TARGET 2

TARGET locked 2

Target

|| hgks11’s storyline ©2013 ||

|| Lu Han, Hanna Park || Supernatural, Fantasy, Romance ||

 || PG 15-17 || Series ||

 

IntroPart 1 – Part 2

 

Dictionary :

Bimil—rahasia

Isanghae—aneh

Butaghaetake care                           

Naneun dangsin-eul midgoiss-eo—aku mengandalkanmu

Sachon—sepupu

Butag deulyeoyo—aku mohon padamu

 

 

Author’s POV

 

 

Luhan menepuk Kai yang duduk di depannya, memberi sinyal pada Kai untuk meneleportasikan ia dan Hanna sekarang juga. Kai memandang bingung pada Luhan, namun ia segera menganggukkan kepalanya begitu melihat Hanna yang sudah siap menerkam siapapun.

“Kau berhutang padaku, Luhan” ujar Kai sambil menyeringai begitu ia, Luhan dan Hanna sudah berada di dalam kamar Luhan. Luhan tidak menghiraukan ucapan Kai dan segera menggunakan kemampuan telekinesisnya untuk membawa sebuah kantung darah ke arahnya. Luhan membuka bagian atas kantung berisi golongan darah A itu, meminumkannya pada Hanna.

“Yah!” Luhan memekik begitu Hanna langsung memuntahkan darah itu. Tubuh Hanna bergetar hebat, membuat Luhan semakin bingung apa yang harus dilakukannya.

‘Apa mungkin..’ Luhan mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Hanna tidak bereaksi sama sekali ketika gadis berdarah AB– di dekatnya berdarah. Dan saat praktikum tadi—sebelum Luhan menyilet telunjuknya, Hanna juga tidak bereaksi sama sekali. Padahal aroma darah telah memenuhi udara di ruang kelas, sampai Luhan harus menahan nafasnya.

Luhan menatap Hanna untuk beberapa saat, berusaha mencerna informasi yang berada di otaknya. ‘Hanna hanya akan bereaksi terhadap beberapa jenis golongan darah’ kesimpulan itu menari-nari di benak Luhan. Luhan ingin membantu Hanna, namun jika kesimpulannya benar, maka Luhan harus memberika darahnya pada Hanna. Namun hal itu bisa berujung pada Blood Bond.

 

Igeo” Akhirnya Luhan menyobek kulit di pergelangan tangannya dengan taringnya, membuat darah mengalir keluar. Hanna langsung menarik pergelangan tangan Luhan ke dalam mulutnya.

“Ahh” Luhan menggeram kecil merasakan taring Hanna yang menyedot darahnya rakus. Luhan merasa ada sesuatu di dalam dirinya yang juga menginginkan darah Hanna, mendorongnya untuk menggit leher jenjang Hanna yang tersuguh di depannya. Luhan menelan ludah, menahan hasrat yang berada di dalam dirinya.

“Cukup” Luhan menarik paksa pergelangan tangannya dari Hanna, lalu beranjak keluar dari kamarnya. Meninggalkan Hanna yang masih terlalu dikuasai oleh rasa hausnya.

Tubuh Luhan merosot di dinding sebelah pintu kamarnya. Luka di pergelang tangan Luhan perlahan-lahan mulai menutup hingga meninggalkan beberapa goresan yang akan hilang beberapa menit kemudian.

Shit. Jika aku tidak bisa menahan hasratku, maka aku dan Hanna akan terikat dalam Blood Bond” gumam Luhan helpless.

 

***

 

 

“Eunghh” menggeram kecil ketika matanya mulai terbuka perlahan-lahan, menyesuaikan penglihatannya dengan jumlah cahaya yang menerobos korneanya.

“Arghh” Hanna memegang kepalanya yang terasa sedikit sakit saat ia mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Mata Hanna membulat begitu menyadari bahwa ia berada di sebuah kamar yang tidak dikenalnya.

Krieett…

 

Hanna menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara pintu yang berderit terbuka. Hanna menatap horror ke arah Luhan yang kini berdiri di ambang pintu. Sebuah seringai muncul di wajah Luhan, membuat wajah pucat Hanna semakin pucat.

“Apa yang kau lakukan?” Hanna berusaha sebaik mungkin menyembunyikan rasa tidak aman yang menyelimutinya.

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Ms. Park?” sepersekian detik, Luhan sudah berada di samping Hanna, menggelitik telinga Hanna dengan suaranya yang bergetar. Adrenaline di dalam tubuh Hanna terpacu karena ulah Luhan, membuat telinga Hanna sedikit memerah.

“Ini kamarku” Luhan menjauhkan bibirnya dari telinga Hanna dan membuka jendela yang terletak tak jauh dari tempat tidurnya. Angin semilir menerpa wajahnya, memainkan rambut merah di kepala Luhan. Hanna menatap kasur yang berada di bawahnya dengan tatapan kosong.

“Bagaimana.. bisa?” Hanna menolehkan kepalanya ke arah Luhan, menuntut penjelasan dari Luhan. Luhan tersenyum pervert pada Hanna, membuat tubuh Hanna menegang.

 

“Tidak mungkin..” kedua tangan Hanna menyilang di depan tubuhnya. Hanna menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran yang berada di benaknya. Luhan mendecakkan lidahnya melihat tingkah Hanna, membuat gadis itu menatap tajam ke arah Luhan. “Seperti aku tertarik padamu saja. Badan seperti triplek seperti itu” jleb. Ekspresi wajah Luhan sangat datar dan mencemooh saat mengatakan hal itu, membuat darah Hanna mendidih.

Dammit Luhan” Luhan tersenyum polos mendengar rutukan Hanna, membuat amarah Hanna semakin memuncak. Hanna menghela nafas, mencoba menenangkan emosi yang bergejolak di dalam dirinya.

 

“Hanna Park” Hanna membuang wajahnya saat Luhan membungkukkan badannya, mensejajarkan posisi wajahnya dengan Hanna. Tanpa sadar, Hanna menahan nafasnya. Pheromones milik Luhan keluar sangat natural, tanpa di sengaja oleh Luhan, dan ntah mengapa tiba-tiba pheromones milik Luhan itu memberi sedikit efek pada Hanna. Membuat darah Hanna berdesir dan wajah Hanna memerah—seperti bukan seorang Hanna Park.

“Yah, tatap aku jika aku sedang berbicara padamu” suara Luhan terdengar mengintimidasi dan memerintah, membuat Hanna mau tak mau menatap wajah Luhan. Luhan, ia mempunyai sesuatu yang membuat orang lain tidak bisa membantah kata-katanya jika suaranya sudah serius seperti itu.

Mwoya?”

“Tubuhmu memiliki keistimewaan, geurochi?”

“Kau tidak bisa meminum sembarang darah” ujar Luhan menyelesaikan ucapannya. Hanna terlihat sangat terkejut. ‘Bagaimana bisa Luhan tahu?!’ pertayaan demi pertanyaan berlarian di benak gadis itu, hingga Hanna mengingat kejadian sebelumnya. ‘Mungkin ia menyadarinya saat kelas praktikum tadi?’ pikir Hanna, clueless.

“Sudah kubilang bukan, tak ada yang tak kutahu” Hanna memutar kedua bola matanya malas, melihat Luhan yang—lagi lagi—menyeringai kearahnya.

 

***

 

 

Krystal menatap pantulan dirinya di depan cermin sekali lagi. Helaan nafas terselip keluar dari bibir gadis cantik itu. Jarum jam menunjukkan pukul 06:50 PM, yang menandakan ia harus segera turun ke bawah dan menyusul kedua orang tuanya yang sudah menunggunya sejak tadi. Krystal menuruni satu persatu anak tangga dengan hati-hati, tidak ingin tersandung gaun panjang yang ia pakai.

“Krystal” Krystal mendongakkan kepalanya begitu mendengar ayahnya memanggil namanya. Mr. Jung tersenyum pada putrinya itu, memberi sinyal agar Krystal segera menghampirinya.

“Ye abeoji?” Krystal menatap bingung Mr. Jung yang mengenakan pakaian rapi, seperti hendak menghadiri sebuah pertemuan penting.

Abeoji dan umma mendapat urusan mendadak. Jadi pertemuan dengan keluarga Oh dibatalkan” Krystal hampir memekik gembira mendengar ucapan Mr. Jung, namun hal tersebut langsung lenyap ketika Mr. Jung berkata lagi. “Tapi, kau akan tetap pergi bersama Sehun. Kami ingin kalian berdua semakin dekat, agar kelak nanti kalian bisa menjadi pasangan yang sempurna.”

 

Krystal menggembungkan pipinya, merasa tidak nyaman. Ia sudah berkali-kali menegaskan pada kedua orang tuanya, bahwa ia dan Sehun hanyalah teman baik, dan Krystal tidak ingin mereka berdua menjadi lebih dari teman baik atau kurang.

Akhirnya gadis itu hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah. Krystal menyeret kakinya ke taman depan rumahnya, menunggu Sehun yang tidak beberapa lama kemudian datang menjemputnya.

“Krystal!” Sehun menghampiri Krystal dengan sebuah senyum lebar menghiasi wajahnya. Kedua tangan Sehun bersembunyi di balik badannya. Krystal mendongakkan kepalanya, tersenyum lemah pada Sehun. “Eo, Sehun”

Waeyo? Kau sakit?”

Aniya, hanya.. Tidak bersemangat?” Krystal mengangkat kedua bahunya malas.

“Hey, apa itu?” Krystal melongokkan kepalanya ke belakang badan Sehun, berusaha mengintip apa yang di bawa oleh Sehun.

“Eyy, kau tak boleh lihat!” kekehan keluar dari mulut Sehun melihat Krystal yang memberengut.

Igeo” sebuket bunga mawar berwarna merah muncul di hadapan Krystal, membuat kedua mata gadis itu melebar dan berkelip-kelip.

“Kyaa! Sehun! Gomawo!” Krystal memekik kegirangan di samping Sehun, membuat lelaki itu tersenyum lebar.

Cup! “Gomawoo!” sebuah cengiran lebar terpampang di wajah Krystal, sedangkan Sehun masih berdiri mematung di sebelahnya. Tangan kanan Sehun terangkat, menyentuh pipi kanannya yang dikecup oleh Krystal. Salah satu ujung bibir namja itu tertarik ke atas, membentuk sebuah senyum yang dapat melelehkan seluruh wanita. “Cheonma

 

***

 

 

“Yah! Bacon!” Krystal memikik ketika Baekhyun melahap kimbap dari piringnya. Baekhyun menyengir lebar pada Krystal, tapi Krystal memutar kedua bola matanya.

Igeo” Lay memindah kimbap miliknya ke atas piring Krystal.

Gomawo Yixing oppa! You’re the best!” Lay hanya tersenyum melihat kedua ibu jari Krystal yang menunjuk ke atas.

Luhan, Lay, D.O, Kai, Baekhyun, dan Sehun juga Krystal dan Hanna kini tengah melahap makan siang mereka di kantin. Hanna sebenarnya tidak ingin duduk bersama Luhan dan kawannya, tapi Krystal menggeretnya agar duduk bersama Luhan dan yang lainnya. Akhirnya dengan terpaksa Hanna duduk di antara Krystal dan Kai, sedangkan Luhan duduk tepat di depannya.

 

Drrt.. Drrtt..

Ponsel Hanna yang tergeletak di atas meja bergetar. Hanna segera menekan gambar telepon berwarna hijau begitu melihat caller id  yang tertera di layar Samsung Galaxy SIII mini miliknya.

Appa! Eomma!” nada riang yang keluar dari mulut Hanna menarik perhatian semua kepala yang berada satu meja dengannya. Hanna tidak menghiraukan perhatian yang di dapatkannya dan meneruskan percakapannya dengan Mr. dan Mrs. Park.

“Hanna-ya~ Bagaimana kabar putri kami yang cantik?”

“Baik-baik saja. Bagaimana dengan appa dan eomma?”

“Kami akan baik-baik saja selama putri kecil eomma baik”

Eommaaa~ aku bukan anak kecil lagi~” rahang Luhan terpisah lebar melihat Hanna yang menggembungkan kedua pipinya dan bersuara seperti anak kecil. ‘Benarkah di depanku ini Hanna Park? Yang benar saja’ batin Luhan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

 

Arasseo, arasseo. Kkk~ Hanna-ya, mianhae” kedua alis Hanna bertautan mendengar Mrs. Park meminta maaf padanya.

“Kenapa eomma? Apakah ada sesuatu yang terjadi?” samar-samar Hanna dapat mendengar ibunya menghela nafas berat.

Yeobo, kau saja yang bilang. Aku.. tidak bisa..” Hanna semakin bingung dengan tingkah Mrs. Park.

“Hanna-ya” kini suara Mr. Park terdengar sangat jelas dari seberang telepon.

Ye, appa? Ada apa sebenarnya?” lagi-lagi Hanna mendengar suara helaan nafas. Namun kali ini hembusan karbondioksida itu keluar dari mulut Mr. Park.

“Kami.. tidak dapat menemukan Bombay Blood Type..”

“Maaf, Hanna-ya. Appa dan eomma sudah berusaha sekuat mungkin mencari kebutuhanmu. Tapi nihil.. Kami tidak dapat menemukan Bombay Blood Type meskipun hanya setetes..” lanjut Mr. Park. Hanna melembut mendengar penuturan ayahnya. Perasaan bersalah menyebar ke seluruh tubuh Hanna. ‘Tuhan, betapa beruntungnya aku memiliki orang tua seperti mereka

 

Gwenchana, appa. Aku bisa menahan rasa hausku cukup lama” ‘bohong!’ jerit rasa haus yang selalu menghantui Hanna.

“Lagipula, aku masih bisa meminum darah AB– bukan?”

“Tapi kau hanya bisa minum sedi—“ “Gwenchana appa. Putrimu ini  kuat, kau tahu itu bukan? kkk”

“Hhh..” “Appa, jangan menghela nafas seperti itu terus” Hanna berusaha menghibur ayahnya yang tampak bersalah.

Nee, tuan putri. Kalau begitu appa dan eomma akan mengirimkan darah AB– untukmu, okay?”

Ne, appa

Butaghae honey. We love you Hanna. Kkeuno

Appa eomma do butaghae, ne? Nado saranghae. Kkeuno” helaan nafas kini terselip keluar dari bibir Hanna ketika sambungan telepon dari Paris itu terputus.

 

“Hey, gwenchana?” Hanna hanya menganggukkan kepalanya ketika Krystal menyenggol lengan kanannya.

“Kau yakin?” hanya helaan nafas yang keluar dari bibir Hanna, menjawab pertanyaan Krystal. Tiba-tiba dua buah kantong berisi cairan merah muncul di dekat piring Hanna.

Hogsi.. Persediaanmu benar-benar tak ada?” tanya Krystal saat gadis itu tak sengaja melihat label di kantung berisi cairan merah tersebut. ‘Darah AB—‘ tertulis di ujung bawah kantung tersebut. Hanna menganggukkan kepalanya lemah.

“Tapi Hanna, kau tidak bisa meminum—“

Gwenchana Krystal, gwenchana. Aku akan baik-baik saja” Hanna tersenyum pada Krystal, berusaha menghapus rasa khawatir dari wajah sahabatnya.

“Tetap sa—“ “Hey, bagaimana bisa tiba-tiba kedua kantung darah itu berada di dekat piringmu, Hanna?” Krystal menatap sebal ke arah Sehun yang memotong ucapannya. Namun karena rasa penasaran Sehun sangat besar, vampir muda itu tidak menyadari tatapan sebal yang diberikan oleh Krystal padanya. Hanna tertawa kecil melihat wajah Sehun yang seperti anak anjing yang tersesat.

 

“Kau pasti tidak tahu kemampuan istimewa ibuku, geurochi? Ya, memang banyak yang tidak tahu” Hanna mengangkat kedua bahunya. Sehun tersenyum malu pada Hanna, karena ia tidak mengetahui kemampuan istimewa yang dimilikki oleh Mrs. Park.

Nae eomma, bisa memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain” jelas Hanna.

“Dengan kata lain, hampir sama dengan Kai dan Luhan?” tanya Lay berspekulasi.

“Kai memiliki teleportasi, sedangkan Luhan telekinesis” ujar Krystal ketika melihat ekspresi bingung yang tampak sekilas di wajah Hanna.

“Mung.. kin? Teleportasi berarti pemiliknya dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan telekinesis dapat menggerakkan benda tanpa kita harus menyentuhnya. Namun ibuku, ia bisa memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Sama seperti teleportasi, bedanya yang dipindahkan adalah barang, bukan pemilik kemampuan tersebut” jelas Hanna panjang lebar. Luhan memandang takjub ke arah Hanna, ia tidak pernah membayangkan vampir perempuan di hadapannya itu dapat berbicara panjang lebar seperti itu.

 

***

 

 

From     : Lu Han

Yah, Krystal. Temui aku di parkiran mobil.

 

 

Eh? Tumben sekali’ batin Krystal setelah ia membaca pesan yang diterimanya dari Luhan.

“Hanna, maaf aku tidak bisa menemanimu ke perpustakaan. Ada urusan mendesak” Hanna yang berjalan di samping Krystal hanya menganggukkan kepalanya.

“Ne, gwenchana. Sepertinya aku juga akan lama di perpustakaan”

“Mianhae Hanna-ya. Aku pergi dulu ya, annyeong!”

“Annyeong” ada sedikit perasaan bersalah di dalam hati Krystal karena harus membiarkan Hanna pergi sendiri. Namun ditepisnya perasaan itu, dan Krystal memantapkan langkah kakinya ke parkiran Seoul National Univversity.

 

 

“Ada apa?” Luhan mendongakkan kepalanya begitu melihat seorang gadis berdiri di depannya.

“Halo juga, sachon” Krystal memutar kedua bolanya malas melihat Luhan yang tersenyum ke arahnya.

“Tumben sekali” Krystal menyandarkan tubuhnya di mobil Lamborghini Veneno milik Luhan. Luhan mendongakkan kepalanya ke atas, memandang langit-langit.

“Hanna. Ini tentang Hanna” Krystal menegang begitu nama Hanna keluar dari mulut Luhan.

“Apa urusanmu dengan Hanna?”

“Aku dan Hanna.. Hampir saja melakukan Blood Bond

Mwoya?! Bagaimana bisa? Luhan!” panik menyerbu Krystal. Wajahnya tampak pucat, dan keringat dingin mulai membasahi kulitnya.

“Hey, tenang Krystal. Aku bilang hampir, bukan sudah” Luhan menepuk pundak kanan sepupunya itu. Krystal menghela nafas lega, meskipun ia belum sepenuhnya tenang.

“Kapan?”

“Kemarin, di saat kau bersenang-senang dengan Sehun” sebuah seringai muncul di wajah Luhan begitu melihat wajah Krystal yang tampak sedikit memerah.

“Hanna tidak dapat meminum sembarang darah, bukan?” lagi-lagi Krystal dibuat kaget oleh Luhan. Krystal memandang sepupunya itu dengan tatapan tak percaya.

“Bagaimana kau bisa tahu?” Luhan menceritakan kejadian kemarin dari awal sampai akhir. Dari saat mereka melakukan praktikum penggolongan darah, tubuh Hanna yang menolak meminum darah A, sampai saat Hanna meminum darah Luhan.

“Ya, kau benar” lirih Krystal setelah mendengar seluruh cerita dan kesimpulan Luhan.

“Hanna hanya bisa meminum darah Bombay Type Blood, dan darah AB–. Namun Hanna hanya bisa meminum sedikit darah AB–. Oleh karena itu hanya ada dua buah kantung darah AB–  tadi, kau ingat?” Luhan menganggukkan kepalanya mengerti.

“Tapi, kenapa Hanna bisa menerima darahmu dengan baik? Terlebih, ia bereaksi saat darahmu keluar, benarkan?” Krystal memandang Luhan dengan tatapan menyelidik.

Hogsi, darahmu Bombay Type Blood?” Luhan mengankat kedua bahunya mendengar spekulasi Krystal.

“Sepertinya tidak. Golongan darahku 0. Mungkin karena darah Royal Family?”. Krystal menggelengkan kepalanya, “Aniya. Aku pernah mencoba memberikan darahku pada Hanna, tapi tetap saja tubuh Hanna tidak dapat menerimanya” helaan nafas terselip keluar dari bibir vampir cantik itu. Ia benar-benar tidak dapat menemukan penyebab mengapa Hanna bereaksi terhadap darah Luhan.

Well, nado molla” ujar Luhan acuh tak acuh.

Jamkkan.. Sepertinya ada sesuatu yang kulupakan..’ batin Krystal.

 

“Jika diperiksa dengan sistem biasa maka yang akan muncul adalah golongan darah 0, tetapi pada kenyataannya tidak bisa menerima transfusi darah dari golongan darah 0, karena sebenarnya memang berbeda.”

‘Ah! Aku ingat sekarang! Berarti, kemungkinan besar darah Luhan..

 

Geurom, aku pergi” “Jamkkanman!” sebelah alis Luhan terangkat begitu tangan Krystal menarik lengannya, menghentikan langkah putra mahkota itu terhenti.

“Aku ingin meminta bantuanmu. Kumohon, sekali ini saja Luhan. Naneun dangsin-eul midgoiss-eo

 

***

 

 

“Tolong berikan darahmu pada Hanna”

Mwo?”

“Kumohon Luhan! Hanya sampai persediaan Bombay Type Blood ada lagi. Butag deulyeoyo

 

Wajah memelas Krystal terlintas di pikiran Luhan, membuat helaan nafas terselip keluar dari bibir mungilnya. Luhan mengacak rambutnya frustasi, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Haruskah ia menolong Hanna dengan mendonorkan darahnya? Atau ia bisa tak peduli masalah Hanna dan membiarkan vampir perempuan itu hanya meminum darah AB– sedikit demi sedikit?

 

Tok tok

Suara ketukan di pintu membuat Luhan mendongakkan kepalanya. Kini di hadapannya sudah berdiri seorang vampir muda yang tak lain adalah mata-mata yang ditugaskan untuk menyelidiki tentang kasus yang tengah ditangani oleh Luhan dan D.O.

“Ada perkembangan?” tanya Luhan tanpa basa basi. Pikirannya masih terpecah antara masalah Hanna dan kasus kematian vampir yang janggal.

“Tidak ada, your Highness”

Arasseo. Laporkan segera padaku jika ada pergerakan”

Algesseumnida” mata-mata tadi segera menghilang di balik pintu setelah membungkukkan badannya pada Luhan.

Isanghae..” gumam Luhan. Insting Luhan mengatakan ada yang aneh. Waktu sudah berjalan beberapa lama. Seharusnya, para pembunuh vampir itu sudah sampai di Seoul. Tapi kenapa tak ada tanda apa-apa?

 

It’s always calm before storm.

 

***

 

 

“Hanna-ya! Kajja”

“Y-yah! Kita mau kemana Krystal?” Krystal tidak menjawab pertanyaan Hanna dan terus menarik lengan Hanna ke arah parkiran mobil. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 03:00 PM, menandakan semua kegiatan belajar mengajar di kampus nasional Seoul itu sudah berakhir. Hanna dan Krystal berhenti di depan mobil Aston Martin One-77 milik Hanna. Krystal memaksa Hanna untuk segera masuk ke dalam mobil, lalu memposisikan dirinya di kursi penumpang di sebelah Hanna.

“Yah, kita mau kemana Krystal?” tanya Hanna sedikit terganggu. Krystal menyengir lebar ke arah Hanna, “Karena minggu lalu aku tak dapat menemanimu ke perpustakaan, tak ada salahnya kalau hari ini kita hang out bukan?”

 

 

Setelah melalui jalan Seoul yang cukup ramai di sore hari itu, Krystal dan Hanna berhenti di sebuah toko es krim—Baskin Robbin.

“Selamat datang” beberapa pelayan yang berdiri di depan pintu membungkukkan badan mereka pada Krystal dan Hanna. Kedua gadis itu hanya tersenyum sekilas pada mereka, lalu melanjutkan langkah mereka ke arah meja di pojok ruangan dekat dengan jendela.

“Kenapa kita duduk di sini?” tanya Hanna begitu menyadari ukuran meja yang cukup besar untuk mereka berdua.

“Hehe, bimil. Kau akan lihat nanti” Hanna mengabaikan ucapan Krystal dan mengambil menu yang tergeletak tak jauh darinya.

“Nah, itu mereka datang!” Hanna memutar kedua bola matanya begitu menyadari siapa yang dimaksud oleh Krystal. Luhan, Lay, Baekhyun, D.O, Kai dan Sehun.

“Kenapa mereka ke sini juga?”

“Hey, jangan seperti itu. Mereka baik” Hanna mendengus mendengar ucapan Krystal.

“Krystal!” Sehun berlari ke arah Krystal, mendaratkan bibirnya di pipi kiri Krystal.

“Y-yah! Oh Sehun! Mwohae?!” Sehun hanya menyengir lebar melihat wajah Krystal yang memerah. Baekhyun mendengus sebal melihat adegan yang terjadi di depan matanya. Luhan menarik tempat duduk di sebelah kanan Hanna, membuat gadis itu sedikit berjengit.

 

“Kai, duduk di sebelahku!” seru Hanna tiba-tiba menepuk tempat duduk yang kosong di kirinya. Kai memandang bingun ke arah Hanna, namun ia tetap duduk di sebelah Hanna. Tatapan tajam Luhan yang diberikan padanya, membuat vampir berkulit gelap itu semakin bingung. Kai menatap Lay yang duduk di hadapannya, namun Lay hanya mengangkat kedua bahunya. Tidak tahu menahu apa yang terjadi di antara Luhan dan Hanna. Baekhyun yang merasakan aura awkward Kai, mencoba untuk mencairkan suasana.

“Hanna-ya, apa yang ingin kau pesan?” Hanna mendongakkan kepalanya, menatap Baekhyun sekilas.

“Hanna paling suka memesan Winter White Chocolate Ice Cream” ujar Krystal tiba-tiba, menjawab pertanyaan Baekhyun. Hanna menatap Krystal dengan tatapan terima kasih, yang dibalas dengan senyuman oleh Krystal. Baekhyun menganggukkan kepalanya, lalu mengalihkan perhatiannya pada vampir yang lain.

“Apa pesanan kalian? Biar aku yang pesankan” tawar Baekhyun sambil tersenyum.

Very Berry Strawberry Ice Cream” seru Lay.

“Aku Strawberry Cheesecake Ice Cream” ujar Krystal.

Strawberry Lemonade Punch Sherbet” D.O bersuara.

“Sehun?” “Wild ‘n Reckless Sherbet

Baekhyun beralih ke arah Luhan dan Kai, “Winter White Chocolate Ice Cream” seru Luhan dan Kai bersamaan. Luhan menatap ke arah Kai dengan tatapan kenapa-pesananmu-sama-denganku, sedangkan Kai hanya mengangkat kedua bahunya tak peduli.

“O..kay.. Krystal, mau ikut membantuku?”

Arasseo” Krystal bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti langkah Baekhyun ke counter.

 

Sehun sedang mengobrol dengan Lay dan D.O, lalu Kai ikut menimbrung ke dalam pembicaraan mereka. Sedangkan Luhan hanya diam saja melihat ke empat kawannya yang sedang mengobrol itu. Di sisi lain, Hanna merasa tenggorokkannya panas. Rasa haus kembali menggerogoti Hanna, membuat gadis itu menggeram pelan.

Gwenchana?” Luhan menoleh ke arah Hanna dengan alis terangkat. Hanna hanya melirik sekilas ke arah Luhan dan mengabaikan vampir di sebelahnya itu. Hanna merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah botol kecil dengan cairan merah di dalamnya. Hanna meneguk cairan merah yang berada di dalam botol setelah tutup botol itu terbuka. Namun, belum sampai setengah cairan itu mengalir di tenggorokkan Hanna, gadis itu terbatuk memuntahkan darah yang diminumnya.

“Yah, Hanna!” Luhan menyambar tisu yang berada di dekatnya dan membersihkan tetesan darah AB– yang berada di tangan dan bibir Hanna. Lay, D.O, Kai dan Sehun menolehkan kepala mereka begitu aroma darah AB– memenuhi udara di sekitar mereka. Mata Sehun dan D.O berubah merah, membuat mereka berebut mengambil botol kecil yang tadi di minum Hanna.

Gwenchana” ujar Hanna dingin, menepis tangan Luhan yang membersihkan sisa-sisa darah di sekitar bibirnya.

“Ikut aku” Luhan bangkit dari tempat duduknya dan menarik tangan Hanna. Namun gadis itu segera melepaskan tangannya dari genggaman Luhan dan menatap tajam ke arah Luhan.

Shireo” lidah Luhan berdecak mendengar ucapan Hanna.

“Tak usah keras kepala” Luhan menarik Hanna lagi, namun kali ini genggaman tangannya lebih kuat, sehingga Hanna tidak bisa menepisnya. Akhirnya, Hanna mengikuti langkah Luhan ke arah parkiran mobil dengan pasrah.

 

“Masuk” perintah Luhan begitu mereka sampai di depan mobil Lambirghini Veneno miliknya. Mau tidak mau Hanna hanya bisa menuruti Luhan, karena rasa haus di kerongkongan Hanna masih menghantui vampir perempuan itu.

Luhan mengunci seluruh pintu mobilnya, lalu mengubah posisi kursinya ke belakang. Ia melakukan hal yang sama pada kursi Hanna, membuat gadis itu memekik pelan.

“Apa yang mau kau lakukan?!” seru Hanna panik. Luhan memutar kedua bola matanya malas melihat tingkah Hanna.

“Hey, aku sudah pernah bilang padamu bukan. Aku tak tertarik pada tubuh triplekmu, jika itu yang kau pikirkan” wajah Hanna memerah karena amarah yang bergejolak di dalam tubuhnya. ‘Aish, neo jinca. Luhan’ umpatnya dalam hati.

 

“Lalu?” Luhan tak menghiraukan pertanyaan Hanna dan mengambil silet yang berada di dashbord mobil miliknya. Luhan menaruh silet itu di atas pangkuannya, lalu kedua tangannya menangkup wajah Hanna. Sehingga mau tak mau membuat Hanna berhadapan muka ke muka dengan Luhan.

“Dengar, aku melakukan ini bukan karena dasar aku suka padamu atau apa. Hanya sekedar permintaan sachonku. Jadi, jangan salah paham dan..” ‘tubuhku ingin terikat denganmu, Hanna. Aku tak tahu kenapa tubuhku haus akan tubuhmu. Darahku memanggil-manggil darahmu, membuatku gila karena aku tak bisa meminum darahmu.’

“Lupakan. Kumohon, jangan benci aku setelah aku melakukan ini. Ini untuk kebaikanmu juga” ‘atau mungkin.. tidak bagiku. Karena aku akan semakin menginginkan darahmu’ . Hanna memandang bingung ke arah Luhan. ‘Apa maksudmu Luhan? Aku tidak mengerti!

Mata Hanna melebar begitu Luhan menyilet pergelangan tangannya. Luhan menyodorkan pergelangan tangannya ke mulut Hanna, menyuruh gadis itu untuk meminum darahnya. Hanna berusaha menahan rasa haus yang mulai menguasainya. ‘Aku tidak bisa meminum darah Luhan! Bagaimana jika nanti kami terikat? I don’t want to have Blood bond, that’s suck!’ protes Hanna dalam hatinya. Tapi apa daya, Hanna tidak bisa memungkiri rasa haus yang menerpa dirinya. Jauh di bawah alam sadarnya, Hanna menginginkan darah Luhan.

Akhirnya Hanna menyerah dan menghisap darah Luhan dengan kedua taringnya yang sudah memanjang. Luhan menggeram kecil saat taring Hanna menembus kulitnya. Namun geraman itu hilang ketika Luhan melihat wajah Hanna. Tanpa sengaja ujung mata Luhan menangkap leher jenjang milik Hanna, membuat keinginan untuk terikat dengan Hanna semakin kuat. Luhan berusaha sekuat mungkin menahan hasratnya itu. ‘Tidak, tidak. Aku tidak boleh melakukan Blood Bond dengan Hanna. Tidak sebelum aku menyadari perasaan apa yang kupunya untuk Hanna

 

“Cukup” Luhan menarik pergelangan tangannya dari mulut Hanna, membuat gadis di hadapannya itu menggeram kecil, protes karena ia belum merasa puas. Hanna mencoba untuk meraih pergelangan tangan Luhan lagi, namun Luhan menahan Hanna.

“Hanna Park, cukup” ujar Luhan serius, membuat Hanna terdiam di tempat duduknya. Luka di pergelangan tangan Luhan mulai menutup dengan sendirinya, mengurangi aroma darah yang memenuhi mobli Luhan. Bibir Hanna terlihat sangat merah karena ia baru saja meminum darah. Adrenaline Luhan berpacu dengan cepat melihat bibir Hanna yang tampak sangat menggoda. Tanpa sadar, lelaki itu menggigit bibir bawahnya, menahan keinginan untuk mencium Hanna.

Mianhae Hanna” Luhan tidak dapat menahan lagi hasrat di dalam dirinya. Bibir Luhan mendarat tepat di atas bibir Hanna, menyapu bersih sisa-sisa darah di bibir Hanna dengan lidahnya. Mata Hanna melebar menyadari perilaku Luhan. Otak Hanna menyuruhnya untuk mendorong Luhan, tapi tubuhnya menginginkan sentuhan Luhan. Pheromones milik Luhan memenuhi rongga dada Hanna, membuat ia merasa sesak—dalam arti baik. Ada ketergantungan yang tidak dapat dijelaskan pada diri Hanna. Ketergantungan akan kehadiran Luhan.

 

***

 

 

“Hey, kalian dari mana?” tanya Lay begitu Luhan dan Hanna duduk di kursi mereka. Ada semburat merah di wajah Hanna, membuat Krystal menatap mereka dengan tatapan curiga. Terlebih lagi, bibir Hanna dan Luhan terlihat sama-sama merah dan sedikit membengkak.

Hogsi, kalimmpph—“ ucapan Krystal terhenti begitu Kai menyendokkan kue yang cukup besar ke dalam mulut Krystal. Kai memberi tatapan pada Krystal untuk diam dan tak melanjutkan ucapannya. Luhan menoleh ke arah Kai, “Gomawo” ujar Luhan tanpa masalah. “Tak masalah” balas Kai. Kai, tentu saja menyadari apa yang telah terjadi. Melihat bibir Luhan dan Hanna yang sedikit membengkak, vampir berkulit gelap itu sudah mengetahui apa yang terjadi. Karena tak dapat dipungkiri, Kai sering melakukan hal itu juga dengan gadis lain.

 

“Siapa yang pesan kue?” tanya Hanna berusaha mengalihkan topik. Baekhyun yang menangkap maksud Hanna pun menyahut.

“Oh, Haunted House Cake ini? Sahabatmu yang merengek padaku untuk membeli kue ini”

“Yah! Byun Baekhyun! Kapan aku memintamu untuk membelikannya? Bukankah itu idemu sendiri untuk membeli kue ini?”  Baekhyun hanya mengangkat kedua bahunya, membuat Krystal mengerucutkan bibirnya. Derai tawa terdengar dari Lay, Sehun, D.O, Hanna dan Kai melihat tingkah Baekhyun dan Krystal.

“Kau mau kue?” tawa Hanna terhenti saat ia merasakan lengan kanannya yang disenggol Luhan. Hanna hanya dapat menganggukkan kepalanya lemah. Wajah Hanna memerah ketika bayangan kejadian di mobil Luhan terlintas di benaknya.

“Hey, kenapa wajahmu memerah?” tanya Luhan sambil menyodorkan potongan kue pada Hanna.

A-aniya” jawab Hanna tergagap. Sebuah seringai muncul di wajah Luhan, menyadari apa yang ada di pikiran Hanna.

Wae? Kau ingin aku menciummu lagi?” bisik Luhan di telinga Hanna.

“Y-ya-ah! Lu Han!” pekik Hanna sambil mendorong tubuh Luhan menjauh darinya. Wajah Hanna kini sudah memerah seperti sebuah tomat yang baru dipetik.

“Meskipun kau merengek padaku untuk melakukannya lagi, aku tidak akan mau” ujar Luhan dengan smirk evil miliknya. Hanna memandang ke arah Luhan tidak percaya.

“LuJERKhan” desis Hanna yang membuat Luhan tertawa.

 

 

 

Di sebuah meja yang berada tak jauh dari Luhan dan Hanna, duduk enam orang lelaki dengan mata mereka yang tak lepas dari Luhan dan D.O.

Duizhang, apa langkahmu selanjutnya?” tanya salah satu dari mereka pada seorang lelaki dengan rambut pirang.

“Sebelumnya, aku akan menemui soulmateku dahulu” ujar lelaki berambut pirang tersebut.

“Kenapa kita tidak langsung menyerang target utama kita saja?” tanya lelaki yang duduk di hadapan pria berambut pirang tadi.

“Tidak. Kurasa, target utama kita akan mudah untuk ditaklukan jika kita menyerang soulmateku terlebih dahulu.” ke lima namja yang duduk satu meja dengan pria itupun memandang bingung ke arah lelaki yang mereka panggil Duizhang itu. Tapi mereka hanya menganggukkan kepala mereka dalam diam, tidak berani untuk berkata-kata lagi.

 

***

 

 

Beberapa minggu berlalu seperti sekejap mata. Kini Hanna sudah terbiasa dengan kehadiran Lay, Baekhyun, D.O, Kai dan Sehun di sekitarnya. D.O juga sudah mulai merasa tidak canggung terhadapa Hanna sedikit demi sedikit. Tapi, ada satu hal yang masih belum bisa diterima oleh Hanna. Ketergantungannya terhadap Luhan. Meskipun Hanna benci mengakui ini, tapi Luhan benar-benar memiliki efek pada Hanna. Hanna akan merasa sangat moody jika ia tidak dapat melihat Luhan sehari saja. Tubuh dan darah Hanna terus menerus memanggil nama Luhan, membuat gadis itu gila karena Luhan. Dan tanpa Hanna ketahui, hal itu juga terjadi pada Luhan. Tidak, mereka tidak terikat dalam Blood Bond, karena Luhan tidak meminum darah milik Hanna. Tapi, keduanya tak dapat membohongi diri mereka, bahwa mereka berdua memiliki ketergantungan satu sama lain. Yang pastinya, tak akan mereka akui secara terang-terangan.

 

“Apa ini?” gumam Hanna pelan saat melihat ada sebuah botol kecil berisi cairan merah dengan sebuah post-it kecil berwarna kuning menempel di botol tersebut. Krystal yang berada di sebelah Hanna memanjangkan lehernya, berusaha mengintip ke dalam loker Hanna.

 

 

Aku harap ini tidak akan cukup. Jadi kau bisa datang padaku dan melanjutkan urusan kita yang tertunda beberapa minggu lalu 😉

– Vampire’s Crown Prince, your lovely Lu Han ❤

 

 

Hanna memutar kedua bola matanya setelah membaca isi post-it yang ternyata dari Luhan itu.

“Ck, playboy, sweet talker” gumam Hanna, membuat Krystal tertawa kecil di sebelahnya.

“Kau membacanya?” Krystal menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Hanna. Helaan nafas terselip keluar dari bibir mungil milik Hanna.

“Jangan salah paham. Sepupumu itu sudah gila kurasa”

Mwo? Pffhahahaha” tawa Krystal pecah mendengar ucapan Hanna. Ia tidak habis pikir, Hanna dan Luhan sekarang menjadi sedekat ini tanpa mereka berdua sadari. Dan melihat Hanna yang mengeluh karena Luhan, ntah kenapa terlihat sangat lucu di mata Krystal.

“Sudahlah, jika kau terus menerus membicarakan sepupuku itu, ia bisa datang ke sini beberapa menit lagi. Kau tahu, ia memiliki pendengaran yang tajam. Hahaha”

Well, seperti aku peduli saja” Krystal menggelengkan kepalanya melihat Hanna yang mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh.

 

Tiba-tiba, seorang lelaki dengan tubuh tinggi dan rambut pirang mendekati kedua gadis itu dari belakang. Krystal yang menyadari kehadiran seseorang di belakangnya, menolehkan kepalanya ke belakang. Mata Krystal terbelalak begitu menyadari postur yang terlihat familiar di matanya, tapi Krystal tidak dapat mengingat siapa orang yang kini berdiri di hadapannya. Setelah memasukkan botol kecil dari Luhan ke dalam tasnya dan menutup kembali loker kayu miliknya, Hanna memutar badannya. Ekspresi Hanna tak jauh berbeda dengan Krystal begitu melihat lelaki—lebih tepatnya vampir yang berdiri di hadapannya.

“Hi, Hanna” tubuh Hanna menegang mendengar namanya keluar dari bibir namja di hadapannya itu. Suara itu. Suara yang Hanna kenal dengan baik, bahkan sangat baik. Suara yang tak akan pernah ia lupakan. Darah Hanna berdesir cepat, lututnya terasa lemas menyadari suara yang dirindukannya itu.

‘Tidak, tidak mungkin. Dia..

 

 

A.N.: Mianhaaaeeee >< aku tahu part ini abal dan cepet banget mianhae mianhae :”(

Dan mian juga karena typo >< Oh ya, masalah es krim itu, aku gatau sebenernya mereka suka apaan. Jadi aku ngasal milihin rasa es krimnya ><

Dan gomawooooo jeongmal jeongmal gomawooo<333  ciyus, aku terharu sama respon di part 1 kemarin, ya Tuhan :”””)) makasih banget chingudeul{}{} *cium atu atu*

Semoga part ini ga terlalu mengecewakan :”)           

Oh iya, satu lagi! Pasti kalian udah ada gambaran dong~ siapa cast yang bakal masuk di part berikutnya~ kkkk~ aku ragu kalian gatau. Pasti tahulah~ kan udah jelas hintnya di atas tadi, wkwk

158 responses to “TARGET 2

  1. gw jatuh cinta nih sama ff ini… keren abiis…

    q emg pecinta cerita fiksi kyk gini,,, alur cerita ff ini menarik bgt…

    bahasa yang di gunain author gak berbelit2 dan ngebuat q bsa ngebayangin tiap scene dari ff ini…
    cool…

  2. sumpah baca ff ini bikin aku deg”an sendir.. bikin gila thor wkk.. sumpah ini keren banget feelnya dapet banget.. xD
    itu kira” siapa yang ndatengin hanna??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s