Somebody to Love [#11]

Somebody to love 11

Author: Vddid

Tittle: Somebody to Love

Casts: Oh Sehoon (sehun), Cho Minhwa (OC), Lee Taemin, Kim Jongin (Kai)

Length: Chaptered

Rating: PG 15+

Genre: Romance & Friendship

Disclaimer: It’s my plot! My imagination like my own world! Its just a fiction okay?!

DANGER: Typo ._.

Previous part > Somebody to love [#11]

Preview Last part:

Ia pun menggerakkan tangannya perlahan. Matanya masih terasa sangat berat untuk dibuka. Ia bisa mendengar sebuah mouse yang diklik, suara pensil yang sedang menggambar sesuatu, dan suara tangan yang seperti menepuk-nepuk meja. Karena penasaran, ia pun memaksa untuk membuka matanya. Setelah matanya terbuka dengan sempurna, samar-samar ia melihat seorang yeoja sedang menggambar baik di laptop maupun di kertas yang bisa dibilang besar. Tidak lupa juga ia melihat sketchbook berukuran besar disamping laptop. Siapa dia, pikirnya membatin. Karena kepalanya masih sakit untuk terlalu lama melihat kesamping, akhirnya ia mengembalikan posisi kepalanya seperti semula dan melihat sekitarnya. Kedua tangannya diinfus, alat bantu pernafasan terpasang menutupi mulutnya, dan ia terbaring di tempat tidur khas rumah sakit. Ia yakin sekarang bahwa dia ada dirumah sakit. Tapi yeoja yang sedang menggambar itu? Karena makin penasaran ia pun menoleh lagi kesamping memerhatikan yeoja itu dari belakang.

“Aish! Kau jatuh disaat yang tidak tepat, pensil!” dilihatnya sebuah pensil yang jatuh membelakangi yeoja itu. Akhirnya yeoja itu berbalik dan mengambil pensil itu. DEG! Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang biasanya. Sedetik kemudian dia tersenyum simpul ketika melihat wajah yeoja itu. Yeoja itu sekarang sudah lebih tinggi, terlihat lebih dewasa dengan penampilannya, dan.. semakin cantik dimatanya. “Cho Minhwa,”

***

            Minhwa mengumpat kesal ketika pensil yang dipegangnya jatuh. “Aish! Kau jatuh disaat yang tidak tepat, pensil!” minhwa pun berbalik dan mengambil pensil yang jatuh itu. “Cho Minhwa,” didengarnya suara seorang namja. Bulu nyawanya mulai berdiri. Yang ia tahu sekarang ia sedang berada dirumah sakit, dan sendirian menjaga seorang namja yang sedang koma. Suara itu terdengar sangat asing ditelinga minhwa. Suara serak seorang namja. Ia belum pernah mendengar suara seperti itu sebelumnya. Sebelum minhwa berbalik lagi untuk menggambar, ia melihat jam yang ada ditangannya. Jam sudah menunjukkan pukul satu tengah malam. Samar-samar ia melihat tempat tidur. Ia mengingat kembali apa tujuannya disini. Sedetik kemudian ia terkaget. Jangan-jangan suara itu…

Dengan perlahan ia mengalihkan pandangannya dari jam tangan menuju ke sebuah tempat tidur, yang cukup jauh dari tempatnya. Jantungnya sekarang berdetak sepuluh kali lipat. DEG! “Se-sehun-ah, kau sudah sadar?” Tanya minhwa tolol setelah melihat sehun yang sedang menatapnya sambil tersenyum simpul. Akhirnya minhwa berdiri dan berjalan menuju tempat tidur. Tatapan mereka berdua bertemu. Seperti sedang bertelepati, mereka saling bertatapan dalam diam. Seolah-olah waktu berhenti untuk mereka. “Aku panggilkan dokter untuk memeriksamu sekarang,” sebelum minhwa melangkah pergi keluar dari kamar, sehun mencoba menahan minhwa dengan memegang tangan minhwa. Minhwa kaget setengah mati ketika merasakan tangan dingin sehun memegang tangannya. “Wae-waeyo?” Tanya minhwa setelah dia membalikkan tubuhnya lalu menatap sehun dengan heran. “Biarkan mereka datang pagi hari. Mereka perlu istirahat karena sekarang masih tengah malam. Jadi, tugasmu sekarang adalah duduk disampingku, menemaniku disini,” jawab sehun dengan suara seraknya. Akhirnya minhwa duduk dikursi didekat tempat tidur sehun lalu melihat sehun. Sehun hanya tersenyum simpul melihat minhwa sedang melihatnya. “Sehun-ah, sebaiknya kau jangan banyak bicara sekarang karena suaramu terdengar menyeramkan ditelingaku,” komentar minhwa yang mendengar suara sehun yang sepertinya dipaksakan untuk berbicara. Sehun hanya tersenyum mendengar minhwa berkomentar. Lambat laun, mata minhwa sudah mulai tertutup. Akhirnya minhwa tertidur dengan posisi kepala terkulai dipinggir kasur.

Finally, I can see you.. my love.

***

“Hwa-ya, Hwa-ya, bangun,” perlahan minhwa membuka matanya. Dilihatnya soonhyeon sedang tersenyum menatapnya. “Sehun sudah sadar,” mendengarnya minhwa hanya tersenyum meresponnya. Ia akhirnya berdiri dari tempat duduknya, lalu merapikan semua perlengkapannya yang dibiarkannya dimeja. “gambarmu ternyata bagus semua. Aku tadi melihatnya bersama sehun,” mata minhwa langsung membulat mendengar kata soonhyeon. Ia akhirnya berbalik melihat soonhyeon dan sehun sedang tersenyum menatapnya. “Ternyata gambar sketsamu makin lama makin bagus juga, minhwa-ya,” kata sehun dengan suara yang normal. Tidak seperti pada saat pertama ia sadar dari komanya. Minhwa tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Yang benar saja, sehun melihat sketsa gambarnya yang masih bergambarkan kotak, persegi panjang dan jajar genjang sudah dibilang bagus. Soonhyeon sepertinya hanya setuju-setuju saja kalau gambar minhwa dibilang bagus oleh sehun, dan yang soonhyeon pentingkan saat ini adalah sehun yang sudah sadar dari komanya.

Akhirnya minhwa mencuci mukanya sebentar dikamar mandi dan setelah itu membuka handphonenya. Banyak pesan yang masuk dan semuanya dari yeonji

‘From: Yeonji

Good morning! Tidur nyenyak kah kau? Aku sedang good mood pagi ini! Jadi, pagi ini aku sedang membuat miniature rumah taemin. -06:45 AM’

‘From: Yeonji

Hey! Aku ingin bertemu denganmu sekarang untuk membicarakan miniature dan desain  rumahnya! Aku kerumahmu satu jam lagi, oke? -08:35 AM’

‘From: Yeonji

Hoy! Aku sekarang berada dikamarmu tapi kamu tidak ada! Dimana kau sekarang? Cepat kemari! Dalam waktu 1 jam kau tidak muncul disini, Dijamin semua desain yang kubuat sudah tidak ada lagi dan jangan berharap untuk memintaku membuatnya lagi, -09:55 AM’

Setelah membaca semuanya, akhirnya minhwa melihat jam yang ada di dinding. Satu detik, dua detik, “OMO! YEONJI-YA!” minhwa dengan cepat menyimpan kembali semua peralatannya yang dipakainya tengah malam lalu pergi dari rumah sakit. Tidak lupa juga ia pamitan dengan sehun dan soonhyeon. Dia keluar dari rumah sakit tepat pukul sepuluh lewat lima belas.

Minhwa mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Matahari sudah bersinar terang, menerangi minhwa yang sedang menunggu lampu merah. Beberapa menit kemudian ia kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan kira-kira 90 km/jam.

“Annyeong, yeonji-ya.” Sapa minhwa ketika ia sampai dikamarnya dengan nafas yang tidak teratur. Lelah karena di rumah sakit tadi ia tidak sempat naik lift dikarenakan terlalu lama dan akhirnya menuruni tangga dengan setengah berlari, juga berlari masuk kedalam rumah dan menaikki tangga dengan setengah berlari menuju kamarnya. “Tiga menit tersisa. Kau dari mana sebenarnya?”

“Rumah sakit.”

“oh, menjenguk Temanmu itu? Sejak kapan?”

“Kemarin,”

“Kau menginap disana?”

“Nde,”

“Dan kau tidak mengerjakan tugasmu?”

“Aku mengerjakannya sambil lalu,”

“maksudmu?”

“Sambil menjaga temanku, aku mengerjakan tugasku. Puas? Sudahlah! Aku penasaran melihat miniaturmu! Sebentar sore kita akan bertemu dengan seorang arsitek yang bekerja sama dengan kita. Ide-ide kita akan digabungkan.” Akhirnya minhwa menghela nafas panjang. “Tunggu sebentar. Hampir selesai. Jadi, mandilah dulu dan lanjutkan tugasmu!” akhirnya minhwa menyengir, karena mungkin yeonji bisa mencium bau asamnya yang belum juga  dibersihkan dari tadi pagi. Akhirnya minhwa mandi lalu melanjutkan tugasnya.

“Hwa-ya, ayahmu itu… setelah dipikir-pikir.. ternyata awet mudah. Aku iri denganmu, hwa-ya.” Kata yeonji membuka pembicaraan setelah melihat minhwa mulai memegang pensil dan mistar. Minhwa terkekeh sejenak sebelum menjawab. “Jeongmal? Wah, padahal, abeoji-ku itu banyak dilanda stress. Yah, mungkin abeoji-ku memakai BB cream sehingga kulit wajahnya itu terawat. Mungkin juga abeoji rutin mandi air hangat seminggu dua kali di jepang supaya kulitnya tidak kusut. Mungkin juga memakai –“ tiba-tiba pintu kamar terbuka. Yeonji langsung melihat siapa yang datang tapi minhwa menghiraukannya. Yang ia tahu mungkin yang datang itu adalah pembantunya yang datang membawa minuman dan camilan untuk mereka. “kosmetik perempuan agar abeoji terlihat muda! Hahaha…” minhwa mengakhiri perkataannya dengan tertawa keras. Dia tahu apa yang dikatakannya mustahil dibuat oleh ayahnya karena ayahnya itu jarang sekali memerhatikan penampilannya. “minhwa-ya, kau tidak tahu siapa yang –“

“Aku mendengar semuanya, cho minhwa,” tiba-tiba tubuh minhwa menegang, matanya membulat, dan mulutnya menganga. “Abeoji? Hehehe, mianhae,” minhwa menyengir melihat ayahnya yang sekarang menatapnya dengan tatapan… kosong. “Yeonji, ahjussi ini tidak pernah memakai BB cream seperti yang dikatakan minhwa. Apalagi kosmetik wanita?! Ahjussi hanya memperbanyak makan buah-buahan dan sayuran. Dan pastinya, rajin membersihkan wajah jikalau sudah berkeringat dan berminyak.” Kata kyuhyun pada yeonji dan yeonji meresponnya dengan menganggukkan kepala. Ketika kyuhyun kembali menatap minhwa, minhwa langsung cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke sketsanya dan mulai menggambar.

***

            “Wah, akhirnya tugas kita berdua sudah selesai. Nanti yang akan menunjukkan semua gambarnya pada taemin adalah minah eonni,” kata minhwa setelah keluar dari sebuah café yang berada di daerah gangnam. “nde. Aku senang sekali, hwa-ya. Desain pertamaku adalah… rumah lee taemin. Kya~ kalau ada pers Conference pasti namaku, namamu dan nama minah eonni akan disebut,” kata yeonji lalu memegang pipinya dengan kedua tangannya. Ia membayangkan semua perkataannya bagaikan ia berada disurga. “hust! Dia bukan entertainer lagi, yeonji-ya. Dan, apa gunanya membuat pers conference dikarenakan membuat rumah baru?! Berpikir secara logika, yeonji-ya.” Akhirnya minhwa dan yeonji masuk kedalam mobil minhwa. “Ingat, jangan larut dengan imajinasimu!” minhwa menatap yeonji lalu menujuk dahi yeonji sebelum menjalankan mobil. Setelah ia puas menunjuk-nunjuk, akhirnya ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara diperjalanan –entah kemana, handphone minhwa berbunyi sekaligus bergetar, menandakan bahwa ada orang yang menelponnya.

“Yeoboseyo? … Nde, … Se-sehun? … Omo, kau sepertinya semakin membaik … Nde, sekarang aku dan temanku sedang dalam perjalanan entah kemana, karena kami belum membicarakannya … ide bagus! … sepuluh menit lagi kami sampai … oke!” akhirnya minhwa mencabut headset Bluetooth dari telinganya dengan senang. Yeonji yang sepertinya melihat ekspresi minhwa langsung menimbulkan tanda Tanya besar di kepalanya. “Hwa-ya, itu, sehun, temanmu yang sedang sakit itu?” Tanya yeonji hati-hati, takut-takut jangan ia salah perkiraan dan ia akan dimarahi minhwa. “Nde. Kondisinya katanya sedang membaik. Yah, aku belum memberitahumu bahwa ternyata dia sudah siuman kemarin. Dan dia memintaku untuk menjenguknya, denganmu juga.” Mata yeonji terlihat berbinar-binar mendengar apa yang baru saja minhwa katakana padanya. “Jeongmal? Wah, aku penasaran bagaimana paras-nya. Tapi, sebelumnya kita ke supermarket dulu. Beli buah-buahan atau apalah untuk dibawa kesana. ‘kan malu kalau datang dengan tangan kosong,”

“Arraseo. Sebenarnya, kalau hanya aku sendiri tidak perlu. Karena dia pasti akan menceramahiku panjang lebar. Tapi karena ada kau, aku rasa hal itu adalah suatu kerharusan. Kajja!” minhwa sedikit mempercepat laju mobilnya menuju supermarket terdekat.

***

“Annyeong~” sapa minhwa ketika dia dan yeonji sudah masuk kedalam ruang inap sehun. Minhwa melihat sehun sedang duduk diranjangnya dan memegang pensil dan sketchbook. Sedang menggambar rupanya. “Ah, nde, annyeong.” Minhwa dan yeonji berjalan mendekati  sehun. “Sehun, perkenalkan temanku yang satu ini, yeonji.” Yeonji dan sehun akhirnya berjabat tangan. “Kudengar dari minhwa, kau mahir membuat miniature rumah. Benarkah itu?” sehun menghentikan aktivitas sebelumnya dan memulai pembicaraan dengan yeonji. “Hehehe… lumayan.” Jawab yeonji lalu tersenyum. “Apakah kau sekarang mempunyai pacar?” setelah menanyakannya pada yeonji, samar-samar sehun bisa melihat dari ekor matanya bahwa minhwa terlihat kaget mendengar pertanyaannya. “Aniyo.” jawab yeonji singkat lalu melirik minhwa disebelahnya dengan tatapan ‘apa-maksudnya’. Minhwa hanya mengangkat kedua bahunya merespon tatapan yeonji. “Baguslah,”

Tiba-tiba handphone yeonji berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Yeonji cepat-cepat mengambil barang kecil itu dari saku celananya. “Yeoboseyo? … Nde, dirumah sakit. … mwo? Sekarang? … nde, arraseo,” akhinya yeonji mengembalikan handphonenya kesaku celananya. “Hwa-ya, aku dipanggil ibuku untuk makan malam dirumah. Katanya kakakku sedang berada dirumah sekarang.”

“Sehun-ssi, mianhae. Aku harus pergi sekarang. Hwa-ya, aku pergi duluan. Annyeong,” sebelum keluar dari kamar tidak lupa yeonji membungkuk Sembilan puluh derajat sebagai tanda hormat.

Canggung sesaat ketika minhwa dan sehun akhirnya berdua di ruang inap. Jantung minhwa bertedak lebih cepat dari yang biasanya. “Ahjumma dan soonhyeon eonni dimana?” akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut minhwa setelah ia mengumpulkan keberanian untuk melepas kecanggungan yang ada. “mereka tadi siang pulang ke rumah. Kata noona, setelah mereka kembali kerumah, mereka akan pergi ke makam abeoji untuk memperingati sepuluh tahun kepergiannya.” Jelas sehun panjang lebar. “sehun-ah, kau menyukai yeonji ya?”

“Mwo yeonji?”

“Nde. Kau jatuh cinta pandangan pertama?”

“Mmm… Aniyo”

“Mwo? Yak! Jadi apa maksudmu tadi menanyakan padanya kalau dia sudah mempunyai pacar?”

“Dasar cho minhwa. Tidak boleh melihat dan mendengar oh sehun merayu gadis lain,”

“YAK!” minhwa langsung menyubit pinggang sehun. Dan sehun hanya mencoba untuk menangkis tangan minhwa. Sehun terlalu lemah untuk menangkis tangan minhwa.

Karena tidak ada pilihan lain, dan badannya mulai melemah karena kelelahan, akhirnya sehun memeluk minhwa. Minhwa bergitu kaget ketika minhwa merasakan tangan sehun yang memelukknya. “Aku adalah oh sehun yang tidak gampang jatuh cinta pada orang lain, cho minhwa,”

“Tapi, kaulah orang yang benar-benar membuatku jatuh cinta,”

“Walaupun aku berusaha untuk mencintai orang lain, tapi hatiku ini tidak bisa,”

“Dan sekarang aku ingin mengatakannya padamu, niga joahae, cho minhwa”

Minhwa diam. Membatu. Tidak mau bergerak, apalagi berbicara. Ia masih tidak menyangka bahwa sehun menyukainya. Mata minhwa mulai memanas, dan perlahan bulir-bulir air keluar dari kedua bola matanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa sehun akan menyukainya. Dia berpikir bahwa sehun menyukai hwayoung, bukan dirinya. “Aku tidak melihatmu dari tampangmu saja. Atau merayumu begitu saja. Tapi hatiku bisa berbicara dengan hatimu yang ternyata tulus menyukaiku.” Minhwa masih diam. Lidahnya kelu untuk berbicara. Tapi, dia tetap berusaha untuk bisa berbicara. “Jeongmal?”

Sehun melepas pelukannya lalu memegang salah satu tangan minhwa. “Tatap aku, minhwa-ya,”

“Apakah aku harus?”

“Harus.” Jawab sehun mantap. Akhirnya minhwa menatap sehun sambil beberapa kali menutup mata. Sehun menempatkan tangan minhwa –yang dipegangnya tepat didadanya. Minhwa bisa merasakan bahwa detak jantung sehun yang berdetak cepat, tidak seperti detak jantung yang biasanya. “Kau bisa merasakannya, ‘kan?”

***

Minhwa mengendarai mobilnya dengan lemas. Badannya terasa sangat lemas karena kejadian beberapa jam yang lalu. Ah, jikalau waktu bisa diputar kembali, ia akan memutarnya dan tidak ingin merasakan kejadian itu. Kejadian itu, membuat jantungnya hampir berhenti dan.. rasanya bercampur aduk. Ia atau tidak, sehun sudah tahu hal itu. Yang sehun lakukan padanya itu adalah untuk meyakinkan minhwa bahwa sehun juga menyukainya. Oh, kenapa minhwa sekarang merasa dilemma? Pikirannya sedang kacau sekarang.

Untuk menghilangkan rasa berdebar-debarnya, ia tanpa sadar menelpon taemin. Tidak diangkat. Untuk kedua kalinya, tidak lagi diangkat sampai kali ke lima. Ada apa dengan taemin? Pikirnya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada taemin. Tidak ada tanda bahwa aka nada pesan masuk sampai menit ke lima. Minhwa gelisah sekarang. Kenapa taemin tidak membalas pesannya?

Akhirnya minhwa menelpon yeonji untuk menemuinya disebuah café. Diperjalanan menuju café yang dituju, minhwa masih memikirkan taemin. Ah, pasti ini karena dia sendiri yang meminta taemin untuk lebih menjaga jarak darinya. Tapi, taemin sudah pernah mengatakan bahwa ia tidak akan lari darinya. Dia akan terus berada dengannya baik jauh maupun dekat entah bagaimana caranya. Dan sekarang, apa sekarang taemin sudah mencabut perkataannya itu?

***

            “Jonghyun-ah, aku merindukannya,”

“Nugu? Ah, pasti yeoja yang kau kejar sedari bangku sekolah itu. Kalau tidak salah, dia anak dari presdir choex corporation.”

“Nde. Aku merindukannya,”

“Langsung saja telpon dan buat janji dengannya!”

“Aku tidak bisa,”

“Wae?” taemin menghembuskan nafas berat. Jujur, ia sekarang merindukan sosok minhwa sekarang. Sosok yang entah kenapa selalu tidak absen dari pikirannya. “Jangan bertingkah bodoh, lee taemin.” Lanjut jonghyun lalu mengikuti duduk dimeja disamping taemin. “Aku tidak bisa, karena dia sudah dimiliki oleh orang lain,” taemin menundukkan kepalanya, menutup matanya, lalu mencoba untuk mengapus memorinya bersama minhwa. Tapi tidak bisa. “Nde? Kalian bukannya sudah sama seperti pasangan semenjak kalian kursus bersama. Kenapa dia..”

“Dia sudah kembali dengan cinta sejatinya,” sambung taemin cepat membuat tanda Tanya besar dikepala jonghyun. “kalau aku boleh tahu, namanya siapa?” dengan hati-hati jonghyun menanyakannya pada taemin. “Dia, aku juga belum mengenalnya dengan dekat. Setahuku, dia mahir menggambar dan cekatan dalam dance. Aku mengenalnya karena dia mengikuti ekskul dance bersamaku waktu aku masih sekolah.” Jawab taemin dengan tubuh lemas. Tiba-tiba handphonenya bordering dan dilihatnya ada sebuah pesan masuk. Ternyata dari orang yang dirindukannya. Betapa senangnya taemin ketika membaca pesan itu. “Mwo? ‘Taemin kau dimana? Bisa kita bertemu?’ aigoo, lee taemin,” taemin langsung mendorong jonghyun dengan  keras, sehingga jonghyun jatuh dari meja. Dan untunglah jonghyun bisa menjaga keimbangannya, sehingga ia tidak benar-benar jatuh mencium dilantai. “Lee Jonghyun, kuperingatkan padamu, jangan berani membaca pesanku tanpa seizinku. Paham?”

“Nde, nde, nde, arraseo. Balas saja pesannya. Jangan ditunda-tunda.” Kata jonghyun sembari melipat tangannya didepan dada. Taemin hanya menghiraukan jonghyun dengan menyimpan kembali iPhonenya disaku celananya. “Waeyo?”

“Sudah kukatakan sebelumnya.” Jawab taemin cuek. “dengarlah saudaraku. Aku akan memberikan saran padamu, dan kau tolong dengarkan baik-baik” jonghyun berdiri lalu memegang kedua bahu taemin. “Kalau kau mencintainya, kejarlah dia. Begitulah cinta, terlampau egois. Jangan pernah menyerah. Jika kau hanya berdiam diri saja, disini, bagaimana cinta akan datang? Ingat, sebuah pencapaian diawali dengan sebuah usaha. Begitulah cinta bekerja,” taemin terlihat diam beberapa menit.

***

            “MWO? DIA SUDAH MENGATAKANNYA SECARA JUJUR? DIDEPANMU? OMO~” kata yeonji bersemangat. Minhwa hanya tersenyum melihat tingkah yeonji. Tapi, kenapa dia tidak seperti yeonji? Apakah dia sudah lebih dewasa sekarang? “Chukkae! Jadi, sekarang kau menraktirku?”

“Sepertinya,”

“Hua, gomapta,”

Minnhwa tersenyum melihat yeonji yang bertingkah kekanakan. Entah kenapa, ia mengingat taemin, dan akhirnya menelponnya saat itu juga. “Mwo? Kau menelpon sehun? Aish, baru beberapa jam berpisah sudah merindukannya?!”

“Kenapa tidak diangkat?” Tanya minhwa tepat wajahnya menatap layar handphone-nya. “Mwo? Tidak diangkat? Pasti dia sedang disuntik, hwa-ya –“

“Taemin sedang sakit?” kali ini minhwa membuat bingung yeonji. “Kau tadi menelpon taemin?” Tanya yeonji dan dibalas dengan anggukan oleh minhwa. “Aish! Hwa-ya, aku mengira kau tadi menelpon sehun. Jadi kuperkirakan dia tidak mengangkat telponmu karena sedang disuntik. Aish! Hwa-ya, taemin masih sehat! Sebelum kemari aku ditelpon olehnya dan menanyakarn kabarmu dan –“ kenapa dia tidak langsung saja menelponku, Tanya minhwa dalam hati. “ –menanyakan hubunganmu dengan.. sehun.” Minhwa merasa ada yang ganjil sekarang. Kenapa… “Hwa-ya? Gwenchana?” minhwa langsung sadar dari lamuannya. “N-nde, gwenchanayo. Wae?” Tanya minhwa polos. “Kau.. pucat.” Setelah mengatakan itu yeonji langsung menarik minhwa keluar dari café.

Yeonji meminta kunci mobil minhwa agar dia bisa membawanya. Minhwa yang sedang bingung dengan perasaan bercampur aduk hanya mengikuti perintah yeonji.

“Hwa-ya, kau tidak merasa lemah sekarang?” Tanya yeonji khawatir sementara ia mengemudi. “Sedikit.. pusing. Ah, pasti ini hanya perasaan saja.” Jawab minhwa sambil mengibaskan tangannya. “Yeonji-ya, kita akan pergi kemana?” Tanya minhwa polos dan membuat yeonji mengembuskan nafas berat. “Aigo-ya, kau tidak sadar? Kita akan kerumah sakit.”

“Mwo? Siapa yang sakit?”

“Aish! Kau tidak tahu juga? Yang sakit itu kau.”

“Mwo? Aku sedang sehat-sehat sekarang.”

“Tapi wajahmu tidak menunjukkan samasekali bahwa kau sedang sehat.”

“Wajahku memang seperti itu,”

“Tapi menurutku tidak. So, kau harus kerumah sakit.”

“Harus?”

“Harus! Aigo, hwa-ya, kenapa kau bersikap sangat polos?” minhwa hanya diam, lebih tepatnya mencerna kembali apa yang dikatakan yeonji barusan. Dan minhwa akhirnya tidak ingin melanjutkan perdebatannya. Akhirnya yeonji membawa minhwa ke rumah sakit. Sampai disana minhwa langsung ditangani oleh seorang dokter. Karena ini hanyalah pemeriksaan biasa –tidak sampai gawat, jadi dokter hanya menggunakan stetoskop untuk memeriksa minhwa. “Apa kau tidur cukup minggu ini?” Tanya dokter ketika minhwa selesai diperiksa. “Kalau minggu ini aku tidur yang cukup. Tujuh jam sehari. Tapi, hari selasa aku hanya tidur empat jam.” Jelas minhwa dan direspon dokter dengan anggukkan. Yeonji sepertinya teralu panic dengan minhwa dan pada akhirnya membawa minhwa ke rumah sakit. “Apa Minhwa-ssi sedang banyak pikiran akhir-akhir ini?” Tanya dokter lagi lalu memerhatikan minhwa. Minhwa hanya tersenyum pahit menatap dokter yang sudah duduk berhadapan dengannya. “Apa dokter melihatku seperti itu?” kali ini minhwa berbalik bertanya hingga membuat yeonji disampingnya heran. “Kau sedang banyak pikiran sekarang dan membuat wajahmu pucat. Tidak lupa juga metabolisme tubuhmu menurun. Apa minhwa-ssi mempunyai nafsu makan akhir-akhir ini?”

“Dok dia jarang makan akhir-akhir ini, dia banyak banyak berpikir, terkadang pikirannya sudah tidak wajar lagi, dok. Apa dia sedang mengalami gangguan jiwa?” yeonji langsung menyembur kata-katanya yang sedari tadi ingin dikatakannya. “Ani. Dia mungkin hanya stress dengan pikirannya. Tapi jika banyak berpikir itu terlalu lama sampai beberapa minggu kemudian dan pikirannya sudah melantur kemana dia sudah harus diperiksa di psikater.” Jelas dokter itu. Minhwa berpikir bahwa dokter itu masih muda, karena wajah dokter itu terlihat muda dan terawat. “Tekanan darahmu dibawah seratus. Dan kau harus menginap disini beberapa hari untuk memulihkan badanmu yang lemah. Juga untuk mengembalikan tekanan darahmu pada tekanan yang normal.” Mata minhwa langsun membulat ketika mendengar perkataan dokter. Mengapa harus menginap dirumah sakit? Masih banyak hal yang harus dikerjakannya dan ia harus menemui sehun sekarang. Tapi rumah sakit ini adalah bukan rumah sakit dimana sehun dirawat. Dan, bagaimana dengan ayahnya yang sekarang masih berada dijepang? Mungkin beliau akan terbang dengan jet pribadinya sekrang juga jika minhwa memberitahunya. “Apakah tidak bisa dirawat dirumah?” Tanya minhwa lemas. Sekarang sudah malam dan cacing-cacing diperutnya sudah mulai meronta untuk diberikan asupan. “Baiklah kalau minhwa-ssi menginginkannya tapi soal –“

“Pembayarannya tenang saja. Aku bisa membayarnya,”

“Aniyo. Minhwa-ssi tidak perlu membayar karena rumah sakit ini milik cho kyuhyun, ayahmu.” Sial! Kenapa yeonji membawanya kemari? Bisa-bisa… “Kami akan mengantarmu sampai kerumahmu. Nanti aka nada suster dan seorang asistenku yang akan merawatmu disana.” Kata dokter itu lalu mulai menelpon. Setelah melihat minhwa yang masih tidak mengerti, dokter pun melanjutkan, “Minhwa-ssi akan diantar oleh ambulance.” Dan minhwa pun diam tanpa kata. Yeonji yang berada disampingnya hanya mendesah. “Permintaanmu itu terlalu merepotkan hwa-ya. Jikalau kau dirawat disini pun ayahmu akan tetap mengetahuinya. Apalagi dirumah?!” bisisk yeonji. Ya, minhwa hanya memilih diam. Bagaimana jika sehun megetahuinya sedang kurang sehat? Kondisinya akan…

“Yeonji-ya, pastikan sehun tidak mengetahui aku sedang kurang sehat.” Kata minhwa mulai panik. “Arraseo, hwa-ya. Aku yakin ini karena kau tidak ingin pengobatannya terganggu karenamu bukan?! Calm down, it’s alright.” Balas yeonji lalu mengusap punggung minhwa pelan.

***

            Minhwa hanya menutup matanya dan meringis kesakitan setelah merasakan sebuah jarum menusuk punggung tangannya. Setelah dia membuka mata, infus sudah terpasang sempurna. Ia melihat tangannya. Jarum itu sudah bersarang ditangannya dan sudah diplester. Ternyata jarum itu menghubungkan selang infus dengan tangannya agar cairan yang sedang digantung itu bisa masuk kedalam tubuhnya dengan sempurna. Ia melihat suster dan dokter sedang membuka sebuah bungkusan suntik. Sial! Apa lagi itu? Batin minhwa. Minhwa yang masih terbaring dikamar tidurnya melihat pintu kamarnya yang baru ditutup. Ternyata yeonji yang menutupnya dan berjalan menghampirinya. “Mianhae, aku baru saja ingin memberitahu pelayanmu agar tidak memberitahu ayahmu, tapi ternyata ayahmu sudah mengetahuinya lewat dokter yang tadinya menanganimu dirumah sakit. Setelah diselidiki, ternyata dokter itu kenal dekat dengan ayahmu.” Setelah mendengarnya minhwa mengumpat. Minhwa berpikir bagaimana jika dia sudah sembuh. Mungkin ia sudah mempunyai supir, pakar nutrisi, dan psikater pribadi. Dan, ayahnya mungkin akan menyewa seorang mata-mata untuk memantau kondisinya dikorea dan memberitahu ayahnya secara diam-diam, ditambah lagi seorang bodyguard yang akan melindungi minhwa secara diam-diam tanpa sepengetahuannya. Intinya ia berpikir bahwa ayahnya akan makin protektif terhadapnya. Minhwa mulai berpikiran negative tentang ayahnya sekarang.

“Ayahmu akan sampai dua jam lagi. Ia.. terdengar sangat mengkhawatirkanmu waktu ia menelpon seorang pelayan tadi.” Minhwa hanya mendesah pelan sebagai respon. Suster mendekatinya dan mulai mengusapkan kapas yang mengandung cairan alcohol pada salah satu tangan minhwa, tepatnya dibagian siku dan menyuntikya. Untuk yang kedua kalinya minhwa meringis kesakitan. Seorang pembantu datang membawakan makanan untuknya. “Aku tidak mempunyai nafsu makan sekarang. Bawa saja kembali makanan itu,”

“Tetapi agashi, tuan cho memintamu makan sebelum ia datang,”

“Tapi sekarang aku tidak ingin makan. Tolong jangan memaksaku atau kau kupecat,”

“yak! Cho minhwa!” minhwa hanya menghiraukan yeonji dan berusaha mengusir pelayan yang membawa makanan untuknya. “Kau harus makan sekarang! Tubuhmu harus diisi asupan bergizi supaya cepat sembuh!” tegas yeonji. “aku sudah diberi cairan infus. So, sudah tidak perlu lagi makan.” Kata minhwa cuek. Yeonji mengacak rambut pendeknya frustasi setelah mendengar kata-kata minhwa yang begitu cuek. “Kami akan kembali kerumah sakit setelah presdir cho datang.” Kata suster itu mencoba membuka pembicaraan diantara mereka berdua. “Kami juga akan datang besok untuk mengecek kondisi minhwa-ssi.”

“Sampai kapan kalian harus mengontrolku seperti ini?”

“Sampai minhwa-ssi pulih.”

“Oh ya. Kira-kira berapa hari aku bisa pulih?”

“Tiga hari mungkin. Karena minhwa-ssi hanya kelelahan, pasti proses pemulihannya cepat. Apalagi, dirawat secara intensif,” kata namja yang memakai jas putih yang berdiri disamping suster. Dia adalah asisten dokter. “Baguslah. Kalian pergi makan dulu. Lagipula, abeoji datang satu jam lagi,”

“Kami sudah makan sebelum kemari, minhwa-ssi.”

“Lalu apa yang akan kalian lakukan sambil menunggu abeoji?”

“Suster akan mengontrol infus minhwa-ssi, sedangkan aku akan memberikan kabar perkembanganmu pada dokter kim.” Jelas asisten dokter itu. Jujur, minhwa sedikit risih karena orang asing yang berada dikamarnya. “Kalau boleh tahu, apa nama kalian?” Tanya minhwa setelah ia mereasa percakapan mereka berhenti. Yeonji sudah keluar dari kamarnya entah kemana. Ia tahu yeoja itu sedang frustasi dengannya dan ia hanya biasa saja. “Nan Kim Myungsoo imnida,” asisten dokter itu membungkuk Sembilan puluh derajat pada minhwa. “Nan Jung Eunji imnida.” Suster itu juga membungkuk sebagai tanda hormatnya. “Apa… kalian masih muda?” Tanya minhwa blak-blakan. Ia tidak tahu sekarang harus berbuat apa sedangkan mereka juga sepertinya sama sepertinya. “hehehe… aku 21 tahun sedangkan myungsoo 22 tahun,” jawab suster yang bernama eunji itu. “Bolekah aku memanggil kalian dengan nama kalian? Yah, walaupun aku masih lebih muda dari kalian.” Tanya minhwa sedikit canggung karena myungsoo –asisten dokter menatapnya tiba-tiba dengan tatapan yang sulit diartikan. “Silahkan saja. Kami tidak keberatan –“

“Sayang, gwenchana? Bagaimana bisa kau bisa sakit seperti ini?” hampir saja jantung minhwa tidak berdetak setelah mendengar pintu kamarnya yang dibuka secara kasar tanpa seperkiraannya dan diikuti suara cemas dari seseorang yang ternyata adalah ayahnya. “Yak! Abeoji kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu? Untung saja jantungku masih bisa berdetak!”

“Hwa-ya, abeoji sangat khawatir denganmu setelah dokter kim memberitahuku bahwa kau sedang dalam kondisi yang tidak baik. Kata dokter kim kau sedang banyak pikiran hingga berdampak pada metabolism tubuhmu. Sebenarnya kau sedang berpikir apa minhwa?”

“Please don’t mention it. Wajahku akan memucat seperti tadi jika memikirkannya.” Minhwa langsung dipeluk ayahnya. “Minhwa, kumohon, jangan seperti ini lagi. Kau tahu?! Hanya kaulah satu-satunya keluargaku. Anakku satu-satunya. Jadi, jangan seperti ini lagi. Abeoji sudah mendengar semuanya dari yeonji.” Ayahnya semakin mengeratkan pelukannya. “If you like this again, abeoji akan turun tangan. Biarkan wakil presdir yang akan mengatur perusahaan asal abeoji bisa menjagamu.”

“Kau tahu?! Abeoji sangat khawatir,”

“Tapi aku hanya kelelahan, abeoji,”

“Apapun masalahmu, apalagi menyangkut kesehatanmu membuatku khawatir.” Minhwa mulai merasakan baju yang dipakainya mulai basah dibagian pundak sebelah kanan. “Abeoji… menangis?” ayahnya tidak membalas pertanyaan itu dan lebih memilih diam. “Ada suster dan asisten dokter kim disini,” ayahnya langsung melepas pelukannya dan mengapus airmata yang lumayan banyak mengalir.

Oh, betapa malunya kyuhyun yang menangis dan ditonton oleh anaknya. Terlebih lagi orang asing. Bagi yang masih belum tahu sikapnya diluar rumah pasti sudah mengambil kamera dan mengabadikan kejadian ini dan menjualnya di media sehingga akan ada berita ‘Cho Kyuhyun, pemilik choex corp. untuk pertama kalinya tertangkap basah sedang menangis’. “Annyeonghaseo (presdir)” mereka –suster eunji dan asisten dokter myungsoo membungkukkan badan sebagai tanda hormat mereka. “Kami akan menyimpan rahasia ini. Jangan mengira kami adalah mulut ember yang sembarangan memberitahu privasi seseorang pada orang lain.” Kyuhyun akhirnya menghembuskan nafas lega. Namja itu sepertinya sudah bisa membaca pikirannya. “Minhwa-ssi hanya kelelahan saja. Dia akan segera sembuh. Mungkin besok atau lusa badannya sudah pulih kembali.” Jelas myungsoo pada kyuhyun dan direspon kyuhyun dengan sebuah anggukan dan gumaman “Syukurlah,”

“Tugas kalian sudah selesai. Kalian bisa kembali kerumah sakit atau ingin pulang kerumah. Aku sudah memberikan cuti untuk kalian selama tiga hari dan malam ini. Terimakasih sudah mengurusnya.” Mata kyuhyun kembali tertuju pada minhwa. “Kau sudah makan?” Tanya kyuhyun. “Dimana yeonji?” Tanya minhwa balik. “dia sudah pamit pulang setelah menjelaskan semuanya pada abeoji.” Jawab ayahnya. “Minhwa sedang tidak ada nafsu makan,” jawab minhwa setelah ayahnya memberikan tatapan yang sulit diartikan. “Bagaimana kau bisa sembuh tanpa ada asupan makanan?”

“Cairan infus bisa.” Jawab minhwa cuek. Jujur, ia tidak ada nafsu makan sama sekali. Mungkin pengaruh dari cairan yang setiap saat masuk kedalam tubuhnya. “tidak. Kau harus makan sekarang. Nanti abeoji yang akan menyuapimu.”

“Abeoji, aku bukan anak kecil lagi!”

“Shikureo! Jangan membantah abeoji.”

“Aish abeoji!”

“itu akibat dari tadi kau tidak ingin makan,” minhwa hanya mendengus kesal. Akhinya ia beralih melihat eunji dan myungsoo yang sedang terkekeh pelan. “Myungsoo-ssi, niga joahae.” Tubuh kyuhyun dan myungsoo pun menegang. Yang benar saja. Minhwa baru mengenal myungsoo tiga puluh menit yang lalu dan sudah menyatakan bahwa ia menyukai myungsoo? “Jangan bercanda, Minhwa-ssi.” Minhwa memutar bola matanya mendengar myungsoo yang… tersipu? “Aniyo. Aku hanya ingin berteman denganmu karena ada banyak hal yang ingin kutanyakan mengenai kedokteran,”

“Mwo? Kau ingin menjadi dokter, sayang?” Tanya ayahnya heran. “Ani.” Jawab minhwa singkat. Ayahnya memberikan tatapan datar padanya. “aku ingin mendapatkan informasi tentang penyakit leukemia.” Jelas minhwa. Setelah mendapatkan tatapan yang mengartikan ‘kenapa’ ia pun melanjutkan, “Karena sehun mengidap penyakit itu dan sudah stadium empat.” Kyuhyun langsung terdiam, lebih tepatnya syok dengan apa yang baru dikatakan minhwa.  “Maksudmu Oh…”

“Nde. Oh sehun.”

***

Minhwa melirik jam wekernya yang berada diatas nakas. Jam sudah menunjukkan tepat pukul sebelas. Sudah hampir tengah malam, tapi ia tidak bisa tertidur. Satu jam yang lalu eunji dan myungsoo sudah pamit pulang. Sedangkan ayahnya keluar dari kamarnya tiga puluh menit sesudahnya. Jika dihitung, sudah tiga puluh menit dia tidak tertidur dan sendirian dikamarnya. Ia akhirnya mengambi posisi duduk di tempat tidurnya dengan kaki yang dipanjangkan dan masih terselimuti. Minhwa melihat kearah jendela, bintang-bintang kelap-kelip dilangit. Pemandangan yang indah jika dilihat dari luar rumah, terlebih teras rumah. Tapi badannya sedang tidak mampu untuk keluar menuju teras kamarnya. Akhirnya ia memutiskan untuk mengambil handphone-nya yang berada didalam laci nakas. Setelah ia menemukan barang kecil itu, ia memperhatikan sebuah novel yang tersimpan rapi dibawah handphone. Sepertinya, novel itu sudah lama berada didalam laci itu dan mungkin belum juga dibacanya sampai habis. Karena rasa kantuk belum melandanya, akhirnya ia memutuskan untuk membacanya.

Novel itu berjudul ‘Grey Sunflower’. Minhwa mengerutkan dahinya heran. Sepertinya ini pemberian dari seseorang, batinnya. Ketika ia membuka halaman pertama dari novel itu, ia tersenyum pahit. Dihalaman paling pertama di novel itu tertulis, “HBD Minhwa! Hadiah keduaku yang pastinya kau suka! From Kai :)” dan minhwa pun tertawa hambar. Kenapa ia bisa lupa kalau novel ini hadiah dari jongin saat ia berumur 13 tahun, setelah kejadian perceraiian ayahnya. Setelah membaca synopsis novel, akhirnya ia sadar bahwa ternyata novel itu sudah dibacanya sampai habis. Minhwa membuka halaman demi halaman dengan tidak ada niat untuk membacanya. Akhirnya ia menghentikan aktivitasnya seketika ketika ia mendapati sebuah foto terselip diantara halaman novel. Ia mengambil foto itu. Didalam foto itu ada dirinya dan kai sedang makan cake dan saling berhadapan. Ditengah meja ada kue besar dengan lilin angka tiga belas diatasnya tapi tidak menghalangi mereka untuk saling berhadapan. Minhwa dan Kai tersenyum lepas satu sama lain didalam foto itu.

“Kai, long time no see,” gumam minhwa sambil memperhatikan foto itu. “Kai, neomu bogoshipo,” kata minhwa lagi. “Aku sedang sakit sekarang. Kau tidak ingin menjengukku?”

“Ah, kau mungkin sedang sibuk untuk menyelesaikan kuliahmu,”

“Kau tahu, aku kesepian sekarang,” minhwa tersenyum pahit. “Aish. Kenapa aku seperti orang gila sekarang? Berbicara dengan benda mati.” Minhwa tertawa hambar. Matanya mulai berkaca-kaca. Akhirnya ia memutuskan untuk memajang foto itu diatas nakas. Untunglah ia mempunyai bingkai foto yang kosong sehingga ia bisa memajang foto itu. Setelah memajangnya, ia menyimpan novel tadi pada tempatnya. Tanpa sadar, matanya sudah mulai mengeluarkan airmata. “Sebenarnya aku menyukai siapa?” minhwa tersenyum disela-sela ia menangis. “Sehun, Kai dan Taemin. Dan sekarang kau memilih sehun diantara mereka. Tapi kenapa kau merasa ada yang ganjil?” airmatanya semakin banyak membasahi pipinya. Dengan cepat minhwa menghapus airmatanya. Tapi airmatanya masih betah keluar dari kedua bola matanya. “Aish! Tidak bisakah kau berhenti menangis, Cho Minhwa?” setelah mengatakannya ia terdiam. Membiarkan airmatanya keluar. Perlahan, airmatanya berhenti keluar. Kepalanya mengadah keatas, menerawang. “I just need, somebody to love. Somebody that loves me more than I guess. The best, of the best.” Setelah mengatakannya, minhwa mengembalikan posisi kepalanya dan menatap lurus, sepertinya melamun. Ia cukup lama melamun dengan posisi seperti itu. Beberapa menit kemudian,

“HWA-YA! TIDAK TAHUKAH KAU KALAU AKU SANGAT MENGKHAWATIRKANMU? BAGAIMANA BISA KAU SAKIT SEPERTI INI?” minhwa tidak kaget dengan teriakan itu dan hanya menatap kosong seseorang yang berada didepan pintu kamarnya. “Dan ku… Aku… sangat, merindukanmu.”

|To be Continue|

ANNYEEEOOONNGGG!!!!!….

HUWAAA… dah lama nggak posting ff! dua bulan hiatus =-=

sebelumnya, aku minta maaf yaa. hiatus nggak ngabarin -_-v

ada yang kangen aku? nggak? pasti -_- aku bukan author kayak mumuturtle yang fanficnya terkenal sampe dunia inernasional -_- lupakan.

Oke, aku sempat baca komen ff somebody to love #10 yang terbaru di ffindo. Ada yang nanya “Kai kemana?” yah, aku jawab aja disini. Kai dipart ini sampai part 13 dia tidak diketahui keberadaannya dimana. Karena dia udh bilang ke minhwa bahwa ia akan pergi jauh tanpa memberi tahu kepada minhwa dimana. So, tunggu kelanjutannya yaa ^^v

Sekian

23 responses to “Somebody to Love [#11]

  1. siapa itu?? yg dateng pas bagian akhir??? taemin kah?? kai kah?? ato sehun???
    ah~ next chapter ditunggu secepatnya thor^^

  2. huwaaa eonnie mianhae telat baca n comment 😦
    keren eonnie!!! sya ska!!! kisah cinta yg cukup meribetkan(?) heheh 😀
    tp keren demi apapun eonnie!! 😀 jujur ajj pas awalnya sya bca sya udh lpa bgt sm chapter yg sebelumnya.. heheh 😀 jdi sya bca lg dri chapter sebelumnya 🙂
    d post nya jgn lm2 dong eonnie, biar sya ga lpa, hihih sya kan orgnya pelupa 😀
    pokoknya keren lah ff ini 🙂
    d tunggu next chapnya yg lebih seru!! semoga minhwa sm sehun yaa.. heheh 🙂

    Hwaiting!! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s