Gamer in Love [part 3] [END]

gamer-in-love cover

PREVIOUS [part 1] [part 2]

AUTHOR: Avyhehe

LEGTH: Series

GENRE: Romance/Friendship

RATED: PG-13

Tokoh: Lee Eunhae (OC), Kim Kibum (SHINee), Kris (EXO)

others: Choi Minho (SHINee), Na Junseo (OC)

Disclaimer: Mine.

A/N: jgn lupa baca FF yg two sides ya ~  *lambai kutang kris*

DON’T BE A SILENT READERS, PLEASE

avy present

~Gamer in Love~

Angin subuh berhembus masuk ke kamar Kibum melewati celah-celah ventilasi yang terbuka, membuat Kibum mengerang dan mengeratkan selimut yang membalut tubuhnya. Namun, meski telah memakai selimut supertebal dan membalutkannya erat-erat, udara dingin itu tetap saja terasa, menembus semua pertahanan dan merasuk ke tulang-tulang Kibum.

“Arrrhhh… ventilasi ini terlalu lebar, sepertinya aku harus memanggil tukang untuk mengecilkannya…!” gerutu Kibum. masih berbalut selimut berwarna pink seperti kepompong. Kibum lalu bangkit dan duduk di tepi ranjang  dengan mata yang menatap tajam pada ventilasi big size di tembok kamar.  Tubuhnya menggigil karena suhu ruangan yang sudah seperti kutub utara.

Sebal, Kibum menyibakkan selimut lalu turun dari ranjangnya dan berjalan gontai menuju dapur. Masih setengah sadar, dia melirik jam dinding yang tergantung di atas kulkas. Pukul 5 dini hari.

“Oh well, waktunya sarapan.” Dia membuka pintu kulkas dengan malas, mengambil sekotak susu berukuran  besar dan langsung meminumnya dari kotaknya. Ditengah ritualnya menenggak susu, Kibum melirik pintu kamar yang terbuka lebar, tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kamar itu adalah kamar orang tuanya. Kibum tahu, kamar itu sekarang tidak berpenghuni karena kemarin eomma pergi keluar kota bersama teman-temannya, mungkin nanti siang baru pulang. Pamitnya sih karena urusan bisnis, tapi palingan cuma acara shopping ibu-ibu yang tidak penting.

Sedangkan Appa, malah jarang sekali berada di rumah. Pekerjaan-lah yang menuntutnya pulang sebulan sekali, karena padatnya jadwal dan kewajibannya tur keliling dunia demi mengurusi perusahaan elektronik yang cabangnya tersebar di banyak negara. Sejak insiden Kiseop lima tahun yang lalu, Appa Kibum memutuskan untuk tidak membawa-bawa keluarganya lagi keluar negeri.

Kibum meneguk kotak susu itu sampai habis. Alisnya mengernyit. Bukan karena rasa susunya yang aneh atau basi, susu yang diminumnya itu malah mengalir dengan sempurna di tenggorokannya. Kibum hanya… merasakan pahit saat matanya menjelajahi sebagian rumahnya dari arah dapur. Benar-benar rumah yang tidak ‘hidup’.

Sepi.

Hidup di tengah-tengah ibunya yang sosialita, dan ayahnya yang workaholic membuat Kibum selalu merasa kesepian. Hal yang paling disukainya adalah berangkat ke sekolah, karena di sana selalu ada orang yang bisa diajaknya bicara atau diajak beratem. Makanya Kibum selalu datang ke sekolah paling pagi.

“Huhuhuhu…”

Sebuah suara tangisan yang tiba-tiba terdengar dari luar rumah membuat Kibum melonjak kaget dan menjatuhkan kotak susu yang dipegangnya. Ia beringsut mundur hingga punggungnya menabrak kulkas di belakang.

“Huhuhuhu…”

Kibum menajamkan telinganya, berusaha mencari asal tangisan itu. Ternyata sumber suara itu ada di halaman belakang rumahnya.

Rasa takut, penasaran, bercampur sebal membuatnya menghampiri asal suara tangisan gila di pagi-pagi buta itu. Dengan bersenjatakan pisau dapur yang diambilnya dari rak piring, Kibum mengendap-endap ke halaman belakang rumahnya.

Suara tangisan itu terdengar semakin keras.  Kibum tak bisa melihat dengan jelas karena matahari belum naik dengan sempurna, yang hanya menampakkan pandangan remang-remang di lensa matanya.  Rintihan memilukan itu semakin keras. Kibum yang sekarang bisa melihat sosok yang tengah berjongkok membelakanginya itu mengangkat pisaunya tinggi-tinggi, berjaga-jaga bila hal yang tak diinginkan terjadi.

Saat jarak yang memisahkan Kibum dengan sosok bayangan itu tinggal sedikit, sosok itu menolehkan wajahnya kearah Kibum, dan…

“WAAAAAAAAAAAAA…!!!!!”

Keduanya memekik kaget saat menatap satu sama lain. Kibum sampai menjatuhkan pisaunya.

“Astaga, Minho! kau mengagetkanku saja!” Kibum mengusap-usap dadanya yang meloncat keluar.

Minho yang mengetahui orang yang membawa pisau itu adalah majikannya sediri, bernafas lega. Namun setelah itu dia menangis lagi.

“Huhuhu Kibum-ssi, kau jahat, kenapa mengacungkan pisau ke arahku? kukira kau psikopat yang kabur dari penjara…huhuhu” isaknya dengan muka mewek. Kibum mendelik, “Salahmu sendiri! menangis pagi-pagi buta di tempat yang aneh begini, mana kutahu. Kukira kau hantu!”

“Kibum-ssi, huhuhuhuhu…” Minho merengek dengan nada tersendat-sendat.

“Kau kenapa sih?!” Omel Kibum, ia lalu berjongkok di sebelah Minho. Whoooaa…!! wajah Minho benar-benar mengerikan. Matanya yang besar dan hidungnya yang mancung berwarna kemerahan, selain itu, Kibum bisa bekas-bekas air mata mengering di pipi Minho. Pertanda dia sudah menangis lama sekali.

“Itu.., pembantu tetangga rumah ini…” Minho membuka suara dan mulai bercerita dengan nada sedih.

“Pembantu tetanggaku? Ngg… pembantu yg bernama Im Ha Jae itu?” Kibum menaikkan alisnya heran, “Kenapa?”

Minho seperti ingin menangis lagi. “Kemarin siang aku mengajak Ha Jae ke taman mini. Saat kami sedang naik komidi putar, aku menyatakan perasaanku pada Ha Jae, karena aku sudah lama menyukainya.  Tapi dia malah menertawakanku. Dia bilang, dia sudah lama berpacaran dengan satpam perumahan kita, yang bernama Kim Jonghyun itu…”  setelah menyelesaikan ceritanya, tangis Minho dengan resmi pecah kembali.

“Hmpffff…” Kibum nyaris saja tertawa keras, tapi karena kasihan dengan Minho dia membungkam mulutnya. Astaga, baru kali ini Kibum mendengar kisah cinta segitiga antara tukang kebon, pembantu, dan satpam.

Kibum menggeser tubuhnya mendekat ke arah Minho, lalu menepuk-nepuk punggungnya, menghiburnya.

“Sudahlah Minho, masih banyak perempuan lain, kan bisa cari lagi,” Kibum mencoba menghibur. Minho melirik Kibum dan menyeka air matanya. “Hmmm… kalau begitu…” Minho terlihat berpikir, “….bagaimana dengan Eunhae, teman Kibum -ssi itu? Apa dia masih single?” tanyanya dengan wajah berbinar-binar.

“Ya! Jangan!” bentak Kibum seketika. Minho menatap majikannya heran.

“Emm… maksudku… sepertinya temanku itu sedang menjalin hubungan dengan wali kelas kami. Jadi, jangan mencoba mendekatinya.” ralat Kibum cepat. Dia heran juga, kenapa mulutnya harus berteriak keras seperti itu saat nama Eunhae disebut.

“Oh, huhuhu…” Minho yang kecewa menangis lagi. Kibum menepuk jidatnya.

“Laki-laki itu tak boleh sering menangis… sudah, hentikan tangismu itu! Kalau berhenti menangis, minggu depan kuajak nonton ke bioskop!” ups… Kibum menutup mulutnya karena kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Yang benar saja, masa dia mengajak tukang kebunnya nge-date?! rutuknya dalam hati.

“Ohhh… Benarkah? Majikanku so sweet sekaliii….~” wajah Minho tampak sumringah. Dia menatap dalam-dalam mata Kibum, meminta kepastian. Kibum menepuk dahinya sekali lagi. Ia ingin membatalkannya, tapi disisi lain juga kasihan pada Minho. Oh well, tak ada pilihan lain selain mengiyakan.

Junseo menghampiri meja Eunhae. Sejak tadi Eunhae bengong saja di bangkunya. Hal itu membuat Junseo risih.

“Eunhae, kau kenapa?” Junseo meraba dahi Eunhae, berharap temannya terserang demam karena bisa menjelaskan tingkah Eunhae yang aneh pagi ini, tapi ternyata dia tidak demam. Suhu dahi Eunhae tetap normal.

“Junseo, hari ini pelajaran matematika jam keberapa ya?” Eunhae bergumam dalam keadaan setengah sadar. Junseo membelalak. Entah kerasukan jin atau apa, Eunhae yang biasanya alergi pada pelajaran matematika malah bertanya-tanya tentang pelajaran yang dibencinya itu. Junseo makin panik.

“Teman-teman! Eunhae butuh pertolongan!” teriak Junseo pada teman sekelasnya. Terang saja seisi kelas yang tidak mengerti apa-apa itu hanya menatap dengan muka blo’on. Namun seorang pemuda yang duduk di bangku paling depan berdiri dan menghampiri meja Eunhae, siapa lagi kalau bukan Kibum.

“Hmmm…” Kibum mencoba menganalisa penyakit bengong Eunhae dan memperhatikan gadis itu dengan seksama dari atas sampai bawah. Junseo menunggu Kibum tidak sabar.

“Kira-kira dia kenapa ya?” tanya Junseo.

“Aku juga tak mengerti, mungkin dia terlalu memikirkan taruhannya dengan Kris.” Ujar Kibum tidak yakin.

Juseo meninju perut Kibum pelan. “YA!! Kau ini sungguh tak sopan! Sudah berapa kali kuperingatkan untuk TIDAK memanggil Kris seonsaeng dengan namanya langsung?!”

Kibum mengerang. “Aniyooo… lebih enak memanggilnya ‘Kris’ saja tanpa embel-embel guru, memanggilnya ‘Kris seongsaeng’, membuat telingaku sakit!”

“Kau ini!!” Junseo melotot.

“Berisik! Kalau mau bertengkar nanti saja di luar kelas!” Eunhae menutup telinganya rapat-rapat karena ulah kedua orang yang bertengkar hebat di depannya. Mereka membuat gaduh kelas yang tadinya hening, padahal masih pagi.

“Ooooh… dia sudah sadar…” Junseo mengusap-usap wajah Eunhae dengan kedua tangannya. Kibum mendengus lalu berjalan kembali ke bangkunya. Namun sebelum kembali, ia menoleh ke arah Eunhae dan berkata, “Sayang sekali… hari ini tidak ada pelajaran matematika. Kalau ingin belajar, nanti saja ke rumahku sepulang sekolah.”

“WOOOOOOO…!!!”

seisi kelas kontan bersorak saat Kibum mengatakan ‘nanti saja ke rumahku sepulang sekolah’, karena menurut mereka hal itu sangatlah kontroversial.  Seorang Kibum? mengajak perempuan ke rumahnya? Woww…. itu adalah hal yang langka.

Eunhae jadi makin bete karena disoraki seperti itu. Ia meraih lengan Junseo dan menariknya menuju kamar mandi yeoja.

“Kau kenapa sih?!” Junseo marah-marah setibanya mereka di kamar mandi. “Oh, jangan-jangan kau memang menyukai Kibum?” tanyanya penuh selidik dengan muka menggoda.

“Enak saja!” Eunhae memandang refleksi dirinya di depan kaca. Dia menghembuskan nafasnya perlahan lalu menoleh ke arah Junseo. Raut wajahnya seperti ingin membicarakan sesuatu yang serius. Eunhae membuka mulutnya, “Junseo… aku tidak tahu pasti… tapi sepertinya aku…” kata-kata Eunhae menggantung di tengah-tengah. Ia ragu untuk meneruskannya.

“Ya?” Junseo yang penasaran mendekatkan wajahnya ke arah Eunhae, “Sepertinya kau kenapa?”

“… sepertinya aku… menyukai Kris seonsaengnim,” setelah mengatakan itu, Eunhae menutup mukanya malu.

“WHATT??!”  Junseo memekik kaget mengetahui fakta dihadapannya.

Kibum berjalan menyusuri Dongdaemun dengan sweater merah marun dan tudung yang menutupi kepalanya. Pemuda itu berhenti di depan sebuah toko buku ber-arsitektur vintage, kemudian memasukinya.

“Ah, kau datang lagi…” sapa ahjumma penjaga kasir, “tidak memakai sunglass seperti biasa? Oh, baguslah, kau nampak sangat tampan tanpa kacamata itu…!”

Kibum tak menggubris celotehan ahjumma itu dan berlalu menuju sebuah rak di sudut toko buku. Dia menelusuri buku-buku pelajaran yang berjajar rapi dan menarik sebuah buku yang menyita perhatiannya. Dibolak-baliknya buku tebal yang berisi rumus-rumus membingungkan itu.

Merasa puas, Kibum berjalan menghampiri Ahjumma tadi dan menyodorkan buku yang diambilnya. Ahjumma itu meminta sejumlah uang, lalu memasukkan buku itu ke dalam kresek dan menyodorkannya kembali pada Kibum.

“Besok datang lagi ya,, neomu kyeoptaa!!” sahut ahjumma itu saat Kibum keluar toko buku, membuat Kibum bergidik ngeri. Ia tidak habis pikir, masih ada saja ahjumma-ahjumma genit meski umur mereka sudah tak muda lagi.

Di tengah jalan, pemuda itu tak sengaja berpapasan dengan orang yang dikenalnya. Mata orang itu membulat saat melihat sosoknya.”Kibum??” sapa orang itu, yang ternyata adalah Eunhae. Gadis itu menenteng sebuah tas kresek putih di tangan kanannya.

“Halo.” sapa Kibum datar. “nanti kerumahku?” tanyanya, membuat Eunhae mengangguk. Kibum menatap kresek yang dipegang Eunhae dengan tatapan menginterogasi.  “Taruhan, kau pasti habis dari game center.”

Dibilang begitu Eunhae hanya meringis. Kibum berdecak dan berlalu pergi, namun Eunhae memanggilnya dari belakang. Pemuda itu menoleh ke arah Eunhae sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Waeyo?” tanyanya.

“Umm…, bagaimana kalau kita jalan bareng ke rumahmu?” tawar Eunhae pada pemuda di hadapannya. Kebetulan setelah belanja di game center, Eunhae ingin pergi ke rumah Kibum.

Kibum terdiam sejenak, lalu mengangguk. Eunhae tersenyum dan menjajari langkah Kibum.

Di tengah perjalanan, mereka melewati sebuah cafe bernuansa prancis dengan jendela lebar yang menghadap keluar, dinaungi kanopi berwarna hijau tua. Eunhae menatap cafe tersebut, dia bisa melihat pasangan yang duduk di sebuah meja di sebelah jendela lebar itu. Si wanita wajahnya tidak kelihatan, karena tubuhnya membelakangi jendela. Eunhae hanya bisa melihat punggung dan rambut wanita itu—yang berwarna merah menyala—dari tempatnya berdiri. Sedangkan laki-laki yang bersamanya menghadap ke arahnya. Tunggu…, sepertinya Eunhae mengenali laki-laki itu. Ia memicingkan matanya, dan membelalak kaget saat mengetahui laki-laki itu adalah Kris seonsaeng. Whattt??

“Eunhae! sedang apa kau?!” omel Kibum, saat didapatinya Eunhae malah berdiri mematung di tengah jalan. Namun rasa sebalnya berubah menjadi panik saat ia melihat mata Eunhae berkaca-kaca.

“Lee Eunhae, kau kenapa?” Kibum mengguncang-guncang bahu Eunhae, namun gadis itu tak bergeming. Akhirnya Kibum menyerah, ia berdiri di samping gadis itu dan menungguinya dengan sabar di tengah jalan. Beruntung, jalan tempat mereka berdiri saat ini lumayan sepi, jadi Kibum tak perlu takut tertabrak kendaraan lewat.

Tubuh Eunhae gemetar. Ia bisa melihat wanita asing itu mengulurkan tangannya, lalu membelai wajah Kris seonsaeng dengan lembut. Hati Eunhae serasa hancur berkeping-keping melihatnya. Cairan hangat mulai mengalir dari pelupuk matanya dan menitik ke jalan raya. Eunhae tak percaya, ternyata Kris seonsaeng memiliki seorang yeojachingu.

Tiba-tiba tangannya ditarik kasar oleh Kibum, yang membawanya ke sebuah taman tak jauh dari café itu berada. Kibum mendudukkan tubuh Eunhae di sebuah bangku kayu panjang, sedangkan ia sendiri mendudukkan dirinya di sebelah Eunhae. Eunhae masih terisak, gadis itu tak percaya dengan pemandangan yang baru dilihatnya.

“Huhuhuuh…. Kibum…” isak Eunhae. Kibum yang kasihan mencoba menghiburnya, ia merangkul pundak Eunhae. Eunhae sendiri malah membenamkan wajahnya di dada Kibum, membuat pemuda itu kaget. Kibum dapat merasakan jantungnya berdegup kencang saat tubuh Eunhae menempel padanya. Tangannya bergerak mengelus-elus rambut Eunhae.

“Hiks… hiks… Kris seonsaeng… dia tega sekali… hiks….” Eunhae masih terus terisak. Kibum menyeka air mata yang mengalir di pipi gadis itu.

Kibum berinisiatif membuka mulutnya.

“Jangan menangis terus, wajahmu jelek sekali!”

Ia bermaksud menghibur, namun yang keluar malah kata-kata yang menyebalkan. Eunhae menatap tajam kearahnya. Ups, sepertinya Kibum salah bicara.

“Ya!! kau tidak tahu perasaanku! rasanya sakit sekali di sini, Huhuhu…” Eunhae menunjuk dadanya, “…sakit sekali saat mengetahui orang yang kau sukai menyukai orang lain….” Gadis itu memukul-mukul dada Kibum sambil meraung-raung, tangisnya kembali pecah.

Kibum terdiam, ia merasakan dadanya ikut sakit. “…Aku mengerti, karena aku juga merasakannya…” Gumam Kibum pelan, nyaris tak tertangkap oleh telinga Eunhae. Gadis itu lalu melirik Kibum dan menyipitkan matanya, “Hah? kau bilang apa tadi?”

“Tidak, aku tidak bilang apa-apa,” Kibum mendesis. Ia bangkit berdiri, lalu menarik paksa tubuh Eunhae, menyuruhnya berdiri.

“Akh! apa yang kau lakukan?? aku masih ingin disini!” pekik Eunhae sebal pada Kibum yang menariknya paksa.

Kibum menatap lurus-lurus mata Eunhae.

“Daripada meratapi nasib, lebih baik kau belajar dengan keras untuk ujian matematika nanti. Ayo, tunjukkan pada guru brengsek itu bahwa kau bukan perempuan biasa!” Kibum mengatakannya dengan mata berapi-api.

Eunhae melongo, namun sedetik kemudian matanya juga ikut berapi-api. Benar juga yang dikatakan Kibum, kalau ia ingin membalas dendam pada Kris seonsaeng yang menyakiti hatinya, ia harus mendapatkan nilai yang bagus saat ujian matematika. Mungkin saja Kris seonsaeng akan kagum padanya, dan menyesal karena memilih wanita lain.

“OK! ayo kita ke rumahmu!” Eunhae menarik tangan Kibum ke jalan raya dengan penuh napsu. Kedua remaja itu pun berlalu dengan semangat membara menuju rumah Kibum. Apalagi Eunhae, tubuhnya terlihat seperti dikelilingi oleh efek-efek kobaran api.

French Café, Dongdaemun.

“Eomma!! sudah berapa kali kubilang jangan berpenampilan norak seperti itu!!” Kris menggebrak meja café didepannya dan menatap lurus-lurus wanita paruh baya yang duduk di hadapannya. Wanita  itu mengenakan pakaian hitam ketat, dengan rambut panjang yang merah menyala, tergerai sampai ke punggung.

“Dan…dan… sejak kapan rambutmu jadi merah begitu?! kau tampak seperti waria yang biasa mangkal di stasiun!” teriak Kris lagi, serasa ingin muntah berak melihat rambut eommanya yang di cat merah menyala.

“Tidak sopan!!” wanita berusia 50 itu menampar pipi Kris keras-keras, membuat bekas tangannya tercetak di pipi kiri Kris. “Masa kau tidak suka dengan penampilanku ini?! Melihat Eomma-mu jadi nampak 20 tahun lebih muda,,kau tidak suka?? hohohoho….” eomma Kris mengibas-ngibaskan rambutnya yang kemerahan, lalu tertawa ala ibu-ibu.

“Hentikan, eomma!! kau membuatku malu!” Kris bisa merasakan pandangan seluruh orang di dalam cafe tertuju ke arah mereka. Beberapa orang juga mulai berkasak-kusuk. Kris mendesah. “Dengar, eomma, kalau kau tetap berpenampilan seperti ini, aku tak akan segan mendaftarkanmu ke panti jompo!”

Eomma Kris merengut mendengar perkataan anaknya. “Oh, baiklah, baiklah… aku menyerah! Nanti siang aku akan mengubah warna rambutku. Hmmm… bagaimana kalau kuubah warna biru saja…?” wanita itu mengerutkan dahinya bingung, memikirkan pilihan warna yang mungkin cocok dengan penampilannya. Kris menjerit keras karena perkataan eommanya.

“Mwoya?? ANDWAE!!!!”

Hari berganti hari, dan waktupun terus berlalu. Siang itu Eunhae masih sibuk mengerjakan soal-soal yang dibuat oleh Kibum, di rumah Kibum. Sesekali ia menghembuskan nafas dalam-dalam saat melihat rumus-rumus buatannya sendiri yang sama sekali tidak dimengertinya.

“Yang ini salah, seharusnya begini,” Kibum mengambil posisi duduk di sebelah Eunhae, dan membetulkan rumus gadis itu. Deg,,…Eunhae bisa merasakan lengan Kibum yang berdempetan dengan lengannya, juga aroma tubuh namja itu yang memasuki hidungnya, karena Kibum baru saja mandi. Rambut Kibum yang masih basah terjuntai lurus membingkai wajahnya. Dia jadi nampak berbeda dengan penampilan seperti itu. Eunhae memejamkan matanya dan merasakan pipi memanas.

“Pabbo-chorom! Bagaimana kau bisa mengerti kalau menutup matamu?!!” Kibum membentak Eunhae dan menjitaknya, merasa sebal karena penjelasan yang diberikannya sia-sia. Eunhae menggembungkan pipinya sebal dan menjitak Kibum balik. Pletakkk!! Kibum pun mengerang kesakitan.

“Aku memejamkan mataku karena sedang berkonsentrasi, tahu!” sungut Eunhae.

“Orang sepertimu?? Berkonsentrasi? Jangan bercanda!” Kibum mencibir, membuat sebuah jitakan mendarat lagi di kepalanya. “Ya! Eunhae! Hentikan!!” rintihnya sambil melindungi kepalanya. Eunhae tertawa. Ternyata menyiksa orang itu mengasyikkan juga, hahaha…

Gadis itu terus memukuli Kibum dengan penuh napsu. Kibum yang sudah tidak tahan lagi, menarik kedua tangan Eunhae dan secara tidak sengaja membuat tubuh Eunhae tertarik ke arahnya.

Eunhae merasa waktu seolah berhenti saat ia dan Kibum berhadapan dalam jarak yang dekat, saling bertatapan, dengan kedua tangannya yang dipegangi oleh pemuda itu. Eunhae merasakan hembusan nafas Kibum di wajahnya, karena jarak mereka yang sangat dekat. Reflek, ia mendorong tubuh Kibum karena salah tingkah.

“Eh, oh, mianhae,” Kibum yang baru tersadar pun menggaruk kepalanya yang tak gatal. Semburat merah timbul di kedua tulang pipinya.

“Aissshhh… jangan macam-macam denganku!!” omel Eunhae, tapi ia bisa merasakan jantungnya yang masih berdegup kencang. Tiba-tiba, sebuah ketukan dari pintu depan membuyarkan suasana ‘tegang’ diantara mereka. Kibum pun menghampiri pintu itu dalam keadaan setengah sadar, kemudian membukanya.

“Kibum-ssi!!”

kepala Minho menyembul keluar dari balik pintu, membuat Kibum dan Eunhae melonjak kaget.

“Ya!! Kau mengagetkan kami saja!” omel Kibum, sedangkan Minho hanya meringis. Ia lalu menatap Kibum dengan tatapan penuh harap.

“Oh ya, kau jadi mengajakku pergi ke bioskop?” tanya Minho.

“Astaga! ini hari apa?” tanya Kibum seraya menepuk mukanya, entah ditujukan pada siapa.

“Minggu!” sahut Eunhae yang berada di belakangnya. “Kau ini bagaimana sih, hari saja bisa lupa?!” omelnya. Eunhae lantas menatap Minho dengan tatapan menyelidik.

“Kau… bilang apa tadi…? …  ada janji dengan Kibum ke bioskop??”

Minho mengangguk penuh semangat, sedangkan Kibum menepuk jidatnya.

Eunhae menganga, pikiran-pikiran aneh mulai bermunculan di benaknya. Jangan-jangan… Kibum… maho??

“Jangan berpikiran yang aneh-aneh!!” Kibum berseru ke arah gadis itu. seolah mengetahui hal yang tertera di jidat Eunhae.  “Ok, aku mau keluar dulu bersama Minho. Pelajaran kita selesai hari ini. Tapi kau harus menyelesaikan soal-soal ini dulu baru pulang!” perintahnya.

Eunhae menyilangkan kedua tangannya dan memasang muka cemberut.  “Kau jahat sekali! Besok itu sudah ujian, dan masih ada soal yang belum kumengerti!”

Kibum yang tak tahu harus berbuat apa, hanya menatap Eunhae dan Minho bergantian. Untung saja Minho pengertian, ia lalu membisikkan kata-kata ke telinga Kibum.

Kibum membelalakkan matanya, “Baiklah! Aku akan mengajarimu dan membatalkan janjiku dengan Minho. Tapi kalau nilai ujian yang kau dapatkan tidak sesuai harapan, kau harus membayariku dan Minho nonton di bioskop!” ucapnya, menyampaikan kata-kata yang dibisikkan oleh tukang kebunnya.

Eunhae melongo, namun ia meletakkan pensilnya lalu mengangkat kedua tangannya. “Ok! Ok! Deal!” jawabannya membuat Minho dan Kibum menyeringai.

“Tapi kau harus mengajariku sampai malam!!” tukas Eunhae tak mau kalah.

Pagi itu suasana kelas sangatlah sepi. Padahal kelas 3-A terkenal sebagai kelas paling ramai, juga paling bodoh.

Ternyata setelah diselidiki, kelas itu tengah menghadapi ujian matematika, dengan Kris seonsaeng yang menjaga di depan kelas. Pantas saja suasananya begitu sepi. karena dengan Kris seonsaeng sebagai penjaga, ditambah soal-soal mat yang mengerikan, merupakan kombinasi yang sempurna dan bisa disebut mimpi buruk bagi kelas itu.

“YA! beraninya kau celingukan saat ujianku!” Kris seonsaeng menimpuk seorang siswa yang duduk di bangku pojokan dengan papan penghapus. Siswa itu lalu mengaduh dan menggerutu, namun ia kembali berkutat pada soalnya setelah dilempar tatapan tajam oleh Kris.

Mwoya?…tumben dia melempar dengan penghapus papan, biasanya pakai pot bunga diatas mejanya,” bisik Junseo pada Eunhae yang duduk disebelahnya. Eunhae mendelik dan menyuruh Junseo diam.

“Junseo!! Kalau kau bicara lagi, aku akan melemparmu keluar jendela!” teriakan seram Kris seonsaeng membuat Junseo merengut, dan gadis itu menatap kembali soal mat nya. Kris bangkit dan berjalan melewati murid-muridnya yang tengah sibuk mengerjakan soal. Beberapa siswa bergidik ngeri karena aura hitam yang dipancarkan oleh Kris. Ia lalu berhenti di samping meja Eunhae, kemudian sedikit mengintip untuk melihat hasil pekerjaan gadis itu. Eunhae tidak menyadarinya, karena ia masih sibuk dengan soal-soal dihadapannya. Junseo senyum-senyum sendiri melihat pemandangan disebelahnya, membuat Kris mendelik.

“Apa lihat-lihat?!”

Bentakan Kris yang ketus itu membuat Eunhae tersadar dan menoleh cepat ke arah Kris. “Seonsaeng, kau sedang apa?” tanya Eunhae heran.

“Oh, hanya memastikan kalau kau tidak menjawab soalnya dengan benar.”

Eunhae melotot ke arah Kris mendengar jawaban itu, namun Kris pura-pura tidak melihatnya dan berjalan kembali ke mejanya. Tiba-tiba Kibum yang duduk di bangku paling depan mengulurkan sebelah kakinya di jalan yang dilewati oleh Kris, membuat Kris terjungkal dan nyaris terjatuh.

“Kim Kibum….! Beraninya kau menjegalku!! Taruh pensilmu dan keluar dari kelas!” teriak Kris seonsaeng emosi, saat ia sudah berhasil menyeimbangkan tubuhnya.

Kibum bangkit berdiri, sebelumnya ia menoleh ke belakang dan menyeringai ke arah Eunhae. Pemuda itu lantas berjalan keluar kelas dengan langkah santai. Tentu saja Kibum santai, karena dia sudah menyelesaikan semua soal yang tersedia padahal waktu ujian baru berjalan separuhnya. Junseo dan Eunhae yang berada di belakang tertawa melihat kelakuan Kibum, begitu pula dengan murid yang lain.

Lalu sebuah bentakan keras membuat seisi kelas sunyi kembali.

“Kalau ada yang tertawa, kalian semua akan berakhir seperti Kibum!!”

Sudah seminggu berlalu sejak ujian matematika yang menyengsarakan itu, tapi Kris seonsaeng belum mengumumkan nilai mereka.

Pada suatu pagi yang cerah dan ceria, Kibum berjalan menghampiri Eunhae dan menggebrak meja gadis itu dengan tangannya. Kontan saja Eunhae langsung naik pitam.

“Mau apa kau menggangguku pagi-pagi begini?!”

Kibum tak menggubris sewotan Eunhae dan malah menarik tangan gadis itu menuju keluar kelas, berjalan menyusuri koridor menuju ke ruang guru.

Kibum menjawab pertanyaan Eunhae di tengah-tengah perjalanan mereka. “Nilai ujian mat kita akan keluar besok, tapi Kris memperbolehkan untuk melihat nilai itu duluan, khusus untukmu.”  Eunhae baru akan membuka suara, tapi mereka sudah tiba di depan meja Kris seonsaeng. Guru muda itu menatap Eunhae dan Kibum bergantian, sambil memutar-mutar kursi kantor yang didudukinya. Gayanya yang terlihat seperti direktur itu membuat Eunhae kesal.

“Seonsaeng,,berapa nilaiku?!” berondong Eunhae tidak sabar ke arah wali kelasnya.

“Whoooaa… sabar, agasshi.” Kris menenangkan muridnya, lalu menyuruh Kibum dan Eunhae duduk di hadapannya. Kris terlihat sibuk membolak-balik buku berisi daftar nilai diatas mejanya. Eunhae sendiri kini tengah duduk sambil berkeringat dingin.

“Sesuai perjanjian, jika nilaimu diatas 80, kau akan mendapatkan PSP mu kembali beserta ijin memainkannya selama dua bulan…,” Kris mengingatkan kembali isi perjanjian itu. “… tapi kalau kau kalah, PSP ini tidak akan kembali…. dan nilai yang kau dapatkan adalah…”

telunjuk Kris menelusuri daftar yang dipegangnya, mencari nama Eunhae.

“…70,” kata Kris pada akhirnya, lalu menutup buku nilai itu.

Eunhae nyaris meregang nyawa mendengarnya. “Andwaee!!!” pekik gadis itu frustasi. Sekujur tubuhnya terasa lemas saat mengetahui kenyataan pahit tersebut. Perjuangannya selama ini mengerjakan setumpuk soal-soal, bahkan sampai pulang malam-malam, semuanya terasa begitu sia-sia.

“Eh…” celetuk Kris tiba-tiba, “Aku hanya bercanda, nilaimu 85.” ucapnya dengan nada menyebalkan, membuat Eunhae melotot.

“YA!! teganya seonsaeng menipuku!!” omelnya.

“Ehem,, itu semua biar terdengar dramatis, lagipula yang menyuruhku begitu adalah Kibum…” Kris melirik siswa yang duduk di sebelah Eunhae. Kibum tampak salah tingkah.

“Kau iseng sekali!!” Eunhae menjitak kepala Kibum, membuat pemuda itu mengaduh pelan. Dalam sekejap, seisi ruang guru menatap mereka bertiga karena kegaduhan yang mereka buat.

“Ehm—kalian jangan berisik.” Kris seonsaeng berdehem lagi. “Baiklah… sesuai janji, aku akan mengembalikan PSP-mu.” guru itu mengeluarkan sebuah benda persegi berwarna hitam dari kolongnya, membuat mata Eunhae bersinar-sinar saat melihatnya.Setelah mendengarkan ceramah Kris yang begitu panjang dan terasa membosankan, kedua siswa itu berjalan keluar dari ruang guru dengan wajah puas. Eunhae tampak sangat bahagia. Ia menoleh kearah Kibum yang berdiri di sebelahnya.

“Gomawo, sudah mau mengajariku selama ini,” ucapnya dengan tulus. Kibum hanya mengangguk dan menggaruk tengkuknya.

“Ah…” sahut Kibum tiba-tiba, menghentikan langkah mereka berdua.

“Wae?” tanya Eunhae heran. Tiba-tiba tangan Kibum meraih tangan Eunhae, membuat jantung gadis itu berdebar lagi.

Kibum menatap Eunhae lekat-lekat, “Besok minggu mau jalan-jalan denganku?” tawarnya.

Eunhae yang tidak percaya akan pendengarannya hanya melongo, tapi kemudian ia tersenyum dan mengangguk.

“Kemana?” tanya Eunhae penasaran pada Kibum.“Terserah,” jawabnya.

Eunhae terlihat berpikir, dan sedetik kemudian ia menjentikkan jarinya.

Where?” tanya Kibum lagi.

Game Center!” kata Eunhae mantap.

namun baru sedetik kata itu keluar, Kibum sudah berteriak frustasi.

“ANDWAEEE…!!!”

______________

The End

______________

Hohohohoho… *ketawa ala emak2* mian ceritanya gaje gini, yg penting tamat kan…haha… dan ceritanya ga jd bersegi-segi kok,  kris nya cm jadi angin yg berlalu (?) /plak/

yg bagian minho naksir ha jae itu bikin saya inget Mal*m Minggu Miko, pas mas anca naksir pembantu tetangganya, tapi saingan sm satpam perumahan, jiakakakak… kaga kuwad deh eke…

komen yahh 😀

39 responses to “Gamer in Love [part 3] [END]

  1. aduuuhhhh gapapa thor gantung giniiiiii. ini persis aku banget soalnya wkwk xD
    plus ultimate bias ku juga manusia dua ituuuuu. jadi at all aku suka cerita ini lol. dan lool lg minho knp dijadiin tukang kebun disini. jonghyun juga adooh hahahha xD
    good job (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s