TARGET 1

TARGET locked

TARGET

|| hgks11’s storyline ©2013 ||

|| Lu Han, Hanna Park || Supernatural, Fantasy||

 || PG 15-17 || Series ||

 

Intro  – Part 1

 

Dictionary:

 

Dangshineun jeolul chuggyeogkau membuatku kaget

Bombay Type Blood—Golongan darah yang ditemukan di Bombay, India dengan perbandingan 1 : 250.000 di dunia. Golongan darah ini tidak memiliki ekspresi antigen sistem AB0 di permukaan sel darahnya. Jika diperiksa dengan sistem biasa maka yang akan muncul adalah golongan darah 0, tetapi pada kenyataannya tidak bisa menerima transfusi darah dari golongan darah 0, karena sebenarnya memang berbeda.

Hanna Park—Hanna memiliki sistem tubuh yang cukup berbeda dibandingkan dengan vampir lainnya. Tubuh Hanna hanya dapat menerima Bombay Type Blood dengan baik. Sedangkan jika Hanna meminum darah dengan golongan darah lain, tubuhnya tidak dapat menerima darah tersebut. Hanna dapat meminum darah AB–, namun hanya sedikit, dan sedikit di sini benar-benar berarti sedikit. Tubuh Hanna akan menolak meminum darah selain Bombay Type Blood. Dan tubuh Hanna juga tidak akan bereaksi terhadap aroma / darah lainnya. Oleh karena itu, sehaus apapun Hanna terhadap darah, Hanna tidak akan bisa mengikis rasa hausnya kecuali dengan golongan darah 0 yang ditemukan di Bombay itu.

 

 ***

Author’s POV

 

 

Seorang gadis berambut ikal panjang berwarna coklat berkilauan menapakkan kakinya di depan pintu gerbang Seoul National University. Seluruh mata menatap ke arah gadis yang lebih terlihat seperti boneka itu, ketika ia melangkahkan kakinya menyusuri taman dan koridor kampus. Gadis itu berhenti di depan sebuah loker kayu, merogoh saku celananya, lalu membuka loker di hadapannya dengan kunci yang sudah berada di tangannya. Setelah menaruh buku yang tidak diperlukannya, kedua alis gadis itu bertaut. Jarum jam masih menunjukkan pukul 07:00 AM, namun kampus terbaik di Seoul itu sudah dipadati oleh banyak mahasiswa. Hal ini membuat Hanna Park—gadis berambut coklat itu memandang aneh ke sekelilingnya.

“Boo!” “Aish! Dangshineun jeolul chuggyeog!

Gadis yang tiba-tiba muncul dan mengagetkan Hanna itu tertawa kecil. Hanna memutar kedua bola matanya malas, melihat tingkah sahabatnya—Krystal Jung. Krystal membuka loker miliknya yang tepat berada di sebelah Hanna, memilih buku yang akan di bawanya.

 

“Krystal, kenapa kampus terlihat ramai sekali?” Hanna tidak dapat membendung rasa penasaran di dalam dirinya. Tidak banyak kelas yang di mulai di pagi hari seperti ini, yang berarti Seoul National University tidak akan dipadati oleh banyak mahasiswa.

Krystal menutup loker miliknya, lalu berjalan meninggalkan deretan loker kayu itu bersama dengan Hanna. “Kau seperti tidak tahu sepupuku saja” ujar Krystal dengan senyum jenaka.

“Sepupumu? Di pagi hari seperti ini?” kata ‘sepupu ‘dan ‘pagi hari’ berada di dalam satu kalimat terdengar begitu aneh di telinga Hanna. Apalagi yang tengah mereka bicarakan bukan sembarang ‘sepupu’ melainkan sepupu Krystal, Vampire’s Crown Prince. Krystal menganggukkan kepalanya gembira, “Sepertinya sebuah keajaiban telah terjadi”

Yeah, I guess so” deraian tawa keluar dari mulut Krystal dan Hanna, membuat semua mata yang berada di sekitar mereka terpaku. Melihat Hanna tertawa, benar-benar sebuah keberuntungan bagi yang melihatnya. Karena gadis itu, jarang  tidak pernah tertawa selain bersama Krystal.

 

“Hanna-ya, wajahmu terlihat pucat. Kau sudah makan?” tanya Krystal tiba-tiba begitu menyadari wajah sahabatnya yang terlihat lebih pucat dari biasanya. Tentu saja wajah mereka terlihat lebih pucat dibandingkan orang lain, mereka vampir, ingat? Namun wajah Hanna tampak lebih pucat dari biasanya, membuat kekhawatiran muncul di dalam Krystal.

You know.. Persediaan sedang habis” Hanna mengangkat kedua bahunya tak peduli. Krystal menatap tajam ke arahnya, “Mwoya? Jangan salahkan aku” Krystal menghela nafas sebal. Hanna tidak akan meminum darah, kecuali ia mendapatkan darah kesukaannya, Bombay Type Blood. Dan demi Tuhan! Golongan darah itu sangat langka.

“Kau ingin darahku, Hanna?” Krystal menyodorkan pergelangan tangannya. Hanna menggelengkan kepalanya, “Nuh uh. Kau tahu bukan, sehaus apa aku menginginkan darah, tubuhku belum tentu dapat menerimanya dengan baik”

 

Kedua gadis itu berpencar ketika mereka sampai di kantin kampus. Krystal berjalan ke arah counter, memesan makanan untuknya dan Hanna. Sedangkan Hanna  mencari meja kosong untuk mereka tempati. Hanna memanjangkan lehernya, berusaha mencari tempat duduk yang kosong.

“Ouch!” karena terlalu sibuk mencari, Hanna bertabrakan dengan seseorang, membuat gadis itu terjatuh ke lantai. Semua makhluk di dalam kantin menahan nafas mereka begitu melihat Hanna, terjatuh di lantai. Dan kenyataan bahwa yang menyebabkan seorang Hanna Park jatuh adalah seorang Lu Han, membuat mata mereka semua membulat. Hanna segera berdiri dari posisi jatuhnya, dan melirik tajam ke arah orang yang menabraknya. Orang-orang di sekitar Hanna diam terpaku melihat tatapan Hanna. Bahkan Lay dan D.O dapat merasakan ketakutan yang menyelinap masuk ke dalam tubuh mereka sampai ke ujung tulang belakang mereka.

 

Sorry, I’m not mean to” sebuah senyum jenaka muncul di wajah Luhan—orang yang menabrak Hanna. Hanna bergumam pelan mengutuk Luhan, namun Luhan memandang ke arahnya dengan kedua bola matanya yang besar itu, berusaha menutupi tubuhnya yang sedikit gemetar karena tatapan mata dan kutukan yang diberikan Hanna. Meskipun sebelumnya Luhan sempat memberikan senyum jenaka miliknya pada Hanna yang sama sekali tidak terpengaruh dan malah mengutuk Luhan.

“Hanna-ya!” Hanna menoleh begitu Krystal menghampirinya dengan sebuah nampan di atas kedua tangannya.

“Kau tidak apa apa?” Krystal menatap sahabatnya itu dari atas kepala sampai ujung kaki, ingin memastikan apakah sahabatnya itu baik-baik saja.

“Yah, Luhan! Kau apakan sahabatku?” tampak sekali kekesalan di wajah Krystal, membuat Baekhyun menghampirinya.

“Luhan tidak sengaja menabraknya” Baekhyun menyenggol lengan Krystal, berusaha meredakan kekesalan Krystal. Luhan mengangkat kedua bahunya, “Slow down there, Krystal. Ia tidak akan mati hanya karena kutabarak!” Krystal memutar kedua bola matanya malas pada Luhan.

“Kajja, Hanna-ya” Krystal menarik Hanna ke arah tempat duduk yang kosong begitu matanya melihat tempat itu. Hanna duduk di atas kursinya dengan bibir yang sedikit mengerucut, masih sebal dengan kejadian tadi. ‘Hey, bahkan ia tidak meminta maaf padaku! Menyebalkan’ pikir Hanna.

 

“Aku benci sepupumu” gumam Hanna pelan, namun Krystal masih dapat mendengarnya.

“Ya, tentu. Playboy, sweet talker, jerk. Benar bukan?” Krystal tertawa kecil melihat Hanna yang menganggukkan kepalanya. “Tapi jika kau mengenalnya dengan baik, ia tidak sepenuhnya seorang jerk” tambah Krystal, membela sepupunya. Hanna memandang Krystal dengan tatapan are-you-serious yang membuat tawa Krystal kembali lagi.

“Sudahlah, jika kita meneruskan pembicaraan ini pasti nafsu makanmu akan hilang. Makan, setidaknya ini bisa sedikit membantumu” Hanna menatap makanan yang berada di depannya. ‘Ya, mungkin. Atau lebih tepatnya mungkin tidak membantu sama sekali’ batin Hanna.

 

***

 

 

“Kau tidak meminta maaf?” Luhan memutar kedua bola matanya malas pada Baekhyun yang duduk di sebelahnya.

“Untuk apa?” Luhan mengambil muffin coklat yang berada di piring Sehun dan melahapnya.

“Luhan hyung!” Sehun menatap sebal ke arah Luhan karena telah mencuri muffin coklat miliknya. Luhan memberikan tatapan innocent miliknya pada Sehun, membuat Sehun mengerucutkan bibirnya.

Igeo” Lay menyodorkan muffin miliknya pada Sehun. “Gomawo Lay hyung! You’re the best!” Sehun mengangkat kedua ibu jarinya, mengeluarkan lidahnya ke arah Luhan. “Childish” gumam Luhan pelan. Baekhyun menggelengkan kepalanya. Pertanyaannya kini telah hilang di telan bumi, sama sekali tak dihiraukan oleh Luhan.

 

Shit!” Baekhyun, Lay, Luhan, Sehun dan D.O menoleh ke arah Kai begitu lelaki berkulit gelap itu mengumpat. “Darah AB–“ ujar Kai pelan, menjawab pertanyaan yang berada di dalam kepala teman-temannya. Mata Kai berkilat merah, kehausan tampak membara di matanya. Tak jauh dari mereka, seorang gadis tergores pisau yang digunakannya untuk memotong daging di piringnya. Darah AB– merupakan darah paling lezat di antara manusia, membuat para vampir berlomba-lomba mencarinya.

Kilatan merah muncul satu persatu di mata Baekhyun, Lay, Luhan, D.O dan Sehun, begitu aroma darah tersebut mulai memenuhi udara di sekitar mereka. Luhan menggertakkan giginya saat melihat taring Kai yang mulai muncul.

“Kim Jongin, jangan kau berani” suara Luhan terdengar begitu mengintimidasi, membuat Kai tersadar dari pengaruh darah tersebut. “Mian” Kai menundukkan kepalanya, merasa bersalah. Luhan menganggukkan kepalanya pada Kai. “Guys, ayo kita pergi” Lay, Baekhyun, Kai, Sehun dan D.O langsung beranjak dari tempat mereka, berusaha sekuat mungkin untuk tidak terpengaruh oleh aroma darah yang memenuhi udara di sekitar mereka. Luhan melirik sekilas ke arah sumber aroma darah itu, yang berada di meja sebelah Krystal dan Hanna. Mata Hanna yang sama sekali tidak berubah dan tidak menunjukkan hasrat untuk meminum darah membuat Luhan terkejut. ‘Bagaimana bisa?’ batinnya.

 

***

 

 

“Oh God! Jika kita tidak sedang berada di kantin tadi pagi, aku yakin aku sudah menerkam gadis itu pada saat itu juga!” umpat Krystal. Hanna tertawa kecil mendengar ucapan gadis yang duduk di kursi penumpang mobilnya itu, tanpa mengalihkan fokusnya pada jalan raya yang berada di depannya. Hanna tengah menyetir mobil miliknya di jalanan Seoul, dengan Krystal yang masih terus mengungkit kejadian tadi pagi.

“Taringku hampir keluar! Bayangkan jika para manusia itu melihat taringku keluar! Sial. Kenapa darah gadis itu harus AB–? Ck”

“Hey, itu bukan salahnya jika ia lahir dengan golongan darah AB–“ Hanna menggelengkan kepalanya pelan.

“Huft, tetap saja” Krystal menggembungkan kedua pipinya. “Aku masih heran kenapa kau selalu tidak terpengaruh, Hanna-ya?”

“Molla~ Aku juga tidak mengerti dengan tubuhku” ujar Hanna.

 

Hanna memberhentikan mobil Aston Martin One-77 miliknya di depan sebuah rumah besar bergaya Eropa Selatan.

Beep!

Mobil seharga $1,8500,000 itu berbunyi begitu Hanna menekan tombol kunci otomatis, setelah ia dan Krystal menapakkan kakinya di tanah aspal.

Agasshi, ada sebuah undangan sampai tadi pagi” seorang pelayan menghampiri Hanna saat ia dan Krystal memasuki rumah miliknya itu. Hanna menganggukkan kepalanya, lalu membuka undangan yang ditujukan untuknya itu.

 

“Undangan dari Royal Family, bukan? Di kediaman Luhan” ujar Krystal tanpa mencoba mengintip isi undangan berwarna putih di tangan Hanna. Dahi Hanna berkerut sambil menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan Krystal. “Tentu kau sudah tahu” Krystal tersenyum mendengar ucapan Hanna.

“Untuk apa aku datang ke sana?” tanya Hanna masih merasa kesal karena perilaku Luhan tadi pagi padanya. Ia masih belum bisa memaafkan begitu saja seorang playboy seperti Luhan.

“Tentu untuk bersenang-senang!” seru Krystal bersemangat. Hanna menatap Krystal dengan tatapan apakah-kau-bercanda. “Oh, ayolah Hanna Park! Aku juga akan berada di sana!” Krystal menyenggol lengan sahabatnya itu, namun Hanna tidak bergeming sama sekali.

“Jika ada Bombay Type Blood apakah kau mau datang?” Hanna tersentak kecil mendengar ucapan Krystal. Sebuah seringai lucu muncul di wajah Krystal begitu ia tahu ia mengenai bull-eye.

“Yay! Aku tahu kau akan datang!” Krystal meloncat kegirangan di sebelah Hanna. Kedua mata Krystal tampak begitu berbinar.

“Kau tahu aku terlalu baik” ujar Hanna sambil menggelengkan kepalanya.

 

***

Lu’s Mansion, 08:00 PM

 

 

Luhan tersenyum pada seluruh tamu undangan yang berada di rumahnya. Pesta kali ini merupakan sebuah pesta rutin yang diadakan oleh keluarga kerajaan vampir, hanya untuk bersenang-senang dan saling berkelakar. Tentu, tidak sembarangan orang diundang ke pesta tersebut. Hanya keluarga kerajaan, beberapa bangsawan, dan manusia yang akan menjadi santapan mereka—para vampir—tanpa para manusia itu sadari.

Luhan memanjangkan lehernya, berusaha mencari keberadaan Lay dan yang lainnya, saat matanya menangkap segerombolan vampir perempuan di dekatnya. Vampir-vampir tersebut menatap ke arah Luhan, memeriksa Luhan dari atas kepala sampai ujung kaki secara terang-terangan. Luhan memberikan seringai miliknya pada gerombolan vampir perempuan itu, membuat mereka semua  memekik pelan, terpesona dengan Luhan. Luhan memeriksa jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, ‘Masih banyak waktu’ batinnya.

 

“Hai sweety” suara berat Luhan terdengar sangat seksi dan menggoda, membuat vampir perempuan yang dihampiri oleh Luhan gemetar—dalam arti baik. Luhan melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu, membuat lutut gadis itu lemas. Mata Luhan bergerak menikmati pemandangan yang disuguhkan oleh gadis yang berada di sampingnya itu. Tubuh S-line yang sempurna, kulit putih pucat yang terlihat berkilau, dan gaun merah darah yang membungkus tubuh gadis itu. Gaun itu memiliki potongan rendah di bagian atas, membuat tulang belikat dan sebagian dada gadis itu terekspos dengan sempurna, dan bagian bawahnya memiliki potongan dari ujung kaki sampai ke setengah paha gadis tersebut, membuat kaki jenjang miliknya juga terekspos. Luhan dapat merasakan adrenalinnya berpacu dengan cepat di dalam tubuhnya.

 

Would you like to accompany me, tonight?” Luhan mendekatkan bibirnya dengan telinga gadis itu, membuat nafasnya menerpa daun telinga gadis itu.

“Yah, Luhan!” Luhan mengutuk pelan begitu namanya keluar dari mulut Kai. Kini gadis yang berada di dekatnya melirik ke arah Kai, melupakan kehadiran Luhan yang jelas-jelas melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu. Gadis itu melepaskan lengan Luhan, dan berjalan menghampiri Kai yang sudah berada di hadapan Luhan. ‘Shit. I hate your pheromones, Kai’ batin Luhan.

“Ada apa?!” kejengkelan tampak jelas di suara Luhan, membuat Kai menyeringai.

“Sehun dan yang lain sudah mecarimu dari tadi”

Arasseo” Kai dan Luhan berjalan beriringan meninggalkan vampir bergaun merah tadi, menuju taman yang berada di belakang, di mana Lay, Sehun, Baekhyun dan D.O sedang berbincang-bincang.

 

“Kalah lagi, eh?” Luhan menatap tajam pada Kai yang menyeringai ke arahnya. Ia tahu apa yang dimaksud oleh Kai, pheromones. Luhan benci mengakui hal ini, namun pheromones Kai benar-benar dapat menandingi pheromones miliknya terkadang. Dan Luhan tidak menyukainya jika hal itu berarti mengganggu acara flirty-nya dengan seorang gadis.

Shut up, Kim Jongin” ujar Luhan sambil memutar kedua bola matanya malas.

Okay” Kai mengangkat kedua bahunya dengan sebuah senyum kemenangan di wajahnya.

 

“Luhan hyung! Kau mengundang gadis itu?” Sehun menghampiri Luhan begitu ia melihat Luhan yang berjalan ke arahnya.

Nugu?” “Itu!” Sehun menunjuk ke arah seorang gadis bergaun hitam dengan rambut lurus panjang. Luhan memiringkan kepalanya, berusaha melihat ke arah yang ditunjuk oleh Sehun. Bibir Luhan membulat begitu mengetahui orang yang dimaksud oleh Sehun.

“Ia gadis berdarah AB– tadi siang bukan?” Kai tersentak pelan mendengar ucapan D.O. Sebuah seringai muncul di wajah Luhan, begitu melihat reaksi Kai.

“Sebenarnya aku sengaja mengundangnya untuk kuberikan padamu, Kim Jongin. Tapi mengingat kau mengangguku barusan dengan pheromonesmu itu.. Sehun, apakah kau lapar?” Luhan menolehkan kepalanya pada Sehun. Kedua mata Sehun berbinar begitu mendengar ucapan Luhan.

“Tentu! Thanks Luhan hyung!” Sehun memekik kegirangan sambil meloncat-loncat. Kai memutar kedua bola matanya pada Luhan, “Jerk”. Luhan hanya tertawa evil menanggapi ucapan Kai itu.

 

Sehun baru akan melangkahkan kakinya ke arah gadis berdarah AB—yang mereka bicarakan, saat beberapa kilatan gambar muncul di otaknya. “Hyung, orang tuamu akan datang” ujar Sehun tiba-tiba, membuat kedua mata Luhan membulat.

Mwo?! Are you kidding me, Sehun?” wajah Sehun tampak serius, dan Luhan tahu. Jika Sehun sudah terlihat seperti itu, apa yang dikatakan Sehun akan benar-benar terjadi. “Aku melihat mereka barusan, di gambar yang muncul di otakku. Kau tahu, aku tidak pernah berbohong padamu hyung” Luhan menatap kosong tanah yang dipijaknya. Tidak biasanya, orang tua Luhan—Raja dan Ratu vampir, datang ke pesta rutin yang diadakan oleh keluarga kerajaan. Kedua vampir terkuat itu sangat sibuk dengan segala urusan kerajaan, sehingga mereka hampir tidak pernah datang ke pesta seperti ini lagi. Kecuali, ada sesuatu yang sangat mendesak yang membuat mereka berdua menyisihkan waktu mereka untuk datang ke acara seperti ini.

Luhan menggigit bibir bawahnya, merasa tidak tenang dengan kedatangan kedua orang tuanya. Instingnya mengatakan bahwa kedatangan Raja dan Ratu vampir itu ada hubungannya dengan dirinya, dan D.O.

 

 

“Ck, playboy, sweet talker” Hanna berceletuk begitu matanya tak sengaja melihat Luhan yang sedang menggoda seorang vampir perempuan bergaun merah. Krystal ikut melirik ke arah Luhan begitu mendengar celetukan Hanna. Krystal menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sepupunya itu. Ia tidak habis pikir, kenapa Luhan menggunakan pheromones miliknya hanya untuk bermain-main seperti itu. Tiba-tiba Kai datang menghampiri Luhan, dan Krystal dan Hanna dapat melihat dengan jelas. Gadis yang tadinya berada di samping Luhan langsung beranjak ke sisi Kai begitu Kai datang. Hanna dan Krystal saling bertatapan, sebuah senyum jenaka muncul di wajah mereka.

“Kau tahu apa yang kupikirkan?” Krystal menganggukkan kepalanya pada Hanna. Membuat keduanya tertawa bersama. ‘Jelas. Pheromones Kai lebih kuat’ ujar Hanna dan Krystal dalam hati mereka.

 

“Kajja, aku sudah memesankan darah khusus untukmu” Krystal mengaitkan lengannya dengan lengan Hanna, menarik gadis berambut coklat itu ke arah meja di taman belakang, yang tak jauh berada dari Lay, Sehun, Baekhyun dan D.O.

“Di mana?” tanya Krystal menghampiri pelayan yang berdiri di samping meja di hadapannya. Pelayan tersebut segera memanggil pelayan lainnya, memberi sinyal untuk segera membawa pesanan khusus milik Krystal. Tak sampai satu menit berlalu, seorang pelayan datang menghampiri Krystal dan Hanna dengan sebuah gelas kaca yang berdiri kokoh di atas nampan yang di bawanya.

Igeo” Krystal menyodorkan gelas yang di bawakan oleh pelayan tadi pada Hanna, yang dengan senang hati diterima oleh Hanna meskipun ekspresi di wajah Hanna sama sekali tidak berubah. Mata Hanna berubah menjadi merah cemerlang, taringnya mulai memanjang. Mata Hanna terpejam begitu merasakan darah berwarna merah itu mengalir di tenggorokkannya, mengikis sedikit demi sedikit rasa haus yang membakar tenggorokkannya. Hanna meminum cairan kental merah itu dengan pelan, tidak ingin melewatkan setiap kenikmatan yang disuguhkan oleh darah yang sangat langka itu. Krystal tersenyum senang melihat wajah Hanna yang tampak lebih cerah dibandingkan tadi pagi.

 

Luhan menggerakkan matanya melihat ke sekelilingnya. Luhan terpaku begitu melihat Hanna yang berada tak jauh darinya, sedang menengguk segelas darah. Wajah Hanna tampak bersinar di mata Luhan. Cara Hanna memejamkan matanya, meneguk cairan kental merah itu ke dalam tenggorokkannya, ekspresi Hanna yang terlihat sangat menikmati setiap teguk darah, semuanya terlihat begitu menarik bagi Luhan. Bibir Hanna yang terlihat memerah karena darah yang diminumnya terlihat begitu menggoda bagi Luhan, membuat Luhan tanpa sadar menggigit bibir bawahnya.

“Luhan! Luhan!” lambaian tangan Lay di depan wajah Luhan membuat lelaki itu sadar dari pesona Hanna. Wajah Luhan memberengut saat menoleh ke arah Lay, membuat Lay memandang bingung ke arahnya.
Wae?” tanya Luhan dingin. Mulut Lay terbuka ingin mengatakan sesuatu, namun tertutup kembali membuat Luhan menggeram.

“Yixi—“ “Orang tuamu—maksudku Raja dan Ratu telah datang” Luhan menegang begitu mendengar ucapan Lay. Luhan menolehkan kepalanya ke arah pintu belakang rumahnya, saat mendengar sumber suara riuh.

 

“Luhan” Luhan membungkukkan badannya di hadapan Raja dan Ratu vampir setelah namanya keluar dari mulut Raja vampir—Mr. Lu.

Ne, abeoji, eomma” Mrs. Lu tersenyum melihat wajah putranya yang sempurna itu. Mrs. Lu menarik Luhan ke dalam pelukannya, membuat wajah Luhan sedikit memerah karena tingkah ibunya itu.

Eomma, geumanhae” Mrs. Lu melepaskan pelukannya, membuat Luhan menghela nafas lega.

“Kyungsoo” Luhan menegang mendengar nama D.O keluar dari mulut ayahnya. ‘Damn. Aku tahu, aku tahu. Instingku selalu benar’ umpat Luhan dalam hati. D.O melirik sekilas ke arah Luhan sebelum membungkukkan badannya di hadapan Mr. Lu, Raja vampir.

Ye, your highness” Mr. lu menepuk pelan pundak Kyungso, sebuah senyum pengertian timbul di wajah vampir berumur lebih dari 1000 tahun itu.

 

“Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu, dan juga Luhan. Mengingat kalian berdua adalah calon penerusku” Mr. Lu tersenyum sekilas pada Luhan, “Kajja”

 

Luhan berjalan mengikuti ayahnya itu dengan berat hati. Ia tahu, cepat atau lambat ia dan D.O akan diberikan sebuah tanggung jawab, yang merupakan awal untuk menjadi raja vampir yang berikutnya. Namun, ia belum siap. Luhan masih belum memiliki keberanian untuk membawa tanggung jawab yang begitu besar di atas pundaknya. Ia berharap D.O dapat menggantikannya untuk menjadi raja berikutnya, namun hal itu seperti mustahil. Pada hari di saat Luhan dan D.O diberitahu bahwa mereka akan menjadi penerus pemimpin para vampir, D.O mengatakan dengan jelas pada Luhan. Ia tidak akan pernah menjadi pemimpin para vampir, karena ia merasa tidak berhak dan tidak mampu. D.O yakin, Luhan adalah pilihan terbaik untuk menjadi raja berikutnya. Namun Luhan sendiri hingga saat ini belum yakin dengan apa yang diyakini oleh D.O.

 

“Kalian tahu bukan, tanggung jawab yang akan kalian tanggung ketika menjadi raja kelak?” Luhan dan D.O menganggukkan kepala mereka dalam diam. Mr. Lu menatap kedua vampir muda di hadapannya dengan seksama. Ia tahu, Luhan dan D.O memiliki peluang yang besar untuk menjadi penerusnya, terutama Luhan. Mereka berdua sama-sama memiliki kemampuan.

“Apakah kalian sudah mendengar tentang kematian beberapa vampir di daerah selatan?”

“Tentu kalian belum tahu” lanjut Mr. Lu begitu melihat ekspresi wajah Luhan dan D.O.

“Kematian apa?” Mr. Lu menghela nafas mendengar pertanyaan Luhan. Mr. Lu kembali ke tempat duduknya, lalu membuka berkas yang berada di atas mejanya.

 

“2 minggu terakhir ini, ditemukan lebih dari 20 vampir yang sudah tidak bernyawa. Tidak ditemukan bekas luka sama sekali di tubuh mereka, tapi jantung mereka tidak ditemukan di dalam tubuh mereka” Mata Luhan dan D.O membulat mendengar penuturan Mr. Lu.

“Bagaimana bisa?” celetuk D.O masih dengan matanya yang membulat. Mr. Lu menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya.

“Ntahlah. Oleh karena itu aku ingin kalian berdua menyelidiki kasus ini. Diperkirakan, pelaku kasus ini sedang menuju ke Seoul. Beberapa mata-mata kita menemukan jejak mereka, namun mata-mata kita tidak dapat menemukan ‘apa’ sebenarnya pelaku kejahatan ini.” Mr. Lu bangkit dari tempat duduknya, beranjak ke tengah-tengah Luhan dan D.O.

“Aku harap kalian berdua dapat memecahkan masalah ini secepatnya. Aku percaya pada kalian” ujar Mr. Lu menepuk pundak kedua vampir muda tersebut. Sunyi memenuhi ruangan itu untuk beberapa saat. D.O dan Luhan sibuk dengan pikirannya masing-masing, sampai mereka tidak menyadari bahwa Mr. Lu sudah berdiri di dekat kursinya lagi.

 

“Kyungsoo, bolehkah aku berbicara berdua dengan Luhan?” ujar Mr. Lu tiba-tiba. Kyungsoo tampak sedikit terkejut, namun ia tetap membungkukkan badannya dan melangkah keluar dari ruangan Mr. Lu. “Ye, Your highness

Mr. Lu kembali lagi duduk di kursinya, begitu D.O sudah menghilang di balik pintu. Mr. Lu menatap putranya itu, Luhan. “Luhan, kau masih belum terikat, bukan?” tanya Mr. Lu langsung to the point. Luhan menatap tak percaya pada ayahnya, ‘Bagaimana bisa abeoji bertanya seperti itu?’ batin Luhan.

“Tentu saja, abeoji. Aku tidak sebodoh itu, melakukan Blood bond ataupun Forced blood bond dengan sembarang gadis” sebuah senyum merekah di wajah Mr. Lu mendengar jawaban Luhan.

“Aku percaya kau bisa memecahkan masalah ini. Instingku mengatakan kau akan menjadi pemimpin vampir terhebat di sepanjang sejarah. Jangan kecewakan aku, Luhan” Luhan menganggukkan kepalanya ragu. ‘Ya, semoga saja abeoji. Aku tidak dapat menjamin

 

***

 

 

Hanna tampak sangat pucat hari ini. Beberapa hari telah berlalu semenjak pesta rutin yang diadakan oleh keluarga kerajaan, dan sudah selama itu pula Hanna tidak mendapatkan kebutuhannya. Mr. dan Mrs. Park tengah berada di Paris, mengembangkan bisnis mereka di sana sekaligus mencari persediaan Bombay Blood Type yang dibutuhkan oleh Hanna. Mengingat kedua orang tuanya yang selalu berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan Hanna, membuat perasaan bersalah meresap di hati Hanna. Hanna mengutuk dirinya karena memiliki tubuh yang sangat menyusahkan. Tubuhnya sangat pemilih, dan Hanna tidak suka hal itu karena menyusahkan orang lain.

Hanna menutup pintu loker kayu di hadapannya, lalu berjalan menuju kelasnya dengan beberap buku di dalam pelukkannya. Hari ini Hanna tida bersama Krystal, karena Krystal memiliki beberapa urusan yang harus dilakukannya sebagai anggota keluarga kerajaan. Tenggorokkan Hanna terasa begitu panas karena rasa haus yang terus membakarnya.

 

Hanna menghela nafas ketika duduk di bangkunya. Ia baru ingat bahwa kelas hari ini adalah praktek penggolongan darah. Hal itu sebenarnya tidak menganggu Hanna, namun sekelas dengan gerombolan Luhan benar-benar menganggunya, dan Hanna tidak punya teman berbicara selain Krystal. ‘Betapa sialnya hari ini’ umpat Hanna dalam hati.

Hanna menatap ke arah jendela yang berada di samping kanannya, tidak memperhatikan Kim Seongsaengnim yang sudah berada di depan kelas dan menjelaskan tentang praktikum penggolongan darah tersebut. Hanna larut dalam dunianya sendiri, hingga tak menyadari Luhan yang sudah duduk di sebelahnya. Luhan terlihat menyedihkan dengan rambut yang tak beraturan dan wajahnya yang kusut. Akhir-akhir ini otak Luhan dipenuhi dengan kasus yang diberikan oleh ayahnya, membuatnya tidak mendapat istirahat dengan benar—meskipun vampir tidak memerlukan istirahat sebanyak manusia—sehingga membuat vampir muda itu tampak kusut dan pemarah. Dan, kini Luhan harus berpasangan dengan Hanna untuk praktikum penggolongan darah. Luhan mengutuk Kim Seongsaengnim di dalam hatinya begitu mendengar pembagian partner untuk praktikum. Hal ini membuat Luhan semakin stress, karena Luhan harus menahan mati-matian pheromones yang keluar secara natural dari tubuh Hanna. Pheromones Hanna ntah kenapa memiliki efek yang cukup kuat terhadap Luhan, seperti menarik Luhan untuk terus mencari-cari pheromones Hanna, seperti candu.

 

“Yah” Mata Hanna berkedip mendengar suara berat di sampingnya. Hanna menolehkan kepalanya ke samping, dan bertemu dengan wajah Luhan. Hanna menggeram kecil melihat Luhan yang kini duduk di sebelahnya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Praktikum penggolongan darah, ingat?”

“Lalu?”

“Kita partner” Luhan mengangkat kedua bahunya malas. Dahi Hanna berkerut mendengar ucapan Luhan. ‘Great, another shit for today’ rutuk Hanna dalam hati. Alat-alat untuk praktikum telah tertata rapi di atas meja Luhan dan Hanna, membuat mereka berdua tak perlu beranjak dari tempat duduk mereka hanya untuk menyiapkan keperluan praktikum.

 

“Tanganmu, Hanna Park” Hanna sedikit terkejut mendengar Luhan menyebut namanya.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Hanna. Sebuah seringai muncul di wajah Luhan, “Tentu. Apa yang tidak kuketahui?” ‘Kecuali pelaku di balik kasus kematian vampir akhir-akhir ini yang sangat janggal’ tambah Luhan dalam hatinya. Hanna memutar kedua bolanya malas mendengar ucapan Luhan. Ingin rasanya Hanna menendang Luhan jauh hingga ke ujung dunia—jika bisa, namun kondisi tubuhnya benar-benar lemah. Ia membutuhkan darah, secepat mungkin.

“Yah, kemarikan tanganmu” suara Luhan terdengar begitu samar di telinga Hanna, bahkan hampir tidak terdengar. Tiba-tiba Hanna merasa kepalanya sangat sakit, dan panas di tenggorokkannya semakin menjadi-jadi. Seluruh anggota tubuh Hanna terasa begitu lemas dan tak berdaya. Kulit Hanna kini benar-benar putih pucat, seperti mayat yang sudah kaku.

Alis Luhan bertaut melihat Hanna yang tampak aneh. Karena Hanna tak merespon ucapannya, Luhan menyenggol lengan Hanna, namun Hanna tetap tidak bergeming.

“Baiklah, aku akan menyelesaikan milikku terlebih dahulu” sebuah silet melayang ke arah jari telunjuk kiri Luhan. Luhan menggunakan kemampuan telekinesis miliknya untuk menyilet telunjuknya. Darah mulai keluar dari telunjuk Luhan setelah silet tadi menyobek permukaan kulit Luhan. Luhan meneteskan darahnya ke dalam botol kecil yang digunakan untuk menampung darah.

“Sekarang gi—“ ucapan Luhan terhenti saat melihat mata Hanna yang berkilat merah menatap ke arahnya. Luhan dapat melihat dengan jelas rasa haus yang membara di mata Hanna. Taring Hanna mulai terlihat dan mata Hanna sudah berwarna merah cemerlang, siap menerkam Luhan.

‘Crap!’ rutuk Luhan dalam hati, menyadari dirinya dan Hanna berada dalam bahaya.

 

 

A.N. : Otteeeee?? Ntah kenapa aku ngerasa alurnya cepet banget, iya ga sih? hft. Soalnya aku ga mau bikin ff ini terlalu panjang, jadi maaf kalo alurnya kecepetan T^T

112 responses to “TARGET 1

  1. hahahahahahaha
    hana secara natural juga bakalan bloon bond ini wkwkwkwkwk
    nice. gak kecepetan kok
    ini udah oke 🙂

  2. Usia ayah luhan udah 1000 tahun? 0.0
    Gimana dgn usia luhan dan yang lainnya ni.. Udah 500 thn ✗ ya..
    Ternyata pheromones kai dan hanna kuat bgt ya.. Sampai2 luhan kalah.. 😀
    Tapi gitu kai dan hanna bertemu pheromones sapa yg lbh kuat ya? 😀
    Wah.. Hanna yg bisa mengendalikan diri ni kyknya..
    Kira2 ketauan gak ya?
    Next chap dulu.. 😀

  3. wah.. apa luhan darah typo bombay blood?? apa mata hanna kayak gitu karena mereka lagi praktikum??
    ini ffnya seru thor ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s