[Ficlet] Act of Valor

Act of Valor

By : MissfishyJazz

Cast : 9Muses’s Kyungri, EXO’s Kris

Ficlet | Hurt, Family | PG-15

Inspired by : Act of Valor (2012)

Recommended song : Gummy – Illusion

Act of Valor

 .

So live your life that the fear of death can never enter your heart.

 .

Kyungri duduk di bawah lampu yang menggantung dan bergoyang terkena angin awal musim gugur. Di luar tiba-tiba saja hujan, di luar prediksi cuaca pagi tadi yang menyatakan betapa baiknya hari ini untuk pergi memancing di Soyangho atau sekedar berkencan di taman.

Kyungri merunduk, melihat tetesan hujan yang jatuh mengalir diantara uliran jendela lebar ruang tengahnya. Kapan ya terakhir kali aku berkencan?

Tapi tetes hujan itu menyurut di antara kedua mata indahnya, terganti oleh air lain yang menetes dari sela matanya. Ahh, dia menangis lagi.

 

“Semua awak kapal Cheonji selamat.. Tapi maaf Kyungri, hanya Kapten Wu yang tidak bisa kembali kemari.”

 

Ohh, awalnya Kyungri sungguh mengira mereka bercanda. Mereka—para awak kapal tempat suaminya bertugas—mungkin hanya sedang lelah dengan tugas menyelematkan daerah perbatasan yang semakin genting hingga menyelesaikannya dengan gurauan paling basi menurutnya. Tapi candaan itu menjadi tidak lucu ketika hingga malam, ketika semua awak kapal telah kembali ke peraduan bersama keluarga mereka dan suaminya tidak muncul sama sekali.

 

They say when it is raining heavily, the one you love are hurting and crying.” Kyungri tersenyum lembut pada foto pernikahannya dua tahun silam dalam genggamannya. Ia dan Yi Fan, suami yang begitu ia cintai begitu bahagia hari itu. Setelah tujuh tahun menjadi sepasang kekasih hari itu mereka resmi membuka lembaran baru hidup bersama dan melangkah ke jenjang yang lebih pasti dan terikat. Ia berjanji dihadapan Tuhan dulu untuk selalu bersama dan saling menyayangi hingga maut memisahkan. Memang seperti itu kan sekarang?

 

“Aku berjanji akan kembali dengan selamat setelah misi ini. Dan aku..” Yi Fan merunduk melihat perut Kyungri yang belum terlalu besar, di dalam sana ada anak mereka yang pasti membuat repot ibunya, “akan menemani persalinanmu..”

 

Kyungri bahkan masih ingat bagaimana hangat nya kecupan ringan Yi Fan sebelum pria tinggi itu melangkah ke luar dari rumah. Ia tidak pernah tahu bahwa itu yang terakhir, karena rasanya sama. Sama seperti kecupan lain yang selalu Yi Fan berikan sebelum ia berangkat bertugas.

 

Kyungri meletakkan jarinya yang menggulir di atas foto suaminya. Suaminya terlihat begitu tampan di hari pernikahan mereka. Semua terasa begitu sempurna hari itu, sesempurna harapan mereka untuk menghabiskan masa tua mereka bersama melihat cucu mereka yang akan tumbuh dewasa bersama.

 

“Namanya, Daniel. Daniel Wu. Apakah kau tahu minggu depan dia tepat berusia dua bulan. Daniel pasti rindu padamu. Sekalipun ia tidak pernah melihat wajahmu, aku tahu dia merindukanmu. Sama seperti aku.. Disini.” Kyungri menelan pahit pil hidupnya sekali lagi. Kehilangan suaminya bukan hal yang mudah.

 

“Aku ingin punya 4 anak!” Yi Fan berkata dengan yakin sembari meraih jemari istrinya yang kini bersandar di dadanya.

“Tidak bisa! Itu terlalu banyak, aku tidak sanggup melahirkan sebanyak itu.”

“Jika itu anakku, kau pasti sanggup.” Kyungri menautkan alisnya bingung.

“Kenapa begitu?”

“Karena kalau mengandung anakku kau pasti kuat, kuat seperti aku, karena anak kita akan sama kuatnya seperti aku yang akan membuatmu sanggup melahirkan anak sebanyak apapun.”

“Pembual.. Itu tidak ada hubungannya..” Kyungri mengecup lesung suaminya sebelum beranjak menyiapkan sarapan pagi itu.

 

Kyungri merebahkan kepalanya ke dinding dingin kebiruan di sampingnya, kenapa dadanya masih begitu sakit?

“Aku menyesal mengataimu pembual waktu itu. Kau.. Kau benar aku mendapat kekuatan dengan adanya Daniel. Rasanya aku ingin mati saja jika aku tidak mengingat Daniel.” Kyungri mengernyit sakit pada dadanya yang terus bergemuruh, “kenapa kamu pergi? Aku bohong, aku masih bisa melahirkan tiga anak lagi untukmu. Aku masih bisa. Tapi kenapa kamu pergi lebih dulu?”

 

Dadanya kembali di remas. Ia sendirian, memandang hujan, dan kesakitan. Rasanya itu seperti satu baris rima yang diciptakan untuk Symphony no. 2 Beethoven.

 

“Kapten Wu menenggelamkan dirinya setelah menangkap bom rakitan dengan daya ledak tinggi itu.” Kim Joonmyun meneguk ludahnya sendiri. Ia seperti memutar satu rol putaran film paling herois.

“Bom itu akan meledak beberapa detik setelah menerima tekanan dan saat itu Kapten Wu yang berada di ujung dek kapal menerima bom itu terlebih dahulu. Kurasa ia berpikir begitu cepat untuk menyelamatkan awaknya. Ia tahu jika bom itu ia lempar kemungkinan beratnya terhadap gravitasi akan rendah jadi mungkin bom itu bisa meledak sebelum terjun ke dalam laut. Jadi ia memutuskan untuk menambah berat bom itu dengan mengikut sertakan dirinya agar bom itu bisa dengan mudah sampai ke dasar laut.”

 

Wu Yi Fan Yang Pemberani. Kyungri mengecup foto di genggamannya dengan penuh haru. Sejak mereka masih dibangku sekolah menengah pertama semua temannya selalu memanggil Wu Yi Fan sebagai pahlawan sekolah karena segudang prestasi olahraganya yang membanggakan dan keberaniannya ketika ada temannya yang ditindas.

 

“Tapi bukan pemberani yang seperti ini kan?” Kyungri tersenyum kecut. Mungkin juga pahit. Ia menangis, lagi. Dan lagi. Ia lebih memilih suami pengecut jika keadaan seperti ini yang harus memutus takdir mereka di dunia.

 

“Kapten Wu sepertinya sudah merasakan tanda-tanda itu pada dirinya..” Jiyong tiba-tiba duduk di sampingnya. Tepat ketika acara pemakaman baru saja terselesaikan. Kyungri hanya mengangguk, tidak peduli.

“Dia menitipkan ini padaku. Untukmu. Katanya aku hanya boleh memberikannya jika aku tidak turun dari tangga kapal bersamanya.” Jiyong menyelipkan sepucuk kertas berlipat warna kekuningan dengan harum Sang Kapten yang masih menyengat. Pria itu kemudian berjalan pergi meninggalkan Kyungri yang termangu.

 

Kyungri melihat surat yang terselip rapi di nakasnya dengan mata sendu. Ia belum pernah membuka surat itu, sama sekali. Ia belum siap menggaruk tanah basah yang masih menyimpan nanah di hatinya. Ia juga masih belum siap menabur garam lagi di atas semua lukanya. Tapi ia juga tidak mau berkubang dalam satu kepedihan yang seperti ini sementara Daniel masih hidup dan bernafas serta masih membutuhkannya.

Kyungri melirik surat itu beberapa kali sebelum pada akhirnya membuka surat itu.

 

…Act of Valor

 

Wu Yi Fan duduk di depan meja hitamnya dengan satu helaan nafas berat. Hari ini dadanya kembali berdenyut begitu melihat hamparan laut lepas yang sudah beberapa minggu ini menjadi sahabatnya. Ia seperti merasa ada tanda aneh yang berusaha muncul dalam dirinya. Yi Fan menarik laci kecil di samping kursinya. Mengeluarkan selembar kertas kosong dan pena.

 

Ia tidak tahu apa yang akan ia tuliskan, tapi nama istrinya, Park Kyungri, melintas pertama kali. Ia ingin menuliskan sesuatu untuk Kyungri. Selama 7 tahun menjadi kekasih Kyungri ia sama sekali tidak pernah menulis sepucuk surat pun untuk gadis itu. Padahal pria pria berbondong bonding memberi kekasihnya surat bahkan ketika awal liburan musim panas atau di hari jadi mereka yang masih hitungan bulan.

 

Untuk Kyungri, nyawa yang aku cintai hingga habis nafasku.

 

Aku tidak pernah tahu kenapa hari ini aku ada di sini, di balik mejaku dan menulis hal ini untukmu. Aku hanya merasa ada sesuatu janggal dalam diriku. Sesuatu yang meradang dalam dadaku dan mengingatkanku tentangmu dan tentu tentang calon anak kita.

 

Aku tidak berharap surat ini tiba di tanganmu. Karena aku ingin menyampaikannya sendiri padamu, bahwa aku sangat mencintaimu. Tidak pernah berkurang. Dan selalu bertambah setiap terbitnya matahari. Aku juga berjanji, akan mencintai anak kita nanti dengan seluruh nafasku seperti aku mencintaimu. Jika kau sampai membaca surat ini sebenarnya aku akan malu, karena aku masih sangat menginginkan empat anak bersamamu. Kurasa itu akan menjadi harapan seumur hidupku.

 

Kyungri, jika sampai nanti persalinanmu tiba dan aku tidak ada di sana.. Maukah kau memaafkanku? Aku sangat mencintaimu, tapi tugas ini.. jika kau ingin tahu, akan menjadi tugas terakhirku sebelum aku berhenti. Aku ingin berhenti saja. Seperti katamu, pekerjaan sepertiku terlalu memakan banyak resiko sekalipun ini impiankan sejak dulu. Dan aku tidak ingin cepat meninggalkanmu, apalagi sekarang kau sedang bersama jagoan kita.  Aku berjanji ini akan menjadi tugas terakhirku.

 

Kyungri, aku sangat mencintaimu. Aku sangat merindukanmu. Berjanjilah untuk pergi dengan baik selama aku pergi. Berjanjilah untuk menjaga jagoan kita dengan baik. Suatu saat kita akan bertemu lagi dan aku ingin menemuimu bersama jagoan kita bersamaan.

Jangan pernah mencemaskan Kyungri, aku akan menjaga diriku. Karena seperti yang sudah aku katakan, aku sangat mencintaimu.

 

Wu Yi Fan.

 

Yi Fan melipat surat itu, berjalan keluar dan memanggil salah satu sahabatnya. Jiyong. Ia, entah kenapa ingin menitipkan surat ini. Mungkin agar ia jangan sampai dengan tidak sengaja membawanya ke rumah dan Kyungri akan membacanya.

 

…Act of Valor

 

Kyungri terjatuh di lantai. Sudah tidak bisa menahan air matanya yang meluap dan menghancurkan hatinya yang belum kembali terbangun.

“BOHONG!” Kyungri menjerit. Meluapkan setidak gumpalan kesakitan dalam dadanya yang menekan begitu keras. “KAU PEMBOHONG WU YI FAN! Kau tidak mencintaiku! Kau tidak menjaga dirimu dengan baik.” Kyungri terus menjerit. Menuduh mendiang suaminya pembohong. Menuduh suaminya ingkar janji. Menuduhkan semua prasangka kelabu dalam hatinya.

 

Tepat ketika petir menyambar sesuatu terjatuh di depan matanya. Agenda hitam suaminya yang tersimpan rapi di samping nakas. Agenda itu terbuka, membuka halaman pertamanya yang berisi sepenggal kalimat yang tentu ada di sana dengan tulisan tangan suaminya yang begitu teratur.

 

“So live your life that the fear of death can never enter your heart.”

— Chief Tecumseh

 

“Bukan Wu Yi Fan, bukan keberanian seperti ini yang aku miliki. Bukan untuk kehilanganmu.” Kyungri menepis buku itu menjauh dan kembali menjerit pilu. Bukan keberanian seperti Yi Fan yang ia miliki bukan. Ia hanya memiliki keberanian untuk menjadi pendamping suaminya hingga ajal yang masih dalam hitungan puluhan itu datang menjemput. Bukan secepat ini.

 

.FIN.

authornotes : demi apapun deh mungkin setelah ini saya nggak akan tiba-tiba suka sama idol dan langsung bikin ff. Hasilnya tragis begini. Dari Jiyoung yang menghasilkan Pleurs dan ketertarikan iseng iseng sama Kyungri yang menghasilkan saya nangis sendiri waktu bikin ff nya.

Untuk EXOstan di luar sana.-. *aduh tik tok tik tok* maafkan saya menumbalkan abang mu iniyah.-. nggak tega membunuh member bikbeng sih sayanya.-.

 

Tetap komen ya, nanti yang komen saya beli.in tisu dah *ehh nggak* /jauh na, jauh/

 

Ohh iya, saya ada Writing Competition gitu~ Kecil-kecilan sih untuk perayaan anniv blog tapi rada telat. Hadiah utamanya XOXO, ada juga custom watch sama wristband 😀 Ini link nya. TEKAN SAYA. Partisipasinya ditunggu~

Oke saya berlalu dulu ya~~

108 responses to “[Ficlet] Act of Valor

  1. ya ampun.. hiks.. *nangis*
    betul-betul seorang pahlawan…
    ‘Jalanilah hidupmu dengan ketakutan akan kematian tak pernah memasuki hatimu’…

    kerenn.. (y)

  2. Kayaknya setelah baca semua ficlet atau songfic-mu, eh ga semua sih wkwk author demen bgt bikin semua tokohnya mati
    Yah kasihanilah para reader yg jg biasnya napa…
    Tp kalo yg mati kris sih. Gapapa #plak #digebukramerame
    Sumpah aku gatau menahu ttg kyungri kyungri ini, tp pas nyari kenapa mirip Jung Ju ri yak? #ditembakauthor tp versi yg cantik, wahahahahaha
    Oh yaaaa… Dr beberapa ffmu
    Tapi aku suka sama jalan cerita runaway sama a(f)fair mantap disitu suzy jahat dg senantiasa kudukung wkwwk dara juga keren bgt dibikinnya wahahahahahahaha #ketawajengjeng
    Songfic-mu yg deretan abjad itu belum selesei ya thor? Oh ya sudah tetep ditunggu
    #keepwritinghwaiting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s