Gamer in Love [part 2]

gamer-in-love cover

AUTHOR: Avyhehe / Avy

LEGTH: Sequel

GENRE: Romance/Friendship

RATED: PG-13

Tokoh: Lee Eunhae (OC), Kim Kibum (SHINee), Kris (EXO)

others: Choi Minho (SHINee), Na Junseo (OC)

Disclaimer: Mine.

A/N: Sebenernya hari ini part 3 mo saya selesein, tp kemarin file nya kesimpen di akun wp temen dan gak tau passwordnya, yoloh… kayaknya part 3 nya di pub 2 hari lagi T-T

DON’T BE A SILENT READERS, PLEASE

avy present

~Gamer in Love~

tambahan:

Imagebuat yang ngga tau mukanya Kris, kira2 gini loh, penampilannya di FF ini. serem ya mukanya? cocok jadi guru killer, tapi ganteng. *mimisan*

Eunhae menatap lurus pada jam tangan yang melingkari pergelangan kirinya. Pukul dua siang. Dia mengawasi keadaan sekitarnya. Sepi. Sekarang memang bukan jam pulang sekolah, namun karena tadi pagi ada pengumuman salah satu gurunya yang meninggal, seluruh murid dipulangkan pagi. Eunhae menarik nafas lega, untung saja guru yang meninggal itu bukan Kris seonsaeng. Meskipun Kris seonsang guru yang menyebalkan dan suka marah-marah, dia adalah guru yang asyik dan cepat bergaul. Mungkin karena umurnya yang masih muda, sekitar 22 tahun. Hanya berbeda 5 tahun dengannya.

“Annyeong!!” teriak seseorang dari kejauhan. Eunhae menyipitkan mata untuk melihat sosok yang tengah menaiki sepeda kayuh itu dan…

“Kris seonsaeng!!” Eunhae melambaikan tangannya. Kris balas melambai lalu menghampiri muridnya yang tengah berdiri di halte sendirian. Setelah menyandarkan sepedanya di tembok terdekat, guru muda itu menghampiri muridnya dan berdiri di sebelahnya.

“Kau sendirian? Mana Junseo?” Tanya Kris heran. Tidak biasanya Eunhae yang lengket dengan Junseo seperti amplop dan perangko ini menunggu di halte seorang diri.

“Oh, dia ikut teman sekelas melayat guru yang baru meninggal itu. Siapa namanya? Lee Junsoo seonsaengnim?”

Lee Jungsu,” ralat Kris.

“Oh,”

Eunhae teringat pada sosok Lee Jungsu seonsaengnim. Dia adalah guru yang murah senyum. Meskipun Eunhae tidak kenal dekat dan tidak pernah diajar olehnya, Eunhae ikut bersedih. Lee Jungsu seonsaeng juga termasuk guru yang masih belia, mungkin setahun diatas Kris seonsaeng. Beliau meninggal karena serangan jantung. Hal itu sangat disayangkan.

“Kau tidak ikut melayat? Nakal sekali!” omel Kris.

“Hari ini ada hal yang harus kulakukan, sangat mendesak. Lha seonsaeng sendiri bagaimana? Guru-guru kan juga ikut melayat!” Eunhae protes.

Kris menggaruk tengkuknya, “Aku malas. Lagipula aku tak terlalu kenal dengan Lee Jungsu-hyung,”

“Jahat sekali!!” Eunhae reflek memukul lengan Kris. “Ya!! Beraninya kau memukul gurumu yang tampan ini!” omel Kris, dia menjitak kepala muridnya itu. Eunhae menggerutu tidak jelas, membuat Kris tertawa karena wajah sebal Eunhae benar-benar aneh.

Eunhae melupakan sejenak pertengkarannya dengan gurunya dan melongok ke ujung jalan, seperti mencari-cari sesuatu.

“Lama sekali busnya!”  kata gadis itu sambil celingukan.

“Mungkin karena belum jam pulang. Rumahmu dimana?” Tanya Kris.

“Aku tidak langsung pulang, aku ingin mengunjungi Dongdaemun dulu.”

“Oh, mau belanja? Kebetulan aku juga ingin mengunjungi toko buku! Kenapa kita tak pergi bersama saja?”

Eunhae menatap gurunya aneh. Namun Kris segera meraih tangannya sebelum gadis itu sempat berpikir banyak. Kris menghampiri sepeda kayuhnya, dan menyuruh Eunhae duduk di jok penumpang.

Sepanjang perjalanan, Kris tidak henti-hentinya berbicara. Dia bercerita tentang keluarganya, tentang alasannya memilih pekerjaan sebagai guru, juga bercerita tentang betapa pusingnya dia mengurus murid-muridnya yang nakal. Dia menceritakan bagian itu sambil marah-marah. Eunhae tertawa mendengarkannya. Hari itu langit sangat cerah namun sinar matahari tidak terik, membuat suasananya benar-benar pas untuk bersepeda. Angin sepoi berhembus pelan menerpa rambut Eunhae dan membuatnya berkibar seperti bendera tertiup angin. Kris memejamkan matanya, merasakan sensasi sejuk terpaan angin yang mengenai wajahnya.

Sebersit ide gila terlintas di benaknya. Kris mempercepat kayuhan sepedanya.

“Gyaaaaaaaaaaaaaaa,,,!! Seonsaengnim ! kau ingin membunuh kita!??” Eunhae memekik takut saat merasakan kecepatan mereka bertambah, ditambah terpaan angin yang semakin kuat meniup tubuh mereka.

“HAHAHAHA… ini adalah cara terbaik untuk melepas stress, benar kan Eunhae??”  teriak Kris bahagia. “YUUUHUUUU…!!!”

“Seonsaeng kau gila!!” pekik Eunhae lagi ketika mereka melewati jalan turun yang lumayan curam. Reflek, gadis itu memeluk pinggang Kris dengan kedua tangannya erat-erat dan memejamkan mata.

“Oh,, bagus, berpeganglah yang erat karena jalannya akan terus turun!” Kris menoleh ke arah Eunhae dan entah kenapa hal itu membuat wajah Eunhae merona merah. Gadis itu sadar diri lalu mengendurkan pelukannya.

“AH, Seonsaeng,, awas…!! AAAAAAAAAAAAAAA………..—!!” teriaknya lagi saat sepeda yang dikendarai Kris nyaris menubruk bak sampah di pinggir jalan.

“Yang tadi itu seru sekali!” Kris mengacungkan kepalan tangannya ke atas. Kini kecepatan sepeda yang mereka naiki sudah tidak gila-gilaan lagi karena jalan yang mereka lewati berkontur datar, apalagi pusat perbelanjaan Dongdaemun sudah terlihat di depan mata. Eunhae memukuli punggung Kris. “Huhuhu seonsaeng, kau membuatku menangis! Huhuhu…” gadis itu menitikkan air mata namun wajahnya terlihat bahagia.

“Ah ya, kau mau kemana?” Tanya Kris pada muridnya yang tengah sibuk menghapus air mata.

“Antarkan aku ke Game Center!” teriak Eunhae semangat.

“HAH?! Jadi urusan mendesak yang kau maksud itu ke Game Center?!” Kris menatap muridnya tidak percaya. Eunhae menyeringai nakal. “Kau harus mengantarkanku ke sana karena membuatku menderita sepanjang perjalanan ini!  Oh ya, setahuku Game Center lebih jauh dari toko buku, kenapa kita tidak ke toko buku dulu?”

Kris mengangguk. Dia mempercepat kayuhan sepedanya dan akhirnya mereka tiba di depan toko buku yang bangunannya bernuansa vintage. Kris memarkirkan sepedanya di depan kemudian memasuki toko dengan Eunhae yang mengekor di belakangnya.

Krincinggg… bel kuno yang tergantung diatas pintu berbunyi ketika kedua orang itu memasuki toko tersebut. Penjaga kasir pun tersenyum dan mengucapkan ‘Selamat datang’ pada tamunya.

“Seonsaeng mencari buku apa?” Tanya Eunhae penasaran saat Kris sibuk menelusuri rak-rak yang men-display berbagai macam jenis buku. Merasa capek karena berkeliling terus, Eunhae berhenti di spot khusus komik lalu iseng membaca beberapa buku komik yang segelnya sudah terlepas, namun Kris menjitaknya. “Daripada membaca buku yang tidak penting seperti itu, sini ikut aku!” Kris menarik lengan Eunhae ke rak berisikan buku pelajaran. Gadis itu mengikutinya dengan muka cemberut.

“Ah!” ujar kris saat menemukan buku yang menarik perhatiannya. “Kurasa ini cocok untukmu!” dia mengambil buku bersampul coklat itu dan memberikannya pada Eunhae.

“Apa ini?” Eunhae bingung.

“Ini buku soal yang kau butuhkan untuk persiapan ujianku besok!” Kris mengacungkan jempolnya. Eunhae membelalak, “Untuk apa kau membantuku? Kita kan taruhan!” protesnya tidak percaya.

“Hohoho… bagaimanapun juga aku seorang guru yang ingin muridnya menjadi pintar…” Kris menepuk-nepuk kepala Eunhae. Muridnya itu hanya melongo karena kelakuan gurunya yang nyentrik itu.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengawasi mereka berdua dari balik rak buku. Sepasang mata itu adalah milik seorang pemuda yang mengenakan sweater merah lengkap dengan ‘hoodie’— atau tudungyang  menutupi kepalanya, membuat wajahnya tidak begitu terlihat jelas. Apalagi ditambah dengan sunglass berwarna hitam pekat yang dikenakannya, membuat wajahnya sangat misterius.

“Maaf, kau jadi membelinya?” Tanya salah satu penjaga toko pada pemuda itu.

“Oh, maaf. Aku tidak jadi mengambilnya. Aku membeli buku lain saja.” Ucapnya. Penjaga toko itu mengangguk dan menghampiri pembeli yang lain. Pemuda misterius itu kembali memandangi kedua orang di depannya. Seketika tubuhnya seperti mati rasa saat dilihatnya Kris sedang mengusap pipi gadis di depannya—yang tak lain adalah Eunhae.

Pemuda itu mengeratkan hoodie-nya, menjejalkan buku coklat yang tidak jadi dibelinya ke atas rak secara asal-asalan, kemudian melangkah keluar dari toko buku dengan langkah cepat.

Eunhae memejamkan matanya risih ketika Kris mengusap pipinya yang masih basah karena bekas airmata.

“Kau ini cengeng sekali! Begitu saja menangis!” omel Kris pada anak didiknya.

“Habisnya seonsaeng kejam sekali! Kau ingin membunuhku saat naik sepeda? Lihat ini, air mataku tak kering-kering!” Eunhae mengepalkan tangannya dengan sebal ke arah Kris, teringat insiden naik sepeda kebut-kebutan tadi. Setelah mengelap pipi muridnya sampai kering, Kris menggandeng Eunhae ke kasir dan membayar buku yang diambilnya.

“Pacarmu?” tanya kasir yang ternyata adalah ibu-ibu, “Hohoho… manis sekali, mengingatkanku saat masih muda dulu!”

“Omona… dia guruku, ahjumma!” belum sempat Kris menjelaskan, Eunhae sudah  memprotes duluan.

“Oh, jadi kalian pasangan guru-murid ya?” ahjumma itu terkekeh dan menyerahkan kresek berisi buku beserta kembalian pada Kris.

“Ah sudahlah!” kata Eunhae sebal, dia cepat-cepat keluar toko buku itu. Kris mengikutinya sambil tertawa. “Kenapa kau malah tertawa! Dan lagi, kau terlihat sangat senang!” omel Eunhae.

“Tentu saja aku senang! Dibilang pacaran dengan muridku oleh ahjumma itu, artinya aku masih terlihat muda!” Kris menghampiri sepedanya sambil senyum-senyum sendiri. Merasa aneh, dia menoleh ke arah Eunhae yang masih berdiri terpaku di depan toko.

“Ya! Cepatlah! Sedang apa kau? Hari sudah semakin sore!” Kris berteriak memanggil Eunhae, lalu kaget saat melihat ekspresi aneh di wajah muridnya. “Kenapa wajahmu merah? Kau kedinginan?”

Eunhae menggeleng tanpa suara. Dia menaiki jok belakang dan berpegangan pada pinggang Kris yang mulai mengayuh sepedanya. Langit sudah mulai menampakkan semburat kuningnya, pertanda hari semakin beranjak sore. Mereka bersepeda dalam diam. Entah kenapa Eunhae ingin sekali diam saat itu.

Tiba-tiba Kris menggenggam tangan Eunhae dan mengeratkan tangan Eunhae ke pinggangnya, membuat gadis itu kaget. Kris tersenyum. “Baru kali ini aku merasa sesenang ini berbelanja di Dongdaemun!” gumam Kris bahagia. Entah ada perasaan aneh berdesir di dadanya, bukan hanya sekedar bahagia. Tidak, lebih dari itu.

“Seonsaeng, kau kelewatan!” teriak Eunhae sambil memukul-mukul pundak Kris, menyuruhnya berhenti. Bangunan Game Center sudah 10 meter di belakang mereka. Kris pun memutar balik sepedanya dan menghentikannya di depan bangunan yang dimaksud.

“Mianhae, aku terlalu senang.” kata Kris jujur.

“Bilang saja kau tidak tahu tempatnya!” Eunhae marah-marah. Mereka berdua memasuki toko tersebut dan Eunhae menghampiri rak-rak yang berisi DVD game new release. Tempat itu kontras sekali dengan toko buku yang baru mereka kunjungi. Suasananya sangat ramai dan dipenuhi anak muda, juga di setiap sudut toko dipasangi lampu neon warna-warni yang mengeluarkan cahaya kelap-kelip seperti bintang.

“Wow, tempat ini seperti diskotek,” komentar Kris takjub. Eunhae tidak menggubrisnya dan mengambil beberapa DVD yang menarik perhatiannya kemudian membawanya ke kasir. Setelah membayarnya, mereka berdua keluar dari toko dengan perasaan puas—yang puas adalah Eunhae, maaf.

“Kemana kita sekarang?” Tanya Kris saat mereka berdua sudah berada di atas sepeda. “Pulang?”

Eunhae mengernyit dan mencoba mengingat-ingat. Astaga! Harusnya jam empat sore dia sudah berada di rumah Kibum karena hari ini adalah jadwal les-nya. Gadis itu melirik jam tangannya dan sekarang sudah pukul lima sore. Waktu berlalu begitu cepat.

“Antarkan aku ke rumah Kibum!” Sahut gadis itu panik. Kris kaget. “Mau apa kau ke rumah Kibum? Ini sudah mau malam! Anak gadis tidak baik main ke rumah anak laki-laki malam-malam!” omelnya.

“Aku kesana untuk belajar, ini juga karena taruhan yang dibuat seonsaeng ‘kan!” kata Eunhae. Kris melongo sejenak, namun kemudian dia mengayuh sepedanya tanpa banyak bicara. Untung saja rumah Kibum berada tidak jauh dari Dongdaemun, tempat mereka berbelanja.

“Benar ini rumahnya? Kalau tidak salah dulu aku pernah menjemputnya menjelang perlombaan catur, tapi aku sudah lupa.” Kata Kris sambil mengamati rumah unik Kibum yang seperti-diatas-bukit setibanya mereka di sana.

“Benar! Ini rumahnya! Jeongmal gomawoyo seonsaeng,” Eunhae turun dari sepeda dan membungkukkan badannya ke arah Kris. Guru itu tersenyum.

“Lain kali pulanglah bersamaku, ternyata asyik juga ditemani saat bersepeda!” Kris tersenyum tulus, membuat semburat merah kembali muncul di wajah Eunhae. Untung saat itu langit sudah mulai gelap. Sepeninggal Kris, Eunhae berjalan ke gerbang rumah Kibum sambil melamun. Dia masih membayangkan senyuman Kris sesaat sebelum mereka berpisah.

Astaga, ternyata Kris seonsaeng tampan juga! Pikir Eunhae. Gadis itu baru saja mengulurkan tangan untuk memencet bel di sebelah gerbang, namun gerbang itu langsung terbuka. Memperlihatkan sesosok manusia berpakaian hitam menjulang tinggi di baliknya, yang seperti sudah menunggunya bertahun-tahun.

“KYAAAAAAAA…!!!” Eunhae menjerit dan menjatuhkan belanjaannya. Sosok itu memungut belanjaan Eunhae yang terjatuh dan menyodorkannya ke gadis itu.

“YA!! Apa-apaan kau ini!!” bentak sosok itu. Ternyata itu adalah Kibum, yang mengenakan kaos hitam dan celana hitam, dengan sandal berwarna hitam juga. Dia mendorong Eunhae masuk lalu menutup gerbang rumahnya.

Eunhae mendengus. “Kau membuatku kaget saja! Gelap-gelap begini memakai baju hitam-hitam!”

“Aku habis melayat Jungsoo seongsaenim, wajar saja memakai baju serbahitam!” kata Kibum asal. “Kau lama sekali! aku mengunggumu dari tadi!” pemuda itu berjalan menaiki tangga halaman dan membuka pintu rumahnya.

“Kau… menungguku?” Eunhae memasang wajah tidak percaya.

“Oh, aku salah bicara! Abaikan saja!” Kibum mengutuk dirinya sendiri karena keceplosan. Dia menyalakan lampu ruang tamu dan merapikan bantal-bantal di atas sofa, kemudian meloyor masuk ke kamarnya tanpa mempersilahkan Eunhae masuk ke rumahnya terlebih dahulu.

“Huh, dia mengabaikanku lagi.” Eunhae menggerutu dan mendudukkan pantatnya di sofa empuk ruang tamu. Dia menyadari sebuah kresek belanjaan teronggok di atas meja tamu dan mengamatinya. Sepertinya Kibum baru saja keluar untuk belanja.

‘Apa ini?’ pikir Eunhae penasaran. Dia mengintip isi kresek itu yang ternyata berisi sebuah notes imut berwarna pink dengan gambar teddy bear di sampulnya. “Oh! Tak kusangka selera Kibum begitu feminim!” gadis itu berkomentar seenaknya. Setelah puas mengetahui isi kresek tersebut, Eunhae mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian rumah Kibum. Terutama ruang keluarga yang berhubungan langsung dengan ruang tamu yang ditempatinya saat ini. Gadis itu tertarik pada sebuah foto keluarga yang tergantung di tengah-tengah ruang keluarga, menampakkan seorang suami istri yang tersenyum bahagia dengan dua anak lelaki yang ikut berfoto di tengah-tengah mereka. Kedua anak lelaki yang terlihat seumuran, dengan wajah tampan yang tertawa bahagia, membuat mata mereka yang aslinya sudah sipit tampak seperti garis.

Kibum kembali dari dapur dengan secangkir teh hangat di tangannya, kemudian meletakkannya di meja tamu. Eunhae masih sibuk memperhatikan foto yang tergantung di ruang keluarga.

“Kau sedang melihat apa?!” bentakan Kibum menyadarkan Eunhae dari kesibukannya. “Aku sudah susah-susah membawakanmu minum tapi kau malah bengong sendiri!”

Muka Eunhae berubah cemberut, “Oh, kukira kau akan meminumnya sendiri seperti kemarin.” Gadis itu meraih cangkir berisi teh yang tergeletak diatas meja.

“Ya sudah kalau tidak mau!” Kibum merebut cangkir di tangan Eunhae dan hendak meminumnya. Melihat muka Eunhae yang melotot mengerikan, Kibum pun tertawa dan menyodorkannya kembali pada Eunhae. “Ini!”

Gadis itu meneguk teh buatan Kibum dengan perasaan sebal, tapi rasa sebalnya menghilang saat menyadari teh yang diminumnya itu terasa sangat enak. “Teh apa ini? Enak sekali! ada rasa susunya!”

“Itu memang teh susu, pabbo!” Kibum melongo tidak percaya, ”Aku belajar membuatnya di Hong-Kong saat keluargaku tinggal di sana!”

Eunhae memasang muka takjub, “Kau pernah tinggal di Hong-Kong?”

“Er—yah, tidak lama,” respon Kibum singkat, seakan tak ingin mengingat-ingat hal itu.

“Ah ya, Kibum! Itu fotomu kan!” Eunhae menunjuk ke arah foto keluarga yang sedari tadi diamatinya, ditengah kesibukannya menyeruput teh. “Tunggu, kenapa di foto itu kau ada dua? Memangnya yang satu lagi itu siapa? Mirip sekali!” Muka Kibum  langsung berubah pucat. Eunhae yang menyadari perubahan air muka pemuda dihadapannya langsung menutup mulutnya rapat-rapat. “Ups, maaf… aku tak bermaksud—”

“Tidak apa-apa,” timpal Kibum. “Yang di sebelahku itu adalah saudara kembarku, Kim Kiseop. Dia meninggal karena kecelakaan saat di Hong-Kong dulu.”

“Ah, aku—” Eunhae merasa menyesal. Namun sepertinya Kibum butuh tempat bercerita. Dia bangkit dan duduk di sebelah Kibum, mencoba  mendengarkan ceritanya dengan seksama. “Kalau kau ingin cerita, cerita saja,”

“Kau ini ingin menghiburku atau ingin tahu?” Kibum tersenyum kecut ke arah gadis itu. Eunhae meringis.

“Dulu, dulu sekali, saat aku masih berumur 12 tahun, kami sempat tinggal di Hong-Kong karena ayahku CEO perusahaan elektronik yang sering keluar negeri. Di sana aku dan Kiseop bersekolah selama 2 tahun di sekolah swasta. Aku dan dia sangat dekat,” dahi Kibum mengernyit, berusaha mengingat-ingat.

“Meskipun aku dan Kiseop kembar, tapi kami sangat berbeda. Aku dilahirkan sehat dan dianugerahi otak yang jenius oleh Tuhan, tapi Kiseop berbeda. Dia memiliki kelainan di jantung dan di otaknya. Sehingga dia susah melakukan hal-hal yang berat dan berpikir berat-berat, dia harus banyak istirahat…”

“… sampai suatu ketika,” Kibum menghembuskan nafasnya sedih, “Saat kami berdua sedang bermain sepak bola di lapangan sekolah, teman-teman satu tim kami mengolok-olok Kiseop karena larinya lambat dan dia tidak bisa menendang dengan benar. Kiseop sangat sedih dan menyendiri sampai jam pulang sekolah, dia tidak berkata sepatah katapun padaku. Aku marah dan berkelahi dengan anak-anak yang menghinanya sepulang sekolah. Setelah aku puas berkelahi, aku menghampiri Kiseop di kelas untuk mengajaknya pulang bersama namun dia tidak ada. Kemudian aku mendengar teriakan seorang guru dari arah depan sekolah dan kulihat Kiseop tergeletak berlumuran darah di jalan raya…” Kibum mulai meneteskan air matanya saat menceritakan bagian itu. Aku pun juga ikut menangis, tak tahu kenapa. Kurangkul pundak Kibum erat-erat.

“… sepertinya saat itu dia mencari-cariku untuk mengajakku pulang, namun dia tidak menemukanku dan berniat untuk pulang sendirian. Sebelum menyebrang jalan, dia sempat mendengar beberapa anak mengolok-oloknya, dan itu membuat konsentrasinya hilang sehingga Kiseop tidak melihat truk yang melaju kencang disebelahnya… dan dia tertabrak…” kata-kata Kibum tersendat, sekelebat memori pada detik-detik terakhir saudara kembarnya terputar jelas di otaknya.

“Kibum, maafkan kami,” kata anak-anak yang mengejek Kiseop persis sebelum dia tertabrak.

“Pergi kalian!! Aku tak akan memaafkan kalian!!”  Kibum berteriak marah sambil merangkul Kiseop yang teronggok di tengah jalan berlumuran darah. Anak laki-laki itu mengeratkan dekapannya pada kembarannya yang sekarat sambil berurai air mata. Kiseop mengusap wajah Kibum dengan tangannya yang berdarah, menyisakan bekas darah di pipi Kibum.

“Ki…Bum… maaf—maafkan aku…” gumam Kiseop dengan nada bergetar.

“Bertahanlah sebentar lagi! Appa dan umma akan segera datang membawa ambulan!” Kibum berteriak putus asa. Kiseop menggeleng.

“Aku… adalah bagian tubuhmu yang tidak sempurna, Kibum… seharusnya yang lahir itu hanya kau… entah kenapa tubuhmu jadi terbagi dua seperti ini…”

“Aku tak mengerti yang kau bicarakan! Jangan bicara hal yang tak penting!” teriak Kibum.

“Ini kenyataan, Kibum. Aku ingin sekali sepertimu. Aku ingin jadi anak yang jenius, kuat , baik, tampan dan disukai banyak orang sepertimu… aku lebih bahagia kalau kita berada di satu tubuh yang sama. Bukan terbagi dua…”

“Kau jangan melantur! Bagiku kau adalah bagian dariku, tapi kau adalah individu yang lain!”

Kiseop tersenyum mendengar omelan Kibum. “Ya, aku bahagia menjadi kembaranmu. Maafkan aku yang tidak bisa menemanimu sampai dewasa nanti, Kibum… aku terlalu lemah… tapi aku akan tetap disini…” Kiseop memegang dada Kibum dengan tangan gemetaran, lalu dia memejamkan matanya dan tersenyum.

“YA!!! Jangan bercanda!” Kibum mengguncang-guncang tubuh Kiseop yang sudah tak bernyawa, “ Aku tahu kau bercanda! Kau tersenyum! Jangan mempermainkanku!” katanya putus asa sambil menangis keras-keras. Orang-orang di sekelilingnya memandang iba pada Kibum yang tak juga bergeming dari sisi kembarannya, di tengah jalan. Hingga orangtua Kibum datang dan membawa kedua anak mereka masuk ke ambulan, meskipun mereka tahu—Kiseop sudah tidak tertolong.

“HUWEEEEEEEEEEEEE…” Eunhae menangis keras mendengar kisah Kibum dan kembarannya yang begitu miris. Kibum menepuk-nepuk pundak gadis itu dan menenangkannya.

“Tunggu! Seharusnya aku yang menghiburmu!” Eunhae balas menepuk pundak Kibum. Pemuda itu mendengus, “Kau sendiri yang menangis keras-keras! Mana mungkin aku membiarkanmu!” katanya, membuat Eunhae jadi malu sendiri. Tanpa terasa langit sudah gelap sempurna dan bintang-bintang terlihat jelas di langit malam. Bunyi jangkrik memecah kesunyian di rumah Kibum yang luas namun sepi itu.

“HAHH!! Sudah selarut ini?” Eunhae melirik arlojinya yang menunjukkan pukul delapan malam. “Bahkan aku belum belajar apapun! Kau sih, ceritanya lama!” gadis itu malah memarahi Kibum.

“Yang membuatku cerita juga siapa!” balas Kibum tidak terima.

“Hehehe… ya sudah, aku pulang dulu ya. Kalau kau sedang sedih kau bisa cerita lagi padaku.” Eunhae membereskan tasnya dan pamit pada Kibum.

“Tunggu—!” Kibum menahan pergelangan gadis itu. Dia meraih tas kresek berisi notes bergambar teddy bear dan memberikannya pada Eunhae, “Ini untukmu. Sebenarnya aku ingin membelikanmu buku latihan soal tapi sepertinya kau sudah membelinya.” Kibum melirik kresek belanjaan yang dibawa Eunhae, “Gunakan notes ini untuk menghitung soal-soal yang kau kerjakan, mengerjakan soal mat lebih mudah di atas kertas daripada di angan-angan!”

Gadis itu melongo. Ternyata notes lucu itu untuk dirinya. Eunhae tersenyum dan menerimanya, lalu beranjak pergi. Namun Kibum menahan tangannya lagi, lalu menggandengnya. Hal itu membuat Eunhae syok.

“Apa lagi?” tanyanya heran.

“Ini sudah malam, akan kuantar,” kata Kibum cepat karena malu.

“Oh, kau baik sekali!” Eunhae tercengang.

“Tapi jalan kaki saja! Aku malas mengeluarkan motorku!”

“Tidak apa-apa.”

Kedua remaja itu melangkah keluar dari gerbang rumah Kibum, menyusuri jalan sepi perumahan dengan langkah yang konstan.

“HATCHOO…”  Eunhae menggigil kedinginan karena dia masih mengenakan seragam sekolah—yang memang tak terlalu hangat itu. Kibum mengeratkan genggamannya pada tangan Eunhae.

“Sudah hangat?” tanyanya.

Eunhae seperti tersedak ludahnya sendiri. Dia jadi salah tingkah. “Oh—yah—, sedikit lebih baik,” katanya canggung. Mereka terus berjalan sekitar satu kilometer, dan akhirnya tiba di depan rumah Eunhae.

“Aku tak tahu kalau rumahmu dekat juga,” komentar Kibum setibanya disana. Eunhae juga heran. Dia tidak pernah memperhatikan hal ini.

“Kalau kau mau kau boleh main ke rumahku.” tawar Eunhae.

“Aku tak mau, rumahmu kecil!” tolak Kibum.

“Kau sombong sekali!”

“Hahaha… maaf, hanya bercanda,”

Eunhae memasuki rumahnya dengan wajah sebal. Dia mengusir Kibum yang masih berdiri di depan rumahnya. “Cepat pulang sana! Kau mengganggu pemandangan!”

“Oh, begitu caramu memperlakukan orang yang mengantarmu?” Kibum pura-pura marah. “OK! Jangan lupa besok ke rumahku sepulang sekolah dan jangan terlambat!” pemuda itu pun berbalik pergi lalu menghilang di balik tikungan dekat rumah Eunhae.

Eunhae memandangi sosok Kibum sampai dia mengilang di balik tikungan. Ada sebersit rasa kecewa juga melihat pemuda itu meninggalkannya secepat ini. Gadis itu lalu memandang tangan kanannya yang masih terasa hangat. Bekas genggaman Kibum.

“AH! Apa sih yang kupikirkan!” Eunhae menggeleng-gelengkan kepalanya dan bergegas memasuki pintu rumahnya.

______________

To Be Continued

______________

A/N:

yah, entah kenapa, kris-si-guru-menyebalkan jadi sering nampang di part ini. mungkinkah ini pertanda kalo kris bakal eksis (?)

eniwey, sori kalo part ini jadi aneh. dan ceritanya kok jadi panjang ya, argghh… rencananya twoshot, tapi ya sutralah… kalau memang nasibnya jadi cerita bersambung kayak cinta fitri gini mau diapain lagi TAT

Advertisements

28 responses to “Gamer in Love [part 2]

  1. Uuuuulala…,kibum3x,kris3x ayoo dipilih2!*angkatduamakhlukanehini*
    Hahahhahah… Saeng,oraenmaneyo artinya lama tak jumpa.Suwi ora ketemu jamu godong telo! Wkwkwkwkwk…
    Oia,jadi ceritanya dua makhluk ini diam2 suka sama Enhae kah?!
    Napa gag sama aq aja?!*hahahabaikan#
    Itu kenapa bisa part ke 3nya di WP orng?!
    Wah kasus, yawislah tak enteni yooo vy… 😀

    • wkwkkwk makhluk aneh yang ngganteng pastinya u.u
      owalaaah hehehe… iya oraenmaneyo jg eon… huhuh… trnyata mba ayu msih idup jg… hbis org yg dulu udah pada kabur T.T
      wah ngga tau ya klo itu… tanya langsung aja ke authornya eon… /plak/
      ho oh, pas itu aku ngetiknya di rumah temen, langsung di wp. eh nggataunya akun temenku belom di logout, lupa ganti akun gitu intinya
      iyo mbakk hehe 😀

  2. Pingback: Gamer in Love [part 3] [END] | FFindo·

  3. Kris… Guru gawl wooh masa ada guru lain yg meninggal dia ga melawat gara2 alesan kurang deket. Dasar xD
    Aah jangan-jangan yg make hoodie itu yg pas di toko buku si Key lagi Hmnnn :/

  4. Waduh ini eunhae kudu milih bukan antara kris atau kibum ? Eit enak amat dikelilingin cowok-cowok tampan huahaha xD

  5. Aigoo eunhae beruntung banget sih, punya guru kaya kris. Tapi, kalo menurut aku yg pantes jadi guru nyentrik kaya gitu.tuh jaejoong heehe

  6. itu yg pake jaket mrah kibum? kok tau kalo eunhae beli buku latihan mtk?? o.O
    ciyee si guru menyukai murid… hehehehe..
    daebak~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s