My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip 14

Main Cast(s) :

  • Lee Jinki (SHINee Onew)
  • Shin Jibyung
  • Shin Jikyung

Support Cast(s) :

  • Kim Junsu (2PM Junsu)
  • Other SHINee members
  • Etc.

Genre  : Marriage Life, Family, Life, a bit Romance and Humor

Length : Continue

Rating  : Teen

Disclaimer : Only own the plot & Shin Jibyung.

>>> Previous <<<

Mianhae, Eomma.

“…”

“Eomma, jangan marah, hm? Eomma akan tetap punya menantu yang tampan. Onew akan menikahi Jikyung, kok.

“… ehem, jangan tanya kenapa.

“… eomma harus mendukungnya.”

.

“Seharusnya sejak awal kau bilang kalau kau tidak hamil. Ck, dasar.”

“Aku.. berpikir untuk vakum dulu.”

“Apa?”

“… aku benar-benar sedang tak bisa menjadi Onew, saat ini, ataupun beberapa hari selanjutnya. Aku tak bisa mengatakan semua masalahnya padamu, tapi saat ini aku, Lee Jinki, lebih membutuhkan banyak waktu untuk kehidupanku yang sebenarnya.

“Ada banyak hal yang harus kutata lagi. Aku sudah memikirkan proposal ini matang-matang, Hyung.

“Aku sebelumnya sudah mengatakan ini pada orang tuamu, bahwa rencana menikah di saat karirmu sedang naik bukanlah ide bagus. Kau tahu itu? Dan itu terbukti sekarang, bukan? Orang tuamu sudah menjamin kau bisa tetap berlaku profesional jika seandainya masalah terjadi. Tapi apa yang baru saja kudengar sekarang? Apa kau tak bisa bertanggungjawab atas perkataan itu? Atas penilaian kedua orang tuamu terhadap dirimu sendiri?” tutur Sukjin panjang lebar, “Jinki-ya, kau adalah leader dalam grup ini. Menurutmu apa yang akan terjadi kalau kau vakum?”

“Kau benar-benar menginginkan ini?”

“Ya, aku benar-benar menginginkan perceraian ini terjadi.”

Onew berusaha mengendalikan dirinya lagi. Napasnya terdengar berat, sekujur tubuhnya terasa terbakar. Masih terbayang gerakan tangan Jibyung ketika wanita itu membubuhkan tanda tangan di atas surat perceraiannya.

“Tidak ada apapun lagi yang bisa kuharapkan darimu. Bukankah itu juga yang kau rasakan terhadapku?”

“Arh!”

[“Jikyung-ah, aku yakin ini cocok denganmu. Pakai ini di hari pernikahan kalian. Jangan protes! Aku membuatnya dengan sepenuh hati, dengan cinta di setiap jahitannya. Kkk~

Jadi hargai kerja kerasku ini, arasso? Segera lakukan persiapan pernikahan kalian. Tapi maaf, sepertinya aku tidak bisa membantu. Jangan pikirkan apapun dan lakukan saja.

Tahu, tidak? Kau membuatku gelisah terus sepanjang minggu ini. Berkali-kali aku dimarahi bos karena tidak konsentrasi bekerja. Ck, gara-gara kau.

Karena itu, berbahagialah, My twin 🙂.

p.s. Aku tidak mau bertemu sebelum kalian memberi undangan resmi. Hoho.”]

“Jibyung noona! Ternyata benar!”

Wanita itu terperangah sejenak, tapi kemudian tersenyum lebar sambil mengangkat sebelah tangannya, “Annyeong!

>>><<<

CLIP 14

Noona kemana saja lebih dari sebulan ini? Semuanya mencarimu.”

Jibyung terkekeh mendengar pertanyaan pemuda bermarga Lee di sampingnya, “Kenapa harus dicari? Memangnya aku hilang?”

“Kau memang menghilang.” Taemin menyahut dengan yakin. Kerutan samar tampak di antara kedua alisnya. Melihat tampang heran yang serius itu, Jibyung kembali terkekeh.

“Tidak, siapa bilang?” sekilas, diliriknya gadis bernama Kwon Yejin yang tadi datang bersama Taemin. Gadis itu tengah bermain dengan kameranya di jarak yang cukup jauh dengan mereka, memotret setiap sudut pantai, sesekali berjongkok untuk bermain dengan biota laut yang ditinggalkan gulungan ombak. Jibyung tersenyum kecil, melirik Taemin yang juga tengah melihat ke arah yang sama.

“Kalian seharusnya menghabiskan waktu bersama di sini.” ujar wanita itu, sedikit iseng.

Beberapa saat yang lalu, Taemin mengenalkan Kwon Yejin sebagai kekasihnya sejak setahun yang lalu. Gadis yang tampak kurang percaya diri dan sebaya dengan Taemin itu sepertinya sudah tahu tentang pernikahan Onew dengan Jibyung, walaupun Jibyung tak menanyakannya secara gamblang. Mungkin Taemin yang memberitahunya, dan Jibyung yakin gadis seperti itu bisa dipercaya, jadi dia tidak mempermasalahkannya.

Dan melihat Taemin dan Jibyung tampak akan bicara serius, Kwon Yejin dengan cukup tahu diri, menyingkir sebentar dan memutuskan untuk menyenangkan dirinya sendiri sembari menunggu.

Noona tidak perlu mengalihkan pembicaraan.” sahut Taemin pelan. Rambut merahnya bergerak tertiup angin. Dia mengalihkan pandangan dari Yejin, meluruskan sebelah kakinya sementara yang lain tertekuk di atas pasir yang hangat.

“Ck, kau ini.” Jibyung melipat kedua kakinya, memeluknya dengan kedua tangan sambil diam-diam menghela napas dalam. Yah, mau bagaimana lagi. Setidaknya Jibyung hanya perlu mengatakan keberadaannya saat ini. Dan mungkin harus sedikit meluruskan jika Taemin mengira dirinya menghilang karena patah hati atau apapun—karena alasannya sebenarnya memang bukan seperti itu. Jibyung memang sedang menghindari Onew ataupun Jikyung dan semua orang yang berhubungan dengan mereka, dan juga ingin menghabiskan waktu untuk berpikir sendiri, tapi dia tidak melakukan semua ini karena patah hati apalagi putus asa. Tidak sama sekali.

“Jadi, kemana kau menghilang selama ini? Dan kenapa kau tak bisa dihubungi?” tanya Taemin kembali, merasa rasa penasarannya belum terpuaskan.

“Kubilang itu bukan menghilang.” Jibyung bersikeras, namun raut wajahnya tetap tenang, “Aku ada di apartemen yang sama dengan tempat tinggal…ku sebelumnya. Hanya saja, letaknya beberapa lantai di atasnya.” Dia mengatakan itu dengan pembawaan yang sama dengan saat kau bicara tentang umurmu tahun ini, “Itu namanya cool, bukan menghilang.” tambahnya kemudian, tidak ingin membuat suasana terlalu serius.

Taemin membelalakkan matanya, sepenuhnya mengabaikan kalimat terakhir Jibyung, “Ne? Jinjjayo? Jadi, noona masih di Seoul selama ini?”

“Tentu saja. Memangnya bisa dimana lagi?” balas Jibyung, kemudian mengangkat kedua bahunya dengan ringan, “Dan tentang kenapa aku tak bisa dihubungi… ponselku rusak.” Alasan yang klasik, tapi hanya itu yang bisa Jibyung pikirkan.

Taemin masih melongo, dalam hati membenarkan tentang dirinya dan yang lain yang tak pernah mengira Jibyung masih tinggal di apartemen yang sama selama ini. Terkadang Jibyung memang sering bertingkah mengejutkan dan penuh rahasia. Atau memang mereka yang tak peka?

“Jadi… apa banyak hal yang kulewatkan?” tanya Jibyung, setelah keduanya saling berdiam diri selama beberapa saat. Langit sudah gelap, semburat cahaya matahari pun sudah nyaris tak tampak lagi.

“Onew hyung…. memutuskan berhenti sejenak dari kegiatan kami, dan perusahaan mengizinkannya.” Taemin menggedikkan kepala untuk menyingkirkan poni rambutnya yang mengganggu penglihatan, “Dan kami benar-benar mengkhawatirkanmu, Noona. Itu bagian terpenting yang kau lewatkan.”

“Hm.” angguk Jibyung mengerti. Sejenak, Taemin melihat kedua mata itu mengawang kosong, “Kukira kau membawa ‘kabar bahagia’ juga.”

“Ah..” pemuda itu bergumam sangat pelan. Diperhatikannya lekat-lekat perempuan di sampingnya, dan kini giliran dirinya yang tampak menerawang.

>>><<<

“Dua hari lagi.” suara di seberang sana terdengar tenang, sementara di sini, dirinya termenung dengan rahang terkatup rapat, mengulangi ucapan ‘dua hari lagi’ yang baru saja dikatakan sang penelpon—di benaknya, dan menahan diri untuk membiarkan geraman kesal meluncur dari bibirnya saat ini juga.

Junsu tak lagi mendengarkan apa yang dikatakan si penelpon—Onew—selanjutnya. Pikirannya sudah kacau hanya dalam waktu beberapa detik. Jantungnya terasa menghantamnya dari dalam.

Gomapta, Hyung.” ujaran itu kemudian membuat Junsu tersadar kembali, “untuk apapun yang sudah kau lakukan.” Entah kenapa, tapi Junsu merasa kalimat itu diucapkan Onew, di antara sadar dan tidak.

Hening sejenak, dan kemudian, dengan berat Junsu membalas, “Chukkahae.

.

Lelaki itu menunduk, menyangga kepalanya yang berat dengan kedua tangan—setelah telpon terputus, dengan beberapa kalimat sebagai penutup. Dua hari lagi. Dia harus benar-benar melepaskan perasaan yang masih bercokol di hatinya—walaupun itu harus dengan susah payah. Dia harus ikut berbahagia.

Dua hari lagi.

“Jangan egois, Kim Junsu.”

>>><<<

“Dua hari lagi, ya?” gumam Jibyung sangat pelan. Taemin terdiam, tak tahu apa yang harus dikatakannya, dan apa yang harus dilakukannya ketika melihat raut wajah Jibyung yang tak bisa ditebak.

“Taemin-ah.

Pemuda berumur dua puluh itu menoleh, namun tidak menyahuti panggilan Jibyung.

“Mendengar cara bicaramu sejak tadi, sepertinya kau sudah lama tahu masalah ini.” Jibyung berhenti sejenak, mengambil waktu untuk menarik napas dan menelan ludanya, “Ternyata memang hanya aku yang tidak tahu.” Dia tersenyum kecut.

“Aku juga tidak tahu, Noona.

Jibyung mencebik, “Kau mencoba menghiburku.”

“Ya..” Taemin berdeham kecil, “..aku hanya tahu apa yang kulihat, tapi tidak terlalu paham apa yang sebenarnya terjadi.”

“…”

Taemin membenahi tempat duduknya sedikit, “Noona, boleh aku… mengatakan pendapatku?”

“Tentu saja, Lee Taemin Yang Manly.

“Kupikir… Jikyung noona.. tidak sebaik yang kukira.” ujar Taemin hati-hati, sama sekali tak terganggu dengan selorohan Jibyung yang memanggilnya dengan main-main, “Maksudku… dia tahu kau dan Onew hyung sudah menikah, tapi dia masih bisa menerima perasaan Onew hyung. Iya, kelihatannya memang Onew hyung yang menginginkan itu, tapi kupikir… apa yang dilakukan Jikyung noona itu bukan apa yang seharusnya dilakukan seorang saudara, apalagi dia kembaranmu.”

Jibyung mendengar setiap penuturan Taemin dalam diam. Kerutan samar di antara kedua alisnya tampak secara bertahap, “Kau mencoba mengatakan… Jikyung tidak tahu diri?”

“…”

“Kau benar-benar hanya tahu apa yang kau lihat, Lee Taemin. Kalau aku tidak mengingat hal itu, aku bisa saja marah padamu.”

“…”

“…”

“Iya, aku memang mengungkapkan pendapatku dari apa yang kulihat.” aku Taemin, dalam hati meringis, sedikitnya merasa bersalah karena telah membuat Jibyung bicara dengan nada yang hampir terdengar dingin—untuk yang pertama kalinya—padanya.

“Bukan tidak tahu diri, dia hanya tidak bisa membohongi perasaannya.” ujar Jibyung kemudian, kembali menggunakan nada biasa, “Lagipula, aku juga yang mendorongnya. Meski sebenarnya aku bisa saja menghentikannya untuk menyelamatkan pernikahanku, tapi aku justeru ragu karena kurasa… sejak awal Onew tidak benar-benar yakin dengan pernikahan ini.

“Dan aku terlalu sakit hati dengan cara mereka menyimpan semua ini dariku. Kenyataan dimana hanya aku yang tidak tahu, cukup menjelaskan semuanya. Mereka memang ingin bersama.” Yeoja pemilik rambut sepunggung yang kali ini dibiarkan terurai itu kembali tersenyum masam, “Jikyung juga berhak mendapat kebahagiaan. Jadi kenapa aku tidak mundur?”

“Tapi noona…

“Karena itulah, Taemin, Jikyung tidak salah. Aku yang egois, dan sejak awal seharusnya memang aku yang menyingkir.”

“…”

Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Taemin, wanita itu berkata lagi, “Aku tidak bermaksud bermain dengan janji pernikahan. Aku hanya…” jeda beberapa detik, “.. hanya tidak ingin membuat saudaraku ‘sakit’ untuk yang keduakalinya. Aku… mungkin tidak terlalu menunjukkannya di luar, tapi aku sangat menyayangi Jikyung.”

“Meskipun itu menyakiti dirimu sendiri?”

Yeoja itu tersenyum singkat, “Akan kupastikan itu tidak akan lama.”

Jibyung mungkin tampak cukup ‘tangguh’ dan tegas dari luar. Tapi sebenarnya dia tak berani bersikap tega pada orang-orang yang disayanginya. Setelah tahu Jikyung menyukai Onew sejak awal, dan sekarang hal itu kembali terjadi dan Jibyung mengetahuinya, dia tak bisa ‘meninggalkan’ Jikyung seperti saat pertamakali. Begitu tahu masalah ini, awalnya Jibyung memang sangat marah pada Jikyung. Tapi hanya untuk saat itu saja. Jadi daripada kelak digelayuti rasa bersalah yang pasti akan bertahan lama, Jibyung lebih memilih berkorban—jika memang bisa dikatakan seperti itu.

“Onew hyung terlihat yang paling khawatir sejak dia tahu kau menghilang.” Taemin menoleh ke sampingnya untuk melihat reaksi Jibyung, dan harus merasa sedikit kecewa karena tidak menemukan ekspresi yang diharapkannya.

“Hm..”

“Dia sangat menyayangimu, Noona.

“Mungkin…” walau bagaimanapun, jika mengingat hal ini, Jibyung selalu merasakan sesuatu menyayat-nyayat dirinya dari dalam, “.. seharusnya kau menyisipkan kata ‘juga’ di kalimat itu.”

Helaan napas pelan terdengar dari Taemin. Keningnya berkerut, menyadari kekeraskepalaan wanita di sampingnya ini.

“Lagipula sudah tidak ada gunanya lagi membahas itu. Dua hari lagi, bukan?”

“…”

“…”

Taemin melepaskan pandangannya dari Jibyung dan beralih menatap langit yang sudah gelap, “Noona akan datang?”

“… Kenapa tidak?” Jibyung ingat dia menulis ‘tidak akan bertemu kalau belum mendapat undangan resmi’ di pesan yang diberikannya pada Jikyung. Tapi sekarang dia sudah tahu berita ini dari Taemin, jadi walaupun Jikyung ataupun Onew tidak mengundang—ditambah lagi Jibyung memang tak ingin dihubungi—dia akan tetap datang.

Taemin tak menanggapi lagi. Dia mendengar Jibyung mengambil napas dalam-dalam dengan keras dan kembali bicara dengan nada yang lebih ceria, “Taemin-ah, setelah pulang dari sini, jangan ceritakan pada siapapun kalau kau bertemu denganku, arasso?

“Tak perlu diberitahu pun aku sudah mengerti, Noon–aih, jangan merusak rambutku.”

Jibyung terkekeh dan segera menurunkan tangannya dari kepala Taemin. Wanita itu melihat sekitar sambil bertanya, “Mana Yejin-ssi? Sekarang giliran kalian yang bercerita.”

“Ah, waeyo!?

>>><<<

… Shin’s House, the next evening…

Detak jarum jam dan sesekali suara lembut benturan benda pecah belah adalah satu-satunya suara yang mampu membuka selimut keheningan yang membalut salah satu ruangan di rumah yang cukup luas itu. Well, ini bukan yang pertamakali terjadi. Dan biasanya kedua perempuan itu tak akan terlalu merasa canggung lagi karena sudah cukup terbiasa dengan suasana seperti ini. Tapi malam ini, Jikyung benar-benar tak bisa menyembunyikan keresahannya meskipun belum lama duduk berhadapan dengan Minhyun di meja makan.

Minhyun mengangkat kepalanya sedikit untuk menatap Jikyung yang hanya berlama-lama memainkan makanannya sambil melamun, “Kau tidak nafsu makan?”

Jikyung agak terkesiap, “Eoh.. ne.. ne…?” gumamnya dengan nada bertanya, belum sepenuhnya mencerna ucapan Minhyun, “I-ya… sepertinya begitu. Tapi pasti kuhabiskan.” Dia cepat-cepat menambahkan. Minhyun sudah membuatkan makan malam ini, jadi Jikyung tak ingin membuat makanannya bersisa.

Sang ibu hanya mengangguk pelan dan menggumamkan, “Tentu saja harus.”—sebelum melanjutkan kegiatannya kembali, tanpa menyadari tatapan Jikyung masih tertuju padanya.

Sejak Minhyun tahu Jibyung ‘menghilang’, Jikyung sama sekali tak bisa mengetahui apakah wanita yang paling disayanginya itu marah atau tidak terhadap dirinya. Sikap Minhyun bisa dikatakan dingin, namun disaat yang sama tampak biasa-biasa saja, dan bahkan tetap menaruh perhatian pada Jikyung, membantu menyiapkan semua yang diperlukan untuk hari besarnya besok.

Ada setitik rasa lega yang menyusup, ketika Jikyung sempat berpikir sekilas bahwa itu adalah suatu bentuk dukungan Minhyun terhadapnya, namun di sisi lain, rasa bersalah juga semakin membebani. Terlebih malam ini. Malam sebelum dirinya mengucap janji di atas altar bersama Onew, dan Jibyung sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya.

Jikyung sendiri tidak tahu bagaimana dirinya di hari-hari kemarin. Bohong jika dia berkata tidak merasa bahagia sekaligus gugup menghadapi pernikahan ini, karena pada kenyataannya perasaan itu hadir di dalam hatinya—mungkin di sisi gelap dirinya. Namun sisi lainnya berkata, dia tidak boleh memiliki perasaan seperti itu. Dia hanya boleh merasa bersalah dan menyesali semua yang terjadi, walaupun Jibyung sudah menegaskan keputusannya untuk meninggalkan Onew.

Ah, ya, Onew. Lee Jinki. Lelaki itu pun tampak sulit ditebak akhir-akhir ini. Dia memang tampak menghendaki pernikahan ini tetap dilakukan, ta—“Jikyung-ah.

Lamunan Jikyung buyar seketika tatkala Minhyun tampak sudah menyelesaikan acara makannya sambil memanggil dirinya dengan suara cukup keras, “Astaga, nasimu sudah mendingin begitu.”

“Ah, geurae.” Jikyung langsung kembali menekuni makan malamnya walaupun dengan sangat lambat karena tidak ada nafsu makan sama sekali.

Beberapa lama kemudian, Jikyung sudah menyelesaikan makan malamnya sekaligus membereskan meja makan. Tepat pada pukul 7.30 adalah waktu dimana sepuluh menit sudah dihabiskannya dengan menyendiri di dalam kamar.

Sudah berkali-kali dia mencoba lagi menghubungi Jibyung, namun hasilnya selalu saja sama dengan waktu-waktu sebelumnya, hanya suara operator yang menjawab, yang sedikit demi sedikit mengikis harapannya untuk mendengar suara Jibyung.

Apa yang sebenarnya berada di pikiran saudarinya itu? Pergi begitu saja dan tak mengatakan sedikit pun dimana keberadaannya saat ini. Berniat sekali membuat semua orang khawatir. Walaupun keadaannya seperti ini, tapi Jikyung ingin setidaknya Jibyung memberikan keterangan jika dirinya baik-baik saja.

Pandangan Jikyung beralih pada jendela kamar yang menampakkan langit malam bertabur bintang di musim semi. Di saat itulah dadanya tiba-tiba terasa mencelos entah kenapa. Dia kemudian menyapukan pandangan ke setiap sudut ruangan teritorinya semenjak beberapa belas tahun yang lalu itu. Sekali lagi, Jikyung kembali mencelos ketika fokusnya berhenti di tempat tidur yang biasa Jibyung tempati. Hal itu membuatnya menyadari satu hal yang seolah-olah merupakan sebuah bahaya untuknya, hingga kedua matanya melebar bersamaan dengan jantungnya yang seolah berhenti berdetak lalu kembali berdenyut dengan lebih keras dan lebih cepat dari sebelumnya.

Seperti orang kalap, Jikyung mengangkat kembali ponselnya dan mendial lagi nomor Jibyung seraya turun dari ranjang dan mondar-mandir gelisah, “Jibyung-ah, jebal.” Gumamnya dengan sedikit terengah.

Lagi-lagi hanya suara operator. Jikyung menggeleng frustasi dan mencoba lagi.

Kumohon, apa yang sedang terjadi padamu?

“Nomor yang anda tuju sedang tidak—“

Pip!

“Nomor yang—”

Pip!

“Nomor—“

Pip!

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar area jangkauan. Silahkan coba beberapa saat lagi.”

Kegelisahan Jikyung semakin tampak. Perempuan itu mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya, kemudian menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jari tangan. Walaupun begitu, dia mencoba untuk tetap tenang, mengambil napas dan mengeluarkannya perlahan selama beberapa kali hingga jantungnya berdetak normal lagi, walaupun tidak lama.

Saat itu, pintu kamar terbuka dan Minhyun melangkah masuk. Di langkahnya yang kedua, ia dikejutkan oleh Jikyung yang tiba-tiba saja mendatanginya dengan wajah setengah panik yang kentara. Sebelah tangannya berada di depan dada, seolah jantungnya akan menembus keluar saat ini juga, “Eomma, Jibyungie.”

Wae?” Minhyun mengerutkan kening tak mengerti sekaligus was-was.

Jikyung menelan ludah sesaat dan mengambil napas paling dalam, “Perasaanku tidak nyaman.” katanya pelan.

Minhyun terdiam beberapa saat sambil mengamati Jikyung yang lebih tinggi darinya. Hembusan napas panjang dan pelan kemudian keluar melalui mulutnya.

Eomma, mianhae.

Tanpa mengatakan apapun Minhyun menarik putrinya ke dalam pelukan, mengusap-usap punggungnya dengan sebelah tangan sementara Jikyung balas memeluknya dengan erat. Minhyun berbohong jika ia berkata sama sekali tidak khawatir. Sejak awal ia sangat khawatir, tapi ia percaya pada Jibyung. Ia percaya tidak akan terjadi sesuatu, karena ia percaya Jibyung bukan wanita bodoh. Lagipula Minhyun sebenarnya tahu Jibyung masih berada di Seoul. Jibyung sendiri yang memberitahunya. Mereka bahkan bertemu ketika ia berbelanja tadi sore, dan putrinya itu tampak sehat-sehat saja. Rasanya tidak mungkin saja kalau tiba-tiba terjadi hal yang buruk atau apapun itu—pada Jibyung.

“Jangan terlalu khawatir, mungkin hanya perasaanmu. Sebaiknya kau istirahat, besok hari yang penting. Ya, Jikyung?”

“Tapi bagaimana dengan Jibyung?”

“Yakinkan kalau dia baik-baik saja. Jangan pikirkan hal-hal buruk.”

>>><<<

Goresan pensil di atas sebuah kertas putih bersih meninggalkan titik-titik berwarna lembut yang saling menyambung membentuk garis, garis yang kemudian membentuk sebuah pakaian berupa kemeja yg dipadu jas dengan topi beludru.

Sebelas duabelas detik berikutnya, gerakannya semakin bertenaga. Goresan yang dihasilkan tampak lebih dalam dari sebelumnya. Dan sebuah robekan kecil di kertas itu tercetak bersamaan dengan napasnya yang akhirnya pecah berantakan setelah tanpa sadar dia tahan sejak beberapa waktu yang lalu.

Ttakk!

Jibyung melempar pensilnya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring di dalam ruangan yang sangat sunyi karena hanya ada dirinya di sana. Dengan kedua tangan menopang wajahnya yang menunduk menatap meja, Jibyung mengambil waktu untuk mengatur napasnya yang tiba-tiba saja memburu. Dia menggigit bibir karena mendapati matanya harus (kembali) berkaca-kaca.

Tuhan… bagaimana ini?

Apa yang harus dilakukannya?

Kenapa…

Kenapa harus… seperti ini?

Kenapa penyesalan selalu datang di akhir?

..

Tidak.

Bagaimanapun, hal yang bernama ‘penyesalan’ itu memang selalu terlambat.

..

Besok adalah waktunya, dan baru kini Jibyung sadar dirinya tidak sekuat itu.

..

Tidak.

Dia percaya diri. Percaya bahwa dirinya bisa melewati semua ini, sebelum.. satu kenyataan menghantamnya dengan kencang. Kenyataan bahwa sejak tiga bulan yang lalu, satu jiwa sudah tertanam di dinding rahimnya. Jiwa yang seharusnya ditunggu dan disambutnya dengan bahagia.

Salahnya, tak pernah mengikuti apa yang sering dikatakan Minhyun dan justeru bersikeras kalau dirinya tidak sedang mengandung—karena memang tak ada tanda-tanda apapun selain rasa mual yang cukup sering dirasakannya di bulan-bulan yang lalu—dan dia sendiri tidak terlalu berharap banyak tentang itu.

Salahnya karena tidak peka dan bahkan cenderung tak peduli dengan perubahan di dalam tubuhnya sejak saat itu.

Salahnya, tak melakukan pemeriksaan ini sejak awal dan justeru menyadari semuanya setelah… hari esok akan segera tiba.

..

Lalu, di malam ini, adakah yang merasa lebih sakit daripada dirinya?

Tuhan, seharusnya ini tidak terjadi, bukan?

..

Dengan telinganya, wanita itu bisa mendengar suara isakannya sendiri yang terdengar menyedihkan—sesuatu yang sebenarnya sangat dia benci.

Rasa sesak yang terlalu mengikat mendorongnya untuk menyuarakan erangan pelan yang disusul layangan tangan yang bergerak menyingkirkan benda-benda yang berada di atas meja, hingga semuanya jatuh berantakan di atas lantai dengan suara ribut yang menyamarkan tangisnya.

 [“Ceraikan aku untuknya. Nikahi dia, kita sudah berakhir.”

“Baik! Baiklah, kalau ini yang kau mau. Kita akan segera berakhir.”]

[“Kau benar-benar menginginkan ini?”

“Ya, aku benar-benar menginginkan perceraian ini terjadi. Tidak ada apapun lagi yang bisa kuharapkan darimu. Bukankah itu juga yang kau rasakan terhadapku?”]

[“Aku hanya… hanya tidak ingin membuat saudaraku ‘sakit’ untuk yang keduakalinya. Aku… mungkin tidak terlalu menunjukkannya di luar, tapi aku sangat menyayangi Jikyung.”

“Meskipun itu menyakiti dirimu sendiri?”

“Akan kupastikan itu tidak akan lama.”]

“Aaah! AAAAAH!!” jeritan pilu menguar di antara rasa sesak yang terlalu sakit untuk ditahan.

>>><<<

Pria yang sedang berbaring telentang di atas tempat tidurnya itu menghela napas dalam sebelum melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya. Jarum jam yang terarah pada angka yang menunjukkan waktu sudah larut itu, membuatnya urung menyentuh tombol ‘Call’ di layar ponselnya. Jikyung mungkin sudah tidur, pikirnya.

Tiba-tiba saja dia mendengus geli. Entah kenapa, rasanya lucu saja memikirkan ini kedua kalinya dia tak bisa tidur karena esok harinya adalah hari pernikahannya. Tak bisa tidur dan resah, dan yang kali ini lebih resah bahkan hampir mendekati.. pahit? Onew merasa dirinya melupakan sesuatu.. yang (sangat) penting.

Sekali lagi Onew menghembuskan napas panjang dan beranjak dari ranjangnya. Gerakan demi gerakan dia lakukan dengan setengah ragu, namun pada akhirnya dia mendapati dirinya sendiri sudah berdiri di depan pintu rumah dengan penampilan cukup wajar untuk bepergian, kunci mobil di salah satu tangan, dan ponsel di tangannya yang lain. Setelah mencerna ucapan sang ayah yang menyuruhnya untuk segera kembali setelah urusannya selesai, beberapa menit kemudian Onew sudah meluncur menuju suatu tempat, dengan sebuah harapan kecil yang menyangkut dalam hatinya.

Tidak lebih dari tiga puluh menit, Onew sampai di apartemen yang dihadiahkan untuknya beberapa bulan yang lalu. Ya, tempatnya dan Jibyung. Jemarinya sedang menekan kombinasi nomor yang merupakan password untuk masuk ke dalamnya. Suara yang menandakan pintu sudah ter-unlock, justeru membuatnya tertegun di sana selama beberapa saat, dan bahkan merasa ragu untuk membuka pintu tersebut.

Lampu koridor pendek apartemen itu menyala begitu Onew melangkah masuk—setelah akhirnya bisa menghilangkan keraguannya. Kecuali daerah itu, ruangan lain sama sekali gelap gulita. Onew melepas sepatunya dan melangkah lebih ke dalam. Tangannya meraba dinding lalu menyentuh saklar lampu, kemudian menekannya dengan agak hati-hati, seperti takut tertangkap basah sedang melakukan hal yang salah.

Pemilik mata sipit itu mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan yang sudah diterangi, menelan ludah begitu tak menemukan apapun yang nyaris membuatnya menyerah. Selanjutnya, dia berjalan ke kamar dan juga menyalakan lampu, hanya untuk mendapati hasil yang sama. Begitu juga ketika dia sampai di ruangan yang biasa Jibyung gunakan untuk mengerjakan desain-desainnya.

Menghela napas berat, pria itu menyandarkan tubuh ke meja kerja Jibyung dan mulai tenggelam dalam pikirannya lagi. Onew kira Jibyung akan berada di sini malam ini. Sayangnya yeoja itu ternyata tetap belum kembali.

Onew mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Dia bahkan merasa lelah dengan rasa frustasi yang sudah sangat familiar dengannya akhir-akhir ini.

“Byung..” gumaman itu meluncur bersamaan dengan hembusan napas yang sarat dengan rasa kesal yang dia rasakan pada diri sendiri.

Waktu terus berjalan, tak terasa puluhan menit sudah dihabiskannya dengan hanya berdiam diri di sana. Onew memijit pangkal hidungnya dan memejamkan mata sejenak untuk meredakan rasa pening. Sudah larut, dia tak yakin Jibyung akan kemari selarut ini. Atau.. entahlah. Lagipula apa yang akan dilakukan Onew jika seandainya—beberapa menit yang akan datang—Jibyung tahu-tahu sudah berdiri di hadapannya?

Namja bermarga Lee itu mengacak pelan rambut bagian belakangnya dan menghela napas lagi, mendorong tubuhnya untuk berdiri tegak dan bersiap beranjak dari tempat itu. Tapi sesuatu yang berkilau di atas meja membuatnya menunda langkah yang pertama. Onew tertegun sesaat, karena seingatnya, terakhir kali dia kemari, benda itu tidak ada.

Tangannya lalu bergerak mengambil benda mungil itu dan mendekatkannya dengan kepala, untuk meyakinkan kalau penglihatannya tidak salah. Sesaat kemudian dia mengerang dan melempar benda—yang adalah cincin yang ia yakini milik Jibyung—itu ke lantai, hingga memantul ke sembarang arah dan hilang dari jarak pandangnya, “Aish!”

>>><<<

(Jibyung’s POV)

Aku terbangun dan menyadari bahwa semalaman tadi aku tertidur di tengah-tengah lantai ruang kerjaku yang berantakan, kemudian menyadari bahwa aku harus menghadiri upacara pernikahan kakak kembarku, dan kembali menyadari bahwa jauh di dasar hatiku, jauh sekali hingga siapapun tak bisa menjangkaunya, aku ingin melewatkan saat-saat itu. Tapi tentu saja aku tak bisa. Setelah apa yang kulakukan dengan kekeraskepalaanku selama ini, bagaimana mungkin aku boleh menghindar?

Pada akhirnya, walaupun aku merasa tidak benar-benar sehat, kupersiapkan semuanya dan berangkat ke tempat yang diberitahukan Taemin tempo hari, tetap dengan motorku, walaupun aku tahu saat ini Tuhan sedang menitipkan satu hambaNya padaku.

>>><<<

“Jibyung-ah!

“Jibyung-ah!

Noona!

Eomma, Jonghyun dan Key berseru ketika mereka menemukan aku yang baru saja tiba di tempat. Ah, sepertinya aku sedikit terlambat. Semuanya sudah berkumpul di sini dan hampir semua pandangan tertuju padaku. Kubungkukkan badan dan melengkungkan senyum sembari memberi salam, kemudian berjalan menuju tempat eomma yang melambai-lambai ke arahku.

“Aku terlambat, ya?” ujarku sekedar basa-basi, dengan suara yang kupastikan hanya aku dan eomma yang mendengarnya.

Ibuku tersenyum hangat dan menggeleng, “Tidak, tapi hampir.”

“Eiyy..” dengusku, berusaha bersikap sebiasa mungkin. Kuedarkan pandangan ke setiap sudut gedung. Di antara sedikit orang yang hadir, aku berhenti pada abeonim dan eommonim yang duduk di tempat yang berseberangan di sampingku. Eommonim juga tengah melihat ke arahku, dan matanya yang sipit seolah menghilang ketika senyumnya terkembang.

Baru kali ini aku tak menyukai senyumnya. Ah, sejak dulu aku memang tak suka menerima senyum empati seperti itu. Aku tak mau dikasihani.

Sepasang tangan yang hangat merangkum tanganku dan meletakkannya di atas pangkuannya. Aku menoleh sejenak hanya untuk menyunggingkan senyum ‘tidak-apa-apa’ pada eomma, walaupun sebenarnya rasa sesak sudah menyerangku sejak aku melangkah masuk ke tempat ini.

Sebuah tepukan ringan membuatku menoleh ke belakang, mendapati para member SHINee dan Junsu-ssi berjejer di deretan tempat duduk tepat di belakangku.

“Aigo, idol-idol keren ini.” ucapku setengah bergurau.

Mereka terkekeh, dan Key tiba-tiba berceletuk, “Noona, nice style.

Kusipitkan mata dengan dramatis, “Apa itu berarti kau meragukan kemampuanku sebagai perancang busana?”

Ya, bagaimana bisa kau berkata seperti itu pada orang yang baru saja memujimu? Aish..” pemuda bernama lengkap Kim Kibum itu mendelik dan menyilangkan kaki seolah berkata ‘whatever’ dengan tingkah judesnya. Aku tertawa kecil, merasa geli sekaligus ingin melempar sesuatu ke wajahnya.

Kami kemudian mengobrol mengenai topik-topik ringan yang benar-benar jauh dari hal-hal yang kupusingkan selama ini. Mereka bahkan tak bertanya tentang ‘tempat persembunyian’ku. Eomma yang mendengarkan percakapan kami hanya ikut terkekeh sambil sesekali menimpali. Anehnya, itu justeru membuatku merasa bahwa aku sedang dikasihani.

*

Saat – saat itu akhirnya tiba. Aku melihatnya berdiri di atas altar, mengenakan tuxedo putih yang sangat pas di tubuhnya. Sangat tampan, tentu saja. Apalagi jika kau tidak memperhatikan guratan lelah yang amat sangat di garis wajahnya yang tidak berekspresi.

“Mempelai wanita telah tiba.” Pintu ruangan menjeblak terbuka. Jikyung yang menggandeng lengan abonim muncul dari sana. Hatiku mencelos seketika. Namun meski begitu, aku tak bisa mengalihkan perhatian dari langkah Jikyung yang detik demi detik semakin mendekat ke arah altar. Dia mengenakan gaun yang kubuat.

Yeppeuda.” gumamku pelan, dan mendapat gumaman ‘hn’ dari eomma. Aku sendiri tak mengira dia akan tampak sebaik ini dengan gaun itu.

Kuhela napas sedalam mungkin.

Apakah seperti ini perasaan Jikyung saat pemberkatan pernikahanku dan Onew ‘dulu’? Kenapa saat itu aku sebagai saudara kembarnya tidak menyadarinya? Jika sejak awal aku sudah menyadarinya mungkin… ah, tidak ada gunanya menyesalinya sekarang.

Waktu terasa berjalan sangat lambat, hingga akhirnya aku mendapati Jikyung sudah berdiri di samping Onew yang beberapa saat lalu menyambutnya. Mereka kemudian bergerak menghadap seorang pastur. Eomma menggenggam tanganku erat, seolah memberiku kekuatan dari sentuhannya. Aku menatapnya lagi dan tersenyum, berusaha (lagi) terlihat tabah, padahal rasanya sekarang aku sudah hancur. Terlalu hancur.

“Lee Jinki, apa kau bersedia menerima Shin Jikyung sebagai istrimu dan bersumpah untuk selalu berada di sisinya dalam suka maupun duka, sakit maupun sehat, kaya maupun miskin, sampai maut memisahkan kalian?” suara pastur yang berdiri di antara mereka terdengar menggema, kembali menumbuk kepingan hatiku hingga menjadi bagian yang lebih kecil.

Namun aku berkali-kali lipat menguatkan hatiku, dan berkali-kali lipat juga menahan diri untuk tidak pergi saat ini juga. Hati kecilku berkata aku harus menyaksikan pemberkatan ini hingga akhir. Berbahagialah untuk kembaranmu, Shin Jibyung! Kau berkata inilah yang kau inginkan. Lagipula sudah terlambat jika kau berencana menghentikan semua ini.

Aku mengeratkan genggamanku pada tangan eomma, dan menunggu jawaban Onew. Namun hingga beberapa detik berlalu, hanya sunyi yang ada. Aku tidak mendengar suara namja itu walaupun hanya gumaman atau bisikan. Dia malah berdiri mematung dan terlihat bingung, walaupun aku hanya melihat punggungnya yang tegap.

Karena diamnya Onew, atmosfir tempat ini tiba – tiba berubah canggung. Onew kemudian menoleh ke tempatku duduk secara tiba – tiba. Mata bertemu mata, namun beberapa detik kemudian dia memalingkan wajahnya lagi, menghadap ke arah pastur yang masih setia menunggunya, membuatku kembali mencelos untuk yang keduakalinya. Dia mulai bersuara, dan apa yang dikatakannya—walaupun sangat pelan—membuat jantungku terasa berhenti berdetak.

*

“Ya, aku bersedia.”

Kemudian, apa yang terjadi selanjutnya berlalu dengan sangat cepat di pandanganku. Mereka sudah saling mengucap janji. Dan saat ini momen dimana Onew mencium Jikyung sedang terjadi di hadapanku.

Ya, itu yang kuinginkan, bukan? Ya, aku turut berbahagia.

Ya, aku akui memang terasa sakit. Tapi itu tidak akan lama, kan?

Walaupun aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat dengan makhluk kecil ini begitu dia melihat dunia, aku… yakin.. tidak akan sakit terlalu lama. Tidak… akan…

>>><<<

(Author’s POV)

Sejujurnya, ketika pintu ruangan terbuka dan sosok mempelai wanita muncul dari sana, Junsu sempat membayangkan bahwa pada saat itu dirinyalah yang tengah berdiri menunggu di atas altar. Karena itu detik ini dia merasa konyol karena pernah membayangkan hal itu.

Pemberkatan sudah selesai, dan satu-persatu orang yang ada di sana beranjak meninggalkan tempat duduk untuk memberikan selamat pada sang pengantin.

Ne?” gumam Junsu sambil menoleh ke arah Minho yang baru saja menepuk bahunya. Minho memberi isyarat padanya dengan gerakan kepala, barangkali mencoba mengatakan, ‘ayo ke sana’. Junsu mengerti isyarat itu dan membalas hanya dengan anggukan. Dia melihat Minho kembali berjalan, lalu menghabiskan beberapa detik untuk terdiam sebelum berdiri dan memperbaiki penampilannya sejenak. Dan Junsu kembali terdiam karena baru menyadari Jibyung yang juga masih di tempat duduknya.

Pria itu berjalan menghampiri Jibyung dan menepuk pelan bahunya, persis seperti yang barusan dilakukan Minho padanya, “Jibyung-ah?” panggilnya dengan suara pelan. Junsu bersumpah, selama sesaat, dia sempat tak melihat sinar ataupun bayangan apapun di kedua mata Jibyung yang terarah lurus ke depan. Dan karena tidak adanya respon atas panggilannya barusan, Junsu kembali mencoba mengusik apapun yang sedang dipikirkan Jibyung—yang dia tahu pasti apa itu, “Hey, Shin Jibyung.”

Akhirnya Jibyung menoleh ke arahnya, dan selama beberapa detik hanya menatap Junsu dengan pandangan bingung, seolah melihat orang yang asing.

Mencoba tak memedulikan tatapan itu serta perasaan merinding yang tiba-tiba membuat bulu kuduknya berdiri, Junsu tersenyum lebar dan menggedikkan kepala ke arah orang-orang pergi untuk menemui Onew dan Jikyung, “An-ga?” katanya.

Kaja.” Jibyung langsung berdiri setelah memandang berkeliling dan mendapati ruangan yang sudah sepi. Dia melihat ke arah lelaki di sampingnya dan memberikan senyum setulus mungkin, sebelum melangkah lebih dulu dengan Junsu mengikutinya dari belakang sambil terkekeh pelan.

“Kalau kau baik-baik saja, berarti aku seharusnya tidak punya alasan untuk patah hati, ya?” ujar Junsu sambil berdecak, lebih pada dirinya sendiri.

Jibyung menaruh sebelah tangan di depan perutnya dan menyahut pelan tanpa menoleh, “Ya, tentu saja.”

Entah kenapa Junsu merasa jauh lebih baik hanya dengan satu kalimat itu.

Jikyung dan Onew sedang mengobrol dengan member SHINee ketika mereka tiba di ruangan lain yang dimaksud. Junsu mengamati Jibyung yang melangkah semakin mendekat ke sana dengan selang waktu yang statis seolah tak merasakan keraguan apapun. Sebenarnya Junsu pun sudah tak merasa ragu sejak beberapa detik yang lalu. Tapi mau tak mau dia merasa heran melihat Jibyung seperti ini.

“Jibyung-ah.

Semua yang berada di sana mengikuti arah pandangan Jikyung yang baru saja berseru. Jibyung terdiam sejenak lalu tersenyum melihat Jikyung yang berderap ke arahnya lalu memeluknya dengan erat, “Jibyung-ah.”

Jibyung membalas pelukan itu, “Bogoshipta, Jikyung-ah.” ujarnya terdengar setengah bergurau, di saat yang sama memberikan senyum pada Onew yang tengah menatapnya. Mereka berpelukan lama sekali sementara Junsu menghampiri Onew dan memberikan ucapan selamat yang selayaknya diucapkan oleh seorang teman, “Selamat, Jinki-ya.

“Ah, hyung.” Onew menyambut uluran tangan Junsu dan meringis kecil menerima tepukan keras bertubi-tubi yang didaratkan di bahunya, “Gomapta.”

“Berusahalah untuk bahagia dan membuatnya bahagia.” kali ini Junsu bicara dengan suara yang pelan, “Kau tahu maksudku, kan?”

Onew tersenyum kecil, “Aku tahu.”

Hyung, aku juga mengatakan kalimat itu.” celetuk Minho merusak suasana.

“Apa? Apanya?” tanya Junsu tidak mengerti.

“Kata-kata tentang ‘bahagia’ itu, Minho juga mengatakan hal yang sama pada Jinki hyung.” Jonghyun menjelaskan. Minho di sampingnya mengangguk-angguk semangat.

Geurae?” Junsu meringis kecil dan mengusap tengkuknya, membuat Onew terkekeh singkat.

Geuraeyo. Setidaknya kreatif sedikit, Hyung. Aigo.” Nah, siapa lagi yang mengatakan hal seperti ini kalau bukan Kim Kibum?

Mereka larut dalam obrolan-obrolan singkat yang sebenarnya tak penting, dengan Onew yang sesekali mengamati Jibyung dan Jikyung yang tampak masih berbincang.

*

Begitu saling melepas pelukan, Jibyung mengusapkan telapak tangannya di wajah Jikyung yang basah karena air mata, “Sudah, kau bisa merusak make up-mu kalau menangis sehebat ini.” Dia tersenyum dan untuk kesekiankalinya mengucapkan, “Aku baik-baik saja.”—dengan nada setengah bersikeras, “Maaf membuatmu khawatir.”

Jikyung menatap wanita di hadapannya lama-lama tanpa mengatakan apapun. Jibyung yang juga melihatnya, mengangkat-angkat kedua alis, membuat Jikyung terkekeh sebentar dan mengusap bahu Jibyung yang basah karena dirinya, “Jinjja gomawo, Jibyung-ah.

Jibyung menggeleng kecil dan menggamit lengan Jikyung untuk menghampiri Onew. Dia kembali tersenyum, “Chukkahae.”—lalu memeluk pria bermarga Lee itu sekilas. Sikap Jibyung yang seperti ini membuat Onew merasa jantungnya mencelos dan tanpa sadar bertanya-tanya apa yang terjadi pada Jibyung di ‘tempat persembunyiannya’—selama ini.

Gomawo, Byung-ah.

“Hm..” angguk Jibyung, benar-benar seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Lalu seolah baru saja teringat sesuatu, mulutnya terbuka dan menggumamkan ‘ah’ pelan sambil menoleh ke orang-orang yang masih berada di sana, lantas kembali mendekati Onew selangkah dan membisikkan sesuatu, “Aku hamil.”

Deg!

“Hanya ingin memberitahumu, tidak perlu dipikirkan.” Jibyung menjauhkan diri lagi dan menepuk pelan pundak Onew sambil tersenyum, seolah tak ingin menyadari reaksi Onew yang menatapnya dengan pandangan sangat terkejut, bahkan tanpa sadar menahan napas sejak kabar itu berhasil dia cerna.

Seharusnya ini tidak terjadi, bukan? Tapi kenapa…

“Astaga, aku melupakan sesuatu.”

“Apa itu?”

“Itu… hadiahnya. Hadiah yang kusiapkan untuk kalian. Bagaimana bisa aku melupakannya di apartemen?”

“Apartemen?” semuanya kecuali Taemin dan Onew menanyakan hal yang sama.

Jibyung mengeluarkan kunci motor dari dalam saku jaketnya, lalu mulai melangkahkan kaki hendak keluar, “Aku pergi mengambilnya sebentar.”

“Tidak perlu, Jibyung-ah. Apartemen mana yang kau maksud?” tanya Jikyung, mengira apartemen yang dimaksud berada di tempat yang jauh, tentu saja karena dia tak tahu dimana tempat Jibyung tinggal selama dia menghilang.

Jibyung kembali berbalik dan menghentikan langkahnya. Dia tersenyum penuh arti pada Taemin dan melirik sekilas Onew yang masih terpatung, “Aku segera kembali.” katanya, tak berniat benar-benar menjawab pertanyaan Jikyung, lantas melanjutkan langkah keluar dari ruangan itu.

“Eiy, benar-benar keras kepala.” celetuk Jonghyun sambil terkekeh, setelah sosok Jibyung menghilang di balik pintu. Lelaki itu terdiam sejenak sambil memegangi tengkuknya, tapi tidak lama kemudian kembali ke emosi semula. Dia menyadari Onew yang tampak seperti orang terkejut, “Eoh? Kau kenapa, Onew hyung?”

“…”

“Jikyung-ah.” Junsu sengaja memanggil Jikyung yang membelakanginya, yang juga menunjukkan gelagat yang sama dengan namja yang mulai sekarang berstatus sebagai suaminya.

“…” sama, tidak ada tanggapan apapun. Malah Junsu melihat kedua bahu wanita itu bergetar. Kedua mata lelaki itu melebar. Dia hendak berjalan mendekati Jikyung, bertepatan dengan suara bernada aneh dari Onew yang berhasil mengusiknya.

“Jibyung-ah. Mana.. Jibyung-ah!”

Wae, Hyung?” Minho dan Taemin memandang leader mereka dengan setengah panik sekaligus bingung.

Tanpa menjawab pertanyaan itu—atau memang karena tak mendengarnya—Onew berlari keluar ruangan, kemana Jibyung baru saja menghilang, “JIBYUNG-AH! SHIN JIBYUNG!!” dia berteriak-teriak seperti tak sadar suaranya bisa menarik banyak perhatian, “JIBYUNG-AH!!

Tapi tentu saja, sekeras apapun Onew berteriak, Jibyung sudah pergi dengan motornya. Dan sekeras apapun Jikyung berusaha menahan diri untuk tidak menangis, air matanya selalu merebak begitu saja, seolah tak bisa dicegah. Jikyung sendiri tak tahu apa yang menjadi alasan, dia hanya ingin menangis. Menangis begitu saja.

>>><<<

“…Sebuah taksi ringsek setelah terlibat dalam sebuah kecelakaan maut dengan sebuah motor sport yang terjadi di Gyeonggi-do, Seoul, pada 3 Maret 2012 kemarin. Kecelakaan diduga terjadi karena pengendara motor menghindari penyeberang jalan dan tidak menyadari taksi yang menyambut dengan kecepatan tinggi. Akibatnya, pengendara motor tersebut, yang adalah wanita berusia dua puluh lima tahun meninggal dunia di tempat kejadian, sementara supir taksi, pria berusia lima puluh tahun, mengalami luka parah dan telah mendapat perawatan di ICU.”

>>><<<

To Be Continue

 

Author’s note :

Seperti biasa, yg pertama dan yg utama, aku minta maaf karena updatenya lama mulu ==” *bowing bowing bowing bowing* maaf yaah.. dan maaf juga, aku sendiri ngerasa komposisi bahasa yg clip ini aneh banget, gaenak dibaca padahal udah beberapa kali dirombak *bow lagi* gatau kenapa, lagi susah banget bernarasi err -___- tapi daripada bikin nunggu lebih lama, aku harus beresin, ya, kan?

Next clip will be the laaast~ and I’ll try to make it called a ‘good enough’ ending ._. /padahalgayakin/plakplak

Ditunggu lagi yaah :* I love you too #eh?

48 responses to “My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip 14

  1. Pingback: My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Last Clip | FFindo·

  2. Author jahat! 😥 sumpah aku nangis pas jibyung dateng ke acara pernikahan onew ma jikyung…. Author tega bngt 😥 kerasa bngt feelny thor, jibyung meninggal? Andwae!!! Yah pdhl aku brharap jibyung brsatu lg ma onew…, tp sumpah keren bngt! SMANGAT AUTHOR!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s