[Chapter 1] Love in Love

Title: [Chapter 1] Love in Love

Author: hyeri

Cast:

  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Lee Taemin as Kim Taemin (SHINee)
  • Choi Sin Ya (OC/You)

Genre: Romance, etc. (Spesifik: Genre yang cocok untuk remaja ._.)

Rating: T (PG15)

Length: Chapter 1/?

Disclaimer: Kesamaan nama tokoh atau apapun yang menyakut fanfic ini bukanlah suatu kesengajaan. Cast bias milik Tuhan, kecuali OC. Plot/alur/cerita hanya milikku seorang. Ini semua adalah rangkaian imajinasi yang ku tuangkan melalui kata per kata dalam tulisan.  DON’T BE PLAGIATOR!

A/N: Akhirnya part 1-nya keluar juga. Semoga suka dan dicintai ._. Selama ini ngetiknya ngantuk-ngantuk dan pikiran terakhir saya ‘gimana kalo gak usah dilanjutin’ … Tapi setelah dipikir2 lagi sayang juga. So, enjoy this fanfiction and sorry for any typo there. Enjoy!

Prolog

***

Sin Ya menarik erat tali tasnya lalu bergegas keluar dari kamarnya menuju meja makan keluarga Kim. Rambut panjangnya tergurai bebas ke belakang, memperlihatkan lekuk wajah dan leher sang empunya. Sementara itu Kai dan Taemin juga telah siap dengan seragam sekolah SMU-nya beserta tas ransel mereka. Taemin dengan rapinya dan juga wajah imutnya mengeratkan tas ranselnya layaknya seorang anak TK, berbanding terbalik dengan Kai yang layaknya seorang anak brandalan, membawa tas ranselnya dengan malas membuat tas tersebut siap saja jatuh jika Kai tidak cukup mengeratkannya. Wajah Taemin terlihat sekali berseri-seri pagi ini dan selalu tersenyum sambil melangkahkan kakinya, sungguh layaknya anak kecil. Lalu bagaimana dengan Kai? Bisa ditebak, wajah kecut sekaligus parasnya yang dingin terhadap semua orang, matanya saja masih terlihat mengantuk dan memperlihatkan dengan jelas bagaimana lingkaran hitam di sekitar bawah pelupuk matanya.

***

07.00 AM
Busan

Sin Ya’s POV

Ku langkahkan kaki ini dengan berat. Ah, yang benar saja. Aku baru saja memimpikan tengah berjalan-jalan dengan idolaku di mimpi. Tapi harus terganggu atau malah terpotong karena sekolah ini. Ok, yang tadi itu hanyalah mimpi. Mimpi dengan sang idola yang menyenangkan. Tapi bagaimana pun juga, aku masih mencintai sekolah, haha. Dengan senang hati aku bangun dan segera mempersiapkan diri untuk sekolah.

Waktu memang berjalan dengan cepat. Sampai-sampai rasanya ingin sekali aku melambatkannya atau sekedar menjadi time control. Benar, semuanya berjalan cepat. Dari pertama kali aku menginjakkan kakiku di rumah ini hingga sekarang aku berumur 16 tahun. Setelah kejadian yang hampir membuatku frustasi dan mungkin saja gila di umur muda. Bagaimana bisa mereka meninggalkanku secepat ini. Aku hanya diberikan waktu selama 8 tahun untuk melihat lekat-lekat wajah mereka. Namun aku tetap bersyukur telah dilahirkan ke dunia dan melihat wajah rupawan mereka … walau hanya sebentar dan tidak selamanya.

Cerita singkatnya, kini aku telah resmi tinggal di rumah keluarga Kim. Bibi Ga In adalah orang yang paling-paling dan paling baik di hidupku. Ia dan suaminya—tentunya juga kedua anak mereka, entah sepertinya Kai tidak terlalu menyukaiku—mengijinkanku untuk tinggal bersama mereka. Menjadikanku layaknya anak ketiga mereka. Walaupun status hukumnya aku masih keponakan mereka, namun hal ini cukuplah indah. Ah, sungguh baik. Bagaimana pun juga aku harus membalas perbuatan budi mereka—benar, aku harus melakukannya. Setidaknya, aku bisa membantu bibi Ga In dalam pekerjaan rumahnya dan terkadang membantu paman Tae Woo hanya untuk sekedar memasangkan lampu, menyiram tanaman, dan juga pernah sesekali aku membantu paman beserta Kai dan Taemin untuk mencuci mobilnya, haha.

Jam 07.00 pagi di kota Busan.

Waktunya untuk sekolah! Ku eratkan renggangan tali tas ranselku, lalu bergegas pergi ke sekolah SMU-ku.

Berharap hari ini berjalan dengan baik.

***

Author’s POV

Sin Ya menuruni setiap tangga dengan langkah pelan sambil menggembungkan kedua pipinya—kebiasaannya—dan tanpa orang sadari ia seperti tengah memperlihatkan kelakuan aegyo-nya. Poninya yang memang sedikit panjang menutupi jarak pandang miliknya, sehingga sesekali ia meniup ke atas poninya untuk menjauh. Memperlihatkan seberapa menggemaskan gadis ini. Namun semua aktifitas hariannya itu kini terhenti akibat sikutan Taemin dari sebelah kirinya.

“Hei, Sin Ya.” sapa Taemin seraya memamerkan deretan giginya.

Sin Ya mengangguk lalu tersenyum, “Annyeong, Taemin-ah …”

Langkah kaki mereka pun terhenti saat sekilas ia melihat ke arah Kai yang mendahului mereka berdua. Aura Kai yang sangat khas—suram dan hitam—dapat mudah dirasakan oleh Taemin dan Sin Ya.  Taemin yang menyadari keberadaan Kai, ia pun segera menepuk pundak Kai dengan sedikit keras, “Hei, bro! What’s up!” sapanya pula. Kai menoleh dengan ekspresi datar dan tersenyum miring lalu bergegas pergi ke meja makan. Kai duduk di sebelah kanan meja makan, sedangkan orang tuanya berada di depan.

“Jong In, kau mau makan roti dengan selai rasa apa?” tanya Ibunya dengan lembut sambil mengambil irisan roti tawar. Jong In dengan sigap menggeleng, lalu meminum air putih yang berada di sampingnya dengan santai.

“Aku tidak makan, eomma. Aku makan di sekolah saja,” jawabnya pelan sambil mengambil satu buah apel yang berada di hadapannya. “Aku berangkat dulu.”

Bahkan Taemin dan Sin Ya—berada di meja makan—baru saja mengolesi selai cokelat mereka ke atas roti, namun Kai sekarang sudah pergi?

“Yakh! Tuhnggu kamhhi!” teriak Taemin sambil mengunyah rotinya. Lalu dengan cepat Taemin dan Sin Ya menghabiskan roti mereka lalu berpamitan pergi menyusul Kai.

***

“Kau bahkan lupa membawa ponselmu!” teriak Taemin di dalam bus perjalanan menuju Bonsang School High School—sekolah mereka. Sin Ya hanya menggelengkan kepalanya berat lalu berdecak pelan, “Ottokhae … Hidup tanpa ponsel sama saja hidup tanpa oksigen, Taemin-ah.”

“Kalau begitu, tak usah hidup saja.” ceplos Taemin, tanpa pikir panjang dulu sepertinya. Sin Ya langsung saja menyikut tajam lengan Taemin.

Dari kejauhan, Kai—yang memang sengaja duduk berjauhan dari Taemin dan Sin Ya—tengah memperhatikan gerak-gerik Taemin kepada Sin Ya. Ia menggelengkan kepalanya pelan lalu tersenyum kecut sambil melipat kedua lengannya di depan dada. Bibirnya mengerucut sempurna dan matanya yang terlihat sayu mendadak menjadi tajam ketika melihat Taemin merangkul Sin Ya.

“Aish,” gumam Kai pelan.

***

Kai’s POV

Laju cepat bis ini membawaku terdiam dan mulai tidur. Sambil melipat kedua lenganku di depan dada, menyenderkan pelan kepalaku ke belakang. Berharap tidurku ini dapat menghilangkan kesan insomnia tadi malam.

Ku tolehkan kepalaku memandang kilasan cepat pepohonan yang bis ini lewati. Busan memang indah.

“Kau bahkan lupa membawa ponselmu!”

Dahiku mengerut sempurna tak kala mendengar suara cempreng Taemin dari arah depan. Aku yakin 100% ia tengah bersama dengan Sin Ya. Dua bocah yang selalu ada di dalam keseharianku. Tidak bisakah mereka sekali-kali diam dan membiarkan pikiranku jernih?!

“Ottokhae … Hidup tanpa ponsel sama saja hidup tanpa oksigen, Taemin-ah.”

Suara ini … suara Sin Ya. Iya, benar. Suara Sin Ya. Tidak ada satu pun perempuan di Busan yang mempunyai suara sekeras dia. Jika Taemin dan Sin Ya bersama, ku pastikan dunia ini bergetar karena kehebohan mereka setiap hari.

Aish! Aku tidak bisa tidur karena mereka. Untung saja di dalam bis ini hanya berisi aku, dan dua bocak itu. Mulai kupejamkan kedua mata ini kembali, membiarkan pikiranku kosong sejenak. Tetapi aku merasakan sesuatu yang berat tengah duduk di samping tempat dudukku. Aku tidak tahan lagi! Tangan kiri ini kukepal dengan kuat dan bersiap meluncurkan pukulan yang mudahan dapat membuat orang di sampingku kesakitan, tak peduli siapa dia. Ku hentakan kakiku dengan keras ke lantai sambil melayangkan tangan kiriku ke arah orang tersebut dengan kesal.

“Annyeong, Jong In?” Suara yang setiap hari kudengar. Ya, suara satu-satunya gadis di Busan yang keras. Ku kembalikan tangan kiriku yang tadi ingin sekali memukulnya. Tidak, tidak. Dia adalah seorang gadis, aku tidak akan memukul seoarang gadis. Jadi, berutunglah ia adalah gadis, jika ia adalah seorang namja, tak segan-segan pukulan dari tangan kiriku melayang tepat di pipinya.

Mulutku masih saja diam dan memang tidak mau menjawab sapaan Sin Ya. Mataku kembali menatap ke arah luar jendela bis dan mengabaikannya. Mengabaikan setiap omongan yang keluar dari mulutnya. Sampai akhirnya ku tolehkan kepalaku saat ia berkata,

“Kau tadi ingin memukulku?” tanyanya sambil menunjuk ke arah pipinya. Benar, jika saja kau bukan perempuan, pipi kananmu adalah sasaran empuk untuk pukulanku tadi. Berutunglah kau.

Aku pun menjawab sambil sedikit mendorong tubuhnya menjauh, “Pergilah. Aku tidak suka ada yang menggangguku. Pergi, cepat.” Namun tubuhnya masih saja menetap santai di kursi sampingku. Aish, sungguh anak ini menyebalkan.

“Taemin-ah! Bawalah gadismu ini pergi dari sini!” teriakku kepada Taemin. Dapat ku lihat dengan jelas bahwa mata Sin Ya kini menatapku tajam dan kesal. Biarkan saja, peduli apa aku? Kau sendiri yang datang maka kau sendirilah yang pergi.

Tak lama kemudian Taemin datang dengan kikuk. Ia berbicara sambil tergagap kepadaku, “A-a-aniya. Dia bukan gadisku, kau ini bisa-bisa saja. Ha-ha-ha.” Aku tertawa renyah saat mendengar perkatannya tadi. Bukan gadisnya? Lalu mau kusebut apa selama ini jika mereka selalu bersama dan memang tak dapat dipungkiri kalau Taemin memang menyimpan rasa kepada Sin Ya. Sungguh, aku merasa malu mempunyai saudara kembar yang munafik seperti ini.

“Cepatlah, bawa dia ke tempat kalian. Jangan ganggu aku di sini dan di sekolah.” kataku ketus. Taemin sebelumnya berdecak kecil sambil menarik lengan Sin Ya dan kembali ke tempat duduknya.

Dan setelah semuanya pergi. Akhirnya kedamaian yang ku nantikan akhirnya datang.

***

Author’s POV

“Entah mengapa ia begitu kasar terhadap semua orang! Kau saja yang menjadi kembarannya tidak sekeras itu,” kata Sin Ya kepada Taemin sambil mengerucutkan bibirnya.

Taemin pun mengangguk—mengiyakan pernyataan Sin Ya—sambil berkata, “Kau benar. Eomma dan Appa tidak seperti dirinya. Dia memang aneh. Sejak kecil ia memang seperti itu.” Mendengar jawaban Taemin, Sin Ya melanjutkan perkataannya, “… Apakah saat aku datang ke rumah kalian. Ia sudah seperti ini?”

Suasana menjadi hening seketika. Taemin memilih diam daripada menjawab pertanyaan Sin Ya yang seketika itu membuat ingatan Taemin kembali ke masa lalu. Sin Ya merasakan ada sesuatu yang aneh dari sikap tiba-tiba Taemin. Lalu ia memutuskan membuka mulutnya, “Kau kenapa? Apa memang ia berubah saat aku datang ke rumah kalian?”

“Ani… Bukan itu. Kai memang orangnya seperti itu. Selalu melakukan apa yang menurutnya benar, semaunya, dingin, dan kasar. Namun … percayalah. Di dalam hatinya ia adalah orang yang baik dan perhatian,” ucap Taemin. Berangsur-angsur ia mengingat kejadian-kejadian semasa kecil ia dan Kai. Bercanda, bermain, bertengkar dan lainnya.

Ia pun menghela napas sambil melanjutkan, “Percayalah omonganku.”

Sin Ya menerawang perkataan Taemin sambil sesekali menengok ke belakang—menatap kedamaian Kai dalam tidurnya.

***

Bonsang Senior High School

“Bisahkah aku meminta kalian satu hal?” ucap Kai dengan nada serius.

“Mwo?” jawab Taemin sambil terus merangkul bahu Sin Ya yang tepat di sampingnya. Sin Ya bahkan tidak menolaknya, ia sudah terbiasa dengan hal ini setiap hari.

Mata Kai langsung tertuju melihat tingkah laku Taemin dan Sin Ya, yang menurutnya mengganggu pemandangan dan keusikan. Ia memutar kedua bola matanya sambil berdecak.

“Sudahlah, lupakan.” Singkat, pada dan jelas. Itulah jawaban Kai. Ia pun langsung pergi meninggalkan Taemin dan Sin Ya sambil sesekali mengacak rambutnya pertanda kesal.

“Aneh,” gumam Sin Ya sambil menatap punggung Kai yang mulai menjauh.

“Ia memang selalu aneh. Aku sendiri bingung mengapa aku mempunyai kembaran seperti dia. Sudahlah, ayo ke kelas!” tanggap Taemin sambil menarik lengan Sin Ya menuju ke kelas mereka.

Suasana ramai kelas sudah menjadi kebiasaan setiap harinya, namun tidak bagi Kai, di saat teman-teman sebayanya asyik berbincang atau malah bermain, dia justru berdiam diri—mengabaikan suasana kelasnya yang ramai—sambil membaca komik Manga, sepertinya ia asyik dengan dunianya sendiri.

“TAA-DA!” Kelas pun diam dan menoleh ke arah sumber suara. Oh, Taemin rupanya. Sambil masih merangkul bahu Sin Ya ia berteriak, mengheningkan suasana kelasnya. Taemin sepertinya sedang good mood hari ini.

“Hey? Kenapa berhenti? Ayo lanjutkan ribut kalian,” ucapnya sambil memperlihatkan bentuk matanya yang seperti bulan sabit karena tersenyum lebar.

Teman-teman sekelasnya memang mengenal Taemin sebagai orang yang periang dan easy going. Jadi mereka sudah terbiasa dengan perilaku Taemin, ya… seperti yang barusan dia lakukan. Tanpa menunggu aba-aba, suasana kelasnya kembali menjadi ribut dan ramai.

Di sisi lain, Kai yang menyadari kehadiran Taemin. Karena memang, jika Taemin masuk ke kelas, Kai dapat merasakan aura-aura kegembiraan masuk yang jelas saja tidak cocok dengan aura Kai yang sedikit … suram?

Kai akhirnya berhenti membaca komik Manga-nya lalu menutupnya keras seraya mengambil satu buah apel yang selalu sedia di dalam tasnya. Ia memakan apel kesukaannya itu dengan santai. Mengigit daging buah apel itu dengan nikmat hingga ia sesekali menyesapi air juicy dari apel tersebut. Tatapannya terus memperhatikan Taemin dan Sin Ya, ia pun menyadari dengan jelas jika Taemin terus-menerus menatap Sin Ya yang tentunya tidak disadari oleh Sin Ya. Memperlihatkan senyum simpul yang terkesan samar-samar.

“Cih, aku tahu kau menyukainya, Taemin-ah.” gumam Kai dengan sendirinya.

Kringg Kringg

Suara bel masuk kelas akhirnya dibunyikan, seluruh murid di kelas sekarang sudah berada di tempat duduknya masing-masing tak luput Taemin dan Sin Ya yang memang duduk bersebelahan.

Kai menaruh tasnya di atas meja sambil mengambil buku pelajaran ‘Matematika’ ke atas mejanya dengan gaya khasnya—malas dan terlalu santai.

Pelajaran pertama segera dimulai dan Guru Kim telah masuk ke dalam kelas. Guru dengan kacamatanya yang menjadi ciri tersendiri itu pun langsung meletakkan setumpuk kertas-kertas yang sedikit berdebu ke atas meja, suara decikan meja jelas terdengar karena bagaimana kerasnya beliau meletakkan setumpuk kertas-kertas tersebut.

Dengan tegas sambil menatap ke semua wajah murid-muridnya ia berkata, “Semuanya berdiri! Dan keluar dari kelas sambil mengangkat kedua tangan kalian ke atas dan berlutut, kecuali Kim Jong In dan Choi Sin Ya! Sekarang!”

Seluruh murid-murid pun bingung dan mulai berisik, hingga mereka akhirnya keluar dari kelas sambil memperagakan apa yang disuruh oleh Guru Kim. Taemin pun menoleh ke arah Kai dan Sin Ya sambil berucap, “Kenapa kalian tidak? Apa kalian janjian?”

“TAE-MIN! CEPAT KELUAR!” teriak Guru Kim saat melihat Taemin yang paling lambat keluar kelas. Taemin pun bergidik dan langsung mengangkat kedua tangannya sambil berjalan ke luar kelas.

Namun langkahnya terhenti sesaat setelah Guru Kim memukul lutut Taemin dengan tongkat andalannya, “BERLUTUT!”.

Taemin pun berlutut ke luar kelas sambil merengut kesal. Setelah semuanya keluar kelas, kecuali Kai dan Sin Ya. Guru Kim akhirnya memanggil mereka ke arahnya, Kai dan Sin Ya terlihat bingung namun mereka tetap menuruti omongan Guru Kim. Sambil menunduk, mereka mengucapkan salam.

Guru Kim mulai mengambil dua kertas dari tumpukan kertas-kertas yang sedari tadi ia bawa ke kelas. Lalu menyerahkannya kepada Kai dan Sin Ya sambil berkata, “Pertahankan nilai kalian. Sekarang kalian boleh duduk dan buka halaman 174.”

Sin Ya dan Kai akhirnya mengambil kertas tersebut dari Guru Kim sambil menatap ke arah kertas tersebut.

Guru Kim lalu keluar dari kelas sambil terus berteriak, “YAK! Kalian ini mengapa terlalu malas, huh! Lutut! Lutut! Angkat terus tanganmu!”

Mata Sin Ya membulat dengan sempurna dan terus-menerus mengucapkan kata ‘Yes’, ekspresinya kini menunjukkan senang saat melihat ke arah kertasnya. Ia pun segera mengambil paksa kertas Kai dari genggaman namja di sebelahnya itu.

“Woah! Kau dapat nilai 10? Sempurna! Daebak!” katanya sambil melihat nilai ulangan Matematika milik Kai. Kai masih saja dengan gaya santainya mengambil kembali kertasnya dari Sin Ya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya kini ia masukkan ke dalam saku. Kai melirik ke arah Sin Ya dengan ekspresi datar lalu melihat nilai Sin Ya. Dia pun samar-samar tersenyum tipis lalu berbalik kembali ke tempat duduknya dan membuka halaman 174.

Sin Ya yang menyadari bahwa Kai kini tidak di sampingnya lagi, langsung berbalik dan mendapati Kai tengah serius membaca bukunya. Sin Ya lalu tersenyum lebar dan kembali ke tempat duduknya kemudian membuka bukunya juga.

Sambil tersenyum, ia berkata dengan suara kecil namun sepertinya bisa di dengar oleh Kai, “Hey, jangan terlalu serius membaca, kekeke.” katanya sambil terkekeh. Kai yang jelas mendengar ucapan Sin Ya hanya bisa menoleh dan tidak menjawab, lalu kembali berkutat dengan bukunya.

***

“Benar-benar memalukan! Memang siapa Guru Kim itu! Aish, seenaknya saja menghukum murid!” oceh Taemin sedari tadi tanpa henti. Sin Ya yang berada di sampingnya pun hanya mampu menggelengkan kepalanya, pusing karena Taemin tidak berhenti mengoceh sejak dari kelas hingga ke kantin.

“Yak! Kau mendengarkanku tidak?!”

Akhirnya Taemin menyadari jika Sin Ya sama sekali tidak mendengar curhatannya tersebut. Sin Ya menoleh sambil memiringkan kepalanya dengan kedua tangannya ia angkat setinggi bahu, seperti tengah berbicara “Mwo?”

“Ah! Anak ini, sudahlah!” decak Taemin sambil mengacak rambutnya kesal. Mereka berjalan menuju kulkas minuman yang sengaja di letakan di kantin untuk memudahkan murid-murid membelinya.

Taemin mengambil uang koinnya lalu memasukkannya ke dalam mesin tersebut lalu memilih minuman dingin yang ia pesan. Taemin menunggu dengan cukup lama untuk minumannya keluar hingga ia bisa mengambilnya. Namun walaupun Taemin menunggu lama, minumannya tidak kunjung keluar.

“Yak! Apa mesinnya rusak, hah?!” kata Taemin sambil menggoyang-goyangkan mesin minuman tersebut. Sin Ya pun mengecek tempat di mana biasanya minumannya keluar, namun ia tidak bisa melihat apa-apa.

“Entahlah, seperti memang rusak.” kata Sin Ya sambil menepuk pundak Taemin, mencoba menyabarkannya.

“HAISH! Apa hari ini adalah hari sialku! Dari yang dihukum sampai …  sampai, minuman sial ini! Ah!” ucap Taemin dengan kesal.

Sin Ya yang melihat Taemin nampak seperti orang frustasi tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu menarik lengan panjang Taemin sambil mengedarkan penglihatannya ke sekeliling kantin. Lalu ia menemukan hal yang ia cari-cari sedari tadi. Sambil menarik lengan Taemin mungkin bisa dibilang menyeret Taemin menjauh dari mesin minuman tersebut. Taemin yang sedari tadi bergumam ‘nasib, nasib, nasib’ tanpa sadar jika tubuhnya kini diseret Sin Ya menuju suatu meja yang terletak di pojokan.

Sang empu meja tersebut menyadari ada orang yang mengusik ketenangan makannya, ia pun menaikkan kepalanya dan melihat Sin Ya bersama dengan Taemin yang masih saja menghadap ke belakang. Orang itu pun langsung menghela napas panjang sambil menguyah makanannya lambat.

“Jongin! Kembaranmu seperti mulai gila!” kata Sin Ya sambil menarik tubuh Taemin dan menduduknya di samping dirinya. Mereka akhirnya duduk dengan santai di meja Kai yang tengah menyantap makan siangnya. Kali ini, ketenangan Kai benar-benar terusik. Ia melihat ke arah kembarannya yang masih saja  bergumam tak jelas seperti orang frustasi. Kai meletakkan sumpitnya lalu mulai mendekati Taemin. Dia pun menjentikkan jari tangannya tepat di hadapan wajah Taemin, membuat kembarannya itu seakan terbangun dari aura frustasi.

“Huh? Di mana aku sekarang?” kata Taemin bingung. Sin Ya menghela napasnya panjang sambil menjitak kepala Taemin. Taemin meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.

“Oh! Ada Kai rupanya, Jonginnie~ Apa kabar? Hehe.” sambung Taemin yang seperti orang amnesia saja.

Kai tidak menjawab omongan Taemin dan melanjutkan makannya—mengabaikan Sin Ya dan Taemin—dengan lahap.

Semuanya hening, sampai Taemin membuka suaranya, “Tapi kenapa kalian berdua tidak dihukum! Ini sungguh curang!”

Kai akhirnya angkat bicara sambil menunjuk Taemin dengan sumpitnya, “Yak! Itu karena kau pemalas. Nilai kami berdua lebih baik darimu.”

Sin Ya pun menyetujui perkataan Kai dengan menambahkan. “Itulah sebabnya kalian semua dihukum. Nilai kalian semua tidak tuntas.”

Taemin mengerucutkan bibirnya sambil bergumam, “Padahal aku sudah belajar mati-matian.”

“KAU TIDAK BELAJAR!” teriak Kai dan Sin Ya bersamaan, Taemin pun menyengir sambil menggaruk tengkuknya.

Tak lama kemudian Taemin kembali berucap, “Kai… aku lapar.”

Kai yang mendengar itu langsung sontak menggeram, dan menusuk satu potong lobak kimchi—dari papan makanannya—dengan salah satu sumpit besi miliknya. “Makanlah!”

Taemin pun tersenyum layaknya anak-anak, dan dengan refleks membuka mulutnya dan memakannya.

“Eumm, mashita!”

Sin Ya mengerjap-ngerjapkan matanya sambil mendengus. “Aku juga lapar!” Kedua remaja lelaki yang wajahnya hampir sama 100% ini langsung menoleh ke arah Sin Ya.

“Kai! Suapin aku,” pinta Sin Ya.

Mata Kai memanas. Apa dia tidak salah dengar? Gadis manis—ralat: dia cantik—ini meminta suapan dari Kai? Dari… dirinya? Well, apa salahnya?

Kai menelan ludahnya dengan berat dan seakan tersengat racun yang mengakibatkan kelumpuhan secara mendadak, tangannya kini terlihat lebih lambat dan terkesan hati-hati. Dia menyumpit beberapa cincangan kecil daing Bulgogi dari papan makannya. Ia mengambil jeda sekitar beberapa detik sebelum melanjutkan mengarahkan sumpitnya ke mulut si gadis manis itu.

Taemin akhirnya menyadari hal yang tidak beres oleh saudara kembarannya ini. Matanya menyipit dan memperhatikan dengan seksama. Baru kali ini ia melihat saudara kembarnya aneh—ok, mungkin sangat dan benar-benar aneh.

Kai mengarahkan tangan kanannya ke arah mulut besar Sin Ya yang sudah menganga siap sedari tadi.

“Berikan padaku!” sentak Taemin sambil merebut sumpit Kai dan membuat beberapa cincangan daging Bulgogi itu terjatuh.

Kai menggeram dalam dirinya. Menghelakan napasnya yang terkesan berat. Wajahnya benar-benar menunjukkan jika ia kesal sekarang. Tanpa disadari oleh dua manusia di depannya, tangan kanan Kai kini mengepal sempurna di bawah meja dan memperlihatkan urat-urat tangannya yang mencuat seakan ingin keluar. Ia benar-benar marah sekarang.

“Biar aku saja yang menyuapi Sin Ya.” kata Taemin pelan sambil menyumpit beberapa daging Bulgogi milik Kai.

Dengan gaya kekanakannya, Taemin seolah-seolah menganggap Sin Ya adalah gadis kecil berumur 4 tahun, ia menggerak-gerakkan sumpitnya layaknya tengah bermain pesawat mainan. Memaju-mundurkan sumpitnya dengan lambat dan berakhir dengan cepat, tak luput juga ia menirukan suara pesawat yang terkesan terpaksa karena ia tidak pandai dalam hal menirukan suara. Sin Ya terlihat tidak mempermasalahkannya. Ia sangat easy going, menikmati permainan Taemin dan bak jatuh ke dalam scene yang di buat Taemin, ia benar-benar kembali menjadi gadis kecil berumur 4 tahun!

Jika bergerak sedikit dan memperhatikan wajah Kai, jauh berbeda dengan rasa senang Taemin dan Sin Ya saat ini. Benar, sangat jauh berbeda. Ia terlihat sangat kesal terhadap apa yang Taemin lakukan padanya. Hey, apa salahnya jika Taemin menyuapi Sin Ya? Kau marah, Tuan Kai?

Kai berdiri dengan tiba-tiba dari tempat duduknya—terkesan tegas, membuat beberapa poninya terkibas. “Sudah cukup. Kalian terlalu kekanakan! Sadarlah, kalian berada di kantin sekolah sekarang, dan kalian bersikap seolah anak-anak? Tolong ingatlah umur kalian. Aku pergi.”

Dua makhluk yang masih saja terdiam dalam pikirannya masing-masing ini menatap punggung Kai yang mulai menjauh dari pandangan mereka.

“Kai pergi?” tanya Taemin dengan polosnya.

“Eum… ia aneh akhir-akhir ini,” jelas Sin Ya yang juga merasakan Kai berbeda. Mungkin… lebih sensitif.

“… Apa dia mengalami datang bulan?” Kembali. Taemin melontarkan pertanyaan non-sense.

Sedetik kemudian, Sin Ya tertawa keras mendengar pertanyaan Taemin yang jelas-jelas jawabannya adalah tidak mungkin. Sepertinya seseorang harus mengembalikan pikiran Taemin.

***

Seorang namja dengan wajah dinginnya, kini tengah menopang dagunya dengan tangan kirinya seraya menatap lurus ke arah papan tulis di depannya. Tatapannya sangat kosong dan sangat jelas terlihat ia melamun sekarang.

Tak!

Namja berkulit sedikit gelap ini akhirnya sadar dari lamunannya karena mendapati sebuah penghapus papan tulis kelasnya kini dengan diamnya berada tepat di atas mejanya. Selang beberapa lama, akhirnya ia merasakan sakit di kepalanya.

“Jika kau tidak berniat untuk belajar dan hanya ingin melamun. Lebih baik kau keluar saja!” teriak Guru Shin—guru bahasa Korea. Semua teman-teman sekelasnya kini menatapnya, tak luput juga Sin Ya dan Taemin. Mereka merasa ada yang salah dengan Kai akhir-akhir ini. Kai bukanlah murid yang mengabaikan pelajaran. Dan ini adalah kasus pertamanya.

Sambil terus mengusap kepalanya yang terasa sedikit pusing akibat pendaratan tepat penghapus kelasnya tadi, ia mengambil penghapus berbentuk segi empat itu. Dan berjalan sedikit oleng ke kanan saat melewati Guru Shin.

“Berdiri dan angkat kedua tanganmu di dekat koridor sampai jam pelajaran saya selesai. SEKARANG!” teriak Guru Shin dan Kai harus siap dengan hujan lokal yang ia dapatkan dari guru bahasa Korea di sekolahnya.

Kai segera keluar dari kelas dan melakukan perintah Guru Shin. Ia hanya terdiam dengan wajahnya yang memang sudah sejak lahir terlihat dingin.

Pintu kelas 2-1 itupun kembali tertutup rapat dan menyisakan keheningan.

“Baiklah, kita lanjutkan membahas soal halaman 246….”

Pikiran Sin Ya mulai kabur sekarang. Telinganya kini saja tidak mendengar pembahasan panjang lebar dari Guru Shin. Tatapannya tidak fokus seperti sebelumnya. Dalam hati ia terus bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Kai hari ini? Sikapnya begitu aneh dan sejarah sekali jika Kai tidak memperhatikan penjelasan guru.

“Ehm! Murid bernama Cho Sin Ya. Apakah Anda ingin keluar dan berakhir seperti Kai?” tegas Guru Shin saat menyadari salah satu muridnya mulai tidak fokus belajar. Siapa yang tidak tahu di sekolah ini, jika Guru Shin paling tidak suka ada murid di kelasnya yang tidak fokus dengan pelajarannya. Tidak segan-segan ia akan menyuruh si murid untuk keluar dan menjalani hukuman sesuka hatinya. Satu hal yang paling diingat murid kelas 2-1 Bonsang Senior High School apa yang dilakukan Guru Shin saat mendapati muridnya tidak fokus, baru saja terjadi minggu lalu. Guru Shin hampir saja dikeluarkan dari sekolah karena membuat seorang murid menangis. Murid itu merengek karena dihukum untuk berdiri di tengah lapangan ketika bel istirahat. Tentu saja, bayangkan bagaimana malunya dia. Murid itu lalu mengadu kepada orangtuanya dan kepala sekolah. Guru Shin hanya tertawa kecil mendengar celotehan muridnya yang satu ini di ruang kepala sekolah. Bahkan karena rengekan murid tersebut, Guru Shin hampir saja dikeluarkan karena dapat merusak nama baik sekolah—padahal hanya masalah sepele. Dan satu lagi yang membuat hal ini berkesan, karena murid itu adalah Taemin.

Sin Ya segera menyadarkan dirinya dan menggeleng kuat. Guru Shin yang terkenal menjadi guru galak kedua di sekolah—setelah Guru Kim—mengangguk pelan dan akhirnya melanjutkan pembahasan yang sempat tertinggal tadi.

Kali ini bagian Taemin memperhatikan Sin Ya yang nampak gelisah dan bingung. Terlihat dari sorotan mata Sin Ya. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena tak ingin kejadian minggu lalu terulang lagi, Taemin sesegera mungkin memfokuskan pikirannya ke Guru Shin walaupun sebenarnya ia tidak tahu apa yang Guru Shin bicarakan.

‘Ada apa sebenarnya denganmu, Kai?’ –batin Sin Ya.

-To be continued-

Cuap-cuap Author : Ahhh akhirnya selesai juga part 1 ini ;~; /ngupil/ Terima kasih untuk para readers yang sudah menunggu dan mengikuti ff ini dari awal prolog ._. Saya sangat tersentuh. Dan RCL kali ini diharapkan bersamaan dengan kritik & saran ‘-‘ Mau saran seperti apa juga saya terima, hoho. Part 2 masih on going dan mudahan dipublish secepatnya (tapi gak janji *coret*). Silahkan RCL ^o^)/ Sampai jumpa di Part selanjutnya!

60 responses to “[Chapter 1] Love in Love

  1. Pingback: [Chapter 4] Love in Love | FFindo·

  2. woah! Sin Ya suka sama Kai? haha.. oh iya, sebenernya mereka bertiga itu sodara satu darah atau gimana ? ah suka banget sama kalo misalkan Sin Ya sama Kai jadian :3 *Kaikanpunyasaya* hahaha

  3. Pingback: [Chapter 5] Love in Love | FFindo·

  4. Pingback: [Chapter 6] Love in Love | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s