Suf

Suf-(remake)

Author : misstis a.k.a Bella

Main Cast : Kim Jonghyun (SHINee), Song Jina (Model)

Other Cast : Other member SHINee

Genre : Romance, friendship, family, little bit psychology

Length : Oneshot

Rating : PG-14

Tak sempat aku membukanya karena seseorang mencegahku. Seorang gadis mendekatiku dan menatapku dengan pandangan ketakutan. Ukh, ini pasti milihnya dan sangat penting.

“Ini, aku tadi menemukannya di bangku ini,” ucapku dengan nada setenang mungkin. Aku bisa melihat ia tampak ragu-ragu ingin mengambil sebuah buku seukuran B5 itu dari tanganku. Memangnya aku terlihat jahat atau apa? Sepertinya dia adik kelas. Memangnya aku ini terlihat sebagai senior yang galak?

“Kalau ini membuatmu lebih baik, aku belum membukanya sama sekali,” kataku jujur. Aku lebih sodorkan lagi buku itu. Matanya sedikit tenang. Nah bagus! Ternyata itu yang dia khawatirkan. Ia pun mengambil buku itu dengan hati-hati. Kemudian masih dengan wajah tertunduk, dia mencuri pandang menatap wajahku sambil tersipu-sipu.

“Terima kasih,” ucap gadis itu dengan lembut. Dia langsung saja pergi meninggalkanku. Sementara aku hanya senyum-senyum saja melihatnya. Suaranya lembut sekali. Jarang sekali aku mendengar nada suara gadis yang lembut dan dewasa seperti itu. Siapa dia? Hebat, aku lupa menanyakan soal namanya. Hanya ada satu kalimat yang terbaca olehku. Ada di sampul belakangnya.

“Andai aku malaikat…”

***

Sore hari, hanya kami yang menggunakan lapangan basket. Mungkin seisi sekolah sudah paham pukul 5 adalah jadwal rutin bagi kami untuk bermain basket. Selalu saja hanya ada berlima. Aku, Jinki teman sekelasku di kelas 3, Kibum dan Minho yang kelas 2, juga Taemin yang paling bungsu di kelas 1. Jangan tanya padaku bagaimana detail kami bisa bersahabat. Aku punya ingatan yang buruk. Jadi jika kalian bertanya padaku soal detail, kalian bertanya pada orang yang salah. Intinya kami merasa cocok dan kami pun berteman. Titik.

Kembali ke saat ini. Aku sedang berusaha mengalahkan si tuan kompetisi Minho atau dia akan semakin sombong atas kemampuan olahraganya. Yeah, aku lebih tua tapi aku tak kalah lincah di sini. Aku lupa kapan kebiasaan ini dimulai. Mungkin sejak awal aku mengenal baik Minho, adik kelasku. Ia selalu membawa bola basket ke sekolah, dan aku juga yang lain suka tidak tahan untuk tidak merebut atau ikut bermain-main dengan bola itu. Di situlah mulanya dan itulah yang aku ingat.

Ngomong-ngomong, kenapa Jinki bermain payah sekali hari ini? Hanya aku yang Taemin yang benar-benar berusaha, sementara Kibum dan Minho sepertinya semakin jago saja. Memangnya mereka latihan dulu sebelum bertanding dengan kami? Dan benar, timku kalah.

“Sudah cukup! Aku lelah!” seru Jinki terengah-engah sambil memegang dadanya.

Hyeong, kenapa belakangan kau semakin payah saja sih?” komentar Kibum. Terdengar agak sinis sepertinya.

“Hus, Kibum! Kau ini!” tegur Minho.

“Apa?” seru Kibum masih belum sadar dengan kesalahannya.

“Yeah, kau membuat kita kalah lagi,” seruku.

“Maaf,” sesal Jinki dengan napasnya yang masih berat. Taemin dengan inisiatif mengambilkan botol minum Jinki dan memberikannya pada Jinki tanpa banyak bicara.

“Baru satu babak? Mau dilanjutkan tidak?” tanya Minho sambil terus mendribble bola basket kesayangannya.

“Bagaimana ya?” Bung bung bung! Taemin langsung merebut bola basket itu dari tangan Minho. Duet antara mereka pun terjadi. Sementara Kibum dan aku masih berdiri di dekat Jinki.

“Kalian bermain saja. Aku tidak ikut,” seru Jinki. Aku saling berpandangan dengan Kibum. Kibum hanya mengangkat bahu. Yaaaah… mau bagaimana lagi.

“Baiklah,” kataku. Aku dan Kibum pun kembali ke permainan tanpa Jinki. Di babak kedua, aku dan Taemin cukup bisa menguasai permainan. Mungkin karena semangat balas dendam atas kekalahan pertama.

Hyeong!” seru Taemin bermaksud melempar bolanya padaku. Berniat memposisikan diri untuk lemparan, tanpa sengaja aku melihat seseorang di seberang tempatku berada.

BUK

“Aw,” seruku kaget saat bola basket padat itu tiba-tiba menghantam tanganku. Oh benar, Taemin melemparnya tadi. Tapi aku seakan tidak peduli dengan semua itu. Aku melihat seorang gadis. Sepertinya dia baru keluar dari ruang kesiswaan. Ada apa ya?

“Payah!” seru Minho sambil merebut bola yang ada di tanganku. Seketika hal itu membuatku tersadar kembali.

“Sial!” umpatku. Aku berniat merebut kembali bola itu. Namun sial Kibum sudah lebih dulu mencetak angka setelah menerima lemparan bola dari Minho.

“Fokuslah pada permainan hyeong,” seru Minho. Aku hanya memutar mataku. Pandanganku kembali tertuju pada gadis itu. Ia sudah berjalan menyusuri koridor dan tinggal bayang-bayang.

“Kau baik-baik saja, hyeong?” tanya Taemin sadar akan sikap anehku. Minho dan Kibum pun mengikuti arah pandangku. Sepertinya mereka tahu siapa yang sedang aku lihat.

“Oh, hanya siswi baru di kelasku,” gumam Kibum.

“Kau mengenalnya?” tanyaku.

“Yaah… Tidak juga. Aku hanya tahu namanya, Song Jina.”

“Kenapa? Hyeong menyukainya?” sindir Minho sambil menyikutku.

“Aish, tidak! Aku hanya heran. Aku sering melihatnya dipanggil ke ruang kesiswaan. Dia tidak terlihat seperti siswi yang nakal,” komentarku.

“Aku sering dengar guru-guru menggosipkannya,” seru Jinki mulai angkat bicara.

“Maksudmu?” tanyaku.

“Aku hanya sering dengar guru-guru menyebut-nyebut nama Jina. Tapi sebelum sekarang aku tidak pernah tahu yang mana orangnya,” kata Jinki sambil mengangkat bahunya.

“Semua nilainya selalu di bawah standar sejak ia masuk,” sela Kibum.

“Hah?” seruku heran.

“Semuanya? Secantik itu?” seru Minho.

Hyeong, kau tidak berniat menyelingkuhi Inae kan?” sindir Taemin. Minho hanya nyengir.

“Iya. Dia jarang mengerjakan PR. Dia juga selalu tampak mengantuk di kelas. Tapi setiap ia ketiduran, ia akan tersentak dan terbangun kembali,” jelas Kibum.

“Sepertinya ia kurang tidur sehingga ia tidak bisa berkonsentrasi,” kata Taemin.

“Bisa jadi,” gumamku. Aku membayangkan gadis itu kembali dalam pikiranku. Gadis itu kurus, berkulit pucat, dan aku ingat sekali dengan bawah matanya yang kehitaman. Sudah mirip dengan mayat hidup. Apa yang terjadi pada dirinya hingga ia seperti itu? Apa gadis itu punya semacam kerja sambilan? Bisa saja, jika ia merasa harus mencari uang. Siapa yang tahu.

“Kita harus membantunya,” seruku tiba-tiba.

“Yah yah, benar membantunya,” seru Kibum dengan nada mengejek.

“Jangan begitu Kibum. Memang apa yang kau harapkan dari pria yang sedang jatuh cinta?” sindir Minho pula. Sementara Jinki dan Taemin hanya tertawa tanpa menimpali.

“Tch! Percuma saja! Aku tidak butuh bantuan kalian!” dumalku hendak beranjak dari sini.

“Siapa yang butuh bantuan? Hyeong? Atau gadis itu?” kata Minho. Sial. Aku harus pergi dari sini. Benar, itu yang sedang aku lakukan sekarang. Lihat saja!

***

Jam istirahat pertama. Aku gunakan kesempatan itu untuk berkeliling sekolah. Entah berapa lama lagi aku akan bersekolah di sekolah menengah atas ini sebelum aku lulus dan berkuliah. Sobat-sobatku pasti akan menertawakanku karena berpikir begitu. Tentu saja, sekarang masih awal semester 2. Dasar aku ini.

Sepertinya aku berkilah atas hal yang di atas ini. Kenyataannya langkahku mengarah ke deret-deret ruang kelas 2. Kibum dan Minho ada di kantin bersama Jinki dan Taemin. Jadi mereka tak akan kembali sampai paling sebentar lima menit. Jadi aku bisa terbebas dari mereka untuk sesaat. Kelas 2-5, itu dia. Aku melewati jendela ruang kelas itu, dan aku terkesima melihat gadis itu ada di dalam sana. Sendirian saja. Di bangku kelas yang paling belakang dan pojok.

Song Jina. Aku masih ingat namanya. Aku bisa melihat tubuh kurusnya yan pucat. Namun rambutnya begitu lurus panjang dan tampak indah. Ia sedang memakan bekalnya. Dengan lesu ia senderkan kepalanya ke dinding. Ia tidak tampak antusias dengan makanannya. Makan sesuap, setelah itu terdiam. Astaga, gadis itu benar-benar seperti tidak hidup. Kuyu sekali.

Saat melihat tangannya tergerak, aku langsung memperhatikan apa yang akan dia lakukan. Dia mengambil botol minumnya, sepertinya.

TLUK

“Akh!” pekik Jina pelan. Ia menjatuhkan botolnya. Sebuah minumam berwarna coklat tua. Jina tampak panik melihat botol minumnya tumpah. Ia buru-buru turun dari bangkunya dan berusaha mengambil dan membersihkan lantai yang basah itu.

Aish! Kenapa aku ini diam saja? Tolong dia! Argh! Terlambat, ia sudah mengambil botol minumnya. Ia terlihat buru-buru meminum minumannya yang tersisa itu hingga menetes ke seragamnya. Namun ia tidak peduli. Setelah membersihkan lantai sekedarnya dengan sapu tangannya, ia pun kembali duduk di bangkunya. Ia berkali-kali menguap. Hingga air mata yang keluar tak hanya setetes, melainkan mengalir bab menangis. Ia elap air matanya dengan lengan bajunya. Saat itu ia menghadap ke arahku.

Ukh! Dia tidak boleh sadar aku sedang mengawasinya. Maka sebelum ia selesai membersihkan air matanya, aku pun pergi. Berjalan menjauh dengan jutaan pertanyaan dalam pikiranku. Kenapa dia…?

***

Pukul lima sore berikutnya. Baru ada kami, tanpa Jinki. Ia datang dengan tergopoh-gopoh menuju lapangan sambil membawa beberapa buku tebal.

“Hoy, hyeong. Kau baik-baik saja?” tanya Minho menghentikan permainan basketnya.

“Aku harus pulang cepat hari ini. Besok ada ulangan fisika,” jelas Jinki.

“Semoga berhasil, hyeong!” seru Taemin.

“Hah, itu sih keahlian Jinki hyeong. Hyeong, aku harus berterima kasih ulanganku jadi bagus,” timpal Kibum.

Mwo? Pantas kau satu-satunya yang dapat nilai cemerlang saat ulangan itu!” seru Minho kaget. Kalau tidak salah waktu itu dia kesal saat Kibum mendapat nilai fisika 8, dia malah hanya mendapat setengah potong alias 3.

Eh, tunggu dulu…

“Tunggu Jinki, aku ikut!” seruku tiba-tiba.

“Lho, hyeong? Biasanya kau tidak pernah merisaukan ulanganmu,” komentar Minho dan disetujui oleh Kibum.

“Tidak, aku hari ini ingin belajar pada Jinki. Seperti yang Kibum bilang, dia ahlinya. Kalian, kami duluan,” pamitku. Aku buru-buru mendorong Jinki untuk pergi sebelum tiga makhluk yang tersisa itu mengintrogasiku.

“Kau tidak serius ingin belajar denganku kan?” tanya Jinki setelah kami berada agak jauh dari yang lain.

“Heheheh… bagaimana kau tahu?” seruku sambil nyengir.

“Tuh!” Jinki menunjuk dengan menelengkan kepalanya. Ke arah bayang-bayang gadis itu, Jina.

“Hebat juga kau bisa menebaknya,” kataku.

“Hei, aku sekelas denganmu sudah sejak SMP. Apa yang tidak aku tahu?” komentar Jinki. Hm, benar. Aku bahkan sudah amat mengenal siapa Jinki. Dasar aku ini.

“Kau jatuh cinta padanya?”  tanya Jinki mulai serius. Entah kenapa aku agak menduga dia akan berkata begitu. Memang aneh juga sebenarnya kenapa aku begitu tertarik dengan gadis itu. Seperti bukan diriku.

“Aku juga tidak tahu,” kataku. Jinki menoleh ke arahku. Sepertinya menungggu penjelasanku selanjutnya. “Yaaahh… entah kenapa aku ingin membantunya,” kataku.

“Wow, sejak kapan kau bisa prihatin pada orang lain?” canda Jinki.

“Apa maksudmu?” seruku tidak terima.

“Heheh… tidak-tidak. Eh, Jonghyun. Itu…” ucapan Jinki terpotong. Isyaratnya menyuruhku menoleh. Dan saat aku menoleh, aku melihat Jina dari kejauhan. Ia sempoyongan. Ia terus memegangi kepalanya. Langkahnya tak terkendali. Aku bahkan bisa mendengar ia mengerang dengan lemah. Hingga, BRUUK. Tubuhnya jatuh lemas ke trotoar.

“Astaga!” pekik Jinki. Tanpa diperintah, aku dan Jinki langsung berlari ke arah gadis itu. Aku langsung mengguncang-guncang tubuhnya. Namun ia tak kunjung sadar. Saat aku setengah menelentangkan tubuhnya, kami bisa melihat hidung gadis itu mimisan dan wajahnya jadi lebih pucat dari biasanya. Di tambah banyaknya bekas rembesan air matanya.

“Aku harus membawanya ke rumah sakit!” tekadku sambil hendak menggendongnya.

“Sekarang? Bagaimana kalau dia harus dioperasi?” kata Jinki.

“Jangan berlebihan. Orang tuaku tak akan keberatan aku menghabiskan uang mereka berapa pun,” kataku sambil mengangkat tubuh Jina.

“Aku pikir kau sudah sedikit berpikir lebih baik soal orang tuamu,” sesal Jinki. Aish, haruskah anak ini membahas masalah pribadiku sekarang? Ini sangat tidak tepat. Lagipula, kenapa ia harus repot mengurusi hubungan aku dan orang tuaku?

“Aku ke rumah sakit sekarang. Kalau pelayanku menelponmu, katakan saja aku menginap di rumahmu,” kataku cepat-cepat.

“Kau mau menungguinya?” kata Jinki kaget. Aku ingin menungguinya? Yah, itu yang akan aku lakukan. Jadi aku tidak akan repot-repot berdebat dengan Jinki sekarang. Aku langsung pergi meninggalkannya. Berjalan ke arah motorku. Kalau aku memboncengnya dia akan terjatuh atau tidak? Sial, aku tidak membawa mobil hari ini.

“Jonghyun!” Jinki memanggilku lagi. Ia berlari ke arahku. Ada apa lagi dengan anak ini? Mau menasehatiku lagi?

“Ada apa?” tanyaku datar. Jinki tidak langsung menjawab. Ia keluarkan kunci mobilnya, lalu menyerahkannya ke tanganku yang masih menggendong Jina.

“Jinki?” seruku terkesiap.

“Kau bisa kembalikan itu besok,” kata Jinki. Ya ampun, bahkan setelah aku marah padanya dia masih repot-repot seperti ini. Heh, Jonghyun! Ini bukan kali pertamanya dia begitu. Aku harus berikan kunci motorku.

Aku pun memiliki ide dengan menahan tubuh Jina dengan posisinya berdiri. Aku turunkan kakinya ke tanah, lalu menahan tubuhnya sekuat tenaga dengan satu tangan agar tidak terjatuh. Lalu tangan kananku mengambil kunci motorku dan melemparnya pada Jinki.

“Aku titip ini padamu,” kataku. Tanpa banyak bicara aku langsung menuju mobil Jinki. Mobil Jinki bukan mobil yang amat bagus. Hanya mobil sedan tua berwarna hitam. Aku pernah mengendarainya, dan setirnya berat serta belokangnya kurang dalam. Aku rasa aku harus berhati-hati dengan setirnya—juga dengan gadis itu.

***

Aku sebagai orang bertanggung jawab, aku menunggui Jina di kamarnya. Aku benar-benar yang bertanggung jawab di sini. Tadi ia perlu operasi karena ada gumpalan darah beku di otaknya yang harus diangkat. Aku bersedia saja membayarkan biaya operasinya padaku. Yeah, sama saja seperti orang tuaku yang bersedia membayarku berapapun agar aku menjadi ‘anak manis’ yang tidak mengganggu mereka. Cih, apa peduliku dengan mereka!

Ngomong-ngomong, aku baru kali ini melihat Jina tertidur. Ya ya, aku tahu aku baru bertemu dengannya beberapa kali. Hanya kali ini lain. Tidak biasanya wajahnya bisa terlihat lebih tenang. Biasanya yang aku lihat hanya wajah kuyu, pucat, dan lemah. Mungkin pengaruh penyakitnya. Dokter bilang, kalau terlambat ditangani, dia bisa saja menjadi stroke atau yang terburuk pembuluh darah otaknya rusak akibat hipertensi, dan mati. Dokter bilang, tubuh gadis ini terlalu kelelahan. Bukan kelelahan biasa. Namun dalam taraf yang cukup ekstrim. Pola debar jantungnya tidak beraturan sebagaimana orang pengidap aritmia. Napasnya pun pelan dan pendek.

Dokter itu juga bilang mungkin ada masalah dengan kondisi psikisnya. Dahinya tegang terkerut. Rambutnya tipis—yang mungkin banyak rontok karena stress. Kulitnya pun kusam.

Namun dengan semua itu dia masih terlihat cantik. Maksudku, uhuk uhuk! Baiklah, aku akan jujur soal gadis itu. Sepertinya gadis itu akan cantik sekali kalau dia sehat. Seharusnya. Semua gadis sehat itu cantik.

Lalu dengan tulisan di diarinya. Andai aku malaikat…? Apa maksudnya? Mungkin itu kalimat yang simpel, tapi aku tidak cukup mampu berfilosofi seperti Taemin untuk menafsirkan itu. Apa yang aku tangkap adalah, dia ingin jadi malaikat. Tapi kenapa? Kau tahu, malaikat. Makhluk yang Tuhan ciptakan untuk menuruti semua perintahnya. Bagus, aku hanya punya logika dalam otakku. Bukan sesuatu yang abstrak dan imaginer. Mungkin aku bisa mencari tahu sesuatu dari diarinya. Tapi tidak terima kasih!

“Engg…”

Dia bangun! Aku harus apa? Diam saja? Memberikan senyuman? Kata-kata apa yang harus aku ucapkan? Sial, aku salah tingkah. Aku tidak tahu harus apa pada adik kelas yang tidak aku mengerti ini. Dia menatapku, dengan kebingungan dan ketakutan.

“Kau sudah bangun rupanya.” Hanya itu yang terlintas dipikiranku untuk dikatakan. Yah, lumayan.

“A—aku dimana…?” serunya ketir. Astaga, sudah lama sekali aku tidak mendengar suaranya yang lembut dan dewasa itu.

“Kau di rumah sakit. Tadi sore kau pingsan di dekat sekolah. Namamu Song Jina kan?” kataku berusaha seramah mungkin. Bertingkah sok ramah begitu bukan kebiasaanku. Kalau ada Minho, dia pasti sudah sangat geli dan ingin menempeleng kepalaku.

Sunbae?” serunya parau. Wah, dia masih ingat padaku rupanya. Aku tersenyum padanya.

“Tidurlah lagi. Hari sudah malam. Apalagi barusan kau baru dioperasi,” kataku.

“Operasi?” serunya kaget.

“Tenang, kata dokter kau sudah baikan. Dia bilang kau harus lebih banyak istirahat. Tidak usah pikirkan soal operasinya,” kataku.

“I—ibuku…?” katanya dengan nada bergetar.

“Ibumu juga sudah tahu. Jinki, temanku, dia kenal baik dengan pihak sekolah. Dia sudah meminta pihak sekolah untuk memberitahu ibumu tentang keadaanmu,” jelasku. Lagi-lagi aku minta bantuan Jinki. Ternyata aku ini merepotkan sekali.

“Ehm… Terima kasih… sunbae” ucapnya pelan dan malu-malu. Ah, entah kenapa ucapan terima kasih saja sudah cukup untuk membalas semuanya. Siapa yang tahu? Kibum selalu marah kalau hanya karena aku lupa bilang terima kasih setelah dia menolong. Jadi begini rasanya.

Lama kami terdiam setelahnya. Rasa canggung cukup mengelilingi kami. Aku jadi bingung juga harus bicara apa.

“Sudah, lebih baik kau tidur. Supaya kau lebih cepat sembuh,” kataku akhirnya. Jina tidak menurut. Dia malah menggeleng sambil tersenyum tipis.

“Aku bisa keluar sekarang supaya tidurmu tidak terganggu. Kau pasti sudah lelah,” kataku.

“Tidak,” sangkalnya. Bohong. Dia menguap, tapi menahannya.

“Jangan berbohong. Tidak baik perempuan begadang,” kataku.

“Aku tidak mau!” tolaknya agak keras. Ugh, ada apa ini? Sepertinya dia kelepasan. Dia langsung menutup mulutnya merasa ucapannya lancang.

“Kenapa? Baiklah, kau boleh terjaga sebentar. Tapi setelah ini kau harus tidur,” seruku.

“Tidak…” serunya pelan.

“Apa maksudmu?” kataku makin tidak mengerti.

“Aku tidak boleh tidur…” gumamnya.

“Hah? Jangan sembarangan. Kau harus tidur,” seruku agak membentak. Kesal. Pola pikir macam apa itu?

“Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak mau tidur!” teriaknya sambil memegang kepalanya dengan frustasi.

“Ta—tapi kau harus tidur. Dokter bilang…”

“Jangan dekati aku! Aku tahu maumu! Kau mau aku tidur agar kau bisa memperkosaku saat aku tidur kan?” tuduhnya.

“Apa?” kataku kaget. Baru beberapa detik ia berterima kasih, sekarang ia menuduhku ingin memperkosanya. Oke, aku memang kalangan siswa nakal yang suka pulang pagi untuk nongkrong dan suka bolos sekolah. Tapi aku sama sekali tidak punya tampang pemerkosa!

“Menjauh dariku! Aku tidak akan tidur! Aku tidak akan pernah tidur sampai kapan pun meski kau memaksaku! Akh… argh…” Tiba-tiba ia merintih sambil memegang kepalanya.

“Kau tidak apa-apa?” seruku cemas. Aku pun mendekatinya. Dia tidak mengusir atau memberontak saat aku dekati. Dia justru menangis. Menangis sejadi-jadinya.

“Jina… ada apa?” tanyaku setenang mungkin. Ia masih saja menangis. Aku dengan sabar menunggu ia bicara.

“Aku tidak mau tidur…” gumamnya pelan.

“Kenapa? Bisa kau jelaskan supaya aku mengerti?” kataku. Dia tak langsung menjawab. Dia terus saja menangis. Astaga, aku benar-benar tidak tahan melihatnya menangis seperti ini. Sebenarnya apa yang dia tangisi? Apa sebegitu sakitnya dirinya hingga ia menangis. Aku tidak tahan! Aku—aku memeluknya…

“Tenanglah, semua akan baik-baik saja,” ucapku sambil mendekapnya dengan erat. Aku bisa rasakan dengan jelas detak jantungnya saat dia ada dalam pelukanku. Histerianya langsung terhenti. Mungkin ia kaget karena tiba-tiba aku peluk.

“Aku tidak mau tidur…” isaknya.

“Yah, baiklah jika kau tidak ingin,” kataku akhirnya.

“Aku takut nanti bermimpi buruk,” ucapnya. Cara bicaranya terdengar seperti anak kecil saja.

“Aku juga tidak suka mimpi buruk,” kataku.

“Aku pernah dihukum oleh tanteku karena mengompol di kasurnya waktu kecil,” kata Jina lagi.

“Aku juga pernah begitu dulu. Itu wajar kan?”

“Ayahku meninggal saat dia tertidur…”

DEG! Tunggu dulu…

“Ibuku lumpuh karena dia terjatuh dari tangga. Aku terlambat menolongnya karena aku sedang tidur malam itu…”

Tunggu dulu, TUNGGU DULU! Gadis ini? Apa sebenarnya yang sudah ia alami sebelumnya? Hingga ia sebegitu tak inginnya untuk tertidur.

“Ayahku pernah terserang jantung karena gempa tiba-tiba saat kami semua sedang tidur…”

“Jina…” seruku berusaha menenangkan.

“Saat kami tidur, rumah kami kerampokan dan kakakku diperkosa…”

“Sudah Jina…” kataku mulai tidak tahan dengan ucapan kepedihannya.

“Aku tidak tahu kakakku ternyata bunuh diri sampai aku terbangun…”

“Sudah cukup Jina, sudah!” seruku tak tahan. Jina kembali menangis. Aku memeluknya dengan lebih erat. Nyaris saja aku menangis. Jonghyun, dimana martabatmu sebagai lelaki sejati kalau kau menangis!

Tidak, astaga, ya ampun. Jina… aku tidak tahu bagaimana malangnya gadis ini. Dokter benar, ada masalah dengan psikisnya. Dia fobia tidur. Jadi ini alasan atas penampisan dan keadaan tubuhnya yang sering aku lihat. Aku ingat minuman apa yang dia bawa. Kopi. Mungkin ia berusaha begitu keras agar bisa tetap terjaga. Tapi tetap saja itu perilaku yang tidak sehat.

“Aku tidak ingin mati saat aku tertidur. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Aku tidak ingin terjadi hal buruk karena aku tertidur!” serunya sambil terisak.

“Tenanglah, Jina. Itu hanya masa lalu,” seruku. Aku melepas pelukanku dan menatap wajahnya. Mengenaskan sekali.

“Lihatlah dirimu. Kau hampir membunuh dirimu sendiri. Kau hampir saja mati kalau terlambat ditangani. Kasihanilah tubuhmu. Tidur akan memberimu kedamaian yang selama ini kamu lupakan,” ucapku. Wow, aku bisa juga berfilosofi.

“Tapi…”

“Itu semua sudah berlalu, Jina. Mungkin memang semua itu sudah garis takdir yang ditentukan Tuhan. Tak ada hubungannya dengan kamu tertidur atau tidak.” Semakin hebat saja ucapanku. Aish, kenapa jadi berpikir begitu? Pikirkan Jina.

“Aku tidak…”

“Dengar. Tidur! Aku akan menjagamu selama kau tidur. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan berbuat buruk padamu. Aku akan pastikan kau merasa aman,” kataku.

“Aku tidak mau tidur…”

“Tapi aku tidak ingin kau mati,” kataku. Aku usap air matanya yang masih mengalir diam-diam dari matanya.

“Aku bukan dokter, tapi aku tahu pasti ada alasan kenapa tidur memakan lebih banyak waktu usia kita,” kataku. Dia tetap menangis. Karena kehabisan kata-kata, aku pun berniat menuntunnya untuk tidur. Aku baringkan tubuhnya di kasur. Dia sama sekali tidak melawan. Namun matanya tetap terbuka. Aku pun mengelus-elus rambutnya. Tuhan, aku tidak tahu kenapa. Tapi aku ingin sekali membuatnya tak menakuti kenikmatan yang kau sebut tidur.

“Percayalah padaku. Semua akan baik-baik saja,” bisikku. Jina hanya terdiam. Sementara aku terus menungguinya. Aku tidak ingat apa dia sudah tertidur atau belum. Yang terjadi malah aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya…

***

Sudah pagi? Aku tertidur di kamar ini rupanya. Jam tanganku bilang sekarang sudah jam 6. Aku harus mengembalikan mobil Jinki sebelum ia berangkat sekolah. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Jina?

Aku melihat keadaannya. Dia tertidur! Luar biasa! Dan… dan, wajahnya lebih merona. Cantik… Eh, apa yang aku pikirkan? Baiklah, dia memang cantik. Aku harus mengakuinya.

“Ayah… Eonni…” Dia ngelantur. Mungkin dia bermimpi. Memimpikan ayahnya dan kakak perempuannya.

“Boleh aku ikut kalian? Di sini menakutkan…” Jina kembali ngelantur.

Tuut tuuut tuuut

Tunggu! Detak jantungnya melambat!

“Aku ingin bersama kalian…”

Tuuuut tuuuuut tuuuut

Detak jantungnya semakin melambat. Apa yang dimimpikannya? Apa yang dia maksud? Apa yang dia maksud ingin menyusul ayah dan kakaknya? Mati?!

“Jina, sadarlah!” seruku panik sambil mengguncang tubuhnya. Dia tak kunjung bangun. Sementara detak jantungnya melambat.

“Jina bangunlah! Jangan pergi! Bagaimana dengan ibumu? Kau ingin meninggalkannya?” kataku mulai berteriak.

Tuuuuuuuuut tuuuuuuut tuuuuuuuuut tuuuuuuuut

“JINA! Jangan tinggalkan aku!” teriakku emosi. Sial! Dia terlalu membuatku gila. Kenapa aku bisa begitu mencemaskannya?

Tuut tuut tuut

Sunbae…?” Suara itu? Jina! Ia membuka matanya. Dia pun menatapku dengan mata beningnya. Dia bangun!

“Bagaimana tidurmu?” tanyaku sebisa mungkin terdengar tenang. Padahal sepertinya aku sudah seperti orang bodoh berteriak-teriak membangunkannya.

“Tadi aku bertemu ayah dan kakakku,” katanya.

“Begitu? Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Mereka tinggal di tempat yang sangat indah. Aku ingin ikut. Tapi mereka bilang aku belum boleh tinggal di sana,” katanya.

“Oh. Ehm… bagaimana kepalamu? Masih sakit?” tanyaku.

“Sudah tidak. Ehm… sunbae.” Jina tampak malu-malu sekali. Ia pun merubah posisinya dari terbaring menjadi duduk.

“Ya?” tanyaku penasaran.

“Aku lupa kapan aku tertidur senyenyak ini. Terima kasih…” ucapnya tulus. Aku terkesima. Aku belum pernah menerima ucapan terima kasih setulus itu dari wanita. Sebelumnya dia memang mengucapkan terima kasih. Tapi kali ini lain. Itu jujur membuatku—senang.

“Yah… baiklah,” kataku canggung. Bingung harus menanggapinya bagaimana. Hening sejenak. Aku pun memilih berdiri. Aku harus pergi sekarang. Mobil Jinki harus segera aku kembalikan.

Sunbae?” seru Jina bingung saat aku hendak pergi.

“Aku diberitahu. Sepupu laki-lakimu akan menjemputmu pagi ini. Kau tidak usah khawatir. Aku harus pergi sekarang. Kau akan baik-baik saja sampai kakak sepupumu itu menjemputmu?” tanyaku tanpa menatapnya langsung. Jina hanya mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku pun pergi. Aku pergi ke bagian administrasi, bermaksud membayar semua biaya rumah sakit dengan kartu kredit.

Setelahnya aku langsung pergi ke rumah Jinki dengan mobil sedan tua itu. Menyetir dengan buru-buru karena aku ingin segera mandi. Sejak kemarin baju seragamku tidak terganti dengan pakaian lain dan itu membuatku merasa tidak nyaman.

Sampai di rumah Jinki. Jinkilah hal yang membukakan pintu. Aku pun langsung melemparkan kunci mobilnya dan masuk ke rumahnya.

“Aku menginap di rumahmu hari ini. Aku mau numpak mandi dan meminjam bajumu. Dan tolong pastikan ibumu tidak usah repot-repot memasak untukku. Biar aku beli makan sendiri,” kataku pada Jinki tanpa jeda.

“Kau tidak sekolah hari ini?” tanya Jinki heran.

“Kau tidak lihat bajuku ini kotor?” kataku.

“Kau kan bisa pulang dulu. Kau ini.”

“Aku malas pulang. Hari ini ayah pulang, dan aku malas berurusan denganya.”

“Jangan bilang kau menjagai gadis itu semalaman,” introgasi Jinki. Aku tidak mengindahkan ucapannya. Aku langsung saja masuk ke kamarnya.

“Baju apa yang bisa aku pinjam?” kataku. Jinki pun menghela napas. Dia ini selalu saja begitu kalau bicara soal orang tuaku. Hei, orang tuaku tidak seperti orang tuanya yang bisa bertingkah selayaknya orang tua.

“Bagaimana dengan gadis itu?” tanya Jinki sambil membuka lemarinya.

“Dia fobia tidur,” kataku.

“Apa?” seru Jinki kaget. Sementara aku hanya mengangkat bahuku.

“Clinophobia,” Jinki bergumam.

“Hah?”

“Itu bahasa ilmiahnya. Atau kau bisa sebut Somniphobia,” seru Jinki sambil melemparkan bajunya padaku. Oh, benar. Aku mengerti. Somni artinya tidur. Ingat kata Insomnia, susah tidur. Dasar anak biologi.

“Aku ke sekolah sekarang. Kau tidak akan ke mana-mana?” tanya Jinki.

“Paling aku hanya keluar untuk cari makan. Ingatkan ibumu soal itu ya,” seruku.

“Iya-iya akan aku katakan. Motormu ada di garasi. Aku pergi,” kata Jinki sambil melemparkan kunci motorku ke arahku. Setelahnya aku pun langsung masuk ke dalam kamar mandinya. Kira-kira Jina sedang apa sekarang ya?

***

Pulang.

Cklek!

Bagus, si tua itu ada di ruang tamu. Ku kira dia pergi kemarin. Cih! Terserahlah. Aku butuh minum. Aku pun melewatinya begitu saja dan berjalan menuju dispenser.

“Kemana saja kau dua hari ini? Membolos sekolah lagi?” tegur pria tua itu. Hah, terserah aku mau kemana. Aku saja tidak peduli kemana kau pergi! Lebih baik aku cepat meminum air ini dan ke kamar ketimbang berurusan dengan si tua ini.

“Ayah lihat ada tagihan dari rumah sakit di daftar tagihan kartu kreditmu. Ada urusan apa kau dengan rumah sakit?” introgasi si tua itu. Cih, berlagak menyebut dirinya ayah. Terserahku untuk apa. Kau sendiri yang bilang akan memberikan apa pun asal aku tidak menganggu.

“Kau habis operasi? Begitu? Rawat inap di sana? Sakit apa?” tanyanya. Tumben sekali dia bertanya begitu. Apa pedulimu? Untung tidak ada ibu. Biasanya dia yang lebih cerewet lagi.

“Bukan urusanmu!” seruku hendak pergi ke kamarku.

“Urusan ayah kalau kau sakit. Kau pikir ayah mau kau sakit tanpa sepengetahuan ayah?” bentaknya. Diam. Perasaanku saja atau ada nada khawatir dalam ucapannya? Aku sudah terbiasa dibentak olehnya. Jadi aku sangat tahu bahwa spekuali keanehan pada nada bicara ayahku itu benar adanya.

Teeeng dooonngg

Bel rumahku berbunyi mengisi keheningan di rumah. Hanya pelayanku yang bergerak untuk membukakan pintu. Setelah pelayanku berbicara pada tamu yang tak terlihat olehku itu, ia pun memanggilku.

“Tuan muda, temanmu mencarimu,” seru pelayanku.

“Siapa?” tanyaku. Aku pun mengintip ke luar pintu dan aku tak bisa menahan ekspresi keterkejutanku.

“Jina!” seruku kaget. Jina yang ada di luar tersenyum malu-malu padaku.

Annyeong,” serunya tersipu-sipu. Aku tidak percaya ini. Kenapa dia datang ke sini? Darimana ia tahu rumahku. Aku langsung mendekatinya dan meminta pelayanku pergi.

“Darimana kau tahu rumahku?” tanyaku.

“Aku bertanya pada Kibum. Aku sering melihat sunbae bersama Kibum, jadi aku tanya padanya. Nama Sunbae Kim Jonghyun kan? Aku sampai lupa menanyakan nama sunbae waktu itu,” kata Jina ramah. Ini benar-benar Jina? Dia—dia cantik sekali, uhuk! Maksudku dia terlihat lebih sehat sekarang. Dia tidak lesu dan pucat seperti biasanya. Ia malah kelihatan lebih berdarah, eh, maksudku lebih merona. Bicaranya bahkan ramah sekali. Ternyata Jina itu gadis yang seperti itu ya. Jujur, aku malah lebih nyaman pada gadis yang tidak mudah canggung.

“Ehm… benar juga ya,” kataku.

“Kenapa sunbae tidak masuk sekolah kemarin-kemarin? Padahal ibuku ingin menanyakan soal rekening sunbae untuk mengganti biaya rumah sakit waktu itu,” kata Jina.

“Ohm, itu tidak usah. Sungguh, tidak apa-apa,” tolakku.

“Yaahh… tidak bisa begitu. Aku janji akan membayarnya. Oh ya, aku membawa sushi dari restoku. Titipan ibuku, sebagai ucapan terima kasih. Sunbae suka sushi asli dengan ikan mentah tidak? Aku bawa yang salmon,” tanya Jina sambil menyodorkan dua buah kotak berisikan sushi. Eh, dia anak orang kaya? Pemilik resto sushi original? Kalau mau membicarakan marketing, bayaran chef sushi saja mahal sekali kan? Belum bahannya. Jadi?

“Kau anak mediang Song Kenzo?” Tiba-tiba si pria tua tadi ikut campur. Apa-apaan sih dia?

“Benar. Tunggu, tuan ini pemilik resto All-you-can-eat Jepang yang ingin bekerjasama dengan resto ayahku kan? Tuan Kim?” seru Jina antusian.

“Apa?” seru kaget.

“Benar. Jadi kau yang namanya Song Jina? Saya sahabat ayahmu dulu,” kata si tua ini.

“Iya, aku Song Jina. Ayah pernah cerita tentang tuan dulu. Baru saja aku dari pemakamannya,” jelas Jina. Pemakaman? Aku langsung berpikir kalau ayahku yang meninggal apa aku berniat untuk membesuk makamnya. Aku pikir tidak.

“Oh ya! Tuan, aku sangat berterima kasih dengan kebaikan Jonghyun sunbae. Dia berbaik hati membawaku dan membayarkan biaya operasiku 2 hari yang lalu. Dia sudah menyelamatkan hidupku. Nanti ibuku akan segera menganti uangnya,” seru Jina antusias. Aku malu sendiri dalam hati. Antara tersanjung atau canggung karena Jina berkata begitu pada ayahku.

“Sudah, tidak usah repot-repot. Nanti aku akan katakan pada ibumu sekalian kami membicarakan soal bisnis.”

“Yaaah… tapi terimalah sushi ini. Kebetulan aku memang membawa untuk Jonghyun sunbae  dan tuan. Aku hanya membawa segini, tapi semoga tuan suka,” kata Jina. Aku jadi semakin bingung harus berbuat apa. Aku pun mengambil 2 kotak sushi itu dan meletakan salah satunya di meja di hadapan ayah.

“Terima kasih, Jina,” seru ayahku sambil tersenyum. Kapan ayahku tersenyum serperti itu? Aku tidak ingat. Tapi aku ingin segera pergi dari sini.

“Kau ingin jalan-jalan? Kita baru sesekali bertemu. Aku ingin lebih mengenalmu. Sambil kita cari tempat untuk menghabiskan sushi ini. Bagaimana?” ajakku mengalihkan perhatian Jina dari ayahku.

“Ehm… kita memang belum banyak mengenal.  Baiklah,” seru Jina.

“Kita pergi dengan apa? Motor? Mobil?”

“Jalan kaki saja. Hari tidak panas. Tidak apa-apa kan?”

“Ide bagus. Ayo!” seruku. Padahal baru sekian menit aku sampai rumah, tapi aku sudah keluar lagi. Ya sudahlah. Jinki, aku pakai bajumu untuk seharian ini ya.

Kami pun pergi. Jina pamit pada ayahku, tapi aku tidak. Hanya aku harus tahu kenapa baru kali ini aku melihat benar-benar tersenyum pada seseorang. Kau tahulah pengusaha. Senyumnya sering penuh sandiwara dan kelicikan. Tipikal orang-orang munafik.

Aku dan Jina benar-benar berjalan bersama. Kami harus menghadapi suasana diam sejenak untuk membiasakan diri.

“Soal aku memelukmu waktu itu, aku minta maaf ya. Aku tidak bermaksud berbuat lancang,” kataku membuka pembicaraan. Aku harus minta maaf soal pelukan itu. Karena sebenarnya sejak kemarin-kemarin hal itu benar-benar membuatku tidak tenang. Lihatlah, wajah gadis itu langsung bersemu saat aku membahasnya.

“Tidak apa-apa,” ucapnya. Kami tetap berjalan.

“Masih takut untuk tidur?” tanyaku penasaran sambil menatapnya.

“Sedikit.” Setelahnya ia membalas tatapanku.

“Aku takut nanti malam memimpikan sunbae,” candanya.

“Aish, kau ini!” seruku gemas.

“Hihihihih…” Dia tertawa. Astaga, aku tidak bisa menahan pikiran ini. Dia cantik sekali!

“Memangnya aku ini mimpi buruk. Oh, hei! Berhenti memanggilku sunbae. Aku lebih suka kau memanggilku Jonghyun oppa.  Bukankah ibumu akan jadi rekan bisnis ayahku?” kataku.

“Baiklah, Jonghyun oppa. Begitu?”

“Yah, begitu! Biasakan!”

“Hihihih… baiklah. Hmmm… untung saja aku bukan malaikat,” ucapnya tiba-tiba. Lantas membuatku penasaran.

“Kenapa?” tanyaku penasaran. Dia tersenyum penuh misteri.

“Karena malaikat tidak memilik hawa nafsu dan emosi. Tidak bisa merasakan nikmatnya tidur. Atau merasakan emosi seperti saat kupu-kupu menggelitik perutmu,” ucap Jina. Ucapan berfilosofi lagi? Aku tidak mengerti apa maksudnya. Levelku belum setinggi itu. Tidak tahu apa nilai Bahasa Koreaku sering pas-pas an?

“Apa maksudnya?” kataku bingung. Dia malah tertawa dan lari pergi.

Yaaaaaa… aku serius! Apa maksudnya? Aku tidak mengerti,” teriakku sambil mengejarnya. Setelah ini aku harus menanyakan apa arti dari gejala ‘kupu-kupu menggelitik perut’ pada Taemin. Karena sepertinya sekarang aku mengalaminya…

—END—

Duuuuhh… udah lama banget ga publish ff. Jadi banyak yang ga kenal aku di sini kan >.<

Gimana? Jelek ya? :p Niatnya kalau bisa aku bakal jadiin ni ff lengthnya universe. Jadi bakal ada cerita yang beda dari setiap member SHINee yang lainnya. Tapi ga tau juga bakal kebikin atau nggak ^^a Tapi yang pasti habis baca ini kudu comment =D

39 responses to “Suf

  1. Udah lama g baca ff ky gini. Ada lucunya juga. Aih jjong lu bikin org ketawa aja *eh! feel nya berasa banget, meski cuma jjong jd cast utamanya tapi feelnya itu pass banget. Juga serasi dg watak dan karakter jonghyun yg terbilang bebas dan bodo2 dikit😄 #dicubitjonghyun

    Oh ya… satu yg bikin aku bingung, penjelasan ttg hubungan kurang harmonis antara jonghyun dan ayahnya.mesktinya di jelasin gtu knapa jonghyun terus mendumeeel krna ayahnya.aneh gtu kan anak marah2 sama org tua tnpa sebab. Tapi itu menurut aku aja sih

    Song jina nya juga, menurutku lebih baik beri yah..itu sedikit penjelasan lagi knpa ayah mrka bsa sahabat/ mengenai masa lalunya. #Kan udah di ceritaiiin… hehehe iya iya ._.
    Pokoknya jempolan deh ni ff. Maaf bnyk komplen tk berguna dr saya ._.

  2. Pingback: Fall | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s