TARGET 3 [Pre-Final]

TARGET HUNTER

Target

|| hgks11’s storyline ©2013 ||

|| Lu Han, Hanna Park, Kris Wu || Supernatural, Fantasy, Romance ||

 || PG 15-17 || Series ||

 

IntroPart 1Part 2 – Part 3 [Pre-Final]

 

Dictionary :

Geunyang—hanya saja

Hogsi—mungkin, barangkali, jangan-jangan

Contritio Cordis—bahasa Latin dari pemusnah jantung. Pemilik kemampuan istimewa ini, dapat memusnahkan jantung seseorang hanya dengan cara memegang tubuh orang tersebut di bagian atas kiri, di mana jantung terletak. Namun, pemilik kemampuan ini tidak dapat langsung memusnahkan jantung di dalam tubuh seseorang. Pemusnahan jantung itu membutuhkan waktu, karena jantung tersebut akan sedikit demi sedikit mengempis dan akhirnya hilang terhanyut aliran darah yang akan berhenti setelahnya. Waktu yang dibutuhkan untuk pemusnahan jantung tersebut sekitar 6 – 10 menit.

***

Author’s POV

 

 

“Hi, Hanna” tubuh Hanna menegang mendengar namanya keluar dari bibir namja di hadapannya itu. Suara itu. Suara yang Hanna kenal dengan baik, bahkan sangat baik. Suara yang tak akan pernah ia lupakan. Darah Hanna berdesir cepat, lututnya terasa lemas menyadari suara yang dirindukannya itu.

‘Tidak, tidak mungkin. Dia..

“Kalian tidak mengenaliku? Wu Yifan, sekarang kalian ingat?” Krystal memandang tak percaya pada Kris. ‘Bagaimana ia masih berani muncul di hadapan kami?!’

 “Mau apa kau ke sini, Wu Yifan” Krystal menatap tajam namja di hadapan Hanna, rahang gadis itu mengeras—menahan amarah yang bergejolak di dalam dirinya.

“Tentu aku ingin menemui soulmateku. Apakah aku salah?” kedua alis Kris saling bertautan, membuat Krystal ingin merobek wajah Kris. Kris melingkarkan tangannya di pinggang Hanna, “Hey, Hanna-ya. Kau ingat aku, bukan? Aku Kris, Wu Yifan. Wu Yifanmu

“Tentu, tentu Kris. Kau Wu Yifanku” Krystal tak dapat menyembunyikan rasa kaget yang menyerbunya begitu melihat Hanna tersenyum pada Kris. Wajah Krystal memucat melihat Hanna yang kini menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Kris. ‘Tidak, tidak. Hanna kau bisa terluka lagi!’ jerit Krystal dalam hati. Gadis itu segera melangkahkan kakinya meninggalkan Hanna dan Kris, membuat sebuah seringai muncul di wajah Kris.

 

 

“Ouch!” Krystal memekik ketika badannya bertabrakkan dengan badan orang lain.

Mianhae, mianhae. Aku tidak sengaja” Krystal membungkukkan badannya beberapa kali, meminta maaf pada orang yang ditabraknya. Krystal hendak melanjutkan langkah kakinya namun terhenti ketika sebuah tangan menarik pergelangan tangannya.

“Krys..tal?” kedua mata Baekhyun melebar begitu Krystal mendongakkan wajahnya. Bulir demi bulir air mata membasahi wajah gadis cantik itu, membuat Baekhyun khawatir.

“Krystal? Apa yang terjadi?!”

“B-baek.. hiks.. H-han-na..”

“Sshh uljima” Baekhyun menarik Krystal ke dalam pelukkannya, mengusap pelan punggung belakang Krystal dengan irama yang menenangkan. Krystal menyembunyikan wajahnya di dada bidang Baekhyun. Tangis gadis itu semakin pecah saat merasakan kehangatan pelukan Baekhyun, membuat kaos yang dikenakan Baekhyun basah. Namun Baekhyun sama sekali tak menghiraukan kaosnya yang basah. Yang ada dipikirannya hanya bagaimana membuat gadis yang disukainya itu berhenti menangis. Karena melihat orang yang kau sukai menangis, terasa begitu sakit.

 

Igeo” sebuah kaleng soft drink muncul di depan wajah Krystal, membuat gadis itu mendongakkan kepalanya. “Gomawo” ujar Krystal sambil mengambil soft drink tersebut dari tangan Baekhyun. Baekhyun menganggukkan kepalanya lalu duduk di sebelah Krystal. Krystal mencuri lirik ke arah Baekhyun sambil meminum soft drink miliknya. Rahang Baekhyun tidak begitu tirus namun memberi kesan tangguh, kulitnya berkilau diterpa sinar matahari. Kedua matanya yang kecil memberi kesan ramah pada siapapun yang melihatnya. Hidung yang menjulang tinggi, dan bibir yang tampak sangat menggoda.

‘Yah! Apa yang kau pikirkan Krystal?! Kau baru saja memeriksa semua fitur wajahnya secara terang-terangan!’ Krystal merasakan darah naik ke wajahnya, membuat kedua pipinya merona kemerahan.

 

“Krystal, kau sakit?” Baekhyun menolehkan kepalanya ke arah Krystal begitu tak sengaja melihat kedua pipi Krystal yang memerah. Krystal menggelengkan kepalanya dengan cepat, “Aniya

Eoh..” Krystal menghela nafas lega begitu Baekhyun memutar kembali kepalanya ke arah semula. Diam menyelimuti mereka berdua, mengisi celah-celah di antara Krystal dan Baekhyun.

Mwoya?” Krystal menoleh ke arah Baekhyun saat lengannya disenggol oleh Baekhyun. Vampir berwajah anak kecil itu menatap kedua bola mata Krystal dengan tatapan teduh, membuat hati Krystal meleleh.

“Kenapa tadi kau menangis?” Krystal menghela nafas mendengar pertanyaan Baekhyun, membuat namja itu segera membuka mulutnya. “Kalau kau tak ingin menceritakannya padaku, aku mengerti.” Krystal menggelengkan kepalanya. Wajah gadis itu terdongak ke atas, matanya menerawang jauh ke atas langit.

“Karena Hanna.  Aku.. Tidak ingin ia terluka lagi seperti dulu karena orang yang sama”

“Orang yang sama?”

“Hmm” Krystal menganggukkan kepalanya.

“Kau tahu, Baek? Dulu Hanna bukanlah Hanna yang kita kenal sekarang. Hanna yang pertama kali kukenal adalah Hanna yang ceria, hangat, dan manis. Bukan Hanna yang dingin dan pembenci playboy seperti saat ini” mata Baekhyun melebar mendengar ucapan Krystal.

 ‘Hanna Park? Ia orang yang ceria sebelumnya?’ ntah kenapa pikiran itu terasa begitu aneh dan kurang masuk di akal Baekhyun. Karena Hanna yang ia tahu, Hanna yang selalu dingin dan membenci playboy, dan Luhan.

 

“Tapi semuanya berubah ketika negara api menyerang jengjengjeng”

“Yah!” Baekhyun menatap tajam pada Krystal yang ingin melucu tapi gagal. Krystal menyengir lebar.

“Semuanya berubah ketika—“ “Jangan kau bilang negara api lagi”

Arasseo! Hft”

“Lanjutkan” Krystal memutar kedua bola matanya malas mendengar suara Baekhyun yang memerintah itu.

 

“Hanna berubah karena Kris, Wu Yifan”

“Kris? Wu Yifan?” alis Baekhyun bertautan mendengar dua nama keluar dari mulut Krystal.

“Wu Yifan adalah nama aslinya, dan Kris merupakan nama panggilannya. Sama saja seperti Lay, Zhang Yixing” Baekhyun menganggukkan kepalanya mengerti.

“Aku, Hanna dan Kris adalah teman bermain saat kecil. Saat pertama kali aku berteman dengan Hanna, Hanna mengenalkanku pada Kris. Pendek cerita, kami bertiga selalu menempel satu sama lain, seperti perangko dan lem. Di saat kami sudah mulai menginjak remaja, Hanna dan Kris saling jatuh cinta. Pada awalnya, aku senang. Karena Kris merupakan cinta pertama Hanna, dan aku bersyukur karena cinta pertama Hanna tidak bertepuk sebelah tangan. Mereka berdua benar-benar pasangan yang sangat sempurna, dan aku meyakini bahwa mereka adalah ‘soulmate’. Tapi, itu sebelum aku dan Hanna memergoki Kris dengan vampir lain.” Krystal memejamkan matanya, menahan air mata yang sudah siap untuk terjun ke pipinya lagi. Bayangan Hanna yang sangat hancur berkelebat di benak Krystal.

 

“Hari itu, hari perayaan hubungan mereka yang ke 3 tahun. Hanna mengajakku untuk pergi mencari hadiah untuk Kris. Pada awalnya semua berjalan lancar. Aku dan Hanna bersenang-senang sambil mencari kado untuk Kris. Namun, saat kami berhenti di sebuah restoran.. Kris sedang melakukan berciuman dengan vampir wanita lain. H-han-n-na..”

“Sshh” Baekhyun menarik Krystal ke dalam pelukkannya untuk yang kedua kalinya pada hari itu. Dan Krystal, untuk kedua kalinya ia menangis di depan Baekhyun. Yang tanpa Krystal sadari, membuat jantungnya berdetak cepat. Krystal mencoba menahan tangisnya, lalu melanjutkan kembali ceritanya.

“Hanna hancur, Baekhyun-a.. Hanna yang kukenal berubah menjadi Hanna yang dingin terhadap orang lain. Aku tak mau Hanna kembali hancur, karena orang yang sama lagi”

“Kris ada di sini?” Krystal menganggukkan kepalanya lemah. Gigi Baekhyun saling bergeretak mendengar ucapan Krystal. Namja itu tidak tahu mengapa ia bereaksi seperti itu, namun ada suatu keharusan di dalam diri Baekhyun untuk membela Hanna.

“Dan kau tahu Baekhyun-a? Jauh di lubuk hatinya, Hanna masih mencintai Kris. Meskipun Hanna tidak mengatakannya padaku, aku tahu ia masih. Aku takut, Hanna memaafkan Kris terlalu mudah. Lalu ia jatuh ke lubang yang sama, seperti orang bodoh”

 

***

 

 

Hanna menatap namja di depannya dengan pandangan memuja. ‘Kris, Wu Yifanku. Aku tidak sedang bermimpi kan? Kris di depanku ini, benar-benar Wu Yifanku, bukan?

“Ouch!” Hanna merasakan sakit di pipi yang dicubitnya, membuat sebuah senyum terukir di wajahnya. ‘Ini bukan mimpi. Ini kenyataan’ batinnya.

 

“Hey, Hanna. Hanna?” lambaian tangan Kris di depan wajah Hanna membangunkan gadis itu dari pikirannya. Kedua alis Kris saling bertautan, bingung melihat Hanna yang tersenyum lebar tanpa sebab itu.

“Kau tidak sedang sakit bukan?” telapak tangan kiri Kris mendarat di kening Hanna, sedangkan telapak tangannya yang lain berada di atas keningnya.

“Aku tidak sakit, Yifan” Hanna menurunkan tangan Kris dari keningnya, lalu mencomot makanan yang baru saja di beli oleh Kris.

“Lalu kenapa kau tersenyum lebar tanpa sebab?”

“Hehe, geunyang.. hehe, bimil!” Hanna menjulurkan lidahnya pada Kris, membuat namja itu menggelengkan kepalanya. Kedua tangan Kris terangkat, mencubit pelan kedua pipi Hanna.

“Hanna Park~~ Saranghae” Hanna terdiam mendengar ucapan Kris. Waktu seakan-akan berhenti beberapa saat bagi Hanna. Sebuah senyum terukir di wajah Hanna, “Nado Kris. Nado saranghae”

Kris beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Hanna, mengusap lembut puncak kepala Hanna. “Gomawo Hanna, gomawo” bisik Kris di telinga kanan Hanna. Hanna menyandarkan kepalanya di dada bidang Kris, lalu menganggukkan kepalanya. Sebuah seringai muncul di wajah Kris tanpa Hanna ketahui. ‘Hanna Park, kenapa kau begitu mudah untuk kukelabui? Pheromonesku memang bekerja baik, sangat baik padamu Hanna Park

 

***

 

 

Luhan menatap kosong kertas-kertas yang berserakan di meja. Otaknya masih dipenuhi dengan penyebab kematian vampir di Seoul tidak lama ini. Luhan merasa sangat tidak berguna, karena ia tidak dapat memecahkan kasus ini. D.O, di sisi lain juga tampak kusut dengan bibirnya yang terus-terusan mengerucut. D.O mendongakkan kepalanya, rasa iba meresap ke dalam hatinya saat melihat Luhan. Selama penyelidikan ini, Luhanlah yang selalu bekerja keras. Ia yang selalu mengambil tindakan lebih cepat, memeras otaknya lebih keras agar bisa menyusun satu demi satu petunjuk yang mereka temukan, dan Luhan mengorbankan lebih banyak egonya hanya demi menemukan ‘makhluk’ yang dapat mengancam seluruh umat vampir. Sebuah senyum lemah muncul di wajah D.O, ‘Kau memang calon penerus raja vampir yang sebenarnya, Luhan. Dan aku bangga mengetahui hal itu

 

 

BRAAK!

Tiba-tiba pintu ruangan Luhan dan D.O terbuka lebar, menampakkan seorang mata-mata mereka. Vampir muda itu membungkukkan badannya pada Luhan dan D.O, kecemasan tampak begitu jelas di matanya.

Jeoseonghabnida, your Highness. Kami menemukan 2 mayat vampir di dekat Seoul National University, dengan jantung mereka yang sudah tidak ada” tubuh Luhan menegang, matanya dipenuhi amarah. ‘Hanna!’ nama itu tiba-tiba muncul di benaknya, membuat tangan putra mahkota vampir itu mengepal. ‘Hanna, don’t you dare die or hurt either. Or I’ll kill my self

 

 

Luhan menyambar cardigan tipis miliknya, berlari secepat mungkin ke Seoul National University. D.O berusaha mengikuti kecepatan Luhan, namun ia berakhir terpisah 10 km dari Luhan. Luhan segera mencari Hanna begitu kakinya menginjak tanah di depan gerbang kampusnya. Luhan mencari ke setiap kelas dengan kecepatan yang seperti cahaya, membuat manusia bahkan vampir sekalipun mustahil melihatnya.

 

‘Hanna, kau ada di—‘ kaki Luhan berhenti bergerak begitu melihat Hanna yang sedang berpelukan dengan seorang lelaki, di kantin. Hanna tampak menyandarkan kepalaya di dada bidang lelaki tersebut, dan lelaki yang memeluknya mengusap pelan puncak kepala Hanna. Crack. Luhan merasa hatinya retak melihat pemandangan di hadapannya. Melihat Hanna berpelukan dengan pria—lebih tepatnya vampir lain membuat lutut Luhan lemas. Darah Luhan mendidih sampai ke ubun-ubun, ingin rasanya ia memukul wajah vampir yang memeluk Hanna hingga rahangnya lepas, lalu mengclaim Hanna sebagai miliknya. Hanya miliknya seorang, Lu Han.

“Hanna” Hanna mendongakkan kepalanya mendengar suara yang sangat familiar baginya.

 

“Luhan?” sebelah alis Hanna naik ke atas, bingung melihat Luhan yang tiba-tiba berada di hadapannya. ‘Kenapa wajahnya pucat seperti itu?

“Yah Luhan!” Hanna memekik pelan saat Luhan menarik tangannya, membuat gadis itu mau tak mau beranjak dari tempat duduknya dan menyamakan langkah dengan Luhan. Kris yang melihat kejadian di depannya hanya mengangkat kedua bahunya tak peduli, seiring dengan sebuah seringai muncul di wajah vampir berambut pirang itu.

“Lama tak berjumpa, sachon

 

 

“Yah, Luhan! Apa maumu?!” Hanna melepas paksa genggaman Luhan di pergelangan tangannya begitu mereka sampai di taman belakang Seoul National University. Hanna menatap tajam pada Luhan, kekesalan tampak jelas di mata vampir perempuan itu. Luhan mengacak rambutnya frustasi. Mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu, namun tertutup lagi.  Hanna memutar kedua bola matanya malas, membalikkan badannya bersiap untuk pergi meninggalkan Luhan. Namun langkahnya terhenti ketika Luhan memegang pergelangan tangannya.

 

“Siapa dia?” Hanna menolehkan kepalanya ke arah Luhan, kebingungan tampak jelas tertulis di wajah Hanna.

Nugu?”

“Yang bersamamu barusan”

“Oh, dia Kris. Wu Yifan, Wu Yifanku

M-mwo?” Luhan merasa seperti ada palu besar yang menghantam kepalanya. ‘Andwae.. Kau milikku Hanna

“Apa maksudmu Hanna?! Apakah kau sudah terikat dengannya?!” suara Luhan meninggi, membuat Hanna bergetar. Ketakutan menyelip masuk ke dalam tubuhnya melihat Luhan yang tampak marah.

A-ani-ya..”

 

“Lalu kenapa kau memanggilnya dengan kata kepunyaan?!” “Arghh” Hanna menggeram pelan saat tubuhnya sudah membentur dinding. Kedua tangan Luhan bertumpu di kanan dan kiri Hanna, membuat gadis itu tidak bisa kabur kemana-mana.

“Ka-kare-na” Hanna tergagap. Wajah Luhan dan Hanna kini hanya terpisah beberapa sentimeter. Hanna dapat merasakan hembusan nafas Luhan yang menerpa kulit wajahnya, membuat adrenaline di dalam tubuh Hanna terpacu. Pheromones milik Luhan memenuhi rongga dadanya, membuatnya lagi-lagi sesak… dan seperti candu.

 

“Karena apa, Hanna-ya?” tanya Luhan lembut. Kedua mata Luhan menatap langsung ke dalam mata almond milik Hanna. Sesuatu di mata Luhan memberi keharusan untuk Hanna menjawab pertanyaannya.

“I-ia.. Cinta pertamaku” lirih Hanna pelan. Kedua mata Luhan melebar untuk beberapa saat. Sebuah ketakutan menyelip ke dalam matanya, membuat Hanna bingung.

“Lalu? Kenapa? Apa kau masih menyukainya?” Hanna menggelengkan kepalanya pelan, lalu menghela nafas.

“Ntahlah. Aku juga tidak yakin dengan perasaanku, sekarang”

Luhan menyembunyikan wajahnya di leher Hanna. Hanna ingin mendorong Luhan, tapi tindakkannya berhenti. “Kumohon, sebentar saja Hanna. Biarkan aku memenuhi rongga dadaku dengan pheromonesmu” Hanna melembut mendengar ucapan Luhan. Tidak pernah Hanna membayangkan bahwa ia dan Luhan dapat sedekat ini. Hanna merasa nyaman di dekat Luhan, kenyamanan yang tak pernah di dapatkannya dari orang lain, sekalipun Kris. Luhan, seperti rumah baginya.

 

I’m telling you that I want you. I’m telling you that I love you. Are you listening to my heart for you? It hurts just to look at you.. Like this

 

Luhan menarik kepalanya, menatap Hanna kembali. Luhan memperhatikan setiap detail wajah Hanna, mematrinya baik-baik di dalam hati dan pikirannya.

Gomawo, Hanna-ya” Hanna merasakan bibir Luhan mendarat di bibirnya sekilas, mengirimkan sengatan kecil ke tubuhnya. Semuanya seperti berjalan lambat bagi Hanna. Saat Hanna telah sadar dari rasa kagetnya, Luhan sudah tidak berada di hadapannya lagi.

“Luhan, apa yang kau perbuat padaku?” lirih Hanna, menyadari jantungnya berdetak cepat karena Luhan.

 

***

 

 

Kacau. Satu kata yang dapat menggambarkan Luhan saat Baekhyun menemukan sahabatnya itu sedang duduk termangu di salah satu kursi taman Seoul National University. Baekhyun menepuk pundak Luhan, membuat Luhan mendongakkan kepalanya ke arah Baekhyun.

Eoh, Baek” Baekhyun menatap bingung mendapat perlakuan yang tak biasa dari Luhan.

“Ada apa?” tanya Baekhyun menyenggol lengan kiri Luhan. Vampir yang ditanya hanya menghela nafas menjawab pertanyaan Baekhyun.

 

“Hosh.. Hosh.. “

“D.O? Apa yang kau lakukan?” alis Baekhyun saling bertautan saat melihat D.O yang tersengal-sengal di hadapannya dan Luhan. D.O berusaha menstabilkan nafasnya,  “Aku mengejar Luhan”

Mendengar namanya disebut, Luhan bangun dari alam bawah sadarnya. Ia teringat tujuannya kemari begitu melihat wajah D.O.

“Di mana lokasinya?” Luhan bangkit dari posisi duduknya sambil menatap D.O serius. Baekhyun ingin bertanya ada apa, namun ia menahan dirinya. Ia tahu, sekarang bukanlah saat yang tepat untuk menanyakan hal tersebut, mengingat mata Luhan yang serius.

“Di dekat gudang sekolah” Luhan dan D.O segera berlari, meninggalkan Baekhyun sendiri.

 

***

 

 

“Tubuh mereka kosong, tak ada jantung maupun darah” helaan nafas terselip keluar dari bibir Luhan mendengar penuturan Lay. Setelah menemukan 2 mayat vampir tergeletak di dekat gudang sekolah, Luhan dan D.O segera membawa tubuh kaku itu ke kediaman Luhan. Luhan menelpon Lay, agar segera datang ke rumahnya untuk memeriksa mayat yang baru saja mereka temukan.

“Kau yakin, Lay?” Lay menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan D.O. Luhan mengacak rambutnya frustasi, “Mereka sudah dekat” geramnya.

“Apa perlu kita memberitahu Kai, Sehun dan Baekhyun? Terlebih Sehun, mungkin ia bisa membantu kita” usul Lay, namun ditolak mentah-mentah oleh Luhan.

“Tidak. Belum saatnya kita memberitahu mereka. Lebih baik, hal ini kita simpan bertiga dulu. Aku akan memberitahu mereka jika ‘makhluk’ itu sudah tak bisa kita tangani lagi” Lay dan D.O hanya menganggukkan kepalanya dalam diam, tidak memprotes keputusan Luhan. Karena mereka percaya, setiap keputusan Luhan adalah keputusan yang terbaik.

 

***

 

 

“Krystal” Hanna menyenggol lengan sahabatnya, namun Krystal tidak bergeming sama sekali. Seminggu telah berlalu semenjak kedatangan Kris, dan selama itu pula Krystal menghindari Hanna. Hanna mengerti kenapa Krystal menghindari Hanna. Tapi Hanna tidak bisa berbuat apa-apa, karena ia senang berada di sisi Kris lagi, meskipun dulu Kris sempat menghancurkan Hanna.

“Krystal~ Maafkan aku” Krystal menghela nafas mendengar suara Hanna yang memelas.

Arasseo arasseo” mata Hanna melebar mendengar ucapan Krystal. Ia tidak salah dengar bukan?

“Benarkah? Gomawo Krystal!!”

“Ha-han-na!!” “Hehe, mianhae Krystal” sebuah seringai lucu muncul di wajah Hanna setelah gadis itu melepaskan pelukkannya pada Krystal. Krystal menggelengkan kepalanya dengan sebuah senyum menghiasi wajahnya.

“Bagaimana kalau nanti siang kita makan bersama? I miss that time a lot

“Tentu, Krystal. I miss it too

 

 

Hanna bersandar di loker kayu miliknya, menunggu kedatangan Krystal. Jarum jam menunjukkan pukul 03.00 PM, namun Krystal belum juga menunjukkan batang hidungnya. Setelah berbaikan dengan Krystal, Hanna dan Krystal sepakat akan pergi bersama setelah kelas terakhir mereka berdua berakhir. Kelas terakhir Hanna selesai lebih cepat dari biasanya, menyebabkan gadis itu harus menunggu kedatangan sahabatnya. Sebuah kertas kecil berwarna kuning berada di tangan vampir perempuan itu. Helaan nafas terselip keluar dari bibir merah muda Hanna ketika ia membaca kembali post-it yang ditemukannya 2 hari yang lalu di lokernya.

 

Aku kelaparan. Tak bisakah aku memakanmu?

 

Tak ada nama pengirim yang tertera di kertas kecil itu, tapi Hanna tahu dengan baik siapa pemilik kertas kuning itu. Lu Han. Hanna tersenyum lemah ketika nama itu melintas di otaknya. Seminggu ini Luhan juga tampak menghindarinya. Hanna tak tahu mengapa Luhan menghindarinya, namun ada suara retak setiap kali Luhan memalingkan wajahnya saat bertemu dengan Hanna. Memang, selama tujuh hari kemarin Kris menemani Hanna kemanapun gadis itu pergi. Tapi Hanna merasa ada yang hilang. Tak ada Krystal, tak ada Luhan, dan tak ada lima orang namja yang selalu mengisi hari-harinya dengan canda dan tawa.

 

 

Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Hanna, membuat gadis itu mendongakkan kepalanya. Ia mengira Krystal yang menepuk pundaknya, namun harapannya pupus begitu melihat seorang vampir dengan perawakan tinggi dan rambut pirang berdiri di hadapannya.

“Oh hai, Kris” Hanna tersenyum lemah pada Kris. Kris menaikkan sebelah alisnya, tidak terbiasa menerima respon lemah dari Hanna. Tangan besar milik Kris mendarat di atas kening Hanna, membuat gadis itu menatap ke kedua bola mata milik Kris.

“Suhu badanmu normal. Kenapa kau terlihat tidak bersemangat? Atau apa karena kedatanganku?”

“A-aniya! Bukan seperti itu!” Hanna menyahut cepat, tak ingin namja di hadapannya itu salah paham.

“Aku hanya sedang berpikir, Kris”

“Tentang apa?” tangan kiri Kris mencari jalan melingkari pinggang kecil milik Hanna, sedangkan tangannya yang lain bertumpu pada loker di belakang Hanna. Pheromones milik Kris keluar dengan natural, menyelemuti seluruh tubuh Hanna. Pheromones Kris memenuhi rongga dada Hanna, mengisi setiap celah yang ada. Sesak, itu yang dirasakan oleh Hanna. Tapi bukan sesak yang dirasakannya ketika Pheromones milik Luhan mengisi celah-celah di dalam rongga dadanya.

 

 

“Hanna” Hanna melongokkan kepalanya ketika Krystal memanggilnya. Sepersekian detik, Kris sudah berada di samping Hanna dengan tangannya yang masih melingkar di pinggang Hanna.

“Bukankah kau memilik janji denganKU?” Krystal menekankan kata –KU di akhir kalimatnya. Hanna melirik ke arah Kris dengan tatapan cemas. Ia tahu, Krystal tidak suka melihatnya bersama Kris. Hanna melepaskan tangan Kris yang melingkar di pinggangnya, membuat vampir muda itu menggeram kecil.

“Maaf, Kris. Aku sudah ada janji dengan Krystal” Hanna memandang Kris dengan tatapan meminta maaf. Kris menghela nafas, “Baiklah. Sampai jumpa besok”

Sebuah kecupan manis mendarat di pipi kanan Hanna sebelum Kris pergi meninggalkan ia dengan Krystal. Krystal memutar kedua bola matanya malas, menatap najis ke punggung Kris yang semakin menjauh.

 

“Jadi.. Mau kemana kita?” wajah Krystal langsung menerang mendengar ucapan Hanna. Krystal mengamit lengan kanan Hanna dengan lengannya, sebuah cengiran lebar terpampang dengan jelas di wajahnya.

Bimil!” ujar Krystal sambil menarik Hanna ke parkiran mobil.

 

 

Mwoya?! Kita ke sini lagi?!” pekik Hanna begitu mereka sampai di toko es krim yang pernah ia dan Krystal datangi.  Baskin Robbin.

Ne! Bukankah tempat ini menyenangkan?” ujar Krystal bersemangat. Hanna memutar kedua bola matanya malas, “Menyenangkan?” gumam Hanna penuh dengan sarkasme. Krystal hanya tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu, lalu menarik Hanna ke kursi di pojok ruangan dekat jendela cafe tersebut—tempat yang sama saat mereka pertama kali ke toko itu.

‘Jangan bilang kalau Krystal mengundang—

 

“Hai Krystal! Hanna!” belum sempat Hanna selesai memikirkan kemungkinan yang akan terjadi, Sehun sudah melambaikan tangannya ke arah Hanna dan Krystal sambil berjalan menghampiri kedua vampir cantik itu. Di belakang Sehun, 5 orang lelaki dengan wajah tampan ikut berjalan menghampiri Hanna dan Krystal. Siapa lagi kalau bukan Luhan, Lay, Baekhyun, D.O dan Kai yang datang bersama dengan Sehun. Ke enam namja yang baru datang itu langsung menarik kursi mereka masing-masing, lalu duduk di atasnya. Posisi mereka sama persis dengan saat pertama kali mereka makan bersama di toko es krim itu. Luhan dan Kai berada di samping kanan dan kiri Hanna.

 

“Apa pesanan kalian? Biar aku yang pesankan” tawar Baekhyun sambil tersenyum. Hanna merasa dè javu menghampirinya. Tempat, waktu, orang dan percakapan yang sama. Namun, perasaan yang berbeda.

“Kau masih mengingat pesanan kami saat terakhir kali kita kemari?” Baekhyun menganggukkan kepalanya pada Lay.

“Kalau begitu samakan saja seperti waktu itu”

“Arasseo. Krys?” Krystal bangkit dari tempat duduknya begitu Baekhyun menyebutkan namanya. Krystal dan Baekhyun pergi meninggalkan meja ke arah counter, memesankan pesanan Luhan, Hanna, Lay, D.O, Kai dan Sehun, juga pesanan mereka sendiri.

Suasana awkward menyelimuti mereka ber-enam, membuat Hanna tidak dapat duduk dengan tenang di kursinya.

 

“Hanna, bagaimana kabarmu?” tanya Lay memecah keheningan di antara mereka.

“Baik.. Bagaimana denganmu Lay?”

“Aku juga baik. Akhir-akhir ini aku jarang melihatmu pergi dengan Krystal”

“Tentu saja. Ia terlalu sibuk dengan vampir pirang itu—ouch!” Kai memekik pelan sambil mengusap kepalanya yang dijitak oleh D.O. Lelaki dengan mata bulat itu menatap Kai tidak suka, membuat vampir berkulit gelap yang duduk di sebelahnya diam dan mengerucutkan bibirnya. Di sisi lain, Hanna menggigit bibir bawahnya khawatir. Lay yang melihat itu, tersenyum pada Hanna.

“Sudah, jangan kau pikirkan perkataan Kai tadi Hanna. Kau tahu.. Ia terkadang memang seperti itu”

Ne, gomawo Lay” ujar Hanna sambil membalas senyum Lay.

 

 

Drrt.. Drrt..

Yeoboseyo?” kini semua mata di meja itu beralih ke arah Luhan yang mengangkat panggilan di ponsel miliknya.

MWOYA?! Are you kidding me right now?!” Lay, Hanna, D.O, Kai dan Sehun berjengit di tempat duduk mereka mendengar suara Luhan yang meninggi. Mereka tak pernah mendengar suara Luhan setinggi itu—kecuali Hanna, membuat mereka semua terkejut.

Arasseo. Cepat kalian amankan gedung itu terlebih dahulu. Aku akan menyusul ke sana”

 

“Ada apa?” tanya Lay begitu Luhan meletakkan ponsel miliknya di atas meja. Nafas Luhan terburu, wajahnya memerah, aura gelap tampak keluar dari tubuhnya. Sehun yang duduk di depan Luhan merasa rambut-rambut kecil di seluruh tubuhnya menegang, merinding karena aura yang dikeluarkan oleh Luhan.

“Lay, D.O, kajja” D.O dan Lay sempat bingung mengapa mereka disuruh pergi, namun mereka langsung beranjak dari tempat duduk mereka begitu mengerti apa yang dimaksud oleh Luhan. Kematian vampir lagi. Lay dan D.O sudah berjalan keluar toko, meninggalkan Kai, Sehun dan Hanna yang tak mengerti apa-apa. Luhan hendak berjalan mengikuti Lay dan D.O, namun sebuah tangan melingkar di pergelangan tangannya. Putra mahkota vampir itu menghentikan langkahnya, ia menolehkan kepalanya ke belakang, hanya untuk bertemu dengan wajah memelas milik Hanna.

 

“Luhan… ada apa?” suara Hanna terdengar seperti rintihan di telinga Luhan, membuat amarah di dalam tubuhnya semakin menyulut panas.

“Lepas, Hanna.” tihtah Luhan dingin. Hanna tidak bergeming, tetap melingkarkan tangannya di pergelangan tangan Luhan. Bahkan genggaman tangan Hanna semakin mengerat hingga bisa meremukkan tulang-tulang di pergelangan tangan Luhan.

“Hanna, lepas. Kau tak dengar aku?!” desis Luhan. Tapi Hanna tetap kukuh dan menggelengkan kepalanya.

 

 

BAAM!

“Argh!” Hanna memekik seiring dengan punggungnya yang menabrak dinding. Kedua tangan Luhan berada di sisi kanan dan kiri Hanna, mengunci gadis itu.

“Kumohon Hanna, jangan buat aku meluapkan amarahku padamu” bisik Luhan serak di telinga Hanna. Hanna menggelengkan kepalanya pelan, tangannya terangkat menyentuh pipi Luhan yang halus. Kedua mata Luhan terpejam, merasakan reaksi tubuhnya terhadap setiap sentuhan kecil Hanna.

“Tapi Luhan—“ Luhan membungkam bibir Hanna dengan bibirnya. Satu kecupan, dua kecupan, tiga kecupan singkat mendarat di bibir Hanna tanpa gadis itu bisa merespon.

 

Stay here, and don’t you dare leave until I comeback here.” ‘Wo ai ni, Hanna Park

Sebuah kecupan manis mendarat di kening milik Hanna sebelum sosok di hadapannya itu menghilang. Kepala Hanna tertunduk, matanya menatap lantai coklat toko es krim itu.

 

“Lu Han…” lirih Hanna. Gadis itu terduduk di atas lantai, kakinya terasa sangat lemah hingga tak bisa menanggung berat badannya lagi. Satu, dua, bulir demi bulir air mata menetes ke atas lantai coklat itu, membuat Sehun dan Kai yang melihatnya ikut merasa miris dan sakit.

 

Sehun bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Hanna yang terduduk lemas di atas lantai.

“Hanna” gadis yang dipanggil namanya itu mendongakkan kepalanya, melihat ke arah wajah Sehun yang kini berada tepat di depan wajahnya.

Kajja. Bukankah Luhan hyung bilang kau harus baik-baik saja? Mari kubantu kau ke tempat dudukmu” Hanna hanya bisa pasrah ketika tangannya ditarik oleh Sehun. Sehun membantu Hanna duduk kembali di atas kursi gadis itu, di sebelah Kai. Sehun menempati tempat duduk Luhan, mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Luhan. Pundak kiri Hanna terasa berat karena tangan Sehun berada di sana, dan Hanna tak peduli dengan itu. Namun Hanna sedikit terjengit kaget begitu pundak kanannya juga berat. Sebuah tangan dengan kulit gelap beristirahat di sana, merangkul Hanna.

“Tenanglah Hanna dan… maafkan kelakuanku tadi” ujar Kai memalingkan wajahnya, menyembunyikan semburat merah yang merangkak naik ke kedua pipinya. Kedua mata Hanna berkedip, tidak percaya namja yang duduk di sebelah kirinya itu baru saja meminta maaf. Namun hal itu tak berlangsung lama, berganti dengan sebuah senyum lemah di wajah Hanna yang tampak membengkak.

Gwenchana Kai” hening menyelimuti mereka lagi. Tapi kali ini bukan diam awkward seperti sebelumnya. Melainkan diam yang menenangkan dan nyaman.

 

 

Tiba-tiba wajah Sehun menegang, satu persatu kilatan gambar muncul di otaknya. Wajah Sehun berubah gelap begitu ia menyadari apa maksud dari gambar-gambar yang baru saja muncul di otaknya.

“Kai” Kai menolehkan kepalanya ke arah Sehun.

Mwoya?” tanya lelaki berkulit gelap itu.

“Luhan hyung.. Dia berada dalam bahaya. Dia bisa.. mati” Kai dan Hanna melebarkan mata mereka begitu mendengar kata yang keluar dari mulut Sehun.

“Sehun! Sekarang bukan saatnya—“ “Tidak Kai, tidak. Aku tidak sedang bercanda. Kita harus cepat ke sana sebelum semuanya terlambat!”

“Bagaimana dengan Krystal dan Baekhyun?” Sehun, Kai dan Hanna langsung berlari ke counter depan, di mana seharusnya Krystal dan Baekhyun memesan es krim.

 

“Oh, tidak. Mereka tidak ada” ujar Kai horror begitu mereka tak menemukan Krystal ataupun Baekhyun di counter tersebut.

 

***

 

 

“Krystal, Baek.. Jangan berani kalian mati sebelum aku menghabisi makhluk itu” Luhan memarkirkan mobil Lamborghini Veneno miliknya di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi.

Lay, D.O dan beberapa mata-mata sudah menunggu kedatangan Luhan di depan gedung tersebut, menunggu aba-aba dari putra mahkota vampir itu.

“Bagaimana keadaan di dalam?” seorang mata-mata menghampiri Luhan, membungkukkan badannya lalu menjawab pertanyaan Luhan.

“Di dalam terdapat enam orang vampir yang menyandra nona Krystal dan tuan muda Baekhyun, your Highness

“Lay, D.O, bersiaplah” ujar Luhan, memperkecil jaraknya dengan pintu gedung di hadapannya.

 

“Kau seharusnya mengajakku juga, Vampire’s Crown Prince” Luhan menolehkan kepalanya ke belakang.

“Kim Jongin” Kai menyeringai ke arah Luhan, menghampiri penyelamat hidupnya itu.

“Jika kau ingin mati, seharusnya kau mengajakku bersamamu. Karena aku berhutang nyawa padamu” Luhan tersenyum mengejek begitu Kai menepuk pundak kanannya.

“Jadi Sehun sudah melihatnya? Aku akan mati?” tanya Luhan sarkastik.

“Mung..kin. Sehun bilang mungkin” jawab Kai pelan. Luhan tersenyum evil pada Kai, lalu mengalihkan wajahnya menghadap pintu di depannya lagi.

“Bilang pada Sehun, kali ini penglihatannya salah. Karena aku tidak akan mati oleh bastard itu. Ayo kita tuntaskan kasus ini. Aku sudah mulai bosan”

 

 

 

Dengan satu gerakan tangan dari Luhan, seluruh mata-mata yang berada di sekitar gedung itu meringsuk masuk ke dalam. Luhan, Lay, D.O dan Kai masuk belakangan dari pintu depan. Ketika ke-empat vampir muda itu melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam gedung, mereka di sambut dengan tubuh mata-mata mereka yang tergeletak tak bernyawa di atas lantai.

 

 

“Wah, sepertinya kualitas mata-mata kerajaan sekarang benar-benar sudah menurun” rahang Luhan mengeras mendengar kata-kata yang keluar dari mulut pria di depannya. Di depan Luhan, kini berdiri enam orang lelaki dengan jubah hitam dan topi juga masker yang menutup wajah mereka. Seseorang dengan postur tubuh tinggi dan topi lebar yang menutupi sebagian wajahnya menghampiri Luhan. Kai refleks berdiri di depan Luhan, memandang tajam lelaki yang mendekati Luhan.

 

“Kau berteman dengan vampir lemah ini? Aku tak menyangka” mata Kai terbelalak kaget begitu salah satu dari mereka ikut mendekati Kai dan Luhan. Lelaki dengan topi sulap dan kacamat bulat itu menyeringai ke arah Kai.

“Lama tak berjumpa, Kim Jongin” lelaki itu membuka topi dan kacamata yang menyamarkan wajah aslinya.

“Kim Jongdae” desis Kai. Chen—nama lain lelaki bernama Kim Jongdae itu—menyeringai ke arah Kai. Memori masa lalu mereka berputar di benak Kai. Kim Jongdae, ia tidak akan pernah melupakan nama itu selama hidupnya. Ialah yang selalu menganiaya Kai, mengolok-olok Kai dengan warna kulitnya yang gelap. Kim Jongdae, anak kecil dengan sifat yang sangat sadis di masa lalu. Ia tidak segan-segan membunuh sesama clan-nya, sesama jenisnya jika itu memang yang dia inginkan.

 

“Kau bisa memiliki vampir berkulit gelap itu nanti, Chen. Kita punya target utama kita di sini” ujar lelaki dengan topi lebar di samping Chen. Chen menganggukkan kepalanya, namun seringai di wajahnya belum juga hilang.

 

“Di mana Krystal dan Baekhyun?” lelaki di hadapan Luhan itu tertawa keras mendengar pertanyaan Luhan.

“Woah, langsung pada inti ya?”

“Cepat katakan di mana Krystal dan Baekhyun.”

“Haha, slow down there, Lu Han. Sebelumnya, biar kuperkenalkan diriku, Wu Yifan. Aku memiliki kemampuan istimewa, Contritio Cordis, pemusnah jantung”

‘Sial. Jadi dia dalang di balik semua ini?’ umpat Luhan dalam hati.

“Oh ya, ada lagi. Aku, Wu Yifan, ‘soulmate’ Hanna Park, dan.. sepupumu”

 

 

 

—-

A.N.: eng ing eng jeng jeng jeng jeng~~ (?)

Part selanjutnya akan penuh dengan adegan kekerasan dan haru biru (?) kkkk~ semoga part kali ini ga mengecewakan *amiiin* dan kenapa aku bilang ini udah pre-final? karena rencananya part 4 udah end. Tapi.. kalo misalnya di part 4 nanti kepanjangan.. bakal tetep dibuat end, cuma ntar aku tambahin part 5 / epilog 😀 hehe

dan… aku mau minta maaf sebelumnyaa T^T

soalnya kemungkinan besar, part 4 bakalan lama… paling cepet mungkin minggu depan. kenapa? karena aku ada acara keluarga. Tapi bakal aku usahain semaksimal mungkin nyuri waktu buat nulis part 4. Kalo misalnya acara curi-mencuri waktu aku lancar, mungkin bisa lebih cepet dari minggu depan publishnya.. tapi aku ga janji ya chingu T^T mianhaaaee 😥

satu lagi! makasih loh chingudeul semangatnyaaa >< dan maaf juga kalo aku ngepostnya kelamaan, trus typo, trus maaf juga buat chen dan kris biased >< maaf aku menjadikan bias kalian jahat di sini ;____;

selamat buat kalian yang bener nebak kalo si duizhang yang bakal keluar~ wkwk trus aku kemarin liat ada yg nebak chanyeol? kkk~ aku malah ga kepikiran sampe ke chanyeol  xD haha trus ada yg bilang bakal OT12? sepertinya iya~~ hehe

after all, jeongmal kamsahamnida chingudeul *deep bow*

 

175 responses to “TARGET 3 [Pre-Final]

  1. apa ini?? mereka bakal perang gitu thor??
    aduh kok tiap bagian hanna sama luhan saya deg”an sendiri yah thor.. wkk..

  2. ini apa?? mereka mau perang??
    tiap kali baca part luhan sama hanna saya deg”an sendiri loh thor.. ya ampun.. /.\

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s