saja baik, lama sekali tidak berjumpa…”

“Akhirnya kau mencapai impianmu kan?” Joshua melepas pelukannya begitu juga Kris. “Menjadi penjaga Pohon Kehidupan?”

Kris menghela nafas berat. Joshua bingung melihat tingkahnya. “Kak, bagaimana kalau aku bilang aku menyesal?”

# # # # #

Sunghee terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berada disebuah tempat yang asing. Sebuah ruangan berwarna putih bersih. Ini sebuah kamar. Iapun mendapati Yoonji yang tertidur disebelahnya.

Diruangan ini begitu banyak kasur, dan Sunghee mencoba untuk menghitungnya. Duabelas, ya, duabelas. Ia menatap berbagai barang disana yang berwarna putih bersih. Barang-barangnya terlihat aneh.

“Yoonji-ya, bangun.” Sunghee mengguncang-guncangkan tubuh sahabatnya itu.

“Engghh… Ada apa Oppa?”

“Ya! Bangun, aku Sunghee bukan Oppamu!” seru Sunghee membuat Yoonji terperajat lalu bangun.

“Lho, dimana kita?” tanya Yoonji yang sama herannya dengan Sunghee.

“Molla. Aku terbangun, kita sudah ada disini.”

“Tadi apa yang terjadi?” tanya Yoonji. Sunghee berusaha mengingat-ngingat.

“Ah, molla. Kepalaku sakit.”

“Kalian sudah bangun?” Sunghee dan Yoonji terperajat. Seorang pria berpakaian putih-putih muncul. Namun, ada yang aneh. Sepatunya merah menyala.

“Nugu?” tanya Yoonji penasaran. Pria itu tersenyum.

“Aku yang menyerang kalian disekolah tadi.” Jawabnya santai lalu duduk disalah satu kasur. “Tapi tadi aku berwujud naga.”

“Aron?!”

Aron tersenyum simpul lalu bangkit. “Kalau kalian sudah sadar, ayo kita kesana.”

“Kesana kemana?”

“Ke tempat bocah-bocah tak berguna itu berada.”

# # # # #

“Hanya kita yang kemari? Mana Aron? Mana Jill?” tanya Jongin heboh. Yang lain hanya menanggapinya tanpa semangat. Sehun membuat pusaran-pusaran angin kecil seperti kehabisan mainan.

“Lalu kenapa kita ditinggal disini tanpa satu pentunjuk pun?”

“Mana Kris?”

“Disana, mengobrol dengan Joshua.” Minseok menunjuk Kris yang duduk bersandar ke Pohon Kehidupan dengan Joshua, kakaknya.

“Belum apa-apa aku sudah merindukan bumi.” Ujar Baekhyun sembari menghela nafas. Chanyeol tersenyum jahil.

“Meridukan bumi atau Sunghee?” godanya membuat wajah Baekhyun memerah. Baekhyun pun mendorong Chanyeol dan menendang-nendangnya seperti anak kecil. Chanyeol terbahak.

“Ngomong-ngomong tentang Sunghee, apa mereka ditinggal disana? Apa mereka baik-baik saja?” tanya Joonmyun membuat yang lain terdiam.

“Kalian tidak perlu khawatir…” mereka menoleh ke asal suara. Aron tersenyum dengan tampannya dengan wujud manusia. “karena mereka disini bersamaku.” Sunghee dan Yoonji tiba-tiba muncul dari balik punggung Aron.

“Sunghee-ya!” Baekhyun langsung bangkit dan menyongsong gadisnya itu. Sunghee tersenyum lalu memeluknya. “Ya, kamu tidak apa-apa kan? Kenapa kau bisa ada disini?”

“Aku juga tidak tau. Bangun-bangun aku sudah ada diruangan serba putih seperti kamar dengan duabelas kasur didalamnya.”

“Itu kamar kami dulu.” Ujar Tao dengan wajah datarnya.

Joonmyun menghampiri Yoonji dan medorongnya untuk berdiri dibelakang Joonmyun. “Kenapa kau bawa mereka kemari?”

“Sepertinya menyenangkan kalau ada yang menyaksikan kalian berjuang nanti.” Ucap Aron tanpa ditanggapi oleh yang lain. “Oh iya, sebelum kalian melakukannya, apa ada yang berminat untuk bereinkarnasi disini? Bukan dibumi?” tawar Aron.

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak bisa mengembalikan kalian semua ke bumi. Setengahnya harus tetap disini, menjadi bagian dari Pohon Kehidupan. Tidak bisa bereinkarnasi.”

Semuanya terperajat mendengarnya. Nafas mereka tercekat mendengar reinkarnasi. “Sebenarnya kalian akan tetap berwujud manusia, hanya saja kalian tidak bisa tinggal dibumi lagi, melainkan hidup di planet ini, planet EXO.”

“Aku mau.” Semuanya terperajat mendengar seruan Sehun. “Aku selalu dibully dibumi, lebih baik aku disini dan menjadi penguasa.”

“Aku juga, hidupku sepenuhnya untuk Pohon Kehidupan.” Ujar Kris. “Lagipula keluargaku yang sebenarnya ada disini.”

“Siapa lagi?” tanya Aron. “Harus ada empat orang lagi dari kalian.”

“Aku.” Seru Luhan. “Sehun, dia sebatang kara disini, apa jadinya dia tanpa aku?” ujarnya sambil tersenyum.

“Aku…mau menebus kesalahanku dibumi dengan tetap menjaga Pohon ini.” Ujar Tao dengan kepala tertunduk.

“Aku sudah bosan dengan bumi sebenarnya, tidak bisa pamer kekuatan.” Ujar Lay dengan wajah datarnya.

Semua terdiam. Padahal harusnya ada satu orang lagi. “Kyungsoo-ya, kau tidak mau?”

“Aku memang sangat menyayangi Pohon Kehidupan, tapi…aku bercita-cita menjadi koki dibumi.”

“Tapi, aku butuh satu orang lagi.”

“Bagaimana kalau aku saja?” tawar Joonmyun membuat semuanya terperajat. Begitu juga Yoonji.

“Ya! Apa maksudmu? Kau harus kembali ke bumi.” Seru Chanyeol kesal. Joonmyun tersenyum.

“Bukannya percuma? Aku kembali pun aku tidak akan mengingat Yoonji lagi kan?” tanya Joonmyun dengan senyum getir.

“Akupun begitu, makanya jangan menyerahkan diri. Kita masih punya harapan, hyung.”

“Kau yang akan kembali, Chanyeol-a… Tolong jaga Yoonji jika kau bertemu dengannya nanti…” Yoonji menangis dan langsung dipeluk oleh Sunghee.

“Andwae! Aku maunya Joonmyun Oppa! Andwae…”

“Mian, Yoonji-ya… Aku sudah mengecewakanmu banyak…”

“Nah, lengkap semua. Mari kita mulai…” Sunghee dan Yoonji langsung ditarik mundur oleh Aron. Yoonji memberontak, berusaha untuk berlari ke arah Joonmyun. Namun, pria itu tidak meliriknya sama sekali.

Sunghee memandang Baekhyun dengan tatapan sedih. Baekhyun pun balas menatapnya. “Semoga kita dapat bertemu lagi.” Ujar Baekhyun dengan suara pelan. Sunghee hanya mengangguk sembari menitikkan airmatanya.

# # # # #

“Hyung…” aku berbalik menghadap Chanyeol yang menatapku tajam. “Kau akan sangat menyesal jika memberikan kesempatanmu padaku, aku sudah tidak ada yang ingin kucapai dibumi, hyung.”

“Akupun begitu, Chanyeol-a.”

“Anni. Kau masih mempunyai pencapaian, Lee Yoonji. Dialah impianmu.” Seru Chanyeol mantap. Aku tertegun. Chanyeol begitu menatapnya tajam, anni menatapku penuh rasa kasihan.

“Ya, kenapa kalian masih memperdebatkan itu?” gerutu Jongin lalu mendorong kami berdua mendekati Pohon Kehidupan yang megah itu.

“Apa kau setuju denganku, Jongin-a? Bukankah Joonmyun yang pantas mengejar Yoonji? Aku lebih baik disini, melindunginya dari jauh.”

“Andwae aku saja yang disini.”

“Sudah aku saja!”

# # # # #

“Gege, apa benar gege mau menemaniku disini?” tanya Sehun padaku yang berjalan disampingnya. Luhan tersenyum.

“Kau sudah seperti adikku, tidak ada yang bisa menjagamu dengan baik seperti aku. Buktinya, ketika kau di Seoul, kau begitu tidak terurus setelah kepergian pengurusmu itu…”

“Gomawo, gege. Kau benar-benar kakakku!” seru Sehun sembari merangkulku. Berbeda dengan yang lain kami berjalan sambil tertawa-tawa dan bercanda, seperti kami ketika masih kecil dulu. Ya, inilah dunia yang cocok untuk kami. Agar kami terus bersama.

# # # # #

“Walaupun kita kembali ke bumi, kita belum tentu menjadi kakak Sunghee lagi kan?” tanyaku pada Minseok hyung. Ia mengangguk.

Kami berjalan paling terakhir, anni, ternyata yang paling terakhir itu Baekhyun. Sesekali ia menoleh ke belakang melihat Sunghee yang ditarik Aron menjauh. Betapa malangnya dia.

“Awas saja kalau Baekhyun dan Sunghee tidak ditakdirkan untuk bersama.” Gerutu Minseok membuatku tersenyum kecil.

“Mereka memang pantas bersama, hyung.”

“Lalu bagaimana dengan Joonmyun dan Yoonji?”

“Entahlah. Akupun bingung apa yang akan terjadi dengan mereka nanti.”

Mereka kembali terdiam. Langkah mereka sengaja dilambatkan, karena, jujur, mereka takut menghadapi Pohon Kehidupan itu. “Hyung, seperti akan di eksekusi.” Komentarku disertai anggukan dari Minseok hyung.

“Seperti akan menyerahkan nyawa, benar?” aku mengangguk. Ya, kami terlalu takut. “Tenang saja, kita akan hidup kembali setelah ini. Ini demi Sunghee, Eomma, dan Appa.”

“Demi Sunghee, Eomma, dan Appa.”

# # # # #

Sekali lagi aku menoleh ke belakang.  Sunghee masih saja menatapku dengan tatapan sedihnya. Aku mohon, jangan menatapku seperti itu.

Rasanya ingin menangis saja, sesak sekali.

Aku menatap Pohon Kehidupan dihadapanku. Begitu besar dan megah. Tempatku lahir, dan tempatku mati.

“BAEKHYUN OPPA!” aku tersentak dan menoleh. Tiba-tiba tubuhku terdorong ke belakang karena seseorang memelukku. Sunghee, ini Kim Sungheeku.

Aku memeluknya erat. Bisa kudengar isak tangisnya. Akupun ikut menangis. Aku tidak ingin ini menjadi perpisahan kami. “Saranghae, Sunghee-ya…”

“Na do, Oppa…” kami berpelukan erat. Dan sepertinya semua mata memandang kami. Aku tidak perduli lagi. “Apa kita akan benar-benar bertemu nanti?”

“Aku harap begitu, Sunghee-ya…” aku melonggarkan pelukanku dan menatapnya. Iapun balas menatapku. Aku menarik kepalanya mendekat dan mencium keningnya lembut.

“Tolong, jangan pernah lupakan aku, Kim Sunghee…”

# # # # #

Aku tertegun menyaksikan Baekhyun dan Sunghee yang saling berpelukan. Betapa romantisnya mereka. Tidak seperti aku dan Yoonji yang malah saling menjauh seperti ini.

“Kau iri dengan mereka?” tanya Luhan yang sejak kapan berada disampingku. “Lalu kenapa kau tidak lakukan hal itu pada Yoonji?” goda Luhan.

“Sudah kubilang aku tidak akan kembali. Aku tidak seoptimis mereka, mereka terlalu yakin akan dipersatukan kembali.”

“Apa bersikap optimis itu salah?” Luhan berjalan kembali menuju Pohon.

Sedangkan aku diam mematung menatap Yoonji yang menangis dikejauhan. Aku menggerakkan tanganku, sehingga airmatanya terhapus. Ia tertegun. Aku menatapnya lalu tersenyum. Tidak lama kemudian iapun membalas senyumku.

Ya, bersikap optimis tidak salah ternyata.

# # # # #

“Jadi intinya kau akan kembali tinggal disini?” tanya Joshua padaku. Aku mengangguk mantap.

“Baguslah, kita bisa kembali hidup bersama dan kau bisa menjadi prajurit sepertiku.” Ujar Joshua dengan mimik gembira. “Ngomong-ngomong kau tidak menemukan jodoh kan dibumi?”

“Iya, kenapa memangnya?”

Joshua mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik. “Aku dengar dari Aron, sepertinya Jill menyukaimu. Tapi, yang aku dengar lagi, sepertinya ia akan berpaling pada Luhan. Kau harus merebutnya.”

Aku hanya menyengir. Joshua tertawa disebelahku lalu pergi. Dasar. Jill menyukaiku? Tidak ada tanda-tanda sama sekali kalau ia menyukaiku. Dan Luhan menyukainya? Itu tidak mungkin lagi karena Luhan hanya menyayangi Sehun.

# # # # #

Aku menyaksikan mereka berduabelas yang membentuk formasi mengelilingi pohon tersebut. Mereka nampak memejamkan mata dan mengumpulkan semua kekuatan dan tenaga mereka. Aku diam dikejauhan sambil menahan Sunghee dan Yoonji agar tidak berlari ke Pohon Kehidupan itu.

“Kapan kau akan memulangkan mereka, Aron?” aku menoleh dan mendapati Jill sudah berdiri disampingku.

“Nanti saja.” Jawabku pendek lalu kembali menyaksikan keduabelas bocah itu.

“Sebenarnya aku tidak suka kau terus bersama Yoonji dan Sunghee.” Ucap Jill lirih membuatku tertegun. Jill berjalan mendekatiku dan merangkul leherku dengan kedua lengannya. “Setelah penjaga Pohon Kehidupan diganti, maukah kau menemui Jack dan kedua orangtuaku?”

“Untuk?” tanyaku sambil menyeringai.

“Untuk meminta persetujuan agar kita bisa hidup bersama.” Aku hanya tersenyum lalu memeluknya.

# # # # #

Satu persatu dari keduabelas kekuatan itu mulai muncul. Angin mulai bertiup dengan hebatnya. Beberapa petir bermunculan. Waktu disekitar mereka mulai terhenti. Pasir-pasir disekitarnya mulai bergerak-gerak. Cahaya yang menyilaukan muncul dari balik Baekhyun. Api mulai berkobar disekitar mereka. Air yang bergerak-gerak menyerupai ular kobra. Namun ular itu langsung membeku. Daun-daun Pohon yang mulai menyegar. Benda-benda disekitar mereka mulai bergerak-gerak dan melayang.

“Terimakasih untuk semuanya, wahai Pohon Kehidupan.” Luhan membuka mulut. Semuanya tetap memejamkan mata. “Kini kami akan mengembalikan apa yang kami pinjam. Tolong kau terima.” Lanjutnya.

Setelah itu lapangan itu berguncang dengan hebat. Sunghee dan Yoonji menjerit membuat Aron dan Jill harus mengirim mereka kembali ke bumi. Cahaya menyilaukan berpedar dari Pohon Kehidupan itu sehingga mereka berduabelas tidak nampak lagi karena silaunya cahaya dari sana.

Kejadian itu berlangsung sekitar 10 menit dan cahaya itu mulai meredup. Redup, dan lenyap, disertai lenyapnya keduabelas orang tersebut.

# # # # #

“Sunghee-ya, ayo bangun. Sudah pagi sayang…” seseorang menyibakkan tirai jendela sehingga sinar mentari menyelinap masuk ke kamar gadis itu. Ia mengerang lalu membuka kedua matanya perlahan.

Ia meregangkan tubuhnya yang entah kenapa terasa sangat pegal. Seperti ia mengalami tidur panjang. Eommanya sudah keluar dan kini hanya ia seorang diri dikamar. Ia bangkit lalu berjalan ke kamar mandi dan mulai menjalani aktivitasnya seperti biasa.

Selesai mandi dan berpakaian, Sunghee berjalan keluar kamarnya. Langkahnya terhenti didepan pintu dan menoleh ke sebelah kirinya. Dimana terdapat sebuah pintu. Sunghee mengerutkan keningnya bingung. Seperti tidak asing dengan pintu itu namun ia juga seperti asing dengan pintu itu.

Ia memutuskan untuk tidak ambil pusing dan menuruni tangga menuju meja makan. “Ayo duduk.” Perintah Eommanya dijawab anggukan. Iapun duduk dihadapan dua orang pria yang nampak sibuk memakan sarapannya. Eommanya pun duduk disebelahnya. “Ya, Minseok-a, makannya pelan-pelan sayang.”

“Aku ada sidang hari ini Eomma. Aku gugup.” Seru Minseok dengan nada gemetaran. Jongdae tertawa disebelahnya.

Sunghee terbelalak melihat kedua orang itu. Yang dilihat hanya mengerutkan kening. “Ya! Sunghee-ya, kenapa kau menatap kami seperti itu? Mengerikan.” Komentar Jongdae.

Sunghee sendiri merasa aneh kenapa dia sangat terkejut melihat kedua Oppanya yang biasa dilihatnya setiap hari. Ini aneh, gumamnya.

“A–anniyo! Good luck sidangnya, Oppa!” serunya sambil tersenyum manis lalu memulai sarapannya.

Entah mengapa ia merasa sangat senang melihat kedua Oppanya itu.

# # # # #

“Yoonji-ya!” Sunghee berlari mengejar sahabatnya yang baru saja menoleh. Yoonji tersenyum lalu melambai pada Sunghee. “Ayo ke sekolah bersama!” Sunghee menggandeng Yoonji lalu berjalan menyusuri trotoar.

“Sunghee-ya, nanti pulang sekolah ayo kita makan siang bersama!”

“Mau makan dimana?”

“Dimana ya? Aku bosan makan ramyun.”

Sunghee berpikir sejenak, bagaimana kalau di cafe sebrang sekolah kita?” tawarnya. “Yang baru buka seminggu yang lalu. Banyak sekali pengunjung, sepertinya cafe itu memang menjual makanan-makanan yang lezat.”

“Hmm, boleh juga! Apa kita harus ajak teman-teman yang lain?” tanya Yoonji. Sunghee menggeleng.

“Anni. Cukup kita berdua saja. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama, Yoonji-ya.” Sunghee mencubit gemas pipi sahabatnya itu. Yang dicubit hanya mengerucutkan bibirnya.

“Setelah itu kita beli es krim di kedai Hong Ahjusshi!”

“Boleh juga idemu!”

Mereka melangkah memasuki gerbang sekolah mereka. Sunghee maupun Yoonji sempat tertegun melihat gedung sekolahnya yang berdiri tegak. Namun keduanya tidak ambil pusing juga.

Sesampainya dikelas, Sunghee langsung diganggu oleh Park Jinyoung dan Im Jaebum, duo JJ yang sering mengganggunya itu. Yoonji hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah ketiganya. Jinyoung dan Jaebum yang senang menggoda Sunghee, dan Sunghee yang tidak suka diganggu.

Tiba-tiba Kang Songsaengnim datang. Beliau tidak sendiri, dibelakangnya ada seorang pria berambut hitam yang sangat familiar dimata Yoonji. Tapi, siapa?

“Kalian kedatangan teman baru hari ini, silakan perkenalkan dirimu.” Pria itu maju dan menebar senyumnya ke seluruh penjuru kelas.

“Annyeong haseyo, joneun Do Kyungsoo imnida. Banggawayeo, mohon bimbingannya.” Ia membungkuk.

“Silakan duduk dibelakang Im Jaebum, Kyungsoo-ssi.” Pria itu mengangguk lalu duduk dibangku yang ditunjuk Kang Songsaengnim. “Baiklah kita mulai saja pelajarannya.” Murid-murid pun mengeluarkan buku catatan dan alat tulis mereka.

# # # # #

“Hai!” aku mendongak dan mendapati si murid baru tersenyum padaku. Ia mengulurkan tangannya. “Aku Kyungsoo, kau?”

“Cho Sunghee imnida.” Jawabku sambil tersenyum. Kyungsoo balas tersenyum. Wajahnya begitu familiar dimataku.

“Ya ya ya! Jangan sentuh uri Sunghee sembarangan, Do Kyungsoo. Ini peringatan pertamamu.” Seru Jinyoung disertai anggukan Jaebum.

“Memangnya dia siapa kalian?” tanya Kyungsoo santai.

“Ya! Kita itu yang berhak berada didekat Sunghee!”

“Aish! Kalian ini apa-apaan, sana pergi!” aku bangkit lalu berjalan ke bangku Yoonji. “Kita ke kantin yuk. Aku ingin beli minum.” Aku langsung menarik Yoonji tanpa menunggu jawaban darinya.

Kami ke kantin lalu membeli minuman, setelah itu kami duduk disalah satu bangku ditaman. “Hmm, biasanya kalau disini kita selalu bertemu Baekhyun sunbae, dimana dia?” goda Yoonji membuat Sunghee tertegun.

# # # # #

“Apa-apaan sih, jangan mengungkit Baekhyun oppa lagi…”

“Omo, sejak kapan kau memanggilnya Oppa? Ya, apa ada perkembangan dari hubungan kalian?”

“Kau ini bicara apa Yoonji-ya!”

Sunghee mendengus sedangkan Yoonji asyik menggodanya. Mereka tidak sadar dari kejauhan dua orang pria menyaksikan mereka. “Ya, itu Sungheemu.”

“Ini aneh…”

“Wae?”

“Kenapa begitu melihat Sunghee aku merasa sangat merindukan dia? Padahal baru kemarin kita mengobrol bukan?”

“Ya, ada apa dengan dirimu?”

“Seperti sekian lama tidak bertemu, seperti aku sangat-sangat merindukannya.”

“Tunggu apalagi? Cepat hampiri dia!” pria yang tinggi itu mendorong pria disebelahnya. Pria yang didorong mendengus lalu berjalan menghampiri Sunghee.

# # # # #

Yoonji yang asyik menggodaku tiba-tiba membelalakkan matanya menatap sesuatu dibelakangku. Ada apa?

“Omo, omo, itu Baekhyun sunbae! Ya, Sunghee-ya, kalian benar-benar berjodoh!” aku tidak berani menoleh ke belakang karena pasti pipiku sangat merah sekarang. “Kalau begitu aku pergi dulu, dadah!” Yoonji melambai lalu berlari ke arah Baekhyun Oppa datang.

“Ya! Lee Yoonji!” aku berbalik dan mendapati Yoonji melambai sekilas ke arah Baekhyun Oppa dan berjalan lagi. Omo, tidaak aku melihat Baekhyun Oppa.

Aku menatapnya malu-malu. Jauh didalam lubuk hatiku aku merasa lega, aneh, perasaan apa ini. Aku melihat Baekhyun Oppa seperti aku sudah lama tidak melihatnya, aku sangat-sangat merindukannya. Ini aneh, perasaan apa ini?

“Annyeong, Sunghee-ya…”

“Annyeong, Oppa…”

# # # # #

Aku menoleh sekilas ke belakang dan tersenyum Baekhyun sunbae sudah duduk disebelah Sunghee. Aku berbalik dan tersentak melihat seorang pria berdiri tegak dihadapanku.

“Omo!” aku hampir saja terjatuh kalau ia tidak menahanku. Chanyeol sunbae.

“Ya! Hati-hati kalau jalan.” Serunya sembari menarikku agar berdiri tegak lagi. Aku memasang raut wajah kecewa begitu melihatnya. Kenapa aku jadi kecewa seperti ini?

“Mianhae.”

“Ya, apa kau berpikir kalau Baekhyun dan Sunghee sudah jadian? Mereka terlihat begitu serasi, dan..aigoo!” aku hendak berbalik, namun ia menahanku. “Jangan lihat itu, atau kau tidak akan rela begitu melihatnya.”

“Memangnya kenapa?” tanyaku heran. Aku berusaha berbalik dan ketika aku berhasil menoleh ke belakang. Aku melihat Baekhyun sunbae tengah mencium Sunghee.

“Omo!”

# # # # #

Yoonji berjalan dengan wajah kusam disebelah Sunghee. Ia menatap sahabatnya itu dengan cemas. “Mianhae, Yoonji-ya…”

“Tega sekali kau tidak memberitahuku, Sunghee-ya… Kapan kau jadia dengan Baekhyun sunbae?”

“Sungguh baru kemarin dan aku hendak memberitahukannya padamu!” seru Sunghee dengan puppy eyesnya.

“Hmm, oke termaafkan.” Sunghee melompat girang dan langsung memeluk sahabatnya itu. “Gomawo, Yoonji-ya!”

“Tapi ada satu syarat!” seru Yoonji sebelum Sunghe mencekiknya.

“Apa?”

“Traktir aku makan siang.”

“Itu tidak masalah. Kajja!” Sunghee menarikku keluar gerbang sekolah. Kamipun menyebrangi jalan dan berhenti didepan cafe yang baru berumur seminggu ini.

“Sunghee-ya, apa kita pernah kemari?” aku memandang cafe ini keheranan.

“Anni. Wae?”

“Aku seperti sudah pernah kesini sebelumnya.”

“Na do… Ini aneh, aku aneh seharian ini.” Ujar Sunghee.

“Aku juga.”

Kami pun melangkah memasuki cafe tersebut dan duduk disalah satu meja. “Mau pesan apa?” aku mendongak dan mendapati seorang pria berambut hitam tersenyum pada kami. Aku tersentak.

“K–Kim Joonmyun…”

“Kau mengenalku?”

“Siapa dia Yoonji?” tanya Sunghee keheranan. Aku sendiri pun heran. Aku sangat familiar dengan wajahnya bahkan aku menyebutkan satu nama begitu melihatnya. Tapi, kenapa aku merasa kita tidak saling kenal?

“Ahaha, benar namamu Kim Joonmyun? Aku pernah mendengar namamu.”

“Oh, ya? Apa aku begitu terkenal.” Pria itu langsung duduk disampingku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Ya, mau apa pria ini?

Aku memundurkan wajahku lalu menoleh. “Haha, mungkin.”

“Aku juga mengetahui namamu, Lee Yoonji.” Seru pria bernama Kim Joonmyun itu. “Long time no see, Yoonji-ya.” Serunya sembari mengedipkan sebelah matanya.

# # # # #

“Anni. Kau masih mempunyai pencapaian, Lee Yoonji. Dialah impianmu.”

“Ya, kenapa kalian masih memperdebatkan itu?”

“Apa kau setuju denganku, Jongin-a? Bukankah Joonmyun yang pantas mengejar Yoonji? Aku lebih baik disini, melindunginya dari jauh.”

“Andwae aku saja yang disini.”

“Sudah aku saja!”

“Mwo? Kau serius, Jongin-a?”

“Aku begitu tidak berguna dibumi, lebih baik aku disini. Kalian pergilah ke bumi dan kejarlah Yoonji kalian itu!”

# THE END #

Huehehehehe, akhirnya selesai /tepuk tangan heboh/

Tipong mau salam2 dulu buat readers tercintaaa yg suka ngingetin di twitter :*

Buat readers2 yang komeeennya rajin ^^

Trimakasih banyak, mian kalo endingnya gaje, jangan paksa aku bikin sequel okeh :*

42 responses to “Anonymous [Chapter Ten]

  1. Wah… Happu endingnya gk kepikiran lho thor! Aku suka… Daebak! Ih aku pengen nangis! Sedih gtu Thor! Tapi Jijur Happu endingnya aku suka! Aku tunggu cerita Author yg lain! Mian baru Coments lagi? Hehehehehe… Hwaiting ya thor buat FF lainnya!

  2. Ye~ selesai juga bacanyaaa. DEMI APA SERU BANGET.
    tapi kurang puas. soalnya yoonji sama chanyeol ga jadian ah-”
    Hwaiting unnie, buat bikin FF yang laiinn;;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s