LIFE [6]

 

Author : Asuchi aka @hotachii

Cast :

*) Yoo Nayeon [OC]

*) Ricky / Yoo Changhyun [Teen Top]

*) Oh Sehun [Exo]

*) Kevin / Woo Sunghyun [U Kiss]

*) Kim Kibum [SHINee]

*) Sementara segitu :p

Genre : AU, OOC, Romance, Angst <- di otak sih gitu :p

Rate : General

Credit Pic : Aishita World

 Disclaim : selain jalan cerita semuanya bukan punya aku, eh tapi kalo kasih kepin gak bakal ditolak /ditimpukkiseop

a/n : yes! Telat lagi. Berapa bulan ya/ wkwk~ mian ._. aku kecelakaan dan nasib’a sama kek nayeon, cedera patah kaki kiri *padahal gak niat sama2in ma dia* minta doa’a yakk biar aku cepet bisa jalan lagi ^-^ oke deh, happy reading ^^

Previous Part : LIFE [1] | LIFE [2] | LIFE [3] | LIFE [4] | LIFE [5] |



Nayeon makin mempercepat langkahnya. Ingin segera menjauh dari tempatnya sekarang. Langkah kakinya mengantarkan dia ke sekolahnya yang sudah tidak berpenghuni. Nayeon melihat gerbang sekolah sudah tertutup rapat.

Dia merongoh sakunya, mengambil ponsel dari dalam sakunya itu dan mencari nomor kontak Kevin yang dia dapatkan kemarin.

“Oppa, boleh aku tahu dimana rumah oppa?” Nayeon bertanya pada Kevin lewat sambungan telepon. “Aku akan kesana, ada beberapa hal ingin aku diskusikan dengan oppa. Oppa tahu itu apa.” Ucap Nayeon lagi. “Anni. Aku yang akan kesana, oppa tidak perlu menjemputku. Oppa sebutkan saja alamatnya.

Selesai berbicara dengan Kevin, Nayeon memutus sambungan teleponnya dan berjalan lagi menuju halte bis.

Di belakangnya, Sehun sedang menatap Nayeon dengan tatapan yang tidak dapat diartikan apa. Nayeon tidak menyadari keberadaan Sehun sama sekali.

LIFE 6

“Jadi, ada apa?” Tanya Kevin sambil menyodorkan minuman kaleng pada Nayeon.

“Maaf untuk semuanya. Aku benar-benar membuat oppa susah.” Nayeon bicara. Dari ekspresinya, Kevin terlihat tidak mengerti dengan ucapan Nayeon. Nayeon tersenyum. “Aku boleh menyusahkan oppa lebih banyak?” Dia kemudian bertanya.

Ada garis-garis tipis di kening Kevin. “Oppa tidak mengerti.” Ucapnya.

“Aku mungkin butuh tumpangan tidak lama lagi.” Kata Nayeon. “Changhyun sudah tahu kalau Kibum oppa sudah kembali. Aku tidak bisa lama-lama tinggal di rumah orang tuaku, aku juga tidak mungkin kembali ke apartemen Kibum oppa. Teman-temanku tidak ada yang tahu keadaanku. Hanya oppa yang bisa kumintai tolong.” Terangnya.

Kevin terlihat sedang berpikir. Dan Nayeon diam saja menunggu jawaban Kevin. “Mianhae Nayeon-ah.” Kata Kevin setelah cukup lama. “Tapi oppa tidak bisa.” Ekspresinya terlihat menyesal. “Oppa ingin menolong, tapi tetap saja tidak bisa melewati batas. Kau bisa menjadikan oppa pacar pura-pura, kau bisa cerita masalahmu, tapi oppa tidak bisa mengijinkanmu tinggal di sini. Oppa tidak ingin membuat masalah semakin runyam Nayeon-ah. Kau harus segera menyelesaikan masalahmu agar kau sendiri bisa tenang. Kau tidak bisa terus membohongi keluargamu.” Kevin memberi pendapatnya kemudian.

Nayeon menatap lekat Kevin lama sebelum kemudian dia membuka minuman kalengnya dan meminum setengahnya. “Aku hanya tidak tahu harus bagaimana.” Kata Nayeon pelan hampir berupa bisikan.

“Boleh oppa tahu alasannya?” Kevin bertanya lagi. Dia memang pernah bilang akan menunggu sampai Nayeon sendiri yang bilang. Tapi tetap saja dia penasaran.

Nayeon tersenyum sedikit sinis. “Aku hanya lelah. Sekarang yang aku tahu, aku sadar kalau aku tidak benar-benar menginginkan Kibum oppa sebagai suamiku.”

Ada hening yang sangat lama setelah Nayeon bicara. Kevin sama sekali tidak berkomentar, tepatnya dia tidak tahu harus berkomentar apa karena dia sendiri tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu.

-o0o-

Nayeon menoleh ke arah Sehun. Sekarang mereka sedang berada di kelas dengan seorang guru Bahasa Korea sedang menjelaskan materi. Sebelumnya Nayeon memperhatikan sang guru dengan sangat baik. Tapi dia terus merasa diperhatikan oleh orang yang duduk di sampingnya.

Tapi begitu dia menoleh, Sehun sedang memperhatikan bawah meja.

Bagi Nayeon itu mencurigakan. Sehun tidak pernah terlihat memperhatikan bawah meja sepanjang yang dia ingat. Tapi mengacuhkan itu, Nayeon kembali konsentrasi dengan pelajarannya.

Tidak lama, perasaan itu muncul lagi. Nayeon menoleh dan kali ini dia menangkap basah Sehun tengah menatap ke arahnya.

“Wae? Ada yang aneh denganku?” Nayeon bertanya dengan gerakan mulut tanpa suara.

Sehun mendengus kecil kemudian berpaling menatap ke arah jendela.

“Namja aneh.” Bisik Nayeon sebelum kembali memperhatikan gurunya.

Tak lama bel tanda istirahat berbunyi. Seperti biasa, Jihyun akan langsung menghampiri Nayeon, mengajak gadis itu untuk pergi ke kantin. Dan seperti biasa juga, Nayeon, Jihyun dan beberapa temannya pergi bersama ke kantin.

“Jihyun-a, boleh pinjam Nayeon sebentar?”

Nayeon dan Jihyun menoleh dan mendapati Ricky berdiri di belakang mereka saat mereka sudah berada di kantin.. Jihyun sama sekali tidak menjawab, dia hanya senyum-senyum tidak jelas. Dan tanpa menunggu siapapun bicara, Jihyun mendorong Nayeon pada Ricky.

“Oppa nanti bergabung dengan kami ya.” Kata Jihyun dengan nada penuh pengharapan.

Ricky mengangguk sebelum menarik lengan Nayeon dan membawanya ke atap sekolah. Dia mengunci pintu atap sebelum melepaskan pegangan tangannya.

“Waeyo? Kenapa kau bawa aku kesini? Dan kenapa harus dikunci segala?” Nayeon bertanya dengan tampang bingung pada saudara kembarnya itu.

“Aku membawamu kesini agar tidak ada yang bisa mendengar kita. Aku sudah tahu. Sekarang jelaskan padaku kenapa kau ingin bercerai dengan Kibum hyung.” Ricky bicara tanpa basa-basi.

Tak perlu pertanyaan dari Nayeon kenapa Ricky bisa tahu. Ada banyak kemungkinan yang bisa Nayeon duga. Tapi dia tidak ingin membahasnya. “Karena aku salah.” Jawabnya kemudian. Ekspresi Nayeon dingin. Tak ada emosi saat dia mengatakan itu, atau tak ada emosi yang dia perlihatkan.

“Maksudnya?” Ricky bertanya bingung.

“Karena aku salah sudah menikah dengan Kibum oppa. Itu hanya obsesi sesaat, dan aku menyesal sudah menikah dengannya. Aku tidak ingin melanjutkan penyesalanku, makanya aku memilih untuk bercerai dengannya.” Nayeon menjawab masih tanpa emosi.

Mata Ricky membelalak. Dia sama sekali tidak percaya Nayeon bisa bicara seperti itu. “Kau gila huh?” Tanyanya spontan.

Nayeon hanya tersenyum. “Mungkin. Aku tidak tahu.” Ekspresi Nayeon kemudian berubah. Dia mendekati Ricky, memegang kedua tangan saudara kembarnya itu. “Tapi Changhyun-a, bisakah kau tidak memberi tahu eomma dan appa kalau Kibum oppa sudah pulang? Appa pasti mengusirku kalau dia tahu. Dan aku tidak bisa pulang ke apartemen Kibum oppa. Mau kan?”  Ucapnya penuh harap.

Ricky tampak berpikir. Dia merasa marah begitu mendengar alasan Nayeon ingin bercerai, tapi dia juga tidak bisa membiarkan saudaranya itu terlantung-lantung di jalanan karena tidak ada tempat tinggal. Dengan amat terpaksa akhirnya Ricky mengangguk.

“Gomawo..” Nayeon langsung berhambur ke pelukan Ricky.

Dan Ricky membalas pelukan Nayeon dengan canggung. “Kalau begitu, ayo kita ke kantin sekarang.” Dia kemudian bicara.

“Kau duluan saja.” Kata Nayeon.

Saat berikutnya, Ricky sudah menghilang ke bawah tangga. Dan Nayeon berjalan menuju pagar.

“Lupa kalau ini tempat yang biasa aku datangi eoh?”

Nayeon menoleh begitu mendengar suara di belakangnya. Matanya membelalak lebar begitu melihat Sehun sedang duduk bersandar di tembok. “Op…  pa.” Nayeon tergagap. Pikiran Nayeon campur aduk. Dia yakin kalau Sehun mendengar semuanya dengan jelas. Sehun sudah tahu rahasianya. “Apa oppa mendengar semuanya?” Dia bertanya sedikit ragu.

Sehun diam menatap dingin Nayeon. Dia menatap cukup lama sampai kemudian dia bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan Nayeon yang diam tak bergerak.

Nayeon yakin Sehun sudah tahu rahasianya sekarang.

-o0o-

“Nayeon-ah! Ayo pulang.” Ricky menjemput Nayeon di kelasnya.

Nayeon mengangguk pelan. Dia bicara pada Jihyun, Nayeon meminta maaf karena tidak bisa memenuhi janjinya minggu kemarin. Dia rencananya akan berkunjung ke rumah Jihyun. Tapi karena masalahnya, Nayeon membatalkan semuanya.

Nayeon dan Ricky sudah sepakat untuk berusaha menyembunyikan fakta kepulangan Kibum. Nayeon tidak tahu sampai kapan itu bisa ditutupi.

“Aku akan bekerja sambilan di café Jongwoon ahjusshi mulai besok Changhyun-a.” Nayeon memulai pembicaraan begitu mereka sudah berada di dalam bis.

“Eh? Untuk apa?” Ricky bertanya bingung.

“Aku sudah pasti diusir appa nanti, aku juga tidak akan tinggal di tempat Kibum oppa. Biaya sekolahku memang appa akan tetap bertanggung jawab, tapi aku pasti akan butuh tempat tinggal nanti. Tabunganku cukup untuk menyewa flat kecil, tapi paling hanya untuk dua bulan.” Terang Nayeon.

“Pakai saja tabunganku. Kakimu masih sakit, aku tidak ingin kakimu makin lama sembuhnya karena kau tidak cukup istirahat.” Ricky bicara.

Nayeon menggeleng. “Aku tidak ingin merepotkanmu.” Kata Nayeon.

“Hey, kita saudara kan? Aku tidak akan repot, eomma juga pasti mau membantu diam-diam. Tapi kupikir, lebih baik kau terus terang saja. Appa pasti marah, tapi aku yakin dia tidak akan membiarkan putrinya terlantar di jalanan.” Ricky memberikan sarannya.

Nayeon menatap Ricky. Orang-orang ingin dia jujur saja. Tapi baginya sulit. Ayahnya pasti sangat marah jika tahu hal itu. Bagaimana tidak? Dia dulu memaksa untuk menikah dengan Kibum, saking terobsesinya dia pada mantan guru lesnya saat SMP itu. Kibum dan keluarganya tidak ada yang mau menyetujui keinginan konyolnya itu. Tapi dia memaksa, sampai menabrakkan diri ke mobil di jalan raya karena frustasi keinginannya tidak dipenuhi. Kaki kirinya cedera parah, patah, Kibum menyetujui untuk menikahinya. Ayahnya berang tapi tidak berkutik dan terpaksa memberikan restunya.

Sekarang, jika Nayeon mengatakan pada ayahnya kalau dia ingin bercerai dengan Kibum, dia bahkan tidak bisa membayangkan reaksi ayahnya. Dia tahu pernikahan bukan sesuatu yang bisa dengan mudah diputuskan begitu saja. Tapi Nayeon sudah lelah menjadi istri Kibum. Sangat lelah sampai dia memutuskan untuk bercerai dengan Kibum.

“Aku tidak bisa bilang Changhyun-a. Aku akan menghancurkan perasaan eomma dan appa. Nanti saja kalau aku dan Kibum oppa sudah benar-benar selesai. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk bicara jujur pada mereka.” Nayeon bicara.

Ricky menatap Nayeon dalam. Dia mengelus kepala Nayeon, berusaha memberikan kenyamanan pada saudara kembarnya itu. Ricky sama sekali tidak tahu alasan sebenarnya kenapa Nayeon ingin berpisah dengan Kibum. Dia berusaha menebak, meski tidak pernah secara langsung ditanyakan pada Nayeon. Karena dia yakin alasan yang diberikan Nayeon sebelumnya bukan alasan yang sebenarnya.

Nayeon menyandarkan kepala ke pundak Ricky. Dia ingin mendapatkan ketenangan sebelum nanti mendapatkan sikap dingin ayahnya.

“Sebentar lagi turun.” Ricky mengingatkan Nayeon begitu mereka hampir sampai di halte pemberhentian.

Nayeon bersiap untuk turun bersama Ricky. Keduanya kemudian berjalan menuju rumahnya bersama.

Tak ada sang ayah yang menanti kepulangan Nayeon dan Ricky. Padahal biasanya ayah mereka sudah duduk di kursi di halam depan. “Mungkin appa pulang malam.” Kata Ricky.

Nayeon mengangguk. setidaknya dia tidak akan mendapatkan intimidasi dan usiran dari sang ayah. Baru juga Nayeon masuk ke rumah dengan perasaan lega, perasaan itu menghilang seketika begitu melihat sosok-sosok yang berada di ruang tamu.

Ada Kibum dan kedua orang tua Nayeon. Ada koper Nayeon di samping Kibum.

“Kau sudah pulang? Suamimu datang untuk menjemputmu. Sekarang kau pergilah.” Ucap ayah Nayeon dingin.

“Yeobo….” Ibu Nayeon memegang lengan suaminya. Raut wajahnya terlihat sedih.

“Kalau begitu kami permisi dulu abonim, eommonim.” Kibum berdiri dari tempat duduknya. Dia menarik koper Nayeon dan menatap Nayeon. “Kajja, kita pulang.” Ajak Kibum dengan senyum manis yang biasanya membuat Nayeon terpesona.

Nayeon menatap Ricky yang juga menatapnya. Ricky sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Nayeon juga tidak tahu harus bagaimana. Tapi dia tahu kalau Kibum tidak mengatakan tentang pengajuan perceraian dari Nayeon. Bukti ayahnya dingin seperti biasa, tidak meledak seperti yang seharusnya.

Nayeon menghembuskan nafas berat sebelum kemudian menghampiri orang tuanya. “Aku pulang appa, eomma, Changhyun-a. kalian jaga diri baik-baik.” Ucapnya. Dia menatap Kibum tanpa ekspresi. Mengikuti Kibum yang sudah berjalan menghampiri pintu.

Nayeon bungkam sepanjang jalan menuju mobil Kibum yang terparkir di luar pagar rumah. Dia juga tetap bungkam selama perjalanan menuju apartemen Kibum, apartemen mereka. Otaknya merencanakan pelarian yang akan dia lakukan nanti malam.

“Gomawo, kau sudah mau pulang kembali.” Kibum berkata setelah keduanya sudah berada di dalam apartemen.

Nayeon menoleh pada Kibum yang berjalan di belakangnya. Dia menatap sinis suaminya itu. “Oppa puas huh? Sudah bisa membuatku kembali kemari. Oppa puas?” Nayeon bertanya.

“Sama sekali tidak. Tidak ada hal yang membuatku puas, karena tidak ada pencapaian apapun. Tempatmu memang di sini.” Jawab Kibum tenang.

Nayeon menatap sinis Kibum. Dia benar-benar tidak habis pikir Kibum bisa dengan santainya bersikap. Padahal dia sudah mengajukan sebuah perceraian dan Kibum terkesan tidak peduli dengan hal ini.  Bahkan sekarang Nayeon sangat yakin Kibum melupakan soal perceraian itu.

Dengan perasaan kesal, Nayeon pergi ke dalam kamar. Bukan kamar yang biasa dia tempati dengan Kibum, tapi kamar lain yang biasa digunakan untuk tamu. Itu akan jadi kamarnya sementara sampai dia mendapatkan flat yang bisa dia sewa nanti. Dia menunda rencana kaburnya nanti malam, setidaknya sampai dia mendapatkan tempat untuk pelariannya.

-o0o-

“Nayeon-ah, bagaimana kabarmu?” Ricky yang menunggu Nayeon di gerbang langsung bertanya. Terlihat dari raut wajahnya kalau dia cemas.

“Tidak ada apa-apa. Semalam aku langsung mengunci diri di kamar. Changhyun-a, kau tahu flat sewaan yang murah di dekat sini? Aku mau secepatnya keluar dari apartemen Kibum oppa.” Jawab Nayeon sambil berjalan menuju gedung sekolah.

“Jadi Kibum hyung tidak berbuat macam-macam padamu?” Ricky bertanya lagi, kali ini terlihat kelegaan di wajahnya. “Kupikir kau ingin bercerai dengannya karena dia memperlakukanmu dengan tidak baik.” Dia berkata. “Tapi yang aku tahu dia memang orang baik, terus kenapa kau ingin bercerai dengan Kibum hyung?”

Nayeon menoleh ke arah Ricky. “Sudah kubilang aku salah sudah menikah dengannya. Kalau kau tahu alamat flatnya, beritahu aku.” Ucapnya kembali ke pertanyaan dia yang tidak dijawab oleh Ricky.

“Ya! Yoo Nayeon yang aku tahu bukan seperti ini. Aku baru sadar kalau kau memang berubah sejak menikah. Kau kenapa sih sebenarnya?”

Nayeon mendesah mendapat pertanyaan dari Ricky. Dia terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan Ricky. Toh menjelaskan pada saudara kembarnya itu tidak bisa membuat Nayeon merasa lebih baik. Jadi dia diam saja meski sepanjang perjalanan berikutnya Ricky terus mendesak Nayeon.

“Aku duluan.” Ucap Nayeon sambil melambai pada Ricky dan langsung berjalan di lorong menuju kelasnya. Kelas Ricky masih satu lantai di atas.

Nayeon melihat Jihyun tidak ada di kelas tapi tas temannya itu sudah ada di samping meja. Dia mengangguk pelan. Matanya kemudian beralih ke meja di sampingnya. Tak ada Sehun di sana. Tak ada bukti kalau Sehun sudah masuk ke kelas sebelumnya. Dan senyuman tercetak di bibirnya. Dia menghampiri bangkunya, mengambil buku tulisnya dan mulai mencoret-coret buku tulisnya.

Nayeon asik sampai disadarkan oleh bunyi bel tanda kelas akan dimulai. Dia menoleh lagi ke samping bangkunya, Sehun sepertinya bolos hari itu.

Sepanjang yang Nayeon ingat, Sehun tidak pernah tidak datang ke sekolah. Meskipun akhirnya teman sebangkunya itu menghabiskan waktu di tempat lain dan bukan ruang kelasnya. Jadi begitu bel istirahat berbunyi, dia bergegas menuju kantin. Mengacuhkan Jihyun yang memanggilnya. Nayeon membeli beberapa roti dan pergi ke atap sambil memakan rotinya. Dia mencari Sehun di atap, tapi tidak menemukan pria itu. Nayeon berjalan lagi menuju ruangan di lantai empat. Sebenarnya Nayeon ingin sekali menghindari tempat itu. Tapi Nayeon ingin menemukan Sehun. Saat Nayeon sampai di ruangan yang dia maksud, dia juga tidak menemukan Sehun.

“Sebenarnya dia dimana?” Nayeon bertanya sendiri. Tenaganya tidak tersisa banyak. Mengingat dia hanya makan beberapa roti untuk makan siang dan sama sekali tidak sarapan.

Nayeon sudah sampai di lapangan sepak bola. Mengitari tempat itu, berharap menemukan sosok Sehun, tapi sama sekali tidak tertangkap retina matanya. Dan saat dengan langkah gontai hendak menuju ke kelasnya lagi, Nayeon menemukan Sehun tengah tertidur di bangku dekat gedung sekolah. Dia pun dengan semangat menghampiri Sehun.

Bel tanda kelas akan dimulai lagi sudah berbunyi, tapi Nayeon tetap diam di tempat. Duduk di rumput di bawah bangku, menunggu Sehun bangun dari tidurnya. Dia sudah mengirimkan pesan pada Jihyun kalau dia ijin istirahat di Ruang Kesehatan karena sakit di kakinya.

Nayeon memperhatikan Sehun yang sedang menutup matanya itu.

‘Tampan.’ Pikir Nayeon.

Cukup lama Nayeon menunggu sampai dia ikut mengantuk dan akhirnya kepalanya terkulai di bangku yang ditiduri oleh Sehun. Tapi dia tidak benar-benar tertidur. Karena saat Sehun bergerak bangun, Nayeon langsung bereaksi.

“Oh oppa, kau sudah bangun?” Kata Nayeon dengan tampang kusut dan belum benar-benar fokus.

“Sedang apa kau di sini?” Sehun balik bertanya.

Nayeon langsung bangun. Dia membenarkan pakaiannya yang agak kusut. “Mau bicara soal yang kemarin di atap.” Ucapnya kemudian.

“Aku tidak akan ikut campur.” Kata Sehun sambil bangun dan meninggalkan Nayeon.

Tidak mau menyerah, Nayeon mengejar Sehun. “Tapi tetap saja aku harus bicara dengan oppa.”

Sehun berbalik, menatap dingin Nayeon. “Tak ada yang perlu dibicarakan.”

Nayeon mendengus kesal saat Sehun lagi-lagi meninggalkannya. “Kenapa dia harus sedingin itu sih?”

-o0o-

Nayeon pergi ke Gymnasium, tempat kelas olahraga dilaksanakan. Teman sekelasnya semua menggunakan seragam olahraga kecuali dirinya. Dia datang ke Gymnasium tapi tidak akan mengikuti kelas itu. Kakinya masih belum bisa dia gunakan untuk olahraga. Jadinya Nayeon diam di tempat duduk samping lapangan, menyaksikan teman-temannya.

Sebenarnya ada tidak ada Nayeon di kelas olahraga tidak terlalu berpengaruh. Gurunya sudah memberikan dia tugas untuk mengganti nilai olahraganya. Dan Nayeon diijinkan berada di kelas. Tapi berhubung ada Sehun di kelas, Nayeon lebih baik menghindar. Dia tidak ingin berada di tempat yang sama berdua dengan Sehun. Tidak setelah kemarin dia diacuhkan oleh Sehun. Mungkin memang seharusnya Nayeon tidak perlu menjelaskan apapun pada Sehun.

“Yoo Nayeon!”

Lamunan Nayeon buyar pegitu panggilan dari gurunya terdengar. “Ne Saem?” Nayeon menghampiri guru olahraganya begitu mendapat isyarat dari gurunya itu untuk mendekat.

“Tolong kau panggilkan Sehun. Bilang padanya dia harus ikut pelajaranku atau aku akan membuatnya tidak naik kelas lagi.” Ucap guru olahraga Nayeon.

“Ne.” Ucap Nayeon setengah hati. Dia sedang tidak beruntung karena harus menghampiri orang yang sedang dihindarinya.

Nayeon pergi dari Gymnasium menuju kelasnya dengan lambat. Dia tidak ingin cepat-cepat bertemu Sehun. Sepanjang jalan dia berusaha merangkai kata, mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Sehun. Dia akan masuk ke kelas, bicara cepat pada Sehun lalu kabur ke ruang kesehatan. Itu rencananya.

Butuh waktu dua kali lipat dari biasanya untuk Nayeon sampai ke kelas dari Gymnasium. Nayeon menghela nafas panjang sebelum dia menggeser pintu kelasnya. “Sehun oppa!”

Mata Nayeon memandang berkeliling. Tidak ada siapa-siapa di dalam kelasnya. Pikiran Nayeon langsung menuju ke atap. Dia menyangka Sehun berada di sana. Nayeon tidak mau bertemu Sehun, tapi dia tetap harus menyampaikan pesan gurunya. Jadi mau tidak mau dia harus menemukan Sehun.

“Jadi, itukah alasan Sehun oppa tidak naik kelas? Karena tidak mendapat nilai di kelas olahraga. Tapi kenapa dia tidak mau ikut kelas olahraga ya? Aku lihat dia orang yang sehat. Aku yakin dia bisa ikut olahraga, kalaupun tidak dia pasti mendapat tugas sepertiku.” Nayeon bicara sendiri sepanjang perjalanannya menuju atap.

Dia sedikit melupakan keengganannya bertemu dengan Sehun. Pikirannya sekarang penuh dengan pertanyaan tentang Sehun dan guru olahraganya. Nayeon bahkan tidak sadar kalau dia sudah di depan pintu atap sekolahnya. Dia langsung saja keluar, mengitari tembok yang biasa disandari oleh Sehun, namun tetap tidak menemukan Sehun di sana.

“Sebenarnya dia kemana sih?” Nayeon bertanya bingung karena tidak juga menemukan Sehun setelah berkeliling di atap.

Dia kemudian kembali turun ke dalam gedung sekolah. Matanya tertuju ke lorong yang dia kenal. “Apa dia ada di sana ya? Tapi ruangan itu kan dikunci.” Gumam Nayeon. “Aku lihat dulu deh.”

Nayeon pun berjalan menuju ruangan di pojok di lantai empat, bekas ruangan seni.

Nayeon berdiri di depan pintu ruangan itu. Dia mendengar suara-suara dari dalam ruangan itu, membuatnya yakin kalau Sehun ada di dalam. Dia perlahan memutar handel pintu dan ternyata tidak terkunci. Nafasnya tertahan, jantungnya berdetak kencang, pelan-pelan dia membuka pintu ruangan itu. Nayeon melongokkan kepalanya dulu ke dalam ruangan itu.

Sehun ada di sana, duduk di sebuah kursi, memunggunginya.

Jantung Nayeon masih berdetak dengan cepat, tapi dia memang sudah bertekad untuk menyampaikan pesan guru olahraganya. “Sehun oppa.” Nayeon memanggil dengan nada bergetar. Dia gentar.

Tatapan dingin langsung didapat oleh Nayeon. Dia sudah menduga, bahkan untuk reaksi yang lebih dari tatapan dingin. Tapi tetap saja Nayeon takut. “Op.. oppa.”

“Melupakan peringatanku yang dulu?” Sehun bertanya dengan tatapan dinginnya.

Nayeon buru-buru menggeleng. “Ak.. Aku hanya mau menyampaikan pesan Wonbin Saem. Dia bilang oppa harus ikut pelajaran olahraga sekarang atau oppa tidak akan naik kelas lagi.” Nayeon bicara dengan cepat tapi juga tak bisa menutupi takutnya. “Ka.. kalau begitu aku permisi.” Katanya lagi dan langsung pergi meninggalkan ruangan itu.

Kakinya terasa sakit saat dia memaksakan diri untuk pergi secepat mungkin. Dia bahkan sedikit terengah karena harus menuruni tangga empat lantai. Nayeon buru-buru saja mendatangi ruang kesehatan. Dia merasa lebih baik berada di sana sampai kelas berikutnya dimulai nanti.

-o0o-

 “Mau apa oppa kemari?’ Nayeon bertanya dengann sinis begitu melihat Kibum sudah berada di depan gerbang sekolahnya.

“Menjemputmu.” Jawab Kibum pendek.

“Aku akan pergi dengan Kevin oppa.” Kata Nayeon sambil berbalik, hendak kembali ke sekolahnya.

Tapi Kibum menahan lengan Nayeon. “Tidak usah berbohong begiitu. Kajja.” Ajak Kibum dengan nada merayu.

Nayeon melihat teman-teman sekolahnya yang sedang berjalan pulang. Dia tidak ingin membuat keributan sekarang. Akhirnya dengan terpaksa Nayeon mengikuti Kibum menuju mobil Kibum yang diparkir tak jauh dari gerbang.

“Lusa aku akan keluar dari rumah oppa.” Nayeon bicara begitu dia dan Kibum sudah di perjalanan pulang.

Nayeon sudah mendapatkan flat yang akan disewanya. Ricky yang mendapatkan flat itu. Dan Ricky sudah membicarakan tentang sewanya. Jadi Nayeon besok tinggal datang, menandatangani kontrak sewa dan bisa langsung menempati flat itu. Nayeon tidak mau lama-lama berada di tempat yang sama dengan Kibum.

“Kau mau kemana? Kita belum benar-benar membicarakan soal ini semua. Oppa mohon, kita harus membicarakan ini semua dengan kepala dingin. Oppa yakin kau hanya bingung saat ini. Kita bicarakan ini semua baik-baik dan tak akan ada perceraian. Kau tetap tinggal di tempat kita.”

Nayeon mendesah. Dia sama sekali tidak menoleh pada Kibum yang beberapa kali menoleh padanya. Tidak ingin bertemu pandang dengan suaminya itu. “Keputusanku sudah bulat. Aku tetap ingin berpisah dengan oppa. Maaf sudah mengacaukan hidup oppa selama ini.”

“Setidaknya beri oppa alasan yang masuk akal. Jadi oppa bisa memikirkan letak kesalahan oppa.” Kibum bicara lagi. Masih dengan nada sabarnya.

Nayeon mendesah lagi. “Aku tahu aku egois. Dulu memaksa oppa untuk menikahiku. Sekarang memaksa oppa untuk menceraikan aku. Tapi aku benar-benar sudah memutuskan oppa. Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita. Aku mohon oppa mau mengerti keegoisanku yang terakhir ini.” Nayeon bicara setengah memohon.

Kibum menoleh lagi pada Nayeon. “Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dijalani seperti itu Nayeon-ah. Kau tidak bisa menikah saat ingin dan berpisah saat kau sudah bosan. Oppa menikahimu bukan untuk berakhir seperti ini.”

“Aku mungkin akan menabrakkan diri lagi, dan kali ini tidak akan gagal jika aku tetap bersama oppa.”

Ckiiiitttttt…….

Mobil yang dikemudikan Kibum langsung menepi. Kibum menatap Nayeon dengan penuh amarah sekarang. “SEBENARNYA APA MAUMU?” Bentak Kibum. “Oppa sudah berusah bersabar. Dan ini yang oppa dapat? Tidak puas menghancurkan hidupmu yang dulu?” Nada suara Kibum memelan, tapi tetap tersirat emosi di tiap kalimatnya.

Nayeon hanya menunduk. Berusaha untuk menyembunyikan emosinya.

Dan Kibum menarik kepala Nayeon arah melihat ke arahnya. Nafasnya masih memburu karena marah. “Kalau kau mengatakan hal itu lagi, berarti kau akan membunuh dua orang. Kau dan aku.” Kata Kibum sambil menatap lekat mata Nayeon yang sedang berusaha menghindari tatapannya. “Sekarang berpikir jernih lah. Oppa tidak ingin ada pembicaraan soal perceraian lagi.” Tambahnya sebelum mulai kembali mengemudikan mobilnya.

Nayeon hanya diam. Padahal dia berharap akan mendapatkan yang lebih dari ini. Lebih baik Kibum membencinya karena keegoisan dia sehingga dia dan Kibum bisa dengan mudah berpisah dengannya. Tapi harapannya tidak terkabul.

Mungkin, Nayeon memang harus melakukan apa yang dia katakan sebelumnya.

-To Be Continued-

Advertisements

30 responses to “LIFE [6]

  1. Flashback.a nayeon bnr” pa lagi status kibum disitu sbg GURU LES wth thor? Kan
    kasian si kibum org.a sabar bgt ngadapin nayeon yg labil 😦
    moga nayeon nggak jdi cerai ma kibum!
    Hah ~~~

    • nah! gak semua cast utama mesti jd org baik luar dalem kan? bolehlah sekalikali aku bikin yg labil campur egois, hehe
      key kesian yak? /pukpukkonci :p

      gomawo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s