Two Sides [prolog]

Image

AUTHOR: Avyhehe

LEGTH: Series

GENRE: Supranatural/Fantasy/Mistery

RATED: PG-13

Characters: Xi Luhan (EXO), Oh Sehun (EXO), Kris (EXO)

others: soon will be revealed

Disclaimer: Mine & those who inspired me

A/N: just a prolog. kalo responnya bagus saya lanjutin :)

jangan protes soal covernya, soalnya saya ga bisa ngedit cover T-T

this will be a long prolog *sigh*

DON’T BE A SILENT READERS, PLEASE

avy present

~Two Sides~

Dubai, 10.00 PM

Angin malam yang dingin berhembus kencang di sebuah atap gedung pencakar langit, Burj Khalifa—sebuah pencakar langit tertinggi di dunia yang memiliki 163 lantai dengan tinggi nyaris 1 kilometer. Suara kendaraan yang lalu-lalang di bawah tak lagi terdengar saat berada di puncaknya, hanya kesunyian malam yang menemani juga sedikit suara-suara dari lantai bawah.

Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki di atap bangunan itu. Diikuti dengan munculnya dua sosok pria dari arah berlawanan. Keduanya mengenakan jaket coat tebal yang dipadukan dengan topi fedora yang menutupi separuh wajah mereka, membuat mereka terlihat misterius. Kebanyakan orang pasti mengira mereka adalah dua orang gila yang mengadakan pertemuan gelap di atap gedung pencakar langit yang sepi, ditemani hembusan angin malam dan bintang-bintang di langit sebagai saksi.

“Lama tidak berjumpa,” Pria yang mengenakan coat berwarna putih menyapa terlebih dulu, “Bagaimana kabarmu?” sapanya, seraya mengangkat sedikit topinya sambil memasang senyum.

“Tidak perlu basa-basi,” kata pria bercoat hitam dengan wajah muak, “Cepat katakan apa keperluanmu.”

Pria bercoat putih tersenyum, “Sikapmu itu tidak pernah berubah—ah bukan, maksudku sikap ‘kalian’, tidak pernah berubah.” pria itu lalu menyandarkan dirinya di pagar pembatas atap sambil menyilangkan tangannya. Angin malam berhembus keras di atap yang terbuka itu dan mengibarkan bajunya. “Baiklah, langsung saja ke intinya. Apa tujuan kalian?” tanyanya.

Pria bercoat hitam tersenyum licik, “Tujuan kami?”

“Ya. Akhir-akhir ini banyak ex-human bermunculan dan itu sangat meresahkan! Sebenarnya apa tujuan kalian?”

Pria bercoat hitam itu terkekeh. “Kalian tidak perlu tahu. Itu adalah urusan kami.”

GREP. Pria bercoat putih mencengkeram leher pria bercoat hitam dihadapannya,  menatapnya tajam tepat di manik mata.  ”URUSAN KALIAN? Kau pikir sudah berapa banyak nyawa manusia yang melayang karena ulah kalian?” dia terus mengeratkan cengkramannya dengan penuh emosi.

“Uh…” rintih pria bercoat hitam sambil memegangi lengan yang mencengkramnya, “Tidak seharusnya kau bertingkah seperti ini, kau seharusnya tidak memiliki emosi,” kata pria itu sambil berusaha melepaskan tangan yang mencengkeram lehernya. “Kalau kau terus mencekikku, aku tak akan segan mematahkan tanganmu.”

Pria bercoat putih itu akhirnya menurunkan tangannya secara perlahan. Setelah mengatur nafas sejenak, dia  berjalan menjauhi lawan bicaranya.

“Berhati-hatilah. Kami tidak akan tinggal diam!” pria bercoat putih itu menatap lawan bicaranya dengan pandangan mengancam. Dia lalu memanjat pagar pembatas atap dan meloncat ke bawah, menghilang ditelan kegelapan malam.

“Coba saja kalau bisa,” pria bercoat hitam itu tersenyum menghina, dan ikut menerjunkan tubuhnya. Pria itu terjun bebas dari atap gedung pencakar langit, menuju hiruk-pikuknya kota Dubai di bawahnya. Namun sebelum tubuhnya menghantam aspal, dia menghilang.

.

.

Seoul, 01.00 PM

“Sial… kenapa tidak mau keluar?” Luhan menendang vending machine yang ada di hadapannya, “Keluar, pabbo!”

Karena merasa tak cukup hanya dengan menendangnya, dia meninju mesin itu dengan bogemnya. Bang!

“OUCH!” sakit. Itulah yang dirasakan pemuda mungil berwajah cute itu. Dia mengerang dan mengusap kepalan tangannya yang mulai memerah.

“Pabbo… Mesin pabbo… setidaknya kembalikan uangku… AARRGH…! ” Luhan yang emosi menggoyang-goyang mesin minuman itu sekuat tenaga. Siang ini cuaca sangat terik, sedangkan toko-toko eskrim dan warung yang menjual minuman dingin menggunakan kesempatan ini untuk menaikkan harga dagangan mereka secara spontan. Tentu saja hal itu merupakan pukulan berat bagi Luhan, mengingat keadaannya yang selalu kekurangan uang. Selidik punya selidik, inilah alasan mengapa dia memilih membeli minuman di vending machine dekat gerbang sekolah  karena harganya relatif lebih murah, walaupun dia tahu mesin ini sering sekali macet.

Luhan berjongkok lemas di depan vending machine dan menundukkan kepalanya putus asa. “Haah—kenapa nasibku selalu sial…” rutuknya. “Oh Tuhan, jangan biarkan aku mati dehidrasi di tempat ini…” Luhan gegulingan di tanah sambil memegangi lehernya yang kering kerontang.

“Minggir…” ucap seseorang di belakangnya.

“Eh—?”

“Aku bilang minggir,”

BANG!

Sebelum Luhan sempat minggir dengan sempurna, sebuah kaki melayang dan menghantam vending machine dengan keras. Tubuh Luhan yang kecil sampai tersungkur ke aspal saking kagetnya.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” teriak Luhan kesal dengan posisi telungkup di atas tanah dan  kedua tangan menumpu tanah. “Ah!” Luhan memekik kaget saat melihat vending machine di hadapannya bereaksi. Mesin itu bergetar hebat beberapa saat hingga sebuah kaleng minuman terlempar keluar dari lubang di bagian bawah mesin yang berbentuk persegi.

“Akhirnyaaa…!” Luhan, dengan raut lega, cepat-cepat bangkit dan memungut kaleng minuman tersebut. Dengan tampang sumringah dia menoleh kebelakang—ke arah orang yang menolongnya menendang mesin tadi—untuk mengucapkan terimakasih.

“Ah, terimakasih sudah menolongku… meski kau hampir membuatku jantungan, Goma—” ucapannya terhenti begitu dia melihat sosok orang tersebut. Orang itu mengenakan seragam yang sama seperti yang dipakainya, rambutnya berwarna pirang kecoklatan, dengan tinggi tubuh sekitar 187cm, lebih tinggi 9cm darinya.

Luhan berdiri membeku di tempatnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya orang itu.

” K—K—Kris-sunbae?” desis Luhan kaget, masih tidak percaya melihat kakak kelasnya itu berdiri di hadapannya. Dia mengucek-ucek kedua matanya, namun dilihatnya Kris masih tetap berdiri di depannya.

Pemuda bernama Kris itu tersenyum. Dia melewati tubuh Luhan yang masih menatapnya dengan bengong, menuju ke arah vending machine dengan langkah santai. Setelah memasukkan beberapa koin, Kris menekan tombol jenis minuman yang diinginkannya. Sepersekian detik kemudian, sebuah kaleng minuman meluncur keluar dari dalam lubang. Klak… Kris memungut kaleng tersebut, membukanya, dan meminumnya.

Luhan masih terpaku di tempatnya sampai Kris menegurnya.

“Kau tidak mau minum itu? Buatku saja.” Kris menunjuk kaleng soda di tangan Luhan. Luhan salting.

“Eh—B—Buat sunbae saja kalau begitu…” dia mengulurkan minumannya dengan gugup ke arah Kris.

Kris tertawa kecil. “Aku hanya bercanda… jangan dianggap serius. Kalau begitu aku pergi dulu, Xi Luhan!” siswa berkepala pirang itu melempar kaleng minuman yang sudah kosong ke tong sampah terdekat dan melanjutkan perjalanan pulangnya. Tak lupa dia melambaikan tangan ke arah Hoobae nya.

Luhan mematung disamping vending machine sampai sunbae nya itu menghilang di balik tikungan jalan.

“Aku tidak sedang bermimpi, kan…?” dia menampari kedua pipinya sampai memerah, “Kris-sunbae—Kris-sunbae tahu namaku!” wajahnya memancarkan aura bahagia bercampur rasa tak percaya. Luhan benar-benar over excited. Rasa haus yang dideritanya sejak tadi nyaris dilupakan olehnya, bahkan minuman kaleng yang susah payah dibelinya tergeletak begitu saja di trotoar jalan.

Set.

“Kalau kau tidak mau, biar kuminum.” Sebuah tangan pucat memungut minuman kaleng Luhan, lalu membukanya dan menenggak isinya hingga hampir habis.

“Y—Ya! Jangan seenaknya meminum punyaku, Oh Sehun!” teriak Luhan histeris, dia merampas minuman kaleng miliknya dari genggaman pemuda bernama Sehun itu. Sehun hanya ber-’cih’ ria.

Luhan meminum sisa sodanya sambil ngomel-ngomel. “Kau tahu kan, aku mendapatkan minuman ini dengan perjuangan yang sangat berat, sedangkan kau seenaknya menghabiskannya.” Luhan menggembungkan pipinya, membuatnya nampak seperti anak SD.

Problem?” Sehun mengangkat sebelah alisnya, memasang muka menyebalkan. Pemuda bertubuh tinggi itu berjalan menuju vending machine, menekan tombolnya, lalu keluarlah sekaleng soda dan dia mengambilnya.

Luhan menganga.

“Kenapa giliran kau yang mengambil, mesinnya tidak macet? Lha aku?” gumamnya. Saat Kris yang mengambil pun mesinnya juga tidak macet.

“Tidak tahu ya, mungkin faktor wajah.” kata Sehun narsis.

“Haisshh…jangan sok tampan!” desis Luhan. “Ya sudah, aku pulang duluan.” pemuda berwajah cute itu membalikkan badannya dan berjalan menjauh, namun Sehun menahan pergelangan tangannya. Luhan yang heran kontan menoleh kearahnya.

“Ada apa?” tanyanya sambil mengangkat alis.

“Tunggu aku, kita pulang bareng. Rumah kita kan searah.” Sehun menghabiskan sisa minumannya lalu melempar kalengnya begitu saja di jalan.

“Siapa yang menawarimu pulang bareng?” kata Luhan ketus.

“Sudah, kau diam saja.” Sehun berjalan mendahului sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana seragam. Luhan cemberut.

“Huh, seenaknya saja. Selalu begitu!” gerutu Luhan namun akhirnya dia mengikuti langkah Sehun dari belakang. Mereka berjalan menyusuri trotoar di depan sekolah mereka yang cukup sepi, mengingat kebanyakan siswa sudah pulang sedari tadi karena cuaca sangat panas. Memasuki awal bulan Juni, suhu udara naik drastis dan daun-daun di pepohonan mulai meranggas, membuat musim panas benar-benar seperti neraka. Hanya ada satu hal yang dicintai para pelajar dari musim panas; yaitu libur panjang selama sebulan yang memungkinkan mereka untuk bermalas-malasan di rumah maupun menghabiskan waktu bermain di pantai.

“Hei, bayi.” Panggil Sehun tanpa menoleh.

“Ya?” respon Luhan, wajahnya semakin cemberut. Sehun selalu saja memanggilnya dengan sebutan ‘bayi’ dan  membuatnya sangat sebal. Luhan lalu mempercepat langkahnya menjajari Sehun,  memang agak susah mengikuti kaki panjang temannya itu dengan tubuh kecilnya.

“Kau masih mengidolakan orang itu?” tanya Sehun.

“Hah?”

“Si Kris. Wu Fan.”

“Oh!” mata Luhan seketika melebar, “Tentu saja, Apalagi barusan dia—”

“Aku tahu,” potong Sehun, “Aku melihat dia menolongmu mengeluarkan minuman dari mesin sial itu.” katanya sambil tetap melangkahkan kakinya secara konstan.

“Iya, dia baik kan…?” Luhan mengatupkan kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum senang. Sehun bergidik melihatnya karena wajah Luhan jadi tampak seperti boneka.

“Entahlah.” responnya singkat, padat, dan nggak jelas.

“Maksudmu?” tanya Luhan.

“Entah kenapa aku tidak menyukainya. Aku juga membenci baunya,” Sehun menendang kaleng yang teronggok di hadapannya dan mendongak ke arah langit, memandang awan.

Luhan merengut. “Enak saja, Kris-sunbae itu wangi, tahu!” dia memamerkan telunjuknya ke muka Sehun dengan kesal, “Aroma tubuhnya seperti surga!”

Sehun memutar matanya, “Maksudku bukan ‘bau’ dalam artian seperti itu, kau bodoh sekali! Ah… sudahlah…” dia mempercepat langkahnya, membuat Luhan tertinggal beberapa meter di belakang.

“H—Hei Sehun! Pembicaraan kita belum sele—” NGGUIIIINGG… tiba-tiba terdengar sirine ambulan dan sirine mobil polisi bersahutan di belakang mereka. Kontan saja Sehun dan Luhan menoleh untuk melihat apa yang tengah terjadi. Pandangan mereka tertuju pada mobil-mobil yang beriringan tersebut hingga kedua mobil itu hilang ditelan tikungan jalan, dan berhenti tidak jauh dari posisi mereka berdua berada. Pejalan-pejalan kaki yang kebetulan berada di sekitar sana langsung mengerumuni mobil ambulan dan mobil polisi tersebut dengan raut muka penasaran.

“Luhan, ayo kita lihat!” Sehun mencengkeram pergelangan tangan Luhan dan menariknya mendekati kerumunan itu dengan setengah berlari.

“Kenapa? ada kecelakaan?”

Luhan berusaha mengimbangi langkah Sehun yang semakin cepat dengan susah payah. Akhirnya mereka pun tiba di tempat yang dituju. Terlihat banyak orang berkerumun membentuk lingkaran, dan di tengah-tengah lingkaran itu terlihat sebuah tubuh yang terbujur kaku bersimbah darah. Beberapa aparat keamanan berusaha menahan dorongan orang-orang yang penasaran ingin melihat korban. Setelah keadaan cukup tenang, seorang polisi menggarisi TKP dengan kapur dan yang lainnya memasangi tempat itu dengan garis polisi. Korban yang tewas pun diangkat dan dimasukkan ke dalam kantong jenazah, kemudian digotong menuju ambulan.

Luhan dan Sehun membelalak.

“Tunggu!” teriak mereka bersamaan.

Paramedis yang bertugas menggotong pun menoleh heran ke arah mereka.

“Kenapa?”

“Sepertinya kami mengenali orang tersebut. Tolong dibuka kantongnya,”

Seorang paramedis mengangguk. Dia menyuruh rekannya untuk membuka kantong jenazah itu. Luhan dan Sehun terperanjat saat mendapati wajah korban yang tidak asing lagi bagi mereka–meskipun wajah itu berlumuran darah segar dan sudah tidak utuh lagi.

“Suho-sunbae?”

Mereka berdua membelalak. Di hadapan mereka adalah jenazah Suho, senior mereka yang duduk di kelas tiga. Keadaannya benar-benar mengenaskan—mata kirinya hilang seperti tercongkel sesuatu dan tempurung kepalanya retak. Darah segar mengucur dari retakan itu.

Luhan menutup mulutnya dengan tangan. Dia tampak sangat syok.

“S—Sehun…”

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Sehun pada paramedis di hadapannya.

Si paramedis mengangkat bahu, “Akhir-akhir ini banyak kejadian seperti ini. Yaitu orang-orang yang meninggal tanpa sebab dengan beberapa bagian tubuh yang hilang,” dia menunjuk bingkai mata kiri Suho yang kosong, “Sampai saat ini belum diketahui penyebab, motif, maupun pembunuhnya. Kejadian ini benar-benar misterius,” Dia lalu menutup kantong jenazah karena bau anyir darah mulai tercium di udara. Sehun dan Luhan terus terpaku di tempat mereka berdiri hingga jenazah Suho diangkut ke ambulan—masih tidak percaya tragedi itu menimpa sunbae mereka sendiri.

“Hei,” seorang polisi menyentuh pundak Luhan dan Sehun, membuat kedua pelajar itu tersadar. “Kalian berdua, ikut kami ke kantor polisi. Ada banyak hal yang harus dibicarakan,”

“Ke—Kenapa kami?” Luhan berjengit, “Sehun! Memangnya kita berbuat apa?”

Sehun mendecak, “Tentu saja kita tak berbuat apa-apa. Tapi kita mengenali korban ini. Untuk itu kita dimintai penjelasan.”

“Tidak usah takut, anak manis.” polisi itu tersenyum pada Luhan. Dia menunjuk name-tag yang tersemat di seragamnya. “Namaku Choi Minho. Tenang saja, abg seperti kalian tak akan kumasukkan ke penjara.”

Minho lantas menggandeng Sehun dan  Luhan, menuntun mereka menuju mobil polisi sambil melompat-lompat dan bersiul-siul gembira.

“Polisi aneh,” gumam Sehun ilfil.

Minho menoleh. “Hei, aku bisa mendengarmu!” serunya sambil melotot, membuat Sehun memalingkan wajahnya.

Akhirnya kedua pemuda itu digiring memasuki mobil polisi, disusul dengan beberapa orang saksi yang kebetulan berada di tempat kejadian saat hal tragis itu berlangsung. Namun tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti tentang kematian yang menimpa Suho, mengingat jalanan disekitarnya begitu sepi dan orang-orang baru berdatangan saat mendengar teriakan pemuda malang itu.

Seiring berlalunya ambulan dan mobil polisi meninggalkan tempat itu, begitu juga orang-orang yang tadinya berkerumun karena penasaran, suasana tempat tersebut kembali sepi. Hanya menyisakan TKP yang masih dilintangi garis polisi, yang di dalamnya terdapat goresan pola kapur di atas aspal membentuk tubuh manusia.

“Argh…”

Sebuah erangan kecil terdengar dari gang sempit di sebelah TKP. Munculah seorang pemuda dari dalam gang tersebut sambil memegangi lengan kanannya yang terluka parah dan mengeluarkan banyak darah.

Pemuda itu berjalan dengan gontai ke lokasi TKP sambil mengusap keringat di wajahnya. Dipandanginya pola kapur tubuh Suho yang tercetak di atas aspal beserta garis-garis polisi berwarna kuning yang melintangi tempat tersebut. Pemuda itu terus memandangi TKP dengan raut muka penuh penyesalan.

Ia mengeratkan genggaman tangannya. Tubuhnya gemetar.

“Sial… kalau saja aku tidak terlambat…” gumamnya.

Ia menendang onggokan kaleng di dekatnya sebagai sasaran pelampiasan, kemudian berbalik pergi. Menyisakan sebuah misteri yang baru saja terjadi di tempat itu.

______________

To Be Continued

______________

nggg…….. cuma prolog, saya mau liat responnya dulu baru ngelanjutin /plak/ soalnya sy jarang2 bikin ff genre beginian u.u

biarpun kliatan mengandung unsur yaoi a.k.a boyslove alias maho, sebenernya nggak kok. hubungan luhan-sehun cm sebatas temen deket dan luhan-kris cuma sebatas fans sm idolanya jiakakakka

tp gatau lagi ya kalau ternyata nanti cinta bersemi diantara mereka (?)

Advertisements

96 responses to “Two Sides [prolog]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s