I Need a Good Husband [ Last Chapter – This is My Choice, Because I Need a Good Husband ]

I Need a Good Husband 2–Storyline by Aline Park @angiiewijaya–

Main Cast

Kim Mi Jung [OC’s]
Lee Gi Kwang [Beast] as Lee Gi Kwang
Kim Myung Soo or L [Infinite] as Kim Myung Soo

Other Cast

Choi Jun Hong or Zelo [B.A.P] as Choi Jun Hong or Zelo
Jung Dae Hyun [B.A.P] as Jung Dae Hyun
Lee Sung Yeol [Infinite] as Lee Sung Yeol
Bang Min Ah [Girls Day] as Bang Min Ah
Lee Howon or Hoya [Infinite] as Hoya
Kim Ah Young or Yura [Girls Day] as Kim Yura

Genre
Romance

Length
Series

Rating
Teenager, PG-15

Previous
I Need a Good Husband [ Chapter 1 – In Senior High School ]
I Need a Good Husband [ Chapter 2 – You Kiss Me When I Sleep? ]
I Need a Good Husband [ Chapter 3 – New Bodyguard ]
I Need a Good Husband [ Chapter 4 – Graduation ]
I Need a Good Husband [ Chapter 5 – Job With a Love Story ]
I Need a Good Husband [ Chapter 6 – Problem and Controversy ]
I Need a Good Husband [ Chapter 7 – A Kiss, Date and Love ]
I Need a Good Husband [ Chapter 8 – Dae Hyun’s Story ]

I Need a Good Husband
Last Chapter – This is My Choice, Because I Need a Good Husband

Happy Reading

Mi Jung membiarkan heelsnya itu berbunyi kencang akibat terbentur oleh lantai. Matanya berlinangan air mata dan banyak orang yang memperhatikannya. Tapi, ia sama sekali tidak memperdulikan itu, ia memilih untuk fokus pada tujuannya di bandara. Ia terus berjalan, hingga berdiri di depan sebuah gerbang penerbangan. Di saat itu, ia langsung bertemu dengan orang yang menjadi tujuannya. Ia tersenyum ke arah Mi Jung, dan Mi Jung mendekatinya.

“Lo masih bisa senyum kayak gitu? Di depan gue?” ujar Mi Jung, tanpa basa-basi.

Ia tersenyum. “Gue tahu lo ga sayang sama gue, dan gue juga musti balik ke Jerman. Manager gua minta agar bisa keluar dari kontroversi juga.” jawab Zelo. “Lagian, lo kan udah rencana sendiri. Ya, gua balik gaada masalah lah.”

Mi Jung terdiam. Ia menatap mata orang itu dalam. “Zelo..”

“Tentang cerita lo semalam, kayaknya emang lo cuma bisa nikah sama Gi Kwang.” Kata Zelo. “Lo harus lakuin itu demi keluarga lu, demi bodyguard ‘kesayangan’ lo bisa wajib militer. Gua yakin dia sayang sama lo juga. Nah, berarti banyak yang lo untungkan.”

Lagi-lagi, Mi Jung hanya terdiam. Tanpa mereka sadari, para fans Zelo sedang memerhatikan mereka sedaritadi.

“Gi Kwang. Lo butuh orang itu kan?”

Mi Jung langsung mendongak mendengar nama orang itu. Ia menatap dalam ke arah Zelo.

“Di telfon, lo bilang, cuma dia yang bisa nyelamatin lo kan?” ujar Zelo. “Gua tahu, lo lagi nyoba juga buat sayang sama dia. Tapi lo labil Jung, lo masih mikirin cowok yang lain, yang ga mungkin bareng sama lo. Gua yakin lo bisa, gua tahu lo lagi nyoba sayang sama dia kan?”

 “Tapi, gue—“

Zelo memegang pundak Mi Jung. “Gua percaya, lo bakal sayang sama dia. Gua yakin ini rencana buat lo, lo akan menjadi orang yang bisa menyelamatkan semuanya. Termasuk keluarga lo. Dan lo akan keluar dari segala masalah,” kata Zelo. “dan lo bisa ketemu sama orang yang emang takdir lo.”

Kali ini, air mata Mi Jung menetes. Para fans sama sekali tidak merasa cemburu, mereka terharu dengan adega nyata itu. Cerita semenjak SMA yang belum terselesaikan sampai sekarang.

“Lo membutuhkan suami yang baik.” tambah Zelo.

Zelo akhirnya langsung meninggalkan Mi Jung. Mi Jung malah terdiam di tempat ia berdiri. “Yura gimana?”

Zelo ternyata masih dapat mendengar perkataan Mi Jung. Terbukti, ia membalikkan tubuhnya dan tersenyum ke arah Mi Jung. “Gue udah gaada harapan sama dia.” jawab Zelo. Ia kembali membelakangi Mi Jung. “Gue gamau memperpanjang cerita SMA gue. Gua yakin, nanti gua juga dapet cewek yang emang udah ditakdirin buat gua.”

“Ada masa depan di sana, gue gamau masih terjebak di masa lalu.” lanjut Zelo.

Mi Jung berdiri di sebuah kamar apartemen. Jantungnya berdetak lebih kencang dan meneguk ludahnya ketika melihat angka nomor kamar tersebut. Dengan ragu-ragu, ia menekan tombol bel. Kamar nomor 521.

Tanpa, perlu ditanya-tanya melalui kamera *apa sih itu namanya, yang di drama-drama ituloh-_-*, sang pemilik memilih untuk membukakan pintu kamar apartemennya itu, ia sudah tahu siapa yang datang ke apartemennya itu.

Mi Jung sedikit tersontak karena pintu langsung dibuka begitu saja. Dan muncul seorang pria dengan rambut sedikit acak-acakkan, wajahnya tampak masih mengantuk. Jika biasanya ia terlihat dengan pakaian yang rapi, sekarang ia hanya memakai kaos putih oblong dengan celana training biru. Penampilannya itu membuat Mi Jung sedikit tercengang.

“Kau baru bangun?” tanya Mi Jung.

“Kau kenapa datang pagi-pagi? Ini hari Minggu tahu.” jawabnya.

“Pagi? Ini sudah jam 1 siang!” kata Mi Jung.

Pria itu tidak menanggapi apa perkataan Mi Jung. Ia hanya mengacak-ngacak rambutnya, karena masih terlalu mengantuk. “Masuklah.” katanya, sambil mendahului Mi Jung masuk ke dalam apartemen.

Mi Jung akhirnya juga ikut masuk ke dalam apartemen. Ia duduk di sebuah sofa elegan yang ada di living room. Ia tidak begitu asing dengan kamar apartemen itu, karena belum lama ia telah mengunjunginya. Selama Mi Jung duduk, pria itu tampak sibuk mengotak-ngatik di dapur. Ia kemudian menggarukkan kepalanya.

“Aku hanya punya wine.” ujarnya, membuat Mi Jung membulatkan matanya. “Setidaknya, kau masih punya air mineral untuk segelas kan?” tanya Mi Jung.

Pria itu membalasnya dengan cengiran. Maklum, dapur apartemen ini memang tidak dibatasi tembok atau segala yang bisa menutupi living room. Hanya ada meja set dapur yang menutupinya.

Akhirnya, pria itu membawa segelas air mineral dan segelas wine. Tampaknya, hari ini pria itu ingin membuat Mi Jung mengeluarkan banyak pertanyaan.

“Kau benar-benar meminum wine? Apa tidak begitu berbahaya setelah bangun tidur?” ujar Mi Jung, ketika pria itu meletakkan minum di meja living room.

“Sudah biasa.” jawab pria itu, sembari duduk di sofa living room. “Apa yang membuatmu ke sini?” tanyanya, mengganti topik pembicaraan.

Seketika wajah Mi Jung memerah. Ia menundukkan kepalanya sambil meminum air yang sudah disediakan. Ia mengambil nafas. “Aku ingin membahas mengenai penawaranmu itu.”

“Penawaran? Pernikahan maksudmu?”

Mi Jung mengangguk pelan. “Aku ini seperti seseorang yang seperti membawa mobil tak tahu jalan. Aku menemukan beberapa cabang yang berjalan, dan aku harus memilih salah satu. Ternyata, selama ini aku selalu salah melewati cabang jalan, maka itu aku tidak sampai tujuan. Tapi, karena sudah berkali-kali salah dan tersisa satu cabang jalan. Itulah satu-satunya cabang jalan yang benar.” kata Mi Jung, yang membuat pria itu mengerutkan keningnya. “Selama ini, aku memilih pria yang salah, yang memang bukan untukku. Tapi, sekarang aku sudah menemukan pria yang benar. Yang seharusnya untukku.”

Hening sebentar. Mi Jung mengambil nafas. “Buatlah aku, supaya aku benar-benar mencintaimu. Buatlah aku, supaya aku menganggap bahwa hanya kau yang memiliki aku.” Mi Jung menoleh ke arah pria itu. “Gi Kwang, ayo kita menikah.”

Gi Kwang menatap bingung ke arah Mi Jung. “Kenapa kau tiba-tiba ingin menikah denganku?”

“Aku membutuhkan pertolonganmu. Aku harus segera menikah. Dengan keadaan seperti ini, aku tidak akan pernah bisa mengejar seseorang lagi. Bukan maksudku memanfaatkanmu, tapi aku juga ingin belajar untuk mencintaimu.”

Gi Kwang berdiri menatap jendela besar yang tampak seperti pintu. Ia tersenyum dibalik itu. “Pertolongan? Harus segera menikah? Ada apa denganmu? Ceritakanlah.”

Mi Jung meneguk ludah. Ia masih duduk di sofa. Ia kemudian menceritakan segala tentang keadaan keluarganya itu. Ia juga menceritakan mengenai Dae Hyun.

“Jadi mungkin, selama dua tahun, selama orang yang bernama Dae Hyun itu masih melakukan wajib militer, kita mungkin akan sibuk dengan pekerjaan masing-masing, dan kita tidak memiliki ketu—“

“Tidak masalah.” potong Gi Kwang. “Tapi, jadi kau mengundurkan diri dari pekerjaanmu?”

Mi Jung mengangguk. Ia kemudian langsung memeluk tubuh kekar Gi Kwang dari belakang. “Gomawo kau sudah mau menolongku.” katanya. Kepalanya menyender ke punggung Gi Kwang yang lengket itu, tapi membuatnya sangat nyaman.

“Kau tidak takut memeluk pria di apartemennya, dan hanya berdua?” goda Gi Kwang.

Mi Jung langsung menggerangkan pelukannya. “Maksudmu apa?”

Tiba-tiba, kedua tangan Gi Kwang menompang tubuh Mi Jung. Ia memutarnya sekali, membuat Mi Jung berteriak.

“Ya! Jangan macam-macam kau Lee Gi Kwang!”

Gi Kwang langsung membawa Mi Jung ke dalam kamar dan meletakkan tubuh gadis itu di atas ranjang. Gi Kwang langsung berbaring di sampingnya. Mereka saling menghadap satu sama lain. Mi Jung dapat merasakan sebuah kelembutan dari mata Gi Kwang.

“Kau tidak akan macam-macamkan?” tanya Mi Jung.

Gi Kwang tertawa pelan. “Tentu saja tidak. Aku hanya ingin mandi, aku membawamu untuk memilihkan kemeja.”

“Memilihkan kemeja? Kenapa harus aku?”

Gi Kwang bangkit dari ranjangnya. Ia kemudian langsung membuka lemarinya. “Karena aku ingin melamarmu di hadapan orang tuamu.”

“Mwo? Melamar? Memang kau sudah siap apa? Cincin saja belum ada.”

“Bukannya aku sudah memberi cincin saat SMA ya?” goda Gi Kwang, sambil menunjukkan sebuah cincin di jari manisnya. Ternyata, ia juga memakai cincin yang sama, yang ia berikan kepada Mi Jung.

Mi Jung menatap kesal ke arah calon suaminya itu. Gi Kwang tertawa menyadari ekspresi Mi Jung.

“Aku bercanda. Lihat saja nanti.”

Mi Jung memasukkan barang-barang yang ada di meja kerja kantornya. Sebenarnya, susah untuk melepaskan tempatnya ini, tapi mau tidak mau, ia harus melakukannya. Demi keluarganya. Barang yang terakhir adalah foto-foto yang ada di mejanya. Yang pertama ia masukkan adalah foto-foto keluarganya, kedua fotonya saat kelas 11 (class meeting) dan yang terakhir adalah yang paling berat untuk dimasukkan, fotonya bersama rekan-rekannya saat berada di Jepang beberapa waktu yang lalu.

“Kim Mi Jung!”

Mi Jung menoleh, ketika pintunya dibuka tanpa izin dan beberapa orang berteriak. Ternyata rekan-rekannya. So Hyun memegang sebuah kue tart coklat yang menjadi favorit Mi Jung itu. Mereka semua berjalan mendekati Mi Jung dan meletakkan kue tart itu di atas meja Mi Jung.

“Jung, ini semua dari kita semua. Atas keselamatan lo yang udah dilamar dan lagi mempersiapkan pernikahan. Tapi ya, juga kepergian lo.” kata So Hyun. Air matanya sebenernya udah menggenang daritadi.

Air mata Mi Jung mengalir. “Makasih ya semuanya, lo semua bukan rekan gue emang, tapi keluarga buat gue.” kata Mi Jung. “Sebelum gue emang bener-bener pergi, gue mau kasih pesan buat kalian. Kalian gaboleh ceroboh dalam bekerja. Jangan bikin masalah besar, kayak gue sebelumnya, sampe ada kontroversi sama artis. Makin kreatif.”

“Pasti Jung.” jawab Yo Seob. “Tapi, siapa yang jadi ketuanya? Seenggaknya kan kita butuh penanggung jawab.”

“Nah, sekarang gue mau umumin, gue udah nentuin ini dari awal. Tapi, sengaja baru kasih tahu sekarang.” kata Mi Jung. “Yoo Young Jae, gue pilih lo jadi ketua.”

Semua langsung berteriak ‘Mr. Yoo!’ sekencang-kencangnya, kecuali So Hyun, mukanya malah terlihat masam.

“Kenapa dia Jung? Gue bukannya pengen jadi ketua, tapi gue gamau dipimpin dia!” kata So Hyun.

“Alah So Hyun, palingan bentaran juga naksir. Udah deh, gausah pura-pura gasuka.” goda Mi Jung, membuat seisi ruangan tertawa. Diam-diam, muka Young Jae memerah. “Gue tuh milih Young Jae, karean dia orangnya sabar, lebih sabar dari gua malah. Dia juga udah lama di sini, bener-bener ngawal bareng gue, jadi dia udah tahu banyak problem di sini. Dia juga termasuk pinter gambar kan?”

“Wah, kayaknya kita musti beli kue lagi nih buat ketua baru.” kata para rekan-rekan Mi Jung.

“Gue ga ikutan.” jawab So Hyun.

Entah gimana ceritanya, mereka langsung duduk di lantai, semacam lagi camping tapi gagal, sambil makan kue bareng. Lawaknya, So Hyun duduk sebelahan sama Young Jae secara tak disengaja. Jadi, So Hyun itu gedeg sama Young Jae gara-gara ada berita Young Jae mau ngelamar salah satu anak di kantor hari ini, dan gosipnya itu anak baru di kantor. Kenapa beritanya bisa besar banget? Karena Young Jae ini kalem orangnya, tapi kalo ketemu orang sableng, sableng juga dia, dan dia itu jarang kedengeran berita asmaranya,. Jadi gitu deh~

Nah, intinya, So Hyun emang udah suka Young Jae dari dulu. Dari zaman SMA. Jadi, bernasib mirip-mirip Mi Jung cerita cinta SMA.

Sekarang, Mi Jung mau cerita soal dia sama Gi Kwang dari SMA. Semua temen-temennya udah ngedesek dari tadi minta diceritain.

“Jadi, dia itu senior gue dulu. Pas itu juga, gue juga sekelas sama Jun Hong, Myung Soo. Dulu sih, gua suka sama Myung Soo. Tapi, selama SMA, tanpa gue sadari, banyak banget kejadian aneh gue sama Gi Kwang. Dulu gue pernah, tidur di kelas, bangun-bangun gue langsung liat muka dia. Dia ngaku ke gue kemaren, katanya dia cium kening gua. Banyak deh yang dia omongin, yang nunjukkin kalo dia suka sama gue, sampe dia kasih cincin pas dia emang mau lulus. Gue mikir dia tuh playboy, karena emang playboy. Tapi, gue ga nyangka, sampe sekarang dia masih sayang sama gue. Dia berubah.”

“Ah gila, so sweet bener.” ujar para rekan-rekan mereka.

“Tapi, keren bener, ternyata ketua kita yang dulu nan tercinta ini bisa sekelas sama Myung Soo-Jun Hong.” ujar So Hyun. “Duh, coba gue yang sekelas sama mereka deh.”

Mereka mengobrol sepanjang waktu sampe malem. Mereka selesai kerja sore, dan abis itulah mereka melakukan party kecil-kecilan. Sama sekali ga dimarahin sama siapapun, termasuk sama bos. Sebenernya, si bos juga ikutan party-nya, tapi sayangnya, dia keluar negri buat kerjaan.

Semuanya udah pulang sekarang, Mi Jung sih lagi keliling-liling kantor. Dan di tempat tim pemasaran, cuma tersisa Young Jae sama So Hyun.

“Congrats ya, udah jadi ketua.” kata So Hyun, sambil memasukkan beberapa barang ke dalam tas tangannya.

“Gomawo.” jawab Young Jae, sambil tersenyum. “Lo ga marah karena ini kan?”

“Ya enggaklah, gue mah udah nyaman di posisi yang gue tempatin sekarang.” Jawab So Hyun. “Gue marah gara-gara alesan yang lain Young Jae”

Tiba-tiba, Young Jae berdiri di samping So Hyun. Dia ngeliat wajah So Hyun, dan So Hyun menatap wajah Young Jae.

“Lo masih inget ga, pas valentine, kita ngedance bareng, terus gue musti gendong lu karena lo jatoh. Lo bilang, gue gugup banget pas itu, mau pas ngedance ato gendong lu.” ujar Young Jae.

Pipi So Hyun mengeluarkan semburan merah. “Masih, kenapa?”

“Sekarang perasaan gue gugup kayak gitu.”

“Kenapa gugup? Gugup jadi ketua?” tanya So Hyun, sambil terus berpura-pura mengacak-ngacak tasnya.

Young Jae menggeleng sambil tersenyum. Diam-diam, dia meletakkan sebuah tissue di atas meja So Hyun. “Gue ke toilet bentar ya.”

Akhirnya, Young Jae meninggalkan So Hyun. Karena perasaan So Hyun sedikit kesal, ia sama sekali tidak berniat untuk menunggui Young Jae. Tapi, niatnya itu terhenti, karena melihat tissue yang ditinggalkan Young Jae. Pada awalnya, ia ingin membuangnya, tapi karena ada sesuatu yang mengganjal dari tissue itu, ia membukanya dan mendapat sebuah cincin dan tulisan.

‘Do you want to be a part of my life? J’

Wajah So Hyun memerah. Sebuah cincin elegan yang berkilauan itu terlihat sangat indah. Dan tanpa ia sadari, Young Jae sama sekali tidak ke toilet, melainkan berada di ambang pintu dari ruangan mereka.

“Tenang, gosip itu ga bener kok. Aku emang pengen ngelamar orang hari ini, tapi bukan anak baru di kantor. Ini udah direncanain, dan rencananya itu dari Mi Jung. Tau sendiri kan, dia emang pinter ngurus ginian.” kata Young Jae.

So Hyun noleh ke arah Young Jae. “Jadi ceweknya itu aku?”

“Menurut kamu?”

So Hyun meneteskan air matanya. Dia langsung nyamperin Young Jae sambil ngemukulin. “Jahat banget sih ngerjain sampe kayak gini! Aku udah sedih banget tahu ga daritadi! Jahat!”

“Aduh, So, seriusan, aku pengen pake cara yang gabisa dilupain, minta bantuan Mi Jung, rencananya begitu, ya aku coba aja.” jawab Young Jae, sambil menahan pukulan So Hyun.

Sekarang, So Hyun malah meluk Young Jae. Young Jae tersenyum. “Dengan cara apapun, asalkan itu tulus, kau akan tetap menerimanya kan?” ujar Young Jae.

Diam-diam, Mi Jung melihat mereka berdua. Rasa haru muncul dari dalam dirinya. Ternyata, cerita SMA itu bukanlah cerita yang main-main, asalkan memang kita serius.

Hari ini, kelas 11-B dan kelas 12-A sedang melakukan reunian. Kenapa cuma dua kelas itu? Karena dua kelas itu emang bersejarah banget, dulu, kalo di lapangan futsal atau basket, gaada kata temen. Tapi, kalo kayak suasana sekarang, mereka udah kayak keluarga. Aneh emang. Dan karena reunian ini, otomatis Mi Jung ketemu Gi Kwang sama Myung Soo (yang syukurnya diizinin bebas hari ini), Yura ketemu Hoya, Sung Yeol ketemu Min Ah. Masih inget kan era kelas ini?

Mereka pergi ke taman bermain. Mi Jung sama sekali ga bersemangat, dia bingung mau main apaan, mau main yang ekstrim ketinggian, dia takut. Sisanya juga ga gitu dia suka. Berbeda sama Sung Yeol dan Hoya, mereka berdua malah semangat banget, kembali ke masa remaja. Ga cuma mereka sih, masih inget kan dengan Sung Jong? Terus juga Jong Up? Yong Guk? Woo Hyun? Meski dulu munculnya dikit, tapi semoga kalian inget ya, yang pas Chapter 3 loh, yang pas ketemu ayahnya Dae Hyun itu.

Sembari para ‘mantan murid’ bermain, Mi Jung duduk di sebuah kursi panjang. Tiba-tiba, Yura nyamperin dia.

“Maaf ya, waktu itu aku marah-marah sama ka—“

“Gausah dipikirin.” jawab Mi Jung. Sifatnya sekarang persis saat zaman-zaman SMA. “Ga main?”

Yura menggeleng, lalu duduk di samping Mi Jung. “Makasih ya udah mau maafin.” jawabnya.

Mi Jung cuma ngangguk-ngangguk. “Ngomong-ngomong, gimana sama Hoya? Baik-baik aja kan ya?”

Yura langsung lemes. Dia nundukkin kepalanya. “Kita berantem, kita milih buat ngeakhirin. Dia pikir aku sayang Zelo, dan aku emang mendadak labil gajelas gitu. Tapi, aku sadar, kalo aku emang masih sayang sama dia.”

“Hah? Seriusan pisah kalian berdua? Loh, jangan dong. Ga mungkin lah Hoya juga rela gitu aja. Aku tahu kok, dari wajahnya, dia bukan tipe orang yang ga setia.”

“Aku yang ga setia Jung.” jawab Yura. “Mungkin aku emang bukan orang yang baik buat dia.”

“Mungkin kamu emang bukan orang yang baik buat dia, tapi dia butuh kamu.”

Yura tersontak. Ia menatap dalam ke arah Mi Jung. “Aku berharap gitu. Tapi, aku yang hancurin hubungan kita berdua.”

“Kalo gitu, kamu yang perbaikkin. Aku yakin masih bisa kok.” kata Mi Jung.

Lagi-lagi, perkataan Mi Jung mengena di hati Yura. Ia sadar, kalo dia belum coba untuk ngobrol sama Hoya, belom sempet bahas masalah ini.

“Kalo kamu gimana sekarang kabarnya?” tanya Yura.

“Kabar?” sontak Mi Jung, wajahnya sedikit memerah. “Aku udah siapin pernikahan sama Gi Kwang.”

“HAH?! PERNIKAHAN SAMA GI KWANG?!” teriak Yura.

“EH, APAAN?! SIAPA YANG MAU NIKAH SAMA HYUNG GUA?!”

Ternyata, Sung Yeol, Hoya, Sung Jong, Woo Hyun, Jong Up, Yong Guk, Gi Kwang, Myung Soo, dan murid lainnya yang abis naik roller coaster, udah turun dan denger teriakkan Yura. Seketika, wajah mereka langsung seger dengernya, tapi Myung Soo masih pucet mukanya, dia emang paling ga kuat naiknya.

“Gue mau nikah sama Mi Jung.” jawab Gi Kwang tenang, sambil duduk di samping Mi Jung. Wajah Mi Jung semakin memerah.

Seketika semuanya ribut, apalagi Sung Yeol. Ga nyangka banget, ternyata Mi Jung bentar lagi bakal jadi kakak iparnya.

Tapi, berbeda dari yang lain, Myung Soo malah terdiam. Bukan, bukan karena mabok. Dia ternyata emang gabisa dapetin Mi Jung. Dia kalah.

Setelah keributan tersebut, Sung Yeol masih belum puas. Dia ajakkin lagi main yang ekstrim-ekstrim, dan yang ikut, sama kayak yang tadi. Tapi, Myung Soo milih buat kabur, dia udah ga kuat banget. Maklum, ditambah stress juga mikirin pernikahan Mi Jung.

Ketika ia ingin berjalan menuju tempat yang menjual minuman, ia bertemu dengan Mi Jung yang sedang membeli minuman. Mereka berdua berdiri sebelahan pas di kasir. Mi Jung tenang-tenang aja, tapi Myung Soo jantungnya berdetak lebih kencang.

“Mau jalan-jalan?” tanya Myung Soo. Syukurnya, tempat itu lagi sepi, jadi ga akan ada gosip lagi. Dia juga pake pakaian tertutup.

Mi Jung noleh ke arah Myung Soo. Ia mengangguk sambil mengeluarkan seulas senyuman. “Boleh.”

Akhirnya, mereka berdua berjalan-jalan sambil membawa minuman mereka. Mereka pergi ke daerah taman bermain yang sepi, supaya gaada yang bisa denger obrolan mereka. Awalnya, cuma ngobrol-ngobrol biasa, nanya kabar dan lain-lain. Tapi, Myung Soo langsung mengganti topik, menuju topik utama yang emang pengen dia omongin.

“Jung, kamu bener-bener bakal ngelakuin pernikahan sama Gi Kwang sunbae?”

Mi Jung mengangguk. Ia menghentikan langkahnya, karena Myung Soo juga hanya berdiri diam.

Myung Soo menghadap ke arah Mi Jung. Dia buka syal yang nutupin mulutnya itu. “Saranghae.”

Mi Jung terdiam. Ia mengerutkan keningnya, sambil tertawa pelan. “Bercandanya jangan begitu juga Myu—“

“Aku serius.” potong Myung Soo, membuat Mi Jung terdiam. “Tapi, aku telat buat ngomong ini.”

Mi Jung tersenyum tipis. “Kita ga mungkin bareng. Karena, aku gamau bikin kamu punya beban berat karena aku. Aku juga harus segera menikah. Dari dulu, dari zaman SMA, dari aku sayang sama kamu dulu, kita ga akan pernah bisa disatuin. Gaada kecocokkan.”

Myung Soo menghela nafas. Ia kemudian maju satu langkah, tubuhnya semakin dekat dengan tubuh Mi Jung. Ia kemudian membungkuk dan mengarahkan wajahnya ke wajah Mi Jung. Dan di saat itulah, bibirnya mengecup singkat bibir tipis Mi Jung. Mi Jung hanya diam, ia tidak bereaksi apapun.

Posisi mereka masih saling menatap satu sama lain. Tapi, Mi Jung kemudian langsung bereaksi. “Aku pergi dulu ya.”

Mi Jung langsung pergi, menjauhi Myung Soo. Ia merasa sudah tidak pantas untuk bertemu dengan pria itu. Dari awal, mereka memang tidak ditakdirkan, ia sudah membuat Myung Soo masuk ke dalam kontroversi.

Akhirnya, Myung Soo pergi berjalan juga, ia sekarang membiarkan wajahnya terbuka dan terlihat. Ia kemudian duduk di sebuah kursi panjang, dan di sana ada Sung Yeol yang tampak menatap kosong ke tanah.

“Gimana lo sama Min Ah?” tanya Myung Soo.

Sung Yeol tersenyum pahit. “Lo bisa liat kali, dia lagi jalan tuh bareng calon suaminya. Meski, katanya nikahnya masih dua tahun lagi, gara-gara calon suaminya itu kerja, tetep aja ga bakal gue dapetin.” jawab Sung Yeol. “Lo sendiri sama Mi Jung gimana? Lo suka kan sama dia?”

Myung Soo tertawa pelan. “Sama kayak lo kali. Dia udah sibuk sama hyung lu.” jawab Myung Soo. “Gue debut, supaya gue bisa lupain Mi Jung, tapi dia malah dateng lagi. Salah jalan gue. Kalo gue ga debut, gue bisa aja dapetin dia.”

“Lo murid paling didemenin cewek dulu, tapi malah sakit hati. Si Jong Up aja udah nikah tuh, katanya anaknya umur dua tahun.” kata Sung Yeol.

“Kita emang ga bakal tahu apa yang terjadi ke depannya.” ujar Myung Soo, sambil tersenyum.

Waktu sudah malam. Mereka semua bersiap-siap untuk pulang. Tapi, tak sengaja, Yura berjalan paling belakang bersama Hoya.

“Aku bakal pergi ke Paris buat pekerjaan.”

Yura noleh ke arah Hoya. “Paris? Kamu ga pernah bilang.”

Hoya tersenyum tipis. “Sengaja.” jawabnya. “Kenapa? Kita kan udah—“

“Maaf.” potong Yura.

Hoya tertawa pelan. “Tidak perlu. Mungkin belum takdir kita untuk bersama kan? Nanti kita akan menemukan masa depan kita. Mungkin belum saatnya.”

Hoya berjalan mendahului Yura. Yura terdiam dan menatap punggung Hoya yang semakin lama, semakin menjauh. Air matanya menggenang. Tapi, dalam hati, ia bertekad untuk menunggu Hoya hingga ia kembali.

Menunggu takdirnya.

Sesampainya di rumah, Mi Jung langsung masuk ke dalam kamar. Ia membanting tasnya di atas ranjang dan pergi menuju meja kerjanya. Matanya langsung tertuju pada sebuah amplop pink di atas meja. Ia mengambilnya dan membuka amplop itu. Selembar surat.

Aku akan pergi wajib militer. Maaf ya, aku belum memberitahumu sebelumnya. Maaf juga aku tidak dapat membantu perusahaan. Aku harap, kau bisa membantuku. Setelah aku kembali dan jika projek ayah telah selesai, aku akan menjadi direktur, kau bisa fokus pada rumah tanggamu.
Sampai jumpa – Your Oppa, Jung Dae Hyun

Air mata  menggenang dari mata Mi Jung dan menetes dengan cepatnya. Ia tidak menyangka, bahwa Dae Hyun dengan secepat itu mengikuti wajib militer. Bahkan, mereka belum sempat bertemu belakangan ini, karena Dae Hyun tinggal bersama ayahnya.

Ia tiba-tiba teringat, ketika Dae Hyun mengajaknya menikah. Perasaan bersalah muncul dalam hatinya. Ia memilih untuk menikah dengan orang lain, bukanlah Dae Hyun.

“Maaf oppa, tapi aku memang tidak memiliki perasaan padamu.”

Pada malam itu, semuanya berubah. Tidak ada pertanyaan lagi, mereka semua telah membuat akhir cerita SMA mereka. Mereka telah memutuskan hidup mereka. Myung Soo, Zelo dan Sung Yeol memilih untuk mundur dalam mengejar seorang gadis. Dae Hyun mundur dengan cara wajib militer. Hoya pergi ke Paris demi pekerjaannya. Yura kali ini serius berjuang menunggu Hoya. Min Ah yang mengikuti perjodohan. Mi Jung meninggalkan pekerjaannya dan menikah dengan Gi Kwang demi keluarganya.

Mungkin, seluruhnya tidak sesuai dengan impian. Tidak seindah awalnya. Tapi, ada tujuan dibalik itu semua. Sudah direncanakan.

Sakit hati dan bahagia menjadi satu. Setelah bertahun-tahun penuh pertanyaan. Pengejaran. Memilih. Menentukan.

Inilah takdir.

6 Months Later

Seorang perempuan keluar dari sebuah lift. Ia menggunakan sebuah gaun putih yang tampak terlihat model lama, tapi tetap terlihat indah. Rambutnya bergelombang karena diblow. Heels putih juga menemaninya berjalan di lantai keramik itu. Ketika keluar dari lift, jika ia berjalan menuju ke arah kanan, ada sebuah meja dengan dua orang berdiri di sana, dan pintu yang dibiarkan terbuka. Di dalamnya, tampak sudah ramai. Ketika ia menoleh ke kiri, ia malah mendapati seorang pria yang sedang berdiri menghadap keluar jendela yang cukup besar. Perempuan itu menghampiri pria itu.

“Kau kembali dari Paris?” tanya perempuan itu.

Pria itu menoleh ke arah perempuan itu. Seketika ia tersontak, tapi ia berusaha untuk tenang. “Hanya untuk menghadiri pernikahan Mi Jung. Aku menginap selama tiga hari.”

Perempuan itu mengangguk-ngangguk. “Aku menunggumu.”

Tatapan heran muncul dari pria itu. “Menungguku? Untuk?”

“Setelah reunian enam bulan yang lalu, aku sadar, bahwa aku memang mencintaimu.” ujar perempuan itu.

Pria itu hanya terdiam. Ia kembali menatap keluar jendela.

“Maaf kalau aku sempat mengecewakanmu. Tapi, aku benar-benar mencintaimu.” kata perempuan itu.

Helaan nafas keluar dari mulut pria itu. “Kau mau masuk?” tanya pria itu, sambil mengulurkan tangannya, berniat bergandengan tangan. Perempuan itu menerimanya, dan mereka berdua berjalan masuk ke dalam ruangan yang tadi dilihat perempuan itu.

Mereka memberikan sebuah undangan pernikahan kepada sang penerima tamu. Pria itu menulis namanya dengan ‘Lee Ho Won’, sedangkan perempuan itu menulis dengan ‘Yura’. Kemudian mereka berdua masu ke dalam.

Entah bagaimana bisa, mata Hoya baru tersadar dengan penampilan Yura. Ia menggunakan gaun saat Graduation. Hoya sendiri juga memakai outfit Graduation. Bukan karena mereka tidak sanggup memakai yang baru, tapi mereka sedang merindukan suasana dulu. Bahkan, acara pesta malam ini, diadakan di aula sekolah. Jangan main-main, aula sekolah memang sudah bisa disewa, dan tentunya dengan harga yang tinggi.

“Saranghae.” bisik Hoya, membuat Yura menoleh ke arahnya. Hoya tersenyum. “Bagaimana jika kita juga menyusul pengantin ini?”

Wajah Yura memerah, tapi ia senang. Tampaknya, penungguannya tidak sia-sia.

Tiba-tiba, Yura bertemu dengan Min Ah dengan Min Hyuk. Yura bukannya tidak senang atau cemburu, hanya saja, ia langsung teringat dengan Sung Yeol. Selain karena sudah lama tak bertemu, ia merasa sedih karena Sung Yeol pasti akan sangat tersakiti.

Sudah lama tak bertemu? Iya. Setelah malam reunian itu, mereka semua jarang bertemu. Sung Yeol dan Gi Kwang malah bergantian dalam pekerjaan, karena keduanya juga adalah perusahaan ayah mereka. Sung Yeol lebih hebat daripada Gi Kwang, ia berhasil membuat direktur perusahaan Jepang tergeser, diganti olehnya, membuat perusahaan yang berada di Jepang nyaris bangkrut, menjadi bangkit kembali. Lalu, Hoya pergi ke Paris untuk pekerjaannya membangun sebuah mall, yang diminta oleh pemerintah sana. Myung Soo sibuk syuting di mana-mana. Dae Hyun masih menjalani wajib militer. Min Ah masih menjadi sekretaris Gi Kwang (karena Sung Yeol berada di Jepang), tetapi selalu sibuk dengan Min Hyuk. Sedangkan Mi Jung dan Gi Kwang, sibuk dengan pekerjaan dan pernikahan mereka dan mereka hanya sering bertemu dengan Yura, karena gadis itu membantu dalam persiapan pernikahan.

“Yang pengantin itu sebenernya siapa sih.”

Yura dan Hoya langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria tinggi, dengan rambut coklat terang dan pendek sedang berdiri di samping Hoya.

“Sung Yeol? Lu Sung Yeol?” tanya Hoya.

Sung Yeol tertawa. “Lo berdua romantis banget, ntar pengantinnya kalah loh.”

Hoya hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Yura menunduk karena pipinya memerah kembali.

Tiba-tiba, Min Ah dan Min Hyuk berjalan ke arah mereka. Ketika mata Min Ah dan Sung Yeol tersenyum, mereka terdiam beberapa saat. Tapi, kemudian Sung Yeol tersenyum dan berjalan santai meninggalkan tempat itu. Mata Min Ah sama sekali tidak dapat lepas dari Sung Yeol yang semakin lama, semakin menjauh. Sudah lama ia tidak bertemu dengan pria itu.

Di saat itulah, Sung Yeol bertemu dengan Myung Soo yang sedang duduk tenang. “Lo apa kabar? Udah lama ga keliatan. Syuting di mana lo?”

Myung Soo tertawa pelan. “Gue baik. Paling capek syuting juga. Seenggaknya, bikin gue sedikit lupa masalah Mi Jung.”

Sung Yeol tersenyum tipis. “Gue pergi ke Jepang, juga jadi lupain masalah Min Ah.” ujarnya. “Tapi, lo pasti masih berpikir dan berharap bakal berdiri di atas sana kan?”

“Percuma, dengan berdiri di situ, gue juga ga bakal bisa jadi suaminya.” jawabnya.

*nb : Jadi, ceritanya ini cuma pesta malamnya (pemotongan kue, dll.). Pengucapan Janji itu pagi, di Tempat Ibadah ^^*

Setelah pembukaan dari sang MC, sang pengantin masuk ke dalam ruangan aula tersebut. Semua tampak bersuka cita. Myung Soo pun berusaha untuk tetap tersenyum, meski ada rasa sakit di dalam sana.

“Bisa ga ya, gue kayak hyung gue, tapi gue bareng Min Ah.” gumam Sung Yeol, yang masih dapat didengar Myung Soo. Myung Soo hanya tersenyum iba.

Di saat itulah, ada seseorang yang baru masuk ke dalam aula. Matanya langsung bertemu dengan Mi Jung. Mi Jung sedikit tercengang, tapi ia berusaha tersenyum kepada pria itu. Pria itu membalas tersenyum, dan mulai bermain dengan kameranya, menciptakan sebuah moment penting malam ini.

Di tengah kerjanya, ia mengambil gambar dari sang pianist. Tapi, seketika ia tercengan melihat pianist itu. Wajahnya tampak tidak asing.

“Mungkinkah ia pernah menjadi model dalam pemotretan?”

Akhirnya, setelah melakukan banyak acara, pemotongan kue, dll., sekarang adalah ending dengan kiss. Semua tamu langsung berteriak, Sung Yeol termasuk heboh, karena itu adalah hyung nya.

“Apa kita benar-benar harus melakukan ini?” kata Mi Jung, wajahnya memerah.

“Semua pengantin begitu bukan?” jawab Gi Kwang. “Saranghae.”

Mi Jung menatap ke arah Gi Kwang, ia menunjukkan senyuman manis yang ia milikki. “Na do saranghae.”

Sebuah ciuman singkat dilakukan oleh mereka. Meski hanya seperti kecupan biasa, tapi sangat terlihat romantis, apalagi jika diingat tentang sejarah cinta mereka. Ada saja yang merespon dengan bersemangat, tapi juga ada yang hanya biasa saja. Mungkin kalian bisa menyebutnya Myung Soo?

Saat Yura bertepuk tangan, tak sengaja orang yang memegang kamera tadi menabraknya saat berjalan. Ketika mata mereka bertemu, Yura langsung membulatkan matanya.

“Zelo?”

Zelo tersenyum. “Mi Jung memaksaku untuk menjadi photographer, meski aku datang terlambat.” jawabnya, sambil tertawa pelan, sambil melanjutkan pekerjaannya.

“Kenapa kau mau menikah denganku?” tanya Gi Kwang, ditengah kericuhan.

Mi Jung tersenyum. “Karena aku membutuhkan suami yang baik,” jawabnya. “dan itu adalah pria bernama Lee Gi Kwang.”

THE END

HALLO READERS ! 😀 Finally ya, FF ini udah selese aja, rasanya terlalu cepet, padahal Author bikinnya lama :’| Author pen ngomong buanyakkk kali ini. Pertama, thankyou buat para Readers yang setia baca ini, mungkin kalian kecewa akan suatu hal, tapi Author sungguh berterimakasih, apalagi yang bersedia comment & like :’) Kedua, maafkan Author mungkin sering ada typo, ceritanya ga sesuai yang kalian inginkan, jelek mungkin ceritanya, atau masih banyak kesalahan lainnya, Author akan berusaha’-‘)9 Ketiga, buat Siders, makasih juga kalian udah baca, Author juga menghargai kalian, tapi sekali” coba comment itu ga salah kan? (: Keempat, maaf kalo pairingan akhirnya ga sesuai yang kayak kalian harepin. Kelima, maaf Author belom bales comment! T_T Ini bikin FF aja waktunya begini :’

Oh, iya, Author mau tau dong, siapa cast favorit kalian, dan siapa pairing/couple favorit kalian, pengen tahu aja, hehe XD Kalo Author di sini suka banget sama Sung Yeol castnya XD Kalo couple, Author suka Mi Jung-Dae Hyun. Tapi, bukan berarti Authornya jadi pilih kasih loh, kan favorit ._.v

Ok, sekali lagi. Thankyou so much buat para Readers yang udah baca ini sampe akhir, serius mau Siders atau bukan, Author tetep berterimakasih. Seenggaknya FF ini selalu masuk star setiap rilis. Kalian membantu. Tapi, untuk para Siders, coba deh kalian comment aja sedikit buat Author. Author akan sangat menghargai kalian loh. And last, Author ga akan pernah lupain kalian semua {}

JANGAN JADI SILENT READERS, COMMENT AND LIKE KALO UDAH BACA. JIKA ADA KESALAHAN, SILAHKAN LAPOR!

Thanks for Reading ^^

169 responses to “I Need a Good Husband [ Last Chapter – This is My Choice, Because I Need a Good Husband ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s