Temperament n’ Cool Boy – Chap.3

Temperament-n-Cool-Boy

Going Party? Oh No!

 

Author : Yanlu/ @yanlu_arron

Genre : Romance, little bit comedy

Main Cast : Kris Wu, Lee Jinki, Samantha Lee (OC)

Other Cast : member of EXO-M, Park Euncha (OC), La Yin (OC), Kim Kibum, Lee Eunhye (OC)

Length : Chaptered

Rating : PG-16

Come To You | Bad Luck | Going Party? Oh No!

Kejadian beberapa hari lalu tentang Kris dan gadis itu terus mengusik pikiran Samantha. Biasanya dengan ramah ia sapa orang-orang ketika berpapasan atau melewati mereka saat berangkat sekolah, tapi kali ini suasana hatinya terlihat buruk. Rasa penasaran itu terus menggelayuti dan membuatnya pusing serta hilang konsentrasi.

Dari arah selatan Jinki berjalan melewati beberapa kelas dan disapa girang oleh beberapa yeoja. Bagaimana tidak? Ia adalah mahasiswa jurusan Kimia terbaik dan seringkali memenangkan kejuaraan dan punya wajah yah…bisa dikatakan diatas rata-rata.

Jinki mulai menghiraukan sapaan para yeoja setelah melihat ada Samantha di depan sana, hanya berjarak beberapa meter saja. Tapi gadis itu rupanya tidak menyadari dirinya yang menghalanginya jalan.

“Hei, kau! bantu dosen penggantimu ini membawa tas” perintahnya. Belum sempat Samantha menjawab, tas itu sudah ada ada dibawah kakinya. Ia mendengus kesal lantaran tas itu beratnya bukan main. Dibelakang Jinki ia terus mengerucutkan bibirnya seraya menggerutu lirih.

“Cepatlah sedikit! Lambat sekali ckck…” seru Jinki saat memasuki ruang kelasnya. Samantha buru-buru masuk dan menjinjing tasnya lalu menjatuhkannya tepat di bawah meja untuk dosen.

“Taruhlah disini! Jangan dibawah kolong, didalam tas ada barang berharga” perintahnya, sekali lagi. Samantha ingin sekali berteriak dihadapannya karena sedari tadi ia menahan emosinya yang bersiap ingin meledak.Tapi sekali lagi ia hanya menghela nafas panjang tanpa membantah. Ia sudah muak dan tidak ingin berlama-lama dibawah perintahnya.

Segera setelah menaruh tas, ia berjalan menuju bangkunya. Duduk dengan memijat kedua bahunya lalu merilekskan tangannya yang pegal. Belum sempat ia melepas pegal, suara perintah itu terdengar kembali. Oh, hell!

Ne? Yak! Kau…aish!” Samantha memilih untuk memenuhi perintahnya daripada malu didepan kelas. Ia langsung melangkahkan kakinya lebar-lebar keluar kelas, matanya sarat emosi. Nafasnya juga memburu tak tenang. Ia mengacak rambutnya frustasi.

Asisten dosen gila! Micheo namja!, gerutunya dalam hati saat mendapati setumpuk buku lagi di tangannya. Ya! Jinki menyuruhnya mengambil buku yang kali ini lebih tipis tapi beratnya sama saja. Ia harus tertatih-tatih menuruni tangga. Terlebih rasa pegal itu belum sepenuhnya hilang sekarang harus ditambah dengan beban kali ini.

Brak!

Buku itu terjatuh dengan suara berdebum yang disengaja oleh Samantha. Ia menatap Jinki dengan amat tajam. Tapi Jinki hanya menatapnya sekilas, acuh. Semakin membangkitkan emosi gadis itu. Dengan langkah menghentak tertahan ia menuju bangkunya.

Dari sana, Samantha mendengar penjelasan Jinki dengan pandangan sengit.

Jinki POV

Mengerjai gadis itu ternyata sungguh menyenangkan. Apalagi mendapati ekspresi tajam itu membuatku merasa puas. Tapi tidak! Aku masih belum puas sebelum ia mendapat malu lebih daripada kejadian di dalam pesawat waktu itu.

Seisi kantin lumayan ramai. Bisa kulihat beberapa meja agak penuh. Aku jadi malas untuk makan dan sekarang hanya mengambil sekaleng soda yang ada dikulkas ibu kantin. Saat hendak meneguk soda itu, aku melihat sekilas Samantha sedang membuntuti seorang namja yang tidak begitu jelas karena posisinya membelakangi.

Gadis itu terlihat senang sekali. Padahal namja itu cuek sekali dan tidak ramah.

Daripada mengurusi itu, aku berniat membayar sodanya lalu cepat-cepat pergi menuju rooftop.

Selembar kertas undangan jatuh dari sakuku membuatku teringat sesuatu. Ya! Undangan yang ku dapat dari temanku, Key. Disini tercatat bahwa ia akan melangsungkan pertunangan. Aku jadi iri padanya yang lebih dulu melangkahiku. Padahal umurku lebih tua dua tahun darinya.

Key adalah teman akrabku sejak aku berada di London. Waktu itu aku mendapat pertukaran pelajar disana dan ia banyak membantuku. Sebab ia juga berasal dari Korea, negara tempat lahirku ini. Untung saja pesta pertunangannya berada disini, kalau tidak aku harus terbang lagi ke London.

Kim Kibum dan Lee Eunhye

Pesta itu sebentar lagi diadakan, tapi hal yang membuatku pusing adalah paling tidak aku harus membawa pasangan karena selama ini teman-temanku selalu mengejek dan menyindirku yang sama sekali belum pernah terlihat berdua dengan yeoja manapun. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli ejekan itu tapi entah mengapa kali ini aku ingin membawa pasangan. Sebagai bukti bahwa aku bukanlah bujang lapuk.

“Tapi…siapa yang harus aku ajak? Ck…teman yeoja saja aku tidak punya” dengusnya.

Aku kembali melangkah maju mendekati tepi rooftop sehingga terlihatlah semua aktivitas mahasiswa. Ada yang berkumpul bersama di padang rumput. Menepi di pohon sambil berWi-Fi-an.

Lalu tanpa sengaja aku menemukan Samantha di bangku taman. Entah apa yang ia lakukan. Kedua matanya terpejam, mungkin menikmati semilir angin. Gadis itu terlihat lucu jika seperti itu tapi mengingat kejadian lalu aku jadi merasa kesal lagi. Beberapa saat kemudian, aku melihat ia berlari memasuki kelas saat temannya menariknya masuk. Secercah ide tiba-tiba hinggap dikepalaku.

Ku jentikkan jari “Ah…Gotcha! Kenapa aku tadi tidak kepikiran ya!”.

Aku menyeringai kecil.

End POV

^^^

“Oppa! Kenapa sulit sekali dihubungi, kemana saja selama ini, aish…!”

Suara itu membuat Kris terperanjat kaget. Ia menatap yeoja yang menjadi sepupunya itu dengan kesal. Memasuki apartemen miliknya tanpa memberitahu dirinya bahwa ia akan datang.

“Ponselku mengalami gangguan jadi ku matikan. Wae irae?” jelas Kris. Yeoja itu kembali menarik sudut bibirnya lebar. Ia mendekati Kris lalu menyerahkan sesuatu.

Mwoya?” tanya Kris, seraya memperhatikan undangan itu.

“Aku akan bertunangan, oppa!” ujarnya antusias, Kris menatap undangan itu sembari mencibir.

Jinjjayo? Ck…kenapa kau melangkahi oppamu ini?”

“Hehe…mian oppa, tapi tunanganku lebih tua darimu kok, jadi wajar saja kan? Aku kan yeoja, masa kau samakan denganmu” jawabnya. Kris kembali mencibir lagi lalu ia masuk ke dapur membuatkan minuman.

“Tidak usah, oppa! Aku harus cepat-cepat pulang, nanti malam ada acara pertemuan keluarga, annyeong!” yeoja itu buru-buru melangkah mendekati pintu lalu keluar dari kamar apartemen Kris.

Setelah pintu menutup, pandangan Kris beralih pada undangan yang ia pegang. Lalu membaca isinya.

“Pasangan? Aish…Aku tidak akan datang membawa pasangan! Ck…ada-ada saja” gumamnya, lalu berjalan menuju kamarnya. Membiarkan undangan itu tergeletak di mejanya.

Samantha POV

Beberapa hari ini Jinki semakin membuatku jengkel. Ia dengan seenaknya saja terus menyuruhku. Entah itu tugas yang seharusnya bisa diselesaikan sendiri, atau hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu dilakukan sejauh itu oleh muridnya. Aku merasa semakin hari ia semakin menjadi-jadi memperlakukanku. Seakan aku adalah pelayannya.

Seperti saat ini, aku membawakan pesanan makanan miliknya dari ibu kantin. Lalu entah apalagi. Hari-hariku semakin suram saja.

Tapi hari ini aku sangat bahagia. Dosen pengganti itu tidak lama lagi akan berhenti mengajar dan sepertinya memang akan berhenti karena dosen Park telah kembali. Sepanjang jalan pulang aku tidak berhenti menyunggingkan senyum. Bersenandung seperti orang yang baru saja lepas dari sel tahanan.

Perlu dicatat, selama ini aku bagaikan orang tahanan. Lebih buruk mungkin. Karena orang tahanan masih mendapat perlakuan baik dan dihormati hak-haknya. Sedangkan aku? Setiap hari meskipun tidak ada jadwal mengajarnya, ia tetap mengangguku. Entah apa motifnya. Aku ingin sekali membalasnya tapi ia seniorku dan menjadi guru pengganti sementara dikelasku jadi kuputuskan untuk membalasnya setelah ia tidak mengajar kelasku lagi.

Jalan setapak yang kulewati tampak sepi, tapi terasa sejuk. Aku berhenti sejenak untuk menikmati dedaunan musim semi yang mulai tumbuh dan harum bunga lavender memenuhi rongga hidungku.

“Hah, aku ingin waktu berhenti saat ini juga untuk waktu yang lama”

Beberapa menit kemudian aku menyusuri jalan besar kembali. Ditengah langkahku bisa kudengar deru mobil yang perlahan-lahan memelan. Aku tak terlalu peduli tapi saat bunyi klakson berbunyi, aku memekik kaget.

“Naiklah!” serunya, aku belum bisa melihat siapa yang berada didalam kemudi tapi suara itu milik Jinki, suara perintah yang paling kubenci.

Apa-apaan dia? Menyuruhku seperti itu, huh aku tidak akan menurutinya kali ini. Statusku bukan murid sementaranya lagi.

Beberapa kali klakson itu terus berbunyi. Aku berusaha pura-pura tak mendengar dengan menutup telingaku. Sudah cukup ia mengerjaiku, aku tidak akan melakukan perintahnya kali ini. Times is over!.

“Yak! Lepaskan, tolong…mmpfft…” tiba-tiba aku ditarik masuk olehnya, ia membungkam mulutku sehingga teriakkanku tidak terdengar oleh orang-orang disekitarku. Setelah ia berhasil menarikku masuk ia buru-buru mengunci pintu mobil.

“Yak! You bastard! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menarikku kesini? Kau bukan dosen pengganti lagi, jadi BERHENTI MENGGANGGUKU!” teriakku, ia malah tak acuh dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan mengerikan. Aku melotot tajam padanya. Ia benar-benar menyebalkan! Aku tidak habis pikir bisa bertemu dengan namja gila seperti dirinya didunia seluas ini. Oh God, dosa apa hambamu ini?

Stop! I said stop it!” aku kembali berteriak agar ia mau berhenti tapi ia tetap melajukan mobilnya dan semakin menggila. Aku tidak berani menghadapnya dan kini memilih berpegangan, ketakutanku lebih besar dibanding melawannya.

“Jadi begini cara mendiamkanmu? Ck…baiklah, kau tidak usah khawatir. Aku tidak akan menyuruh-nyuruhmu lagi setelah ini tapi penuhi permintaanku dulu─

Shireo! Aku tidak akan melakukan apa maumu” tukasku cepat. Aku sudah habis kesabaran. Tidak peduli ia mau menyuruhku apa.

“Baiklah, kalau begitu aku akan meminta dosen Park untuk menjadi guru pembimbingmu di olimpiade jadi aku bisa menyuruh-nyurumu lagi.” Ancamnya, aku melotot tajam padanya. Sudah cukup sebulan ini aku terperangkap menjadi pesuruhnya. Aku tidak mau menambah hari lagi hingga beberapa bulan kedepan atau merelakan lomba olimpiade yang selalu kusenangi itu.

“NE! NE! PUAS KAU!” akhirnya aku mengiyakan dengan nada terpaksa.

End POV

“NE! NE! PUAS KAU!” teriak Samantha. Jinki menyeringai kecil. Akhirnya rencana dia berhasil.

Good girl” ujarnya, seraya menahan diri untuk tidak terkikik.

Mobil Jinki berhenti tepat di depan salon. Membuat Samantha bingung. Ia memutar kepalanya ke sekitar tapi tidak menemukan bangunan menarik lainnya. Hanya ada kantor asuransi dan gedung Perseroan.

Jinki masuk terlebih dulu ke dalam salon. Sedangkan Samantha tidak kunjung masuk lantaran sibuk menerka-nerka.

“Hey, masuklah! Mau sampai kapan kau disitu? Ck…” decaknya, Samantha mendengarnya dan buru-buru masuk mengikuti langkah Jinki.

Jinki berbicara sejenak dengan pegawai salon lalu ia duduk di salah satu kursi. Sedangkan pegawai itu mendekati Samantha dan membungkuk.

Annyeonghasimnika, silahkan ke dalam Agasshi” sapanya.

Ne?!” serunya, ia melempar tatapan pada Jinki meminta penjelasan. Tapi namja itu mengangguk pada pegawainya lalu mengambil majalah berpura-pura tidak memperhatikan Samantha yang jelas-jelas menggelengkan kepalanya berkali-kali.

Beberapa menit berlalu, Jinki sampai menghabiskan coffe lattenya dua gelas. Ia bergerak gelisah sembari melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.

“Ck…lama sekali” decaknya, tidak tenang. Sedetik kemudian pintu dalam terbuka. Pegawai yang sama membungkuk padanya lalu tangannya membentuk tanda mempersilahkan seseorang untuk keluar.

Samantha berjalan kikuk dengan high heels setinggi sepuluh senti. Tubuhnya tampak ramping dengan balutan dress selutut berwarna hijau terang. Rambut panjangnya tergerai dengan gelombang diujungnya. Satu hal yang terpikir dalam benak Jinki. Kyeopta.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Samantha kali ini terlihat lebih manis dan ia terpesona karenanya.

“Ekhm…” Jinki berdeham menutupi kegugupannya. Lalu dengan pandangan mencibir ia berbalik. “Tidak ada yang istimewa! Kajja, kita akan terlambat”

Ige mwoya?” seruan Samantha tidak digubris oleh Jinki karena ia sudah membuka pintu, keluar dari tempat itu. Dengan menahan kesal, ia berjalan pelan menuju Jinki.

 

Sementara itu, Kris keluar dari apatemen dengan berbalut jas formal, tampak rapi. Ia menuju mobil audinya seraya membawa bingkisan yang terletak di bagasi mobil.

Malam ini ia akan menghadiri pesta pertunangan sepupunya Eunhye. Meskipun diundangan tertulis disarankan untuk membawa pasangan masing-masing, ia sama sekali tidak tertarik untuk melakukannya. Sudah cukup dirinya menghadiri acara tersebut dan setelahnya ia hanya perlu mengikuti jalannya acara dengan baik.

Memasuki aula utama, Kris tercengang. Perkiraannya salah besar, kebanyakan dari mereka membawa pasangan masing-masing. Sepertinya pesta pertunangan ini sengaja dikhususkan untuk orang dewasa dan sepantarannya. Mungkin mereka hanya mengudang teman atau koleganya. Sehingga banyak tamu undangan yang benar-benar membawa pasangan. Sial!

Kris berjalan dengan kikuk pada awalnya karena melihat beberapa pasangan melewatinya dan menyapa dirinya. Tapi tidak lama kemudian ia berusaha bersikap normal sampai seorang yeoja tiba-tiba menggamit lengannya.

“Hey, akhirnya kau datang…” seru Eunhye. Ia terlihat memperhatikan sekeliling mencari-cari sesuatu. “Um…kau…sendirian?” Kris mengangguk cepat lalu menyerahkan bingkisan yang ia bawa untuk mencegahnya bertanya-tanya.

“Wuah…gomapta!” serunya, girang. Kemudian seorang namja yang kutahu, Kibum menghampiri kami. Dia adalah tunangan sepupuku ini.

Chukkae…” ujar Kris, menyalami Kibum. Karena ia tidak begitu akrab dengan Kibum, ia hanya sekadar berbincang singkat lalu pasangan itu meninggalkan Kris, kembali sendirian.

Kris melihat ke arah pintu tepat saat Samantha dan Jinki masuk. Ia tidak terlalu mengenal Jinki tapi yeoja di sebelahnya terlihat familiar. Cukup lama ia menatap yeoja itu. Jujur saja ia terlihat berbeda dengan penampilan seperti itu.

Samantha?, gumamnya saat melihat dengan jelas wajah yang baru saja menarik perhatiannya itu. Akhirnya ia mengingat namanya setelah mengingat paras gadis itu. Yang tidak lain adalah tetangganya di Canada dulu.

Sedangkan gadis itu tidak melihat adanya Kris disana karena terus menundukIa tidak menyangka ternyata Jinki membawanya ke sini. Ia benar-benar kikuk dan tidak tahu harus bersikap apa.

Ditengah hiruk pikuk orang-orang tiba-tiba ia merasa malu. Penampilan mereka sangat glamour dan elegan. Ia perhatikan juga diantara mereka banyak yang membawa pasangan. Hampir semua terlihat mesra dengan menggamit lengan masing-masing pasangan.

Tiba-tiba Jinki menarik Samantha lalu menggandeng tangannya. Ia hampir saja terperanjat kaget.

“Hush…Diam dan turuti saja perintahku, pertama selama disini kau tidak boleh jauh-jauh dariku. Kedua, sebentar lagi ada teman-temanku dan Kibum, jaga sikapmu dan berbicara jika ada yang bertanya. Dan terakhir, jika kau lelah kau bisa memberitahuku, arraso?” jelasnya, Samantha tidak mengiyakan ucapannya namun ia mendengar semuanya dengan baik.

Kris POV

Setelah acara sambutan kini giliran acara puncak yaitu tukar cincin antar pasangan. Tapi rasanya waktu berjalan sangat lambat bagiku. Apalagi disamping kanan kiriku ada seorang yeoja dan satu lagi sepasang kekasih yang membuatku semakin tidak nyaman. Begitupula yeoja itu terus melihat kearahku dengan rasa tertarik yang berlebihan. Sepertinya dia juga tidak membawa pasangan, karena itu saat melihatku sendirian ia berani mendekat dan duduk disampingku.

“Silahkan pasangan saling bertukar cincin” seru pengarah acara.

Saat itu juga, aku menghela nafas. Merasa sangat bosan dengan acara yang tak kunjung berakhir. Padahal aku bisa saja kabur dari pesta ini tapi Eunhye terus melarangku, matanya sangat awas mengawasi tamu-tamu yang keluar masuk.

“Um…Chogiyo, bisakah kau geser ke samping?” seorang gadis berkata pada seseorang yang duduk didepanku. Sontak aku menengang saat menyadari siapa gadis yang baru saja duduk dihadapanku.

La Yin, gadis yang kemarin memintaku untuk bertemu. Gadis yang ku cintai.

Sebelum mulutku berucap untuk menyapanya, seorang namja telah duduk disamping La Yin dan tampaknya gadis itu memang tidak sendirian. Tiba-tiba saja dadaku terasa sesak. Terlebih saat melihat La Yin begitu bahagia dengan namja itu. Sorot mata itu adalah sorot mata yang sama seperti dulu. Dulu ketika perasaannya padaku belum berubah. Aku terus memandangnya yang tersenyum saat sesekali namja itu merapikan rambutnya yang tergerai.

Andaikan waktu bisa terulang. Andaikan aku tidak senaif itu.

Tanpa terasa acara puncak berakhir, tergantikan dengan acara jamuan dan bersantai. Aku duduk disalah satu kursi yang kosong dan jauh dari sorotan orang-orang. Memojokan diri.

Aku menenggak gelas kecil yang berada dimeja hadapanku. Satu teguk berhasil lolos ke dalam tenggorokanku.

“Akh…bitter” minuman yang baru saja ku tenggak terasa sangat pahit namun menenangkan. Efeknya sangat menggiurkan, segala emosi meluap begitu saja.

Perlahan-lahan mataku mulai melabur diikuti dengan kepala yang terasa berat. Dengan sisa kesadaran yang ku punya, aku bangkit. Hendak berusaha berdiri tapi ternyata gagal. Sebelum tubuhku menubruk meja dihadapanku seseorang menompang tubuhku. Bisa kurasakan lenganku yang melingkar disekitar leher seseorang.

Aku ingin mengetahui siapa tapi pandanganku terlalu kabur. Yang ku tahu bahwa tubuhku diseret oleh seseorang. Sampai akhirnya hingar bingar pesta itu tidak terdengar lagi olehku.

End POV

Selama pesta berlangsung pandangan Samantha terus mengawasi keberadaan Kris. Ia benar-benar tidak memperhatikan kemana arah Jinki. Tidak peduli namja itu terus memperingatinya.

Saat melihat Kris mabuk, ia sudah tidak bersama Jinki. Namja itu menghilang entah kemana. Ini kesempatan untuk Samantha mendekatinya. Apalagi melihat Kris mabuk, rasa khawatirnya semakin memuncak. Pandangannya tak pernah lepas dari namja tersebut.

Beberapa menit kemudian Kris mulai terlihat lemah, ia benar-benar mabuk. Samantha tahu itu karena sudah beberapa gelas kecil ia tenggak sedari tadi. Meskipun bartender yang disewa khusus itu terus mengisi gelas kosong yang telah diminumnya. Samantha mulai tidak tahan saat Kris membawa gelas yang lebih besar lagi dan bartender menyebalkan itu terus menuangi soju penuh satu gelas.

“Kris…Ireonayo…Ireona!” Samantha mengguncang tubuhnya saat ia sudah limbung dalam dekapan gadis itu.

Samantha melihat sekeliling untuk meminta bantuan tapi semuanya terlihat sibuk dilantai dance. Akhirnya dengan kekuatan yang ada ia memapah tubuh Kris keluar dari aula.

Jalan didepan convention hall  dimana pesta itu berada sangat lenggang. Sepertinya mereka sengaja memilih tempat yang jauh dari kesibukan kota. Samantha melongok ke kanan dan kiri bingung hendak kemana. Tidak ada taksi yang lewat. Akhirnya ia mencari sesuatu dalam saku Kris mungkin saja ada kunci mobil milik namja itu.

Perkiraannya benar, Kris membawa mobil sendiri dan ia menemukan kuncinya sehingga tidak perlu susah payah memanggil taksi. Hanya saja ia agak ragu sesaat setelah duduk di kursi kemudi. Ia menatap Kris. Melihat kondisinya ia merasa tidak mungkin menyuruh namja itu menyetir.

Dengan perasaan gugup ia mulai menyalakan mesin. Samantha bukannya tidak bisa tapi ia belum sepenuhnya mahir dalam menyetir mobil. Sejak besar di Canada baru dua kali ia belajar menyetir mobil dan itupun dengan laju yang sangat lambat. Temannya sampai berkali-kali bosan mengajari ia menyetir karena ia terus merasa takut.

“Samantha…come on! Kau tidak ingin membiarkan dia sakit kan?hana…dul…set” ucapnya seraya menjalankan mobil. Ia menghirup nafas dulu berusaha menenangkan degup jantungnya berdebar kencang sebelum menaikkan kecepatannya. Ia menekan pedal gas dengan kaku setelahnya.

Mobil audi Kris melaju dengan kecepatan sedang tidak teratur. Tapi ia meyakinkan diri bahwa ia bisa membawa mobil itu dengan baik.

Samantha harus kembali memapah tubuh Kris yang nampaknya sudah tidak berdaya tapi masih menemukan kesadarannya sehingga namja itu masih sanggup berdiri.

Seorang security menghampiri kami berdua. Membuatku lega karena Kris lumayan berat. Security  itu membawa tubuh Kris menuju lift.

Mianhae  agasshi,  saya harus berpatroli menjaga keamanan dibawah. Agasshi bisa memapahnya kan?” ujarnya, sesampainya di depan pintu lift. Samantha mengangguk mendengar ucapan security itu yang tidak bisa terus menemainya. Ia segera masuk ke dalam lift diikuti oleh security itu yang hanya mengantar sampai dalam lift lalu keluar lagi.

Gamsahamnida” ujarnya, pintu lift tertutup setelah itu.

Ia memapah tubuh Kris kedepan pintu kamar apartemen milik Kris. Berusaha membuka tapi tidak bisa. Ia langsung menepuk jidatnya begitu melihat tombol password  berada disana. Apartemennya hanya bisa dibuka dengan password yang ia tidak tahu apa kodenya.

Ottoke?”

Setelah bingung akhirnya dengan terpaksa ia kembali menuruni lantai dengan lift membawa tubuh namja itu ke dalam apartemen miliknya. Ia hendak meletakkan tubuh Kris di sofa tapi tidak tega dan akhirnya membawa namja itu ke dalam kamarnya. Setelah tubuh Kris dibaringkan, ia membenahi posisinya hingga terlihat nyaman. Melepas sepatu dan jas yang melekat pada tubuh Kris.

Tepat saat ia melepas jas, Kris mengerang. Samantha sedikit merasa takut sehingga ia menghentikan kegiatannya dan memilih cepat-cepat menjauh serta menyiapkan kompresan.

“Huh…kau membuatku tidak bisa bernafas dan menghentikan debaran ini” gumamnya, dibalik pintu kamar.

 

Tbc

 

Wuahgimanagimana chingu? Sepertinya kali ini saya akan mengupdate ff lumayan jarang lagi. Persiapan buat kuliah hehe.

Tapi tenang aja, sebelum puasa aku punya rencana bikin FF gokil ft author Kim Chanra temenku, kekeke Jadi tunggu ya, *padahal belum kelar yang ini* -_-

Ada yang mau request poster? Aku buka requesan lho, kunjungi link ini!

41 responses to “Temperament n’ Cool Boy – Chap.3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s