Be Your Queenka? [Chapter: 6. Dates+Chicago+Queenka]

poster-234

Title                : Be Your Queenka?

Author          : hgks11

Casts               :

–          Jung Jaein (OC)

–          BTOB Peniel

–          BTOB Sungjae

 

Credit Poster to Little Queen at graphicsfamily.wordpress.com for the awesome poster!

Thank you so much!<33

 

 [Prolog] Be Your Queenka? |Chapter 1. Attracted | Chapter 2. Oh, Peniel! | Chapter 3. The Reason | Chapter 4. A Week Without Sungjae | Chapter 5A. Birthday Girl | Chapter 5B. Birthday Party

 

—CHAPTER: 6. Dates + Chicago + Queenka—

 

Author’s POV                                                                                                          

 

Jaein duduk manis di sebuah sofa di ruang keluarganya, menunggu kedatangan Sungjae. Alis Ilhoon terangkat begitu melihat wajah adiknya yang tegang itu. Ilhoon melangkahkan kakinya mendekati Jaein, membuat gadis itu mendongakkan kepalanya ke arah Ilhoon.

“Waeyo oppa?” tanya Jaein. Ilhoon menggelengkan kepalanya, lalu duduk di sebelah Jaein.

“Kenapa kau terlihat begitu gugup?” tanya Ilhoon.

“Benarkah? Aku bahkan tidak sadar jika aku gugup” ujar Jaein dengan wajah innocent miliknya. Ilhoon menjitak kepala dongsaengnya itu, tidak habis pikir dengan sifat cuek Jaein.

“Yah, oppa! Kenapa kau menjitakku?” protes Jaein, yang tidak dihiraukan sama sekali oleh Ilhoon.

 

“Jaein-a” panggil Ilhoon.

“Uhm” Jaein menjawab singkat, masih sebal dengan Ilhoon yang menjitaknya.

“Jika kau disuruh memilih di antara Peniel hyung dan Sungjae, mana yang akan kau pilih?” Jaein terdiam mendengar pertanyaan Ilhoon.

“Kenapa tiba-tiba?” tanya Jaein. Ilhoon menghela nafas, matanya terlihat menerawang ke arah langit-langit.

“Seandainya Peniel hyung dan Sungjae sama-sama tenggelam di laut, siapa yang akan kau selamatkan duluan?” tanya Ilhoon lagi.

“Bukankah mereka berdua bisa bere—“

“Aku bilang, seandainya bukan?” ujar Ilhoon sambil menghela nafas. ‘Siapa?’ tanya Jaein dalam hatinya. Ia tidak tahu siapa yang akan ia selamatkan terlebih dahulu. Yook Sungjae, lelaki yang ia sukai semenjak Ilhoon mengenalkannya pada Jaein. Atau Shin Donggeun, lelaki yang baru beberapa bulan ia kenal, namun ada sesuatu yang berbeda dengannya?

 

Melihat adiknya yang terdiam, lidah Ilhoon berdecak. Ilhoon mengacak pelan puncak kepala Jaein, membuat gadis itu mendongakkan kepalanya.

“Cepat tentukan keputusanmu, sebelum kau menyakiti keduanya.” Jaein memandang kakaknya itu dengan ekspresi bertanya-tanya. ‘Apa sebenarnya yang ingin kau beritahu padaku, oppa?’ batin Jaein. Tiba-tiba suara bel bergema di rumah keluarga Jung, membuat Ilhoon beranjak dari tempat duduknya.

“Sepertinya Sungjae sudah datang. Bersenang-senanglah Jaein! Jangan lupa, setelah itu masih ada Peniel hyung yang harus menjalankan dare dariku. Have a great dates!” seru Ilhoon mengerlingkan sebelah matanya pada Jaein, lalu melangkahkan kakinya ke arah anak-anak tangga.

 

***

 

 

“Kau sudah sarapan?” tanya Sungjae pada Jaein, tanpa mengalihkan perhatiannya pada jalan di depannya.

“Aniyo” ujar Jaein sambil menggelengkan kepalanya. Sungjae mendecakkan lidahnya mendengar jawaban Jaein.

“Kalau begitu kita sarapan dulu” Jaein hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan Sungjae. Sungjae mengendarai mobil miliknya ke arah salah satu cafe di dekat kawasan salah satu taman di Seoul. Sungjae menghentikan mobilnya begitu mereka sampai di tempat parkiran.

“Kajja” ujar Sungjae. Jaein menggerakkan tangannya membuka pintu mobil, lalu melangkahkan kakinya keluar. Ia berjalan di belakang Sungjae, mengikuti langkah lelaki itu.

 

“Kau mau pesan apa?” tanya Sungjae menunjuk ke arah daftar menu yang tertulis di atas counter kasir, begitu mereka mendapatkan tempat duduk. Jaein melihat ke arah yang tunjuk oleh Sungjae, dan mulai membaca satu persatu tulisan yang tertera di sana.

“Aku ingin muffin dan kopi saja” alis Sungjae terangkat mendengar ucapan Jaein.

“Kopi? Di pagi hari seperti ini?” tanya Sungjae. Jaein menganggukkan kepalanya.

“Aniyo, aku tidak akan mengizinkanmu meminum kopi sepagi ini” Jaein menggembungkan kedua pipinya mendengar ucapan Sungjae.

“Waaee?” protes Jaein.

“Kopi tidak baik di pagi hari seperti ini” Sungjae menyentil kening Jaein, membuat gadis itu memekik kesakitan.

“Yah! Yook Sungjae!” desis Jaein. Sungjae menggelengkan kepalanya, “Akan kupesankan kau milkshake vanilla saja” ujarnya sambil beranjak ke arah kasir. Jaein memutar kedua bola matanya malas, lalu mengalihkan perhatiannya pada lingkungan di sekitarnya. Ada beberapa namja yang mengerlingkan matanya pada Jaein ketika mereka tidak sengaja membuat kontak mata, membuat Jaein resah dan tidak nyaman.

 

“Yah, kenapa kau seperti cacing kepanasan seperti itu?” tanya Sungjae sambil meletakkan pesanan mereka berdua di atas meja. Jaein menunjuk namja-namja tadi dengan dagunya, “Mereka mencoba menggodaku” ujar Jaein. Sungjae mendaratkan tatapan tajam miliknya pada namja-namja yang ditunjuk oleh Jaein, membuat namja-namja tersebut menelan ludah mereka dan memalingkan wajah mereka.

“Tenang saja, selama ada Yook Sungjae, tak ada yang bisa mengganggumu” ujar Sungjae sambil membusungkan dadanya, membuat Jaein tertawa.

“Gomawoyo, Yook Sungjae” ujar Jaein dengan senyum jenaka di wajahnya. Sungjae membalas senyum Jaein, lalu menggigit sandwich miliknya.

“Setelah ini kita mau kemana?” tanya Jaein.

“Apakah ada tempat yang ingin kau kunjungi?” tanya Sungjae balik.

“Hmm, sebenarnya aku ingin ke toko buku. Sudah lama aku tidak ke sana”  ujar Jaein ragu.

“Mwo? Apa aku tidak salah dengar? Toko buku? ck. Ouch!” Jaein menjitak kepala Sungjae begitu mendengar ucapan Sungjae yang seakan-akan mencemoohnya.

“Aish, arasseo arasseo. Tapi setelah itu, kita nonton. Okay?” Jaein menganggukkan kepalanya, sebuah senyum muncul di wajahnya, membuat Sungjae juga ikut tersenyum.

 

***

 

 

“Huwaaa~” Jaein masih belum berhenti terpesona oleh film yang baru saja ia dan Sungjae tonton. Sungjae tertawa kecil melihat tingkah Jaein. Meskipun sebenarnya Sungjae tidak terlalu suka dengan film yang dipilih oleh Jaein, namun ia tidak bisa tidak ikut tersenyum saat melihat Jaein tersenyum.

 

“Apakah masih ada yang ingin kau lakukan?” tanya Sungjae. Jaein tampak berpikir sebentar, lalu menaikkan kedua bahunya.

“Molla~” ujarnya. Sungjae melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

‘Masih banyak waktu bukan?’ batin Sungjae begitu melihat jarum jam yang menunjukkan pukul 02:00 pm. Kedua bola mata Sungjae melirik ke sekitarnya, hingga sebuah toko topi menarik perhatiannya.

“Kau mau kesana?” Sungjae menyenggol lengan Jaein, menunjuk ke arah toko topi—yang berada tak jauh dari mereka—dengan tangannya yang lain.

“Oke”

 

***

Jaein’s POV

 

 

Aku melangkahkan kakiku mengikuti Sungjae yang berjalan mengitari isi toko. Aku bersemangat begitu melihat berbagai macam topi yang ada di sini. Mulai dari topi baseball sampai topi khas mexico pun ada! Mereka semua terlihat berkilauan di mataku, membuatku ingin memiliki mereka semua.

“Jung Jaein” aku menoleh begitu mendengar panggilan Sungjae. Sebuah topi bertengger di atas kepalanya, membuatnya terlihat tampan—oke sangat tampan maksudku. Ia hanya mengenakan sebuah topi sejenis topi baseball, dengan corak loreng berwarna hijau hitam.

“Bagaimana menurutmu?”

Aku menaikkan kedua ibu jariku ke arahnya, “Daebak!”

Sebuah senyum terukir di wajahnya, membuat hatiku—lagi-lagi—berdetak cepat. Tiba-tiba sebuah topi mendarat di atas kepalaku, membuatku menatap bingung pada Sungjae.

“Coba lihat” ia menarikku ke arah sebuah kaca besar yang memang disiapkan oleh pihak toko. Sebuah topi berwarna merah dengan tanduk di kedua sisinya terlihat berada di atas kepalaku. Alisku terangkat, “Yah, apa maksudmu dengan topi ini Yook Sungjae?” tanyaku. Sebuah senyum jahil terpapar di wajahnya, “Cocok dengan karaktermu”. Aku memutar kedua bola mataku malas, ‘Sepertinya kau butuh sebuah kacamata, Yook Sungjae’ batinku sambil menggelengkan kepalaku. Bagaimana bisa topi bertanduk ini cocok dengan karakterku?

 

Setelah melihat-melihat topi yang lain, akhirnya aku membeli topi merah bertanduk tadi dan sebuah topi stinko berwarna kuning. Tidak, aku tidak membeli topi bertanduk itu untuk diriku. Aku berniat untuk memberikannya pada Ilhoon oppa. Aku tidak tahu mengapa, tapi instingku berkata bahwa topi ini akan cocok untuknya.

 

Drrt drrt.. Drrt drrt..

Aku segera merogoh saku bajuku begitu merasakan handphoneku yang bergetar.

 

From      : Ilhoon oppa :3

Yah, Jaein-a. Odie? Peniel hyung sudah menunggumu di rumah sejak satu jam yang lalu. Palliwa!

 

Crap. Aku tidak sadar ini sudah sore hari. Bagaimana bisa aku lupa?

“Sungjae-ya! Kajja! Antarkan aku pulang sekarang!”

“Mwo? Wae—“

“Peniel oppa sudah menunggu dari sejam yang lalu! Palli!”

 

***

Author’s POV

 

 

Peniel mengendarai mobilnya di jalan raya kota Seoul dengan mulus. Di sebelahnya, Jaein duduk dengan manis sambil memandang ke arah jendela di sampingnya.

“Apakah kau tidak lelah?” tanya Peniel tiba-tiba. Jaein menggelengkan kepalanya, “Ani”

 

Flashback

Setelah menunggu kurang lebih satu jam di rumah milik Jaein dan Ilhoon, akhirnya Jaein datang sambil terengah-engah. Ia datang bersama dengan Sungjae. Sungjae tampak melihat ke arah hyung favoritnya itu dengan tatapan minta maaf, karena telah membuat Peniel menunggu begitu lama.

“Gwenchana” ujar Peniel pada Sungjae, membuat Sungjae tersenyum senang. Jaein tampak menghampiri Peniel, dan menyenggol lengannya. “Kajja oppa”

Mata Peniel melebar mendengar ucapan Jaein. “Ta—“ belum sempat Peniel membuka mulutnya lebih lebar lagi, Jaein sudah menariknya keluar rumah kelurga Jung itu.

End of Flashback

 

Peniel memberhentikan mobil Zenvo ST1 berwarna silver miliknya di depan sebuah gedung. Gedung itu berdiri kokoh, dengan sebuah plang bertuliskan ‘Shin Studio’ melekat di atasnya. Jaein menatap bingung ke arah Peniel, “Untuk apa kita kemari?” tanya Jaein.

“Sebentar lagi kau juga akan tahu”

Peniel keluar dari mobil miliknya, lalu membukakan pintu mobil untuk Jaein. Peniel tanpa sadar menggapai tangan Jaein, dan menarik Jaein untuk berjalan mengikutinya.

“Annyeonghasimnikka Donggeun jeolmeuni” mereka berdua di sambut oleh beberapa pelayan yang membungkukkan badan mereka begitu mereka melangkah memasuki studio yang lebih mirip dengan sebuah gedung aula itu. Peniel menganggukkan kepalanya pada mereka, lalu melanjutkan langkah kakinya.

“Oppa apa ya—“ mata Jaein melebar begitu Peniel membuka pintu di depan mereka. Sebuah piano berdiri dengan gagah di tengah panggung, dengan ratusan—mungkin ribuan kursi tertata di depan panggung. Rambut-rambut kecil di seluruh tubuh Jaein berdiri, merasakan betapa wah pemandangan di depannya.

 

“Selamat datang, di studio Shin Donggeun” Peniel mengerlingkan sebelah matanya, beriring dengan sebuah senyum yang menghiasi wajahnya.

“Ini.. kau sebut studio oppa?” lirih Jaein. Jaein mengikuti Peniel yang menarik tangannya ke arah panggung. Peniel memimpin Jaein menaikki satu persatu tangga menuju piano yang berada di tengah panggung. Peniel duduk di depan piano berwarna hitam itu, lalu menepuk tempat di sebelahnya.

“ Duduk” Jaein menuruti ucapan Peniel, duduk di sebelahnya. Jari-jari Peniel mulai meneka satu persatu tuts piano yang berwarna hitam dan putih itu.

“Oppa, kau bisa memainkan piano?” tanya Jaein. Peniel tersenyum sekilas pada Jaein, lalu mengalihkan perhatiannya pada piano di depannya. Jemarinya mulai menekan tuts piano, membentuk sebuah irama.

(Anggep aja Peniel bisa main piano ya._.v oh iya, kalo bisa kalian play lagunya Jang Geunsuk ft. Park Shinhye – Fly Me To The Moon)

 

Fly me to the moon

Let me sing among those stars

Let me see what spring is like

On jupiter and mars

 

In other words, hold my hand

In other words, baby kiss me?Peniel menolehkan kepalanya, lalu mengerlingkan sebelah matanya pada Jaein. Membuat wajah gadis itu memerah. Jaein memukul pelan lengan Peniel, membuat tawa keluar dari bibir Peniel.

‘Sepertinya aku tahu lagu ini…. Ah! Fly Me To The Moon!’ batin Jaein. Lalu Jaein membuka mulutnya, ikut bernyanyi bersama Peniel begitu otaknya menemukan kelanjutan dari lirik yang dinyanyikan oleh Peniel.

 

Fill my heart with song

Let me sing for ever more

You are all I long for

All I worship and adore

 

In other words, please be true

In other words, I love you

 

“Kau tahu lagu ini?” Peniel menolehkan kepalanya ke arah Jaein, begitu ia selesai memainkan piano di hadapannya dan Jaein. Jaein hanya menganggukkan kepalanya, masih terpesona dengan permainan piano Peniel. Alis Peniel terangkat melihat respon Jaein. ‘Kenapa ia diam sekali?’ batin Peniel.

“Hey, Jung Jaein” Peniel melambaikan tangannya di depan wajah Jaein, membuat gadis itu sadar.

“Hehe, mian oppa. Permainanmu sungguh bagus! Aku sampai tersihir!” ujar Jaein sambil menaikkan kedua ibu jarinya ke atas. Peniel tersenyum, lalu mengacak pelan rambut di puncak kepala Jaein.

“Gomawo” ujarnya. Jaein tersenyum pada Peniel, lalu mengalihkan perhatiannya pada piano di hadapannya. Jari Jaein menekan salah satu tuts berwarna putih, membuat sebuah suara terdengar dari piano tersebut.

“Sejak kapan oppa bisa memainkan piano?” tanya Jaein.

“Belum lama ini” *semenjak aku jatuh cinta padamu* tambah Peniel dalam hati.

 

“Oppa, ajarkan aku”

 

 

Jaein’s POV

“Oppa, ajarkan aku” perkataan itu keluar dari mulutku tanpa kusadari. Sebuah senyum terlihat di wajah Peniel oppa begitu aku mendongakkan kepalaku, membuat hatiku bergetar. Sebuah tawa kecil keluar dari mulutnya, “Tentu saja”

“Yah, oppa! Geumanhaae~!” seruku sambil menyingkirkan tangannya yang mengacak pelan rambut di puncak kepalaku. Ia terkekeh, lalu menarik jari-jariku, meletakkannya di atas tuts-tuts piano yang beewarna putih dan hitam.

“Kau tahu lagu A Thousand Years, bukan?” Aku menganggukkan kepalaku, mengiyakan ucapannya.

“Kalau begitu, perhatikan baik-baik”. Mataku mengekor ke jemari-jemarinya yang mulai menyentuh tuts piano.

 

I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I love you for a thousand mo
rugh!

Mataku melebar begitu mendengar suara batuk Peniel oppa. Kutepuk pelan punggung Peniel oppa, berusaha membantunya agar merasa lebih baik.

“Gwenchana?” tanyaku khawatir.

“Gwenchana Jaein-a. Maaf suaraku tidak bagus” sebuah cengiran muncul di wajahnya, membuatku menggelengkan kepalaku sekaligus lega.

“Tidak apa-apa” ujarku.

“Kau sudah bisa?” aku memberi tatapan tak percaya pada Peniel oppa. Mana mungkin aku langsung bisa hanya dengan melihat satu kali demonstrasi? Aku tidak jenius dalam musik.

“Yah, tak usah menatapku seperti itu. Aku hanya bercanda haha. Kemarikan tanganmu”  Ia menarik tanganku menyentuh tuts piano.

“Perhatikan baik-baik, arasseo?” aku hanya bisa menganggukkan kepalaku, sedangkan hatiku berdetak tak terkendali. Peniel oppa mulai menerangkan, namun aku mendadak tuli. Aku tidak bisa fokus mendengarkan apa yang dikatakannya. Aku terlalu sibuk untuk menenangkan debaran jantungku, mengalihkan mataku dari wajahnya dan berhenti mendengar suaranya seperti lullaby di telingaku. Ini benar-benar membuatku susah, aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku. Dan hal itu, sangat menyebalkan.

 

“Jung Jaein, kau mendengarkanku apa tidak?” sebuah lambaian tangan di depan wajahku, menyadarkanku dari lamunanku. Aku berusaha tersenyum pada Peniel oppa sambil menggelengkan kepalaku. “Hehe, anieyo. Mianhae oppa”

Dapat kudengar suara decakan dari lidahnya seiring dengan tangannya yang mulai mengacak rambutku—lagi.

 

“Oppa, kau belum memberiku dare. Ingat?” tanyaku berusaha mengalihkan topik.

“Oh, ne” aku menghela nafas lega begitu Peniel oppa menganggukkan kepalanya. Malam itu, saat giliran Peniel oppa memberiku dare, ia berkata bahwa ia belum ingin menggunakan dare itu sekarang. Oleh karena itu, aku menanyakannya sekarang—yang bisa dibilang alasan saja hehe.

“Kau benar-benar ingin tahu dare-mu sekarang?”

“Eum”

“Kau yakin Jaein?”

“Eum”

“Benarkah?” alisku terangkat melihat tingkah Peniel oppa yang aneh. Kenapa ia terus menerus menanyakan pertanyaan yang sama?

“Ne! Harus berapa kali aku bilang oppa?” tanyaku sambil memutar kedua bola mataku malas.

Deg! Wajahku berubah pucat begitu melihat Peniel oppa yang menyeringai ke arahku.

“Y-yah! Mwoya?! Kau tidak sedang berpikir yang aneh-aneh bukan oppa?” tanyaku tengsin.

“Aniya” seringaian di wajahnya semakin lebar, membuatku menelan ludah.

“Pfft—hahahaha!!” “Yah! Oppa! Wae geurae?!”

“Hahaha! Kau harus melihat ekspresi wajahmu itu Jaein-a! Benar-benar lucu! hahaha”

“Shikkeureo!” Pipiku menggembung, bibirku mengerucut. Aku menatap sebal ke arah Peniel oppa yang masih tertawa di sampingku.

“Arasseo arasseo pfft—ouch!”

“Kau sadis sekali Jung Jaein” Peniel oppa mengusap kepalanya yang baru saja kujitak.

“Aku kan baik oppa” ujarku sambil tersenyum innocent, membuat cibiran keluar dari Peniel oppa.

 

Drrt drrt.. Drrt drrt..

Tiba-tiba ponsel milik Peniel oppa berbunyi. Ia merogoh sakunya, lalu memeriksa ponsel miliknya. Ntah perasaanku saja atau.. memang? Raut wajah Peniel oppa berubah muram, membuatku sedikit takut.

“Ada apa oppa?”

“Eobseo” ia menggelengkan kepalanya, berusaha tersenyum padaku.

“Ta—“ “Bukankah tadi kau ingin tahu dare milikmu Jaein-a?” aku menganggukkan kepalaku ragu—bingung kenapa tiba-tiba Peniel oppa langsung membawa topik itu lagi.

“Oke, dengarkan baik-baik, aracchi?” Peniel oppa menangkup wajahku di kedua telapak tangannya, membuatku mau tak mau menatap ke arahnya, tepat ke dalam matanya. Peniel oppa mendekatkan wajahnya, membuat jantungku berdetak keras. ‘Apa yang ingin dilakukan Peniel oppa?! Apakah i-ia ingin men-ci-ciumku?’ batinku panik. Dapat kurasakan udara hangat menerpa telinga kiriku, membuat rambut-rambut kecil di seluruh tubuhku berdiri.

“Be Queenka again” bisiknya.

 

***

 

 

Aku berjalan memasuki kamarku dengan gontai. Aku sengaja tak menutup pintu kamarku, karena aku tahu Ilhoon oppa mengikutiku dari belakang. Tadi sebelum aku melangkah naik ke atas, aku sekilas melihat Ilhoon oppa sedang menonton tv. Ia menyapaku, namun aku tak menghiraukannya dan meneruskan langkahku menaikki tangga.

Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur milikku.

“Be Queenka”

“Be Queenka”

Kata-kata Peniel oppa masih terngiang dengan jelas di telingaku, seakan-akan ia sedang membisikkannya di telingaku.

“Kenapa?” lirihku. Tiba-tiba aku merasakan salah satu sisi tempat tidurku memberat.

“Jaein-a”

“Oppa-ya..” Aku langsung meringsuk ke dalam pelukan Ilhoon oppa, memeluknya erat. Ilhoon oppa menggerakkan tangannya di punggungku dengan irama yang menenangkan, membuatku menghela nafas lega

“Wae?” tanya Ilhoon oppa pelan, melepaskan pelukannya. Aku mendongakkan kepalaku, menatap ke arah oppaku itu.

“Dare.. Peniel oppa.. Ia ingin aku menjadi queenka. Lagi” gumamku. Dapat kulihat mata Ilhoon oppa melebar—kaget dengan apa yang kukatakan. Namun perlahan-lahan, wajah Ilhoon oppa berubah normal kembali, sebuah senyum pengertian muncul di wajahnya.

“Peniel hyung pasti punya alasannya sendiri—jika kau bertanya kenapa. Lagipula, itu dare bukan? Kau harus menjalankan daremu apapun yang terjadi” “Ouch!”

“Hahaha” aku mengusap keningku yang disentil oleh Ilhoon oppa. Aku memutar kedua bola mataku malas, namun bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman. Perasaan hangat meresap di dalam hatiku, membuatku merasa lebih baik.

“Gomawo oppa-ya” ujarku. Ilhoon oppa mengacak pelan rambut di puncak kepalaku, “Anything for my lovely dongsaeng. Now, time to make over!” Ilhoon oppa menarikku keluar dari kamar. Uh oh, ini dimulai lebih cepat daripada yang kubayangkan.

 

***

Author’s POV

 

 

Peniel melirik gugup ke arah pintu kelas semenjak ia menginjakkan kakiku di dalam kelas.

 

Drrt drrt.. Drrt drrt..

Perhatiannya teralih begitu benda persegi di kantong miliknya bergetar. Dengan malas Peniel merogoh sakunya dan memeriksa ponsel berwarna hitam di genggamannya itu.

 

From  : Mom

Your flight would be at 10:00 am tomorrow. Mom’s so sorry Peniel, i can’t help you much. Grandma need you

 

Peniel menutup kedua matanya, sebuah helaan nafas dapat terdengar dengan jelas. Ia menatap kosong ke arah ponselnya.

“Kenapa harus sekarang?” gumamnya. Wajah Jaein yang tengah tersenyum muncul di otaknya, membuat helaan nafas yang lain keluar dari bibirnya. ‘Aku tidak ingin meninggalkan Jaein, tidak.. untuk saat ini’ batinnya.

 

“Wooaahh~~” Peniel terusik mendengar suara yang memenuhi kelasnya, membuat pikirannya bubar.  ‘Ada apa?’ ia menolehkan kepalanya ke arah pintu kelasnya, di mana semua orang menatap terpesona.

‘Mwoya?!’ kedua bibir Peniel terpisah, membuat sebuah gua kecil muncul. Jaein melangkahkan kakinya ke arah Peniel—ke kursinya yang tepat berada di belakang Peniel. Kepala Jaein tertunduk, tak terbiasa dengan perhatian yang ia dapatkan. Ia selalu tidak suka jika menjadi pusat perhatian, apalagi pusat perhatian seluruh kelas—sekolah lebih parahnya. Jaein memutar kedua bola matanya malas, lalu meletakkan tasnya di atas meja miliknya. Peniel memutar badannya, menatap ke arah Jaein dengan sebuah senyum puas di wajahnya.

“Kau senang, Peniel oppa?” ujar Jaein dengan sarkasme. Peniel tertawa kecil mendengar sindiran Jaein, membuat perempuan di hadapannya itu mendengus sebal.

“Tentu. Kau cantik sekali, Jung Jaein” darah merambat cepat ke wajah Jaein, membuat wajah perempuan itu memerah. Peniel tergelak melihat Jaein yang berusaha menjaga poker face nya. ‘Setidaknya, aku sudah membuatmu kembali bersinar. Sebelum aku pergi’ batin Peniel.

 

***

 

 

Sungjae melingkarkan lengannya di pundak Jaein, membuat jarak di antaranya dan Jaein mengecil. Jaein menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah karena tingkah Sungjae. Sungjae tersenyum puas, sambil menatap tajam ke arah namja-namja yang menatap ke arah Jaein seakan-akan ingin menerkam Jaein hidup-hidup. Bel pulan sudah berdering semenjak 15 menit yang lalu, dan sekarang Jaein dan Sungjae tengah berjalan menyusuri koridor sekolah, bersama Peniel yang berjalan di belakang mereka. Mereka berjalan menuju gerbang sekolah, di mana Ilhoon bersama member BTOB yang lain dan Chanmi dan Minjoo yang sudah menunggu mereka.

 

“Jaein-a!” Ilhoon melambaikan tangannya ke arah adik kesanyangannya itu. Jaein mendongakkan kepalanya, “Oppa-yaa!” Jaein berlari ke arah Ilhoon, melepaskan tangan Sungjae yang melingkar di pundaknya. Sungjae mengerucutkan bibirnya, namun bibirnya kembali menjadi normal begitu Peniel menepuk pundaknya dan tertawa kecil.

“Aww~ Uri queenka’s back~~” Minjoo dan Chanmi menyaut bersamaan, membuat Jaein mengalihkan perhatiannya ke arah Minjoo dan Chanmi. Minjoo dan Chanmi membuka lebar-lebar lengan mereka, mengantisipasi sebuah pelukan dari Jaein.

“Kenapa kalian merentangkan tangan seperti itu?” tanya Jaein dengan alis terangkat, membuat kedua sahabatnya itu menatap tak percaya ke arahnya.

“Kau tega sekali, Jung Jaein” cibiran keluar dari mulut Chanmi, sedangkan lidah Minjoo berdecak melihat Jaein yang tertawa kecil.

“Huwaa~ I miss you guys” sebuah senyum terukir di wajah ketiga gadis itu, saat tangan mereka saling terikat satu sama lain. Peniel melirik ke arah Jaein yang masih tertawa bersama Minjoo dan Chanmi. Perasaan hangat meresap di dadanya, melihat senyum di wajah Jaein. Sebuah helaan nafas hampir lolos dari mulutnya begitu matanya menangkap tatapan mata Sungjae dari sudut matanya. Ia mengikuti arah tatapan mata Sungjae, meskipun ia tahu di mana tatapan Sungjae mendarat. Jung Jaein. Peniel membuang wajahnya ke arah lain, menghindari Sungjae berada di ruang lingkup penglihatannya.

“I hate my self for falling in love with someone who my best friend also falling in love with” gumam Peniel pelan.

 

“Time to go home” ujar Ilhoon tiba-tiba, membuat ke-9 kepala di sekitarnya menoleh ke arahnya. Langit di atas mereka sudah mulai memerah, dan matahari sedang bersiap-siap untuk pergi dan digantikan oleh bulan. Jaein menghampiri Ilhoon, melingkarkan tangannya di lengan kiri Ilhoon.

“Yeah, sepertinya memang saatnya untuk pulang” ujar Minhyuk sambil menaikkan kedua bahunya. Akhirnya satu persatu dari mereka mulai mengucapkan sampai jumpa dan berpisah menuju rumah masing-masing. Kini, tinggal Peniel, Ilhoon, Sungjae dan Jaein yang tersisa.

“Kajja oppa, kita pulang” Jaein menggoyangkan tangannya di lengan Ilhoon, membuat namja itu menganggukkan kepalanya.

“Ka—“ “Wait” Peniel memotong ucapan Ilhoon, membuat salah satu alis Ilhoon terangkat.

“Waeyo hyung?”

“Bukankah kau ingin menunjukkanku suatu tempat?” Ilhoon menatap bingung ke arah Peniel. ‘Kapan aku pernah berkata seperti itu?’ batin Ilhoon. Peniel menatap ke arah Ilhoon, berusaha memberi petunjuk untuk mengiyakan ucapan Peniel. “Ah, iya. Aku hampir lupa hyung hhaha” Ilhoon mengusap leher belakangnya, sambil tertawa awkward begitu menyadari gelagat Peniel.

“Sungjae, kau membawa mobilmu bukan?” Sungjae menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan Peniel.

“Jaein, lebih baik kau pulang bersama Sungjae. Aku akan meminjam Ilhoon untuk sementara waktu” Peniel menunjukkan deretan giginya pada Jaein. “Oh, arasseo” Jaein melepaskan tangannya dari lengan Ilhoon, dan berjalan mendekati Sungjae.

“Hati-hati di jalan” ujar Peniel sambil mendorong Sungjae pelan, agar Sungjae dan Jaein segera pulang. Sungjae menganggukkan kepalanya ragu, sedikit bingung dengan tingkah laku Peniel yang terlihat sedikit aneh. Namun Sungjae mengabaikan tingkah Peniel yang aneh, dan menaikkan kedua bahunya.

“Arasseo, annyeong hyungdeul!”  “Bye oppadeul!”

Sungjae dan Jaein melangkah menjauh dari Peniel dan Ilhoon, menuju ke tempat di mana mobil milik Sungjae terparkir. Setelah kedua sosok mereka hilang, Ilhoon menoleh ke arah Peniel.

“Peniel hyung” Peniel memberengut begitu melihat Ilhoon yang menatapnya menuntut penjelasan.

“Besok, 10:00 am flight to Chicago” gumam Peniel.

“Mwoya?!” mata Ilhoon melebar. “Aku salah dengar bukan, hyung?” ujar Ilhoon tak percaya. Peniel menggelengkan kepalanya tak berdaya.

“Aniya. Grandma sakit, dan beliau merindukanku” sunyi menyelimuti mereka berdua.

“Kau sudah memberitahu member yang lain?” Peniel menggelengkan kepalanya lagi, “Belum”

Ilhoon menghela nafas mendengar jawaban yang keluar dari mulut Peniel. “Sampai kapan?” tanya Ilhoon.

“Aku belum tahu. Mungkin beberapa bulan”

“Bagaimana dengan Jaein?” Peniel tersentak begitu mendengar pertanyaan Ilhoon. Ia menatap kosong ke arah Ilhoon. ‘Bagaimana ia bisa..

“Aku sudah terlalu lama mengenalmu hyung. Aku tahu kau jatuh cinta pada adikku. Semuanya tertera jelas di wajahmu” ujar Ilhoon seakan-akan menjawab pertanyaan Peniel. Peniel tersenyum lemah pada Ilhoon, tersentuh dengan ucapan Ilhoon. Ia tidak menyadari bahwa ia sedekat itu dengan Ilhoon.

 

“Dan kau juga pasti tahu bukan, Sungjae menyukai Jaein?” ujar Peniel sambil mengacak rambutnya. Terdapat sebuah perasaan bersalah dan frustasi di suara Peniel, dan Ilhoon tahu itu.

“Tapi aku lebih memilihmu, hyung” Ilhoon mengangkat kedua bahunya, “Insting persaudaraanku berkata seperti itu” lanjutnya. Peniel menggelengkan kepalanya.

“Tapi Jaein juga menyukai Sungjae, Jung Ilhoon”

“So? Memang benar Jaein menyukai Sungjae. Tapi bukan berarti Jaein mencintai Sungjae”

Peniel menggelengkan kepalanya lagi, “Aniya. Aku tidak mau menyakiti perasaan Sungjae”

“Tck” Ilhoon mendecakkan lidahnya mendengar ucapan Peniel.

“Jadi? Kau akan menyerah begitu saja hyung?” sebuah kekecewaan muncul di dalam diri Ilhoon.

“Tidak. Tentu aku akan memperjuangkan Jaein. Tapi, tidak sekarang. Sungjae bertemu dengan Jaein terlebih dahulu, dan menyukai Jaein sebelum aku bertemu dengan Jaein. Anggap saja, aku memberi kesempatan pada Sungjae untuk mendapatkan hati Jaein. Jika sampai aku kembali nanti ia belum juga mendapatkannya, baru aku akan mengambil langkah. Dan tolong, jangan beritahu Jaein, Ilhoon-a”

“Whatever hyung. Lakukan sesukamu. Tapi pesanku, jangan menyesali keputusanmu. Karena aku tidak yakin Sungjae tidak akan berhasil” Peniel hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Ilhoon yang tampak kesal. ‘Aku sudah memperingatkanmu, hyung’ batin Ilhoon.

 

***

Jaein’s POV

 

 

Aku berusaha mengabaikan tatapan dan bisikan-bisikan di sekitarku begitu aku berjalan menyusuri koridor sekolah, menuju ke arah kelasku. Aku benar-benar tidak suka menjadi pusat perhatian, terlebih lagi di sekolah. Aku bisa saja mengabaikannya dan bersikap acuh tak acuh, namun tetap saja. Menjadi pusat perhatian itu menggangguku.

“Jaein-a!” aku menghela nafas lega begitu melihat Chanmi dan Minjoo yang melambaikan tangan ke arahku di ujung koridor. Kupercepat langkahku menghampiri mereka.

“Yah, kenapa terburu-buru sekali di pagi hari seperti ini?” tanya Minjoo sambil tertawa kecil. Aku memutar kedua bola mataku malas, dan memberi tatapan kau-tahu-penyebabnya pada Minjoo. Minjoo menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menahan tawanya. Melihat Minjoo, aku teringat sesuatu.

“Minjoo-ya, kau tahu Ilhoon oppa berada di mana?” Ilhoon oppa tidak pulang semenjak kemarin, dan ponselnya tidak aktif. Aku khawatir dan berusaha untuk menghubungi Peniel oppa—karena kemarin ia yang bersama dengan Ilhoon oppa—namun ponselnya juga tidak aktif.

“Aniya” Minjoo menggelengkan kepalanya dengan cepat. Pikiran terlalu penuh dengan Ilhoon oppa, sehingga aku mengabaikan tingkah Minjoo yang terlihat aneh. Sepanjang aku, Chanmi dan Minjoo berjalan menuju loker kami, aku tak melihat satupun BTOB oppadeul menunjukkan batang hidungnya.

“Hey, kenapa aku tidak melihat satupun BTOB oppadeul?” ujarku. Chanmi dan Minjoo menghentikan langkah mereka, membuatku juga berhenti. Mereka saling melirik satu sama lain, membuat alisku terangkat. “Ada apa?” tanyaku curiga. Chanmi mengangkat kedua bahunya, “Molla. Aku juga belum melihat mereka”

“Nado” aku memandang aneh ke arah kedua sahabatku itu. Ada sesuatu yang aneh dengan tingkah mereka, tapi aku tidak bisa menemukan apa itu. Kuputuskan untuk tak memikirkan hal itu, dan meneruskan langkahku.

 

***

 

 

“Aku pulang” aku langsung bangkit dari atas sofa begitu mendengar suara Ilhoon oppa.

“Oppa!” kuhampiri Ilhoon oppa yang tengah melepas sepatunya. Ia mendongakkan kepalanya begitu menyadari kehadiranku, sebuah senyum merekah di wajahnya. “Hai Jaein-a”

“Kau kemana saja oppa? Aku khawatir. Kau tidak pulang semalam, dan kau juga tidak datang ke sekolah hari ini. Ponselmu juga mati, aku tidak bisa menghubungimu” aku menyerangnya dengan berbagai pertanyaan. Ilhoon oppa mengacak pelan rambut di puncak kepalaku, “Aigoo, mianhae Jaein-a. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu khawatir” aku menggembungkan kedua pipiku, merasa tidak puas karena ia tidak menjawab pertanyaanku.

“Maafkan oppa, ne? Oppa janji tidak akan membuatmu khawatir lagi” aku mendengus sebal. Aku tidak bisa marah terlalu lama dengan oppaku, dan terkadang itu sangat menyebalkan!

“Arasseo” ujarku sambil memutar kedua bola mataku malas.

“Gomawo saengi-ya”

 

***

Beberapa hari kemudian..

 

Alisku terangkat begitu melihat kursi di depanku kosong—lagi. Sudah beberapa hari ini kursi di depanku—kursi Peniel oppa—kosong. Aku juga tidak melihat Peniel oppa menunjukkan batang hidungnya. Ada apa? Apakah Peniel oppa sakit parah?

Kurogoh isi tasku dan mengambil ponsel milikku. Kutekan nomor Peniel oppa, berusaha menghubunginya untuk ke sekian kalinya.

“Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau—“ klik. Kuputuskan panggilan telponku. Helaan nafas keluar dari mulutku. Lagi-lagi ponselnya tidak aktif. ‘Kenapa?’ batinku. Kekhawatiran menyelimuti hatiku. Ntah mengapa aku merasa ada sesuatu yang hilang di saat aku tak bisa melihat Peniel oppa, meskipun hanya sehari saja. Dan ini sudah lebih dari 2 hari ia tidak muncul!

“Odie..” gumamku sambil menelungkupkan kepalaku di atas meja.

 

Krriiinggg

 

Aku segera memberekan bukuku yang berserakan di atas meja begitu bel pulang berbunyi dan Kim Seongsaengnim keluar kelas. Aku menghelas nafas—lagi—begitu kursi kosong di hadapanku menarik perhatianku, membuatku terlarut dalam pikiranku lagi.

“Jaein-a!” aku tersadar dari lamunanku begitu mendengar suara Chanmi dan Minjoo. Aku memberikan senyumanku sekilas pada Chanmi dan Minjoo yang sudah berada di sampingku.

“Kajjaaa” ajak Chanmi tak sabar begitu aku selesai membereskan bukuku. Minjoo menarik lenganku, dan menggeretku keluar kelas. Masalah Peniel oppa yang tidak menunjukkan kehadirannya masih memenuhi otakku, membuatku tak memperhatikan apa yang dibicarakan oleh Minjoo dan Chanmi di sepanjang perjalanan menuju gerbang sekolah.

“Yah, Jung Jaein!” Minjoo melambaikan tangannya di depan wajahku, membuatku tersadar.

“Ye?” tanyaku bingung. Minjoo menggelengkan kepalanya, “Kau pasti tidak mendengarkan kami”. Aku tersenyum lemah ke arah Minjoo dan Chanmi, meminta maaf pada mereka.

“Apa yang kau pikirkan?” Chanmi menyenggol lengan kananku.

“Kalian tahu kenapa Peniel oppa tidak masuk beberapa hari ini?” mereka terdiam begitu mendengar pertanyaanku. Aku menyenggol lengan kedua sahabatku itu.

“Yah, kalian kenapa?” tanyaku. Mereka berdua menatap ke arahku, dan ntah mengapa aku merasa ada sesuatu di balik tatapan mereka.

“Lebih baik kau bertanya pada Ilhoon, Jaein-a. Ia yang lebih berhak untuk memberitahumu” aku memandang bingung ke arah Chanmi, lalu kualihkan pandanganku ke arah Minjoo, meminta penjelasan darinya.

“Benar kata Chanmi. Lebih baik kau bertanya pada Ilhoon” Minjoo menunjuk ke arah Ilhoon oppa yang sudah berada di gerbang sekolah bersama BTOB oppadeul yang lain dengan dagunya. Aku segera menghampiri oppaku itu dan menarik lengannya.

 

“Wow, slow down Jaein-a. Kenapa kau tiba-tiba menarik Ilhoon seperti itu?” ujar Eunkwang oppa.

“Kau bahkan tak menyapa kami?” tanya Minhyuk oppa. Aku tak menghiraukan ucapan mereka dan menarik Ilhoon oppa menjauh. “Kita butuh bicara” ujarku.

 

“Ada apa?” tanya Ilhoon oppa begitu kami sampai di samping mobilnya. Aku melepaskan tanganku dari lengannya, dan menatap ke arahnya.

“Oppa, Chanmi dan Minjoo memberitahuku bahwa aku harus menanyakan ini padamu. Kenapa Peniel oppa tidak masuk beberapa hari ini? Terakhir kali aku melihatnya di hari saat kau tidak pulang ke rumah” dapat kudengar helaan nafas keluar dari mulut Ilhoon oppa. Ia mengacak rambutnya dengan tangan kirinya.

“Ia pulang ke Chicago”

“Mwo?!” hatiku terasa seperti tertusuk benda tajam mendengar ucapan Ilhoon oppa. Kapan? Kenapa? Bagaimana? Kata-kata tanya itu berputar di otakku.

“Kau ingat? Beberapa hari yang lalu, saat aku dan member BTOB yang lain tidak masuk? Hari itu kami mengantar Peniel hyung ke bandara. Ia harus kembali ke Chichago untuk beberapa waktu karena grandmanya sakit” aku berusaha memproses satu persatu ucapan Ilhoon oppa. ‘Tapi mengapa tak ada satupun yang memberitahuku?! Dan kenapa Peniel oppa tidak berpamitan denganku?!’ teriakku dalam hati.

“Chanmi dan Minjoo.. Mereka juga tahu?”

“Ya.. Kami semua tahu kecuali kau”

“Wae?”

“Mianhae Jaein-a, tapi Peniel hyung menyuruh kami untuk tidak memberitahumu. Mianhae” ujar Ilhoon oppa sambil menepuk kedua bahuku. Aku menatap kosong ke arah Ilhoon oppa, aku merasa nyawaku seperti terlepas dari tubuhku untuk beberapa saat.

Ilhoon oppa merogoh saku celana miliknya. Sebuah amplop berwarna putih kini berada di telapak tangannya.

“Ia menitipkan ini padaku. Mungkin, semua jawaban pertanyaanmu ada di sini, Jaein-a” aku menerima amplop putih itu dengan lemas. Ilhoon oppa menghela nafas, lalu menarik tanganku.

“Kajja, kita pulang. Lebih baik kau membacanya di rumah” aku hanya menganggukkan kepalaku, pasrah saat Ilhoon oppa menyuruhku untuk masuk ke dalam mobilnya. Aku masih menatap kosong ke arah amplop putih yang berada di telapak tanganku. ‘Aku merasa kosong.. Peniel oppa’ batinku sambil berusaha menahan tangis yang ntah sejak kapan siap untuk pecah.

 

 

 ————————————————–

A.N.: Kyaaaa! >< Mianhaaeeee!! Sudah berapa lama aku tidak mengupdate byq ;___; mianhaeeee /sobing hard/ dan maaf kalo chap ini ga memuaskan… ;___; aaaaaa ntah kenapa aku ngerasa fail ;___; /abaikan

26 responses to “Be Your Queenka? [Chapter: 6. Dates+Chicago+Queenka]

  1. yah kok jaein sama peniel?
    kenapa nggk sungjae?
    chingu next part jangan lama2 ya, karena sudah pasti seru^^

  2. Huwwaaaaa eonnie mian tela bca n comment lgi 😦
    Keren eonnie part yg ini!!! Makin seru!!! 🙂
    dan d part ini jg lebih panjang heheh 😀
    Tp gaa begitu panjang sihh 🙂 *nah loh lebih panjang tp ga begitu panjang?* eonnie ngerti gaa? Heheh 😀 pokok nya keren lah eonnie!!! 😀
    D tunggu next chapnya eonnie!! 🙂

    Hwaiting!!! 🙂

  3. Huah, Peniel baik banget–nggak mau menyakiti perasaan sungjae. Sahabatku ada di posisi peniel tapi dia nggak memikirkan hal yang sama dengan peniel, ujungnya dia ngembat namja yang sama2 kami sukai :3 *curcol gak papa ya*
    Huah, mian ne, thor, baru komen di part ini, soalnya bacanya bablas jadi ribet kalo komen satu-satu :3 FFnya seru! Cepet dilanjut ya ^^ Aku suka banget sama Ilhoon disini padahal biasku sungjae, waks! :v
    Fighting, author-nim!! .2*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s