LIFE [7]

 

Author : Asuchi aka @hotachii

Cast :

*) Yoo Nayeon [OC]

*) Ricky / Yoo Changhyun [Teen Top]

*) Oh Sehun [Exo]

*) Kevin / Woo Sunghyun [U Kiss]

*) Kim Kibum [SHINee]

*) Sementara segitu :p

Genre : AU, OOC, Romance, Angst <- di otak sih gitu :p

Rate : General

Credit Pic : Aishita World

Disclaim : selain jalan cerita semuanya bukan punya aku, eh tapi kalo kasih kepin gak bakal ditolak /ditimpukkiseop

a/n :oke, buat bayar utang karena nunggu, aku kasih part ini lebih cepet, hehe~ happy reading ^^

Previous Part : LIFE [1] | LIFE [2] | LIFE [3] | LIFE [4] | LIFE [5] | LIFE [6] |

“Aku mungkin akan menabrakkan diri lagi, dan kali ini tidak akan gagal jika aku tetap bersama oppa.”

Ckiiiitttttt…….

Mobil yang dikemudikan Kibum langsung menepi. Kibum menatap Nayeon dengan penuh amarah sekarang. “SEBENARNYA APA MAUMU?” Bentak Kibum. “Oppa sudah berusah bersabar. Dan ini yang oppa dapat? Tidak puas menghancurkan hidupmu yang dulu?” Nada suara Kibum memelan, tapi tetap tersirat emosi di tiap kalimatnya.

Nayeon hanya menunduk. Berusaha untuk menyembunyikan emosinya.

Dan Kibum menarik kepala Nayeon arah melihat ke arahnya. Nafasnya masih memburu karena marah. “Kalau kau mengatakan hal itu lagi, berarti kau akan membunuh dua orang. Kau dan aku.” Kata Kibum sambil menatap lekat mata Nayeon yang sedang berusaha menghindari tatapannya. “Sekarang berpikir jernih lah. Oppa tidak ingin ada pembicaraan soal perceraian lagi.” Tambahnya sebelum mulai kembali mengemudikan mobilnya.

Nayeon hanya diam. Padahal dia berharap akan mendapatkan yang lebih dari ini. Lebih baik Kibum membencinya karena keegoisan dia sehingga dia dan Kibum bisa dengan mudah berpisah dengannya. Tapi harapannya tidak terkabul.

Mungkin, Nayeon memang harus melakukan apa yang dia katakan sebelumnya.

LIFE 7

Sebelum matahari menampakkan wujudnya, Nayeon sudah bangun. Dia sudah selesai mengepak lagi pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper. Kemarin, saat dia pulang bersama Kibum, dia menyadari Kibum sudah membereskan pakaiannya saat dia sekolah. Nayeon berusaha menajamkan telinganya, mencoba mendengar suara di dalam apartemen Kibum dan mendapati hanya suara detak jam. Dia yakin Kibum masih tidur.

Nayeon mengangkat kopernya, dia tidak ingin menimbulkan suara dari roda koper, pelan-pelan dia kemudian meninggalkan apartemen itu.

Nayeon memeriksa jam tangannya, masih pukul lima pagi. Dia sudah berhasil kabur dari apartemen Kibum dan bertahan di taman bermain dekat flat yang nanti akan disewanya. Dia sudah meminta Ricky untuk bungkam jika Kibum bertanya padanya. Nayeon juga sudah minta tolong pada Kevin untuk membuatkan surat keterangan sakit pada dokter kenalan Kevin. Nayeon ingin menghindar sementara waktu, memikirkan langkah untuk masa depannya.

Sekarang Nayeon tinggal menunggu waktu, dia akan mengunjungi pemilik flat yang akan di sewanya pukul delapan pagi ini.

Nayeon sama sekali tidak tahu dia akan melakukan apa tiga jam ke depan, makanya dia hanya diam di atas ayunan dengan koper di sampingnya. Dia masih mengantuk, tapi berusaha untuk tetap terjaga karena bisa saja ada orang yang tiba-tiba mengambil kopernya jika dia tertidur. Nayeon lalu mengayunkan ayunannya, agar ngantuk itu tidak menguasai dirinya.

“Hei, gadis manis. Pagi-pagi buta kau berada di tempat seperti ini. Bagaimana kalau kau ikut oppa saja?”

Nayeon menatap dua orang pria dua puluh tahunan berdiri di depannya, bau alkohol tercium dari mulut dua pria itu. Tidak ingin mengambil resiko, Nayeon bergegas mengambil kopernya dan pergi menhindar.

Greepp…

“Mau kemana kau?” Satu dari pria itu menahan lengan Nayeon.

“Tolong lepaskan.” Pinta Nayeon sambil berusaha tetap tenang meski tubuhnya sudah bergetar ketakutan.

“Ayo ikut oppa.” Satu pria lagi menarik lengan Nayeon yang lain.

Nayeon benar-benar ketakutan sekarang. Dia langsung memberontak, mencoba melepaskan diri. “Jebal.” Mohon Nayeon sambil menangis karena dia tidak bisa melepaskan diri. Dia terlalu takut untuk bisa mengerahkan semua tenaga.

Dua pria itu kemudian menarik Nayeon menuju toilet umum yang ada di taman tersebut. Nayeon terus memberontak meski sia-sia.

“YA! Apa yang kalian lakukan?”Sebuah suara menghentikan langkah ketiga.

Nayeon melihat samar pria yang bicara itu karena detik berikutnya dia sudah tidak sadarkan diri.

-o0o-

Nayeon ingat apa yang terjadi padanya. Begitu dia sadar, dia langsung menarik selimut yang ada di tubuhnya dan duduk di pojok ranjang entah milik siapa. Tubuhnya bergetar ketakutan. Matanya melihat ke sekililing ruang kamar yang tidak dia kenal.

Mata Nayeon kemudian beralih pada pintu yang kemudian dibuka oleh seseorang.

“Kau sudah siuman?” Seorang pria yang dikenal Nayeon menghampirinya dengan segelas cokelat panas di atas nampan yang dia bawa, Oh Sehun.

Nayeon sangat tahu siapa yang dilihatnya. Tapi rasa takut lebih mendominasi dirinya. Tubuhnya lebih bergetar dari sebelumnya, dan berteriak histeris begitu Sehun mendekatinya.

“Gwenchana?” Sehun bertanya dengan raut wajah bingung melihat reaksi dari Nayeon.

Tak ada jawaban dari mulut Nayeon kecuali teriakan histerisnya. Dia makin merapat ke pojok dinding sambil berusaha menyembunyikan tubuhnya.

“Oke, aku akan keluar. Kau mungkin kaget dengan kejadian tadi. Tapi semuanya baik-baik saja, kau tidak diapa-apakan oleh mereka.” Terang Sehun. Dia menyimpan nampan yang dia bawa di meja dekat pintu, karena yakin Nayeon tidak bisa didekati lebih dari itu. Setelah itu Sehun keluar dari kamarnya dan menutup pintu.

Nayeon tidak mendengar atau berusaha mendengar penjelasan Sehun. Dia hanya berusaha untuk mengembalikan akal sehatnya.

Dua jam kemudian Sehun kembali mengecek kondisi Nayeon, dan Nayeon sudah tertidur dengan posisi masih duduk di pojok ranjang Sehun. Dengan sangat hati-hati Sehun membenarkan posisi Nayeon. Dia meninggalkan pesan di samping nampan cokelat panas yang tidak disentuh sama sekali oleh Nayeon. Setelah itu dia pergi ke sekolah.

-o0o-

Pintu kamar Sehun terbuka, Nayeon melihat siapa yang datang dan matanya memerah begitu tahu pengunjungnya.

Ricky buru-buru menghampiri Nayeon dan memeluk saudara kembarnya itu. “Gwenchana?” Dia bertanya karena sadar kondisi Nayeon tidak dalam keadaan baik.

Nayeon menangis, dia mengangguk di sela tangisnya, mengeratkan pelukannya pada Ricky. Mencoba lebih mendapatkan akal sehatnya lagi.

Tak lama, Ricky melepaskan pelukannya. Dia berpaling pada Sehun. “Sunbae, ada apa dengan Nayeon? Sunbae tidak bilang kalau Nayeon tidak baik-baik saja.” Tanya Ricky.

Di sekolah tadi memang Sehun mencari Ricky, mengatakan Nayeon berada di tempatnya dan mungkin membutuhkannya. Tapi Sehun sama sekali tidak mengatakan apapun lagi selain itu.

“Tadi pagi aku menolong dia dari orang yang sepertinya ingin melakukan hal yang tidak senonoh padanya, hanya itu.” Terang Sehun dengan wajah dingin. Dia kemudian meninggalkan Ricky dan Nayeon berdua.

Ricky kembali berpaling pada Nayeon. “Wae geurae?” Dia bertanya dengan cemas.

Pipi Nayeon basah dengan air mata. Dia menggeleng. Merasa sudah lebih tenang dari sebelumnya.

“Kita pulang ne? Aku akan bicara pada appa.”

Nayeon menggeleng lagi.

“Kalau begitu aku akan mengantarmu ke apartemen Kibum hyung.” Ricky memberikan penawaran lain.

Nayeon menggeleng lagi.

“Aku tidak bisa mengijinkanmu tinggal sendiri kalau kau seperti ini. Sekarang kau pilih, pulang ke rumah atau ke apartemen Kibum hyung. Dan katakan padaku apa yang terjadi.” Ricky bicara lagi.

Nayeon kembali menangis, dia memeluk Ricky lagi. Tidak bisa mengatakan apapun. Tidak sekarang.

Ricky sama sekali tidak mendapatkan penjelasan dari Nayeon. Dia juga tidak bisa memaksa Nayeon untuk pulang. Akhirnya, dengan sangat terpaksa dia memohon pada Sehun untuk mengijinkan Nayeon tinggal beberapa hari. Ricky tidak mengatakan alasan kenapa Nayeon tidak mau pulang ke rumahnya. Karena yang dia tahu, Sehun tidak tahu apa-apa soal status Nayeon yang sudah menikah dengan Kibum.

Dan Ricky sama sekali tidak menyangka Sehun mengiyakan permohonannya. Mantan sunbae yang pernah sekelas dan sekarang menjadi hoobaenya itu Ricky kenal sebagai orang yang dingin. Meski sikap dingin Sehun terjadi saat mereka berada di tingkat yang sama. Saat Sehun menjadi seniornya dia tidak sedingin itu, malah dikenal sebagai siswa yang ramah dan mudah bergaul.

“Gomawo sunbae. Aku mungkin akan merepotkan sebelum dan setelah pulang sekolah, tapi aku mohon sunbae bisa mengerti.” Ricky bicara.

Sehun hanya mengangguk dan kemudian menyibukkan diri di dapur sementara Ricky kembali ke kamar Sehun untuk menemui Nayeon dan mendapati Nayeon sudah tertidur karena memang sudah cukup larut.

-o0o-

Waktu menunjukkan hampir pukul dua pagi saat Sehun mendengar rintihan dari kamarnya. Dia tidur di kamar lain karena Nayeon masih menempati kamar miliknya. Sehun bangun dan pergi ke kamarnya untuk mengecek kondisi Nayeon. Dia mendapati Nayeon tidur dan terlihat sedang bermimpi buruk.

“Yoo Nayeon, ireona.” Sehun berbisik sambil menepuk pipi Nayeon.

“KYYAAAA~~” Nayeon menjerit dan langsung mengkeret ke pojok ranjang begitu dia bangun. Wajahnya terlihat takut. Tubuhnya bergetar lagi.

Mata Sehun terus melihat tingkah Nayeon. Mengabaikan Nayeon yang terlihat memohon untuk dijauhi, dia terus memperhatikan Nayeon. Perlahan dia mendekati Nayeon, menambah rasa takut gadis itu. Sehun menarik lengan Nayeon dan memeluknya.

Nayeon menangis, memberontak, memohon untuk dilepaskan. Tubuhnya bergetar lebih hebat.

Tapi Sehun sama sekali tidak ada niatan untuk melepaskan pelukannya. “Gwenchana. Kau tidak akan disakiti lagi. Tenanglah, semuanya baik-baik saja. Kau aman di sini.” Bisik Sehun dengan nada sangat lembut.

Nayeon makin terisak, masih memberontak.

“Aku tidak akan menyakitimu. Kau aman di sini, kau baik-baik saja. Tenanglah.” Bisik Sehun lagi sambil mengelus rambut belakang Nayeon. Ada bulir air mata mengalir di kedua pipi pria tampan itu.

-o0o-

“Nayeon-ah, ayo bangun dan sarapan. Aku sedang menyiapkan nasi goreng untuk kita.” Sehun masuk dan membangunkan Nayeon.

Nayeon membuka kedua matanya dan melihat senyuman Sehun untuk yang pertama kalinya. Wajahnya memerah begitu mengingat apa yang terjadi semalam. Dia histeris, kemudian dipeluk oleh Sehun sampai dia tertidur.

“Sehun oppa.”

“Kau sudah bisa bicara eoh? Syukurlah.” Sehun bicara dengan sangat ramah.

Nayeon dibuat bingung dengan sikap yang jauh berbeda dengan Sehun yang selama ini dia kenal.

“Aku menunggumu di ruang makan, sebelah kiri dari kamar ini. Kamar mandi ada di pintu itu. Nanti kau menyusul.” Sehun bicara lagi. Dia kemudian meninggalkan Nayeon di kamarnya.

Nayeon mengerjapkan matanya berkali-kali. Tidak percaya dengan apa yang dia lihat juga dengar. Tapi kemudian Nayeon sadar, dia sudah tidak ketakutan lagi. Mengingat hal itu Nayeon jadi merinding karena dia kembali mengingat perasaan takutnya.

Selesai dengan kegiatan di kamar mandi, Nayeon menghampiri Sehun di dapur. Dia melihat dua piring nasi goreng juga minuman sudah tersaji di atas meja makan. Nayeon bingung harus bersikap seperti apa pada Sehun yang baru.

“Duduklah, kita sarapan.” Ucap Sehun lengkap dengan senyuman manisnya. Dia sendiri sudah duduk di kursi di depan salah satu piring berisi nasi goreng buatannya.

Nayeon mengangguk kaku dan berjalan dengan kikuk menghampiri Sehun. “Gomawo Sehun oppa.” Ucap Nayeon pelan yang kemudian dibalas senyuman oleh Sehun. Nayeon benar-benar bingung. Tapi kemudian perutnya yang menuntut untuk diisi membuat dia melupakan rasa bingungnya dan menyantap sarapannya dengan nikmat.

Sehun ternyata tinggal sendiri di rumah yang menurut Nayeon cukup besar untuk ukuran satu orang pemuda. Dia tidak berani bertanya apa-apa soal Sehun. Merasa sudah cukup lancang saat tahu dia meniduri kamar pemilik rumah selama dua malam dan tidak berani lebih lancang dari itu.

“Saudaramu mungkin akan mampir kemari. Tapi aku mau berangkat sekarang. Bilang padanya kau akan tinggal di sini, aku bersedia menyewakan satu kamar di rumah ini untukmu. Aku tahu kau tidak bisa kembali ke rumah keluargamu atau suamimu. Dan aku tidak mau kau tinggal sendiri. Untuk alasan bagaimana kau akan tinggal di sini, kau buat sendiri dan jelaskan pada saudaramu. Aku pergi.”

Nayeon berkedip beberapa kali mendengar kalimat panjang yang diucapkan Sehun sesaat sebelum pemuda itu meninggalkan rumah. Otaknya benar-benar dibuat kebingungan dengan perubahan sikap Sehun.

Pintu rumah yang masih dilihat oleh Nayeon kemudian terbuka lagi. “Aku lupa bilang, Kevin hyung akan kesini nanti siang untuk memeriksamu. Dia memang belum resmi menjadi dokter tapi aku yakin kau lebih butuh dia daripada dokter yang asli.” Sehun bicara dengan sebagian tubuhnya berada di balik pintu. “Dan ya, dia sudah membantumu membuat surat sakit, jadi kau bisa istirahat dengan tenang.” Tambahnya sebelum menutup pintu lagi. Kali ini Sehun benar-benar pergi.

-o0o-

Nayeon merasa sudah kembali normal setelah empat hari kemudian. Dia sudah mendapatkan ijin dari Ricky untuk tinggal di rumah Sehun. Ricky awalnya tetap memaksa Nayeon untuk pulang saja, tapi Nayeon menolak. Dengan pertimbangan kalau Sehun adalah orang yang dingin dan bukan orang jahat, Ricky memberikan ijinnya.

Nayeon masih bungkam kenapa dia bisa tidak stabil setelah insiden di taman itu. Dia tidak bisa menceritakannya karena tidak ingin trauma lagi. Sekarang dia bisa kembali tenang, dan dia sangat bersyukur.

Nayeon memutuskan untuk kembali ke sekolah, dia belum mengikuti pelajaran yang sekarang tahun lalu. Jadi dia sudah tidak bisa bolos dengan alasan dia sudah mempelajari materi tahun lalu. Tentu saja dia tidak berangkat bersama Sehun, Ricky menjemputnya dan mereka berangkat bersama. Sehun sudah pergi sebelum Ricky datang.

Dan begitu Nayeon sampai di kelas, orang-orang yang rata-rata teman perempuannya sedang asik berbincang. Mereka bicara sambil sesekali melirik ke arah Sehun. Nayeon menghampiri Jihyun karena penasaran.

“Ada apa dengan Sehun oppa?” Dia bertanya setengah berbisik karena tidak ingin Sehun mendengarnya.

Jihyun memeluk Nayeon, mengucapkan kerinduannya sebelum menjawab pertanyaan Nayeon. “Dia kemarin ikut kelas olahraga untuk yang pertama kalinya.”Terang Jihyun. “Kau tahu kan kalau Sehun sunbae tidak naik kelas gara-gara Wonbin saem tidak memberikan nilai olahraga pada Sehun sunbae? Dan kemarin secara ajaib Sehun sunbae datang ke kelas olahraga. Semua orang kaget termasuk Wonbin saem. Selama kelas berlangsung, aura permusuhan keduanya kentara sekali. Padahal mereka saudara kandung tapi sama sekali tidak akur.” Jihyun melanjutkan ceritanya.

“Mwo? Saudara kandung? Wonbin saem dengan Sehun oppa saudara?” Kedua mata Nayeon membulat.

Jihyun mengangguk dengan santainya. “Kau tidak tahu?” Dia bertanya yang dijawab gelengan kepala Nayeon. “Kukira kau tahu. Ricky oppa dan Sehun sunbae satu kelas tahun lalu.”

“Jeongmal? Aku benar-benar tidak tahu.” Ucap Nayeon. “Terus, kenapa Sehun oppa dengan Wonbin saem bermusuhan?” Dia bertanya.

Jihyun menggeleng. Bel tanda kelas akan dimulai menghentikan perbincangan mereka. Nayeon kembali ke bangkunya, duduk di samping Sehun.

‘Sehun oppa, kenapa kau bermusuhan dengan Wonbin saem?’

Nayeon menuliskan note di bukunya dan memberikannya pada Sehun.

Sehun menoleh ke arah Nayeon dan memberikan tatapan dingin yang dikenal Nayeon. Nayeon berjengit mendapatkan tatapan itu karena selama Nayeon berada di rumah Sehun, tatapan itu tidak pernah ditunjukkan Sehun.

Nayeon menarik bukunya. Memilih untuk tidak bertanya lagi.

-o0o-

Nayeon pulang ke rumah Sehun, tapi tidak menemukan Sehun di dalam rumah itu. Entah pergi kemana. Nayeon kemudian memutuskan untuk membuat makan malam untuk dia dan Sehun. Sebelum pulang tadi, dia sempat mampir ke supermarket terdekat. Nayeon mendapat tugas memasak dan bersih-bersih rumah Sehun sebagai ganti dia menumpang di rumah pemuda itu. Sehun tidak mau menerima uang sewa yang Nayeon tawarkan.

Sedang asik memasak, bel rumah Sehun berbunyi. Nayeon menunda kegiatan masaknya, dia mengecek siapa yang datang. Ternyata Ricky.

“Oh, Changhyun-a.” ucap Nayeon begitu membuka pintu.

Greppp….

Nayeon tersentak karena Ricky langsung memeluknya dan menangis. “Wae geurae?” Nayeon bertanya dengan bingung.

Tapi Ricky tidak menjawab, dia masih tetap menangis sambil memeluk Nayeon.

“Wae geurae?” Nayeon bertanya lagi.

“Siapa yang melakukannya eoh?” Ricky bertanya di sela tangisnya.

“Nugu mwo?” Nayeon masih bingung.

“Siapa yang sudah memperkosamu?”

-to be continued-

Advertisements

83 responses to “LIFE [7]

  1. Q ru baca. Ceritanya banyak rahasianya, bikin penasaran.
    Sebenarnya nayoen itu kenapa? Kenapa juga dy minta cerai klu dy dulu sangat terobsesi dengan key? Kenapa sehun nangis saat meluk nayoen? Dan kenapa juga sehun ma wonbin musuhan? Apa krn guru seni yang biasa sehun samperin lukisan2na?
    Ricky emang saudara yang baik. Pengen dipeluk si imut ricky.
    Ditunggu kelanjutannya thor. Fighting.

    • sebenernya aku itu niatnya pengen bikin yg simpel aja
      tapi gak tau kenapa pas bikin malah jadi bikin ribet dan banyak konflik, haha
      itu ff’a udah beres kok.. udah tamat.. hehe
      selamat membaca
      gomawo~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s